Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian tindakan kelas (PTK). Peneliti menggunakan metode ini karena ingin menjadikan pelajaran sejarah tidak hanya mempelajari tentang masa lalu tetapi juga dihubungkan dengan kehidupan siswa pada masa kini dan dikaitkan dengan masalah-masalah yang ada di sekitar siswa. Dalam hal ini masalah yang peneliti pilih adalah kerusakan lingkungan hidup. Peneliti mengharapkan melalui penggunaan PTK dapat meningkatkan kesadaran sejarah siswa dan meningkatkan kecerdasan ekologis siswa.
Menurut Wiriaatmadja (2010, hlm. 13) penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktik
pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu.
Penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian reflektif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran, keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman terhadap praktik-praktik mereka dan terhadap situasi tempat praktik tersebut dilakukan (Carr & Kemmis dalam Madya, 2007, hlm. 9).
Pengaitan istilah tindakan dan penelitian menonjolkan ciri inti metode penelitian tindakan yaitu mencobakan gagasan-gagasan baru dalam praktik sebagai alat peningkatan dan sebagai alat menambah pengetahuan mengenai kurikulum, pengajaran, dan pembelajaran (Kemmis & Taggart dalam Madya,2007, hlm. 10). Penggunaan metode tindakan kelas karena ingin mencoba menerapkan gagasan pembelajaran ekopedagogik dalam pembelajaran sejarah yang sepengetahuan peneliti belum pernah diterapkan di sekolah ini.
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
1. meningkatkan praktek pembelajaran.
2. Meningkatkan persepsi atau pemaknaan praktik pengajaran oleh praktisi.
3. Peningkatan dari situasi problematik yang nyata dengan kolaborasi (Carr & Kemmis dalam Daneel, 2009, hlm. 7).
3.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI.IPS1 SMA Negeri 04 Prabumulih. Pemilihan subjek didasarkan pada pertimbangan jam pelajaran di kelas IPS lebih banyak dari pada kelas X dan XI.IPA selain itu, karena siswa akan presentasi sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama. Pertimbangan berikutnya dikarenakan dari pengalaman peneliti mengajar, di kelas IPS ini tampak lebih banyak sampahnya dibanding kelas XI.IPA.
1.3Peran Peneliti dan Guru Mitra
Penelitian ini dilakukan oleh peneliti sebagai perencana, pengambil tindakan, dan pengamat dalam penelitian tindakan kelas ini. Dalam penelitian ini
peneliti dibantu oleh guru mitra yang berperan sebagai pengamat (observer) terhadap implementasi RPP yang peneliti rencanakan.
3.4 Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu penelitian dilakukan pada semester kedua tahun pelajaran 2015-2016. Pembagian waktu dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama adalah tahap orientasi dan tahap kedua adalah tahap tindakan. Tahap orientasi dilakukan selama dua kali pertemuan. Tahap tindakan dilakukan selama delapan kali pertemuan.
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai human
instrument karena pengolahan data dalam penelitian tindakan kelas dilakukan oleh
peneliti sendiri.
Lincoln & Guba (dalam Wiriaatmadja,2010, hlm. 96-97) merinci karakter yang harus dimiliki seorang peneliti sebagai human instrument, sebagai berikut.
1. responsif, terhadap berbagai petunjuk baik yang bersifat perorangan maupun yang bersifat lingkungan.
2. Adaptif, mampu mengumpulkan berbagai informasi mengenai banyak faktor pada tahap yang berbeda-beda secara simultan.
3. Menekankan aspek holistik, karena manusialah yang mampu dengan segera menempatkan dan menyimpulkan kejadian yang membingungkan di atas ke dalam posisinya secara keseluruhan.
4. Pengembangan berbasis pengetahuan, hanya manusia yang dapat sekaligus berpikir yang tidak diungkapkan (tacit knowledge) dalam menyusun
proposisi, sementara sadar bahwa situasi yang dihadapi memerlukan lebih dari sekedar pengetahuan dan proposisi.
5. Memproses dengan segera, sang penelitilah yang mampu segera memproses data di tempat, membuat generalisasi, dan menguji hipotesis di dalam situasi yang dengan sengaja diciptakan.
6. Klarifikasi dan kesimpulan, ia juga yang memiliki kemampuan unik untuk membuat kesimpulan di tempat, dan langsung meminta klarifikasi.
7. Kesempatan eksplorasi, terutama terhadap jawaban-jawaban subjek yang diteliti yang tidak lazim.
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Indikator Keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas terhadap penelitian yang dilakukan ialah:
1. Siswa dapat memahami tentang perubahan lingkungan dari masa Orde Baru sampai masa Reformasi.
2. Siswa dapat mengambil pelajaran dari pembelajaran ekopedagogik mengenai industrialisasi di Indonesia mulai dari Orde Baru sampai Reformasi, baik itu hal yang positif maupun yang negatif.
3. Meningkatnya pemahaman dan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan tindakan nyata untuk memelihara lingkungan.
4. Adanya perilaku siswa yang tidak lagi membuang sampah secara sembarangan.
5. Siswa dapat memberikan solusi untuk mengurangi sampah plastik dan mengurangi karbondioksida di udara.
1.7 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang dilakukan dalam bentuk siklus kegiatan yang
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Bagan 3.1 Model Spiral dari Kemmis dan Taggart
Penjelasan dari Model Spiral dari Kemmis & Taggart sebagai berikut:
Pada kotak tindakan (act), mulai diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mendorong mereka mengatakan apa yang mereka pahami dan apa yang mereka minati (Wiriaatmadja, 2010, hlm. 67).
Diagnosis atau mengidentifikasi masalah dari pengamatan yang pernah dilakukan. Pada tahap ini memberikan pretes tentang pemahaman dan pandangan siswa tentang lingkungan hidup dan kesadaran sejarah. Kemudian mengamati siswa pada saat membuang sampah di lingkungan sekolah. Pretes dan observasi awal digunakan untuk pembanding sebelum dan sesudah adanya tindakan.
Pada kotak pengamatan (observed), pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban siswa dicatat atau direkam untuk melihat apa yang terjadi. Pengamat juga membuat buku catatan dalam buku hariannya (Wiriaatmadja, 2010, hlm. 67).
Pada tahap refleksi (reflect) merenungkan kembali jawaban-jawaban siswa dan menilai jawaban, sikap, dan perilaku siswa, meminta pendapat/pandangan guru mitra setelah itu mulai mengambil rencana untuk perbaikan.
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus yaitu: 1. Siklus I
Rencana: perencanaan dilakukan dengan membuat RPP.
Tindakan 1: melaksanakan RPP dilanjutkan dengan mengevaluasi dengan tes uraian.
Observasi dan refleksi: mengobservasi tindakan 1 yang dilakukan dan mengamati sikap dan perilaku siswa.
2. Siklus II
Rencana: memperbaiki RPP sebelumnya.
Tindakan 2: melaksanakan RPP yang kedua dan mengevaluasi siswa dengan tes uraian.
Observasi dan refleksi: mengobservasi tindakan 2 terhadap siswa dan mengamati sikap dan perilaku siswa.
3. Siklus III
Rencana: memperbaiki RPP sebelumnya.
Tindakan 3: melaksanakan RPP dan mengevaluasi siswa dengan tes
uraian
Observasi dan refleksi: mengobservasi tindakan 3 terhadap siswa dan mengamati sikap dan perilaku siswa.
1) Rencana
Pada tahap ini membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membuat lembar observasi, pedoman wawancara, dan lembar pretes serta instrumen untuk evaluasi.
2) Tindakan
Pada tahap ini mengimplementasikan RPP yang telah disiapkan.
3) Observasi dan refleksi
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
yang perlu diamati adalah adakah perubahan-perubahan dari siswa setelah menerima pembelajaran.
Observasi yang digunakan ada dua yaitu pertama, observasi terhadap guru yang mengajar dalam hal ini dilakukan oleh peneliti sendiri
(observed) sedangkan guru mitra (observer) yang mengamati peneliti.
Observasi terhadap siswa atau kelas (observed) yang dilakukan oleh peneliti (observer). Observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur yaitu pengamat menghitung atau memberikan tanda setiap kali peristiwa tertentu muncul, seperti setiap kali guru mengajukan pertanyaan atau memberikan pujian. Hasil yang diperoleh bersifat faktual daripada judgemental, dan dapat dibuat lebih detail dengan mendasarkannya pada aide-memoires seperti yang telah dideskripsikan sebelumnya (Hopkins, 2011, hlm. 160).
Kedua, observasi dilakukan terhadap siswa atau kelas dengan menggunakan observasi terstruktur yaitu memberi tanda
( sikap dan perilaku siswa dalam proses pembelajaran di kelas atau di luar kelas.
Pada tahap ini, peneliti akan mengobservasi siswa apakah terjadi perubahan sikap dan perilaku siswa dalam membuang sampah, membawa botol minuman sendiri, keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, kerja sama siswa, sikap ramah ligkungan yang diketahui melalui lembar pertanyaan yang diberikan.
Refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, dan kendala nyata dalam tindakan strategik. Refleksi mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi sosial dan memahami persoalan keadaan tempat timbulnya persoalan itu (Madya, 2007, hlm. 63).
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kemudian kembali membuat rencana ulang jika masih ada kegagalan (Carr & Kemmis dalam Daneel, 2009, hlm. 5).
Refleksi dilakukan dengan wawancara kepada siswa dan guru mitra dan merenungkan kembali tindakan yang sudah dilakukan, apakah yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari tindakan tersebut.
3.8 Teknik Pengumpulan Data
1. Wawancara
Adalah kegiatan yang menuntut peneliti mengadakan pembicaraan terencana terhadap siswa atau subjek yang diteliti, dengan pertanyaan lisan yang telah disiapkan untuk mendapatkan data yang diinginkan (Suparno, 2008, hlm. 50).
Wawancara merupakan cara yang sangat penting dalam usaha memberikan umpan balik mengenai masalah yang diteliti serta saran-saran untuk masa depan.
Wawancara juga merupakan cara validasi yang sangat penting dalam usaha peneliti mengadakan peningkatan di dalam pengajarannya (Kusumah &
Dwitagama, 2012, hlm. 63).
Wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai fakta, keyakinan, perasaan, niat, dan sebagainya (Kusumah & Dwitagama, 2012, hlm. 77). Menurut Hopkins (dalam Wiriaatmadja, 2010, hlm. 117) wawancara adalah suatu cara untuk mengetahui situasi tertentu di dalam kelas dilihat dari sudut pandang yang lain.
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
terhadap siswa-siswi kelas XI.IPS1 yang menerima proses pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti.
2. Observasi
Observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian dimana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan kondisi interaksi belajar mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok (Kusumah & Dwitagama, 2012, hlm. 66). Peneliti langsung mengamati subjek, terjun langsung dengan melihat, merasakan, mendengarkan, berpikir tentang subjek yang diteliti, dan mencatat apa yang diamati (Suparno, 2008, hlm. 45).
Dalam penelitian ini ada dua pengamat yaitu pertama, peneliti bertindak sebagai pengamat partisipan yang menerapkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan mengamati proses pembelajaran yang dialami oleh peserta didik dan mengamati kegiatan peserta didik apakah sudah sesuai dengan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat. Kedua, guru mitra yang mengamati peneliti dalam proses pembelajaran apakah sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan.
Metode observasi yang penulis gunakan adalah metode observasi terstruktur yang mana peneliti dan guru mitra sudah menyetujui kriteria yang diamati, maka selanjutnya tinggal menghitung (mentally) saja berapa kali jawaban, tindakan, atau sikap siswa yang sedang diteliti itu ditampilkan (Wiriaatmadja, 2010, hlm. 114).
3. Studi Dokumentasi
Dokumen yang akan diteliti antara lain laporan tugas siswa siswa (Lembar Kerja Siswa), esai atau berbagai macam ujian dan tes yang dilakukan siswa, makalah, dan bagian-bagian buku teks yang digunakan dalam pembelajaran.
4. Catatan Lapangan
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
yang dapat diformat dalam bentuk-bentuk yang berbeda dapat berupa catatan yang „berorientasi-isu” sejauh observasinya fokus terhadap salah satu aspek pengajaran atau perilaku ruang kelas dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain itu dapat juga berisi kesan-kesan umum tentang ruang kelas, iklimnya, atau peristiwa-peristiwa insidentalnya. Catatan lapangan juga dapat digunakan untuk menyajikan studi kasus tentang siswa tertentu dan seharusnya deskriptif daripada spekulatif, sehingga informasi yang terdapat didalamnya dapat membangun gambaran besar yang memungkinkan untuk diinterpretasi (Hopkins, 2011, hlm. 181-182).
Catatan lapangan dibuat oleh peneliti. Beberapa hal yang perlu dicatat yaitu aspek pembelajaran di kelas, suasana kelas, pengelolaan kelas, hubungan interaksi peneliti dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa, diskusi, dan refleksi (Wiriaatmadja, 2007, hlm. 125).
3.9 Alat untuk Mengumpulkan Data Penelitian
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini
antara lain:
1. Alat Perekam
Alat rekaman digunakan pada saat wawancara dengan murid namun harus mendapat izin terlebih dahulu dari mereka.
2. Kamera Digital
Kamera digital digunakan untuk mengambil dokumentasi berupa gambar yang menggambarkan kegiatan peneliti dan siswa serta wawancara.
3. Lembar Observasi
Digunakan untuk mengecek kegiatan dan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran.
4. Lembar Penilaian
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3.10 Analisis Data
Analisis data adalah memberikan makna atau arti terhadap apa yang telah terjadi di dalam kelas. Memberi makna berarti menentukan apa yang dapat disebut sebagai makna, menerangkan mengapa tindakan disebut sebagai bermakna sedang yang lain tidak, dan bagaimana tindakan-tindakan di bidang pendidikan yang diteliti mendekati kebermaknaan tersebut (Kusumah & Dwitagama, 2012, hlm. 83).
Analisis data yang digunakan adalah menurut Miles dan Huberman. Analisis ini meliputi tiga jalur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
Reduksi data diartikan sebagai proses pemisahan, pemusatan perhatian pada penyederhaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan (Miles & Huberman, 2014, hlm. 16). Dalam reduksi data ini, peneliti memasukkan data-data yang sesuai dengan rumusan masalah dan data yang tidak menjawab rumusan masalah tidak perlu
dimasukkan. Data-data yang perlu yang ditemukan di lapangan dimasukkan di hasil penelitian.
Penyajian data sebagai sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Miles & Huberman, 2014, hlm. 17). Penyajian data dalam penelitian dengan menggunakan kata-kata daripada angka-angka dan hanya sedikit penyajian yang menggunakan angka. Penyajian data disajikan dalam bentuk teks naratif yang menceritakan apa yang terjadi di lapangan. Dalam penyajian juga menampilkan gambar sebagai bentuk bukti dari apa yang diceritakan. Data ditampilkan sesuai dengan tema atau kategori dan disesuaikan dengan rumusan masalah.
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dan kecocokannnya yakni merupakan validitasnya (Miles & Huberman, 2014, hlm. 19). Penarikan kesimpulan dilakukan setelah penelitian selesai. Penarikan kesimpulan didapat dari hasil penelitian dan pembahasan yang dihubungkan dengan rumusan masalah sehingga jumlah kesimpulan disesuaikan dengan jumlah rumusan masalah.
3.11 Verifikasi Data
Prosedur dan pelaksanaan validasi yang digunakan yaitu versi Hopkins dan kawan-kawan (Wiriaatmadja, 2010, hlm.168-171). Langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut:
1. Melakukan member check, yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi dan wawancara dari narasumber. Apakah keterangan atau informasi itu tetap sifatnya atau tidak.
2. Triangulasi, memeriksa kebenaran konstruk, atau analisis yang timbul dengan membandingkan hasil orang lain, misalnya mitra peneliti yang
hadir dan menyaksikan situasi yang sama. Menurut Elliot (dalam Wiriaatmadja, 2010, hlm. 169) triangulasi dilakukan berdasarkan tiga sudut pandang, yakni sudut pandang guru, sudut pandang siswa, dan sudut pandang yang melakukan pengamatan.
3. Saturasi, dilakukan apabila data sudah jenuh atau tidak ada data lain yang berhasil dikumpulkan.
4. Eksplanasi saingan atau kasus negatif, peneliti tidak melakukan upaya untuk menyanggah atau membuktikan kesalahan peneliti saingan, melainkan mencari data yang akan mendukungnya. Apabila tidak berhasil menemukannya, maka hal ini mendukung kepercayaan terhadap hipotesis, konstruk, atau kategori dalam penelitian pada awalnya.
5. Audit trail, memeriksa kesalahan-kesalahan di dalam metode atau prosedur
Rosmawati Berlin Gultom, 2016
PEMBELAJARAN EKOPEDAGOGIK PADA MATA PELAJARAN SEJARAH SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH
Universitas Pendidikan Indonesia| repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
memeriksa catatan-catatan yang ditulis oleh peneliti atau pengamat mitra penelitian lainnya.
6. Meminta nasihat kepada pakar (expert opinion).