• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA KOMUNIKASI DALAM KEPEMIMPINAN SRI S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GAYA KOMUNIKASI DALAM KEPEMIMPINAN SRI S"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1

JURNAL

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan

Minat Utama Public Relations

Oleh :

WINDY AYU MASRURROH NIM. 0911220128

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

Gaya Komunikasi dalam Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Windy Ayu Masrurroh 0911220128 Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

2013

Sri Sultan Hamengku Buwono X is a King of Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat which is also being trusted to be governor of Daerah Istimewa Yogyakarta for 2012 – 2017 period. As a king and governor in the same time, it gives effect on his leadership style, so he must be able to come between his figure as a King either as a Governor of DIY. This research’s purpose is to analyses leadership communication style of Sri Sultan Hamengku Buwono X as governor of Daerah Istimewa Yogyakarta. Method being used is qualitative descriptive with observation, structured interview and depth interview completed also by documentation.

Results showing that Sri Sultan Hamengku Buwono X adhere democratic style in his leadership. Sri Sultan Hamengku Buwono X also adhering Jawa leadership philosophy, Ing Ngarso Sung Tuludho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Sri Sultan Hamengku Buwono X has a supportive communication style, in which he has a low dominance and high sociability in his leadership as governor DIY. In interaction, Sri Sultan Hamengku Buwono X adhere Jawa philosophy Dupak Bujang, Esem Bupati, Sasmita Narendra. Sri Sultan is a leader who always put dialogue with staff DIY and his people as number one priority, but the problem come from his people who still reticent with Sri Sultan Hamengku Buwono X’s strong charisma and his position as a King of Yogyakarta.

Key Words : Communication Style, Leadership, Governor.

PENDAHULUAN

(3)

dengan yang telah direncanakan. Kemampuan komunikasi yang baik akan sangat membantu semua proses yang ada dalam suatu organisasi atau lembaga.

Selain itu, jika dikaitkan dengan kepemimpinan, maka komunikasi yang baik sangatlah penting dimiliki oleh suatu pemimpin karena berkaitan dengan tugasnya untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, mendorong anggota untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan serta mencapai efektifitas dalam kepemimpinan, perencanaan, pengendalian, koordinasi, latihan, manejemen konflik serta proses-proses organisasi lainnya (Vionardi, 2011, h.1).

Kepemimpinan dan komunikasi merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dari Organisasi. Kepemimpinan (leadership) merupakan unsur yang sangat penting dalam membawa suatu bangsa kepada tataran peradaban tertentu (Suratno, 2006, h.7). Banyaknya kerajaan yang ada di Indonesia tentu saja tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan Jawa yang telah melekat pada diri masyarakatnya. Sebagai falsafah yang bersifat mayoritas, falsafah hidup orang Jawa terus berkembang dan dijunjung tinggi oleh masyarakatnya sehingga sistem politik dan birokrasi yang berlaku lebih banyak menganut budaya Jawa. Hal inilah yang kemudian dapat memberikan warna yang kuat terhadap suatu kebijakan tertentu (Cedderoth, 2001, h.49).

Misalnya saja dalam kepemimpinan Jawa, orang cenderung menonjolkan figur kepemimpinan daripada sistem kepemimpinan. Misalnya saja pada suatu lembaga, setiap pergantian pimpinan maka akan selalu diikuti dengan pergantian kebijakan sesuai ”selera” sang pemimpin. Gambaran ini juga tampak dalam gelar raja Jawa yang menggenggam semua aspek pemerintahan dari sosial dan pemerintahan dengan ungkapan berbudi bawa leksana, bau dendha nyakrawati, amirul mukminin, kalifatullah\ sayidin panatagama (pemurah laksana angin, yang menghukum dan menyempurnakan, pimpinan orang mukmin, wakil Allah di bumi, pimpinan yang mengatur agama), (Damardjati, 1993, h.44).

(4)

kerendahan hati (adhap-asor) dan kelembutan (lembah-manah). Misalnya saja pada saat menyampaikan pendapat, orang Barat akan berkata I think (saya pikir), sedangkan orang Jawa akan berkata “saya rasa”, karena lebih mengedepankan aspek kebesaran hati dan kehalusan budi atau dalam bahasa sekarang disebut kecerdasan emosional (Damardjati, 1993, h.40).

Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah salah satu Gubernur yang ada di Indonesia yang memiliki reputasi yang cukup baik. Sejak tahun 1998 hingga saat ini, ia merupakan Raja sekaligus Gubernur di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepemimpinannya yang sangat baik ini tentu saja tidak lepas dari latar belakangnya yang juga sebagai Raja Kraton Ngayogyakarta. Kepemimpinan yang ia dapatkan secara turun-temurun tidak membuatnya mengabaikan nilai-nilai luhur dalam dirinya yang jarang sekali dimiliki oleh pemimpin lain saat ini.

Keberhasilan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam memimpin sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta tentu saja juga dipengaruhi oleh gaya komunikasinya. Setiap orang memiliki gaya komunikasi yang unik. Setiap individu memiliki gaya komunikasi mereka sendiri sehingga menghasilkan sesuatu yang unik (Reece & Brandt, 1993, h.122). Sebagai seorang pemimpin di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X memiliki gaya komunikasi yang unik pula. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang profesinya yang juga sebagai Raja dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selain dipengaruhi latar belakang profesi, gaya komunikasi juga dipengaruhi oleh dominasi, sosiabilitas pemimpin serta situasi dan kondisi setempat, baik budaya dan kebiasaan yang ada, maupun perkembangan politik yang terjadi di wilayahnya masing-masing. Dengan demikian, mereka menggunakan kombinasi perilaku komunikatif yang berbeda ketika menanggapi keadaan sekelilingnya.

(5)

Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta”.

RUMUSAN MASALAH

Terkait dengan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini yaitu “Bagaimanakah gaya komunikasi dalam kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta?

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriftif karena peneliti ingin menggali data mengenai gaya komunikasi dalam kepemipinan yang dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur DIY. Penggunaan metode kualitatif deskrtiptif dianggap relevan untuk memperoleh informasi secara lengkap dan mendalam mengenai bagaimana gaya komunikasi dalam kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menjabat sebagai Gubernur DIY.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling.

Purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu berdasarkan tujuan penelitian (Kriyantono, 2007:154). Subjek dalam penelitian ini berjumlah 14 orang yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur DIY, perwakilan pejabat eselon I, II, III, IV, perwakilan staf Pemda DIY, wartawan, dan masyarakat umum. Sedangkan teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara terstruktur, wawancara mandalam observasi, dan dokumentasi. Persetujuan informan diperoleh setelah informan mendapatkan penjelasan mengenai proposal penelitian. Karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui etika dan profesionalisme wartawan, maka peneliti akan melindungi nama baik informan dengan cara menyembunyikan identitas informan dalam penelitian ini.

(6)

datanya sudah jenuh (Sugiyono, 2011:246). Sedangkan untuk menguji kebenaran informasi yang diberikan oleh narasumber, peneliti menggunakan analisis trianggulasi sumber dan metode. Di sini, peneliti membandingkan pernyataan informan melalui data hasil wawancara, catatan observasi di lapangan, serta dokumen lain yang sekiranya dapat mendukung penelitian ini. Selain itu peneliti juga membandingkan pernyataan dari sumber yang satu dengan sumber lainnya. Perbandingan ini bertujuan untuk menemukan konsistensi data sehingga data yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

HASIL PENELITIAN

Modal Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan modal agar proses kepemimpinannya dapat berjalan dengan baik. Modal utama menjadi pemimpin terdiri atas modal intrinsik dan modal eksintrik. Kedua modal ini jika dimiliki oleh seorang pemimpin, maka akan membuat seseorang dapat diterima keberadaannya oleh masyarakat. Modal intrinsik terdiri atas (Teguh, 2003, h.22): ability, capability

dan personality, sedangkan modal eksintrik terdiri atas acceptability yaitu sikap penerimaan lingkungan terhadap pemimpin

Sri Sultan Hamengku Buwono X memiliki kedua modal tersebut. Dari aspek ability, yaitu latar belakang atau background yang dimiliki olehnya yang tidak lain merupakan seorang Raja di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan baik yang didapat secara formal melalui pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, maupun informal yang beliau dapatkan melalui pendidikan di dalam Keraton serta pengalaman pribadinya selama mengikuti ayahandanya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan. Kemampuan tersebut sangat bermanfaat dalam kepemimpinannya sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

(7)

kemantapan dan kesanggupan untuk memikul segala konsekuensi jabatan dan kepemimpinan. Dalam hal ini, Sultan pernah mengatakan dalam Pisowanan Agung

bahwa ia akan menjabat sebagai Gubernur selama rakyat menginginkannya dan ia sanggup mengemban tugas yang diberikan oleh rakyat ini semata-mata untuk kesejahteraan rakyatnya.

Sedangkan personality yang ia miliki yaitu pancaran karakter Sri Sultan Hamengku Buwono X yang cukup kuat untuk seorang pemimpin. Ia memiliki sifat welas asih, mau berdialog serta tidak hanya menyuruh, tetapi berusaha menjadi teladan yang baik bagi staf-stafnya di Pemda DIY. Sikapnya yang ramah terhadap semua orang dan tidak memandang bahwa ia merupakan seorang raja yang harus disegani telah membuat keunikan tersendiri yang khas dalam dirinya. Kedudukannya sebagai seorang Gubernur membuatnya ingin diperlakukan seperti orang kebanyakan dan bukan Wong Agung yang diagung-agungkan masyarakat saat berada di Keraton sebagai Raja Ngayogyakarta Hadiningrat. Personality

tersebut terbentuk dari sifat-sifat genetis yang banyak mencontoh ayahandanya Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ia juga merupakan seorang pemimpin yang memiliki karakter baik sehingga banyak menjadi teladan yang cenderung disegani dan dihormati, baik oleh staf-staf di Pemda DIY maupun oleh masyarakat.

(8)

Gaya Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Modal kepemimpinan yang dimiliki oleh seseorang, secara tidak langsung akan mempengaruhi gaya kepemimpinannya. Raph White dan Ronald Lippitt dalam Winardi (2000) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu gaya yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi bawahan. Sri Sultan Hamengku Buwono X menjalankan kepemimpinan secara demokratis karena ia menentukan keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan melalui proses musyawarah dengan staf-stafnya di Pemda DIY. Namun jika ia harus segera memutuskan suatu hal yang mendesak, maka ia akan memutuskannya sendiri dengan berbagai pertimbangan.

Selain itu, sisi demokratisnya yang lain yaitu ia merupakan orang yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap bawahannya, selalu ingin melakukan dialog terhadap bawahannya serta masyarakat, memiliki disiplin yang tinggi, dan selalu ingin melakukan komunikasi dua arah karena mengganggap bawahan adalah komponen pelaksana yang penting sehingga beban kerja menjadi tanggung jawab yang harus dipikul bersama. Namun ada salah satu yang cukup menarik, yaitu keramahan dan kebaikannya sehingga jarang menegur ketika ada bawahan yang salah, atau menegurnya terlalu halus, sehingga terkadang para bawahan tersebut tidak sadar jika melakukan kesalahan. Hal ini mungkin dilakukannya karenakan ia tidak ingin menyakiti hati para bawahannya sehingga dikemudian hari muncul rasa minder dari para bawahannya dalam melakukan kegiatan-kegiatan pemerintahan.

(9)

Ing Ngarso Sung Tuludho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Hal ini dikarenakan ketika ia berada didepan, ia mampu memberikan contoh kepada rekan-rekannya, bahkan ia menjadi teladan bagi para staf di Pemda DIY karena kepemimpinannya yang baik, pemikirannya yang jauh kedepan serta semangatnya dalam mewujudkan tujuan bersama yang telah ditetapkan. Ketika di tengah, ia mampu memberikan inspirasi dengan beragam inovasi serta memberikan kebebasan kepada para stafnya untuk berfikir dan berinovasi. Dan ketika di belakang, ia mampu memberikan motivasi kepada staf-stanya untuk dapat bekerja dengan baik dan maksimal.

Gaya kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang demokratis, tentu saja akan mempengaruhi cara ia berinteraksi sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Interaksi sosial merupakan kunci utama dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi, maka tidak akan ada kehidupan bersama. Interaksi sosial merupakan merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis antara orang perorang maupun dengan kelompok.

Interaksi Sosial Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan sosok pemimpin yang dapat membangun interaksi sosial dengan cukup baik. Walaupun selama ini banyak yang beranggapan bahwa seorang raja pasti akan bersikap feodal, namun Sri Sultan Hamengku Buwono X sudah dapat memisahkan kedudukannya sebagai Gubernur, maupun sebagai Raja. Interaksi sosial yang ia lakukan telah menyesuaikan dengan kehidupan masa kini yang lebih modern, namun tetap memperhatikan etika-etika Jawa yang tetap dipegang teguh olehnya.

(10)

masyarakat Yogyakarta adalah orang Jawa dan ia merupakan salah satu Raja Jawa yang masih menjunjung kuat etika Jawa. Namun ia tidak pernah memaksakan para stafnya untuk berbahasa Jawa sepertinya, karena ia sadar betul bahwa Yogyakarta merupakan provinsi yang heterogen yang memiliki banyak pendatang sehingga ia menginginkan agar setiap pendatang masih mempertahankan culture daerah asal masing-masing.

Komunikasi terbagi menjadi dua, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal identik dengan penggunaan bahasa atau simbol dalam kehidupan sehari-hari. Pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih dalam kegiatan komunikasi, sedangkan bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas (Mulyana, 2006, h.237). Bentuk komunikasi verbal yang sering dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X, yaitu pada saat berpidato dan melakukan audiensi dengan wartawan.

(11)

Dalam berpidato, ia juga sering menggunakan bahasa-bahasa Jawa kromo alus seperti injih (iya), pareng (pulang), pripun (bagaimana), nderek (ikut), dan masih banyak lainnya. Namun bahasa jawa yang dipakai cenderung bahasa Jawa umum yang masih banyak dimengerti oleh pendengar, karena memang ia menyadari bahwa masyarakat Yogyakarta bersifat heterogen sehingga ia tidak ingin selalu menggunakan bahasa Jawa. Dalam berpidato, ia juga selalu menyisipkan hal-hal mengenai kebudayaan, agar masyarakat tidak lupa akan kebudayaan dan wawasan kebangsaannya.

Selain pidato, bentuk komunikasi verbal yang sering dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah saat audiensi dengan wartawan. Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan sosok yang ramah terhadap para wartawan. Hal itu ditunjukkan oleh dimanapun ia berada ketika ingin diwawancarai oleh wartawan, ia akan selalu bersedia menjawab. Saat ia melakukan audiensi dengan wartawan, dalam berbicara lebih rileks, tidak menunjukkan sosok pemimpin yang harus dihormati. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan, ia juga tidak selalu menggunakan bahasa baku. Kadang ia juga menggunakan bahasa Jawa. Hal ini mungkin dikarenakan latar belakangnya sebagai orang Jawa. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan, ia juga sering bercanda, menyelipkan humor-humor tertentu sehingga mencairkan suasana audiensi.

(12)

Selain komunikasi, syarat terjadinya interaksi sosial yaitu kontak sosial. Kontak sosial terbagi menjadi tiga, yaitu individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Dalam hal ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan 2 (dua) kontak sosial yaitu ia dengan staf Pemda DIY dan ia dengan masyarakat. Kontak sosial yang terjadi antara ia dengan staf Pemda DIY tidak berjalan dengan baik, karena komunikasi yang terjadi terkadang tidak berjalan dua arah. Masih segan atau takutnya beberapa staf Pemda DIY terhadap beliau yang terkadang dianggap seorang raja yang patut dihormati. Padahal ia termasuk orang yang terbuka dan dalam berkomunikasi tidak pernah memandang status dan golongan. Tetapi hal ini mungkin terjadi mengingat kharisma ia yang masih cukup tinggi sehingga begitu disegani atau bahkan ditakuti. Hal ini terjadi karena kedudukan ganda yang ia miliki, yakni sebagai raja dan sebagai gubernur yang keduanya seakan tidak bisa dipisahkan di masyarakat.

Selain dengan staf Pemda DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga melakukan kontak sosial dengan masyarakat, karena memang kedudukannya sebagai gubernur adalah semata-mata untuk kesejahteraan rakyatnya, sehingga ia harus melihat keadaan rakyat. Sultan juga sering mengadakan dialog-dialog dengan masyarakat. Ia tidak pernah mengeksklusifkan diri saat terjun ke masyarakat. Ia turun langsung tanpa didampingi oleh pengawalan yang ketat dan melakukan dialog-dialog dengan masyarakat. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak segan untuk bercengkrama dengan masyarakat, seperti menggendong anak kecil yang ada, menanyakan kabar masyarakatnya, dan lain sebagainya.

Gaya Komunikasi Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

(13)

Dari komunikasi kepemimpinan yang dilakukannya, dapat disimpulkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono X, memiliki sifat santun dan ramah. Selain itu ia juga merupakan sosok pemimpin yang selalu menginginkan adanya dialog, baik dengan para staf maupun dengan masyarakat. Dengan adanya dialog diharapkan setiap permasalahan yang ada dapat terselesaikan dan komunikasi yang terjadi dapat berjalan dua arah dengan adanya feedback. Selain itu, ia juga merupakan sosok pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan serta merupakan pemimpin yang selalu memberikan motivasi kepada para staf maupun masyarakat untuk kemajuan bersama. Sri Sultan Hamengku Buwono X juga merupakan sosok pemimpin yang tidak ingin dieksklusifkan walaupun ia juga seorang Raja Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia merupakan sosok pemimpin yang selalu ingin diperlakukan sama dengan yang lainnya karena ia semata-mata menjabat untuk melayani masyarakat dan

PEMBAHASAN

Berbicara tentang pemimpin dan kepemimpinan masa depan, erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh bangsa ini. Bangsa ini tentu saja masih membutuhkan pemimpin yang kuat di berbagai sektor kehidupan masyarakat, pemimpin yang berwawasan kebangsaaan dalam menghadapi permasalahan bangsa yang demikian kompleks. Pemimpin dan kepemimpinan yang integratif harus memiliki pola pikir, pola sikap dan pola tindak sebagai negarawan dan memiliki modal atau kelebihan tertentu sebagai seorang pemimpin.

(14)

Komunikasi dalam sebuah kepemimpinan merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan yang akan diraih oleh suatu organisasi. Oleh karena itu seorang pemimpin hendaklah piawai dalam berkomunikasi baik itu verbal maupun non verbal. Komunikasi yang baik akan mampu meningkatkan motivasi di lingkungan kerja, sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan hal ini akan mampu meningkatkan kinerja serta kontrol kerja juga akan terlaksana dengan baik.

Sebagai seorang pemimpin di Pemda DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dituntut untuk mampu menerapkan proses komunikasi yang efektif. Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan sosok pemimpin yang sering melakukan dialog-dialog, baik dengan staf Pemda DIY maupun dengan masyarakat. Ia merupakan orang yang terbuka dengan siapapun dan tidak pernah membedakan strata sosial orang lain. Walaupun ia juga berkedudukan sebagai seorang raja, namun ia tidak pernah bersikap feodal seperti raja kebanyakan, karena ia bisa membedakan mana kedudukannya sebagai raja, maupun kedudukannya sebagai gubernur. Namun pada dasarnya, ia merupakan sosok yang santun dan ramah sehingga stereotype bahwa raja itu feodal tidak tampak pada dirinya. Komunikasi kepemimpinan yang dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada para staf dan masyarakat sudah sangat baik. Ia selalu terbuka dan mempersilahkan kepada para staf maupun masyarakat untuk bertanya, memberikan saran, maupun kritikan.

(15)

Sri Sultan Hamengku Buwono X terkadang menggunakan bahasa-bahasa nonverbal yang terkadang tidak dimengerti oleh para staf Pemda DIY. Sultan terkadang menggunakan isyarat-isyarat tertentu seperti ketika tidak senang ia hanya cukup menjelaskan dengan matanya, atau ketika tidak setuju maka ia sering menggunakan ekpresi wajahnya tanpa mengeluarkan kalimat-kalimat tertentu. Untuk menjelaskan sesuatu terhadap orang yang lebih tinggi kedudukannya, ia tidak berbicara dengan panjang lebar, ia lebih banyak menggunakan isyarat-isyarat tertentu. Komunikasi seperti ini terkadang membingungkan bagi seseorang yang tidak mengenalnya, karena terkadang tugas-tugas atau pendapat-pendapat tentang kinerja pemerintahan maupun permasalahan sosial yang dikatakannya terkadang tidak dimengerti oleh beberapa staf Pemda DIY.

Selain itu komunikasi yang dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menegur para stafnya juga jarang sekali memakai bahasa verbal, ia lebih memakai isyarat-isyarat mata atau kata-kata halus. Hal ini mungkin dikarenakan kedudukannya yang juga seorang raja sehingga halus budi bahasanya. Namun peneliti melihat hal ini justru bisa menjadi hambatan bagi komunikasinya karena beberapa staf tidak mengerti apa yang dimaksudkannya.

Komunikasi merupakan aspek penting dalam kepemimpinan. Setiap pemimpin memiliki gaya komunikasi mereka sendiri sehingga menghasilkan sesuatu yang khas atau unik. Gaya komunikasi dalam kepemimpinan merupakan gaya seseorang pemimpin dalam menerapkan komunikasi. Sebagai seorang pemimpin, tentu Sri Sultan Hamengku Buwono X memiliki gaya komunikasi tersendiri. Gaya komunikasi ini sangat penting untuk untuk mengarahkan dan mengendalikan setiap kegiatan pemerintahan, serta untuk memahami tujuan, mempengaruhi dan meyakinkan orang-orang agar melaksanakan tujuan dari pemerintahan yang telah ditetapkan. Gaya komunikasi ini tentu saja bisa dipengaruhi oleh modal kepemimpinan, gaya kepemimpinan serta bagaimana interaksi yang dilakukan pemimpin.

(16)

yaitu kecenderungan untuk mencari dan menikmati hubungan sosial. Dari kedua variabel ini, nantinya akan dibagi menjadi dua katagori, yaitu tinggi dan rendah. Gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh Sri Sultan Hamengku Buwono pasti akan mempengaruhi dominasi dan sosiabilitas dirinya.

Sebagai seorang pemimpin, Sri Sultan Hamengku Buwono X memiliki dominasi yang rendah. Walaupun kedudukannya sebagai seorang raja yang seharusnya mempunyai dominasi yang tinggi, namun ia tidak pernah memasukan hal tersebut dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang gubernur. Ia selalu bersikap kooperatif kepada siapa saja, baik kepada staf, wartawan, maupun masyarakat. Ia juga tidak pernah bersikap otoriter dalam menjalankan tugasnya sebagai gubernur. Selain itu, ia juga merupakan orang yang tegas dalam menyampaikan keputusan. ia juga selalu bersikap ramah dan sabar kepada siapapun. Sultan juga merupakan orang yang berhati-hati dalam setiap pengambilan keputusan karena keputusan tersebut nantinya akan berpengaruh kepada masyarakat. Selain itu, dalam pembawaan diri, ia termasuk orang yang tenang, rileks dan tidak sombong.

Selain dominasi, sosiabilitas merupakan variabel lain dalam menentukan gaya komunikasi. Sri Sultan Hamengku Buwono memiliki sosiabilitas yang tinggi yaitu dilihat dari sifatnya yang lembut, ramah, terbuka dan perhatian dengan siapa saja. Hal tersebut tentu saja membuatnya banyak disukai oleh masyarakat, tidak hanya di Yogyakarta saja, tetapi nasional bahkan dunia internasional.

(17)

karena ia selalu meminta saran dari orang lain yang ahli dalam bidang-bidang tertentu.

Sri Sultan Hamengku Buwono X selalu mendorong terciptanya iklim komunikasi yang terbuka, agar bawahan tidak segan dan mempercayai pemimpin untuk menerima pesan apa saja yang disampaikannya. Iklim komunikasi yang terbuka adalah iklim komunikasi yang memungkinkan semua anggota memiliki, memahami dan menerima semua informasi yang terdapat diseluruh bagian perusahaan. Namun terkadang beberapa staf di Pemda DIY tidak memahami bahasa-bahasa yang diperlihatkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, sehingga iklim organisasinya kurang berjalan dengan baik.

Iklim komunikasi organisasi yang terbuka dan bersifat dua-arah kepada seluruh anggota organisasi tanpa batasan, tidak hanya meningkatkan kinerja organisasi tetapi menyediakan landasan dasar bagi pemimpin untuk mengkomunikasikan visi, nilai-nilai dan informasi penting lainnya. Sri Sultan

Supportive

High Dominance Low

Dominance

High Sociability

Low Sociability

Bagan 1 : Model Gaya Komunikasi Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta

(18)

Hamengku Buwono X sudah mampu menguasai keterampilan berkomunikasi, menciptakan iklim komunikasi organisasi yang terbuka, mendengarkan bawahan secara efektif dan senantiasa terbuka terhadap umpan balik dari bawahan.

Sultan juga memiliki empat sikap yang dapat membuat umpan balik dapat diterima dengan efektif, yaitu kepekaan, dukungan, keterbukaan pikiran, dan kespesifikan. Ia memiliki kepekaan, sehingga ia terkadang dapat mengerti apa yang ada dibenak para stafnya ketika sedang rapat dan sebagainya. Selain itu, ia juga memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah masyarakat, hal ini sangat wajar mengingat ia menganut konsep kepemimpinan “Takhta untuk Rakyat”, sehingga ia harus lebih peka terhadap permasalahan yang terjadi dan keinginan para rakyatnya. Selain itu, ia juga selalu mendukung apa yang dilakukan oleh para staf dan masyarakat, tetapi ketika ada yang salah, ia akan memberikan nasihat serta solusi untuk permasalahan. Selain itu, ia juga memiliki keterbukaan pikiran, sehingga selalu menerima masukan-masukan dari berbagai kalangan. Sultan juga termasuk orang yang memiliki pemikiran satu langkah lebih maju kedepan, sehingga ia telah mampu menganalisis beberapa hal yang belum dan akan terjadi.

Selain itu, ia juga selalu memberikan motivasi kepada para staf dan masyarakat. Ia selalu mendorong mereka untuk selangkah lebih maju dengan memberikan nasihat-nasihat serta pemikiran-pemikirannya tentang permasalahan sosial serta tentang kinerja Pemda DIY. Ia juga merupakan orang yang tegas dalam proses pengambilan keputusan. Walaupun setiap keputusan yang ia tetapkan terlebih dahulu telah didiskusikan dengan staf-staf ahli pemrintahan serta masyarakat. Keputusan-keputusan yang telah ditetapkan olehnya lebih banyak mengacu pada kepentingan publik dan bukan kepentingan individu ataupun golongan tertentu.

(19)

yang menghalangi adalah lingkungannya karena kedudukan beliau sebagai raja yang seakan tidak bisa dipisahkan, sehingga para staf atau masyarakat terkadang masih takut atau sungkan untuk berkomunikasi dengan beliau.

Dalam menjalankan kedudukannya sebagai gubernur masih terdapat kerancuan antara peranan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja, maupun sebagai gubernur DIY di masyarakat maupun para stafnya. Hal ini dikarenakan kedua peran tersebut seakan melekat dan tidak bisa dipisahkan, walaupun ia sudah mampu untuk membedakan perananannya dengan sangat baik. Para staf dan masyarakat masih beranggapan bahwa Sultan merupakan raja yang menjabat sebagai gubernur sehingga setiap kali ia ke masyarakat akan selalu dianggap sebagai raja. Hal inilah yang kemudian dapat membuat komunikasi dalam memimpin tidak bisa berjalan dengan efektif.

KESIMPULAN

Berdasarkan penjabaran pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:

1. Sri Sultan Hamengku Buwono X memiliki modal kepemimpinan sebagai berikut:

a. Faktor ability, yaitu latar belakang Sri Sultan Hamegku Buwono X yang merupakan seorang Raja Ngayogyakarta Hadiningrat sehingga keahlian dan kemampuan yang dimiliki didapat semenjak kecil ketika ia menjadi putra mahkota, selain itu Sultan juga aktif diberbagai organisasi seperti Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Pendiri Yayasan Universitas WIDYA MATARAM, Yogyakarta, Ketua Umum Pengurus Pusat KAGAMA (2009 – 2014), Ketua KONI DIY (1990 – 1998), dan Ketua Umum KADINDA DIY (1983 – 1998) sehingga membuat keahlian dan keterampilan beliau semakin terasah.

(20)

c. Faktor personality, yaitu kharisma Sultan yang sangat tinggi sehingga membuatnya masih disegani baik sebagai raja maupun sebagai gubernur DIY, Iajuga termasuk orang yang ramah, humble, welas asih, serta tidak memandang golongan dan pangkat.

d. Faktor acceptability, yaitu penerimaan masyarakat terhadap sosok Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai gubernur DIY yang cukup tinggi dilihat saat pemerintah pusat menginginkan jabatan gubernur DIY dipilih melalui pemilihan umum, tetapi masyarakat DIY menolak dengan menggelar berbagai aksi.

2. Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai gubernur DIY gaya kepemimpinan Demokratis dan menerapkan konsep kepemimpinan Jawa Ing Ngarso Sung Tuludho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri

Handayani.

3. Interaksi sosial yang dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Kepala DIY, yang meliputi:

a. Kontak sosial sebagai gubernur DIY, yang meliputi:

 Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan staf Pemda masih kurang berjalan efektif dikarenakan para staf terkadang merasa segan atau takut saat berkomunikasi dengannya.

 Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan para staf Pemda DIY dan masyarakat sudah cukup efektif dikarenakan ia sering melakukan dialog-dialog dengan masyarakat, akan tetapi tidak semua komunikasinya berjalan dua arah.

b. Komunikasi Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai gubernur DIY, yang meliputi:

(21)

 Komunikasi nonverbal, yakni dalam segi Gesture atau bahasa tubuh, yang meliputi: ekspresi wajah, gerakan mata, gerakan anggota badan, isyarat tangan, dan sentuhan.

4. Gaya Komunikasi dalam kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X, yaitu supportive style, dimana ia memiliki dominasi yang rendah dan sosiabilitas yang tinggi. Selain itu, Sultan juga sering menggunakan konsep Komunikasi Jawa, yaitu Dupak Bujang, Esam Bupati, Sasmita Narendra.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, maka peneliti menyarankan:

1. Para staf Pemda DIY dan masyarakat diharapkan lebih berani lagi dalam melakukan komunikasi dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X, sehingga akan terjadi feedback dan iklim organisasinya akan berjalan lebih baik lagi. 2. Sri Sultan Hamengku Buwono X harus lebih tegas dalam komunikasi kepemimpinannya, karena menurut hasil penelitian sifat ramah dan welas asih yang dimiliki Sri Sultan Hamengku Buwono X terkadang membuat para staf menjadi kurang mengerti ketika mereka melakukan kesalahan karena jarang ditegur oleh beliau.

3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih mengangkat teori-teori tradisioanal yang merupakan komunikasi kepemimpinan, karena menurut peneliti untuk mencirikan gaya komunikasi kepemimpinan seseorang tidak harus selalu berdasarkan paradigma atau teori-teori dari luar.

4. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan subjek yang berbeda, misalnya pejabat daerah dan negara lain, organisasi atau perusahaan, dan dengan metode dan teori yang lebih beragam.

KETERBATASAN PENELITIAN

(22)
(23)

DAFTAR PUSTAKA

Cederroth, S. (2001). Kepemimpinan jawa: perintah halus, pemerintahan otoriter. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Damardjati, (1993). Nawangsari. Yogyakarta: Manggala

Danim, S. (2004). Motivasi, kepemimpinan, dan efektivitas kelompok. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Kriyantono, R. (2009). Teknik praktis riset komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Mulyana, D. (2007). Ilmu komunikasi : suatu pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Reece, B. & Brandt, R. (1993). Effective human relations in organizations (5th ed).

Boston: Houghton Mifflin Company

Sugiyono. (2004). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta.

Suratno, P. (2006). Sang pemimpin. Yogyakarta: Adiwacana

Teguh, A. (2008). Kepemimpinan professional, pendekatan leadership games. Yogyakarta: Gaya Media

Winardi. (2000). Kepemimpinan dalam manajemen. Jakarta : Rineka Cipta

Jurnal

Vionardi. (2011). Leadership. Sage Just Another Publication, 1-4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji lebih dalam terhadap permasalahan tersebut dan di tuangkan dalam bentuk skripsi yang

DAFTAR LAMPIRAN ... Latar Belakang Masalah ... Tujuan Penelitian ... Manfaat Penelitian ... Kedisiplinan Kerja ... Pengertian kedisiplinan kerja ... Faktor-faktor yang

Mempertimbangkan berbagai latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti melakukan penelitian pengembangan yang bertujuan mem- buat media pembelajaran interaktif

Justeru itu, bahawa individu yang bergelar pemimpin berwibawa itu merupakan seorang insan yang memiliki sifat keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain

Berdasarkan latar belakang tersebut maka yang menjadi pembahasan penelitian skripsi ini adalah bagaimana gaya kepemimpinan Herman HN dalam pandangan MUI kota

Mengacu pada latar belakang yang disampaikan, maka masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut (1) Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan manajer terhadap loyalitas

ada tiga elemen budaya yang dimiliki oleh suatu masyarakat dan memiliki potensi besar untuk mem- pengaruhi situasi ketika orang-orang yang berasal dari latar

Pemimpin dalam artian luas adalah seseorang yang dapat mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang hingga seseorang tersebut dapat di ajak kerja sama dengan pemimpin tersebut,