• Tidak ada hasil yang ditemukan

Morfosemantik Istilah Perpadian dalam docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Morfosemantik Istilah Perpadian dalam docx"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Morfosemantik Istilah Perpadian dalam Bahasa Sunda di Kabupaten Sumedang Henda Suhenda & Roza Afifah

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, [email protected]

[email protected]

ABSTRAK

Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dikatakan demikian, karena secara langsung maupun tidak langsung bahasa dapat digunakan sebagai alat manifestasi budaya sekaligus sebagai unsur budaya itu sendiri. Pada masyarakat Sunda, khususnya di Sumedang terdapat isilah-istilah perpadian yang terbentuk akibat kebudayaan tertentu yang telah mempengaruhi pemberian istilah tersebut. Penelitian ini membahas tentang bentuk istilah perpadian di masyarakat kabupaten Sumedang. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan bentuk dan makna istilah perpadian dalam bahasa Sunda di kabupaten Sumedang dan proses morfosemantik istilah perpadian dalam bahasa Sunda di kabupaten Sumedang .

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif artinya data yang dianalisis hasilnya berupa deskriptif bukan angka. Data tulis dan lisan. Data dalam penelitian ini berupa istilah-istilah perpadian, sumber data lisan berasal dari informan yang terpilih, sumber data tulis berasal dari kamus bahasa Sunda. Pengumpulan data menggunakan metode simak, yaitu metode pengumpulan data dengan jalan menyimak penggunaan bahasa yang berlangsung dalam masyarakat, teknik dasar yang dipakai adalah teknik simak libat cakap atau wawancara, yaitu dapat dilakukan pertama-tama dengan berpartisipasi sambil menyimak dalam pembicaraan sehingga terlibat langsung dalam pembicaraan atau dialog.

(2)

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan alat pemersatu bangsa. Bahasa juga merupakan salah satu unsur kebudayaan sekaligus sebagai alat untuk memanifestasi material kebudayaan. Kemajuan teknologi secara tidak langsung telah mempengaruhi fungsi bahasa sebagai unsur kebudayaan. Dikatakan demikian, karena kemajuan teknologi tersebut telah memaksa bahasa untuk aktif memanifestasikan dan melestarikan unsur-unsur atau material kebudayaan yang semakin terkikis.

Sebagian besar masyarakat Sunda berprofesi sebagai petani. Hasil pertanian yang paling utama masyarakat Sunda, khususnya di Kabupaten Sumedang adalah padi. Padi dalam masyarakat Sunda sering diidentikkan dengan kisah atau dongeng Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. Kebudayaan yang berkaitan dengan konsep padi tersebut adalah adanya istilah dan leksikon tradisional yang menyangkut perkakas, kegiatan dan hasil penanaman padi di kabupaten Sumedang. Istilah dan leksikon tradisional tersebut kini semakin jarang digunakan karena munculnya berbagai teknologi canggih yang menggantikan kegiatan-kegiatan dan alat-alat khusus petani tradisional tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pelestarian dan pemertahanan istilah-istilah perpadian tersebut agar kebudayaan tradisional masyarakat Sunda tetap bisa dikenali dan diketahui di masa yang akan datang

1.2 Identifikasi Masalah

Adapun masalah yang terdapat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Bagaimanakah bentuk dan makna istilah perpadian dalam bahasa Sunda di kabupaten Sumedang?

2) Bagaimanakah bentuk morfosemantik istilah perpadian dalam bahasa Sunda di kabupaten Sumedang?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan bentuk-bentuk istilah dan leksikon perpadian dalam bahasa Sunda di Kabupaten Sumedang, sekaligus untuk mendeskripsikan bagaimana proses morfologis dan fungsi morfosemantik dari istilah dan leksikon tersebut. Penelitian ini hanya difokuskan pada istilah dan leksikon yang bisa diberi afiksasi. Istilah dan leksikon tersebut dimulai dari awal penanaman padi, perkakas yang digunakan, hingga kegiatan memanen hasil padi.

2. KERANGKA TEORI

(3)

menanam padi. Oleh karena itu, leksikon perpadian tersebut disebut dengan istilah perpadian. Istilah memiliki makna yang tepat dan cermat serta digunakan hanya untuk satu bidang tertentu, sedangkan nama masih bersifat umum karena digunakan tidak dalam bidang tertentu (Chaer, 2009: 52).

Morfologi menurut Kridalaksana (2010:24) adalah suatu proses yang mengolah leksem menjadi kata. Morfologi mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagi satuan gramatikal dan mengamati kata tersebut sebagai satuan yang dianalisis sebagai morfem satu atau lebih (Verhaar, 2010:97). Menurut Ramlan (2001:21) morfologi ilmu yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata, juga menyelidiki kemungkinan adanya perubahan golongan dan arti kata yang timbul sebagai akibat perubahan bentuk kata. Dari pendapat-pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk kata dan menganalisis perubahan-perubahan yang terjadi pada kata tersebut. Perubahan-perubahan bentuk kata tersebut juga bisa mempengaruhi kelas kata dan maknanya.

Perubahan-perubahan yang terjadi diakibatkan adanya proses dalam morfologi itu sendiri. Proses morfologi adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya (Ramlan, 2001:51). Lain halnya yang diungkapkan oleh Kridalaksana (2010:14) proses morfologi adalah suatu proses yang dapat membentuk kata baru. Adapun proses perubahan morfologik menurut Ramlan (2001:52) terdiri atas tiga yaitu proses pembubuhan afiks, proses pengulangan, dan proses pemajemukan. Berbeda dengan Ramlan, Kridalaksana membagi proses morfologis menjadi enam. Proses tersebut adalah derivasi zero, afiksasi, reduplikasi, abreviasi (pemendekan), komposisi (perpaduan), dan derivasi balik.

Semantik adalah ilmu yang menelaah hubungan-hubungan tanda-tanda dengan objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut (Tarigan, 2009:14). Menurut Verhaar (2010:13) semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna. Hal senada diungkapkan oleh Chaer (2007:115) semantik mengakaji makna bahasa, bukan mengakaji semua macam makna yang ada dalam kehidupan kita.

(4)

3. METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010: 4), menjelaskan metode kualitatif merupakan sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang maupun perilaku yang dapat diamati. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan berbagai istilah perpadian dan selanjutnya dianalisis untuk diketahui fungsi dan bentuk proses morfologisnya. Subjek dalam penelitian adalah orang asli sunda yang bisa berbahasa Sunda, yaitu petani di Kabupaten Sumedang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan melihat langsung perkakas dan kegiatan petani di sawah, wawancara dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai makna, fungsi, dan bentuk istilah perpadian dalam bahasa Sunda dengan bertanya langsung pada objek penelitian. Teknik dokumentasi dilakukan dengan membandingkan istilah tersebut dalam literatur-literatur yang digunakan. Analisis dan teknik pengolahan data dilakukan dengan cara deskriptif yaitu dipilih kata-kata atau istilah-istilah yang mengalami proses morfologis, selanjutnya dianalisis dan dijelaskan makna dan perubahan bentuk katanya,

4. ANALISIS DATA

Pada bagian ini akan disajikan hasil penelitian dan pembahasannya. Hasil penelitian berupa deskripsi bentuk morfosemantik istilah-istilah perpadian di Kabupaten Sumedang. Deskripsi tersebut berdasarkan proses morfologi. Hal ini dikarenakan proses morfologi sebagai dasar atau langkah awal dalam menganalisis data, yang kemudian dilanjutkan dengan proses pemaknaan atau semantik, sehingga ditemukan fungsi dari bentuk morfosemantik tersebut. Berikut hasil penelitian berupa deskripsi bentuk morfosemantik dan fungsinya yang sudah dikategorikan sesuai dengan tujuan penelitian, serta pembahasannya.

1. Binih (N) = benih padi berupa butiran padi berkualitas atau padi pilihan. Konfiks : Pa-an  Pabinihan (N)

Kata di atas bermakna tempat yang digunakan untuk menyemai benih padi. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut tidak mengubah kelas kata.

2. Babut (V) : mencabut benih dari persemaiannya Sufiks : -Eun  Babuteun (N)

Kata di atas bermakna benih padi di persemaian yang siap ditanam di sawah. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari verba menjadi nomina. 3. Tandur (V) : menanam dengan menancapkan benih padi ke lahan yang sudah disediakan

(lahan yang sudah digarit) Sufiks : -Eun  Tandureun (N)

(5)

Prefiks : Ng  Ngaseuk (V)

Kata di atas bermakna kegiatan menanam padi dengan membuat lubang-lubang di tanah atau lahan yang akan ditanami padi. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari nomina menjadi verba.

5. Muuh (V) : memasukan benih padi (butir padi) ke dalam lubang-lubang yang sudah dibuat sebelumnya.

Prefiks : Ng  Ngaseuk (V)

Kata di atas bermakna kegiatan memasukan benih padi ke dalam lubang-lubang yang sudah dibuat. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut tidak mengubah kelas kata. 6. Gapret (N) = alat untuk melepaskan atau merontokan bulir padi dari batangnya yang

terbuat dari kayu

Prefiks :Nga- ngagapret (V)

Kata di atas memiliki makna suatu perbuatan melepaskan atau merontokan bulir padi dengan cara memukul-mukulkan ikatan batang padi ke sebuah alat bernama gapret. Proses morfologis tersebut telah merubah kelas kata dari kelas kata nomina ke verba.

Sufiks: -eun  gapret-eun (N).

Kata tersebut bermakna ikatan atau batang padi yang sudah dipotong dan akan dirontokan dengan gapret. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut tidak mengubah kelas kata.

7. Catu (N) : upah untuk buruh tani yang membantu memanen padi. Konfiks : N-Keun  Nyatukeun (V)

Kata di atas bermakna proses membagi hasil panen padi dari si penggarap ladang/sawah kepada buruh tani. Pembagian tersebut bukan berupa uang, tetapi padi yang sudah siap untuk dikeringkan. Proses morfologis tersebut mengubah kelas kata nomina menjadi verba.

Sufiks : -Eun  Catuen (N)

Kata di atas bermakna padi atau hasil panen yang akan dihitung untuk dijadikan upah buruh tani. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut tidak mengubah kelas kata 8. Tebar (V) = menebarkan benih padi ke lahan persemaian sebelum ditanam di sawah.

Sufiks : -eun  Tebareun (N)

Kata di atas bermakna benih yang siap untuk disemai atau ditabur. Proses morfologis tersebut mengubah kelas kata verba menjadi nomina.

9. Mopok (V) menumpukkan tanah basah ke pematang sawah yang terikikis. Sufiks: -An Mopokan (V)

Kata di atas bermakna perbuatan atau kegiatan menumpukkan tanah basah ke pematang sawah yang sudah terkikis.

10. Ayeuh (V)  Tumbang, roboh Konfiks: Ka-an  Kaayeuhan (V)

(6)

11. Karut (Num) : bilangan untuk jumlah padi yang terdapat dalam karung yang dijahit. Sufiks : Nga-  Ngarut (V)

Kata di atas bermakna perbuatan memasukan padi yang sudah dipanen ke dalam karung. Karung yang sudah berisi padi tersebut kemudian dijahit dengan tali rapia. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari numeralia menjadi verba. Sufiks: -Eun  Karuteun (N)

Kata di atas bermakna padi yang sudah dipanen dan akan dimasukan ke dalam karung yang akan dijahit . Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari numeralia menjadi nomina.

12. Butun (Num) : bilangan untuk jumlah padi yang terdapat dalam karung yang diikat. Sufiks : Nga-  Ngabutun (V)

Kata di atas bermakna perbuatan memasukan padi yang sudah dipanen ke dalam karung. Karung yang sudah berisi padi tersebut kemudian diikat dengan tali. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari numeralia menjadi verba. Sufiks: -Eun  Butuneun (N)

Kata di atas bermakna padi yang sudah dipanen dan akan dimasukan ke dalam karung yang akan diikat. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari numeralia menjadi nomina.

13. Garet (V) : membuat kotak dan garus di petakan sawah yang akan ditanami padi. Prefiks : Nga-  Ngagaret (V)

Kata di atas bermakna perbuatan membuat garis di dalam petakan sawah untuk dijadikan dasar penanaman benih padi. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut tidak mengubah kelas kata

Sufiks: -eun -> Gareteun (N)

Kata di atas bermakna lahan atau petakan sawah yang sudah siap untuk diberi garis dasar penanaman padi. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari verba menjadi nomina.

14. Hiliwir (Adj) : sejuk karena ada angim yang bertiup perlahan-lahan. Prefiks: Nga-  Ngahiliwir (V)

Kata di atas bermakna perbuatan membersihkan padi dengan bantuan angin. Padi yang sudah dirontokkan diambil dengan bakul kemudian diangkat dan ditumpahkan. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari adjektiva menjadi nomina. Sufiks: -Eun  Hiliwireun (N)

Kata di atas bermakna padi yang sudah dirontokan dan akan dibersihkan dengan bantuan angin. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari adjektiva menjadi nomina.

(7)

Kata di atas bermakna perbuatan penanaman kembali padi yang mati dengan menanamkan benih baru yang seusia dengan padi yang mati. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut tidak mengubah kelas kata

Sufiks: -Eun  Ayumaneun (N)

Kata di atas bermakna padi yang mati dan harus ditanami kembali. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari verba menjadi nomina. 16. Beuner (Adj) = berisi, penuh.

Konfiks : Nga-keun Ngabeunerkeun (V)

Kata di atas bermakna upaya yang dilakukan petani agar butir menjadi bagus/berisi. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari adjektiva menjadi verba.

17. Serah (N) = cangkang beras yang masih terdapat pada beras

Konfiks : N-Keun  Nyerahkeun (V)

Kata di atas bermakna perbuatan memisahkan beras dari cangkangnya yang masih menempel. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari nomina menjadi verba.

18. Beunyer (N) = beras yang bubuk dan tidak layak untuk dimakan manusia Prefik : Nga  ngabeunyerkeun (V)

Kata di atas bermakna perbuatan membubukkan beras. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari nomina menjadi verba.

19. Bear (Adj)= kondisi nasi yang keras, butirnya terpisah-pisah Konfiks: Nga-Keun  Ngabearkeun (V)

Kata di atas bermakna membuat nasi yang lembek menjadi sedikit lebih keras. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari adjektiva menjadi verba. 20. Pulen (Adj)= Kondisi nasi yang lembek

Konfiks= Nga-Keun  Ngapulenkeun (V)

Kata di atas bermakna perbuatan membuat nasi menjadi lembek. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari adjektiva menjadi verba. 21. Derep (V) = kegiatan siap untuk memanen sawah

Konfiks = Nga-Keun  Ngaderepkeun (V)

Kata di atas bermakna perbuatan menyiapkan segala sesuatu untuk panen. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut tidak mengubah kelas kata.

Sufiks: eun Derepeun (N)

Kata di atas bermakna padi yang siap untuk dipanen. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari nomina menjadi verba.

22. Aron (N) = nasi yang dikeringkan Konfiks: Nga-keun  Ngaronkeun (V)

Kata di atas bermakna mengeringkan nasi. Fungsi morfosemantik dalam kata tersebut mengubah kelas kata dari nomina menjadi verba.

(8)

Prefiks: Nga  Ngageuges (V)

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

___________. 2007. Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta ___________. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Kridalaksana, Harimurti. 2010. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian: 1) Terdapat pengaruh lingkungan sosial terhadap tingkat pendidikan anak di Nagari Pematang Panjang Kabupaten Sijunjung, karena nilai thitung sebesar 2,639 >

Hidrogenasi adalah istilah yang merujuk pada reaksi kimia yang menghasilkan adisi hidrogen (H 2 ).Proses ini umumnya terdiri dari adisi sepasang atom hidrogen ke sebuah

Audio Watermarking merupakan teknik yang akan digunakan dalam perlindungan hak cipta ( copyright piracy ) dalam media suara tersebut, dengan proses penyisipan data informasi, yang

Sehingga pada akhirnya tercetusnya perancangan Aplikasi Bursa Kerja Khusus (BKK) Berbasis Web Menggunakan Android pada SMK Bani Muslim Kabupaten Pati yang memudahkan

Berdasarkan perangkaan 2001, Kementerian Pendidikan Malaysia menganggarkan seramai 290,000 murid sekolah dariapada 4.9 juta murid berkemungkinan memiliki beberapa

Aplikasi SLING dikembangkan dengan metodologi agile untuk mobile application yaitu Mobile-D.. Aplikasi tersebut telah berhasil dikembangkan dan diuji padatiga buah

Algoritma 3 digunakan dalam melakukan perhitungan nilai SPI pada data curah hujan dengan menggunakan data inputan selama satu periode akhir atau sebanyak 12 bulan dari baris

Jenis dari produk pakan ayam disesuaikan dengan segmentasi usia dan jenis ayam yang mengonsumsi pakan sehingga ayam mendapatkan nutrisi yang tepat dan dapat diolah menjadi pangan