• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN KETIMPANGAN PERMINTAAN INDUSTRI D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KAJIAN KETIMPANGAN PERMINTAAN INDUSTRI D"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN KETIMPANGAN PERMINTAAN INDUSTRI DAN PASOKAN PENDIDIKAN WILAYAH KOTA MAKASAR

Yunia Dwie Nurcahyanie Rusdiyantoro Djoko Adi Walujo

abstract

Higher education Indonesia produce thousands of fresh graduate every year, but why Indonesia's economic development can’t increased gradually in the domestic workforce. This study aims to identify the needs of the industrial needs in Makassar and suitability supply of human resources. This research use quantitative and qualitative purposive random sampling of 40 companies that comprise the total number of workers in 1346 and converted to worker education at the vocational school, high school, D3, and S1 in Makassar City Region. The results of this study explained why proportion of the sub-sector is dominated by the high school and vocational school graduates, and a lot of positions that should be filled by a minimum S1 or D3 were filled by high school or vocational school where they come from an educational background is not in suit with with Indonesian Human Development Index and MP3EI corridor Sulawesi. The number of certified worker is still less than 30%, it is far short of expectations in 2015 after Indonesia must certify the entire human resources through the National Professional Certification.

Keywords: Human Development Index Mapping, Makasar,KKNI, MP3EI

Abstrak

Pendidikan tinggi di Indonesia mencetak ribuan lulusan setiap tahunnya, namun dengan jumlah sedemikian, mengapa perkembangan ekonomi Indonesia tidak bisa terserap di tenaga kerja baik dalam negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dunia kerja industri wilayah Kota Makasar dan kesesuaian pasokan SDM di wilayah Makasar. Peneltitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif, purposif random sampling 40 perusahaan yang terdiri dengan jumlah pekerja total 1346 pekerja dan di konversikan dengan pendidikan di tingkat SMK, SMA, D3 dan S1 di Wilayah Kota Makasar. Hasil dari penelitian ini ternyata, proporsi dari sub sektor ini didominasi oleh lulusan SMA dan SMK, dan banyak posisi yang seharusnya diisi oleh S1 atau minimal D3 pun diisi oleh SMA atau SMK dimana mereka berasal dari latar pendidikan yang tidak sesuai dengan KKNI dan MP3EI wilayah Pulau Sulawesi. Jumlah tenaga yang disertifikasi masih kurang dari 30%, hal ini jauh dari harapan tahun 2015 Indonesia harus usai mensertifikasi seluruh SDM melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Kata Kunci : Pemetaan SDM, Perhotelan, Kota Makasar, KKNI, MP3EI

Pendahuluan

(2)

berkelanjutan; (b) pembangunan ekonomi yang merata di seluruh tanah air; (c) peningkatan kesempatan kerja; serta (d) penurunan tingkat kemiskinan.

Program MP3EI menjadi payung semua kegiatan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia, sebagai bentuk langkah-langkah terobosan. Pengembangan koridor-koridor utama yang menjadi pendorong dan penopang kegiatan ekonomi di wilayah-wilayah sekitarnya, serta didukung dengan perbaikan konektivitas antar daerah, diharapkan dapat segera mewujudkan integrasi pasar di wilayah Indonesia, hingga ke pelosok desa. Dengan strategi tersebut, hasil kegiatan pembangunan dan pertumbuhan dapat lebih dioptimalkan. Demikian pula, dampaknya pada penyerapan tenaga kerja diperkirakan akan lebih baik dan merata ke seluruh wilayah Indonesia. Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Indonesia dibagi menjadi enam koridor ekonomi (KE), yaitu KE Sumatra, KE Jawa, KE Kalimantan, KE Sulawesi, KE Bali-Nusa Tenggara dan KE Papua-Kepulauan Maluku. Dalam setiap koridor ekonomi, ibukota-ibukota propinsi dijadikan sebagai pusat-pusat ekonomi. Setiap koridor ekonomi mempunyai tema pembangunan yang berbeda-beda sesuai dengan keunggulan dan potensi strategis masing-masing wilayah.

Hasil dan Pembahasan

Lebih dari lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa institusi pendidikan tinggi menghadapi isu dan tantangan globalisasi, kompetisi dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy). Identifikasi cepatnya perubahan pasar kerja lulusan yang meliputi: (1) berubahnya struktur industri dan bisnis komersial terutama munculnya kekuatan-kekuatan baru yang kecil-kecil dan organisasi bisnis yang responsif, (2) banyak lulusan yang bekerja pada organisasi/bisnis kecil, menjadi bekerja sendiri atau kombinasi, part-time, atau bekerja paruh waktu dengan freelance. (3) adanya reformasi sektor publik terutama pemerintah yang mendorong untuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas. Derasnya arus perubahan tersebut menuntut adanya transformasi dalam menyiapkan lulusan. Institusi tidak hanya menghasilkan keterampilan akademis yang secara tradisional dihasilkan dari mata kuliah pada program studi dan gelar yang dicapai, melainkan harus lebih eksplisit berusaha mengembangkan apa yang disebut sebagai ‘key’, core’, ‘transferable’ and/or ‘generic’ skills yang dibutuhkan oleh berbagai bidang dan tingkat pekerjaan. Agregat dari berbagai keterampilan yang dimiliki lulusan sering disebut sebagai employability skills.

Dari sudut pandang industri, ‘employability skill’ mengacu pada kesiapan untuk bekerja (work-readiness), yaitu memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan memahami bisnis yang memungkinkan para lulusan baru memberikan kontribusi produktif terhadapa tujuan-tujuan organsisasi segera setelah memulai bekerja. Sementara itu Overtoon (2000) Lisa (2009) dalam mendefinisikan employability skills sebagai “transferable core skill groups that represent essential functional and enabling knowledge, skills and attitudes required by the 21st century workplace… necessary for career success at all levels of employment and for all levels of education”. Yorke (2004) dalam Lisa (2009) mendefinisikan employability sebagai “A set of achievements – skills, understandings and personal attributes – that make graduates more likely to gain employment and be successful in their chosen occupations, which benefits themselves, the workforce, the community and the economy.”

Dari hasil kajian ini didapatkan bahwa secara umum, employability skill terdiri atas (1) Keterampilan akademis (2) keterampilan pengembagan diri dan (3) keterampilan bisnis.

(3)

b. Keterampilan penggembangan diri (personal development skills): meliputi percaya diri, disiplin diri, keyakinan diri, menyadari kekuatan dan kekurangan diri, kreativiti, mandiri, pengetahuan atas hubungan internasional, keinginan untuk belajar, kemampuan refleksi, integritas, jujur dan hormat kepada orang lain.

c. Keterampilan bisnis (enterprise or business skills): mencakup keterampilan entrepreneurial, kemampuan untuk memprioritaskan tugas, manajemen waktu, keterampilan interpersonal, keterampilan presentasi, kemampuan bekerja dalam tim, leadership, commercial awareness, fleksibel, inovator, independence dan risk-taking.

Kesimpulan untuk ketiga bidang di atas, diperlukan oleh industri sebagimana hasil penelitian yang menunjukkan bahwa aspek-aspek soft-skill yang diperlukan di industri hospitaliti dan pariwisata dirinci menurut kepentingannya, komunikasi merupakan unsur yang sangat penting yang harus dimiliki setiap lulusan.

1. Namun masalah yang dihadapi Indonesia adalah kesiapan untuk menghadapi MRA 2015 nanti. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, sepertinya harus “berjuang sendirian” menghadapi masalah ini, misalnya dengan mensertifikasi tenaga kerja profesional, menyediakan assesor dan assesor licensi, namun itu pun masih jauh dari memadai.

2. Masalah lain adalah kesadaran stakholder lainnya termasuk industri dan lembaga pendidikan sebagai penyedia tenaga kerja trampil.

Berdasarkan rencana MP3EI, wilayah Sulawesi termasuk kota Makasar memiliki potensi untuk pengembangan sektor telematika. Dengan dasar acuan ini, maka evaluasi pemetaan sisi pasokan akan dipentingkan kepada keempat sektor unggulan wilayah kota Makasar tersebut

Gambar 1. Koridor Ekonomi Indonesia Berdsarkan MP3EI Wilayah Sulawesi Termasuk Kota Makasar

(4)

pengolahan sektor-sektor tertentu. Tetapi rencana MP3EI yang dicanangkan oleh pemerintah tidak didukung oleh ketersediaan lembaga pendidikan sebagai penyedia atau pemasok pekerja pada sektor-sektor tersebut. Ada banyak faktor yang menyebabkan pasokan dari dunia pendidikan tidak mampu terserap oleh industri lokal diantaranya:

1. Ketidak mampuan dunia pendidikan menyediakan SDM yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan industri.

2. Informasi kebutuhan DUDI (Dunia Usaha dan Dunia Industri) tidak sampai kepada sekolah untuk dikelola sebagaimana kebutuhan DUDI karena DUDI merasa tidak memiliki cukup waktu untuk menginformasikan kebutuhan mereka. 3. Informasi dari orang tua kepada anak untuk memilih jurusan tertentu masih didominasi pemikiran gengsi dan pemikiran trend yang ada di pasaran dalam artian orang tua melihat kebutuhan saat ini tapi tidak mampu melihat kebutuhan masa depan.

4. Untuk jurusan-jurusan strategis namun sepi peminat tidak ada dukungan baik informasi kerja maupun informasi kewirausahaan di bidang-bidang tersebut, terutama bidang pertanian, peternakan dan perikanan.

Gambar 2. Detail 6 Koridor ekonomi berdasarkan MP3EI

Proyeksi Ekonomi Berdasarkan MP3EI Wilayah Makasar

(5)

Bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat”. Untuk mendukung pencapaian tema tersebut, dalam RKP 2013 ditetapkan 11 prioritas nasional dan 3 prioritas lainnya, yang terdiri atas: (1) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola; (2) Pendidikan; (3) Kesehatan; (4) Penanggulangan Kemiskinan; (5) Ketahanan Pangan; (6) Infrastruktur; (7) Iklim Investasi dan Iklim Usaha; (8) Energi; (9) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana; (10) Daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Pasca-Konflik; (11) Kebudayaan, Kreativitas, dan Inovasi Teknologi; (12) Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan lainnya; (13) Bidang Perekonomian lainnya; dan (14) Bidang Kesejahteraan Rakyat lainnya.

Studi pemetaan dalam dimensi kuantitas, kualitas, lokasi dan waktu yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas PGRI Adi Buana untuk kajian wilayah kota Makasar, terbatas pada jurusan yang dinilai mendukung PDRB dan sesuai juga dengan MP3EI. Berdasarkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 yang dicanangkan oleh Kementerian Perencanaan. Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Indonesia dibagi menjadi enam koridor ekonomi (KE), yaitu KE Sumatra, KE Jawa, KE Kalimantan, KE Sulawesi, KE Bali-Nusa Tenggara dan KE Papua-Kepulauan Maluku. Dalam setiap koridor ekonomi, ibukota-ibukota propinsi dijadikan sebagai pusat-pusat ekonomi. Setiap koridor ekonomi mempunyai tema pembangunan yang berbeda-beda sesuai dengan keunggulan dan potensi strategis masing-masing wilayah.

Pada koridor Sulawesi, pembangunan dipusatkan pada produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas dan pertambangan nasional. Pengembangan industri di Sulawesi pada produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan juga sesuai dengan program pengembangan enam kelompok industry prioritas oleh Kementerian Perindustrian. Industri agro disebut-sebut sebagai industri andalan masa depan dengan potensi produksi diperkirakan dapat mencapai 20 juta ton CPO, 0,65 juta ton kakao dan 2.5 juta ton karet. Dengan mengembangkan industri-industri strategis tersebut, ternyata penyerapan tenaga kerja khususnya tenaga kerja lokal tidak sesuai dengan. Salah satu lokasi pengembangan klaster industri agro adalah propinsi Sulawesi Selatan dengan fokus pada industri kakao (Jessica Hanafi dkk, 2011).

SIMPULAN

1. Penerimaan daerah Wilayah Kota Makasar dan Kota Sekitarnya tidak sama dengan PDRB Propinsi, dimana untuk PDRB Makasar industri yang menyerap banyak tenaga kerja adalah industri Jasa , hotel dan pariwisata, sendangkan PDRB Sulawesi Selatan terbesar adalah Industri Pertanian.

2. Penentuan Klaster Ekonomi dan Proyeksi Keterserapan antara MP3EI, MP3KI, KER Bank Indonesia, BPS masing-masing memiliki tolok ukur yang berbeda, namun ada satu kesamaan antara MP3EI dan KER Bank Indonesia, Untuk Wilayah Sulawesi Selatan Potensi Ekonomi terbesar adalah faktor pertanian (di MP3EI tersebutkan Wilayah Makasar), kenyataannya untuk jurusan pertanian baik pada level SMK maupun perguruan tinggi sepi peminat bahkan ditutup. 3. Penentuan jurusan SMK termasuk jurusan pertanian untuk mendukung MP3EI

maupun KER BI, tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup baik bagi calon siswa SMK maupun orang tua siswa, sehingga jurusan favorit hanya yang ‘disukai siswa’ dan ‘kelihatannya mudah cari kerja’, tetapi tidak dibutuhkan (berdasar proyeksi ekonomi daerah).

(6)

dikehendaki oleh industri baik dilihat dari pengetahuan, keterampilan maupun sikapnya.

5. Kurikulum pendidikan sistem ganda dikembangkan berdasarkan kebutuhan industri melalui sinkronisasi atau maping kurikulum. Pengembangan Kurikulum ini dilakukan dengan berpedoman pada kurikulum nasional, menelaah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Namun nampaknya masih kurang efektif dilihat dari keterserapan alumni kurang dari 80% lulusan SMK terserap di DUDI.

6. Walaupun kebanyakan industri yang ditempati siswa praktek kerja belum memiliki naskah kerjasama tetapi industri tetap berpartisipasi aktif menerima siswa program keahlian usaha jasa pariwisata untuk praktek kerja. Kebanyakan pengalaman industri (institusi pasangan) menerima praktek kerja siswa SMKN Wilayah Makassar lebih dari empat tahun dan sudah terjalin hubungan yang baik antara sekolah dengan industri.

7. SMK perlu meningkatkan kerjasama dengan DUDI dengan fasilitasi Dinas Pendidikan Kabupaten Kota atau Propinsi Sulawesi Selatan Pihak DUDI disarankan untuk merajut kerjasama secara komprehensif dengan SMK dengan cara membuat nota kesepakatan untuk magang, praktek kerja industri atau prakerin, dan memberikan bantuan peralatan kepada SMK

8. SMK diharapkan bisa memfasilitasi alumni untuk berwirausaha termasuk untuk memberikan pembiayaan modal bekerjasama dengan bank atau penanam modal mandiri, dilihat dari data valid cukup banyak alumni SMK yang memutuskan untuk berwirausaha.

9. SMK selalu melakukan komunikasi efektif dengan alumni dengan konensitas BKK di SMK perlu diaktifkan, agar lulusan bisa disalurkan BKK dan tidak mencari pekerjaan sendiri, dengan demikian SMK yang akan mengirim siswa untuk memperhatikan kesiapan mental siswa agar DUDI bisa memberikan apresiasi kepada siswa yang dikirim dan memberikan pekerjaan.

10. Perusahaan-perusahaan diharapkan bersedia menyerap alumni dari daerah setempat dan mengurangi pekerja dari lokasi lain. Untuk Level kementrian negara sudah dimulai di beberapa kementrian diantaranya KOMINFO.

11. Proses praktek kerja siswa di industri (institusi pasangan), mencakup; pekerjan yang dilatihkan berdasarkan kompetensi, waktu pelaksanaan praktek kerja minimal 4 bulan, penggunaan alat/ bahan praktek, pengisian jurnal oleh siswa dari pekerjaan yang dilatihkan lengkap. Seharusnya, penilaian praktek kerja dilakukan sepenuhnya oleh industri bukan oleh sekolah berdasarkan penggabungan antara nilai industri dengan nilai seminar sehingga siswa SMK benar-benar memahami kekurangan mereka selama melaksanakan proses Prakerin dan memungkinkan kerjasama dilanjutkan dengan mengangkat siswa prakerin menjadi karyawan di tempat magangnya.

12. Untuk Lembaga Kursus dan Pelatihan, ternyata memiliki tingkat keterapan pada DUDI lebih baik daripada SMK. Hal ini disebabkan lulusan kursus lebih banyak memilih membuka wirausaha dari ilmu kursus yang dimiliki atau bekerja pada industri yang sesuai dengan bidang kursusnya.

13. Peserta lembaga kursus umumnya adalah para profesioanal, ibu rumah tangga, alumni SMA dan SMK (lebih banyak alumni SMA) bahkan beberapa diantaranya masih SMP, bahkan ada peserta kursus yang sudah menempuh pendidikan S1 dan S2, dan bekerja di perusahaan mapan, mengikuti kursus ketrampilan untuk mencoba berwirausaha.

14. Program KPP (Kursus untuk Para Profesional) dibutuhkan untuk memberikan ketrampilan bagi alumni seluruh level pendidikan.

(7)

(setera dengan indeks kesesuaian /AI 0,8) dan sebagaian besar kursus bisa mencapainya.

16. Untuk program sarjana pada kajian ini tim menentukan sampling PGSD, dari kebutuhan di Wilayah Sulawesi Selatan Guru SD masih memiliki peluang, namun bukan menjadi guru PNS.

17. Tingkat kesesuaian kelulusan atau allignment index 0,66 masih dibawah target keterserapan jurusan yang ditentukan oleh Diknas yaitu 80% lulusan bekerja di bidang yang sesuai.

18. Dari 66% keterserapan lulusan, sebagaian besar masih menjadi guru honorer dengan penghasilan minim, oleh sebab itu lulusan PGSD UNM juga berminat untuk menekuni bidang lain.

19. Lulusan S1 PGSD UNM yang berpenghasilan lebih dari 1,5 juta rupiah adalah lulusan yang memiliki kemampuan profesional didukung dengan adanya sertifikat profesional dari lembaga kursus.

SARAN

Dari kajian PPDK Wilayah Makasar tahun 2012 ini kami mencoba untuk memberikan saran berupa model sederhana untuk pemecahan masalah keterserapan lulusan SMK, Kursus dan Perguruan Tinggi pada Dunia Usaha dan Dunia Industri yang sesuai dengan latar pendidikan formal/informal.

Perlu adanya kebijakan pendidikan yang diupayakan oleh Dikmenjur dan Kemendikbud yang sesuai dengan kebutuhan dan proyeksi ekonomi baik yang dibuat oleh Kementrian Keuangan melalui MP3EI dan MP3KI, Analisis Investasi berupa KER Bank Indonesia, dan proyeksi statistik dari BPS. Sehingga jika dibidang ekonomi proyeksi terbesar di Wilayah Sulawesi Selatan adalah industri pertanian, sedangkan supply untuk sumber daya manusia di bidang pertanian baik dari level SMK maupun S1 masih sangat minim peminat, bisa diperbaiki dengan cara adanya ikatan dinas khusus untuk industri-industri strategis di bidang ekonomi khususnya industri pertanian, perikanan wilayah makasar dan sulawesi selatan. Karena jika tidak ada ikatan dinas dan lulusan diminta untuk mencari pekerjaan sendiri dimana BKK di semua wilayah Indonesia tidak bekerja optimal, maka dibukanya SMK dan S1 jurusan pertanian tanpa ikatan dinas hanya akan menambah pengangguran terbuka.

Untuk lembaga kursus dari tingkat keserapan alumni sudah baik dan dari tingkat pendapatan alumni justru diatas lulusan SMK dan bahkan lulusan S1, namun kekurangan dari lembaga kursus adalah sebaiknya seluruh lembaga kursus menginventaris kebutuhan SDM di wilayahnya dan memperbaiki administrasi khususnya administrasi data siswa dan data alumni. Lembaga kursus bahkan LPK yang ditunjuk menjadi TUK adalah lembaga yang sekaligus menjadi pelaku usaha di bidangnya. Sehingga untuk administrasi kesiswaan dan kesiapan pendataan masih kurang baik. Tutor di lembaga kursus seringkali tidak memiliki latar pendidikan formal yang tinggi namun dengan masa kerja dan pengalaman serta mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan di tingkat nasional dan internasional mereka bisa dipilih menjadi tutor dan menjadi asesor untuk uji kompetensi.

(8)
(9)

Pustaka

Fitroh hanrahmawan (2010), Revitalisasi Manajemen Pelatihan Tenaga Kerja (Studi Kasus Pada Balai Latihan Kerja Industri Makassar), Jurnal Administrasi Publik, Volume 1 No. 1 Thn. 2010

Jessica Hanafi dkk (2011), Laporan Kajian Ppdk Wilayah Makasar

Katalog BPS, (2010), Makasar Dalam Angka

Lisa Rokhmani (2009), analisis Human Development Index Indonesia , (investasi pendidikan sebagai daya saing bangsa) , JPE-Volume 2, nomor 1, 2009, hal 13-22

Nurcahyanie D, Yunia (2011), Laporan Kajian Ppdk Wilayah Surabaya Direktorat Jendral Paudni Wilayah Kajian Industri Pariwisata Kota Surabaya.

Nurcahyanie D, Yunia (2012), Laporan Kajian Ppdk Wilayah Kajian Kota Makasar Berdasarkan Pasokan Lembaga Pendidikan.

Tim Bappenas (2008), Penyusunan Indikator Tipologi Dan Indikator Kinerja Pengembangan Kawasan Strategis Nasional Bidang Ekonomi Di Indonesia, Jakarta

Gambar

Gambar 1. Koridor Ekonomi Indonesia Berdsarkan MP3EI Wilayah Sulawesi TermasukKota Makasar
Gambar 2. Detail 6 Koridor ekonomi berdasarkan  MP3EI
Gambar 3. Model Eliminasi Kesenjangan Lulusan Pendidikan Menengah, Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Tinggi dengan KebutuhanDUDI dan dukungan untuk membuka WIRAUSAHA

Referensi

Dokumen terkait

Penju Penjualan alan prod produk uk koper koperasi asi secara tunai tidak dicatat di buku harian ini dan karena penjualan secara kredit tidak akan secara tunai tidak dicatat di

Pengujian fungsi status pemisah dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi pisau pemisah sesuai dengan status/indikator pada lemari mekanik.. status pemisah tersebut ada yang

Dismutase (SOD), TNF-alfa, dan IL-1 beta pada Sputum dan Serum Iin Noor Chozin, dr, SpP DPP 18 Hubungan Antara Kadar Vitamin D Dengan Ekspresi Cytokin Sel Th 17 Pada.. Pasien

Kajian ini menunjukkan bahwa: (1) Kesulitan menghafal Al- Qur’an yang dialami oleh santri di Pondok Pesantren Taḥfiẓul Qur’an Asy-Syarifah Brumbung Mranggen Demak,

Dengan demikian, cerita II Samuel 5:1-5 yang mengatakan bahwa ada semacam perjanjian atau kesepakatan antara Daud dan suku-suku di Israel- yang ditulis oleh

Dengan adanya jumlah Infak yang ditetapkan bagi calon jemaah Haji kota Palopo, maka timbullah keinginan penulis untuk mengkaji dan meneliti mengenai Infak Haji yang diputuskan

analisa difraksi sinar-X untuk mengidentifikasi fasa - fasa, mengetahui perubahan fraksi volume dan dimensi kristalin dari fasa - fasa yang telah terbentuk pada masing-masing

Permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia sangatlah komplek khususnya pada kepuasan kerja yang dirasa kurang bagi para guru sekarang ini, ketidak hadiran guru