Menalar Keterkaitan Fakta dan Nilai Dalam Ilmu Ekonomi
Hisyam Ikhtiar MuliaProgram Studi Ilmu Filsafat
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Abstrak:
Ilmu ekonomi adalah bidang ilmu yang mempelajari segenap realitas ekonomi seperti problem pilihan, komoditas, pasar, uang, dan kelangkaan. Dalam Ilmu ekonomi sendiri terdapat berbagai klaim tetang fakta ekonomi, yang mana ditetapkan melalui mekanisme tertentu. Dengan kata lain, klaim ilmu ekonomi terhadap fakta ekonomi mengandung beberapa hal yang saling berkait satu sama lain. Dengan meminjam teori dari Catherine Z Elgin mengenai relaitivitas dan objektivitas fakta dan nilai, maka akan dilakukan analisa mengenai klaim fakta kelangkaan. Demikian, akan ditunjukkan bagaimana keterkaitan fakta dan nilai serta relativitas dan objektivitas klaim Ilmu Ekonomi.
Kata Kunci: fakta, nilai, objektivitas, subjektivitas, ilmu ekonomi, problem ekonomi
Pendahuluan
Realitas ekonomi yang terjadi memiliki banyak problem. Dalam hal ini, Ilmu Ekonomi mencoba membuat kerangka teoretis untuk mengeksplanasi persoalan-persoalan yang terjadi pada realitas. Dalam mengeksplanasi realitas, Ilmu ekonomi memberi klaim-klaim terhadap berbagai hal, yang mana ditetapkan sebagai fakta ekonomi yang berada di masyarakat atau realitas ekonomi. Diantara klaim fakta ekonomi, diantaranya adalah problem kelangkaan, kebernilaian komoditas, dan uang.
something, the less you value one more unit of it.1 Demikian, maka kelangkaan dapat ditentukan oleh valuasi individual secara kolektif terhadap suatu komoditas. Di lain sisi, kelangkaan juga dipandang sebagai problem produksi, dimana jika produksi tidak terjadi, maka timbul kelangkaan, seperti halnya yang digagas para ekonom post-keynesian. Dalam perspektif ini, permasalahan produksi timbul saat terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal sehingga proses produksi tidak dapat berlangsung.
Problem selanjutnya adalah problem nilai komoditas, dalam hal ini suatu komoditas dianggap memiliki nilai, atau dengan kata lain secara faktual, suatu komoditas memiliki nilai tertentu. Nilai ini juga bukan sesuatu yang bersifat tunggal, tetapi terkait beberapa hal, yaitu fungsi, kerja untuk menghasilkan, minat konsumen, dan lain-lain yang ditinjau melalui paradigma tertentu yang terus berubah. Maka dari itu, problem nilai ini memiliki relativitasnya terkait masing-masing pendekatan yang diajukan. Dalam problem nilai suatu komoditas, sangat terkait dengan sudut pandang atau kerangka pikir yang digunakan. Bagi penganut teori ekonomi klasik Adam Smith, maka nilai komoditas ditentukan oleh nilai kerja sosial untuk menghasilkan komoditas tersebut. Namun di lain sisi, dalam paradigma neo-klasik, nilai ditentukan oleh nilai tukar dan nilai guna. Nilai tukar dan nilai guna ditinjau dengan konsumen sebagai basisnya. Demikian, nilai tukar sangat terkait pada hal-hal yang bersifat privat, seperti selera, contohnya nilai tukar barang antik, akan sangat tinggi di mata kolektor barang antik. Dalam hal ini, problem ekonomi juga mengalami perubahan pasca revolusi marginalis yang menggunakan individualisme metodologis dalam observasinya. Observasi ekonomi neo-klasik yang berusaha mengimitasi paham positivis ke dalam observasi ekonomi diubah oleh mazhab Austrian School dengan Individualisme metodologis yang menjadikan individu sebagai unit ontologi terkecil dimana seluruh keterangan epistemologis ekonomi mampu dihasilkan. Artinya, dengan memahami motivasi, properti, disposisi, dan atribut yang melekat pada individu (mikro), maka ilmuwan akan dapat mudah membayangkan derivasinya pada tingkat yang lebih makro.2 Demikian, terlihat bagaimana tinjauan akan nilai berubah-ubah seiring sistem peninjauan yang kian berubah pula.
1 Hill, Rod & Myatt, Tony. 2010. The Economics anti-textbook. London dan New York. Zed Books. Hal. 10
2 Pratama, H. S. (2015). Kritik Terhadap Individualisme Metodologis Dalam Ilmu Ekonomi.
Selain kedua hal tersebut, uang juga merupakan sesuatu yang problematis dalam realitas ekonomi. Di satu sisi, uang dipandang memiliki kemampuan deliberatif untuk memudahkan pertukaran komoditas, namun demikian, uang juga dapat dipandang sebagai tujuan akhir berlangsungnya kegiatan ekonomi. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa uang juga berkaitan dengan hal-hal lainnya. Menurut Simmel uang merupakan contoh dari alat. Pada jenis aktivitas ekonomi tanpa uang misalnya barter merupakan kondisi dimana kita menginginkan sesuatu dengan menukarnya dengan sesuatu yang kita miliki. Namun kenyataannya tidak selalu kondisi akan seideal ini, kemungkinan orang yang memiliki barang tersebut tidak menginginkan barang yang kita miliki, sehingga kita harus menukarnya dulu dengan barang yang orang tersebut menginginkan, dan prosesnya menjadi sangat rumit. Sehingga dibutuhkan intermediate link, yakni uang, agar kita dapat menukarkannya dengan apa saja yang dapat dinilai dengan uang. Uang dapat dikatakan ekspresi yang paling jelas dan mendemonstrasikan bahwa manusia adalah makhluk pembuat alat, yang berarti juga mengimplikasikan bahwa manusia adalah makhluk purposive. Uang seolah meleburkan kehendak-kehendak menuju objek yang direpresentasikannya, karena itu uang menjadi alat yang bernilai lebih dibandingkan komoditas lain karena ia memiliki fungsi penukar tersebut yang tidak terbatas, tidak bisa hanya dikaitkan hanya dengan satu tujuan tertentu melainkan ia merepresentasikan sesuatu yang tidak terbatas, karena pengkriteriaan manusia atas sesuatu yang diuangkan terus meluas. Dan bagi Simmel ini menunjukkan pentingnya suatu komoditas dilihat dari seberapa banyak yang bisa dipertukarkan dengannya, artinya ada banyak pemenuhan tujuan yang bisa dicapai dengan uang.
Dikarenakan uang merepresentasikan sesuatu yang tak terbatas, tentu kepemilikan atasnya memberikan banyak keuntungan yang nilainya berbeda jika dalam hal kepemilikan yang lain. Seorang yang kaya raya (wealthy man) dalam permasalahan hubungan misalnya, memiliki nilai tambahan lain atasnya, bukan hanya atas apa yang ia lakukan namun juga atas apa yang bisa ia lakukan atas kepemilikan uang tadi. Status seseorang yang kaya memiliki arti bahwa ia memiliki lebih banyak peluang dan lebih banyak kebebasan. Setiap pertambahan pendapatannya akan otomatis menambahkan sesuatu yang berbeda dan bernilai lebih tinggi dari sebelumnya karena perbedaan kapabilitas.
yang berjudul “The Relativity of Fact and the Objectivity of Value” yang berisi bantahan terhadap dikotomi fakta dan nilai. Pada tulisannya, Elgin menjelaskan bagaimana keterkaitan fakta dan nilai, serta bagaimana objektivitas dan relativitasnya masing-masing.
Dasar Teori
Dalam pemikiran Elgin yang bertajuk The Relativity of Fact and the Objectivity of Value, Elgin menolak dikotomi fakta dan nilai, dimana dalam tradisi positivistik, fakta dianggap sebagai sesuatu yang absolut, material, objektif, dan impersonal, yang diverifikasi melalui metode saintifik yang bersifat rigoris, sedangkan nilai dianggap sebagai hal yang relatif, spiritual, subjektif, dan personal yang tidak memerlukan metode ketat.3 Sebagai bentuk penolakannya, Elgi mengajukan tesis bahwa fakta dan nilai tidak terpisahkan serta keduanya relatif dan objektif di waktu yang bersamaan.
Pertama, Elgin menjelaskan mengenai ketidakterpisahan fakta dan nilai atau dalam terminasi Elgin disebut inextricably intertwined. Baginya, demarkasi fakta (benar-salah) didasarkan pada nilai-nilai tertentu, begitu pula evaluasi juga didasarkan pada pertimbangan fakta. Dalam hal ini, fakta memiliki standar tertentu untuk memilih mana yang fakta dan mana yang bukan. Penentuan ini didasarkan karena ada sistem kategori tertentu untuk melakukan klasifikasi.4 Kriteria tersebut dibentuk dari pertimbangan mana yang dianggap penting dan mana yang tidak penting sebagai kriteria fakta.
Sistem/skema kategori sendiri bagi Elgin harus memenuhi cognitive values dan priorities of science.5 Ada dua syarat untuk memenuhi hal tersebut, yaitu Epistemically accessible & determinate dan conducive to formulation and test yaitu suatu fakta memenuhi kaidah-kaidah epistemik dan dapat diuji pada realitas atau verifikatif. Sains sendiri, kategorinya berusaha membuat kategorinya agar memenuhi taraf tertentu, seperti exceptionless, predictive, quantitative laws yang berlawanan dengan narrative virtues. Skema kategori ini memberi
3 J. J. Lindberg. (2001). Analytical Philosophy. California: Mayfield Publishing Company. Hal. 391
sumber rujukan atas pernyataan salah dan benar, menampilkan pola maupun ketidaksesuaian pada hal-hal partikular, memberi distingsi, dan membedakan beban konseptual. Kategori ini memiliki basis basis pembentuknya, diantaranya Tujuan, nilai, dan prioritas yang merupakan bentuk integral dari basis pembentuk kategori ini. Basis-basis kategori ini menjadikan kategori-kategori yang dibuat memenuhi persyaratan untuk dapat dijadikan kategori-kategori yang tetap, seperti kebenaran yang dihasilkan, metode yang digunakan, proyeksi masa depan, dan nilai yang dipromosikannya.6 Nilai dalam hal ini, menurut Elgin dapat berupa yang diintensikan maupun yang tidak diintensikan.
Dengan demikian, fakta bagi Elgin relatif terhadap sistem dimana dia berada, dengan sistem yang berbeda, maka fakta yang diproduksi berbeda, atau fakta pada suatu sistem tidak berlaku sebagai fakta bagi sistem lainnya, didasarkan pada frame of reference yang berlaku. Relativitas ini dibagi dua oleh Elgin, yaitu simultaneously relative dan successively relative.7 Namun demikian, fakta tidak selalu relative, fakta bersifat objektif karena terkait dengan rightness dan limited capacity and inferred aspiration. Rightness merupakan faktor yang menyatakan bahwa klaim fakta harus memiliki relevansi yang bergantung pada kecocokan dengan tujuannya serta tidak menyimpang dari praktik terdahulu. Limited capacity dan interfered aspirations merupakan constrain bagi kita dalam mengkonstruksi suatu sistem.8 keterkaitan pernyataan fakta dengan nilai ini menimbulkan adanya pluralism, yaitu suatu konstelasi kognitif dan praktik objektif dapat menghasilkan lebih dari satu klaim yang sama-sama benar sesuai sistemnya masing-masing, hingga masing-masing menjadi suatu hal yang dapat dipercaya hingga ditemukan alasan untuk merevisinya. Sistem dibangun di atas suatu pijakan atau disebut provisional scaffolding, hingga menghasilkan judgement yang ditetapkan sebagai “tebakan terbaik” untuk saat ini. Sistem ini dibentuk secara dialektis, yang dimaksud di sini adalah, sistem ini dapat dimodifikasi, dan bentuk modifikasinya dapat berupa menyesuaikan dengan temuan baru, atau temuan barunya dimodifikasi sehingga dapat masuk ke dalam sistem, namun demikian, modifikasi ini tetap didasarkan pada pengetahuan yang telah kita miliki.9 Modifikasi ini dimaksudkan untuk mencapai sistem terbaik untuk digunakan yang disebut reflective equilibrium.10
Elgin juga membahas mengenai bagaimana nilai dianggap tidak objektif, non-verifiable. Para positivist menganggap bahwa fakta terlepas dari nilai. Elgin setuju bahwa beberapa fakta memang tidak mengandung nilai tertentu, adapula nilai yang tidak faktual. Namun demikian, antara fakta dan nilai dapat memiliki keterikatan, seperti nilai “better” yang digunakan untuk mengkomparasi dua hal, konsep tersebut dihasilkan dengan basis-basis faktual. Konstruksi terhadap nilai didasarkan pada interest, purposes, dan problem yang kita miliki.11 Kita selalu mengkonstruksi suatu nilai atas respons terhadap permasalahan yang kita miliki, seperti problem dilema moral saat ingin melakukan oprasi. Permasalahan tersebut baru akan muncul jika fakta kedokteran tidak seperti sekarang ini. Penentuan nilai atau proses evaluasi juga tidak lepas dari logical and evidential constraints.12 Dalam hal ini, evaluasi punya standar logika tertentu seperti konsistensi dan koherensi satu sama lain, dan didasarkan pada fakta relevan tertentu, serta tidak kontradiktif satu sama lain, bahkan di momen khusus tertentu. Terdapat objektivitas nilai, terlebih ketika suatu evaluasi bekerja pada lebih dari satu kasus, kendati tidak dapat menjawab semua pertanyaan.
Pembahasan
Dari pemaparan di atas, jika meminjam gagasan Elgin, maka klaim kelangkaan memiliki keterkaitan fakta dan nilai di dalamnya yang bisa dikatakan punya relativitas tersendiri. Dalam hal ini, relativitas yang dimaksud adalah relativitas terhadap sistem pendekatan yang digunakan untuk memunculkan klaim tersebut. Jika menggunakan unlimited wants sebagai penyebab kelangkaan, maka klaim ini sebagai fakta, bergantung pada preferensi masyarakat serta valuasi subjektif individu terhadap suatu komoditas. Contohnya, klaim fakta “Emas adalah logam langka” bisa saja bukan dikarenakan jumlah emas di alam yang benar-benar sedikit atau berkurang drastic, tetapi bisa jadi disebabkan, dengan jumlah yang tetap, permintaan atasnya kian tinggi karena tiap individu punya unlimited wants atas emas, yaitu semakin banyak emas yang dimiliki individu, semakin berkurang valuasinya atas emas, sehingga ia terus-menerus menginginkannya, dan ini berlaku secara massal. Di lain sisi, klaim yang sama dapat dilihat
sebagai jumlah emas yang tetap, tetapi proses produksinya hingga menjadi komoditas yang dapat diperdagangkan (penambangan, pemisahan bijih emas dengan substansi lain, dan pencetakan) tidak terlalu banyak, karena tenaga kerja pemroduksi emas yang sedikit, sehingga produksinya pun menjadi sedikit pula. Kedua pendekatan tersebut menggambarkan adanya pluralisme kebenaran. Pernyataan “emas adalah logam langka” dapat menjadi benar pada kedua sistem pendekatan tersebut, dapat juga benar hanya pada sistem pendekatan unlimited wants dan salah pada sistem pendekatan “produksi terbatas”. Penentuan salah dan benar ini memiliki tujuan, prioritas, maupun nilai yang dipromosikan. Pada pendekatan pertama, tentu ada tujuan dan prioritas terkait eksplanasi yang dihasilkan, seperti meyakinkan masyarakat bahwa kelangkaan emas adalah hal yang lumrah dan natural, maupun mempromosikan keberhargaan emas sebagai sebuah komoditas. Di lain sisi, pendekatan kedua memiliki tujuan dan nilai tersendiri, seperti menebarkan propaganda bahwa emas merupakan komoditas yang diakuisisi dan dikontrol produksinya oleh kalangan tertentu. Dengan demikian, fakta bahwa “emas adalah logam langka” dibentuk dari evaluasi-evaluasi tertentu, dan evaluasi ini juga dibentuk atas dukungan fakta-fakta tertentu seperti jumlah permintaan terhadapnya, alat produksi yang terbatas, dan lain-lain.
menunjukkan bahwa air mineral lebih menyehatkan dibanding air selokan, sehingga menjadi lebih berharga. Dalam hal ini dapat dilihat bagaimana fakta dan nilai saling berelasi.
Problem selanjutnya dalam ilmu ekonomi yang menunjukkan fakta dan nilai yang saling terkait adalah uang. Bagi George Simmel dan bagi kebanyakan orang awam sekalipun, uang secara umum dipahami sebagai alat tukar. Artinya, uang merupakan penghubung antar komoditas yang hendak dipertukarkan. Klaim uang sebagai alat tukar, maka mengandaikan uang merupakan sesuatu yang memiliki kemampuan mentransformasi nilai komoditas sehingga dapat dipertukarkan. Dalam hal ini, uang memiliki beberapa fakta yang membuatnya berfungsi sebagai alat tukar, seperti mudah dicacah agar dapat ditransformasi menjadi komoditas tertentu dan memiliki nilai yang stabil atau tetap. Tentu fakta-fakta inipun disokong oleh evaluasi tertentu, seperti memilih mana yang dianggap mudah dicacah dan bernilai tetap. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa fakta akan uang sebagai alat tukar, ditentukan oleh bagaimana manusia menetapkan evaluasi terhadap sesuatu yang dijadikan uang tersebut. Sedangkan, ketetapan nilai dapat dihadirkan, baik lewat consensus langsung, maupun legitimasi otoritas. Di masa kini, bahkan fakta bahwa uang bernilai, maupun nilai uang itu sendiri dapat mengalami perbedaan di tempat yang berbeda, bergantung pada legitimasi politis terhadapnya. Seperti halnya Rp 10.000 di Indonesia dapat bernilai dua kotak susu sapi kemasan, namun di Negara eropa, bahkan tidak dapat dipertukarkan dengan sebatang pensil. Pun demikian dengan fakta bahwa sesuatu adalah uang, sangat dipengaruhi konsensus yang berlaku, seperti di Rusia, pada era perang dingin, uang yang berlaku adalah berupa cerutu, di lain kasus, sekumpulan anak sekolah dasar dapat mejadikan kertas binder sebagai uang yang dapat ditukar dengan mainan atau aksesoris.
individu satu dengan yang lain. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana individu dengan uang yang lebih banyak, dapat mempromosikan dirinya sebagai individu yang memiliki kapabilitas lebih tinggi dibandingkan individu yang lain. Dengan demikian, terciptalah lingkar dependensi fakta dan nilai. Dalam kasus ini, fakta uang sebagai tujuan akhir bergantung pada tindak evaluasi kita terhadap uang, yang juga bergantung pada fakta lain seperti terjadinya kegiatan pertukaran komoditas, yang juga dievaluasi tidak memiliki nilai yang sama antara satu sama lain, sehingga membentuk sistem eksplanasi kegiatan ekonomi seperti demikian adanya.
Dari contoh kasus yang dipaparkan, maka dapat dikatakan bahwa ilmu ekonomi berusaha membentuk suatu sistem eksplanasi terhadap kegiatan ekonomi, yang dapat memenuhi reflective equilibrium yang akan ditetapkan sebagai “tebakan terbaik” untuk digunakan mengeksplanasi realitas. Dalam hal ini, sistem eksplanasi yang terbentuk dapat mengalami revisi, seiring hadirnya temuan baru, atau gagalnya suatu klaim dalam mengatasi persoalan yang diajukan, seperti halnya perubahan dari ekonomi klasik, menuju neo-klasik, hingga timbul mazhab Austria.
Kesimpulan
Daftar Pustaka
Hill, Rod & Myatt, Tony. 2010. The Economics anti-textbook. London dan New York. Zed Books.
Lindberg, J. J. (2001). Analitical Philosophy. California: Mayfield Publishing Company.
Morgan, M. S. (2012). The World in the Model : How Economists Work and Think.
New York: Cambridge University Pers.
Pratama, H. S. (2015). Kritik Terhadap Individualisme Metodologis Dalam Ilmu
Ekonomi. Depok: University of Indonesia.