• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harkins Prabowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Harkins Prabowo Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

INFoRMASI GEoSPASIAl GEoloGI KElAUTAN

MENDUKUNG KEbIjAKAN SATU PETA (One MaP POliCy)

Harkins Prabowo

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

[email protected]

SARI

Dalam Undang Undang RI Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG), IG terdiri dari Informasi Geospasial Dasar (IGD) dan Informasi Geospasial Tematik (IGT). IGD diselenggara-kan hanya oleh Badan Informasi Geospasial (BIG), sedangdiselenggara-kan IGT dapat diselenggaradiselenggara-kan oleh instansi pemerintah, Pemda, dan/atau setiap orang. Untuk menjamin agar IGT yang dihasilkan dapat diintegrasikan satu sama lain maka pembuatan IGT harus mengacu kepada IGD yang sama. Dalam SK Kepala BIG Nomor 19 Tahun 2013 dibentuk Pokja dan Sub Pokja Nasional ter-kait Informasi Geospasial Tematik. Puslitbang Geologi Kelautan, Badan Litbang ESDM, KESDM sudah termasuk dalam Sub Pokja Pemetaan Sumber daya Pesisir, Laut, dan Pulau-Pulau Ke-cil; dan Sub Pokja Pemetaan Ekoregion.Selain menghasilkan peta-peta geologi kelautan, pada tahun 2014 Puslitbang Geologi Kelautan memprakarsai terbitnya peta-peta potensi energi laut, sebagai salah satu informasi geospasial tematik yang perlu dioptimalkan guna mendukung One

Map Policy.

Kata kunci: Kebijakan Satu Peta, geologi kelautan, potensi energi laut

1. PENDAHUlUAN

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan, yang terdi-ri daterdi-ri 13.466 pulau, dengan luas daratan ± 1.910.000 km, luas lautan ± 6.279.000 km, berbatasan dengan 10 negara, serta memiliki potensi sumber daya alam yang kaya dan be-ragam. Oleh karena itu, pendataan kondisi dan potensi wilayah merupakan hal yang mutlak dilakukan demi kemajuan bangsa. Pendataan tersebut diwujudkan dalam bentuk suatu in-formasi yang memiliki pengetahuan keruang-bumian, yang disebut juga sebagai Informasi Geospasial (IG). IG menjadi acuan berbagai

stakeholder untuk pembangunan Indonesia

(BIG, 2014).

Peta adalah salah satu produk IG yang me-rupakan salah satu infrastruktur penting da-lam pembangunan nasional yang harus dapat

terselenggara secara baik, tertib, dan andal. Pada dasarnya penyusunan peta tematik ha-rus mengacu pada satu referensi, satu standar, satu geodatabase, dan satu portal. Dengan kata lain peta tematik yang disusun oleh ma-sing-masing stakeholder harus merujuk pada satu peta dasar tunggal yang sudah disepa-kati. Namun demikian, pengalaman menunjuk-kan jika penyusunan suatu peta tidak merujuk pada peta dasar baku maka peta tematik (IG Tematik) yang dihasilkan akan membingung-kan karena format dan isi peta tematik terse-but berbeda-beda. Instansi-instansi yang sela-ma ini menjadi dosela-main data geospasial tesela-matik tertentu, sebagai berikut:

• data geospasial topografi darat, laut (hidro-grafi), lingkungan pesisir menjadi domain Badan Informasi Geospasial (BIG) dan juga Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui Direktorat Topografi Angkatan Darat

(2)

(Ditto-Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

spasial disusun dengan merujuk pada ruang kebumian dan waktu tertentu. IG yang telah di-olah dapat menjadi data pendukung dalam pe-rumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan pemanfaatan dan/atau pengelolaan ruang kebumian. Untuk itu dibutuhkan suatu IG yang andal (akurat, dapat dipercaya, dan dipertanggung-jawabkan) agar pelaksanaan suatu kebijakan atau peraturan bisa berjalan dengan lancar dan tertib. Namun demikian implementasinya bukanlah hal yang mudah, mengingat masih ada berbagai kendala terkait dengan koordinasi, keterbatasan sumber daya, infrastruktur dan suprastruktur, anggaran, tek-nologi, metodologi, serta kondisi geografis itu sendiri. Saat ini telah ada peraturan-peraturan yang secara eksplisit menyatakan perlu nya ketersediaan IG. Misalnya seperti: UUD’45 Pasal 28 F disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh informasi, termasuk IG. Dalam UU No: 26/2007 tentang Penataan Ruang, bahwa perencanaan pembangunan harus didasarkan kepada data dan informasi yang terpercaya, di mana data dan informasi dimaksud termasuk data dan IG. Di samping itu, UU No. 17/2007 tentang RPJPN 2005-2025 menegaskan bahwa aspek wilayah ha-ruslah diintegrasikan ke dalam dan menjadi bagian dari kerangka perencanaan pemba-ngunan di semua level pemerintahan. Dalam kaitan ini, terdapat 34 Provinsi, lebih dari 500 Kabupaten/Kota yang harus mengintegrasikan rencana tata ruangnya ke dalam perencanaan pembangunan daerahnya. Lebih lanjut, di da-lam Perpres No. 5/2010 tentang RPJMN 2010-2014, tertulis bahwa IG merupakan komponen utama yang harus dibangun di dalam peren-canaan pembangunan yang berkelanjutan dan berpihak pada peningkatan pertumbuhan per-ekonomian, mengurangi kemiskinan, mengu-rangi pengangguran dan sekaligus tetap mem-pertahankan kelestarian lingkungan hidup. UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, juga mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan di daerah harus berdasarkan pada data dan informasi yang dapat dipertang-gungjawabkan, termasuk dalam hal ini data dan IG. Pemda pun harus membangun suatu sistem informasi daerah yang terintegrasi se-cara nasional. Demikian juga dalam RPJMN pad) dan Dinas Hidrografi dan Oseanografi

(Dishidros) TNI AL;

• data geospasial kehutanan menjadi domain Kementerian Kehutanan;

• data geospasial pertanahan (kadaster) menjadi domain Badan Pertanahan Nasio-nal (BPN);

• data geospasial pertambangan/geologi menjadi domain Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;

• data geospasial di daerah menjadi domain Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda);

• data geospasial lainnya yang berada di Ke-menterian Perhubungan, KeKe-menterian PU; • data geospasial yang diperoleh dan dikelola

oleh swasta yang tidak mudah diakses kare-na mahalnya pengadaan data tersebut; dan • data geospasial Indonesia yang dimiliki oleh

asing.

Hal tersebut menunjukkan bahwa data geo-spasial Indonesia masih tersebar di berbagai

stakeholder dan membutuhkan kerja keras

untuk mengintegrasikannya dalam sebuah basisdata. Usaha untuk mewujudkan suatu peta yang bersumber pada satu referensi, satu standar, dalam satu basisdata, dan satu portal dimaknai sebagai Kebijakan Satu Peta (One Map Policy). Tantangan besar yang dihadapi

ke depan adalah masalah pengintegrasian in-formasi geospasial yang sejauh ini menyebar di berbagai instansi. Dalam hal ini ego sek-toral bisa menjadi penghalang terbesar untuk mewujudkan Kebijakan Satu Peta tersebut. 2. REGUlASI

Pemerintah mulai mengelola pengintegrasian informasi geospasial dengan melahirkan UU Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geo-spasial (IG) yang mengubah Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) menjadi Badan Informasi Geospasial (BIG). Diharapkan pembentukan Badan yang baru ini bisa mempercepat implementasi UU Informasi Geospasial (UU IG) tersebut.

Sesuai dengan amanat yang terkandung da-lam UU Nomor 4 Tahun 2011 informasi

(3)

geo-Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

Geospasial saja. IGT yang dibuat harus meng-acu kepada satu IGD untuk menjamin konsis-tensi sehingga dapat diintegrasikan dengan baik, serta dapat mencegah tumpang tindih. Sejatinya UU-IG mengamanatkan bahwa pembuatan IGT harus mengacu pada IGD, na-mun IGD yang tersedia saat ini belum mampu menjawab semua kebutuhan IGT. Distribusi cakupan IGD belum merata. Untuk sebagian wilayah, peta dasar memang tersedia da-lam skala yang umumnya masih tergolong skala menengah. Itu pun kebanyakan dibuat dari sumber data yang sudah lama sehingga meskipun ketelitian geometriknya relatif cukup baik, tetapi harus dimutakhirkan. Oleh kare-na itu dibutuhkan suatu “rencakare-na strategis” di dalam pelaksanaannya, baik diwujudkan da-lam bentuk sinergi K/L dada-lam bentuk kegiatan maupun penganggarannya, dengan memper-hitungkan masukan dari akademisi, asosiasi dan komunitas terkait penyelenggaraan IG. Sejalan de ngan itu, BIG yang memperoleh mandat dari UU Nomor 4 Tahun 2011 telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional Informasi Geospasial (Rakornas IG) dan Ra-pat Koordinasi Penyediaan Citra Satelit Reso-lusi Tinggi (Rakor CSRT) Tahun 2014 dengan tema: Sinergitas Penyelenggaraan Informasi

Geospasial Mendukung Penataan Ruang dan Pemetaan Batas Wilayah, dengan harapan

un-tuk membangun komitmen nasional di dalam penyelenggaraan informasi geospasial dalam jangka menengah, sebagai masukan Ren-cana Program Panjang Menengah Nasional 2015-2019 ke Bappenas di bidang Informasi Geospasial, dan menyelaraskan program dan kegiatan penyelenggaraan IG nasional untuk mendukung penataan ruang dan penyelesaian pemetaan batas wilayah serta isu-isu strategis nasional lainnya.

3. INFoRMASI GEoSPASIAl PERMUKAAN DAN DASAR lAUT PERAIRAN INDo­ NESIA

Indonesia adalah negara kepulauan yang dipersatukan oleh wilayah lautan dengan luas seluruh wilayah teritorial adalah 8 juta km2,

mempunyai panjang garis pantai mencapai 2015-2019 Buku II halaman 8-2 s.d 8-6 juga

disebutkan perlunya penyediaan peta dasar dan tematik yang memadai dalam mendukung kedaulatan maritim Indonesia.

Merujuk pada UU Nomor 4/2011, disebutkan bahwa IG harus dijamin kemutakhiran, keaku-ratannya, serta diselenggarakan secara terpa-du. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kekeliruan, kesalahan, dan tumpang tindih in-formasi yang dapat berakibat pada ketidakpas-tian hukum, inefisiensi anggaran, dan inefekti-vitas informasi yang dihasilkan. Hal mendasar yang diamanatkan dalam UU-IG tersebut ada-lah untuk mewujudkan keterpadu an dan kepas-tian hukum dalam penyelenggaran IG, yang se-lanjutnya akan diatur melalui kategorisasi dan kelembagaan. Kelembagaan penyelenggaraan IG dimaksudkan untuk menjamin mengenai pertanggungjawaban atas data dan IG tertentu. Selain itu, diperlukan pula pengaturan tentang SDM dan badan usaha di bidang IG. Pengatur-an tentPengatur-ang SDM ditujukPengatur-an agar pengawak data dan IG mampu menyediakan, mendistribusikan dan mengaplikasikan data dan IG dimaksud. Sedangkan badan usa ha di bidang IG dimak-sudkan agar industri IG dapat berkembang dan dapat menjamin keter sediaan, aksesibilitas dan pemanfaatan IG di tengah masyarakat dalam proses pemba ngunan.

Dalam UU-IG disebutkan bahwa IG terdi-ri daterdi-ri Informasi Geospasial Dasar (IGD) dan Informasi Geospasial Tematik (IGT). IGD diselenggarakan hanya oleh Badan Informasi Geospasial, sedangkan IGT dapat diselengga-rakan oleh instansi pemerintah, Pemda, dan/ atau setiap orang. Banyak kegiatan di bidang pemerintahan yang mengharuskan integrasi beberapa jenis IGT, yang dihasilkan oleh satu atau lebih lembaga. Penataan ruang misalnya, memerlukan berbagai jenis informasi seperti: informasi dasar kewilayahan, informasi sosial dan kependudukan, informasi daerah rawan bencana, dan sebagainya.

Untuk menjamin agar IGT yang dihasilkan dapat diintegrasikan satu sama lain maka pem-buatan IGT harus mengacu kepada IGD yang sama. Karena itu sesuai dengan UU-IG, IGD hanya diselenggarakan oleh Badan Informasi

(4)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

ka, Laut Cina Selatan dan Laut Jawa dengan kedalaman rata-rata mencapai 120 meter membentuk paparan sedimen yang tebal de-ngan penyebaran yang cukup luas. Paparan Sahul meliputi daerah-daerah di selatan Laut Banda dan Laut Aru. Daerah ini sangat dipe-ngaruhi oleh sistem benua Australia, sehingga sedimen di daerah ini ditafsirkan sebagai sedi-men asal kontinen Australia. Sedangkan dae-rah transisi meliputi daedae-rah-daedae-rah perairan Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Banda dan Laut Flores. Perbedaan yang mencolok antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur adalah batas antara keduanya berimpit dengan apa yang semula disebut sebagai garis Wallace (Wallace line). Garis ini, yang mem-bujur dengan arah utara-selatan melalui Selat Makasar dan Selat Lombok (antara P. Bali dan P. Lombok), semula adalah suatu garis yang membatasi fauna dan flora yang berbeda an-tara bagian timur dan barat, tetapi garis ini ternyata juga memperlihatkan bentuk fisiogra-fi yang berbeda (lihat Gambar 1). Fenomena dasar laut perairan Indonesia tersebut menjadi obyek pemetaan geologi kelautan sejak 1985 81.000 km, hampir 40 juta orang penduduk

tinggal di kawasan pesisir. Luas wilayah per-airan mencapai 5,8 juta km2 atau sama de ngan

2/3 dari luas wilayah Indonesia, terdiri dari Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) 2,7 juta km2 dan

wilayah laut teritorial 3,1 juta km2. Luas wilayah

perairan Indonesia tersebut te lah diakui se-bagai Wawasan Nusantara oleh United Nation

Convention of the Sea, 1982. Wilayah pantai

dan laut Indonesia yang luas merupakan pe-luang dan sekaligus tantangan karena dengan semakin terbatasnya sumber daya mineral dan energi di darat dan faktor risiko kerusakan lingkungan di darat jauh le bih besar maka perhatian kegiatan riset geologi dan geofisi-ka ditujugeofisi-kan ke laut sebagai harapan di masa datang yang dapat mengungkapkan berbagai kekayaan sumber daya mineral dan energi. Secara fisiografi wilayah laut Indonesia dapat dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu: [1] daerah Paparan Sunda terletak di bagian barat Indo-nesia, [2] Paparan Sahul di bagian timur In-donesia dan [3] zona transisi. Paparan Sunda meliputi daerah-daerah perairan Selat

Mala-Gambar 1. Fisiografi perairan Indonesia akibat proses tektonik

(5)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

P3GL, antara lain:

1. Peta Sebaran (Tekstur) Sedimen Permu-kaan Dasar Laut Skala 1:250.000;

2. Peta Ketebalan Sedimen Kuarter Skala 1:250.000;

3. Peta Anomali Magnet Total Skala 1:250.000;

4. Peta Geologi Dasar Laut Skala 1:250.000; 5. Peta Kandungan Mineral Berat Skala

1:250.000;

6. Peta Penampang Litologi Inti dan Batuan Dasar Laut Skala 1:250.000;

7. Peta Anomali Gaya Berat Bebas Udara Skala 1:50.000;

8. Peta Perencanaan dan Pengelolaan Ka-wasan Pesisir dan Laut Skala 1:50.000; 9. Peta Potensi dan Evaluasi Geologi Wilayah

Pantai Skala 1:250.000;

10. Peta Geologi Kelautan Regional Skala 1:500.000 hingga Skala 1:5.000.000;

11. Peta Struktur dan Solusi Mekanisme Bidang Patahan Skala 1:1.000.000; dan sebagainya.

hingga saat ini melalui program kegiatan Pe-metaan Geologi Kelautan Bersistem menggu-nakan wahana Kapal Riset GEOMARIN dan Pemetaan Geologi Kelautan Tematik Wilayah Pantai/Pesisir.

4. PETA­PETA PUSlITbANG GEoloGI KE lAUTAN

Area kerja pemetaan Puslitbang Geologi Ke-lautan (P3GL) mencakup pesisir dan lepas pantai, oleh karena itu dalam melaksanakan kegiatan litbang surveinya selalu menggu-nakan peta dasar dari berbagai macam sum-ber. Untuk membuat peta rencana lintasan survei di laut (lepas pantai) menggunakan peta dasar yang bersumber dari Dinas Hidrografi dan Oseanografi (Dishidros) TNI AL. Peta dari Dishidros merupakan peta laut yang meng-gambarkan keadaan rinci tentang wilayah laut yang aman dilayari kapal-kapal, dengan tan-da-tanda kedalaman air, adanya bahaya-ba-haya navigasi baik yang terlihat (di atas per-mukaan air) maupun yang terdapat di bawah permukaan air, serta benda-benda petunjuk untuk bernavigasi yang pada umumnya meng-gunakan proyeksi TM (Transverse Mercator) dengan sistem koordinat geografi atau UTM. Sedangkan dalam menyajikan suatu hasil sur-vei litbang P3GL dan dalam peta publikasinya sudah menggunakan peta dasar yang bersum-ber dari Badan Informasi Geospasial (BIG) yang umumnya menggunakan proyeksi UTM

(Universal Transverse Mercator­WGS84). Data

dasar yang digunakan P3GL berupa kompila-si antara peta laut yang berasal dari Dishidros dan peta garis pantai yang berasal dari BIG. Peta kompilasi tersebut dijadikan acuan un-tuk melaksanakan survei pengukuran sesuai de ngan skala peta yang dibutuhkan. Penggu-naan peta dasar dari Dishidros dengan alasan navigasi dan keselamatan saat melaksanakan survei kelautan.

Sejak tahun 1985 sampai dengan saat ini, da-lam rangka melaksanakan tugas dan fungsi-nya, P3GL melakukan survei pemetaan geo-logi kelautan hampir di seluruh wilayah pantai dan laut Indonesia. Informasi Geospasial Te-ma tik (IGT) Geologi Kelautan hasil litbang

Gambar 2. Contoh Publikasi Peta

Sebaran Tekstur Sedimen Permukaan Dasar laut Lembar Peta 1813-114, Sampanahan

(6)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

5. PERAN P3Gl DAlAM PENyEDIAAN INFoRMASI GEoSPASIAl TEMATIK Sesuai SK Kepala BIG No 19 Tahun 2013 te-lah dibentuk Pokja dan Sub Pokja Nasional ter-kait Informasi Geospasial Tematik. Puslitbang Geologi Kelautan, Badan Litbang ESDM men-jadi anggota dalam dua sub pokja, yaitu: 1. Sub Pokja Pemetaan Sumber daya

Pesi-sir, Laut, dan Pulau-Pulau Kecil, dalam sub pokja ini P3GL menjadi wali data informasi geospasial tematik terkait peta-peta geologi kelautan wilayah pantai / pesisir serta pu-lau-pulau kecil.

2. Sub Pokja Pemetaan Ekoregion, dalam sub pokja ini P3GL menjadi wali data informasi geospasial tematik terkait peta-peta geologi kelautan sistematik dan regional.

Pada SK Kepala BIG ini, dalam struktur organi-sasi belum terlihat sub pokja yang berkaitan dengan informasi geospasial Potensi Energi Laut, sehingga sangat memungkinkan ke de-pan untuk diusulkan supaya P3GL menjadi Berikut ini adalah contoh publikasi peta-peta

P3GL sebagai Informasi Geospasial Tematik (IGT) Geologi Kelautan (Gambar 2 dan 3). Selain itu, pertama dalam sejarah keenergian Indonesia, P3GL atas nama Badan Litbang ESDM juga menjadi salah satu pemrakarsa dalam penyusunan peta nasional Potensi En-ergi Laut Indonesia yang telah di-launching ta-hun 2014. Potensi energi laut tersebut terdiri dari tiga jenis sumber energi, yaitu energi arus laut, energi gelombang laut dan energi panas laut. Pemetaan potensi energi laut tersebut dilaksanakan oleh P3GL bekerja sama dengan ASELI (Asosiasi Energi Laut Indonesia) dan berbagai kementerian/lembaga dan perguru-an tinggi, yaitu, Badperguru-an Pengkajiperguru-an dperguru-an Pen-erapan Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementeri-an KelautKementeri-an dKementeri-an PerikKementeri-anKementeri-an (KKP), Institut Te-knologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Gambar 3. Contoh Publikasi Peta Anomali Magnet Total Perairan Lembar 1316

(7)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

Gambar 4. Peta Potensi

Energi Arus Laut Indonesia, produk P3GL dan ASELI (Asosiasi Energi Laut Indonesia), 2014.

Gambar 5. Peta Potensi

Energi Gelombang Laut Indonesia, produk P3GL dan ASELI (Asosiasi Energi Laut Indonesia, 2014.

Gambar 6. Peta Potensi

Energi Panas Laut Indonesia, produk P3GL dan ASELI (Asosiasi Energi Laut Indonesia), 2014.

(8)

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

Topik Utama

sebesar 8,4 GW atau 11,9% dari kapasitas to-tal, kemudian panas bumi sebesar 4,8 GW atau 6,8%, setelah itu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) skala kecil tersebar sebanyak 0,9 GW dan terakhir pembangkit lain (surya, angin, biomassa) sebesar 0,1 GW.

Dari total kapasitas tersebut, tambahan pem-bangkit di Sumatera sebesar 17,7 GW dan di Indonesia Timur adalah sekitar 14,2 GW. Untuk sistem Jawa-Bali, tambahan pembangkit adalah sekitar 38,5 GW atau rata-rata 3,8 GW per tahun.

Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indonesia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara, 19,2% gas alam (termasuk LNG), 8,9% panas bumi, tenaga air 6,6% serta 1,6% minyak dan bahan bakar lainnya (Gambar 5). Bauran energi saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 52,8%, disusul oleh gas 24,2%, tenaga air 6,5%% hidro dan panas bumi 4,4% serta BBM 11,7%. Komposisi produksi listrik pada tahun 2024 untuk gabungan Indone-sia diproyeksikan akan menjadi 63,7% batubara,

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

19,2% gas alam (termasuk LNG), panas bumi 8,9%, tenaga air 6,6% serta 1,6% BBM dan bahan bakar lainnya (Gambar 6).

2.4. Rencana Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk

Pengembangan sistem penyaluran pada periode 2015-2024 berupa pengembangan sistem transmisi dengan tegangan 500 kV dan 150 kV di sistem Jawa-Bali, serta tegangan 500 kV, 275 kV, 150 kV dan 70 kV di sistem Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Pembangunan sistem transmisi secara umum diarahkan kepada tercapainya kesesuaian antara kapasitas pembangkitan di sisi hulu dan permintaan daya di sisi hilir secara efisien. Di samping itu sebagai usaha untuk mengatasi bottleneck penyaluran dan perbaikan tegangan pelayanan.

Pengembangan transmisi 500 kV di Jawa-bali pada umumnya dimaksudkan untuk mengevakuasi daya dari pembangkit-pembangkit baru maupun ekspansi dan menjaga kriteria keandalan N-1, baik statik maupun dinamik. Sedangkan pengembangan transmisi

S. Lubis drr., 2009. Seabed Geomorphologi­

cal Featues of Active Plate Margin Of West Sumatera and Sout Java Indonesia. http://

www.mgi.esdm.go.id/ files/u1/geomorfolo-gi01.jpg

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Jakarta. Sekretariat Negara.

wali data terkait peta-peta tersebut. Oleh kare-na itu kerja keras dalam mewujudkan suatu peta yang bersumber pada satu referensi, satu standar, dalam satu basisdata, dan satu portal serta diikuti dengan pengintegrasian peta hasil pengukuran dalam kelompok-kelompok kerja di bidang penyelenggaraan informasi geospa-sial tematik yang telah terbentuk tersebut perlu dioptimalkan guna mendukung One Map Policy. DAFTAR PUSTAKA

Badan Informasi Geospasial, 2013. SK Kepala Badan Informasi Geospasial Nomor 19 Ta-hun 2013 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Nasional Informasi Geospasial Tema-tik. Jakarta.

Badan Informasi Geospasial, 2014. Press Re­

lease Rakornas Informasi Geospasial dan

Rakor Penyediaan Citra Satelit Resolusi Tinggi Tanggal 10-11 Juni 2014: Sinergi­

tas Penyelenggaraan Informasi Geospasial Mendukung Penataan Ruang dan Pemeta­ an Batas Wilayah. Jakarta.

P3GL, 2013. Peta Sebaran Tekstur Sedimen

Permukaan Dasar laut Lembar Peta 1813­ 114, Sampanahan Balikpapan. Bandung.

P3GL, 2013. Peta Anomali Magnet Total Perair­

an Lembar 1316 (Singkawang). Bandung.

P3GL dan ASELI, 2014. Peta Potensi Energi

Arus Laut Indonesia 1:5.000.000. ITS

Sura-baya.

P3GL dan ASELI, 2014. Peta Potensi Ene rgi

Gelombang Laut Indonesia 1:5.000.000.

ITS Surabaya.

P3GL dan ASELI, 2014. Peta Potensi Ener­

gi Panas Laut Indonesia 1:5.000.000. ITS

Gambar

Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar
Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar
Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar
Gambar 6. Proyeksi komposisi produksi energi listrik per jenis bahan bakar

Referensi

Dokumen terkait

Pada uji Dissolved Oxygen (DO) dan uji Biological Oxygen Demand (BOD) perlakuan awal yang dilakukan ialah memasukkan sampel ke dalam botol winkler yang bertutup dengan cara

Karakterisasi kompleks DDI-NKT dan DDI-ARG meliputi, analisis dengan mikroskop polarisasi, difraksi sinar-X serbuk, uji kelarutan, dan stabilitas kimia pada larutan dapar pH 1,2;

Bukti pelayanan yang sudah ditandatangani oleh faskes dan peserta atau anggota keluarga seperti : Salinan lembar pelayanan pada Buku KIA sesuai pelayanan yang diberikan

42 Pedagang kembali semula jangan ditata seperti yang sudah - sudah di pasar lain, contoh - contoh sudah ada yang penataan pada bubrah tidak jualan karena sepi akhirnya

Kompetensi adalah suatu kemampuan (keterampilan, sikap, dan pengetahuan) yang dimiliki seseorang yang dapat menunjukkan kinerja unggul dalam melakukan pekerjaan..

Pasal 1 peraturan tersebut berbunyi: pemilihan rektor dengan cara pemungutan suara oleh Anggota Senat UGM dalam suatu rapat senat tertutup khusus diadakan untuk keperluan

Ditinjau dari hubungan antara perkembangan populasi ternak penghasil daging dengan jenis penyakit yang mewabah di Propinsi Sulawesi Tengah, belum menjadi permasalahan yang serius

A DENGAN ISOLASI SOSIAL DIRUANG MAESPATI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA” Program Studi Diploma III Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas