• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zonasi laut Zonasi laut Zonasi laut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Zonasi laut Zonasi laut Zonasi laut"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

zonasi

laut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lautan merupakan habitat terbesar di bumi. Dibalik selubung kebiruannya, masih tersimpan banyak rahasia yang belum terungkap. Hingga kini sebagian besar kehidupan di laut dalam belum benar-benar diketahui. Masalah ini menunjukkan betapa luasnya lautan dan begitu kompleksnya struktur serta kehidupan organisme di dalamnya.

Lautan merupakan ekosistem alamiah yang produktif, unik dan mempunyai nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Kawasan laut memilki sejumlah fungsi ekologis berupa penghasil sumberdaya, penyedia jasa kenyamanan, penyedia kebutuhan pokok hidup dan penerima limbah(Bengen, 2002). Ekosistem pesisir dan lautan merupakan sistem akuatik yang terbesar di planet bumi. Ukuran dan kerumitannya menyulitkan kita untuk dapat membicarakannya secara utuh sebagai suatu kesatuan. Akibatnya dirasa lebih mudah jika membaginya menjadi sub-bagian yang dapat di pahami serta di pelajari, selanjutnya masing-masing dapat dibicarakan berdasarkan prisip-prinsip ekologi yang menentukkan kekhasannya. Tidak ada suatu cara pembagian laut yang telah diajukan yang dapat diterima secara universal.

(2)

yang meliputi kolom air dan daerah bentik yang meliputi dasar laut dimana biota laut hidup.

Pembagian zonasi lingkungan laut tersebut sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya hidrobiologi, karena dengan memahami sifat fisik-kimia pada tiap-tiap zona dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan berbagai organisme yang ada pada tiap-tiap zona.

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut di atas, maka dianggap perlu untuk menyusun makalah mengenai zonasi lingkungan laut. Hal ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan acuan dalam kegiatan diskusi untuk pengembangan materi lebih lanjut. B. Rumusan Masalah

Permasalahan yang hendak dikaji dalam makalah ini adalah menitik beratkan pada pembagian zonasi lingkungan laut dan bagaimana pula karakteristik dari tiap-tiap zona serta bagaimana kehidupan organisme yang hidup di tiap-tiap zona tersebut.

C. Tujuan Penulisan

Tujuan yang hendak dicapai di dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui zonasi lingkungan laut

2. Untuk mengetahui karakteristik tiap-tiap zona lingkungan laut

3. Untuk mengetahui kehidupan organisme pada tiap-tiap zona lingkungan laut

D. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Melatih dalam menyusun penulisan karya ilmiah.

2. Memberikan informasi mengenai zonasi suatu perairan laut karakter serta organisme yang

ada di dalamnya.

(3)

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan faktor-faktor fisik dan penyebaran komunitas biotanya yakni daerah pelagik yang meliputi kolom air dan daerah bentik yang meliputi dasar laut dimana biota laut hidup. Pada gambar 1 dapat dilihat pembagian zonasi lingkungan perairan laut.

A. Lingkungan Pelagik

Lingkungan pelagik merupakan lingkungan yang meliputi seluruh kolom air mulai dari permukaan dasar laut sampai permukaan laut. Lingkungan pelagik mempunyai batas wilayah yang meluas mulai dari garis pantai sampai wilayah laut terdalam (Romimohtarto, 2007). Dalam pembagian zona pelagik menjadi berbagai sub-zona digunakan berbagai dasar misalnya tingkat kedalaman dan sudut pandang. Pembagian zona pelagik dapat dipandang dari dimensi horizontal dan vertikal. Secara horizontal dapat dibagi menjadi dua yaitu zona neritik yang meliputi daerah paparan benua dan lautan zona oseanik. Kedua zona ini tidak ada batasan yang jelas karena adanya perbedaan secara geografik. Namun demikian, batasan anatara kedua zona itu adalah 150-200 m (Ardi, 2011).

(4)

Ernawati (2011), mendefinisikan zona neritik merupakan daerah laut dangkal yang masih dapat ditembus cahaya sampai ke dasar, kedalaman daerah ini dapat mencapai 200 m. Biota yang hidup di daerah ini adalah plankton, nekton (ikan) dan bentos dapat hidup dengan baik. Organisme yang ada dari Alga, Porifera, Coelenterata, berbagai jenis ikan dan udang. Kelimpahan organisme pada daerah ini tinggi karena kandungan zat hara cukup tinggi, zat-zat terlarut juga masih cukup bervariasi yang dikarenakan adanya tumpahan berbagai zat terlarut dari daratan. Hal yang paling krusial adalah penetrasi cahaya pada zona ini masih optimum sehingga asupan energi untuk produsen masih maksimal (Romimohtarto, 2007).

2. Zona Oseanik

Zona oseanik merupakan wilayah ekosistem laut lepas yang kedalamannya mulai dari yang tertembus cahaya sampai tidak dapat ditembus cahaya matahari sampai ke dasar, sehingga bagian dasarnya paling gelap. Akibatnya bagian air dipermukaan tidak dapat bercampur dengan air dibawahnya, karena ada perbedaan suhu. Batas dari kedua lapisan air itu disebut daerah termoklin, Daerah ini banyak ikannya (Ernawati, 2011). Menurut Romimohtarto (2007), daerah oseanik ini dibagi menjadi 4 bagian yaitu epipelagik, mesopelagik, batipelagik, dan abisopelagik. Effendy (2009) menyatakan bahwa pada zona oseanik kecuali epipelagis memiliki parameter fisik dan kimia serta biologis sebagai berikut:

a. Cahaya : Umumnya redup – gelap gulita, sehingga tidak ada proses fotosintesis

b. Tekanan hidrostatis: Meningkat secara konstan sebanya 1 ATM (1 kg/cm2), setiap pertambahan kedalaman 10 meter. Sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan hidrostatisk yang bekerja di laut dalam sangat ekstrim

c. Suhu: Umumnya seragam, dengan kisaran 1 – 3oC (kecuali wilayah hydrothermal vents (>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1 oC)

d. Salinitas: Umumnya seragam (35 permil), Pada daerah cold hydrocarbon seeps (hipersain = 40 permil)

(5)

di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen, Air bersifat anoksik: Teluk Kau (Halmahera), Palung Carioca (Venezuela), Palung Santa Barbara (USA)

g. Tipe substrat: Terdiri atas substrat yang halus, Substrat berbatu di daerah mid-ocean ridge

h. Suplai makanan: Langka. Bergantung pada pakan yang diproduksi di tempat lain dan terangkut oleh proses hidrodinamis ke wilayah laut dalam

i. Jenis pakan : Hujan plankton atau partikel organik lain, Jatuhan bangkai hewan besar atau tumbuhan, Bakteri berlemak yang mudah dicerna (rata-rata populasi bakteri 2mgC/m2),

Bahan organik terlarut

a. Epipelagik

Zona epipelagik atau oseanik atas meluas dari permukaan sampai kedalaman 200 m. Epipelagik ini masih di tembus oleh cahaya matahari sehingga proses fotosintesis oleh organisme autotrof masih mungkin terjadi. Area ini juga meluas ke perairan neritik sehingga ia bisa juga dikatakan bagian dari perairan neritik.

Epipelagik dibagi menjadi tiga bagian yaitu zona dekat permukaan dimana penyinaran siang hari diatas optimal atau bahkan letal bagi fitoplankton. Penyinaran ini juga masih terlalu tinggi bagi zooplankton. Di bawah zona tersebut dinamakan zona bawah-permukaan yang merupakan tempat terjadinya pertumbuhan yang aktif sampai perairan yang agak dalam, di mana fitoplankton yang tidak berbiak aktif masih terdapat berlimpah. Zona ketiga atau area paling bawah merupakan tempat zooplankton yang biasa bermigrasi ke permukaan pada malam hari dan kembali pada siang hari. Jadi pada zona epipelagik ini organisme penghuninya cukup banyak hampir sama halnya pada daerah neritik (Romimohtarto, 2007)

b. Mesopelagik

(6)

Ciri dari biota yang hidup di zona ini yakni warna hewan umunya abu-abu keperakan atau hitam (ikan), ungu kelam (ubur-ubur) dan merah (crustacea), mata besar dan penglihatan senja (tingginya pigmen rodopsin dan kepadatan sel batang pada retina akan memberi kemampuan maksimum dalam melihat dan mendeteksi cahaya) dan bioluminusens yaitu kemampuan memproduksi cahaya pada makhluk hidup, biasanya dilengkapi oleh organ penghasil cahaya (fotofor) serta memiliki mulut besar, morfologi mulut, rahang, gigi yang mendukung efektifitas penangkapan mangsa (Efenndy, 2009).

c. Batipelagik

Batipelagik meluas dari kedalaman 1000-4000 m. Kondisi fisiknya seragam dan tidak ada aktifitas produsen sehingga hanya ada konsumen skunder sperti ikan. Suhu pada area ini sudah lebih rendah jika di bandingkan dengan lapisan diatasnya. Tumbuh-tumbuhan masih ada sedikit atau juga tidak ada sama sekali (Romimohtarto, 2007).

Menurut Effendy (2009), penghuni zona ini secara umum terdiri dari iIkan yang umumnya berwarna hitam kelam, sedangkan invertebratanya seakan tidak berpigmen (putih cerah), ukuran mata sangat kecil, bahkan tidak bermata, bahkan ada yang memiliki mata berbentuk pipa (ikan Argyropelecus) dan sebelah matanya lebih besar (cumi-cumi Histioteuthis). Ikan yang ditemukan umumnya berukuran sangat kecil, namun invertebrata yang hidup umumnya berukuran sangat besar

d. Abisopelagik

(7)

tumbuh-tumbuhan yang hidup sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Perubahan suhu, salinitas dan kondisi serupa jarang terjadi bahkan kalupun ada sangat kecil.

Kandungan CO2 terlarut pada area ini sangat tinggi sehinnga kapur mudah terlarut

dalam air. Hal ini ditunjukkan oleh pembentukan cangkang yang lembek dari organisme yang hidup di area ini apa lagi kondisi air cenderung lebih tenang. Hal yang paling menjadi karakteristik dari area ini adalah kurangnya ketersediaan makanan. Makanan hanya berasal dari bangkai yang tenggelam sampai ke dasar. Sehingga tingkat kompetisi semakin tinggi dan makanan ini bisa jadi faktor pembatas yang sangat kritikal di zona ini. Begitu juga dengan kandungan oksigen terlarut sangat rendah sehingga bisa juga menjadi faktor pembatas bagi organisme yang ada pada zona ini (Romimohtarto, 2007)

Pembagian wilayah laut secara vertikal dilakukan berdasarkan intensitas cahaya matahari yang memasuki kolom perairan, yaitu zona fotik dan zona afotik. Zona fotik adalah bagian kolom perairan laut yang masih mendapatkan cahaya matahari. Pada zona inilah proses fotosintesa serta berbagai macam proses fisik, kimia dan biologi berlangsung yang antara lain dapat mempengaruhi distribusi unsur hara dalam perairan laut, penyerapan gas-gas dari atmosfer dan pertukaran gas yang dapat menyediakan oksigen bagi organisme nabati laut. Zona ini disebut juga sebagai zona epipelagis. Pada umumnya batas zona fotik adalah hingga kedalaman perairan 50-150 meter. Sementara itu, zona afotik adalah secara terus menerus dalam keadaan gelap tidak mendapatkan cahaya matahari. Secara vertikal, zona afotik pada kawasan pelagis juga dapat dibagi lagi kedalam beberapa zona, yaitu zona mesopelagis, zona batipelagis dan zona abisopelagis (Dahuri et al, 2001).

B. Lingkungan Bentik

Zona bentik meliputi semua lingkungan dasar laut di mana biota laut hidup melata, memendamkan diri atau meliang, mulai dari pantai sampai ke dasar laut terdalam. Romimohtarto (2007), membagi zona bentik menjadi zona litoral, dan abisal sedangkan Aliv (2011), menambahkan zona batia antara litoral dan abisal.

1. Zona Lithoral/Intertidal

(8)

surut. Menurut Nybakken (1992) zona intertidal merupakan daerah yang paling sempit diantara zona laut yang lainnya. Zona intertidal dimulai dari pasang tertinggi sampai pada surut terendah. Zona ini hanya terdapat pada daerah pulau atau daratan yang luas dengan pantai yang landai. Semakin landai pantainya maka zona intertidalnya semakin luas, sebaliknya semakin terjal pantainya maka zona intertidalnya akan semakin sempit.

Akibat seringnya hempasan gelombang dan pasang surut maka daerah intertidal sangat kaya akan oksigen. Pengadukan yang sering terjadi menyebabkan interaksi antar atmosfir dan perairan sangat tinggi sehingga difusi gas dari permukaan keperairan juga tinggi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Webber dan Thurman (1991) bahwa pantai berbatu di zona intertidal merupakan salah satu lingkungan yang subur dan kaya akan oksigen. Selain oksigen daerah ini juga mendapatkan sinar matahari yang cukup, sehingga sangat cocok untuk beberapa jenis organisme untuk berkembang biak. Pada daerah berbatu ini banyak terdapat lingkungan mikro seperti celah-celah cadas dan kubangan pasut. Jenis yang hidup pada lingkungan ini umumnya organisme yang melekat seperti beberapa jenis keong.

Pada tiap zona intertidal terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara satu daerah dengan daerah yang lain. Jenis substrat daerah intertidal ada yang berpasir, berlumpur, berbatu, dan adapula yang berupa timbunan. Daerah berlumpur terjadi karena adanya aliran air yang mengandung lumpur dari darat. Area ini biasanya terjadi di daerah teluk yang tenang atau estuari. Lingkungan seperti ini dapat menimbulkan masalah bagi organisme yang ada pada lingkungan tersebut, karena lumpur bisa masuk ke saluran pernafasan sehinnga dapat menyumbat saluran pernafasannya. Kandungan oksigen terlarut relatif rendah karena padatnya partikel lumpur sehingga pertukaran oksigen dan karbondioksida terhambat. Organisme yang hidup di lingkungan ini kebanyakan berupa bakteri (Romimohtarto, 2007).

(9)

Pembagian zonasi pada daerah pantai berlumpur masih sangat kurang yang telah dikaji. Secara umum dapat dibagi menjadi:

1). Bagian atas atau supralitoral dihuni oleh berbagai jenis kepiting yang menggali substrat. Zona ini juga dipengaruhi oleh pasang tertinggi dan paling sering mengalami kekeringan. 2). Bagian bawah atau litoral. Bagian ini merupakan bagian yang terluas diantara bagian ekosistem pantai berlumpur. Pada zona ini dihuni oleh tiram dan policaeta.

Pada dasarnya pembagian tersebut belum terlalu jelas batasannya. Hal ini dikarenakan organisme pada kedua tempat tersebut tidak menetap hanya pada zona tersebut tetapi juga dapat berpindah ke zona yang lain.

Lingkungan berpasir pada zona lithoral mempunyai ukuran partikel yang lebih besar di banding partikel lumpur sehingga memungkinkan air mengalir di antara partikel-partikel pasir, akibatnya pertukaran oksigen sampai pada dasar pasir. Pada saat siang hari air surut membuat area ini menjadi kering. Gelombang juga mempengaruhi area ini oleh sebab itu organisme yang hidup di area ini cenderung dilengkapi dengan cangkang yang kuat, mampu bergerak bersama butiran pasir atau memendam dalam di bawah permukaan untuk menghindari penggerusan yang disebabkan oleh gelombang (Romimohtarto, 2007).

Pada umumnya daerah berpasir lebih banyak dikenal oleh manusia dibanding dengan jenis pantai yang lain. Hal ini dikarenakan pantai berpasir memiliki manfaat yang sangat banyak dibanding dengan pantai jenis yang lainnya. Pada jenis pantai ini juga dapat ditemukan berbagai ekosistem lain seperti ekosistem padang lamun, dan ekosistem terumbu karang.

Pantai berpasir adalah pantai dengan ukuran substrat 0.002-2 mm. Jenis pantai berpasir termasuk dalam jenis pantai dengan partikel yang halus. Sama halnya pada pantai berbatu pada pantai berpasir juga dibagi dalam beberapa zonasi (Dahl, 1952 and Salvat, 1964 in Raffaelli and Hawkins, 1996) yaitu:

1). Mean High Water of Spring Tides (MHWS) rata-rata air tinggi pada pasang purnama. Zona ini berada pada bagian paling atas. Pada daerah ini berbatasan langsung dengan daerah yang kering dan sering terekspose.

(10)

3). Mean Water Low of Spring Tides (MLWS) rata-rata air rendah pada pasang surut purnama. Zona ini merupakan zona yang paling bawah. Pada daerah ini fliktuasi pasang surut sangat sedikit yang berpengaruh karena daerah ini tidak terkena fluktuasi tersebut. Daerah ini juga bias ditemukan ekosistem terumbu karang.

Menurut Nybakken (1992) zonasi yang terbentuk pada daerah berpasir sangat dipengaruhi oleh faktor fisik perairan. Hal ini nampak dari hempasan gelombang dimana jika kecil maka ukuran partikelnya juga kecil, tetapi sebaliknya jika hempasan gelombang besar maka partikelnya juga akan besar. Pada daerah berpasir hempasan gelombangnya kecil menyebabkan butiran partikelnya kecil.

Romimohtarto (2007), menjelaskan bahwasanya lingkungan timbunan pada zona intertidal adalah lingkungan yang terbentuk dari tumpukan-tumpukan kayu dermaga, galangan kapal dan bangunan-bangunan lain buatan manusia. Organisme yang hidup di lingkungan ini biasanya berupa tiram pengebor.

Selain ketiga lingkungan tersebut pada daerah litoral juga terdapat jenis lingkungan berbatu. Daerah berbatu ini juga dikelompokkan menjadi beberapa zona. Pada dasarnya pembagian zonasi untuk lingkungan berbatu dilihat dari pasang surut yang terjadi. Pantai ini didominasi oleh substrat dari batu. Menurut Stephenson and Stephenson (1972) in Raffaelli and Hawkins (1996) menyatakan bahwa pembagian zona pada daerah berbatu dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

a. A high-shore area (bagian daerah yang paling atas) atau yang biasa disebut supralittoral fringe. Pada zona ini dicirikan oleh berbagai organisme seperti alga yang menjalar, Cyanobacteria (bakteri hijau biru) dan cacing kecil, periwinkles.

b. A broad midshore zone (zona bagian tengah yang lebar) atau yang biasa disebut midlittoral zone. Pada daerah ini didominasi oleh pemakan suspense seperti bernakel, kerang atau terkadang tiram.

(11)

Sedangkan pembagian menurut Reseck (1980) zonasi pada litoral berbatu dibagi menjadi empat zonasi :

1). Zone I : daerah yang paling tinggi dan selalu kering (spray zone/upper litoral zone). 2). Zona II : Daerah yang mengalami kekeringan 2 kali sehari selama pasang terendah, selama 4-6 jam.

3). Zona III : Daerah yang mengalai kekeringan dalam waktu yang agak pendek, kurang lebih 1-3 jam.

4). Zona IV : Daerah yang mengalami kekeringan sangat relatif singkat, kurang lebih 12 jam.

Pembagian zonasi pada litoral berbatu juga dapat didasarkan oleh organisme yang hidup pada daerah tersebut (Barnes & Hughes, 1999). Pembagian zonasi tersebut dibagi

menjadi dua bagian yakni:

1). Zonasi dari mikroalga. Zonasi ini didasarkan oleh fotosintesis yang terjadi didalam air. Pembagian tersebut yakni:

a). Pada spesies yang terdapat pada lower shore fotosintesis lebih baik di udara dibanding dalam air.

b). Pada spesies yang terdapat pada mid hingga upper shore fotosintesis lebih baik didalam air disbanding diatas daratan. Kekuatan fotosintesis dalam air pada spesies ini

yakni enam kali lebih kuat.

2). Zonasi dari hewan. Zonasi ini didasarkan oleh dua hal yang sangat signifikan yaitu: a). Makanan. Ketersediaan makanan sangat penting utamanya bagi organisme yang pergerakannya sangat lambat atau yang tidak berpindah tempat.

b). Pergerakan. Organisme perlu berpindah untuk mencari makan, sehingga faktor ini juga sangat terikat dengan faktor yang pertama. Suatu gambaran yang sangat luar biasa dari pantai diseluruh dunia, yang terlihat pada waktu pasang surut adalah, menonjolnya pembagian horizontal atau zonasi organisme (Nybakken, 1992).

(12)

Ekosistem intertidal merupakan salah satu ekosistem pada daerah pesisir yang sangat kompleks dan kaya. Banyak pola interaksi antar organisme laut yang dapat ditemukan pada ekosistem ini. Hewan yang hidup pada daerah ini harus dapat beradaptasi dengan keadaan yang ekstrim tersebut. Bentuk adaptasi organisme sangat berkembang utamanya bentuk morfologi yang dibentuk sedemikian rupa. Pada tiap zona intertidal organisme yang hidup sudah mampu untuk bertahan dengan karakteristik lingkungan tersebut (Aliv, 2011).

Faktor Penyebab Distribusi Zonasi Pada Daerah Intertidal Ada berbagai faktor yang menyebabkan adanya berbagai macam distribusi pada daerah intertidal. Pada dasarnya faktor tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yang saling terkait yaitu:

1. Faktor fisika dan kimia

Faktor ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada ekosistem intertidal. Akibat adanya pasang surut maka menyebabkan faktor pembatas pada daerah ini menjadi lebih ekstrim. Faktor pembatas tersebut yaitu kekeringan, suhu, dan sinar matahari ketiga faktor tersbeut saling terkait. Jika laut surut maka daerah intertidal terekspose oleh sinar matahari, akibatnya suhu meningkat. Suhu yang meningkat menyebabkan penguapan dan dampaknya daerah menjadi kering. Oksigen masih cukup namun salinitas cukup tinggi.

2. Faktor biologis.

Faktor ini sangat tergantung dari faktor fisik perairan. Organisme berusaha untuk menyesuaikan diri pada keadaan yang sangat ekstrim tersebut. Ada berbagai macam cara organisme menyesuaikan diri salah satunya dengan mengubur diri atau memodifikasi bentuk cangkang agar dapat hidup pada derah yang kering.

(13)

Karena zona ini bergantian tertutup oleh laut dan terkena udara, organisme hidup di lingkungan ini harus memiliki adaptions baik untuk kondisi basah dan kering. Bahaya termasuk menjadi hancur atau terbawa oleh gelombang kasar, paparan suhu sangat tinggi, dan pengeringan. Khas penduduk pantai berbatu pasang surut termasuk bulu babi, anemon laut, teritip, chitons, kepiting, isopoda, kerang, bintang laut, dan moluska banyak gastropoda laut seperti limpets, whelks, dan bahkan gurita.

2. Zona Bathyal

Zona batial adalah wilayah laut yang merupakan lereng benua yang tenggelam di dasar samudera. Kedalaman zona ini berkisar di atas 200 meter – 2000 meter. Dengan kedalaman dan struktur yang berupa lereng atau curam maka organisme yang hidup pada area ini kebanyakan bersifat konsumen. Pertukaran oksigen cukup kurang sehingga bisa menjadi salah satu faktor pembatas bagi organisme yang hidup pada lingkungan ini. Bebatuan masih relatif ada sehinnga organisme yang hidupnya melekat masih bisa ditemukan (Aliv, 2011).

Menurut Dias (2011), keadaan bentik zona bathyal umumnya merupakan lereng-lereng curam yang merupakan dinding laut dalam dan sebagai bagian pinggiran kontinen. Zona bathyal juga diistilahkan sebagai Continental Slope. Pada Continental slope sering ditemui canyon/ ngarai / submarine canyon, yang umumnya merupakan kelanjutan dari muara sungai – sungai besar di pesisir.

(14)

langka, cangkang mikroskopis dari fitoplankton dan zooplankton akan terakumulasi di dasar membentuk sedimen authigenik.

Biota yang hidup pada bagian bentik zona bathyal antara lain spon, brachiopod, bintang laut, echinoid, dan populasi pemakan sedimen lainnya yang terdapat pada bagian sedimen terrigenous. Biasanya biota yang hidup di zona ini memiliki metabolisme yang lamban karena kebutuhan konservasi energi pada lingkungan yang minim nutrisi. Kecuali pada laut yang sangat dalam, zona bathyal memanjang hingga ke zona bentik pada dasar laut yang merupakan bagian dari continental slope yang berada di kedalaman 1000 hingga 4000 meter.

3. Zona Abisal

Zona abisal memiliki kemiripan dengan lingkungan lumpur yang ada pada zona litoral. Bebatuan yang digunakan sebagai substrat oleh organisme sangat jarang diitemukan. Hewan bercangkang yang hidup di zona ini cangkangnya cenderung tipis dan jik mati cangkang akan mudah sekali terlarut atau tereduksi. Endapan plankton tidak ada karena sebelum sampai di dasar sudah dii makan terlebih dahulu oleh organisme yang ada pada lingkungan yang ada di atasnya (Romimohtarto, 2007).

Endapan yang ada berupa mineral bola-bola mangan dan tulang-tulang telinga ikan paus dan gigi ikan hiu yang susah terlarut. Kondisinya sangat berlumpur sehingga oksigen terlarut sangat sedikit sehingga hewan-hewan pada daerah ini terpaksa menggunakan glikogen atau pigmen-pigmen pernapasan sebagai sumber oksigen sementara. Namun demikian, kondisi dasar laut abisal tidak semuanya memiliki kondisi yang sama. Dasar lingkungan ini pada perairan dalam berupa endapan kapur yang berasal dari kerangka Foraminifera, endapan silika, terutama dari kerangka diatom, dan lempung merah di dasar yang lebih dalam dengan tekana air yang cukup tinggi sehingga membuat zat-zat lain mudah terlarut (Romimohtarto, 2007).

(15)

adalah pemakan endapan yang mengambil dan mencerna zat organik yang terdapat dalam lumpur. Di samping hewan-hewan tersebut terdapat pula hewan-hewan pemangsa bangkai yang menangkap hewan apa saja baik yang hidup maupun mati. Suhu pada daerah ini relatif stabil yaitu antara 1,2o C - 4 oC. Beberapa hewan yang hidup di lingkungan ini berupa

(16)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Berdasarkan faktor-faktor fisik dan penyebaran komunitas biotanya perairan laut di

bedakan menjadi daerah pelagik yang meliputi kolom air dan daerah bentik yang meliputi dasar laut dimana biota laut hidup.

2. Karakteristik tiap zona pada umumnya memiliki ciri yang berbeda-beda baik kondisi fisik

maupun kimianya bahkan sampai biotanya memiliki perbedaan yang tentunya sesuai dengan kondisi lingkungan dari masing-masing zona.

3. Biota yang hidup pada daerah yang masih mendapat suplai cahaya cenderung didominasi

oleh produsen primer dan zona yang lebih dalam di huni oleh berbagai tingkatan konsumen. Untuk daerah paling dalam dihuni oleh organisme yang memiliki kemampuan melawan berbagai macam faktor pembatas yang sangat kritikal

B. Saran

Saran yang saya berikan dalam makalah ini adalah sebaiknya diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai cakupan materi serta tujuan pembelajaran yang ingin di capai dari pokok bahasan tentang zonasi khususnya lingkungan perairan laut.

(17)

Aliv. 2011. Pembagian zona laut. Diakses pada tanggal 20 juli 2012 melalui

http://ml.scribd.com/doc/79823180

Ardi. 2011. Oseanografi is Oceanography. Diakses pada tanggal 20 juli 2012 melalui http//ardi.wordpress.com

Dias. 2011. Klasifikasi Lingkungan Laut. Diakses pada tanggal 23 juli 2012 melalui http://adios19.wordpress.com/2011/05/15/klasifikasi-lingkungan-laut.com

Effendy. 2009. Ekologi Laut Dalam. Diakses pada tanggal 23 juli 2012 melalui http://perikananunila.wordpress.com/2009/07/31/ekologi-laut-dalam.com

Ernawati, wanda. 2011. Pembagian Daerah Ekosistemm Laut. Diakses pada tanggal 20 juli 2012 melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Zona_laut.jpg

Romimohtarto, K., dan Juwana, S., 2007. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta.

DAFTAR ISI Halaman

Halaman sampul

(18)

Bab I Pendahuluan... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah... 2

C. Tujuan Penulisan... 2

D. Manfaat ... 2

Bab II Isi dan Pembahasan... 3

A. Lingkungan Pelagik... 3

B. Lingkungan Bentik... 8

Bab III penutup... 18

A. Kesimpulan... 18

B. Saran... 18

Daftar Pustaka

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu sesuai yang diharapkan. Penyusunan makalah ini adalah salah satu syarat untuk mengikuti mata kuliah Hidrobiologi. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak khususnya teman-teman Angkatan “2009”, dan Dosen Mata Kuliah Hidrobiologi yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam makalah ini.

(19)

Makalah ini berisi uraian mengenai zonasi di lingkungan perairan laut. Penyusun berharap, makalah ini dapat menjadi tambahan pengetahuan dan wawasan bagi pembaca, khususnya bagi penulis.

Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan didalamnya sehingga kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis dari berbagai pihak demi kesempurnaan penyusunan selanjutnya.

Kendari, Juli 2012

Penulis

Zona Laut Indonesia ( Pengertian )

Pengertian zona laut Teritorial, zona Landas kontinen, dan zona Ekonomi Eksklusif.

Zona Laut Teritorial

(20)

Sebuah negara mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya sampai batas laut teritorial, tetapi mempunyai kewajiban menyediakan alur pelayaran lintas damai baik di atas maupun di bawah permukaan laut. Deklarasi Djuanda kemudian diperkuat/diubah menjadi Undang-undang No.4 Prp. 1960.

Zona Landas Kontinen

(21)

Di dalam garis batas landas kontinen, Indonesia mempunyai kewenangan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, dengan kewajiban untuk menyediakan alur pelayaran lintas damai. Pengumuman tentang batas landas kontinen ini dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia pada tanggal 17 Febuari 1969.

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)

(22)

Daftar Pustaka

http://74.125.153.132/search?

q=cache:1FOayXlmK_MJ:umi_k.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/17563/Bab%2B2_wawasan %2BNusantara.doc+zona+laut+teritorial&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=opera

http://cettabumi.com/update/zona-laut-indonesia/

http://dilmil-banjarmasin.go.id/index.php?content=mod_artikel&id=3

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dalam tesis ini bahwa kota Medan dan sekitarnya, serta di daerah Sumatera Utara sebagian besar akibat terjadinya gempa Nias, percepatan gelombang

Model tsunami ini salah satu model tsunami yang dapat memprediksi waktu tiba gelombang tsunami (Tsunami Travel Time) dari sumber pembangkit gelombang tsunami ke daerah pesisir

Berdasarkan hasil penelitian dalam tesis ini bahwa kota Medan dan sekitarnya, serta di daerah Sumatera Utara sebagian besar akibat terjadinya gempa Nias, percepatan gelombang

Model tsunami ini salah satu model tsunami yang dapat memprediksi waktu tiba gelombang tsunami (Tsunami Travel Time) dari sumber pembangkit gelombang tsunami ke daerah pesisir

Peraturan Bupati ini dibentuk dengan maksud untuk memberikan stimulus perekonomian daerah untuk mengatasi krisis akibat dampak penyebaran Pandemi Corona Virus Disease

Spektrum Absorbansi C-Dots Gambar 1 menunjukkan adanya pergeseran daerah panjang gelombang pada spektrum absorbansi C-Dots, hal ini diprediksi akibat penambahan

Dalam penelitian ini, akan dilakukan sebuah proses estimasi potensi gelombang air laut di daerah perairan Pulau Poteran, Madura yang diketahui memiliki potensi

Dalam penelitian ini penulis ingin mengamati sifat fisis dan mekanis hasil sambungan las pada pipa baja JIS Z 2201 Φ diameter 25,9 mm dan tebal 1,9 mm dengan karbon rendah akibat cacat