Bekasi di Jl. Grand Galaxy City)
Diajukan oleh : Tjitra Eka Purwati
NIM : 2012040089
SKRIPSI
Untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Strata Satu
Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Hubungan Masyarakat
SEKOLAH TINGGI ILMU KOMUNIKASI
InterStudi
JAKARTA
2015
I. Latar Belakang Masalah
Di zaman sekarang ini, arus pergerakan manusia yang cepat sudah menjadi suatu kebutuhan utama masyarakat dunia terutama di kota-kota besar. Di berbagai belahan di dunia semua orang semakin bergerak cepat dengan semakin pergerakan waktu yang juga semakin cepat. Selain Ibukota Jakarta yang semakin lama pertubumbuhan masyarakatnya setiap tahun semakin meningkat, hal serupa pula terjadi di kota Bekasi. Salah satu kota yang sekarang ini menjadi kota metropolitan seperti Jakarta. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang memilih tinggal dan berdomisili di Bekasi.
Setiap harinya Bekasi mengalami tingkat kemacetan yang begitu tinggi yang disebabkan oleh pembangunan infrastruktur jalan tol baru, hunian rumah, tempat berbelanja (Mall) merupakan penyebab terjadi kemacetan di Bekasi, karena itulah pertumbuhan masyarakat di wilayah bekasi semakin meningkat. Hal ini yang menjadikan terjadinya kepadatan di berbagai ruas jalan di wilayah Bekasi.
Menjadi salah satu kota yang menyanggah Jakarta, Bekasi dinilai menjadi kota yang sangat berkembang. Sekarang ini sebutan kota metropolitan pun semakin melekat di kota ini. Bahkan tidak jarang beberapa jurnal memuat Bekasi sebagai “The Next Megapolitan Town in Indonesia”.
Bagaimana tidak, ada sekira 14 mal besar yang ada di kawasan ini. Terdapat 2 akses tol utama yang menghubungkan kota ini dengan Jakarta. Dan satu diantaranya, Tol Bekasi Barat, menjadi kawasan yang sangat penting karena diapit banyak fasilitas umum hingga rekreasi mal besar di kota ini.Sebut saja 3 mal besar yang berada di sekitar tol ini menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi; Metropolitan Mall, Grand Metropolitan Mall dan Mega Bekasi Hypermall.
Kota seluas 210, 49 KM2 ini adalah kota terluas ke 31 di Indonesia. Terdiri dari 12 Kecamatan dan 56 Kelurahan. Namun berdasarkan data tahun 2010, kota ini memiliki kepadatan 2,3 juta penduduk atau menjadi peringkat ke 4 di Indonesia. Dengan Islam sebagai agama terbesar yang dipeluk penduduk setempat. Sekarang ini, Bekasi dipercaya sebagai tempat tinggal yang kerap diburu oleh pasangan muda. Selain menjadi tempat tinggal, tentunya investasi menjadi alasan berikutnya.
Kemacetan yang terjadi selain karena tingkat penduduk yang semakin tinggi dan juga banyaknya ruas jalan yang dijadikan sebagai tempat lahan parkir liar. Lahan jalanan yang seharusnya digunakan secara efektif berganti fungsi menjadi lahan parkir yang membuat kemacetan terjadi. Pemanfaatan lahan parkir ini digunakan sebagai ladang bagi para penduduk yang tinggal disekitarnya. Kemacetan pada umumnya terjadi di kawasan yang mempunyai intensitas kegiatan yang tinggi, dapat pula terjadi dikarenakan volume lalu lintas yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan.
Kondisi buruknya pengelolaan parkir ini dengan ditambahnya makin banyak badan jalan yang dijadikan sebagai tempat parkir. Pemanfaatan oknum-oknum yang menggunakan lahan kosong sebagai parkir liar membuat lalu lintas di kawasan Bekasi terganggu.
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan juga menguasai area lahan parkir dikawasan tersebut.
Akibat banyak oknum-oknum yang menguasai kawasan area tersebut tentu saja menjadi penyebab juga pendapatan daerah dari pajak parkir di bekasi mengalami kebocoran karena banyak pengumut parkir liar yang terjadi yang dilakukan oknum tersebut.
Menurunnya kontribusi sektor perparkiran disebabkan oleh tingginya kebocoran retribusi parkir On Street. Akibatnya semakin banyak pemungut parkir On Street liar dengan menggunakan sistem transaksi pembayaran tunai, yang kerap kali juga dimanfaatkan oleh kalangan preman untuk mendapatkan uang demi kepentingan pribadi. Lemahnya regulasi terkait mekanisme pengelolaan parkir on Street menjadikan SOP tidak berjalan dengan baik dan penegakan denda parkir liar menjadi tidak jelas.
Sebagai bentuk upaya pembenahan manajemen pengelolaan parkir on street oleh Dinas Perhubungan dan juga sebagai program Smart City yang digalakkan untuk kota Bekasi dengan dilakukan perencanaan pengelolaan parkir yang menggunakan terknologi yang berbasis teknologi informasi yaitu alat parkir meter. Alat parkir meter telah lama digunakan oleh kota-kota besar dunia sebagai alat pengelolaan parkir on street. Saat ini, di Indonesia alat tersebut telah diuji coba di kota Bandung.
motor. Pengguna jasa parkir harus membawa uang tunai berupa koin sebagai alat parkir meter akan terdata secara real time oleh server pada kantor pusat Unit Parkir (Dishub). Alat ini dilengkapi dengan CCTV untuk mengontrol operasional lapangan. Selain itu, alat ini didesain tahan terhadap berbagai macam cuaca.
DINAS Perhubungan Kota Bekasi launching parkir meter elektronik, Jumat (3/7). Pada kawasan Galaxi Bekasi Selatan “Jadi kita memang belum siap betul dalam hal infrastrukturnya, hari ini launching saja. Dan diperkirakan bulan Agustus 2015 parkir meter bisa dilakukandi galaxy dan bertahap selanjutnya di tiga titik yang ada di Kota Bekasi,” ucap Kepala Dinas Perhubungan Supandi saat launching di titik Galaxi Bekasi Selatan, Jumat (3/7).
Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi yang turut hadir dalam peluncuran mesin dan operasional parkir meter di titik Galaxi Bekasi Selatan ini menambahkan, parkir meter akan meningkatkan kapasitas pelayanan masyarakat seperti macet serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Terkait PAD dari parkir juga harus meningkat yang awalnya Rp200 juta bisa
mencapai Rp18 Milyar,”
tegasnya. (http://gobekasi.pojoksatu.id/2015/07/
03/pemkot-launching-parkir-meter-elektronik-di-4-titik-ini/ diakses pada 31 Agustus 2015 pukul 19.08 WIB).
dalam pengoperasian program tersebut untuk menginformasikan, membujuk, membuat masyarakat yang ada dikawasan tersebut memiliki antusiasme dalam menjalankan program Dishub dengan berpartisiasi untuk membayar tarif parkir di mesin parkir meter.
Banyak masyarakat yang berada dikawasan tersebut masih belum menerima adanya sistem baru yang dilakukan oleh Dishub Bekasi, masih ada saja masyarakat yang malas dan menolak menggunakan alat parkir meter tersebut dikarenakan alasan membutuhkan waktu, pembayaran menggunakan koin Rp.500,- dan Rp. 1000,- dan rumit dalam menggunakan mesin tersebut jadi masih membutuhkan sosialisasi dalam pengoperasian mesin parkir.
Sejatinya dalam penggunaan mesin parkir meter ini menurut sebagian orang efektif, jelas, dan efisien, hanya saja masih banyak beberapa orang yang malas membayar ke mesin dan memilih membayar pada tukang parkir yang berjaga di area tersebut. Padahal kendala yang didapatkan pun adalah tukang parkir yang kehabisan koin sehingga butuh waktu untuk menukar uang, ada orang yang langsung jalan tanpa membayar ke petugas dan lain-lain.
Sistem parkir meter di pusat pertokoan dan niaga di Taman
Galaxy, Bekasi Selatan masih tampak amburadul. Meskipun mesin parkir
meter sudah bisa berfungsi, namun masih banyak kendala di lapangan yang
perlu menjadi perhatian. Salah satu kendala yaitu membayar di mesin parkir
meter tidak ada kembalian. Sehingga warga harus menyediakan uang pas
Rp 1.000 dan Rp 2.000 yang biasanya disediakan oleh para tukang parkir ini
seringkali kehabisan.
"Susahnya ya karena gak ada kembalian, jadi harus tukar uang dulu.
Nah uang recehan di kami kadang sering habis juga. Selain itu, kalau duitnya
lecek juga kadang ditolak sama mesinnya, tidak mau. Dan bisanya juga hanya
uang kertas tidak bisa logam," ungkap Yono petugas parkir di Galaxy, Bekasi,
Minggu (9/8/2015). Yono sendiri merupakan tukang parkir lama yang
direkrut menjadi juru parkir di parkir meter. Selain itu ada pula beberapa juru
parkir baru yang memang direkrut khusus untuk parkir meter.
Hal lainnya yakni walau sudah diterapkan parkir meter, ada pula
pengendara yang lolos tidak membayar parkir. Apabila para juru parkir ini
tidak teliti dan seksama memperhatikan pengendara, terkadang ada pula yang
tidak membayar dan langsung nyelonong pergi. Bahkan, beberapa
diantaranya ada pula pengendara yang malas membayar sendiri ke mesin dan
mereka meminta bantuan para juru parkir. Sehingga para juru parkir ini harus
mencatat secara manual nomor polisi para pengendara.
"Ada juga orang yang males ribet, jadi ya kami yang catat nopolnya
lalu langsung diminta bayaran Rp 2.000 untuk motor dan Rp 3.000 untuk
mobil. Itu semua dipukul rata, tidak per jam," tambahnya. Selain itu,
pembayaran parkir meter juga tidak tertib dan tidak diseragamkan. Ada yang
membayar saat parkir dan ada pula yang membayar sesudah parkir. Serta
karcis parkir tidak lagi diperiksa oleh para petugas sehingga rawan pencurian.
yang telah dilakukan oleh DKI Jakarta. Sehingga diharapkan bisa mengurangi
kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor distribusi parkir. Pada
2014, PAD Dinas Perhubungan Kota Bekasi dari sektor retribusi parkir sangat
memprihatinkan. Target yang dipatok Rp 1,8 miliar, namun saat itu yang
diperoleh hanya Rp 720 juta atau 40 persen dari target. Ada dua sistem yang
diterapkan dalam pengelolaan parkir meter yakni parkir on the street (di
pinggir jalan) dan off street (dalam gedung).(http://www.tribunnews.com
/metropolitan/2015/08/09/mesin-parkir-meter-di-bekasi-masih-amburadul diakses pada 31 Agustus 2015 pada pukul 20.00 WIB).
Guna mendukung program yang diajalankan oleh DISHUB Kota
Bekasi tentang upaya pelanggaran yang dilakukan oleh juru parkir, DISHUB
Bekasi terus meminimalisikan terjadinya kebocoran serta memetakan
kepadatan di sejumlah kawasan di Bekasi. Penerapan sistem zonasi yang
dilakukan dapat meningkatkan pendapatan daerah melaui pajak serta dapat
pula menjadi kontrol terhadap pengguna kendaraan pribadi.
Dengan demikian seorang praktisi humas perusahaan atau organisasi
melakukan kapanye program untuk menginformasikan tentang suatu hal
penting kepada publiknya. Semakin banyak akses yang didapat publik dari
media massa berkaitan dengan produk atau jasa yang diberikan oleh
perusahaan, maka diharapkan semakin besar tingkat kepercayaan publik.
Program kampanye ini memang digalakan oleh DISHUB Kota Bekasi
karena dalam kapanye ini para pengendara diberikan penjelasn-penjelasn
mengenai tata cara penggunaan parkir meter.
Terkait dengan kampanye yang dilakukan oleh DISHUB Kota Bekasi,
maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kampanye Terhadap Sikap Pengendara” (Survey Eksplanatif Program Parkir Meter Dinas Perhubungan Bekasi di Jl. Ruko Galaxy).
II. Perumusan Masalah
Untuk meningkatkan kualitas serta memperbaiki pendapatan daerah di Bekasi, pada bulan Agustus 2015 pemerintah kota bekasi bersama dengan dinas perhubungan bekasi memberlakukan Meter Parking yaitu pemasangan mesin parkir elektronik dengan menggunakan alat mesin parkir meter sebagai manajemen sistem perparkiran yang baru untuk kota bekasi.
mengoptimalkan pendapatan asli daerah Bekasi (PAD) melalui pajak parkir serta mengurangi banyaknya pungutan liar dan mengurangi kemacetan.
Humas merupakan suatu bagian yang terpenting dari suatu lembaga atau organisasi yang menjadi penghubung antara organisasi atau lembaga dengan masyarakatnya. Begitu pula dengan Dinas Perhubungan Kota Bekasi dengan masyarakatnya. Penyebaran informasi program kampanye yang dilakuakan oleh DISHUB Bekasi adalah melalui banner dan umbul-umbul yang dipasangkan di area kawasan yang menggunakan alat mesin parkir meter.
Berdasarkan rumusan masalah yang dijelaskan maka peneliti ingin mengetahui: Apakah Terdapat Pengaruh Kampanye Mengenai Program “Parkir Meter” Dinas Perhubungan Bekasi Terhadap Sikap Pengendara Di Kawasan Grand Galaxy City?
III. Identifikasi Masalah
1. Apakah terdapat pengaruh pesan kampanye mengenai program “parkir meter” Dinas Perhubungan kota Bekasi terhadap sikap pengendarat di kawasan Grand Galaxy City?
2. Apakah terdapat pengaruh dimensi kampanye (isi pesan dan struktur pesan) terhadap sikap pengendara ?
IV. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh kampanye mengenai program “parkir meter” Dinas Perhubungan kota Bekasi terhadap sikap pengendarat di kawasan Grand Galaxy City.
2. Untuk mengetahui dimensi dari kampanye yang paling berpengaruh terhadap sikap masyarakat.
3. Untuk mengetahui sebaran karakteristik demografis terhadap sikap masyarakat mengenai kampanye program Parkir Meter.
V. Manfaat Penelitian A.Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan mampu memberi sumbangan pemikiran terutama dalam perkembangan ilmu komunikasi umumnya dan khususnya Public relations dalam pengaruh pesan kampanye terhadap sikap penggendara.
B. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi sarana publikasi segala konsep dan tujuan Dinas Perhubungan. Juga sebagai bahan acuan bagi kelancaran dan kesuksesan Dinas Perhubungan dalam mempengaruhi sikap penggendara kawasan Grand Galaxy City.
VI. Sistematika Penulisan
manfaat-manfaat yang bisa diambil dari penelitian tersebut serta yang terakhir dari Bab I Pendahuluan adalah sistematika penulisan. Bab II Landasan Konseptual. Bab ini memuat konsep-konsep yang berkaitan dengan penelitian ini. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman mengenai landasan-landasan yang digunakan. Konsep-konsep yang digunakan yaitu, konsep komunikasi, publisitas, dan sikap. Selain itu, pada bab ini juga berisikan hipotesis, kerangka berpikir, model analisa, definisi konsep, dan operasionalisasi konsep pada penelitian ini.
Kemudian Bab III Metodologi Penelitian ini menguraikan penjelasan mengenai pendekatan penelitian, jenis penelitian, dan sifat penelitian yang digunakan. Lalu lokasi dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik sampling, hipotesis penelitian, hipotesis statistik, kemudian teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
Bab IV hasil penelitian, bab ini menguraikan sekilas tentang program Parkir Meter yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Bekasi, hasil analisa data melalui univariat dan bivariat, serta interpretasi data dari keseluruhan hasil SPPS yang dihubungkan dengan konsep yang digunakan peneliti.
I. Komunikasi
A. Pengertian Komunikasi
Menurut Ruben and Stewart (1998) dalam Alo Liliweri, komunikasi merupakan proses yang menjadi dasar pertama memehami hakikat manusia, dikatakan sebagai proses karena ada aktivitas yang melibatkan peranan banyak elemen atau tahapan yang meskipun terpisah-pisah, namun semua tahapanini saling terkait sepanjang waktu. Contoh, dalam suatu percakapan yang sederhana saja selalu ada langkah seperti penciptaan pesan, pengiriman, penerimaan, dan interpretasi terhadap pesan. (Liliweri, 20011:35)
Menurut Onong Uchjana Effendy (2009:8) dalam buku Dimensi – Dimensi Komunikasi tujuan komunikasi adalah sebagai berikut:
1. Perubahan Sosial/Mengubah Masyarakat ( to change the society ) Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan akhir supaya masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuan informasi itu disampaikan. Misalnya supaya masyarakat ikut serta dalam pemilu, ikut serta dalam berperilaku sehat,dan lain sebagainya. 2. Perubahan Sikap ( to change the attitude )
Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan supaya masyarakat akan berubah sikapnya.
3. Perubahan Opini, Pendapat ( to change the opinion )
Memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan akhirnya supaya masyarakat mau berubah pendapat dan persepsinya terhadap tujuan informasi itu disampaikan.
4. Perubahan Perilaku ( to change behavior )
Kegiatan memberikan berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan supaya masyarakat akan berubah perilakunya. Berdasarkan tujuan komunikasi yang dikemukakan oleh Effendy, penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan komunikasi pada dasarnya dilakukan untuk mendapatkan perubahan dari komunikan atau si penerima pesan sesuai dengan apa yang komunikator atau source inginkan. Perubahan sosial, perubahan sikap, perubahan pendapat dan perubahan perilaku merupakan tujuan umum komunikasi yang dapat dicapai apabila penyampaian dan pemberian informasi dilakukan secara baik dan benar.
B. Proses Komunikasi
Menurut Effendy (2009:11-16) terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder.
1. Proses Komunikasi secara primer
warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
2. Proses Komunikasi secara sekunder
Proses Komuniaksi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seseorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Media kedua yang dimaksud adalah surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan lain-lain. Berdasarkan teori yang telah dipaparkan diatas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa proses komunikasi adalah bagaimana sang komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya).
II. Public relations
Public relations dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai hubungan masyarakat (Humas). Rhenald Khasali dalam bukunya yang berjudul Manajemen Public relations mengemukakan bahwa humas adalah fungsi manajemen yang melakukan evaluasi terhadap sikap-sikap publik, mengidentifikasi kebijakan-kebijakan dan prosedur seseorang atau sebuah perusahaan terhadap publiknya, menyusun rencana serta menjalankan program-program komunikasi untuk memperoleh pemahaman dan penerimaan publik (Kasali, 2007:7).
Ada banyak hal pengertian perihal Public relations yang dikemukakan oleh para ahli komunikasi serta praktisi dan berikut ini beberapa definisi Public relations Marston memberikan definisi yang lebih spesifik dan konkrit mengenai Public relations “Public relations adalah seni untuk membantu perusahaan anda disukai dan dihormati oleh para karyawan, konsumen dan para penyalurnya”. (Kasali, 2006:6).
mungkin menghubungkan kebijaksanaan dan ketata laksanaan, guna mencapai kerjasama yang lebih produktif dan untuk memenuhi kepentingan bersama dan tersebar luas”. (Effendy, 2002: 20-21).
B. Bauran Humas
Elvinaro Ardianto dalam bukunya yang berjudul Suatu Pendekatan Praktis-Kiat Menjadi Komunikator dalam Berhubungan dengan Publik dan Masyarakat (2004, 53-55), menjelaskan bauran kegiatan humas L. Harris dan Philip Kotler yang dapat dicakup kedalam suatu istilah, yaitu PENCILS yang terdiri dari:
1. Publications (publisitas dan publikasi)
Menyelenggarakan publikasi dengan menyebarluaskan infomasi melali berbagai media massa tentang aktivitas perusahaan untuk mencari publisitas dengan bekerjasama dengan media pers dengan tujuan menguntungkan citra lembaga atau organisasi yang diwakilinya.
2. Event
Menyusun rencana atau peristiwa tertentu atau yang lebih dikenal dengan peristiwa khusus (special event) yang dipilih dalam jangka waktu tertentu, tempat, dan objek tertentu yang khusus sifatnya untuk mempengaruhi opini publik.
Berupaya untuk menciptakan berita melaui press release, news letter, bulletin, dan lain-lain yang biasanya mengacu pada teknik penulisan 5W+1H (who. What, where, when, why, how) dengan sistematika penulisan “piramida terbalik”. Untuk itu seseorang humas mau tidak mau harus mempunyai kemampuan untuk menulis karena sebagian besar tugasnya adalah menulis terutama menciptakan publisitas.
4. Community Involvement (kepedulian kepada komunitas)
Mengadakan kontak sosial dengan sekelompok masyarakat tertentu untuk menjaga hubungan baik dengan pihak organisasi atau lembaga yang diwakilinya.
5. Inform or Image (memberitahukan atau merah citra)
Memberitahukan sesuatu kepada publik atau menarik perhatian, sehingga diharapkan akan memperoleh tanggapan berupa citra positif darisuatu proses “nothing” menjadi “something”
6. Lobbying and negotiating (pendekatan dan negosiasi)
Melobi dan bernegosiasi untuk pendekatan pribadi yang persuasif agar semua ide atau gagasan mencapai kesepakatan (deal) atau memperoleh dukungan dari individi atau lembaga yang berpengaruh sehingga timbul salaing menguntungkan (win win solutions).
Humas tidak hanya memikirkan keuntungan materi bagi lembaga atau organisasi yang diwakilinya, tetapi juga kepedulian terhadap masyarakat untuk mencapai sukses dalam mencari simpti atau empati dari khalayaknya. Hal ini dalam fungsi PR terdapat fungsi yang berkaitan dengan social marketing.
C. Fungsi dan Peran Public relations
Public relations adalah salah satu bagian dari studi komunikasi, kendati secara praktis komunikasi adalah backbone (tulang punggung) kegiatan Public relations mempunyai fungsi komunikasi dalam aktivitasnya, menurut Rex F. Harlow dalam bukunya, A Working Definition, ada dua pengertian tentang Public relations yang berkaitan dengan fungsi Public relations, yaitu :
1. Public relations sebagai Method of Communication
Merupakan rangkaian atau sistem kegiatan melalui kegiatan komunikasi terdapat makna bahwa setiap pimpinan dari sebuah organisasi baik seberapapun kecilnya, melaksanakan fungsi-fungsi Public relations. Dapat disimpulkan bahwa hubungan fungsional antara Public relations serta organisasi adalah sebagai metode komunikasi, yaitu mengefisienkan upaya-upaya pencapaian tujuan organisasi. (Effendi, 2007:35)
2. Public relations sebagai State of Being
itulah yang dimaksudkan sebagai “being of state” dalam sistem manajemen kehumasan yang dapat diartikan terdapat orang-orang yang memimpin atau menjabat Public relations dalam suatu kelembagaan tertentu.(Effendi, 2007:36).
Fungsi humas itu sendiri adalah untuk mencipakan hubungan yang baik (mutual understanding) antara perusahaan dengan khalayaknya (target audience). Didalam menjalani fungsi tersebut disertakan beberapa aspek-aspek dasar yang mencerminkan citra humas yang harus dipahami, seperti terciptanya hubungan baik dan harmonis, reputasi yang memuaskan, empunyai kredibilitas yang baik, dan mempunyai persepsi ang positif (Jeffkins, 2002:1-2).
Adapun fungsi hubungan masyarakat menurut Ralph Currier davis dan Allan C. Filley dalam bukunya, principles of management, mengatakan fungsi adalah suatu tahap pekerjaan yang jelas yang dapat dibedakan bahkan kalau perlu dipisahkan dari tahap pekejaan lain(Effendy, 2002:135).
1. Communicator, pihak yang berinisiatifmenyampaikanpesan
2. Backing Up Management, humas sebagai fungsi manajemen untuk membangun dan menjaga hubungan yang saling menguntungkan antara organisasi dan publiknya menentukan perusahaan.
3. Corporate Image Maker, membuat citra positif suatu organisasi atau perusahaan.
4. Creator, fungsinya menciptakan berbagai program yang mampu membackup manajemen.
5. Conseptor, fungsi dan peran Public relations membantu merumuskan konsep-konsep, seperti release, kebijakan internal dan eksternal,dll. 6. Mediator, Public relations merupakan pihak yang meperantai antara
organisasi dengan khalayak ataupun rekan kerja.
7. Problem Solver, sebagai pihak yang menanggulangi dan memecahkan masalah(Ruslan, 1999 :15).
Hasil yang ingin dicapai dalam kegiatan humas pada intinya adalah good image (citra baik), good will (itikad baik), mutual understanding (saling pengertian), mutual confidence (saling mempercayai), mutual appreciation (saling menghargai), dan tolerance (toleransi) (Soemirat dan Elvinaro, 2000 :14).
D. Khalayak Sasaran Public relations
penting yang harus dikenali sebelum melaksanakan kegiatan komunikasi. Khalayak kegiatan Public relations atau disebut dengan stakeholders. Stakeholders adalah setiap kelompok yang berada di dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai peran menentukan keberhasilan perusahaan. (Kasali, 1994:63).
Secara umum khalayak sasaran atau stakeholders dapat dikelompokan menjadi dua bagian yakni eksternal dan internal yaitu : (Kasali, 1994: 66-80)
1. Stakeholders internal meliputi : a. Pemegang Saham
Tugas seorang Public relations adalah memahami karakter pemilik beserta keluarganya dan bersamaan dengan itu menanamkan kepadanya tentang ruang lingkup pekerja Public relations. Termasuk mengetahui dimana pemilik sedang berpergian saat, dan hal-hal apa saja yang tengah dilakukannya kini dan tentu saja kepastian manajerial yang bersangkutan.
b. Manajemen dan Top Excecutive
Tugas praktisi Public relations dalam hal ini adalah memberikan masukan serta rekomendasi kepada perusahaan agar peristiwa tersebut tidak menimbulkan dampak bagi:
3. Turut campurnya pihak ketiga untuk mengambil alih perusahaan atau masuknya orang-orang baru.
4. Merosotnya reputasi eksekutif puncak perusahaan (dalam perusahaan yang melepas sahamnya di bursa bisa menumbulkan akibat turunnya harga saham)
c. Karyawan
Praktisi public relations harus dapat menyediakan acara-acara yang sehat seperti rekreasi, olahraga, atau kesenian.Bagaimanapun juga karyawan membutuhkan wadah paguyuban diantara mereka. Tugas Public relations adalah menciptakan iklim yang baik agar karyawannya dapat bekerja dengan tenang dan aman.
d. Keluarga Karyawan
Dalam hal ini tugas seorang Public relations adalah menimbulkan pemahaman para anggota keluarga tentang keadaan pekerjaan pekerja anggota keluarganya sehingga mereka semua dapat menyelesaikan perilakunya.
2. Stakeholders ekstenal meliputi : a. Konsumen
konsumen bukan produsen adalah pusat dari segala kegiatan bisnis perusahaan.
b. Bank
Salah satu cabang ilmu Public relations yang mendapat tugas untuk meningkatkan pemahaman bank terhadap reputasi debitur adalah financial relations. Belakangan ini financial relations hanya dimaksudkan sebagai kegiatan kertas (paper work) untuk membuat neraca dan laporan keuangan yang menarik di media massa bagi perusahaan yang banyak menggunakan dana masyarakat. Lebih dari sekedar itu financial relations sebenarnya dimaksudkan untuk membina kepercayaan para investor dan penyandang dana investasi agar tidak melakukan tindakan tiba-tiba untuk menarik uanganya diluar jadwal yang disepakati.
c. Pemerintah
Memantau secara berkala kebijakan pemerintah (baik yang membatasi ataupun yang memberi peluang tertentu), membina hubungan baik dengan para pejabat pemerintah dan melakukan lobi untuk mempercepat dan mempermudah perijinan.
d. Pesaing
e. Komunitas
Tugas Public relations disini adalah mendidik komunitas agar mereka dapat berhubungan timbal balik, termasuk didalamnya adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka sebagai sumber tenaga kerja di perusahaan. Public relations dengan berperan menimbulkan pemahaman akan pengtingnya arti komunitas di kalangan manajer perusahaan.
III. Konsep Kampanye A. Definisi Kampanye
Peranan pokok atau tanggung jawab hubungan masyarakat adalah bagaimana menciptakan kepercayaan, good will, dan kejujuran dalam menyampaikan pesan atau informasi, serta publikasi yang positif kepada publik yang didukung dengan kiat dan taktik dalam kampanye untuk memperoleh citra. Kampanye hubungan masyarakat sendiri didefinisikan sebagai usaha terkoodinir untuk mempengaruhi masyarakat, baik yang mendukung maupun tidak dalam menerima misi yang disampaikan, dengan tujuan mempengaruhi target audience untuk mengikuti keinginan organisasi atau mendukung jalannya operasi organisasi (Venus, 2004 :7).
secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu”(Venus, 2004 : 7). Dari definisi diatas, maka setiap aktivitas kampanye komunikasi setidaknya harus mengadung empat hal, yakni: (1) tindakan kampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu (2) jumlah khalayak sasaran yang besar (3) biasanya dipusatkan pada kurun waktu tertentu dan (4) melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi.
Definisi lain menurut Pfau dan Parrot (1993) mengatakan bahwa suatu kampanye yang secara sadar, menunjang dan meningkatkan proses pelaksanaan yang terencna pada periode tertentu untuk bertujuan mempengaruhi khalayak sasaran tertentu (Venus, 2009:8).
B. Tujuan Kampanye
Menurut Patrick Jackson, senior pendiri dan konsultan PR International, New Hampshire seperti yang dikutip oleh Newson, Scott & Turk (1997:475) kegiatan kampanye PR untuk tujuan sebagai berikut:
a. Public Awareness
Kampanye secara umum yang dilakukan public relations berupaya untuk menciptakan “kesadaran publik” (public awareness) terhadap sesuatu yang berkaitan dengan kepentiingan sosial, seperti pendidika, peraturan kesehatan, kesejahteraan, kelestarian lingkugan hidup dan alam sekitarnya.
Menawarkan informasi yang lebih mendalam tentang suatu program kampanye tertentu kepada publik yang lebih tertarik atau ingin peduli, dn berbeda jika dibandingkan dengan kampanye kesadaran (sederhana atau umum).
c. Public Education
Kemampuan praktisi kampanye PR untuk mendidik publik secata emosional yang tetap bersikap etis dan wajar dalam mengekspresikan opininya menurut metode pedagogik, didukng dengan bahan-bahan program kegiatan yang bersifat persuasif atau berniai pendidikan tertentu yang ingin dikampanyekan terhadap masyarakat.
d. Reinforce the attitudes and behaviour
e. Behaviour modification
Tahapan kemampuan melaksanakan tahapan kampanye berikutnya adalah memodifikasi atau ingin merubah perilaku untuk meyakinkan publik mengenai program keselamatan sosial tertentu.
Menurut Prof. Dr. Alo Liliweri,M.S. dalam bukunya “Komunikasi Serba Ada Serba Makna” tujuan kampanye adalah:
1. Kampanye merupakan kegiatan komunikasi publik yang dilakukan secara berencana yang bertujuan untuk memobilisasi dan melibatkan orang-orang untuk terlibat dalam menyebarluaskan informasi tertulis (langsung dengan publik) untuk mencegah dan mendorong sikap individu atau publik untuk melakukan dan tidak melakukan suatu tindakan tertentu demi kesejahteraan individu maupun publik pada umumnya.
2. Memberikan tekanan kepada para pemegang kekuasaan atau kewenangan dari para pembat keputusan (pressuring decision makers) untuk mencari solusi yang bermanfaat bagi kesejahteraan individu atau publik pada umumnya. 3. Menginformasikan dan memberikan pendidikan kepada
4. Melakukan perubahan terhadap perilaku dan sikap demi kesejahteraan hidup.
5. Mempresuasi orang-orang unuk mengerti, memahami, dan melakukan suatu tindakan tertentu (Liliweri, 2011:676-677).
C. Jenis-Jenis Kampanye
Kampanye terbagi ke dalam tiga kategori yakni product oriented campaigns, candidate oriented campaigns, dan ideologically atau cause oriented campaigns yang dalam penjelasannya sebagai berikut :
1. Product-oriented campaigns atau kampanye yang berorientasi pada produknya umumnya terjadi di lingkungan bisnis. Istilah lain yang sering dipertukarkan dengan kampanye jenis ini adalah commercial campaign atau corporate campaign. Motivasi yang mendasarinya adalah memperoleh keuntungan financial. Cara yang ditempuh adalah dengan memperkenalkan produk dan melipatgandakan keuntugan penjualan sehingga diperoleh keuntungan yang diharapkan.
diajukan partai politik gar dapat menduduki jabatan-jabatan politik yang diperbutkan lewat proses pemilihan umum.
3. Ideological or cause oriented campaigns adalah jenis kampanye yang berorientasi pada tujuan-tujuan yang bersifat khusus dan seringkali berdimensi perubahan sosial. Karena itu kampnye jenis ini dalam istilah Kotler disebut sebagai social change campaigns, yakni kampanye yang ditujukan untuk menangani masalah-masalah soisal melalui perubahan sikap dan perilaku publik yang terkait.
D. Tahapan Pelaksanaan Kampanye
Ketiga aspek ini awareness, attitude, dan action bersifat saling terkait dan merupakan sasaran pengaruh (target of influecess) yang mesti dicapai secara bertahap agar satu kondisi perubahan dapat tercipta. Adapun tahapan tersebut yaitu:
Pada tahap awareness, kegiatan kampanye biasanya diarahkan untuk menciptakan perubahan pada tataran pengetahuan atau kognitif. Pada tahap ini pengaruh yang diharapkan adalah munculnya kesadaran, berubahnya keyakinan, atau meningkatnya pengetahuan khalayak mengenai isu tertentu. Dengan kata lain, tahap ini merupakan tahap mengugah kesadaran, menarik perhatian, dan memberi informasi tentang produk atau gagasan yang dikampanyekan.
kepedulian, atau keberpihakan khalayak pada isu-isu yang menjadi tema kampanye.
Tahapan terahkir adalah action, kegiatan kampanye ditujukan untuk mengubah perilaku khalayak secara konkret dan terukur. Tahap ini menghendaki adanya tindakan tertentu yang dilakukan oleh sasaran kampanye. Tindakan tersebut dapat bersifat ‘sekali itu saja’ atau berkelanjutan. (Venus, 2007:10)
E. Model Kampanye
Model ini mengambil komponen-komponen pokok yang terdapat dalam suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan kampanye. Unsur-unsur yang terdapat di dalamnnya meliputi: sumber kampanye, saluran, pesan, penerima kampanye, efek, dan umpun balik. Unsur-unsur ini harus dipandang sebagai suatu kesatuan yang mendeskripsikan dinamika proses kampanye. Model tersebut sebagai berikut:
Gambar 2.1 Umpan Balik
Sumber : Venus, 2009:13
Penerima Kampanye
Pesan Efek
Sumber Kampanye
Sumber kampanye merupakan dasar dimana kampanye tersebut memiliki peran penting dalam mempresuasi khalayak sasarannya. Sumber kampanye disini adalah Dinas Perhubunga Kota Bekasi. DISHUB Bekasi yang memiliki peran sebagai pelaksana serta teknis dalam pemasangan dan penginformasian mengenai parkir meter dalam upaya bersama Pemerintah Kota Bekasi untuk mengupayakan perbaikan pendapatan daerah melalui pajak parkir dan sistem manajemen perparkiran di kawasan Jl. Grand Galaxy City menggunakan parkir meter.
Pesan yang dimaksud pada model kompenensial kampanye tersebut, ialah mengenai penggunaan sistem baru yaitu alat parkir meter. Dimulai dengan menjelaskan keuntungan-keuntungan yang didapat bagi pemerintah dan para pengendara pengguna parkir, hingga dampak positif yang ditimbulkan.
Penerima kampanye disini adalah publik atau pengendara yang memarkirkan kendaraan mereka dikawasan tersebut. Sementara efek yang terjadi ketika kampanye tersebut sudah dilakukan adalah penilaian publik yang akan menentukan sikap publik dalam mengubah perilaku mereka. Dimana publik akan mendukung atau tidaknya kampanye program parkir meter di Bekasi.
khalayak sasaran yang memasuki kawasan Jl. Ruko Galaxy dalam penggunaan sistem parkir baru yaitu Parkir Meter.
F. Dimensi Kampanye
Dimensi kampanye menurut Antar Venus ada empat, diantaranya adalah: A. Pelaku Kampanye
Secara umum siapapun terlibat dalam mengagas, merancang, mengorganisasikan, dan menampaikan pesan dalam sebuah kegiatan kampanye dapat disebut sebagai pelaku kampanye. Idealnya ada kesesuaian antara pelaku kampanye (komunikator), objek kampanye, khalayak penerima, pesan, sasaran khalayak, dan media yang digunakan. Seorang pelaku kampanye (komunikator) tertentu mungkin memiliki keterampilan teknis alam memanfatkan media tapi tidak kredibel dimata masyarakat. Yang lainnya mungkin memiliki kredibilitas tapi media yang digunakan tidak dapat diakses khalayak.
Penelitian yang dilakukan Hovland, Janis, dan Kelly (Windahal, Signitizer, dan Olson, 1983) menemukan empat aspek yang mempengaruhi kredibilitas sumber yakni :
1. Keterpercayaan (Trustworthiness)
dilakukan pada umumnya berpatokan pada perilaku sumber pada masa lalu dan dugaan khalayak tentang perilakunya pada saat sekarang. Dengan kata lain, track record seseorang akan menjadi acuan apakah yang bersangkutan dianggap memiliki keterpecayaan atau tidak.
2. Keahlian (expertise)
Faktor keahlian berhubungan dengan penilaian dimana sumber dianggap berpengetahuan, cerdas, berpengalaman, memiliki kewenangan tertentu dan menguasai skill yang bisa diandalkan. Dalam konteks kampanye, keahlian pelaku dimata khalayak dapat merentang dari kategori ahli hingga tidak ahli. Jika khalayak mempresipsikan komunikator sebagai orang ahli maka mereka cenderung bersedia mendengarkan, mempelajarai, dan menerima isi pesan yang disampaikan. Sebaliknya jika komunikator tidak memiliki keahlian maka khalayak akan mengabaikan pesan tersebut.
3. Daya Tarik
Daya tarik termasuk sumber variabel yang paling banyak dimanfaatkan oleh kalangan praktisi periklanan, kampanye politik, dan kampanye sosial dalam mengefektifkan pesan-pesan yang mereka sampaikan. Secra umum konsep ini meliputi penampilan fisik dan identifikasi psikologis.
mampu menciptakan karakteristik kepribadian yang berbeda. Orang dengan daya tarik fisik yang tinggi akan memiliki pola sosialisasi yang berbeda dengan orang yang mempunyai daya tarik fisik yang rendah. Orang yang mempunyai daya tarik fisik secara sosial mendapat perhatian lebih dihargai dan diterima. b. daya tarik psikologis, yaitu sebgai tambahan dari karakteristik fisik, kita juga harus mempertimbangkan daya tarik psikologis. Salah satu komponen daya tarik psikologis adalah kesamaan. Banyak hal kemiripan antara pembicara dan khalayak dapat meningkatkan daya tarik yang membuat upaya persuasi menjadi lebih efektif. Penelitian dibidang psikologi menunjukkan bahwa daya tarik kesamaan mempengaruhi penilaian khalayak atas kredibilitas sumber informasi.
4. Faktor pendukung
tenang dan dapat mengontrol perkataannya sehingga tidak terbata-bata dalam menyampaikan pesan. (C) Kharisma diartikan sebagai kualitas kepribadian seseorang atau pemimpin yang mampu memikat dan mengikat orang-orang di sekitarnya.
B. Pesan Kampanye
Pesan kampanye yang efektif adalah pesan yang menginformasikandengan segera kejadia penting yang sedang terjadi di sekitar khalayak sasarannya, sehingga mudah dikenal dan ditanggapi.
Kampanye pada dasarnya adalah penyampaian pesan-pesan daro pengirim kepada khalayak. Pesan-pesan tersebut dapat disampaikan dalam berbagai bentuk media mulai dari poster, spanduk, baliho, pidato,iklan, hingga selebaran. Apapun bentuknya, pesan-pesan selalu menggunakan simbol, baik verbal maupun non verbal yang diharapkan dapat memancing respons khalayak. Dua aspek penting dalam pesan kampanye diantaranya: 1. Isi pesan, banyak hal yang terkait dengan isi pesan mulai dari materi
2. Struktur Pesan, merujuk pada bagaimana unsur-unsur pesan diorganisasikan yang sisi pesannya memperlihatkan bagaimana argumentasi yang mendasari suatu pesan persuasif yang disajikan kepada khalayak. Respon khalayak terhadap pesan kampanye dipengaruhi oleh proses penerimaan dan pengolahan pesan atau informasi yang dilakukan khalayak. Karena alasan ini maka pesan harus memiliki kemampuan tertentu yang dapat mendorong khalayak untuk memberikan respon positif sesuai harapan pelaku kampanya. C. Saluran Kampanye
Secara umum Schramm (1973) mengartikan saluran kampanye sebagai “perantara apapun yang memungkinkan pesan-pesan sampai kepada penerima”. Sementara Klingemann dan Rommele (2002) secra lebih spesifik mengartikan saluran kamoanye sebagai segala bentuk media yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Bentuknya dapat berupa kertas yang digunakan untuk menulis pesan,telepon,radio,atau bahkan televisi.
Terlepas dari kelebihan dan keterbatasan media massa dalam mempengaruhi khalayak, menurut Roggers (1987), peran media massa dalam kampanye adalah orang banyak, piblik, dan masyarakat, dan untuk mncapai mereka maka kampanye akan lebih menggantungkan diri pada media massa sebgai saluran utamanya (Venus, 2007:84-85).
D. Khalayak Sasaran
McQuil dan Windahl (1993) mendefinisikan khalayak sasran sbagai jumlah besar orang yang pengetahuan, sikap dan perilakunya akan diubah melalui kegiatan kampanye. Besarnya jumlah khaayak sasaran ini mengidikasikan bahwa mereka memiliki karakteristik yang beragam. Akibatnya cara mereka merespon pesan-pesan kampanye juga akan berbeda-beda.
Berbagai temuan dibidang psikologis, khususnya yang terkait dengan studi tentang persepsi, menyimpulkan bahwa sebagian besar orang akan menanggapi informasi yang menerpa mereka berdasarkan keyakinan, sikap, dan nilai-nilai yang dimiliki. Karena pentingnya ketiga aspek psikologis tersebut dalam menentukan cara seseorang beraksi terhadap stimulus atau pesan tertentu.
mempersepsi dan merspon berbagai stimulus yang hadir (Venus, 2007:98).
IV. Sikap
A. Definisi Sikap
Istilah sikap yang dalam bahasa inggris disebut dengan “attitude” pertama kalai digunakan oleh Herbert Spencer, yang menggunakan kata ini untuk menunjuk suatu status mental seseorang (Ahmadi, 2006:161)
Menurut zimbrdo dan ebbsden, sikap adalah suatu predisposiss (keadaan mudah terpengaruh) terhadap seseorang, ide atau obyek yang berisi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif. (Ahmadi, 2006:163)
Sedangkan menurut Allport yang dikutip oleh Loudon & Della Bitta (1993), sikap adalah keadaan mental dan saraf dengan kesiapan untuk mennggapi, diorganisasi melalui pengalaman dan memiliki pengaruh yang mengarahkan dan/atau dinamis terhadap perilaku.
Definisi yang dikemukakan oleh Allport tersebut mengandung makna bahwa sikap adalah mempelajari kecenderungan memberikan tanggapan suatu objek baik disenangi ataupun tidak disenangi secara konsisten.(Setiadi, 2010:140)
& Backman (1994) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tetentu dalam hal (afeksi), pemikiran logis (kognisi) dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. (Azwar, 2012:5)
Sikap sebagai suatu perilaku, tendensi ataupun kesiapan atisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon teradap stimuli sosial yang telah terkondisikan. (Azwar, 2012:5).
B. Ciri-Ciri Sikap
Adapun ciri-ciri sikap menurut Jalaludin Rakhmat yang berjudul “Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi” (2005:39-40) adalah sebagai berikut:
1. Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak, berpersepsi, dan merasa dalam menanggapi objek, ide dan situasi atau nilai.
2. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berprilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek.
3. Sikap mempunyai daya pendorong dan motivasi. 4. Sikap relatif lebih menetap
5. Sikap mengandung aspek evaluatif, yang artinya bahwa mengandung nilai menyenangkan dan tidak menyenangkan.
C. Faktor-Faktor Pembentuk Sikap
Pengalaman pribadi, kebudayaan, pengaruh orang lain yang dianggap enting, media massa, institusi, dan faktor emosional merupakan faktor pembentuk sikap. Berikut adalah jabaran dari faktor-faktor pembentuk sikap :
1. Pengalaman Pribadi
Pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba atau mengejutkan yang meninggalkan kesan paling mendalam pada jiwa seseorang. Kejadian dan peristiwa terjadi berulang-ulang, secara bertahap diserap kedlam individu dan mempengaruhi pembentukan sikap.
2. Pengaruh Kebudayaan
Dimana kita hidup mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap. Dalam kehidupan di masyarakat, sikap masyarakat, di warnai dengan kebudayaan yang ada diderahnya.
3. Pengaruh Orang lain yang dianggap penting
Dalam pembentukan sikap pengaruh orang lain sangat berperan. Misalnya dalam kehidupan masyarakat yang hidup dipedesaan, mereka akan mengikuti apa yang diberikan oleh tokoh masyarakat.
4. Media Massa
Media massa elektronik maupun cetak sangat berpengaruh terhadap pembentukan opini dan kepercayaan seseorang.
Dalam lembaga pendidikan dan agama berpengaruh dalam pembentukan sikap, hal ini dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
6. Pengaruh Faktor Emosional
Sikap yang didasari oleh emosi yang fungsinya hanya sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego, sikap yang demikian merupakan sikap sementara dan segera berlalu setelah frustasinya hilang, namun bisa juga menjadi sikap yang lebih persisten dan bertahan lama. (Azwar, 2011:30-37).
D. Komponen Sikap
Tiga komponen sikap, yaitu: 1. Komponen Kognitif
tanggapan atau keyakinan, kesan, atribusi, dan penilaian tentang objek sikap tadi. (Sawarno & Meinarno, 2009:83).
2. Komponen Afektif
Emosi atau perasaan konsumen mengenai produk atau merk tertentu merupakan komponen afektif dari sikap tertentu. Emosi atau perasaan ini sering dianggap oleh para peneliti sangat evaluative sifatnya yaitu mencakup penilaian seseorang terhadap objek sikap secara langsung dan menyeluruh atau sampai dimana seseorang menilai objek sikap menyenangkan atau tidak menyenangkan, bagus atau jelek. Pengalaman yang mengharukan juga dimanifestasikan sebagai kadaan yang diliputi emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, rasa malu, rasa muak, kemarahan, kesukaran, kesalahan atau keheranan. Riset menunjukan bahwa pengalaman positif ataupun negatif dan bahwa ingatan tentang pengalaman tersebut dapat mempengaruhi sesuatu yang timbul di pikiran individu dan bagaimana individu bertindak. (Schiffman & Kanuk, 2008:226).
3. Komponen Konatif
Komponen perilaku dapat dilihat atau diketahui melalui respon subjek yang berkenaan dengan objek sikap. Respon yang dimaksud depat berupa tindakan atau perbuatan yang dapat diamati dan dapat berupa niat untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan objek sikap. Intensi kesiapan untuk bertindak terhadap objek sikap. Jika orang mengenali pengetahuan yang luas tentang objek sikap yang disertai dengan perasaan positif mengenai kognisinya, maka ia akan cenderung mendekati objek sikap tersebut. (Sarwono & Meinarno, 2009:84)
V. Model Penelitian
Gambar 2.2
Pengaruh Pesan Kampanye Terhadap Sikap Pengendara
(Survey Eksplanatif Mengenai Program Parkir Meter Dinas Perhubungan
Bekasi di Kawasan Grand Galaxy City)
Kampanye (X)
variabel terikat (tunggal) yang tidak terdiri dari sub-sub variabel yang lain. (Bungin, 2009;71)
VI. Definisi Konsep
Setiap penelitian kuantitatif dimulai dengan menjelaskan konsep peneltian yang digunakan, karena konsep penelitian ini merupakan kerangka acuan peneliti di dalam mendisain instrumen peneliti. Konsep jga dibangun dengan maksud agar masyarakat akademik atau masyarakat ilmiah meupun konsumen peneliti memahami apa yang dimaksud dengan pengertian variabel, indikator, parameter, maupun skala pengukuran yang dimaksud peneliti tersebut. (Bungin, 2010:57)
Konsep adalah istilah yang mengekspresikan seby=uah ide abstrak yang dibentuk dengan mengeneralisasikan objek atau hubungan fakta-fakta yang diperoleh dari pengamatan. Kerlinger juga menyebut konsep sebagai abstraksi yang dibntuk dnan menggeneralisasikan hal-hal khusus. Jadi, konsp merupakan sejumlah ciri standar umum suatu objek.
sesuatu yang menjadi objek pengamatan atau penelitian termasuk didalamnnya faktor-faktor yang berpengaruh dan terpengaruh dalam peristiwa atau gejala yang diteliti. (Rakhmat, 2004:12)
Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yang memperlibatkan penelitian, yaitu:
A. Variabel Independent
Variabel independent sering disebut juga sebagai stimulus. Dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan variable bebas. Variabel bebas itu sendri adalah merupakan variabe yang mempengaruhi atau yng menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable dpendent (terikat). Konsep Kampanye memiliki empat dimensi adalah:
1. Pelaku Kampanye
Siapapun terlibat dalam mengagas, merancang, mengorganisasikan, dan menampaikan pesan dalam sebuah kegiatan kampanye dapat disebut sebagai pelaku kampanye.
2. Pesan Kampanye
menggunakan prinsip repetisi untuk menyampaikan pesan secara berulang-ulang pada publik.
3. Saluran Kampanye
Secara umum Schramm (1973) mengartikan saluran kampanye sebagai “perantara apapun yang memungkinkan pesan-pesan sampai kepada penerima”. Sementara Klingemann dan Rommele (2002) secra lebih spesifik mengartikan saluran kamoanye sebagai segala bentuk media yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Bentuknya dapat berupa kertas yang digunakan untuk menulis pesan,telepon,radio,atau bahkan televisi.
4. Khalayak Sasaran Kampanye
McQuil dan Windahl (1993) mendefinisikan khalayak sasran sbagai jumlah besar orang yang pengetahuan, sikap dan perilakunya akan diubah melalui kegiatan kampanye. Besarnya jumlah khaayak sasaran ini mengidikasikan bahwa mereka memiliki karakteristik yang beragam. Akibatnya cara mereka merespon pesan-pesan kampanye juga akan berbeda-beda.
B. Variabel Dependent
Merupakan variabel bebas atau pengaruh dimana variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahuluan variabel sebelumnya. (Kriyantono, 2009:21)
Dalam penelitian ini variabel dependentnya adalah sikap pengendara dalam program “Parkir Meter” yang mempunyai dimensi sebagai berikut ini:
a) Komponen Sikap
Tiga komponen sikap, yaitu: a. Komponen Kognitif
b. Komponen Afektif
Emosi atau perasaan konsumen mengenai produk atau merk tertentu merupakan komponen afektif dari sikap tertentu. Emosi atau perasaan ini sering dianggap oleh para peneliti sangat evaluative sifatnya yaitu mencakup penilaian seseorang terhadap objek sikap secara langsung dan menyeluruh atau sampai dimana seseorang menilai objek sikap menyenangkan atau tidak menyenangkan, bagus atau jelek.
Pengalaman yang mengharukan juga dimanifestasikan sebagai kadaan yang diliputi emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, rasa malu, rasa muak, kemarahan, kesukaran, kesalahan atau keheranan. Riset menunjukan bahwa pengalaman positif ataupun negatif dan bahwa ingatan tentang pengalaman tersebut dapat mempengaruhi sesuatu yang timbul di pikiran individu dan bagaimana individu bertindak. (Schiffman & Kanuk, 2008:226)
c. Komponen Konatif
VII. Hipotesis Teori
Hipotesis adalah jawaban sementara dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk memberikan gambaran yang jelas antara variabel ataupun untuk menguji kebenaran tersebut. Hipotesisis juga dikatakan sebagai jawaban teoritis terhadap jawaban rumusan masalah penelitian, belum jawaban empiris. (Sugiyono, 2009:64)
Hipotesis teori dalam penelitian ini adalah mengenai Pengaruh Kampanye Terhadap Sikap Pengendara Mengenai Program “Parkir Meter” Dinas Perhubungan Bekasi di Kawasan Ruko Galaxy 1, Bekasi Selatan. Penelitian ini menggunakan hipotesis asosiatif yang bersifat kausal dikarenakan peneliti bermaksud untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Kampanye Dinas Perhubungan Bekasi terhadap sikap masyarakat. Hipotesis asosiatif merupakan jenis hipotesis yang menjelaskan hubungan antarvariabel. Hipotesis ini dalam sebuah penelitian selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menjelaskan hubungan dua variabel atau lebih. (Sugiyono, 2008:69)
sebaliknya apabila menolak H0 berarti menerima Ha. Hipotesis statistik ini dirumuskan untuk menjelaskan gambaran dan parameter apa dari populasi. (Riduwan,2004:42)
Hipotesis nol adalah hipotesis yang menyatakan tidak adanya salinghubungan antara dua variable atau lebih, atau hipotesis yang menyatakan tidak adanya perbedaan antara kelompok yang satu dan kelompok lainnya. Hipotesis lain yang bukan hipotesis nol disebut hipotesis alternatif, yang biasa dilambangkan dengan Ha, menyatakan adanya saling-hubungan antara dua variabel atau lebih, atau menyatakan perbedaan dalam hal tertentu pada kelompok-kelompok yang berbeda. (Suryabrata,2010:23)
Hipotesis dalam penelitian ini adalah: “Pengaruh Kampanye Dinas Perhubungan Bekasi terhadap Sikap Pengendara”, dari hipotesis penelitian di atas, dapat ditarik hipotesis statistik sebagai berikut:
A. Hipotesis (Ha dan H0) dalam uraian kalimat: Hipotesis (Ha dan Ho) dalam uraian kalimat :
Ho: Tidak ada pengaruh pesan kampanye terhadap Sikap Pengendara.
Ha: Ada pengaruh pesan kampanye terhadap Sikap Pengendara Hipotesis (Ha dan Ho) model statistik :
Ho: p = 0, yang artinya tidak ada pengaruh pesan kampanye terhadap Sikap pengendara.
VIII. Operasionalisasi Konsep
Tabel 2.1
Pengaruh Pesan Kampanye Terhadap Sikap Pengendara
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
I. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, karena ingin melihat, mengukur, membuktikan, dan menguji hipotesis melalui perhitungan dalam jumlah dan angka, juga karena responden dalam penelitian ini banyak, sehingga kuesioner disajikan instrumen untuk pengumpulan data. (Sugiyono, 2006:18)
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggambarkan atau menjelaskan suatu masalah yang hasilnya dapat digeneralisasikan. Dengan demikian penelitian kuantitatif tidak terlalu mementingkan kedalaman data atau analisis. Penelitian lebih mementingkan aspek keluasan data sehingga data atau hasil riseat dianggap merupakan representasi dari seluruh populasi.(Kriyanto, 2006:56)
II. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah survei eksplanatif. Jenis survei ini digunakan bila peneliti ingin mengetahui mengapa situasi atau kondisi tertentu terjadi atau apa yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. (Kriyantono, 2009:60)
Sedangkan Kerlinger (1996) mengatakan bahwa penelitian survei adalah:
“penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut. Sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis”. (Riduwan, 2004: 49)
Penelitian ini menggunakan metode survei karena peneliti bertujuan untuk menjelaskan sebab akibat pengaruh kampanye dalam program “parkir meter” Dishub terhadap sikap pengendara di kawasan Ruko Galaxy, Bekasi-Selatan.
Penelitian ini akan menjawab apakah terdapat pengaruh kampanye dalam program “parkir meter” Dishub terhadap sikap pengendara di kawasan Ruko Galaxy, Bekasi-Selatan.
III. Sifat Penelitian
variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara sat variabel dengan variabel lain. (Sugiyono, 2006:11)
Penelitian ekplanatoris ini tidak hanya untuk memperkecil penyimpangan atau terjadinya bias, tetapi lebih meningkatkan nilai kepercayaan, dan untuk tujauan menguji hipotesis atau hubungan sebab-akibat dengan melakukan eksperimen dan cara ini merupakan cara penelitian yang paling tepat sesuai dalam penelitia eksplanatif. Penelitian eksplanatif sering disebut juga dengan penelitian eksperimen yang memungkinkan untuk mengetahui adanya hubungan sebab akibat terhadap suatu objek penelitian. (Ruslan, 2006:13-14)
Dengan menggunakan penelitian eksplanatif peneliti ini berusaha menjelaskan sejauh mana pengaruh kampanye dalam program “parkir meter” Dishub terhadap sikap pengendara di kawasan Ruko Galaxy, Bekasi-Selatan.
IV. Populasi dan Sampel A. Populasi
Populasi adalah generalisasi yang terdiri atas objek atau suatu subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudia ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2004:55)
berada dikawasan tersebut melalui wawancara singkat bahwa terdapat sekitar 500 yaitu jumlah keseluruhan kendaraan motor dan mobil pada satu harinya.
B. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang memiliki populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalkan karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan ada diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili). (Sugiyono, 2011:81)
Dalam menentapkan sampel ada yang dikenal dengan ukuran sampel. Ukuran sampel ada karena kadang upaya mendeskripsikan populasi kurang berhasil, disebabkan karena populasi memiliki ciri tak terhingga. Karena itu harus dilakukan perhitungan secara pasti jumlah besaran sampel untuk populasi tertentu. Hal ini sebenarnya jalan pintas untuk menghindari berbagai kesulitan karena populasi memiliki karakter yang sukar digambarkan. (Burhan Bungin, 2005:114-115)
n = N N. d² + 1 Keterangan:
n : Jumlah sampel yang dicari N : Jumlah sampel populasi
d² : Nilai presisi yang ditetapkan, serta di kuadratkan Dalam kasus ini :
N: 500 d: 10%
jadi : n = 500
500. (10%)² + 1
n = 83,3333 dibulatkan menjadi 83 responden
Berdasarkan penjelasan diatas maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat pengguna jasa parkir di kawasan ruko galaxy 1 Bekasi-Selatan yang berjumlah 83 responden.
V. Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel (sampling) adalah proses memilih sejumlah elemen secukupnya dari populasi, sehingga penelitian terhadap sampel dan pemahaman tentang sifat atau karakteristiknya akan membuat kita dapat mengeneralisasikan sifat atau karakteristik tersebut pada elemen populasi. (Noor, 2011:148)
teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data. Penelitian yang biasa menggunakan teknik sampling ini adalah penelitian yang populasinya adalah individu-individu yang sukar ditemui dengan alasan sibuk, tidak mau diganggu, tidak bersedia menjadi responden, tau alasan lainnya. Oleh karena itu, alasan peneliti menggunakan accidental sampling karena peneliti merasa kesulitan untuk menemui responden dan karena topik yang diteliti adalah masalah umum dimana semua orang mengetahuinya.
Responden yang diteliti adalah masyarakat yang mermakirkan kendaraannya di kawasan ruko Galaxy dan yang berusia 17 tahun sampai dengan 50 tahun keatas. Yang akan peneliti temui saat peneliti turun lapangan untuk menyebarkan kuesioner yang diisi oleh responden tersebut.
VI. Waktu dan Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menunjukkan pada tempat atau kancah yang akan dijadikan obyek penelitian. (Widodo,2005:57)
Sedangkan waktu penelitian menunjukan pada jadwal penelitian, dari tahap penyusunan proposal sampai penulisan laporan penelitian, yang dinyatakan dalam rentang waktu. (Widodo, 2005:57)
Bekasi-Selatan. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 28 – 29 September 2015 saat peneliti turun lapangan dalam menyebarkan kuesioner.
VII. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ialah eknik atau cara-cara yang dapat digunkan peneliti untuk mengumpulkan data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak dapat diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihatkan penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengematan, ujian (tes), dokumentasi, dan lain-lainnya. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan tergantung dari masalah yang dihadapi. (Riduwan, 2004:97)
A. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber data utama dilokasi penelitian atau obyek penelitian. Data primer diperoleh dari sumber dari data primer, yaitu sumber pertama sebuah data dihasilkan. (Bungin, 2006:2001)
Data primer dalam penelitian ini yaitu angket/kuesioner. Angket/kuesioner yang digunakan oleh pebeliti berupa pernyataan atau pertanyaan secara tertulis dan tertutup kepada responden untuk dijawabnya.
responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan. (Kriyantono, 2007:93)
Penelitian ini menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tertutup yaitu pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari tiap pertanyaan yang telah tersedia dengan format skala Likert yang akan diberikan kepada responden dengan tujuan mencari informasi mengenai tentang keadaan yang dialami oleh responden sendiri, kemudian semua alternatif dijawab oleh responden yang telah tertera dalam angket.
Dalam penelitian ini kuesioner diberikan kepada responden yang peneliti pilih secara acak sebagai sampel penelitian kepada masyarakat pengguna parkir di kawasan ruko galaxy 1 Bekasi-Selatan. Kemudian kuesioner tersebut dijawab oleh responden yang kemudian dikembalikan kepada peneliti, yang selanjutnya peneliti akan mengelola data tersebut untuk dilihat hasilnya.
Penelitian ini menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan tertutup. Pertanyaan tertutup yaitu pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari tiap pertanyaan yang telah tersedia. (Sugiyono, 2008:142-143)
B. Data Sekunder
dokumen, internet, artikel, surat kabar, atau tulisan-tulisan lain yang relevan. (Sugiyono, 2005:129)
Untuk melengkapi data primer, peneliti menggunakan data sekunder yaitu studi kepustakaan. Peneliti mengumpulkan data dengan menelaah informasi dari buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini, seperti pengantar ilmu komunikasi, ilmu komunikasi, public relations, media relations, metodologi penelitian. Selain itu peneliti juga membaca dan mencari sumber-sumber lainnya dari internet seperti, detik.com, infobekasi.com, tribunnews.com, bekasi-go, sebagai analisa masalah yang diteliti pada penelitian ini untuk memperoleh wacana dan bahasan teori yang akan berguna bagi peneliti.
VIII. Uji Instrument
Salah satu kriteria kuesioner yang baik adanya validitas dan reliabilitas dari kuesioner. Reliabilitas menunjukkan bahwa kuesioner tersebut konsisten apabila digunakan mengukurgejal yang sama. (Santoso, 2005:247)
A. Uji Validitas
Validitas instrumen penelitian akan diuji dengan analisis faktor. Perlu diketahui bahwa analisis faktor merupakan suatu teknik statistik untuk mengidentifikasikan jumlah faktor yang relatif kecil yang dapat digunakan untuk menggambarkan hubungan antara beberapa variabel yang berhubungan. Analisis faktor menghasilkan suatu tabel dimana baris menunjukkan faktor atau variabel indikator mentah yang diamati dan kolom menunjukka faktor atau variabel tersembunyi yang menjelaskan sebanyak mungkin perbedaan di dalam variabl ini.
Dengan teknik ini akan diperoleh nilai Kaizer Mayer Oklin (KMO). Yaitu uji statistik yang digunakan untuk menunjukan ketepatan analisis faktor terhadap variabel-variabel yang diukur. Bila nilai KMO > 0,5 dengan nilai signifikasi < 0,5 maka variabel tersebut layak untuk diuji dengan mnggunakan analisis faktor. (Singarimbun, 1995:122)
Tabel 3.1 : Interpretasi KMO Ukuran Validitas
Nilai KMO Tingkat Varian
0.90 – 1.00 Marvellous (sangat bermanfaat) 0.80 – 0.89 Meritorious (bermanfaat) 0.70 – 0.79 Middling (cukup bermanfaat) 0.60 – 0.69 Mediocre (sedang) 0.50 – 0.59 Miserable (tidak bermanfaat) 0.49 – 0.49 Unacceptable (tidak bisa diterima) Sumber : Kaiser 1974
Keputusan untuk validitas ialah :
Jika t hitung > 0,5 berarti dinyatakan valid Jika t hitung < 0,5 berarti dinyatakan tidak valid B. Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang apabila digunakan berapa kalipun untuk mengukur objek yang sama maka akan menghasilkan data yang sama. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan relibel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya relibel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan. (Sugiyono, 2009:121-122)
Penelitian ini menggunakan teknik Alpha Cronbach. Koefisien alpha menurut Cronbach pada hakikatnya merupakan rata-rata dari suatu alat ukur. (Rakhmat, 2005:17)
Untuk dilakukan pengujian realibility untuk menguji konsistensi jawaban responden. Dalam menguji realibilitas peneliti menggunakan Cronbach’s Alpha Method dengan menguji satu persatu dimensi. Standar nilai X yang digunakan untuk menunjukan bahwa instrumen atau alat ukur tersebut akan menjadi baik jika sama dengan atau lebih dari 0,6. Jadi semakin mendekati 1.00 maka pernyataan yang tercantum akan semakin relibel dan apabila hasil nilai diperoleh berada dibawah 0,6 maka alat ukur tersebut dikatakan tidak relible. (Sugiyono, 2002:214)
α= k
k−1
(
1−S²instrument S²total
)
Dimana :
α : Cronbach’s alpha k : Banyaknya pertanyaan S² instrument : Varians dari pertanyaan S²total : Varians dari skor
Setelah data hasil penelitian dikumpulkan oleh peneliti, langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh peneliti adalah bagaimana menganalisis data yang telah diperoleh tadi. Langkah ini diperlukan karena tujuan dari analisis data yang sudah diperoleh. (Prasetyo, 2005:170)
C. Uji Regresi