• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

42

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Lokasi Penelitian

RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan berada di wilayah Kota Pekalongan namun kepemilikannya adalah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan. Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan mutu pelayanan kesahatan paripurna yang dilakukan Rumah Sakit Pemerintah sebagai unit sosio ekonomi, maka dengan ditetapkannya Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Pekalongan No 5 tahun 1995 tentang Penetapan Rumah Sakit Umum Daerah Tingkat II Pekalongan menjadi Unit Swadana Daerah dan telah mendapatkan Pengesahan dari Menteri Dalam Negeri No 445.33-177, maka secara resmi Rumah Sakit Umum Daerah Kabuapten Pekalongan menjadi Unit Swadana Daerah dengan sebutan Rumah Sakit Umum Daerah Unit Swadana Kabupaten Daerah Tingkat II Pekalongan, dan Pada Tahun 2003 ditetapkan dengan Perda No 11 Th 2003 tentang Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Kraton Kabupaten Pekalongan sampai dengan sekarang menjadi Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Kraton Kabupaten Pekalongan.

RSUD Kraton Pekalongan telah menempati bangunan di atas areal tanah seluas ± 21278,75 m2 dan bangunan sekitar 8.705,88m2 terdiri dari atas satu lantai yang digunakan untuk pelayanan rumah sakit. Saat ini RSUD Kraton memiliki 226 tempat tidur, yang terbagi Kelas VIP, Kelas I, Kelas II, Kelas III , ICU, dan R. Flu Burung. Peralatan medis canggih yang dimiliki antara lain endoskopi (1 unit), haemodialisa (17 unit), USG (1 unit), ECG (3 unit), Tread Mill (1 unit), EEG (1 unit), ECHO (1 unit), CT SCAN (1 unit) dan ruang kemoterapi.

(2)

RSUD Kabupaten Pekalongan didukung oleh sekitar 688 orang yang merupakan aset organisasi, dengan jenis tenaga terdiri dari 390 orang PNS, 298 orang non PNS yang terbagi menjadi 16 PTT Daerah dan 275 tenaga BLUD. Sumber daya manusia di rumah sakit ini terdiri dari 143 orang perawat PNS, 49 orang perawat BLUD, 1 perawat PTT Daerah, 19 bidan PNS, 46 bidan BLUD, 13 dokter umum, 20 orang dokter spesialis serta 7 dokter mitra.

2. Analisa Univariat

a. Karakteristik Responden

Karakteristik responden penelitian berdasarkan umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan status ekonomi dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1.

Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden (n=45) Umur Frekuensi (n) Persentase (%) Reproduksi sehat

Reproduksi tidak sehat

6 39

13,3 86,7 Tingkat Pendidikan Frekuensi (n) Persentase (%) Tidak tamat SD Pendidikan dasar Pendidikan menengah Pendidikan tinggi 4 25 12 4 8,9 55,6 26,7 8,9 Pekerjaan Frekuensi (n) Persentase (%) Tidak bekerja Petani Buruh Pekerja swasta PNS 25 4 7 4 5 55,6 8,9 15,6 8,9 11,1 Status Pernikahan Frekuensi (n) Persentase (%) Menikah Janda 41 4 91,1 8,9 Status Ekonomi Frekuensi (n) Persentase (%) < 1 juta ≥ 1 juta 37 8 82,2 17,8

(3)

Dari hasil penelitian dapat diketahui berdasarkan umur terdapat 86,3% responden yang berumur 20-35 tahun atau termasuk dalam usia reproduksi sehat. Berdasarkan tingkat pendidian diketahui 55,6% responden pendidikan dasar, 55,6% tidak bekerja, 91,1% berstatus menikah dan 82,2% mempunyai pendapatan < 1 juta.

b. Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara

Dukungan keluarga pada pasien kanker payudara diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.2.

Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan tahun 2013 (n=45)

Dukungan Keluarga Frekuensi (n) Persentase (%) Kurang Baik 23 22 51,1 48,9 Total 45 100 %

Hasil penelitian dukungan keluarga diketahui sebagian besar (51,1%) dukungan keluarga pada pasien kanker payudara adalah kurang. Hal ini dapat dilihat dari distribusi frekuensi per item pertanyaan sebagai berikut:

Tabel 4.3.

Distribusi Frekuensi Pertanyaan Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan

Tahun 2013 (n=45)

Ya Tidak

No Pernyataan

f % f %

1 Suami/ keluarga mengantarkan saya setiap kali periksa ke dokter

43 95,6 2 4,4 2 Suami/ keluarga memberikan biaya untuk

memeriksakan penyakit saya

36 80 9 20 3 Suami/ keluarga menyediakan makanan

dengan lauk pauk yang dianjurkan dokter

(4)

Ya Tidak 4 Suami/ keluarga memijati saya setelah

melakukan kemoterapi

30 66,7 15 33,3 5 Suami/ keluarga dengan senang hati

mengantarkan saya menjalani kemoterapi

29 64,4 16 35,6 6 Suami/ keluarga dengan senang hati

menemani saya menjalani kemoterapi

43 95,6 2 4,4 7 Suami/ keluarga melarang saya menjalani

kemoterapi

26 57,8 19 42,2 8 Suami/ keluarga sedih saat mendengar saya

mengidap penyakit kanker payudara

25 55,6 20 44,4 9 Suami/ keluarga menyemangati saya

menjalani pengobatan kemoterapi sesuai dengan petunjuk dokter

32 71,1 13 28,9

10 Suami/ keluarga mendoakan saya agar sembuh setelah melakukan kemoterapi

9 20 36 80 11 Suami/ keluarga menghibur saya sesudah

menjalani kemoterapi

22 48,9 23 51,1 12 Suami/ keluarga merasa terbebani dengan

penyakit saya

25 55,6 20 44,4 13 Suami/ keluarga merasa repot karena penyakit

saya

22 48,9 23 51,1 14 Suami/ keluarga meminta penjelasan tentang

pengobatan kemoterapi pada dokter

28 62,2 17 37,8 15 Suami/ keluarga mencarikan informasi tentang

manfaat kemoterapi

30 66,7 15 33,3 16 Suami/ keluarga mencarikan informasi tentang

cara mengatasi efek samping kemoterapi

31 68,9 14 31,1 17 Suami/ keluarga tidak memberitahukan

masalah-masalah keluarga agar tidak membebani pikiran saya

34 75,6 11 24,4

18 Suami/ keluarga mendengarkan dengan senang hati keluhan yang saya rasakan setelah menjalani kemoterapi

30 66,7 15 33,3

19 Suami/ keluarga menjaga perasaan saya agar senang dalam menjalani kemoterapi

35 77,8 10 22,2 20 Suami/ keluarga membiarkan saya merasakan

rasa lelah setelah menjalani kemoterapi

8 17,8 37 82,2 21 Suami/ keluarga menganggap penyakit saya

saat ini sebagai suatu peristiwa yang biasa

25 55,6 20 44,4 22 Suami/ keluarga memberikan nasihat pada

saya agar tidak memikirkan hal-hal yang dapat mengganggu pikiran saya

24 53.3 21 46,7

Hasil penelitian tentang dukungan keluarga menunjukkan bahwa 57,8% responden dilarang menjalani kemoterapi oleh keluarga. Sebagian besar responden (80%) menyatakan keluarga tidak mendoakan agar sembuh setelah menjalani kemoterapi. Terdapat

(5)

48,9% responden yang menyatakan keluarga merasa repot karena penyakit yang diderita oleh responden.

c. Motivasi Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara

Penelitian motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.4.

Distribusi Frekuensi Motivasi Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan Tahun 2013 (n=45)

Motivasi Kemoterapi Frekuensi (n) Persentase (%) Kurang Baik 25 20 55,6 44,4 Total 45 100 %

Hasil penelitian motivasi keluarga diketahui sebagian besar (55,6%) mempunyai motivasi yang kurang. Hal ini dapat dilihat dari distribusi frekuensi per item pertanyaan sebagai berikut:

Tabel 4.5.

Distribusi Frekuensi Pertanyaan Motivasi Kemoterapi pada Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan

Tahun 2013 (n=45)

Ya Tidak

No Pernyataan

f % f %

1 Saya melakukan kemoterapi karena saya ingin dapat bekerja seperti semula

42 93,3 30 6,7 2 Saya ingin sembuh agar dapat merawat

anak-anak saya

22 48,9 23 51,1 3 Saya tahu bahwa penyakit saya dapat

disembuhkan melalui kemoterapi

31 68,9 14 31,1 4 Saya sebagai manusia harus mencoba semua

cara agar penyakit saya sembuh termasuk menjalani kemoterapi

23 51,1 22 48,9

5 Saya percaya bila berjuang dengan keras untuk sembuh seperti kemoterapi maka saya akan sembuh

24 53,3 21 46,7

6 Keluarga saya percaya bahwa kanker payudara hanya dapat disembuhkan melalui pengobatan dengan dokter

33 73,3 12 26,7

7 Saya menjalani kemoterapi karena saya membaca kisah-kisah penderita kanker yang berhasil dalam pengobatan

(6)

Ya Tidak 8 Saya menjalani pengobatan kemoterapi

karena saya tidak ingin menyerah pada penyakit kanker payudara

29 64,4 16 35,6

9 Saya akan mengobati kanker payudara dengan cara atau metode yang saya yakini kebenarannya

20 44,4 25 55,6

10 Keluarga saya lebih mempercayai pengobatan alternatif untuk mengobati kanker payudara yang saya derita

18 40 27 60

11 Saya disarankan oleh kerabat untuk menjalani kemoterapi agar dapat sembuh dari penyakit kanker

21 46,7 24 53,3

12 Dokter menyarankan saya untuk melakukan kemoterapi

23 51,1 22 48,9 13 Anak-anak saya meminta saya untuk

menjalani kemoterapi

27 60 18 40 14 Suami saya memberikan semangat pada saya

untuk menjalani kemoterapi

29 64,4 16 35,6 15 Keluarga tidak ada yang menemani saya saat

menjalani kemoterapi

22 48,9 23 51,1 16 Suami mendukung saya untuk mengikuti

kemoterapi

19 42,2 26 57,8 17 Keluarga mengantar saya bila akan menjalani

kemoterapi

27 30 18 40 18 Agama yang saya anut mengajarkan saya

untuk tidak pasrah menghadapi segala penyakit yang diderita

28 62,2 17 37,8

19 Keluarga saya menyediakan dana khusus bagi saya selama menjalani kemoterapi

27 60 18 40 20 Keluarga saya selalu berobat ke dokter bila

sakit

20 44,4 25 55,6 21 Saya menjalani kemoterapi karena perawat

selalu mengingatkan jadwal kemoterapi

31 68,9 14 31,1 22 Keluarga saya pasrah dengan penyakit saya 16 35,6 29 64,4

Hasil penelitian tentang motivasi menjalani kemoterapi menunjukkan bahwa 51,1% motivasi responden dikarenakan responden merasa sebagai manusia maka harus mencoba semua cara agar penyakit sembuh termasuk dengan kemoterapi. Masih ada 46,7% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena disarankan oleh kerabat untuk menjalani kemoterapi agar cepat sembuh. Terdapat 68,9% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena perawat selalu mengingatkan jadwal kemoterapi.

(7)

3. Analisa Bivariat

Peneliti sebelum melakukan analisa bivariat melakukan uji normalitas terhadap hasil penelitian meliputi variabel dukungan keluarga dan motivasi kemoterapi dengan hasil sebagai berikut :

Tabel 4.6

Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk (n=45)

Variabel Signifikansi Keterangan Dukungan Keluarga Motivasi Kemoterapi 0,000 0,004 Tidak normal Tidak normal

Hasil uji normalitas shapiro-wilk data hasil penelitian dukungan keluarga diperoleh  value sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti distribusi data penelitian tidak normal dan motivasi kemoterapi diperoleh  value sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti distribusi data penelitian tidak normal.

Peneliti melakukan uji transformasi normalitas hasil penelitian, namun setelah dilakukan transfromasi hasil uji normalitas hasil penelitian tetap berdistribusi tidak normal sehingga analisa bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji spearman rank.

Hasil korelasi spearman rank diperoleh nilai rs sebesar 0,652. Hal ini

berarti terdapat hubungan yang sedang antara dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan dan mempunyai arah hubungan yang positif. Hal ini berarti semakin baik dukungan keluarga yang diberikan pada pasien kanker payudara maka semakin baik motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini :

(8)

Diagram 4.1

Diagram Tebar Hubungan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Kemoterapi Pasien Kanker Payudara di RSUD Kraton

Kabupaten Pekalongan (n=45)

Hasil uji statistik diperoleh  value sebesar 0,000< 0,05, yang berarti ada

hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.

B. Pembahasan

1. Dukungan Keluarga pada Pasien Kanker Payudara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (51,1%) dukungan keluarga yang diberikan pada pasien kanker payudara adalah kurang. Dukungan keluarga pada pasien kanker payudara yang kurang yaitu dukungan emosi terdapat 36 orang (80%) serta dukungan harga diri 37 orang ( 82,2 ).

Dukungan keluarga yang kurang dapat diatasi bantuan perawat dalam melibatkan anggota keluarga selama pasien menjalani kemoterapi dan memberikan informasi bahwa pasien membutuhkan dukungan keluarga agar termotivasi untuk menjalani kemoterapi sesuai jadwal dan tetap

40 35 30 Dukungan Keluarga 40 35 30 M o ti v a s i

Scatter Plot X dan Y

(9)

mempunyai semangat walaupun efek samping yang ditimbulkan menyakitkan bagi pasien. Informasi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemoterapi sehingga keluarga bersedia memotivasi pasien kanker payudara untuk melakukan kemoterapi. Suami dapat menanamkan kesadaran pada pasangannya tentang kemoterapi. Hal ini sesuai dengan Sunaryo (2004) yang menyatakan bahwa salah satu cara yang dapat diterapkan dalam memberikan motivasi yaitu memotivasi dengan identifikasi (motivating by

identification on egoinvoiremen), yaitu cara memotivasi dengan

menanamkan kesadaran.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga terhadap pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi adalah kurang. Hal ini diketahui dari distribusi frekuensi yaitu 57,8% responden dilarang menjalani kemoterapi oleh keluarga. Sebagian besar responden (80%) menyatakan keluarga tidak mendoakan agar sembuh setelah menjalani kemoterapi. Terdapat 48,9% responden yang menyatakan keluarga merasa repot karena penyakit yang diderita oleh responden

Hasil penelitian ini sesuai dengan Rasaningtyas (2012) diketahui bahwa 24 orang (61,5%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk perhatian dan emosi, 30 orang (76,9%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk bantuan instrumental 29 orang (74,4%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk pemberian informasi, 39 orang (100%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk penilaian dan 27 orang (69,2%) dukungan keluarga yang kurang dalam bentuk penghargaan.

Dukungan keluarga adalah dukungan yang diberikan oleh keluarga yang terdiri dari atas informasi atau nasihat verbal dan non verbal bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial dan didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku

(10)

bagi pihak penerima (Gottieb, 1983, dikutip Smet, 1994, dalam Nursalam & Kurniawati 2007).

Dukungan keluarga yang baik adalah dukungan konkret, yaitu terdapat 43 orang (95,6%) yang mempunyai dukungan keluarga baik pada pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi. Dukungan keluarga dapat membantu pasien kanker payudara untuk menumbuhkan motivasi melakukan kemoetarapi. Dukungan keluarga yang diberikan dapat berbentuk perhatian secara emosi dengan kesediaan keluarga menemani pasien menjalani kemoterapi. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan oleh pasien kanker payudara saat menjalani kemoterapi dengan menenangkan hati pasien bahwa keluarga akan bersama-sama dan membantu pasien dalam menghadapi kemoterapi. Hal ini sesuai dengan Ratna (2010) yang menyatakan bahwa dukungan merupakan faktor penting yang dibutuhkan seseorang ketika menghadapi masalah (kesehatan). Salah satunya kelebihan masyarakat di Indonesia adalah kekerabatannya yang kuat, dapat dilihat dari ketika ada anggota keluarga yang sakit dan menjalani rawat inap di rumah sakit, semua keluarga dan tetangga memberikan dukungan dengan menunggu atau tidur di rumah sakit secara bergantian.

2. Motivasi Kemoterapi Pasien Kanker Payudara

Hasil penelitian diketahui bahwa motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara yaitu sebagian besar (55,6%) adalah kurang. Motivasi yang kurang pada pasien kanker payudara adalah motivasi eksternal, terdapat 26 orang (57,8%) yang mempunyai motivasi eksternal kurang pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi.

Pasien kanker payudara yang mempunyai motivasi yang kurang disebabkan kurangnya motivasi ekstrinsik seperti tingkat pendidikan yang rendah yaitu (64,4%) responden adalah orang yang tidak tamat SD dan tamat SD sehingga sulit menerima informasi tentang kemoterapi, selain itu juga pasien mencoba pengobatan-pengobatan alternatif yang tidak

(11)

menimbulkan efek samping yang menyakitkan bagi pasien seperti mual, muntah, kulit kering dan menghitam. Hal ini sesuai dengan Herijulianti dkk (2002) yang menyatakan bahwa salah satu macam motivasi adalah motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang disebabkan oleh adanya rangsangan atau dorongan dari luar. Rangsangan tersebut dapat dimanifestasikan bermacam-macam sesuai dengan karakter, pendidikan, latar belakang orang yang bersangkutan.

Motivasi adalah sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat untuk melakukan kegiatan, dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan, harapan dan cita-cita, penghargaan dan penghormatan atas diri, lingkungan yang baik serta kegiatan yang menarik (Uno 2007, dalam Nursalam 2005).

Hasil penelitian tentang motivasi menjalani kemoterapi menunjukkan bahwa 51,1% motivasi responden dikarenakan responden merasa sebagai manusia maka harus mencoba semua cara agar penyakit sembuh termasuk dengan kemoterapi. Masih ada 46,7% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena disarankan oleh kerabat untuk menjalani kemoterapi agar cepat sembuh. Terdapat 68,9% responden yang termotivasi menjalani kemoterapi karena perawat selalu mengingatkan jadwal kemoterapi.

Pasien kanker payudara yang mempunyai motivasi yang baik disebabkan kemoterapi telah menjadi kebutuhan bagi dirinya yaitu kebutuhan akan rasa aman. Kemoterapi memberikan jaminan keamanan bagi kesehatan dirinya karena kemoterapi merupakan pengobatan yang harus dijalani oleh pasien kanker payudara. Pasien yang telah mengetahui manfaat dan dampak kemoterapi bagi kesehatannya dapat menjalani kemoterapi dengan baik, namun bagi pasien yang tidak mengetahui manfaat kemoterapi dan efek samping ditimbulkan harus menyesuaikan dengan keadaan yang baru

(12)

seperti kondisi yang tidak menyenangkan. Hal ini sesuai dengan Maslow dalam Purwanto (2006) yang menyatakan bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan keamanan. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi manusia berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan rasa aman dan nyaman (safety need). Kebutuhan ini sangat diperlukan karena tanpa adanya rasa aman dari berbagai gangguan yang ada, manusia akan sulit melakukan berbagai kegiatan dalam hidupnya.

Motivasi yang baik adalah motivasi internal yaitu terdapat 32 orang (71,1%) yang menyatakan bahwa motivasi pasien kanker payudara baik dalam menjalani kemoterapi.

Motivasi pada pasien kanker payudara bermanfaat selama menjalani kemoterapi. Pasien yang mempunyai motivasi yang baik akan patuh dalam menjalani kemoterapi. Hal ini sesuai dengan penelitian Nurwasiah (2012) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi adalah motivasi. 3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Kemoterapi Pasien

Kanker Payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan

Hasil korelasi spearman rank diperoleh  value sebesar 0,000< 0,05. yang

berarti ada hubungan dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.

Hasil korelasi spearman rank diperoleh nilai r sebesar 0,652. Hal ini berarti terdapat hubungan yang sedang antara dukungan keluarga dengan motivasi kemoterapi pada pasien kanker payudara di RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan.

Dukungan keluarga yang kurang pada pasien kanker payudara dapat menyebabkan pasien tersebut kurang termotivasi menjalani kemoterapi sehingga enggan bahkan tidak datang sesuai jadwal yang telah ditentukan

(13)

oleh dokter. Dukungan keluarga sangat memegang peranan penting dalam menyelesaikan masalah kesehatan dalam keluarga. Dukungan yang diberikan keluarga dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan meningkatkan motivasi pasien kanker payudara untuk melakukan kemoterapi. Hal ini sesuai dengan Stuart & Sundeen (1995 dalam Tamher & Noorkasiani, 2005) yang menyatakan bahwa dukungan dari keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan masalah. Apabila ada dukungan, rasa percaya diri akan bertambah dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan meningkat.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien kanker payudara dalam menjalani kemoterapi. Hal ini sesuai dengan penelitian Nurhayati (2012) yang menyatakan ada hubungan dukungan suami dengan motivasi ibu dalam dalam menjalani pemeriksaan IVA dalam upaya mencegah kanker serviks.

C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian dilakukan di rumah sakit yaitu Ruang Kemoterapi Poli Onkologi, yang suasananya kurang kondusif yaitu ramai, sehingga perlu waktu khusus untuk melakukan pendekatan secara persuasif agar pasien kemoterapi bersedia menjadi responden penelitian.

D. Implikasi Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien kanker payudara dengan melibatkan keluarga untuk memotivasi responden agar bersedia menjalani kemoterapi sesuai dengan anjuran perawat.

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan antara riwayat kanker payudara pada keluarga dengan kanker payudara dianalisis menggunakan Chi-Square dan tabel 2x2, hasilnya menunjukkan bahwa riwayat

Untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien kanker serviks yang mengikuti program kemoterapi. Peneliti menggunakan skala kecemasan hamilton untuk mengukur tingkat

pasien setelah pulang dari rumah sakit selanjutnya pada saat pasien di ruang rawat inap perawat akan menetapkan prioritas mengenai hal-hal yang dibutuhkan oleh pasien dan

kriteria hasil untuk mengukur penyelesaian dari diagnosis setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x30 menit diharapkan tingkat nyeri pasien menurun dengan

Hasil pengamatan dari kolaborator sangat bermanfaat untuk menambah informasi yang nantinya dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk melaksanakan tindakan

Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan atau pertimbangan bagi perawat dalam hal menerapkan asuhan keperawatan terkait kecemasan dengan pemenuhan kebutuhan

Hasil penelitian menunjukan sebagian besar peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dalam kategori sangat optimal yaitu sebanyak 52,2%.. Peran sebagai care provider

Pada penelitian Ditya Ayu Intan Setiowati pada tahun 2015 didapatkan kategori usia terbanyak penderita kanker payudara adalah usia 46-55 tahun 44.8%.12 Menurut penelitian ini risiko