1. GAUNG globalisasi yang sudah membunyikan lonceng kompetisi mengisyaratkan, di masa datang industri pangan nasional akan menghadapi tantangan persaingan yang makin berat. Karena itu, menjelang diberlakukan kerja sama perdagangan negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun 2003, ada baiknya kita menilik tantangan yang akan dihadapi industri pangan nasional sebagai bagian agro-industri dalam memasuki pasar globalisasi. Ini penting sebelum memasuki tantangan baru lain yang lebih berat, yakni APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) 2010 dan 2020.
Apalagi kini perkembangan industri pangan di Indonesia masih tertinggal dibanding industri pangan negara-negara ASEAN lain, khususnya dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Prediksi sementara menunjukkan akan banyak industri pangan nasional kolaps karena tidak mampu bersaing dengan industri pangan modern yang dikendalikan dari negara maju. Dengan mutu produk yang masih rendah, namun biaya produksi mahal menjadikan industri pangan nasional tidak kompetitif. Ini seiring kurangnya modal dan sumber daya manusia (SDM) terampil guna menjalankan proses produksi secara efisien.
Mempertajam daya saing
Untuk dapat menjadi pelaku dalam percaturan perdagangan global, maka industri pangan nasional harus mempertajam daya saingnya guna merebut pasar nasional dan internasional. Jika mutu produk industri pangan nasional biasa-biasa saja, pasti kalah bersaing di pasar bebas dengan produk pangan dari industri-industri raksasa yang mutunya terjamin dan harganya terjangkau daya beli masyarakat kebanyakan. Berbagai produk olahan pangan bermutu yang diproduksi multinational corporation (MNC), seperti Nestle's, Unilever, Philip Morris, ConAgra, Coca Cola, Kraf General Foods (KGF), dan lain-lain kini menempati peringkat atas dalam soal modal, pemasaran, penelitian, dan pengembangan. Lewat dukungan modal kuat dan SDM berkualitas, memungkinkan MNC membuka cabang di berbagai negara termasuk Indonesia. Dengan pola manajemen global partnering mereka makin kuat mencengkeram pasar. Pada gilirannya fenomena globalisasi di bidang perdagangan produk pangan gampang dilihat di sekitar kita.
Beragam produk buatan industri pangan yang menguasai pasaran internasional dan sudah lama dikenal di Indonesia dikemas apik di berbagai supermarket dan toko swalayan. Demikian juga dengan menjamurnya berbagai restoran cepat saji (fast food) bermerek Barat, seperti pizza, ayam goreng, donat, dan lain-lain. Kehadiran mal di kota-kota besar menjanjikan kemudahan yang melengkapi fenomena yang menjungkirbalikkan peradaban tradisional ke peradaban modern. Betapa tidak! Zaman dulu, ketika orang tua kita belanja ke pasar, oleh-olehnya adalah pisang goreng dan dawet. Tetapi kini, sehabis berbelanja di mal, oleh-olehnya Dunkin' Donuts, Coca Cola dingin, dan es krim bermerek Barat. Bahkan, gaya hidup generasi muda kita di era globalisasi ini seakan lebih afdol bila sudah menggenggam Coca-Cola kaleng dan satu paket Dunkin' Donuts!
Kehadiran berbagai makanan dan minuman berbau Barat ini, di satu sisi berdampak positif. Paling tidak, bila orang asing yang tinggal di Indonesia atau datang sebagai wisatawan dapat bertahan lebih lama karena ada jenis makanan yang cocok dengan seleranya. Ini tentu dapat menambah pundi-pundi devisa negara. Atau dapat juga membuka lapangan kerja baru di tengah meningkatnya jumlah penganggur akibat krisis ekonomi.
Namun, bila dikaji lebih jauh sesuatu yang ironis sedang melanda masyarakat kita. Yakni, memuja secara berlebihan, dengan membayar lebih mahal, produk olahan pangan bermerek asing, tetapi melecehkan produk olahan pangan sendiri. Orang kita lebih mengenal Muffin keluaran Inggris ketimbang wingko babat dari Semarang atau lebih familier dengan donat bermerek asing ketimbang Ombus-ombus dari Toba Samosir. Bahkan, sampai kini banyak orang lebih bangga untuk membayar satu porsi salad seharga Rp 79.990 di ruangan ber-AC, tetapi mengomel ketika harus membayar satu porsi gado-gado-padahal bahannya relatif sama-Mbok Sukiyem seharga Rp 20.000.
berbagai media massa baik cetak maupun elektronik dan produknya terstandardisasi secara baik. Misalnya, ayam goreng McDonald's di salah satu outlet-nya di Medan akan sama lezatnya dengan yang dijual di Singapura. Tetapi, siapa bisa menjamin, gudeg yogya yang dijual di berbagai restoran lesehan di sepanjang Malioboro sama lezatnya? Sebab, ada gudeg Nyonya Rahmat, Mbak Sutini, dan lain-lain dengan resep yang berbeda-beda pula.
Arah pengembangan
Dari segi peluang bisnis nasional, globalisasi dapat menjanjikan dampak positif. Untuk itu, arah pengembangan industri pangan nasional harus diletakkan pada selera, keinginan pasar, dan konsumen. Sebab, globalisasi tidak hanya menyebabkan kita dengan mudah menemukan Cola-Cola dan pizza di mana-mana, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengembangkan produk olahan pangan lain sepanjang mutunya terjamin dan harganya terjangkau. Implikasinya, globalisasi membuka peluang bisnis besar bagi produk pangan tradisional. Masakan padang, bandeng duri lunak dari Semarang, brem bali, jenang kudus, dodol garut, empek-empek palembang dan lemang medan boleh menjadi contoh makanan tradisional yang sudah dikenal luas di masyarakat dan potensial dikembangkan di masa datang.
Hal lain yang menjadi dampak ikutan globalisasi adalah informasi pangan makin banyak sehingga masyarakat makin melek gizi. Peranan media massa amat besar, sebab kerap mengetengahkan berita-berita kesehatan yang dikemas dalam bungkus iklan produk pangan tertentu. Misalnya, berbagai iklan dalam bentuk advertorial, khususnya produk-produk suplemen pangan seperti pil dan serbuk yang mengandung komponen fungsional protein, asam amino, serat makanan, oligosakarida, asam lemak omega 3, omega 6 dan omega 9, vitamin C, vitamin E, yang diiklankan secara meyakinkan.
Berkat arus informasi pangan dan gizi yang pesat menyusup ke dalam kehidupan konsumen, makanan sehat menjadi arah pengembangan produk industri pangan nasional khususnya untuk keperluan ekspor. Kejelian mengamati pasar seperti ini amat menentukan keberhasilan dalam pengembangan produk pangan baru (novel foods) yang memiliki beberapa karakteristik yang menjadi tuntutan konsumen. Yakni, enak dimakan (palatable); aman dikonsumsi; tidak mengandung residu kimia, mikrobia, bahan tambahan makanan (pengawet); bergizi dan bermanfaat bagi kesehatan; praktis penggunaannya, mudah disimpan dan mudah dikonsumsi; dan terjangkau daya beli.
Tren gaya hidup sehat yang kini diadopsi masyarakat kebanyakan di perkotaan harus dijembatani penguasaan ilmu dan teknologi pangan sehingga dapat menyediakan pilihan produk pangan yang aman dan enak dikonsumsi serta berkhasiat bagi kesehatan karena mengandung komponen fungsional yang dibutuhkan tubuh. Fenomena ini telah menetaskan paradigma baru dalam dinamika ilmu dan teknologi pangan untuk melakukan berbagai modifikasi produk olahan pangan menuju makanan fungsional (functional foods). Yakni, suatu produk olahan pangan yang mengandung komponen bioaktif yang mampu mencegah-bahan menyembuhkan-suatu penyakit tertentu sehingga tercapai kesehatan tubuh yang optimal.
Meski diharapkan memberi manfaat kesehatan, menurut Goldberg (1994), makanan fungsional tidak dianggap sebagai obat, tetapi dikategorikan sebagai makanan. Tetapi, paling tidak tiga kriteria utama harus dipenuhi suatu produk agar dapat disebut makanan fungsional.
Pertama, produk itu harus berbentuk makanan (bukan kapsul, tablet, atau serbuk) dan berasal dari bahan yang terdapat secara alami.
Kedua, produk itu dikonsumsi sebagai bagian dari makanan sehari-hari.
Ketiga, produk itu memberi peran positif dalam metabolisme tubuh, seperti meningkatkan pertahanan tubuh sehingga mencegah timbulnya penyakit, membantu mengembalikan kondisi tubuh secara fit setelah sembuh dari penyakit dan memperlambat proses penuaan.
bermanfaat bagi tubuh, seperti vitamin, mineral, fitokimia dan senyawa-senyawa bukan gizi (non nutritives) secara utuh tetap ada pada produk itu. Ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri pangan nasional dalam memasuki era globalisasi.
Posman Sibuea Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unika Santo Thomas Sumatera Utara, Medan
Harianjogja.comSLEMAN—Bupati Sleman, Sri Purnomo optimistis masyarakat Sleman mampu menghadapi persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 mendatang. Meski demikian, Pemkab Sleman terus mendorong kepada petani dan pelaku usaha olahan bahan pangan agar terus meningkatkan kualitas produk.
Masyarakat diharapkan semakin kreatif dan inovatif dalam mengolah dan mengemas hasil bumi Sleman.
“Pertanian masih jadi andalan utama. Potensinya sudah ada, tinggal bagaimana agar penyajian dan pemasarannya lebih menarik konsumen,” kata Sri Purnomo seusai menghadiri acara Peringatan Hari Pangan Sedunia di Halaman Kantor Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Kamis (9/10/2014) siang.
Sri Purnomo juga mengungkapkan, melalui intensifikasi dan diversifikasi pertanian, ketahanan pangan Sleman bisa dipertahankan, setidaknya hingga 20 tahun mendatang.
“Tapi, produk hasil pertanian juga harus dikembangkan. Pemerintah juga sudah berusaha memberikan berbagai pelatihan,” ujarnya.
Sri Purnomo mengapresiasi berbagai produk olahan bahan pangan, baik yang dijual maupun yang dilombakan hari itu.
“Kalau sudah bisa dipamerkan, harus ada kelanjutannya. Jangan hanya saat pameran saja jualannya,” kata Sri Purnomo.
Kepala DPPK Sleman, Widi Sutikno, juga mendorong para petani agar berinovasi mengembangkan produk pangan lokal.
“Tentu kita semua ingin membangun kemandirian pangan dan meningkatkan daya saing berbasis sumberdaya lokal untuk menghadapi MEA,” kata Widi.
Widi mengungkapkan setidaknya ada tiga kunci utama untuk menghadapi MEA. “Kita berusaha meningkatkan mutu produk yang akan dijual, kemasannya dibuat lebih menarik, dan juga memperbaiki sistem pemasarannya,” katanya memaparkan.
Berbagai perlombaan pengolahan hasil pangan yang diselenggarakan DPPK bertujuan meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk pangan lokal. Hal ini diharapkan bisa menambah citra dan nilai produk pangan lokal unggulan sehingga mampu bersaing di pasar bebas. Selain itu, ia berharap masyarakat yang hadir dalam Peringatan Hari Pangan Sedunia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk membangun jaringan usaha.
Potensi unggulan Kabupaten Sleman Potensi Komoditi Pertanian
Salak Pondoh : Di kecamtan Tempel, Turi dan Pakem.
Mendong : Kecamatan Minggir
Kambing/Domba : Seluruh kecamatan di Sleman. Khusus kambing PE di Kecamatan Turi, Pakem dan Berbah
Lele : kecamatan Moyudan, Gamping, Godean, Seyegan, Minggir
Potensi industri
Sarung tangan kulit golf
Mebel Kayu
Kerajinan kayu
Potensi Wisata
Tersebar di seluruh kecamatan di Sleman Sumber : Pemkab Sleman
Berikut beberapa produk prioritas yang sudah siap menghadapi implementasi MEA
2015.
Prioritas produk 1 antara lain; jem, jeli dan marmalade kecuali nut puree, nut paste,
dan sweetening matter; kembang gula keras/ permen keras; kembang gula
lunak/permen lunak; nougat dan marzipan; dekorasi (misalnya untuk bakery),
topping (non buah) dan saus manis dan kue beras.
Produk prioritas 2 antara lain; buah kering kecuali nuts dan sweetening matter, buah
dalam cuka, minyak atau larutan garam; produk oles berbasis buah kecuali nuts,
buah bergula; produk buah untuk isi pastry; sayur dan rumput laut dalam minyak,
larutan garam atau kecap kedelai; kakao bubuk dan kakao massa; permen karet,
serealia dan produk serealia; produk bakeri; gula merah; saus dan produk sejenis;
kopi, kopi substitusi, teh, seduhan herbal, minuman biji-bijian dan sereal panas.
“Pengaruh pasar bebas ASEAN yakni daya saing produk dan jasa meningkat,” papar
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Enny Ratnaningtyas,
dalam acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri, di Bali, Jumat (14/3/2014)
TANAMAN HERBAL INDONESIA “SIAP
HADAPI MEA 2015”
Indonesia memiliki tanah yang subur dan hasil alam yang berlimpah. Kesuburan tanah dan hasil alamnya yang istimewa ini, hingga Indonesia sempat dikenal dengan sebutan “Zamrud
Indonesia, membuat industri obat herbal kini banyak bermunculan. Hal ini juga didorong oleh tren masyarakat untuk menggunakan produk kosmetik, jamu dan herbal yang sangat besar. Sebagai gambaran, dari data Kementrian Perindustrian Republik Indonesia pada tahun 2014, anda dapat melihat saat ini setidaknya terdapat kurang lebih 1.247 industri terdiri atas 129 industri obat tradisional (IOT), dan 1.037 industri kecil obat tradisional (IKOT). Besarnya potensi tanaman herbal Indonesia menjadi produk yang dianggap siap menghadapi Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2015. Bagaimanakah kesiapan tanaman herbal indonesia menghadapi persaingan di pasar bebas asean? Beberapa faktor berikut yang wajib anda ketahui untuk membantu menjaga dan meningkatkan produksi dan konsumsi obat olahan tanaman herbal Indonesia, yaitu :
1. Cinta Produk Herbal Indonesia
Semangat untuk tetap loyal menggunakan berbagai produk herbal dari negeri sendiri menjadi faktor pertama dalam menjaga sumber tanaman herbal Indonesia dan meningkatkan
persaingan dipasar internasional. Khusunya dalam menghadapi persaingan pasar bebas di Asean (MEA) pada tahun 2015. Bila kita melihat kebiasaan orang Indonesia selama ini yang masih tetap mengkonsumsi obat herbal / tradisonal Indonesia yang terkenal dengan olahannya yaitu “Jamu”. Maka kita akan melihat harapan untuk sukses menghadapi persaingan kelak pada sektor Industri Obat dari Tanaman Herbal, bukanlah harapan biasa. Namun semangat untuk mengkonsumsi produk herbal Indonesia harus tetap di tularkan kepada keluarga, teman, saudara dan mitra bisnis anda. Agar Tanaman Herbal Indonesia dapat sukses menghadapi persaingan masyarakat ekonomi asean ini. Beberapa produsen besar produk tanaman Herbal Indonesia yang telah dikenal ialah Martha Tilaar, Sido Muncul, Jamu Borobudur dan masih banyak lainnya.
2. Potensi Bisnis Obat Herbal di Indonesia
Sedangkan untuk omzet obat tradisional dan herbal selama tahun 2014 diperkirakan telah meningkat menjadi Rp 15 triliun, atau naik Rp 1 triliun dari perolehan tahun 2013 sebesar Rp 14 triliun, menyusul makin diminatinya penyembuhan kesehatan menggunakan obat herbal. Olehkarena itu kita melihat betapa besarnya potensi Bisnis dari Industri Obat Herbal Indonesia inilah yang mesti diwaspadai. Karena sebagaimana pinsip bisnis kita akan mengetahui “dimana ada keuntungan yang besar”, disitu pertanda besarnya potensi pasar industri ini di Indonesia. Sehingga sangat riskan untuk diakuisisi atau diambil oleh pelaku pasar internasional. Bahkan khusunya diasean tentu akan semakin banyak produk herbal dari negara lainnya yang masuk ke indonesia.
Dari artikel ini sebagai orang Indonesia, penting untuk mengetahui pesatnya pertumbuhan produk olahan tanaman herbal Indonesia. Agar produk unggulan satu ini ditengah tantangan masyarakat ekonomi asean yang tidak lama lagi diberlakukan, dapat semakin meningkat
TANTANGAN DAN PELUANG INDONESIA MENGHADAPI AEC/MEA
Indonesia segera akan bergabung dalam masyarakat ekonomi ASEAN (AEC) 2015. Ini bisa menjadi peluang dan tantangan bagi Indonesia, karena akan adanya persaingan antar negara anggota ASEAN dan Indonesia harus dapat menanggapi dengan cermat serta dibutuhkan strategi yang mengutamakan tenaga kerja, infrastruktur dan hal-hal lain yang terkait.
ASEAN Economic Community (AEC) akan menjadi tujuan dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2015 AEC memiliki bayangan karakteristik utama sebagai berikut: (a) pasar tunggal dan basis produksi, (b) wilayah ekonomi yang sangat kompetitif, (c) wilayah pembangunan ekonomi yang adil, dan (d) daerah sepenuhnya terintegrasi ke dalam ekonomi global [1]. Karakteristik ini saling terkait dan saling menguatkan . Menggabungkan unsur-unsur yang dibutuhkan dari setiap karakteristik dalam satu Blueprint harus memastikan konsistensi dan koherensi dari unsur-unsur serta pelaksanaan dan koordinasi yang baik antara para pemangku kepentingan yang relevan [2].
Area kerjasama AEC meliputi pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas; pengakuan kualifikasi profesional; konsultasi lebih dekat pada kebijakan makro ekonomi dan keuangan; Langkah-langkah pembiayaan perdagangan; ditingkatkan infrastruktur dan konektivitas komunikasi; pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN; mengintegrasikan industri di seluruh wilayah untuk mempromosikan sourcing daerah; dan meningkatkan keterlibatan sektor swasta untuk membangun AEC. Singkatnya, AEC akan mengubah ASEAN menjadi wilayah dengan pergerakan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas.[3]
Dalam menghadapi AEC 2015 seluruh negara ASEAN harus bersiap siap dengan pasar bebas seluas-luasnya yang akan berjalan tahun 2015, banyak peluang dan tantangan yang harus menjadi perhatian bagi tiap-tiap negara dan kali ini akan di fokuskan kepada peluang dan tantangan yang akan di hadapi Indonesia dalam menghadapi AEC 2015.
A. Peluang
Banyak hal yang dapat dijadikan peluang oleh Indonesia sebagai misi untuk menjalankan AEC 2015 dan hal-hal ini dapat dijadikan acuan sebagai awal mula menjadi Indonesia yang sukses dalam AEC 2015. Menurut buku “Menuju ASEAN Economic Community 2015” yang di keluarkan Departemen Perdagangan Republik Indonesia ada 7 peluang bagi Indonesia. Peluang-peluang tersebut sebagai berikut: [4]
1. Manfaat Integrasi Ekonomi. Kesediaan Indonesia bersama-sama dengan 9 (sembilan) Negara ASEANlainnya membentuk ASEANEconomic Community(AEC) pada tahun 2015 tentu saja didasarkan pada keyakinan atas manfaatnya yang secara konseptual akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kawasan ASEAN. Integrasi ekonomi dalam mewujudkan AEC 2015 melalui pembukaan dan pembentukan pasar yang lebih besar,dorongan peningkatan efisiensi dan daya saing, serta pembukaan peluang penyerapan tenaga kerja di kawasan ASEAN, akan meningkatkan kesejahteraan seluruh negara di kawasan.
2. Pasar Potensial Dunia. Pewujudan AEC di tahun 2015 akan menempatkan ASEAN sebagai kawasan pasar terbesar ke-3 di dun ia yang didukung oleh jumlah penduduk ke-3 terbesar (8% dari total penduduk dunia) di dunia setelah China dan India. Pada tahun 2008, jumlah penduduk ASEAN sudah mencapai 584 juta orang (ASEAN Economic Community Chartbook, 2009), dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan usia mayoritas berada pada usia produktif. Pertumbuhan ekonomi individu Negara ASEAN juga meningkat dengan stabilitas makro ekonomi
ASEAN yang cukup terjaga dengan inflasi sektitar 3,5 persen3. Jumlah penduduk Indonesia yang terbesar di kawasan (40% dari total penduduk ASEAN) tentu saja merupakan potensi yang sangat besar bagi Indonesia menjadi negara ekonomi yang produktif dan dinamis yang dapat memimpin pasar ASEAN di masa depan.
Sepuluh (10) komoditi ekspor ASEAN ke dunia pada tahun 2008 (berdasarkan HS-4 digit) yang dilaporkan dalam ASEAN Economic Community Chartbook (2009) adalah (1) electronic integrated circuits & microassemblies (9%); (2) oil (not crude) from petrol & bituminous minerals etc. (7%); (3) automatic data processing machines, magnetic or optical readers, etc. (5%); (4) crude oil from petroleum and bituminous minerals (4%); (5) petroleum gases & other gaseous hydrocarbons propane, butane, ethylene (4%); (6) parts and accessories for office macjines & typewriters (3%); (7) palm oil & its fractions, not chemically modified (3%); (8) natural rubber in primary form or plates balata, gutta – percha, guayule, chicle (2%); (9) semiconductor devices; light – emiting diodes; mountedpiezoelectric crystals; parts thereof diodes, etc. (1%); dan (10) electric apparatus for line telephony or telegraphy telephone sets, teleprinters, modems, facs machine (1%).
Pada umumnya, konsentrasi perdagangan ASEAN masih dengan dunia meskipun cenderung menurun dan beralih ke intra-ASEAN.. Data perdagangan ASEAN menunjukkan bahwa share perdagangan ke luar ASEAN semakin menurun, dari 80,8% pada tahun 1993 turun menjadi 73,2% pada tahun 2008, sedangkan share perdagangan di intra-ASEAN meningkat dari 19,2% pada tahun 1993 menjadi 26,8% pada tahun 2008. Hal yang sama juga terjadi dengan Indonesia dalam 5 tahun terakhir, namun perubahannya tidak signifikan. Nilai ekspor Indonesia ke intra-ASEAN hanya 18-19% sedangkan ke luarASEAN berkisar 80-82% dari total ekspornya, Hal ini berarti peluang untuk meningkatkan ekspor ke intra-ASEAN masih harus ditingkatkan agar laju peningkatan ekspor ke intra-ASEAN berimbang dengan laju peningkatan impor dari intra-ASEAN.
Indonesia sudah mencatat 10 (sepuluh) komoditi unggulan ekspornya baik ke dunia maupun ke intra-ASEAN selama 5 tahun terkhir ini (2004 – 2008) dan 10 (sepuluh) komoditi ekspor yang potensial untuk semakin ditingkatkan. Komoditi unggulan ekspor ke dunia adalah minyak kelapa sawit, tekstil & produk tekstil, elektronik, produk hasil hutan, karet & produk karet, otomotif, alas kaki, kakao, udang, dan kopi, sedangkan komoditi ekspor ke intra-ASEAN adalah minyak petroleum mentah, timah, minyak kelapa sawit, refined copper, batubara, karet, biji kakao, dan emas. Disamping itu, Indonesia mempunyai komoditi lainnya yang punya peluang untuk ditingkatkan nilai ekspornya ke dunia adalah peralatan kantor, rempah-rempah, perhiasan, kerajinan, ikan & produk perikanan, minyak atsiri, makanan olahan, tanaman obat, peralatan medis, serta kulit & produk kulit. Tentu saja, Indonesia harus cermat mengidentifikasi tujuan pasar sesuai dengan segmen pasar dan spesifikasi dan kualitas produk yang dihasilkan.
4. Negara Tujuan Investor. Uraian tersebut di atas merupakan fakta yang menunjukkan bahwa ASEAN merupakan pasar dan memiliki basis produksi. Fakta-fakta tersebut merupakan faktor yang mendorong meningkatnya investasi di dalam dalam negeri masing-masing anggota dan intra-ASEAN serta masuknya investasi asing ke kawasan. Sebagai Negara dengan jumlah penduduk terbesar (40%) diantara Negara Anggota ASEAN, Indonesia diharapkan akan mampu menarik investor ke dalam negeri dan mendapat peluang ekonomi yang lebih besar dari Negara Anggota ASEAN lainnya.
Dari segi peningkatan investasi,berbagai negara ASEAN mengalami penurunan rasio investasi terhadap PDB sejak krisis, antara lain akibat berkembangnya regional hub-production. Tapi bagi Indonesia, salah satu faktor penyebab penting penurunan rasio investasi ini adalah belum membaiknya iklim investasi dan keterbatasan infrastuktur. Dalam rangka AEC 2015, berbagai kerjasama regional untuk meningkatkan infrastuktur (pipa gas, teknologi informasi) maupun dari sisi pembiayaan menjadi agenda. Kesempatan tersebut membuka peluang bagi perbaikan iklim investasi Indonesia melalui pemanfaatan program kerja sama regional, terutama dalam melancarkan program perbaikan infrasruktur domestik. Sedangkan, kepentingan untuk harmonisasi dengan regional menjadi prakondisi untuk menyesuaikan peraturan invetasi sesuai standar kawasan.
sampai yang paling mahal. Indonesia sebagai salah satu Negara besar yang juga memiliki tingkatintegrasi tinggi di sektor elektronik dan keunggulan komparatif pada sektor berbasis sumber daya alam, berpeluang besar untuk mengembangkan industri di sektor-sektor tersebut di dalam negeri.
6. Sektor Jasa yang terbuka. Di bidang jasa, ASEAN juga memiliki kondisi yang memungkinkan agar pengembangan sektor jasa dapat dibuka seluas-luasnya. Sektor-sektor jasa prioritas yang telah ditetapkan yaitu pariwisata, kesehatan, penerbangan dan e-ASEAN dan kemudian akan disusul dengan logistik. Namun, perkembangan jasa prioritas di ASEAN belum merata, hanya beberapa negara ASEAN yang mempunyai perkembangan jasa yang sudah berkembang seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Kemajuan ketiga negara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penggerakdan acuan untuk perkembangan liberalisasi jasa di ASEAN. Lebih lanjut, untuk liberalisasi aliran modal dapat berpengaruh pada peningkatan sumber dana sehingga memberikan manfaat yang positif baik pada pengembangan system keuangan, alokasi sumber daya yang efisien, serta peningkatan kinerja perekonomian secara keseluruhan.
Dari sisi jumlah tenaga kerja, Indonesia yang mempunyai penduduk yang sangat besar dapat menyediakan tenaga kerja yang cukup dan pasar yang besar, sehingga menjadi pusat industri. Selain itu, Indonesia dapat menjadikan ASEAN sebagai tujuan pekerjaan guna mengisi investasi yang akan dilakukan dalam rangka AEC 2015. Standardisasi yang dilakukan melalui Mutual Recognition Arrangements (MRAs) dapat memfasilitasi pergerakan tenaga kerja tersebut.
7. Aliran Modal. Dari sisi penarikan aliran modal asing, ASEAN sebagai kawasan dikenal sebagai tujuan penanaman modal global, termasuk CLMV khususnya Vietnam. AEC membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat memanfaatkan aliran modal masuk ke kawasan yang kemudian ditempatkan di aset berdenominasi rupiah. Aliran modal tersebut tidak saja berupa porsi dari portfolio regional tetapi juga dalam bentuk aliran modal langsung (PMA). Sedangkandari sisi peningkatan kapasitas dan kualitas lembaga, peraturan terkait, maupun sumber daya manusia, berbagai program kerja sama regional yang dilakukan tidak terlepas dari keharusan melakukan harmonisasi, standarisasi, maupun mengikuti MRA yang telah disetujui bersama. Artinya akan terjadi proses perbaikan kapasitas di berbagai institusi, sektor maupun peraturan terkait. Sebagai contoh adalah penerapan ASEAN Single Window yang seharusnya dilakukan pada tahun 2008 (hingga saat ini masih dalam proses) untuk ASEAN-6 mengharuskan penerapan sistem National Single Window (NSW) di masing-masing negara.
B. Tantangan
Hal yang menjadi tantangan bagi Indonesia dalam pembukaan pasar AEC 2015 ini sebagai bahan perenungan bagi Indonesia menuju persiapan AEC 2015, menurut buku “Menuju ASEAN Economic Community 2015” oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia, sebagai berikut:[5]
1. Laju Peningkatan Ekpor dan Impor. Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia memasuki integrasi ekonomi ASEAN tidak hanya yang bersifat internal di dalam negeri tetapi terlebih lagi persaingan dengan negara sesama ASEAN dan negara lain di luar ASEAN seperti China dan India.
Kinerja ekspor selama periode 2004 – 2008 yang berada di urutan ke-4 setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand, dan importer tertinggi ke-3 setelah Singapura dan Malaysia, merupakan tantangan yang sangat serius ke depan karena telah mengakibatkan neraca perdagangan Indonesia yang defisit terhadap beberapa Negara ASEAN tersebut.
2. Laju Inflasi. Tantangan lainnya adalah laju inflasi Indonesia yang masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan Negara lain di kawasan ASEAN. Stabilitas makro masih menjadi kendala peningkatan daya saing Indonesia dan tingkat kemakmuran Indonesia juga masih lebih rendah dibandingkan negara lain. Populasi Indonesia yang terbesar di ASEAN membawa konsekuensi tersendiri bagi pemerataan pendapatan, 3 (tiga) Negara ASEAN yang lebih baik dalam menarik PMA mempunyai pendapatan per kapita yang lebih tinggi dari Indonesia.
3. Dampak Negatif Arus Modal yang Lebih Bebas. Arus modal yang lebih bebas untuk mendukung transaksi keuangan yang lebih efisien, merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan, memfasilitasi perdagangan internasional, mendukung pengembangan sektor keuangan dan akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Namun demikian, proses liberalisasi arus modal dapat menimbulkan ketidakstabilan melalui dampak langsungnya pada kemungkinan pembalikan arus modal yang tiba-tiba maupun dampak tidak langsungnya pada peningkatan permintaaan domestik yang akhirnya berujung pada tekanan inflasi. Selain itu, aliran modal yang lebih bebas di kawasan dapat mengakibatkan terjadinya konsetrasi aliran modal ke Negara tertentu yang dianggap memberikan potensi keuntungan lebih menarik. Hal ini kemudian dapat menimbulkan risiko tersendiri bagi stabilitas makroekonomi.
4. Kesamaan Produk. Hal lain yang perlu dicermati adalah kesamaan keunggulan komparatif kawasan ASEAN, khususnya disektor pertanian, perikanan, produk karet, produk berbasis kayu, dan elektronik. Kesamaan jenis produk ekspor unggulan ini merupakan salah satu penyebab pangsa perdagangan intra-ASEAN yang hanya berkisar 20-25 persen dari total perdagangan ASEAN. Indonesia perlu melakukan strategi peningkatan nilai tambah bagi produk eskpornya sehingga mempunyai karakteristik tersendiri dengan produk dari Negara-negara ASEAN lainnya.
5. Daya Saing Sektor Prioritas Integrasi. Tantangan lain yang juga dihadapi oleh Indonesia adalah peningkatan keunggulan komparatif di sektor prioritas integrasi. Saat ini Indonesia memiliki keunggulan di sektor/komoditi seperti produk berbasis kayu, pertanian, minyak sawit, perikanan, produk karet dan elektronik, sedangkan untuk tekstil, elektronik, mineral (tembaga, batu bara, nikel), mesin-mesin, produk kimia, karet dan kertas masih dengan tingkat keunggulan yang terbatas.
6. Daya Saing SDM. Kemapuan bersaing SDM tenaga kerja Indonesia harus ditingkatkan baik secara formal maupun informal. Kemampuan tersebut diharapkan harus minimal memenuhi ketentuan dalam MRA yang telah disetujui. Pada tahun 2008-2009, Mode 3 pendirian perusahaan (commercial presence) dan Mode 4 berupa mobilitas tenaga kerja (movement of natural persons) intra ASEAN akan diberlakukan untuk sektor prioritas integrasi. Untuk itu, Indonesia harus dapat meningkatkan kualitas tenaga kerjanya sehingga bisa digunakan baik di dalam negeri maupun intra-ASEAN, untuk mencegah banjirnya tenaga kerja terampil dari luar. Pekerjaan ini tidaklah mudah karena memerlukan adanya cetak birum sistem pendidikan secara menyeluruh, dan sertifikasi berbagai profesi terkait.
7. Tingkat Perkembangan Ekonomi. Tingkat perkembangan ekonomi Negara-negara Anggota ASEAN hingga saat ini masih beragam. Secara sederhana, penyebutan ASEAN-6 dan ASEAN-4 dimaksudkan selain untuk membedakan tahun bergabungnya dengan ASEAN, juga menunjukkan perbedaan tingkat ekonomi. Apabila diteliti lebih spesifik lagi, tingkat kemajuan berikut ini juga terdapat diantara Negara Anggota ASEAN: (i) kelompok negara maju (Singapura), (ii) kelompok negara dinamis (Thailand dan Malaysia), (iii) kelompok negara pendapatan menengah (Indonesia, Filipina, dan Brunei), dan (iv) kelompok negara belum maju (CLMV). Tingkat kesenjangan yang tinggi tersebut merupakan salah satu masalah di kawasan yang cukup mendesak untuk dipecahkan agar tidak menghambat percepatan kawasan menuju AEC 2015. Oleh karenanya, ASEAN dalam menentukan jadwal komitmen liberalisasi mempertimbangkan perbedaan tingkat ekonomi tersebut. Dalam rangka membangun ekonomi yang merata di kawasan (region of equitable economic development), ASEAN harus bekerja keras di dalam negeri masing-masing dan bekerja sama dengan sesama ASEAN.
dengan kepentingan nasional, merupakan prioritas kedua. Hal ini berdampak pada sulitnya mencapai dan melaksanakan komitmen liberalisasi AEC Blueprint. Dapat dikatakan, kelemahan visi dan mandat secara politik serta masalah kepemimpinan di kawasan akan menghambat integrasi kawasan. Selama ini ASEAN selalu menggunakan pendekatan voluntary approachdalam berbagai inisiatif kerja sama yang terbentuk di ASEAN sehingga group pressurediantara sesama Negara Anggota lemah. Tentu saja hal ini berkonsekuensi pada pewujudan integrasi ekonomi kawasan akan dicapai dalam waktu yang lebih lama.
9. Kedaulatan Negara. Integrasi ekonomi ASEAN membatasi kewenangan suatu negara untuk menggunakan kebijakan fiskal, keuangan dan moneter untuk mendorong kinerja ekonomi dalam negeri. Hilangnya kedaulatan negara merupakan biaya atau pengorbanan terbesar yang ”diberikan’ oleh masing-masing Negara Anggota ASEAN. Untuk mencapai AEC 2015 dengan sukses, diperlukan kesadaran politik yang tinggi dari suatu negara untuk memutuskan ”melepaskan” sebagian kedaulatan negaranya. Kerugian besar lainnya adalah seperti kemungkinan hilangnya peluang kerja di suatu negara serta kemungkinan menjadi pasar bagi Negara ASEAN lainnya yang lebih mampu bersaing.