• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBACA PELUANG PENGEMBANGAN DAN PEMBERD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MEMBACA PELUANG PENGEMBANGAN DAN PEMBERD"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBACA PELUANG PENGEMBANGAN DAN

PEMBERDAYAAN WIDYAISWARA DI KEMENTERIAN AGAMA

Firman Nugraha Widyasiwara Madya

Balai Diklat Keagamaan Bandung email: [email protected]

abstrak

Menghadapi tantangan diklat dan pengembangan diri widyaiswara ke depan memerlukan perubahan paradigm dalam memosisikan widyaiswara itu sendiri dalam peranannya di lingkungan diklat. Spesialisasi widyaiswara menjadi identitas diri yang penting sebagai landasan pengembangan dan pemberdayaan widyaiswara tersebut. Secara sederhana, langkah ini dimulai dari membuka cakrawala wawasan baik oleh widyaiswara maupun Pembina kewidyaiswaraan untuk bersama-sama meruntuhkan sekat dikotomis. Pembinaan dan pengembangan widyaiswara dikembalikan kepada spsesialisasi widyaiswara.

Kata kunci: Dikotomi, Spesialisasi widyaiswara. A. PENDAHULUAN

Hadirnya Peraturan Menteri Agama Nomor 49 Tahun 2014 telah memberikan riak tersendiri dalam dunia pendidikan dan pelatihan (diklat) terutama bagi widyaiswara. Membaca pasal 10 ayat 4 dalam PMA dimaksud melahirkan beragam pendapat. Disatu sisi apakah sebagai bentuk sikap dan perlakuan khusus (istimewa) atau dikriminatif.

Terlepas dari besaran pertanyaan di atas, sesungguhnya sikap positif yang harus diambil adalah pasal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi insan kediklatan baik para pimpinan sebagai pemegang otoritas keputusan dan kebijakan, maupun widyaiswara sendiri sebagai objeknya. Bagaimanapun sebuah amar dalam produk hukum tetaplah berlaku dan harus berlaku. Apalagi jika ada produk hukum lain yang terkait dan turut menguatkan amar pertama.

Lain dari itu, semangat yang diusung dari sebuah keputusan adalah perubahan. Semangat perubahan juga harus mewarnai paradigma insan kediklatan. Dalam kepentingan tersebut, artikel sederhana ini mencoba menyoal dan mencari solusi yang lebih mungkin untuk dilaksanakan secara bersama-sama dengan keluar

(2)

dari lingkaran persoalan dan menjadikannya tantangan sekaligus peluang untuk kebaikan bersama.

B. PERUBAHAN PARADIGMA: Menembus sekat dikotomi

Salahsatu ciri khas widyaiswara sebagai jabatan fungsional adalah memiliki spesialisasi. Spesialisasi Widyaiaswara merupakan identitas khas mengenai keahlian atau bidang keahlian seorang widyaiswara. Maka tidak berlebihan dalam Permenpan Nomor 14 tahun 2009 (meskipun sudah ada aturan lebih baru, namun belum diterima), dalam penghitungan Angka Kredit widyaiswara hanya akan dihitung jika sesuai dengan spesialisasi yang diampunya. Spesialisasi inipun yang membedakan kewenangan mengajar seorang widyaiswara dalam suatu diklat dengan widyaiswara lainnya.

Perjalanan impelementasi spesialiasasi widyaiswara dalam pengembangan karirnya maupun pembinaan karirnya tidak selalu mulus. Widyaiswara harus berhadapan dengan beberapa rintangan antara lain perubahan kurikulum yang dinamis, serta (kasus di Kementerian Agama) dikotomi ruang pembinaan dan pengembangan karir widyaiswara.

Kondisi kurikulum diklat yang dinamis adalah tuntutan yang wajar dalam dunia pelatihan. Namun demikian, ia bisa menjadi problem ketika tidak disertai dengan kesigapan Pembina widyaiswara dalam menyediakan pintu keluar agar setiap widyaiswara memiliki payung hukum atas spesialisasi yang diambil dengan pelaksanaan diklat, yang pada gilirannya diajukan sebagai bukti kinerja untuk memperoleh Angka Kredit (Kusriyah, 2013 [online]).

Dewasa ini, spesialisasi widyaiswara di lingkungan Kementerian Agama adalah spesialisasi yang pertama kali diajukan (oleh masing-masing widyaiswara) dan ditetapkan oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Kondisinya tentu sudah jauh berbeda dengan keadaan saat ini, ketika kurikulum diklat telah mengalami beberapa kali perubahan. Hal ini, pada ahirnya akan menghambat pembinaan karir widyaiswara bersangkutan. Ia akan diperhadapkan pada persoalan lain, yakni berkas ajuan DUPAK angka kredit harus yang sesuai dengan spesialisasi.

(3)

Namun karena berada dalam ruang yang berbeda, widyaiswara di kamar tertentu dianggap tidak memiliki kewenangan untuk mengampunya. Artikel ini berupaya menjawab atas problem tersebut.

Spesialisasi memang tidak selalu tunggal. Kompetensi seorang widyaiswara sebagai akumulasi dari kemampuan akademis maupun ditunjang oleh pengalaman lapangan akan turut berpengaruh. Kebijakan menetapkan sesialisasi widyasiwara sebelumnya pernah memberikan lima peluang sebagai spesialisasasi. Dengan komposisi 3 utama dan 2 penujang. Kemudian kebijakan ini berubah dengan tiga spesialisasi, dengan komposisi dua utama dan satu penunjang.

Kebijakan ini sesungguhnya bagus untuk memberikan kesempatan bagi widyaiswara dalam mengembangkan karirnya. Baik ia ditetapkan lima spesialisasi maupun tiga spesialisasi. Bahkan terakhir ada upaya untuk mengembalikan penetapan spesialisasi ini pada tiga utama dan dua penunjang.

Namun demikian langkah solusi ini perlu disertai dengan perluasan pemahaman yang berujung pada kebijakan yang lebih terbuka pula. Yaitu diruntuhkannya sekat dikotomis (widyaiswara teknis dan widyaiswara administrasi) atau bahkan trikotomis (widyaiswara administrasi, widyaiswara pendidikan dan widyaiswara keagamaan). Bagaimanapun, solusi yang ditawarkan tanpa disertai terbukanya wawasan dan tindakan riil untuk lebih mengembalikan setiap kegiatan widyaiswara pada (murni) spesialisasinya akan terhambat oleh paradigma dikotomis atau trikotomi tersebut.

Bangunan dikotomis ini dalam pengamatan penulis sesungguhnya dinding psikologis yang tidak memiliki landasan kokoh dalam ranah hukum. Artinya tidak ada sandaran peraturan maupun produk hukum lainnya yang membenarkan adanya dikotomi. Jikapun diasosiasikan dengan bidang tugas yang ada di lingkungan Pusdiklat maupun Balai Diklat jelas sekali justru menunjukkan pengaruh psikologis saja, bukan berdasarkan norma hukum.

Produk hukum justru berkiblat pada spesialisasi dan kelompok diklat yang seharusnya diselenggarakan. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 14 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional widyaiswara dan angka kreditnya

(4)

misalnya membagi diklat ke dalam kelompok struktural, fungsional dan teknis.

Pemaknaan Teknis dalam perkalan tersebut jelas berbeda dengan kondisi riil adanya Pusdiklat Tenaga Teknis maupun Pusdiklat Administrasi, adanya Kasi Diklat Teknis dan Kasi Diklat Administasi di Balai Diklat. Teknis dalam Perkalan No 13, 14 dan 15 tahun 2011 menunjukan karakter diklat yang lebih cenderung untuk meningkatkan kompetensi pegawai dalam hal dukungan teknis terhadap penyelesaian tugasnya terutama berkenaan dengan jabatannya. Hal ini juga seseungguhnya diakomodir dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 4 tahun 2012 tentang Diklat Teknis di Lingkungan Kementerian Agama. Namun demikian, tampaknya persoalan “tafsir” kembali menjadi sumber pembacaan yang keliru (Nugraha, 2014).

Gambaran tersebut sesungguhnya dapat disadari ketika dalam diklat kelompok diklat administrasi sesungguhnya ada yang dikategorikan teknis maupun fungsional, di luar kelompok diklat struktural (Subkhan, 2014 [online]). Demikian pula halnya dalam kelompok diklat teknis di balai diklat, di dalamnya ada diklat teknis, maupun diklat fungsional bagi guru, pengawas, penyuluh maupun penghulu.

Dengan demikian, upaya dari pihak Pembina sesungguhnya masih perlu dilengkapi dengan perubahan pradigma berfikir atau mind-set baik oleh widyaiswara itu sendiri maupun pembina internal di lingkungan Kementerian Agama. Spesialisasi widyaiswara yang merupakan gambaran kompetensi bersangkutan harus didudukan dalam tempat yang lebih utama. Artinya suatu tuntutan kompetensi bagi peserta diklat yang diwakili oleh mata diklat dan secara bersamaan menjadi kompetensi widyaiswara di kamar manapun adanya baik dalam definisi administrasi, pendidikan, maupun keagamaan.

(5)

Perubahan paradigma ini penting. Kedepan, tantangan diklat tentu semakin kompleks. Menghadapi kondisi demikian tentu lembaga diklat harus menyiapkan amunisi yang paripurna, diantaranya widyasiwara yang kredibel.

C. PENUTUP

Perubahan paradigma akan mendasari perubahan perlakuan dalam pengembangan widyaiswara. Memantapkan kembali spesialisasi widyaiswara menjadi prioritas, terlebih menghadapi perubahan-perubahan lingkungan messo dan mikro di Kementerian Agama. Perubahan paradigma ini bukan hanya ada di lingkungan Pembina, tetapi juga mind-set widyaiswara-pun harus berubah. Sekat (psikologis) dikotomis ataupun trikotomis sudah tidak relevan dengan era baru dunia pelatihan. Untuk kompetensi terbuka dan baru, semua widyaiswara harus diberikan kesempatan yang sama untuk bersama sama terlibat dalam pelatihan.

DAFTAR PUSTAKA

Kusriyah, Siti (2013) Strategi Pemberdayaan Widyaiswara di Kementerian Agama, [online] dalam http://pta.kemenag.go.id/index.php/frontend/news/index/146. Nugraha, Firman (2014) Konsepsi dan Miskonsepsi Diklat Teknis

[online] dalam http://bdkbandung.kemenag.go.id/jurnal/211-konsepsi-dan-miskonsepsi.

Peraturan Menteri Agama Nomor 49 Tahun 2014 tentang Pemberian, Penambahan dan Pengurangan Tunjangan Kinerja Pegawai negeri Sipil di Lingkungan Kementerian Agama.

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 14 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya.

Peraturan Bersama Kepala LAN dan Kepala BKN Nomor 1 Tahun 2010 dan Nomor 2 tahun 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya.

Peraturan Kepala LAN Nomor 3 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya. Subkhan, Achmad (2014) Strategi Pemberdayaan Widyaiswar

Spesialisasi Tenaga Administrasi [online] dalam http://bdksemarang.kemenag.go.id/strategi-pemberdayaan-widyaiswara-spesialisasi-diklat-tenaga-administrasi/

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan memahami proses brainstorming ide dan proses pembuatan karya film, maka mahasiswa dan dosen program studi Ilmu Komunikasi yang mengikuti dan bertanggung jawab terhadap

Malihat kenyataan di atas, maka pengajuan penelitian skripsi ini akan membahas tentang titik temu antara konsep belajar Ibnu Khaldun dan Jean Piaget, karena

Penyusunan prosedur merupakan dasar yang diperlukan untuk menyusun rancangan prosedur lebih rinci pengelolaan kelas. Dengan kata lain, penyusunan rancangan

Media pembuangan sampah organik rumah tangga yang lebih efisien dan tepat untuk diterapkan di Desa Nanggala adalah dengan melakukan pembuatan bak sampah sebanyak 2 buah

Decrease (increase) in sharia financing and receivables Penurunan (kenaikan) piutang murabahah ( 134,592 ) ( 224,058 ) Decrease (increase) in murabahah receivables

TIK yang dikembangkankan di dalam pendidkan harus menuju terwujudnya sistem terpadu yang dapat membangun konektivitas antar komponen yang ada dalam pendidikan

Hasil penelitian Arson Abdul Rasyid Nunu (2015) menyatakan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) tidak mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.Kinerja keuangan