PUTUSAN PENGADILAN DAN TANTANGAN MUBAHALAH Oleh Abd. Salam
Menyaksikan jalannya persidangan pembacaan vonis Pengadilan Tipikor atas kasus korupsi yang didakwakan kepada Anas Urbaningrum yang digelar Rabu, 24 September 2014 kemarin menjadi lebih menarik, karena Anas selaku terdakwa mengajak
bermubahalah kepada Tim jaksa sekaligus kepada Majelis hakim.
Tantangan Anas untuk mubahalah ini sontak menjadi pembicaraan public yang dimuat diberbagai media. MUI melalui Sekretarisnya Dr. Asrorun Ni’ampun berbicara karena diwawancarai oleh wartawan. Karena sepanjang sejarah peradilan di Indonesia baik dalam perkara perdata apalagi kasus pidana tidak pernah terjadi tantangan mubahala dilontarkan di depan sidang pengadilan sebagai alat pembenar. Peradilan adalah lembaga resmi Negara yang dalam melaksanakan tugasnya diatur dengan seperangkat hukum acara yang mengikat hakim, jaksa dan pengacara serta pihak-pihak yang bersangkutan sebagai instrument hukum publik (public recht instrumentarium), sedangkan mubahalah sebagaimana yang dimohonkan oleh Anas tidak termasuk lembaga yang diatur dalam hukum acara.
Apa itu Mubahalah
Mubahalah yang dikehendaki Anas diperkenalkan oleh Al-Qur-an hanya untuk membela kebenaran yang berkaitan dengan aqidah atau urusan agama yang fundamental, bukan untuk urusan duniawi dan hawa nafsu yang sering disertai sikap ketidak tulusan. Sehingga mubahalah semula dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat moral-relegius yang sangat mistik yang tidak mungkin dibawa dalam rana hukum positif menurut aturan Negara manapun.
Mubahalah dikenalkan oleh Al-Qur-an dalam Surat Ali-Imran ayat 61. Siapa yang membantahmu (tentang kebenaran kisah Isa) sesudah datang ilmu (wahyu yang sampai kepadamu), maka katakanlah kepada mereka:" Marilah kita memanggil anak- anak kami dan anak- anak kamu, istri- istri kami dan istri- istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah, kemudian kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang- orang yang dusta.(Ali Imran; 61 )
Ayat tersebut sebagai tantangan kepada orang yang tidak mempercayai tentang kebenaran wahyu yang datangnya dari Tuhan. Jadi topic yang disengketakan adalah kebenaran yang bersifat ketuhanan (agama), sangat penting dan bersifat non fisikly, bukan untuk
menyelesaikan persengketaan yang kebenarannya dapat dijangkau secara ilmiyah, positif dan empirik.
Mubahalah yang semula disediakan sebagai penyelesaian akhir atas kebenaran yang bersifat ketuhanan itu, nampaknya kemudian oleh masyarakat dipakai pula untuk menyelesaiakan perkara-perkara pelik dalam kehidupan sehari-hari, setelah segala daya dan upaya mengalami jalan buntu, sehingga mubahalah sering diartikan sebagai sumpah kutukan. Dalam masyarakat tertentu menggunakan istilah sumpah pocong dengan tatacara yang mereka ada-adakan sendiri untuk memberi kesan sacral dan mistik, sehingga kemudian diyakini akan ada akibat buruk bagi pihak yang tidak benar atas salah.
Mubahalah sebagai penyelesaian non formal
ulama’ tokoh Persatuan Islam (PERSIS) semasa hidupnya, beliau sering menantang kaum Ahmadiyah untuk melakukan mubahalah karena ajarannya yang dinilai sesat. Sayang sampai akhir hayatnya tidak pernah terlaksana, karena pihak Ahmadiyah selalu menolak ataupun tidak hadir dalam tantangan bermubahalah tersebut. Yang terakhir adalah Lia Eden (penyebar aliran Islam salamullah), yang sempat beberapa kali terjadi
permubahalahan, baik langsung maupun tidak langsung, dan secara tidak langsung (melalui surat dan email) sudah dilakukan oleh pihak MUI dengan Lia Aminuddin. Tantangan mubahalah Ustadz A. Hasan kepada Ahmadiyah adalah penyelesaian non formal tanpa didasari peristiwa litigasi sehingga tidak ada kepastian dan tidak
mempunyai kekuatan hokum mengikat. Andaikan mubahalah itu terjadi, maka kedua belah pihak tersebut pulang dan tidak ada tindakan penyelesaian apa-apa sehingga tidak ada manfaatnya secara riil. Oleh karena itu penyelesaian seperti ini tidak akan
dipergunakan oleh Negara manapun dalam mengatur kehidupan rakyatnya. Kebenaran Putusan Pengadilan adalah kebenaran yang bersifat social.
Penyelesaian kasus di hadapan peradilan adalah bersifat konkrit dan verbal. Hakim sebagai manusia biasa dalam menjalankan tugasnya hanya diperintah untuk
memperhatikan hal-hal yang konkrit (dhahir) bukah yang abstrak (bathin). Hal-hal yang tersembunyi atau yang bersifat bathiniyah, hanya diketahui Tuhan. Kebenaran sebuah putusan pengadilan adalah kebenaran sosial yang bersifat subyektif bukan kebenaran haqiqi. Kebanaran haqiqi hanya milik Tuhan. Oleh karena itu tuntutan Anas untuk
mubahalah, sama halnya menuntut kebenaran haqiki dihadapan peradilan manusia. Untuk itu system peradilan dimanapun di dunia ini adalah berjenjang, ada peradilan tingkat pertama, banding dan kasasi karena kesadaran subyektifitasnya.
Perkara perasaan puas dan tidak puas, adil dan tidak adil akan selalu ada dalam kehidupan ini, itu semua amat bergantung kepada siapa yang memandang dan dimana kedudukannya.
Sikap Hakim
Majlis Hakim dalam persidangan diikat oleh hukum acara. Dalam kasus Anas kemaren kita dapat melihat dalam layar televisi Majelis Hakim Tipikor tidak mempedulikan tantangan Anas untuk mubahalah bahkan tidak ada sepatah katapun sebagai komentar atas usulan Anas. Sikap tersebut adalah sikap tepat yang benar. Karena pengacara Anas, Tim Jaksa sebagai pihak yang saling berhadapan tentu telah mengetahui tentang
ketentuan hokum yang mengatur persidangan, termasuk hak-hak terdakwa dan hak jaksa untuk melakukan upaya hukum setelah vonis dijatuhkan karena semua jelas diatur dalam hukum acara. Adanya komentar dan penjelasan dari Majelis menjadi kontra produktif dan biasanya justru memancing polemik yang berkepanjangan serta akan menjadi preseden buruk bagi sebuah proses peradilan.
Pernyataan ketidakpuasan pihak-pihak dihadapan peradilan dengan menantang untuk bersumpah pocong terhadap pihak lawan memang sering terjadi, tetapi jika mengajak bermubahalah dalam kasus pidana oleh tersangka terhadap jaksa sekaligus terhadap hakim, sepengetahuan saya adalah baru kali ini.