Bab 2. Landasan Teori. Dalam sub bab ini secara umum akan membahas mengenai teori yang

14  Download (0)

Teks penuh

(1)

Bab 2

Landasan Teori

2.1 Teori Penerjemahan

Dalam sub bab ini secara umum akan membahas mengenai teori yang berhubungan penerjemahan.

2.1.1 Pengertian Penerjemahan

Menurut Simatupang (2000: 2) menerjemahkan adalah mengalihkan makna yang terdapat dalam bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa) dan mewujudkannya kembali di dalam bahasa sasaran dengan bentuk-bentuk yang sewajar mungkin menurut aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa sasaran.

Ada banyak pengertian mengenai penerjemahan yang dapat ditemukan dalam setiap buku mengenai penerjemahan. Menurut Catford (1965:1) menerjemahkan adalah suatu kegiatan yang terjadi dalam bahasa: proses mengganti teks dari suatu bahasa ke teks dalam bahasa lain (Catford, 1965:1). Ia juga mengatakan bahwa "Menerjemahkan adalah mengganti kata-kata dari suatu bahasa (BSu) ke bahasa lain (BSa) dengan susunan material yang ekuivalen".

Forster dalam Nida (1964: 192) menggaris bawahi bahwa penerjemahan yang bagus adalah "Penerjemahan yang memenuhi tujuan yang sama seperti dalam teks bahasa sumber". Knox dalam Nida (1964: 164) juga mengemukakan bahwa penerjemahan yang bagus adalah penerjemahan yang dapat dibaca dengan ketertarikan dan kenikmatan yang sama seperti yang ditemukan dalam bentuk aslinya.

(2)

Proses merubah bentuk tulisan maupun lisan dari satu bahasa ke bahasa lain disebut translation. Proses yang dimaksud disini adalah langkah dalam menerjemahkan. Oleh karena itu, penerjemah maupun pembelajar bahasa asing diharapkan mengenal setiap langkah yang harus dikerjakan dalam merubah tulisan (teks) dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa target (BSa). Itulah yang disebut dengan membuat terjemahan atau menerjemahkan menurut Newmark (1981: 89).

Langkah-langkah dalam menerjemahkan teks menjadi kegiatan setiap orang yang ingin menyampaikan pesan dari satu bahasa ke bahasa lain. Maka dari itu, sebagai seorang penerjemah perlu untuk memperhatikan bentuk teks dalam bahasa sumber karena translation adalah kegiatan merubah bentuk kalimat bahasa sumber ke bentuk kalimat bahasa target dengan memperhatikan struktur semantik. Makna adalah satu-satunya hal yang harus tetap dijaga dan tidak boleh berubah dari bahasa sumber. Bagaimanapun juga, yang boleh berubah dalam translation hanyalah bentuk kalimat (Larson, 1984: 3).

Oleh karena itu, seorang penerjemah harus mengetahui bahwa dalam menerjemahkan bukan hanya masalah pengertian/makna yang harus diperhatikan. Akan tetapi bentuk bahasa juga perlu diperhatikan untuk mendapatkan pengertian/makna yang ekuivalen dan bentuk bahasa dalam bahasa target seperti yang dikatakan Nida dalam Lie (2005):

Translation consists of reproducing in the receptor language the clostest natural equivalent to the message of the (original) language, first in terms of meaning and secondly in terms of style. By natural, we mean that the equivalent meaning forms should not be 'foreign' either in form or meaning.

(3)

9  Terjemahan:

Menerjemahkan adalah mereproduksi bahasa sumber ke bahasa target dengan pengertian yang alami yang memiliki pengertian yang semirip mungkin. Pertama adalah makna, dan kedua adalah gaya. Yang dimaksud menerjemahkan dengan alami adalah bahwa makna yang ekuivalen tidak boleh asing baik dalam bentuk kalimat maupun makna menurut kaidah BSa

Yang dimaksud dengan source language (bahasa sumber) dan receptor language (bahasa target) yang disebut diatas menurut Nida dalam Lie (2005) adalah; source language adalah bahasa yang akan diterjemahkan, sedangkan yang dimaksud dengan receptor language adalah bahasa hasil terjemahan. Berdasarkan pengertian tersebut, penulis akan memfokuskan pada analisis teks bahasa Jepang sebagai bahasa sumber dan bahasa Indonesia sebagai bahasa target.

Menerjemahkan bukanlah suatu kegiatan yang sederhana (Larson, 1984: 22). Karena bukan hanya bahasa yang berbeda, tetapi setiap bahasa memiliki kode dan peraturan yang berbeda satu sama lain. Seperti yang kita ketahui, dalam bahasa Indonesia tidak mengenal tenses, tetapi dalam bahasa Jepang mengenal tenses. Selain itu, Jepang dan Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat berbeda yang mungkin tidak akan dapat diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia maupun sebaliknya. Sehingga penerjemahan tidak bisa dilakukan hanya dengan menerjemahkan secara harafiah.

Setelah mengemukakan beberapa pengertian tersebut diatas, penulis menyimpulkan bahwa menerjemahkan adalah merubah bahasa sumber ke bahasa target tanpa merubah pengertian. Dan itu berarti bahwa sebelum menerjemahkan, seorang penerjemah harus mengenal target pembaca hasil terjemahannya. Penerjemahan yang baik adalah penerjemahan yang memberikan kepuasan bagi pembacanya seperti

(4)

membaca teks aslinya.

Menurut Hoed (1992:4) penerjemahan adalah suatu kegiatan mengalihkan amanat dari satu bahasa, yaitu bahasa sumber (disingkat BSu) ke dalam bahasa lain yaitu bahasa sasaran (disingkat BSa). Dengan demikian, dalam penerjemahan selalu terlibat dua bahasa. Bila suatu teks tertulis dalam BSu, akan disebut teks sumber (disingkat TSu), dan bila suatu teks tertulis dalam BSa, akan disebut teks sasaran (disingkat TSa).

Menurut Finlay dalam Simatupang (2002: 2) idealnya, hasil penerjemahan seharusnya memberikan rasa yang sama seperti membaca teks aslinya yang membuat pembaca tidak menyadari bahwa dia sedang membaca suatu terjemahan.

2.1.2 Pergeseran Penerjemahan

Berdasarkan konsep kesetaraan penerjemahan, tidak semua elemen dari satu bahasa sama dengan elemen yang ada di bahasa yang lain. Pergeseran penerjemahan terjadi pada beberapa poin dan level teks. Pergeseran penerjemahan terjadi ketika tidak ada kesesuaian suatu ekspresi dari teks bahasa sumber untuk direalisasikan secara ekuivalen dalam bahasa sasaran.

Pergeseran penerjemahan, sebuah konsep yang diasosiasikan oleh Catford dalam Machali (1998: 12) sebagai bentuk berbeda yang dihasilkan oleh orang yang berbeda, Larson (1989: 20) menyebutnya sebagai ketidaksesuaian struktur, dan Newmark (1989: 9) mengartikannya sebagai konsep perubahan. Menurut Halliday dalam Machali (1998: 150), ada dua jenis pergeseran penerjemahan yang bisa terjadi. Yang pertama adalah obligartory shift atau pergeseran tetap yang bisa berupa pergeseran struktur gramatikal, kohesi, dan pengucapan. Sedangkan yang kedua adalah optional shift atau

(5)

11  pergeseran pilihan. Optional shift bisa berupa pergeseran makna, referensi, interpersonal, dan tekstual.

Penelitian ini termasuk dalam obligartory shift atau pergeseran tetap secara gramatika. Dalam Sudjianto dan Dahidi (2004: 134), gramatika sering diartikan sebagai aturan-aturan menyusun bentuk satuan bahasa tertentu. Yang dimaksud bahasa tertentu disini yaitu bahasa alami tertentu bisa bahasa Jepang, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan sebagainya, lalu yang disebut bentuk satuan bahasa biasanya mengacu pada kata, klausa, kalimat, wacana, dan sebagainya. Sehingga dalam penelitian ini, yaitu pergeseran penerjemahan kata kerja bahasa Jepang menjadi kata sifat bahasa Indonesia yang merupakan pergeseran kelas kata termasuk dalam pergeseran tetap atau obligartory shift secara gramatika dimana kelas kata tersebut merupakan bagian dari gramatika. Pergeseran penerjemahan ini terjadi karena penerjemah tidak bisa menemukan bentuk yang benar-benar sama dengan teks bahasa sumber, sehingga perlu direalisasikan ke dalam bahasa sasaran. Hal ini dilakukan untuk membuat teks ini dapat diterima dalam masyarakat bahasa sasaran. Sehingga dapat memberikan kepuasan yang sama seperti sewaktu membaca teks bahasa sumbernya.

Dalam penerjemahan, pergeseran atau shift rank merupakan hal yang wajar terjadi sebagaimana Vinay and Darbelnet's dalam Newmark (1989:10) yang mencontohkan beberapa shift rank, yaitu:

1. Kata kerja dalam BSu menjadi kata benda dalam BSa

2. Kata hubung dalam BSu menjadi kata kerja tidak beraturan dalam BSa 3. Klausa dalam BSu menjadi sekumpulan kata benda dalam BSa

(6)

5. Sekumpulan kata benda dalam BSu menjadi kata benda dalam BSa 6. Kalimat rumit dalam BSu menjadi kalimat biasa dalam BSa

Adapun yang ingin penulis analisis lebih lanjut adalah pergeseran penerjemahan yang terjadi dari kata kerja dalam bahasa Jepang (BSu) menjadi kata sifat dalam bahasa Indonesia (BSa) dengan menggunakan manga atau komik Jepang sebagai korpus data karena shift rank atau pergeseran juga berlaku dalam penerjemahan manga.

Di Indonesia, kontribusi manga juga termasuk besar. Banyak manga yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, salah satunya manga Hikaru no Go karya Yumi Hotta yang diterbitkan di Indonesia oleh PT Elex Media Komputindo dengan judul Hikaru’s Go.

Salah satu contoh pergeseran penerjemahan kata sifat dalam TSu yaitu bahasa Jepang yang diterjemahkan menjadi kata benda dalam TSa yaitu bahasa Indonesia yang dapat ditemukan dalam manga Hikaru No Go:

TSu:

タイトルを取るのも手間がかかる。 (Hotta, 2000: 198) Taitoru o toru no ga tema ga kakaru.

TSa:

Merebut gelar darinya sangat berat.

Dalam bahasa Jepang kata kerja ‘tema ga kakaru「手間がかかる」’ diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 'sangat berat' yang merupakan kata sifat. Dengan adanya pergeseran tersebut dalam penerjemahan, penulis ingin meneliti lebih lanjut mengenai pergeseran penerjemahan kata kerja bahasa Jepang berdasarkan klasifikasi kata kerja menurut jenisnya menjadi kata sifat dalam bahasa Indonesia dengan

(7)

13  menggunakan manga Hikaru No Go karya Yumi Hotta yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo menjadi Hikaru’s Go sebagai korpus data.

2.2 Definisi Doushi「動詞」dan Keiyoshi「形容詞」

Dalam sub bab ini penulis akan membahas mengenai teori yang berhubungan dengan kata kerja「動詞」 dan kata sifat「形容詞」 bahasa Jepang.

2.2.1 Definisi Doushi「動詞」 dan Jenis-jenis Doushi「動詞」

Dalam sub bab berikut ini penulis akan menjelaskan terlebih dahulu definsi Doushi「動詞」 dan setelah itu akan membahas mengenai jenis-jenis Doushi「動詞」.

2.2.1.1 Definisi Doushi「動詞」

Menurut Nomura dalam Dahidi (1992: 158) doushi「動詞」adalah salah satu kelas kata dalam bahasa Jepang, sama dengan ajektiva-i dan ajektiva-na menjadi salah satu jenis hyougen「表現」.

Menurut Masuoka (1993: 12), sifat doushi adalah sebagai berikut:

動詞の基本的な性格は、単独で述語の働きをし、文中での働きの違い に応じて活用することである。

Terjemahan:

Sifat dasar dari kata kerja yaitu berfungsi sebagai predikat, dan mempunyai kegunaan yang berbeda di dalam suatu kalimat.

(8)

Menurut Masuoka dan Takubo (2002: 12) sifat doushi 「動詞」biasa berubah bentuk tergantung pada perbedaan fungsinya di dalam suatu kalimat.

Misalnya:

お母さんはケーキを作る。 (Ibu membuat kue.), bisa diubah menjadi:

a) お母さんはケーキを作っています。 (Ibu sedang membuat kue.)

b) お母さんはケーキを作りました。 (Ibu telah membuat kue.)

Pada kalimat di atas kata ‘tsukuru「作る」’ adalah doushi 「動詞」dalam bentuk kamus yang berarti membuat. Sedangkan doushi 「動詞」pada (a) adalah ‘tsukutte imasu 「作っています」’ yang menyatakan bahwa “Ibu sedang membuat kue”. Kemudian doushi「動詞」 pada (b) adalah ‘tsukurimashita「作りました」’ yang menunjukkan

bahwa “Ibu telah membuat kue”. Sehingga kita bisa mengetahui dari sebuah kalimat bahasa Jepang waktu dari kejadian tersebut, apakah termasuk kegiatan yang sedang berlangsung, lampau maupun akan terjadi di masa yang akan datang dari hanya melihat dari bentuk doushi tersebut. Yang berkaitan dengan tense

2.2.1.2 Jenis-jenis Doushi「動詞」

Menurut Masuoka (1993: 12), doushi 「 動 詞 」 bisa dibagi menjadi bermacam-macam dilihat dari titik tinjauannya. Berdasarkan jenisnya, keenam doushi 「動詞」 tersebut yaitu doutaidoushi「動態動詞」, jyoutaidoushi「状態動詞」, jidoushi

(9)

15  「自動詞」, tadoushi「他動詞」, ishidoushi「意志動詞」 dan muishidoushi「無意志 動詞」. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Doutaidoushi「動態動詞」, merupakan kata kerja yang menunjukkan adanya pergerakan, seperti: taberu「食べる」, hashiru「走る」, hanasu「話す」 dan lain-lain.

2. Jyoutaidoushi「状態動詞」 merupakan kata kerja yang menunjukkan suatu keadaan, seperti: 1) kata aru「ある」, iru「いる」 menunjukkan kepemilikkan atau kepunyaan; 2) kata dekiru「できる」 menunjukkan arti potensial atau kemampuan; 3) kata iru「要る」 menunjukkan sebuah kepentingan; 4) kata kotonaru「異なる」, chigau「違う」 menunjukkan sebuah pendapat, dan

lain-lain.

3. Jidoushi「自動詞」, merupakan kata kerja yang tidak menggunakan subjek. Contohnya: “Doa ga aku.「ドアが開く」” (pintu terbuka)

4. Tadoushi「他動詞」, merupakan kata kerja yang menggunakan subjek yang bersifat sebagai formalitas, yang berstruktur [meishi + partikel wo]. Contohnya: “Doa o akeru.「ドアを開ける」” (membuka pintu)

5. Ishidoushi「意志動詞」, merupakan kata kerja yang menunjukkan kegiatan yang disengaja, misalnya dalam kata nomu「飲む」, asobu「遊ぶ」, manabu「学ぶ」 dan lain-lain.

(10)

6. Muishidoushi「無意志動詞」, merupakan kata kerja yang tidak disengaja, misalnya dalam kata taoreru「倒れる」, oiru「老いる」, ushinau「失う」dan lain-lain.

Suatu kata kerja dapat termasuk dua jenis kata kerja pada satu waktu, misalnya “Ojisan wa kaisha e iku「おじさんは会社へ行く」” selain dapat digolongkan dalam doutaidoushi「動態動詞」dapat digolongkan pula dalam ishidoushi「意志動詞」karena ‘si paman dengan sengaja pergi ke kantor, bukan secara tidak sengaja’. Contoh lainnya ialah pada kalimat “mado ga shimaru「窓が閉まる」”, selain dapat digolongkan dalam jidoushi「自動詞」dapat juga digolongkan dalam muishidoushi「無意志動詞」karena ‘jendela tertutup tanpa disengaja, bukan merupakan sesuatu yang dikehendaki’.

2.2.2 Definisi Keiyoushi「形容詞」dan Jenis-jenis Keiyoushi「形容詞」

Dalam sub bab berikut ini penulis akan menjelaskan terlebih dahulu definisi Keiyoushi「形容詞」 dan setelah itu akan membahas mengenai jenis-jenis Keiyoushi「形 容詞」.

2.2.2.1 Definisi Keiyoushi「形容詞」

Menurut Masuoka dan Takubo (2002: 21) yang dimaksud dengan keiyoushi 「形容詞」adalah sebagai berikut:

形容詞は、何からの状態を表し、述語の働きと名詞の修飾語の働きを する。また、文中での働きの違いに応じて活用する。

(11)

17  1. この地域は寒い

2. 寒い地域 Terjemahan:

Kata sifat adalah kata-kata yang menunjukkan suatu kondisi, berfungsi sebagai predikat dan berfungsi sebagai pemberi keterangan pada kata benda. Selain itu kata sifat dalam kalimat mengalami konjugasi.

Contoh:

1. Daerah ini dingin 2. Daerah yang dingin

Menurut Masuoka dan Takubo (2002: 21) keiyoushi「形容詞」menunjukkan karakter dari manusia maupun benda, atau emosi dan perasaan manusia.

2.2.2.2 Jenis-jenis Keiyoushi「形容詞」

Menurut Masuoka dan Takubo (2002: 21) berdasarkan fungsinya keiyoushi 「形容詞」 bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Zokusei keiyoushi 「 属 性 形 容 詞 」 , ialah kata sifat yang menunjukkan karakteristik. Misalnya: tsuyoi「強い」, nagai「長い」, osoi「遅い」 dan sebagainya.

2. Kandou keiyoushi 「感動形容詞」, ialah kata sifat yang melibatkan perasaan emosi. Misalnya: hoshii「ほしい」, natsukashii「なつかしい」, kayui

「かゆい」 dan sebagainya.

Menurut bentuknya, keiyoushi「形容詞」bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. i-keiyoushi「イ―形容詞」, seperti: atsui「暑い」, samui「寒い」, hayai 「早い」 dan sebagainya

(12)

2. na-keiyoushi「ナ―形容詞」, seperti: anzen「安全」, benri「便利」, kirei 「きれい」 dan sebagainya

Menurut Kaneko (1999:56) keiyoushi「形容詞」 bisa diubah bentuknya menjadi negatif, lampau maupun negatif lampau.

Tabel 2.1

Perubahan Keiyoushi 「形容詞」Menjadi

Keiyoushi 「形容詞」 Bentuk Negatif, Bentuk Lampau dan Bentuk Negatif Lampau

Bentuk Biasa Bentuk Negatif Bentuk Lampau Bentuk Negatif Lampau

暑―い 暑―くない 暑―かった 暑―くなかった

便利 便利―じゃない 便利―だった 便利―じゃな

かった

2.3 Definisi Kata Kerja dan Kata Sifat

Dalam sub bab ini akan membahas mengenai teori yang berhubungan dengan kata kerja dan kata sifat bahasa Indonesia.

2.3.1 Definisi dan Jenis-jenis Kata Kerja

(13)

19  yang menunjukkan aktivitas dan keadaan atau situasi. Secara morfologis, verba dapat dibedakan menjadi:

(1) Verba dasar, misalnya: makan, pergi, minum, duduk dan tidur (2) Verba turunan, dibagi menjadi lima yaitu:

a) Verba dasar + afiks(wajib): menduduki , mempelajari ,menyanyi b) Verba dasar + afiks (tidak wajib): (mem)baca, (men)dengar, (men)cuci c) Verba dasar (terikat afiks) + afiks (wajib): bertemu, bersua, mengungsi d) Reduplikasi atau bentuk ulang: berjalan-jalan, minum-minum, mengais-ngais e) Majemuk: cuci mata, naik haji, belai kasih

2.3.2 Definisi dan Jenis-jenis Kata Sifat

Menurut Alwi (2003: 171) kata sifat adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Kata sifat yang memberikan keterangan terhadap nomina dalam kalimat.

Menurut Moeliono (2003: 194) kata sifat dalam bahasa Indonesia jika di beri afiks seperti: meng-, meng- -kan, ter- dan ber- bisa menjadi kata kerja. Contoh:

1. Afiks meng-: menarik, memukau, memikat dan lain-lain.

2. Afiks meng- -kan: menggembirakan, memalukan, menakutkan dan lain-lain. 3. Afiks ter-: terkenal, terharu, terkejut dan lain-lain.

4. Afiks ber-: beruntung, berbahaya, berkembang dan lain-lain.

Menurut Alwi (2003: 172) kata sifat menunjukkan adanya dua tipe pokok:

1. Kata sifat bertaraf yang mengungkapkan suatu kualitas. Yang termasuk kata sifat bertaraf yaitu: aman, bersih, berat, merah, lambat, jauh, bangga, lembut dan

(14)

sebagainya.

2. Kata sifat tak bertaraf mengungkapkan keanggotaan dalam suatu golongan. Kata sifat tak bertaraf menempatkan acuan nomina yang diwatasinya di dalam kelompok atau golongan tertentu. Kehadirannya di dalam lingkungan itu tak dapat bertaraf-taraf, seperti: mutlak, tentu, kekal, ganda, dan sebagainya.

Ada beberapa kata sifat yang dapat dipakai sebagai kata sifat bertaraf dan sebagai kata sifat tak bertaraf sekaligus. Hal itu bergantung pada makna yang akan disampaikan. Ambillah sebagai contoh kata sifat ‘sadar’. Pada frasa 'rakyat yang sadar' kata ‘sadar’ termasuk adjektiva bertaraf dengan makna 'insaf akan keadaan sosial politik'. Rakyat itu dapat bertaraf-taraf kesadarannya sehingga dapat dikatakan lebih sadar, kurang sadar, sangat sadar. Namun, pada kalimat 'Pasien itu hingga sekarang belum sadar' kata ‘sadar’ merupakan adjektiva tak bertaraf yang bermakna 'keadaan ingat akan dirinya'. Pada pemakaian seperti itu orang hanya dapat dikatakan sadar atau tidak sadar, dan karena itu tidak mungkin ada pewatasan kualitas atau intensitas.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di