42
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Lokasi Penelitian
RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan berada di wilayah Kota Pekalongan namun kepemilikannya adalah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan. Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan mutu pelayanan kesahatan paripurna yang dilakukan Rumah Sakit Pemerintah sebagai unit sosio ekonomi, maka dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Pekalongan No 5 tahun 1995 tentang Penetapan Rumah Sakit Umum Daerah Tingkat II Pekalongan menjadi Unit Swadana Daerah dan telah mendapatkan Pengesahan dari Menteri Dalam Negeri No 445.33-177, maka secara resmi Rumah Sakit Umum Daerah Kabuapten Pekalongan menjadi Unit Swadana Daerah dengan sebutan Rumah Sakit Umum Daerah Unit Swadana Kabupaten Daerah Tingkat II Pekalongan, dan Pada Tahun 2003 ditetapkan dengan Perda No 11 Th 2003 tentang Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Kraton Kabupaten Pekalongan sampai dengan sekarang menjadi Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Kraton Kabupaten Pekalongan.
RSUD Kraton Pekalongan telah menempati bangunan di atas areal tanah seluas ± 21278,75 m2 dan bangunan sekitar 8.705,88m2 terdiri dari atas satu lantai yang digunakan untuk pelayanan rumah sakit. Saat ini RSUD Kraton memiliki 226 tempat tidur, yang terbagi Kelas VIP, Kelas I, Kelas II, Kelas III , ICU, dan R. Flu Burung. Peralatan medis canggih yang dimiliki antara lain endoskopi (1 unit), haemodialisa (17 unit), USG (1 unit), ECG (3 unit), Tread Mill (1 unit), EEG (1 unit), ECHO (1 unit), CT SCAN (1 unit) dan ruang kemoterapi.
RSUD Kabupaten Pekalongan didukung oleh sekitar 688 orang yang merupakan aset organisasi, dengan jenis tenaga terdiri dari 390 orang PNS, 298 orang non PNS yang terbagi menjadi 16 PTT Daerah dan 275 tenaga BLUD. Sumber daya manusia di rumah sakit ini terdiri dari 143 orang perawat PNS, 49 orang perawat BLUD, 1 perawat PTT Daerah, 19 bidan PNS, 46 bidan BLUD, 13 dokter umum, 20 orang dokter spesialis serta 7 dokter mitra.
2. Analisa Univariat
a. Karakteristik Responden
Karakteristik responden penelitian berdasarkan umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan status ekonomi dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1.
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden (n=45) Umur Frekuensi (n) Persentase (%) Reproduksi sehat
Reproduksi tidak sehat
6 39
13,3 86,7 Tingkat Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%) Tidak tamat SD Pendidikan dasar Pendidikan menengah Pendidikan tinggi 4 25 12 4 8,9 55,6 26,7 8,9 Pekerjaan Frekuensi (n) Persentase (%) Tidak bekerja Petani Buruh Pekerja swasta PNS 25 4 7 4 5 55,6 8,9 15,6 8,9 11,1 Status Pernikahan Frekuensi (n) Persentase (%) Menikah Janda 41 4 91,1 8,9 Status Ekonomi Frekuensi (n) Persentase (%) < 1 juta ≥ 1 juta 37 8 82,2 17,8
Dari hasil penelitian dapat diketahui berdasarkan umur terdapat 86,3% responden yang berumur 20-35 tahun atau termasuk dalam usia reproduksi sehat. Berdasarkan tingkat pendidian diketahui 55,6% responden pendidikan dasar, 55,6% tidak bekerja, 91,1% berstatus menikah dan 82,2% mempunyai pendapatan < 1 juta.
b. Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara
Dukungan keluarga pada pasien kanker payudara diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.2.
Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan tahun 2013 (n=45)
Dukungan Keluarga Frekuensi (n) Persentase (%) Kurang Baik 23 22 51,1 48,9 Total 45 100 %
Hasil penelitian dukungan keluarga diketahui sebagian besar (51,1%) dukungan keluarga pada pasien kanker payudara adalah kurang. Hal ini dapat dilihat dari distribusi frekuensi per item pertanyaan sebagai berikut:
Tabel 4.3.
Distribusi Frekuensi Pertanyaan Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan
Tahun 2013 (n=45)
Ya Tidak
No Pernyataan
f % f %
1 Suami/ keluarga mengantarkan saya setiap kali periksa ke dokter
43 95,6 2 4,4 2 Suami/ keluarga memberikan biaya untuk
memeriksakan penyakit saya
36 80 9 20 3 Suami/ keluarga menyediakan makanan
dengan lauk pauk yang dianjurkan dokter
Ya Tidak 4 Suami/ keluarga memijati saya setelah
melakukan kemoterapi
30 66,7 15 33,3 5 Suami/ keluarga dengan senang hati
mengantarkan saya menjalani kemoterapi
29 64,4 16 35,6 6 Suami/ keluarga dengan senang hati
menemani saya menjalani kemoterapi
43 95,6 2 4,4 7 Suami/ keluarga melarang saya menjalani
kemoterapi
26 57,8 19 42,2 8 Suami/ keluarga sedih saat mendengar saya
mengidap penyakit kanker payudara
25 55,6 20 44,4 9 Suami/ keluarga menyemangati saya
menjalani pengobatan kemoterapi sesuai dengan petunjuk dokter
32 71,1 13 28,9
10 Suami/ keluarga mendoakan saya agar sembuh setelah melakukan kemoterapi
9 20 36 80 11 Suami/ keluarga menghibur saya sesudah
menjalani kemoterapi
22 48,9 23 51,1 12 Suami/ keluarga merasa terbebani dengan
penyakit saya
25 55,6 20 44,4 13 Suami/ keluarga merasa repot karena penyakit
saya
22 48,9 23 51,1 14 Suami/ keluarga meminta penjelasan tentang
pengobatan kemoterapi pada dokter
28 62,2 17 37,8 15 Suami/ keluarga mencarikan informasi tentang
manfaat kemoterapi
30 66,7 15 33,3 16 Suami/ keluarga mencarikan informasi tentang
cara mengatasi efek samping kemoterapi
31 68,9 14 31,1 17 Suami/ keluarga tidak memberitahukan
masalah-masalah keluarga agar tidak membebani pikiran saya
34 75,6 11 24,4
18 Suami/ keluarga mendengarkan dengan senang hati keluhan yang saya rasakan setelah menjalani kemoterapi
30 66,7 15 33,3
19 Suami/ keluarga menjaga perasaan saya agar senang dalam menjalani kemoterapi
35 77,8 10 22,2 20 Suami/ keluarga membiarkan saya merasakan
rasa lelah setelah menjalani kemoterapi
8 17,8 37 82,2 21 Suami/ keluarga menganggap penyakit saya
saat ini sebagai suatu peristiwa yang biasa
25 55,6 20 44,4 22 Suami/ keluarga memberikan nasihat pada
saya agar tidak memikirkan hal-hal yang dapat mengganggu pikiran saya
24 53.3 21 46,7
Hasil penelitian tentang dukungan keluarga menunjukkan bahwa 57,8% responden dilarang menjalani kemoterapi oleh keluarga. Sebagian besar responden (80%) menyatakan keluarga tidak mendoakan agar sembuh setelah menjalani kemoterapi. Terdapat
48,9% responden yang menyatakan keluarga merasa repot karena penyakit yang diderita oleh responden.
c. Motivasi Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara
Penelitian motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.4.
Distribusi Frekuensi Motivasi Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan Tahun 2013 (n=45)
Motivasi Kemoterapi Frekuensi (n) Persentase (%) Kurang Baik 25 20 55,6 44,4 Total 45 100 %
Hasil penelitian motivasi keluarga diketahui sebagian besar (55,6%) mempunyai motivasi yang kurang. Hal ini dapat dilihat dari distribusi frekuensi per item pertanyaan sebagai berikut:
Tabel 4.5.
Distribusi Frekuensi Pertanyaan Motivasi Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan
Tahun 2013 (n=45)
Ya Tidak
No Pernyataan
f % f %
1 Saya melakukan kemoterapi karena saya ingin dapat bekerja seperti semula
42 93,3 30 6,7 2 Saya ingin sembuh agar dapat merawat
anak-anak saya
22 48,9 23 51,1 3 Saya tahu bahwa penyakit saya dapat
disembuhkan melalui kemoterapi
31 68,9 14 31,1 4 Saya sebagai manusia harus mencoba semua
cara agar penyakit saya sembuh termasuk menjalani kemoterapi
23 51,1 22 48,9
5 Saya percaya bila berjuang dengan keras untuk sembuh seperti kemoterapi maka saya akan sembuh
24 53,3 21 46,7
6 Keluarga saya percaya bahwa kanker payudara hanya dapat disembuhkan melalui pengobatan dengan dokter
33 73,3 12 26,7
7 Saya menjalani kemoterapi karena saya membaca kisah-kisah penderita kanker yang berhasil dalam pengobatan
Ya Tidak 8 Saya menjalani pengobatan kemoterapi
karena saya tidak ingin menyerah pada penyakit kanker payudara
29 64,4 16 35,6
9 Saya akan mengobati kanker payudara dengan cara atau metode yang saya yakini kebenarannya
20 44,4 25 55,6
10 Keluarga saya lebih mempercayai pengobatan alternatif untuk mengobati kanker payudara yang saya derita
18 40 27 60
11 Saya disarankan oleh kerabat untuk menjalani kemoterapi agar dapat sembuh dari penyakit kanker
21 46,7 24 53,3
12 Dokter menyarankan saya untuk melakukan kemoterapi
23 51,1 22 48,9 13 Anak-anak saya meminta saya untuk
menjalani kemoterapi
27 60 18 40 14 Suami saya memberikan semangat pada saya
untuk menjalani kemoterapi
29 64,4 16 35,6 15 Keluarga tidak ada yang menemani saya saat
menjalani kemoterapi
22 48,9 23 51,1 16 Suami mendukung saya untuk mengikuti
kemoterapi
19 42,2 26 57,8 17 Keluarga mengantar saya bila akan menjalani
kemoterapi
27 30 18 40 18 Agama yang saya anut mengajarkan saya
untuk tidak pasrah menghadapi segala penyakit yang diderita
28 62,2 17 37,8
19 Keluarga saya menyediakan dana khusus bagi saya selama menjalani kemoterapi
27 60 18 40 20 Keluarga saya selalu berobat ke dokter bila
sakit
20 44,4 25 55,6 21 Saya menjalani kemoterapi karena perawat
selalu mengingatkan jadwal kemoterapi
31 68,9 14 31,1 22 Keluarga saya pasrah dengan penyakit saya 16 35,6 29 64,4
Hasil penelitian tentang motivasi menjalani kemoterapi menunjukkan bahwa 51,1% motivasi responden dikarenakan responden merasa sebagai manusia maka harus mencoba semua cara agar penyakit sembuh termasuk dengan kemoterapi. Masih ada 46,7% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena disarankan oleh kerabat untuk menjalani kemoterapi agar cepat sembuh. Terdapat 68,9% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena perawat selalu mengingatkan jadwal kemoterapi.
3. Analisa Bivariat
Peneliti sebelum melakukan analisa bivariat melakukan uji normalitas terhadap hasil penelitian meliputi variabel dukungan keluarga dan motivasi kemoterapi dengan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.6
Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk (n=45)
Variabel Signifikansi Keterangan Dukungan Keluarga Motivasi Kemoterapi 0,000 0,004 Tidak normal Tidak normal
Hasil uji normalitas shapiro-wilk data hasil penelitian dukungan keluarga diperoleh value sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti distribusi data penelitian tidak normal dan motivasi kemoterapi diperoleh value sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti distribusi data penelitian tidak normal.
Peneliti melakukan uji transformasi normalitas hasil penelitian, namun setelah dilakukan transfromasi hasil uji normalitas hasil penelitian tetap berdistribusi tidak normal sehingga analisa bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji spearman rank.
Hasil korelasi spearman rank diperoleh nilai rs sebesar 0,652. Hal ini
berarti terdapat hubungan yang sedang antara dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan dan mempunyai arah hubungan yang positif. Hal ini berarti semakin baik dukungan keluarga yang diberikan pada pasien kanker payudara maka semakin baik motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini :
Diagram 4.1
Diagram Tebar Hubungan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Kemoterapi Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan (n=45)
Hasil uji statistik diperoleh value sebesar 0,000< 0,05, yang berarti ada
hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.
B. Pembahasan
1. Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (51,1%) dukungan keluarga yang diberikan pada pasien kanker payudara adalah kurang. Dukungan keluarga pada pasien kanker payudara yang kurang yaitu dukungan emosi terdapat 36 orang (80%) serta dukungan harga diri 37 orang ( 82,2 ).
Dukungan keluarga yang kurang dapat diatasi bantuan perawat dalam melibatkan anggota keluarga selama pasien menjalani kemoterapi dan memberikan informasi bahwa pasien membutuhkan dukungan keluarga agar termotivasi untuk menjalani kemoterapi sesuai jadwal dan tetap
40 35 30 Dukungan Keluarga 40 35 30 M o ti v a s i
Scatter Plot X dan Y
mempunyai semangat walaupun efek samping yang ditimbulkan menyakitkan bagi pasien. Informasi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemoterapi sehingga keluarga bersedia memotivasi pasien kanker payudara untuk melakukan kemoterapi. Suami dapat menanamkan kesadaran pada pasangannya tentang kemoterapi. Hal ini sesuai dengan Sunaryo (2004) yang menyatakan bahwa salah satu cara yang dapat diterapkan dalam memberikan motivasi yaitu memotivasi dengan identifikasi (motivating by
identification on egoinvoiremen), yaitu cara memotivasi dengan
menanamkan kesadaran.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga terhadap pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi adalah kurang. Hal ini diketahui dari distribusi frekuensi yaitu 57,8% responden dilarang menjalani kemoterapi oleh keluarga. Sebagian besar responden (80%) menyatakan keluarga tidak mendoakan agar sembuh setelah menjalani kemoterapi. Terdapat 48,9% responden yang menyatakan keluarga merasa repot karena penyakit yang diderita oleh responden
Hasil penelitian ini sesuai dengan Rasaningtyas (2012) diketahui bahwa 24 orang (61,5%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk perhatian dan emosi, 30 orang (76,9%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk bantuan instrumental 29 orang (74,4%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk pemberian informasi, 39 orang (100%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk penilaian dan 27 orang (69,2%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk penghargaan.
Dukungan keluarga adalah dukungan yang diberikan oleh keluarga yang terdiri dari atas informasi atau nasihat verbal dan non verbal bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial dan didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku
bagi pihak penerima (Gottieb, 1983, dikutip Smet, 1994, dalam Nursalam & Kurniawati 2007).
Dukungan keluarga yang baik adalah dukungan konkret, yaitu terdapat 43 orang (95,6%) yang mempunyai dukungan keluarga baik pada pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi. Dukungan keluarga dapat membantu pasien kanker payudara untuk menumbuhkan motivasi melakukan kemoetarapi. Dukungan keluarga yang diberikan dapat berbentuk perhatian secara emosi dengan kesediaan keluarga menemani pasien menjalani kemoterapi. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien kanker payudara saat menjalani kemoterapi dengan menenangkan hati pasien bahwa keluarga akan bersama-sama dan membantu pasien dalam menghadapi kemoterapi. Hal ini sesuai dengan Ratna (2010) yang menyatakan bahwa dukungan merupakan faktor penting yang dibutuhkan seseorang ketika menghadapi masalah (kesehatan). Salah satunya kelebihan masyarakat di Indonesia adalah kekerabatannya yang kuat, dapat dilihat dari ketika ada anggota keluarga yang sakit dan menjalani rawat inap di rumah sakit, semua keluarga dan tetangga memberikan dukungan dengan menunggu atau tidur di rumah sakit secara bergantian.
2. Motivasi Kemoterapi Pasien Kanker Payudara
Hasil penelitian diketahui bahwa motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara yaitu sebagian besar (55,6%) adalah kurang. Motivasi yang kurang pada pasien kanker payudara adalah motivasi eksternal, terdapat 26 orang (57,8%) yang mempunyai motivasi eksternal kurang pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi.
Pasien kanker payudara yang mempunyai motivasi yang kurang disebabkan kurangnya motivasi ekstrinsik seperti tingkat pendidikan yang rendah yaitu (64,4%) responden adalah orang yang tidak tamat SD dan tamat SD sehingga sulit menerima informasi tentang kemoterapi, selain itu juga pasien mencoba pengobatan-pengobatan alternatif yang tidak
menimbulkan efek samping yang menyakitkan bagi pasien seperti mual, muntah, kulit kering dan menghitam. Hal ini sesuai dengan Herijulianti dkk (2002) yang menyatakan bahwa salah satu macam motivasi adalah motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang disebabkan oleh adanya rangsangan atau dorongan dari luar. Rangsangan tersebut dapat dimanifestasikan bermacam-macam sesuai dengan karakter, pendidikan, latar belakang orang yang bersangkutan.
Motivasi adalah sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat untuk melakukan kegiatan, dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan, harapan dan cita-cita, penghargaan dan penghormatan atas diri, lingkungan yang baik serta kegiatan yang menarik (Uno 2007, dalam Nursalam 2005).
Hasil penelitian tentang motivasi menjalani kemoterapi menunjukkan bahwa 51,1% motivasi responden dikarenakan responden merasa sebagai manusia maka harus mencoba semua cara agar penyakit sembuh termasuk dengan kemoterapi. Masih ada 46,7% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena disarankan oleh kerabat untuk menjalani kemoterapi agar cepat sembuh. Terdapat 68,9% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena perawat selalu mengingatkan jadwal kemoterapi.
Pasien kanker payudara yang mempunyai motivasi yang baik disebabkan kemoterapi telah menjadi kebutuhan bagi dirinya yaitu kebutuhan akan rasa aman. Kemoterapi memberikan jaminan keamanan bagi kesehatan dirinya karena kemoterapi merupakan pengobatan yang harus dijalani oleh pasien kanker payudara. Pasien yang telah mengetahui manfaat dan dampak kemoterapi bagi kesehatannya dapat menjalani kemoterapi dengan baik, namun bagi pasien yang tidak mengetahui manfaat kemoterapi dan efek samping ditimbulkan harus menyesuaikan dengan keadaan yang baru
seperti kondisi yang tidak menyenangkan. Hal ini sesuai dengan Maslow dalam Purwanto (2006) yang menyatakan bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan keamanan. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi manusia berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan rasa aman dan nyaman (safety need). Kebutuhan ini sangat diperlukan karena tanpa adanya rasa aman dari berbagai gangguan yang ada, manusia akan sulit melakukan berbagai kegiatan dalam hidupnya.
Motivasi yang baik adalah motivasi internal yaitu terdapat 32 orang (71,1%) yang menyatakan bahwa motivasi pasien kanker payudara baik dalam menjalani kemoterapi.
Motivasi pada pasien kanker payudara bermanfaat selama menjalani kemoterapi. Pasien yang mempunyai motivasi yang baik akan patuh dalam menjalani kemoterapi. Hal ini sesuai dengan penelitian Nurwasiah (2012) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi adalah motivasi. 3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Kemoterapi Pasien
Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan
Hasil korelasi spearman rank diperoleh value sebesar 0,000< 0,05. yang
berarti ada hubungan dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.
Hasil korelasi spearman rank diperoleh nilai r sebesar 0,652. Hal ini berarti terdapat hubungan yang sedang antara dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.
Dukungan keluarga yang kurang pada pasien kanker payudara dapat menyebabkan pasien tersebut kurang termotivasi menjalani kemoterapi sehingga enggan bahkan tidak datang sesuai jadwal yang telah ditentukan
oleh dokter. Dukungan keluarga sangat memegang peranan penting dalam menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga. Dukungan yang diberikan keluarga dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan meningkatkan motivasi pasien kanker payudara untuk melakukan kemoterapi. Hal ini sesuai dengan Stuart & Sundeen (1995 dalam Tamher & Noorkasiani, 2005) yang menyatakan bahwa dukungan dari keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan masalah. Apabila ada dukungan, rasa percaya diri akan bertambah dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan meningkat.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi. Hal ini sesuai dengan penelitian Nurhayati (2012) yang menyatakan ada hubungan dukungan suami dengan motivasi ibu dalam dalam menjalani pemeriksaan IVA dalam upaya mencegah kanker serviks.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian dilakukan di rumah sakit yaitu Ruang Kemoterapi Poli Onkologi, yang suasananya kurang kondusif yaitu ramai, sehingga perlu waktu khusus untuk melakukan pendekatan secara persuasif agar pasien kemoterapi bersedia menjadi responden penelitian.
D. Implikasi Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien kanker payudara dengan melibatkan keluarga untuk memotivasi responden agar bersedia menjalani kemoterapi sesuai dengan anjuran perawat.