• Tidak ada hasil yang ditemukan

CORPORATE GOVERNANCE PENGUNGKAPAN TATA K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CORPORATE GOVERNANCE PENGUNGKAPAN TATA K"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

CORPORATE GOVERNANCE

“PENGUNGKAPAN TATA KELOLA

PERUSAHAAN DI BIDANG INDUSTRI DASAR

DAN KIMA”

Mutiara Madelia (P2C315018)

Dosen Pengampu:

Dr. Mukhzarudfa, SE., M.Si., Ak

MAGISTER ILMU AKUNTANSI

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS JAMBI

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mulai populernya istilah “tata kelola perusahaan yang baik” atau yang lebih dikenal

dengan istilah asing good corporate governance (GCG) tidak dapat dilepaskan dari maraknya

skandal perusahaan yang menimpa perusahaan-perusahaan besar, baik yang ada di Indonesia

maupun yang ada di Amerika Serikat (Nadya, 2015).

Runtuhnya system ekonomi komunis menjelang akhir abad ke-20, menjadikan system

ekonomi kapitalis sebagai satu-satunya system ekonomi yang paling dominan di seluruh

dunia. System ekonomi kapitalis makin kuat mengakar berkat arus globalisasi dan

perdagangan bebas yang mampu dipaksakan oleh Negara-negara maju penganut system

ekonomi kapitalis. Ciri utama system ekonomi kapitalis adalah kegiatan bisnis dan

kepemilikan perusahaan dikuasai oleh individu-individu/ sector swasta. Dalam perjalanannya,

beberapa perusahaan akan muncul sebagai perusahaan-perusahaan swasta raksasa yang

bahkan aktivitas dan kekuasaannya telah melibihi batas-batas suatu Negara. Para pemilik dan

pengelola kelompok perusahaan-perusahaan raksasa ini bahkan mampu mempengaruhi dan

mengarahkan berbagai kebijakan yang diambil oleh para pemimpin politik suatu Negara

untuk kepentingan kelompok perusahaan mereka dengan kekuatan uangnya.

Sebagiman dikatakan oleh Joel bajan (2002), perusahaan (korporasi) saat ini telah

berkembang dari sesuatu yang relative tidak tidak jelas menjadi institusi ekonomi dunia yang

amat dominan. Kekuatan dan pengaruh perusahaan ini sedemikian besarnya sehingga telah

menjelma menjadi “monster raksasa” yang mendikte hampir seluruh hidup kita, mulai dari

apa yang kia pakai, apa yang kita hasilkan dan apa yang kita kerjakan. Itulah sebabnya, sering

kali terjadi pemerintah suatu Negara yang seharusnya menjadi kekeuatan terakhir sebagai

pengawas, penegak hokum, dan pengendali perusahaan-perusahaan tidak berdaya

menghadapi penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang

berpengaruh tersebut.

Sistem perbankan di Indonesia yang pada akhirnya menimbulkan krisis ekonomi,

politik, dan sosial yang sangat kompleks.Beberapa perusahaan besar di Indonesia ada yang

bermasalah dan bahkan tidak mampu lagi meneruskan kegiatan usahanya akibat menjalankan

praktik tata kelola kerja yang buruk (bad corporate governance).Contohnya antara lain:

(3)

Bank Dagang Negara- BDN, Bank Bumi Daya- BBD, Bank Export Import- Bank Exim); PT

Indorayon (Sebuah pabrik kertas di Sumatra Utara); PT Dirgantara Indonesia (Sebuah pabrik

pesawat terbang yang berkantor pusat di Bandung); dan PT Lapindo Brantas (Sebuah pabrik

eksplorasi minyak dan gas di Sidoarjo,Jawa Timur). Kejatuhan bank pemerintah pada awal

abad ke-21 ini lebih disebabkan oleh kebijakan ekspansi kredit direksi bank tersebut yang

tidak bijaksana (imprudential credit policy). Kredit diberikan dalam jumlah besar kepada

beberapa kelompok usaha besar tanpa melalui suatu kajian yang cermat dan objektif atas

studi kelayakan mereka.Akibatnya,bank-bank pemerintah tersebut mengalami kesulitan

keuangan karena kelompok usaha besar ini tidak mampu mengembalikan pinjaman dan

bunganya.

Kebangkrutan PT Indorayon, sebuah perusahaan pabrik kertas yang tergolong

besar,lebih disebabkan oleh tata kelola yang buruk oleh perusahaan tersebut dalam

mengelolah hutan pinus di sekitar danau Toba yang menjadi sumber utama bahan baku kertas

perusahaan ini.Akibat pengelolahan hutan pinus yang buruk itu telah menimbulkan kerusakan

lingkungan htan dan mengganggu system tata air disekitar danau Toba.Permukaan air danau

Toba sempat mengalami penurunan tajam sehingga memengaruhi penghasilan masyarakat

ternak ikan di sekitar danau Toba.Masyarakat sekitar danau Toba menjadi marah dan mereka

menghentikan secara paksa aktivitas perusahaan di sekitar danau Toba tersebut.Akibatnya,PT

Indorayon tidak dapat beroperasi karena hubungan yang tidak baik dengan masyarakat di

sekitar lokasi pasokan bahan baku.

Hal yang sama terjadi pada kasus PT Lapindo Brantas. Kecerobohan PT Lapindo

Brantas dalam melakukan eksplorasi minyak dan gas di Sidoarjo bukan saja menimbulkan

pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup pada area yang sangat luas,tetapi juga

mematikan sumber pencarian sebagaian besar masyarakat di daerah yang tercemar

tersebut.Hal ini dapat saja menimbulkan potensi tuntutan hukum dari masyarakat,yang pada

gilirannya dapat mengancam keberadaan perusahaan.

Pada intinya, timbulnya krisis ekonomi di Indonesia ini disebabkan oleh tata kelola

perusahaan yang buruk (bad corporate governance) dan tata kelola pemerintahan yang buruk

pula (bad government governance) sehingga memberi peluang besar timbulnya

praktik-praktik korupsi,kolusi,dan nepotisme (KKN). Hal ini dapat ditunjukan pada beberapa fakta

berikut :

a. Mudahnya para spekulan mata uang untuk mempermainkan pasar valuta asing karena

tidak adanya alat kendali yang efektif. Sifat para spekulan ini selalu mementing diri

(4)

b. Mudahnya para konglomerat memperoleh dana pinjaman dari perbankan. Hal ini

dimungkinkan karena para konglomerat itu sekaligus juga menjadi pemilik bank-bank

swasta ternama. Melalui rekayasa studi kelayakan dan laporan keuangan, para

konglomerat ini menarik pinjaman dari bank miliknya untuk membiayai proyek-proyek

usaha yang masih berada dalam kelompok usahanya. Para direksi bank ini tidak dapat

bersikap independen karena ditempatkan di bank tersebut oleh para konglomerat

tersebut. Para konglomerat ini banyak yang sekaligus merangkap fungsi sebagai

pemegang saham,komisaris,dan direksi di kelompok usaha mereka.

c. Banyak direksi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk di bank-bank

pemerintah juga tidak independen. Dalam mengambil berbagai kebijakan selalu ada

campur tangan dari oknum pejabat pemerintahan. Hal ini tidak mengherankan karena

para direksi ini sering kali merupakan kepanjang tangan kepentingan kelompok oknum

pejabat tertentu. Kalaupun mereka bersifat professional, mereka sering mendapat

tekanan oknum pejabat.

d. Para komisaris di BUMN sering kali bukan orang yang professional, melainkan

oknum-oknum birokrasi yang telah memasuki usia pension. Mereka ditempatkan bukan karena

kemampuan dan pengalaman mereka dalam mengelola perusahaan,tetapi lebih karena

sekedar balas jasa setelah memasuki usia pension.

e. Banyaknya profesi yang terkait dengan kegiatan bisnis ini- seperti: akuntan

publik,perusahaan penilai,konsultan keuangan,dan sebagainya- yang mudah diajak

bekerja sama untuk merekayasa laporan audit,laporan keuangan,dan laporan penilaian

harta (asset) perusahaan untuk berbagai keperluan- seperti: tender,aplikasi kredit

bank,penerbitan saham di bursa,dan sebagainya.

f. Pada saat timbul krisis moneter,Bank Indonesia mengucurkan dana berupa bantuan

likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencapai triliunan rupiah kepada sector

perbankan nasional dalam upaya membantu perbankan agar tidak ambruk akibat

penarikan dana nasabah secara besar-besaran. Namun itikad baik BI ini banyak

disalahgunakan oleh pemilik bank dengan memindahkan dana ini ke rekening

pribadinya dan membiarkan bank mereka sendiri tetap ambruk. Kalaupun para pemilik

bank ini mempunyai itikad baik,merka tidak mampu lagi untuk mengembalikan dana

BLBI tersebut.Sampai saat ini belum ada penyelesaian tuntas tentang kasus BLBI ini.

Berbagai permasalahan yang telah dijelaskan sebelumnya membuat pengungkapan

tata kelola perusahaan dirasa penting bagi pemakai laporan keuangan, sehingga dalam

(5)

bursa efek. Makalah ini akan membahas pengungkapan tata kelola perusahaan yang bergerak

di bidang industri dasar dan kimia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka rumusan masalah

makalah ini adalah:

1. Bagaimana konsep good corporate governance?

2. Bagaimana pengungkapan tata kelola perusahaan yang bergerak di bidang industri

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Good Corporate Governance

Laporan tahunan merupakan sumber utama dalam melakukan penelitian mengenai

pengungkapan corporate governance. Hal ini dikarenakan laporan tahunan berisi tentang

berbagai macam informasi mengenai perusahaan termasuk praktik good corporate

governance. Karim et al. (dalam Bhuiyan dan Biswas, 2007) berpendapat bahwa laporan

tahunan harus dipertimbangkan sebagai sumber informasi paling penting mengenai

perusahaan. Selain itu, Bushman dan Smith (dalam Bhuiyan dan Biswas, 2007) berpendapat

bahwa tujuan yang mendasari adanya penelitian mengenai corporate governance dalam

akuntansi adalah untuk menyediakan bukti sejauh mana informasi yang diberikan dalam

sistem akuntansi dapat mengurangi masalah keagenan.

Menurut YPPMI (2002), GCG adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan

antara pemegang saham, pengelola perusahaan, pihak kreditor, pemerintah, karyawan, serta

pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban

mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.

Menurut Aldrige (2005), the Organization for Economic Cooperation and Development

(OECD) mendefinisikan Corporate Governance adalah sistem yang dipergunakan untuk

mengarahkan dan mengendalikan kegiatan bisnis perusahaan. Corporate governance

mengatur pembagian tugas, hak, dan kewajiban mereka yang berkepentingan terhadap

kehidupan perusahaan, termasuk pemegang saham, Dewan Pengurus, para manajer, dan

semua anggota the stakeholders non-pemegang saham.

Dapat disimpulkan bahwa GCG adalah seperangkat peraturan yang mengatur

hubungan antara pemegang saham, pengelola perusahaan, pihak kreditor, pemerintah,

karyawan, serta pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak

dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan

perusahaan untuk mencapai kinerja bisnis yang optimal. Menurut Moeljono (2005:19), ada

lima karakteristik GCG. Pertama, Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan

proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material

dan relevan mengenai perusahaan. Kedua, Kemandirian, yaitu keadaan tempat perusahaan

dikelola secara profesional, tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan pihak

(7)

yang sehat. Ketiga, Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan

pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

Keempat, Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap

peraturan perundang-undangan dan prinsip korporasi yang sehat. Kelima, Kewajaran, yaitu

kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan

prinsip korporasi yang sehat.

Good Corporate Governance (GCG) merupakan isu sentral dalam pengelolaan

perusahaan pada saat sekarang ini. Dengan terjadinya rentetan peristiwa yang menimpa

banyak perusahaan besar, yang kemudian beberapa diantaranya dinyatakan bangkrut, di

Amerika Serikat, telah menyadarkan banyak pihak di seluruh dunia mengenai pentingnya

pelaksanaan pengelolaan perusahaan yang baik dan benar. Untuk itu, berbagai cara ditempuh

oleh banyak pihak untuk mendapatkan kesepakatan mengenai parameter-parameter apa yang

digunakan untuk mengukur pelaksanaan konsep GCG ini di dalam perusahaan. Tak

terkecuali juga di negara kita, proses penyadaran terhadap pentingnya GCG dan proses

pencapaian kesepakatan mengenai konsep GCG itu sendiri juga terus berkembang.

Perkembangan ini terjadi semenjak krisis ekonomi dan semakin terpicu dengan merebaknya

mega skandal perusahaan-perusahaan besar di AS (Utama, 2004).

Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) merumuskan dan

mengklasifikasikan prinsip-prinsip corporate governance ke dalam 13 prinsip, yaitu:

1. Hak-hak pemegang saham dan prosedur RUPS

2. Komisaris

3. Direksi

4. Sistem Audit

5. Sekretaris perusahaan

6. Pihak-pihak yang berkepentingan

7. Keterbukaan

8. Kerahasiaan

9. Informasi orang dalam

10. Etika berusaha dan anti korupsi

11. Donasi

12. Kepatuhan pada perundang-undangan tentang proteksi kesehatan, keselamatan

kerja dan pelestarian lingkungan.

(8)

Prinsip yang dihasilkan oleh KNKCG ini merupakan prinsip-prinsip GCG yang pertama kali

dihasilkan oleh institusi yang dibentuk secara resmi oleh pemerintah.

2.1 Pengungkapan Corporate Governance di Perusahaan di Bidang Industri Dasar dan

Kimia

Perusahaan yang akan penulis analisis di bidang Industri Dasar dan Kimia dibagi kedalam beberapa sub sektor, yaitu:

1) Sub sektor semen

2) Sub sektor keramik,porselen dan kaca 3) Sub sektor logam dan sejenisnya 4) Sub sektor kimia

5) Sub sektor plastik dan kemasan 6) Sub sektor pakan ternak

7) Sub sktor kayu dan pengolahannya 8) Sub sektor pulp dan kertas

Dari total 65 data perusahaan di atas, penulis mengambil 32 perusahaan dengan

ketentuan perusahaan yang memilki laba tertinggi di sub sektornya masing-masing.

Sub Sektor Semen

No Kode Saham Nama Emiten

1 INTP Indocement Tunggal Prakasa Tbk

2 SMCB Holcim Indonesia Tbk

3 SMGR Semen Indonesia (Persero) Tbk

4 WTON Wijaya Karya Beton Tbk

Sub Sektor Keramik,Porselen dan Kaca

No Kode Saham Nama Emiten

1 IKAI Intikeramik Alamasri Industri Tbk 2 KIAS Keramika Indonesia Assosiasi Tbk

3 MLIA Mulia Industrindo Tbk

4 TOTO Surya Toto Indonesia Tbk

Sub Sektor Logam dan Sejenisnya

No Kode Saham Nama Emiten

1 CTBN Citra Tubindo Tbk

2 LION Lion Metal Works Tbk

3 PICO Pelangi Indah Canindo Tbk

4 TBMS Tembaga Mulia Semanan Tbk

Sub Sektor Kimia

No Kode Saham Nama Emiten

1 BRPT Barito Pacific Tbk

2 BUDI Budi Acid Jaya Tbk

3 SRSN Indo Acidatama Tbk

(9)

Sub Sektor Plastik dan Kemasan

No Kode Saham Nama Emiten

1 AKKU Alam Karya Unggul Tbk

4 BRNA Berlina Tbk

9 SIAP Sekawan Intipratama Tbk

10 SIMA Siwani Makmur Tbk

Sub Sektor Pakan Ternak

No Kode Saham Nama Emiten

1 CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tbk

2 JPFA JAPFA Comfeed Indonesia Tbk

3 MAIN Malindo Feedmill Tbk

4 SIPD Sierad Produce Tbk

Sub Sektor Kayu dan Pengolahannya

No Kode Saham Nama Emiten

1 TIRT Tirta Mahakam Resources Tbk

Sub Sektor Pulp dan Kertas

No Kode Saham Nama Emiten

1 ALDO Alkindo Naratama Tbk

2 FASW Fajar Surya Wisesa Tbk

3 INKP Indah Kiat Pulp & Paper Tbk

4 INRU Toba Pulp Lestari Tbk

5 KBRI Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk

6 SPMA Suparma Tbk

7 TKIM Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk

Untuk mengukur tingkat pengungkapan tata kelola perusahaan, maka dibuat tabel checklist yang berpedoman pada Keputusan Ketua BAPEPAM dan Lembaga Keuangan dalam Peraturan X.K.6 Nomor: Kep-134/BL/2006 dan pedoman Umum Corporate Governance Indonesia (KNKG,2006)

NO ITEM POINT ITEM PENGUNGKAPAN

1. Pemegang Saham 1. Uraian mengenai hak pemegang saham

2. Pernyataan mengenai jaminan perlindungan hak atas

pemegang saham perlakuan yang setara terhadap

semua pemegang saham 3. Tanggal pelaksanaan RUPS 4. Hasil RUPS

2. Dewan Komisaris 1. Nama-nama anggota dewan komisaris

(10)

independen atau

komisaris bukan independen) 3. Latar belakang pendidikan dan karier dewan

komisaris

4. Uraian mengenai tugas dan tanggung jawab dewan komisaris

5. Kebijakan dan jumlah remunerasi anggota dewan

komisaris

6. Mekanisme dan kriteria penilaian sendiri (self

assestment) tentang kinerja masing-masing anggota

dewan komisaris

7. Jumlah rapat yang dilakukan 8. Jumlah kehadiran setiap anggota dewan komisaris

dalam rapat

9. Mekanisme pengambilan keputusan 10. Program pelatihan dewan

komisaris

3. Dewan Direksi 1. Nama-nama anggota direksi dengan jabatan dan

fungsinya masing-masing 2. Uraian mengenai tugas dan tanggung jawab direksi

3. Latar belakang pendidikan dan karier anggota direksi

4. Ruang lingkup pekerjaan dan tanggung jawab masingmasing anggota direksi

Penjelasan ringkas mengenai mekanisme kerja

direksi:

5. Mekanisme pengambilan keputusan 6. Mekanisme pendelegasian

wewenang

7. Kebijakan dan jumlah remunerasi anggota direksi

8. Jumlah rapat yang dilakukan oleh direksi

9. Jumlah kehadiran setiap anggota direksi dalam rapat

10. Mekanisme dan kriteria penilaian terhadap kinerja

para anggota direksi

(11)

meningkatkan kompetensi direksi

4. Komite Audit 1. Nama dan jabatan anggota komite audit

2. Riwayat hidup singkat setiap anggota komite audit

3. Uraian tugas dan tanggung jawab komite audit

4. Jumlah pertemuan yang dilakukan oleh komite audit

5. Jumlah kehadiran setiap anggota dalam rapat

6. Laporan singkat pelaksanaan kegiatan komite audit

7. Independensi anggota komite audit 8. Keberadaan piagam komite audit (Audit Commitee

Charter)

5. Komite Nominasi Dan Remunerasi

1. Nama dan jabatan anggota komite nominasi dan

remunerasi

2. Riwayat hidup singkat setiap anggota komite nominasi dan remunerasi

3. Uraian tugas dan tanggung jawab komite nominasi dan

remunerasi

4. Jumlah pertemuan yang dilakukan oleh komite

nominasi dan remunerasi

5. Jumlah kehadiran setiap anggota dalam rapat

6. Laporan singkat pelaksanaan kegiatan komite

nominasi dan remunerasi 7. Independensi anggota komite nominasi dan remunerasi

6. Komite

Manajemen Risiko

1. Nama dan jabatan anggota komite manajemen risiko

2. Riwayat hidup singkat setiap anggota komite

manajemen risiko

3. Uraian tugas dan tanggung jawab komite manajemen

risiko

(12)

manajemen risiko

5. Jumlah kehadiran setiap anggota dalam rapat

6. Laporan singkat pelaksanaan kegiatan komite

manajemen risiko

7. Independensi anggota komite manajemen risiko

7. Komite-Komite Lain yang Dimiliki Perusahaan

1. Nama dan jabatan anggota komite 2. Riwayat hidup singkat setiap anggota komite

3. Uraian tugas dan tanggung jawab komite

4. Jumlah pertemuan yang dilakukan oleh komite

5. Jumlah kehadiran setiap anggota dalam rapat

6. Laporan singkat pelaksanaan kegiatan komite

7. Independensi anggota komite

8. Sekretaris Perusahaan

1. Nama sekretaris perusahaan 2. Riwayat singkat sekretaris perusahaan

3. Uraian mengenai tugas dan tanggung jawab sekretaris Perusahaan

9. Pelaksanaan Pangawasan dan Pengendalian

Internal (InternalAudit and Control)

1. Informasi tentang keberadaan SPI (Satuan Pengawas

Internal)

2. Jumlah anggota SPI

3. Jabatan masing-masing anggota SPI 4. Uraian mengenai tugas dan

tanggung jawab SPI

5. Uraian mengenai aktivitas SPI selama setahun

6. Penjelasan mengenai audit internal perusahaan

10. Manajemen Risiko Perusahaan

1. Penjelasan mengenai risiko-risiko yang dihadapi oleh

perusahaan

2. Upaya untuk mengelola risiko-risiko tersebut

11. Perkara Penting yang sedang Dihadapi oleh

1. Pokok perkara/gugatan 2. Posisi kasus

(13)

Perusahaan, Anggota Dewan Direksi, dan Anggota Dewan Komisaris

4. Pengaruhnya terhadap kondisi keuangan perusahaan

12. Akses Informasi dan Data

Perusahaan

1. Uraian mengenai tersedianya akses informasi dan data

perusahaan kepada publik, misal: melalui website,

media massa, mailing list, buletin, dan sebagainya

2. Daftar penyebaran informasi kepada publik

13. Etika Perusahaan 1. Keberadaan pedoman perilaku (code of conduct)

2. Isi code of conduct

3. Penyebaran code of conduct kepada karyawan dan

upaya penegakannya

4. Pernyataan mengenai budaya perusahaan (corporate

culture) yang dimiliki perusahaan

14. Tanggung Jawab

Sosial 1. Uraian mengenai pengakuan hak-hak karyawan

2. Uraian mengenai persamaan kesempatan kepada

seluruh karyawan

3. Uraian mengenai jaminan terciptanya lingkungan kerja yang kondusif

4. Komitmen perusahaan terhadap kesehatan dan

keselamatan kerja

5. Manajemen keselamatan kerja

kerja

6. Deskripsi mengenai komitmen perusahaan

terhadap perlindungan konsumen

7. Program kemitraan yang dilakukan oleh

perusahaan (program kemitraan dan pembinaan

(14)

8. Biaya yang dikeluarkan dalam program kemitraan

Program Bina Lingkungan yang meliputi:

9. Bantuan korban bencana alam atau bantuan sosial

lainnya

10. Bantuan pendidikan (beasiswa) dan pelatihan

11. Pengembangan sarana umum 12. Biaya yang dikeluarkan

13. Komitmen perusahaan terhadap pelestarian

lingkungan

14. Program pelestarian lingkungan yang dilakukan

1. Keberadaan prinsip-prinsip GCG 2. Keberadaan pedoman pelaksanaan GCG (Manual

GCG) dalam perusahaan

3. Kepatuhan terhadap pedoman GCG 4. Keberadaan Board Manual

(Panduan bagi komisaris

dan direksi dalam melaksanakan tugas)

5. Struktur tata kelola perusahaan 6. Hasil penilaian penerapan GCG dalam setahun

7. Audit GCG (jasa atestasi) oleh eksternal auditor

16. Informasi Penting Lainnya yang

4. Kepemilikan saham oleh anggota dewan komisaris dan

direksi beserta anggota keluarganya dalam perusahaan

dan perusahaan lainnya 5. Uraian mengenai kepatuhan terhadap peraturan

perundangan peraturan pasar modal 6. Uraian mengenai transaksi dengan pihak yang

(15)

Hasil checklist terhadap item pengungkapan akan diperoleh tingkat/ persentasi

pengungkapan dengan menggunakan rumus:

(16)

Minimum Maximum Mean

Tahun2010 12,87 94,06 59,7075

Tahun2011 12,87 100,00 61,0650

Tahun2012 13,86 100,00 62,4669

Tahun2013 14,85 97,03 63,9888

Tahun2014 14,85 97,03 64,4625

Berdasarkan tabel diatas pengungkapan tata kelola perusahaan paling tinggi terdapat

pada tahun 2011 dan 2012 yaitu pada PT KBRI dan PT INKP.

Sub Sektor Keramik, Porselen, Kaca dan Sub Sektor Semen

Grafik tingkat pengungkapan corporate governance PT. IKAI, PT. KIA, PT. MLIA, PT. SMCB, PT. SMGR, PT. TOTO, PT. WIKA, PT. INTP

Dari grafik di atas dapat dilihat tingkat pengungkapan tata kelola perusahaan paling

rendah terdapat pada PT MLIA tahun 2010 dan 2011 dan PT SMCB tahun 2010.

Analisis berdasarkan beberapa teori:

a. Stakeholder Theory

Berdasarkan stakeholder theory, PT. IKAI, PT. KIA, PT. MLIA, dan PT. SMCB tidak

menerapkan accountability perspective berkaitan dengan prinsip GCG yaitu akuntabilitas dan

prinsip tanggung jawab pengurus perusahaan (Corporate Board). Akuntabilitas adalah

kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban perusahaan sehingga pengelolaan 0

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

IKAI KIA MLIA SMCB SMGR TOTO WIKA INTP

2010

2011

2012

2013

(17)

perusahaan terlaksana secara efektif. Sedangkan tanggung jawab pengurus perusahaan

merupakan pengawasan dewan komisaris terhadap pengelolaan perusahaan oleh direksi.

Perspektif ini menegaskan adanya pengawasan dari corporate boards membuat manajemen

bekerja secara efektif, disertai tuntutan strategik, serta akuntabilitas dan loyalitas manajemen

terhadap hak seluruh stakeholder. Hal ini dapat dilihat dari tingkat pengungkapan tata kelola

perusahaan PT. IKAI, PT. KIA, PT. MLIA, dan PT. SMCB yang dibawah 50%.

Sedangkan PT. SMGR, PT. TOTO, PT. WIKA, PT. INTP sudah menerapkan menerapkan accountability perspective berkaitan dengan prinsip GCG yaitu akuntabilitas dan prinsip

tanggung jawab pengurus perusahaan (Corporate Board).

Stakeholder theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya

beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun memberikan manfaat bagi stakeholder – nya

(pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak

lain). Aktivitas yang dilakukan perusahaan mempengaruhi banyak pihak (stakeholder),

sehingga manajemen perusahaan diharapkan untuk melakukan aktivitas sesuai dengan yang

diharapkan stakeholder dan melaporkannya kepada stakeholder. Teori ini menyarankan

semua stakeholder mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana dampak

aktivitas organisasi terhadapnya.

b. Signalling Theory

Signaling Theory mengemukakan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan

memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi

mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan

pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa

perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Signaling theory menjelaskan

mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan

pada pihak eksternal, karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar.

Perusahaan (agent) mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan

datang dari pada pihak luar (investor dan kreditor). Kurangnya informasi pihak luar mengenai

perusahaan menyebabkan undervaluation terhadap nilai perusahaan. Perusahaan dapat

meningkatkan nilai perusahaan, dengan mengurangi asimetri informasi yaitu melalui

pemberian sinyal pada pihak luar, salah satunya berupa informasi sukarela yang dapat

dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang akan

(18)

Namun pada PT. IKAI, PT. KIA, PT. MLIA, dan PT. SMCB tidak memberikan sinyal

baik kepada pengguna laporan keuangan sehingga kurangnya informasi pihak luar mengenai

perusahaan menyebabkan undervaluation terhadap nilai perusahaan. Sedangkan pada PT. SMGR, PT. TOTO, PT. WIKA, PT. INTP sudah memberikan sinyal baik kepada pengguna laporan keuangannya yang ditandai dengan tingginya tingkat pengungkapan corporate governance sehingga menaikkan nilai perusahaan.

c. Legitimacy Theory

Teori legitimasi bersandar pada dugaan bahwa ada suatu “kontrak sosial” antara

perusahaan dan masyarakat di mana perusahaan beroperasi. Kontrak sosial digunakan untuk

mewakili sejumlah besar harapan–harapan masyarakat yang berakibat pada operasional

organisasi. Teori ini menyatakan bahwa perusahaan akan berusaha meyakinkan masyarakat

bahwasannya nilai–nilai perusahaan sejalan dengan nilai yang berlaku di masyarakat sekitar

dimana perusahaan beroperasi. Konsekuensi dari harapan masyarakat tersebut akan

berdampak baik bagi perusahaan karena perusahaan mendapatkan dukungan dari masyarakat

sekitar. Namun pada praktiknya, perusahaan sering tidak dapat atau kurang optimal dalam

mewujudkan keinginan masyarakat sehingga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan

masyarakat kepada perusahaan. Dengan pengungkapan sukarela, perusahaan dapat

menginformasikan kepada masyarakat alasan mengapa perusahaan tidak bisa

mengakomodasi harapan dan kepentingan masyarakat

Pada PT. IKAI, PT. KIA, PT. MLIA, dan PT. SMCB tidak melakukan pengungkapan

secara baik sehingga perusahaan tidak menginformasikan kepada masyarakat alasan mengapa

perusahaan tidak bisa mengakomodasi harapan dan kepentingan masyarakat yang berarti

bahwa nilai–nilai perusahaan tidak sejalan dengan nilai yang berlaku di masyarakat sekitar

dimana perusahaan beroperasi atau terdapat gap antara nilai perusahaan dan nilai dalam

masyarakat.

Sedangkan pada PT. SMGR, PT. TOTO, PT. WIKA, PT. INTP sudah melakukan pengungkapan secara baik sehingga perusahaan dapat menginformasikan nilai–nilai perusahaan sudah sejalan dengan nilai yang berlaku di masyarakat sekitar dimana perusahaan beroperasi.

Sub Sektor Logam Sejenisnya dan Sub Sektor Kimia

Grafik pengungkapan tata kelola perusahaan PT. CTBN, PT. KRAS, PT. BTON, PT.

(19)

Dari grafik di atas dapat dilihat tingkat pengungkapan tata kelola perusahaan paling rendah

terdapat pada PT SRSN tahun 2010 dan 2011 dan PT BTON tahun 2011.

Analisis berdasarkan beberapa teori:

a. Stakeholder Theory

Berdasarkan stakeholder theory, tidak menerapkan accountability perspective

berkaitan dengan prinsip GCG yaitu akuntabilitasdan prinsip tanggung jawab pengurus

perusahaan (Corporate Board).Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan

pertanggungjawaban perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secaraefektif.

Sedangkan tanggung jawab pengurus perusahaan merupakanpengawasan dewan komisaris

terhadap pengelolaan perusahaan oleh direksi.Perspektif ini menegaskan adanya pengawasan

dari corporate boards membuat manajemen bekerja secara efektif, disertai tuntutan strategik,

sertaakuntabilitas dan loyalitas manajemen terhadap hak seluruh stakeholder. Hal ini dapat

dilihat dari tingkat pengungkapan tata kelola perusahaan PT. CTBN, PT. EYMH, PT. KRAS,

PT. NIKL, PT. SRSN, PT. BTON, dan PT.BUDI.

Sedangkan PT. BRPT sudah menerapkan menerapkan accountability perspective

berkaitan dengan prinsip GCG yaitu akuntabilitasdan prinsip tanggung jawab pengurus

perusahaan (Corporate Board) dengan kelengkapan ke anggota manajemen yang mengelola

perusahaan ini.

Stakeholder theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yanghanya

beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun memberikan manfaat bagistakeholder – nya

(pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah,masyarakat, analis dan pihak 0

10 20 30 40 50 60 70

CTBN KRAS BTON NIKL BRPT BUDI SRSN EYMH

2010

2011

2012

2013

(20)

lain). Aktivitas yang dilakukanperusahaan mempengaruhi banyak pihak (stakeholder),

sehingga manajemen perusahaan diharapkan untuk melakukan aktivitas sesuai dengan yang

diharapkanstakeholder dan melaporkannya kepada stakeholder. Teori ini menyarankan semua

stakeholder mempunyai hak untuk mendapatkaninformasi tentang bagaimana dampak

aktivitas organisasi terhadapnya.

b. Signalling Theory

Signaling Theory mengemukakan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan

memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal iniberupa informasi mengenai

apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untukmerealisasikan keinginan pemilik. Sinyal

dapat berupa promosi atau informasilain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih

baik daripada perusahaanlain. Signaling theory menjelaskan mengapa perusahaan

mempunyai doronganuntuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal,

karenaterdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar. Perusahaan

(agent)mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datangdari

pada pihak luar (investor dan kreditor). Kurangnya informasi pihak luarmengenai perusahaan

menyebabkan undervaluation terhadap nilai perusahaan.Perusahaan dapat meningkatkan nilai

perusahaan, dengan mengurangi asimetriinformasi yaitu melalui pemberian sinyal pada pihak

luar, salah satunya berupainformasi sukarela yang dapat dipercaya dan akan mengurangi

ketidakpastianmengenai prospek perusahaan yang akan datang.

Namun pada PT. SRSN dan PT. BTON kurang memberikan sinyal baik kepada

pengguna laporan keuangan sehingga kurangnya informasi pihak luar rmengenai perusahaan

menyebabkan undervaluation terhadap nilai perusahaan. Sedangkan pada PT. CTBN, PT.

BRPT sudah memberikan sinyal baik kepada pengguna laporan keuangannya yang ditandai

dengan tingginya tingkat pengungkapan corporate governance sehingga menaikkan nilai

perusahaan.

c. Legitimacy Theory

Teori legitimasi bersandar pada dugaan bahwa ada suatu “kontrak sosial”antara perusahaan dan masyarakat di mana perusahaan beroperasi. Kontrak sosialdigunakan untuk

mewakili sejumlah besar harapan–harapan masyarakat yang berakibat pada operasional

organisasi. Teori ini menyatakan bahwa perusahaanakan berusaha meyakinkan masyarakat

(21)

dimana perusahaan beroperasi. Konsekuensi dari harapan masyarakat tersebut akan

berdampak baikbagi perusahaan karena perusahaan mendapatkan dukungan dari masyarakat

sekitar. Namun pada praktiknya, perusahaan sering tidak dapat atau kurangoptimal dalam

mewujudkan keinginan masyarakat sehingga dapat mempengaruhitingkat kepercayaan

masyarakat kepada perusahaan. Dengan pengungkapansukarela, perusahaan dapat

menginformasikan kepada masyarakat alasan mengapaperusahaan tidak bisa mengakomodasi

harapan dan kepentingan masyarakat

Pada PT. BTON, PT.SRSN, PT. BUDI, PT EYMH tidak melakukan pengungkapan

secara baik sehingga perusahaan tidak menginformasikan kepada masyarakat alasan mengapa

perusahaan tidak bisa mengakomodasi harapan dan kepentingan masyarakatyang berarti

bahwa nilai–nilai perusahaantidak sejalan dengan nilai yang berlaku di masyarakat sekitar

dimana perusahaanberoperasi atau terdapat gap antara nilai perusahaan dan nilai dalam

masyarakat.

Sedangkan pada PT. CTBN, PT. KRAS, PT.NIKL, PT.BRPT, dan PT. EYMH sudah

melakukan pengungkapan secara baik dengan tingkat pengungkapan diatas 50% sehingga

perusahaan dapat menginformasikan nilai–nilai perusahaansudah sejalan dengan nilai yang

berlaku di masyarakat sekitar dimana perusahaan beroperasi.

Sub Sektor Plastik dan kemasan dan Sub Sektor Pakan Ternak

Grafik pengungkapan tata kelola perusahaan PT. AKKU, PT. BRNA, PT. SIAP, PT. SIMA, PT. CPIN, PT. JPFA, PT. MAIN, PT. SIPD

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

AKKU BRNA SIAP SIMA CPIN JPFA MAIN SIPD

2010

2011

2012

2013

(22)

Dari grafik di atas dapat dilihat tingkat pengungkapan tata kelola perusahaan paling rendah

terdapat pada PT MAIN tahun 2010 dan PT. SIMA tahun 2010.

Analisis berdasarkan beberapa teori:

a. Stakeholder Theory

Berdasarkan stakeholder theory, PT. AKKU, PT. BRNA, PT. SIAP, PT. SIMA, PT.

CPIN, PT. JPFA, PT. MAIN dan PT. SIPD tidak menerapkan accountability perspective

berkaitan dengan prinsip GCG yaitu akuntabilitas dan prinsip tanggung jawab pengurus

perusahaan (Corporate Board).Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan

pertanggungjawaban perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

Sedangkan tanggung jawab pengurus perusahaan merupakan pengawasan dewan komisaris

terhadap pengelolaan perusahaan oleh direksi.Perspektif ini menegaskan adanya pengawasan

dari corporate boards membuat manajemen bekerja secara efektif, disertai tuntutan strategik,

serta akuntabilitas dan loyalitas manajemen terhadap hak seluruh stakeholder. Hal ini dapat

dilihat dari tingkat pengungkapan tata kelola perusahaan PT. AKKU, PT. BRNA, PT. SIAP,

PT. SIMA, PT. CPIN, PT. JPFA, PT. MAIN dan PT. SIPD yang dibawah 50%.

Stakeholder theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya

beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun memberikan manfaat bagi stakeholder – nya

(pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah,masyarakat, analis dan pihak

lain). Aktivitas yang dilakukan perusahaan mempengaruhi banyak pihak (stakeholder),

sehingga manajemen perusahaan diharapkan untuk melakukan aktivitas sesuai dengan yang

diharapkan stakeholder dan melaporkannya kepada stakeholder. Teori ini menyarankan

semua stakeholder mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana dampak

aktivitas organisasi terhadapnya.

b. Signalling Theory

Signaling Theory mengemukakan bagaimana seharusnya sebuahperusahaan

memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal iniberupa informasi mengenai

apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untukmerealisasikan keinginan pemilik. Sinyal

dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih

baik daripada perusahaan lain. Signaling theory menjelaskan mengapa perusahaan

mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal,

karenater dapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar. Perusahaan (agent)

mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datangdari pada pihak

(23)

menyebabkan undervaluation terhadap nilai perusahaan.Perusahaan dapat meningkatkan nilai

perusahaan, dengan mengurangi asimetriinformasi yaitu melalui pemberian sinyal pada pihak

luar, salah satunya berupainformasi sukarela yang dapat dipercaya dan akan mengurangi

ketidakpastianmengenai prospek perusahaan yang akan datang.

Namun pada PT. AKKU, PT. BRNA, PT. SIAP, PT. SIMA, PT. CPIN, PT. JPFA, PT.

MAIN dan PT. SIPD tidak memberikan sinyal baik kepada pengguna laporan keuangan

sehingga kurangnya informasi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan undervaluation

terhadap nilai perusahaan.

c. Legitimacy Theory

Teori legitimasi bersandar pada dugaan bahwa ada suatu “kontrak sosial”antara

perusahaan dan masyarakat di mana perusahaan beroperasi. Kontrak sosialdigunakan untuk

mewakili sejumlah besar harapan–harapan masyarakat yangberakibat pada operasional

organisasi. Teori ini menyatakan bahwa perusahaanakan berusaha meyakinkan masyarakat

bahwasannya nilai–nilai perusahaansejalan dengan nilai yang berlaku di masyarakat sekitar

dimana perusahaanberoperasi. Konsekuensi dari harapan masyarakat tersebut akan

berdampak baikbagi perusahaan karena perusahaan mendapatkan dukungan dari masyarakat

sekitar. Namun pada praktiknya, perusahaan sering tidak dapat atau kurangoptimal dalam

mewujudkan keinginan masyarakat sehingga dapat mempengaruhitingkat kepercayaan

masyarakat kepada perusahaan. Dengan pengungkapansukarela, perusahaan dapat

menginformasikan kepada masyarakat alasan mengapaperusahaan tidak bisa mengakomodasi

harapan dan kepentingan masyarakat

Pada PT. AKKU, PT. BRNA, PT. SIAP, PT. SIMA, PT. CPIN, PT. JPFA, PT. MAIN

dan PT. SIPD tidak melakukan pengungkapan secara baik sehingga perusahaan tidak

menginformasikan kepada masyarakat alasan mengapaperusahaan tidak bisa mengakomodasi

harapan dan kepentingan masyarakatyang berarti bahwa nilai–nilai perusahaantidak sejalan

dengan nilai yang berlaku di masyarakat sekitar dimana perusahaanberoperasi atau terdapat

gap antara nilai perusahaan dan nilai dalam masyarakat.

Sub Sektor Kayu dan pengolahannya dan Sub Sektor Pulp dan Kertas

Grafik pengungkapan tata kelola PT. ALDO, PT. TIRT, PT.TKIM, PT. INRU, PT. KBRI, PT.

(24)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

ALDO TIRT TKIM INRU KBRI SPMA FASW INKP

2010

2011

2012

2013

(25)

BAB III

SIMPULAN

3.1 Simpulan

Laporan tahunan merupakan sumber utama dalam melakukan penelitian mengenai

pengungkapan corporate governance. Hal ini dikarenakan laporan tahunan berisi tentang

berbagai macam informasi mengenai perusahaan termasuk praktik good corporate

governance

GCG adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham,

pengelola perusahaan, pihak kreditor, pemerintah, karyawan, serta pemegang kepentingan

intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mereka, atau dengan

kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk mencapai kinerja

bisnis yang optimal. Menurut Moeljono (2005:19), ada lima karakteristik GCG. Pertama,

Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan

keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan.

Kedua, Kemandirian, yaitu keadaan tempat perusahaan dikelola secara profesional, tanpa

benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan pihak mana pun yang tidak sesuai dengan

peraturan perundang-undangan dan prinsip korporasi yang sehat. Ketiga, Akuntabilitas, yaitu

kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan

perusahaan terlaksana secara efektif. Keempat, Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian dalam

pengelolaan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip korporasi yang

sehat. Kelima, Kewajaran, yaitu kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap

peraturan perundang-undangan dan prinsip korporasi yang sehat.

Dari hasil pembahasan perusahaan sektor industri dasar dan kimia yang listing di BEI

tingkat pengungkapan rata-rata masih di atas 50% namun masih ada beberapa perusahaan

yang masih rendah tingkat pengungkapannya dan perlu menjadi perhatian untuk

(26)

Referensi

Rini, Amilia Kartika. 2010. Analisis Luas Pengungkapan Corporate Governance dalam

Laporan Tahunan Perusahaan Publik di Indonesia. Skripsi Universitas

Diponegoro

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). 1999. OECD

Gambar

Grafik tingkat pengungkapan corporate governance PT. IKAI, PT. KIA, PT. MLIA, PT. SMCB, PT

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian jika titik A dan B dihubungkan dengan penghantar yang berhambatan 10 ohm arus listrik yang meng- alir .... Tiga buah penghantar masing- masing berhambatan 6

Kabupaten/kota yang terdapat dalam ke- lompok hierarki I adalah Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Utara, Tu- langbawang yang berarti kabupaten

Indikasi yang dapat ditangkap melalui sikap masyarakat industri pariwisata terhadap wisatawan asing (hal ini dapat dijadikan objek penelitian tersendiri), adalah bahwa

Dan jika dibandingkan dari hasilnya atau nilainya, VSWR pada pengukuran memiliki hasil yang lebih bagus dibandingkan hasil dari simulasi walaupun dengan perbedaan yang

Kalo ada produk baru dari masjid, speaker buat masjid, jadi yang kita undang orang-orang masjid kayak pengurus-pengurus masjid gitu.. Terus kalo TOA mengadakan

Konsep Skemp (Mitchelmore dan White, 2007) menyebutkan bahwa abstraksi empiris terdiri dari pengakuan kesamaan dan diikuti dengan perwujudan kesamaan dalam sebuah objek

Penelitian ini bertujuan mengindentifikasi potensi ekonomi kreatif, menilai potensi ekonomi kreatif unggulan dan memetakan potensi ekonomi kreatif berbasis sistem

This study discusses two approaches in testing the causal ordering of a model, i.e., the Granger and Sim’s tests as well as SCDTs test of causality, which could be either used