• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Perkembangan Industri Pembekuan iid

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Skripsi Perkembangan Industri Pembekuan iid"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Masalah yang tengah menghambat perkembangan industri pembekuan perikanan selain terlihat dari penurunan kontribusinya terhadap PDB juga bisa dilihat dari tren penurunan jumlah perusahaan pada beberapa tahun belakangan. Penelitian ini mendokumentasikan faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan di industri pembekuan perikanan. Analisis menggunakan data perusahaan besar dan sedang periode 2006 – 2011 yang diperoleh dari BPS. Hasil menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan ukuran lebih besar, produktivitas lebih tinggi, intensitas kapital lebih tinggi, rasio ekspor lebih tinggi, dan tidak terjadi krisis cenderung untuk bertahan. Hasil lainnya menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan ukuran lebih kecil, produktivitas lebih tinggi, rasio ekspor lebih tinggi cenderung untuk tumbuh lebih cepat. Intensitas kapital memiliki dampak yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan melalui karakteristik industri yang bersifat padat karya.

Kata kunci: kebertahanan; pertumbuhan; industri pembekuan perikanan

ABSTRACT

The things that obstruct the development of fishery freezing industry apart from the declining on its contribution to GDP also can be seen from the declining number companies earlier. This research documents the determinants of firm survival and growth in fishery freezing industry. The analysis uses data of LMEs (large and medium enterprises) for period 2006 - 2011 taken from BPS. The results indicate that firms with larger size, higher productivity, higher capital intensity, higher export ratio, and no crisis occurs are likely to survive. The other results indicate that firms with smaller size, higher productivity, higher export ratio are likely to grow faster. The capital intensity has insignificant impact on firm growth. It is related to industrial characteristic that labor intensive.

(4)

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iii

ABSTRAK ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Metodologi Penelitian ... 8

1.4.1 Metode Pengumpulan Data ... 8

1.4.2 Metode Pengolahan Data ... 8

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 8

1.6 Hipotesis ... 9

1.7 Sistematika Penulisan ... 9

2. TINJAUAN LITERATUR ... 11

2.1 Teori Kebertahanan Perusahaan ... 11

2.1.1 Kebertahanan Perusahaan pada Jangka Pendek... 11

2.1.2 Kebertahanan Perusahaan pada Jangka Panjang ... 12

2.2 Teori Pertumbuhan Perusahaan ... 13

2.3 Hubungan Ukuran terhadap Kebertahanan dan Pertumbuhan ... 15

2.4 Penelitian tentang Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan ... 16

2.4.1 Jurnal Utama ... 16

2.4.2 Penelitian-penelitian tentang Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan ... 20

3. PROFIL INDUSTRI PEMBEKUAN PERIKANAN INDONESIA ... 23

3.1 Gambaran Umum Industri Pengolahan Perikanan ... 23

3.2 Gambaran Industri Pembekuan Perikanan ... 27

3.3 Struktur Pasar Industri Pembekuan Perikanan ... 31

(5)

3.6.1 Tingkat Utilisasi Belum Optimal ... 38

3.6.2 Hambatan Tarif dan Non-Tarif ... 40

3.6.3 Mahalnya Biaya Distribusi ... 43

4. METODOLOGI PENELITIAN ... 44

4.1 Spesifikasi Data ... 44

4.2 Spesifikasi Model ... 44

4.2.1 Model Empiris Kebertahanan Perusahaan (Firm Survival) ... 44

4.2.2 Model Empiris Pertumbuhan Perusahaan (Firm Growth) ... 47

4.3 Metode Pengolahan Data ... 50

4.3.1 Metode Regresi Probit ... 51

4.3.2 Metode Regresi OLS ... 52

4.3.3 Pengujian Heckman ... 53

5. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 54

5.1 Analisis Deskriptif ... 54

5.1.1 Ukuran Perusahaan ... 54

5.1.2 Produktivitas Perusahaan ... 55

5.1.3 Ekspor Perusahaan ... 56

5.1.4 Intensitas Kapital Perusahaan ... 58

5.2 Analisis Statistik ... 61

5.2.1 Analisis Komprehensif tentang Kebertahanan Perusahaan ... 62

5.2.1.1 Ukuran Perusahaan... 62

5.2.1.2 Produktivitas Perusahaan ... 63

5.2.1.3 Intensitas Kapital Perusahaan ... 64

5.2.1.4 Ekspor Perusahaan ... 65

5.2.1.5 Krisis Global Tahun 2008 – 2009 ... 66

5.2.2 Analisis Komprehensif tentang Pertumbuhan Perusahaan ... 69

5.2.2.1 Ukuran Perusahaan... 69

5.2.2.2 Produktivitas Perusahaan ... 69

5.2.2.3 Ekspor Perusahaan ... 72

(6)

6.2 Saran ... 76

6.3 Keterbatasan Penelitian ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

LAMPIRAN ... 80

(7)

Tabel 1.1 Produk Domestik Bruto Sektor Perikanan atas Dasar Harga Konstan

Tahun 2000, 2006 – 2011 (milyar rupiah) ... 2

Tabel 2.1 Kontribusi PDB Industri Pengolahan Perikanan terhadap PDB Indonesia atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000, 2006 – 2011 (persen) ... 3

Tabel 1.2 Tabel Rangkuman Jurnal Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan 20 Tabel 2.2 Tabel Rangkuman Penelitian Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan Studi Kasus di Indonesia ... 22

Tabel 1.3 Ruang Lingkup Industri Pengolahan Perikanan ... 24

Tabel 2.3 Volume Produksi Industri Pengolahan Perikanan Menurut Jenis Olahan Tahun 2002 – 2012 (unit ton)... 24

Tabel 3.3 Tabel Indeks CR4 dan HHI Industri Pembekuan Perikanan... 31

Tabel 4.3 Sebaran Perusahaan Pembekuan Perikanan di Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa Tahun 2006 – 2011 (dalam unit) ... 33

Tabel 5.3 Pertumbuhan Nilai Ekspor dan Nilai Impor Perikanan Beku Indonesia atas Harga Konstan Tahun 2005, 2006 – 2011 (ribu USD) ... 35

Tabel 6.3 Tingkat Utilitasi Kapasitas Industri Pengolahan Perikanan ... 38

Tabel 7.3 Kontribusi Bahan Baku Impor Industri Pembekuan Perikanan atas Dasar Harga Konstan Tahun 2005, Tahun 2006 – 2011 (persen) ... 39

Tabel 8.3 Tarif Impor Udang Beku dan Fillet Beku Indonesia di Uni Eropa ... 40

Tabel 9.3 Daftar Regulasi Standar Keselamatan Pangan di Uni Eropa ... 41

Tabel 10.3 RASFF Produk Hasil Perikanan Indonesia di Uni Eropa ... 43

Tabel 1.4 Definisi Variabel pada Persamaan Kebertahanan Perusahaan ... 45

Tabel 2.4 Definisi Variabel pada Persamaan Pertumbuhan Perusahaan... 47

Tabel 2.5 Statistik Deskriptif Data Regresi... 59

Tabel 3.5 Ringkasan Hasil Regresi ... 61

(8)

Gambar 1.1 Tren Ekspor Perikanan Beku Indonesia ke Pasar Internasional atas

Dasar Harga Konstan Tahun 2005, 2006 – 2011 ... 4

Gambar 2.1 Jumlah Perusahaan di Industri Pembekuan Perikanan (unit) ... 5

Gambar 3.1 Jumlah Tenaga Kerja di Industri Pembekuan Perikanan ... 6

Gambar 1.2 Keputusan Berhenti Beroperasi pada Jangka Pendek ... 11

Gambar 2.2 Keputusan Keluar dari Pasar pada Jangka Panjang ... 12

Gambar 3.2 Perubahan Ukuran Perusahaan ... 14

Gambar 4.2 Perbandingan Biaya dan Pertumbuhan antara Perusahaan Kecil dan Perusahaan Besar ... 15

Gambar 1.3 Nilai Output Industri Pengolahan Perikanan berdasarkan Tingkat Subsektor atas Harga Konstan Tahun 2005, 2006 – 2011 ... 25

Gambar 2.3 Jumlah Perusahaan Industri Pengolahan Perikanan berdasarkan Tingkat Subsektor Tahun 2006 – 2011 (unit) ... 26

Gambar 3.3 Jumlah Tenaga Kerja Industri Pengolahan Perikanan berdasarkan Tingkat Subsektor Tahun 2006 – 2011 (satuan orang) ... 27

Gambar 4.3 Pohon Industri Pembekuan Perikanan... 28

Gambar 5.3 Volume Produksi Perikanan Tahun 2006 – 2013 (ribu ton) ... 29

Gambar 6.3 Tahapan Proses Produksi Perikanan Beku ... 30

Gambar 7.3 Lokasi Perusahaan Pembekuan Ikan Menurut Propinsi ... 34

Tahun 2012 ... 34

Gambar 8.3 Lokasi Perusahaan Pembekuan Udang Menurut Propinsi ... 34

Tahun 2012 ... 34

Gambar 10.3 Distribusi Volume Impor Perikanan Beku Indonesia berdasarkan Negara Asal Tahun 2010 – 2013 (rata-rata persen) ... 36

Gambar 11.3 Grafik Volume Ekspor Udang Beku Indonesia Beserta Pesaingnya di Pasar Internasional Tahun 2000 – 2013 (ribu ton) ... 37

Gambar 1.5 Grafik Rata-rata Jumlah Tenaga Kerja Perusahaan Pembekuan Perikanan Tahun 2006 – 2011 (dalam satuan orang) ... 54

Gambar 2.5 Grafik Rata-rata Produktivitas Tenaga Kerja Perusahaan Pembekuan Perikanan Tahun 2006 – 2011 (dalam rupiah/orang) ... 55

Gambar 3.5 Grafik Rata-rata Rasio Nilai Ekspor Perusahaan Pembekuan Perikanan Tahun 2006 – 2011 (dalam persen) ... 56

(9)
(10)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan luas laut yang membentang kurang lebih 5,8 juta km2, Indonesia tumbuh menjadi salah satu negara penghasil ikan terbesar di dunia. Berdasarkan laporan FAO1, pada tahun 2012 produksi perikanan tangkap dunia mencapai 79 juta ton. Indonesia menempati peringkat ke dua terbesar dunia dengan produksi perikanan tangkap sebesar 5,8 juta ton diikuti USA 5,1 juta ton dan Peru 4,8 juta ton. Cina menempati peringkat pertama dengan produksi 16 juta ton. Dari total hasil perikanan tangkap dan budidaya pada tahun 2012, Cina menyumbang 17,4%

share perikanan dunia sementara Indonesia 6,8%. Dengan kekayaan alam dan

keanekaragaman hayati Indonesia yang berlimpah, komoditi hasil bumi perikanan

berpeluang untuk menjadi sumber penerimaan negara (Kemenperin, 2011).

Meskipun Indonesia mampu menghasilkan belasan juta ton dari total produksi perikanan tangkap dan budidaya, sumber daya tersebut nampaknya relatif belum memberikan banyak kontribusi terhadap basis industri pengolahan perikanan dalam negeri. Tabel 1.1 menampilkan nilai PDB yang dihasilkan oleh sektor perikanan, baik industri hulu maupun industri hilir selama rentang periode 2006 – 2011. Tabel tersebut menginformasikan dua hal. Pertama, rata-rata laju pertumbuhan PDB industri hilir (pengolahan perikanan) hanya sebesar 4,05% dimana angka ini lebih kecil dari rata-rata laju pertumbuhan PDB industri hulu (perikananan tangkap dan budidaya) yang sebesar 5,52%. Kedua, jika dirata-rata ditemukan bahwa nilai PDB industri hilir adalah lima kali lebih kecil dari nilai PDB yang dihasilkan oleh industri hulu. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan industri pengolahan perikanan relatif lebih lambat dibandingkan pertumbuhan industri perikanan tangkap dan budidaya dan juga dapat dikatakan bahwa secara umum ekonomi perikanan Indonesia masih didominasi aktivitas nelayan/pembudidaya ketimbang pengolahannya.

1 FAO (Food and Agriculture Organization): organisasi pangan dan pertanian dunia

1

Universitas Indonesia

(11)

Tabel 1.1 Produk Domestik Bruto Sektor Perikanan atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000, 2006 – 2011 (milyar rupiah)

Lapangan

Usaha 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Laju rata-rata (%) Sektor

Perikanan 49.529,2 52.043,6 54.585,9 57.062,1 60.185,7 63.965,6 5,25 a. industri

hulu 41.419,1 43.652,8 45.866,2 47.775,1 50.661,8 54.186,7 5,52 b. industri

hilir 8.110,1 8.390,8 8.719,7 9.287,0 9.523,9 9.894,4 4,05 PDB

Indonesia 1.847.126,7 1.964.327,3 2.082.315,9 2.178.850,4 2.314.458,8 2.464.676,5 5,94

Sumber: Statistik Kelautan dan Perikanan

Berdasarkan KBLI 2005, industri pengolahan perikanan adalah industri yang didalamnya terdapat enam subsektor industri pengolahan yang menurut jenis pengolahannya dapat dikelompokkan menjadi industri pengolahan modern dan pengolahan tradisional. Industri pengolahan perikanan modern mencakup industri pengalengan dan industri pembekuan, sementara industri pengolahan perikanan tradisonal mencakup industri pengasinan, industri pengasapan, dan industri pemindangan. Secara umum letak perbedaannya ialah jika dibandingkan dengan industri pengolahan perikanan tradisional, industri pengolahan perikanan modern dalam operasinya lebih banyak menggunakan mesin-mesin berteknologi dan juga menggunakan jenis bahan baku komoditi perikanan yang bernilai ekonomi tinggi.

Tabel 2.1 berikut ini menampilkan angka kontribusi yang dihasilkan oleh tiap-tiap subsektor industri pengolahan perikanan selama tahun 2006 – 2011. Pada tingkat subsektor, industri pembekuan perikanan memberikan kontribusi PDB

(12)

2011. Penurunan kontribusi juga dialami oleh industri pengalengan dari 0,04% tahun 2006 menjadi 0,03% tahun 2011. Sementara fluktuasi kontribusi dari subsektor industri pengasinan, industri pengasapan, dan industri pemindangan sulit untuk diamati karena kontribusinya yang relatif sangat kecil.

Tabel 2.1 Kontribusi PDB Industri Pengolahan Perikanan terhadap PDB Indonesia atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000, 2006 – 2011 (persen)

Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Industri Pengolahan Perikanan 0.44 0.43 0.41 0.42 0.41 0.40

1. Industri Skala Besar & Sedang 0.27 0.26 0.26 0.27 0.26 0.25 a. Industri pengasinan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 b. Industri pengalengan 0.04 0.04 0.04 0.04 0.03 0.03 c. Industri pengasapan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 d. Industri pembekuan 0.21 0.20 0.19 0.21 0.20 0.19 e. Industri pemindangan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 f. Industri pengolahan lainnya 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2. Industri Skala Kecil 0.17 0.16 0.15 0.15 0.15 0.14

PDB Indonesia 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Sumber : Statistik Kelautan dan Perikanan, diolah

(13)

Hasil perikanan yang bahan bakunya berlimpah di lautan nusantara dan produknya begitu diminati kalangan internasional berpotensi menjadi sumber devisa negara. Pengolahan ikan secara modern seperti olahan ikan beku umumnya ditujukan untuk komoditas ekspor (KKP, 2007). Berdasarkan perhitungan data volume ekspor dari UN comtrade pada tahun 2011, sebanyak 43% perikanan beku diekspor ke Amerika, Jepang 27%, Uni Eropa 11% dan lain-lain 19%. Dari volumenya, krustasea adalah penyumbang terbesar dengan kontribusi 45%, diikuti ikan 29%, dan moluska 26%. Pada golongan krustasea tersebut, komoditas udang beku (frozen shrimps and prawns) mendominasi 96% didalamnya. Gambar 1.1 memperlihatkan bahwa volume ekspor perikanan beku Indonesia meningkat dari 217 ribu ton tahun 2006 dengan nilai 11,4 juta USD menjadi 248 ribu ton tahun 2011 namun dengan nilai yang justru menurun, yakni hanya sebesar 9,6 juta USD. Penurunan nilai ekspor paling tajam terjadi pada tahun 2009, yakni sebesar -31%. Diduga hal tersebut disebabkan lesunya daya beli sebagian besar negara importir sebagai imbas dari krisis global. Sedangkan peningkatan ekspor yang terjadi sejak tahun 2011 diduga dipengaruhi oleh lonjakan permintaan udang beku Indonesia

untuk mengisi pasokan udang dunia sebab sebagian besar negara penghasil udang di asia terjangkit wabah EMS yang berakibat terjadinya penurunan supply.

Gambar 1.1 Tren Ekspor Perikanan Beku Indonesia ke Pasar Internasional atas Dasar Harga Konstan Tahun 2005, 2006 – 2011

Sumber : UN Comtrade, diolah

0 2 4 6 8 10 12

0 50 100 150 200 250 300

2006 2007 2008 2009 2010 2011

(14)

Masalah yang tengah menghambat perkembangan industri pembekuan perikanan selain terlihat dari penurunan kontribusinya terhadap PDB juga bisa dicermati dari fenomena menurunnya jumlah perusahaan sepanjang 2006 – 2011. Selama periode tersebut jumlah perusahaan tumbuh dengan rata-rata -8,3%. Thomas Darmawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), menuturkan bahwa pada beberapa tahun belakangan banyak perusahaan pengolahan udang dan ikan beku bertumbangan.2 Jumlah perusahaan menurun dari 399 unit tahun 2006 menjadi 258 unit pada tahun 2011. Pada tahun 2008 sebanyak 40 unit perusahaan ditemukan tumbang. Angka tersebut meningkat menjadi dua kali lipatnya, yakni 80 unit, pada tahun 2009. Kemerosotan selama periode 2008 – 2009 tersebut diduga merupakan dampak buruk dari krisis global. Jika dilihat secara spasial, 62% perusahaan yang tumbang pada tahun 2009 berlokasi di Pulau Jawa dimana Propinsi DKI Jakarta dan Propinsi Jawa Tengah memiliki tingkat kemerosotan paling tinggi, sedangkan 38% sisanya berlokasi di luar Pulau Jawa dimana wilayah kemerosotan paling tinggi terjadi di Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Tenggara.

Gambar 2.1 Jumlah Perusahaan di Industri Pembekuan Perikanan (unit)

Sumber : BPS, industri skala besar dan sedang

2 Veri Nurhansyah Tragistina, “Industri pengolahan ikan dan udang bertumbangan“http://industri. kontan.co.id/news/industri-pengolahan-ikan-dan-udang-bertumbangan-1, diakses pada 03/ 14/2015

399

419

379

299

281

258

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450

2006 2007 2008 2009 2010 2011

(15)

Pada tahun 2011, industri pembekuan perikanan mampu menyerap 6,98% dari seluruh tenaga kerja pada industri makanan dan mampu menyerap 1,1% dari seluruh tenaga kerja pada industri manufaktur. Jika diamati dari ruang lingkup industri pengolahan perikanan itu sendiri, industri pembekuan unggul dengan kemampuannya menyerap 56% tenaga kerja berikutnya industri pengalengan 20%, industri pengasinan 7%, industri pemindangan 3%, dan industri pengasapan 1%. Artinya, industri pembekuan perikanan memiliki peran yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja di antara industri-industri pengolahan perikanan lainnya. Meskipun begitu, statistik menunjukkan bahwa belakangan ini jumlah tenaga kerja di industri pembekuan terus merosot. Jumlah tenaga kerja menurun dari 72 ribu orang tahun 2006 menjadi 51 ribu orang tahun 2011. Selama periode tersebut jumlah tenaga kerja tumbuh negatif dengan rata-rata -6,6%. Krisis global ketika itu berakibat kepada penurunan jumlah tenaga kerja tahun 2009 sebesar -15,65%. Pertumbuhan tenaga kerja ini pada gilirannya dapat mencerminkan pertumbuhan perusahaan karena jumlah tenaga kerja merupakan salah satu proksi untuk mengukur size perusahaan (Carrizosa, 2006). Dengan kata lain, penurunan

pertumbuhan tenaga kerja yang terjadi di industri pembekuan perikanan ini selanjutnya dapat dinyatakan juga sebagai penurunan pertumbuhan perusahaan di industri pembekuan perikanan.

Gambar 3.1 Jumlah Tenaga Kerja di Industri Pembekuan Perikanan

Sumber : BPS, industri skala besar dan sedang 72915

67884

63020

53157 54368 51769

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000

(16)

1.2 Perumusan Masalah

Pada tingkat makro terlihat bahwa secara umum telah terjadi penurunan kontribusi PDB pada industri pengolahan perikanan selama tahun 2006 – 2011. Secara spesifik penurunan kontribusi PDB relatif hanya dialami pada industri pembekuan perikanan dan industri pengalengan perikanan, sedangkan fluktuasi kontribusi PDB pada industri pengasinan perikanan, industri pemindangan perikanan, dan industri pengasapan perikanan sulit diamati karena kontribusinya yang relatif sangat kecil. Pada tingkat mikro, masalah yang tengah dihadapi oleh industri pembekuan perikanan juga terlihat dari fenomena penurunan jumlah perusahaan dan jumlah tenaga kerja sepanjang tahun 2006 – 2011. Selama periode tersebut jumlah perusahaan tumbuh -8,3%, sementara jumlah tenaga kerja tumbuh -6,6%. Hal ini merupakan indikasi bahwa diduga masalahnya terletak pada performa kebertahanan dan pertumbuhan perusahaan. Analisis kebertahanan biasa dilakukan terhadap industri-industri yang jumlah para pemain didalamnya terus berkurang dalam kurun beberapa tahun. Jika hal ini dibiarkan, perkembangan industri pembekuan perikanan di Indonesia dapat dipastikan semakin mengalami

kemunduran. Hal ini tentu juga bisa mempengaruhi pendapatan devisa dari sektor kelautan perikanan karena industri pembekuan perikanan memegang persentase ekspor paling besar dibandingkan industri-industri pengolahan perikanan lainnya.

Selain itu dampak kemunduran ini juga bisa langsung berimbas kepada peningkatan jumlah pengangguran apalagi mengingat bahwa industri pembekuan perikanan relatif paling banyak menyerap tenaga kerja di antara subsektor industri-industri pengolahan perikanan lainnya.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya maka tujuan dari riset ini adalah ingin meneliti

1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi performa kebertahanan perusahaan di industri pembekuan perikanan.

(17)

1.4 Metodologi Penelitian

1.4.1 Metode Pengumpulan Data

Studi ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya Badan Pusat Statistik (BPS), UN Comtrade, publikasi dari lembaga-lembaga Pemerintah seperti Kementerian Perindustrian RI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

1.4.2 Metode Pengolahan Data

Data diolah dalam bentuk pooled cross-section. Data mentah yang masih dalam nilai nominal akan dideflasi dengan Indeks Harga Perdagangan Besar untuk mendapatkan nilai riilnya. Karena penelitian ini hanya menganalisis firm exit, pengolahan data akan mengeluarkan perusahaan-perusahaan yang baru masuk (entry) ke dalam industri di sepanjang tahun berjalan (2007 – 2011). Selanjutnya model kebertahanan perusahaan akan diestimasi dengan metode regresi probit, sementara model pertumbuhan perusahaan diestimasi dengan metode regresi OLS.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Objek penelitian ini terfokus pada industri pembekuan ikan dan biota air

lainnya kode 15124 (KBLI 2005). Karena komoditi dalam industri ini tidak hanya mencakup ikan tapi juga ada krustasea dan moluska, penelitian ini seterusnya akan menyebutnya sebagai industri pembekuan perikanan. Analisis dilakukan

(18)

1.6 Hipotesis

 Ukuran perusahaan signifikan mempengaruhi kebertahanan perusahaan dengan arah positif dan mempengaruhi pertumbuhan perusahaan dengan arah negatif.

 Produktivitas perusahaan signifikan dalam mempengaruhi kebertahanan perusahaan dan pertumbuhan perusahaan dengan arah positif.

 Ekspor signifikan dalam mempengaruhi kebertahanan perusahaan dan pertumbuhan perusahaan dengan arah positif.

 Intensitas kapital signifikan mempengaruhi kebertahanan perusahaan dan pertumbuhan perusahaan dengan arah positif.

 Krisis global signifikan mempengaruhi kebertahanan perusahaan dengan arah negatif.

1.7 Sistematika Penulisan

BAB 1 : PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis penelitian, metode penelitian, ruang lingkup penelitian, dan

sistematika penulisan.

BAB 2 : TINJAUAN LITERATUR

Bab ini akan menjelaskan teori-teori yang relevan terhadap penelitian.

Selain itu, pada bab ini juga dilengkapi dengan pembahasan jurnal utama dan rangkuman dari penelitian sebelumnya.

 BAB 3 : PROFIL INDUSTRI PEMBEKUAN PERIKANAN

Bab ini akan menceritakan gambaran umum dan karakteristik dari industri pembekuan perikanan di Indonesia yang meliputi pohon industri, struktur pasar, sebaran perusahaan, perkembangan ekspor, dll.

BAB 4 : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini akan membahas lebih detail mengenai model penelitian yang digunakan, diantaranya ialah menjelaskan alasan/justifikasi dari variabel-variabel yang digunakan, bagaimana mengolah data, termasuk bagaimana teknik mengestimasi model penelitian ini.

(19)

Bab ini akan memuat analisis dan pembahasan, baik secara deskriptif maupun ekonometrika, yang diharapkan mampu menjawab pertanyaan penelitian yang telah diajukan sebelumnya sebagai tujuan penelitian.

 BAB 6 : PENUTUP

Bab ini merupakan bagian penutup dari laporan penelitian, meliputi bagian kesimpulan penemuan, saran atau rekomendasi kebijakan, dan

(20)

BAB 2

TINJAUAN LITERATUR 2.1 Teori Kebertahanan Perusahaan

2.1.1 Kebertahanan Perusahaan pada Jangka Pendek

Secara sederhana kebertahanan perusahaan dapat dipahami sebagai

kemampuan dari kelangsungan hidup perusahaan di dalam pasar. Dengan kata lain ada situasi-situasi dimana perusahaan menjadi gagal bertahan atau tumbang di dalam pasar. Pada jangka pendek perusahaan akan shut down ketika P<AVC yaitu ketika biaya variabel yang harus dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit barang masih lebih mahal ketimbang pendapatan yang diterima dari harga jual tiap 1 unit barang tersebut.

Gambar 1.2 Keputusan Berhenti Beroperasi pada Jangka Pendek3

Sumber : Mankiw, N. Gregory. (2004). Principles of Economics. Hal. 297

Shut down pada jangka pendek memiliki pengertian tidak berproduksi

sama sekali yang bersifat temporary, berbeda dengan definisi exit yang artinya keputusan untuk keluar selamanya dari industri. Keputusan untuk shut down

3

Perusahaan akan memutuskan untuk shut down ketika total revenue lebih kecil daripada variabel cost (TR<TVC). Kemudian membagi ke dua sisi dengan Q didapat AR<AVC. Karena pada pasar persaingan sempurna diasumsikan AR=MR=P, maka persamaan tersebut dapat ditulis kembali menjadi P<AVC. Situasi tersebut digambarkan pada area garis merah di sepanjang sumbu vertikal di bawah kurva AVC, yaitu kondisi dimana perusahaan berpotensi untuk berhenti beroperasi pada jangka pendek (shut down decision).

11

Universitas Indonesia

(21)

hanya bisa menghindari kerugian atas variable cost, namun perusahaan tetap menanggung beban fixed cost karena seperti yang telah diketahui bahwa sekalipun perusahaan memproduksi 0 unit, fixed cost harus tetap dikeluarkan selama perusahaan masih berdiri di pasar. Karena pendapatan tidak bisa menutup biaya

variable cost, perusahaan memutuskan berhenti beroperasi. Mankiw (2004)

mengatakan bahwa shutdown terhitung hanya sementara sebab ketika kondisi pasar kembali membaik, misalnya harga output di pasar kembali meningkat, pada saat itu perusahaan akan kembali beroperasi.

2.1.2 Kebertahanan Perusahaan pada Jangka Panjang

Gambar 2.2 Keputusan Keluar dari Pasar pada Jangka Panjang4

Sumber : Mankiw, N. Gregory. (2004). Principles of Economics. Hal 299

Berbeda dengan jangka pendek, perusahaan akan memutuskan untuk keluar dari industri pada jangka panjang ketika P<ATC atau ketika biaya rata-rata

yang harus dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit barang masih lebih mahal dari pendapatan yang diterima dari hasil penjualan tiap 1 unit barang tersebut. Biaya

4 Perusahaan akan memutuskan untuk exit ketika TR<TC. Kemudian membagi ke dua sisi dengan Q didapat AR<ATC. Karena pada pasar persaingan sempurna diasumsikan AR=MR=P, maka persamaan tersebut dapat ditulis kembali menjadi P<ATC. Situasi tersebut digambarkan pada area garis merah di sepanjang sumbu vertikal di bawah kurva ATC, yaitu kondisi dimana perusahaan berpotensi untuk mati atau keluar dari pasar pada jangka panjang (exit decision).

(22)

ini mencakup variable cost dan fixed cost. Ketika perusahaan memutuskan keluar selamanya dari pasar, perusahaan tidak lagi menanggung beban fixed cost berbeda dengan jika perusahaan hanya memutuskan untuk shut down.

2.2 Teori Pertumbuhan Perusahaan

Kebertahanan perusahaan atau kelangsungan hidup perusahaan memiliki hubungan yang erat dengan pertumbuhan perusahaan. Perusahaan muncul di pasar, jika mampu bertahan maka dia akan tumbuh. Ketika berbicara pertumbuhan perusahaan (firm growth), sebetulnya kita sedang membicarakan pertumbuhan ukuran perusahaan (firm size growth) (Carrizosa, 2006). Wissen (2002) mengatakan bahwa perubahan ukuran adalah sebuah kejadian yang penting dalam siklus demografi perusahaan.

Ada beberapa pendekatan dalam mengukur size dari perusahaan itu sendiri dan diantaranya yang sering diajukan dalam literatur adalah jumlah aset, jumlah output, nilai tambah, dan jumlah tenaga kerja. Carrizosa (2006) menyebutkan bahwa a) jumlah aset sifatnya terlalu rigid, meskipun aset cukup baik dalam menjelaskan ukuran perusahaan industri manufaktur tapi kurang tepat sebagai

ukuran perusahaan jasa, b) jumlah output terlalu volatile sebagai ukuran perusahaan selain itu output sangat mungkin dipengaruhi keputusan manajerial,

seperti strategi marketing dan kondisi finansial dan sifatnya sensitif terhadap inflasi dan nilai tukar, c) nilai tambah cukup baik dalam menjelaskan ukuran perusahaan karena menjelaskan proses peningkatan kapasitas nilai output, dan d) jumlah tenaga kerja adalah indikator yang paling banyak digunakan dalam menjelaskan sebuah ukuran perusahaan, berlaku tidak hanya bagi perusahaan manufaktur tapi juga perusahaan jasa, sifatnya juga tidak terlalu rigid dan tidak terlalu volatile, jumlah tenaga kerja dikatakan merefleksikan bagaimana proses internal dijalankan dan beradaptasi terhadap perubahan aktivitas.

(23)

Pertumbuhan perusahaan sehingga diartikan sebagai perubahan antara satu kondisi ekuilibrium dan ekuilibrium lainnya” (Carrizosa, 2006, Hal. 43).

Gambar 3.2 Perubahan Ukuran Perusahaan5

Sumber : Pindyck & Rubinfeld (2013). Microeconomics, Hal. 301 – 303, dibuat kembali

Menurut Hart (2000), “perusahaan-perusahaan akan tumbuh hingga mereka mencapai ukuran yang memberikan minimum average cost” (Hal. 232). Gambar 3.2(a) mengilustrasikan proses pertumbuhan ukuran perusahaan sejak

pertama kali perusahaan masuk pasar (short run) hingga perjalanannya (long

run).6 Dari yang semula masuk dengan initial size sebesar q1 kemudian perusahaan tumbuh membesar menjadi q3. Argumen klasik berpendapat bahwa persaingan akan mendorong perusahaan mencapai bagian paling bawah dari kurva biaya rata-rata jangka panjang (Geroski, 1999). Hal tersebut juga sudah

(24)

dibuktikan dalam Gambar 3.2(a) dimana market competition akhirnya mendorong perusahaan berproduksi pada titik q2. Produksi pada skala q2 merupakan skala yang paling optimal karena memberikan biaya rata-rata jangka panjang yang paling minimum.

2.3 Hubungan Ukuran terhadap Kebertahanan dan Pertumbuhan

Gambar 4.2 Perbandingan Biaya dan Pertumbuhan antara Perusahaan Kecil dan Perusahaan Besar7

Sumber : Martin, Stephen (1993). Industrial Economics: Economic Analysis and Public Policy

Carrizosa (2006) mengatakan bahwa bagian cost-minishing pada kurva

long run average cost bukan single level of output, melainkan wide range. Setelah

titik MES dicapai, economies of scale berhenti dan dilanjutkan dengan constant

return to scale yaitu kondisi dimana peningkatan output tidak mempengaruhi

biaya rata-rata, dan selanjutnya masuk ke fase diseconomies of scale dimana peningkatan output akan mengakibatkan peningkatan biaya rata-rata.

7

Diasumsikan semua perusahaan tumbuh menuju Minimum Efficient Scale (MES), yaitu level output terendah dimana skala ekonomi telah dimanfaatkan seluruhnya. Skala ekonomi atau economies of scale adalah situasi dimana penggandaan output bisa dicapai dengan biaya kurang dari dua kali lipatnya (Pyndick & Rubinfeld, 2013).

(25)

Ilustrasi di atas menyimpulkan beberapa hal, pertama ukuran perusahaan berhubungan negatif dengan pertumbuhannya. Perusahaan yang berukuran lebih kecil (�a) akan memiliki pertumbuhan yang relatif lebih besar (lebih cepat)

sebesar �a, sementara perusahaan yang berukuran lebih besar (�b) akan memiliki pertumbuhan yang lebih kecil (lebih lambat) sebesar �b. Kedua, perusahaan yang

berukuran lebih kecil akan lebih cepat tumbang karena menghadapi biaya rata-rata yang lebih tinggi, yakni �a, sebaliknya perusahaan yang berukuran lebih besar lebih mungkin untuk bertahan di dalam industri karena memiliki biaya rata-rata

yang lebih rendah, yakni �b. Ketiga, menurut Carrizosa (2006) anggapan semua perusahaan di industri yang sama akan konvergen ke ukuran yang sama, yakni q2 pada Gambar 3.2(a) sebelumnya kurang tepat. Karena pada Gambar 4.2 kembali dijelaskan bahwa titik terendah pada kurva LRAC memiliki wide range sehingga hal ini mendamaikan antara bukti empiris dan kenyataan bagaimana perusahaan dengan berbagai ukuran bisa hidup berdampingan dalam industri yang sama.

2.4 Penelitian tentang Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan 2.4.1 Jurnal Utama

The relationship between firm growth, size, and age: estimates for 100 manufacturing industries by David S. Evans (1987)

(26)

telah diakuisisi oleh perusahaan lain. Dan kesemua hal tersebut tidak mungkin dibedakan dalam dataset. Jadi, Evans menyimpulkan bahwa analisis firm survival sangat bisa terkontaminasi oleh beberapa "kematian palsu", meskipun begitu Evans menilai tingkat kontaminasi tersebut mungkin tidak terlalu signifikan.

Evans (1987) menggunakan pertumbuhan tenaga kerja sebagai proksi pertumbuhan perusahaan. Variabel bebas yang digunakan untuk menganalisis kebertahanan dan pertumbuhan, antara lain ukuran, usia dan jumlah pabrik.

Model yang digunakan Evans (1987) adalah sebagai berikut,

[ln�′ −ln�]

[t′ − t] = ln�(S�, A�, B�) +μ�

dimana: S = ukuran perusahaan (size), nilainya diproksi dari jumlah tenaga kerja

A = umur perusahaan (age)

B = jumlah pabrik (number of plants)

� = fungsi pertumbuhan μ = error

�= tahun awal = 1976

�′ = tahun akhir = 1980

Secara teknis Evans hanya menggunakan data perusahaan bertahan (kode 1) untuk meneliti model pertumbuhan perusahaan. Oleh sebab itu data sample untuk mengestimasi variabel terikat pertumbuhan perusahaan perlu disensor. Mensensor perusahaan tumbang (kode 0) ketika mengestimasi pertumbuhan dari perusahaan bertahan. Terkait hal ini Evans akan menghadapi masalah sample

selection bias akibat pemilihan sample yang tidak acak. Formulasi perhitungan

variabel bebas dalam penelitian ini bertahun data � 1976 untuk mengestimasi

(27)

Observasi dikeluarkan jika �′ kurang dari 1978 atau jika � kurang dari 1974. Ini menyiratkan dua hal pertama, pertumbuhan hanya menyertakan perusahaan-perusahaan yang minimal hilang data di tahun 1977 saja, dan maksimal perusahaan-perusahaan exist di sepanjang tahun 1976 – 1980. Kedua, ternyata untuk menentukan keberadaan perusahaan pada tahun 1976 (tahun awal

penelitian) juga ditentukan Evans dari keberadaan perusahaan sejak tahun 1974. Dengan kata lain sebetulnya Evans memiliki data mentah 1974 – 1980.

Kemudian saat mengestimasi kebertahanan dan pertumbuhan perusahaan, Evans (1987) memisahkan regresi antara perusahaan muda dan perusahaan tua. Perusahaan muda didefinisikan sebagai perusahaan yang memiliki usia 6 tahun atau lebih muda pada tahun 1976. Sedangkan perusahaan tua didefinisikan memiliki usia 7 tahun atau lebih tua pada tahun 1976.

Hasil temuan penelitian ini antara lain,

1) Ukuran dan usia perusahaan berhubungan negatif terhadap pertumbuhan perusahaan. Tingkat pertumbuhan perusahaan berhubungan negatif terhadap ukuran perusahaan yang terbukti pada 89% industri, dan terhadap usia perusahaan pada 76%

2) Ukuran dan usia perusahaan berhubungan positif terhadap kebertahanan perusahaan. Hubungan positif antara kemampuan perusahaan untuk bertahan dengan ukurannya terbukti pada 81% industri, sedangkan hubungan positif dengan umur perusahaan terbukti pada 83% industri. 3) Ukuran dan usia perusahaan berhubungan negatif terhadap variablitias

(28)

The Role of Technology Use in The Survival and Growth of Manufacturing Plantsby Mark Doms, Timothy Dunne, Mark J. Roberts (1995)

Studi ini memiliki fokus penelitian pada hubungan intensitas kapital dan penggunaan teknologi dalam produksi terhadap kebertahanan dan tingkat pertumbuhan perusahaan. Penelitian ini melibatkan 6090 perusahaan manufaktur di US selama periode tahun 1987 – 1991.

Prob(Exit) = f(Age, Size, Productivity, Technology, Capital-intensity)

Variabel terikat (exit) diberi kode 1 jika bertahan selama 1988 – 1991 dan 0 jika tumbang. Sementara variabel terikat growth diproksi dari pertumbuhan tenaga kerja. Berbeda dengan Evans (1987) yang menghitung labor growth dengan logaritma natural, Doms dkk menghitungnya dari employment 1991 –

employment 1987 / employment 1987. Variabel-variabel bebas seperti umur,

ukuran perusahaan, dan tingkat teknologi dinyatakan dalam bentuk dummy.

Produktivitas perusahaan diproksi dengan dua pendekatan, produktivitas tenaga kerja dan produktivitas total faktor. Kesamaan dengan Evans, formulasi perhitungan setiap variabel bebas digunakan data pada tahun awal (point to point).

(29)

2.4.2 Penelitian-penelitian tentang Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan

Tabel 1.2 Tabel Rangkuman Jurnal Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan Peneliti

(Tahun)

Judul Penelitian

(Periode Penelitian) Metode Regresi

Fokus Penelitian Variabel Kesimpulan

Evans, David S.

(1987)

The Relationship Between Firm Growth, Size, and Age: Estimates for

100 US Manufacturing

Industries

(1976 – 1980)

Probit dan OLS

Meneliti tiga aspek dalam industri manufaktur di US , yaitu pertumbuhan, kebertahan, dan

variabilitas pertumbuhan

perusahaan

Usia, ukuran, dan jumlah pabrik yang dimiliki perusahaan

Ukuran dan usia berhubungan negatif dengan pertumbuhan perusahaan, sedangkan berhubungan positif dengan kebertahanan perusahaan.

Doms, Dunne, dan Robeths

(1995)

The Role of Technology Use in

the Survival and Growth of Manufacturing

plants

(1987 – 1991)

Probit dan OLS

Studi ini berfokus meneliti hubungan intensitas kapital dan

teknologi terhadap kebertahanan perusahaan dan pertumbuhannya Usia, ukuran, teknologi, intensitas kapital, dan produktivitas Teknologi dan capital intensity

berpengaruh positif terhadap kebertahanan dan

(30)

Eriksson, Smeets, dan Warzynski

(2009)

Economy Firms in International Trade: Evidence from Danish Transactions-Level Data

(1993 – 2003)

Probit

Meneliti pengaruh ekspor terhadap

kebertahanan perusahaan

Ukuran, impor, dan ekspor

Perusahaan yang melakukan ekspor akan cenderung lebih

bertahan dibandingkan yang

tidak melakukan ekspor

Dunne dan Hughes

(1994)

Age, Size, Growth, and Survival: UK Companies

In the 1980s

(1975 – 1985)

Probit dan OLS

Meneliti hubungan usia dan ukuran perusahaan terhadap

kebertahanan dan pertumbuhan perusahaan di Inggris

Usia dan ukuran perusahaan

Usia dan ukuran berhubungan positif terhadap kebertahanan, sebaliknya berhubungan negatif terhadap pertumbuhan. Wagner, Joachim (2011)

Export, Import and Firm Survival: First Evidence For Manufacturing

Enterprises in Germany

(2001 – 2004)

Probit dan OLS

Meneliti tiga jenis perdagangan internasional, yaitu ekspor, impor, dan

two-way trading pada

kebertahanan perusahaan

Ekspor, impor, usia, ukuran, dan produktivitas

Ekspor dan two-way

trading berhubungan

positif terhadap kebertahanan perusahaan di negara

(31)

Tabel 2.2 Tabel Rangkuman Penelitian Kebertahanan dan Pertumbuhan Perusahaan Studi Kasus di Indonesia Peneliti (Tahun) Judul Penelitian (Periode Penelitian) Metode Regresi

Objek Penelitian Variabel Kesimpulan

Sadat, Dea N.

(2012) Faktor Penentu Kebertahanan Perusahaan Manufaktur di Indonesia

(2002 – 2006)

Probit Meneliti faktor-faktor internal yang mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk bertahan di industri

manufaktur di Indonesia Ukuran, ekspor, profitabilitas, produktivitas, dan capital-intensity Kelima variabel internal tersebut signifikan berhubungan positif terhadap kebertahanan perusahaan di industri manufaktur Indonesia Wulandari, Laela D. (2012) Analisis Signifikansi Dampak Impor China terhadap Kebertahanan dan Pertumbuhan Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia

(2002 – 2007)

Probit dan OLS

Studi ini memiliki fokus menganalisis dampak dari penetrasi

impor TPT China terhadap kebertahanan dan pertumbuhan perusahaan dalam industri TPT Indonesia Ukuran, profit, kepemilikan modal

asing, bahan baku impor, PDRB,

produktivitas,

capital-intensity,

dan impor barang sejenis dari China

Nilai impor China berhubungan positif

signifikan terhadap kebertahanan perusahaan, sebaliknya tidak terbukti signifikan

(32)

BAB 3

PROFIL INDUSTRI PEMBEKUAN PERIKANAN INDONESIA

3.1 Gambaran Umum Industri Pengolahan Perikanan

Ikan merupakan salah satu sumber bahan makanan bergizi yang baik untuk tubuh karena mengandung diantaranya protein, lemak, vitamin, dan mineral. Manusia sudah sejak lama memanfaatkan ikan untuk kebutuhan pangan. Peningkatan jumlah penduduk disertai pergeseran pola makan masyarakat dari red

meat ke white meat adalah faktor-faktor yang mendesak permintaan ikan yang

lebih banyak. Di satu sisi ikan begitu diminati, namun di sisi lain ikan dikenal sebagai bahan makanan yang tidak tahan lama dan ketersediaannya juga bergantung pada faktor alam. Semula orang menangkap ikan hanya untuk dimakan pada hari itu saja sebab 2 – 3 hari kemudian bisa dipastikan ikan tersebut mulai membusuk. Melihat karakteristik ikan yang seperti itu maka dibentuklah basis pengolahan perikanan. Menurut Damayanti (2012) komponen industri pengolahan muncul karena adanya tiga sebab utama, yaitu a) ketika hasil tangkap harus disimpan dalam waktu yang relatif lama b) ketika hasil tangkap harus dibawa dari lokasi penangkapan ke pasar dalam jarak yang relatif jauh, dan c) ketika hasil tangkap diperuntukan untuk tujuan ekspor.

Menurut jenis pengolahannya, industri pengolahan perikanan dapat dibedakan menjadi industri pengolahan modern dan industri pengolahan tradisional. Industri pengolahan modern mencakup industri pengalengan dan industri pembekuan, sedangkan industri pengolahan tradisonal mencakup industri pengasapan, industri pengasinan, dan industri pemindangan. Secara umum selain berbeda pada kompleksitas teknik mengolah seperti penggunaan mesin-mesin berteknologi, perbedaan juga terletak pada jenis bahan baku yang digunakan dimana industri pengolahan perikanan tradisional pada umumnya menggunakan jenis komoditas ikan yang bernilai ekonomi rendah dan bergizi rendah relatif dibandingkan jenis bahan baku di industri pengolahan perikanan modern.

23

(33)

Tabel 1.3 Ruang Lingkup Industri Pengolahan Perikanan

KBLI 2005 KBLI 2009 Keterangan

15121 10221 Industri pengolahan dan pengawetan ikan dan biota air dalam kaleng 10222 Industri pengolahan dan pengawetan udang dalam kaleng

15122 10211 Industri pengasinan/pengeringan ikan

10291 Industri pengasinan/pengeringan biota air lainnya

15123 10212 Industri pengasapan ikan

10292 Industri pengasapan biota air lainnya

15124 10213 Industri pembekuan ikan

10293 Industri pembekuan biota air lainnya

15125 10214 Industri pemindangan ikan

10294 Industri pemindangan biota air lainnya

15129 10219 Industri pengolahan dan pengawetan ikan lainnya

10299 Industri pengolahan dan pengawetan lainnya untuk biota air lainnya

Sumber : BPS, Tabel Kesesuaian Lapangan Usaha KBLI 2009 KBLI 2005 cetakan 2

Tabel 2.3 Volume Produksi Industri Pengolahan Perikanan Menurut Jenis Olahan Tahun 2002 – 2012 (unit ton)8

Tahun Ikan

asap

Ikan

beku

Ikan

pindang

Ikan

asin

Ikan

kaleng

olahan

lainnya Total

2002 53.905 319.237 124.826 571.577 36.913 81.906 118.8364

2003 56.574 573.911 121.491 598.235 28.415 75.249 145.3875

2004 66.516 636.303 123.555 483.471 36.137 45.240 139.1222

2005 88.690 699.224 95.776 478.317 49.211 55.697 146.6915

2006 86.032 717.486 116.392 463.267 34.674 62.438 148.0289

2007 70.970 687.862 119.032 473.679 45.580 59.186 145.6309

2008 72.218 461.175 140.741 471.709 40.350 65.422 125.1615

2009 84.939 420.995 110.647 433.732 40.238 47.438 113.7989

2010 81.921 616.361 105.041 425.118 25.820 49.494 130.3755

2011 101.158 507.587 107.764 472.858 11.884 70.982 127.2233

2012 108.066 470.152 101.205 458.958 7.583 63.444 120.9408

Sumber : Statistik Kelautan Perikanan

(34)

Gambar 1.3 di bawah ini menampilkan nilai output industri pengolahan perikanan beserta subsektor industri didalamnya yang dihitung atas harga konstan tahun 2005 selama 2006 – 2011. Nilai output industri pengolahan perikanan menurun dari 180 juta rupiah pada tahun 2006 menjadi 99 juta rupiah tahun 2011. Secara umum nilai output tersebut tumbuh negatif dengan rata-rata -11,26%. Jika diamati dengan seksama, pola penurunan nilai output sektor industri pengolahan perikanan serupa dengan pola penurunan pada subsektor industri pembekuan perikanan. Pada periode yang sama industri pembekuan perikanan menurun dari 140 juta rupiah tahun 2006 menjadi 64 juta rupiah tahun 2011. Nilai output industri pembekuan ini tumbuh negatif dengan rata-rata -14,85%. Pada tingkat subsektor tidak semua industri mengalami penurunan, peningkatan output terjadi pada industri pengalengan dengan rata-rata pertumbuhan 2% dan industri pengasapan dengan rata-rata pertumbuhan 34,6% selama periode tersebut.

Gambar 1.3 Nilai Output Industri Pengolahan Perikanan berdasarkan Tingkat Subsektor atas Harga Konstan Tahun 2005, 2006 – 2011

Sumber : BPS, Industri Besar Sedang (diolah)

2006 2007 2008 2009 2010 2011 pengolahan perikanan 180005309.5 115883262.7 79947072.3 83543540.5 83307551.2 99071177.4 pengalengan 25974019.8 15559610.3 16527599.2 19521112.2 25343863.5 28777828.9 pengasinan 5908471.7 4918844.1 4782786.8 4800431.9 3812270.9 2807413.1 pengasapan 250422.3 165916.6 1040490.1 1315709.6 1739796.4 1107303 pembekuan 144509316.2 92501532.5 55270626.1 56303212.5 50895862.4 64681042.7 pemindangan 3363079.4 2737359.2 2325570.1 1603074.1 1515757.9 1697589.7

(35)

Gambar 2.3 di bawah menyajikan grafik jumlah perusahaan pada industri pengolahan perikanan beserta tingkat subsektornya selama tahun 2006 – 2011. Jumlah perusahaan industri pengolahan perikanan secara umum tumbuh negatif dengan rata-rata -6,6%. Jumlah perusahaan pengolahan perikanan menurun dari 862 unit tahun 2006 menjadi 648 unit tahun 2011. Pada periode yang sama, jumlah perusahaan pembekuan perikanan juga menurun dari 398 unit tahun 2006 menjadi 258 unit tahun 2011. Jumlah perusahaan pembekuan perikanan tumbuh negatif dengan rata-rata -8,3%.

Gambar 2.3 Jumlah Perusahaan Industri Pengolahan Perikanan berdasarkan Tingkat Subsektor Tahun 2006 – 2011 (unit)

Sumber : BPS, Industri Besar Sedang (diolah)

Gambar 3.3 di bawah ini memperlihatkan tren jumlah tenaga kerja industri pengolahan perikanan berikut juga pada masing-masing subsektor didalamnya selama tahun 2006 – 2011. Selama periode tersebut pertumbuhan tenaga kerja

industri pengolahan perikanan bernilai negatif dengan rata-rata -4,3%. Jumlah tenaga kerja industri pengolahan perikanan praktis menurun dari 115 ribu pada tahun 2006 menjadi 92 ribu tahun 2011. Jika diamati dengan seksama, pola penurunan jumlah tenaga kerja sektor industri pengolahan perikanan serupa dengan pola penurunan subsektor industri pembekuan perikanan. Pada periode

2006 2007 2008 2009 2010 2011

pengolahan perikanan 863 823 819 742 694 648

pengalengan 46 46 55 48 48 62

pengasinan 185 157 168 141 115 100

pengasapan 36 11 22 31 30 11

pembekuan 398 419 379 299 287 258

pemindangan 137 122 123 109 105 97

(36)

yang sama industri pembekuan perikanan menurun dari 19 ribu orang tahun 2006 menjadi 18 ribu orang tahun 2011. Jumlah tenaga kerja perusahaan pembekuan selama periode tersebut tumbuh negatif dengan rata-rata -6,6%.

Gambar 3.3 Jumlah Tenaga Kerja Industri Pengolahan Perikanan berdasarkan Tingkat Subsektor Tahun 2006 – 2011 (satuan orang)

Sumber :BPS, Industri Besar Sedang (diolah)

3.2 Gambaran Industri Pembekuan Perikanan

Pembekuan adalah proses pengolahan bahan baku ikan mentah dari mulai pencucian hingga pembekuan dalam freezer dalam suhu rendah (-12°C – -30°C) dengan tujuan mengubah kandungan air dalam tubuh ikan menjadi kristal es sehingga mampu menghambat aktivitas bakteri dan enzim (Murniyati dan Sunarman 2000 Hal. 78 – 79). Berkat kemajuan teknologi, ikan yang telah dibekukan kini mampu memperpanjang daya tahannya hingga beberapa bulan bahkan hingga beberapa tahun ke depan.

2006 2007 2008 2009 2010 2011

pengolahan perikanan 115449 106296 109757 95361 94605 92408

pengalengan 19702 17468 25123 23945 23709 18706

pengasinan 10733 8801 9209 6476 5380 6137

pengasapan 1178 3410 2095 1688 1697 803

pembekuan 72915 67884 63020 53157 54368 51769

pemindangan 4600 3992 4006 3580 3169 3059

(37)

Gambar 4.3 Pohon Industri Pembekuan Perikanan

(38)

Industri Hulu (upstream)

Sektor ini bertugas menyediakan bahan baku yang akan digunakan sebagai input industri pengolahan. Sektor yang dimaksud adalah sektor perikanan tangkap dan sektor perikanan budidaya. Jika perikanan tangkap memperoleh hasil dengan cara menangkap ikan dan biota air lainnya di laut dan perairan umum, perikanan budidaya adalah hasil membudidayakan ikan dan biota air lainnya di kolam, tambak, karamba, dan media sejenis lainnya.

Volume produksi perikanan meningkat dari 7.488 ribu ton tahun 2006 menjadi 19.416 ribu ton tahun 2013. Selama periode tersebut perikanan budidaya

mengalami pertumbuhan 25,7% atau lebih cepat dari pertumbuhan perikanan tangkap yang sebesar 3,5%. Mulai tahun 2010 produksi perikanan budidaya lebih

tinggi dari produksi perikanan tangkap. Peningkatan pada tahun 2010 disumbang oleh budidaya daya tambak dengan nilai 24 trilyun dan budidaya kolam dengan nilai 14 trilyun. Pada tahun 2013, 68,5% hasil perikanan disumbang dari perikanan budidaya dan 31,5% sisanya disumbang perikanan tangkap. 70% hasil budidaya pada tahun tersebut disumbang oleh komoditas rumput laut, ikan nila 7%, udang 5%, dan ikan bandeng 5%. Hal ini menandakan bahwa kedepannya perikanan budidaya berpotensi besar mendongkrak produksi perikanan Indonesia.

Gambar 5.3 Volume Produksi Perikanan Tahun 2006 – 2013 (ribu ton)

Sumber : Statistik Kelautan Perikanan

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Perikanan Tangkap 4.806 5.044 5.003 5.108 5.384 5.714 5.829 6.115 Perikanan Budidaya 2.682 3.193 3.855 4.709 6.278 7.929 9.676 13.301 Total 7.488 8.237 8.858 9.817 11.662 13.643 15.505 19.416

0.000 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000

(r

ibu t

on)

29

(39)

Industri Hilir (downstream)

Sebagian hasil perikanan sektor hulu sudah bisa dipasarkan dalam bentuk segar, baik untuk konsumsi domestik maupun langsung diekspor, sedangkan sebagian lagi diserap oleh sektor hilir. Sektor hilir atau biasa disebut sebagai industri pengolahan ini menggunakan bahan baku yang dibeli dari TPI atau dari pemasok untuk kemudian diolah di dalam pabrik pengolahan. Rangkaian proses produksi di dalam pabrik pembekuan perikanan adalah seperti berikut,

(40)

3.3 Struktur Pasar Industri Pembekuan Perikanan

Menyatakan struktur pasar sebuah industri, apakah perfect competition,

monopolistic competition, oligopoly, atau monopoly, dapat diketahui dengan cara

mengukur konsentrasi pasar. Tingkat konsentrasi ditujukan untuk mengukur tingkat persaingan dalam industri. Pengukuran yang sering digunakan ekonom dan banyak diajukan dalam literatur adalah rasio CR4 dan indeks HHI. CR4 adalah rasio konsentrasi dari empat pangsa terbesar atau persentase nilai penjualan oleh empat perusahaan terbesar. Rasio kurang dari 60% dinyatakan sebagai

competitive market dan jika lebih dari 60% mengindikasikan ada domminant firm

dari beroligopoli. Rasio konsentrasi yang rendah mengindikasikan derajat kompetisi yang tinggi sementara rasio konsentrasi yang tinggi mengindikasikan tidak ada kompetisi (Parkin : 238). Sedangkan indeks HHI didapatkan dari jumlah kuadrat pangsa pasar setiap perusahaan yang bersaing dalam industri. HHI lebih baik dibandingkan dari CR4 karena menyediakan kombinasi informasi pangsa pasar dari seluruh perusahaan di dalam pasar. Menurut US Department of Justice, pengkategorian indeks HHI sebagai berikut;

HHI Competition Level

< 1500 Unconcentrated Markets

1500-2500 Moderately Concentrated Markets > 2500 Highly Concentrated Markets

Sumber : US Department of Justice

Tabel 3.3 Tabel Indeks CR4 dan HHI Industri Pembekuan Perikanan

Tahun CR4 HHI

2006 22.28 208.16

2007 23.27 217.06

2008 25.95 296.48

2009 24.93 295.95

2010 27.84 297.91

2011 26.59 294.31

Rata-rata 25.14 268.31

(41)

Tabel 3.3 memperlihatkan angka indeks CR4 dan HHI industri pembekuan perikanan selama tahun 2006 – 2011. Berdasarkan CR4 maka industri pembekuan perikanan masuk ke dalam competitive market. Berdasarkan HHI maka industri pembekuan perikanan masuk ke dalam kategori unconcentrated markets. Kedua hasil tersebut menyimpulkan sebuah hal yang sama, yakni sebuah pasar yang tidak terkonsentrasi dan juga tidak adanya domminant firm sehingga kemampuan untuk mengontrol harga pasar lebih sulit ketimbang industri dengan pasar yang relatif lebih terkonsentrasi. Ada banyak pemain di dalam industri pembekuan perikanan dan mereka cenderung mempunyai size atau pangsa pasarnya tidak jauh berbeda. Secara spesifik maka struktur pasar dari industri pembekuan perikanan ini masuk ke dalam kategori pasar persaingan monopolistik. Jenis pasar seperti ini biasanya menggunakan strategi iklan dan mendiferensiasi produk untuk ber- kompetisi dengan para pesaingnya.

Industri pembekuan perikanan masuk dalam kategori industri makanan dengan produk yang terdiferensiasi. Seperti yang sudah diperlihatkan pada pohon industri (Gambar 4.3) dimana produk perikanan beku secara garis besar terdiri dari tiga spesies utama, yaitu ikan, krustasea, dan moluska. Dari masing-masing spesies tersebut juga terbagi menjadi banyak komoditas didalamnya sehingga ada

(42)

3.4 Lokasi Perusahaan Pembekuan Perikanan

Rata-rata selama tahun 2006 – 2011, 53% perusahaan berlokasi di Pulau Jawa, sedangkan 47% sisanya terletak di luar Pulau Jawa. Berdasarkan Tabel 4.3 maka lima besar wilayah dengan kepadatan jumlah perusahaan secara berurutan adalah Jawa Timur (22%), Sulawesi (21%), Jawa Tengah (18%), Sumatera (10%), dan Kalimantan (7%). Karena kode KLUI industri baru dipisah sejak KBLI 2009 terbit, analisis jenis perusahaan berikut ini menggunakan data terbaru tahun 2012. Dari 353 unit perusahaan pada tahun 2012, 66,5% nya merupakan industri pembekuan ikan, sedangkan 33,5% nya merupakan industri pembekuan udang. Jika dilihat per Kabupaten/Kota, secara berurutan perusahaan pembekuan ikan banyak berlokasi di Banyuwangi, Bitung, Jakarta Utara, Makassar, Pasuruan, dan Denpasar, sedangkan perusahaan pembekuan udang banyak berlokasi di Tarakan, Medan, Lampung Timur, Sidoarjo, dan Pangkajene. Namun distribusi ini boleh jadi sangat berbeda dari sebelumnya, khususnya sebelum tragedi tumbangnya 80 unit perusahaan pada tahun 2009 akibat krisis global.

Tabel 4.3 Sebaran Perusahaan Pembekuan Perikanan di Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa Tahun 2006 – 2011 (dalam unit)

Tahun

Pulau Jawa

Jumlah DKI

Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Banten

2006 20 18 89 85 6 218

2007 51 22 85 77 6 241

2008 33 19 76 77 4 209

2009 10 18 54 72 2 156

2010 8 16 50 66 2 142

2011 8 14 19 82 1 124

Tahun

Luar Pulau Jawa

Jumlah Sumatera Bali-NST Kalimantan Sulawesi

Maluku-Papua

2006 43 11 31 78 18 181

2007 37 12 29 84 16 178

2008 34 9 27 77 23 170

2009 34 8 21 62 18 143

2010 33 12 15 61 18 139

(43)

Sumber : BPS, Industri Besar Sedang (diolah)

Gambar 7.3 Lokasi Perusahaan Pembekuan Ikan Menurut Propinsi Tahun 2012

Sumber : BPS, Industri Besar Sedang (diolah)

Gambar 8.3 Lokasi Perusahaan Pembekuan Udang Menurut Propinsi Tahun 2012

Sumber : BPS, Industri Besar Sedang (diolah) Sumatera Utara

6% Bangka Belitung3% DKI Jakarta 7%

Jawa Barat 4%

Jawa Tengah 7%

Jawa Timur 26%

Bali 4% Sulawesi Utara

10% Sulawesi

Selatan 6% Sulawesi Tenggara

5% Maluku

9%

lainnya 13%

Sumatera Utara 10%

Lampung 10% Jawa Timur

23% Kalimantan

Timur 9% Sulawesi

Selatan 16%

Papua Barat 8%

(44)

3.5 Perkembangan Ekspor Impor Perikanan Beku

Pengolahan secara modern seperti pembekuan umumnya ditujukan untuk komoditas ekspor (KKP, 2007). Daerah pemasaran ekspor antara lain ke Amerika, Jepang, Uni Eropa, Thailand, dan China. Selama periode 2006 – 2011 nilai ekspor perikanan beku tumbuh negatif dengan rata-rata -3,4%. Krisis global saat itu berimbas kepada lesunya permintaan perikanan beku sehingga pada tahun 2009 ekspor menurun -31% dari tahun sebelumnya. Sementara peningkatan yang terjadi pada tahun 2010 – 2011 disebabkan oleh lonjakan permintaan udang beku Indonesia yang berstatus bebas penyakit EMS. Dari hasil perhitungan data ekspor selama periode tersebut, Propinsi Jawa Timur menyumbang 28% dari rata-rata keseluruhan nilai ekspor, diikuti Kalimantan Timur 19%, Sulawesi Selatan 13%, dan Sumatera Utara 7%. Di sisi lain impor perikanan beku Indonesia justru meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 37,3%. Impor ini sebagian besar didatangkan dari China, Kanada, dan USA. Hal tersebut bisa jadi disebabkan pengenaan tarif masuk yang rendah. Mendatangkan produk perikanan beku dari China dikenakan tarif sebesar 0%, sedangkan dari Kanada dan USA sebesar 5%.

Impor tersebut diduga dikonsumsi habis untuk domestik sebab data perikanan beku yang kembali diekspor (re-export) sebesar 0 unit.

Tabel 5.3 Pertumbuhan Nilai Ekspor dan Nilai Impor Perikanan Beku Indonesia atas Harga Konstan Tahun 2005, 2006 – 2011 (ribu USD)

Tahun Ekspor Impor

2006 11400 90

2007 10700 104

2008 9700 183

2009 6700 180

2010 7800 283

2011 9600 440

Rerata pertumbuhan (%) -3,4 37,3

(45)

Gambar 9.3 Distribusi Volume Ekspor Perikanan Beku Indonesia berdasarkan Negara Tujuan Tahun 2010 – 2013 (rata-rata persen)

Sumber : UN Comtrade diakses melalui WITS, diolah9

Gambar 10.3 Distribusi Volume Impor Perikanan Beku Indonesia berdasarkan Negara Asal Tahun 2010 – 2013 (rata-rata persen)

Sumber : UN Comtrade diakses melalui WITS, diolah

9 Karena KKP masih menggabung pencatatan ekspor dan impor antara ikan segar/dingin hasil industri hulu dan ikan beku hasil industri hilir, data ekspor dan impor diambil dari UN comtrade. Data ini menggunakan HS 2007 dengan kode 030421; 030422; 030429; 030611; 030612; 030613; 030614; 030619; 030710; 030729; 030739; 030749; 030759; 030760; dan 030799. Komoditas ikan hanya dihitung dari ekspor/impor bentuk fillet, tidak mengikutsertakan ikan utuh HS 0303.

Thailand 5%

Japan 15%

USA 31% China

9% EU 11%

others 29%

Malaysia

7% Vietnam

9%

India 8% Canada

14% China

15% USA

14% Russia

5%

others 28%

(46)

Dari rata-rata volume ekspor, krustasea berkontribusi 53%, diikuti ikan 26%, dan moluska 21%. Di dalam golongan krustasea, udang beku berkontribusi 93%. Dari rata-rata ekspor udang beku (frozen shrimps and prawns HS 030613) selama tahun 2000 – 2013, Vietnam menduduki peringkat teratas dengan rata-rata ekspor 189 ribu ton, India 166 ribu ton, Thailand 155 ribu ton, Ecuador 115 ribu ton, Indonesia 111 ribu ton, China 93 ribu ton, dan Malaysia 42 ribu ton. Penurunan yang terjadi di China pada tahun 2007 – 2008 adalah dampak dari keputusan US FDA tentang larangan impor beberapa jenis bahan makanan dari China. Salah satunya adalah produk udang beku yang ditepungi yang ditemukan mengandung obat-obatan berbahaya. Penurunan drastis di Thailand dan Vietnam sejak tahun 2011 disebabkan wabah penyakit EMS yang menjangkit para petani udang. Pada tahun 2013, produksi udang budidaya Thailand menurun hampir 60% dari sebelumnya. Pada tahun tersebut 80% area Mekong Delta, Vietnam, sudah terinfeksi EMS dan mendorong para pembudidaya untuk menggunakan antibiotik

ethoxyquin yang hal ini kemudian justru memunculkan masalah baru untuk masuk

pasar Jepang. Produksi diintensifkan di Indonesia dan India yang berstatus bebas

EMS untuk mengisi kekosongan suplai udang di dunia.

Gambar 11.3 Grafik Volume Ekspor Udang Beku Indonesia Beserta Pesaingnya di Pasar Internasional Tahun 2000 – 2013 (ribu ton)

Sumber : UN Comtrade, diolah

0 50 100 150 200 250 300

(47)

3.6 Kendala dan Masalah Industri Pembekuan Perikanan 3.6.1 Tingkat Utilisasi Belum Optimal

Belum optimalnya utilitas kapasitas industri dari kapasitas terpasangnya. Para pengusaha banyak mengeluhkan jika pabrik mereka kekurangan bahan baku. Peneliti menduga hal tersebut disebabkan oleh dua faktor. Pertama, aktivitas ekspor ikan mentah gelondongan, seperti 70% ikan tuna dari total tangkapan langsung diekspor ke luar negeri.10 Kedua, kurangnya cold storage sehingga tidak mampu menyerap dan mengatur lalu lintas pasokan bahan baku dari industri hulu ke industri hilir saat terjadi oversupply. Faktanya jumlah cold storage milik Indonesia hanya 30% dari milik Thailand yang padahal Thailand sendiri tidak termasuk sepuluh negara produsen perikanan tangkap terbesar di dunia.11

Tabel 6.3 Tingkat Utilitasi Kapasitas Industri Pengolahan Perikanan

Industri 2006 2007 2008 2009 2010 Tren

Pengalengan 67,1 71,4 59,8 68,8 49,2 -6,36%

Pengasinan 72,2 74,0 76,1 85,0 72,0 1,32%

Pengasapan 79,8 69,3 76,6 80,9 82,4 2,21%

Pembekuan 70,6 70,5 74,6 73,0 75,8 1,77%

Pemindangan 79,8 77,2 78,8 73,2 45,8 -11,00%

Lainnya 59,7 37,6 74,4 64,7 62,0 6,41%

Sumber : Kementerian Perindustrian

Seandainya para pengusaha berinisiatif mendatangkan bahan baku impor akan menjadi sulit karena Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah mengatur larangan impor ikan dalam SK Dirjen Kelautan dan Perikanan No. 231 Tahun 2011 tentang pengaturan jenis-jenis ikan yang dapat diimpor. Meskipun begitu statistik menunjukkan bahwa bahkan sebelum dikeluarkannya kebijakan larangan

10 Wiji Nurhayat, “70% Tuna Indonesia diekspor ke Thailand hingga Jepang”. http://finance.detik. com/read/2014/04/10/131844/2551153/1036/2/70-tuna-indonesia-diekspor-ke-thailand-hingga-jepang, diakses pada 12/08/2014

11 Fauzul Muna, “Industrialisasi Perikanan : Cold Storage Tanah Air hanya 30% dari Thailand”. http://industri.bisnis.com/read/20140715/99/243295/industrialisasi-perikanan-cold-storage-di-tanah-air-hanya-30-dari-thailand, diakses pada 12/08/2014

(48)

tersebut, impor bahan baku juga hanya sekitar 1% dari total bahan baku. Dengan kata lain, selama ini industri pembekuan perikanan juga tidak pernah bergantung dengan bahan baku impor.

Tabel 7.3 Kontribusi Bahan Baku Impor Industri Pembekuan Perikanan atas Dasar Harga Konstan Tahun 2005, Tahun 2006 – 2011 (persen)

Tahun Bahan Baku

Impor Total Bahan Baku

Kontribusi Bahan Baku Impor (%)

2006 792,4 99874,7 0,8

2007 722,2 67218,2 1,1

2008 310,4 38077,2 0,8

2009 413,5 37374 1,1

2010 234,6 26396,2 0,9

2011 341,6 37591,9 0,9

Pertumbuhan -15,5% -17,7%

Sumber: BPS, Industri besar sedang (diolah)

Perdebatan mengenai banjirnya ekspor ikan gelondongan mungkin karena ikan harganya sangat mahal bila dapat dijual dalam keadaan hidup, berikutnya turun harga secara berurutan ke bawah, ikan segar, ikan beku, ikan kaleng, ikan asin dan tepung ikan.12 Meskipun begitu tindakan tersebut tentu tidak sesuai dengan amanat UU No.45/2009 Pasal 25 B bahwa pengeluaran hasil produksi usaha perikanan ke luar negeri dilakukan apabila produksi dan pasokan di dalam negeri telah mencukupi kebutuhan nasional. Jika tidak segera dibenahi, konflik

kepentingan antara pengusaha yang ingin mendapatkan untung besar dengan cara menjual ikan dalam bentuk mentah dan pemerintah yang menginginkan multiplier

effect dari keberadaan pabrik-pabrik pengolahan perikanan akan terus menjadi

masalah. Di satu sisi peneliti menilai masalah kekurangan bahan baku ini juga tidak bisa dinyatakan sebagai masalah industri pengolahan, justru sebaliknya adalah masalah industri hulu (perikanan tangkap dan perikanan budidaya) oleh karena ketidakmampuannya menyediakan bahan baku bagi industri hilir.

12 Soen’an Hadi Poernomo, “Dilema Industri Perikanan”.http://103.7.52.50/index.php/arsip/c/853/ DILEMA-INDUSTRI-PERIKANAN-/?category_id=, diakses pada 04/03/2015

(49)

3.6.2 Hambatan Tarif dan Non-Tarif

Rangkuti (2012) dalam penelitiannya menulis bahwa salah satu tujuan dari kesepakatan World Trade Organization adalah untuk meningkatkan transaksi perdagangan produk pertanian dunia termasuk didalamnya produk perikanan dengan cara meminimalisasi hambatan berbentuk tarif dan nontarif. Dalam perkembangannya, penerapan hambatan tarif tidak bisa lagi diandalkan oleh sebuah negara sebagai kebijakan proteksi karena komitmen para anggota WTO yang terus menurunkan tarif impor. Begitu juga dengan kebijakan kuota impor, subsidi ekspor, dan berbagai bentuk hambatan non tarif lainnya.

Uni Eropa sebagai salah satu sasaran penjualan produk perikanan beku adalah yang paling tinggi dalam memberlakukan kebijakan tarif ketimbang Jepang dan Amerika. Contoh sejak tahun 2000 hingga sekarang untuk produk udang beku Indonesia, Amerika mengenakan tarif masuk impor MFN sebesar 0% dan Jepang 1%, sementara Uni Eropa 12,75%.

Tabel 8.3 Tarif Impor Udang Beku dan Fillet Beku Indonesia di Uni Eropa

Tahun Udang beku (HS code 030613) Tahun Fillet beku (HS code 030420)

MFN Tariff GSP Tariff MFN Tariff GSP Tariff

1997 14,2 11,6 1997 11,35 8,7

1998 13,6 4,47 1998 10,27 8,28

1999 13 6,5 1999 10,02 8,37

2000 12,75 5,4 2000 10,42 8,51

2001 12,75 5,92 2001 10,42 8,84

2002 12,75 5,92 2002 10,28 8,39

2003 13 6,5 2003 10,62 8,7

2004 13 6,5 2004 10,84 9,03

2005 13 6,5 2005 10,69 9

2006 13 5,92 2006 10,55 6,9

2007 13 5,92 2007 – –

2008 13 5,92 2008 – –

2009 13 5,92 2009 – –

2010 13 5,92 2010 – –

2011 13 5,92 2011 – –

(50)

Indonesia merupakan salah satu negara yang mendapatkan fasilitas GSP (Generalized System of Preferences) yaitu semacam perjanjian preferential antara negara-negara Uni Eropa untuk memberlakukan penurunan tarif impor terhadap komoditas dari negara-negara berkembang. Di Indonesia, eksportir yang ingin mendapatkan reduksi tarif melalui skema GSP di Uni Eropa harus memiliki SKA (Surat Keterangan Asal) yang dapat diurus di Kementerian Perdagangan. SKA ini juga nanti bisadigunakan untuk penelusuran (traceability) negara produsen produk tersebut.13 Meskipun tampak ada keringanan melalui preferential tariff, ekspor perikanan ke Uni Eropa juga masih adalah wilayah paling complicated dalam hal regulasi terkait standar kesehatan dan keamanan produk pangan. Kebijakan ini muncul seperti bentuk baru dari hambatan non tarif.

Tabel 9.3 Daftar Regulasi Standar Keselamatan Pangan di Uni Eropa

Peraturan Tahun Deskripsi

Council Directive 97/78/EC

1997 Aturan umum mengenai penerapan sistem

border control untuk produk-produk yang

masuk ke kawasan Uni Eropa yang berasal dari negara-negara dunia ketiga dimana

didalamnya termasuk produk jenis pangan dan bahan pangan yang berasal dari hewan

Council Directive 92/59/EC

2001 Tentang aturan umum standar keselamatan produk

EC No. 705/2001 2001 Kebijakan proteksi khusus untuk beberapa produk perikanan yang berasal dari indonesia

EC No. 466/2001 2001 Tentang taraf maksimum bagi pencemar tertentu dalam bahan pangan. Diantaranya mengatur taraf timbal, kadmium, raksa, dan logam berat dalam bahan pangan termasuk produk hasil pangan.

(51)

EC No. 178/2002 2002 Tentang prinsip umum dan persyaratan hukum pangan, pembentukan otoritas keamanan

pangan eropa, dan penetapan prosedur yang terkait dengan keamanan pangan.

EC No. 852/2004 2004 Ratifikasi SPS dari WTO dan standar

keamanan bahan pangan yang termuat dalam

codex alimentaris. Persyaratan umum produksi

primer, persyaratan teknis, HACCP, dan

pendaftaran/pengakuan usaha makanan. EC No. 853/2004 2004 Tentang peraturan kesehatan spesifik untuk

pangan asal hewan, berupa pengakuan dari

perusahaan, identifikasi penandaan, impor, dan informasi rantai pangan

EC No. 236/2006 2006 Larangan ekspor produk perikanan indonesia yang mengandung logam berat serta histamine.

Sumber : Direktorat Jendral Pemasaran Produk Hasil Perikanan KKP, 2011

Regulasi-regulasi tersebut semakin memperketat masuknya produk pangan Indonesia termasuk produk perikanan beku ke Uni Eropa. Disamping itu sebagian besar pabrik pada saat proses produksi juga diduga masih menggunakan zat kimia untuk tujuan tertentu, seperti daya tahan dan penampilan produk dan sebaliknya justru mengabaikan pentingnya proses metal detection. Kedua hal tersebut berakibat kepada tingginya kasus penolakan ekspor. Berdasarkan tingginya kasus sejak tahun 2004 maka pada tahun 2006 Uni Eropa menerbitkan Council Decision No.236 yang isinya mewajibkan semua produk perikanan Indonesia yang masuk ke Uni Eropa diuji kandungan logam berat dan histamin melalui proses RASFF14. Namun nampaknya para pengusaha sudah bisa beradaptasi dengan hal tersebut

terlihat dari jumlah penolakan yang semakin menurun.

14 Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF) adalah suatu sistem pengecekan dan pemberitahuan secara cepat antar negara anggota dan/atau negara eksportir tentang adanya produk (pangan dan pakan) impor yang dicegah masuk atau dikembalikan ke negara asal.

(52)

Tabel 10.3 RASFF Produk Hasil Perikanan Indonesia di Uni Eropa

Alasan 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Total Kategori Produk

Antibiotik 10 6 9 2 1 1 29 shrimps, milkfish,

catfish, eel, etc

Histamin 21 5 4 5 1 2 38

Gambar

Tabel 1.1 Produk Domestik Bruto Sektor Perikanan atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000, 2006 – 2011 (milyar rupiah)
Gambar 1.1 Tren Ekspor Perikanan Beku Indonesia ke Pasar Internasional atas Dasar Harga Konstan Tahun 2005, 2006 – 2011
Gambar 2.1 Jumlah Perusahaan di Industri Pembekuan Perikanan (unit)
Gambar 3.1 Jumlah Tenaga Kerja di Industri Pembekuan Perikanan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu bagian yang penting dalam pengelolaan data adalah proses pencarian informasi yang diinginkan oleh pengguna atau biasa disebut dengan temu kembali informasi

Wujud data dalam penelitian ini, berupa cuplikan atau penggalan wacana yang mengandung nilai-nilai moral tokoh utama dalam novel Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes

Dari berbagai penelitian yang dilakukan para peneliti kenyamanan termal, terlihat bahwa hasil penelitian umumnya hanya tepat digunakan bagi kebutuhan lokal, dan

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa The Gambir Anom Hotel Resort and Convention Surakarta merupakan hotel yang sangat potensial dalam menarik tamu, terlihat dari arsitektur

Σ–307: tri žerjavnice tu razpostavijo brž po dvorani αὐτίκα λαμπτῆρας τρεῖς ἵστασαν ἐν μεγάροισιν Σ–374: polje pa štirih orál, in plug zarezal bi

Kajian menemukan, bahwa masih terdapat kelemahan dalam koordinasi dan sinergitas dengan satuan kerja lain yang menyebabkan fungsi dan tugas kelembagaan TKPK Kabupaten Bengkalis

Secara khusus, pengawasan yang dilakukan Dinas Tenaga Kerja kota Bandar Lampung hanya sebatas pembinaan. Hal tersebut dikarenakan jika terjadi penyimpangan, tidak

Menurut prinsip kedua (the prin- ciple of beneficence ), seorang dokter harus melakukan yang terbaik bagi pasiennya. Dalam sumpah Hippokrates telah dicantum- kan