• Tidak ada hasil yang ditemukan

S K R I P S I. Cecilia Tyas Rosari Wulandari NIM: X Oleh :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "S K R I P S I. Cecilia Tyas Rosari Wulandari NIM: X Oleh :"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

MELALUI MEDIA GAMBAR PADA SISWA TUNAGRAHITA

KELAS III SEMESTER II

DI SDLB NEGERI CANGAKAN KARANGANYAR

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

S K R I P S I

Oleh :

Cecilia Tyas Rosari Wulandari

NIM: X.5108503

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2010

(2)

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA

MELALUI MEDIA GAMBAR PADA SISWA TUNAGRAHITA

KELAS III SEMESTER II

DI SDLB NEGERI CANGAKAN KARANGANYAR

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian

persyaratan

mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi

Pendidikan Luar Biasa Jurusan Ilmu Pendidikan

Oleh :

Cecilia Tyas Rosari Wulandari

(3)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2010

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Persetujuan Pembimbing Pembimbing I Pembimbing II Drs. Indianto, M.Pd. Drs. Subagya, M.Si.

(4)

NIP. 19510115 198003 1 001 NIP. 19601001 198303 1 012

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada hari : Jum’at Tanggal : 23 Juli 2010

Tim Penguji Skripsi:

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. A. Salim Choiri, M.Kes. ………..

Sekretaris : Drs. Maryadi, M.Ag. ………..

Anggota I : Drs. R. Indianto, M.Pd. .……….. Anggota II : Drs. Subagya, M.Si.

………..

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

(5)

Dekan,

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.

NIP. 1960 0727 198702 1 001

ABSTRAK

Cecilia Tyas Rosari Wulandari. “Upaya Meningkatkan

Kemampuan Membaca Melalui Media Gambar pada

Siswa Tunagrahita Kelas III Semester II di SDLB Negeri

Cangakan Karanganyar Tahun Pelajaran 2009/2010”.

Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Juli 2010.

Penelitian ini bertujuan untuk mencari model cara meningkatan kemampuan membaca melalui media gambar pada siswa tunagrahita kelas III semester II di SDLB Negeri Cangakan Karanganyar tahun pelajaran 2009/2010.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa tunagrahita kelas III semester II SDLB Negeri Cangakan Karanganyar tahun pelajaran 2009/2010 yang berjumlah 5 siswa. Teknik analisis data digunakan analisis komparatif, artinya peristiwa/kejadian yang timbul dibandingkan kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai hasil belajar matematika. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa.

Berdasarkan hasil pengolahan data dari perbaikan pembelajaran membaca pada siswa tunagrahita kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar melalui media gambar yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan bahwa media gambar dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa tunagrahita kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar semester II tahun pelajaran 2009/2010. Berdasarkan data siklus I nilai membaca diketahui rerata nilai membaca sebesar 58,00. Ketuntasan secara klasikal telah mencapai 60,00%. Pada siklus II, rerata nilai membaca sebesar 64,00. Ketuntasan secara klasikal telah mencapai 100%.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca dapat ditingkatkan melalui media gambar pada siswa

(6)

tunagrahita kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar tahun pelajaran 2009/2010.

ABSTRACT

Cecilia Tyas Rosari Wulandari. “Effort Of Improve Reading Ability Through Media Image On

Mentally Retarded Students Of Elementary Semester II Class III In SDLB Negeri Cangakan Karanganyar In The School Year 2009/2010”. Thesis, Surakarta: The Faculty of Teacher Training and Science Education, Sebelas Maret University, July 2010.

The aim of this study is to find a model by improving the reading skills through the medium of drawing on student’s second semester of grade III with mentally retarded in SDLB Negeri Cangakan Karanganyar in the school year 2009/2010.

The approach used in this study is Class Action Research (CAR). It is a study done by teacher in the class where he or she teaches by stressing on perfectness or increasing practice and process in learning the Indonesia Languaghe. The subject of this study is all of elementary class III students semester II in SDLB Negeri Cangakan Karanganyar in the school year 2009/2010 that consisting of 5 students.

This study uses descriptive comparative analysis technique, namely by comparing the tes value of inter-cycles. This study analyzes the students’ test value before using media image and their test value after using media image two cycles.

Based on the result of processing data it can be concluded that the application of students learning to read at grade III with mentally retarded in SDLB Negeri Cangakan Karanganyar through media images that have been executed can be concluded that media images can enhance students’ ability to read grade III with mentally retarded in SDLB Negeri Cangakan Karanganyar semester II in the school year 2009/2010. Based on preliminary data known to the average reading scores reading scores of 58,00. Exhaustiveness classically has reached 60%. In the second cycle, the average reading scores of 64,00. Exhaustiveness classically has reached 100%.

(7)

Based on the results of this study concluded that reading ability can be enhanced through the medium of drawing on students’ grade III with mentally retarded SDLB Negeri Cangakan Karanganyar in the school year 2009/2010.

MOTTO

Fikiran bukanlah wadah untuk diisi, Melainkan api yang harus disulut

(8)
(9)

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

- Ayahnda dan Ibunda tercinta. - Suami tercinta.

- Anak-anak tersayang.

- Rekan-rekan PLB FKIP UNS. - Murid-murid yang kusayangi. - Almamater.

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa., atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penelitian tindakan kelas ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Untuk itu, atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

(10)

1. Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

2. Drs. R. Indianto, M.Pd., Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas dan sekaligus sebagai pembimbing I yang telah memberikan petunjuk selama melaksanakan penelitian sehingga skripsi ini dapat terselesaikan .

3. Drs. H.A. Salim Choiri, M.Kes., Ketua Program Studi Pendidikan Luar Biasa yang telah memberikan ijin penyusunan skripsi dan telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Drs. Subagyo, M.Si., selaku pembimbing II yang dengan sabar telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5. Darya Sunaryo, S.Pd., selaku Kepala SDLB Negeri Cangakan Karanganyar yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis.

6. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih ada kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Semoga kebaikan Bapak dan Ibu mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

(11)

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGAJUAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN ABSTRAK ... v

HALAMAN ABSTRACT ... vi

(12)

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR GRAFIK ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I. PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1 B. Rumusan Masalah ... 5 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 6 BAB II. KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 7 A. Kajian Teori... 7 1. Siswa Tunagrahita (C) 7 2. Kemampuan Membaca 13 3. Media Pembelajaran 20 4. Media Gambar 25 B. Kerangka Berpikir ... 28 C. Hipotesis Tindakan ... 29

(13)

Halaman BAB III. METODE PENELITIAN 30

A. Setting Penelitian ... 30 B. Subyek Penelitian ... 30 C. Sumber Data ... 30

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 30

E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 33 F. Validitas Data ... 34 G. Analisis Data ... 35 H. Prosedur Penelitian ... 35 I. Indikator Kinerja ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 38

A. Pelaksanaan Penelitian 38 B. Hasil Penelitian 50 C. Pembahaan Hasil Penelitian 52 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 57

A. Simpulan 57

B. Saran 57

DAFTAR PUSTAKA 59

(14)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Prosedur Penelitian ... 36 Tabel 2. Kemampuan Membaca Siswa Tunagrahita Kelas III SDLB

Negeri Cangakan Karanganyar pada Kondisi Awal ... 39 Tabel 3. Kemampuan Membaca Siswa Tunagrahita Kelas III SDLB

Negeri Cangakan Karanganyar pada Siklus I ... 44 Tabel 4. Kemampuan Membaca Siswa Tunagrahita Kelas III SDLB

Negeri Cangakan Karanganyar pada Siklus II ... 49 Tabel 5. Kemampuan Membaca Setiap Siklus Melalui Media Gambar ... 53 Tabel 6. Peningkatan Nilai Rata-rata Kemampuan Membaca Setiap Siklus 54

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Diagram Cone of Learning dari Edgar Dale ... 21

Gambar 2. Kerangka Berpikir 29

Gambar 3. Model Dasar Penelitian Tindakan Kelas ... 35

(16)

DAFTAR GRAFIK

Halaman Grafik 1. Peningkatan Kemampuan Membaca Setiap Siswa Melalui

Media Gambar 54

Grafik 2. Peningkatan Kemampuan Membaca Setiap Siklus ... 55

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Penelitian ... 61

Lampiran 2. Silabus ... 62

Lampiran 3. Kisi-kisi Soal Tes Bahasa Indonesia Kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar ... 63

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I ... 64

Lampiran 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II ... 69

Lampiran 6. Soal Pelajaran Membaca Kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar (Pre Test) ... 74

Lampiran 7. Soal Pelajaran Membaca Kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar Siklus I ... 75

Lampiran 8. Soal Pelajaran Membaca Kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar Siklus II ... 78

Lampiran 9. Kemampuan Membaca Siswa Kelas III SDLB-C Negeri Cangakan (Nilai Awal) ... 81

Lampiran 10. Kemampuan Membaca Siswa Kelas III SDLB-C Negeri Cangakan (Siklus I) ... 82

Lampiran 11. Kemampuan Membaca Siswa Kelas III SDLB-C Negeri Cangakan (Siklus II) ... 83

Lampiran 12. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru (Siklus I) ... 84

Lampiran 13. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru (Siklus II) ... 85

Lampiran 14. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa (Siklus I) ... 86

Lampiran 15. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa (Siklus II) ... 87

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa, bagi sebagian orang, diperlakukan sekedar alat komunikasi. Implikasinya adalah adanya kecenderungan yang lebih menekankan aspek komunikasi daripada aspek lain yang sebenarnya juga penting dalam kaitannya dengan bahasa. Harus diakui, manusia di mana pun, lebih banyak melakukan komunikasi lisan daripada komunikasi tulisan. Jadilah kemudian komunikasi lisan dianggap jauh lebih penting dibandingkan komunikasi dalam bentuk tulisan (Maman S. Mahayana, 2008: 1). Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia.

Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik secara lisan mapun tertulis. Pembelajaran bahasa perlu memperhatikan prinsip-prinsip pengajaran antara lain dari yang mudah ke yang sukar, dari hal-hal yang dekat ke yang jauh, dari yang sederhana ke yang rumit, dari yang diketahui ke yang belum diketahui, dan dari yang konkret ke yang abstrak.

Pembelajaran bahasa diarahkan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau secara langsung, melainkan juga yang disampaikan secara terselubung atau secara tidak langsung. Pembelajaran bahasa mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut sebaiknya mendapat porsi yang seimbang. Dalam pelaksanaannya sebaiknya dilakukan secara terpadu.

Pembelajaran bahasa, selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar, serta kemampuan memperluas wawasan. Salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan, adalah dengan membaca, karena dengan membaca akan diperoleh berbagai informasi pengetahuan yang penting. Ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman kita sebagian besar diperoleh dari kegiatan membaca, sehingga membaca merupakan sarana utama dalam memperoleh ilmu pengetahuan, kemudian membaca juga mempunyai beberapa manfaat dalam kehidupan sosial, antara lain bahwa membaca merupakan bagian komunikasi yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.

(19)

Tujuan akhir dari pengajaran bahasa Indonesia adalah agar siswa terampil dalam berbahasa, terampil menyimak, terampil membaca, dan terampil dalam menulis. Untuk dapat terampil dalam berbahasa, haruslah ditunjang dengan pengetahuan lain yang berupa pemahaman kosakata yang cukup. Dengan demikian kosakata turut berperan dalam menentukan kualitas keterampilan membaca.

Anak tunagrahita yaitu anak yang mempunyai kecerdasan atau IQ di bawah 84, memiliki keterbatasan dalam hal berpikir, daya ingatnya rendah, sukar berfikir abstrak, daya fantasinya rendah, sehingga mereka mengalami kesulitan dalam membaca. Dalam membaca anak tunagrahita banyak mengalami kesulitan untuk melafalkan kata yang sesuai untuk mengungkapkan apa yang diinginkan. Hal ini dapat dimaklumi karena mereka mengalami keterbelakangan mental.

Menurut pandangan umum sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dapat mengubah tingkah laku siswa menjadi lebih baik dan lebih terarah, baik di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Menurut Wahjosumidjo (2003:7) “sekolah sebagai sistem terbuka, sebagai sistem sosial, dan sekolah sebagai agen perubahan, bukan hanya harus peka penyesuaian diri, melainkan seharusnya pula dapat mengantisipasikan perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu.”

Setiap satuan pendidikan jalur pendidikan di sekolah harus menyediakan sarana belajar yang sesuai kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap pengembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pendidikan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.

Isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Isi kurikulum pendidikan dasar memuat sekurang-kurangnya bahan kajian dan pelajaran tentang: pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, membaca dan menulis, matematika (termasuk menghitung), pengantar sains dan teknologi, ilmu bumi, sejarah nasional dan sejarah umum, kerajinan tangan dan kesenian, pendidikan jasmani dan kesehatan, menggambar, serta bahasa Inggris.

(20)

Kemampuan membaca merupakan modal dasar bagi siswa dalam pembelajaran di sekolah, karena dengan membaca siswa dapat memberikan makna terhadap tulisan. Menurut Dechant yang dikutip Darmiyati Zuhdi (2007:21), ”membaca adalah proses pemberian makna terhadap tulisan, sesuai dengan maksud penulis”. Lebih lanjut Smith mendefinisikan ”membaca sebagai proses komunikasi yang berupa pemerolehan informasi dari penulis oleh pembaca” (Darmiyati Zuhdi (2007:21).

Kemampuan membaca dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang ada dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat, motivasi, dan kumpulan membaca (seberapa baik pembaca dapat membaca), sedangkan faktor dari luar diri pembaca salah satunya adalah faktor kesiapan guru dalam pembelajaran (Darmiyati Zuhdi (2007:23-24). Kemampuan membaca bagi siswa tunagrahita dimungkinkan dapat berhasil dengan baik dan maksimal bila didukung oleh penerapan media pembelajaran dari guru yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar membaca dari luar diri siswa.

Kemampuan membaca merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar bahasa Indonesia. Muara akhir dari membaca bacaan adalah kemampuan memahami ide, kemampuan menangkap makna yang terdapat dalam tulisan atau bacaan baik makna lugas maupun makna kias, baik makna parsial maupun makna utuh. Hal ini berarti proses membaca baik yang dilakukan dalam hati (tak bersuara) maupun yang dilafalkan (disuarakan) bertujuan untuk memahami bacaan.

Proses membaca merupakan hal yang tidak mudah. Proses membaca bagi anak tunagrahita dalam praktiknya melibatkan proses kognitif yang meliputi kemampuan mengingat, berpikir dan bernalar. Kemampuan kognitif dimaksudkan adalah kemampuan menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. Seseorang dikatakan memahami bacaan jika ia dapat menjawab dengan tepat pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan yang bersifat tersurat (jawabannya secara pasti ada di dalam bacaan) maupun tersirat (jawabannya tidak terdapat secara jelas di dalam teks bacaan).

(21)

Siswa tunagrahita memiliki keterbatasan, maka guru diharapkan dapat memanfaatkan media pembelajaran yang tepat bagi siswa tuna grahita yang memiliki keterbatasan dibanding anak normal karena anak tunagrahita memiliki intelektual rendah dengan ciri-ciri: (1) keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, (2) ketidakmampuan dalam perilaku adaptif, dan (3) terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun (Salim Choiri dan Munawir Yusuf, 2008:56). Hal yang perlu dicatat adalah membantu siswa untuk meneliti kebutuhan mana yang secara spesifik menimbulkan masalah, sehingga dengan bantuan media pembelajaran yang tepat, siswa dapat berusaha meningkatkan kreativitas sehingga kemampuan membaca dapat ditingkatkan sesuai dengan kondisi anak, sebagaimana yang dikemukakan (Salim Choiri dan Munawir Yusuf, 2008:56) bahwa anak tunagrahita memiliki ciri-ciri fisik dan penampilan perkembangan bicara/bahasa terlambat.

Gambaran selintas, guru-guru di SDLB/C dalam praktiknya mereka hampir seluruhnya menerapkan metode pembelajaran yang menggunakan ceramah, sehingga masih memerlukan pembenahan. Upaya pembenahan tersebut akan sangat bermanfaat bagi siswa, guru bahkan pihak sekolah. Pembenahan yang harus dilakukan tidak saja berkaitan dengan media pembelajaran namun juga pada aspek media pembelajarannya yang digunakan.

Secara terbuka harus diakui bahwa kondisi media pembelajaran di SDLB/C Negeri Cangakan Karanganyar masih dirasa sangat minim, sehingga dalam proses pembelajarannya kebanyakan guru masih menggunakan metode ceramah. Pemilihan metode ceramah masih dianggap paling efektif untuk segala suasana oleh sebagian besar guru. Akibat dari model pembelajaran seperti itu, aktivitas siswa masih pasif.

Melihat kondisi seperti itu, peneliti mencoba untuk melakukan penelitian tindakan kelas pada siswa kelas III. Penelitian tindakan kelas yang dirancang lebih menekankan pemahaman siswa melalui gambar. Gambar merupakan salah satu media pembelajaran yang amat dikenal di dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal itu disebabkan kesederhaannnya, tanpa memerlukan perlengkapan, dan tidak perlu diproyeksikan untuk mengamatinya. Melalui gambar dapat ditunjukkan

(22)

sesuatu yang jauh dari jangkauan pengalaman siswa, selain itu juga dapat memberikan gambaran tentang maksud bacaan yang ada di dalamnya. Melalui gambar, guru dapat menerjemahkan ide-ide abstrak dalam bentuk yang lebih konkrit untuk siswa tunagrahita (C). Menurut Gerlach & Ely (dalam Sri Anitah, 2004:22) mengatakan bahwa “gambar tidak hanya bernilai seribu bahasa, tetapi juga seribu tahun atau seribu mil.”

Dalam realitas proses pembelajaran, guru merupakan faktor penentu, karena guru yang mampu mengerahkan dan mendayagunakan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Dengan melihat gejala dan berbagai pemikiran di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dengan judul: Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Melalui Media Gambar pada Siswa Tunagrahita Kelas III Semester II di SDLB Negeri Cangakan Karanganyar Tahun Pelajaran 2009/2010.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah seperti telah diuraikan di depan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Apakah media gambar dapat meningkatkan kemampuan membaca pada siswa tunagrahita kelas III semester II di SDLB Negeri Cangakan Karanganyar Tahun Pelajaran 2009/2010?.”

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatan kemampuan membaca melalui media gambar pada siswa tunagrahita kelas III semester II di SDLB Negeri Cangakan Karanganyar tahun pelajaran 2009/2010.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis

Memperkaya media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa tunagrahita kelas III semester II di SDLB Negeri Cangakan Karanganyar tahun pelajaran 2009/2010.

(23)

a. Untuk guru

Menemukan alternatif model untuk meningkatkan kemampuan membaca pada siswa tunagrahita kelas III SDLB Negeri Cangakan Karanganyar.

b. Bagi sekolah

Sebagai sumbangan pemikiran terhadap sekolah dalam rangka peningkatan kemampuan membaca, sehingga siswa dapat menyelesaikan program pendidikan yang ditempuh dengan lancar.

c. Bagi peneliti

Mencari solusi permasalahan yang dialami siswa tunagrahita kelas III di SDLB Negeri Cangakan Karanganyar dalam meningkatkan kemampuan membaca.

BAB II

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori

1. Siswa Tunagrahita (C) a. Pengertian Siswa Tunagrahita

Ada beberapa istilah mengenai anak tunagrahita, yaitu terbelakang mental, tuna mental, lemah otak, lemah fikiran, dan mentaly retarded. Yusak S. (2003: 66) mengemukakan bahwa:

Rertardasi mental adalah keadaan yang menahun dimulai sejak lahir atau masa kanak-kanak dengan ciri khas perkembangan mentalnya menunjukkan keterlambatan, sehingga kemampuan belajarnya sangat terganggu dan tak dapat menyesuaikan dirinya dengan norma-norma masyarakat.

Moh. Amin (2005: 1) yang menguraikan istilah anak tuna graita sebagai berikut:

(24)

Anak tunagrahita mengalami keterbelakangan dalam perkembangan kecerdasan. Kalau anak normal umur 10 tahun mencapai kecerdasan sesuai dengan umurnya, maka anak terbelakang hanya mencapai kecerdasan yang sama dengan anak yang lebih muda umurnya.

Menurut YB Suparlan (1993:30) menyebut istilah tunagrahita ringan dengan istilah mampu didik (the educable) menjelaskan bahwa:

Anak tunagrahita ringan memiliki IQ 50-70, disamping mereka dapat di didik juga dapat dilatih dalam pelajaran membaca, menulis, berhitung menurut tingkatan-tingkatan tertentu dan dihubungkan dengan masalah-masalah kongkrit dalam hubungan sosial (membaca sosial, menulis sosial dan berhitung sosial).

Menurut Bratanata yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 88) bahwa: Seseorang dikategorikan berkelainan mental subnormal atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mempunyai kecerdasan mental antara 50/55-70/77, mengalami kelambatan dalam perkembangan bicara dan perkembangan verbal, namun masih mampu menerima pendidikan dan latihan sesuai dengan program layanan pendidikan di sekolah luar biasa.

b. Ciri-Ciri Kejiwaan Siswa Tunagrahita

Siswa tunagrahita memiliki ciri-ciri kejiwaan tertentu bila dibanding dengan anak normal pada umumnya. Moh. Amin (2005: 34) menguraikan ciri-ciri anak tunagrahita sebagai berikut:

Kapasitas belajarnya amat terbatas dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing, struktur maupun fungsi organisme pada umumnya kurang dari anak normal.

Pendapat lain dikemukakan oleh Munzayanah (2000: 24) bahwa: Karakteristik yang nampak serta banyak terjadi pada siswa penyandang tunagrahita adalah: rasa merusak sebagai dasar perkembangan, mengalami gangguan dalam sosialisasi, iri hati kodrati yang merupakan dasar rasa keadilan, bergaul mencampurkan diri dengan orang lain, sikap yang ingin memisahkan diri atau menarik diri, penyesuaian diri yang kaku dan labil.

(25)

Siswa tuna grahita memiliki keterbatasan dibanding anak normal, karena anak tunagrahita memiliki intelektual rendah dengan ciri-ciri: (1) keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, (2) ketidakmampuan dalam perilaku adaptif, dan (3) terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun (Salim Choiri dan Munawir Yusuf, 2008:56). Lebih lanjut disebutkan bahwa anak tunagrahita memiliki ciri-ciri fisik dan penampilan perkembangan bicara/bahasa terlambat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri anak tunagrahita adalah: 1) kapasitas belajarnya amat terbatas dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, 2) mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, 3) mengalami kesukaran berfikir abstrak, merekaa berbicara lancar, 4) masih dapat mengikuti pelajaran akademik di sekolah biasa ataupun khusus, 5) mengalami gangguan dalam sosialisasi, 6) iri hati kodrati yang merupakan dasar rasa keadilan, 7) bergaul mencampurkan diri dengan orang lain, 8) sikap yang ingin memisahkan diri atau menarik diri, 9) penyesuaian diri yang kaku dan labil, 10) pada umur 16 tahun baru mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun.

c. Klasifikasi Siswa Tunagrahita

Klasifikasi diperlukan untuk memudahkan pemberian bantuan atau pelayanan kepada anak tunagrahita. Dalam pengklasifikasian ini terdapat berbagai cara sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu dan ahli yang mengemukakannya.

Menurut Yusak S. (2003: 61) mengklasifikasikan anak tunagrahita berdasarkan IQ (tingkat kecerdasan) sebagai berikut:

“Idiot yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 2 tahun. IQ nya antara 0–19. Imbisil kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal yang berusia 7 tahun, minimal sama dengan anak normal usia 3 tahun, IQ nya 20–49.

Debil yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak

normal berusia 10 tahun, minimal 7 tahun, IQ nya 50 – 69. Slow

learners yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak

(26)

Moh. Amin (2005: 23) mengemukakan klasifikasi anak terbelakang sebagai berikut:

“Idiot kecerdasannya sekalipun sudah berusia lanjut tidak lebih dari anak normal seusia 3 tahun. Embisil kecerdasan maksimal tak lebih dari kecerdasan anak normal usia 7 tahun. Debil kecerdasan perkembangan kecerdasannya antara setengah hingga tiga perempat kecepatan anak normal atau pada usia dewasa kecerdasannya maksimal kira-kira sama dengan anak normal usia 12 tahun. Moron kecerdasannya maksimal tak lebih dari kecerdasan anak normal usia 16 tahun.”

Pendapat lain dikemukakan oleh Mohammad Efendi (2006: 90) yang mengklasifikasikan anak tunagrahita untuk keperluan pendidikan yaitu:

“Seorang psikolog dalam mengklasifikasikan anak tunagrahita mengarah kepada aspek indeks mental inteligensinya, indikasinya dapat dilihat pada angka hasil tes kecerdasan, seperti IQ 0-25 dikategorikan idiot, IQ 25-50 dikategorikan imbecil, dan IQ 50-75 kategori debil atau moron. Seorang pedagog dalam mengklsifikasikan anak tunagrahita didasarkan pada penilaian program pendidikan yang disajika pada anak. Dari penilaian tersebut dapat dikelompokkan menjadi anak tunagrahita mampu didik, anak tunagrahita mampu latih, dan anak tunagrahita mampu rawat.”

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi anak tunagrahita berdasarkan tingkat kecerdasan meliputi Idiot yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 2 tahun, imbisil kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal yang berusia 7 tahun,. debil yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 10 tahun, dan slow learners yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal IQ nya 78-89. Pengklasifikasian anak tunagrahita didasarkan pada penilaian program pendidikan yang disajika pada anak. Dari penilaian tersebut dapat dikelompokkan menjadi anak tunagrahita mampu didik, anak tunagrahita mampu latih, dan anak tunagrahita mampu rawat.

Berdasarkan klasifikasi dari beberapa ahli tersebut penulis akan meneliti kasus penyesuaian diri dalam pergaulan siswa penyandang tunagrahita, yang tergolong mampu didik yang mempunyai IQ antara 50 – 70 yang biasanya juga disebut debil. "Anak tunagrahita mampu didik (debil)

(27)

adalah anak tunagrahita yang tidak mampu mengikuti pada program sekolah biasa, tetapi ia masih memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan walaupun hasilnya tidak maksimal" (Mohammad Efendi, 2006: 90).

Kemampuan yang dapat dikembangkan pada anak tunagrahita mampu didik antara lain: 1) membaca, menulis, mengeja, dan berhitung; 2) menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain; 3) keterampilan yang sederhana untuk kepentingan kerja di kemudian hari.

Kesimpulan anak tunagrahita mampu didik adalah anak tunagrahita yang dapat dididik secara minimal dalam bidang-bidang akademis, sosial, dan pekerjaan.

d. Faktor Penyebab Tunagrahita

Menelaah sebab terjadinya ketunagrahitaan pada seseorang dapat dilihat dari beberapa faktor, antara lain faktor dari dalam yang dibawa sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar seperti penyakit atau keadaan lainnya (faktor eksogen).

Menurut Mohammad Efendi (2006: 91), bahwa "sebab terjadinya ketunagrahitaan pada seseorang menurut kurun waktu terjadinya, yaitu dibawa sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar seperti penyakit atau keadaan lainnya (faktor eksogen)." Faktor endogen yaitu faktor ketidaksempuraan psikobiologis dalam memindahkan gen, sedangkan faktor eksogen yaitu faktor yang terjdi akibat perubahan patologis dari perkembangan normal. Dari sisi pertumbuhan dan perkembangan, penyebab ketunagrahitaan menurut Devenport yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 91) dapat dirinci melalui jenjang sebagai berikut:

1) kelainan atau keturunan yang timbul pada benih plasma;

2) kelainan atau keturunan yang dihasilkan selama penyuburan telur; 3) kelainan atau keturunan yang diakibatkan dengan implantasi; 4) kelainan atau keturunan yang timbul dalam embrio;

5) kelainan atau keturunan yang timbul dari luka saat kelaihiran; 6) kelainan atau keturunan yang timbul dalam janin;

7) kelainan atau keturunan yang timbul pada masa bayi dan masa kanak-kanak.

(28)

Menurut Moh. Amin (2005: 62) anak tunagrahita dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu:

1) Faktor Keturunan, faktor ini terdapat pada sel khusus yang pada pria disebut spermatozoa dan pada wanita disebut sel telur (ovarium). Kelainan orang tua laki-laki maupun perempuan akan terwariskan baik kepada anaknya yang laki-laki maupun perempuan. Apakah warisan tersebut akan nampak atau tidak juga tergantung pada dominan resesifnya kelainan tersebut.

2) Gangguan metabolisme dan gizi. Kegagalan dalam metabolisme dan kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan akan gizi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fisik maupun mental dalam individu.

3) Infeksi dan keracunan, diantara penyebab terjadinya ketunagrahitaan adalah adanya infeksi dan keracunan yaitu terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada di dalam kandungan ibunya. Penyakit-penyakit tersebut antara lain: rubella, syphilis, toxoplasmosis dan keracunan yang berupa: gravidity sindrome yang

beracun, kecanduan alkohol dan narkotika.

4) Trauma, ketunagrahitaan dapat juga disebabkan karena terjadinya trauma pada beberapa bagian tubuh khususnya pada otak ketika bayi dilahirkan dan terkena radiasi zat radioaktif selama hamil.

5) Masalah pada kelahiran, misalnya kelahiran yang disertai by poxia dapat dipastikan bahwa bayi yang di lahirkan menderita kerusakan otak, menderita kejang, nafas yang pendek, kerusakan otak juga disebabkan oleh trauma mekanis terutama pada kelahiran yang sulit. 6) Faktor lingkungan sosial budaya, lingkungan dapat berpengaruh

terhadap intelek anak, kegagalan dalam melakukan interaksi yang terjadi selama periode perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. Tunagrahita dapat disebabkan oleh lingkungan yang tingkat sosial ekonominya rendah. Hal ini disebabkan ketidak-mampuan lingkungan memberikan rangsangan-rangsangan yang diperlukan anak pada masa perkembangannya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab anak tunagrahita adalah: pada masa prenatal kekurangan vitamin, gangguan psikologis sang ibu, gangguan kelainan janin; pada masa natal proses kelahiran tidak sempurna, masa pos natal, anak tunagrahita dapat disebabkan pada waktu kecil pernah sakit ecara terus menerus; faktor keturunan, gangguan metabolisme dan gizi, infeksi dan keracunan. Di samping itu juga disebabkan oleh predisposisi genetik terhadap gens atau faktor ekologis atau lingkungan, dan waktu terjadinya pemaparan, misalnya janin terpapar virus rubella sewaktu berusia trimester pertama maka kecacatan dapat berat.

(29)

e. Dampak Tunagrahita bagi Siswa

Ketidakmampuan anak tunagrahita meraih prestasi yang lebih baik dan sejajar dengan anak normal, karena ingatan anak tunagrahita sangat lemah dibanding dengan anak normal. Maka tidak heran, jika instruksi yang diberikan kepada anak tunagrahita cenderung tidak melalui proses analisis kognitif. Perkembangan kognitif anak tunagrahita sering mengalami kegagalan dalam melampaui periode atau tahapan perkembangan. Bahkan dalam taraf perkembangan yang paling sederhana pun, anak tuna grhaita seringkali tidak mampu menyelesaikan dengan baik.

Keterlambatan perkembangan kognitif pada anak tunagrahita menjadi masalah besar bagi anak tunagrahita ketika meniti tugas perkembangannya. Beberapa hambatan yang tampak pada anak tunagrahita dari segi kognitif dan sekaligus menjadi karakteristiknya menurut Mohammad Efendi (2006: 98), sebagai berikut:

1) Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkret dan sukar berpikir. 2) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi.

3) Kemampuan sosialisasinya terbatas.

4) Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit.

5) Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi.

6) Pada tunagrahita mampu didik, prestasi tertnggi bidang baca, tulis, hitung tidak lebih dari anak normal setingkat kelas III-IV SD.

Keterbatasan daya pikir yang dialami anak tunagrahita menyebabkan mereka sulit mengontrol, apakah perilaku yang ditampakkan dalam aktivitas sehari-hari wajar atau tidak, baik perilaku yang berlebihan maupun perilaku yang kurang serasi. Atas dasar itulah maka untuk anak tunagrahita perlu dilakukan modifikasi perilaku melalui terapi perilaku.

Pemberian terapi perilaku pada anak tunagrahita, seorang terapis harus memiliki sikap sebagaimana yang dipersyaratkan dalam pendidikan humanistik, yaitu penerimaan secara hangat, antusias tinggi, ketulusan dan kesungguhan, serta menaruh empati yang tinggi terhadap kondisi anak tunagrahita. Tanpa dilengkapi persyarata tersebut, penerapan teknik motifikasi perilaku pada anak tunagrahita tidak banyak memberikan hasil yang berarti.

(30)

2. Kemampuan Membaca a. Pengertian Kemampuan Membaca

Kemampuan membaca memiliki beberapa pengertian menurut pandangan beberapa ahli. Untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan pendapat para ahli yang berkaitan dengan kemampuan membaca.

Istilah kemampuan memiliki banyak makna, menurut W.J.S. Poerwadarminta (2001:628), kemampuan mempunyai arti kesanggupan, kecakapan, kekuatan dalam melakukan suatu tindakan atau kegiatan. Pendapat lain dikemukakan oleh Jhonson yang dikutip Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyan (2002:8) menjelaskan bahwa “kemampuan merupakan perilaku rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.”

Menurut kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan dalam melakukan suatu tindakan atau kegiatan untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan (rasional).

Menurut Dechant yang dikutip Darmiyati Zuhdi (2007:21), ”membaca adalah proses pemberian makna terhadap tulisan, sesuai dengan maksud penulis”. Lebih lanjut Smith mendefinisikan ”membaca sebagai proses komunikasi yang berupa pemperolehan informasi dari penulis oleh pembaca” (Darmiyati Zuhdi, 2007:21). Menutur Farida Rahim (2007:2), “membaca adalah proses menerjemahkan simbol tulisan (huruf) ke dalam kata-kata lisan”.

Menurut ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses komunikasi menerjemahkan simbol tulisan (huruf) dalam pemberian makna terhadap tulisan untuk memperoleh informasi, sesuai dengan maksud penulis ke dalam kata-kata lisan.

Berdasarkan pengertian kemampuan dan membaca tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan membaca adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan dalam menerjemahkan simbol tulisan (huruf) dalam

(31)

pemberian makna terhadap tulisan untuk memperoleh informasi, sesuai dengan maksud penulis ke dalam kata-kata lisan.

Apabila dalam sekolah permulaan, siswa tidak memiliki kemampuan membaca, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan untuk mata pelajaran yang lain, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lerner sebagai berikut:

Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kekamampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. Oleh karena itu, anak harus belajar membaca agar ia dapat membaca untuk belajar (Lerner dalam Mulyono Abdurrahman, 1999: 200).

Membaca bukan hanya mengucpakan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahan tulisan. Dengan demikian, membaca pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi tulis.

b. Manfaat Membaca

Membaca memberikan banyak manfaat. Beberapa ahli memberikan pandangan yang bervariasi tentang manfaat membaca. Berikut dikemukakan manfaat membaca sebagai berikut.

Menurut Farida Rahim (2007:1), “masyarakat yang gemar membaca memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang akan semakin meningaktkan kecerdasannya sehingga mereka lebih mampu menjawab tantangan hidup pada masa-masa mendatang.” Adapun manfaat membaca adalah: (1) dapat menemukan sejumlah informasi dan pengetahuan yang sangat berguna dalam kehidupan; (2) dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir di dunia; (3) dapat mengayakan batin, meluaskan cakrawala kehidupan; (4) isi yang terkandung dalam teks yang dibacanya dapat segera dikethaui; (5) membaca intensif dapat menghemat energi, karena tidak terpancang pada suatu situasi, tempat dan waktu karena tidak menggangu orang di sekelilingnya.

Kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas kehidupan sehari-hari baik bagi guru maupun siswa. Beribu judul buku dan berjuta koran

(32)

diterbitkan setiap hari. Ledakan informasi ini menimbulkan tekanan pada guru untuk menyiapkan bacaan yang memuat informasi yang relevan untuk siswa-siswanya. Walupun tidak semua informasi perlu dibaca, tetapi jenis-jenis bacaan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan guru dan siswa tentu perlu dibaca.

Keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh kemampuan dan kesempatannya dalam membaca, karena membaca merupakan kunci seseorang meraih berbagai ilmu pengetahuan, teknologi dan wawasan kebudayaan yang ada di dunia.

Menurut penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa membaca memiliki banyak manfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Dengan membaca kita akan memiliki banyak pengetahuan dan dapat menularkan ilmu yang telah kita peroleh kepada orang lain.

c. Tujuan Membaca

Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena siswa yang membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan siswa yang tidak mempunyai tujuan. Kegiatan membaca yang dilakukan seseorang, memiliki beberapa tujuan. Tujuan utama membaca adalah untuk memperoleh informasi dan memahami makna bacaan. Menurut Suwaryono Wiryodijoyo (1999:1) tujuan membaca sebagai berikut:

(1) Membaca untuk kesenangan, materi bacaan berupa roman, novel, komik; (2) Membaca untuk penerapan praktis, materi bacaan berupa buku petunjuk praktis, buku resep makanan, modul ketrampilan; (3) Membaca untuk mencari informasi khusus, materi bacaan berupa ensiklopedia, kamus, buku petunjuk telepon; (4) Membaca untuk mendapatkan gambaran umum, materi bacaan berupa buku teori, buku teks, esay; (5) Membaca untuk mengevaluasi secara umum, materi bacannya berupa roman, novel, maupun puisi.

Dalam hubungannya dengan tujuan membaca, Djago Tarigan (2005:37) mengemukakan bahwa:

Tujuan utama membaca adalah memperoleh kesuksesan, pemahaman penuh terhadap argumen-argumen yang logis, urutan-urutan retoris atau pola-pola teks, pola-pola-pola-pola simbolisme, nada-nada tambahan yang bersifat

(33)

emosional dan sosial, pola-pola sikap dan tujuan sang pengarang juga sarana-sarana linguistik yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Sedangkan menurut Burn yang dikutip Farida Rahim (2007:11), tujuan membaca mencakup:

1) kesenangan;

2) menyempurnakan membaca nyaring; 3) menggunakan strategi tertentu;

4) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik;

5) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya;

6) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis; 7) mengkonfirmasikan atau menolak prediksi;

8) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks;

9) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Membaca semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Misalkan pengusaha katering tidak perlu harus pergi ke pasar untuk mengetahui harga bahan-bahan yang akan dibutuhkan. Dia cukup membaca surat kabar untuk mendapatkan informasi tersebut. Kemudian, dia bisa merencanakan apa saja yang harus dibelinya.

Menurut uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah memahami maksud keseluruhan yang terkandung dalam teks bacaan sampai hal yang paling mendetail.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Membaca

Tujuan membaca, tentu saja berkaitan erat dengan motivasi dalam membaca dan minat terhadap materi bacaan. Jika motivasi dan minat sangat rendah atau bahkan sama sekali tidak ada, menetapkan tujuan yang jelas sering kali tidak menciptakan motivasi dan meningaktkan minat baca, walaupun sedikit, kehadirannya sangat berarti.

Kemampuan membaca dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang ada dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat, motivasi, dan kumpulan membaca (seberapa baik pembaca dapat

(34)

membaca), sedangkan faktor dari luar diri pembaca salah satunya adalah faktor kesiapan guru dalam pembelajaran (Darmiyati Zuhdi (2007:23-24).”

Ketepatan guru dalam mendiagnosis hal-hal yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa seperti yang penulis uraikan tersebut di atas dapat menjadi petunjuk bagi guru bahasa Indonesia menangani permasalahan dalam pengajaran membaca. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengkonstruk makna ketika membaca.

Mengenai berbagai faktor penentuan kemampuan membaca, menurut Yap yang dikutip Darmiyati Zuhdi (2007:25), bahwa kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan oleh faktor kuantitas membacanya, maksudnya adalah kemampuan membaca seseorang itu sangat dipengaruhi oleh jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas membaca. Semakin bayak waktu membaca setiap hari, besar kemungkinan semakin tinggi tingkat komprehensinya atau semakin mudah memahami bacaan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kemampuan membaca baik itu faktor instrinsik maupun faktor ekstrinsik. Bagi anak tunagrahita faktor instrinsik berupa kemampuan psikologis antara lain tingkat intelegensi yang rendah, kemampuan koordinasi motorik lambat, bicara lambat dan daya ingat yang rendah perlu diperhatikan dengan merangsang kemampuannya berupa stimulus dari luar.

e. Strategi Membaca

Untuk memperoleh pemahaman terhadap bahan bacaan. Pembaca menggunakan strategi tertentu. Pemilihan strategi berkaitan erat dengan faktor-faktor yang terlibat dalam pemahaman, yaitu teks dan konteks.

Strategi membaca pada dasarnya menggambarkan bagaimana pembaca memproses bacaan sehingga dia memperoleh pemahaman terhadap bacaan tersebut. Menurut Klein yang dikutip Farida Rahim (2007:36) mengategorikan

(35)

model-model strategi membaca ke dalam tiga jenis, yaitu bawah-atas

(bottom-up), atas-bawah (top-down), dan model membaca campuran (eclectic).

Berdasarkan ketiga jenis strategi membaca dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Strategi Bawah-Atas (Bottom-Up)

Strategi batas-atas pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran kebahasaan yang paling rendah menuju ke yang tinggi. Pembaca model ini mulai dari mengidentifikasi huruf-huruf, kata, frasa, kalimat dan terus bergerak ke tataran yang lebih tinggi, sampai akhirnya dia memahami isi teks. Pemahaman ini dibangun berdasarkan data visual yang berasal dari teks melalui tahapan yang lebih rendah ke tahapan yang lebih tinggi.

2) Strategi Atas-Bawah (Up-Buttom)

Strategi atas-bawah merupakan kebalikan dari strategi bawah-atas. Pada strategi atas-bawah, pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran yang lebih tinggi. Dalam hal ini, pembaca mulai dengan prediksi, kemudian mencari input untuk mendapatkan informasi yang cocok dalam teks.

3) Campuran (Electic)

Strategi pemahaman bacaan tidak harus memakai salah satu strategi saja, siswa dapat mengambil dan memilih yang terbaik dari semua strategi yang ada, termasuk pandangan-pandangan teori dan model pengajaran membaca. Begitu juga model bawah-atas dan atas-bawah bisa digunakan dalam waktu bersamaan jika diperlukan.

Berdasarkan kajian teori tentang kemampuan membaca di atas, dalam penelitian ini indikator aspek kemampuan membaca yang dijadikan alat ukur meliputi: kemampuan siswa dalam mengucapkan kata-kata dan memahami makna kata dalam bacaan.

f. Evaluasi Kemampuan Membaca

Evaluasi dilakukan untuk mengungkapkan dan mengukur hasil belajar bahasa Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan evaluasi menurut Moore yang dikutip Farida Rahim

(36)

(2007:137) adalah suatu proses pengumpulan, menganalisis data, mempertimbangkan dan membuat keputusan tentang hasil belajar siswa. Sedangkan pengertian evaluasi menurut Winkel (2001:313) sebagai berikut:

Evaluasi berarti penentuan sampai seberapa jauh sesuatu berharga, bermutu atau bernilai. Evaluasi terhadap hasil belajar yang dicapai oleh siswa dan terhadap proses belajar mengajar mengandung penilaian terhadap hasil belajar atau proses belajar itu, sampai seberapa jauh keduanya dapat dinilai baik.

Menurut Anastasi yang dikutip Saifuddin Azwar (2001: 2) “evaluasi berarti penilaian atau pengukuran yang objektif dan standar terhadap sampel perilaku.”

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi belajar membaca bahasa Indonesia merupakan penilaian yang standar terhadap tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam pelajaran membaca bahasa Indonesia pada kurun waktu tertentu dalam bentuk nilai (angka).

g. Pelajaran Membaca Pada Anak Tunagrahita

Materi pembelajaran membaca mengacu pada bahan ajar atau materi pembelajaran yang telah digariskan dalam kurikulum. Materi pembelajaran membaca pada siswa tunagrahita kelas III yang tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2001, aspek membaca pada pelajaran Bahasa Indonesia adalah:

1) Menyebutkan huruf pada kata.

Siswa diharapkan dapat menyebutkan huruf dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah dikenal siswa (menirukan guru).

2) Menyebutkan kata dengan bantuan gambar.

Siswa ditunjukkan gambar untuk menyebutkan gambar tersebut, lalu ditampilkan huruf sesuai gambar. Ditampilkan kata-kata baru dengan menujuk gambar yang sesuai dengan huruf.

“Permendiknas No. 24 Tahun 2006, guru sebagai tenaga pengajar berkewajiban menentukan bahan ajar dalam rangka pengembangan materi. Tujuan menentukan materi pembelajaran adalah meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, dari bahan pembelajaran untuk membentuk kemampuan kognitiof, sikap dan ketrampilan”. (Direktorat Pembinaan SLB, 2008: 1).

3. Media Pembelajaran a. Pengertian Media Pembelajaran

(37)

Media pembelajaran memiliki banyak pengertian

sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa ahli,

dimana satu dengan yang lain memiliki perbedaan

yang pada prinsipnya memiliki kesamaan. Dari

pengertian berbagai ahli dapat dijelaskan seperti

berikut.

Media pembelajaran terdiri daru dua kata, yaitu

kata “media” dan “pembelajaran”. Kata media secara

harfiah berarti perantara atau pengantar, sedangkan

kata pembelajaran diartikan sebagai suatu kondisi

untuk

membantu

seseorangmelakukan

suatu

kegiatan belajar. (

http://kazzuya.wordpress.com/

2009/11/14/media-pembelajaran-dalam-pendidikan/

: 1).

Menurut Oemar Hamalik (1994:12) “media

pembelajaran adalah metode dan teknik yang

digunakan untuk mengefektifkan komunikasi dan

interaksi antara guru dan siswa dalam proses

pendidikan dan pengajaran.”

Menurut

Association

for

Educational

Communications Technology (AECT) di Amerika

(38)

pendidikan ialah segala bentuk saluran yang

digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.

Sementara itu Gagne yang dikutip Arief S. Sadiman,

dkk.

(2003:6):

“media

adalah

berbagai

jenis

komponen dalam lingkungan siswa yang dapat

merangsangnya untuk belajar.”

Berdasarkan ketiga pendapat tersebut di atas

dapat disimpulkan, media pembelajaran adalah

segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga

dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan

minat serta perhatian siswa sedemikian rupa

sehingga

proses

pembelajaran

terjadi

dan

berlangsung lebih efisien.

Penelitian ini diharapkan media pembelajaran

yang digunakan dalam mengajar siswa dapat efektif

artinya media tersebut akan lebih tepat guna dan

bermanfaat sesuai yang diharapkan dibandingkan

dengan mengajar tanpa menggunakan media.

b. Fungsi Media Pembelajaran

Media pembelajaran memiliki beberapa fungsi, sebelum mengetahui fungsi media ada baiknya melihat diagram cone of learning dari Edgar Dale

(39)

yang secara jelas memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam pendidikan.

Gambar 1. Diagram Cone of Learning dari Edgar Dale

(Edgar Dale, 1969.

http://kazzuya.wordpress.com/2009/11/14/media-

pembelajaran-dalam-pendidikan/

: 1).

Berdasarkan gambar tersebut di atas, dapat

dilihat kerucut pelajaran (Cone of Learning) dari

Edgar Dale, bahwa setelah 2 minggu, guru

cenderung untuk mengingat 10% untuk membaca,

20% untuk mendengar, 30% untuk melihat, 50%

untuk

mendengar

dan

melihat,

70%

untuk

bercerita/berkata, 90% berkata dan bekerja langsung

(40)

com/2009/11/14/media-pembelajaran-dalam-pendidikan/: 1):

Ada dua fungsi utama media pembelajaran.

Fungsi pertama media adalah sebagia alat bantu

pembelajaran, dan fungsi kedua adalah sebagai

media sumber belajar. Kedua fungsi tersebut dapat

dijelaskan sebagai berikut (Edgar Dale, 1969.

http://kazzuya.wordpress.com/2009/11/14/media-pembelajaran-dalam-pendidikan/

: 1-2):

1) Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam pembelajaran yang dimaksud antara lain: globe, grafik, gambar, dan sebagianya. Materi ajar dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa. Tanpa bantuan media, maka materi ajar menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap siswa. Hal ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak dan rumit/kompleks. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju terrcapainya tujuan pembelajaran.

2) Media pendidikan sebagai sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat bahan pembelajaran untuk belajar siswa. Sumber belajar dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu: manusia, buku perpustakana, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Media pendidikan, sebagai salah satu sumber belajar, ikut membantu guru dalam memudahkan tercapainya pemahaman materi ajar oleh siswa, serta dapat memperkaya wawasan siswa.

Arief S. Sadiman dkk (2003:16-17) mengemukakan bahwa secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan sebagai berikut:

1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).

2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra seperti misalnya:

a) Obyek terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas gambar, film bingkai, film dan model.

(41)

b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film dan gambar.

c) Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu high speed

photography atau low speed photography.

3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk:

a) Menimbulkan kegairahan belajar.

b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan.

c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.

d) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum, dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana latar belakang guru dan siswa sangat berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan.

Adapun dalam penelitian ini media dapat membantu untuk mengatasi berbagai macam hambatan diantaranya mengurangi sifat verbalisme, mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan tipe belajar murid karena kelemahan di salah satu indra, mengatasi sifat anak pasif menjadi aktif, membantu mengatasi kesulitan guru dalam memberikan pelayanan belajar kepada murid memperingan beban guru, dan mempermudah belajar murid atau siswa.

c. Macam-macam Media Pembelajaran

Media pembelajaran banyak macamnya. Masing-masing ahli media mengelompokkan jenis media sesuai dengan sudut pandangnya dan latar belakangnya sendiri:

Nana Sudjana, Ahmad Rivai (2000:7) mengklasifikasikan media sebagai berikut: “Beberapa jenis media yang biasa digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, dapat digolongkan menjadi media gambar atau grafis, media fotografis, media tiga dimensi, media proyeksi, media audio dan lingkungan sebagai media pengajaran.”

Berdasarkan uraian dan klasifikasi di atas dapat penulis kelompokkan menjadi beberapa jenis kelompok media yaitu:

1) Media gambar/grafis. 2) Media fotografis. 3) Media tiga dimensi. 4) Media proyeksi. 5) Media audio.

(42)

6) Media lingkungan.

Arief Sadiman S., dkk. (2003:10) mengutip dari pendapat Rudi Bretz sebagai berikut:

Bertz mengidentifikasi ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok yaitu suara, visual dan gerak. Visual sendiri dibedakan menjadi tiga yaitu gambar, grafis (line graphic) dan simbol yang merupakan kontinuum dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Di samping itu Bertz juga membedakan media sinar (telecomunication) dan media rekam (recording) sehingga terdapat delapan (8) klasifikasi media 1) media audio visual gerak 2) media audio visual diam 3) media audio visual semi 4) media visual gerak 5) media visual diam 6) media visual semi gerak 7) media audio 8) media cetak.

Melihat uraian di atas pada dasarnya media dipandang dari ciri-cirinya ada tiga jenis yaitu suara, visual dan gerak.

4. Media Gambar

a. Pengertian Media Gambar

Menurut Sri Anitah (2004:22), “media gambar (gambar mati) merupakan gambar yang dibuat pada kertas karton atau sejenisnya yang tak tembus cahaya.” Gambar merupakan salah satu media pembelajaran yang amat dikenal di dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal itu disebabkan kesederhaannnya, tanpa memerlukan perlengkapan, dan tidak perlu diproyeksikan untuk mengamatinya. Melalui gambar dapat ditunjukkan sesuatu yang jauh dari jangkauan pengalaman siswa, selain itu juga dapat memberikan gambaran tentang peristiwa yang telah berlalu maupun gambaran masa yang akan datang. Melalui gambar, guru dapat menerjemahkan ide-ide abstrak dalam bentuk yang lebih konkrit untuk siswa SDLB. Gerlach & Ely yang dikutip Sri Anitah (2004: 22) mengatakan bahwa “gambar tidak hanya bernilai seribu bahasa, tetapi juga seribu tahun atau seribu mil.”

Peneliti dapat menyimpulkan bahwa media gambar adalah media gambar (gambar mati) dibuat pada kertas karton atau sejenisnya yang tak tembus cahaya.

(43)

Gambar adalah salah satu media pembelajaran yang amat dikenal di dalam setiap kegiatan pembelajaran, karena media gambar memberikan manfaat dalam pembelajaran. Menurut Azhar Arsyad (2002:43), media gambar memberikan manfaat sebagai berikut:

1) Menimbulkan daya tarik pada anak. Gambar dengan berbagai warna akan lebih menarik dan membangkitkan minat dan perhatian anak. 2) Mempermudah pengertian anak. Suatu penjelasan yang abstrak akan

lebih mudah dipahami bila dibantu gambar. 3) Memperjelas bagian-bagian yang penting. 4) Menyingkat suatu uraian.

Penemuan-penemuan dari penelitian mengenai nilai-guna gambar diam tersebut, menurut Brown yang dikutip Sri Anitah (2004: 31) mempunyai sejumlah implikasi bagi pengajaran, yaitu:

1) Bahwa penggunaan gambar dapat merangsang minat atau perhatian anak.

2) Gambar-gambar yang dipilih dan diadaptasi secara tepat, membantu anak memahami dan mengingat isi informasi bahan-bahan verbal yang menyertainya. 3) Gambar-gambar dengan garis sederhana seringkali dapat lebih efektif sebagai

penyampaian informasi ketimbang gambar dengan bayangan, ataupun gambar forografi yang sebenarnya. Gambar-gambar realisme yang lengkap yang membanjiri penonton dengan informasi visual yang terlalu banyak, ternyata kurang baik sebagai perangsang belajar dibandingkan gambar atau potret yang sederhana saja.

4) Warna pada gambar diam biasanya menimbulkan masalah. Sekalipun gambar berwarna lebih memikat perhatian anak daripada yang hitam putih, namun tak selalu gambar berwarna merupakan pilihan terbaik untuk mengajar atau belajar. Suatu studi menyarankan agar penggunaan warna haruslah realistik dan bukan sekedar demi memakai warna saja. Kalau pada suatu gambar hitam putih ditambahkan hanya satu warna, maka mungkin akan mengurangi nilai pengajarannya. Pengajaran menyangkut konsep warna, maka gambar-gambar dengan warna yang realistik memang lebih disukai.

5) Kalau bermaksud mengajar konsep yang menyangkut soal gerak, sebuah gambar diam (termasuk film rangkai) mungkin akan kurang efektif dibanding dengan sepotong film bergerak yang menunjukkan gaya (action) yang sama. Dalam hal ini, suatu urutan gambar diam, seperti yang dibuat dengan kamera foto 35 mm dapat mengurangi telalu banyaknya informasi yang ditampilkan oleh suatu film bergerak.

6) Isyarat yang bersifat non-verbal atau simbol-simbol seperti tanda panah, ataupun tanda-tanda lainnya pada gambar diam dapat memperjelas atau mungkin pula mengubah–pesan yang sebenarnya dimaksudkan untuk dikomunikasikan.

Atas dasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media gambar dapat memberikan manfaat merangsang minat atau perhatian anak, membantu anak memahami dan mengingat isi informasi bahan-bahan verbal yang menyertainya, lebih efektif sebagai penyampaian informasi ketimbang gambar

(44)

dengan bayangan, ataupun gambar fotografi yang sebenarnya, pengajaran menyangkut konsep warna, maka gambar-gambar dengan warna yang realistik memang lebih disukai, urutan gambar diam, seperti yang dibuat dengan kamera foto 35 mm dapat mengurangi terlalu banyaknya informasi yang ditampilkan oleh suatu film bergerak., dan isyarat yang bersifat non-verbal atau simbol-simbol seperti tanda panah, ataupun tanda-tanda lainnya pada gambar diam dapat memperjelas atau mungkin pula mengubah–pesan yang sebenarnya dimaksudkan untuk dikomunikasikan.

c. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Gambar

Menggunakan gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik, yaitu dengan cara memilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran. Tujuan khusus itulah yang mengarahkan minat siswa kepada pokok-pokok terpenting dalam pelajaran. Memadukan gambar-gambar kepada pelajaran, sebab keefektifan pemakaian gambar di dalam proses belajar mengajar memerlukan keterpaduan.

Menggunakan gambar-gambar itu sedikit saja, daripada menggunakan banyak gambar tetapi tidak efektif. Guru hendaknya berhemat dalam mempergunakan gambar yaitu gambar yang mengandung makna. Jumlah gambar yang sedikit tetapi selektif, lebih baik daripada dua kali mempertunjukkan gambar-gambar yang serabutan tanpa pilih-pilih. Jadi yang terpenting adalah pemusatan perhatian pada gagasan utama.

Gambar sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita atau gagasan baru. Guru yang baik akan menyadari bahwa dengan mengurangi deskripsi verbal kepada gambar-gambar yang dipertunjukkannya akan dirasakan manfaatnya terutama bagi para siswa pemula belajar membaca. Mendorong pernyataan yang kreatif, melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan dan tulisan.

d. Media Gambar pada Anak Tunagrahita

Media gambar untuk anak tunagrahita merupakan gagasan yang dicetuskan dalam bentuk ilustrasi gambar yang sederhana yang dibuat dalam ukuran yang disesuaikan dengan materi pelajaran, bertujuan untuk menarik

(45)

perhatian, membujuk, memotivasi atau memperingatkan pada gagasan pokok, fakta atau peristiwa tertentu. Disain sebuah gambar adalah merupakan perpaduan antara keserderhanaan serta dinamika. Bebagai warna yang kontras seringkali dipakai dalam gambar.

Gambar-gambar dalam pembelajaran bagi anak tunagrahita yang efektif umumnya enak dipandang dan mudah dimengerti maksudnya. Bahkan dalam hal-hal seperti gambar-gambar yang sering dilihat setiap harinya didesain dengan bagus, penulisan bagus, serta warna yang menarik. Jenis-jenis gambar lain, seperti yang digunakan di sekolah dan di rumah, memerlukan daya tarik untuk memikat perhatian bagi anak tunagrahita. Gambar yang memikat adalah perpaduan antara menyenangkan serta menarik hati, kedua-duanya merupakan unsur yang kuat di dalam belajar” (Sri Anitah, dkk., 2001:27)

Komposisi warna, dan teknik adalah unsur pokok di dalam penyajian gambar yang efektif. Unsur-unsur warna dan teknik dapat dipakai pada gambar yang pada dasarnya diperuntukkan bagi sarana gambar. Akan tetapi sebagai salah satu alat perantara mempunyai sifat unik tertentu. Oleh sebab itu gambar memiliki keperluan cara pengerjaan tertentu yang berbeda dengan kebanyakan media lainnya. Seperti sebuah foto atau lukisan, gambar yang baik memerlukan pusat perhatian agar siswa mudah tertarik dan mudah mengerti maksud gambar.

B. Kerangka Berpikir

Karangka berpikir merupakan arahan penalaran untuk sampai pada hipotesis. Adapun kerangka berpikir penelitian ini sebagai berikut:

Hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari dalam dan dari luar diri siswa. Media gambar merupakan seperangkat pendukung kemampuan membaca yang merupakan pengaruh faktor dari luar diri siswa. Media gambar merupakan salah satu media pembelajaran yang amat dikenal di dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal itu disebabkan kesederhaannnya, tanpa memerlukan perlengkapan, dan tidak perlu diproyeksikan untuk mengamatinya. Melalui gambar dapat ditunjukkan sesuatu yang jauh dari jangkauan pengalaman siswa,

Gambar

Gambar 1. Diagram Cone of Learning dari Edgar Dale
Gambar 2. Kerangka Berpikir
Tabel 1. Prosedur Penelitian
Tabel  2.  Kemampuan  Membaca  Siswa  Tunagrahita  Kelas  III  SDLB  Negeri  Cangakan Karanganyar pada Kondisi Awal
+6

Referensi

Dokumen terkait

62 Hikmah diturunkannya secara gradual adalah untuk menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah saw, tarbiyah bagi umat Islam dari segi keilmuan dan pengamalan,

Pada bagian ini pembaca sekalian bisa menemukan kesan yang nyaris sama: “Sangat bersyukur” (Abdul Aziz Tata Pangarsa), “Indahnya jalinan ukhuwah islamiyah”, “Cara SPN

10 Dalam melakukan pemeriksaan, terkait dengan laporan hasil pemeriksaan, harus akurat, lengkap, obyektif, meyakinkan, jelas, ringkas, serta tepat waktu agar

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh penggunaan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing bervisi SETS terhadap keterampilan proses sains dan hasil

Berdasarkan hasil analisis data di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa kinerja keuangan dilihat dari nilai Capital Adequency Ratio (CAR) tahun 2012

Sistem pengelolaan lingkungan sempadan sungai dapat dimulai dengan pembuatan sistem sanitasi yang baik pada permukiman disepanjang sungai, pembuatan sistem pengolahan

The Marxism approach is used in order to find out the discrimination between classes in this novel based on the intrinsic elements which are the character and the

Djamil Padang periode 1 Januari – 31 Desember 2013 didapatkan penderita tonsilitis kronis berdasarkan umur terbanyak adalah pada kelompok usia 11-20 tahun,