• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERIMAAN DIRI PADA MAHASISWA DROP OUT | S | Psikoislamedia : Jurnal Psikologi 1819 3611 1 SM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENERIMAAN DIRI PADA MAHASISWA DROP OUT | S | Psikoislamedia : Jurnal Psikologi 1819 3611 1 SM"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang | 1 PENERIMAAN DIRI PADA MAHASISWA DROP OUT

Arham S1, Ahmad Ahmad2, Ridfah3

Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar1,2,3

e-mail: [email protected], [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran penerimaan diri pada mahasiswa yang telahdrop out, faktor yang mempengaruhi, dan dampak dari drop out. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa atau mahasiswa yang telah di drop out dari kampusnya dengan berbagai masalah yang ada. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 13 orang mahasiswa. Data penelitian berupa transkrip verbatim yang dianalisis dan dibagi kedalam kategori-kategori yang telah ada, lalu dijabarkan secara rinci untuk memperoleh kesimpulan dari hasil penelitian. Hasil penelitian ini menggambarkan, gambaran penerimaan diri mahasiswa yang telah di drop out dengan karakteristik yaitu memiliki keyakinan, kemampuan, percaya diri, bertanggung jawab, dan tidak menyalahkan dirinya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri yaitu ada dua, faktor ekternal yaitu faktor lingkungan sosial, dan faktor internal yaitu perasaan, pemikiran dan pandangan terhadap diri pribadi, dan dampak penerimaan diri terbagi menjadi dua yaitu dampak positif dan dampak negatif. Adapun dampak yang dialami setelah drop out yaitu merasa malu dan kecewa. Masyarakat diharapkan mampu memahami dan mengetahui apa yang dirasakan oleh mahasiswa yang telahdrop out dan tahu bagaimana cara menyikapinya.

Kata kunci: penerimaan diri, drop out

SELF-ACCEPTANCE AMONG DROP OUT STUDENTS

ABSTRACT

This study aims to provide an overview of self-acceptance to students who have dropped out, the factors that influence and impact of drop out. Subjects in this study were students or students who have dropped out of college with a variety of problems. The number of respondents in this study were 13 students. The research data in the form of a verbatim transcript were analyzed and divided into the categories that have been there, then spelled out in detail for the conclusion of the research results. Results of this study illustrate, picture yourself admission of students who have dropped out with characteristics that have the confidence, ability, confident, responsible, and do not blame him. The results also showed that while the factors that affect the self-acceptance that there are two external factors, namely social environmental factors and internal factors are feelings, thoughts and views of the self, and the impact of self-acceptance is divided into two positive impacts and effects negative. The impact experienced after drop out of feeling embarrassed and disappointed. Society is expected to understand and know what is felt by students who have dropped out and know how to react

Keywords: self acceptance, drop out

Pendahuluan

Kehidupan manusia setiap saat mengalami perputaran dari masa ke masa, dari yang muda

sampai yang tua dan dari awal hidup hingga akhir hayatnya. Kehidupan manusia memiliki

(2)

2 | Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Kebutuhan akan hal tersebut tidak terlepas dari hal untuk melanjutkan hidupnya. Manusia akan

melewati beberapa tahap dalam pendidikan dari yang dasar hingga tingkat tinggi.

Peserta didik pada perguruan tinggi dikenal dengan sebutan mahasiswa. Santrock (2006)

mengemukakan bahwa mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada perguruan

tinggi. Gunawati, Sri dan Anita (2006) menambahkan bahwa mahasiswa digolongkan sebagai

remaja akhir serta telah memasuki dewasa awal, yaitu usia 18-21 tahun dan 22-24 tahun. Pada masa

ini mahasiswa mengalami masa peralihan dari remaja akhir ke dewasa awal, karena mereka telah

memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi dan pada tahap ini juga mahasiswa di

perguruan tinggi akan merasa lebih bebas untuk melakukan hal-hal yang diinginkan.

Mahasiswa yang berada pada masa perkembangan remaja, ada pada fase mencari jati diri,

dimana pada fase ini remaja akan cenderung untuk memilih suatu hal yang sesuai dengan dirinya

dan sesuai dengan proses perkembangannya. Mahasiswa merasa bebas untuk memilih dan

melakukan apa yang diinginkan tanpa ada batasan atau intervensi dari orang lain, baik dari orang

tua, maupun lingkungan sosial. Piaget (Santrock, 2003) menjelaskan bahwa pada masa

perkembangan remaja, mereka berfikir secara abstrak dan logis. Individu mulai berpikir tentang

kemungkinan-kemungkinan untuk masa depan dan merasa terpesona dengan apa yang mungkin

mereka capai. Tidak jarang jika mahasiswa yang tergolong sebagai remaja mampu untuk

memilah-milah apa yang hendak dilakukannya agar dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Mahasiswa kedepannya sangat dibutuhkan sumbangsihnya sebagai generasi muda penerus

bangsa. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan aset penting dalam kemajuan kehidupan

suatu bangsa. Tampubolon (2001) memaparkan bahwa generasi muda penerus bangsa harus

dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, harus mampu bersaing khususnya dalam dunia kerja regional

maupun nasional. Perguruan tinggi harus memiliki mutu SDM yang mumpuni dalam segala hal

agar mampu menghasilkan lulusan yang baik. Tingginya tingkat keberhasilan dan rendahnya tingkat

kegagalan mahasiswa dapat mencerminkan kualitas dari suatu perguruan tinggi, maka dari itu

mahasiswa dan dosen serta seluruh civitas yang ada harus bekerja sama.

Tampubolon (2001) menjelaskan bahwa pada perguruan tinggi, dosen dan mahasiswa saling

membutuhkan. Dosen memerlukan mahasiswa, karena tanpa mahasiswa dosen tidak akan ada.

Begitupun mahasiswa membutuhkan dosen, karena dosen menghasilkan jasa yang dapat

memperdayakan mahasiswa. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia mempunyai visi misi berbeda

agar mahasiswa yang melakukan pembelajaran di tempat tersebut menghasilkan karakter-karakter

lulusan mahasiswa yang terbaik. Perguruan tinggi pasti memiliki aturan dan tata cara tersendiri

dalam mengatur dan menyusun sistem yang digunakan sesuai dengan pedoman yang ada.

Perguruan tinggi memiliki sistemnya masing-masing, baik yang bersifat akademik maupun

(3)

Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang | 3 perguruan tinggi, segala aturan dan sistem yang dibuat oleh perguruan tinggi pada umumnya

mengacu ke undang-undang tersebut baik itu aturan bersifat akademik maupun non akademik.

Salah satu pasal dalam UU ini membahas mengenai sanksi yang bisa diterapkan yakni pencabutan

status sebagai mahasiswa.

Salah satu aturannya yaitu system drop out. Drop out menurut KBBI ialah keluar atau tidak

menyelesaikan studi hingga akhir. Pencabutan status mahasiswa atau biasa disebut sebagai drop out

yang menjadi momok bagi mahasiswa yang melakukan hal-hal yang tidak sesuai, baik itu berkaitan

dengan akademik maupun non akademik. Drop out menjadi senjata pihak univeritas untuk

mengurangi hal-hal yang tidak sesuai atau melanggar aturan yang ada. Hal-hal yang menyebabkan

mereka di D.O ialah masalah seperti tidak bayar SPP, IPK kurang dari 2,00, dan tindakan yang

melanggar lainnya. Faktor-faktor lain juga berpengaruh seperti faktor keluarga, faktor lingkungan

dan pergaulan atau masyarakat yang ada disekitarnya yang berpengaruh pada diri seseorang

khususnya remaja sebagai seorang mahasiswa (Fajar online, 2014).

Hasil penelitian Hasbullah (2008) bahwa faktor-faktor penyebab drop out mahasiswa

khususnya pada Universitas Singaperbangsa Karawang bahwa mahasiswa di drop out karena faktor

motivasi belajar mahasiswa yang kurang, kualitas layanan pendidikan dan keadaan sosial ekonomi.

Selain itu, mahasiswa yang malas mengikuti perkuliahan karena kurangnya minat terhadap mata

kuliah tertentu dan fasilitas kurang memadai atau mendukung proses perkuliahan.

Pada tahun 2014, Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar mengeluarkan SK

Rektor yang memecat atau men-drop out sebanyak 702 mahasiswanya. Dalam SK bernomor 342

Tahun 2014 tersebut ke-702 mahasiswa yang di DO tersebut berasal dari 8 fakultas. Fakultas

Dakwah dan Komunikasi (142 orang), Adab dan Humaniora (59 orang), Tarbiyah dan Keguruan

(46 orang), Sains dan Teknologi (202 orang), Syariah dan Hukum (101 orang), Ekonomi dan Bisnis

Islam (55 orang), Usluhuddin, Filsafat, dan Politik (83 orang), serta Ilmu Kesehatan sebanyak (14

orang) (Fajar online, 2014). Wadrianto (2014) juga memaparkan mengenai salah satu mahasiswa

UNM melakukan tindakan anarkisme pada saat bentrok dalam aksi demonstrasi menolak kenaikan

BBM yang berlangsung di kampus, kondisi tersebut mengakibatkan pihak kampus mengambil

tindakan dengan melakukan sistem drop out atau pencabutan status mahasiswa akibat tindakan

anarkismenya.

Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke masa dewasa. Periode ini dianggap

sangat penting dalam kehidupan seseorang, khususnya dalam pembentukan kepribadian seseorang

sehingga setiap siswa memerlukan penerimaan diri supaya mereka dapat berkembang secara

optimal. Penerimaan diri merupakan aspek yang sangat dibutuhkan oleh setiap siswa terutama

dalam proses aktualisasi dirinya serta mampu mendapatkan pengetahuan dari apa yang telah dia

(4)

4 | Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

mengemukakan bahwa ayah yang memiliki anak down syndrome dapat menerima kondisi anak

setelah melewati semua tahapan penerimaan diri. Tahapan penerimaan diri yang dimaksud adalah

penerimaan diri itu dapat terjadi didukung oleh adanya faktor internal dan eksternal yang terdapat

pada diri subyek. Faktor internal yang mendukung adalah adanya keyakinan positif mengenai

peristiwa yang dialaminya. Kepercayaan yang kuat kepada Tuhan membuat orangtua yakin bahwa

mereka diberikan cobaan sesuai dengan porsi yang mampu mereka hadapi, sedangkan faktor

eksternal yang mendukung penerimaan diri subyek adalah adanya dukungan sosial yang diberikan

oleh keluarga besar dan juga lingkungan sekitar.

Dari beberapa data dan contoh kasus diatas, mahasiswa perlu waktu untuk mencapai tahap

penerimaan diri, bahwa dirinya telah di drop out. Hurlock (2006) memaparkan bahwa penerimaan

diri merupakan suatu tingkatan kesadaran individu tentang karakteristik kepribadiannya, akan

kemauan untuk hidup dengan keadaan tersebut. Chaplin (2011) menjelaskan lebih lanjut bahwa

penerimaan diri ialah sikap yang pada dasamya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas

dan bakat-bakat sendiri serta pengakuan akan keterbatasan-keterbatasan sendiri. Sartain (Izzati &

Waluya,2011) mendefinisikan penerimaan diri sebagai kesadaran seseorang untuk menerima

dirinya sebagaimana adanya dan memahami dirinya seperti apa adanya. Individu yang memiliki

penerimaan diri berarti telah menjalani proses yang menghantarkan dirinya pada pengetahuan dan

pemahaman tentang dirinya, sehingga dapat menerima dirinya secara utuh dan bahagia.

Berdasarkan fenomena tersebut, diketahui bahwa mahasiswa melakukan tindakan atau

perlakuan yang tidak disukai oleh pihak kampus sehingga pihak kampus melakukan sistem drop

out. Mahasiswa melakukan tindakan tersebut karena tindakannya dianggap benar, sehingga

mahasiswa tidak langsung menerima keputusan. Mahasiswa perlu waktu untuk menerima hal

tersebut, maka dari itu peneliti ingin melihat bagaimana gambaran penerimaan diri mahasiswa yang

terkena drop out.

Metode Penelitian

Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hamidi

(2010) juga memaparkan bahwa penelitian kualitatif adalah bentuk penelitian dengan

mengumpulkan data berupa cerita rinci dari para responden dan diangkapkan apa adanya sesuai

dengan bahasa dan pandangan para responden.Jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam

penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis. Creswell (2007) mengungkapkan bahwa

pendekatan penelitian fenomenologis dilakukan untuk mengungkap diri subjek berdasarkan

pengalaman hidupnya. Pendekatan fenomenologis berfungsi untuk mengetahui apa yang dialami

(5)

Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang | 5 Istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah penerimaan diri dan drop out.Penerimaan

diri adalah cara seseorang dalam menerima, meyakini dirinya dengan kekurangan dan kelebihan

yang dimiliki serta mampu mengaktualisasikan diri dengan kemampuan yang dimiliki.D.O atau

drop out adalah berhenti, keluar atau dipecat sebagai mahasiswa pada suatu instansi tertentu secara

tidak wajar atau belum pada waktunya atau belum lulus.

Peneliti menggunakan teknik purposive untuk menentukan responden yang sesuai dengan

kriteria subjek penelitian agar dapat memahami secara utuh mengenai fenomena yang terjadi pada

subjek sendiri. Sugiyono (2013) mendefiniskan teknik purposive sampling sebagai teknik

pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu, yaitu pada subjek yang dianggap paling

tahu tentang apa yang ingin diteliti oleh peneliti. Kriteria subjek yang dapat dijadikan responden

penelitian ini adalah: (1) responden penelitian merupakan responden yang berstatus drop out dari

kampus tempatnya kuliah; (2) responden penelitian merupakan remaja akhir dan telah memasuki

dewasa awal yang berusia 18-26 tahun; dan (3) responden penelitian ini adalah remaja yang

berstatus mahasiswa.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengambilan

data melalui proses observasi dan wawancara. Metode wawancara yang digunakan pada penelitian

ini merupakan wawancara yang bersifat tidak terstruktur, namun tetap mengacu pada guide

wawancarayang berkaitan dengan masalah penelitian. Observasi yang dilakukan peneliti dalam

dalam penelitian ini adalah teknik observasi dengan bentuk semistruktur.

Teknik analisis data yang dilakukan terhadap data hasil penelitian ini adalah metode

pendekatan yang interaktif. Creswell (2007) menjelaskan bahwa metode pendekatan yang lebih

interaktif dilakukan dengan beragam tahap yang saling berhubungan. Analisis data juga dilakukan

dengan melakukan teknik peng-coding-an, yaitu dengan menyusun transkrip verbatim berdasarkan

data yang diperoleh di lapangan, lalu mengurutkan setiap baris transkrip verbatim, dan memberikan

kode-kode tertentu pada setiap jenis data dari hasil wawancara (Poerwandari, 2009).

Keabsahan data pada penelitian ini salah satunya adalah metode member checking yang

digunakan sebagai salah satu metode untuk menguji keabsahan data. Sugiyono (2013)

mengungkapkan bahwa member checking dilakukan dengan mengecek kembali data yang diperoleh

peneliti dari subjek penelitian .Metode lain yang juga digunakan peneliti untuk menguji keabsahan

data adalah metode external auditor. Creswell (2010) menjelaskan bahwa metode external auditor

dilakukan dengan meminta seorang auditor untuk memeriksa dan menilai proyek penelitian secara

menyeluruh.

(6)

6 | Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Penelitian ini melibatkan tiga belas orang responden yang merupakan remaja akhir dan

dewasa awal yang berumur berkisar 18-25 tahun dengan status mahasiswa yang telah di drop out

atau berhenti (pindah) dari kampus.Hasil penelitian ini berupaya mengeksplor bagaimana dinamika

dialami responden penelitian sehingga akhirnya dapat menerima dirinya dengan status dropout atau

berhenti (pindah) dari kampus. Berdasarkan hasil penelitian, maka didapatkan tiga kategorisasi hasil

penelitian, antara lain mengenai proses penerimaan diri setelah drop out, faktor penerimaan diri

mahasiswa drop out dan dampak setelah drop out.

Dampak Yang Dihadapi Setelah Drop Out

Mahasiswa yang telah mendapat status drop out telah mengantisipasi dampak atau

konsekuensi yang akan timbul dari masalahnya baik masalah dari dalam dirinya pribadi dan

lingkungan sosialnya. Merasa kecewa merupakan salah satu dampak yang dirasakan oleh responden

yang telah berstatus drop out. Berdasarkan dari hasil wawancara pada mahasiswa merasa mampu

bertanggung jawab dengan keputusan dan perilaku yang dia lakukan, tetap percaya diri dan yakin

dengan kemampuannya.

Sehingga berdampak pada penerimaan dirinya. Hurlock (2006) mengemukakan bahwa

dampak penerimaan diri yakni penyesuaian diri. Orang yang memiliki penerimaan diri, mampu

mengenali kelebihan dan kekurangannya. Ia biasanya memiliki keyakinan diri (self confidence) dan

harga diri (self esteem). Selain itu mereka juga lebih dapat menerima kritik demi perkembangan

dirinya. Penerimaan diri yang disertai dengan adanya rasa aman untuk mengembangkan diri ini

memungkinkan seseorang untuk menilai dirinya secara lebih realistis sehingga dapat menggunakan

potensinya secara efektif. Dengan penilaian yang realistis terhadap diri, seseorang akan bersikap

jujur dan tidak berpura-pura. Selain itu ia juga merasa puas dengan menjadi dirinya sendiri tanpa

ada keinginan untuk menjadi orang lain. Berdasarkan hasil wawancara yang telah diperoleh dampak

yang dirasakan oleh responden yakni responden melakukan hal yang positif, misalnya menunjukkan

setiap prestasi yang telah diraihnya, memiliki ekspektasi yang tinggi dengan apa yang dimilikinya

sekarang setelah mendapatkan status drop out.

Dampak yang timbul dari masalah tersebut tidak hanya berdampak pada diri mahasiswa,

namun berdampak pula pada lingkungan sosialnya. Seperti yang dirasakan oleh beberapa responden

setelah mendapat status drop out, mereka merasa takut atau malu dalam berinteraksi dan bergaul

dengan lingkungannya, takut tidak diterima dengan statusnya tersebut. Hurlock (2006)

mengemukakan bahwa penyesuaian sosial penerimaan diri biasanya disertai dengan adanya

penerimaan pada orang lain. Orang yang memiliki penerimaan diri akan merasa aman untuk

menerima orang lain, memberikan perhatiannya pada orang lain, serta menaruh minat terhadap

(7)

Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang | 7 penerimaan diri dapat melakukan penyesuaian sosial yang lebih baik dibandingkan dengan orang

yang merasa rendah diri sehingga mereka cenderung berorientasi pada dirinya sendiri (self

oriented). Ia dapat mengatasi keadaan emosionalnya tanpa menggannggu orang lain, serta toleran

dan memiliki dorongan untuk membantu orang lain.

Dengan mendapat status tersebut mahasiswa akan lebih mampu untuk berpikir secara luas

dan positif dalam bertindak serta melakukan segala hal kedepannya. Walaupun dalam prosesnya

membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerima hal tersebut, tetap memiliki keyakinan,

tanggung jawab dan rasa percaya untuk terus berusaha dan berkembang untuk masa depan yang

lebih baik lagi.

Faktor Penerimaan Diri Mahasiswa Drop Out

Setiap mahasiswa yang mendapat status drop out pasti akan melalui berbagai hal dalam

proses tersebut karena sebagaimana kita ketahui bahwa mahasiswa tidak dengan mudah bisa

menerima kenyataan tersebut pada awalnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu akhirnya

mereka mampu menerima kenyataan tersebut. Hal ini tidak terlepas dari beberapa faktor yang

mempengaruhinya. Berdasarkan hasil wawancara yang telah diperoleh dari responden, menyatakan

bahwa sebagian besar proses penerimaan dirinya dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.

Hurlock (2006) mengemukakan beberapa faktor yang bersifat internal dari proses penerimaan diri

ialah pemahaman tentang diri sendiri yang timbul dari kesempatan seseorang untuk mengenali

kemampuan dan ketidakmampuannya serta mencoba menunjukan kemampuannya. Semakin

individu memahami dirinya, maka semakin besar penerimaan individu terhadap dirinya. Selain itu,

pengaruh keberhasilan yang dialami, keberhasilan yang dialami dapat menimbulkan penerimaan

diri (yang positif). Dan tidak adanya gangguan emosional yang berat akan membuat individu dapat

bekerja sebaik mungkin dan merasa bahagia. Dalam hal ini responden yang telah mendapat status

drop out ini pada awalnya membutuhkan waktu untuk memikirkan hal tersebut dan seiring dengan

berjalannya waktu responden tidak lagi meperdulikan masalah tersebut atau merasa apatis dengan

hal tersebut dengan memikirkan dan melakukan hal yang lebih positif.

Selain dari faktor internal, adapun faktor lain yang mempengaruhi penerimaan diri

mahasiswa drop out yakni faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar diri mahasiswa, seperti

orangtua, keluarga dan teman-temannya. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hurlock (2006),

beberapa faktor yang bersifat eksternal dalam proses penerimaan diri yaitu tidak adanya prasangka,

adanya penghargaan terhadap kemampuan sosial orang lain dan kesediaan individu mengikuti

kebiasaan lingkungan dan pola asuh di masa kecil yang baik anak yang diasuh secara demokratis

(8)

8 | Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Gambaran Penerimaan Diri Mahasiswa Setelah Drop Out

Berdasarkan dari penelitian terdapat hasil wawancara pada responden alasan mengapa

mereka di drop out, yaitu dianggap sebagai provokator, menikah, waktu cuti yang telah melampaui

batas maksimum cuti akademik, dan menyalahi aturan yang telah ditetapkan. Mahasiswa yang

mendapat status drop out pada awalnya tidak dapat menerima secara langsung hal tersebut, karena

mahasiswa membutuhkan waktu untuk memahami serta mampu menerima dan menyesuaikan diri

dengan hal tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa penerimaan diri mahasiswa yang berstatus

drop out bukanlah yang selalu bisa dipahami oleh orang lain tetapi mahaiswa harus menjelaskan

apa yang dirasakan dan kenyataan yang dialaminya. Pannes (Hurlock, 1973) menyatakan bahwa

penerimaan diri adalah suatu keadaan dimana individu memiliki keyakinan akan karakteristik

dirinya, serta mampu dan mau untuk hidup dengan keadaan tersebut. Oleh karena itu, mahasiswa

yang telah di drop out dengan penerimaan diri mahasiswa memiliki penilaian yang realistis tentang

potensi yang dimiliknya, yang dikombinasikan dengan penghargaan atas dirinya secara

keseluruhan. Artinya, mahasiswa ini memiliki kepastian akan kelebihan-kelebihannya, dan tidak

mencela kekurangan-kekurangan dirinya. mahasiswa yang memiliki penerimaan diri mengetahui

potensi yang dimilikinya dan dapat menerima kelemahannya.

Proses penerimaan diri mahasiswa yang telah di drop out tidak mudah untuk dihadapi

karena memiliki konsekuensi ke depan yang pastinya akan berdampak pada diri dan

lingkungannya. Sehingga mahasiswa membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dan dalam

bentuk apapun agar membantu mahasiswa dalam menerima dirinya dengan status drop out.

Hurlock (2006) mengemukakan bahwa penerimaan diri merupakan tingkat dimana individu

benar-benar mempertimbangkan karakteristik pribadinya dan mau hidup dengan karakteristik tersebut.

Tidak adanya prasangka, adanya penghargaan terhadap kemampuan sosial orang lain dan kesediaan

individu mengikuti kebiasaan lingkungan, karena mahasiswa membutuhkan penghargaan dan

dukungan dari lingkungan sosialnya sehingga mampu menyesuaikan diri dengan status dan

lingkungannya.

Hasil wawancara yang telah diperoleh dari mahasiswa yang telah di drop out, responden

mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitarnya, baik dari lingkungan keluarga maupun

lingkungan sosialnya. Pada kasus seperti ini, peran dari orangtua dan orang-orang disekitarnya

sangat diperlukan bagi mahasiswa sebagai motivasi untuk bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.

Mahasiswa merupakan aset yang sangat berharga bagi negara sesuai dengan yang dikemukakan

oleh Irfa (2015). Irfa (2015) mengemukakan bahwa salah satu dari fungsi mahasiswa adalah Iron

Stock (generasi penerus) mahasiswa diharapkan mampu menjelma dan menjadi manusia atau

generasi yang tangguh dengan kemampuan yang mumpuni dan memiliki ahlak yang baik, sehingga

(9)

Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang | 9 organisasi yang ada memerlukan generasi penerus di bidangnya masing-masing. Dunia

kemahasiswaan merupakan momentum untuk menciptakan kaderisasi yang bermutu, karena

mahasiswa merupakan agen yang memiliki tugas untuk melakukan pengembangan serta perubahan

kedepannya.

Penutup

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa

terdapat dinamika penerimaan diri yang beraneka ragam dari setiap responden. Adapun proses

penerimaan diri responden tidak terlepas dari ragam masalah atau faktor yang menjadi penyebab

masalah tersebut terjadi. Berbagai macam masalah yang dihadapi inilah yang menyebabkan terjadi

beragam proses atau dinamika penerimaan diri yang terjadi pada setiap responden.

Dampak pada dirinya secara pribadi maupun yang berdampak pada lingkungan sosialnya.

Dampak yang terjadi pada dirinya yakni merasa kecewa, namun pada akhirnya akan merasa mampu

dan berpikir secara positif dengan ekspektasi yang baik untuk kedepannya dan menunjukkan

prestasinya yang telah dirainya setelah di drop out. Sedangkan dampak bagi lingkungan sosialnya

yakni merasa takut, canggung atau malu untuk tidak diterima dengan statusnya tersebut. Namun, hal

tersebut mampu diatasi oleh individu.

Faktor yang mempengaruhi proses penerimaan diri responden dalam menerima statusnya

sebagai mahasiswa yang telah di drop out yakni faktor yang bersifat eksternal dan faktor yang

bersifat internal. Faktor yang bersifat internal yang mempengaruhi proses penerimaan diri

mahaisswa yang telah di drop out ialah dukugan dari orang-oarang disekitarnya, khususnya

keluarga dan orang tua. Adapaun bentuk dukungan yang diberikan yakni dukungan moril,

dorongan, saran dan kritik yang bersifat membangun guna membantu proses penerimaan diri

responden agar mampu menerima kenyataan dan bisa lebih baik lagi kedepannya. Faktor yang

bersifat internal yang mempengaruhi proses penerimaan diri mahasiswa yang telah di drop out ialah

faktor yang berasal dari dalam diri individu sendiri, dalam hal lebih berpikir positif dan berpikir

untuk jangka panjang. Seperti lebih menunjukkan prestasinya, semakin percaya diri, mampu

bertanggung jawab dan yakin akan dirinya, dengan segala kemapuan yang dimilikinya.

Gambaran penerimaan diri responden yang telah mendapat status drop out membutuhkan

waktu yang cukup lama untuk menerima hal tersebut sehingga responden mampu memahamai dan

menerima hal tersebut dan mengetahui apa saja yang menjadi faktor yang mempengaruhi dan

dampak bagi dirinya seperti apa. Karakteristik individu dengan penerimaan diri yang baik,

terkhusus pada mahasiswa yang telah di drop out ialah : (a) individu mempunyai keyakinan dan

kemampuan dalam menghadapi masalah; (b) individu tidak menganggap dirinya berharga, sama

(10)

10 | Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

(e) individu berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya; (f) individu dapat menerima

tanggapan dari orang lain; dan (g) tidak menyalahkan dirinya.

Daftar Pustaka

Amartyakul, P. (2014). Factors affecting graduate students’ decision to drop out. International Journal of Arts & Sciences. Vol.07(02), Hal.557-566

Chaplin, J.P (2011). Kamus psikologi. Jakarta: PT. Rajawali Pers

Cronbach, L.J.1963. Educational Psychology. New York: Harcourt, Brace & World, Inc.

Creswell, J. W. (2007). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five tradition. California: Sage Publications, Inc.

Fajar Online. (2014). UIN Pecat 702 Mahasiswa, sebagian tak bisa bayar SPP. Online.

www.jppn.com (diakses 22 April 2015)

Froom, E. (1969). Escape from freedom. New York: Avon Book.

Gunawati, R., Sri, H., & Anita, L. (2006). Hubungan antara efektifitas komunikasi mahasiswa-dosen pembimbing utama skripsi dengan stres dalam menyusun skripsi pada mahasiswa program studi psikologi fakultas kedokteran Universitas Diponegoro. Jurnal psikologi Universitas Diponegoro. Vol. 3(2). Hal. 93-115

Habib, Z. (2011). Comparison of drop-out between community model schools and govt. Girls primary school in the punjab. Interdisciplinary Journal Of Contemporary Research in Business. Vol.3(8), Hal.1-14

Hamidi. (2010). Metode Penelitian Kualitatif “Pendekatan Praktis Penulisan Proposal dan

Laporan Penelitian”. Malang: UMM Press.

Handayani, M., M., Sofia, R., & Avin, F., H. (1998). Efektivitas pelatihan pengenalan diri terhadap peningkatan penerimaan diri dan harga diri. Jurnal Psikologi.Vol.2. Hal.47-55

Hasbullah, R. (2008). Faktor-faktor penyebab drop out mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang. Karawang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Hurlock, E. (2006). Psikologi perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga

Ina. (2010). DO akibat salah jurusan. (Online). www.edukasi.kompas.com. (Diakses tgl.23 April 2015)

Irfa, A., A. (2015). Peran dan fungsi mahasiswa (Online). www.academia.edu.com(Diakses 23 April 2015)

(11)

Copyright@2017 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang | 11 Mulyati, S. (2013). Penerapan Fuzzy Inference system (FIS) dengan metode mamdani pada sistem

prediksi mahasiswa berhenti studi (Drop Out). Jurnal Teknik Informatika Universitas Pamulung.Hal.1-12

Patriana, P. (2007). Hubungan antara kemandirian dengan motivasi bekerja sebagai pengajar les privat pada mahasiswa di Semarang. (skripsi). Tidak diterbitkan. Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro

Parapat, I, B. (2010). Mahasiswa. Online.http://dokumen.mahasiswa2l. (Diakses 22 April 2015)

Poerwandari, E. K. (2009). Pendekatan kualitatif dalam penelitian Psikologi. Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Universitas Indonesia.

Santrock. J. W. (2006). Life Span Development. Boston: Mcgraw-Hill,Inc

Santrock. J. W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja. Jakarta: Erlangga

Sembiring, A. & Mbayak, G. (2013). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengunduran diri mahasiswa dengan aplikasi data mining ADD-INS- studi kasus pada stimik mikroskil. JSM STMIK Mikroskil. VO.14(2). Hal.139-146

Senkeyta, Y. (2013). Proses Penerimaan Diri Ayah Terhadap Anak yang Mangalami Down Sybdrome. Jurnal FISIP Universitas Brawijaya. Hal 1-20.

Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: Alfa beta.

Tampubolon. D. P. (2001). Perguruan tinggi bermutu “Paradigma baru manajemen pendidikan tinggi menghadapi tantangan abad ke-21”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (diterbitkan). sipuu.setkab.go.id (diakses 22 April 2015).

Referensi

Dokumen terkait

Pemahaman profil mahasiswa yang potensial drop out penting untuk diketahui, pemahaman dapat dilakukan dengan mengungkapkan pengetahuan, ini juga dapat digunakan untuk lebih

Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester 12 yang memiliki permasalahan akademik yaitu masih memiliki tanggungan lebih dari 9 SKS dengan jatah semester yang

Sesuai dengan penelitian Ahkam (2004) yang menyatakan sebagian besar mahasiswa menghadapi berbagai macam masalah penyesuaian sosial seperti sulit bergaul di dalam maupun di

Hasil penelitian menunjukkan penerimaan diri ketiga subjek mahasiswa tunanetra total yang meliputi tujuh indikator, yaitu: (1) positif terhadap diri, (2)

Dalam penelitian ini yang dijadikan sumber data dalam pengumpulan kuisioner adalah responden, dan responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa IAIN Tulungagung

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki regulasi belajar yang tergolong tinggi dan sangat tinggi.. Prosentase tertinggi pada aspek regulasi belajar

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 5 orang mahasiswa yang memiliki tingkat kecemasan berbicara di depan umum yang tergolong tinggi, serta memiliki pengalaman masa lalu

Penelitian ini mengungkap pengalaman penerimaan diri remaja yatim/piatu di Surabaya yang menghadapi berbagai masalah dalam perubahan