PROSIDING
SEMINAR NASIONAL BIOLOGI 2016
“PERANAN BIOLOGI DALAM PENINGKATAN
KONSERVASI KERAGAMAN HAYATI”
DEWAN REDAKSI
Pengarah:
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin
Penanggung jawab:
Ketua Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin
Penyunting (Editor):
Magdalena Litaay, M.Mar. Sci, Ph. D Dr. Syahribulan, M. Si
Dr. Fahruddin, M.Si Drs. Muh. Ruslan Umar, M. Si
Nenis Sardiani, S.Si
Litaay, et al. (editor). 2016. Prosiding Seminar Nasional Biologi. Makassar.
Seminar Nasional Biologi (28 Maret 2016: Makassar) Prosiding Seminar Nasional Biologi, 6 Juni 2016
Penyunting:
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, 2016
ISBN: 978-602-72198-3-0
Penyunting:
Magdalena Litaay, Syahribulan, Fahruddin, Muh. Ruslan Umar, Nenis Sardiani Desain sampul: Nurfaidah
Penerbit:
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar
Cetakan Pertama: 2016
@ Hak Cipta dilindungi Undang-undang All rights reserved
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa ijin tertulis dari penyunting.
DAFTAR ISI
Halaman depan Prosiding ………..
Kata Pengantar ……….. iii
Sambutan Dekan ……… iv
Daftar Isi ……… v
Makalah Pemateri Kunci
Siti Nuramaliati Prijono ……… 1
Valerio Sbordoni……… 19
Dedy Asriadi ……….. 20
Makalah Bidang Ilmu: ZOOLOGI
Populasi, Pergerakan Harian dan Habitat Kuskus Beruang (Ailurops
ursinus) di Hutan Pendidikan UNHAS ……… 28
Amran Achmad, Putu Oka N, Risma Illa M, dan Asrianny
Potensi Pakan dan Preferensi Bersarang Kuskus Beruang (Ailurops ursinus)
di Hutan Pendidikan UNHAS ……… 37
Amran Achmad, Putu Oka N, Risma Illa M, dan Asrianny
Karakterisasi Sarang Orangutan (Pongo pygmaeus morio) pada Beberapa
Tipe Hutan di Kalimantan Timur ……… 45
Teguh Muslim dan Amir Ma’ruf
Fragmentasi Habitat Owa Kelawat (Hylobates muelleri) di Kawasan
Permukiman Samarinda, Kalimantan Timur ……… 53
Suryanto, Teguh Muslim, Warsidi
Keanekaragaman dan Pendugaan Populasi Kelelawar Pemakan Serangga (subordo:microchiroptera) Penghuni Goa Gudawang Bogor Jawa
Barat………... 61
Budiman Heriyanto, Dedy Duryadi S, Yanto Santosa, Ibnu Maryanto
Distribution of Rats (Rodentia; Muridae) in Bawakaraeng Mountain, South
Sulawesi, Indonesia ………. 62
Muh. Rizaldi Trias Jaya Putra N., Ibnu Maryanto, Bambang Suryobroto
Keanekaragaman Herpetofauna di Lahan Reklamasi Tambang Batubara
PT. Singlurus Pratama, Kalimantan Timur……… 63
Teguh Muslim, Ulfah Karmila Sari, Widyawati
Keragaman Guild Burung pada Hutan Pegunungan Bawah Taman Nasional
Bantimurung Bulusaraung ……… 73
Indra A.S.L.P. Putri
Andi Hardianti, Muhammad Restu, Gusmiaty, Siti Halimah Larekeng Makalah Bidang Ilmu: PERTANIAN
Rekayasa Pemangkasan untuk Pengembangan Teknologi Hijau dalam
Budidaya Tanaman Melon ………. 381
Mir Alam, Juhriah
Kandungan Karoten Jagung Lokal Sulawesi Selatan Untuk Seleksi Jagung
Provitamin A ………. 388
Juhriah, Mir Alam, A. Masniawati
Karakter Agronomis dan Hasil Beberapa Genotipe Jagung Hibrida pada
Berbagai Tingkat Cekaman Kekeringan ……... 389
Suwardi dan Andi Takdir M
Keragaan Hasil dan Toleransi Kekeringan Genotipe Jagung terhadap
Ketersediaan Air ………. 401
Suwardi
Pengaruh Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Cabai Merah Besar (Capsicum annum L.) yang ditanam pada Tanah
Pascatambang Emas Bombana Sulawesi Tenggara ……… 411
Sri Ambardini, Irjum Budiatman Jaya
Keefektifan Isolat-Isolat Actinomycetes dalam Menghambat Infeksi
Fusarium sp. (Soybean Damping Off) secara in vitro………. 419 Ikhwana Aflaha, Baharuddin, M. Danial Rahim
Efektifitas Trichoderma sp. terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao di Bawah
Tegakan Kakao Tua ……….. 420
Marliana S. Palad, Ambo Ala, Nasaruddin
Pengaruh Pupuk Organik Cair Mikrobat terhadap Pertumbuhan Vegetatif
Tanaman Padi Aromatik Lokal Toraja Utara Sulawesi Selatan ………….. 421
Elis Tambaru, Andi Masniawati, Eva Johannes, Susanti L
Pemanfaatan Limbah Jerami sebagai Media Produksi Jamur Merang
Volvariella volvacea Singer ………. 430
Slamet Santosa
Pengaruh Pupuk Organik Cair Mikrobat pada Pertumbuhan Vegetatif
Tanaman Padi Aromatik Lokal Enrekang Sulawesi Selatan ……… 436
Andi Masniawati, Sri Suhadiyah, Elis Tambaru, Dewi Sulastri A
Pengembangan Anggrek Vanda Hibrida (Vanda limbata Blume X Vanda
tricolor Lindl. var. suavis) dengan Perlakuan Kolkisin secara In Vitro …… 445
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR MIKROBAT PADA
PERTUMBUHAN VEGETATIF PADI AROMATIK LOKAL
ENREKANG
A. Masniawati1, Sri Suhadiyah2, Elis Tambaru3, Dewi Sulastri Anwar4
1
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Hasanuddin 1
*Email: [email protected] dan [email protected] Abstrak
Penelitian mengenai pengaruh pemberian pupuk organik cair mikrobat terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman padi aromatik lokal Enrekang Sulawesi Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair mikrobat terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman padi aromatik lokal serta dosis optimal terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman padi aromatik. Dilaksanakan dalam bentuk percobaan lapangan yang dilaksanakan pada bulan Juni-Oktober 2015 di Kebun Biologi, Jurusan Biologi, Universitas Hasanuddin dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 Faktorial, 5 Perlakuan dan 3 Ulangan. Analisis data menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan 5%. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair mikrobat pada aksesi Pare Mansur dan Pare Pinjan memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman (4 Minggu Setelah Tanam, 8 Minggu Setelah Tanam, dan 12 Minggu Setelah Tanam), jumlah anakan (10 Minggu Setelah Tanam dan 12 Minggu Setelah Tanam), berat basah, berat kering tanaman dan panjang akar. Aksesi Pare Pinjan memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan, berat basah tanaman, berat kering tanaman dan panjang akar lebih baik dibanding dengan Pare Mansur. Penggunaan pupuk organik cair mikrobat pada konsentrasi K1 pada dosis 5% (5 ml pupuk organik cair + 95 ml air) merupakan dosis yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman padi aromatik lokal Enrekang aksesi pare Pinjan.
Kata Kunci : pupuk cair, padi aromatik, pertumbuhan vegetatif.
1. PENDAHULUAN
Padi Oryza sativa L. merupakan tanaman pangan yang sangat penting yang ditanam hampir sepertiga dari jumlah total bahan pangan di dunia (Purwono dan Purnamawati, 2007). Padi aromatik lokal Enrekang merupakan salah satu jenis padi aromatik yang memiliki aroma wangi yang tajam (Balitpa, 2002)[1]. Salah satu upaya peningkatan produktivitas tanaman padi adalah dengan mencukupkan kebutuhan haranya. Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sebab unsur hara yang terdapat di dalam tanah tidak selalu mencukupi untuk memacu pertumbuhan tanaman secara optimal (Salikin, 2003.
Pupuk organik merupakan hasil dekomposisi bahan-bahan organik yang diurai (dirombak) oleh mikroba, yang hasil akhirnya dapat menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Supartha, ddk., 2012). Pupuk organik cair merupakan pupuk majemuk bahkan disebut pupuk lengkap ini disebabkan dalam pupuk organik cair sudah terkandung beberapa unsur hara (baik makro maupun mikro) dengan konsentrasi berbeda-beda (Lingga dan Marsono, 2004).
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair Mikrobat terhadap beberapa parameter pertumbuhan vegetatif padi aromatik lokal Enrekang.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-Oktober 2015 di Kebun Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Imu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola 2x5 yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah dengan 2 aksesi padi aromatik lokal Enrekang yaitu aksesi Pare Pinjan (PP), dan Pare Mansur (PM), sedangkan faktor kedua dengan dosis pupuk organik cair yaitu K0+ (kontrol positif) dengan pemberian pupuk urea (N,P,K anjuran), K0- (kontrol negatif) yaitu tanpa perlakuan pupuk, K1 (konsentrasi I dengan dosis 5%), K2 (konsentrasi II dengan dosis 10%), K3 (konsentrasi III dengan dosis 15%), masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan.
Benih dipilih kemudian direndam dengan air. Perendaman bertujuan untuk melunakkan sekam gabah sehingga dapat mempercepat benih untuk berkecambah. Perendaman dilakukan selama 24 sampai 48 jam. Setelah biji padi direndam dan muncul sedikit kecambah/akar barulah ditanam ke ember. Setiap ember di isi dengan 3 (benih) benih tanaman. Aplikasi Pupuk organik cair mikrobat dilakukan sesuai dengan konsentrasi yang telah ditentukan. Pemupukan dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada saat tanaman berumur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam. Perawatan tanaman meliputi penyiraman dan penyiangan.
Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan, berat basah tanaman, berat kering tanaman, dan panjang akar. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan uji F. Jika terdapat perlakuan yang berpengaruh nyata akan dilakukan uji lanjut menggunakan uji DMRT (Duncam Multriple Range Test).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan uji F. Jika terdapat perlakuan yang berpengaruh nyata akan dilakukan uji lanjut menggunakan uji DMRT (Duncam Multriple Range Test) (Soplanit, dkk., 2012).
Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk cair mikrobat dan pemberian pupuk urea (N, P, K anjuran) pada tanaman Padi Aromatik belum menunjukkan pengaruh yang baik terhadap beberapa parameter pertumbuhan yang diamati. Parameter hasil pengamatan meliputi pengamatan vegetatif, seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, berat basah tanaman, berat kering tanaman dan panjang akar.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
Tinggi Tanaman Padi Aromatik Lokal Oryza sativa L.
Tabel 1. Hasil Analisis Interaksi antara Perlakuan Pupuk Organik Cair Mikrobat dengan Aksesi Pare Mansur (PM) dan Pare Pinjan (PP) Terhadap Tinggi Tanaman 12 MST (Minggu Setelah Tanam)
Nilai Nilai Perlakuan Rataan Pembanding
(cm) Duncan 5% K0+ PM 76.59a 12.74 K3 PP 93.54b 13.38 K0- PM 94.61b 13.77 K1 PM 95.34b 14.03 K2 PP 95.36b 14.24 K2 PM 96.53b 14.37 K1 PP 97.68b 14.46 K3 PM 100.27b 14.54 K0+ PP 101.33b 14.63 K0- PP 104.87b -
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan DMRT pada taraf 5 %.
T inggi Tan am an (c m ) 120 104.87 101.33 97.68 95.36 100.27 100 94.61 95.34 96.53 93.54 80 76.59 Pare Mansur 60 Pare Pinjan 40 20 0 Kontrol Kontrol 5% 10% 15% Negatif Positif
Konsentrasi Pemberian Pupuk
Gambar 2. Histogram Interaksi antara Perlakuan Pupuk Organik Cair Mikrobat dengan Aksesi Pare Mansur (PM) dan Pare Pinjan (PP) Terhadap Tinggi Tanaman 12 MST (Minggu Setelah Tanam).
Pertumbuhan tinggi tanaman untuk hasil analisis statistik intraksi antara perlakuan pupuk organik cair mikrobat dengan aksesi pare Mansur dan pare Pinjan umur 12 MST memperlihatkan hasil yang berbeda nyata. Menurut Dwi (2006) dalam Kasniar dan Supadma (2007) setiap tanaman dengan dosis yang diberikan akan mempengaruhi besar kecilnya kandungan hara dalam pupuk tersebut, tetapi belum dapat dijamin bahwa semakin besar dosis yang diberikan akan semakin meningkatkan pertumbuhan tanaman. Sebab tanaman juga memiliki batas tertentu akan menyebabkan hasil semakin meningkat, dan pada konsentrasi yang melebihi batas tertentu pula akan menyebabkan hasil semakin menurun dan juga tanaman akan tumbuh dengan baik apabila unsur hara yang diberikan berada
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
dalam jumlah yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan tanaman (Mappangaro, dkk., 2011)[13].
Tabel 2. Hasil Analisis Pengaruh Aksesi Pare Mansur (PM) dan Pare Pinjan (PP) Terhadap Tinggi Tanaman 4 MST dan 12 MST (Minggu Setelah Tanam)
Nilai Rataan Nilai Rataan Aksesi (cm) (cm) 4 MST 12 MST Pare 82.24a 277.99a Mansur Pare 97.42b 295.66b Pinjan
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan DMRT pada taraf 5 %.
Dari data rataan dapat dilihat (Tabel 2) bahwa aksesi pare Pinjan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibanding dengan pare Mansur. Adanya perbedaan pertumbuhan ke 2 (dua) aksesi terhadap pengamatan vegetatif, diduga disebabkan oleh adanya perbedaan sifat atau keunggulan dari masing-masing aksesi sesuai dengan genotip yang dimilikinya. Menurut Setyamidjaja (1986)[17] menyatakan bahwa pertumbuhan merupakan perkembangan yang progesif dari suatu organisme dan sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan dimana faktor lingkungan yang utama adalah pengaruh perlakuan pemupukan yang diberikan. Ditambah oleh Taslim dan Fagi (1988)[22] bahwa tinggi tanaman sangat dipengaruhi oleh sifat genetik dan lingkungan tumbuhnya, sifat genetik akan mucul melalui pertumbuhan organ apabila faktor lingkungan sesuai.
Banyak faktor yang menyebabkan perlakuan pemberian pupuk organik cair mikrobat menunjukkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi berbeda-beda. Tinggi tanaman semakin meningkat dengan besarnya serapan N oleh tanaman. Pemupukan nitrogen dapat menunjang pertumbuhan tanaman padi karena nitrogen berfungsi memacu pertumbuhan vegetatif tanaman. Selain itu kandungan mikroorganisme yang terdapat dalam pupuk organik cair mikrobat berfungsi sebagai anti toksin, sehingga dapat menyehatkan tanaman, sebagai penyuplai hara dan hormon bagi tanaman, pengurai bahan organik serta melindungi tanaman dari serangan pathogen sehingga dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.
Prajnanta (2004) bahwa pemberian pupuk organik dalam bentuk cair lebih efektif karena dapat langsung masuk ke dalam tanah, juga dapat dengan mudah mencapai tempat-tempat yang dilalui akar.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
Jumlah Anakan Tanaman Padi Aromatik Lokal Oryza sativa L.
Tabel 3. Hasil Analisis Interaksi antara Perlakuan Pupuk Organik Cair Mikrobat dengan Aksesi Pare Mansur (PM) dan Pare Pinjan (PP) Terhadap Jumlah Anakan Tanaman 10 MST dan 12 MST
Perlakuan Nilai Rataan (cm) Nilai Rataan (cm)
10 MST 12 MST K0- PM 3.33 abc 3.33ab K0- PP 5.44 c 8.00cd K0+ PM 1.33a 1.78a K0+ PP 3.89 bc 9.56d K1 PM 5.44 c 3.56ab K1 PP 4.78 bc 5.89bc K2 PM 4.22 bc 3.89ab K2 PP 2.56 ab 3.11ab K3 PM 6.00d 4.56ab K3 PP 3.89 bc 4.89bc
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan DMRT pada taraf 5 %.
an ak an /r um p un 12 10 8 Kontrol Negatif Kontrol Positif 6 5% Jum la h 10% 4 15% 2 0 PM 10 MST PP 10 MST PM 12 MST PP 12 MST Pertumbuhan Tanaman
Gambar 3. Grafik Interaksi antara Perlakuan Pupuk Organik Cair Mikrobat dengan Aksesi Pare Mansur (PM) dan Pare Pinjan (PP) Terhadap Jumlah Anakan Tanaman 10 MST dan 12 MST. Hasil analisis statistik diketahui bahwa intraksi antara perlakuan pupuk organik cair mikrobat dengan aksesi Pare Mansur dan Pare Pinjan umur 10 MST dan 12 MST memperlihatkan hasil yang berbeda nyata. Jumlah anakan merupakan salah satu parameter pertumbuhan yang digunakan untuk mengetahui pengaruh lingkungan dan perlakuan yang dilakukan dilapangan, selain itu jumlah anakan juga digunakan sebagai dasar dalam penentuan produktifitas hasil tanaman. Jumlah anakan yang dihasilkan dari pengaruh komposisi dan konsentrasi pupuk organik cair pada pertumbuhan padi lokal Enrekang menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya. Pupuk organik memberikan efek yang menguntungkan selain aman terhadap lingkungan juga berefek positif pada
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
tanaman karena mengandung hormon tumbuh dan mikroorganisme yang menguntungkan tanaman.
Tabel 5. Hasil Analisis Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Mikrobat Terhadap Jumlah Anakan Tanaman 10 MST
Perlakuan Nilai Rataan 10 MST K0- 13.17b
K0+ 7.83a
K1 15.33b
K2 10.17a
K3 14.83b
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan DMRT pada taraf 5 %.
Hasil analisis statistik diperoleh bahwa perlakuan pemberian pupuk organik cair mikrobat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah anakan 10 MST. Menurut Dartinus (1988)[3] walaupun tersedia nutrient dalam jumlah banyak, beberapa hara menjadi pembatas dan mengentikan pertumbuhan tanaman. Sebab tanaman juga memiliki batas tertentu untuk menghasilkan hasil yang meningkat dan akan tumbuh dengan baik apabila unsur hara yang diberikan berada dalam jumlah yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Menurut Hardjowigeno (1993)[6] fungsi kalium adalah membantu pembentukan protein dan transkolasi hasil fotosintat, serta biokatalisator berbagai reaksi metabolisme dalam tanaman. Oleh karena itu, kekurangan kalium akan menyebabkan pertambahan jumlah anakan maksimum padi ikut terhambat. Jumlah anakan maksimum dipengaruhi oleh proses metabolisme pada tanaman padi yang didukung oleh ketersediaan unsur hara di dalam tanah.
Berat Basah, Berat Kering dan Panjang Akar Tanaman Padi Aromatik Lokal Oryza sativa L.
Tabel 6. Hasil Analisis Interaksi antara Perlakuan Pupuk Organik Cair Mikrobat dengan Aksesi Pare Mansur (PM) dan Pare Pinjan (PP) Terhadap Berat Basah dan Berat Kering Tanaman
Perlakuan Berat Basah (g) Berat Kering (g)
K0- PM 21.34a 10.66ab K0- PP 82.44bc 22.30cd K0+ PM 15.19a 7.28a K0+ PP 105.79c 24.20d K1 PM 40.63ab 11.04ab K1 PP 58.27abc 16.89abcd K2 PM 27.71a 17.49bcd K2 PP 28.31a 8.61ab K3 PM 23.79a 14.26abcd K3 PP 58.55abc 12.01abc
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan DMRT pada taraf 5 %.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
Hasil analisis statistik diketahui bahwa intraksi antara perlakuan pupuk organik cair mikrobat dengan aksesi Pare Mansur dan Pare Pinjan untuk berat basah dan berat kering tanaman memperlihatkan hasil yang berbeda nyata.
Dalam imbangan yang diberikan mengandung pupuk urea sumber N, KCL sumber K dan SP-36 sumber P merupakan pemberian yang tepat karena mengandung unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman. Menurut Syekhfani (1994), pemupukan nitrogen dapat menunjang pertumbuhan tanaman padi sawah karena nitrogen berfungsi memacu pertumbuhan vegetatif tanaman.
Peningkatan hasil bobot tanaman dapat mencapai hasil yang optimal, karena tanaman memperoleh hara yang dibutuhkan sehingga peningkatan jumlah maupun ukuran sel dapat mencapai optimal serta memungkinkan adanya peningkatan kandungan air tanaman yang optilmal pula. Menurut Loveless (1987) sebagian besar berat basah tumbuhan disebabkan oleh kandungan air. Lebih lanjut menurut Gardner et al. (1985)[5] berat basah tanaman umumnya sangat berfluktuasi, tergantung pada keadaan kelembaban tanaman, sedangkan menurut Jumin (2002)[8] menjelaskan bahwa besarnya kebutuhan air setiap fase pertumbuhan langsung dengan proses fisiologi, morfologi serta fakor lingkungan.
Tabel 7. Hasil Analisis Pengaruh Aksesi Pare Mansur (PM) dan Pare Pinjan (PP) Terhadap Berat Basah dan Berat Kering Tanaman
Perlakuan Berat Basah Berat Kering Tanaman Tanaman Pare Mansur 77.2a 36.43a
Pare Pinjan 200.02b 50.4b
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan DMRT pada taraf 5 %.
Adanya perbedaan pada masing-masing aksesi terjadi karena adanya perbedaan genetik pada ke 2 (dua) aksesi dan adanya pengaruh lingkungan. Setiap aksesi memiliki ciri dan sifat khusus yang berpengaruh satu sama lain sehingga akan menunjukkan keragaman penampilan. Seperti yang dikemukakan oleh Loveless (1989)[11] suatu fenotip (penampilan dan cara berfungsinya) individu merupakan hasil interaksi antara genotip (warisan alami) dan lingkungannya. Walaupun sifat khas suatu fenotip tertentu tidak dapat selamanya ditentukan oleh perbedaan genotip atau lingkungan, ada kemungkinan perbedaan fenotip antara individu yang terpisahkan itu disebabkan oleh perbedaan lingkungan atau perbedaan keduanya.
Tabel 8. Hasil Analisis Pengaruh Pupuk Organik Cair Mikrobat Terhadap Panjang Akar Tanaman Perlakuan Nilai Rataan
K0- 116.63b K0+ 92.40a
K1 136.87c
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
K2 111.90b K3 119.90b
Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan DMRT pada taraf 5 %.
Adanya respon pertumbuhan akar tanaman yang baik pada pemberian pupuk organik cair mikrobat disebabkan adanya nutrisi yang berupa hara yang terkandung. Keberhasilan pertumbuhan tanaman ditentukan oleh perkembangan akarnya. Akar tanaman hendaknya berada pada suatu lingkungan yang mampu memberikan tunjangan struktural, memungkinkan absorbsi air dan ketersediaan nutrisi yang memadai. Selain itu, media tanam memungkinkan drainase dan pH yang baik bagi tanaman (Ingels, 1985).
Pertumbuhan biomassa tanaman padi sangat ditentukan oleh kecukupan hara N dan P, sedangkan untuk pertumbuhan akar sangat ditentukan oleh kecukupan unsur P (Dobermann and Fairhust, 2000)[4]. Fosfor adalah salah satu hara mikro yang essensial untuk pertumbuhan tanaman. Meski tanaman membutuhkan P lebih sedikit dibanding N, tetapi P dibutuhkan untuk memproduksi energi dan kecepatan pertumbuhan tanaman (Chien et al. 1990).
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa : Pemberian pupuk organik cair mikrobat pada aksesi Pare Mansur dan Pare Pinjan memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman (4 Minggu Setelah Tanam, 8 Minggu Setelah Tanam, dan 12 Minggu Setelah Tanam), jumlah anakan (10 Minggu Setelah Tanam, dan 12 Minggu Setelah Tanam), berat basah tanaman, berat kering tanaman dan panjang akar tanaman. Aksesi Pare Pinjan memperlihatkan pertumbuhan vegetatif lebih baik dibanding dengan Pare Mansur.
Dosis terbaik pemberian pupuk organik cair mikrobat untuk pertumbuhan vegetatif tanaman padi aromatik lokal Enrekang aksesi Pare Pinjan yaitu pada konsentrasi (K1) 5% dan dosis terbaik untuk aksesi Pare Mansur umumnya pada konsentrasi (K3) 15%.
5. DAFTAR PUSTAKA
[1] Balai Penelitian Tanaman Padi, 2002. Deskripsi Varietas Unggul Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
[2] hien, S.H., P.W.G., Sale dan L. Hammond, 1990. Comparison of the Effectivennes of Phosphorus Fertilizer Product. Dalam Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania (Procedings of Symposium 6-10 March 1989. International Rice Reseach Institute. Los Bonos. Philippina.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016
[3] Dartinus, 1988. Fisiologi Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Sumatera Utara. Medan.
[4] Dobermann, A., dan T. Fairhust, 2000. Rice Nutrient Disorders and Nutrient Management. Oxford Graphics Printers Pte Ltd. 191p.
[5] Gardner, F.P., B.R. Pearce, and L.M. Roger, 1985. Physiology of Crop Plants. The Iowa State University Press. Iowa.
[6] Hardjowigeno, S. 1993. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo Jakarta. Cetakan ke-4.
[7] Ingels, J.E., 1985. Ornamental Horticulture. Principles and Practices State University of New York Agricultural and Technical College. Delmar publisher Inc. 542 P.
[8] Jumin, H.B, 2002. Agroekologi. Suatu Pendekatan Fisiologi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
[9] Kasnari, D.N., dan N. Supadma, 2007. Pengaruh Pemberian Beberapa Dosis Pupuk (N, P, K) Dan Jenis Pupuk Alternatif Terhadap Hasil Tanaman Pvdi Oryza sativa L.) dan Kadar N, P, K Inceptisol Selemadeg, Tabanan. Fakultas Pertanian Universitas Udayana.
[10]Lingga dan Marsono,2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Redaksi Agromedia. Jakarta.
[11]Loveless, A.R., 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta.
[12] Loveless, A.R., 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Terjemahan K. Kartawinata, S. Dinimiharja dan U. Soetisna. Gramedia. Jakarta. [13]Mappanganro, N., E.L. Sengini, dan Baharuddin. 2011. Pertumbuhan Dan
Produksi Tanaman Stroberi Pada Berbagai Jenis Dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair Dan Urine Sapi Dengan Sistem Hidroponik Irigasi Tetes. Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
[14]Prajnanta, F., 2004. Agribisnis Cabai Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta.
[15]Purwono, dan H. Purnamawati, 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
[16]Salikin, K.A., 2003. Sistem. Pertanian Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.