• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PERIODE DINAS PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PERIODE DINAS PENDIDIKAN"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA STRATEGIS

(RENSTRA)

PERIODE 2018-2023

DINAS PENDIDIKAN

PEMERINTAH KABUPATEN BOGOR

(2)

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

Nama : ENTIS SUTISNA, S.Pd, MM.

NIP : 196710041992121001

Jabatan : Kepala Dinas

Berdasarkan SK Bupati Nomor : 821.2/329/Kpts.-BUP/2019

Tanggal : 23 Agustus 2019

Bertugas untuk dan atas nama : Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Berkedudukan di : Jalan Nyaman No.1 Kelurahan Tengah

Cibinong

Dengan ini saya menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa :

1. Renstra disusun dengan benar dan terukur sebagai pedoman pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan dalam tugas pokok fungsi Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Untuk mewujudkan visi dan misi serta program berdasarkan RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2018-2023

2. Berkomitmen yang tinggi untuk melaksanakan dan mewujudkan tujuan, sasaran, program dan kegiatan dalam Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor tahun 2018 - 2023 dengan menggunakan sumber daya organisasi secara efektif dan efesien.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan tanpa paksaan dan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Cibinong,23 Agustus 2019 KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BOGOR

ENTIS SUTISNA, S.Pd, MM.

(3)

KATA PENGANTAR

Renstra ini merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2018-2023 yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 4 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2018-2023. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Dinas Pendidikan, dokumen renstra memuat Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Kebijakan, Program dan Kegiatan Pokok Dinas Pendidikan Tahun 2018-2023. Selain itu, dimunculkan juga indikator sasaran yang harus dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan selama kurun waktu lima tahun.

Penyusunan Renstra ini secara teknis berpedoman pada instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasardi Kabupaten/Kota, Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman, Penyusunan, Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (AKIP), serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.

Dokumen Renstra Dinas Pendidikan 2018-2023 ini diharapkan dapat menjadi acuan serta pedoman bagi seluruh jajaran Dinas Pendidikan dan stakeholders pendidikan lainnya dalam menjalankan tugas dan kewajibannya melayani, mengelola, dan menyelenggarakan pendidikan di Kabupten Bogor.

Cibinong, 23 Agustus 2019 Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

ENTIS SUTISNA, S.Pd, MM.

(4)

DAFTAR ISI

BAB II PENDAHULUAN .... ... I-1 1.1 Latar Belakang ... ... I-1 1.2 Landasan Hukum ... I-2 1.3 Maksud dan Tujuan... I-3 1.4 Sistematika Penulisan ... I-3

BAB II GAMBARAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH ... II-5 2.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Perangkat Daerah ... II-5 2.2 Sumber Daya Perangkat Daerah ... II-12 2.3 Kinerja Pelayanan Perangkat Daerah ... II-15 2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Perangkat Daerah ... II-21

BAB III PERMASALAHAN DAN ISU-ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH ... III-27 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan

Perangkat Daerah ... ... III-27 3.2 Telaahan Visi, Misi dan Program Bupati dan Wakil Bupati Terpilih ... III-29 3.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra PD Provinsi/Kabupaten/Kota ... III-34 3.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan KLHS pada RPJMD ... III-35 3.5 Penentuan Isu-Isu Strategis ... III-36

BAB IV TUJUAN DAN SASARAN ... IV-41 4.1 Tujuan Perangkat Daerah ... IV-41 4.2 Sasaran Perangkat Daerah ... IV-43

BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN ... V-46

BAB VI RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN SERTA PENDANAAN ... VI-48

BAB VII KINERJA PENYELENGGARAAN BIDANG URUSAN ... VII-49

(5)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sehubungan dengan telah disahkannya RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2019-2023 yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 4 Tahun 2019 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2019-2023, maka Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor sebagai salah satu SKPD harus menyelaraskan Rencana Strategisnya dengan mengacu pada RPJMD yang telah ditetapkan.

Ketentuan setiap perangkat daerah harus membuat Renstra tercantum dalam Pasal 271 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dengan mengacu pada RPJMD. Renstra dimaksud memuat tujuan, sasaran, program, dan kegiatan pembangunan dalam rangka pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib dan/atau Urusan Pemerintahan Pilihan sesuai dengan tugas dan fungsi setiap Perangkat Daerah. Pencapaian sasaran, program, dan kegiatan pembangunan dalam rencana strategis Perangkat Daerah sebagaimana dimaksudkan di atas diselaraskan dengan pencapaian sasaran, program, dan kegiatan pembangunan yang ditetapkan dalam rencana strategis

kementerian atau lembaga pemerintah nonkementerian untuk

tercapainya sasaran pembangunan nasional.

Sesuai dengan ketentuan-ketentuan di atas, maka Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor perlu menyusun dan menetapkan Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan Tahun 2019-2023 sebagai penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bogor Tahun 2019-2023. Renstra Dinas Pendidikan ini merupakan dokumen perencanaan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu lima tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhitungkan potensi, peluang, dan kendala yang ada atau mungkin timbul.

(6)

2

1.2 Landasan Hukum

Dasar hukum penyusunan Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2018-2023 adalah sebagai berikut :

1. Undang - Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

2. Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 224, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2017 tentang Sinkronisasi

Proses Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Nasional; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2017 tentang Pertisipasi

Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

5. Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan;

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian Dan Evaluasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1312);

7. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 11 Tahun 2016 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bogor 2016-2036;

8. Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah;

9. Peraturan Bupati Kabupaten Bogor Nomor 45 Tahun 2016 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendidikan.

(7)

3

1.3 Maksud dan Tujuan

Penyusunan Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2019 - 2023 dimaksudkan sebagai dokumen perencanaan jangka menengah yang menjabarkan RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2019 - 2023 sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Bupati Bogor Nomor 45 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Pendidikan.

Sedangkan tujuan penyusunan Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2019 - 2023 sebagai landasan/pedoman penyusunan Renja Dinas Pendidikan dan penganggarannya, penguatan peran para stakeholders dalam pelaksanaan Renja Dinas Pendidikan, dan merupakan dasar evaluasi dan laporan pelaksanaan atas kinerja tahunan dan lima tahunan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.

1.4 Sistematika Penulisan

Penyusunan Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dilakukan oleh Tim Penyusun Renstra Dinas Pendidikan. Dalam proses penyusunan Renstra juga melibatkan seluruh anggota organisasi dalam rapat-rapat internal serta melibatkan stakeholders Dinas Pendidikan dalam rapat koordinasi. Keterlibatan beberapa pihak baik internal maupun eksternal ini terutama untuk memberikan masukan-masukan dalam penyusunan Renstra.

Penyusunan Renstra ini dimulai dengan inventarisasi rincian tugas pokok dan fungsi Dinas Pendidikan dan keselarasannya dengan dokumen RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2019 - 2023, serta pengumpulan data-data yang berkaitan. Perumusan indikator kinerja di tingkat sasaran dilakukan dengan pengumpulan data dasar capaian kinerja, pengelohan dan analisis data, serta memperhatikan indikator kinerja yang ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Bogor Tahun 2019 - 2023. Legalisasi Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor ditetapkan dengan Keputusan Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.

Sedangkan sistematika penyusunan Renstra Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Tahun 2019 - 2023 sebagai berikut :

(8)

4

BAB I : PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang; 1.2. Landasan Hukum; 1.3. Maksud dan Tujuan; 1.4. Sistematika Penulisan.

BAB II : GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDIDIKAN

2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi Dinas Pendidikan;

2.2. Sumber Daya Dinas Pendidikan; 2.3. Kinerja Pelayanan Dinas Pendidikan;

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas Pendidikan.

BAB III : PERMASALAHAN DAN ISU-ISU STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN

3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Dinas Pendidikan;

3.2. Telaahan Visi, Misi dan Program Bupati dan Wakil Bupati Terpilih;

3.3. Telaahan Renstra K/L dan Renstra PD

Provinsi/Kabupaten/Kota;

3.4. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan KLHS pada RPJMD;

3.5. Penentuan Isu-Isu Strategis

BAB IV : TUJUAN DAN SASARAN

4.1. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah Dinas Pendidikan;

4.2. Tujuan Dinas Pendidikan; 4.3. Sasaran Dinas Pendidikan.

BAB V : STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI : RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN SERTA PENDANAAN

BAB VII : KINERJA PENYELENGGARAAN BIDANG URUSAN BAB VIII : PENUTUP

(9)

5

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN DINAS PENDIDIKAN

2.1. TUGAS, FUNGSI, DAN STRUKTUR ORGANISASI

Dinas Pendidikan merupakan salah satu SKPD yang merupakan unsur pelaksanaan urusan pemerintahan di bidang pendidikan yang dipimpin oleh seorang Kelapa Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut :

1. KEPALA DINAS

a. Kepala Dinas Kepala Dinas mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan dan tugas pembantuan.

b. Fungsi Kepala Dinas

 Perumusan kebijakan teknis di bidang pendidikan;

 Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di

bidang pendidikan;

 Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pendidikan, dan Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya

Adapun tugas pokok dan fungsi sekretariat dan masing-masing bidang adalah sebagai berikut :

2. SEKRETARIS DINAS

a. Tugas Pokok Sekretaris Dinas : mempunyai tugas membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas dalam melaksanakan pengelolaan kesekretariatan dinas.

b. Fungsi:

 Pengelolaan administrasi program dan pelaporan;  Pengelolaan administrasi umum dan kepegawaian;  Pengelolaan administrasi keuangan.

(10)

6

3. KEPALA BIDANG PEMBINAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN NON-FORMAL

a. Tugas Pokok :

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non formal mempunyai tugas membantu dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas dalam melaksanakan penyusunan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembinaan pendidikan anak usia dini dan pendidikan nonformal b. Fungsi :

 penyusunan bahan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan kurikulum dan penilaian, kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembinaan karakter pendidikan anak usia dini dan pendidikan non formal;

 pembinaan pelaksanaan kebijakan kurikulum dan penilaian, kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembinaan karakter pendidikan anak usia dini dan pendidikan non formal;

 penyusunan bahan penetapan kurikulum muatan lokal

pendidikan anak usia dini dan pendidikan non formal;

 penyusunan bahan penerbitan izin pendirian, penataan, dan penutupan satuan pendidikan anak usia dini dan pendidikan non formal;

 penyusunan bahan pembinaan kurikulum dan penilaian,

kelembagaan dan saranan prasarana, serta peserta didik dan pembinaan karakter pendidikan anak usia dini dan pendidikan non formal;

 pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan Bidang Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non formal;

 pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang tugasnya.

(11)

7

4. BIDANG PEMBINAAN PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR a. Tugas Pokok

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan penyusunan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembinaan sekolah dasar. b. Fungsi :

 penyusunan bahan perumusan dan koordinasi pelaksanaan

kebijakan kurikulum dan penilaian, kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembangunan karakter sekolah dasar;

 pembinaan pelaksanaan kebijakan kurikulum dan penilaian, kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembangunan karakter sekolah dasar;

 penyusunan bahan penetapan kurikulum muatan lokal sekolah dasar;

 penyusunan bahan penerbitan izin pendirian, penataan, dan penutupan sekolah dasar;

 penyusunan bahan pembinaan kurikulum dan penilaian,

kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembangunan karakter sekolah dasar;

 penyusunan bahan pembinaan bahasa dan sastra daerah yang penuturnya dalam Daerah;

 pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan Bidang Pembinaan Sekolah Dasar; dan

 pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang tugasnya.

5. BIDANG PEMBINAAN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA a. Tugas Pokok

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan penyusunan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembinaan sekolah menengah pertama.

(12)

8 b. Fungsi

 penyusunan bahan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan kurikulum dan penilaian, kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembangunan karakter sekolah menengah pertama;

 pembinaan pelaksanaan kebijakan kurikulum dan penilaian, kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembangunan karakter sekolah menengah pertama;

 penyusunan bahan penerbitan izin pendirian, penataan, dan penutupan sekolah menengah pertama;

 penyusunan bahan pembinaan pelaksanaan kurikulum dan penilaian, kelembagaan dan sarana prasarana, serta peserta didik dan pembangunan karakter sekolah menengah pertama;  pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama; dan  pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai

bidang tugasnya.

6. BIDANG PEMBINAAN KETENAGAAN a. Tugas Pokok

Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam melaksanakan penyusunan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan pendidikan non formal.

b. Fungsi

 penyusunan bahan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan pendidikan nonformal;

 penyusunan bahan kebijakan pembinaan pendidik dan

tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan pendidikan nonformal;

(13)

9

 penyusunan bahan rencana kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan pendidikan nonformal;

 penyusunan bahan pembinaan pendidik dan tenaga

kependidikan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan pendidikan nonformal;

 penyusunan bahan rekomendasi pemindahan pendidik dan tenaga kependidikan dalam Daerah;

 pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan Bidang Pembinaan Ketenagaan; dan

 pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai bidang tugasnya.

Berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 45 tahun 2016, Dinas Pendidikan merupakan unsur pelaksanaan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh 1 (satu) orang sekretaris, 4 (empat) orang kepala bidang, 3 (tiga) orang kepala subag, 12 (dua belas) orang kepala seksi. Susunan organisasi Dinas Pendidkan sebagai berikut :

1. Kepala Dinas

2. Sekretariat Dinas, membawahi:

a. Sub Bagian Program dan Pelaporan;

b. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian; dan c. Sub Bagian Keuangan.

3. Bidang Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non-formal, membawahi:

a. Seksi Kurikulum dan Penilaian;

b. Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana; dan c. Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter.

(14)

10

4. Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, membawahi: a. Seksi Kurikulum dan Penilaian;

b. Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana; dan c. Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter.

5. Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, membawahi: a. Seksi Kurikulum dan Penilaian;

b. Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana; dan c. Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter. 6. Bidang Pembinaan Ketenagaan, membawahi:

a. Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non-formal;

b. Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Sekolah Dasar; dan

c. Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama.

(15)

11

Struktur Organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor

Lampiran Peraturan Bupati Kabupaten Bogor Nomor : 45 tahun 2016 Tanggal : 14 Desember 2016 Keterangan: : Garis Intruksi : Garis Koordinasi Subag Umum dan Kepegawaian Subag Keuangan Subag Program dan Pelaporan Bidang Pembinaan PAUD dan

Non-formal Seksi Kurikulum dan Penilaian Seksi Peserta Dididk dan Pembangunan Karakter Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Seksi Kurikulum dan Penilaian SEKRETARIAT KEPALA DINAS Seksi Kurikulum dan Penilaian Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD dan PNF KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL 1. Pengawas 2. Arsiparis Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Bidang Pembinaan Ketenagaan Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SD Seksi Peserta Dididk dan Pembangunan Karakter Seksi Peserta Dididk dan Pembangunan Karakter Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SMP

(16)

12

2.2 SUMBER DAYA PERANGKAT DAERAH

1. Kondisi Umum Pegawai

Berikut adalah tabel yang menggambarkan kondisi pegawai Dinas Pendidikan

Data Pegawai Berdasarkan Jabatan

NO PEGAWAI JUMLAH %

1 Struktural 692

2 Fungsional 9.136

JUMLAH 9.828 100,00

Data Pegawai Struktural Berdasarkan Eselon

NO ESELON JUMLAH %

1 Eselon II 1

2 Eselon III 5

3 Eselon IV 14

JUMLAH 20 100,00

Data Pegawai Fungsional Berdasarkan Penugasan/Fungsi

NO URAIAN JUMLAH %

1 Guru/ kepala sekolah 8.832

2 Pengawas/penilik/pamong 304

JUMLAH 9.136 100,00

Data Pegawai Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan

NO PENDIDIKAN JUMLAH % 1 Strata 3 2 2 Strata 2 313 3 Strata 1 / diploma IV 8.407 4 Diploma 3 42 5 Diploma 2 205

(17)

13 NO PENDIDIKAN JUMLAH % 6 Diploma 1 15 7 SLTA 507 8 SLTP 264 9 SD 72 JUMLAH 9.828 100,00

Data Pegawai Berdasarkan Golongan

NO GOLONGAN JUMLAH % 1 Golongan IV 5.667 2 Golongan III 3.315 3 Golongan II 825 4 Golongan I 21 JUMLAH 9.828

Dari tabel-tabel di atas, dapat dilihat bahwa jumlah seluruh pegawai Dinas Pendidikan berjumlah 9.828 orang, yang terdiri dari pegawai struktural sebanyak 692 orang dan pegawai fungsional sebanyak 9.136 orang.

Data pegawai struktural yang berjumlah 692 orang di atas, terdiri dari pejabat eselon II sebanyak 1 orang, pejabat eselon III sebanyak 5 orang, pejabat eselon IV sebanyak 15 orang, staf berjumlah 672 orang.

Sementara untuk jumlah pegawai fungsional yang berjumlah 9.136 orang terdiri dari guru dan kepala sekolah sebanyak 8.832 orang yang tersebar di tingkat satuan pendidikan yaitu tingkat TKN, SDN, dan SMPN dan 304 orang terdiri dari pengawas/penilik/pamong.

Sedangkan untuk pegawai berdasarkan jenjang pendidikan terdiri dari lulusan strata tiga (S3) sebanyak 2 orang, lulusan strata dua (S2) sebanyak 313 orang, lulusan strata satu/diploma empat (S1/D4) sebanyak 8.407 orang, lulusan diploma tiga (D3) sebanyak 42 orang, lulusan diploma dua (D2) sebanyak 205 orang, lulusan diploma satu (D1) sebanyak 15 orang, lulusan SLTA sebanyak 507 orang, lulusan SMP sebanyak 264 orang, lulusan SD sebanyak 72 orang.

(18)

14

Jumlah pegawai berdasarkan golongan terdiri dari golongan IV sebanyak 5.667 orang, golongan III sebanyak 3.315 orang, golongan II sebanyak 825 0rang, dan golongan I sebanyak 21 orang.

2. Kondisi Umum Anggaran

Anggaran belanja daerah Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor tahun 2014-2018 telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah (APBD) Kabupaten Bogor

Perkembangan anggaran Dinas Pendidikan lima tahun terakhir (2014-2018)

Th Belanja Disdik Belanja Tidak

Langsung (BTL) % Belanja Langsung (BL) % 2014 1,728,923,847,346 1,235,424,470,177 71.46% 493,499,377,169 28.54% 2015 1,765,876,369,576 1,242,863,477,712 70.38% 523,012,891,864 29.62% 2016 1,732,856,088,908 1,336,957,185,067 77.15% 395,898,903,841 22.85% 2017 1,954,375,477,736 1,131,286,668,178 57.88% 823,088,809,558 42.12% 2018 2,132,154,615,207 1,199,910,384,141 56.28% 932,244,231,066 43.72%

Dilihat dari tabel di atas, dari tahun ke tahun anggaran Dinas Pendidikan selalu ada kenaikan kecuali pada tahun 2016 terdapat penurunan, hal ini dikerenakan terdapat anggaran sertifikasi yang dikurangi, karena kuota penerima tunjangan sertifikasi berkurang dari tahun sebelumnya. Selain itu, ada juga pengurangan bantuan dari pemerintah pusat yaitu dari alokasi DAK.

3. Kondisi Umum Sarana Kerja

Sarana dan Prasarana Kerja Dinas Pendidikan

NO URAIAN BANYAKNYA SATUAN

A SARANA GEDUNG

1 Tanah 19.240 M2

2 Gedung Kantor Disdik 2.291 M2

3 Gedung Koryandik Kecamatan 40 Unit

4 Gedung TKN 1 Unit

5 Gedung SDN 1.543 Unit

6 Gedung SMPN 103 Unit

(19)

15

B SARANA ANGKUTAN

1 Kendaraan roda empat 12 Unit

2 Kendaraan roda dua 54 Unit

C SARANA PERKANTORAN

1 Komputer 47 Unit

2 Laptop/Book Note 23 Unit

3 Infocus 6 Unit

4 Kamera 3 Unit

D SARANA PENUNJANG LAINNYA

1 Jaringan WEB DAPODIK 1 Line

A. Sarana Penunjang Lainnya

Untuk pelaksanaan fungsi layanan informasi dan pelaporan data pokok pendidikan (DAPODIK), Dinas Pendidikan dilengkapi dengan akses internet yang menghubungkan Dinas Pendidikan dengan unit layanan teknis pendidikan dengan kantor Kemendikbud melalui jejaring Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

2.3 KINERJA PELAYANAN PERANGKAT DAERAH

Capaian kinerja pelayanan perangkat daerah dapat dilihat dari capaian indikator kinerja sebagaimana tertera dalam tabel 2.1

(20)

16

Jika kita lihat capaian kinerja sebagaimana tergambarkan pada tabel 2.1 maka indikator kinerja terbagi pada tiga, yaitu pertama: indikator kinerja yang sesuai dengan tugas dan fungsi perangkat daerah;

kedua indikator standar pelayanan minimal (SPM); ketiga indikator

kinerja kunci (IKK). Pada indikator kinerja yang sesuai dengan tugas dan fungsi perangkat daerah terdapat 4 (empat) indikator yaitu: (1) Rata-rata lama sekolah; (2) Nilai rata-rata UN SD; (3) Nilai rata-rata UN SMP; (4) Persentase sekolah yang terakreditasi B. Dari empat indikator tersebut terbagi dalam 2 (dua) kategori, kategori pertama yang capaiannya sesuai dengan target yang ditetapkan yaitu: Nilai rata-rata UN SD; Nilai rata-rata UN SMP; dan Persentase sekolah yang terakreditasi B. Kategori kedua adalah yang melampaui target yang ditetapkan, walaupun pada tahun pertama (tahun 2018) tidak tercapai, indikator tersebut adalah angka melek huruf dan angka rata-rata lama sekolah.

Pada indikator standar pelayanan minimal (SPM) terdapat 16 (enam belas) indikator yang realisasinya terbagi dalam 3 (tiga) kategori, yaitu kategori yang tidak mencapai target sebanyak 8 (delapan) indikator, walaupun sebagian dari indikator tersebut dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, indikator tersebut adalah:

(1) % SD yang memiliki 2 orang guru dengan kualifikasi S1/D4;

(2) % SD yang memiliki 2 orang guru yang telah memiliki sertifikat pendidik;

(3) % SMP yang memiliki guru berkualifikasi S1/D4 ≥ 70%; (4) % SD yang semua rombelnya tidak melebihi 32 siswa; (5) % SD yang memiliki Ruang Guru Lengkap;

(6) % SD yang memiliki 6 orang guru;

(7) % Kepala SD yang berkualifikasi S1/D4 dan bersertifikat pendidik; (8) % Kepala SMP yang berkualifikasi S1/D4 dan bersertifikat pendidik. Kategori kedua adalah indikator yang realisasinya relatif fluktuatif dalam 3 (tiga) tahun terakhir, indikator tersebut adalah:

(1) % SMP yang telah memenuhi kebutuhan ruang kelas dan meja dan kursi serta papan tulis untuk setiap rombel;

(2) % SMP yang memiliki ruang guru dan meja + kursi untuk setiap orang; (3) % SD yang memiliki satu orang guru untuk setiap 32 peserta didik; (4) % SMP yang memiliki guru untuk setiap mata pelajaran.

(21)

17

Kategori yang ketiga adalah indikator yang dari tahun ketahun mengalami kenaikan dan melampaui target yang ditetapkan, indikator tersebut adalah:

(1) % guru SMP yang memiliki guru dengan kualifikasi S1/D4 dan telah memiliki sertifikat pendidik ≥ 35%;

(2) % SMP yang semua rombelnya tidak melebihi 36 siswa;

(3) % SD yang telah memenuhi kebutuhan ruang kelas dan meja dan kursi serta papan tulis untuk setiap rombel;

(4) % SMP yang memiliki ruang Kepala Sekolah dan dilengkapi meja kursi.

Sementara untuk indikator kinerja kunci (IKK), dari 29 indikator yang ada, capaiannya tidak jauh berbeda dengan indikator kinerja yang sesuai dengan tugas dan fungsi perangkat daerah dan indikator standar pelayanan minimal (SPM), yaitu terbagi dalam beberapa kategori, kategori pertama adalah yang selama 3 (tiga) tahun terakhir tidak pernah mencapai target yang ditetapkan, indikator tersebut adalah:

1. Angka Partisipasi Kasar (APK) SD-MI-Paket A; 2. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP-MTs-PB;

3. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk Usia 7-12 Tahun; 4. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk Usia 13-15 Tahun; 5. Angka Partisipasi Murni (APM) SD-MI-Paket A;

6. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP-MTs-Paket B; 7. Rasio Guru/Rombel SD-MI;

Kategori kedua adalah yang realisasi melebihi target dan capaiannya pada 3 (tiga) tahun terakhir terus mengalami paningkatatan. Indikator tersebut adalah :

a. Angka putus (DO) SD/MI, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 0,313%; 0,247%; 0,182%, realisasinya masing-masing sebesar 0,267%; 0,201%; 0,087%, dan capaiannya sebesar 114,70%; 118,62%; 152,20%;

b. Sekolah pendidikan SD kondisi bangunan baik, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 59,03%; 61,05%; 63,04%, realisasinya masing-masing sebesar 59,43%; 62,38%; 86,21%, dan capaiannya sebesar 100,68%; 102,18%; 136,75%;

(22)

18

c. Rasio guru SD/MI terhadap murid SD/MI target dari tahun 2014 – 2016 adalah 382 orang; 383 0rang; 384 orang, realisasinya masing-masing sebesar 396 orang; 398 orang; 408 orang, dan capainnya 103,66%; 103,91%; 106,25%;

Kategori ketiga adalah indikator yang realisasi dan capainnya dalam kurun waktu tiga tahun fluktuatif, indikator tersebut adalah:

a. APK pendidikan anak usia dini (APK PUD), target dari tahun 2014 – 2016 adalah 33,60%; 36,10%; 38,60%, realisasinya masing-masing sebesar 37,69%; 41,42%; 38,51%, dan capaiannya 112,17%; 114,74%, 99,77%;

b. Angka putus (DO) SMP/MTs, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 0,863%; 0,773%; 0,682%, realisasinya masing-masing sebesar 0,932%; 0,640%; 0,113%, dan capaiannya 92,00%; 117,21%; 183,43%;

c. Angka lulusan (AL) SD/MI, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 99,85%; 99,89%; 99,92, realisasinya masing-masing sebesar 100,00%; 99,73%; 100,00%, dan capaiannya 100,15%; 99,84%; 100,08%;

d. Angka lulusan (AL) SMP/MTs, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 100,00%; 100,00%; 100,00%, realisasinya masing-masing sebesar 98,93%; 100,00%; 100,00%, dan capaiannya 98,93%; 100,00%; 100,00%;

e. Angka melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 100,00%; 100,00%; 100,00%, realisasinya masing-masing sebesar 101,20%; 98,54%; 98,84%, dan capaiannya 101,20%; 98,54%; 98,84%;

f. Rasio ketersediaan SD/MI terhadap penduduk usia 7-12 tahun, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 39 sekolah; 38 sekolah; 37 sekolah, realisasinya masing-masing sebesar 35 sekolah; 34 sekolah; 37 sekolah, dan capaiannya 89,74%; 89,90%; 100,00%;

g. Rasio ketersediaan SMP/MTs terhadap penduduk usia 13-15 tahun target dari tahun 2014 – 2016 adalah 31 sekolah; 30 sekolah; 30 sekolah, realisasinya masing-masing sebesar 29 sekolah; 28 sekolah; 30 sekolah, dan capaiannya 93,55 %; 91,89 %; 100,00 %;

(23)

19

h. Angka melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA, target dari tahun 2014 – 2016 adalah 81,44%; 83,44%; 85,44%, realisasinya masing-masing sebesar 81,67%; 78,10%; 84,07%, dan capaiannya 100,28%; 93,60%; 98,40%;

Faktor penyebab kondisi capaian yang tidak sesuai target dan cenderung fluktuatif seperti digambarkan di atas antara lain adalah: i. terlalu tingginya penetapan angka-angka dalam target

indikator-indikator tersebut

ii. indikator tersebut relatif masih baru dan sebelumnya belum dilakukan telaahan;

iii. tidak seimbangnya jumlah ruang belajar dibandingkan dengan jumlah siswa yang berdampak terhadap tingginya jumlah siswa pada setiap rombelnya;

iv. masih terdapat guru-guru yang belum berkualifikasi akademik S1/D4, terutama pada lembaga-lembaga yang baru berdiri dan dikelola oleh masyarakat.

v. faktor peningkatan jumlah penduduk usia 7-12 tahun, usia 13-15 tahun lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tersebut yang masuk ke jenjang SD/sederajat, SMP/sederajat;

Adapun faktor yang mempengaruhi terlampainya target yang sudah ditetapkan pada indikator di atas dalam dua tahun pertama antara lain adalah:

a) pada indikator yang berkaitan dengan guru, hal ini kemungkinan

pertama semakin meningkatnya minat masyarakat untuk mengabdikan diri sebagai guru; kedua semakin meningkatnya perhatian dan kebijakan pemerintah kepada guru, yaitu melalui tunjangan profesi guru (sertifikasi), tamsil guru, tunjangan khusus guru, tunjangan insentif/fungsional yang secara langsung maupun tidak langsung guru berupaya untuk meningkatkan kompetensi dan kualifikasi akademiknya agar dapat memenuhi persyaratan agar mendapatkan berbagai macam tunjangan tersebut;

(24)

20

b) Semakin bertambahnya jumlah lembaga pendidikan pada jenjang SMP, berdampak pada bertambahnya daya tampung dan meningkatnya akses pendidikan bagi penduduk usia 13-15 tahun yang selama ini belum terlayani setelah lulus pada jenjang sebelumnya (SD/sederajat);

c) Semakin besarnya perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah terhadap pendidikan dalam bentuk program BOS, BSM, PIP dan yang lainnya menjadi faktor yang mendukung terhadap semakin berkurangnya jumlah angka drop out (DO), selain juga semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan sebagai bekal untuk kehidupan yang akan datang.

d) Pada jenjang pendidikan anak usia dini, pemerintah memberikan bantuan dana alokasi khusus non fisik berupa bantuan operasional penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, atau sering disebut BOP PAUD. Dengan adanya program ini banyak masyarakat yang memasukan anaknya pada pada lembaga PAUD yang banyak didirikan oleh masyarakat, dan ini mendongkrak pencapaian angka prtisipasi pendidikan anak usia dini.

Anggaran dan Realisasi Pendanaan Pelayanan Dinas Pendidikan dapat dilihat pada tabel 2.2.

(25)

21

2.4 TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PELAYANAN PERANGKAT DAERAH

Sebagai wujud tantangan dan peluang pengembangan pelayanan perangkat daerah maka dikemukakan macam pelayanan, perkiraan besaran kebutuhan pelayanan, dan arahan lokasi pengembangan pelayanan perangkat daerah. Tantangan dan peluang analisa keterkaitan terhadap Renstra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diantaranya :

NO

RENSTRA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

TANTANGAN PELUANG

1 Peran Pelaku Pembangunan Pendidikan belum Optimal

mendorong peran aktif semua pelaku di masing-masing jenjang pendidikan; meningkatkan kemampuan para pelaku pendidikan; membangun kesadaran akan tanggung jawab bersama; serta

mensinergikan peran mereka sebagai satu kesatuan ekosistem pendidikan

2 Belum Semua Penduduk Memperoleh Layanan Akses PAUD yang

Berkualitas

(i) meningkatkan akses PAUD terutama untuk masyarakat miskin; (ii)

meningkatkan kompetensi guru, guru pendamping, dan pengasuh PAUD melalui pendidikan dan pelatihan; (iii) memperluas pemenuhan standar pelayanan PAUD; (iv) meningkatkan koordinasi antarsektor dan pemberdayaan peran swasta dalam penyelenggaraan PAUD holistik dan integratif

3 Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun yang Berkualitas belum Maksimal

(i) menyediakan bantuan biaya pendidikan kepada seluruh kelompok masyarakat melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) serta memberikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada masyarakat tidak mampu; (ii) menyediakan afirmasi khusus kepada anak di daerah 3T dan

berkebutuhan khusus

4 Peningkatan Kualitas Pembelajaran belum Maksimal

(i) mengembangkan dan menetapkan SPM pendidikan menengah; (ii) meningkatkan kapasitas daerah dalam menerapkan SPM; (iii) memperkuat fungsi penjaminan mutu pendidikan di tingkat pusat dan daerah(i) mengawasi dan mengevaluasi penerapan kurikulum secara ketat, komprehensif, dan kontinyu; (ii) mengembangkan kompetensi guru mengenai praktik-praktik yang baik pembelajaran di sekolah; (iii) memperkuat kerja sama antara pemerintah, guru, kepala sekolah, pengawas, dan masyarakat dalam mengawal penerapan kurikulum(i) meningkatkan kompetensi guru dalam penilaian pendidikan di sekolah; (ii) memperkuat kredibilitas sistem ujian nasional dan pemanfaatan hasil ujian

(26)

22

untuk pemantauan dan pengendalian mutu pendidikan; (iii) memperkuat lembaga penilaian pendidikan yang independen dan kredibel

5 Peningkatan Manajemen Guru belum Maksimal

(i) meningkatkan kapasitas daerah dalam mengelola perekrutan, penempatan, dan peningkatan mutu guru secara efektif dan efisien; (ii) mengawasi proses proses pengangkatan guru di daerah berdasarkan kriteria mutu dan kebutuhan wilayah; (iii) meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pendidikan oleh LPTK dengan rencana penyediaan guru di daerah(i)

meningkatkan kualifikasi guru; (ii) memperkuat sistem uji kompetensi guru dan mengitegrasikan dengan sistem sertifikasi guru; (iii) menerapkan sistem penilaian kinerja guru yang sahih, andal, transparan dan berkesinambungan; (iv) meningkatkan kompetensi guru secaran berkelanjutan(i) meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya LPTK; (ii) memperkuat sistem rekrutmen calon guru

Tantangan dan peluang analisa keterkaitan terhadap Renstra Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, diantaranya :

NO RENSTRA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT

TANTANGAN PELUANG

1 belum tercapainya pemerataan dan kemudahan akses pendidikan

(•)Perencanaan pembangunan pendidikan disusun oleh Tim yang memiliki

kompetensi dalam perencanaan dengan melibatkan stakeholders yang kompeten dan memahami permasalahan pengelolaan pendidikan di Jawa Barat (•)Membangun dan mengembangkan system

informasi manajemen pendidikan yang handal dan informatif dengan tetap memperhatikan prinsip kehematan

(•)Membangun komunikasi, koordinasi dan sinergitas dalam rangka

meningkatkan mutu dan aksesibilitas masyarakat pada layanan pendidikan dasar dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Departemen Pendidikan Nasional, masyarakat dan stakeholders pendidikan lainnya

(•)Memudahkan aksesibilitas masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus

dan mengembangkan pendidikan inklusif

2 belum tercapainya mutu dan relevansi pendidikan

(•)Membangun dan mengembangkan

sistem pertanggungjawaban pendidikan

yang akuntabel dengan tetap

memperhatikan prinsip kehematan serta meningkatkan tata kelola sarana dan prasarana aparatur dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi aparatur untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya

(27)

23 3

belum baiknya tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik pendidikan

(•)Membangun komunikasi, koordinasi dan sinergitas program dalam rangka meningkatkan mutu dan aksesibilitas masyarakat pada layanan pendidikan pra sekolah dengan Dinas Instansi terkait di Pusat maupun Daerah serta dengan masyarakat dan stakeholders pendidikan lainnya (•)Membangun komunikasi, koordinasi dan sinergitas dalam rangka meningkatkan mutu dan

relevansi serta aksesibilitas masyarakat pada layanan pendidikan menengah dengan Dinas Pendidikan

Kabupaten/Kota, Departemen

Pendidikan Nasional, masyarakat dan stakeholders pendidikan lainnya (•)Membangun komunikasi, koordinasi dan sinergitas dalam rangka

meningkatkan mutu dan relevansi serta aksesibilitas masyarakat pada layanan pendidikan non formal dengan dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Departemen Pendidikan Nasional, masyarakat dan stakeholders pendidikan lainnya

Uraian analisis keterkaitan pelayanan Dinas Pendidikan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 11 tahun 2016 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor tahun 2016 – 2036, Paragraf 9 Pasal 47 (Kawasan Lainnya) yaitu Kawasan pendidikan dan balai latihan kerja, meliputi pembangunan sarana pendidikan, mulai tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah pada pusat permukiman disesuaikan dengan kebutuhan standar pelayanan minimal.

Pada Pelayanan yang ada pada Dinas Pendidikan termasuk dalam Layanan Urusan Wajib Pemerintah Daerah yang sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, terdiri dari :

Pendidikan (SD/SMP)

Sektor pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam menentukan tingkat kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang diharapkan yaitu yang mampu melakukan inovasi, kreasi serta memiliki karakter dan budi pekerti. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan pendidikan salah satunya dapat dilihat dari indikator kinerja sebagai berikut :

(28)

24

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Angka pendidikan anak usia dini adalah jumlah siswa pada jenjang TK/RA/penitipan anak dibandingkan dengan jumlah anak pada rentang usia 4-6 tahun. Dari tabel 2.33 dapat dilihat bahwa angka pendidikan anak usia dini di Kabupaten Bogor terus mengalami relatif naik, hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Kabupaten Bogor menyadari akan pentingnya pendidikan terhadap anak yang dimulai sedini mungkin. Berikut disajikan perkembangan angka pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kabupaten Bogor. Persentase jumlah siswa PAUD/TK/RA terhadap jumlah anak usia 4-6 tahun di tahun 2013 sebesar 31,10%. Persentasenya terus naik di tahun 2014 dan 2015 berturut-turut sebesar 37,69% dan 41,42%. Sedangkan di tahun 2016 turun menjadi 38,51% serta naik menjadi 42,85% di tahun 2017. Tahun 2018 mengalami kenaikan menjadi 43,28% atau sebesar 0,43 dari tahun 2017.

Pendidikan Anak Usia Dini di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

No. Pendidikan Jenjang 2013 2014 2015 2016 2017 2018

1. Pendidikan Anak Usia Dini

(%)

31,10 37,69 41,42 38,51 42,85 43,28

Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV

Salah satu komponen penting dalam aspek pelayanan wajib pendidikan adalah adanya peningkatan kualifikasi guru. Pada tahun 2018, persentase guru yang telah memenuhi kualifikasi mengajar yang ditandai dengan terpenuhinya latar belakang pendidikan (S1) tercatat mengalami peningkatan sebesar 2,34 persen dibandingkan dengan tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa dengan meningkatnya kualifikasi guru di Kabupaten Bogor, akan berdampak positif pada peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Berikut secara lengkap disajikan data mengenai kondisi angka kelulusan siswa, angka melanjutkan dan angka guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-VI di Kabupaten Bogor per jenjang pendidikan selama kurun waktu tahun 2013-2018.

(29)

25

Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

No Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 2018

1.

Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV

(%) 68,86 71,54 71,49 85,63 80,63 82,97

Sekolah Dengan Kondisi Bangunan Baik

Ketersediaan sekolah dengan kondisi bangunan baik merupakan salah satu indikator dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Bogor. Pada tahun 2018, ketersediaan sekolah dengan kondisi bangunan baik untuk jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs mengalami kenaikan yang signifikan dari tahun-tahun sebelumnya, masing-masing sebesar 1,53% dan 2,26% dibandingkan tahun 2017. Berikut secara lengkap disajikan data ketersediaan sekolah dengan kondisi bangunan baik di Kabupaten Bogor per jenjang pendidikan selama kurun waktu tahun 2013-2018.

Persentase Sekolah Pendidikan Dalam Kondisi Baik di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

No. Jenjang Pendidikan 2013 2014 2015 2016 2017 2018

1. Sekolah pendidikan SD/MI kondisi

bangunan baik (%) 57,05 59,43 62,38 86,21 87,42 88,95 2. Sekolah pendidikan SMP/MTs kondisi bangunan baik (%) 63,98 65,46 67,95 87,68 89,87 92,13 Rasio Guru/Murid

Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru tingkat pendidikan dasar per 10.000 jumlah murid pendidikan dasar. Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar. Di samping itu juga untuk mengukur jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. Berikut secara lengkap disajikan data mengenai rasio guru/murid di Kabupaten Bogor per jenjang pendidikan selama kurun waktu tahun 2013-2018.

(30)

26

Rasio Guru dan Murid berdasarkan Jenjang Pendidikan di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018

Selama kurun waktu tahun 2013-2018 rasio ketersediaan guru di Kabupaten Bogor per 10.000 untuk SD/MI mengalami kenaikan sedangkan untuk SMP/MTs mengalami fluktuatif. Pada tahun 2013, rasio guru terhadap murid SD/MI di Kabupaten Bogor adalah 380,61. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa setiap 10.000 murid akan dilayani guru SD/MI sebanyak 380,61≈ 381 atau setiap 1 guru SD/MI melayani (mengajar) 26,27 ≈ 26 murid SD. Pada tahun yang sama, rasio guru terhadap murid SMP/MTs di Kabupaten Bogor adalah 370,54. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa setiap 10.000 murid akan dilayani guru SD/MI sebanyak 370,54 ≈ 371 atau 1 guru SMP/MTs melayani (mengajar) 26,99 ≈ 27 murid SMP. Sedangkan di tahun 2018 rasio guru terhadap murid SD/MI adalah 413. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa setiap 10.000 murid akan dilayani guru SD/MI sebanyak 413 atau setiap 1 guru SD/MI melayani (mengajar) 24,21 ≈ 24 murid SD. Pada tahun yang sama, rasio guru terhadap murid SMP/MTs adalah 512. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa setiap 10.000 murid akan dilayani guru SD/MI sebanyak 512 atau 1 guru SMP/MTs melayani (mengajar) 19 murid SMP.

No Pendidikan Jenjang 2013 2014 2015 2016 2017 2018 1 Rasio Guru/Murid SD/MI 380,61 396,00 397,51 408 412 413 2 Rasio Guru/Murid SMP/MTs 370,54 373,08 365,93 418 500 512

(31)

27

BAB III

PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN

3.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

PELAYANAN DINAS PENDIDIKAN

Setelah melakukan telaahan dan evaluasi terhadap capaian kinerja pembangunan pendidikan lima tahun ke belakang, sebagaimana digambarkan pada bab sebelumnya (BAB II), masih ada permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam kurun waktu yang akan datang, antara lain adalah :

a. Masih rendahnya cakupan pelayanan pendidikan bagi penduduk usia pra sekolah. Rendahnya cakupan pelayanan pendidikan bagi penduduk usia pra sekolah pada tahun 2018 terlihat dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang baru mencapai 43,28%. Rendahnya tingkat tingkat partisipasi penduduk usia 4 – 6 tahun tersebut disebabkan oleh belum optimalnya pelaksanaan pelayanan PAUD, baik formal maupun nonformal, serta masih kurangnya pendidikan orang tua dalam hal pengasuhan anak (parenting

education). Selain itu, fasilitas yang diberikan terhadap

penyelenggaraan PAUD di Lembaga PKBM belum optimal.

b. Tingkat perluasan akses dan pemerataan pendidikan dasar yang berkualitas adalah permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian serius, hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain APM SD/sederajat, capaian rata – rata kabupaten pada 2018 sebesar 88,75%. Dari 40 Kecamatan yang tersebar di Kabupaten Bogor, masih terdapat 13 (tiga belas) kecamatan yang capaiannya di bawah capaian rata – rata kabupaten, dengan dua capaian terbawah berada di Kecamatan Gunung Putri dan Kecamatan Ciomas yang masing – masing sebesar 64,06% dan 67,40%. Sementara 27 (dua puluh tujuh) lainnya berada diatas rata –rata capaian tingkat kabupaten, dengan capaian tertinggi pertama dan kedua berada pada Kecamatan Klapanunggal dan Kecamatan Cigudeg dengan capaian masing – masing sebesar 117,13% dan 110,64%.

(32)

28

Sementara untuk capaian APM kabupaten pada jenjang SMP/sederajat sebesar 83,21%. Dimana 17 (tujuh belas) kecamatan masih berada dibawah capaian Kabupaten, 2 (dua) terendah terdapat di Kecamatan Gunung Putri dan Kecamatan Sukaraja yang masing – masing capaian sebesar 44,31% dan 49%, untuk APM tertinggi terdapat pada Kecamatan Leuwiliang dan Kecamatan Leuwisadeng yang masing – masing capaian sebesar 129,72% dan 138,18%.

Dari gambaran capaian diatas, terdapat kesenjangan yang terjadi dari dua indicator tersebut yang merupakan hasil perhitungan internal Dinas Pendidikan dengan melakukan pendataan yang basisnya adalah persekolahan;

c. Belum terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan standar pendidikan nasional. Hal ini bisa dilihat dari jumlah bangunan Sekolah SD/MI dalam kondisi baik pada tahun 2018 yang hanya mencapai 88,95% dan untuk SMP/MTs sebesar 92,13%. Diantara indikatornya yaitu untuk SD yang telah memenuhi kebutuhan ruang kelas dan meja dan kursi serta papan tulis untuk setiap rombel dengan realisasi 45.26% dari target 59.30%, untuk SMP yang telah memenuhi kebutuhan ruang kelas dan meja dan kursi serta papan tulis untuk setiap rombel dengan realisasi sebesar 70.83% dari target 91.96%.

d. Pemenuhan jumlah, kualifikasi dan kompetensi guru sesuai standar pelayanan minimal (SPM) dalam rangka memenuhi standar nasional pendidikan pada semua jenjang juga masih perlu ditingkatkan, selain itu belum idealnya komposisi guru terhadap murid/ rombongan belajar. Tahun 2018 rasio guru/murid SD/MI sebesar 1:413, sedangkan rasio guru/Murid SMP/MTs sebesar 1:512, untuk indikator yang terkait dengan yaitu guru yang memenuhi kualifikasi S1/D4 pada tahun 2018 realisasi sebesar 80.63 % dari target 90.12%, SD yang memiliki satu orang guru untuk setiap 32 peserta didik dengan realisasi 77.84% dari target 100% , untuk SD yang memiliki 6 orang guru dengan realisasi 96.76% dari target 100%, untuk SMP yang memiliki guru untuk setiap mata pelajaran dengan realisasi 31.20%, untuk SD yang memiliki 2 orang guru dengan kualifikasi S1/D4dengan realisasi 99.84% dari target 100%, untuk SD yang memiliki 2 orang guru yang telah memiliki sertifikat pendidik dengan realisasi 88.86% dari target 100%, untuk SMP yang memiliki guru berkualifikasi S1/D4 ≥

(33)

29

70% dengan realisasi 87.23% dari target 100%, untuk guru SMP yang memiliki guru dengan kualifikasi S1/D4 dan telah memiliki sertifikat pendidik ≥ 35% dengan realisasi 26.56% dari target 34.65%.

Identifikasi permasalahan dapat dilakukan dengan tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1

Pemetaan Permasalahan Pelayanan Perangkat Daerah

No Masalah Pokok Masalah Akar Masalah

1 Tingkat Pendidikan Masyarakat masih rendah belum optimalnya pelayanan pendidikan Belum terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan standar pendidikan nasional

Masih rendahnya cakupan pelayanan pendidikan bagi penduduk usia pra sekolah

Belum idealnya

komposisi guru terhadap murid/ rombongan belajar Belum terpenuhinya kebutuhan guru berdasarkan standar kualifikasi dan kompetensi

3.2. TELAAHAN VISI, MISI DAN PROGRAM BUPATI DAN WAKIL BUPATI

TERPILIH

Visi Bupati dan Wakil Bupati dalam memimpin Pemerintah Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2018-2023 adalah: “Terwujudnya Kabupaten

Bogor Termaju, Nyaman dan Berkeadaban”. Sedangkan Misi pada

Pemerintah Kabupaten Bogor Tahun 2018 – 2023 ditetapkan 5 (lima) misi sebagai berikut :

1. Mewujudkan masyarakat yang berkualitas.

2. Mewujudkan perekonomian daerah yang berdaya saing dan berkelanjutan.

3. Mewujudkan tata kelola pemerintahan daerah yang baik.

4. Mewujudkan pembangunan daerah yang merata, berkeadilan, dan berkelanjutan.

(34)

30

Terkait bidang pendidikan, yaitu terdapat pada misi pertama : “Mewujudkan masyarakat yang berkualitas”. Dengan tujuan yang ingin dicapai misi tersebut, yaitu : Terwujudnya masyarakat Bogor cerdas, sedangkan sasaran dari tujuan tersebut yaitu : Meningkatnya pelayanan pendidikan, khususnya penduduk usia sekolah untuk memperoleh pendidikan dasar. Indikasi pencapaian sasaran ditunjukan dengan peningkatan APK/APM semua jenjang pendidikan meski secara simultan terjadi peningkatan mutu pendidikan melalui manajemen penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas, akuntabel dan sesuai prinsip MPMBS (manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah). Mutu penyelenggaraan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan pun masih belum optimal, sehingga mutu hasil pendidikan belum sesuai harapan, yakni mutu lulusan pendidikan yang bertakwa, berbudaya, berdaya saing, berkarakter mulia yang dapat membawa masyarakat Kabupaten Bogor menuju sejahtera. Ada beberapa faktor atas capaian sasaran yang belum optimal tersebut, antara lain:

1. Layanan pendidikan belum dapat menjangkau semua penduduk usia sekolah di setiap wilayah karena kondisi geografis;

2. Terbatasnya sarana prasarana pendidikan baik yang terkait dengan upaya perluasan akses dan pemerataan maupun upaya peningkatan mutu;

3. Kualifikasi dan kompetensi PTK belum optimal;

4. Kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat masih lemah, sehingga kemampuan membiayai anaknya bersekolah masih sangata terbatas; 5. Koordinasi dan sinergitas antar pihak terkait urusan pembangunan

(35)

31

Peluang pencapaian tujuan dan sasaran misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dalam sektor pendidikan di atas cukup tersedia, karena terdapat beberapa faktor pendukung, antara lain:

1. Komitmen pemimpin daerah untuk menjamin ketersediaan layanan pendidikan untuk semua jenjang dan jenis pendidikan, khususnya layanan pendidikan dasar. Komitmen tersebut diwujudkan antara lain melalui penetapan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, dan Peraturan Bupati Nomor 28 Tahun 2009 tentang Wajib Sekolah untuk Percepatan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun.

2. Kebijakan pimpinan daerah yang menetapkan pendidikan sebagai salah satu sektor prioritas pembangunan dalam 5 (lima) tahun masa kepemimpinananya;

3. Dukungan anggaran untuk perluasan daya tampung dan peningkatan mutu pendidikan cenderung meningkat, baik dari APBD murni, maupun non-APBD (APBD provinsi dan APBN);

4. Komitmen Pemerintah Provinsi dan Pusat untuk membantu peningkatan kualifikasi akademik PTK sesuai SNP;

5. Partisipasi swasta dalam penyelenggaraan pendidikan meningkat;

6. Ketersaediaan dana bantuan pendidikan berupa BOS dari pemerintah, khususnya untuk jenjang pendidikan dasar;

7. Koordinasi dan sinergitas antarfungsi baik internal maupun eksternal pemerintah daerah yang sudah terbangun namun belum efektif selama ini masih dapat ditingkatkan.

(36)

32

Tabel 3.2

Telaah Visi, Misi dan Program Bupati dan Wakil Bupati

No Visi, Misi/Program Kerja Bupati/ Wakil Bupati Dinas Pendidikan Tupoksi Permasalahan Penghambat Faktor Pendorong

Visi : Terwujudnya Kabupaten Bogor Termaju, Nyaman dan Berkeadaban Misi : Mewujudkan Masyarakat Yang Berkualitas

KARSA Bogor Cerdas

Meningkatkan kualitas dan

aksesibiltas pendidikan 1

Tuntas Rehabilitasi SD dan SMP dalam kurun waktu 3 tahun (2019-2021)

Belum terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan yang sesuai dengan standar pendidikan nasional

Terbatasnya sarana

prasarana pendidikan baik yang terkait dengan upaya perluasan akses dan

pemerataan maupun upaya peningkatan mutu

Dukungan anggaran untuk perluasan daya tampung dan peningkatan mutu pendidikan

cenderung meningkat, baik dari APBD murni, maupun non-APBD (APBD provinsi dan APBN)

2 Menambah ruang kelas baru SD dan SMP

3 Penerbitan Kartu Bodas

4

Pemberian bantuan beasiswa terhadap putra/i daerah berprestasi

5 Pelayanan PKBM bagi pesantren salafiyah

Belum terpenuhinya kebutuhan guru berdasarkan standar kualifikasi dan kompetensi

Kualifikasi dan kompetensi PTK belum optimal

Komitmen pemimpin daerah untuk menjamin ketersediaan layanan pendidikan untuk semua jenjang dan jenis

pendidikan, khususnya layanan pendidikan dasar

(37)

33

No Visi, Misi/Program Kerja Bupati/ Wakil Bupati Dinas Pendidikan Tupoksi Permasalahan Penghambat Faktor Pendorong

6 Gerakan Bogor Ngaos

7 Mengembangkan sekolah inklusif

8 Peningkatan kualitas pendidikan melalui Bantuan

Sekolah dan Guru Madrasah Belum idealnya komposisi

guru terhadap murid/ rombongan belajar

Koordinasi dan sinergitas antar pihak terkait urusan pembangunan pendidikan belum optimal

Komitmen pemimpin daerah untuk menjamin ketersediaan layanan pendidikan untuk semua jenjang dan jenis

pendidikan, khususnya layanan pendidikan dasar

9

Meningkatkan moral peserta didik dengan menambah empat (4) jam pendidikan agama dan pendidikan keagamaan

(38)

34

3.3. TELAAHAN RENSTRA KEMENTERIAN PEDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

DAN RENSTRA PROVINSI JAWA BARAT

Tahun 2019, merupakan tahun terakhir renstra kementerian pendidikan dan kebudayaan periode tahun 2015-2019. Dalam dokumen renstra tersebut dijelaskan bahwa Sasaran strategis kemendikbud yaitu: (1) Penguatan Peran Siswa, Guru, Tenaga Kependidikan, Orang tua, dan Aparatur Institusi Pendidikan dalam Ekosistem Pendidikan; (2) Pemberdayaan Pelaku Budaya dalam Melestarikan Kebudayaan; (3) Peningkatan Akses PAUD, Dikdas, Dikmen, Dikmas, dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus; (4) Peningkatan Mutu dan Relevansi Pembelajaran yang Berorientasi pada Pembentukan Karakter; (5) Peningkatan Jati Diri Bangsa melalui Pelestarian dan Diplomasi Kebudayaan serta Pemakaian Bahasa sebagai Pengantar Pendidikan; (6) Peningkatan Sistem Tata Kelola yang Transparan dan Akuntabel dengan Melibatkan Publik.

Dari 6 (enam) tujuan strategis di atas, hanya 2 (dua) yang selaras dan secara langsung menjadi bagian dari kewenangan pemerintah kabupaten, yaitu :

1. Penguatan Peran Siswa, Guru, Tenaga Kependidikan, Orang tua, dan Aparatur Institusi Pendidikan dalam Ekosistem Pendidikan;

2. Peningkatan Akses PAUD, Dikdas, Dikmen, Dikmas, dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus;

Sementara terkait bidang pendidikan, tujuan strategis RPJMD tahun 2018-2023 di tingkat Provinsi Jawa Barat adalah : “Meningkatkan aksesibilitas dan mutu pendidikan”, untuk telaahan Renstra pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Renstra Provinsi Jawa Barat dalam dilihat dalam tabel dibawah ini;

(39)

35

Tabel 3.3

Telaah Renstra Kemendikbud RI dan Renstra Provinsi Jawa Barat

No Renstra Kemendikbud dan Renstra Provinsi Jawa Barat Dinas Pendidikan Tupoksi Permasalahan Faktor

Penghambat Pendorong

RENSTRA KEMENDIKBUD

1

Penguatan Peran Siswa, Guru, Tenaga Kependidikan, Orangtua dan Aparatur Institusi Pendidikan dalam Ekosistem Pendidikan

Program Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan

Peran Pelaku Pembangunan Pendidikan belum optimal

Program Wajardiknas SD/SMP Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan yang berkualitas

belum maksimal

2

Peningkatan Akses PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah,

Pendidikan Masyarakat, dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Program Pembangunan /

Rehabilitasi / Penyediaan Sarpras Penunjang SD / SMP

Peran Pelaku Pembangunan Pendidikan belum optimal Program Pendidikan Anak Usia

Dini

Belum semua penduduk

memperoleh layanan akses PAUD yang Berkualitas

Program Pendidikan Non-Formal Peningkatan kualitas pembelajaran belum maksimal

RENSTRA PROVINSI JAWA BARAT

1 Meningkatkan aksesibilitas dan mutu pendidikan

Program Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan

Belum optimalnya mutu pendidikan

Program Wajardiknas SD/SMP Program Pendidikan Anak Usia Dini

Program Pendidikan Non-Formal Program Pembangunan /

Rehabilitasi / Penyediaan Sarpras Penunjang SD / SMP

Belum meratanya akses pendidikan

(40)

36

3.4. PENENTUAN ISU-ISU STRATEGIS

Berdasarkan telaahan terhadap beberapa hal sebagaimana tersebut di atas, yang antara lain adalah: (1) telaahan pencapaian terhadap layanan pendidikan pada tingkat kabupaten sebagaimana digambarkan di atas; (2) telaahan terhadap sasaran perencanaan pembangunan nasional periode tahun 2019-2023; (3) permasalahan aktual dalam kurun lima tahun terakhir juga salah satu yang menjadi faktor dalam penentuan isu-isu strategis dengan rumusan antara lain adalah:

1) Masih rendahnya rata-rata lama sekolah (RRLS); 2) Penyebaran sarana pendidikan yang belum merata;

3) Masih tingginya jumlah ruang kelas dalam kondisi rusak berat;

4) Kebutuhan pendidik dan tenaga kependidikan yang belum seimbang; 5) Belum meratanya jumlah tenaga pendidik yang berkualitas (memiliki

kompetensi);

Kajian terhadap kondisi real perkembangan pembangunan sektor pendidikan dapat dianalisa dengan menggunakan pendekatan analisa SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats), yang meliputi bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan nonformal, dan peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Kajian tersebut diarahkan pada lingkungan strategis dinas pendidikan, baik internal maupun eksternal yang meliputi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses). Lingkungan eksternal meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Di bawah ini adalah rumusan terhadap kajian internal dan eksternal dengan menggunakan analisis SWOT.

1. Lingkungan Internal

KEKUATAN/STRENGTHS (S)

a. Animo masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD) semakin meningkat;

b. Banyak bermunculannya lembaga-lembaga PAUD yang didirikan oleh masyarakat;

c. Capaian APK/APM pada jenjang SD/sederajat dan SMP/sederajat yang berdasarkan hasil evaluasi internal dinas pendidikan sudah diatas rata-rata capaian nasional dan provinsi;

d. Lulusan SD/sederajat, SMP/sederajat, dari tahun-ketahun semakin meningkat;

e. Penduduk melek aksara sudah mencapai angka 97,10%;

f. Adanya peningkatan kualifikasi akademik PTK, baik pada jenjang PAUD, Dikdas.

(41)

37

KELEMAHAN/WEAKNESSES (W)

a. Tingkat capaian APK PAUD, berdasarkan hasil evaluasi internal, masih dibawah capaian rata-rata nasional dan provinsi;

b. Kepastian dalam memperoleh pendidikan dasar yang berkualitas belum dapat diwujudkan sepenuhnya;

c. Layanan pendidikan keaksaraan fungsional bagi orang dewasa belum sepenuhnya dapat menjangkau penduduk yang belum melek aksara;

d. Peningkatan kualifikasi akademik PTK, baik pada jenjang PAUD dan Dikdas belum sesuai dengan kebutuhan yang ada.

2. Lingkungan Eksternal

PELUANG/OPPORTUNITIES (O)

a. Komitmen pemimpin daerah dalam menjamin ketersediaan layanan pembangunan pada sektor pendidikan untuk semua jenjang dan jenis pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan dasar.

b. Adanya komitmen pemerintah daerah yang menetapkan pembangunan sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan lima tahun mendatang;

c. Semakin meningkatnya daya dukung anggaran dari pemerintah pusat (APBN), provinsi (APBD Provinsi), maupun kabupaten (APBD Kabupaten) dalam memenuhi perluasan daya tampung dan peningkatan mutu pendidikan;

d. Semakin besarnya perhatian pemerintah pusat dan provinsi dalam meningkatkan kualifikasi akademik pendidik agar sesuai dengan standar nasional pendidikan (SNP);

e. Kepedulian masyarakat dalam DUDI terhadap pembangunan sektor pendidikan melalui program CSR (corporate social

responsibility)-nya dari tahun ke tahun semakin meningkat, baik

secara kualitatif maupun kuantitatif;

f. Kepedulian serta partisipasi masyarakat semakin meningkat terhadap dunia pendidikan;

g. Adanya kebijakan pemerintah pusat terhadap bantuan operasional sekolah (BOS), baik untuk tingkat pendidikan dasar maupun pendidikan anak usia dini;

h. Adanya peningkatan koordinasi dan sinergitas antarfungsi baik di internal maupun internal dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.

(42)

38 3. ANCAMAN/THREATS (T)

a. Pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun semakin meningkat; b. Angka kemiskinan relatif tinggi;

c. Masih terdapat perusahan yang merekrut karyawan/karyawatinya pada penduduk yang masih usia sekolah;

d. Dalam hal kebijakan pengupahan, DUDI masih memperlakukan sama antara karyawan yang lulusan pendidikan menengah dengan lulusan yang ada di bawahnya;

Dengan berpijak pada analisis lingkungan internal dan eksternal sebagaimana tergambarkan di atas, maka strategi yang diperlukan dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan adalah sebagai berikut:

1. STRATEGI S-O

a. Meningkatkan daya tampung dengan cara mendirikan unit satuan/program pendidikan pada jenjang pendidikan dasar;

b. Meningkatkan pembangunan ruang kelas baru dalam rangka menambah daya tampung pada pendidikan dasar;

c. Memenuhi ketercukupan sarana penunjang satuan/program pendidikan, baik secara kualitas maupun kuantitas;

d. Meningkatkan kualitas profesionalisme dan kempetensi pendidik dan tenaga kependidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

e. Lebih meningkatkan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri;

f. Meningkatkan koordinasi dan sinergitas antarfungsi yang ada di internal maupun eksternal;

g. Meningkatkan kerjasama pembangunan pada sektor pendidikan dengan wilayah-wilayah yang ada di sekitar wilayah perbatasan.

2. STRATEGI W-O

a. Meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi pendidik dan tenaga pendidik pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

b. Meningkatkan aksebilitas pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

c. Meningkatkan sarana prasarana pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

d. Meningkatkan rekrutmen guru honor daerah;

e. Mempermudah pengurusan izin operasional satuan/program pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

(43)

39

f. Meningkatkan pengembangan program keahlian sesuai dengan tuntutan DUDI baik secara kualitas maupun kuantitas.

3. STRATEGI S-T

a. Meningkatnya daya tampung dengan cara menambah

pembangunan ruang kelas;

b. Meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana prasarana penunjang satuan/program pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

c. Menambah jumlah satuan/program pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

d. Menjalin berbagai kerjasama dengan stakeholder pendidikan;

e. Meningkatkan program beasiswa bagi siswa yang kurang mampu yang ada pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar; f. Meningkatkan partisipasi komite sekolah dalam penyelenggaran

pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar; g. Mengembangkan program kegiatan yang ada pada jalur

pendidikan nonformal.

4. STRATEGI W-T

a. Meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar;

b. Meningkatkan kuantitas dan kualitas serta kompetensi penilik PNF dan Tutor pada jalur pendidikan nonformal;

c. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana satuan/program pendidikan pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar; d. Meningkatkan daya tampung sekolah;

e. Meningkatkan kuantitas dan kualitas pengawas satuan/program pendidikan pada jalur pendidikan formal;

f. Meningkatkan peran pengusaha dan stakeholder pendidikan dalam pembangunan pendidikan.

Referensi

Dokumen terkait

Sifat utama dari penyajian one-way list dari sebuah antrean berprioritas adalah bahwa elemen dalam antrean yang seharusnya diproses pertama kali selalu muncul pada bagian permulaan

Atas izin dan syukur serta anugrah penulis panjatkan kepada Allah SWT karena rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik penulisan

Kajian tersebut ditambah dengan hasil evaluasi Rencana Strategis (Renstra) Dinas periode sebelumnya. Program yang disusun dalam Renstra Dinas PUPRPKP tahun 2017-

Dengan menggunakan analisis rangkaian ekivalen, maka didapatkan parameter rangkaian ekivalen motor induksi 3 fasanya seperti yang tertulis pada Tabel 6.. Gambar rangkaian

Fenomena perkawinan manyonduti , sebenarnya banyak terjadi di masyarakat batak, karena mereka menganggap dari pada menikah dengan orang lain, yang berbeda marga/keturunan,

Jasa Konsultansi Perencanaan Teknis pembangunan PKD desa Pageruyung, Pustu Rejosari Puskesmas Brangsong II, Pustu Rejosari Puskemsa Kangkung I, Pustu Kalibuntu Wetan Puskesmas Kendal

Efisiensi aktifitas penggajian akan lebih memadai apabila perusahaan mengatur proses penggajian tersebut dengan menggunakan sistem dan prosedur penggajian yang

Perekonomian Singapura meningkat sebesar 2,6% y-o-y pada kuartal pertama 2015, meningkat dari 2,1% pada kuartal sebelumnya, dimana perdagangan grosir dan eceran