• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta Penelitian Kebahasaan di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peta Penelitian Kebahasaan di Indonesia"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Peta Penelitian Kebahasaan di Indonesia

Satu Sketsa Teoretis

STATISTIKA

ELI ANDRIYANI CAHYANINGRUM

10 001 095

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA

(2)

BAB 1

PENDAHULUAN

Seperti apakah peta penelitian kebahasaan di Indonesia ?. Aspek kebahasaan apa yang paling banyak diteliti di Indonesia? Teori linguistik apa yang paling banyak digunakan dalam penelitian kebahasaan di Indonesia? Apakah ada teori linguistik yang berbasis masalah kebahasaan di Indonesia? Dimanakah pusat penelitian kebahasaan yang mengkhususkan aspek kebahasaan tertentu di Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mudah untuk dijawab karena beberapa alasan. Pertama, belum ada pemetaan yang menyeluruh tentang penelitian kebahasaan di Indonesia. Kedua, belum ada sistem informasi terpadu tentang penelitian kebahasaan di Indonesia. Publikasi-publikasi yang dapat menjawab pertanyaanpertanyaan ini belum terhimpun atau belum tersedia secara luas. Ketiga, belum ada jaringan yang menghubungkan peneliti-peneliti bahasa yang tersebar di seluruh tanah air. Padahal pertanyaanpertanyaan di atas sangat penting untuk dijawab. Selain untuk mengetahui seperti apa perkembangan penelitian kebahasaan di Indonesia, termasuk seperti masalah kebahasaan apa yang diteliti, yang jauh lebih penting lagi ialah untuk memperoleh informasi tentang perkembangan ilmu bahasa, pendekatan, dan teorinya di Indonesia serta siapa yang menjadi tokoh dalam bidang itu.

(3)

penelitian bahasa sementara penelitian bahasa memanfaatkan linguistik dan teori linguistik sebagai kerangka teoretis penelitian. Dari sisi yang lain, perkembangan linguistik dan teori linguistik sangat bergantung pada hasil penelitian bahasa karena hanya melalui penelitianlah teori yang digunakan dapat diuji keandalannya untuk menjawab masalah kebahasaan yang diteliti. Sebaliknya, semakin handal satu teori semakin baik pemecahan masalah kebahasaan yang didapatkan.

Hasil penelitian pada dasarnya akan memberikan pengetahuan yang baru dalam bidang yang diteliti. Dengan demikian, penelitian kebahasaan pun akan memberikan hasil dalam bentuk pengetahuan baru tentang bahasa atau kebahasaan. Selain itu, pada tingkat tertentu hasil penelitian ini di antaranya akan memberikan pilihan jawaban terhadap masalah kebahasaan tertentu atau menawarkan kerangka teoretis untuk menyelesaikan masalah tersebut. Di lain pihak, sering melalui penelitian ini muncul pula gagasan baru untuk memperbaiki teori yang ada sehingga keterandalan teori tersebut semakin diakui secara luas.

Dari beberapa uraian di atas, satu pertanyaan lagi muncul di sini. Apakah semakin banyak penelitian bahasa berarti semakin pesat perkembangan bahasa atau teori linguistik di Indonesia? Setakat ini, penulis tidak bermaksud menyinggung pertanyaan tersebut dalam tulisan ini. Biarkanlah kajian yang lain lagi membahas pertanyaan ini dengan tuntas pada kesempatan yang lain pula.

(4)

pengamatan ini diuji terhadap hasil statistik dua kasus. Yang pertama penelitian kebahasaan dalam bentuk penelitian tesis S2 di Universitas Sumatera Utara dengan mengambil 129 judul tesis. Yang kedua artikel penelitian dalam jurnal Linguistik Indonesia dalam tiga nomor dari Februari 2007 sampai Februari 2008 dengan 25 judul artikel.

(5)

BAB 2

ISI

1.

Sketsa Pemetaan Kebahasaan

Sejauh ini belum pernah dilakukan pemetaan penelitian kebahasaan di Indonesia yang berupaya memetakan secara lengkap penelitian kebahasaan dari berbagai aspek. Pemetaan kebahasaan yang lengkap meliputi aspek objek kajian, misalnya apa bidang kebahasaan yang diteliti baik mikro maupun makrolinguistik, teori serta pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian, pengembangan teori dan pendekatan (yang tentu saja berbasis data bahasa-bahasa Nusantara), hasil publikasi dan penyebarannya, dan aspek pengkaji atau lembaga yang melakukan peneliti. Secara ringkas pemetaan yang lengkap akan mencakup:

1. objek kajian;

2. teori yang digunakan;

3. hasil baru yang diperoleh (teoretis atau praktis); 4. sumber daya penelitian.

(6)

penelitian linguistik (dasar) seperti penelitian fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik bahasa cenderung lebih sedikit pada beberapa tahun terakhir ini.

Selanjutnya, dengan mengambil kajian tesis pascasarjana linguistik sebagai kasus, peta penelitian kebahasaan di Indonesia dapat lebih jauh digambarkan dalam sketsa. Kelihatannya hasil pengamatan awal terhadap kecenderungan penelitian kebahasaan didukung oleh data kasus yang diperoleh dari program S2 linguistik di Universitas Sumatera Utara. Sosiolinguistik ternyata menjadi objek penelitian kebahasaan terbanyak dalam tesis mahasiswa, yang kemudian disusul oleh kajian sintaksis. Sementara itu, kajian kebahasaan dalam pendekatan Linguistik Fungsional Sistemik termasuk yang banyak dilakukan oleh mahasiswa dalam program studi ini (periksa Gambar 1).

Gambar 1. Distribusi Penelitian Tesis S2 Linguistik dalam Berbagai Bidang Kajian

(7)

Dari pengamatan terhadap judul dan isi artikel penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ini diperoleh data tentang bidang kebahasaan yang diteliti. Objek kajian yang cenderung paling banyak dibahas adalah sintaksis dan sosiolinguistik. Bedanya ialah pada penelitian tesis S2 kajian sosiolinguistik lebih menonjol dari kajian sintaksis sementara dalam jurnal linguistik sebaliknya kajian sintaksis yang lebih tinggi jumlahnya (Periksa Gambar 2).

Mengapa sosiolinguistik begitu menonjol dalam kajian kebahasaan pada akhir-akhir ini? Salah satu jawaban yang memungkinkan adalah persoalan bahasa dalam masyarakat kelihatannya lebih menarik perhatian peneliti karena penelitian seperti ini berhadapan langsung dengan persoalan aktual yang ditemukan di tengah-tengah masyarakat. Persoalan penggunaan bahasa dalam berbagai konteks penggunaan memberikan daya tarik tersendiri bagi peneliti. Selain itu, metodologi yang berbeda dengan penelitian fonologi, morfologi, sintaksis ataupun semantik juga mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti. Namun, termasuk hal yang menjadi salah satu penyebab adalah dorongan yang muncul dari kalangan peneliti di perguruan tinggi yang kebetulan baru pulang studi lanjut di dalam dan luar negeri dan membawa tradisi penelitian baru ke lingkungan perguruan tingginya. Tradisi baru penelitian ini pada umumnya berhubungan dengan sosiolinguistik, pragmatik, ataupun analisis wacana.

(8)

terbukti melalui data yang diperlihatkan oleh kedua sumber data yang digunakan di sini (Periksa Gambar 1 dan 2).

Gambar 2. Distribusi Artikel Penelitian dalam Berbagai Bidang Kajian

Penelitian dasar atau mikrolinguistik masih sangat diperlukan di Indonesia. Indonesia yang sangat kaya dengan bahasa daerah dan belum seluruh aspek fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantiknya diteliti secara menyeluruh dengan menggunakan berbagai teori linguistik yang mutakhir. Rendahnya tingkat penelitian ini menyebabkan lambatnya perkembangan teori linguistik modern di Indonesia. Tingkat ketercukupan teoretis penelitian ini turut memperburuk situasi teori linguistik di tanah air.

1.

Tingkat Ketercukupan Penelitian Bahasa

(9)

kerangka teoretis secara bertingkat dari setiap tahapan analisis data. Analisis data sering dilakukan langsung setelah kegiatan pengumpulan data atau pengumpulan dan analisis data berlangsung serentak.

Dalam kedua aspek metodologis yang disebut-sebut di atas, pertanyaan sama yang sering muncul pada saat melakukan upaya analisis bahasa atau menteorikan bahasa ialah sejauh manakah tingkatan teoritis yang akan dicapai? Apakah analisis atau teori yang dicapai sebatas deskriptif, atau bahkan lebih jauh lagi, teori eksplanatoris? Atau, apakah teori bahasa harus mencapai baku eksplanatoris?

Dalam tradisi Chomsky, menteorikan bahasa dilakukan melalui penelitian gramatika, yang hasilnya dinilai berdasarkan dua baku ‘ketercukupan’, yaitu descriptive adequacy dengan explanatory adequacy. Prof. Anton M. Moeliono memperkenalkan istilah ‘kepadaan’ untuk konsep yang sama dengan ‘ketercukupan’. Dalam makalah ini istilah ‘ketercukupan’ digunakan selain sebagai pengayaan padanan istilah, juga karena istilah ‘standar ketercukupan’ digunakan dalam bidang non-linguistik secara luas. Indonesia secara eksplanatoris tidak semata memerikan tata-bahasa tetapi memberi prakiraan tentang bagaimana pengetahuan bahasa (linguistik) direpresentasikan secara batin dalam diri manusia-manusia Indonesia.

Beliau membedakan penulisan gramatika atau tata-bahasa yang berhasil mencapai ketercukupan deskriptif dengan yang berhasil lebih jauh lagi dan memperoleh ketercukupan eksplanatoris.

(10)

sudah memerikan bahasa Indonesia secara keseluruhan. Sementara itu, tata-bahasa bahasa Indonesia yang mencapai baku eksplanatoris memiliki ciri-ciri tambahan, yaitu tata-bahasa itu memberikan wawasan tentang struktur dasar bahasa Indonesia yang terdapat dalam pikiran (minda) manusia Indonesia.

2.

Tata-bahasa bahasa

Menurut Chomsky, hakikat representasi batin ini pada umumnya bersifat bawaan (innate). Ini berarti apabila satu tata-bahasa sudah mempunyai baku eksplanatoris, tata-bahasa itu harus mampu menjelaskan berbagai nuansa gramatikal bahasa-bahasa dunia karena dalam pola semesta bahasa manusia dianggap terdapat variasi yang relatif kecil di antara satu bahasa dengan bahasa lainnya. Teori linguistik atau analisis bahasa tingkat eksplanatoris bersandar pada tatabahasa semesta. Ditambah dengan asumsi-asumsi lainnya, kemudian selanjutnya Chomsky berpandangan pula bahwa tujuan analisis bahasa haruslah pada ketercukupan eksplanatoris.

(11)

Seperti yang dapat diamati sejak awal dalam tulisan-tulisan Chomsky dan dalam perkembangannya berikutnya, tata-bahasa generatif bertujuan untuk menjadi teori eksplanatoris. Namun seperti yang disebut Dryer, prinsip utama tata-bahasa generatif terletak pada ide bahwa satu teori dapat berperan sekaligus sebagai teori deskriptif dan teori eksplanatoris. Hal ini sejalan dengan pandangan Chomsky tentang pengetahuan bahasa yang bersifat bawaan. Jikalau bahasa diyakini berbentuk seperti apa adanya karena pengetahuan bahasa yang bersifat bawaan, maka teori tentang pengetahuan bahasa bawaan secara serentak berperan sebagai teori deskriptif (apakah bahasa atau bahasa itu seperti apa) dan teori eksplanatoris (mengapa bahasa seperti apa adanya) (Selanjutnya periksa Dryer, 2006). Chomsky (1965) sendiri memang mengatakan bahwa tujuan tata-bahasa haruslah pada ketercukupan eksplanatoris dan Chomsky juga memberikan argumentasi bahwa walaupun peneliti bahasa masih belum mencapai tingkat ketercukupan deskriptif, langkah-langkah kemajuan untuk mencapai baku deskriptif ini hanya dapat diperoleh apabila peneliti menetapkan ketercukupan eksplanatoris sebagai tujuan penelitiannya.

(12)

3.

Mengangkat Penelitian Kebahasaan di Indonesia

Indonesia kaya raya dengan keragaman bahasa dan merupakan sumber daya linguistik yang kaya bagi penelitian bahasa dan aspek berbahasa. Sangat disayangkan sekali belum ada teori bahasa yang mutakhir yang muncul dalam khazanah linguistik Indonesia maupun dunia yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia dan bersumber dari pemanfaatan kekayaan keragaman bahasa ini. Kelihatannya, penelitian kebahasaan di Indonesia belum mampu memenuhi harapan ini.

Kelemahan penelitian kebahasaan di Indonesia di antaranya disebabkan oleh beberapa masalah berikut:

1. jumlah sumber rujukan teori linguistik mutakhir dalam bahasa Indonesia; 2. penerjemahan buku linguistik berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia;

3. frekuensi lokakarya metodologi penelitian linguistik dalam berbagai teori dan pendekatan;

4. dana penelitian kebahasaan; dan

4.

jumlah kegiatan ilmiah kebahasaan yang mengangkat kekuatan bahasa

daerah

(13)

penelitian kebahasaan, yang selanjutnya menjadi sumber daya bagi pelaksanaan lokakarya metodologi penelitian linguistik dalam berbagai teori dan pendekatan.

(14)

BAB 3

PENUTUP

Upaya pemetaan lengkap penelitian kebahasaan di Indonesia sudah mendesak untuk dilakukan agar diperoleh informasi perkembangan penelitian kebahasaan di Indonesia, sekaligus informasi tentang perkembangan ilmu bahasa, pendekatan, dan teorinya di Indonesia. Selain dapat menggambarkan keadaan sebenarnya, pemetaan ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam kebijakan penelitian kebahasaan, khususnya untuk meningkatkan kualitas penelitian dan penyebaran informasi mutakhir tentang teori linguistik.

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Chomsky, Noam (1956). “Three models for the description of language”. IRE Transactions on Information Theory 2: 113- 124.

Chomsky, Noam (1965). Aspects of the Theory of Syntax. MIT Press. Chomsky, Noam (1986). Knowledge of Language. New York: Praeger. Chomsky, Noam (1995). The Minimalist Program. MIT Press.

Gambar

Gambar  1. Distribusi Penelitian Tesis S2 Linguistik dalam Berbagai Bidang Kajian
Gambar 2. Distribusi Artikel Penelitian dalam Berbagai Bidang Kajian

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis data penelitian yang ada pada Database Trichogramma ini, aspek yang paling banyak diteliti dari parasitoid telur Trichogrammatidae di Indonesia adalah

 Misalnya teori tentang keaktifan dan prestasi belajar, • Keterkaitan antara tindakan dengan objek yang.

Karena dalam penelitian ini objek yang akan diteliti adalah tentang citra perempuan, maka aspek fisis dapat dilihat dari tanda-tanda tubuh yang tampak pada

Dalam aspek subjek yang diteliti sama dengan penelitian ini akan tetapi objek yang akan diteliti berbeda, juga pada fokus penelitian nya bukan pada kategorisasi isi pesan

Peneliti yang menggunakan metode penelitian kualitatif memulai pengumpulan data dengan topik umum dan apa yang relevan dengan objek yang diteliti.. Dengan

Sejak tahun 2012 hingga 2015 Balai Arkeologi Ambon mulai melakukan studi yang lebih terarah meliputi pemetaan potensi secara lengkap serta rangkaian ekskavasi untuk

Kategorisasi untuk analisis isi pada umumnya tidak berasal dari teori-teori, namun dibentuk dengan menguji dokumen yang diteliti, serta menegaskan unsur-unsur umum apa saja yang

Sementara data aspek wisata berkaitan dengan potensi lanskap kawasan, objek dan atraksi serta aktivitas wisata yang dapat dilakukan dalam kawasan pelestarian,