• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya dan Pengaruhnya dalam Penerjemaha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Budaya dan Pengaruhnya dalam Penerjemaha"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SKRIPSI

BUDAYA DAN PENGARUHNYA DALAM PENERJEMAHAN IDIOM

(Telaah Idiom dalam Novel Hadits al-Shobah wa al-Masa` Karya Naguib Mahfouz)

RATIH DIAN RAHAYU

NIM: 11140240000046

PROGRAM STUDI TARJAMAH

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

DAFTAR ISI

BAB II WAWASAN SEPUTAR BAHASA, BUDAYA DAN PENERJEMAHAN A. Wawasan Bahasa dan Budaya

2. Latar Belakang Penulisan Novel Hadits al-Shobah wa al-Masa`

3. Karya-karya Lainnya BAB IV ANALISIS DATA

A. Telaah Penerjemahan Idiom dalam Novel Hadits al-Shobah wa al-Masa` Karya Naguib Mahfouz

C. Budaya dan Pengaruhnya dalam Penerjemahan Idiom BAB IV PENUTUP

(3)

A. Latar Belakang Masalah

Doster mengatakan di dalam buku Ilmu Lughah wa Shina’ah

al-Mu’jamiyyah karya Ali al-Qasimi bahwa penerjemahan adalah kegiatan memindahkan

arti suatu teks dalam suatu bahasa ke dalam bahasa lain. Lebih jauh, ia mengatakan

bahwa terjemah adalah cabang linguistik terapan yang secara khusus berurusan

dengan masalah pemindahan makna dari suatu simbol bahasa ke dalam simbol bahasa

yang lain.1 Arti dari suatu teks di sini yaitu ide, gagasan, pesan, atau informasi yang

terkandung dalam teks atau ujaran.

Menerjemah bukanlah semata-mata kegiatan dalam mentransfer maksud

(meaning) atau masalah pengalihan bahasa (linguistic transfer) dari sebuah naskah

asal ke dalam bahasa penerima, melainkan juga harus memecahkan persoalan

mengenai padanan (equivalence) dan perbedaan kultural antar dua bahasa yang

melatarinya. Penerjemahan merupakan pekerjaan yang amat kompleks, seperti

pengalihan lintas budaya (crosscultural transfer) dan konteks situasi (context of

situation).2

Seorang penerjemah dalam melakukan tugasnya dihadapkan pada dua budaya,

yaitu budaya penerjemah dan budaya yang ada pada teks sumber (Tsu). Kedua budaya

tersebut pada umumnya berbeda satu dengan yang lainnya. Kalaupun bentuknya

sama, namun nilai yang terkandung dalam kedua budaya itu berbeda. Budaya yang

satu memandang suatu bentuk budaya memiliki makna yang dalam, namun budaya

yang lain tidak demikian halnya. Bahkan sebaliknya.

1 Nur Mufid, Karerun AS. Rahman, Buku Pintar Menerjemah Arab-Indonesia. (Penerbit Pustaka Progressif: Surabaya, 2007), h. 7.

(4)

Dalam mempelajari bahasa, kita mengenal istilah idiom. Menurut Gorys

Keraf, biasanya pengertian idiom disejajarkan dengan pengertian peribahasa dalam

bahasa Indonesia. Namun sebenarnya, pengertian idiom sendiri jauh lebih luas dari

peribahasa. Yang disebut idiom adalah, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya

tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada

makna kata-kata yang membentuknya. Untuk mengetahui makna sebuah idiom, setiap

orang harus mempelajarinya sebagai seorang penutur asli, tidak mungkin hanya

melalui makna dari kata-kata yang membentuknya.3 Pengertian idiom dalam kamus

bahasa Arab disebut dengan ta’bir ishtilahi atau ibarah ishtilahiyyah.4

Mengacu pada teori Gorys dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa, penulis

mengambil contoh

ناسللا ليوط

yang jika diterjemahkan secara harfiah tanpa

memperhatikan aspek idiomatis, maka hasil terjemahannya adalah panjang lidah.

Kata

ليوط

berarti panjang dan kata

ناسللا

berarti lidah. Namun tugas seorang

penerjemah bukan hanya mengalihkan teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran

secara akurat, tetapi ia juga dituntut untuk menemukan padanan yang sesuai dengan

bahasa sumber. Makna

ناسللا ليوط

sebenarnya adalah lancang/kurang ajar

Berangkat dari kasus inilah, penulis tertarik mengkaji lebih dalam tentang

sejauh mana pengaruh budaya dalam penerjemahan, khususnya dalam

menerjemahkan idiom. Hal ini cukup beralasan, mengingat banyaknya konsep budaya

yang tidak dapat dipahami pembaca dan kata atau istilah tersebut tidak terdapat dalam

konteks budaya bahasa sasaran (Bsa). Dan minimnya penelitian tentang idiom,

khususnya idiom bahasa Arab.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

3 Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa. (Flores: Nusa Indah, 1981) h. 96-97.

(5)

1. Pembatasan Masalah

Mengingat banyaknya jumlah idiom dalam bahasa Arab, agar pembahasan tidak

meluas, penulis bermaksud menelaah idiom yang hanya ada dalam novel Hadits

al-Shobah wa al-Masa` karya Naguib Mahfouz.

2. Perumusan Masalah

Pokok persoalan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1) Bagaimana pengaruh budaya dalam penerjemahan, khususnya dalam

penerjemahan idiom?

2) Metode apa yang harus digunakan penerjemah dalam kegiatannya

menerjemahkan idiom dalam novel Hadits al-Shobah wa al-Masa` karya

Naguib Mahfouz?

C. Tujuan Penelitian

Sebagaimana yang telah diidentifikasikan penulis, penelitian ini memiliki

beberapa tujuan, antara lain:

1. Memberikan sedikit wawasan penelaahan atas unsur budaya dan pengaruhnya

dalam penerjemahan, khususnya penerjemahan idiom yang terdapat dalam

novel Hadits al-Shobah wa al-Masa` karya Naguib Mahfouz;

2. Mengetahui metode apa yang harus digunakan seorang penerjemah agar

budaya dalam bahasa sumber (Bsu) dapat tersampaikan.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis dari penelitian ini adalah untuk menambah wawasan

pembaca dan peneliti mengenai budaya dan bahasa serta pengaruhnya dalam

penerjemahan. Dan memberi sedikit pencerahan/jalan keluar bagi penerjemah dalam

menyelami teks-teks Arab yang penuh dengan konteks budaya. Sedangkan, manfaat

praktis dari penelitian ini yaitu untuk membantu pembaca teks bahasa sasaran dalam

memahami pesan yang dimaksudkan oleh penulis asli teks bahasa sumber (Tsu).

(6)

Dalam melakukan penelitian ini, ada beberapa literatur yang dijadikan penulis

sebagai acuan dan tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menemukan

sisi menarik atau sisi lain dan kegunaan dari penelitian skripsi yang akan penulis teliti

serta menghindari plagiarisme. Ada beberapa tinjauan pustaka yang penulis temukan

sebagai instrumen perbandingan dalam melakukan penelitian mengenai Budaya dan

Pengaruhnya dalam Penerjemahan Idiom.

Siti Marwiyah (2006), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Wawasan Budaya

dalam Penerjemahan (Analisis Polisemi Kata Syaikh dari Bahasa Arab ke dalam

Bahasa Indonesia). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh suatu kata yang memiliki

banyak makna dan perubahan penggunaan makna kata tersebut sehingga memperoleh

makna yang baru. Khususnya, tentang makna kata syaikh.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi bagaimana sebuah kata

bisa memiliki banyak makna, sekaligus memberi wawasan kepada penerjemah

tentang metode apa yang harus dilakukan agar makna budaya dalam bahasa sumber

(Bsu) dapat tersampaikan ke dalam bahasa sasaran (Bsa) ketika menghadapi kata

Arab yang berpolisemi, khususnya kata syaikh.

Relevansinya dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu sama-sama

melakukan penelitian di bidang bahasa dan mengkaji tentang budaya. Sedangkan

perbedaannya terletak pada objek yang dianalisis. Siti Marwiyah melakukan

penelitian dengan polisemi kata syaikh sebagai analisis objeknya, sedangkan penulis

akan menggunakan penerjemahan idiom dalam novel Hadits al-Shobah wa al-Masa`

karya Naguib Mahfouz sebagai objek untuk dianalisis.

Nasrullah Nurdin (2011), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pendekatan

Sosiokultural atas Teks Terjemahan: Telaah Domestikasi dan Foreignisasi terhadap

(7)

adanya perbedaan antara penikmat buku terjemahan yang menginginkan pesan dalam

Bsu disampaikan dengan bahasa dan budaya yang sesuai dengan Bsa, dengan

penikmat buku terjemahan yang menginginkan agar budaya dalam Bsu tetap

dipertahankan, tidak dialihbahasakan.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan sumbangan penelaahan atas unsur

budaya dan aplikasi pendekatannya dalam studi penerjemahan sekaligus mengetahui

kompetensi seorang penerjemah dalam menyelami lautan teks Arab yang digenangi

konteks budaya.

Relevansinya dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu sama-sama

meneliti di bidang bahasa dan mengkaji tentang budaya dan penerjemahan.

Sedangkan perbedaannya terletak pada objek yang dianalisis. Jika dalam skripsinya,

Nasrullah Nurdin menggunakan buku 303 Percakapan Arab-Indonesia-Inggris sebagai

objek sekaligus sumber data, maka penulis akan menggunakan penerjemahan idiom

dalam novel Hadits al-Shobah wa al-Masa` karya Naguib Mahfouz sebagai objek

untuk dianalisis.

Nurhasanah Ardiati Nst. (2009), Universitas Sumatera Utara. Analisis Idiom

dalam Bahasa Arab. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya teori yang

dikemukakan oleh Gorys Keraf dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya

Bahasa. Menurutnya, yang disebut idiom adalah: pola-pola struktural yang

menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa,

sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan

bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya. Dari sinilah, Nurhasanah

Ardiati berkeinginan untuk mengkaji lebih dalam tentang seluk-beluk bahasa Arab,

(8)

Penelitian ini bertujuan untuk memperluas wawasan mengenai idiom dalam

bahasa Arab dan memperkaya referensi idiom dalam bahasa Arab. Relevansinya

dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu sama-sama menggunakan idiom

sebagai objek penelitian. Jika Nurhasanah Ardiati menganalisis idiom dalam bahasa

Arab, penulis akan menjadikan idiom dalam novel Hadits al-Shobah wa al-Masa`

karya Naguib Mahfouz sebagai objek untuk diterjemahkan.

Umi Nurul Fatimah (2013), Universitas Negeri Semarang. Idiom Bahasa Arab

Tinjauan Gramatikal dan Semantis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya

perbedaan aspek gramatikal idiom dan aspek semantiknya. Pada aspek gramatikal

akan diungkap struktur gramatikal idiom, semantara pada aspek semantik akan

dikupas perubahan makna leksikal ke makna idiom beserta hubungannya.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur-unsur pembentuk idiom

bahasa Arab dalam tinjauan gramatikal dan mendeskripsikan perubahan makna dan

hubungan makna pembentuk idiom serta makna idiom bahasa Arab dalam tinjauan

semantik. Relevansinya dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu

sama-sama menjadikan idiom sebagai objek penelitian. Jika Umi Nurul Fatimah mengkaji

idiom melalui aspek gramatikal dan semantis, penulis akan menjadikan idiom dalam

novel Hadits al-Shobah wa al-Masa` karya Naguib Mahfouz sebagai objek untuk

diterjemahkan.

Anisatu Thoyyibah, S.Hum (2015) Pascasarjana Universitas Islam Negeri

Sunan Kalijaga. Idiom Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia yang Berunsur

Benda-benda Alam (Kajian Sosiosemantik). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya

perbedaan konstruksi idiom yang berunsur benda-benda alam dalam bahasa Arab dan

bahasa Indonesia. Pada idiom bahasa Arab ditemukan konstruksi berbentuk frasa,

(9)

berbentuk klausa dan kalimat. Sedangkan dalam idiom bahasa Indonesia ditemukan

konstruksi idiom kata ulang, yakni kata ulang penuh dan kata ulang pemberian

afiksasi.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan idiom bahasa Arab dan bahasa

Indonesia yang berunsur benda-benda alam. Serta menjelaskan persamaan dan

perbedaan idiom bahasa Arab dan bahasa Indonesia yang berunsur benda-benda alam

dan faktor yang melatarbelakanginya dari segi semantik dan sosiolinguistik. adapun

relevansinya dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah sama-sama

menjadikan idiom sebagai objek penelitian. Jika Anisatu Thoyyibah, S.Hum mengkaji

idiom bahasa Arab dan bahasa Indonesia yang berunsur benda-benda alam dari segi

semantik dan sosiolinguistik, penulis akan menjadikan idiom dalam novel Hadits

al-Shobah wa al-Masa` karya Naguib Mahfouz sebagai objek untuk diterjemahkan.

F. Kerangka Teori

1. Teori Penerjemahan Idiomatik

Menurut Newmark ada dua bentuk/orientasi dalam metode penerjemahan.

Pertama, metode penerjemahan yang diberi tekanan pada bahasa sumber (BSU).

Yaitu, penerjemahan kata demi kata, penerjemahan harfiah, penerjemahan setia, dan

penerjemahan semantik. Kedua, metode penerjemahan yang diberi penekanan pada

bahasa sasaran (BSA). Yaitu, adaptasi/saduran, penerjemahan bebas, penerjemahan

idiomatik, dan penerjemahan komunikatif. Dalam penerjemahan idiom, penulis akan

menggunakan teori penerjemahan yang diberi penekanan pada bahasa sasaran (BSA),

yaitu penerjemahan idiomatik.

Saat menerjemahkan dengan metode idiomatik ini, seorang penerjemah

mereproduksi pesan dalam teks Bsu. Metode ini mengharuskannya untuk sering

(10)

aslinya. Banyak terjadi distorsi nuansa makna, tetapi lebih hidup dan lebih nyaman

dibaca.

Newmark berpendapat seperti Nida dan Taber bahwa dalam penerjemahan,

makna bahasa sumber merupakan hal utama yang harus diperhatikan oleh seorang

penerjemah. Menurut Mona Baker, penerjemahan idiom sulit dilakukan karena idiom

bahasa sumber tidak memiliki padanan dalam bahasa sasaran, atau idiom mungkin

memiliki bentuk yang serupa dalam bahasa sasaran tetapi berbeda konteks

penggunaan dan konotasinya, atau suatu idiom memiliki makna literal dan makna

idiomatik.5

2. Hubungan antara Penerjemahan dan Budaya

Bahasa merupakan bagian dari budaya sekaligus juga merupakan komponen

budaya, karena itulah bahasa mempunyai makna hanya dalam kebudayaan yang

menjadi wadahnya. Penerjemahan di sini tidak hanya mengalihkan pesan tapi juga

mengalihkan budaya. Mengingat tidak ada satupun budaya yang sama maka sering

terdapat kesulitan dalam menemukan padanan yang tepat dalam menerjemahkan

kata-kata dan ungkapan dari satu bahasa ke bahasa lain, bahkan banyak kata-kata-kata-kata yang

sama ternyata tidak sepadan.6

Beberapa definisi penerjemahan dan dan proses penerjemahan telah

dikemukakan oleh para ahli. Dari beberapa definisi tersebut, menyatakan hal yang

kurang lebih sama bahwa dari kegiatan penerjemahan adalah pencarian padanan

makna dari Bsu ke Bsa. Makna yang dimaksud secara ekstralinguistik, yaitu makna

teks secara keseluruhan. Apabila seorang penerjemah menjumpai kata atau istilah

yang berhubungan dengan sosio-kultural dalam teks bahasa sumber (Bsu), dan kata

5 Mona Baker. In Other Words. (London and New York, 1992) h. 68-69.

(11)

atau istilah tersebut tidak terdapat di dalam konteks budaya bahasa sasaran (Bsa),

maka ia harus menentukan apakah harus mencari padanan yang terdekat atau

menggunakan istilah aslinya dengan diberi anotasi.7

Menurut Larson, proses penerjemahan itu terdiri dari mempelajari dan

menganalisa kata-kata, struktur gramatikal, situasi komunikasi dalam teks Bsu dan

konteks budaya Bsu dalam rangka ingin memakai makna yang ingin disampaikan

oleh teks Bsu. Adapun makna yang telah dipahami tersebut, diungkapkan kembali

dengan kata-kata, struktur gramatikal, yang cocok dengan konteks budaya bahasa

sasaran (Bsa).8

Dalam penerjemahan, perbedaan budaya dapat menimbulkan keterbatasan

budaya. Yang dimaksud dengan keterbatasan budaya adalah ketidakmampuan mencari

atau mendapatkan kata padanan ke dalam bahasa sasaran dikarenakan adanya

hambatan budaya. Perbedaan budaya dapat menimbulkan keterbatasan perangkat

leksikal bahasa sasaran. Keterbatasan perangkat leksikal juga menjadi penghalang

untuk memperoleh padanan yang tepat.

3. Idiom dalam Bahasa Arab

Idiom dalam bahasa Arab dikenal dengan

ةييحلطصلا تاريبعتلا

. Kata

تاريبعتلا merupakan bentuk jamak dari kata

ريبعت

yaitu masdar dari kata

ربيعي ربيع

ارريبعت

yang berarti ungkapan. Adapun

ةييحلطصلا

merupakan bentuk masdar dari kata

احرلطصا

حلطصي

حلطصا

yang mendapatkan tambahan ‘ya nisbah’ yang

menjadi sifat bagi kata

ريبعت

, sedangkan arti kata

حلطصا

itu sendiri adalah ‘kebiasaan,

tradisi, konvensi, istilah, ungkapan, dan idiom’.

7 Thomas Soemarno, Hubungan antara Lama Belajar dalam Bidang Penerjemahan, Jenis Kelamin, Kemampuan Berbahasa Inggris, dan Tipe-Tipe Kesilapan Terjemahan Dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. (Malang: IKIP, 1988) h. 26.

(12)

Idiom adalah gabungan dua kata atau lebih yang susunannya terbentuk secara

tetap (baku) dan saling ketergantungan; atau gabungan kata yang maknanya tidak

sama dengan unsur-unsur pembentuknya. Richard mendefinisikan idiom adalah suatu

ungkapan yang berfungsi sebagai satu unit tunggal dan maknanya tidak dapat

diperoleh dari bagian-bagian yang terpisah.9 Menurut Kridalaksana, idiom memiliki 2

pengertian. Pertama, konstruksi dari unsur-unsur yang saling memilih masing-masing

anggota mempunyai makna yang ada hanya karena bersama yang lain (kolokasi).

Kedua, idiom merupakan konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan

makna anggoa-anggotanya.10

Sedangkan, idiom dalam bahasa Arab dapat dibentuk dari unsur-unsur:

1.

مسلا

/ al-`ismu / kata benda

2.

لعفلا

/ al-fi’lu / kata kerja

3.

فرحلا

/ al-harfu / huruf

Berdasarkan unsur-unsur inilah, akan tampak bentuk-bentuk idiom. Idiom

dalam bahasa Arab ada yang terbentuk dari dua kata dan ada pula yang terbentuk dari

tiga kata.

G. Metodologi Penelitian

a. Metode dan Jenis Penelitian

Adapun jenis riset ini merupakan jenis penelitian kualitatif, penulis

menggunakan metode deskriptif-analitis. Dalam memperoleh data, penulis melakukan

studi kepustakaan (library research), yaitu mengumpulkan data yang berkaitan

dengan penelitian dari buku-buku, jurnal, majalah, dan media lain yang berkaitan

9 Richard Jack et al. Longman Dictionary of Applied Linguistics. (Essex: Longman Group Ltd., 1985) h. 134.

(13)

dengan penelitian. Dalam penelitian ini, penulis melakukan pendekatan

sosiolinguistik dalam menerjemahkan data.

b. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan

data sekunder. Data primer merupakan sasaran utama dalam analisis, sedangkan data

sekunder digunakan guna mempertajam analisis data primer sekaligus dapat dijadikan

bahan pelengkap atau pembanding. Data primer dalam penelitian ini berupa

idiom-idiom yang terdapat dalam novel

ءاسملا و حابصلا ثيدح

karya Naguib Mahfouz. Adapun data sekunder dalam penelitian ini berupa buku-buku dan penelitian lain yang

berkaitan dengan objek studi ini.

H. Sistematika Penulisan

Agar penelitian ini terarah dan sistematis, berikut sistematika penulisan yang akan

penulis uraikan:

Bab I, Pendahuluan. Bab ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum

penelitian yang akan penulis lakukan, yang berisi sejumlah sub-bab: Latar Belakang

Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian,

Tinjauan Pustaka, dan Sistematika Penulisan.

Bab II, Wawasan Seputar Bahasa, Budaya dan Penerjemahan. Bab ini

bertujuan untuk membahas konsepsi dan hubungan antara bahasa, budaya dan

penerjemahan serta memberikan pijakan teoritis atas pendekatan dan metode yang

penulis gunakan dalam menerjemahkan idiom dalam novel Hadits Shobah wa

al-Masa` karya Naguib Mahfouz, dengan sejumlah sub-bab: Wawasan Bahasa dan

(14)

Bab III, Biografi Penulis. Bab ini bertujuan untuk memaparkan biografi

Naguib Mahfouz, karya-karyanya dan faktor di balik penulisan novel Hadits

al-Shobah wa al-Masa`, dengan satu sub-bab, yaitu: Mengenal Sosok Naguib Mahfouz.

Bab IV, Analisis Data. Bab ini merupakan inti dari penelitian yang penulis

lakukan, ysng berisi dua sub-bab: Telaah Penerjemahan Idiom dalam novel Hadits

al-Shobah wa al-Masa` karya Naguib Mahfouz serta Budaya dan Pengaruhnya Dalam

Penerjemahan Idiom.

Bab V, Penutup. Tujuan dari penulisan bab ini adalah untuk menjelaskan

kesimpulan dari penelitian yang telah penulis lakukan. Dan hal-hal apa saja yang

harus direkomendasikan kepada para penerjemah, dengan sub-bab: Kesimpulan dan

Saran.

DAFTAR PUSTAKA

(15)

Baker, Mona. 1992. In Other Words. London and New York: Routledge).

E. A., Nida dan Taber, R. 1969. The Theory and Practice of Translation. (Lellden: B. Brill). Hajjah Bainar dkk., 2006. Ilmu Sosial, Budaya dan Kealaman Dasar. (Jakarta: Jenki Satria). Halliday, M.A.K and Hasan, Ruqaiya. 1985. Language, Context and Text: Aspects of

Language in a Social Perspective. (Oxford: Oxford University Press).

Hariyanto, Sugeng dan Suryawinata, Zuchridin. 2003. Translation: Bahasan Teori dan Penuntun Praktis Penerjemahan. (Jakarta: Kanisius).

Hidayatullah, Syarif. 2014. Seluk-Beluk Penerjemahan Arab-Indonesia. (Tangerang Selatan: AlKitabah).

Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. (Flores: Nusa Indah). Koentjaranigrat. 1965. Pengantar Antropologi. (Jakarta: UI).

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama). Mufid, Nur dan AS., Karerun Rahman. 2007. Buku Pintar Menerjemah Arab-Indonesia.

(Penerbit Pustaka Progressif: Surabaya).

Mulyati, Sri. 2006. Kajian Ketepatan Terjemahan Ungkapan Budaya dalam Novel Kode Davinci. (Universitas Negeri Semarang).

Richard Jack et al. 1985. Longman Dictionary of Applied Linguistics. (Essex: Longman Group Ltd).

Soemarno, Thomas. 1988. Hubungan antara Lama Belajar dalam Bidang Penerjemahan, Jenis Kelamin, Kemampuan Berbahasa Inggris, dan Tipe-Tipe Kesilapan Terjemahan dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. (Malang: IKIP).

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Nida, penerjemahan adalah usaha mencipta kembali pesan dalam bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa) dengan padanan yang alami yang sedekat

Dengan demikian, penerjemahan di atas mengalami pergeseran makna yang disebabkan oleh perbedaan sudut pandang budaya, yaitu kata al-wachsyu شحولا dalam bahasa sumber (BSu),

Pada saat penerjemah dihadapkan pada kata yang tidak mempunyai padanan dalam kosakata bahasa sasaran (BSa), ia harus mengerti benar makna kata tersebut dan

Menurut Nida (1969), menerjemahkan berarti mengalihkan isi pesan yang terdapat dalam bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa) sedemikian rupa sehingga orang

Adapun yang ingin penulis analisis lebih lanjut adalah pergeseran penerjemahan yang terjadi dari kata kerja dalam bahasa Jepang (BSu) menjadi kata sifat dalam bahasa Indonesia

Padanan bukan berarti hubungan satu lawan satu, yaitu ungkapan dalam Bahasa Sumber (Bsu) mendapatkan satu padanan ungkapan dalam Bahasa Sasaran (Bsa). Padanan

Dengan kata lain, penerjemahan buku teks biologi kedalam BSa harus sepadan dengan BSu agar makna yang disampaikan akurat tidak kabur dan tidak menyimpang dari BSu karena

tertentu dalam Bsa untuk memerikan makna 32,8%; (2) gain dalam terjemahan karena penerjemah berusaha memunculkan makna tersirat dalam Bsu menjadi tersurat dalam Bsa 15,6%;