ANALISA KRITIS ATAS
GOOD GOVERNANCE
Mudiyati Rahmatunnisa
Program Studi Ilmu Pemerintahan dan Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Padjadjaran
Abstrak
Diskursus kontemporer menunjukkan good governance sebagai sebuah strategi alternative pembangunan yang mengglobal. Beragam elemen penting yang melekat di dalamnya telah menjadikan good governance diterima oleh banyak Negara hampir tanpa resistensi yang berarti. Apakah good governance selalu berimplikasi positif terhadap demokrasi dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan sebagaimana diformulakan oleh para pendukungnya? Analisis kritis dalam artikel ini menunjukkan bahwa kalkulasi teoritik tersebut tidak selalu benar.
Abstract
Contemporary discourse shows that good governance has become a global strategic alternative in development process. Its various features have made good governance globally accepted almost without significant resistance. Has good governance always have positive implications toward democracy and economic development as it has been originally formulated by its proponents? Critical analysis within this article shows that theoretical calculation has not always been right.
Pendahuluan
Good governance telah menjadi sebuah buzz word bagi banyak pihak, baik akademisi, policy makers, birokrat dan lembaga-lembaga strategis baik nasional maupun international sejak akhir decade 80-an. Dengan kata sifat “good” yang melekat, banyak pihak berasumsi good governance sebagai sebuah tatanan yang akan selalu berkaitan dengan outputs dan
outcomes yang baik. Para pendukungnya
mengatakan bahwa good governance merupakan prasyarat penting untuk pembaharuan ekonomi dan stabilitas politik (1991, dalam Pauly 1999: 273; Joseph 2001). Karena potensi inilah, good governance begitu cepat menyebar dan diterima oleh banyak Negara. Apakah memang demikian? Tulisan ini bermaksud untuk menguraikan pengertian serta perdebatan teoritik maupun praktek dari good governance.
Pengertian Governance dan Good Governance
Sebagaimana istilah-istilah lainnya dalam ilmu social, good governance juga mengalami dilemma dalam pemaknaannya. Berbagai ahli, pemerintah berbagai negara, lembaga donor, baik regional maupun internasional telah melakukan pendefinisian yang beragam atas good governance. Namun demikian, kondisi tersebut bukan berarti tanpa adanya konsensus berkait dengan good
governance. Disepakati bahwa good
governance pada masa sekarang ini merupakan elemen strategis yang harus di-inkorporasi dalam strategi pembangunan.
Ada dua kekuatan utama yang melatarbelakangi kemunculan wacana
governance, yaitu globalisasi dan
konsekuensi logis dari adanya perkembangan dan perubahan fundamental disemua lini dalam kehidupan masyarakat, seperti halnya dikemukakan oleh Chhotray and Stoker (2009: 2) sebagai berikut:
There are the implications of our growing interdependence in a context where the expectations of citizens to influence the decisions that affect them
have increased the pressure on
established systems of collective
decision-making, and brought forth demands for new forms of governance.
Kemunculan governance dipandang sebagai alternative cara pandang dalam memahami dinamika perubahan social, ekonomi dan politik yang melanda dunia pada decade 90-an. Disebutkan selajutnya oleh Chhotray dan Stoker (2009: 2) bahwa “Governance seeks to understand the way we construct collective decision-making…existing models were failing to capture what was happening, and not providing an appropriate framing of key issues for reformers.”
Di ranah politik, keputusan-keputusan masih harus dibuat oleh Negara atau pemerintah. Perspektif governance mencoba mempertanyakan bagaimana tugas ini bisa dilaksanakan dengan efektif dan legitimate. Pertanyaan ini pada gilirannya memaksa Negara atau pemerintah untuk mempertimbangkan cara alternative dalam pembuatan keputusan. Namun demikian, menurut Bandyopadhyay (1996: 3109), “…governance is wider than government,
though government because it is the most powerful and coercive institution continues to be the major element of any system of governance...”.
Banyak ahli mengatakan bahwa governance tidak terdefinisi dengan jelas.
Pierre dan Peters (2000: 7, dalam Chhotray & Stoker 2009) misalnya mengatakan bahwa konsep governance ‘is notoriously slippery”. Sementara itu Schneider (2004: 4, dalam Chhotray & Stoker 2009) mengatakan bahwa ketidakjelasan konsep governance merupakan
“[the] secret of its success”.
Secara sederhana, governance dapat diterjemahkan sebagai “ways of governing” (Crook & Manor 1995). Sementara, Chhotray dan Stoker (2009: 3) mendefinisikan governance sebagai “the rules of collective decision-making in settings where there are a plurality of actors or organizations and where no formal control system can dictate the terms of the relationship between these actors and organizations”.
Namun, perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa pengertian governance menjadi begitu beragam. Misalnya, Landell-Mills dan Serageldin (1991, dalam Nanda 2006: 273) dalam artikelnya menjelaskan bahwa
Governance may be taken as denoting how people are ruled and the affairs of a state are administered and regulated. It refers to a
nation’s system of politics and how this
functions in relation to public administration and law. Thus, the concept of governance goes
beyond that of “government” to include a
political dimension.
Definisi governance yang agak berbeda dikemukakan oleh United Nation Development
Programme (UNDP) berikut ini merupakan
salah satu definisi yang dijadikan rujukan oleh banyak akademisi, praktisi maupun lembaga-lembaga regional maupun internasional:
“the exercise of economic, political and administrative authority to manage a
country’s affairs at all levels. It
exercise their legal rights, meet their
obligations and mediate their
differences”(UNDP 1997)1
Dari beberapa definisi tentang governance di atas, dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya governance merujuk pada mekanisme pengelolaan negara di mana di dalamnya mencakup pengoperasian berbagai kewenangan, pengelolaan warga negara dan interaksi berbagai entitas politik dalam proses pembuatan keputusan yang tidak hanya di dominasi oleh negara, tetapi juga aktor-aktor lainnya.
Dalam konteks pembangunan, good governance sebenarnya berkaitan dengan awal mula kemunculan tuntutan akan prasyarat politik yang dikenakan pada program-program bantuan pembangunan (aid programmes) yang ditawarkan oleh international financial institutions (IFIs), yaitu the International Monetary Fund (IMF) dan the World Bank serta beberapa Negara Barat kepada beberapa Negara Sub-Saharan Africa (terutama bilateral aid policies) (Crook & Manor 1995; Nanda 2006). Pada decade 1980an, lembaga-lembaga beserta Negara-negara donor tersebut meluncurkan apa yang disebut dengan Structural Adjustment Programs (SAPs) untuk beberapa Negara Sub-Saharan Afrika yang mengajukan bantuan keuangan, karena pada saat itu mengalami “economic malaise caused by balance of payments deficits, high inflation,
and sluggish GDP” (Nanda 2006: 271).
1
The World Bank, governance adalah “the manner in which power is exercised in the
management of a country’s economic and
social resources for development”, dalam Abdellatif, A. M. 2003, Good Governance and Its Relationship to Democracy & Economic Development in Global Forum III on Fighting Corruption and Safeguarding Integrity S. Ministry of Justice Republic of Korea, Seoul.
Dengan mengutip Mosley, Leftwich menguraikan bahwa program tersebut mencakup dua tahapan utama, ‘stabilisation’
dan ‘adjustment’.
Stabilisation normally meant immediate devaluation and often drastic public expenditure cuts. This was followed by adjustment which sought to transform economic structures and institutions through varying doses of deregulation, privatization, slimming down allegedly
oversized public bureaucracies,
reducing subsidies and encouraging realistic prices to emerge as a stimulus to greater efficiency and productivity, especially for export.
Thus, pada prinsipnya Negara-negara Barat tersebut menuntut Negara-negara Sub-Saharan Afrika tersebut melaksanakan apa yang disebut dengan “good government”, yaitu mengadopsi “more (world) market-oriented economic policies”, sebagai prasyarat untuk mendapatkan bantuan. Oleh karena itu, banyak kalangan mengatakan bahwa formulasi awal kebijakan “good government” lebih merupakan “crude ideological assertion” yang melihat bahwa rejim yang korup dan inefisien bertentangan dengan perkembangan pasar bebas ekonomi kapitalis dan karenanya harus diganti dengan “Anglo-American style multi-party democracies” (Crook & Manor 1995).
Perkembangan selanjutnya menunjukkan adanya perubahan dari “government“ ke “governance”.2 Salah satu
2
alasan terpenting yang mendasari perubahan tersebut adalah adanya respon dan kritik dari lembaga-lembaga multilateral seperti The
World Bank dan NGOs bahwa promosi tentang
tipe pemerintahan tertentu dipandang terlalu ideologis atau “ethnocentric” (Crook & Manor 1995). Oleh karena itu, perubahan dilakukan dengan proposisi yang dipandang lebih teknis dan apolitik yang terwakili dalam governance, yang dimaknai sebagai “the processes by which economic and social matters are managed, and the capacity of institutions to manage them fairly, rationally and predictably” (Crook & Manor 1995). Governance dalam perspektif ini tidak hanya menyangkut pembangunan ekonomi dalam arti yang sempit, tetapi mencakup juga kinerja institusi dan hubungan-hubungan antara Negara dan masyarakat.
Kemunculan pertama dari pinsip good governance adalah pada tahun 1989 (Adrian Leftwich 1993) ketika The World Bank memberikan laporan tentang permasalahan pembangunan di Afrika yang disinyalir disebabkan oleh persoalan penggunaan kekuasaan politik untuk mengatur urusan-urusan Negara. Lebih lanjut, sebagaimana dikemukakan oleh Marc dan Byong-Joon (dalam Abdellatif 2003) good governance merupakan “the term that symbolizes the paradigm shift of the role of governments”.
power. Governance thus denotes the structures
of political and, crucially, economic
relationships and rules by which the productive and distributive life of a society is governed”. Singkatnya, governance merujuk kepada “a system of political and socioeconomic relations or, more loosely, a regime”. Leftwich, A. 1993, 'Governance, Democracy and Development in the Third World', Third World Quarterly, vol. 14, no. 3, pp. 605-624. Available from: http://www.jstor.org/stable/3992489
[26/01/2011].
Banyak kalangan mengatakan bahwa good governance merupakan “a new way of thinking about public sector, political and administrative structures of developing countries” (Uddin & Joya 2007: 7).
Dalam perspektif teknis-manajerial,
good governance yang dipandang IBRD3
sebagai “sound development management” (Adrian Leftwich 1993) merupakan pendekatan alternatif yang diluncurkan untuk mengatasi kelemahan pendekatan pembangunan sebelumnya, di mana otonomi Negara sangat minimal (free market
mechanism). Salah satu kelemahan utama
pendekatan pembangunan sebelumnya adalah karena terlalu mengandalkan kepada mekanisme pasar dan pemangkasan peran Negara yang cukup signifikan. Satu hal strategis dalam perspektif ekonomi politik yang terlupakan adalah keberadaan struktur Negara yang efektif, yang penting untuk dapat menjamin pasar dengan memelihata stabilitas politik dan ekonomi, serta kejujuran dan keamanan dalam transaksi-transaksi ekonomi serta kapasitas infrastruktur yang mendukung dan tepat (Adrian Leftwich 1993). Oleh karena itu, sebagaimana Crook dan Manor (1995) menyatakan, penekanan terpenting dalam governance adalah pada kapasitas Negara, pengembangan institusi dan berfungsinya peran-peran minimal Negara. Berkaitan dengan fungsi ini, Nayyar (2000) memberikan ilustrasi sebagai berikut:
The state must concentrate on
improving its traditional functions like the maintenance of law and order... its economic function should be restricted to providing the necessary social and physical infrastructure for development. The state would also need to evolve new
3International Bank for Reconstruction and
laws to govern the new market economy and to ensure its smooth and efficient functioning. But these laws, when formulated, should facilitate and not obstruct the functioning of markets.
Satu hal yang perlu menjadi poin penting di sini adalah bahwa dalam perspektif
good governance, bukan ditujukan untuk
menjadikan Negara lebih otonom, akan tetapi lebih kepada membangun
“horizontal links between state and civil
society. By embedding organised
interests like business with government in decision-making processes it is hoped to build stable networks of interest which would both promote the general interest and bring specialist knowledge to bear on decision-making.” The gain in terms of the good governance agenda would be that the exclusive powers of the state could be reduced in scope and also the initiative and knowledge available in civil society could be harnessed for public purposes.” (Joseph 2001).
Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa konsep governance berkaitan langsung dengan manajemen proses pembangunan, yang didalamnya tidak hanya didominasi oleh Negara tetapi juga terdapat keterlibatan sector-sektor privat dam masyarakat pada umumnya.
Governance mencakup kapasitas dan
keberfungsian sector public dan juga aturan-aturan dan institusi-institusi yang menjadi kerangka bagi keterlibatan sector privat dan masyarakat dalam hubungannya dengan Negara.
Uddin dan Joya (2007: 7) menyatakan bahwa definisi dan interpretasi tentang good
governance sejak kemunculan pertamanya
pada tahun 1989, telah menjadi sangat beragam. Misalnya, Marie Besancon, dengan mendefinisikan governance sebagai “the
delivery of political goods — beginning with security — to the citizens of nation-states”, maka good governance merujuk kepada “results, when nation-states provide high order of certain political goods — when the nation states perform effectively and well on behalf of their citizens” (Besancon 2003 dalam Uddin & Joya 2007: 8).
Sementara itu, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menjelaskan bahwa good governance adalah kondisi ketika
…public institutions act effectively,
providing an enabling environment for economic growth and development.
Good governance requires the
improvement of accountability and transparency of public sector agencies, concomitant with the effective fight
against corruption. The effective
performance of democratic institutions, including legislatures, and the fight against corruption, are the central elements of good governance (dikutip dalam Uddin & Joya 2007: 10).
Sementara itu, O’Neill (Uddin & Joya 2007) menambahkan poin penting lainnya dalam definisi good governance yang ditawarkannya, yaitu “Good governance means ruling justly, enforcing laws and contracts fairly, respecting human and property rights and fighting corruption.” Dari berbagai definisi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa good governance pada hakekatnya merujuk pada aspek kualitatif dari governance.
minoritas didengar dan dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan, dan responsive terhadap kebutuhan masyarakat masa kini dan mendatang.4
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
Fenomena kontemporer menunjukkan bahwa good governance telah memiliki makna yang jauh lebih kompleks dibanding formulasi awalnya pada akhir decade 80-an. Najem (2003) mengatakan bahwa good governance pada saat ini mencakup aspek-aspek penting sebagai berikut:
“economic liberalisation and the
creation of market friendly
environments; transparency and
accountability with respect to both
economic and political
decision-making; political liberalisation,
particularly democratic reforms; rule of law and the elimination of corruption; the promotion of civil society; the introduction of fundamental human rights guarantees, especially with respect to political rights such as freedom of expression, freedom of
4
Lihat juga, misalnya, Joseph, S. 2001, 'Democratic Good Governance: New Agenda for Change', Economic and Political Weekly, vol. 36, no. 12, pp. 1011-1014[26/01/2011].
assembly and freedom from arbitrary imprisonment; and the adoption of policies designed to safeguard long-term global interests like education, health and the environment”.
Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Demmers, Jilberro dan Hogenboom (2004) bahwa konsep good governance seringkali didefinisikan sebagai “a political regime based on the model of a liberal democratic polity, which protects human and civil rights, combined with a competent,
non-corrupt and accountable public
administration.”
Dalam pandangan Leftwich (1993), paling tidak, ada tiga komponen utama dari pemahaman good governance di atas: Pertama, dari perspektif system secara umum, governance yang memiliki makna yang lebih luas dari government, merujuk kepada sebuah system hubungan politik dan sosioekonomi yang tidak hanya didominasi oleh Negara, tetapi juga aktor-aktor lain di luar Negara. Kedua, dari perspektif politik, posisi Negara dalam good governance memiliki legitimasi dan otoritas yang berasal dari mandat demokratis melalui mekanisme pemilu yang
Sumber:
bebas dan diselenggarakan secara regular. Negara juga dibangun atas dasar prinsip “separation of legislative, executive and judicial powers” yang jelas. Ketiga, dari perspektif administrasi, good governance berarti “an efficient, open, accountable and
audited public service which has the
bureaucratic competence to help design and implement appropriate policies and manage whatever public sector there is.” Good governance juga meniscayakan adanya system hukum yang independen yang mampu menegakkan supremasi hokum dan mengatasi perselisihan-perselisihan yang muncul.
Mengapa Good Governance?
Sejak awal peluncurannya oleh The
World Bank pada tahun 1989 melalui
dokumennya yang berjudul Sub-Saharan Africa: From Crisis to Sustainable Growth, good governance berkaitan dengan kebijakan-kebijakan penyesuaian struktural (structural adjustment policies) seperti “reduced state intervention in economic decision-making; reduced public sectors and more efficient and transparent public sector administration; freer markets and the elimination of unnecessary public subsidies; and increased integration
into the world economy…”(Najem 2003).
Rangkaian kebijakan yang terangkum dalam good governance tersebut didasarkan pada argumentasi bahwa
[Good governance] would in itself, help to promote the appropriate political environment for sustainable economic growth – which, incidentally, would be a more inclusive and accountable environment on the whole than most developing societies had previously experienced (Najem 2003).
Berbeda dengan pendekatan pembangunan yang berlaku sebelumnya
(perspektif good government) yang menghendaki pengadopsian model Barat secara secara utuh dan menyeluruh, good governance memberikan ruang untuk elemen-elemen yang berakar pada negara-negara penerima donor untuk mendisain mekanisme-mekanisme politik dan social yang diperlukan. Oleh karena itu, good governance dipandang lebih aplikatif dan mempertimbangkan kondisi kultur (culturally sensitive) negara-negara penerima donor.
Lebih jauh lagi, peran Negara yang dibatasi dalam aktivitas ekonomi masyarakat berdampak pada kemunculan pusat kekuasaan lain di luar Negara. Pada gilirannya, keberadaan elemen-elemen kekuasaan baru ini akan menuntut Negara menjadi lebih terbuka dan akuntabel. Dengan demikian, secara singkat dapat dikatakan bahwa “a considerable degree of political liberalization, and perhaps even democratization” merupakan keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari praktek good governance (Najem 2003), di samping tentunya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan. Berkaitan dengan pembangunan dan good governance, Windsor (2001: 15) menyatakan bahwa “success in the other core areas of sustainable
development is inextricably related to
democratization and good governance.” Sebagaimana banyak dikemukakan dalam berbagai literature, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan berimplikasi sangat luas. Nayyar (2000) misalnya, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi, bersama-sama dengan human
development program dan program-program
merupakan akbibat dari ketiadaan good governance.
Keuntungan lainnya yang seringkali diasosiasikan dengan praktek good governance adalah sebagaimana diungkapkan Demmers, Jilberro dan Hogenboom (2004) bahwa “[good governance] aimed to help countries reach economic prosperity, ensure the rule of law, improve the efficiency and accountability of their public sectors and tackle corruption.” Implikasi lebih lanjut berkait dengan realisasi hak asasi manusia dan demokrasi. Disebutkan bahwa good governance dipandang sebagai rejim yang menjunjung tinggi prinsip pemisahan kekuasaan, system hukum yang independen, kebebasan untuk berorganisasi berbicara dan pers, pemilu-pemilu yang bebas dan system multi partai serta memberikan ruang yang lebar untuk civil society berperan aktif dalam pembangunan yang berkeadilan. The United Nations High Commisioner for
Human Rights (dalam Kirby 2004: 3-4)
misalnya, memberikan ilustrasi keterkaitan antara human rights dengan good governance sebagai berikut:
Governance is the process whereby public institutions can conduct public affairs, manage public resources and guarantee the realization of human rights. Good governance accomplishes this in a manner essentially free of abuse and corruption, and with due regard for the rule of law. The true test
of “good” governance is the degree to
which it delivers on the promise of human rights: civil, cultural, economic, political and social rights.
Potensi keuntungan-keuntungan inilah yang telah menjadikan good governance diterima secara luas dan mengglobal sebagai sebuah strategi pembangunan yang penting.
Kritik Atas Good Governance
Sebagaimana kata sifat yang melekat dalam konsepsinya, good governance sepertinya akan selalu menawarkan dan diasosiasikan dengan kondisi-kondisi yang “good”. Namun demikian, sebagaimana konsep atau teori dalam ilmu politik, good governance tidak terbebas dari kritik dan perdebatan, baik secara konseptual maupun praktek.
Salah satu kritik utama terhadap good
governance yang dimotori oleh beberapa
lembaga donor internasional terkemuka, seperti The World Bank, UNDP dan juga IMF adalah bahwa agenda good governance pada kenyataannya merupakan “a sub ideology to
further enhance the neoliberal
agenda”(Demmers, Jilberto & Hogenboorn 2004). Seperti halnya juga dikemukakan oleh Patomaki (dalam Demmers, Jilberto & Hogenboorn 2004),
From a cosmopolitan democratic
perspective, it is clear that slogans such
as ‘participatory development and good governance’ should not be ways to
impose, in an undemocratic way,
particular, Western visions of
organizing society upon the dependent countries of Latin America, Africa and Asia. It is even worse when this
paternalistic—and often
straightforwardly imperialistic—
attitude is coupled with de facto furthering of profit-seeking corporate interests of those actors who seem to be beyond all measures of transparency, good governance, and democratic accountability, in particular Bretton
Woods institutions and the
transnational corporations.5
5 Bretton Woods Institutions
Pernyataan diatas menunjukkan bahwa agenda global good governance tidaklah tanpa bias atau “interest-free”. Sulit untuk tidak sepakat bahwa agenda good governance sangat suportif terhadap neoliberalism dan kepentingan ekonomi global. Bahkan menurut Robinson (dalam Demmers, Jilberto & Hogenboorn 2004), pasar bebas dan demokrasi yang terangkum dalam agenda good
governance tidak hanya dimotivasi oleh
kepentingan masyarakat yang hidup di bawah rejim yang tidak demokratis atau karena perhatian yang tulus dan solidaritas dari dunia internasional, akan tetapi lebih kepada niat “to make the world both available and safe for global capitalism by creating the best conditions around the world for the unfettered operation of the new global production system”.
Dalam sebuah pertemuan internasional yang diselenggarakan oleh The Commission of Human Rights pada tahun 2004 di Seoul Korea Selatan, peserta dari banyak Negara berkembang memandang bahwa ide good governance tidak lebih dari
…the latest attempt of developed countries to impose on the developing world their notions of governance, whatever the culture, needs and capacity of poorer nations..[it is] seen as a Trojan horse for institutions and laws that would require of developing countries a machinery of “governance” considered suitable to the developed world and protective of the interests and power of developed world. Instead of promoting human rights and
nation-building, “good governance”…is the
means of ensuring obedience to the rules imposed on the developing world by the World Trade Organisation (WTO) and, through bilateral trade agreements, the means whereby the
richest countries shore up their
economic advantages when compared to the poor.
Oleh karena itu, secara tegas Tony Evans (2001: 640) menyatakan bahwa good
governance hanyalah sebuah mekanisme untuk
melindungi aliran modal dan keuangan di seluruh dunia untuk kepentingan dan keuntungan dari Negara-negara kaya dan para investor.
kompeten mempengaruhi proses pembangunan ekonomi. Dengan kata lain, bukan sekedar persoalan better atau good governance. Leftwich (1993: 620) berargumen bahwa “it has been politics and the state rather than governance or democracy that explains the
differences between successful and
unsuccessful developmental records”. Lebih lanjut, Leftwich menyimpulkan bahwa
…from a development point of view, the general but simplistic appeal for better
governance’ as a condition of development is virtuous but naïve. For
an independent and competent
administration is not simply a product
of ‘institution building’ or improved
training, but of politics. And if the politics do not give rise to the kind of state which can generate, sustain and protect an effective and independent capacity for governance, then there will
be no positive developmental
consequences.
Mengingat proses pembangunan sejatinya merupakan proses politik, karena menyangkut “conflict, negotiation and cooperation over the use, production and distribution of resources”, menurut Leftwich, yang lebih diperlukan adalah “a developmental state”, yaitu “a state whose political and
bureaucratic elite has the genuine
developmental determination and autonomous capacity to define, pursue and implement developmental goals”. Argumentasi Leftwich ini semakin diperkuat oleh fenomena Negara-negara di kawasan Asia Pasifik pasca krisis ekonomi yang parah yang melanda kawasan tersebut pada akhir decade 90-an. Krisis ekonomi telah mendiskreditkan “Asian Values”
6
dan menggantikannya dengan wacana good
6
Di kalangan akademisi, tidak ada consensus yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan
governance sebagai alternative mengatasi krisis. Namun demikian, analisis Thompson (2004) atas implementasi good governance selama tujuh tahun menunjukkan bahwa justru rejim-rejim authoritarian (Cina, Vietnam, Malaysia dan Singapura) yang lebih bertahan dan maju ketimbang rejim-rejim demokrasi yang baru yang menerapkan good governance, yang malah mengalami instabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang sangat lambat (Indonesia, Filipina dan Thailand).
Implementasi good governance juga tidak selalu menjamin output dan outcome sebagaimana dikalkulasikan sebelumnya. Pengalaman pemerintah Bosnia, misalnya, menunjukkan bahwa agenda good governance, tidak mampu mengatasi permasalahan korupsi yang melanda negeri tersebut. Bahkan sebaliknya, justru semakin mempertajam segregasi social dan meningkatkan ketergantungan Negara terhadap bantuan internasional (Chandler 2004).
Kesimpulan
Good governance telah menjadi
fenomena yang mengglobal. Para pendukungnya percaya bahwa good
Asian Values. Namun demikian, beragam literature cenderung melihat Asian Values sebagai nilai-nilai yang dijadikan pedoman oleh masyarakat di Negara-negara Confusius Asia Timur. Asian Values seringkali disamakan dengan Confucian Values, yaitu “the importance of family, the concern for virtues and ethics, the primacy of group over individuals, the emphasis on unity or harmony, hard work, thrift, and the importance of education”. Park, C. M. & Shin, D. C. 2004, Do Asian Values Deter Popular Support for
Democracy? The Case of South Korea,
governance merupakan prasyarat penting untuk demokrasi dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan mempertimbangan beberapa komponen inti dari good governance, sulit rasanya untuk tidak menerima asumsi-asumsi yang dibangun tentang beragam potential benefits yang dapat dihasilkan dari proses implementasinya.
Namun demikian, good governance bukanlah tanpa kelemahan. Pengalaman beberapa Negara menunjukkan bahwa good governance bukanlah satu-satunya penyebab laju pertumbuhan ekonomi. Bahkan sebaliknya, beberapa Negara yang telah mengadopsi good
governance justru mengalami instabilitas
politik dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Kemunculan konsep development state bisa jadi merupakan altenatif untuk mengatasi kelemahan praktek good governance dengan menekankan kepada eksistensi Negara yang tidak hanya good, tetapi juga efektif, relative kuat, otonom dan kapabel dalam upaya pencapaian tujuan-tujuan pembangunan. Karakter development state juga dipercaya sebagai alternative yang cukup menjanjikan untuk menangkal dampak negative neoliberalisme.
Daftar Pustaka
Abdellatif, A. M. 2003, Good Governance and Its Relationship to Democracy &
Economic Development in Global
Forum III on Fighting Corruption and Safeguarding Integrity S. Ministry of Justice Republic of Korea, Seoul.
Bandyopadhyay, D. 1996, 'Administration, Decentralisation and Good Governance', Economic and Political Weekly, vol. 31, no. 48 pp. 3109-3111+3113-3114.
Chandler, D. 2004, '‘Good Governance’ Can Make Bad Government: A Study of
International Anti-corruption Initiatives in Bosnia-Herzegovina', in Good Governance in the Era of Global
Neoliberalism: Conflict and
Depolitisation in Latin America,
Eastern Europe, Asia and Africa, eds J. Demmers, A. E. F. Jilberto & B. Hogenboom, Routledge, London & New York, pp. 140-156.
Chhotray, V. & Stoker, G. 2009, Governance
Theory and Practice: A
Cross-Disciplnary Approach, Palgrave
Macmillan, Hamshire and New York.
Crook, R. C. & Manor, J. 1995, 'Democratic Decentralisation and Institutional Performance: Four Asian and African Experiences Compared', Journal of
Commonwealth & Comparative
Politics, vol. 33, no. 3, pp. 309-334.
Demmers, J., Jilberto, A. E. F. & Hogenboom, B. (eds) 2004, Good Governance in the Era of Global Neoliberalism: Conflict and depolitisation in Latin America, Eastern Europe, Asia and Africa, Routledge, London & New York.
Demmers, J., Jilberto, A. E. F. & Hogenboorn, B. 2004, 'Good Governance and Democracy in A World of Neoliberal Regimes', in Good Governance in the Era of Global Neoliberalism, eds J. Demmers, A. E. F. Jilberto & B. Hogenboorn, Routledge, London & New York, pp. 1-32.
Evans, T. 2001, 'If Democracy, Then Human Rights?', Third World Quarterly, vol. 22, no. 4, pp. 623-642.
Kirby, M. 2004, 'Human Rights and Good Governance: Conjoined Twins or Incompatible Strangers?', Chancellor's Human Rights Lecture. Available from:
http://www.unimelb.edu.au/speeches
[19/12/11].
Leftwich, A. 1993, 'Governance, Democracy and Development in the Third World', Third World Quarterly, vol. 14, no. 3, pp. 605-624. Available from:
http://www.jstor.org/stable/3992489
[26/01/2011].
Leftwich, A. 1993, 'Governance, Democracy and Development in the Third World ', Third World Quarterly, vol. 14, no. 3, Democratisation in the Third World, pp. 605-624.
Najem, T. P. 2003, 'Good Governance: The Definition and Application', in Good Governance in the Middle East Oil Monarchies eds T. P. Najem & M. Hetherington, RoutledgeCurzon, London & New York, pp. 1-28.
Nanda, V. P. 2006, 'The "Good Governance" Concept Revisited', Annals of the American Academy of Political and Social Science, vol. 603, Law, Society, and Democracy: Comparative Perspective, pp. 269-283.
Nayyar, D. 2000, 'Alleviating Poverty: Role of Good Governance and Constitutional Reform', Economic and Political Weekly, vol. 35, no. 42, pp. 3739-3742.
Available from:
http://www.jstor.org/stable/4409861
[26/01/2011].
Park, C. M. & Shin, D. C. 2004, Do Asian Values Deter Popular Support for Democracy? The Case of South Korea, Working Paper Series: No. 26, Asian Barometer Project Office, National Taiwan University and Academia Sinica, Taipei.
Pauly, L. W. 1999, 'Good Governance and Bad Policy: The Perils of International Organizational Overextension', Review of International Political Economy, pp. 401-424. Available from:
http://www.jstor.org/stable/4177321
[26/01/2011].
Thompson, M. R. 2004, 'Pacific Asia after 'Asian Values': Authoritarianism, Democracy, and 'Good Governance'', Third World Quarterly, vol. 25, no. 6, pp. 1079-1095.
Uddin, M. J. & Joya, L. A. 2007, 'Development Through Good Governance: Lessons for Developing Countries', Asian Affairs, vol. 29, no. 3, pp. 1-28.
UNDP 1997, Governance for Sustainable
Human Development, UNDP Policy
Paper.