SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KLASIK pdf

61  343  Download (12)

Teks penuh

(1)

1

PROLOG

(2)

2

ARSITEKTUR KLASIK

Arsitektur Klasik merupakan ungkapan dan gambaran perjalanan sejarah arsitektur di Eropa yang secara khusus menunjuk pada karya-karya arsitektur yang bernilai tinggi dan “first class”. Disebutkan demikian karena karya-karya ini memperlihatkan aturan atau pedoman yang ketat dan pertimbangan yang hati-hati sebagai landasan berpikir dalam menciptakan karya tersebut. (Maulana, 2013).

(3)

Ensiklopedi Romawi yang disusun oleh Marcus T. Varro, dimana Isodore dari Seville menguraikan dan mengembangkan teori Vitruvius dalam tiga unsur/elemen bangunan yaitu DISPOSITIO, CONSTRUCTIO dan VENUSTAS. Dispositio adalah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan survei lapangan ataupun pekerjaan pada tapak yang ada, lantai dan pondasi. Venustas adalah berhubungan dengan elemen-elemen yang ditambahkan pada bangunan demi memenuhi hasrat akan rasa keindahan melalui seni ornamen ataupun dekorasi. Uraian seperti ini menunjukan sudah adanya pergeseran pandangan dari Teori Vitruvius. (Maulana, 2013).

Lebih jauh Isodore menyatakan apa itu order sebagai berikut:

“Kolom, dinamakan begitu karena tinggi dan bulat, menopang seluruh berat beban bangunan yang ada. Ratio atau Proporsi yang lama menyatakan bahwa lebarnya adalah sepertiga dari tingginya. Dikenal 4 jenis kolom yaitu : Doric, Ionic, Tuscan dan Corinthian, yang berbeda -beda satu dengan yang lain dalam ketinggian dan diameternya. Jenis ke-5, dinamakan Attic yang berpenampang persegi-4 ataupun lebih besar dan dibuat dari bata-bata yang disusun”. (Isodore dalam Varro, 19xx).

Pendapat Isodore ini merupakan sejumlah aturan dan norma bagi karya-karya arsitektur sesudahnya. Nilai-nilai arsitektur Klasik dapat juga kita temukan pada bangunan-bangunan gereja yang sedang mengawali pertumbuhan dan perkembangan sebagai agama yang baru dan menyebar hampir keseluruh benua Eropa saat itu. Salah satu bangunan tersebut adalah Hagia Sophia yang digambarkan dalam suatu konteks urban saat itu sebagai berikut:

(4)

gedung ini menggapai keatas langit sampai awan dan begitu menonjol diantara bangunan-bangunan yang lain, dari atas gereja ini dapat melihat kebawah keseluruh pelosok kota Konstantinopel. Hagia Sophia adalah bentuk yang demikian menyatu dengan kota Konstantinopel, tetapi dilain pihak sedemikian bersinar dan indah, serta megah, khususnya dalam wawasan perspektivis Bird Eye View. Dan semuanya ini menjadi lengkap dan sempurna dengan dipergunakannya bangunan ini untuk kegiatan upacara

keagamaan” (Isodore dalam Varro, 19xx).

Teori arsitektur Klasik ini kemudian berlanjut hingga jaman Gothic. Kualitas ruang Arsitektur Klasik Gothic ini dinyatakan sebagai keindahan visual yang atmosferik, seperti diaphanitas (kesemrawangan), densitas (kepekatan), obscuritas (kegelapan) atau umbria (bayangan). Gambaran ruang Arsitektur Gothic ini juga dinyatakan sebagai konsep kecemerlangan atau kebeningan yang antara lain dapat dilihat pada bentuk-bentuk jendela khususnya bentuk jendela mawar stained-glass (rosetta) ataupun karya seni kaca timah lainnya.

(5)

arsitektur sejenis, yang setingkat dan mengagumkan tetapi mengandung pemikiran dan nilai-nilai yang berbeda, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Angkor). Ungkapan nilai-nilai aritektur yang disebutkan terakhir ini dinyatakan dan ditulis sebagai suatu teori arsitektur, seperti tertulis sebagai berikut:

“Kita dapat menyatakan bahwa bangunan-bangunan

ini sebagai obyek arsitektur adalah bersifat massive-tertutup, karena terisolsikan dari ruang sekitarnya, bahwa secara eksterior orang-orang dapat berkeliling melihatnya. Dan karena itu, yang terpenting dan teristimewa dalam mewujudkan identitas bentuk adalah pengolahan tampak dan tampilannya, pengolahan sudut-sudutnya, pengolahan pertemuannya dengan tanah dan ketinggiannya yang menmbus langit. Demikian juga terlihat dengan jelas konsep-konsep Artikulasi dan Kontinuitas. Ada 4 jenis pengolahan sudut, yaitu artikulasi dengan elemen “relief” dengan sudut negative, dengan sudut yang tajam seperti garis, dan dengan sudut yang dilengkungkan, dimana semuanya ini dapat diketemukan secara konsisten pada

bagian bawahnya maupun pada bagian

(6)

1. Ciri-ciri Arsitektur Klasik

Secara umum, ciri dari arsitektur klasik adalah sebagai berikut:

 Memiliki banyak sekali ornamen atau hiasan hampir di setiap sudut bangunan.

 Penggunaan kolom dan balok (entablature) sebagai elemen utama.

 Biasanya berupa bangunan yang besar dan megah dengan waktu pengerjaan yang cukup lama dikarenakan sedikitnya jumlah pekerja.  Memanfaatkan efek distorsi mata untuk

menciptakan kemegahan dan keindahan bangunan-bangunan utamanya.

 Bahan utama menggunakan bahan yang langsung diambil dari alam.

 Setiap bangunan pada arsitektur Yunani Kuno adalah bagian integral dari seluruh struktur keseluruhan, karenanya peninggalannya (walau tidak sempurna) dapat direkonstruksi menjadi suatu bangunan yang sebenarnya (Hemingway, 2003).

2. Fungsi Arsitektur Klasik

(7)

Dalam prosesnya, bahan bangunan utama diambil langsung dari alam (atau melalui proses sederhana), dan dikerjakan hanya oleh sedikit pekerja.

Arsitektur Yunani Kuno merupakan pondasi dari berbagai gaya berikutnya yang berkembang di berbagai belahan dunia dan juga menyumbangkan pemikiran yang paling pintar dan penampilan yang sempurna di dalam tradisi Eropa Barat. Arsitektur pra-Yunani kuno sangat terkait dengan kondisi bangsa Yunani yang kaya dengan mitologi dan seni. Hal ini nampak dari fungsi dan bentuk bangunan utama sebagai bagian dari ritual pemujaan. Ideologi kebudayaan masyarakat pra-Yunani kuno tersebut menjadi dasar terbentuknya konsep nilai keestetikaan pada saat itu terfokus pada terciptanya bangunan-bangunan megah dan besar sebagai upaya mendekatkan manusia terhadap mitos dewa-dewi alam semesta. (Maulana, 2013).

(8)

3

SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KLASIK

A.Yunani

Arsitektur Yunani Kuno merupakan pondasi dari berbagai gaya berikutnya yang berkembang di berbagai belahan dunia dan juga menyumbangkan pemikiran yang paling pintar dan penampilan yang sempurna di dalam tradisi Eropa Barat. Oleh karena itu, monumen utamanya begitu penting sebagai bentuk pemahaman tentang Arsitektur Eropa itu sendiri.

Yunani tidak menjadi suatu bangsa yang berdiri sendiri hingga era modern dimana pulau utama yang bergunung-gunung dan pulau-pulau lainnya yang terpencar berkembang menjadi city states yang merupakan kebiasaan yang terjadi dalam persaingan.

Peradaban pertama sejarah Yunani Kuno bermula dari Crete (3000-1400 SM) dan berkembang hingga ke puncaknya yakni pada masa Istana Knossos. Kemudian digantikan dengan budaya Mycenae dan Tiryns pada daratan utama. Kemunduran terjadi pada 1100 SM dimana merupakan masa kegelapan dengan beberapa peninggalan yang masih bertahan.

(9)

Pertumbuhan yang luar biasa pada bangunan sangat dipengaruhi oleh iklim dimana kecerahan serta sinar matahari yang begitu indah memperkuat bayangan dan membersihkan pandangan sehingga terciptanya suatu bentuk landscape yang begitu kuat. Batu gamping dan marmer lokal pun tak kalah memberikan nilai yang berkualitas.

Pada periode Hellenistic (323-30 SM), diikuti dengan kematian Alexander Agung yang mempersatukan Yunani dan memperluas wilayah kekuasaan hingga ke Timur, bentuk-bentuk bangunan besar (great styles) tetap berlanjut walaupun dengan kekuatan yang lebih sedikit dan adanya pengalihan kekuasaan oleh Roma. Arsitektur menampilkan suatu perpaduan Orde yang meluas hingga ke Spanyol dengan penggunaan elemen-elemen tapak dan kubah. Bangunan-bangunan kecil tetap terlihat elegan dengan hiasan yang begitu terperinci namun tidak kehilangan struktur monumentalnya yang merupakan superhuman scale.

Arsitektur Yunani yang masih tetap ada pada dasarnya merupakan bangunan–bangunan publik terutama kuil dan teater. Namun, beberapa rumah biasa juga tetap bertahan. (Istiqomah, dkk, 2014).

a. Kuil-Kuil

(10)

Dari Mycenaem megaron (dinding utama dengan serambi) mengembangkan bentuk kuil menjadi persegi panjang yang dikelilingi kolom-kolom untuk memberikan kesan yang mendalam. Konsep yang simpel ini kemudian diperinci dengan suatu pendalaman pemikiran baik yang datangnya dari luar maupun dalam sehingga membentuk suatu desain.

Inti dari kuil adalah naos, suatu ruang tempat meletakkan patung dewa dengan pintu utamanya menghadap Timur. Patung itu diletakkan di sebuah podium/panggung yang rendah (crepidoma) sekitar tiga anak tangga. Bagian depan naos adalah portico atau pronaos (serambi yang bertiang-tiang). Hal ini merupakan bentuk prostyle dengan kolom-kolom yang berjajar terbuka di depan pintu masuk-keluar ataupun bisa juga merupakan antis dengan kolom-kolom (biasanya dua) antara antae (pilaster-pilaster yang mengakhiri perluasan bagian dinding naos) sehingga portico agak mundur ke dalam bangunan sebagai pengganti rancangannya. Di belakang naos kadang-kadang terdapat rear sanctuary (adyton). Keinginan akan simetri sering ditemukan pada bagian opisthodomus yang merupakan bagian belakang portico yang biasanya dibuat tanpa akses langsung dengan kuil utama. Atap kadang-kadang didukung oleh kolom-kolom yang ada di dalamnya.

Kuil-kuil pada masa awal dibangun dengan menggunakan kayu dan batu merah dengan dasar dinding batu. Kolom-kolom dan dinding-dinding utama pada awalnya dibangun dengan batu gamping (diselesaikan dengan plesteran marmer) pada abad ke-6 SM. Marmer pertama kali muncul pada bangunan di Asia Minor. Material atap utama menggunakan atap terakota. (Istiqomah, dkk, 2014).

b. Orde Klasik

(11)

Gambar 1.1: Orde Doric, Ionic, Chorintian Sumber: en.wikipedia.com

keseluruhan bangunan dimana bagian capital dan basenya dapat diklasifikasikan pada salah satu dari tiga bentuk yang mendasar yang dikenal sebagai orde klasik.

Orde yang paling awal adalah Doric, dikarakteristikan sebagai kolom-kolom yang terlihat kuat (powerful-looking), biasanya dengan 20 pinggiran galur yang tajam tanpa base. Tinggi kolom (termasuk capital) adalah 4-6 x diameter yang mengalami peningkatan hingga 71 kali pada masa Hellenic. Triglyph dan metope pada frieze (hiasan melintang pada dinding) berkembang dari kayu.

Orde Ionic merupakan orde yang scroll capitalnya berasal dari Asia Minor pada abad ke-6 SM. Kolom-kolom yang telah mature memiliki 24 galur yang dipisahkan menjadi lembaran-lembaran kecil. Galur persegi yang dibuat dari tanah liat (plinth) muncul pada akhir masa Hellenic. Tinggi kolom (termasuk capital dan base) adalah sekitar 9 x diameter terendah.

(12)

Gambar 1.2: Kuil Parthenon Sumber: en.wikipedia.com c. Evolusi Temple Plan

Dengan mengeksperimentasikan pada proporsi, pembangunan kuil mendapatkan bentuk yang ideal dimana sebagian besar rencana pembangunan kuil Doric yang mengalami perpanjangan/penguluran secara berangsur-angsur berkembang pada rencana kolom klasik yakni 6 x 13 pada outer colonnade (pteron). Hal ini menjadi populer pada abad ke-5 SM. Kuil-kuil di Asia Minor, Itali, dan Sicily mengikuti bentuk yang tidak beraturan dalam artian tidak memiliki suatu aturan yang pasti.(Istiqomah, dkk, 2014).

d. Dekorasi Kuil

Pediment Doric sering menggambarkan pemandangan mitologi pada relief. Genteng atap pada bagian pinggirnya diakhiri dengan hiasan yang dikenal sebagai antefixae, dimana hal ini meyebabkan bagian joint tidak kelihatan. Semua orde menggunakan moulding (papan hias tembok) dengan berbagai macam tipe profil termasuk hawksbeak (tipe Doric) dan egg-and-dart (Ionic). Dekorasi Doric seringkali dicat sedangkan Ionic dan Corinthian menggunakan permainan ritme pada motif tumbuh-tumbuhan. (Istiqomah, dkk, 2014).

1. Kuil Parthenon (447-432 SM ) Kuil Parthenon

merupakan permata

(13)

Gambar 1.3: Denah Parthenon Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 1.4: Denah Acropolis Sumber: en.wikipedia.com 447-432 SM sebagai karya dari arsitek Ictimus (Iktinos) dan Callicrates (Kallikrates) dan ahli pematung Phidias (Pheidias). Bangunan Parthenon dikatakan sebagai 'kesempurnaan terbesar dari karya kuil Doric yang pernah di bangun‟, sebuah penampilan dengan proporsi sempurna yang dihasilkan oleh ahli maya-loka Athena.

Parthenon menjadi contoh bangunan tertinggi. Desain dasar dapat terlihat pada bangunan itu sendiri yakni kuil Doric dengan deretan kolom-kolom penunjang atap (pteron) 8 x 17 kolom dengan tinggi 10,4 m serta terdapat serambi prostyle yang diduplikasikan dari Ophistodomos. Di dalam naos terdapat monument emas Phidias yakni patung Athena serta memiliki kolom-kolom internal pada tiga sisi. Di belakangnya, namun masih dapat diakses hingga

opisthodomus, merupakan tempat suci yakni sebuah Hall of the Virgins yang

(14)

2. Propylaea ( 437-432 SM )

Propylaea adalah bangunan berbentuk pintu gerbang karya arsitek mnesicless, tapi pembangunannya tak sempat diselesaikan karena terjadi peperangan dengan bangsa Peloponnesia. Puing-puing dari bangunan tersebut masih bisa dilihat sampai sekarang, tetapi ada beberapa bangunan yang benar-benar sudah hilang antara lain; Pinacotheca (sebuah galeri seni), Theater Dionysus, Odeon (sebuah ruang musik dari Herodes Atticus) dan Stoa (sebuah tempat berteduh dan tempat berpameran dengan colonnade dari Eumenes). Patung Promachos karya Pheidias yang sangat besar dan terbuat dari perunggu dan mendominasi wajah kota. Kehalusan dari denah Acropolis terlukis melalui tangga-tangga lapangan yang melandai dan ruang kolom dari propylae (437-432 SM) dengan istana depan dari gedung-gedung yang ada disampingnya. Arsitek Minesicles menciptakan perpaduan yang unik antara keagungan dan kesederhanaan yang tepat pada entrance serambi depan Acropolis. Kolom-kolom luarnya adalah Doric dimana salah satu kolom yang ada di dalamnya yakni pada jalur lintasan utama merupakan kolom Ionic yang lebih kecil, sebuah penjajaran yang briliant.

Suatu penempatan yang luar biasa. Selanjutnya memiliki sayap dengan pintu-pintu yang dilengkapi dengan serambi bergambar. Propylaea menjadi pintu gerbang dari Acropolis dirancang dan yang dibangun pada 437-432 SM meliputi suatu bangunan pusat dan dua sayap cabang samping. Colonnades sepanjang sisi timur dan barat mempunyai suatu baris kolom Doric dua baris kolom Bersifat Ionic membagi koridor tengah ke dalam tiga komponen.

(15)

Gambar 1.5: Athena Nike Sumber: en.wikipedia.com 3. Kuil Athena Nike ( 427-424 SM )

Kuil Nike merupakan kuil terkecil yang bagi penduduk Athena dianggap sebagai kuil pembawa keberuntungan bagi kota Athena. Kuil ini merupakan salah satu tempat suci yang mempesona, dipersembahkan kepada kemenangan Athena yang dibangun oleh Callicrates. Kuil ini merupakan salah satu dari bangunan Ionic pertama di Athena. Gaya bangunannya

terdiri dari empat ionic dengan empat kolom pada masing-masing akhir. Bentuknya amphiprostyle dimana terdapat portico (serambi yang bertiang-tiang) pada setiap akhirnya namun tidak terdapat pteron (outer colonnade). Kuil ini berdiri dengan Hak cipta dari Propylae yang telah lama direncanakan. Perbandingan proporsi kolom dengan diameter yang kecil mungkin untuk menghindari perbedaan yang begitu besar dengan Propylaea.

Untuk pertama kalinya dalam dunia Arsitek Yunani menggunakan tiga fasade. Pada kuil nike Athena terdapat suatu sandaran disebelah kanan dan di depan yang kuat, kecuali beberapa batu Elusinian yang dekorasi strukturnya dalam wujud suatu pintu gerbang luas dengan sayap yang panjang dan lebar sekitar 156 kaki. Suatu serambi disisi kiri adalah museum lukisan dan suatu ruang terbuka pada sisi kanan yang berisi patung yang didalamnya terdapat tiang-tiang.

(16)

Gambar 1.6: Kuil Erechtheum Sumber: en.wikipedia.com konferensi para dewa, sedangkan pada atas sisi yang lain menggambarkan pemandangan dari peristiwa pertempuran .

Suatu sandaran pualam dihias dengan penyajian relief;pembebasan Nikae (Kemenangan), yang dilindungi tepi dari benteng yang di atasnya kuil menegangkan. (Istiqomah, dkk, 2014).

4. Erechtheum ( 421-405 SM ) Erechteum merupakan sebuah kuil pengganti bangunan sebelumnya yang mengalami kehancuran pada 480 SM akibat peperangan dengan bangsa Persia yang dipimpin Salamis. Kuil ini dibangun oleh arsitek Mnesicles antara

tahun 421-405 SM dan terletak pada situs yang dikelilingi oleh hutan keramat dan tanah perkuburan. Dibangun dengan gaya bersifat ionic dan banyak patung pemujaan Athena. Terdapat kekurangan pada main fasadenya dimana tidak bisa diapresiasikan hanya dalam satu view point. Kuil ini dibangun untuk memperingati pertarungan antara Athena dan Poseidon untuk Athens.

(17)

Gambar 1.7: Kuil Artemis Sumber: en.wikipedia.com Erechtheion merupakan bangunan yang bersifat Ionic mempunyai suatu prostasis pada sisi atas bagian timur, suatu propylon sangat besar pada atas bagian utara, dan serambi terkenal dari Caryatids pada bagian selatan.

Kuil yang utama adalah dibagi menjadi dua bagian, dipersembahkan kepada pemujaan dari dua dewa utama Attica, Athena dan Poseidon-Erechtheus. Patung kayu Athena disimpan disini dimana Erechteum lebih sakral daripada Parthenon

Suatu dekorasi relief; pembebasan, tegas suatu penyajian yang mungkin menyangkut kelahiran Erechtheus, menghias bagian luar dari bangunan. Di atas menjadi pandangan dari selatan dan timur. (Istiqomah, dkk, 2014).

5. Kuil Artemis

Bagian timur Aegean adalah tempat lahirnya bangunan Yunani kuno. Kuil Artemis adalah bangunan dengan bentuk dasar dari

Capital Voluted pertama yang terlihat tahun 570 SM. tipe dasar bangunan ini memiliki

potongan horizontal yang bergulur yang berada diatas dengan cetakan cembung dasar (Thorus).

(18)

Gambar 1.8: Doric Apollo Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 1.10: Patung Hera Sumber:

sacred-destination.com 6. Kuil Apollo (336-332 SM)

Kuil Apollo Doric dipersembahkan kepada dewa Apollo dan memiliki luas 6 x 16 yang diwarisi dari para pendahulunya yaitu yang keenam berada didekat perbendaharan Athena (510 SM). Bertempat di

kawasan Delphi yang

merupakan tempat yang paling menarik dari semua tempat suci

yang ada. Terkenal sebagai tempat duduk kuil dan sebagai tempat peramal dari Dewa Apollo. Di sini semua bangunan lain saling berhubungan dimana tahap terpenting dari sejarahnya dimulai pada abad ke-6 SM. Susunan di altar sekitar jalan suci berliku-liku ke arah selatan dan terlihat tidak baik namun pada kenyataannya dengan teliti menyusun serta menciptakan rangkaian pemandangan. Bangunan Doric pertama terdiri dari 100% marmer dengan dinding yang dihiasi pahatan tentang pujian dan musik untuk Apollo. (Istiqomah, dkk, 2014).

7. Kuil Hera

Kuil ini dibangun pada tahun 550 SM. Mengalami perpanjangan rencana pada masa awal Doric (6 x 16). Sebagian besar Ethinus block yang masih bertahan berasal dari abad ke-5 SM (characterized by angled straight sides), tetapi

(19)

Gambar 1.9: Kuil Hera kadang disebut Basilica karena kesalahan arkeolog-arkeolog terdahulu yang berpikir

bahwa kuil ini merupakan bangunan publik bangsa Romawi. Tidak seperti kuil-kuil lainnya, maksud pembangunan kuil ini ditujukan sebagai ucapan syukur kepada Hera dalam bentuk kuil. Oleh karena itu, di bagian dalam kuil terdapat patung Hera dalam

bentuk kecil yang sekarang disimpan dalam museum Paesteum. (Istiqomah, dkk, 2014).

8. Kuil Olimpiade Zeus

Di Sisilia bangunan terbesar adalah Kuil Olimpiade Zeus, dimana bangunan dinding bersatu dengan Doric bagian luar kolom. Corak eksterior mengangkat model pahatan dibawah entablature yang berat. Menggunakan mature Doric 6 x 13 plan. Secara keseluruhan dibangun dengan plesteran batu

(20)

Gambar 1.12: Kuil Theseion Sumber: en.wikipedia.com Poseidon, dimana anak tangga utama menuju langit-langit atap memiliki bagian-bagian yang kuat. (Istiqomah, dkk, 2014).

9. Kuil Theseion ( 449-444 SM) Kuil ini dibangun pada tahun 449-444 SM. Namun dialihfungsikan menjadi sebuah gereja pada zaman Byzantine Greeks dimana dikonstruksikan sebagai apse pada akhir bagian timur dan memberikan sebuah concrete vault pada bangunan kuil tersebut. Seperti pada Parthenon, Doric frieze pada bagian serambi digantikan dengan kelanjutan Ionic frieze. Cukup terdapat banyak moulding pada bagian atas. Bangunan ini sebagian besar

dibangun dengan

menggunakan marmer

(21)

Gambar 1.13: Kuil Poseidon

Sumber: en.wikipedia.com pediment di bagian barat memperlihatkan lagi pertarungan antara Centaur dan Lapith sedangkan pediment di bagian timur menggambarkan Heracles ketika akan menjadi pahlawan menuju Gunung Olympus. Hanya 18 dari 68 metope kuil Theseion yang dihias, sedangkan yang lainnya dicat. Sepuluh metope pada sisi timur menggambarkan pekerjaan Heracles sedangkan empatnya masing-masing sebelah utara dan selatan yang menggambarkan Exploits of Theseus. (Istiqomah, dkk, 2014).

10. Kuil Poseidon

Kuil poseidon

dibangun pada tahun 440 SM di atas reruntuhan kuil sebelumnya pada masa Archaic. Berada di ketinggian 60 m di atas laut. Tipe desain kuil ini adalah hexastyle yakni memiliki portico depan dengan 6 kolom. Hanya beberapa kolom dari kuil tersebut yang masih berdiri.

Seperti dengan kuil-kuil Yunani lainnya, kuil poseidon dibangun berbentuk persegi panjang dengan tiang-tiang penunjang atap (collonnade) di keempat sisinya. Jumlah perbandingan kolom awal berdiri dengan saat ini adalah 42:18. kolomnya merupakan kolom Doric yang dibuat dengan material lokal yakni marmer putih.

(22)

B. Romawi

Bangsa Romawi berasal dari masyarakat Agrikultur-militer yaitu bangsa/kaum petani yang suka berperang dan berekspansi ke sekitar Laut Tengah, Eropa Utara dan Barat serta sebagian Asia dan Afrika. Bangsa ini berasal dan berbagai macam suku bangsa yang mendiami suatu wilayah. Kebudayaan Romawi berawal dan seni Eropa Barat yang diambil secara komprehensif. Mula-mula dianggap tahap dekadensi periode setelah Yunani pada bidang seni, namun secara total menyerap nilai seni yang sudah ada dari kebudayaan tersebut dan nilai-nilai yang terkandung ternyata sudah tidak asli dan bermutu rendah, sehingga Bangsa Romawi bisa dianggap sebagai penyebar dan pelestari peninggalan kebudayaan klasik, jadi dapat dikatakan sebagai Asimilator (menyatukan hasil karya orang lain) dan bukan Kreator.

Kekaisaran Romawi mempunyai wilayah kekuasaan yang menyebar dan berkembang (ekspansif) di sekitar daratan Spanyol, Armenia, Inggris hingga Mesir. Dengan demikian masing-masing daerah tersebut diperlukan suatu koordinator wilayah kekuasaannya (Teritorial). Akibat luasnya daerah kekuasaan, bangsa Romawi mencetuskan kebudayaannya menjadi Internasionalisme Budaya (Cultur lnternationalism). Perbedaan-perbedaan gaya kekuasaan teritorialnya disatukan dalam satu gaya kepemimpinan yang dinamakan Gaya Imperial. Kerajaan Romawi merupakan suatu negara yang digolongkan

sebagai “statesmanship” yaitu bangsa yang memiliki

(23)

a. Karakteristik Arsitektur Romawi

1. Kemampuan dalam teknologi bangunan lebih maju dari pada bangsa Yunani, seperti dalam pembuatan saluran air dan pembuatan konstruksi busur/lengkung.

2. Penafsiran terhadap makna kehidupan dari segi fungsi dan sistem struktur sosial sangat kompleks. Kondisi ini sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku, tata cara hidup dan termasuk dalam tata bangunan. Setiap aktifitas kehidupan dalam struktur social kemasyarakatan seringkali diperingati dengan upacara-upacara atau pesta-pesta besar.

3. Konsep penataan bangunan dan landscape perkotaan dirancang secara integratif. Perancangan bangunan selalu berorientasi kedalan skala yang lebih luas atau dalam skala kota demikian juga sebaliknya.

4. Konsep perancangan menekankan pada pengertian bahwa ruang merupakan media ekspresi arsitektural. pada skala kota dan interior.

5. Skala bangunan bersifat monumental atau mengutamakan kesan agung. Ekspresi arsitekturnya terungkapkan melalui peralihan artikulasi detail.

(24)

b. Langgam Arsitektur

1. Memanfaatkan kosa klasik Yunani sebagai motif dekorasi, bukan elemen dasar yang mengungkap karakter ideal secara utuh.

2. Superimposisi (menggahungkan order kiasik yang diatur dalam posisi saling tumpang tindih untuk satu tingkatan yang berbeda) berbagai langgam, untuk mencapai suatu totalitas sistem yang dinamis dan bentuk simbolik yang baru.

3. Dinding sebagai bidang penerus, diperkuat dengan pembagian bidang, tekstur, elemen vertikal dan horizontal.

4. Kontruksi busur dan lengkung untuk gugus ruang yang kompleks.

c. Konsep Ruang

1. Ruang merupakan konkretisasi dimensi waktu dan tindakan, bukan keabadian atau keteraturan statis. 2. Ruang bersifat self-contained bukan merupakan

batasan fisik belaka, karena itu harus dibentuk, diartikulasikan dan diaktifkan.

3. Karakter lingkungan spatial terpadu, tidak ditentukan oleh ikatan situasi geografis tertentu. 4. Artikulasi ruang merupakan kontinuitas, irama,

(25)

Gambar 2.1: Capitol Triad ( Jupiter, Juno, dan Minerva ) Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 2.2: Pantheon Sumber: airbnb.com d. Tipologi Bangunan

1. Kuil

Merupakan asimilasi yang berasal dan elemen-elemen arsitektur Yunani. Beberapa bentuk bangunan tidak berdiri sendiri, diantaranya merupakan gabungan dinding pembatas ruang yang vertikal dengan yang melengkung dan diatur secara aksial. Bangunan ini dipersernbahkan untuk tiga serangkai dewa Romawi (Capitol Triad) yaitu : Jupiter, Juno dan Minerva.

Salah satu kuil yang terkenal adalah Pantheon, dibangun oleh Handrian sejak awal abad 2 SM yang diperuntukan bagi semua dewa. Konsep ruang dalamnya menggambarkan karakteristik Kosmik dengan model surgawi. Bangunan ini telah menjadi puncak keberhasilan arsitektur

(26)

Gambar 2.3: Basilika Sumber: airbnb.com

Gambar 2.4: Teater Sumber: airbnb.com Secara keseluruhan bangunan ini memiliki dua elemen utama yaitu:

a. Rotunda.

Merupakan suatu kubah besar yang mewadahi Cellar. Diameter atau garis tengah kubah irii sebesar 43.6 meter. b. Portico.

Merupakan suatu serambi berkolom (Colonnade) dengan langgam elemen Carinthian Order.

2. Basilika

Bangunan publik dengan sifat multi fungsi diantaranya dapat digunakan untuk bangunan administrasi, pengadilan, bermusyawarah atau berkumpul

dan tempat interaksi sosial masyarakat kota Roma (Public Promenade). Bangunan ini ada kemiripan dengan Stoa di Yunani.

3. Teater

Masih bersumber pada teater Yunani dengan beberapa perubahan bentuk dan metoda strukturnya. Konsep ruangnya mengalami pergeseran orientasi yang bukan lagi dengan setting panorama alamiah, tetapi lebih memfokuskan pada pertunjukan tersebut, akibatnya kesan ruang

(27)

Gambar 2.5: Roman Bath Sumber: en.wikipedia.com pertunjukan sandiwara realistik yang menampilkan unsur-unsur dekor, penghapusan orkes dan ukuran panggung yang terbatas.

4. Amphiteather ‘Hippodrome’ Circus

Berkembang akibat popularitas olah raga atletik, lomba kereta, pertarungan Gladiator melawan hewan buas. Bangunan ini berdiri di atas tanah yang datar dan berbentuk ellips dengan daya tampung untuk kurang lebih 700 orang. Bentuk dinding dengan langgam superimposisi dan bentuk arkade yang mengelilingi sisi luar bawah bangunan. Juga terdapat struktur basement untuk kandang, jebakan dan tempat keluarnya para gladiator.

5. Roman Bath

Tempat pemandian atau kolam yang minp dengan pemandian Turki (mandi panas-bilas-mandi spaberenang di air dingin) dan digunakan juga sebagai tempat perkumpulan anggota klub (Social Centre). Salah satu pemandian yang tekenal pada waktu itu adalah

(28)

Gambar 2.6: Spalato Sumber: en.wikipedia.com 6. Spalato ( Palace of Diocletian )

Rumah tmggal para pemimpin yang me.nampilkan karakter simetris dan bernuansa muter kekaisaran, makna yang ditampilkan menunjukkan peran kaisar sebagai Cosmocreator (kekuatan yang menguasai dunia).

Bangunan ini dapat

dikelompokkan dalam jenis villa dan istana.

7. Forum

Merupakan unit spatial yang terbuka, umumnya berbentuk empat persegi panjang yang direncanakan untuk kenyamanan dan menikmati urutan persepsi visual dan vista. Elemen-elemen bangunan terdiri dan portico yang berfungsi sebagai pemersatu heterogenitas, pengatur koinposisi aksial, penyatuan urutan ruang dalam dan ruang luar (transition space). Salah satu contoh tipikal forum masa awal pemerintahan republik adalah Forum Romanium.

8. Villa ( Roman Country House)

(29)

Gambar 3.1: Peta daerah Byzantine Sumber: en.wikipedia.com C. Byzantine

Kekuasaan Byzantine berpusat di Constantinople (Istanbul-Turki) merupakan Kekuasaan dibawah Roma di Eropa hingga ke Timur atau sering disebut Roma kedua, yang menguasai jalur perdagangan laut yang menghubungkan benua Eropa dan Afrika hingga ke Asia, merupakan wilayah otonom dengan perdaban menuju millenium dibandingkan

kekaisaran Roma sendiri. Daerah ini merupakan perpanjangan Roma di bagian timur, atau sering disebut kerajaan Roma timur.

(30)

berbeda dengan penyebaran budaya Yunani yang melalui kolonisasi. Budaya Romawi termasuk arsitektur berkembang dari kekuasan perebutan kekuasaan dan penaklukan tidak hanya berkembang di wilayah Itali, namun hingga sebagian besar Eropa, Afrika Utara dan Asia Barat.

Byzantine merupakan salah satu koloni Yunani sejak tahun 600 SM dan dijadikan pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi pada tahun 330. Selama jaman pertengahan (middle ages), kota ini menjadi benteng pertahanan orang-orang Kristen dari serangan bangsa Barbar dari Barat. Honorius, imperior pertama dari Barat setelah wilayah dan pemerintahan Kekaisaran Roma dibagi menjadi dua, memindahkan kediaman dan pusat pemerintahan Kekaisaran Barat di Ravenna, sebuah kota di pantai Mediterania bagian timur-utara dari Italia. Sedangkan Konstantinopel tetap menjadi pusat pemerintahan Kekaisaran Timur. Pengaruh Byzantine menjadi dominan dalam arsitektur.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebudayaan Byzantine antara lain:

 Pengaruh kebudayaan Romawi.  Pengaruh agama Kristen.

 Beberapa pengaruh kebudayaan yang berasal dari Timur.

(31)

Gambar 3.2: Penggunaan atap kubah sebagai simbol kekuasan Yang Maha Esa

Sumber: en.wikipedia.com a. Karakteristik Arsitektur Byzantine

Penggunaan sistem kubah untuk konstruksi atap bertolak belakang dengan gaya Kristiani kuno berupa penopang-penopang kayu dan juga gaya lengkung batu Romawi. Cita-cita arsitektur Byzantine adalah mengkonstruksi atap gereja dengan atap kubah, karena kubah dianggap simbol dari kekuasaan yang Maha Esa.

Sistem konstruksi beton dari Romawi dikembangkan dengan pesat. Kubah yang merupakan ciri dari daerah timur, menjadi model atap Byzantine yang merupakan penggabungan dari Konstruksi kubah dan sudut model Yunani dan Romawi. Karena dominan bentuk dari seluruh bangunan menggunakan bentuk lingkaran dan lengkung dengan bentang lebih lebar.

(32)

Gambar 3.3: Struktur Pendetive Sumber: en.wikipedia.com

melambangkan Surga menurut ajarannya, sedangkan kubah-kubah sudut atau disebut Squinch untuk menggambarkan ajarannya dalam bentuk mosaik antara Bema atau bilik suci dengan Naos atau ruang induk atau nave, dipisahkan oleh Iconostatis atau penyekat, sebagai screen of picture “tirai”. Bentuk Eksterior, kadang tidak berhubungan/ tidak ada kesatuan dengan bentuk interiornya. (Febrianita, dkk, 2014).

b. Pengaruh Arsitektur Byzantine Dengan Romawi Gaya bangunan dan style Byzantine pertama kali mengikuti arsitektur Romawi, Mosaik dengan karakter ukiran/pahatan dekorasi dan ornamen, atap lengkung, Kubah besar (dengan material batu dan beton), material batu/batu bata. Namun kemudian Arsitektur Byzantine membawa pengaruh terhadap Eropa dan Asia dan juga Masa Renaissance dan Dinasti Ottoman setelahnya.

(33)

semacam pembuatan dinding bata secara umum, dan hal ini diadopsi untuk membentuk arsitektur Byzantine.

Rangka dinding batu bata terlebih dahulu diselesaikan dan dibiarkan mapan sebelum lapisan permukaan interior dan lantai marmer dipasang, bagian komponen bangunan yang berdiri sendiri ini menjadi karakterisik dari konstruksi Byzantine. Penggunaan batu bata yang sama dengan bata Romawi, sekitar 15 inchi tebalnya, dan diletakkan pada lapisan tebal mortar. Mortar sebagai perekat antara batu bata berupa campuran antara kapur dan pasir, dengan pecahan tanah liat, keramik atau bata, yang hasilnya sama kerasnya dengan bangunan terbaik di Roma.

Karakter dekoratif permukaan luar sangat tergantung pada penyusunan batu bata, yang tidak selalu dipasang secara horisontal, tapi juga terkadang dipasang miring, terkadang juga dalam bentuk berliku-liku, berkelok-kelok, berbentuk chevron atau pola tulang ikan Herring dan banyak macam desain sejenisnya lainnya, memberikan variasi pada fasade. (Febrianita, dkk, 2014).

c. Hagia Sophia

(34)

Gambar 3.5: Ruang dalam Hagia Shopia Sumber: en.wikipedia.com Berkali-kali bangunan Hagia Sophia mengalami perbaikan dan renovasi, kebanyakan disebabkan oleh gempa bumi, ketidakstabilan struktur, dan kerusakan akibat perang. Sampai pada masa Pemerintahan Kaisar Justinianus (527-565), Hagia Sophia menjadi lebih besar dan megah, namun tidak mengubah konsep awal dari arsitektur Byzantine pada denah dan tampilan bangunannya. (Febrianita, dkk, 2014).

1) Fungsi

Hagia Sophia yang mengalami perubahan dari gereja ke masjid selama hampir lima abad, sekarang akhirnya berfungsi sebagai museum. Pencetus fungsi museum ini

oleh penguasa Turki yang Muslim nasionalis, Mustafa Kemal Atatürk. Pada 1923,

(35)

Gambar 3.6, Kolom struktural utama.

Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 3. 7, Hagia Sophia Sumber: en.wikipedia.com museum Hagia Sophia diawasi oleh pemerintah sebagai cagar budaya peninggalan masa lalu. Ini adalah satu-satunya tempat di dunia ini dimana kita bisa melihat simbol-simbol agama Kristen dan Islam berdampingan pada satu tempat. (Febrianita, dkk, 2014).

2) Bentuk

Denah utama Hagia Sophia adalah ruang tengah berbentuk bujur sangkar yang berukuran 32,6 x 32,6 m2. Di sudut-sudutnya terdapat kolom struktural yang sangat masif dan besar. Kolom ini menyangga pelengkung setengah lingkaran yang menyangga kubah utama.

Lebar gereja mencapai 305 meter dan tinggi ± 548 meter, bentuk dasar bangunan segi empat dengan luas 18.000 M2, dengan sekeliling dinding yang dihias mosaic warna warni serta cemerlang keemasan. Arsitek (pada zaman Yustinianus) adalah Isodorus dari Miletus dan Anthemius dari Tralles. Bangunan ini pada tahun 1453 M, diduduki oleh bangsa Turki dan diubah menjadi Masjid, dengan mnghilangkan bagian-bagian yang berhias gambar makhluk hidup.

(36)

Gambar 3.10, Perbedaan kubah Pendetive dengan kubah pada

umumnya. Sumber: en.wikipedia.com bangunan Kristen awal yang menempatkan area pembaptisan dan kapel makam sebagai area yang terpusat. Sehingga ruang-ruang atau relung yang mendampingi ruang-ruang utama berformasi radial dengan pusatnya yaitu makam atau meja altar di tengah. Karena formasinya yang terpusat, denahnya pun tidak lepas dari bentuk-bentuk simetris seperti bujur sangkar atau segi delapan/segi banyak dengan ukuran sisi-sisinya yang sama, bahkan berbentuk lingkaran.

Kubah merupakan ciri khas arsitektur Byzantine, yang kemudian ditopang dengan struktur pendentive. Pendentive adalah struktur yang menopang kubah, berbentuk A terbalik dengan kolom dibawahnya. (Febrianita, dkk, 2014).

(37)

Gambar 3.11, Skema Pembebanan Bearing Wall.

Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 3.12, Material Lantai. Sumber: commons.wikipedia.com 3) Sistem Strukur Dan Kontruksi

Pada bangunan Hagia Sophia sistem struktur yang digunakan adalah Dinding Pemikul (Bearing Wall). Pada dinding, penggunanaan batu bata terlebih dahulu diselesaikan dan dibiarkan mapan sebelum lapisan permukaan interior dan lantai marmer dipasang, bagian komponen bangunan yang berdiri sendiri ini menjadi karakterisik dari konstruksi Byzantium.

Penggunaan batu bata yang sama dengan bata Romawi, sekitar 15 inchi tebalnya, dan diletakkan pada lapisan tebal mortar. Mortar sebagai perekat antara batu bata berupa campuran antara kapur dan pasir, dengan pecahan tanah liat, keramik atau bata, yang hasilnya sama kerasnya dengan bangunan terbaik di Roma. (Febrianita, dkk, 2014).

4) Estetika & Material

(38)

Gambar 3.13: Ornamen Dinding Hagia Sophia Sumber: @izzatunnisa

Gambar 3.14: Kolom Struktur dengan Ornamen. Sumber: en.wikipedia.com Secara keseluruhan lantai bangunan Hagia Sophia, material yang digunakan rata-rata adalah marmer, yang didatangkan dari pulau-pulau di Laut Mediterania bagian timur.

Elemen Dinding

Memakai bahan bata, dan dibagian dalam (interiornya) dilapisi dengan mosaik yang terbuat dari pualam warna-warni yang menggambarkan ajarannya. Busur setengah lingkaran

dipakai untuk menunjang galery dan bukaan pada pintu dan jendela. Jendela-jendela kecil setengah lingkaran mengelilingi dasar

(39)

Gambar 3.16, Urutan Konstruksi Atap Sumber: en.wikipedia.com  Atap/Kepala

(40)

Gambar 4.2: Contoh Denah – S. Maria Della Consolazione Sumber: en.wikipedia.com C. Renaissance

Arsitektur Renaissance adalah arsitektur pada periode antara awal abad ke-15 sampai awal abad ke-17 di wilayah Eropa, ketika terjadi ketertarikan terhadap budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno yang disebut Renaissance. Gaya ini pertama kali berkembang di kota Florence, Italia.

Pada masa Renaissance, terdapat tiga penemuan penting. Yang pertama adalah bubuk

mesiu, penemuan ini

menyebabkan perkembangan dalam hal militer. Kedua, penemuan kompas. Dengan ditemukannya kompas, memungkinkan untuk melakukan pelayaran ke daratan baru seperti Amerika, dan kepulauan Hindia Barat. Akibatnya adalah berkembangnya koloni-koloni bangsa Eropa pada tempat tersebut. Penemuan ketiga adalah percetakan. Dengan adanya percetakan, minat terhadap literatur berkembang pesat. Buku-buku tentang Latin dan Romawi ditulis, dan akhirnya mempengaruhi cara pandang orang pada masa itu. (Faith, 2011).

a. Karakteristik Arsitektur Renaissance 1. Denah

Denah bangunan berbentuk simetris dan juga proporsional. Ukurannya mengikuti ketetapan yang sudah ditentukan. Untuk bangunan gereja, denahnya tidak berbeda jauh

Gambar 4.1: Peta Florence, Italia

(41)

dengan denah yang sudah ada di Italia sebelum terjadinya revolusi minat terhadap gaya arsitektur klasik. (Faith, 2011).

2. Dinding dan Kolom

Pada abad pertengahan, dinding eksterior menggunakan material-material kecil yang disusun. Sementara itu, untuk masa Renaissance, dinding eksterior menggunakan batu atau plesteran sehingga terlihat halus. Pada masa ini, kolom-kolom Yunani dan Romawi digunakan kembali, namun hanya digunakan sebagai hiasan dan bukan sebagai penopang struktur. Selain digunakan sebagai kolom, digunakan juga pilaster dan pedimen. (Faith, 2011).

3. Bukaan

Bukaan pada masa ini datar, atau menggunakan arch semi-sirkuler, terkadang dapat juga berbentuk elips, tapi hampir tidak pernah ada yang

menggunakan arch

berbentuk lancip. Arsitektur bangunan pada masa ini dapat dibagi menjadi dua bagian, antara lain

bangunan yang

mengandalkan efek dari jendela dan juga bangunan yang mengandalkan efek

Gambar 4.3: Jenis-Jenis Kolom

Sumber: en.wikipedia.com

(42)

dari ornamen seperti cornice, pilaster, dan kolom-kolom. (Francis, 2013).

4. Desain dan Konstruksi

Pada masa ini, barrel vault kembali digunakan. Tidak seperti arsitektur gothic yang memiliki denah persegi panjang, pada masa renaissance denah yang digunakan berbentuk persegi atau semi sirkuler.

Pada masa ini juga, kubah sering digunakan sebagai fitur struktural pada bagian eksterior, dan juga sebagai atap bagi ruangan lebih kecil yang hanya dapat dilihat di dalam bangunan. Pada abad pertengahan kubah jarang digunakan, namun setelah digunakan dalam desain milik Brunelleschi dalam desain Basilica di Santa Maria del Fiore dan juga pada desain Brahmante untuk St. Peter’s Basilica, kubah menjadi bagian yang penting dalam arsitektur gereja dan bahkan kemudian

menjadi penting bagi bangunan sekuler, seperti Villa Rotonda milik Palladio. (Fletcher, 1905).

b. Periodisasi Arsitektur Renaissance

Menurut pembagian waktunya, arsitektur Reinaissance dibagi menjadi :

1) Quattrocento (1400-1500)

Pada masa ini, konsep dan aturan arsitektur diciptakan. Akibat pembelajaran tentang arsitektur Gambar 4.6: Kubah

(43)

klasik (arsitektur Yunani

dan Romawi)

menyebabkan

diadopsinya lagi penggunaan detail dan ornamen arsitektur klasik. Ruang, sebagai elemen arsitektur, digunakan secara berbeda dibandingkan pada masa abad pertengahan. Ruang diatur dengan proporsi

yang logis, rupa dan ritmenya mengikuti geometri, tidak menggunakan intuisi seperti pada masa abad pertengahan. Contoh bangunan pada masa ini adalah Basilica di San Lorenzo di Florence, yang diciptakan oleh Fillipo Brunellschi. (Faith, 2011).

2) High Renaissance (1500-1525) Pada masa ini, konsep yang diambil dari arsitektur klasik dikembangkan dan digunakan dengan ke pastian yang lebih besar. Arsitek yang paling terkenal pada masa ini adalah Bramante (1444-1514) yang memperluas kemungkinan penerapan arsitektur klasik pada bangunan kontemporer. Bangunan ciptaannya, San Pietro in Montorio, dibangun dengan bentuk sirkuler mengikuti gaya kuil romawi. (Faith, 2011).

3) Mannerism (1520-1600)

Pada masa ini, para arsitek melakukan eksperimen menggunakan bentuk-bentuk arsitektural

(44)

untuk memberikan penekanan hubungan antara ruang dan masif. Contoh bangunan pada masa ini adalah Villa Farnese atau disebut juga Villa Caprarola. (Faith, 2011).

c. Akulturasi Budaya

Walaupun berasal dari Italia, namun arsitektur renaissance menyebar ke seluruh Eropa. Tentunya terdapat penyesuaian yang dilakukan di tiap-tiap negara untuk mengadaptasi bentuk arsitektur tersebut.

1) Italia

Dapat dikatakan bahwa arsitektur Renaissance berkembang di Italia tanpa transisi dari gaya sebelumnya sama sekali. Hal ini bisa terjadi karena gaya arsitektur Gothic di Italia belum memiliki pengaruh yang besar.

Gaya arsitektur Renaissance dipelopori

oleh Brunellschi. Awalnya gaya arsitektur ini berkembang di kota Florence, kemudian ke kota-kota sekitarnya, hingga akhirnya menyebar ke seluruh daratan Italia. Contoh bangunan Renaissance terkenal di Italia : St. Peter’s Basilica, Basilica of Santa Maria Novella, Villa Capra la Rotonda. (Faith, 2011).

Gambar 4.9: Villa Farnese Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 4.10: Villa Capra la Rotonda

(45)

2) Perancis

Renaissance di Perancis tidak diterima secara langsung seperti Renaissance di Italia. Penyebab hal ini adalah karena arsitektur Gothic sangat berpengaruh pada

Negara Perancis.

Diperlukan sebuah periode transisi hingga akhirnya arsitektur Renaissance diterima di Perancis. Pada

masa transisi ini, bangunan-bangunan memiliki gaya campuran antara gaya Gothic dan Renaissance. Contoh bangunan dengan gaya seperti ini adalah Chateau de Chambord. Bangunan ini memiliki jendela dengan gaya gothic, tapi memiliki ornamen seperti pilaster dan ornamen renaissance lainnya. (Faith, 2011).

3) Belanda

Sama seperti dalam bidang lukisan, arsitektur Renaissance memerlukan waktu yang lumayan lama untuk dapat diterima di Belanda, selain itu gaya arsitektur ini juga

belum bisa menghapuskan gaya arsitektur Gothic secara keseluruhan. Contoh bangunan pada masa ini adalah Antwerp

City Hall. Akulturasi budaya Belanda pada arsitektur Renaissance antara lain: penggunaan rumah tinggal berbentuk sempit dan tinggi, penggunaan “trapgevel” atau gable Belanda, penggunaan dekorasi berupa pediment diatas pintu dan jendela dengan bentuk lebih Gambar 4.11: Chateau de

(46)

tajam dari yang digunakan pada arsitektur renaissance. (Faith, 2011).

4) Inggris

Arsitektur

Renaissance di Inggris mulai dikenal dalam masa

pemerintahan Ratu

Elizabeth I. Arsitektur gaya ini dikenali melalui Negara Belanda, sehingga arsitektur Renaissance di inggris mengadopsi juga gaya arsitektur renaissance Belanda. Arsitektur Renaissance di Inggris

dikenal dengan gaya arsitektur Elizabethan. Gaya bangunan pada masa ini adalah bangunan tinggi berbentuk persegi, contohnya adalah Longleat House. (Faith, 2011).

5) Skandinavia Arsitektur

Renaissance di Negara-negara Skandinavia dipengaruhi oleh arsitektur Flemish, contohnya adalah gable yang tinggi seperti pada arsitektur Istana Frederiksborg. Di Denmark, arsitektur Renaissance berkembang pada masa pemerintahan Fredrick II dan Christian IV. Gaya arsitekturnya

(47)

begitu terdapat beberapa contoh bangunan seperti Gripsholm Castle, Kalmar Castle dan Vadstena Castle yang terkenal karena pencampuran gaya abad pertengahan dan arsitektur Renaissance. (Smith, 1884).

D. Gothic

Kekuasaan Romawi berpusat di Roma mencapai puncak hingga abad II, wilayahnya mencakup seluruh kawasan Laut Mediterania, termasuk Mesir di timur-selatan, Mesopotamia di barat, di utara-barat hingga Britania.

Setelah Theodosius I salah seorang penguasa Imperium Byzantine meninggal pada 395, wilayah kekuasaan dibagi menjadi dua, wilayah timur berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul) dan wilayah barat berpusat di Ravenna (sekarang di Italia bagian utara). Bagian utara-barat Afrika, daratan Eropa bagian barat yang dahulu masuk ke dalam wilayah Romawi, tidak lagi berada di bawah kekuasaan Byzantine.

Perpecahan antara kaum ortodoks dari Konstantinopel dengan Paus terjadi pada 1054, berpengaruh besar pada perkembangan politik dan ekonomi Eropa. Dari segi luas wilayah, Imperium Byzantine mencapai puncak pada 1014, ketika berhasil mengalahkan kekaisaran Bulgaria.

(48)

Gambar 5.1: Menara Pada Arsitektur Gothic.

Sumber: en.wikipedia.com a. Arsitektur Gothic

Arsitektur Gothic menjadi satu hasil seni yang paling spektakuler dalam perkembangan arsitektur Eropa occidental, hal ini tidak diragukan oleh para ahli sejarah seni dan arsitektur. Gothic berkembang dalam jaman akhir kehidupan dalam benteng telah disebut di depan sehingga jaman Romanesque. Salah satu cirri utamanya berbentuk benteng, atau menara pengawas, karena kesenjangan ekonomi dan social antara para tuan tanah (yang kemudian menjadi raja atau penguasa), dengan petani miskin.

Kekuasaan dan kekayaan raja didukung oleh gereja, semakin melimpah, membuat kecenderungan membangun gereja yang besar, megah dan mewah. Bentuk tinggi dari arsitektur Romanesque, kemudian menjadi ekstrim pada arsitektur Gothic dengan runcing-runcing, penuh dengan hiasan, mengacu semata-mata pada keindahan dan kemegahan. (Ramadhan, 2012).

b. Karakteristik Bangunan Gothic

(49)

Gambar 5.3: Clear  Terdapat rose window. Secara

arsitektural hal itu digunakan untuk memasukan cahaya dan estetika. Sedangkan dari segi religi, rose window dipakai sebagai simbol firman Tuhan yang disimbolkan sebagai cahaya yang masuk dan menerangi isi hati para jemaat gereja. yang diterapkan pada bangunan.  Adanya rib vaulting. Yaitu atap

bangunan yang menyerupai membran dan memiliki unsur arsitektural sebagai salah satu peninggalan bentuk arsitektur gothic. Penebalan kolom/tiang sebagai perkuatan struktur bangunan yang juga merupakan ciri khas dari bangunan gothic. Jajaran kolom yang terpadu dengan rib voulting menjadi unsur utama konstruksi bangunan. (Decy, 2014).

Arsitektur gotik juga menerapkan solusi struktur bagi bangunan-bangunannya yang menjulang tinggi, seperti halnya arsitektur romanesk yang mengandalkan sistem triforium

(50)

Gambar 5.5: Penampang vault pada arsitektur Romanesk dan arsitektur Gothic yang juga mencoak vault.

Sumber: en.wikipedia.com

adalah sistem triforium, namun arsitektur gotik lebih bereksperimen dalam hal struktur. Bidang penyangga triforium dicoak hingga menjadi struktur yang organik, lebih meruang. Luar biasanya, selain flying buttress seluruh dinding dan elemen vertikal merupakan penyangga beban bangunan, bahkan hingga tralisnya sekalipun.

Pada saat itu, profesi arsitek meredup, seperti halnya yang terjadi di arsitektur romanesk. Arsitektur gotik memperlihatkan betapa merdeka, harmoni, dan sosialisnya sebuah nilai budaya, berkebalikan dengan arsitektur romanesk (klasik). Kedua arsitektur ini kedepannya akan memberikan bias pada perkembangan dan pertarungan gaya dalam arsitektur modern. Battle of style.

(51)

menembus kefanaan hidup manusia untuk meneranginya dengan Nur-Illahi. Interior gereja besar di Koeln ini lebih memperjelas keyakinan masyarakat abad-abad pertengahan dari eksteriornya. Kontruksi-kontruksi ringan dan transparan ini sangat dekat dengan selera modern yang kita suka keterbukaan luas. Tetapi hasil gemilang para konstruktornya seperti ini adalah warisan pengalamn praktek berabad. Pada abad-abad awal gaya Gotik sering seluruh gedung ambruk karena kurang perhitungan statikanya. (Decy, 2014).

E. Baroque

Baroque merupakan istilah untuk mengkategorikan perkembangan peradaban manusia (termasuk seni) dalam sebuah era yang terjadi di Eropa. Sekitar tahun 1600-1750, gerakan ini terjadi. Oleh karena itu, merupakan bagian akhir dari zaman renaisance dan merupakan awal gerakan protestantism yang terjadi di Jerman bagian utara dan Belanda. Baroque mempunyai arti mutiara pelengkap yang bentuknya tidak teratur atau tidak simetris. Dalam hal ini, karya-karya seni yang tercipta pada zaman baroque juga merupakan cerminan keadaan zaman tersebut sehingga memiliki ciri-ciri khusus yang tentunya berbeda dengan corak seni pada zaman-zaman sebelumnya. Corak seni baroque mengandung unsur tekanan yang kuat, kekuatan emosi, dan sesuatu yang elegan.

(52)

Baroque juga memiliki beberapa karakteristik diantaranya naves yang zaman sebelumnya panjang dan sempit digantikan oleh bentuk yang lebih lebar dan sirkular, penggunaan cahaya secara dramatis, kaya akan ornamen, langit-langit yang dipenuhi fresco (wall painting) dalam skala besar, facade eksternal yang memiliki karakter proyeksi terpusat yang dramatis, interior seringkali tidak lebih dari tempat bagi lukisan dan patung ukiran. (Sitorus, 2014).

Beberapa kota yang menganut aristektur Baroque memiliki fungsi sebagai tempat ibadah (San Benedetto, Catania), sebagai pusat pemerintahan, tempat ziarah dan tempat pusat interaksi kegiatan masyarakat baik formal maupun informal. Ada beberapa tokoh dalam seni baroque yaitu :

 Michelangelo Merisi Dacaravagio. Beliau menggunakan karateristik seni design dengan menganalogikan ukiran dengan simetris tubuh manusia.

 Francesso Borromini. Beliau mempunyai karakteristik seperti florid, bergaya ekspansive, design-nya cenderung lebih memperhatikan bentuk geometric daripada proporsi skala manusia dan pencahayaan. Contoh hasil karyanya adalah katerdal San Carlo Alle Quatro Fontane, Roma dan San Ivo della Sapienza, Roma.

 Giovanni Lorenzo bernini. Beliau menggunakan gabungan antara arsitektur, lukisan dan ukiran dengan bentuk yang dinamis. Salah satu rancangannya adalah Piazza Navona di Roma, Italia dan Santo Andre al Quirinale.

(53)

F. Rococo

Rococo pertama kali muncul di Perancis pada awal abad 18 sebagai lanjutan gaya barok, tetapi berlawanan dengan tema lebih berat dan warna lebih gelap dari Gaya barok, Rococo ditandai oleh suatu kekayaan, rahmat, suka melucu, dan keringanan. Rococo. Motifnya memusat pada gaya hidup yang aristokratis yang tanpa perlawanan dan roman picisan bukannya pertempuran gagah berani atau figur religius, mereka juga berputar luar dan alam. Dalam pertengahan akhir abad ke 18, rococo di kalahkan oleh gaya Neoclassic. (Rafinda, 2011).

Arsitektur Rococo merupakan perkembangan lanjut dari arsitektur Barok, di mana bentuk-bentuk yang digunakan masih belum berubah. Contohnya adalah pada kolom-kolom interior Le Camus, Colisee, Champs-Elysees di Paris. Contoh lain adalah gereja Karlskirche (arsitek: Johann Fischer von Erlach; tahun penggarapan 1715-1737). Disini, bangunan ditonjolkan dengan adanya dua menara kembar di sebelah kanan-kiri portico berkolom gaya hexa-style Korintian. Sehingga kita dapati suatu bentukan entrance yang benar-benar mencolok mata di sini. Bentukan yang terjadi masih dapat dikategorikan sederhana, sedangkan bentukan-bentukan lengkung yang terjadi hanyalah sebagai identitas gaya ber-cirikan Barok-Rococo yang dipakainya. Bangunan Christ Church (arsitek Nicholas Hawksmoor; tahun pengerjaan 1715-1729) berbentuk pukal (massa) geometrik dan balok yang bersahaja, dengan portico beratap lengkung yang bercirikan Georgian yang tercampur dengan gaya khas Barok. (Rafinda, 2011).

(54)

melambangkan cinta, kurva cinta seperti kerang dan fokus pada hiasan bangunan. Beberapa kritikus menggunakan istilah yang menyiratkan bahwa gaya rococo adalah sembrono. Sejak pertengahan abad ke 19, istilah rococo telah diterima oleh sejarawan seni. Selagi ada keheningan tentang beberapa perdebatan tentang seni arti historis dari gaya rococo kini secara luas gaya ini dikenali sebagai periode utama di dalam pengembangan seni Eropa. (Rafinda, 2011).

Istana Solitude di Stuttgart dan Istana Cina di Oranienbaum, gereja Bavarian Wies dan Sanssouci di Potsdam adalah contoh gaya bagunan rococo. Dalam Konteks kontinental itu gaya Rococo secara penuh terkendali, sportif, ajaib, dan dipahat dalam bentuk dekorasi interior ruangan yang abstrak menggunakan cahaya, motif seperti kerang atau dan hiasan yang berbentuk kurva,kesemuanya itu mengisyaratkan bagaimana gaya rococo dalam arsitektur. Pada bagian dalam ruangan tembok diberi hiasan dan dekorasi yang indah, penuh motif yang aneh dinyatakan dalam material plastik seperti kayu yang diukir dan di atasnya diplester mengunakan semen. Dinding, langit-langit, mebel, dibuat dari bahan metal dan porselin. (Rafinda, 2011).

(55)

ruang pawai dari suatu Rumah bergaya London, di mana satu-satunya gaya bangunan yang mempunyai langit-langit dengan gaya rococo. Tidak hanya pada langit-langit rumah tetapi juga pada furniture seperti meja dan jam dinding. Dengan ciri khas gaya rococo yang unik, sedikit tidak terkendali dan berantakan. (Rafinda, 2011).

Tokoh arsitektur Rococo adalah seniman Italian-Swiss seperti Bagutti dan Artari sedangkan arsitek James Gibbs, dan saudara kali-lakinya Franchini bekerja di Irlandia sebagai arsitek dekorasi rumah gaya rococo. Gaya rococo ini biasa ditemukan juga di Versailles, dan gaya ini membentang di sepanjang paris terutama Hôtel Soubise. Di Negara Jerman, Perancis dan seniman Jerman ( Cuvilliés, Neumann, Knobelsdorff, dll.) juga mendembangkan gaya rococo. Beberapa tempat berkembangnya gaya rococo adalah Amalienburg dekat Munich, dan perbentengan Würzburg, Potsdam, Charlottenburg, Brühl, Bruchsal, Kesunyian ( Stuttgart), dan Schönbrunn. (Rafinda, 2011).

Gambar 7.1: Istana Solitude di Stuttgart Sumber: en.wikipedia.com

(56)

4

PENERAPAN ARSITEKTUR KLASIK PADA MASA KINI

Seperti yang kita ketahui, arsitektur klasik merupakan arsitektur dengan nilai estetikanya yang tinggi. Hal itulah yang membuat arsitektur klasik hingga kini masih digunakan di berbagai belahan dunia sebagai landasan pokok dalam mendesain suatu bangunan. Umumnya gaya arsitektur klasik digunakan dalam mendesain tempat-tempat ibadah seperti masjid dan gereja. Tidak hanya itu, di Eropa tidak jarang ditemukan pula gedung, rumah tinggal, maupun villa yang masih menggunakan gaya ini.

Ornamen-ornamen yang umum digunakan dalam mendesain suatu bangunan dengan gaya ini yaitu pilar, kaca patri, patung-patung, dan hiasan-hiasan dinding.

Salah satu hal yang membedakan arsitektur klasik yang dahulu dengan yang sekarang terletak pada bahan atau material yang digunakan. Dahulu yang digunakan masih berupa bahan yang memang menjadi kekayaan alam dari daerah tersebut seperti batu marmer. Sekarang, dengan semakin pesatnya perkembangan zaman bahan yang digunakan semakin beraneka ragam tergantung dengan keinginan pengguna. Namun, hal tersebut tetap disesuaikan dengan fungsi dan tujuan dari bangunan tersebut, tanpa mengesampingkan aspek estetikanya.

(57)

5

EPILOG

1. Kesimpulan

Dari pembahasan mengenai arsitektur klasik di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Arsitektur Klasik yaitu arsitektur yang berkembang berdasarkan sistem kebudayaan Yunani dan Romawi. Langgam Arsitektur Klasik muncul bersamaan dengan dimulainya peradaban tulisan secara formal. Belum ditemukan secara spesifik kapan era ini dimulai maupun berakhir. Namun, jenis langgam ini banyak dijumpai di benua Eropa. Dalam beberapa alasan, jenis arsitektur ini dibangun dengan tiga tujuan: sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal), sebagai wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan) dan tempat berkumpul (balai kota, dsb). Untuk alasan kedua dan ketiga inilah bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi ornamen-ornamen hiasan yang rumit. 2. Selain arsitektur Yunani dan Romawi, adapula

gaya-gaya arsitektur lain yang berkembang di era arsitektur klasik yakni:

Byzantine

(58)

publik, seperti Gereja. Byzantine adalah perwujudan dari konsep atap lengkung dan kubah yang menggantikan rangka atap kayu. Sistem konstruksi perletakan batu bata, yang diperkenalkan oleh bangsa Romawi berkembang menjadi semacam pembuatan dinding bata secara umum, dan hal ini diadopsi untuk membentuk arsitektur Byzantine.

Renaissance

Arsitektur Renaisans (yang berjaya dalam abad 15–17 M) memperlihatkan sejumlah ciri khas arsitektur. Munculnya kembali langgam-langgam Yunani dan Romawi seperti bentuk tiang langgam Dorik, Ionik, Korintia dan sebagainya (meskipun pada perkembangan selanjutnya penggunaan langgam tersebut mulai berkurang) dapat disampaikan sebagai ciri yang pertama. Bentuk-bentuk denahnya sangat terikat oleh dalil-dalil yang sistematik, yaitu bentuk simetris, jelas dan teratur dengan teknik konstruksi yang bersahaja (kalau dibandingkan dengan masa sekarang, masa abad 20 khususnya).

Gothic

(59)

mesopotamia yang mempengaruhi dan diadaptasi pada arsitektur gotik seperti elemen kubah dan ornamen fasad.

Baroque

Baroque mempunyai arti mutiara pelengkap yang bentuknya tidak teratur atau tidak simetris. Dalam hal ini, karya-karya seni yang tercipta pada zaman baroque juga merupakan cerminan keadaan zaman tersebut sehingga memiliki ciri-ciri khusus yang tentunya berbeda dengan corak seni pada zaman-zaman sebelumnya.

Rococo

Rococo pertama kali muncul di Perancis pada awal abad 18 sebagai lanjutan gaya barok, tetapi berlawanan dengan tema lebih berat dan warna lebih gelap dari Gaya barok, Rococo ditandai oleh suatu kekayaan, rahmat, suka melucu, dan keringanan. Rococo. Motifnya memusat pada gaya hidup yang aristokratis yang tanpa perlawanan dan roman picisan bukannya pertempuran gagah berani atau figur religius, mereka juga berputar luar dan alam. Dalam pertengahan akhir abad ke 18, rococo di kalahkan oleh gaya Neoclassic.

2. Saran

(60)

pada bangunan tersebut. Meski dikatakan bahwa arsitektur klasik lebih mementingkan ornamen dari pada fungsi, setidaknya hal tersebut bisa dipadu-padankan dengan arsitektur yang tengah berkembang pada masa kini seperti arsitektur post-modern guna mendapatkan bangunan dengan fungsi optimal namun tetap indah dipandang.

Demikian buku yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Kami sadari masih banyak kekurangan pada buku kami ini, untuk itu kami meminta kritik dan saran yang membangun dari segenap pembaca guna perbaikan kualitas buku kami di masa depan. Kurang dan lebihnya kami mohon maaf, sekian dan terimakasih.

Wassalmu‟alaikum Wr. Wb.

(61)

DAFTAR PUSTAKA

Decy, Veronica. 2014. Sejarah Perkembangan Arsitektur Gotik.

Faith, Michele. 2011. Sejarah Arsitektur Renaissance.

Febrianita, Desak Komang. DKK. 2014. Jelajah Arsitektur Klasik: Byzantine.

Fletcher, Banister.1905. A History of Architecture on the Comparative Methode.New York : Charles Scribner‟s Son

Hemingway, Colette. 2003. Architecture in Ancient Greece.

Istiqomah, Gita Nur. DKK. 2014. Architecture Yunani Kuno.

Maulana, Annas. 2013. Sejarah Arsitektur: Arsitektur Klasik.

Rafinda. 2011. Arsitektur Rococo.

Ramadhan, Anugrah. 2012. Arsitektur Gothic.

Sitorus, Master. 2014. Arsitektur Renaissance Baroque dan Rococo.

Smith, T. Roger. 1884. Architecture Gothic and Renaissance. London:

Figur

Gambar 1.1:  Orde Doric, Ionic, Chorintian Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 1.1:

Orde Doric, Ionic, Chorintian Sumber: en.wikipedia.com p.11
Gambar 1.3:  Denah Parthenon Sumber:

Gambar 1.3:

Denah Parthenon Sumber: p.13
Gambar 1.10: Patung Hera Sumber:

Gambar 1.10:

Patung Hera Sumber: p.18
Gambar 1.9: Kuil Hera Sumber:

Gambar 1.9:

Kuil Hera Sumber: p.19
Gambar 1.13:  Kuil

Gambar 1.13:

Kuil p.21
Gambar 2.3: Basilika Sumber:

Gambar 2.3:

Basilika Sumber: p.26
Gambar 3.1: Peta daerah Byzantine Sumber:

Gambar 3.1:

Peta daerah Byzantine Sumber: p.29
Gambar 3.2: Penggunaan atap kubah sebagai simbol kekuasan Yang Maha Esa

Gambar 3.2:

Penggunaan atap kubah sebagai simbol kekuasan Yang Maha Esa p.31
Gambar 3.3: Struktur Pendetive Sumber:

Gambar 3.3:

Struktur Pendetive Sumber: p.32
Gambar 3.5: Ruang dalam Hagia Shopia

Gambar 3.5:

Ruang dalam Hagia Shopia p.34
Gambar 3.4: Hagia Sophia Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 3.4:

Hagia Sophia Sumber: en.wikipedia.com p.34
Gambar 3.6, Kolom struktural utama.

Gambar 3.6,

Kolom struktural utama. p.35
Gambar 3.10, Perbedaan kubah Pendetive dengan kubah pada umumnya.

Gambar 3.10,

Perbedaan kubah Pendetive dengan kubah pada umumnya. p.36
Gambar 3.9, Fasade Hagia Sophia Sumber:

Gambar 3.9,

Fasade Hagia Sophia Sumber: p.36
Gambar 3.11, Skema Pembebanan Bearing Wall.

Gambar 3.11,

Skema Pembebanan Bearing Wall. p.37
Gambar 3.12, Material Lantai. Sumber:

Gambar 3.12,

Material Lantai. Sumber: p.37
Gambar 3.13: Ornamen Dinding Hagia Sophia Sumber:

Gambar 3.13:

Ornamen Dinding Hagia Sophia Sumber: p.38
Gambar 3.16, Urutan Konstruksi Atap

Gambar 3.16,

Urutan Konstruksi Atap p.39
Gambar 4.2: Contoh Denah – S. Maria Della Consolazione

Gambar 4.2:

Contoh Denah – S. Maria Della Consolazione p.40
Gambar 4.3: Jenis-Jenis Kolom

Gambar 4.3:

Jenis-Jenis Kolom p.41
Gambar 4.8: San Pietro in Montorio

Gambar 4.8:

San Pietro in Montorio p.43
Gambar 4.7: Basilica di San Lorenzo

Gambar 4.7:

Basilica di San Lorenzo p.43
Gambar 4.10: Villa Capra la Rotonda

Gambar 4.10:

Villa Capra la Rotonda p.44
Gambar 4.12: Antwerp City Hall

Gambar 4.12:

Antwerp City Hall p.45
Gambar 4.11: Chateau de Chambord

Gambar 4.11:

Chateau de Chambord p.45
Gambar 4.13: Longleat House

Gambar 4.13:

Longleat House p.46
Gambar 4.14: Frederiksborg Castle

Gambar 4.14:

Frederiksborg Castle p.46
Gambar 5.3: Clear Storey

Gambar 5.3:

Clear Storey p.49
Gambar 5.5: Penampang vault pada arsitektur Romanesk dan arsitektur Gothic yang juga mencoak

Gambar 5.5:

Penampang vault pada arsitektur Romanesk dan arsitektur Gothic yang juga mencoak p.50
Gambar 7.1: Istana Solitude di Stuttgart Sumber: en.wikipedia.com

Gambar 7.1:

Istana Solitude di Stuttgart Sumber: en.wikipedia.com p.55

Referensi

Memperbarui...