• Tidak ada hasil yang ditemukan

JEMA : Journal of Economic, Management and Accounting Adpertisi - Volume 1, Nomor 1 Juni 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JEMA : Journal of Economic, Management and Accounting Adpertisi - Volume 1, Nomor 1 Juni 2019"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TINGKAT UPAH, PRODUKTIVITAS, MODAL DAN

PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI BERBASIS

TEKNOLOGI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA

INDUSTRI MANUFATUR BESAR DAN MENENGAH DI

KABUPATEN BADUNG

Gde Deny Larasdiputra Universitas Warmadewa

[email protected]

I Gusti Ayu Ratih Permata Dewi Universitas Warmadewa

[email protected]

ABSTRACT

This study aims to analyze the Effect of Wage Levels, Productivity, Capital and Use of Technology-Based Accounting Information on Absorption of Large and Medium Manufacturing Industry Workforce in Badung Regency. Large and Medium Industrial Companies which are included in the publication of the Medium Large Industrial Company Directory are all companies engaged in manufacturing or processing and industrial services (makloon) sectors which have a workforce of 20 or more people, including new category industrial companies that start operating or producing commercially in 2018 and domiciled in the territory of the Province of Bali.

The population in this study is the Large and Medium Manufacturing Industry in Badung Regency. The number of Large and Medium Industrial Companies in Bali Province is 65 companies. In this study used a sampling technique that is saturated sampling, where a technique of determining the sample if all members of the population are used as samples. The data analysis technique used in this study is descriptive statistical analysis, classic assumption test and hypothesis testing using multiple regression analysis. The results of this study prove that Wage Levels, Productivity, Capital and Use of Accounting Information Based on Technology Against Absorption of Large and Medium Manufacturing Industry Workforce in Badung Regency.

Keywords: Wage Level, Productivity, Capital, Technology, Absorption of Labor.

(2)

Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk meningkatkan dan memajukan kesejahteraan masyarakatnya melalui pembangunan. Sektor kerja dan pengangguran merupakan hal yang terkait erat dengan kemiskinan, terutama bagi mereka dalam pekerjaan informal (Armida, S. dan Manning 2006). Dalam mewujudkan hal ini, pemerintah berusaha mengembangkan sektor industri yang ada di Indonesia, baik sektor industri skala kecil, menengah, maupun besar (Lia, 2007:53 dalam Lilyawati dan Budhi, 2016).

Industrialisasi merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Hal itu dikarenakan Proses industri merupakan sektor yang mempunyai kontribusi besar dalam mendorong laju pembangunan ekonomi. Industrialisasi adalah perubahan sosial, dengan industrialisasi di daerah pedesaan, tujuan pokok pembangunan dapat tercapai, yaitu memberantas kemiskinan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat desa untuk menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan dalam kehidupannya. Sektor industri baik sektor industri kecil atau menengah maupun sektor industri besar sangat berarti peranannya terhadap daya serap tenaga kerja bagi masyarakat.

Sektor industri yang dipandang strategis adalah industri manufaktur. Industri manufaktur dipandang sebagai pendorong atau penggerak perekonomian daerah. Seperti umumnya negara sedang berkembang, Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah dan setiapdaerah memiliki keragaman keunggulan sumberdaya alam. Di sisi lain Indonesia memiliki jumlah penduduk atau angkatan kerja yang sangat tinggi. Sektor manufaktur menjadi media untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang melimpah, yang pada gilirannya akan mampu menyerap tenaga kerja yang besar (Azhar dan Arifin, 2011)

Provinsi Bali merupakan salah satu provinsi yang memilki sektor industri yang berkembang sangat pesat.Karakteristik perekonomian di Provinsi Bali sangat spesifik bila kita bandingkan denganprovinsi lainnya di Indonesia, dengan mengandalkanpesona alam yang indah, seni, serta budaya dan adat istiadat yang sudah sangat terkenal hingga di mancanegara.Faktor-faktor tersebutlah yang

(3)

menyebabkan Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Bali meningkat setiap tahunnya dimasing-masing sektor (Sudemen, 2009:394 dalam Yuniartini, 2013).

Sektor industri pengolahan dalam prosesnya telah memberikan penduduk Indonesia peluang dalam memperoleh pekerjaan dan telah memberikan sumbangan bagi Produk Domestik Bruto (PDB) (Candra Ningsih 2015).UMKM memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja tenaga kerja, meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga.Selain itu UMKM juga memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Ragional Bruto (PDRB) (Tambunan, 2008 dalam Utari dan Dewi, 2014).

Perusahaan Industri Besar dan Sedang yang dicakup dalam publikasi Direktori Perusahaan Industri Besar Sedang adalah semua perusahaan yang bergerak di sektor industri manufaktur atau pengolahan maupun jasa industri (makloon) yang mempunyai tenaga kerja 20 orang atau lebih, termasuk perusahaan industri kategori baru yang mulai beroperasi atau berproduksi secara komersial pada Tahun 2018 dan berkedudukan di wilayah Provinsi Bali. Jumlah perusahaan Industri Besar dan Sedang pada Tahun 2016 tercatat 455 unit turunmenjadi 384 unit di Tahun 2017, atau mengalami penurunan sebesar 15,60persen. Penurunanjumlah perusahaan tersebut, diikuti pula dengan penurunan jumlah tenaga kerjaperusahaan Industri Besar dan Sedang Tahun 2017 yang tercatat sebanyak 24.392 orang atau turun 19,05 persen. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Perusahaan Industri Besar dan Sedang di Provinsi Bali Tahun 2016-2017 No Kabupaten/Kota 2016 2017 Jumlah Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja Jumlah Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja 1 Jembrana 25 3375 24 2315 2 Tabanan 24 2041 24 1950 3 Badung 79 6584 65 4922 4 Gianyar 61 3113 40 2087 5 Klungkung 20 887 19 884 6 Bangli 14 633 11 527 7 Karangasem 11 409 9 414

(4)

8 Buleleng 16 808 14 794

9 Denpasar 205 12282 178 10449

Provinsi Bali 455 30132 384 24392

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Perusahaan Industri Besar dan Sedang yang diklasifikasikan dalam publikasi ini adalah Perusahaan Industri Besar dan Sedang berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2015. Khusus untuk Provinsi Bali, pada publikasi kali ini terdapat 84jenis industri (Kode KBLI 5 digit) dimulai dari kode KBLI 10130, yakni jenis industri pengolahan dan pengawetan produk daging dan daging unggas sampai dengan kode KBLI 32909, yakni jenis industri pengolahan lainnya yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.

Kenyataannya dalam proses penyerapan tenaga kerja utukmemperluas usaha industri manufaktur besar dan menengah tidak terlepas dari beberapa faktor. Faktor ini yaitu faktor eksternal dan internal. Secara eksternal dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, pengangguran dan tingkat bunga (Handoko, 2008: 18). Namun dalam dunia usaha tidaklah memungkinkan mempengaruhi kondisi tersebut, hanyalah pemerintah yang dapat menangani dan mempengaruhi faktor eksternal. Sedangkan secara internal dipengaruhi oleh tingkat upah, produktivitas tenaga kerja, dan modal (Simanjuntak, 1985: 80).

Berbagai permasalahan dihadapi oleh para pelaku industri besar dan sedang ini dari mulai kurangnya perhatian dan pembinaan dari pemerintah Kabupaten Badung, kemudian terkait akan wilayah pemasaran produk yang belum begitu luas serta susahnya mencari ketersediaan akan tenaga kerja yang ahli dalam pembuatan produk serta masih banyak lainnya hal-hal yang sering dihadapi oleh para produsen dalam proses pengembangan industri besar dan sedang di Kabupaten Badung ini.

Untuk mengembangkan sektor industri perlu adanya upah dalam proses penyerapan tenaga kerja. Karena dengan adanyaperubahan tingkat upah akan mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Naiknya tingkat upah akan menaikkan biaya produksi perusahaan yang kemudian akan meningkatkan pula harga per unit barang yangdiproduksi. Apabila harga naik, konsumen akan mengurangi konsumsi.

(5)

Akibatnya banyak produksi barang yang tidak terjual, dan terpaksa produsen menurunkan jumlah produksinya sehingga tenaga kerja yang dibutuhkan juga berkurang (Simanjuntak, 1985: 109).

Produktivitas tenaga kerja dapat mempengaruhi penyerapantenaga kerja. Peningkatan produktivitas tenagakerja akan menurunkan biaya produksi per unit barang. Dengan turunnnya biaya produksi per unit, pengusaha dapat menurunkan harga jual barang, oleh sebab itu permintaan masyarakat akan barang tersebut bertambah. Pertambahan permintaan akan barangmendorong pertambahan produksi, dan selanjutnya menambah permintaaan akan tenaga kerja (Simanjuntak, 1985: 45).

Modal juga dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerjapada suatu industri. Hal ini karena setiap dari penambahan modal akan meningkatkan bahan baku.Sehingga bahan baku yang banyak akan membutuhkan tenaga kerja yang banyak pula pertambahan dari bahan baku akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.Usahaakumulasi modal dapat dilakukan dengan melalui kegiatan investasi yang akan menggerakkan perekonomian melaluimekanisme permintaan agregat, dimana akan meningkatkan usaha produksi dan pada akhimya akan mampu meningkatkan permintaan tenaga kerja (Sudarsono, 1998: 22).

Kecanggihan teknologi belum tentu mengakibatkan kenaikan atau penurunan jumlah tenaga kerja. Oleh karena kecanggihan teknologi akan menyebabkan hasil produksi yang lebih baik, namun kemampuannya dalam menghasilkan produk dalam kuantitas yang sama atau relatif sama. Adapun yang lebih berpengaruh dalam menentukan permintaan tenaga kerja adalah kemampuan mesin untuk menghasilkan produk dalam kuantitas yang jauh lebih besar dari pada kemampuan manusia. Proses produksi yang dulunya menggunakan tenaga kerja manusia dan beralih ke penggunaan mesin-mesin yang modern maka akan mempengaruhi permintaan tenaga kerja, dimana permintaan tenaga kerja manusia menjadi lebih rendah (Divianto, 2014). Dilihat dari sisi akuntansi yaitu,dahulu perusahaan menggunakan metode pencatatan berbasis kas (cash basis) saat ini menggunakan metode dengan basis akrual

(6)

(acrual basis). Selain itu sistem akuntansi yang dahulu berupa single entry sekarang telah beralih menggunakan sistem double entry. Dikarenakan sistem pelaporan single entry tidak dapat memberikan informasi yang komprehensif dan mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. (Ariesta, 2008). Perubahan tersebut tentunya tidak dilakukan secara langsung, melainkan ada beberapa proses untuk dapat sampai pada saat ini. Dan hal itu tidak bisa diputuskan oleh karyawan dengan kinerja yang biasa saja tanpa adanya kemampuan pada bidang akuntansi selain itu informasi juga ikut berperan dalam pengambilan keputusan. Hal itu bisa dikatakan sebagai akibat dari teknologi karena adanya perkembangan dalam pelaporan dan pencatatan akuntansi suatu perusahaan sehingga membawa dampak positif bagi perusahaan untuk terus melakukan perbaikan. Dan itu merupakan kecakapan pengelola dan pembuat laporan dalam mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Berdasarkan hal itu diharapkan dengan penggunaan teknologi yang lebih modern akan membuat hasil dari produksi industri besar dan sedang memiliki kualitas yang lebih baik dan menghasilkan output yang maksimal. Rumusan masalah untuk dianalisis dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah tingkat upah berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja industri manufaktur besar dan menengah di Kabupaten Badung?

2. Apakah produktivitas tenaga kerja berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja industri besar dan menengah di Kabupaten Badung?

3. Apakah modal berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja industri besar dan menengah di Kabupaten Badung?

4. Apakah penggunaan informasi akuntansi berbasis teknologi berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja industri besar dan menengah di Kabupaten Badung?

2. KAJIAN PUSTAKA

A. Teori Industri

Istilah industri berasal dari bahasa latin, yaitu industria yang artinya buruh atau tenaga kerja. Istilah industri sering digunakan secara umum dan luas, yaitu semua kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam rangka mencapai

(7)

kesejahteraan. Definisi industri menurut Sukirno adalah perusahaan yang menjalankan kegiatan ekonomi yang tergolong dalam sektor sekunder. Kegiatan itu antara lain adalah pabrik tekstil, pabrik perakitan dan pabrik pembuatan rokok. Industri merupakan suatu kegiatan ekonomi yang mengolah barang mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi untuk dijadikan barang yang lebih tinggi kegunaannya.Dalam pengertian yang sempit, industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi menjadi

barang dengan nilai yang lebih tinggi penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Secara umum pengertian industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.Industri merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejateraan penduduk. Selain itu industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengelola bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya termasuk kegiatan rancangan bangun dan perekayasaan industri. Dari sudut pandang geografi, Industri sebagai suatu sistem, merupakan perpaduan sub sistem fisis dan sub sistem manusia.

Industri mencakup semua usaha dan kegiatan dibidang ekonomi yang bersifat produktif. Sedangkan pengertian industri atau industri pengolahan adalah suatu kegiatan yang mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dalam hal ini termasuk kegiatan jasa industri dan pekerja perakitan (assembling). Dalam istilah ekonomi, industri mempunyai dua pengertian. Pertama, industri merupakan

(8)

himpunan perusahaan-perusahaan sejenis, contoh industri kertas berarti himpunanperusahaan-perusahaan penghasil kertas. Kedua, industri adalah sektor ekonomi yang didalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah barang mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.

Dalam pengertian kedua, kata industri sering disebut sektor industri pengolahan/manufaktur yaitu salah satu faktor produksi atau lapangan usaha dalam perhitungan pendapatan nasional menurut pendekatan produksi. Pengertianindustri adalah: Suatu unit atau kesatuan produk yang terletak pada suatu tempat tertentu yang meletakan kegiatan untuk mengubah barang-barang secara mekanis atau kimia, sehingga menjadi barang (produk yang sifatnya lebih dekat pada konsumen terakhir), termasuk disini memasang bahagian dari suatu barang(assembling).

Ketika satu negara telah mencapai tahapan dimana sektor industri sebagai

leading sector maka dapat dikatakan negara tersebut sudah mengalami

industrialisasi. Dapat dikatakan bahwa industrialisasi sebagai transformasi struktural dalam suatu negara. Oleh sebab itu, proses industrialisasi dapat didefenisikan sebagai proses perubahan struktur ekonomi dimana terdapat kenaikan kontribusi sektor industri dalam permintaan konsumen, PDB, ekspor dan kesempatan kerja.

Industrialisasi dalam pengertian lain adalah proses modernisasi ekonomi yang mencakup seluruk sektor ekonomi yang mempunyai kaitan satu sama lain dengan industri pengolahan. Artinya industrialisasi bertujuan meningkatkan nilai tambah seluruh sektor ekonomi dengan sektor industri pengolahan sebagai leading sector, maksudnya adalah dengan adanya perkembangan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya. Berdasarkan pengalaman di sebagian besar negara, dapat disimpulkan bahwa industrialisasi adalah suatu keharusan karena menjamin kelangsungan proses pembangunan ekonomi jangka panjang dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan yang menghasilkan pendapatan perkapita setiaptahun.

Industri manufaktur merupakan kegiatan ekonomi yang luas maka jumlah dan macam industri berbeda-beda untuk tiap negara atau daerah. Pada umumnya,

(9)

makin maju tingkat perkembangan perindustrian di suatu negara atau daerah, makin banyak jumlah dan macam industri, dan makin kompleks pula sifat kegiatan dan usaha tersebut. Cara penggolongan atau pengklasifikasian industri pun berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya, pengklasifikasian industri didasarkan pada kriteria yaitu berdasarkan bahan baku, tenaga kerja, pangsa pasar, modal, atau jenis teknologi yang digunakan.

Selain faktor-faktor tersebut, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara juga turut menentukan keanekaragaman industri negara tersebut, semakin besar dan kompleks kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, maka semakin beranekaragam jenis industrinya. Secara garis besar ada sembilan jenis industri di bawah ini:

a. Industri makanan, minuman dan tembakau. b. Industri tekstil, pakaian jadi dan kulit.

c. Industri kayu dan barang dari kayu, termasuk perabot rumah tangga. d. Industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan penerbitan.

e. Industri kimia dan barang dari kimia, minyak bumi, batu bara, karet dan plastik. f. Industri barang galian bukan logam, kecuali minyak bumi dan batu bara.

g. Industri logam dasar.

h. Industri barang dari logam, mesin dan peralatannya. i. Industri pengolahan lainnya.

Industri dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor industri, yaitu kelompok industri besar mempunyai tenaga kerja 100 orang atau lebih, industry sedang memiliki tenaga kerja 20-99 orang, dan industri kecil memiliki tenaga kerja 5- 19 orang, dan industri rumah tangga memiliki tenaga kerja 1-4 orang.

a. Industri Besar dan Sedang/Menengah

Pengelompokan sektor industri di Indonesia dibedakan menjadi dua. Pertama, pembagian sektor industri pengolahan berdasarkan jenis produk yang dihasilkan. Berdasarkan pengelompokan ini sektor industri pengolahan dibedakan menjadi

(10)

Sembilan sub sektor. Pengelompokan yang kedua adalah pembagian berdasarkan banyaknya tenaga kerja. Dengan pengelompokan ini sektor industri pengolahan dibedakan menjadi empat sub golongan, yaitu: industri rumah tangga, industri kecil, industri sedang, dan industri besar. Berdasarkan pengolompokan ini, industri besar sedang menghasilkan nilai tambah terbesar. b. Industri Kecil dan Rumah Tangga

Dalam rangka menunjang pembangunan di sektor industri, pemerintah tidak hanya memperhatikan pertumbuhan industri besar dan sedang saja, melainkan juga membantu berkembangnya industri kecil dan rumah tangga. Industri kecil dan rumah tangga memegang peranan penting dalam pembangunan, khusunya negara-negara yang sedang membangun, karena industri ini dapat membuka lapangan kerja yang luas, membuka kesempatan usaha dan memperluas basis pembangunan. Dalam berbagai bidang, industri kecil dan rumah tangga juga meningkatkan ekspor. Dalam pembentukan PDRB, peranan industri kecil dan rumah tangga sebenarnya tidaklah terlalu besar, bahkan dapat dikatakan sangat kecil. Akan tetapi peranan sektor ini dalam penyerapan tenaga kerja cukup besar.

B. Teori Tenaga Kerja

Di dalam hukum perburuhan dan ketenagakerjaan terdapat beberapa istilah yang beragam seperti buruh, pekerja, karyawan, pegawai, tenaga kerja, dan lain-lain. Istilah buruh sejak dulu sudah populer dan kini masih sering dipakai sehingga sebutan untuk kelompok tenaga kerja yang sedang memperjuangkan program organisasinya. Istilah pekerja dalam praktek sering dipakai untuk menunjukkan status hubungan kerja. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik didalam maupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

(11)

Badan Pusat Statistik mendefinisikan bekerja adalah melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit satu jam secara terus menerus dalam seminggu yang lalu (maksudnya seminggu sebelum pencacahan). Tenaga kerja didefinisikan sebagai penduduk dalam usia kerja (workingagepopulation). Sedangkan menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.

Tenaga kerja adalah penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Secara praksis pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja menurut dia hanya dibedakan oleh batas umur. Tenaga kerja adalah penduduk yang mempunyai umur didalam batas usia kerja. Tujuan dari pemilihan batas umur tersebut, supaya definisi yang diberikan sedapat mungkin menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Setiap negara memilih batas umur yang berbeda karena situasi tenaga kerja pada masing-masing negara juga berbeda, sehingga batasan usia kerja antar negara menjadi tidak sama di Indonesia, batas umur minimal untuk tenaga kerja yaitu 15 tahun tanpa batas maksimal.

Pemilihan umur 15 tahun sebagai batas umur minimal adalah berdasarkan kenyataan penduduk umur 15 tahun di Indonesia sudah bekerja atau mencari kerja terutama di desa-desa. Demikian juga Indonesia tidak menetapkan batasan umurmaksimal tenaga kerja karena belum adanya jaminan sosial nasional. Hanya sebagian kecil penduduk yang menerima tunjangan hari tua, yaitu pegawai negeri dan sebagian pegawai swata. Bagi golongan ini pun pendapatan yang diterima tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga mereka yang telah mencapai umur pensiun masih tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhannya, sehinggamereka tetap digolongkan sebagai tenaga kerja.

(12)

Jadi yang dimaksud dengan tenaga kerja yaitu individu yang sedang mencari atau sudah melakukan pekerjaan yang menghasilkan barang atau jasa yang sudah memenuhi persyaratan ataupun batasan usia yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang yang bertujuan untuk memperoleh hasil atau upah untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang bekerja dalam suatu unit usaha. Dalam penyerapan tenaga kerja ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal (Saputra, dkk, 2018). Faktor eksternal tersebut antara lain tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, pengangguran dan tingkat bunga. Dalam dunia usaha tidaklah memungkinkan mempengaruhi kondisi tersebut, makahanyalah pemerintah yang dapat menangani dan mempengaruhi faktor eksternal.Sedangkan faktor internal dipengaruhi oleh tingkat upah, produktivitas tenagakerja, modal dan pengeluaran non upah.

C. Hipotesis

Pengaruh Tingkat UpahTerhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Upah adalah imbalan yang diterima pekerja atas jasa yang diberikannya dalam proses memproduksikan barang atau jasa di perusahaan. Dengan demikian pekerja dan pengusaha mempunyai kepentingan langsung mengenai sistem dan kondisi pengupahan di setiap perusahaan.Pekerja dan keluarganya sangat tergantung pada upah yang mereka terima untuk dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, perumahan, dan kebutuhan lainnya.Oleh karena itu, para pekerja selalu mengharapkan upah yang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Di lain pihak, pengusaha melihat upah sebagai bagian dari biaya produksi, sehingga pengusaha biasanya sangat hati-hati untuk meningkatkan upah. Menurut Todaro, yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat upah yang ditawarkan

(13)

kepada tenaga kerja hal ini akan menurunkan tingkat penyerapan tenaga kerja. Kenaikan tingkat upah mempengaruhi penyediaan tenaga kerja melalui dua daya yang saling berlawanan. Kenaikan tingkat upah di satu pihak meningkatkan pendapatan (income effect) yang cenderung untuk mengurangi tenaga kerja (Saputra dan Julianto, 2016). Di pihak lain peningkatan upah membuat waktu senggang(substitution effect). Daya substitusi ini akan meningkatkan jumlah tenaga kerja tetapi setelah mencapai titik tertentu.

Besar kecilnya upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Biaya produksi yang tinggi meningkatkan harga produk yang pada akhirnya membuat permintaan terhadap produk berkurang.Kondisi ini memaksa produsen untuk mengurangi jumlah produk yang dihasilkan, yang selanjutnya juga dapat mengurangi permintaan tenaga kerja.Penurunan jumlah tenaga kerja akibat perubahan skala produksi disebut efek skala produksi (scale effect). Suatu kenaikan upah dengan asumsi harga barang-barang modal yang lain tetap, maka pengusaha mempunyai kecenderungan untuk menggantikan tenaga kerja denganmesin. Penurunan jumlah tenaga kerja akibat adanya penggantian dengan mesin disebut efek subtitusi (subtitution effect).Oleh karena itu dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1. Tingkat upah berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.

Pengaruh Produktivitas Tenaga KerjaTerhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Produktivitas tenaga kerja dapat mempengaruhi penyerapantenaga kerja. Peningkatan produktivitas tenagakerja akan menurunkan biaya produksi per unit barang. Dengan turunnnya biaya produksi per unit, pengusaha dapat menurunkan harga jual barang, oleh sebab itu permintaan masyarakat akan barang tersebut bertambah. Pertambahan permintaan akan barangmendorong pertambahan produksi, dan selanjutnya menambah permintaaan akan tenaga kerja(Simanjuntak, 1985: 45). Oleh karena itu dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

(14)

Pengaruh Modal Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Dilihat dari sisi hubungan dari variabel yang digunakan seperti modal terhadap penyerapan tenaga kerja, Frame Benefit (1995) dalam Budiawan (2013) modal dapat digunakan untuk membeli mesin-mesin atau peralatan untuk melakukan peningkatan proses produksi. Dengan penambahan mesin-mesin atau peralatan produksi akan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja hal ini dikarenakan mesin-mesin atau peralatan produksi dapat menggantikan tenaga kerja. Jadi semakin banyak modal yang digunakan untuk membeli mesin-mesin atau peraralatan maka menurunkan penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3. Modal berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.

Pengaruh Penggunaan Informasi Akuntansi Berbasis Teknologi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Hubungan teknologi dengan penyerapan tenaga kerja dimana saat industri mempunyai teknologi yang modern dan canggih dalam kerajinanya maka tenaga kerja yang dibutuhkan sedikit karena teknologi dapat menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mampu di lakukan oleh pekerjaan-pekerjaan manusia dan sebaliknya (Arissana dan Budhi 2016).Teknologi berarti perubahan dalam teknik produksi, perbaikan peralatanyang digunakan dalam proses produksi, peningkatan kemampuan pekerja, danperbaikan dalam mengurus perusahaan. Penggunaan teknologi yang tepat guna mendukung adanya inovasi-inovasi produk, meningkatkan daya saing produk dan menjadi hambatan masuk bagi perusahaan pesaing (Kesumadinata dan Budiana, 2012). Menurut Mankiw 2000:46 (dalam Idayanti dan Martini 2015), semakin banyak jumlah tenaga kerja maka semakin meningkat jumlah barang yang akan diproduksi. Kecanggihan teknologi belum tentu mengakibatkan kenaikan atau penurunan jumlah tenaga kerja. Oleh karena kecanggihan teknologi akan menyebabkan hasil produksi yang lebih baik, namun kemampuannya dalam

(15)

menghasilkan produk dalam kuantitas yang sama atau relatif sama. Adapun yang lebih berpengaruh dalam menentukan permintaan tenaga kerja adalah kemampuan mesin untuk menghasilkan produk dalam kuantitas yang jauh lebih besar dari pada kemampuan manusia. Proses produksi yang dulunya menggunakan tenaga kerja manusia dan beralih ke penggunaan mesin-mesin yang modern maka akan mempengaruhi permintaan tenaga kerja, dimana permintaan tenaga kerja manusia menjadi lebih rendah (Divianto, 2014). Dilihat dari sisi akuntansi yaitu,dahulu perusahaan menggunakan metode pencatatan berbasis kas (cash basis) saat ini menggunakan metode dengan basis akrual (acrual basis).Selain itu sistem akuntansi yang dahulu berupasingle entry sekarang telah beralih menggunakan sistemdouble entry. Dikarenakan sistem pelaporansingle entry tidak dapat memberikan informasi yang komprehensif danmencerminkan kinerja yang sesungguhnya. (Ariesta, 2008). Perubahan tersebut tentunya tidak dilakukan secara langsung, melainkan ada beberapaproses untuk dapat sampai pada saat ini. Dan hal itu tidak bisa diputuskan oleh karyawan dengankinerja yang biasa saja tanpa adanya kemampuan pada bidang akuntansi selain itu informasi jugaikut berperan dalam pengambilan keputusan. Hal itu bisa dikatakan sebagai akibat dari teknologikarena adanya perkembangan dalam pelaporan dan pencatatan akuntansi suatu perusahaansehingga membawa dampak positif bagi perusahaan untuk terus melakukanperbaikan. Dan itu merupakan kecakapan pengelola dan pembuat laporan dalam mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Siagian (2006) mengatakan bahwa peranan mesin menjadi lebih besar disbanding tenaga kerja manusia. Sehingga terlihat bahwa ada dampak negatif yang ditimbulkan akibat dari perkembangan teknologi terhadap perkembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4. Penggunaan Informasi Akuntansi Berbasis Teknologi berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.

3. METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian dipilih pada Industri Manufaktur Besar dan Menengah di Kabupaten Badung. Populasi pada penelitian ini adalah Industri Manufaktur Besar dan Menegah di Kabupaten Badung. Jumlah Perusahaan Industri Besar dan Sedang

(16)

di Provinsi Bali adalah 65 perusahaan. Dalam penelitian ini digunakan teknik pengambilan sample yaitu sampling jenuh, dimana suatu teknik penentuan sampel jika semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini merupakan metode yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :

1. Metode Pustaka

Studi pustaka merupakan teknik untuk mendapatkan informasi melalui catatan, literatur, dokumentasi dan lain-lain yang masih relevan dalam penelitianini. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yangdiperoleh dalam bentuk sudah jadi dari Badan Pusat Statistik (BPS) ProvinsiBali. Data yang diperoleh adalah data dalam bentuk tahunan untuk masing-masing variabel. 2. Metode Angket (Kuesioner)

Merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2002:151). kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner terbuka dan tertutup karena peneliti menyajikan kuesioner yang di dalamnya terdapat beberapa pertanyaan yang memberikan kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri, dan juga ada beberapa pertanyaan yang memiliki pilihan jawaban sehingga responden tinggal memilih jawaban yang sesuai.

Model persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ε Keterangan:

Y = Penyerapan tenaga kerja α = Konstanta

X1 = Tingkat Upah X2 = Produktivitas

(17)

X3 = Modal X4 = Teknologi β = Koefisien regresi

4. Pengukuran Variabel

1. Penyerapan Tenaga Kerja (Y) adalah jumlah tenaga kerja yang diserap pada sektor industri besar dan sedang di Kabupaten Badungyang dinyatakan dalam jiwa.

2. Upah Merupakan balasan jasa yang berupa uang yang diterima olehkaryawan atas kinerjanya pada industri, dengansatuan Rp.

3. Produktivitas adalah tingkat produksi atau keseluruhan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh industri, dengan satuan Kg.

4. Modal kerja atau asset lancar merupakan investasi yang digunakan perusahaan dalam jangka pendek, biasanya berupa kas/bank, persediaan, piutang, investasi jangka panjang dan biaya dibayar dimuka (Haryani, 2002).Modal dengan satuan Rp.

5. Kemajuan teknologi dapat menggantikan tenaga manusia dengan mesin akan meningkatan produktivitas industri dan juga menjaga mutu. Pada era industri kreatif, peran teknologi sangat penting untuk melakukan melakukan inovasi dan modifikasi produk untuk memberikan nilai tambah. Penggunaan informasi akuntansi berbasis teknologi meliputi Informasi statuori, informasi anggaran, dan informasi tambahan (Holmes dan Nicholls, 1988 dalam Mustaqhfiroh, 2016).

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan teknik deskriptif yang memberikan informasi mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud menguji hipotesis. Statistik deskriptif disajikan untuk memberikan informasi mengenai jumlah sampel, nilai

(18)

minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi dari masing-masing variabel. Berdasarkan data olahan SPSS yang meliputi ketepatwaktuan, jenis industri, ukuran perusahaan, profitabilitas, kompleksitas operasi perusahaan, umur perusahaan, dan reputasi kantor akuntan publik maka akan dapat diketahui nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi dari setiap variabel. Berikut hasil statistik deskriptif dapat dilihat dalam Tabel 2.

Tabel 2 Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean

Std. Deviation Y 65 20,00 646,00 75,7231 100,69423 X1 65 3,655 105,321 69,39002 17,392931 X2 65 70,537 435,622 308,31575 60,767710 X3 65 61,058 325,615 208,75462 37,804104 X4 65 4,00 5,00 4,6769 ,47129 Valid N (listwise) 65

Sumber: Data diolah, 2019

B. Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan untuk memperoleh model regresi yang memberikan hasil BLUE (Best Linear Unbiased Estimator), model tersebut perlu di uji asumsi klasik dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square). Model regresi dikatakan BLUE apabila memenuhi semua asumsi klasik.

Uji Normalitas

Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel bebas dan variabel terikatnya, memiliki distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan Kolmogorov-Smirnov, yang dapat dilihat sebagai berikut.

Tabel 3 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz

ed Residual

(19)

Normal Parametersa,b Mean ,0000000 Std. Deviation ,42309862 Most Extreme Differences Absolute ,075 Positive ,075 Negative -,062 Test Statistic ,075

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200d

Sumber: Data diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 3 tersebut menunjukkan bahwa Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,200 > dari level of significant (0,05), sehingga dapat disimpulkan variabel dalam penelitian ini berdistribusi normal.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah pada model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji glejser yaitu dengan cara meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen. Jika tingkat signifikansi berada diatas 0,05 maka model regresi ini bebas dari masalah heteroskedastisitas. Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat berikut ini.

Tabel 4 Uji Heteroskedastisitas

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 164,010 71,333 2,299 ,025 X1 -,754 ,544 -,282 -1,386 ,171 X2 ,085 ,096 ,111 ,884 ,380 X3 ,050 ,259 ,041 ,194 ,847 X4 -24,157 12,080 -,245 -2,000 ,055

a. Dependent Variable: Absolut Resida

Sumber: Data diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa tidak ada pengaruh variabel bebas terhadap absolute residual yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi dari setiap

(20)

variabel yang diuji lebih dari 0,05, dengan demikian model yang dibuat tidak mengandung gejala heteroskedastisitas.

Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen. Gejala multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Apabila nilai tolerance diatas 0,1 dan VIF dibawah 10, maka dapat disimpulkan model regresi bebas dari multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat dari tabel berikut.

Tabel 5 Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 X1 ,327 3,057 X2 ,853 1,172 X3 ,306 3,266 X4 ,903 1,107 a. Dependent Variable: Y

Sumber: Data diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa tidak ada variabel bebas yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0,1 dan tidak ada yang memiliki nilai VIF lebih dari 10. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas dalam model ini.

C. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui Pengaruh Tingkat Upah, Produktivitas, Modal dan Penggunaan Informasi Akuntansi

(21)

Berbasis Teknologi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung. Hasil pengujian disajikan dalam Tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 6 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Variabel Koefesien Regresi (B) t Sig. X1 -3,431 -6,772 ,000 X2 ,196 2,179 ,033 X3 -,542 -2,251 ,028 X4 -57,276 -5,091 ,000 Konstanta 634,572 Adjusted R Square ,840 F Hitung 84,808 Signifikansi F ,000

Sumber: Data diolah, 2019

Model persamaan regresi linear berganda penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = 634,572 – 3,431X1 + 0,196X2– 0,542X3 – 57,276 + e

D. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat yang dilakukan dengan menggunakan besaran angka

Adjusted R Square (R2). Hasil Adjusted R Square (R2) sebesar 0,840 atau 84%. Hal

ini menunjukkan bahwa persentasi Pengaruh Tingkat Upah, Produktivitas, Modal dan Penggunaan Informasi Akuntansi Berbasis Teknologi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung 84% sedangkan sisanya 16% dipengaruhi oleh faktor-faktor atau variabel diluar penelitian ini.

E. Uji Kelayakan Model (Uji F)

Uji F bertujuan untuk menguji kelayakan dari suatu model regresi berganda. Pengujian dapat dilakukan dengan melihat nilai signifikansi F pada output hasil

(22)

regresi menggunakan SPSS dengan significant level 0,05. Apabila nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka dapat dikatakan model penelitian dapat atau layak digunakan. Berdasarkan pada Tabel 6, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi F adalah 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan model ini layak digunakan dalam penelitian.

F. Uji Parsial (Uji t)

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan signifikansi dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan Tabel 6, dapat dilihat bahwa nilai signifikansi t hitung < 0,05. Hal ini berarti Tingkat Upah, Produktivitas, Modal dan Penggunaan Informasi Akuntansi Berbasis Teknologi Berpengaruh Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung.

G. Pembahasan Hasil Penelitian

Pengaruh Tingkat UpahTerhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Berdasarkan Tabel 6 diperoleh bahwa koefisien tingkat upah adalah sebesar -3,431 dan nilai signifikansinya sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti Tingkat upah berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. Tingkat upah berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja.

Upah adalah imbalan yang diterima pekerja atas jasa yang diberikannya dalam proses memproduksikan barang atau jasa di perusahaan. Dengan demikian pekerja dan pengusaha mempunyai kepentingan langsung mengenai sistem dan kondisi pengupahan di setiap perusahaan.Pekerja dan keluarganya sangat tergantung pada upah yang mereka terima untuk dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, perumahan, dan kebutuhan lainnya.Oleh karena itu, para pekerja selalu mengharapkan upah yang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidupnya.

(23)

Di lain pihak, pengusaha melihat upah sebagai bagian dari biaya produksi, sehingga pengusaha biasanya sangat hati-hati untuk meningkatkan upah. Menurut Todaro, yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat upah yang ditawarkan kepada tenaga kerja hal ini akan menurunkan tingkat penyerapan tenaga kerja. Kenaikan tingkat upah mempengaruhi penyediaan tenaga kerja melalui dua daya yang saling berlawanan. Kenaikan tingkat upah di satu pihak meningkatkan pendapatan (income effect) yang cenderung untuk mengurangi tenaga kerja. Di pihak lain peningkatan upah membuat waktu senggang(substitution effect). Daya substitusi ini akan meningkatkan jumlah tenaga kerja tetapi setelah mencapai titik tertentu.

Besar kecilnya upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Biaya produksi yang tinggi meningkatkan harga produk yang pada akhirnya membuat permintaan terhadap produk berkurang.Kondisi ini memaksa produsen untuk mengurangi jumlah produk yang dihasilkan, yang selanjutnya juga dapat mengurangi permintaan tenaga kerja.Penurunan jumlah tenaga kerja akibat perubahan skala produksi disebut efek skala produksi (scale effect). Suatu kenaikan upah dengan asumsi harga barang-barang modal yang lain tetap, maka pengusaha mempunyai kecenderungan untuk menggantikan tenaga kerja denganmesin. Penurunan jumlah tenaga kerja akibat adanya penggantian dengan mesin disebut efek subtitusi (subtitution effect).

Pengaruh Produktivitas Tenaga KerjaTerhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Berdasarkan Tabel 6 diperoleh bahwa koefisien tingkat upah adalah sebesar 0,196 dan nilai signifikansinya sebesar 0,033 < 0,05 yang berarti Produktivitas berpengaruh positif terhadappenyerapan tenaga kerja.

Produktivitas tenaga kerja dapat mempengaruhi penyerapantenaga kerja. Peningkatan produktivitas tenagakerja akan menurunkan biaya produksi per unit barang. Dengan turunnnya biaya produksi per unit, pengusaha dapat menurunkan harga jual barang, oleh sebab itu permintaan masyarakat akan barang tersebut

(24)

bertambah. Pertambahan permintaan akan barangmendorong pertambahan produksi, dan selanjutnya menambah permintaaan akan tenaga kerja(Simanjuntak, 1985: 45).

Pengaruh Modal Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Berdasarkan Tabel 6 diperoleh bahwa koefisien tingkat upah adalah sebesar -0,542 dan nilai signifikansinya sebesar 0,028 < 0,05 yang berarti modal berpengaruh negatif terhadappenyerapan tenaga kerja.

Dilihat dari sisi hubungan dari variabel yang digunakan seperti modal terhadap penyerapan tenaga kerja, Frame Benefit (1995) dalam Budiawan (2013) modal dapat digunakan untuk membeli mesin-mesin atau peralatan untuk melakukan peningkatan proses produksi. Dengan penambahan mesin-mesin atau peralatan produksi akan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja hal ini dikarenakan mesin-mesin atau peralatan produksi dapat menggantikan tenaga kerja. Jadi semakin banyak modal yang digunakan untuk membeli mesin-mesin atau peraralatan maka menurunkan penyerapan tenaga kerja.

Pengaruh Penggunaan Informasi Akuntansi Berbasis Teknologi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Di Kabupaten Badung

Berdasarkan Tabel 6 diperoleh bahwa koefisien tingkat upah adalah sebesar -57,276 dan nilai signifikansinya sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti teknologi berpengaruh positif terhadappenyerapan tenaga kerja.

Hubungan teknologi dengan penyerapan tenaga kerja dimana saat industri mempunyai teknologi yang modern dan canggih dalam kerajinanya maka tenaga kerja yang dibutuhkan sedikit karena teknologi dapat menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mampu di lakukan oleh pekerjaan-pekerjaan manusia dan sebaliknya (Arissana dan Budhi 2016).Teknologi berarti perubahan dalam teknik produksi, perbaikan peralatanyang digunakan dalam proses produksi, peningkatan kemampuan pekerja, danperbaikan dalam mengurus perusahaan. Penggunaan

(25)

teknologi yang tepat guna mendukung adanya inovasi-inovasi produk, meningkatkan daya saing produk dan menjadi hambatan masuk bagi perusahaan pesaing (Kesumadinata dan Budiana, 2012). Menurut Mankiw 2000:46 (dalam Idayanti dan Martini 2015), semakin banyak jumlah tenaga kerja maka semakin meningkat jumlah barang yang akan diproduksi. Kecanggihan teknologi belum tentu mengakibatkan kenaikan atau penurunan jumlah tenaga kerja. Oleh karena kecanggihan teknologi akan menyebabkan hasil produksi yang lebih baik, namun kemampuannya dalam menghasilkan produk dalam kuantitas yang sama atau relatif sama. Adapun yang lebih berpengaruh dalam menentukan permintaan tenaga kerja adalah kemampuan mesin untuk menghasilkan produk dalam kuantitas yang jauh lebih besar dari pada kemampuan manusia. Proses produksi yang dulunya menggunakan tenaga kerja manusia dan beralih ke penggunaan mesin-mesin yang modern maka akan mempengaruhi permintaan tenaga kerja, dimana permintaan tenaga kerja manusia menjadi lebih rendah (Divianto, 2014). Dilihat dari sisi akuntansi yaitu,dahulu perusahaan menggunakan metode pencatatan berbasis kas (cash basis) saat ini menggunakan metode dengan basis akrual (acrual basis).Selain itu sistem akuntansi yang dahulu berupasingle entry sekarang telah beralih menggunakan sistemdouble entry. Dikarenakan sistem pelaporansingle entry tidak dapat memberikan informasi yang komprehensif danmencerminkan kinerja yang sesungguhnya. (Ariesta, 2008). Perubahan tersebut tentunya tidak dilakukan secara langsung, melainkan ada beberapaproses untuk dapat sampai pada saat ini. Dan hal itu tidak bisa diputuskan oleh karyawan dengankinerja yang biasa saja tanpa adanya kemampuan pada bidang akuntansi selain itu informasi jugaikut berperan dalam pengambilan keputusan. Hal itu bisa dikatakan sebagai akibat dari teknologikarena adanya perkembangan dalam pelaporan dan pencatatan akuntansi suatu perusahaansehingga membawa dampak positif bagi perusahaan untuk terus melakukanperbaikan. Dan itu merupakan kecakapan pengelola dan pembuat laporan dalam mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Siagian (2006) mengatakan bahwa peranan mesin menjadi lebih besar disbanding tenaga kerja manusia. Sehingga terlihat bahwa ada dampak negatif yang ditimbulkan akibat dari perkembangan teknologi terhadap perkembangan sumber daya manusia.

(26)

6. SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Tingkat upah berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. 2. Produktivitas berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja. 3. Modal berpengaruh negatif terhadap penyerapan tenaga kerja. 4. Teknologi berpengaruh positif terhadap penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan kesimpulan yang telah diambil, maka saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini adalah:

1. Pemerintah daerah hendaknya lebih memperhatikan tingkat UMR yang berlaku di Provinsi Bali sehingga dapat disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masyarakat, sehingga masalah kekurangan biaya hidup para pekerja dapat diselesaikan.

2.

Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian yang telah penulis lakukan dengan melihat faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja.

(27)

7. REFERENSI

Armida S dan Chris Manning. 2006. Labour Market Dimensions of Poverty in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies. 42:2, 235-261.

Ariesta, F (2008). Skripsi Pengaruh Sumber Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Pengendalian Intern Akuntansi Terhadap Nilai Informasi Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah Padang.

Arissana Yeni, Triani dan Nyoman dan Kembar Sri Budhi. 2016. Analisis Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja dan Produktivitas Kerja Patung Kayu. Jurnal Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana. Vol. 5 No.4

Arikunto, S. 2002. Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Azhar, Kholidah dan Zainal Arifin. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Besar Dan Menengah Pada Tingkat

Kabupaten / Kota Di Jawa Timur. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol 9, No 1. Budiawan, Amin. 2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga

Kerja Terhadap Industri Kecil Pengolahan Ikan di Kabupaten Demak. Universitas Negeri Semarang.

Candra Ningsih, Ni Made. 2015. Pengaruh Modal dan Tingkat Upah Terhadap Nilai Produksi serta Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Kerajinan Perak. Jurnal Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi : Universitas Udayana. Vol 4 No.3

Divianto. 2014. Pengaruh Upah , Modal, Produktivitas, dan Teknologi Terhadaap Penyerapan Tenaga Kerja pada Usaha Kecil-Menengah di Kota Palembang. Politeknik Negeri Sriijaya

Handoko, T. Hani. 2008. Manajemen Personalia Sumber Daya Manusia, Edisi Kedua, Yogyakarta, Penerbit:BPFE.

(28)

Idayanti, Fitria dan Putu Martini Dewi. 2016. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekpor Kerajinan Kayu di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol 5 No. 1, Januari 2016, pp 195-215.

Kesumadinata, Agus Jati dan Budiana, Dewa Nyoman. 2012. Hubungan Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Produksi Kerajinan Sepatu di Kecamatan Denpasar Barat. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol 1 No. 2, Desember 2012, pp 61-120.

Lilyawati dan Made Kembar Sri Budhi. 2016.Analisis faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja dan Efisiensi Usaha Industri Furniture Kota Denpasar. E-Jurnal EP Unud, 5[8] : 865-883 ISSN: 2303-0178 Mustaqhfiroh, 2016. Skripsi Faktor Penentu Penggunaan Informasi Akuntansi Pada

Usaha Kecil dan Menengah Dengan Good Corporate Governance Sebagai Variabel Intervening. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

Saputra, K. A. K., & Julianto, I. P. (2016). Pembentukan Bumdesa Dan Komunitas Wirausaha Untuk Meningkatkan Pembangunan Ekonomi Di Desa. In Prosiding

Seminar Nasional TEAM.

Saputra, K. A. K., Ekajayanti, L. S., & Anggiriawan, P. B. (2018). kompetensi sumber daya manusia dan sikap love of money dalam pengelolaan keuangan usaha mikro kecil menengah (umkm). Jurnal Reviu Akuntansi dan Keuangan, 8(2), 135-146.

Siagian, S. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: CV. Andi Offset. Simanjuntak, Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia.

Jakarta: FEUI

Sudarsono, FX, (1988), Analisis Data I. Jakarta : Departemen dan Pendidikan dan Kebudayaan.

Utari, Tri dan Martini Dewi. 2014. Pengaruh Modal, Tingkat Pendidikan dan teknologi Terhadap UMKM di Kawasan Imam Bonjol Denpasar Barat. Jurnal Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Vol. 3, No. 12.

(29)

Yuniartini, Ni Luh Sri. 2012. Pengaruh Modal, Tenaga Kerja, dan Teknologi Terhadap Produksi Industri Kerajinan Kayu di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar. Jurnal Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Vol. 2 No.2

Gambar

Tabel 1. Jumlah Perusahaan Industri Besar dan Sedang di Provinsi Bali Tahun  2016-2017  No  Kabupaten/Kota  2016  2017  Jumlah  Perusahaan  Jumlah Tenaga  Kerja  Jumlah  Perusahaan  Jumlah Tenaga Kerja  1  Jembrana  25  3375  24  2315  2  Tabanan  24  2041
Tabel 2 Statistik Deskriptif
Tabel 4  Uji Heteroskedastisitas
Tabel 6  Hasil Analisis Regresi Linear Berganda  Variabel  Koefesien  Regresi (B)  t  Sig

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa Terdakwa RETNO DWIGYANTORO, pada hari Jum’at tanggal 08 April 2016 sekira pukul 18.00 WIB atau pada suatu waktu lain dalam bulan April 2016 bertempat di Jalan Adi

Tuliskan nama dan asal cabang anda di tempat yang sudah disediakan.. Anda cukup mengerjakan soal nomor 33 saja

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 Tahun 2014 tentang Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Berita Negara

Inpari 18 9.5 Tahan hama wereng cokelat biotipe 1, 2, agak tahan biotipe 3, juga tahan penyakit hawar daun bakteri patotipe III dan. agak tahan

Dalam penelitian ini dapat di rumuskan mencakup pengaruh kualitas pelayanan terhadap keputusan pembelian konsumen, pengaruh harga terhadap keputusan pembelian konsumen

Diharapkan dengan melalui proses perancangan dan promosi ini, kelompok Ludruk Irama Budaya sebagai Ludruk yang masih tradisional di Surabaya tetap bertahan dan lebih dikenal

Hal ini dikarenakan pada komoditas padi inbrida, setiap orang bisa mengembangkan varietas padi inbrida secara mandiri (tanpa harus meminta hasil perakitan baru) yang mana

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas sifat fisik ransum komplit bentuk wafer yang dibuat pada berbagai komponen hijauan dengan lama penyimpanan yang berbeda