TUGAS ILMU PRODUKSI TANAMAN
EFISIENSI RADIASI MATAHARI
Oleh:
Muhammad Bachtiar M P2AA12003
PROGRAM STUDI AGRONOMI PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
Efisiensi Radiasi Matahari pada Tanaman Kacang Hijau
Efisien radiasi matahari merupakan rasio energi yang terkandung dalam tanaman dan energi yang hilang karena respirasi dengan energi yang dipancarkan matahari. Energi yang terkandung dalam tanaman dapat diketahui melalui total biomassa yang terkandung dalam tanaman, sedangkan energi matahari yang diberikan dapat diperkirakan dengan menghitung faktor klimatologi yang ada dilahan pada saat tanam.
Efisiensi radiasi matahari tanaman kacang hijau dihitung dari tanaman yang ditanam di daerah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Tanaman kacang hijau ini ditanam pada bulan Desember 2009 dan panen pada bulan Pebruari 2010 oleh Huzein Zhafa M. Tanaman kacang hijau diberi perlakuan konsentrasi POC dan pupuk K. Perlakuan konsentrasi POC terdiri dari 4 taraf yaitu P0 (0 ppm), P1 (1500 ppm), P2 (3000 ppm), dan P3 (4500 ppm). Perlakuan pupuk K terdiri dari 4 taraf yaitu K0 (0 kg/ ha), K1 (40 kg/ ha), K2 (60 kg/ ha), dan K3 (80 kg/ ha).
Data klimatologi diperoleh dari stasiun pengamatan cuaca bojongsari. Penghitungan energi radiasi matahari dihitung dengan mengetahui suhu minimum dan maksimum bulanan yang diolah menggunakan cropwat untuk memperoleh data rata-rata harian energi radiasi matahari tiap bulannya.
Data suhu minimum-maksimum bulanan tahun 2009. Bulan Minimum (°C) Maksimum (°C)
Data suhu minimum-maksimum bulanan tahun 2010 Bulan Minimum (°C) Maksimum (°C) Januari 25.7 28.5
Dari data suhu minimum dan maksimum tersebut diolah menggunakan cropwat untuk mengetahui rata-rata energi radiasi matahari harian tiap bulannya.
Data rata-rata energi radiasi matahari harian tiap bulan tahun 2010 untuk menghitung energi radiasi matahari yang dipancarkan pada masa tanam kacang hijau. Tanaman kacang hijau dalam penelitian ini ditanam pada bulan Desember 2009 dan panen pada bulan Pebruari 2010, maka diperoleh total energi radiasi matahari selama tanan per hektarnya sebesar 9505000000 kj.
Energi yang terkandung dalam tanaman diperhitungkan dari total biomassa tanaman yang dikonversikan menjadi energi.
Data total biomassa tanaman kacang hijau Perlakua
n tajuk (g)Bobot Bobot akar (g) biji (g)Bobot tanaman (g)Bobot Bobot perha (g)
P0 4.84 1.36 8.1 14.3 3575000
P1 4.96 1.46 8.52 14.94 3735000
P2 5.11 1.29 8.85 15.25 3812500
P3 5.51 1.43 9.62 16.56 4140000
K0 4.95 1.32 8.6 14.87 3717500
K1 5.13 1.27 8.71 15.11 3777500
K2 5.25 1.5 8.78 15.53 3882500
K3 5.12 1.46 9.01 15.59 3897500
Bobot 1 mol glukosa adalah 180 g, setiap 1 mol glukosa ini dapat menghasilkan energi sebesar 2823 kj. Bobot per ha yang dikonversikan menjadi energi akan menunjukkan energi yang dapat dihasilkan per ha nya.
P0 56067916.67
Energi yang terbentuk dari hasil fotosintesis tidak seluruhnya membentuk biomassa, akantetapi ada yang hilang dalam proses respirasi. Besarnya kehilangan ini sekitar 25 %. Maka total energi yang diperoleh dari proses fotosintesis adalah energi dari biomassa dan energi yang hilang pada respirasi.
Perlakuan Total energi per ha (kj) P0 74757222.22
Efisiensi radiasi matahari dapat diperoleh dari rasio energi total tanaman per ha dengan energi yang diberikan matahari per ha nya.
Perlakuan Efisiensi radiasimatahari (%)
radiasi matahari. Pupuk POC yang diberikan mengandung unsur hara mikro yang pembentuk berat kering (Rosmarkam, 2001 dalam Zhafa, 2010).
Efisiensi radiasi matahari tertinggi yang diperoleh pada perlakuan 4500 ppm POC dipengaruhi oleh bobot kering tanaman perlakuan tersebut yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain. Bobot kering tanaman ini dipengaruhi oleh variabel pertumbuhan yang lain seperti bobot kering tajuk, bobot kering akar, bobot biji. Bobot kering tajuk dan bobot biji dalam penelitian ini memiliki nilai yang berbeda nyata, sedangkan bobot kering akarnya tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel yang nyata ini yang lebih berpengaruh terhadap bobot kering tanaman.
Bobot kering tajuk dipengaruhi oleh nilai variabel jumlah daun, tinggi tanaman, dan luas daun. Jumlah daun dan tinggi tanaman yang memiliki nilai tertinggi adalah pada perlakuan POC 4500 ppm. Hal ini yang menyebabkan bobot kering tajuk pada perlakuan ini memiliki nilai yang tinggi pula. Luas daun berpengaruh terhadap laju fotosintesis (Sitompul dan Guritno, 1995 dalam Zhafa, 2010). Daun yang semakin luas akan memperluas pula daerah fotosintesis yang dapat dilakukan tanaman. Meningkatnya laju fotosintesis tanaman akan meningkatkan hasil fotosintatnya yang disimpan dalam organ tanaman.
Bobot kering akar memiliki nilai yang tidak berbeda nyata disebabkan oleh cara pemberinan POCnya. Perlakuan POC yang diberikan melalui daun, sehingga tidak berpengaruh terhadap akar tanaman. Unsur hara yang terkandung dalam POC diserap melalui stomata yang ada pada daun, sehingga efeknya lebih tampak di bagian tajuk tanaman.