2015
Haryo Nugroho dan Shelliyana
11/23/2015
DINAMIKA DEMOKRATISASI DI INDONESIA
PRAKATA
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Kerangka Teori 1.5 Sumber Data
1.6 Metode dan Teknik Penelitian
BAB II DEMOKRASI, PERKEMBANGAN, HAM DAN INDONESIA
2.1 Demokrasi 2.2 Perkembangan 2.3 Hak Asasi Manusia
2.4 Hubungan Demokrasi Dengan Hak Asasi Manusia 2.5 Tahapan Perkembangan Demokratisasi Di Indonesia
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan 3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Sang Pencipta karena rahmat-Nya dan keinginan-Nya dan juga bimbingan dari dosen kami yaitu Muhammad Abudan kami dapat menyusun karya ilmiah tentang Dinamika Demokratisasi di Indonesia. Penyusunan makalah ini kami bentuk hanya dengan waktu 2 hari berdasarkan buku-buku teoritis yang membahas tentang demokrasi dan hak asasi manusia.
Kami menyusun makalah yang berjudul Demokratisasi di Indonesia bertujuan untuk memperluas wawasan terhadap perkembangan kemajuan demokrasi negara Indonesia tetapi juga untuk dijadikan bahan inspirasi apabila kami ingin membuat skripsi tentang
permasalahan demokrasi di negara kita yang tercinta ini dan juga menyelesaikan tugas yang diberikan dosen.
Saya berterima kasih kepada pihak-pihak yang membimbing saya untuk mencapai tujuan pembuatan makalah ini dan semoga makalah ini dapat dijadikan pedoman bagi mahasiswa lain dan menjadi inspirasi untuk membuat skripsi.
Jakarta, 10 November 2015
Haryo Nugroho Shelliyana
PRAKATA………
……….2
DAFTAR ISI………3
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………...4
1.2 Rumusan Masalah………...4
1.3 Tujuan Penelitian………...………...…4
1.4 Kerangka Teori………... ……….5
1.5 Sumber Data………7
1.6 Metode dan Teknik Penelitian……….7
BAB II DEMOKRASI, PERKEMBANGAN, HAM DAN INDONESIA 2.1 Demokrasi...7
2.2 Perkembangan ...12
2.3 Hak Asasi Manusia...15
2.4 Hubungan Demokrasi Dengan Hak Asasi Manusia...16
2.5 Tahapan Perkembangan Demokratisasi Di Indonesia...17
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1 Kesimpulan...23
3.2 Saran...23
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Setelah kita ketahui Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam sejarah bentuk negara dan pemerintahan. Dimulai pada bentuk negara stateless atau tanpa negara berbentuk masyarakat kesukuan, kerajaan, korporasi, koloni. Dan memiliki bentuk pemerintahan dari monarki absolut, korporatisme, presidensial, parlementer.
Dengan beragam bentuk negara dan pemerintahan tersebutlah yang menyebabkan kami mengusung peneilitian proses atau perkembangan demokratisasi di Indonesia.
Dan juga perlu diketahui demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang
kekuasaan bertitik tumpu pada rakyat yang mana hak-hak rakyat dijunjung tinggi dinegara tersebut. Hal ini yang menjadi persoalan karena berdasarkan pernyataan tersebut maka ada hubungan antara hak asasi manusia dengan demokrasi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, kami mengambil kesimpulan bahwa permasalahan di topik kami adalah sebagai berikut:
1. Apa itu demokrasi dan seluk-beluk didalamnya? 2. Bagaimana sejarah atau perkembangan demokrasi?
3. Apa pengertian dari hak asasi manusia dan seluk-beluk didalamnya?
4. Bagaimana dan mengapa ada keterkaitan antara demokrasi dengan hak asasi manusia?
5. Mengapa hak asasi manusia sangat penting dalam sistem pemerintahan demokrasi?
6. Bagaimana perkembangan demokrasi di Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diatas maka kami menyimpulkan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ingin menerangkan demokrasi dan elemen-elemen yang patut dijelaskan didalamnya;
2. Ingin informasikan pergerakan kemajuan demokrasi berdasarkan sejarahnya; 3. Ingin menjelaskan hak asasi manusia dan elemen-elemen yang penting dan
patut untuk diterangkan demi kejelasan;
4. Ingin menerangkan keterkaitan atau korelasi antara hak asasi manusia dengan demokrasi;
5. Ingin menginformasikan sangat pentingnya demokrasi dengan hak asasi manusia;
6. Ingin memaparkan perkembangan proses demokratisasi di Indonesia.
1.4 Kerangka Teori
Sehubungan dengan hal yang dibahas dimakalah ini, maka kami akan menerangkan tentang demokrasi dan HAM secara garis kecil.
rejim-rejim totaliter, berusaha meyakinkan masyarakat dunia bahwa mereka menganut sistem politik demokratis, atau sekurang-kurangnya tengah berproses menuju ke arah demokrasi. Maka tak mengherankan apabila demokrasi menjadi salah satu ukuran terpenting didalam tata hubungan dan pergaulan internasional yang semakin bergantung dewasa ini.1
Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang menitik tumpukan kedaulatan berdasarkan pada rakyat. Demokrasi menurut Joseph Schmeter (2005:110) adalah suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suatu rakyat.2
Menurut kamus Oxford demokrasi adalah sistem pemerintahan yang mana semua rakyat pada suatu negara melibatkan diri untuk membuat keputusan tentang masalah mereka dengan cara secara tipikalnya dengan pengambilan suara untuk memilih wakil rakyat ke parlemen atau badan sejenis.3
Dari pendapat diatas demorasi selanjutnya dijelaskan menjadi a. Pemerintahan oleh rakyat, khususnya kekuasaan mayoritas;
b. Suatu pemerintah yang mana kekuasaan tertinggi berada pada rakyat dan dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung melalui sistem perwakilan yang biasanya melibatkan pemilihan umum dilaksakanan secara periodik.
Dengan begitu berdasarkan ilmuan politik Larry Diamond, demokrasi memiliki 4 unsur yaitu:
a. Sistem politik untuk memilih dan mengganti pemerintah melalui pemilu berdasarkan kejujuran dan kebebasan;
b. Partisipasi aktif rakyat sebai warganegara dalam politik dan kehidupan bermasyarakat;
c. Perlindungan hak asasi manusia kepada semua warga negara;
d. Kedaulatan hukum yang mana hokum dan prisedur diterapkan secara setara kepada semua warga negara.4
Dengan hal tersebut kita dapat menganalogikan demokrasi adalah suatu perangkat yaitu smartphone dan hak asasi manusia adalah sistem operasinya. Smartphone yang berupa sistem tidak akan berjalan apabila tidak seiring dengan hak asasi manusia. Karena pada konsepnya secara riil sistem operasi adalah yang menjalankan sehingga begitu pula
demokrasi, tanpa ada hak asasi manusia dan ketegasan serta perlindungan secara nyata oleh
1 Syamsudin Harris, Demokrasi di Indonesia (Gagasan dan Pengalama, (Jakarta:LP3ES, 1993), hal 3 2 Tim ICCE UIN Jakarta, Demorkasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, hal 110
3 Oxford English Dictionary: Democracy
negara maka demokrasi itu hanyalah suatu teori atau bentuk sistem yang tak dapat berjalan yang secara tertulis di kertas berbentuk peraturan tetapi dalam praktek hanyalah otoriter. Hal ini ditunjukan pada negara-negara yang menyebut dirinya demokrasi yaitu Korea Utara, Laos, Kuba, Republik Rakyat Cina, Singapura.
Hak asasi manusia pada Undang-Undang nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pada pasal 1 berbunyi “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa dan
meripakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, martabat manusia”.
Dan kita perlu ketahui juga negara itu hanya dapat terbetuk dengan berunsur
1. Adanya rakyat yang mengakui kedaulatan negara tersebut 2. Pemerintahan yang diakui rakyat
3. Wilayah
Hal ini menunjukan pengakuan pemerintah oleh rakyatlah yang menimbulkan keberadaan negara tesebut, dengan demikian hak asasi manusia haruslah dijunjung tinggi.
1.5 Sumber Data
Sumber data yang menjadi acuan saya untuk melakukan penelitiannini adalah buku-buku referensi mahasiswa hokum dan ilmu social politik serta data yang berasal dari internet berupa data dari indeks demokrasi negara.
1.6 Metode dan Teknik Penelitian
Berdasarkan topik yang kami bahas, kami menggunakan metode kepustakaan dan teknik penelitian normatif dengan berbasis buku-buku ilmiah dan hukum yang berada di Indonesia dan negara yang kami sebut dalam makalah.
BAB II
DEMOKRASI, PERKEMBANGAN, HAM DAN INDONESIA
2.1 Demokrasi
suatu tempat dan cratein adalah kedaulatan. Jadi secara terminologis demos-cratein adalah keadaan negara mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan ditangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada ditangan rakyat.
Makna dan cakupan pemerintahan oleh rakyat atau demos-creatintak pernah berhenti. Siapa sebenarnya demos itu? Rakyat seluruhnya, sebagian atau hanya mereka yang terwakilidi dalam lembaga perwakilan? Kalau seluruhnya apakah mungkin, dan sebagian, siapa yang berhak menentukannya, serta bisakah dianggap adil? Lalu apakah artinya kalau rakyat itu dikatakan memerintah? Para pengkritik diantarantya berendapat bahwa sekalipun demokrasi mungkin diciptakan namun dalam prakteknya dianggap tidak dapat
dilaksanakan.karena pada dasarnya yang berkuasa adalah yang diberikan mandat. Mandat sendiri adalah pelimpahan Kewenangan dari badan dan/atau pejabat dan/atau orang yang berderajat lebih tinggi kepada Badan dan/atau pejabat dan/orang yang lebih rendah dengan tanggung jawab dan tanggung gugat tetap berada pada pemberi mandat. Rakyat dianggap yang berdaulat atau tertinggi dan memberikan wewenang kepada wakil mereka untuk mewakili mereka dalam rana pemerintahan, yang menyebabkan secara riil bahwa perwakilan merekalah yang berkuasa, hal ini yang menyebabkan tirani atau diktator tumbuh di negara yang menyebut dirinya demokratik dan bahkan negara yang mengadakan pemilu. Karena itu dunia modern, demokrasi pertama-tama dan terutama adalah suatu kata normatif yang lebih menunjuk pada cita-cita ketimbang menggambarkan suatu masalah tertentu5 dalam hubungannya dengan cita-cita menurut Dahl demokrasi hanyalah sarana, bukan tujuan, untuk mencapai persamaan secara politik dengan mencakup 3 tujuan utama yaitu kebebasan manusia, perkembangan diri manusia dan perlindungan terhadap nilai
kemanusiaan.6 Pelindungan kepada nilai kemanusiaan inilah yang memberikan korelasi antara demokrasi dan hak asasi manusia yang akan kami bahas di subbab selanjutnya.
Menurut Henry B. Mayo demokrasi sebagai sistem politik yang menunjukan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas doleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dlam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip
kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. Affan Gaffar memakai demokrasi dalam dua bentuk yaitu pemaknaan secara normatif dan empiris. Demokrasi secara normatif adalah demokrasi secara ideal kehendak dilakukan oleh sebuah negara. Sedangkang demokrasi empirik adalah demokrasi dalam perwujudannya pada dunia
5 Giovanni Satori, The Theory of Democracy Revisited, 2 jilid, (Catham, New Jersey: Catham House Publisher Inc., 1987).
politik praktis.7 Di Indonesia demokrasi itu secara normatif karena dasarkan UUD 1945 pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” Mengapa hanya secara normatif? Hal ini dapat kita lihat pada ayat tersebut dan ayat ketiganya. Pada ayat 2 demokrasi dibatasi oleh UUD yang mana UUD termasuk pada klasifikasi grondenrecht yang mana berarti hukum dasar dari segala peraturan menurut teori Hans Nawiasky dan Hans Kelsen
Berdasarkan teori Nawiaky tersebut, kita dapat membandingkannya dengan
teori Kelsen dan menerapkannya pada struktur tata hukum di Indonesia. Attamimi
menunjukkan struktur hierarki tata hukum Indonesia dengan menggunakan teori
Nawiasky. Berdasarkan teori tersebut, struktur tata hukum Indonesia adalah:
Staatsfundamentalnorm
: Pancasila (Pembukaan UUD 1945).
Staatsgrundgesetz
: Batang Tubuh UUD 1945, Tap MPR, dan Konvensi
Ketatanegaraan.
Formell gesetz
: Undang-Undang.
Verordnung en Autonome Satzung
: Secara hierarkis mulai dari Peraturan
Pemerintah hingga KeputusanGubernur, Bupati atau Walikota.
Dan juga hal ini ditegaskan pada pasal 1 ayat ketiga UUD 1945 yang berbunyi “Indonesia adalah negara hukum” hal ini yang membuat Indonesia merupakan negara demorasi secara normatif karena pada dasarnya hukum seniri adalah produk politik yang mana produk politik dapat menyimpang dari apa yang dicita-citakan yaitu demokrasi karena terganting paad pemikiran politikus pada negara tersebut.
Demokrasi memiliki unsur penegak, unsur-unsur itu antara lain: a. Negara hukum
Konsepsi ini bahwa negara memberikan perlindungan hukum bagi warga negara melalui pelembagaan peraduilan yang bebas dan tidak memihak dan penjaminan hak asasi manusia bukan hukum yang mana produk politik yang memberikan kekuasaan pada penguasa dengan begitu rakyat dapat berpartisipasi dalam politik yang merupakan hak asasi mereka sebagai warga negara.
b. Masyarakat madani
Masyarakat madani dicirikan dengan masyarakat terbuka, masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara, masyarakat yang kristis dan
berpartisipasi aktif serta masyarkat yang egaliter atau sederajat.
Masyarakat madani menyarakatkan adanya keterlibatan masyarakat dalam asosiasi-asosiasi sosial. Keterlibatan warga negara ini memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka, percayadan toleran antar satu dengan lain yang sangat penting artinya bagi bangunan politik demokrasi (Saiful Mujani:2001). Sebagai perwujudan masyarakat madani secara konkrit dibentuk berbagai organisasi-organisasi diluar negara yang disebut NGO (Non-Governmental Organization) atau disebut juga LSM atau lembaga swadaya masyarakat.
masyarakat madani dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra dan partner kerja lembaga eksekutid fan legislatif serta yudikatid dengan melakukan kontrol sosial terhadap pelaksanaan kerja lembaga tersebut. Dengan demikian masyarakat madani mejadi sangat penting keberadaanya dalam mewujudkan demokrasi.
c. Infrastruktur politik
mempunyai orientasi, nilai-nilaidann cita-cita yang sama. Kelompok gerakan dikenal lagis ebagai ormas atau organisasi masyarakat merupakan sekumpulan orang yang yang berhimpun pada satu wadah organisasi
Menciptakan dan menegakan demokrasi dalam tata kehidupan kenegaraan dan pemerintahan, partai politik seperti dikatakan Miriam Budiardjo, mengemban beberapa fungsi yaitu sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai sarana pengaturan konflik. Keempat fungsi partai politik tersebut meupakan berasal dari nilai-nilai demokrasi yaitu adanya partisipasi, konrol rakyat melalui partai politik terhadap kehidupan kenegaraan dan pemerintahan serta adanya pelatihan penyelesaian konflik secara damai. Begitu pula aktivias yang dilakykan oleh kelompok-gerakan dan penekanyang meurpakan perwujudan adanya kebebasan beriranisasi, kebebasan menyampaikan pendapatdan melakukan opsisi terhadap negara dan pemerintah. Kelompok penekan signifikan untuk mewujudkan sistem demokratis dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahan, begitu pula aktivitas yang dilakukan oleh kelompok gerakan merupakan wujud keterlibatan dalam kontrol terhadap kebijakan yang diambil oleh negara. Dengan demikian partai politik , kelompok gerakan dan kelompok penekan sebagai infrastruktur politik yang menadi salah satu tegaknya pilar demokrasi.
d. Pers yang bebas dan bertanggung jawab
Pers sebagai kelompok penekan harus bersih dan memiliki intergitas yang dapat di pertanyakan asal sumbernya. Pers tidaklah boleh memihak kepada anggota parpol atau organisasi atu faksi apapun demi memberikan kritik yang membangun pada pemerintah yang membuat keputusan.8
Menurut Skalar, demokrasi terbagi 5 yaitu:
1. Demokrasi liberal yaitu pemerintahan yang dibatasi oleh undang-undang dan pemilihan umum bebas yang diselenggarakan dalam waktu yang ajeg. 2. Demokrasi terpimpin yaitu pemerintahan yang pemimpinnya percaya bahwa
semua tindakan mereka dipercaya rakyat tetapi menolak pemilihan umum yang bersaing sebagai kendaraan untuk menduduki kekuasaan.
3. Demokrasi sosial adalah pemerintahan yang menaruh kepedulian pada keadilan sosial dan egalitarianisme bagi persyaratan untuk memperoleh kepercayaan politik.
4. Demokrasi partisipasi adalah pemerintahan yang menekankan hubungan timbal balik antara penguasa dan yang dikuasai.
5. Demokrasi consational, pemerintahan yang menekankan proteksi khusus bagi kelompok-kelompok budaya yang menekankan kerja sama yang erat di antara elit yang mewakili bagian budaya masyarakat.
Dari segi pelaksanaannya menurut Inu Knecana terdiri dari 2 model yaitu demokrasi langsing dan tidak langsung.
Indikator dari demokrasi dapat dilihat dari beberapa faktor, menurut Djuanda Widjaya, kehidupan demokratis suatu negara ditandai oleh hal berikut:
a. Dinikmati dan dilaksanakan hak serta kewajiban politik oleh masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip dasar HAM yang menjamin adanya kebebasan, kemerdekaan dan rasa merdeka;
b. Penegakan huku yang mewujudkan pada asas supremasi penegakan hukum dan jaminan terhadap HAM.
c. Kesamaan hak dan kewajiban anggota masyarakat. d. Kebebasan pers dan pers yang bertanggung jawab. e. Pengakuan terhadap hak minoritas.
f. Pembuatan kebijakan negara yang berlandaskan pada asas pelayanan , pemberdayaan dan kecerdasan.
g. Sistem kerja yang kooperaif dan kolaboratif. h. Keseimbangan dan keharmonisan.
i. Tentara yang profesional sebagai kekuatan pertahanan dan j. Lembaga peradilan yang independen.
Berdasarkan uraian diatas Djuanda Widjaya menekankan bahwa HAM itu perlu di junjung tinggi pada hukum sebuah negara karena demokrasi menekankan pada kedaulatan rakyat yang mana hak-hak rakyat sebagai manusia ciptaan Tuhan haruslah di lindungi dan di hormati demi mencapai demokrasi dan kesetaraan serta kemakmuran.9
2.2 Perkembangan
Demokrasi telah ada pada tahun 503 sebelum masehi di kota Athena
Kuno.10Demokrasi dalam sejarah peradaban muncul sejak jamam Yunani Kuno di mana rakyat memandang kediktatoran sebagai bentuk pemerintahan terburuk. Capaian praktis dari pemikiran demokrasi Yunani adalah munculnya “negara kota”. Dengan Polis adalah bentuk demokrasi pertama. Demokrasi berasal dari taka tain yaitu demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan).
Peradaban Yunani menunjukkan bahwa masyarakat Yunani dipecah menjadi kota-negara bagian yang kecil-kecil (tidak lebih dari 10.000 warga). Setiap orang menyuarakan
9 Tim ICCE UIN, Ibid., 129
pendapatnya atas persoalan-persoalan pemerintahan. Istilah demokrasi sendiri pertama kali di kemukakan pada pertengahan abad 5 M di Athena.
Istilah demokrasi pertama kali muncul dalam pemikiran politik dan filsafat Yunani kuno. Filsuf Plato kontras demokrasi, sistem "pemerintahan oleh diatur", dengan sistem alternatif monarki (pemerintahan oleh satu individu), oligarki (pemerintahan oleh kelas elite kecil) dan timokrasi. (Analisis Politik di Republik Plato di Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Meskipun demokrasi Athena yang saat ini dianggap oleh banyak menjadi bentuk demokrasi langsung, awalnya memiliki dua fitur yang membedakan: pertama peruntukan (seleksi dengan banyak) dari warga biasa untuk kantor-kantor pemerintah dan pengadilan, dan yang kedua perakitan semua warga. Semua warga Athena laki-laki yang memenuhi syarat untuk berbicara dan suara di Majelis, yang mengatur hukum negara kota;
kewarganegaraan tidak diberikan kepada wanita, atau budak. Dari 250.000 penduduk hanya sekitar 30.000 rata-rata adalah warga negara. Dari mereka 30.000 mungkin 5000 mungkin secara teratur menghadiri satu atau lebih pertemuan Majelis populer. Sebagian besar pejabat dan hakim dari pemerintah Athena yang diberikan; hanya para jenderal (strategoi) dan beberapa perwira lainnya terpilih.11
Pericles, seorang di antara para pemimpin demokrasi Athena tahun 430,
berargumentasi bahwa demokrasi berhubungan dengan toleransi, tetapi tidak membuat klaim khusus bagi pemerintahan mayoritas. Baik Plato maupun Aristoteles mengingatkan bahwa demokrasi harus mempertimbangkan ‘the larger’ dan ‘the wiser’.Aristoteles tetap menyebutkan pentingnya pemerintahan mayoritas dengan mengatakan bahwa ‘the majority ought to be sovereign, rahter than the best, where the best are few … A feast to which all contribute is better than one given at one man’s expense.”
Plato khususnya prihatin jika demokrasi lebih mengutamakan mayoritas yang tidak berpendidikan atau miskin yang kemudian bisa membenci kaum kaya, atau pemerintahan diatur oleh mereka yang tidak bijaksana. Biasanya minoritas yang kalah termasuk ‘the wiser’. Hanya di abad ke 17 pengukuhan terhadap demokrasi didasarkan pada asumsi tentang kesetaraan semua warga negara, hal ini muncul sebagai akibat dari reformasi Protestan.
Kerajaan Romawi (509-27 SM) mengambil elemen-elemen demorkasi Yunani dan diterapkan dalam pemerintahannya. Pemerintahan Romawi adalah perwakilan demokrasi
yang terwakili dalam para bangsawan di Senat dan perwakilan di warga biasa di Dewan. Kekuasaan pemerintahan terbagi dalam dua cabang tersebut dan mereka memberi suara untuk berbagai masalah. Cicero, negarawan Romawi masa itu berpendapat bahwa masyarakat memiliki hak tertentu yang harus dipelihara, ia juga berpendapat bahwa kekuasaan pemerintahan dan kekuasaan politik harus berasal dari rakyat.12
Gagasan demokrasi Yunani Kuno hilang pada abad pertengahan dengan ditandai kekuasaan pemerintahan di dominasi oleh Paus dan gereja Katolik dan kehidupan politik ditandai perebutan kekuasaan oleh para elit. Semua buku-buku ilmiah yang bertentangan dengan gereja dibakar sehingga eropa pada kala itu mengalami pemberhentian
perkembangan ilmu dan demokrasi karena HAM rakyat di tekan oleh gereja dan bangsawan. Karena itu abad ini disebut abad kegelapan yaitu pada abad 5 sampai 15 masehi.
Namun pada akhir abad pertengahan gerakan demokrasi muncul kembali pada lahirnya piagam Magna Carta pada tahun 1215 yaitu perjanjian antara Raja John dan bangsawan Inggris untuk mengakui dan menjamin hak-hak bawahannya yang menandai 2 prinsip yaitu satu pembatasan wewenang dan kedua hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan Raja.13
Momentum lainnya adalah pada zaman renaissance dan reformasi. Pada era
renaissance yatu pada abad 14-17 masehi muncul karena ada kontak antara dunia barat dan dunia Islam yang pada saat itu berada pada puncak kjayaan karena eropa pada masa kegelapan karena ulah gereja. Pada era tersebut pra ilmuan Islam seperti Ibnu Khaldun, Al-Razi, Oemar Khayam, Al-Khawarizmi, dan yang lain mengasimilasikan pengetahuan Parsi kuno dengan Yunonai kuno. Karena itu menurut Phillip K Hitti dunia Islam telah
memberikan subnagan besar terhadap perkembangan eropa.
Pada era reformasi yaitu pada abad ke 16 masehi adanya penjauan erhadap doktrin gereja Katolik yang berkembang menjadi protestanianisme yang dipelopori oleh Martin Luther yang menyulut api pemberontakan terhadap dominasi gereja. Kecaman dan dobrakan terhadap absolutisme monarki dan geerja pada masa itu didasarkan pada teori rasionalit sebagai kontrak sosialyang salah satu asasnya menentukan bahwa dunia ini dikuasai oleh hukum alam yang mengandung prinsip prinsip keadilan yang universal, berlaku untuk semua waktu dan semua orang, baik raja, bangsawan dan rakyat jelata yang mengakibatkan pendapat umum bahwa hubungan raja dan rakyat didasarkan pada suatu perjanjian mengikat kedua belah pihak. Dan juga pada era ini muncul filsuf-filsuf antara lain Ia adalah Baron de La Brède et de Montesquieu (lahir 18 Januari 1689 – meninggal 10 Februari 1755) yang
lebih dikenal dengan Montesquieu. Momtesquieu terkenal dengan teorinya mengenai pemisahan kekuasaan yaitu Trias Politika dimana kekuasaan dibagi menjadi Legeslatif, Eksekutif dan Yudikatif. Ia juga yang mempopulerkan istilah “feodalisme” dan kekaisaran Bizantium”yang melahirkan revolusi Perancis. 14
Dan selanjutnya dilanjutkan pada abad ke-19 yang muncul demokrasi konstitusional yang melahirkan negara kesejahteraan.
2.3 Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia dapat disebut sebagai right of manyang mana ditolak karena membutuhkan juga right of women oleh karena itu digantu oleh Elanor Roosevelt menjadi
human right.
Menurut Jan Materson dalam Teaching Human Rights, United Nations hak asasi manusia adalah hak-hak yang melekat pada manusia yang tanpanya manusia mustahildapat hidup sebagai manusia.15
Pada UU no.39 tahun 1999 tentang HAM, hak asasi manusia adalah Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
Berdasarkan rumusan diatas HAM memiliki ciri antara lain:
a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. Ham adalah bagian dari manusia secara otomatis;
b. Ham berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.
c. HAM tidak dapat dilanggar karena tidak seorangpun memiliki hak itu melanggar hak orang lain.
d. Batas HAM orang adalah hak orang lain.
Bentuk-bentuk HAM yang diakui di Indonesia antara lain:
a. Menurut UUD 1945
1. Kebebasan berpendapat;
2. Kedudukan yang sama dimuka hukum 3. Kebebasan berkumpul dan berorganisasi 4. Kbebasan beragama
5. Penghidupan yang layak 6. Kebebasan berserikat 7. Memperoleh pengajaran b. Menurut UU no. 29 tahun 1999 14 Tim ICCE UIN, Ibid., hal 127
1. Untuk hidup
2. Berkeluarga dan melanjutkan keturunan 3. Mengembnagkan diri
4. Memperoleh keadilan 5. Kebebasan pribadi 6. Rasa aman
7. Kesejahteraan
8. Turut serta dalam pemerintahan 9. Hak wanita
10. Hak anak.
2.4 Hubungan Demokrasi Dengan Hak Asasi Manusia
Sesuai dengan pernyataan para ahli di subbab demokrasi, HAM merupakan parameter atau indikator demokrasi pada suatu negara. Karena pada dasarnya demokrasi adalah kedaulatan rakyat yang mana rakyatlah yang memegang kekuasaan walau pada kenyataannya yang berkuasa adalah yang diberi mandat.
Maka para mandataris inilah yang wajib membuat peraturan yang mendukung HAM dan menjunjung serta menegakan HAM rakyat untuk berpartisipasi dalam pemerintahan sehingga demokrasi secara riil dapat terjadi dalam bentuk parpol atau kelompok penekan dan ormas yang bebas dan tanpa intervensi tangan-tangan mandataris untuk mencapai tujuannya yaitu selalu berkuasa.
Negara-negara yang tidak menjunjung HAM terklasifikasi sebagai negara otoriter, bahkan negara yang dibilangnya maju seperti Singapura masih tergolong otoriter, hal ini dapat dilihat pada pemilihan perdana menterinya yang mana memiliki hubungan darah dengan perdana menteri pertama yaitu Lee Kuen Yew.
Dan ada beberapa bukti yaitu pada UUnya yaitu
1. Internal Security Act, pada peraturan ini, orang dapat ditahan dengan waktu penahanan yang tidak ditetapkan secara jelas.
2. Penal Code pada hukum pidana ini orang pada umur 16-50 tahun dapat
dieksekusi mati karena narkotika, kepemilikan senjata, terorisme dan penculikan. 3. Article 14 of Singapore membatasi pengekspresian diri, berkumpul, berpendapat
apabila dapat menyebabkan perpecahan dalam masyarkat atau negara.
4. National Security Act, memaksa warga negara untuk perbartisipasi pada militer. 5. Penal Code 337, melarang kaum homoseksual, lesbian, dan biseksual untuk ada
6. The Employment of Foreign Workers Act tidak memberikan pegawai dari luar negeri untuk mendapatkan manfaat yang sama seperti pegawai yang merupakan warga negaranya.
7. Trafficking Victims Protection Act,dalam peraturan ini perdagangan wanita dianggap boleh apabila legal dalam bentuk tertentu.
8. KUHAP Singapura, memberikan hukum cambuk kepada warga negaranya sebagai alternatif pemidanaan.
2.5 Tahapan Perkembangan Demokratisasi Di Indonesia
Proses demokratisasi di Indonesia dibagi pada beberapa periode yaitu: 1. Sebelum kemerdekaan 1908-1945
Pada era ini dimulai pada politik etis Hindia Belanda. Hal ini tercermin pada hak berkumpul dan berorganisasi yaitu terbentuknya organisasi Boedi Oetomo oleh para mahasiswa STOVIA Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908.
Pada era ini dikenal Volksregering (pemerintahan rakyat) dan volkssouvereiiniteit
(kendaulatan rakyat). Dengan begitu penerapannya muncul Sekolah Rakyat untuk memcerminkan asas kesamarataan. Danjuga muncul organisasi islamis dan “kafir” non Islam yang memberikan sika kritis kepada pemerintah kolonial.16 Kelompok-kelompok itu adalah Sarekat Islam dan PKI.
Pada era iihak yang dijunjung adalah hak untuk kemerdekaan atau self determination right. Terbinya buku Als ik een Nederlander wasoleh Suwardi Suryadiningrat menunjukan ekspresinya untuk melawan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda. Hal itu yang menunjukan kebebasan berekspresi dan berpendapat dan juga oleh karya yang lain seperti R.A. Kartini dengan bukunya
Door Duisternis Tit Licht, Dr. Rivai dengan bukunya Ta Sen An.
Karena pidato Ratu di parlemen pada 1901 maka dibentuklah organisasi
mahasiswa sebaai bentuk hak berkumpul yaitu Indische Verenigingdan ambtena. Dan juga terbentuknya Volksraad pada pemerintahan yang berfungsi sebagai dewan penasihat gubernur jendral. Pasal 111 RR dicabut karena membatasi hak berpendapat dan beroganisasi oleh Ratu dan dengan begitu dapat muncul Volksraad yang mana menjadi cikal bakal Rijksraad (Majelis kerajaan) yang merupakan cikal bakal MPR dan landstaaten (Dewan Perwakilan Rakyat) yang
merupaka benih DPR RI. 17
2. Setelah kemerdekaan 1945- sekarang a. 1945-1950
Pada era ini dkenal juga sistem demokrasi parlementer.karena UUD 1945 yang mengusung presidensial diganti dengan UUD 1950 yang
parlementer.pada era ini badan eksekutif adalah presiden sebagai kepala konstitusional dan menterinya.
Dan pada era ini presiden tak mau menjadi presiden yang sebgai kepala negara saja yang mana tidak memiliki kekuasaan krena merasa bertanggung jawab atas persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Pada era ini dengan keluarnya Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 maka timbul parpol. Pada era ini terdapat “bentrokan” antara Soekarno dan Hatta tentang konsep lembaga perwakilan yang mana Hatta lebih kepada perwakilan yang individualistik dan Soekarno perwakilan secara kelompok dengan bukti pidatonya yaitu18
“duduk utusan-utusan dari seluruh rakyat, zonder memperbedakan keyakinan. Utusan-utusan dari kaum yang 100 persen ke-Islamanny, utusan-utusan kaum keristen, dari kaum tiada agama, kaum intelektuil, kaum dagang, kaum buruh, kaum tani, kam pelajar—pendek kata utusan-utusan dari seluruh ketubuh bangsa dan natie”
b. 1950-1959
c. Pada tahun 1950an Soekarno sangat khawatir kanrena kekuasaannya dapat etrgoyah karena pada demokrasi parlementer pemenrintahan tidak ada yang stabil. Soekarno mengecam sistem multi partai dan parlementer yang mana ditunjukan pada pidatonya di November 1945 berjudul kesalahan
besar.karena ketidak stabilan politik tersebutlah maka muncul peristiwa 17 oktober 1952 yaitu tentara menunutut pembubaran parlemen yang mana menjadi cikal bakal memprioritaskan kepentingan giolongan daripada bersama. Partai Masyrumi dan IPKI adalah partai yang sangat giat memberikan mosi tidak percaya yang mana memberikan Soekarno untuk
17 Gondokusumo, Ameltz, Parlemen Indonesia, hal 9
mencetuskan demokrasi terpimpin dan juga UUDS ditolak oleh militer dan Soekarno.
Pada era ini demokrasi parlementer berakhir dengan dekrit presiden 5 juli 1959
Pembubaran Konstituante.
Beriakunya Kembali UUD 1945.
Tidak berlakunya UUDS 1950.
Pembentukan MPRS dan DPAS.
Soekarno memanfaatkann dekrit ini memobilisasi kekuasaan untuk berada ditangannya. Dan membentuk DPR GR yang keanggotaanya dipilih Soekarno dan menjadikan dirinya sebagai mandataris MPR yaitu pemimpin besar revolusi. DPR GR merupakan boneka Soekarno yang mengikuti apa perintah Soekarno.
d. 1959-1965
Pada era ini didominasi oleh Presiden dan terbatasnya partai politik karena DPR dipilih oleh Presiden dan Presiden memiliki kekuasaan absolut karena mandataris MPR, dan dominannya militer , komunis dalam
politik.berdasarkan Tap MPRS no. III/1963 membatalkan pembatasan waktu 5 tahun untuk presiden dan mengangkat Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi yang erjangka waktu menjabat seumur hidup.
Pelanggaran demokrasi terjadi karena kekuasaan Soekarno sebagai
mandataris MPR, hal ini terbukti dengan pembubaran DPR yang mrupakan hasil pemilu dan membentuk DPR GR yang merupakan bonekanya.
DPR diposisikan sebagai pembantu pemerintah dan fungsi sebagai kontrol ditiadakan. Dan DPR dijadikan menteri dan meninggalkan doktrin pemisahan kekuasaan.
Dan UU no 19/1964 memberikan wewenang presiden dalam badan yudikatif dan PP 14.1960 wewenang presiden dalam legislatif.
Pada era ini Masyumi partai Islam terbesar dibubarkan dan PKI di dukung dengan sangat hal ini dibuktikan dengan terjadi penyelewengan yaitu didirikan badan ekstra konstitusionil seperti Front Nasional yang dipakai komunis sebagai arena kegiatan sesuai dengan taktik Komunisme Internasional.
Dan juga pelanggaran peraturan yang mana dekrit presiden digunakan sebagai dasar hukum yang dapat membubarkan badan konstitusional yang dipilah rakyat yaitu DPR.
e. 1965-1998
Pada periode ini muncul demokrasi pancasila yang ditandai oleh SUPERSEMAR 11 Maret 1966 dan hjatuhnya Soekarno. Tap MPRS No. III/1963 dibatalkan jabatan presiden efektif 5 tahun kembali. Tap MPRS No. XIX/1970 berisi peninjauan demokrasi terpimpin dan UU no19/1964 digantu dengan UU no.14/1970 yang menetapkan kebebasan badan yudkatif. DPR GR diberi hak kontrol yang dan membantu pemerintah dan tidak dinaggap sebagai menteri lagi.
Pada era ini demokrasi pancasila merupakan retorika dan gagasan belum mecapai praktek, hal ini dibuktikan edngan
1. Dominannya peran ABRI
2. Birokratisasi dan sentalisasi pengambilan keputusan 3. Pengebirian peran dan fungsi parpol
4. Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai dan politik 5. Masa mengambang
6. Monolitasi ideologi
7. Inkorporasi lembaga non pemerintah
Pemerintah pada era ini bersifat defensif dan restriktif pada HAM karena HAM dianggap sebagai budaya barat yang mana bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila .
f. 1998-sekarang
Pada era ini otoriter Soeharto jatuh seiring dengan itu demokrasi berkembang pesat. Pada era ini menurut Azyurmardi Azra reformasi mencakup 3 hal besar yaitu
1. Reformasi Konstitusional.
Indonesia adalah negara hukum, yang dicantumkan dalam batang tubuh pada pasal 1 ayat 3.
Sistem konstitualisme, artinya dalam penyelengaraan
Kedaulatan berada di tangan rakyat. Oleh karena itu, saat ini pemilihan Presiden dilakuka langsung oleh rakyat.
Presiden adalah penyelenggara pemerintahan, bukan tertinggi dan bukan dibawah MPR.
Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR.
Menteri negara ialah pembantu presiden dan tidak bertanggung jawab terhadap DPR. Jadi, presiden memiliki hak kewenangan mutlak untuk mengangkat dan memberhentikan seorang menteri.
Kekuasaan kepala negara terbatas. Maksudnya, dibatasi oleh hukum dan konstitusi.
Adanya otonomi daerah
Munculnya Mahkamah Konstitusi
Parlemen terdiri atas dua bagian (bikameral), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Para anggota dewan merupakan anggota MPR. DPR memiliki kekuasaan legislatif dan kekuasaan mengawasi jalannya pemerintahan.
Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh Makamah Agung dan badan peradilan dibawahnya dan Makamah Konstitusi dan Komisi Yudisial sebagai pengawasnya.
Sistem multi partai. 2. Reformasi kelembagaan
UU ASN
UU Pemda
3. Reformasi pengembangan kultur dan budaya politik
Terbentuknya kelompok penekan dan kelompok gerakan serta parpol yang merupakan partisipasi rakyat dalam melaksanakan demokrasi.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.3 Kesimpulan
Perkembangan demokrasi berawal dari abad 503 sebelum masehi dan sempat berhenti pada abad pertengahan dan dimulai lagi pada abad renaissance karena perjumpaan Islamd an dunia barat.
Hak asasi manusia adalah hak yang ada pada manusia karena ciptaan Tuhan. HAM merupakan indikator negara demokratis, HAM dan Demokrasi bagai telpon pintar dan sistem porasinya, tanpa salah satunya maka demokrasi hanyalah gagasan saja.
Demokratisasi Indonesia sempat terhalang pada era demokrasi terpimpin karena Soekarno dan demokrasi pancasila karena Soeharto, pada era demokrasi terpimpin Soekarno melakukan hal inkonstusional seperti membubarkan DPR yang merupakan hasil pemilu dan badan yang konstitusional dam mendirikan DPR-GR yang meurpakan pilihannya dan menggunakan dekrit sebagai sumber hukum.
Pada era Soeharto militerisme sangat terasa sehingga keputusan berada ditangannya seolah olah ada palemen dikuasai olehnya dan adanya “penyunatan partai” yang merupakan pelanggaran demokrasi dan HAM.
3.4 Saran
Agar pemerintah RI terbuka dan mengusung Undang-Undang yang tidak mendorong hak asasi manusia yang diharapkan menjadi dorongan agar proses demokratisasi dapat berjalan baik dan muncul pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme \
Dan juga peran aktif mahasiswa dan masyarakat dalam organisasi manusia yang mendorong demokrasi dan memberi kritikan yang bermanfaat bagi pemerintah guna kemajuan pemerintahan.
DAFTAR PUSTAKA
Tim ICCE UIN Jakart. 2005. Demokrasi dan Hak Asasi Mnusia pada Masyarakat Madani. Jakarta: Fajar Interpratama Offset.
Harris, Syamsyudin. Demokrasi Di Indonesia. 1994. Demokrasi Di Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Noer, Deliar. 1980. Pergerakan Modern Islam di Indonesia. Jakarta:LP3ES
Gondokusumo, Ameltz, Parlemen Indonesia
Sokarno. 1963. Dibawah Bendera Revolusi
Noor et Ms Bakry. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Satori, Giovanni. 1987. The Theory of Democracy Revisited. Catham, New Jersey: Catham House Publisher Inc.
Democracy Encyclopædia Britannica Online
Amal, Ichlasul. 1988. Teori-teori Mutakhir Partai Politik. Yogyakarta: Tiara Wacana
Nasution, Adnan Buyung. 1992. The Aspiration for Constitutional Governemnt in Indonesia: a Socilo-Legal Study of Indonesian Konstituante 1956-1859. Jkarta: Pustaka Sinar Harapan.
Noer. Deliar. 1983. Pengantar ke Pemikiran Politik. Jakarta: CV Rajawali.