PROPOSAL TEKNIS
PROGRAM PEMBERDAYAAN SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN DESA WISATA
NELAYAN (MITRABINA DESA WISATA NELAYAN)
PROPOSAL INI DIBUAT TAHUN 2001 KETIKA BATAM BARU SAJA MEMBENTUK PEMERINTAHAN SENDIRI.
CATATAN!
DOKUMEN INI BUKAN HAK CIPTA
SAYA SENDIRI, TAPI SAAT ITU SAYA SEBAGAI KETUA TIM DAN MAS PRASETYO DARI UBAYA SEBAGAI SALAH SATU ANGGOTA
SAYA UNGGAH DI SINI UNTUK MENAMBAH KHASANAN INFOR-MASI DAN INSPIRASI BAGI PARA PEGIAT PARIWIATA. SIAPA
TAHU DAN SEMOGA BERMANFAAT.
KATA PENGANTAR
Seiring dengan diberlakukannya Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, maka tantangan yang dihadapi Pemerintah Daerah adalah bagaimana mem-berdayakan sumber daya yang dimilikinya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Pengalaman telah membuktikan bahwa pengembangan sumber daya alam yang tidak sejalan dengan pengembangan sumber daya manusianya, telah men-imbulkan dampak yang sangat merugikan.
Oleh karena itu, Proposal teknis ini disampaikan dalam rangka pengembangan sum-ber daya alam dan sumsum-ber daya manusia secara terpadu dan sum-berkesinambungan guna pemberdayaan masyarakat yang sebesar-besarnya.
Proposal teknis ini disusun sebagai wujud kerjasama Perguruan Tinggi dengan Pemerintah di dalam mengembangkan Daerah Tujuan Wisata yang berbasiskan sum-ber daya alam dan budaya masyarakat setempat.
Dengan terlaksananya program ini, diharapkan dapat dicapai suatu keadaan di mana desa-desa nelayan di Batam dapat memiliki daya tarik untuk dikunjungi wisatawan, yang pada gilirannya akan menjadi pusat kegiatan dan pertumbuhan ekonomi di pu-lau-pulau.
Jakarta, Maret 2001
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN ... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Permasalahan ... 7
1.2.1 Permasalahan Umum ... 7
1.2.2 Permasalahan Umum Pada Desa-desa Nelayan di Batam ... 9
1.2.3 Permasalahan Khusus di Desa Nelayan di Batam ... 10
1.3 Nama Program ... 12
1.4 Maksud/Tujuan Program ... 12
1.4.1 Tujuan Umum ... 12
1.4.2 Tujuan Khusus ... 13
1.5 Sasaran Program ... 14
1.6 Target Setiap Tahapan Program Kegiatan ... 15
1.7 Pemetik Manfaat Program ... 17
BAB II. RUANG LINGKUP PROGRAM KEGIATAN ... 18
2.1 Lingkup Kegiatan ... 18
2.2 Rincian Lingkup Kegiatan ... 18
2.2.1 Identifikasi Potensi Objek Daya tarik dan Atraksi Wisata dan Pendataan Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat ... 18
2.2.2 Persiapan Sosial ... 20
2.2.3 Penyusunan Rencana Detail Kegiatan Pembinaan Sosial, Budaya Keagamaan dan Ekonomi ... 21
2.3 Pelaksanaan Pembinaan Sosial-Ekonomi ... 22
BAB III. DISAIN PELAKSANAAN PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN DAN EKONOMI ... 24
3.1 Model/PolaPendekatan (Strategi) Pembinaan ... 24
3.2 Tahapan Model Pembinaan Sosial-Ekonomi ... 25
3.3 Bentuk/Model Pilihan (Jenis) Pembinaan Sosial- Kemasyarakata dan Ekonomi ... 26
3.3.1 Pembinaan Sosial-Kemasyarakatan ... 26
3.3.2 Pembinaan Ekonomi ... 26
BAB IV. RINCIAN JENIS PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN DAN EKONOMI ... 27
4.1 Pembinaan Sosial-kemasyarakatan ... 27
4.2 Pembinaan Bidang Ekonomi ... 30
4.2.1 Pelatihan Teknik Pengelolaan Akomodasi ... 30
4.2.2 Teknik Pengelolaan Rumah Makan ... 31
4.2.3 Pelatihan Ketrampilan/Produksi Jasa-Boga ... 32
4.2.4 Pelatihan Budidaya Biota Laut dan Pemanfaatan Hutan Magrove ... 34
4.2.5 Pelatihan Budidaya Tanaman Pertanian Dataran Rendah ... 35
4.2.6 Pelatihan Ketrampilan Kewiraniagaan (Memulai Dan Mengelola Usaha) ... 37
4.3 Pelatihan Merintis Dan Mengelola Lembaga Keuangan Masyarakat Baitul Maal Wattamwil (BMT) ... 38
BAB V. ORGANISASI PELAKSANA ... 40
5.1 Struktur Organisasi Pelaksana ... 40
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan satu paket dengan UU No. 25 Tahun 1999 ten-tang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah menuntut adanya perubahan orientasi pembangunan daerah. Peru-bahan tersebut pada prinsipnya menyangkut penyeleng-garaan pemerintahan daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi, dan atau penyelenggaraan otonomi yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah. Hal-hal mendasar dalam UU ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi DPRD. Dengan demikian, pelaksanaan otonomi yang diatur dalam UU ini, diyakini akan mendorong daerah untuk lebih bersikap man-diri karena memiliki kewenangan penuh untuk mengurus dan mengontrol daerahnya sendiri. Kemandirian tersebut, bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi lebih baik, terma-suk pengelolaan pariwisata daerah yang lebih profesional dan tepat.
ta-wisatawan internasional ini mengalami kenaikan 3,1 persen dari tahun sebelumnya yaitu mencapai US$455 milyar (WTO, 2000). Kunjungan wisatawan Internasional ke Asia Pasific mengalami pertumbuhan yang menakjubkan mencapai 11,1 persen dan menjadi rekor baru dalam menerima kedatangan wisatawan internasional yaitu 97,2 juta orang. Pertumbuhan kedatangan wisatawan antara tahun 1995-1999 yang besar terjadi di Laos (50%), Cambodja (24%), dan Vietnam (18%), di mana negara-negara tersebut merupakan negara-negara baru anggota ASEAN.
enter-bekerja di Singapura, meningkatkan citra Batam menjadi daerah yang aman dan menyenangkan.
Sedangkan potensi produk yang dapat dikembangkan Dae-rah Kota Batam antara lain dengan memanfaatkan gugusan pulau yang memiliki keanekaragaman hayati (flora dan fau-na) sebagai megabiodiversity, aktivitas penduduk lokal se-bagai atraksi budaya, kesenian dan sejarah. Pulau-pulau di Daerah Kota Batam yang merupakan desa-desa nelayan, ditinjau dari sudut kepariwisataan, memiliki unsur keinda-han (natural-beauty), keaslian (originality), kelangkaan
(scarcity) dan keutuhan (wholesomeness). Ini merupakan
keunggulan dan keandalan pariwisata di Daerah Kota Batam. Keunikan dan kekhasan seni-budaya dan keadaan ekosistem desa setempat merupakan arah selera wisatawan dunia masa kini. Oleh karena itu harus dilestarikan, dikem-bangkan dan dipromosikan.
Salah satu alternaif pengembagan desa menjadi Desa Wisata adalah dengan pendekatan community tourism yang meru-pakan pengembangan objek daya tarik wisata berbasiskan kekuatan special interest dan small business pada local
community dan konsep pengembangan berkelanjutan (
sus-tainability). Konsep sustainable development sebagai "
de-velopment that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their
own needs" merupakan visi utama dalam mengembangkan
desa wisata nelayan. Demikian pula Pariwisata berkelanju-tan yang merupakan "seluruh bentuk dari pengembangan, pengelolaan dan kegiatan pariwisata yang berpedoman ling-kungan, integritas sosial dan ekonomi, alam yang tertata dengan baik serta mengembangkan sumberdaya budaya
secara terus menerus" akan benar-benar menjadi acuan.
1.2 PERMASALAHAN
1.2.1 Permasalahan Umum
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat tergambar bahwa pengembangan pariwisata sangat penting bagi berekonomi-an. Namun model pariwisata saat ini dan ke depan harus mempertimbangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat lo-kal dan kelestarian sumber daya alam dan budaya sebagai daya tarik wisata.
pem-Masyarakat lokal sebagai perencana, pelaksana, pengontrol dan evaluasi program-program mereka.
Dari hasil tinjauan lapangan yang dilakukan terhadap kondi-si beberapa desa pulau di Daerah Kota Batam dapat tergam-bar adanya beberapa hal yang perlu mendapat perhatian untuk diberdayakan yaitu; kesiapan masyarakat di dalam menerima kunjungan wisatawan, keterampilan untuk be-rusaha di bidang pariwisata, lingkungan pemukiman masyarakat desa yang berlum tertata. Tingkat pendidikan formal masyarakat sangat rendah.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah: (1) Kurang disa-darinya pemeliharaan lingkungan/fisik (2) Masih terbatasnya keterampilan berusaha yang hanya mengandalkan pada ke-mampuan melaut yang sangat dipengaruhi oleh iklim dan musim (3) Masih terdapatnya kesenjangan sosial dan ekonomi antara masyarakat pulau dengan masyarakat in-dustri di daratan kota Batam, (4) Rendahnya tingkat pen-didikan serta ketrampilan berusaha sebagian besar masyarakat desa, baik kepala rumah tangganya, ibu rumah tangga maupun remaja putus sekolah.
membu-rangka meningkatkan kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat terhadap ekosistemnya serta di dalam menerima kunjungan wisatawan.
Dengan demikian program pengembangan DESA WISATA NELAYAN saat ini menjadi alternatif pembangunan di pulau-pulau.
1.2.2 Permasalahan Umum Pada Desa-desa Nelayan di Batam
Dari hasil kunjungan awal terhadap kondisi wilayah pa desa di pulau-pulau, dapat diidentifikasi adanya bebera-pa hal kondisi sosial-budaya dan ekonomi yang masih men-jadi faktor kelemahan dalam pengembangan desa wisata nelayan yaitu:
1. Tingkat adaptasi perilaku sosial dan perilaku budaya masyarakat belum tertata, dan pola tinggal di pemukiman padat dan kumuh/tidak tertata (horisontal). Hal ini dapat diamati dan gejala misalnya: pola pemukiman yang tida teratur, sampah-sampah dibuang ke kolong rumah panggung sehingga manjadi kotor dan bau.
dilihat dari indikasi antra lain: sedikitnya informasi ten-tang potensi desa, yang mencerminkan perkembangan keadaan desa.
4. Rendahnya daya tarik wisata desa sebagai objek daya tarik wisata; yang dicirikan dengan belum diketahuinya sisi positif kegiatan pariwisata;
5. Minimnya atraksi wisata yang dilaksanakan oleh nelayan;
6. Belum teridentifikasinya objek daya tarik dan atraksi wisata yang ada di desa-desa nelayan;
1.2.3 Permasalahan Khusus di Desa Nelayan di Batam
1. Masalah Objek Daya Tarik dan Atraksi Wisata
§ Belum tertatanya lingkungan, pemukiman dan pantai sekitar desa nelayan, dan belum tergalinya potensi budaya setempat sebagai atraksi wisata yang menarik untuk dikunjungi;
§ Belum tersedianya fasilitas umum untuk komunikasi, yang dapat dipergunakan secara umum sebagai salah satu sarana kontak (komunikasi) lisan ataupun untuk pemakaian ketika keadaan darurat.
§ Belum termanfaatkannya lahan-lahan yang cocok un-tuk lahan pertanian dataran rendah;
§ Belum termanfaatkannya kondisi pasang surut air laut dan hutan mangrove untuk kepentingan usaha produktif;
§ Belum maksimalnya peranserta masyarakat desa, baik dalam cara pemanfaatan maupun pemeliharaan ling-kungan dan fasilitas yang tersedia;
§ Belum berperannya kelembagaan masyarakat secara maksimal dalam pembinaan masyarakat ke arah kesadaran hidup bersama dalam menjaga keharmoni-san masyarakat dengan lingkungan (ekosistem);
§ Belum tergalinya kreativitas seni dan budaya masyara-kat setempat sebagai jati diri masyaramasyara-kat nelayan setempat.
§ Belum tergalinya nilai-nilai seni, budaya dan aspek religius sebagai salah satu aspek antraksi dan daya tarik wisata;
3. Maslah Ekonomi
§ Belum tersusunnya rencanan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan;
§ Belum terselenggaranya pendataan maupun pem-binaan sektor ekonomi/usaha bagi masyarakat desa nelayan;
§ Belum belum tertatanya mekanisme pasar ikan yang dihasilkan nelayan;
§ Belum adanya usaha-usaha produktif yang dapat di-jadikan sebagai penyedia bagi kunjungan wisatawan.
1.3 NAMA PROGRAM
Program Pemberdayaan Sosial-Ekonomi Masyarakat melalui Pengembangan Desa Wisata Nelayan diberi nama MITRABINA DESA WISATA NELAYAN (MITRABINA DEWIYAN). Nama ini didasarkan atas sifat pemberdayaan yang merupakan ker-jasama kemitraan dalam membina Masyarakat Desa Ne-layan, antara Pemerintah Daerah Kota Batam dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.
1.4 MAKSUD/TUJUAN PROGRAM
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari program ini adalah:
§ Memberdayakan sosial-ekonomi masyarakat melalui pengembangan Desa Wisata Nelayan (DeWiYan) guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat desa nelayan serta terjaganya kelestarian sumber daya alam dalam pengembangan wisata desa yang berkelanju-tan.
§ Menciptakan desa di pulau-pulau menjadi desa nelayan yang menarik untuk dikunjungi wisatawan;
1.4.2 Tujuan Khusus
Sedangkan tujuan khusus dari program ini adalah:
§ Memberdayakan dan menata sumber daya melalui pengembangan Wisata Desa Nelayan berkelanjutan yang bertumpu pada potensi sumber daya dan akar budaya desa.
§ Mewujudkan pembangunan pariwisata desa yang di-rencanakan, dilaksanakan dan dikendalikan oleh masyarakat setempat.
§ Memberikan dan meningkatkan nilai tambah bagi usaha nelayan yang telah berjalan selama ini, melalui sentuhan pariwisata.
§ Membina dan menjaga kelangsungan ekosistem desa secara lestari dan berkelanjutan.
§ Meningkatkan upaya-upaya promosi melalui festival rakyat di desa nelayan.
§ Menciptakan peluang usaha dan kesempatan kerja baru di desa nelayan melalui kegiatan kepariwisataan.
§ Meningkatkan rasa kesadaran masyarakat masyarakat desa dalam hal memelihara lingkungan dan ekosistem pantai di sekitarnya.
§ Mengaktifkan dan menumbuhkan aktivitas untuk pemenuhan kebutuhan akan sarana pendidikan non for-mal untuk anak-anak, remaja maupun ibu rumah tangga warga masyarakat desa melalui berfungsinya kelem-bagaan sosial yang dikelola secara swadaya dari-oleh dan untuk warga masyarakat desa.
§ Menumbuhkan dan menyelenggarakan pembinaan usaha ekonomi melalui berfungsinya Lembaga Keuangan Masyarakat BMT/Koperasi yang pada tahap awal dikhu-suskan mengelola tabungan masyarakat serta menya-lurkan kredit usaha kecil.
1.5 SASARAN PROGRAM
Sasaran program ini adalah:
§ Terciptanya pengembangan desa dengan model desa wisata nelayan yang berbasiskan spesifikasi agroekosistem lokal;
§ Terbinanya masyarakat desa nelayan yang sadar pari-wisata di mana sektor paripari-wisata sebagai sumber penda-patan bagi peningkatan kesejahteraannya dan desanya;
§ Terpeliharanya sumber daya alam dan lingkungan secara lestari sebagai daya tarik wisata desa;
§ Meningkatnya pendapatan masyarakat dari pemanfaatan peluang usaha sektor pariwisata.
§ Meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke lokasi desa nelayan.
§ Meningkatnya jumlah peluang dan kesempatan berusaha di desa nelayan, sebagai dampak berkembangnya pari-wisata desa.
1.6 TARGET SETIAP TAHAPAN PROGRAM KEGIATAN
Tabel 1. Target Setiap Tahapan Kegiatan Bidang Pengembangan ODTAW, Pem-binaan bidang Sosial dan Ekonomi
Target Pengembangan Ob-jek Daya Tarik dan Atraski
Wisata
Target Pembinaan Bidang Sosial, budaya dan
keaga-maan
Target Pembinaan Bidang
Ekonomi
Tahap Pertama: Tahap Pertama: Tahap Pertama:
1. Teridentifikasinya po-tensi objek daya tarik dan atraksi wisata yang ada di wilayah desa ne-layan
1. Terselenggaranya sarasehan masyarakat desa nelayan
1. Teridentifikasinya jenis-jenis pelatihan yang te-pat untuk desa nelayan di wilayan mitrabina
2. Tersusunnya rencana model-model pengem-bangan kawasan
2. tersusunnya rancangan program pelatihan bi-dang sosial, budaya & keagamaan
2. tersusunnya rancangan program pelatihan bi-dang ekonomi
3. Tersusunnya rencana spatial penataan ODTW
3. Terselenggaranya penyuluhan sadar wisata dan sadar ling-kungan
3. terseleksinya calon pe-serta pelatihan bidang:
§ akomodasi & rumah makan
4. Tersusunnya model Citra Desa Wisata Nelayan
4. Terseleksinya calon peserta pelatihan untuk pelatihan bidang:
§ Keterampilan memulai lembaga sosial
§ Pengelolaan kelestarian sumber daya pantai dan hutan mangrove
§ pelatihan jasa boga
§ budidaya ikan laut dan pertanian dataran ren-dah
§ kerajinan/industri kriya
§ kelembagaan ekonomi
Tahap Kedua: Tahap Kedua: Tahap Kedua:
1. Terselenggaranya pena-taan objek daya tarik dan atraksi wisata
Terselenggaranya pelati-han social- budaya dan keagamaan, ekologi/ling-kungan bagi masyarakat
Terselenggaranya pelati-han-pelatihan bidang ekonomi yang berkaitan dengan pariwisata
2. terciptanya desa nelayan sebagai daerah tujuan wisata
gram rintisan, kunjun-gang wisatawan
dan pencanangan desa wisata nelayan oleh Pemko
tas ekonomi dari masyarakat lokal
2. terlaksananya monitor-ing dan evaluasi pro-gram
2. terbentuknya lembaga keuangan BMT/Koperas
1.7 PEMETIK MANFAAT PROGRAM
Pemetik manfaat dari program ini adalah masyarakat yang berada di wilayah pengembangan terutama yang terlibat di dalam pelatihan keterampilan dan penyuluhan.
BAB II
RUANG LINGKUP PROGRAM KEGIATAN
2.1 LINGKUP KEGIATAN
Program MITRABINA WISATA ini meliputi:
§ Identifikasi potensi objek Daya Tarik dan atraksi Wisata (ODTAW)
§ Identifikasi kondisi sosial-ekonomi masyarakat desa ne-layan
§ Persiapan sosial
§ Penyusunan rencana penataan spatial desa wisata nelayan
§ Penyusunan rencana detail kegiatan pembinaan sosial-ekonomi
§ Pelaksanaan pembinaan sosial-ekonomi di tiga lokasi (Pemping, Setoko dan Batu Besar)
2.2 RINCIAN LINGKUP KEGIATAN
2.2.1 Identifikasi Potensi Objek Daya tarik dan Atraksi Wisata dan Pendataan Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat
a. Target:
§ Teridentifikasinya potensi sumber daya pariwisata di wilayah desa nelayan
§ Tersajinya data mutakhir tentang:
− Komposisi pendidikan formal penduduk desa
− Komposisi profesi/kegiatan usaha
− Minat/motivasi terhadap pengembangan pari-wisata dan jenis pendidikan ketrampilan
− Potensi dan peluang lingkungan terhadap kegiatan-kegiatan sosial-ekonomi
§ Dapat dirumuskan objek-objek daya tarik wisata yang dapat dikembangkan
§ Dapat dirumuskan skala prioritas jenis-jenis pem-binaan sosial-ekonomi sesuai dengan minat/motivasi dan potensi lingkungan usaha,
§ Ditemukan metoda pendekatan yang sesuai untuk kegiatan-kegiatan pembinaan sosial-ekonomi di se-tiap lokasi desa mitrabina dalam rangka mencapai hasil yang semaksimal mungkin.
b. Sub-pekerjaan:
§ Penetapan metoda pendataan
§ Penetapan dan penyiapan media pendataan
§ Penyusunan panduan pendataan
§ Try-out pendataan
§ Pelaksanaan pendataan
§ Pengolahan data
§ Perumusan hasil dan kesimpulan
§ Lembar/formulir pengolahan data
d. Waktu: 15 (lima belas) hari kerja
2.2.2 Persiapan Sosial
a. Target:
§ Tersosialisasikannya program pembinaan sosial-ekonomi bagi masyarakat desa; aparat pemerintah setempat, tokoh masyarakat dan berbagai pihak yang dapat membantu kelancaran pembinaan.
§ Dapat dimobilisasikannya peranserta berbagai pihak dan warga masyarakat desa dalam mengoptimalkan pencapaian hasil pembinaan.
§ Dapat dipersiapkan calon-calon peserta setiap jenis pelatihan ketrampilan sesuai minat/motivasi.
b. Sub-pekerjaan
§ Penyiapan dan penggandaan brosur informasi pem-binaan sosial-ekonomi bagi masyarakat desa.
§ Kunjungan sosialisasi kepada aparat pemerintah setempat maupun tokoh-tokoh masyarakat.
§ Kunjungan sosialisasi kepada warga masyarakat desa
§ Rekruitment calon peserta pelatihan-pelatihan ket-rampilan
§ Penjajagan dan penyiapan tempat pelaksanaan pelatihan-pelatihan ketrampilan
c. Media:
§ Formulir pendaftaran calon peserta pelatihan-pelatihan ketrampilan
§ Petunjuk tata-cara dan peraturan untuk calon peserta pelatihan ketrampilan.
d. Waktu : 15 (lima belas) hari kerja
2.2.3 Penyusunan Rencana Detail Kegiatan Pembinaan Sosial, Budaya Keagamaan dan Ekonomi
a. Target:
§ Tersusunnya Panduan Teknis setiap jenis pelatihan ketrampilan
§ Tersusunnya Rincian Jadwal/Waktu pelaksanaan Pem-binaan Sosial-Ekonomi
§ Tersusunnya prosedur dan mekanisme penyeleng-garaan setiap jenis pelatihan ketrampilan.
b. Sub-Pekerjaan:
§ Konsultansi dengan pemerintah dan Tim Pendamping Teknis
§ Penyusunan dan penggandaan Panduan masing-masing jenis Pembinaan Sosial-Ekonomi Bagi Masyarakat desa:
− Panduan pelatihan mengelola akomodasi dan ru-mah makan
− Panduan pelatihan produksi jasa-boga
− Penduan pelatihan budiaya tanaman pertanian da-taran rendah
− Panduan pelatihan kewirausahaan (memulai usaha)
− Panduan pelatihan merintis dan mengelola kelem-bagaan sosial
− Panduan pelatihan merintis dan mengelola kelem-bagaan ekonomi (lembaga keuangan masyara-kat/BMT)
− Panduan pelatihan merintis dan mengelola balai kesehatan masyarakat
§ Konsolidasi calon-calon Pelatih dan penyusunan jad-wal/waktu pelaksanaan setiap jenis pelatihan ket-rampilan pada setiap Desa MITRABINA.
c. Media:
§ Masukan pengarahan dari Pimpro dan Tim Pendamp-ing Teknis
§ Hasil Pendataan Kondisi Masyarakat desa
§ Peralatan tulis dan Komputer
d. Waktu: 7 (tujuh) hari
2.3 PELAKSANAAN PEMBINAAN SOSIAL-EKONOMI
a. Target
§ Terselenggaranya setiap jenis pelatihan-pelatihan ketrampilan
sosial-kemasyarakatan dari-oleh dan untuk warga masyara-kat.
§ Terbentuknya kelembagaan ekonomi yang berfungsi menyelenggarakan kegiatan penghimpunan potensi ekonomi warga masyarakat desa dan mengelola kredit usaha skala kecil.
b. Sub-Pekerjaan
§ Sarasehan pembinaan sosial-ekonomi;
§ Rekruitment peserta masing-masing jenis pelatihan ketrampilan;
§ Konsolidasi dan koordinasi tenaga-tenaga pelatih dan asisten pelatih untuk setiap jenis pelatihan ket-rampilan;
§ Pelaksanaan pembinaan sosial dan ekonomi
§ Pelaporan.
BAB III
DISAIN PELAKSANAAN PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN DAN EKONOMI
3.1 MODEL/POLAPENDEKATAN (STRATEGI)PEMBINAAN
Pembinaan Sosial-kemasyarakatan dan Ekonomi bagi masyarakat desa memilih Pola Pendekatan (Strategi): INO-VASI BERKELANJUTAN. Maksud pilihan strategi INOINO-VASI (Pengembangan bentuk-bentuk baru) adalah: menyajikan pembinaan sosial maupun ekonomi yang berwawasan men-jawab permasalahan warga masyarakat desa dengan berpi-jak pada potensi lokal yang ada. Inovasi tidak saja dalam metoda penyajian (proses) tetapi juga dalam pemberian In-put (masukan) materi pembinaan. BERKELANJUTAN adalah: menggali, menghimpun dan mengelola kemampuan swadaya warga/masyarakat desa dalam upaya mamaksimal-kan hasil yang dicapai untuk ditindaklanjuti oleh war-ga/masyarakat Desa Wisata Nelayan.
Dengan demikian strategi INOVASI BERKELANJUTAN memiliki unsur pendekatan sbb:
a. Proses maupun Input (masukan) yang diberikan selalu mempertimbangkan agar dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memunculkan kreativitas warga Desa Ne-layan dalam rangka membenahi kondisi sosial maupun ekonomi yang menjadi masalah masyarakat.
c. Melibatkan peranserta warga desa nelayan sedini mung-kin dalam upaya menumbuhkan rasa memiliki terhadap kegiatan pembinaan sehingga diharapkan dapat memeli-hara dan menindaklanjuti hasil-hasil yang dicapai pada masa proyek.
d. Mencari sekaligus membina peluang kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya pengembangan tindak-lanjut.
3.2 TAHAPAN MODEL PEMBINAAN SOSIAL-EKONOMI
Strategi/pendekatan dalam menyelenggarakan program MI-TRABINA DEWIYAN terdiri atas empat tahapan seperti digambarkan pada bagar berikut:
Tahap I
1. Sosialisasi 1. Pemberian Input Pembinaan
1. Penjajagan Ker-jasama Intern maupun Ekstem
1. Evaluasi
2. Seleksi 2. Penggalian Potensi Swadaya
3. Perencanaan dan Pemantapan Pelaksanaan Ber-sama Calon Pe-serta.
mau-3.3 BENTUK/MODEL PILIHAN (JENIS)PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATA DAN EKONOMI
3.3.1 Pembinaan Sosial-Kemasyarakatan
§ Sarasehan masyarakat desa;
§ Pelatihan memulai dan mengelola kelembagaan sosial (taman pendidikan untuk anak dan lbu);
§ Pelatihan memulai dan mengelola balai kesehatan (kesehatan masyarakat dan lingkungan)
§ Pelatihan mengelola kelestarian sumber daya alam pesisir dan hutan mangrove
3.3.2 Pembinaan Ekonomi
§ Pelatihan mengelola akomodasi dan rumah makan;
§ Pelatihan industri rumah tangga jasa boga;
§ Pelatihan mengelola atraksi wisata;
§ Pelatihan budidaya biota laut (biota pesisir; ikan keram-bamba, rumput laut)
§ Pelatihan budidaya tanaman pertanian dataran rendah;
§ Pelatihan memulai dan mengelola kelembagaan ekonomi (BMT/Koperasi);
BAB IV
RINCIAN JENIS PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN DAN EKONOMI
4.1 PEMBINAAN SOSIAL-KEMASYARAKATAN
4.1.1 Sarasehan/Lokakarya
a. Target:
§ Tersosialisasikannya program pembinaan sosial-ekonomi bagi aparat pemerintahan setempat, tokoh masyarakat dan warga masyarakat desa setempat;
§ Diperolehnya masukan-masukan dalam rangka pen-capaian hasil yang optimal.
b. Jumlah Peserta: 30 orang utusan
c. Langkah/Metoda:
§ Penyiapan materi saraseharl/lokakarya
§ Penyiapan peserta, waktu dan lokasi penyelenggaraan
§ Penyiapan nara-sumber
§ Masukan dan nara-sumber dan dialog dengan peserta
d. Peralatan
§ Brosur Informasi Pembinaan Sosial-Ekonomi
§ Rancangan jadwal pelaksanaan pembinaan
§ Rancangan rincian teknis pelaksanaan pembinaan
4.1.2 Pelatihan Ketrampilan Memulai Dan Mengelola Kelembagaan Sosial
a. Target
§ Peserta menguasai teknis perintisan dan pengelolaan Kelembagaan Sosial
§ yang dapat menjawab kebutuhan akan kegiatan so-sial-kemasyarakatan warga.
§ Peserta Menguasai pencatatatan administrasi pengel-olaan Kelembagaan Sosial;
§ Peserta menguasai Teknis pembuatan Rencana Kerja;
b. Jumlah peserta (pemetik manfaat) 40 (empat puluh)
c. Materi:
§ Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata
§ Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat de-sa
§ Peran dan fungsi lembaga sosial di lingkungan
§ Pengelolaan administrasi umum kelembagaan sosial
§ Pengelolaan administrasi keuangan kelembagaan so-sial
§ Teknik menyusun rencana kerja
§ Praktek megelola lembaga sosial-kemasyarakatan secara magang.
d. Metoda Penyampaian:
§ Pemberian teori di dalam kelas
f. Peralatan/Media:
§ Buklet pengelolaanlingkungan pesisir dan hutan man-grove
§ Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa
§ Bahan-bahan praktek admisnistrasi pengelolaan Lem-baga Sosial
§ Panduan penyusunan Rencana Kerja
4.1.3 Pelatihan Teknik Kesehatan Masyarakat/Lingkungan/Pesisir
a. Target
§ Terlatihnya 40 orang tenaga yang memahami teknik memulai dan mengelola klinik mandiri;
§ Setiap desa memiliki tenaga yang memahami tentang cara-cara penyuluhan kesehatan masyara-kat/lingkungan melalui peran klinik mandiri.
b. Jumlah Peserta: 40 orang utusan
c. Materi:
§ Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata
§ Teknik penyuluhan kesehatan masyara-kat/lingkungan/pesisir
§ Pengenalan peran balai kesehatan dalam pelayanan kesehatan masyarakat dan lingkungan
d. Metoda penyampaian:
§ Teori di dalam kelas
§ Praktek perintisan pendirian balai kesehatan
§ Studi banding balai kesehatan
e. Waktu: 3 (tiga) bulan
f. Peralatan/media:
§ Panduan pendirian balai kesehatan
§ Panduan pengelolaan/manajemen balai kesehatan
§ Panduan teknik penyuluhan kesehatan masyara-kat/lingkungan
§ Poster-poster kesehatan masyarakat/lingkungan
4.2 PEMBINAAN BIDANG EKONOMI
4.2.1 Pelatihan Teknik Pengelolaan Akomodasi
a. Target
§ Terlatihnya masyarakat dalam mengelola rumah ting-gal
§ Tersedianya rumah tinggal yang layak sebagai ako-modasi bagi wisatawan;
§ Peserta menguasai pencatatan usaha dari hasil penjualan kamar.
b. Jumlah Peserta: 40 orang
c. Materi
§ Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata
§ Pengetahuan dasar tatagraha
§ Pengetahuan dasar melayani tamu
§ Pengetahuan dasar pencatatan transaksi
§ Pengerahuan dasar menghitung untung rugi usaha
d. Waktu: 2 (dua) Bulan
e. Metoda Penyampaian:
§ Pembekalan teori
§ Simulasi
f. Peralatan/Media
§ Buku panduan pengelolaan akomodasi/rumah tinggal
§ Buku panduan kebersihan lingkungan rumah tinggal
§ Buku panduan tatagraha
§ Buklet dan alat tulis
4.2.2 Teknik Pengelolaan Rumah Makan
a. Target
§ Terlatihnya masyarakat dalam mengelola rumah makan
§ Tersedianya rumah makan yang memenuhi standard kesehatan bagi masyarakat dan wisatawan;
§ Peserta menguasai pencatatan usaha dari hasil penjualan makanan dan minuman.
b. Jumlah Peserta: 40 orang
§ Kebersihan/kesehatan lingkungan rumah makan
§ Pengetahuan dasar menu
§ Pengetahuan dasar melayani tamu
§ Pengetahuan dasar pencatatan transaksi
§ Pengetahuan dasar perhitungan untung rugi usaha
d. Waktu: 2 (dua) Bulan
e. Metoda Penyampaian:
§ Pembekalan teori
§ Simulasi
f. Peralatan/Media
§ Buku panduan kebersihan lingkungan rumah makan
§ Buku panduan pengelolaan rumah makan
§ Buklet dan alat tulis
4.2.3 Pelatihan Ketrampilan/Produksi Jasa-Boga
a. Tujuan Pelatihan
§ Peserta menguasai teknis pembuatan aneka makanan ringan yang layak jual dan memenuhi persyaratan kesehatan.
§ Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan setiap jenis makanan yang dibuat.
§ Peserta menguasai pencatatan usaha dari hasil penjualan makanan yang diproduksi.
c. Materi:
§ Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pariwisata
§ Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat de-sa;
§ Penjajagan pasar dan selera konsumen terhadap ma-kanan ringan disekitar masyarakat;
§ Kalkulasi biaya produksi untuk setiap pembuatan jenis makanan ringan;
§ Praktek tingkat dasar;
§ Praktek Tingkat Mahir;
§ Praktek memasarkan;
§ Praktek menyusun buku harian usaha;
§ Pinjaman ujicoba modal usaha melalui LEMBAGA KEU-ANGAN/BMT
§ Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku penjualan
d. Metoda Penyampaian:
§ Pembekalan teori
§ Pembekalan praktek mengolah jasa-boga
§ Praktek penjualan hasil jasa-boga
e. Waktu : 3 bulan ( 25 kali pertemuan @ 4 jam )
f. Peralatan:
§ Buku catatan penjualan
§ Buku angsuran pinjaman
4.2.4 Pelatihan Budidaya Biota Laut dan Pemanfaatan Hutan Magrove
a. Tujuan Pelatihan
§ Peserta menguasai teknis budidaya ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi;
§ Peserta menguasai teknis budidaya rumput laut dan teknologi pengolahannya;
§ Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan produksi ikan/budidaya dan rumput laut.
§ Peserta menguasai pencatatan usaha budiaya ikan dan rumput laut.
b. Jumlah peserta (pemetik manfaat): 40 (empat puluh) orang warga masyarakat desa nelayan.
c. Materi:
§ Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pari-wisata;
§ Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat de-sa;
§ Pengenalan karakteristik biota laut yang memiliki nilai ekonomi;
§ Teknik pembiakan ikan di keramba;
§ Teknik budidaya/pembesaran ikan di keramba;
§ Kalkulasi biaya budidaya ikan, rumput laut;
§ Praktek menyusun buku harian usaha;
§ Pinjaman ujicoba modal usaha melalui LEMBAGA KEU-ANGAN/BMT
§ Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku penjualan
d. Metoda Penyampaian:
§ Pembekalan teori;
§ Pembekalan praktek pembiakan ikan/rumput laut;
§ Pembekalan praktek budidaya ikan/rumput laut;
e. Waktu : 3 bulan ( 25 kali pertemuan @ 4 jam )
f. Peralatan:
§ Buklet penyuluhan kelestarian sumber daya alam dan kepariwiataan
§ Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa;
§ Bahan-bahan praktek budidaya ikan/rumbut laut;
§ Buku catatan pengelolaan;
§ Buku angsuran pinjaman;
4.2.5 Pelatihan Budidaya Tanaman Pertanian Dataran Rendah
a. Tujuan Pelatihan
§ Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan produksi budaya tanaman per-tanian dataran rendah.
§ Peserta menguasai pencatatan usaha budiaya per-tanian dataran rendah.
b. Jumlah peserta (pemetik manfaat): 40 (empat puluh) orang warga masyarakat desa nelayan.
c. Materi:
§ Wawasan kelestarian sumber daya alam dan pari-wisata;
§ Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat de-sa;
§ Pengenalan tanaman pertanian dataran rendah;
§ Pengenalan pengolahan tanah dan cara menanam;
§ Teknik perabukan, pengendaliah hama penyakit tana-man;
§ Teknik pembiayakan vegetatif/generatif;
§ Teknik membudidayakan sayuran;
§ Kalkulasi biaya budidaya tanaman pertanian;
§ Praktek menyusun buku harian usaha;
§ Pinjaman ujicoba modal usaha melalui LEMBAGA KEU-ANGAN/BMT
§ Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku penjualan;
§ Pembekalan praktek budidaya sayuran dataran rendah;
§ Pembekalan praktek budidaya tanaman buah-buahan;
e. Waktu : 3 bulan (25 kali pertemuan @ 4 jam)
f. Peralatan:
§ Buklet penyuluhan kelestarian sumber daya alam dan kepariwiataan
§ Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa;
§ Bahan-bahan praktek budidaya tanaman pertanian da-taran rendah;
§ Buku catatan pengelolaan;
§ Buku angsuran pinjaman;
4.2.6 Pelatihan Ketrampilan Kewiraniagaan (Memulai Dan Mengelola Usaha)
a. Target:
§ Peserta menguasai teknis membaca peluang pasar sekaligus teknis porolehan dan cara memasarkan produk (barang).
§ Peserta menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) harga pokok penjualan setiap barang yang akan dita-warkan kepada konsumen.
§ Peserta menguasai pencatatan usaha dari hasil penjualan barang yang dijual.
§ Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat de-sa.
§ Penjajagan pasar dan selera konsumen terhadap ba-rang yang akan dijual
§ Kalkulasi Harga Pokok Pembelian dan Penjualan.
§ Praktek pemasaran barang tingkat dasar.
§ Praktek pemasaran barang tingkat lanjutan.
§ Praktek menyusun buku harian pembelian dan penjualan barang.
§ Pinjaman ujicoba modal usaha.
§ Supervisi angsuran pinjaman dan pencatatan buku hasil penjualan
d. Waktu : I bulan ( 12 kali pertemuan @ 4 jam )
e. Media:
§ Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa.
§ Pedoman tentang kewiraniagaan (Tehnik menjual ba-rang).
§ Buku catatan hasil pembelian dan penjualan barang.
§ Buku angsuran pinjaman.
4.3 PELATIHAN MERINTIS DAN MENGELOLA LEMBAGA KEUANGAN MASYARAKAT BAITUL MAAL WATTAMWIL (BMT)
a. Target
§ Menguasai teknis penghitungan (kalkulasi) kredit un-tuk usaha skala kecil.
§ Menguasai pencatatatan administrasi keuangan
b. Jumlah peserta (pemetik manfaat) 40 (empat puluh) orang
c. Materi
§ Penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat de-sa.
§ Pemahaman konsep dasar lembaga keuangan masyarakat
§ Praktek Administrasi keuangan
§ Praktek menyusun rencana kerja dalam cash flow
§ Pinjaman ujicoba untuk pendirian lembaga keuangan masyarakat.
§ Supervisi pemantapan administrasi keuangan dan penerapan rencana kerja cash flow.
d. Waktu 3 bulan (reguler)
e. Peralatan/Media
§ Buklet penyuluhan peran dan tanggungjawab masyarakat desa.
§ Bahan - bahan praktek tentang penyusunan admis-nistrasi keuangan
BAB V
ORGANISASI PELAKSANA
5.1 STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANA
Untuk memperlancar pelaksanaan kerja program MITRABINA WISATA, maka disusun organisasi pelaksana seperti pada gambar struktur organisasi berikut:
PEMDA KOTA BATAM
c.q. Dinas xxx
MAN-PRO TEAM AHLI
TEAM LEADER
TEAM LEADER
TEAM LEADER
↓
↓
↓
PELATIH PELATIH PELATIH
↓
↓
↓
5.2 TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB POKOK PELAKSANA KEGIATAN
1. Manajer Proyek
§ Bertanggungjawab terhadap keberhasilan proyek secara keseluruhan kepada Pemda Kota c.q. Pimpro.
§ Mengkoordinasikan dengan semua tenaga ahli dan pelatih agar proyek berjalan sesuai dengan rencana yang ada di TOR.
§ Membuat laporan bulanan, tengah dan akhir untuk keseluruhan jalannya proyek.
§ Melakukan penagihan kepada Pemda Kota sesuai bo-bot pekerjaan yang telah dicapai.
§ Melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat, lurah dan instansi terkait agar kegiatan berjalan lancar.
2. Team Leader
§ Memotivasi para pelatih agar bekerja dengan ber-sungguh-sungguh.
§ Senantiasa memantau jalannya kegiatan sehingga tid-ak menyimpang dan TOR.
§ Mengadakan rapat bulanan untuk monitoring dan evaluasi jalannya kegiatan.
§ Meluruskan kembali, apabila ada kegiatan yang me-nyimpang dan TOR.
§ Bersama-sama dengan para pelatih merekrut para pe-serta pelatihan ketrampilan, pe-serta mengadakan sosial-isasi kegiatan kepada masyarakat.
3. Tenaga Ahli
§ Menyiapkan para pelatih yang akan diterjunkan di lapangan
§ Membuat modul pelatihan yang akan diterapkan di lapangan
§ Melakukan supervisi para pelatih agar pelaksanaan pelatihan berjalan sesuai dengan TOR
§ Memonitor jalannya pelatihan sehingga sesuai dengan modul yang telah dibuat, serta tepat waktu
4. Pelatih
§ Melatih para peserta sesuai dengan modul pelatihan yang ada.
§ Membuat berita acara kegiatan pelatihan.
§ Membuat laporan bulanan pelaksanaan kegiatan, setelah disupervisi tenaga ahli diserahkan kepada Ma-najer Proyek sebagai bahan membuat laporan bulanan.
§ Selalu koordinasi dengan Tenaga Ahli dan Team Lead-er dalam mengadakan pelatihan baik menyangkut tempat, waktu dan biaya.
§ Memonitor perkembangan setiap peserta pelatihan, seperti: kehadiran, keseriusan dll.
5. Office Manajer
§ Mengelola sarana pendukung kegiatan.
§ Membantu tugas-tugas manajer proyek terutama ma-salah administrasi proyek.
§ Membantu mengelola sarana dan prasarana kegiatan selama masa proyek.
§ Membantu setiap ada kegiatan pelatihan.
6. Operator Komputer
§ Merawat dan memelihara komputer proyek.