• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROSES KERJA PRAKTIK DI UMN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PROSES KERJA PRAKTIK DI UMN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

10

BAB III

PROSES KERJA PRAKTIK DI UMN

3.1 Kedudukan dan Koordinasi

Berikut adalah keterangan mengenai kedudukan penulis dalam melaksanakan Kerja Praktik dan alur koordinasi dengan pembimbing lapangan ataupun klien dalam pengerjaan suatu proyek.

3.1.1 Kedudukan

Kegiatan Kerja Praktik dilaksanakan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di bawah naungan Building Management. Penulis melakukan Kerja Praktik sebagai proyek intern untuk membantu mengerjakan proyek seperti: konsep, denah, program ruang, 3D, rendering, dan membuat gambar kerja. UMN berperan sebagai klien, sedangkan Building Management merupakan pembimbing penulis selama Kerja Praktik berlangsung. Penulis sendiri berada di bawah pengawasan Building Management Manager (Bpk. Sudarman Sutanto), serta pembimbing lapangan yang nantinya disesuaikan dengan proyek yang dikerjakan.

3.1.2 Koordinasi

Setiap perusahaan memiliki alur kerja agar suatu project dapat terlaksana dengan baik. Building Management yang berada di bawah naungan UMN juga memiliki sistem kerja tersendiri, terutama dalam hal pemberian project dan rancangan anggaran biaya pada project tersebut. Berikut alur kerja di Building Management yang telah dilaksanakan oleh penulis :

a. Building Management mendapatkan proyek dari UMN, kemudian menghubungi mahasiswa intern untuk mengerjakan project tersebut. Kemudian dilakukan briefing dengan mempertemukan klien dengan penulis untuk pembahasan mengenai proyek, hal-hal yang diinginkan, output, dan detail pekerjaan.

(2)

11

b. Mahasiswa intern kemudian mengerjakan tugas sesuai yang diinginkan, seperti membuat konsep, 3D, dan desain dengan beberapa opsi

c. Kemudian, melakukan asistensi kepada pembimbing lapangan, sebelum dipresentasikan ke klien.

d. Mahasiswa intern melakukan revisi sesuai arahan dari pembimbing lapangan

e. Penulis mengajukan kembali hasil kerja dari revisi sebelumnya, jika ada kesalahan kembali maka dilakukan revisi ulang. Jika tidak ada revisi dari pembimbing, maka project akan dipresentasikan kepada klien dan melakukan finalisasi dapat berupa gambar kerja ataupun presentasi.

3.2 Tugas yang Dilakukan

Penulis melaksanakan Kerja Praktik sebagai project architect intern , dimana membantu dalam mengerjakan beberapa proyek dari tahap konseptual hingga gambar kerja. Berikut ini merupakan tabel pekerjaan yang dilakukan penulis selama melaksanakan Kerja Praktik.

No. Proyek Jenis Pekerjaan Keterangan 1 PMN di Gedung D UMN lt. 12 - Perancangan Interior - Minggu 01 : Mengerjakan program ruang, perkakas, detail, material, dan roomtag - Minggu 02 : Revisi PMN D12. - Minggu 03 : Revisi PMN D12, 3D,

perkakas, dan detail.

Klien Supervisi Pembimbing

Lapangan

Internship

Gambar 3. 1 Skema Koordinasi Kerja Praktik

(3)

12

- Minggu 04: Finalisasi dan

menggabungkannya menjadi gambar kerja

- Minggu 05 : Presentasi PMN D12 dan revisi

- Minggu 06: Revisi PMN D12, membuat signage PMN beserta detailnya, dan finalisasi.

2 Gedung C lantai 10

- Perancangan Interior

- Minggu 02: Briefing dan pembagian tugas. - Minggu 04: Visit UMN untuk melakukan

zoning ruangan.

- Minggu 05: Rapat dengan klien.

- Minggu 07: Briefing project dan merancang ruang kolaboratif opsi 1 gedung C UMN lantai 10

- Minggu 08: Merancang ruang kolaboratif opsi 2, signage gedung C UMN.

3 Project New Normal

- New Normal Protokol

- Minggu 08: meeting project area steril new normal untuk studio arsitektur UMN dan mengerjakan sirkulasi sistem protokol - Minggu 09: Presentasi I protocol new

normal, revisi I dan finalisasi, kemudian presentasikan ke seluruh Angkatan.

4 Taman UMN - Perancangan Lansekap

- Minggu 09: Visit UMN untuk pengukuran, briefing tugas dan perencanaan desain keselurhan dengan tim.

- Minggu 10: Diskusi site plan taman UMN , zoning site, dan membuat 3D site plan I. - Minggu 11: Revisi site plan dan mendesain

ulang, membuat 3D taman opsi 1, dan mencari preseden

- Minggu 12: Mengerjakan opsi I taman UMN dan mendiskusikan opsi 2 .

- Minggu 13: Melanjutkan 3D opsi 1 taman UMN.

- Minggu 14: Export file untuk render dan menambahkan perkakas beserta vegetasi pada site.

- Minggu 15: Render, finalisasi, editing site plan, dan membuat presentasi.

5 Gedung PMN lantai 3

- Perancangan

Interior

- Minggu 05 : briefing pembagian tugas dan membuat 3D lantai 3

- Minggu 06 : render, membuat moodboard interior, dan membuat presentasi

- Minggu …. : Visit PMN untuk melihat proses kerja dan luasan ruang secara realistis.

(4)

13

Sumber : Data penulis, 2020

3.3 Uraian Pelaksanaan Kerja Praktik

Penulis mengerjakan 5 proyek selama melaksanakan Kerja Praktik. Namun pada bagian ini, penulis akan menjelaskan secara detail mengenai 3 project yang menurut penulis memberikan pengalaman dan pelajaran selama bekerja. Selain itu penulis juga akan menjabarkan kendala serta solusi yang dilakukan untuk menghadapi kendala tersebut.

3.3.1 Proses Pelaksanaan

Berikut adalah rincian tentang project dan proses pelaksanaan yang telah penulis lakukan selama Kerja Praktik :

1. PMN di Gedung D lantai 12

Project ini diberikan oleh Building Management dalam rangka dibangunnya Politeknik Multimedia Nusantara (PMN) yang saat ini sedang berlangsung. Politeknik Multimedia Nusantara (PMN) memiliki gedung yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, akan tetapi Yayasan Multimedia Nusantara sudah mulai mempersiapkan tempat untuk memulai pembelajaran bagi mahasiswa baru. Gedung PMN yang saat ini sedang dibangun dirasa belum siap untuk menjadi tempat belajar bagi mahasiswa, sehingga Gedung D UMN lantai 12 menjadi solusi untuk memulai awal baru bagi PMN. Gedung D UMN lantai 12 diadaptasikan untuk berfungsi sebagai ruangan yang mencakup kurang lebih 11 ruang yang bersifat temporer, karena nantinya kegiatan akan berfokus di Gedung PMN. Berikut langkah-langkah yang dilakukan dalam pengerjaan proyek PMN di Gedung D UMN lantai 12 :

a. Minggu pertama : briefing mengenai proyek dan pembagian tugas dalam tim. Langkah awal yang dilakukan oleh tim adalah membuat denah dan zoning program ruang dengan memberikan 3 opsi. Kebutuhan ruang dari klien nantinya akan terus berganti, namun berikut permintaan klien di awal pertemuan :

(5)

14

No Nama ruang Total

ruangan Kapasitas/ruangan

1 Ruang dosen + dekan

Ruang dosen 48m2 12 12 Ruang dekan 18m2 1 3 Ruang sekprodi 18m2 1 3 Admin 1 1 2 Ruang Direktur Ruang direktur 9m2 1 1

Ruang Wakil Direktur 18m2 1 2

Admin 1 1

3 Ruang Kantor Penunjang

Student Service 4m2 1 1

BIA 16m2 1 4

4 Collaboration Room

Ruang meeting besar 40m2 3 10

5 Multimedia Laboratory

Logistic Multimedia Room

60m2 1 30

Multimedia Room 60m2 1 30

6 Animation Simulation

Room

Studio Praktek Animasi 60m2 2 30

Tabel 3. 2 Kebutuhan Ruangan PMN Gedung D lantai 12

Sumber : Data Perusahaan, 2020

Tabel di atas merupakan kebutuhan ruangan yang harus ada di lantai 12 dalam menunjang kegiatan PMN untuk sementara waktu. Kemudian penulis dan tim menambahkan ruangan yang sekiranya dapat menunjang kebutuhan, antara lain : 1 ruang IT support, 2 ruang rapat kecil, 1 ruang HRD, dan 1 tambahan

(6)

15

collaboration room. Berdasarkan kebutuhan ruangan tersebut, maka diberikan 2 opsi yang diberikan, sebagai berikut :

Gambar di atas merupakan usulan pertama untuk lantai 12, dimana ruang marketing, ruang direktur dan wakil direktur, serta ruang penunjang berada di sisi atas. Tata letak ini bertujuan untuk membagi fokus dari fungsi yang berbeda, antara kegiatan belajar-mengajar dan kegiatan kantor. Tata letak ini juga bertujuan untuk mempermudah sirkulasi pengguna maupun pendatang/tamu, terutama letak ruang marketing yang berada tepat di dekat lift untuk memudahkan tamu dalam menemukannya.

Gambar 3. 2 Denah lantai 12 Opsi 1

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 3 Zoning Fungsi Ruangan Opsi 1

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 5 Denah lantai 12 Opsi 2

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 4 Zoning Fungsi Ruangan Opsi 2

(7)

16

Gambar di atas merupakan denah dan zonasi program ruang kedua yang diajukan oleh penulis dan tim. Hal yang membedakan opsi pertama dan kedua adalah tata letak ruang direksi dan ruang kelas. Pada opsi kedua, ruang-ruang kelas ataupun studio terletak di bagian atas, sedangkan ruang marketing dan ruang-ruang direksi di bagian bawah. Kemudian penulis juga membuatnya ke dalam 3D dengan menyertakan roomtag, serta perkakas yang dibutuhkan.

b. Minggu kedua dan ketiga penulis mengerjakan revisi berdasarkan asistensi dengan pembimbing lapangan. Penulis dan Gambar 3. 6 Denah Lantai 12 Opsi 3

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 7 Zoning Fungsi Ruangan Opsi 3

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 10 Hasil Render Ruang BIA

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 8 Hasil Render Ruang Dekan

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 9 Hasil Render Ruang Direktur

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 11 Hasil Render Ruang Dosen

(8)

17

tim berfokus dengan 2 opsi saja dan terjadi beberapa perubahan terhadap kebutuhan ruang. Pada proses ini penulis dan tim mengerjakan denah beserta perkakas yang dibutuhkan, agar dapat melihat sinkronisasi perkakas dengan kebutuhan yang seharusnya. Berikut denah kedua opsi tersebut :

(9)

18

Kedua opsi ini menjadi materi yang kemudian dipresentasikan kepada klien, agar dapat melihat perencanaan yang telah dirancang dan memilihnya. Pilihan dari klien ini yang nantinya akan dilanjutkan oleh penulis dan tim untuk dibuatkan ke dalam gambar kerja dan detail, agar dapat terealisasikan.

c. Minggu keempat dan kelima, penulis melaksanakan revisi-revisi berdasarkan arahan dari pembimbing lapangan. Penulis mengerjakan tampak ruangan, coding untuk mempermudah membaca detail, dan detail perkakas.

Gambar 3. 12 Denah dan interior opsi 1

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 13 Denah dan interior opsi 2

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 15 3D Perkakas Meja

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 14 Detail Meja

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 16 3D Lemari

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 17 Detail Lemari

(10)

19

d. Kemudian minggu keenam dan ketujuh penulis melakukan revisi berdasarkan arahan pembimbing dan membuat signage PMN dengan detail beserta material yang harus sesuai dengan yang seharusnya.

e. Gambar kerja yang telah diselesaikan kemudian digabungkan untuk diberikan kepada Building Management, yang kemudian diajukan ke tender untuk diproses lebih lanjut.

Dalam melaksanakan proyek ini, penulis dibimbing oleh Pak Suryo selaku perwakilan dari Building Management, yang bertanggung jawab pada proyek ini. Sehingga penulis selalu melakukan asistensi dan revisi berdasarkan arahan Pak Suryo. Ketika hasil kerja dirasa detail, maka Pak Suryo dan tim Rancangan Anggaran Biaya (RAB) akan menghitung pengeluaran untuk kebutuhan proyek ini berdasarkan gambar kerja yang telah penulis dan rekan selesaikan. Setelah gambar kerja dinyatakan benar dan sesuai anggaran biaya, maka Pak Gambar 3. 19 Perspektif Signage PMN

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 18 Detail Signage PMN

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 20 Dokumen Tender (Gambar Kerja)

(11)

20

Suryo akan mengajukan kepada tender untuk dikerjakan lebih lanjut.

Proyek ini menjadi salah satu proyek yang penting, karena penulis mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran dari proyek ini. Dengan mengerjakan proyek ini, penulis dapat mengetahui seperti apa gambar kerja yang detail dan dapat terbaca oleh pihak lain, sehingga nantinya dapat dikerjakan sesuai rancangan. Penulis juga belajar untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan pembimbing lapangan, agar nantinya apa yang sudah penulis dan rekan rancang dapat terealisasi dengan yang seharusnya. Selain itu penulis juga dapat mengetahui jenis-jenis material dan merk, penamaan kode, serta detail yang sebelumnya belum pernah dipelajari di perkuliahan, sehingga hal ini menambah pengetahuan bagi penulis sendiri. Kemudian, penulis juga belajar mengenai pertimbangan penggunaan material untuk menyesuaikan dengan budget dari klien, sehingga penulis belajar untuk mencari cara alternatif dalam penggunaan material pada furniture.

Selama berproses terdapat beberapa kendala yang cukup membingungkan, karena sejak awal belum adanya kepastian dari pihak klien mengenai kebutuhan ruang. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi perubahan pada program ruang dan kebutuhan furniture. Solusi untuk kendala ini adalah dengan sering melakukan konfirmasi dan berkomunikasi saat pertemuan ataupun melalui via chat.

2. Protokol New Normal Studio Arsitektur

Proyek ini diberikan oleh Program Studi Arsitektur dalam rangka digunakannya kembali studio arsitektur dengan berdasarkan protocol new normal. Proyek ini didasari oleh kebutuhan mahasiswa arsitektur untuk berkuliah secara offline , karena beberapa mata kuliah khususnya yang memerlukan studio, perlu bertatap muka.

(12)

21

Akan tetapi kegiatan belajar di studio sedang terhalang karena keadaan saat ini sedang tidak baik, sebab maraknya Covid-19. Dalam masa transisi menuju new normal, maka kampus mengizinkan mahasiswa arsitektur untuk menggunakan studio, dengan syarat mengikuti protocol new normal, untuk menghindari hal-hal negative yang tidak diinginkan.

Penulis mendapatkan tugas untuk merancang sirkulasi mahasiswa dari pertama datang sampai menuju studio di lantai 2. Penulis juga mengatur hal-hal yang harus dilakukan sebelum masuk ke studio, sehingga nantinya di lantai 2 menjadi area steril. Awalnya tim penulis memberi 3 opsi sirkulasi untuk diasistensikan kepada Bu Irma sebagai pembimbing lapangan. Opsi yang penulis berikan adalah menyediakan tempat mencuci kaki portable di depan ruang studio masing-masing. Selain itu pada opsi ini, penulis juga menyediakan tempat menaruh sepatu dengan diberikan jarak. Akan tetapi setelah melakukan presentasi, opsi ini dirasa tidak efisien dan nantinya koridor di lantai 2 menjadi berantakan. Oleh karena itu dilakukan revisi pertama dengan berfokus pada lantai 1 sebagai area kotor, sedangkan lantai 2 sebagai area steril

Tahap pertama yang dilakukan penulis dan tim adalah melakukan zonasi area di lantai 1 dan merencanakan fasilitas yang akan di block di lantai 2. Zonasi ini dilakukan untuk memberikan batasan area di lantai 1 yang nantinya akan difokuskan sebagai area kotor yang digunakan mahasiswa arsitektur, seperti mengganti sepatu menjadi sendal dan memasukkan baju luaran ataupun jaket

Gambar 3. 22 Render New Normal

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 21 Render New Normal

(13)

22

ke dalam tas. Sedangkan fasilitas yang di block adalah lift menuju lantai 2 dan salah satu tangga menuju lantai 2.

Tujuan dilakukannya fasilitas yang di block adalah agar mahasiswa yang datang, nantinya berfokus di area steril sebelum memasuki lantai 2, sehingga nantinya lantai 2 tidak terkontaminasi.

Kemudian, penulis dan tim mempresentasikan kepada Bu Irma dan dosen arsitektur, sebelum dilakukan sosialisasi kepada semua mahasiswa arsitektur. Dari presentasi ini, penulis mendapatkan pelajaran dalam hal mengkomunikasikan proyek secara informatif dan skematik, baik secara alur, prosedur, skenario yang dibuat, dan keselarasan grafis dalam presentasi agar menarik dan mudah dipahami. Penulis juga merasa dengan proyek ini, dapat menjawab tantangan dan isu yang saat ini sedang terjadi, dengan membuahkan suatu solusi. Selain itu, karena isu yang dibawa sedang terjadi, maka penulis merasakan eksplorasi dan pengalaman yang belum pernah ada di perkuliahan. Sedangkan, dalam melaksanakan Gambar 3. 24 Zonasi Area Lantai 1

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 23 Fasilitas lantai 2 yang di-block

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 25 Skenario Area Steril

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 26 Skenario Area Steril

(14)

23

proyek ini penulis merasa tidak adanya kendala, karena informasi dan tujuan yang diberikan sejak awal sudah jelas. Sehingga berjalan lancar dari awal hingga tahap presentasi kepada semua dosen dan mahasiswa arsitektur.

3. Taman UMN

Proyek ini diberikan oleh Pak Andrey selaku Wakil Rektor II di Universitas Multimedia Nusantara. Proyek yang diberikan berdasarkan kondisi taman di UMN yang sampai saat ini berantakan dan belum dilakukan perencanaan pembangunan lebih lanjut. Pak Andrey sendiri memiliki keinginan agar taman tersebut dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai tempat berdiskusi ataupun fungsi lainnya. Berdasarkan permintaan ini, penulis dan tim memberikan beberapa opsi untuk merancang Taman UMN agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. Dalam pembagian ini, penulis mengerjakan satu opsi dari awal hingga selesai secara individu.

Tahap pertama yang dilakukan penulis adalah melakukan diskusi dengan tim mengenai perencanaan awal dari fungsi pada taman, serta merancang zonasi. Hal ini bertujuan agar dalam satu tim tetap memiliki fokus dan batasan yang sama, meskipun nantinya terdapat 2 opsi sebagai hasil akhir.

Gambar 3. 27 Zoning Fungsi Taman

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 28 Rencana Denah Taman UMN

(15)

24

Berdasarkan hasil diskusi dengan tim, didapatkan kesepakatan fungsi Taman UMN nantinya sebagai tempat berdiskusi mahasiswa. Dimana para mahasiswa nantinya dapat bersantai, mengerjakan tugas, dan berdiskusi di taman tersebut. Karena itu akan dibuat satu modular untuk menunjang ruang berdiskusi mahasiswa, yang nantinya akan tersebar di beberapa titik. Penyebaran ruang diskusi ini agar keramaian di setiap area sama rata. Dengan kesepakatan ini, penulis melanjutkan proses merancang ke tahap perencanaan site plan.

Dalam mengolah taman ini, penulis tetap menginginkan vegetasi yang banyak, tersebar, dan rimbun. Agar ketika beraktivitas di taman, mahasiswa tetap merasa nyaman. Terdapat beberapa akses untuk menuju taman, baik secara eksisting ataupun yang penulis rancang. Akses yang penulis rancang berupa tangga dari Gedung D

Gambar 3. 29 Site Plan

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 30 Site Plan yang sudah diolah

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 31 Tangga yang diolah sebagai akses ke Taman

(16)

25

menuju taman, yang dapat digunakan sebagai tempat duduk mahasiswa (gambar 5.9)

Setelah merancang site, penulis mulai membuatnya menjadi 3D dan meletakkan modular yang telah dibuat oleh rekan penulis. Kemudian penulis memasukkan data 3D ke software rendering, untuk menambahkan vegetasi, memulai proses render, dan mempersiapkan presentasi.

Selama mengerjakan proyek ini, tidak ada pembimbing lapangan untuk diajak berdiskusi dan asistensi. Sehingga proses merancang dan hasilnya merupakan tanggung jawab serta kreativitas penulis sepenuhnya. Oleh karena itu dari proyek ini penulis mendapatkan pengalaman dalam merancang lansekap yang sebelumnya tidak pernah dilakukan penulis selama perkuliahan. Selain itu juga menambah wawasan dan kreativitas penulis dalam mengolah taman dengan mencari berbagai preseden sebagai referensi dalam merancang.

Gambar 3. 35 Render Taman 1

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 34 Render Taman 2

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 33 Render Taman 3

Sumber : Data perusahaan, 2020

Gambar 3. 32 Render Taman 4

(17)

26

3.3.2 Kendala yang Ditemukan

Selama melaksanakan Kerja Praktik penulis mengalami kendala-kendala sebagai berikut :

1. Kerja Praktik yang berlangsung bertepatan dengan maraknya Covid-19, sehingga menyebabkan bekerja dengan sistem Work From Home (WFH). Jadi selama Kerja Praktik, penulis bekerja secara online, baik dari meeting, presentasi, ataupun asistensi. Hal ini menyebabkan penulis tidak bertemu dengan klien secara langsung, sehingga komunikasi kurang berjalan dengan baik dan permintaan dari klien menjadi kurang begitu jelas. Kurang baiknya komunikasi yang terjalin juga menyebabkan tidak jelasnya kelanjutan satu proyek, sehingga terjadi pembatalan pada proyek tersebut.

2. Penerapan sistem kerja WFH juga menyebabkan deadline proyek yang kurang pasti, sehingga penulis harus bekerja lembur di saat tertentu untuk mengejar deadline tersebut.

3. Penulis merasa sistem program Kerja Praktik di Building Management belum terstruktur dan matang, sehingga ada hari dimana penulis dan tim tidak memiliki pekerjaan.

4. Selama pelaksanaan Kerja Praktik di Building Management, penulis merasa kebingungan dengan sistem koordinasi, karena memiliki banyak supervisi di setiap proyek. Sehingga seringkali terjadi kesalahan dalam koordinasi dan bimbingan, serta ada beberapa proyek yang tidak jelas koordinatornya.

3.3.3 Solusi Atas Kendala yang Ditemukan

Dalam menghadapi kendala-kendala yang terjadi, maka penulis mempunyai solusi-solusi sebagai berikut :

1. Penulis berinisiatif untuk bertanya melalui via chat kepada klien, pembimbing lapangan, dan supervisi sampai sejelas mungkin, agar tidak terjadi kesalahan atau miskomunikasi. Jika memang

(18)

27

diperlukan, maka penulis akan meminta waktu untuk bertemu secara langsung, agar semua menjadi jelas.

2. Jika proyek memiliki tenggat waktu sangat dekat, maka penulis akan membagi tugas kepada tim dengan sama rata dan mengerjakannya dengan cepat. Sehingga pekerjaan dapat selesai sesuai dengan tenggat waktu. Jika mendapatkan proyek dengan deadline yang panjang, maka penulis akan memanfaatkan waktu tersebut untuk merancang opsi-opsi yang lain, agar syarat jam kerja dapat tercapai. 3. Penulis dan tim akan berinisiatif untuk menanyakan dan meminta

proyek kepada supervisi.

4. Penulis dan tim akan memastikan sekali lagi siapa koordinator pada proyek tersebut, sebelum mengerjakannya lebih lanjut. Sehingga mempermudah dan memperjelas untuk proses asistensi dan presentasi.

Gambar

Gambar 3. 1 Skema Koordinasi Kerja Praktik  Sumber : Data penulis, 2020
Tabel 3. 1 Pekerjaan yang dikerjakan penulis
Tabel 3. 2 Kebutuhan Ruangan PMN Gedung D lantai 12  Sumber : Data Perusahaan, 2020
Gambar di atas merupakan denah dan zonasi program ruang  kedua  yang  diajukan  oleh  penulis  dan  tim
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis data diperoleh nilai t hitung sebesar 30,78 Selanjutnya di Uji dengan t tabel pada taraf kepercayaan α = 0,05 dan derajat kebebasan n-1 = 10 – 1

Pelat lantai bangunan dimodelkan sebagai pelat orthotropik dengan perletakan semirigid pada keempat sisinya, berukuran 5.05 m x 7.4 m yang diberi dua pengaku pada salah satu

(3) Bagi Satuan Pendidikan tingkat SMP, SMA dan SMK yang menyelenggarakan PPDB Online melalui seleksi TPA, dapat dilaksanakan setelah proses verifikasi pendaftaran

Gerakan Infaq Beras Jakarta menjadi jembatan amal sholeh dimana gerakan ini hanya untuk menjembatanin antara OTA (Orang Tua Asuh) yang ingin berdonasi atau berinfaq untuk

Perwakilan tersebut mengumpulkan segala pertanyaan dan kebutuhan desain yang tim intern miliki untuk disampaikan melalui jaringan pribadi pembimbing lapangan dan klien

32 Maka dipanggil oleh Jesus akan murid-muridnja, lalu katanja, "Hatiku sangat kasihan akan orang banjak ini, karena sudah tiga hari lamanja mereka itu tinggal bersama-sama

Mi kering non terigu dengan konsentrasi tinta cumi 12% dan waktu pengukusan 15 menit menghasilkan kadar air tertinggi yaitu sebesar 12,48%; tensile strength tertinggi

Sedangkan terapi farmakologi meliputi agonis β 2 , kortikosteroid inhalasi, modifier leukotrien, cromolin dan nedokromil, teofilin, serta kortikosteroid oral (Depkes,