• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIKFUNGSIONAL TEPUNGAMPAS KELAPA FERMENTASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KARAKTERISTIKFUNGSIONAL TEPUNGAMPAS KELAPA FERMENTASI"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Tema 3: Pangan, Gizi dan Kesehatan

KARAKTERISTIKFUNGSIONAL TEPUNGAMPAS KELAPA

FERMENTASI

Oleh

Erminawati, Wuryatmo A Sidik, Riana Listanti, Ervina Mela dan Mega Sulistyawati

Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Corresponding author: [email protected].

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji karakteristik fungsional tepung ampas kelapa yang diolah dengan metode fermentasi. Metode fermentasi yang dikaji adalah melalui metode fermentasi alami dengan perendaman, fermentasi dengan starter merk STARMOF (0.1, 0.5 dan 1%); lama blanching B (15 dan 30 menit); dan lama fermentasi C (12, 18 dan 24 jam) Karakteristik fungsional tepung ampas kelapa fermentasi yang dihasilkan adalah memiliki viskositas berkisar antara 130-300 m Pa.s, kapasitas emulsi berkisar antara2.59-4.79 mL/g.bk, kapasitas penyerapan air (KPA) berkisar antara 384.38-435.775 %bk, kapasitas penyerapan minyak (KPM) berkisar antara 159.295-244.705 %bk, dan swelling volume berkisar antara 22.54-28.975 mL/g.bk. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terutama bagi produsen makanan yang menggunakan memanfaatkan ampas kelapa untuk diolah menjadi produk pangan berbasis tepung ampaskelapa.

Kata kunci: fermentasi, karakteristik fungsional, viskositas, KPA, dan KPM

ABSTRACT

This research studying functional characteristics of coconut pulp flour produced using fermentation method. The fermentation methods studied were; water immersion (natural fermentation), fermentation using STARMOF starter, 0.1% (B1), 0.5% (B2) and 1% (B3); with fermentation time of 12 (T1), 18 (T2) and 24 hours (T3). The functional characteristics of the resulting fermented coconut pulp flour have a viscosity ranging from 130-300 m Pa.s, the emulsion capacity ranges from 2.59-4.79 mL /g.db, water absorption capacity (WAC) ranges from 384.38-435.775% db, oil absorption capacity(OAC)ranges between 159.295-244.705% bk, and swelling volume ranged from 22.54-28.975 mL / g.bk. Overall, the results of this study are expected to provide benefits, especially for food producers who use coconut pulp flour to be processed into food products based on coconut pulp flour.

(2)

Prosiding Seminar Nasional dan Call for Papers

Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VII17-18 November 2017

Purwokerto

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki lahan perkebunan Sumber daya kelapa sesungguhnya memiliki potensi

yang sangat besar dan memiliki peran strategis hampir pada semua bidang kehidupan. Dan Jawa

Tengah sebagai provinsi yang memiliki kebun kelapa terluas kedua di Indonesia sudah seharusnya

melakukan berbagai usaha pengembangan untuk menjadikan kelapa sebagai salah satu komoditas

unggulankelapa terluas di dunia, dengan luas areal mencapai 3,86 juta hektare (ha) atau 31,2 persen

dari total areal dunia sekitar 12 juta ha. Sebahagian besar (98%) dari total luas perkebunan kelapa di

Indonesia merupakan perkebunan rakyat, dan sisanya berupa perkebunan negara dan perkebunan

swasta. Jawa Tengah memiliki kebun kelapa terluas kedua (7,68%), setelah Riau(15,28%).

Ampas kelapa tidak hanya dihasilkan dari proses pengolahan minyak kelapa dan VCO, tetapi

proses-proses pengolahan makanan yang menggunakan santan seperti jenang juga menghasilkan

limbah ampas kelapa. Ampas kelapa memiliki potensi untuk dikelola lebih lanjut menjadi produk

pangan karena komponen nutrisi yang dikandungnya masih tinggi. Ampas kelapa dengan proses

pengolahan yang tepat dapat diolah menjadi tepung ampas kelapa. Oleh karena itu untuk

meningkatkan nilai ekonomi ampas kelapa perlu diproses menjadi bahan pangan misalnya diolah

menjadi tepung kelapa. Sebagai komoditi hasil samping, tepung ampas kelapa memiliki keunggulan

sebagai pendukung kelestarian ketahanan pangan. Hal tersebut ditunjang oleh potensi produksi yang

tinggi, proses dan peralatan yang digunakan dalam produksinya sederhana dan murah, memiliki

kemampuan untuk diolah menjadi produk-produk yang lebih berkualitas, dapat ditambahkan pada

produk-produk roti, resep-resep masakan, dan produk-produk makanan lainnya sebagai makanan

kesehatan sehingga dapat menunjang diversifikasi pangan.

Tepung ampas kelapa mengandung serat pangan sekitar 60,9-63,24%, yang terdiri atas 56%

serat pangan tak larut dan 4% serat pangan larut. Diet tinggi serat dari tepung ampas kelapa,

berdampak terhadap penurunan total kolesterol, LDL kolesterol dan trigliserida. Dengan

mempertimbangkan potensi dan manfaatnya untuk kesehatan, maka ampas kelapa yang selama ini

masih dianggap sebagai hasil samping yang tidak bernilai dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan

fungsional (Igbabul, et al. 2014).Proses pengolahan tepung ampas kelapa yang dikenal selama ini

adalah dengan cara langsung dikeringkan kemudian dihaluskan untuk mendapatkan tepung (Winarsi

(3)

banyak dilakukan. Dengan fermentasi diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi

produk. Proses fermentasi suatu bahan pangan dapat berperan dalam meningkatkan flavor,

aroma dan tekstur bahan; mengawetkan bahan; pengkayaan substrat bahan pangan dengan

vitamin, protein, asam-asam amino esensial dan asam lemak esensial; menghilangkan racun

selama proses fermentasi dan menurunkan lama pemasakan dan keperluan bahan bakar

(Steinkraus, 2002). Pengolahan tepung kelapa dengan cara dibiarkan mengalami fermentasi

secara natural (direndam dalam air) terbukti meningkatkan kadar protein dan serat kasar, serta

menurunkan kadar air tepung kelapa yang dihasilkan (Igbabul et al., 2014). Fermentasi produk

pangan akan meningkatkan nilai nutrisi danfungsionalitynya.Focus masalah yang akan di kaji

dalam program penelitian ini adalah karakteristik fungsional tepung ampas kelapa yang diolah

dengan metode fermentasi menggunakan starter merk STARMOF.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pengolahan, Laboratorium

Pangan dan Gizi Fakultas Pertanian UNSOED, dan Laboratorium Riset Unsoed.

Bahan-bahan utama yang akan digunakan dalam penelitian adalah

Ampas kelapa, starter mocaf merk STARMOF, dan bahan-bahan kimia untuk analisis meliputi

proteleum benzene, H2SO4, NaOH, dan etanol 95%, yang diperoleh dari Lab Chem-Mix

Pratama, Yogyakarta. Sedangkan peralatan utama yang digunakan diantaranya adalah: Oven,

incubator, blender, timbangan analitik, cabinet dryer, ayakan 70 mesh, spektrofotometer, dan

alat-alat gelas untuk analisa kimia.

Faktor yang dicoba dalam penelitian ini adalah: Metode fermentasi tepung ampas kelapa,

terdiri atas; metode fermentasi alami dengan perendaman, fermentasi dengan starter merk

STARMOF (0.1, 0.5 dan 1%); lama blanching B (15 dan 30 menit); dan lama fermentasi C

(12, 18 dan 24 jam). Selanjutnya variable yang diamati meliputi; Viskositas (Onwuka, 2005),

Kapasitas penyerapan air dan minyak (Kadan et al., 2003), Kapasitas Emulsi (Babiker et al.,

(4)

Prosiding Seminar Nasional dan Call for Papers

Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VII17-18 November 2017

Purwokerto

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik fungsional tepung ampas kelapa yang dihasilka

Karakteristik fungsional merupakan sifat fisikokimia yang mempengaruhi perilaku

komponen dalam makanan selama persiapan, pengolahan, penyimpanan, dan konsumsi

(Metirukmi, 1992). Karakteristik fungsional tepung ampas kelapa yang dihasilkan dalam

penelitian ini dibahas berdasarkan hasil dari pengukuran Viskositas, Kapasitas penyerapan air

(KPA) dan minyak (KPM), Kapasitas Emulsi (KE), Swelling Volume dan

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa metode fermentasi(A) berpengaruh nyata

terhadap semua variabel yang diukur, kecuali kapasitas penyerapan minyak; lama blancing

(B)pengaruh metode fermentasi (A). Perlakuan lama blanching (B), tidak memberikan pengaruh

terhadap semua variabel yang diukur; sedang lama fermentasi (C) berpengaruh sangat nyata

terhadap viscositas dan berpengaruh nyata terhadap kapasitas penyerapan minyak dan swelling

volume dari tepung ampas kelapa yang dihasilkan. Selanjutnya interaksi ketiga faktor yang

dicoba menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap viskositas tepung ampas kelapa

yangdihasilkan.

Perlakuan metode fermentasi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan metode fermentasi mempengaruhi

viskositas, kapasitas emulsi (KE), swelling volume, kapasitas penyerapan air (KPA) dan

kelarutan ; dari tepung kelapa yang dihasilkan (Gb.1)

Gambar 1. Grafik pengaruh metode fermentasi terhadap viskositas, kapasitas emulsi (KE), swelling volume, kapasitas penyerapan air (KPA)dan kelarutan tepung ampas kelapa yang dihasilkan. (ket: 1=perendaman air, 2= dengan Starmof 0.1%, 3= dengan Starmof 0.5%, dan 4= dengan Starmof 1%,)

Perlakuan lama fermentasi

Pada penelitian ini perlakuan lama fermentasi mempengaruhi viskositas, swelling

volume, dan kapasitas penyerapan minyak (KPM) dari tepung kelapa yang dihasilkan (Gb.2)

(5)

(KPM) dan swelling volume tepung ampas kelapa yang dihasilkan.

Viskositas adalah peningkatan bahan karena terjadinya penyerapan air dan yang

irreversible didalam air, dimana energi kinetik molekul-molekul air lebih kuat daripada daya

tarik menarik didalam molekul tepung (Winarno, 2008). Penurunan viskositas dipengaruhi oleh

partikel tepung. Menurut Putri (2010) menyatakan bahwa, bentuk dan ukuran granula

dipengaruhi oleh jenis bahan dasar tepung sehingga mempunyai bentuk dan ukuran yang

spesifik. Sifat-sifat fisik tepung seperti viskositas dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran

granula/partikel. Semakin besar ukuran granula, cenderung memiliki viskositas yang tinggi

(Swinkels dan Veendams, 1985). Iwuoha dan Nwakanma (1998) menyatakan bahwa semakin

besar ukuran partikel tepung ubi jalar, semakin tinggi viskositas tepung. Pendapat tersebut

sesuai dengan hasil penelitian dimana pada perendaman air menghasilkan tepung ampas kelapa

dengan nilai viskositas yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan starmof. Semakin

lama fermentasi, ukuran partikel tepung akan semakin kecil sehingga viskositas menjadi rendah.

Fermentasi akan memecah molekul- molekul komples pada ampas kelapa menjadi lebih

sederhana. Pada penelitian ini dilakukan metode fermentasi dengan perendaman air dan larutan

Starmof selama 12, 18 dan 24jam.

Kapasitas penyerapan air digunakan untuk mengukur besarnya kemampuan tepung

untuk menyerap air dan ditentukan dengan cara sentrifugasi. Kapasitas penyerapan air berkaitan

dengan komposisi granula dan sifat fisik tepung setelah ditambahkan dengan sejumlah air.

Menurut Elliason (2004), granula pati dapat basah dan secara spontan terdispersi dalam air. Air

yang terserap disebabkan oleh absorbsi oleh granula yang terikat secara fisik maupun

intermolekuler pada bagianamorphous.

Kapasitas penyerapan minyak dari tepung diduga berhubungan dengan kandungan

lemak dan protein dari tepung. Sebagian besar asam lemak yang terkadung dalam tepung ampas

kelapa merupakan asam lemak rantai sedang, MCFA. Jadi kemungkinan kapasitas penyerapa

minyak akan sangat dipengaruhi oleh kadar lemak nya. Kapasitas penyerapan minyak akan

mempengaruhi tekstur dan flavor tepung, karena minyak yang diserap akan membantu

memperbaiki tekstur dan flavor produk pangan yang dihasilkan.

Kapasitas emulsi merupakan kemampuan larutan atau suspensi untuk mengemulsikan

lemak. Untuk membentuk emulsi yang stabil maka molekul protein lebih awal harus

menjangkau permukaan air, lemak, kemudian membentang sehingga kelompok hidrofobik dapat

berhubungan dengan fase lemak. Sisi protein penstabil yang disajikan ke fase air harus bersifat

hidrofilik dan memiliki asam amino polar yang bermuatan (Bian et al., 2003). Adanya

emulsifier yang terkandung pada tepung dapat berpengaruh pada tektur produk pangan yang

(6)

Prosiding Seminar Nasional dan Call for Papers

Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VII17-18 November 2017

Purwokerto

Emulsifier juga berinteraksi dengan tepung dan digunakan untuk mencegah leaching dari

tepung selama pemanasan (Numfor et al., 1996).

KESIMPULAN

Perlakuan metode fermentasi berpengaruh terhadap beberapa sifat fungsional tepung

ampas kelapa yang dihasilkan. Metode fermentasi dengan konsentrasi starter merk Starmof

menurunkan beberapa nilai sifat fungsional tepung ampas kelapa diantaranya viskositas,

kapasitas emulsi dan menaikkan beberapa nilai sifat fungsional tepung ampas kelapa

diantaranya kapasitas penyerapan air, swelling volume serta kelarutan. Perlakuan metode

fermentasi tidak berpengaruh terhadap kepasitas penyerapan minyak kelapa yang dihasilkan.

Pada perlakuan lama fermentasi berpengaruh terhadap beberapa sifat variabel tepung ampas

kelapa diantaranya viskositas, kapasitas penyerapan minyak dan swelling volume. Lama

fermentasi menyebabkan penurunan tehadap ketiga variabel tersebut, sedangkan lama

fermentasi tidak berpengaruh terhadap kapasitas penyerapan air, emulsi dankelarutan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Tim peneliti mengucapkan terimakasih dan penghargaan LPPM Unsoed Purwokerto,

yang telah memsponsori penelitian ini melalui Riset Unggulan BLU Unsoed 2017 dengan

Kontrak No.SK KEP LPPM : 1246/UN23.14/PN.01.00/2017

DAFTAR PUSTAKA

Apriyantono, A., D. Fardiaz, N. L. Puspitasari, Sedarwati dan S. Budiyanto. 1989.

Analisis Pangan. IPB Press, Bogor. 196-211.

Babiker, E.E., B.A. Hassan, M.M. Elitayeb, G.A. Osman, M.N. Hassan and K.A. Hassan. 2007. Solubility and functional properties of boiled and fried Sudanese tree locust flour as a function of NaCl concentration. Medwell Journal. 5(3):210-214.

Bian, Y., D.J. Myers, K. Dias, M.A. Lihono, S. Wu, and P.A. Murphy. 2003. Functional properties of soy protein fraction produced using a pilot plantscale process.J.Am. Chem. Soc.80:45-549.

Chen, Z. 2003. Physicochemical Properties of Sweet Potato Starches and Their Aplication in Noodle Product. Ph.D Thesis. Wageningen University, The Netherlands.

Collado, L.S., and H. Corke. 1998. Heat moisture treatment effect on sweet potato starch differing in amylose content. J. Food Chemistry. (65)339-346.

Erminawati and Winarsi, H.2013. Assessment on functional characteristics Of coconut flour based on different varieties And maturity-level of coconut. Proceeding of 13th Asean Food Conference, Singapore.September 2013

(7)

starch from edible canna (Canna edulis) gown in Vietnam. Carbohydrate Polymers,

61:314-321.

Igbabul B. D., Bello F. A.,and Ani E. C. 2014. Effect of fermentation on the proximate composition and functional properties of defatted coconut (Cocos nucifera L.) flour. Sky Journal of Food Science 3(5), 34 -40

Kadan, R.S., R.J. Bryant, and A.B. Pepperman. 2003. Functional properties of extruded rice flours. J. Food Science. 68:1669-1672.

Numfor, A.F., M.W. Walter, and J.S. Schwartz. 1996. Effect of emulsifier on the physical properties of native and fermented Starches. J. Agriculture Food Chemistry.

(44):2595-2599.

Onwuka, G.I. and N.J. Ogbagu. 2007. Effect of fermentation on the quality and physical properties of cassava based fufu product made from two cassava varieties NR8212 and Nwangbisi. Medwell Journal. (3):261-264.

Philipine Coconut Authority (PCA). 2014. Coconut Flour in Coconut Processing Technology. FPDD Guide

Steinkraus. 2002. Fermentation in World of Food Processing. Comprehensive Review in Food Science and Food Safety.1:23-32

Sudarmadji, S., B. Haryono, dan Suhardi. 1997. Prosedur Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta. 172 hal.

Sathe, S.K. dan K. Salunkhe. 1981. Isolation, partial characterization and modification of The Geat Nothern Bean (Phaseolis vulgaris L.) starch. Food Science. 46(2):617- 621.

Trinidad, T. P. 2002. Coconut Flour from “Sapal”; A Promising Functional Food. Food and Nutrition Research Institute. Department of Science and Technology. Manila.

(8)

Prosiding Seminar Nasional dan Call for Papers

Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VII17-18 November 2017

Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu

Ilmu Kesehatan

Universitas Jenderal Soedirman

Email [email protected]

ABSTRAK

Ekstrak daun jarak pagar (Jatropa curcas) dilaporkan memiliki efek analgetik dan antiinflamasi pada mencit yang diinduksi albumin, serta antiarthritis pada tikus yang diinduksi Complete Freud’s Adjuvant. Skrining fitokimia membuktikan bahwa jarak pagar mengandung senyawaflavonoid, steroid, triterpenoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Dengan pendekatan biomolekuler seperti uji invitro dapat diketahui mekanisme antiinflamasi dari senyawa aktif daun jarak pagar yang berefek antiinflamasi, kemudian melalui uji in vitro dapat diketahui pula aktivitas gen sitokin IL-1 dan TNFα Target spesifik dari penelitian ini adalah menghasilkan senyawa aktif antiinflamasi dengan mekanisme antiinflamasi melalui aktifitas sitokin. Penelitian pada tahun pertama menghasilkan aktifitas isolat aktif terhadap aktivitas TNF-α sebesar 176.967 µg/ml dan aktivitas IL-1 sebesar 1024.077 µg/ml. hasil isolasi ternyata semakin murni senyawa semakin tinggi aktivitasnya terhadap TNF-α dan IL-1. Korelasi positif antara studi in vivo dan

in vitro diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang jelas tentang farmakodinamik dari senyawa aktif.

Kata kunci: Jatropa curcas,isolat, sitokin, TNF-α dan IL-1.

ABSTRACT

Jatropa curcas extract was reported to have analgesic and anti-inflammatory effects on albumin-induced mice, as well as antiarthritis in Complete Freud's Adjuvant-albumin-induced mice. Phytochemical screening proves that J. curcas was contains of flavonoid, steroids, triterpenoids, alkaloids, saponins, and tannins compounds. Biomolecular approach to the invitro test can be known anti-inflammatory mechanism of J. curcas leaves of active compound of anti-inflammatory effect, in vitro test through can be known to gene activity of cytokine IL-1 and

TNFα The specific target of this research was to produce anti-inflammatory of active compound

of mechanism cytokine activity. The resulted of the activity of active isolates on TNF-α activity at 176,967 μg / ml and IL-1

activity at 1024.077 μg / ml. the result of the isolation was the more pure the higher the

compound activity on TNF-α and IL-1.The positive correlation between in vivo and in vitro studies was expected to provide clear scientific information about the pharmacodynamics of the active compound

(9)
(10)

Prosiding Seminar Nasional dan Call for Papers

Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VII17-18 November 2017

Purwokerto

PENDAHULUAN

Inflamasi merupakan respon peradangan yang perlu diperhatikan secara serius.

pemanfaatan obat herbal yang berasal dari tanaman obat merupakan cara yang baik untuk

pencegahannya, tanaman yang secara empiris telah digunakan adalah daun jarak pagar dan

secara ilmiah juga telah terbukti memiliki daya antiinflamasi. Tanaman jarak pagar (Jatropha

curcas) telah diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan (Saxena et al.,2005).

James et al. (2011) membuktikan bahwa ekstrak metanol daun J. curcas mempunyai efek

antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 90,83 µg/ml. Selain itu, ekstrak metanol J. curcas juga

memilki aktivitas antiinflamasi yang signifikan (Mujumdar dan Misar, 2004). Baroroh dan

Warsinah (2010)melaporkan bahwa ekstrak etanol daun jarak pagar dosis 300 mg/kgBB dapat

menghambat peradangan sebesar 23,25% dan dosis 500 mg/kgBB mampu mengurangi

rekruitmen neutrofil pada kaki tikus. Warsinah et al (2015) juga melaporkan bahwa fraksi etil

asetat sebagai fraksi aktif dari ekstrak etanol pada dosis 150 mg/kg BB mampu menurunkan

volume oedem pada kaki tikus yang diinduksi karagenin

Skrining fitokimia yang dilaporkan oleh James et al. (2011) menunjukkan bahwa daun

J. curcas mengandung flavonoid, polifenol, dan saponin. Senyawa flavonoid, polifenol,

dansaponin dalam jarak pagarberpotensi sebagai antioksidan, antikanker dan antiinflamasi

(Thomas et al., 2008; Rathee et al., 2009). Oskoueian et al. (2011a) membuktikan bahwa getah

dan akar tanaman J. curcas berpotensi sebagai antiinflamasi melalui inhibisi enzim

inducibleNitric Oxide Synthase (iNOS) pada sel makrofag. Sementara Baroroh et al. (2014)

melaporkan ekstrak etanol daun J. curcas juga memiliki aktivitas antiartritis. Warsinah et al

(2015) juga melaporkan bahwa pada fraksi etil asetat mengandung senyawa flavonoid yang

mampu menurunkan volume oedem kaki tikus. Aktivitas antiinflamasi dan antioksidan yang

ditunjukkan tanaman J. curcas mengindikasikan bahwa tanaman ini berpotensi sebagai

alternatif terapi pada kondisi inflamasi baik akut maupun kronis.

Pada penelitian ini akan dilakukan pengujian efek antiinflamasi secara in vitro

sehingga dapat diketahui mekanisme aksinya sebagai inhibitor sitokin melalui pengamatan

ekspresi gen Tumor necrosis factor (TNFα) dan sitokin interleukin 1 (IL-1), Target utama dari

penelitian ini adalah untuk mendapat informasi mekanisme penghambatan inflamasi melalui

ekspresi gen dari isolat senyawa aktif hasil isolasi daun jarak pagar.

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi, Laboratorium Farmasi

(11)

B. Alat dan Bahan

1. Alat Penelitian

Peralatan yang digunakan antara lain), ELISA reader (SLT 340 ATC), mikropipet

(Pipetman), neraca analitik (Sartorius), sentrifus (Sorval, MC 12 V 9700869), Vortex (Maxi

Mix H, Termolyne Type 3760),

2 Bahan Penelitian

a. Daun tanaman Jarak pagar (J. curcas) yang dikoleksi dari Kecamatan Kedungbanteng,

Banyumas.

b. Bahan uji mekanisme antiinflamasi: reagen kit IL-1, kit TNFα, kit EGF, Kit VEGF, NaCl

0,9%, dan aquadest.

C. CARA KERJA

Prosedur pemeriksaan TNF-α/IL-1 dengan teknik ELISA indirect (Sandwich) dengan

reagen Quantikine HS kit.

Microplate di-coated dengan murine monoclonal antibody yang spesifik untuk TNF-α

pada sumurannya, lalu ditambahkan 50 μL assay diluent HD1-11 ke dalam setiap sumuran, dan

200 μL standar (TNF-α/IL-1 standard) atau sampel ke dalam sumuran tersebut. TNF-α/IL-1

yang ada akan diikat oleh antibody yang di-coated dalam sumuran tadi. Sumuran ditutup

dengan penutup perekat, dan diinkubasi selama 14-20 jam pada suhu 2-8oC. Sumuran dicuci 4

kali dan ditambahkan 200 μL larutan conjugate yang mengandung polyclonal antibody berlabel

enzim spesifik untuk TNF-α/IL-1, kemudian ditutup dengan penutup perekat, diinkubasi selama

3 jam dalam suhu kamar. Selanjutnya sumuran dicuci 4 kali lagi, ditambahkan 50 μL larutan

substrat ke dalam setiap sumuran; ditutup dengan penutup perekat baru, kemudian diinkubasi

selama 60 menit dalam suhu kamar. Sumuran ini tidak dicuci, tetapi langsung ditambah dengan

50 μL larutan amplifier; ditutup dengan penutup perekat baru, kemudian diinkubasi selama

30menit dalam suhu kamar. Penambahan larutan amplifier ini mengawali munculnya perubahan

warna. Selanjutnya ditambahkan 50 μL stop solution (2N asam sulfat) ke dalam setiap sumuran.

Kemudian dibaca pada microplate reader dengan anjang gelombang 490 nm (dalam 30 menit),

pembacaan dikoreksi pada panjanggelombang 650 nm atau 690 nm. Penambahan stop solution

ini tidak berpengaruh terhadap warna dalam sumuran.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Fraksinasi

Fraksinasi dilakukan dengan mengguakan pelarut n-heksan, kloroform dan etil asetat

dengan metode partisi cair-cair dengan pemilihan pelarut yang berbeda dan masing-masing

Gambar

Gambar 1. Grafik pengaruh metode fermentasi terhadap viskositas, kapasitas emulsi (KE),

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Uji Daya Antibakteri Salep Sereh Wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis dengan Metode Difusi Sumuran Uji daya antibakteri salep sereh wangi Jawa bertujuan untuk mengetahui

Pada penelitian ini dilakukan analisis ketelitian objek pada Citra Quickbird dan Ikonos menggunakan proses orthorektifikasi dengan melibatkan 9 buah titik kontrol

Hipotesis 4 dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan positif antara variabel Kepercayaan pada atasan, Komitmen organisasi dan Kepuasan kerja secara bersama-sama

Alhamdulillah dengan mengucapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang selalu memberikan rahmat, hidayah, dan nikmat-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan

Salah satu cara untuk terhubung ke internet adalah dengan menghubungkan komputer Anda ke jaringan komputer yang terhubung ke internet.. Cara ini banyak digunakan di

instalasi yang ada, apakah perlu adanya lokasi baru untuk instalasi agar sistem penyaluran air lindi dapat lebih efektif dan efisien, apakah instalasi yang ada

Pembelajaran berbasis masalah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (1) belajar dimulai dengan suatu masalah (2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia