MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK
Dika Jaya Rahmana, Fikri Muhammad Firdaus, Nilam Maolan Nisa, dan Rahmatia Teknologi Pendidikan da Fakultas Ilmu Pendidikan
Dr. H. Toto Ruhimat, M.Pd, Ence Surahman, M.Pd
A. Pendahuluan 1. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang bertujuan mengubah perilaku pembelajar secara langsung sebagai hasil belajar. Tentunya dari pembelajaran tersebut menginginkan adanya perubahan perilaku yang lebih baik. Pembelajaran seharusnya bisa memberikan dampak yang baik bagi pembelajar guna meningkatkan taraf hidup dan kompetensinya dan pembelajaran didesain untuk itu.
Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing - masing untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Tentunya setiap model pembelajaran yang dipilih dan digunakan harus sesuai dengan tujuan apa yang ingin dicapai dari pembelajaran tersebut. Karena pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu faktor dari keberhasilan pembelajaran. Artinya model pembelajaran yang dipilih akan menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
Pembelajaran yang bermakna yaitu apabila pembelajaran tersebut bisa memberikan pengetahuan dan perubahan perilaku secara langsung dalam kehidupan sehari - hari dalam jangka waktu yang lama. Pembelajaran bermakna dapat diraih apabila peserta didik berpartisipasi aktif dan terjun langsung ke lapangan guna mengetahui dan mengalami secara nyata kehidupan yang sebenarnya. Proses berpikir dan mengolah informasi dengan benar pun menjadi salah satu penyebab keberhasilan pembelajaran yang bermakna. Sehingga apabila pembelajaran yang dilakukan dengan terjun secara langsung ke lapangan untuk mengolah data dan fakta yang ada di lapangan melalui proses berpikir diharapkan dapat memberikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik, karena peserta didik secara aktif melakukan proses berpikir untuk mengolah data dan fakta yang terjadi atau yang dialami oleh mereka sendiri di kehidupan nyata.
informasi. Diharapkan melalui tahap - tahap yang ada pada model pembelajaran ini bisa memberikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.
2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dibuatnya makalah ini bagi penyusun agar dapat memahami dan mendalami wawasan mengenai pembelajaran, khususnya mengenai model pembelajaran investigasi kelompok sebagai bidang keilmuan dari penyusun. Tujuan dan manfaat bagi pembaca adalah untuk menambah wawasan mengenai upaya meningkatkan efektifitas pembelajaran, khususnya melalui model investigasi kelompok.
B. Pembahasan
1. Konsep Dasar dan Teori Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Menurut KBBI Investigasi adalah penyelidikan dengan mencatat atau merekan fakta melakukan peninjauan, percobaan, dan lain sebagainya dengan tujuan memperoleh jawabaan atas pertanyaan (tentang peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat, dan lain sebagainya). Sedangkan pengertian investigasi menurut Arifin dan Afandi (2015, hlm. 13) “merupakan upaya penelitian, penyelidikan, pencarian, informasi dan temuan lainnya untuk mengetahui/ membuktikan kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta yang kemudian menyajikan kesimpulan atas rangkaian temuan dan susunan kejadian”. Rumpun sosial adalah model yang menggabungkan antara belajar dan masyarakat. Kedudukan belajar/mengajar disini adalah bahwa perilaku kooperatif tidak hanya merupakan pemberi semangat.
Menurut Suyatno dalam Yumisnaini (2013) “model pembelajaran investigasi kelompok adalah pembelajaran yang melibatkan kelompok kecil dimana siswa bekerja menggunakan inkuiri kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok, dan kemudian mempresentasikan penemuan mereka kepada kelas”. Selanjutnya Trianto dalam Yumisnaini (2013) menyebutkan bahwa “Investigasi kelompok adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok”.
Menurut Slavin yang dikutip oleh Yusron dalam Yumisnaini (2013), investigasi kelompok adalah model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia. Menurut pendapat ini investigasi kelompok adalah model pembelajaran kooperatif yang menitikberatkan pada partisipasi yang tinggi siswa dalam belajar kelompok yang dilakukan secara berkelompok dengan mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran investigasi kelompok merupakan model pembelajaran dimana peserta didik dalam kelompoknya secara aktif melakukan perencanaan dalam memilih materi yang akan dipelajari untuk dilakukan investigasi atau pencarian data dan fakta melalui tahap - tahap tertentu terkait materi tersebut untuk dipresentasikan kepada teman atau kelompok lain untuk saling bertukar informasi.
mencapai studi yang mendalam tentang isi atau materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang terpusat pada guru; 2) Bilamana guru bermaksud mendorong siswa untuk lebih skeptis tentang ide - ide yang disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan; 3) Bilamana guru bermaksud meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai persoalan di luar kelas; 4) Bilamana guru bermaksud membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi yang berasal dari penelitian-penelitian orang lain yang mungkin dapat mengarah pada pemahaman yang kurang positif; 5) Bilamana guru bermaksud mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian, yang selanjutnya dapat mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti halnya cooperative learning; 6) Bilamana guru menginginkan peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.
Setiap hal pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan model investigasi kelompok ini. Kelebihan - kelebihan dalam model pembelajaran group investigation adalah sebagai berikut: 1) Melatih peserta didik untuk mendesain suatu penemuan; 2) Melatih berpikir dan bertindak kreatif; 3) Dapat memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis; 4) Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan; 5) Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan; 6) Merangsang perkembangan kemajuan berpikir peserta didik untuk menghadapi masalah yang dihadapi secara tepat. Di samping memiliki kelebihan, model investigasi kelompok ini juga memiliki kekurangan, diantaranya : 1) Membutuhkan keaktifan anggota kelompok dalam melakukan penyelidikan atau investigasi; 2) Jika seluruh anggota kelompok pasif, maka akan menyulitkan mereka dalam melakukan kegiatan investigasi.
Killen yang dikutip Haffidianti (2011, hlm.15) dalam Aunurrahman (2009, hlm. 153) memaparkan beberapa ciri esensial investigasi kelompok sebagai pendekatan pembelajaran adalah: 1) Peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dan memiliki independensi terhadap guru; 2) Kegiatan-kegiatan peserta didik terfokus pada upaya menjawab pertanyaan - pertanyaan yang telah dirumuskan; 3) Kegiatan belajar peserta didik akan selalu mempersyaratkan mereka untuk mengumpulkan sejumlah data, menganalisisnya, dan mencapai beberapa kesimpulan; 4) Peserta didik akan menggunakan pendekatan yang beragam di dalam belajar; 5) Hasil-hasil dari penelitian peserta didik dipertukarkan di antara seluruh peserta didik.
Model pembelajaran group investigation meletakkan dasar pada psikologi pendidikan John Dewey, yang mana dia percaya bahwa para siswa akan mengalami pembelajaran bermakna jika mereka mampu menunjukkan langkah-langkah penyelidikan ilmiah (Tsoi, dkk., 2004). Karakter unik investigasi kelompok ada pada investigasi dari empat fitur dasar seperti investigasi, interaksi, penafsiran,dan motivasi intrinsik (Sharan, 2009). Slavin (dalam Suartika, dkk., 2013, hlm. 3) menyatakan kegiatan pembelajaran group investigation memiliki enam langkah pembelajaran antara lain; 1) Grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan), 2) Planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya), 3) Investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi), 4) Organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis), 5) Presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain berperan secara aktif sebagai pendengar (audiens), dan 6) Evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian kompetensi dasar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman.
Untuk mewujudkan kemampuan berpikir siswa, guru perlu menerapkan berbagai pembelajaran model inovatif. Model pembelajaran inovatif yang dimaksud adalah “model yang menggunakan paham konstrutivistik” (Shadiq, 2006). Paham tersebut menyatakan bahwa pengetahuan akan terbentuk atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasarkan pada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Menurut Paul Suparno (dalam Syaripudin & Kurniasih, 2015, hlm. 125) Jika seseorang tidak mengkonstruksikan pengetahuannnya sendiri secara aktif, meskipun ia berumur tua, pengetahuannya akan tetap tidak berkembang.
Model pembelajaran group investigation, membuat siswa akan lebih termotivasi untuk berbuat sesuatu yang baik dan produktif saat siswa dihadapkan pada masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari. Untuk memecahkan suatu permasalahan siswa harus mampu menganalisis dan memahami konsep. Hal ini akan memberi arah kepada siswa untuk mengidentifikasi apa yang perlu diketahui dan dipelajari untuk dapat memahami konsep dan memecahkan masalah, serta merancang investigasi dan mengidentifikasi sumber-sumber belajar yang diperlukan.
Saat proses pemahaman konsep, siswa yang belajar secara aktif, baik aktif dalam berpikir (minds-on) dan aktif dalam berbuat (handson), bersama kelompok belajarnya akan memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat terlibat dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Model pembelajaran group investigation memiliki potensi yang sangat besar untuk melatih proses berpikir siswa yang mengarah pada keterampilan berpikir kreatif siswa. Keterampilan berpikir kreatif dikembangkan di setiap tahapan pembelajaran model pembelajaran group investigation. Siswa menjadi terdorong di dalam belajar mereka, guru berperan sebagai mediator dan fasilitator.
2. Tahapan dari Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik; 2). Merencanakan kerjasama, para siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah 1 diatas; 3). Implementasi, para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah 2. pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan; 4). Analisis dan sintesis, para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah 3 dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas; 5). Penyajian hasil akhir, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru; 6). Evaluasi, guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
Suatu model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian pula dengan model group investigation. Menurut Eggen dan Kauchak (dalam Harisantoso, 2005:3), kelebihan model group investigation adalah sebagai berikut, 1). Memungkinkan siswa untuk secara aktif melakukan investigasi terhadap suatu topik, sebab group investigation memfokuskan pada investigasi terhadap suatu topik atau konsep; 2). Group investigation menyediakan kesempatan kepada siswa untuk membentuk atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna; 3). Group investigation efektif dalam membentuk siswa untuk bekerjasama dalam kelompok dengan latar belakang berbeda (misalnya kemampuan, gender, dan etnis); 4). Group investigation menyediakan konteks sehingga siswa dapat belajar mengenai dirinya dan orang lain.
Kekurangan group investigation adalah setiap kelompok menerima materi yang berbeda-beda sehingga dapat terjadi kemungkinan setiap kelompok hanya memahami materi yang sudah diterimanya. Untuk mengatasi hal ini, dilakukan pemberian lembar kerja siswa keseluruhan siswa sebelum pembelajaran dimulai dengan materi sesuai dengan yang dipresentasikan kelompok tersebut.
3. Penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Penerapan model pembelajaran investigasi grup yaitu metode pembelajaran Peer Teaching atau dalam bahasa Indonesia sering disebut tutor sebaya. Peer teaching atau tutor sebaya adalah sebuah metode yang tidak membuat siswa tubosan dan guru pun tidak suntuk. Edward L. Dejnozken dan David E. Kopel dalam American Education Encyclopedia menyebutkan pengertian tutor sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar siswa lainnya. Menurut Kuswaya Wihardit dalam Aria Djalil (1977:38), menuliskan bahwa tutor sebaya adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar siswa lainnya dalam tingkat kelas yang sama. Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa tutor sebaya (peer teaching) adalah model pembelajaran dengan pendekatan kooperatif dimana peserta didik ada yang berperan sebagai pengajar (biasanya siswa yang lebih pandai dari siswa yang lain) dan peserta didik yang lain berperan sebagai pembelajar, baik pada usia yang sama atau pengajar berusia lebih tua dari pembelajar ataupun sebaliknya.
Manfaat peran tutor sebaya menurut Dossuwanda adalah (1). Memberikan pengaruh positif, baik dalam pendidikan dan sosial pada guru, dan tutor sebaya, (2). Merupakan cara praktis untk membantu secara individu dalam membaca, (3). Pencapaian kemapuan membaca dengan tutor sebaya hasilnya bisa ebih baik, dan (4). Jumlah waktu yang dibutuhkan peserta didik untuk membaca akan lebih meningkat. Dengan tutor sebaya, pembaca yang lemah dapat mengambil manfaat dari perhatian yang tak terbagi. Guru sering tidak mempunyai cukup waktu untuk memberikan bantuan individu kepada setiap peserta didik. Namun model ini harus dijelaskan dengan seksama kepada tutor sebaya, apa yang harus mereka lakukan.
Menurut Hisyam Zaini (2001:1) dalam Amin Suyitno (2004:34), menyebutkan bahwa langkah-langkah model pembelajaran tutor sebaya yaitu, (1). Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri, materi pelajaran dibagi menjadi sub-sub materi, (2). bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya, (3). Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang panadai sebagai tutor sebaya, (4). Beri waktu yang cukup untuk persiapan, (5). Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai narasumber utama, dan (6). Setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan sesuai dengan aturan sub materi, beri keimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman siswayang perlu diluruskan.
Miler dalam Aria Djalil (1997:48) menuliskan daran penggunaan model pembelajaran tutor sebaga agar mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan adalah sebagai berikut, (1). Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai, (2). Jelaskan tujuan kepada semua pembelajar, (3). Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai, (4). Gunakan cara yang praktis, (5). Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru, (6). Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan dilakukan, (7). Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor, (8). Lakukan pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui tutor sebaya dan, (9).jagalah agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong.
yang bekerja sama. Tutor sebaya ini memudahkan belajar, siswa berpartisipasi aktif, dan dapat memecahkan masalah bersama-sama, sehingga pemerataan pemahaman terhadap materi pembelajaran yang diberikan dapat tercapai. Tutor sebaya akan lebih efektif jika dalam pelaksanaannya menginkuti pedoman yang sudah direncanakan.
C. Penutup
Group investigation (investigasi kelompok) adalah model belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara heterogen dilihat dari perbedaan kemampuan dan latar belakang yang berbeda baik dari segi gender, etnis, dan agama untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik (Eggen dan Kauchak dalam Harisantoso, 2005:2). Model pembelajaran investigasi kelompok merupakan model pembelajaran dimana peserta didik dalam kelompoknya secara aktif melakukan perencanaan dalam memilih materi yang akan dipelajari untuk dilakukan investigasi atau pencarian data dan fakta melalui tahap - tahap tertentu terkait materi tersebut untuk dipresentasikan kepada teman atau kelompok lain untuk saling bertukar informasi. Model pembelajaran Group investigation hadir dikarenakan adanya kebutuhan yang mendasari agar pembelajaran terjadi lebih kooperatif yang dirancang agar siswa dapat dilibatkan dengan maksimal dan mendapatkan peran khusus dalam menyelesaikan tugasnya dan bertanggungjawab dalam peran khusus tersebut dalam kelompoknya.
Demikian makalah ini kami buat semoga dapat bermanfaat. Diharapkan pembaca dapat menggali lagi dari sumber lain wawasan mengenai pembelajaran, khususnya terkait materi yang telah disajikan dalam makalah ini mengenai model pembelajaran investigasi kelompok untuk lebih memahami dan mendalaminya. Apabila ada kritik atau saran yang ingin disampaikan silahkan sampaikan agar kedepannya menjadi lebih baik, mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan harap untuk memakluminya sekian dan terima kasih.
Daftar Pustaka :
Suartika, dkk. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (Gi) Terhadap Pemahaman Konsep Biologi Dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Sma. e-Journal Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha. 3, 2-10.
Syaripudin, T & Kurniasih. (2015). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung; Percikan Ilmu.
Yumisnaini. (2013). Efektivitas metode investigasi kelompok (group investigation) terhadap keterampilan menulis artikel oleh siswa kelas xi sma negeri 1 pancurbatu tahun pembelajaran 2012/2013. [Jurnal Online]. Diakses dari http:// jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/kjb/article/download/1659/1346
Arifin, Z. & Afandi, T.Y. (2015). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok (group investigation) dan strategi student team achievement division (STAD) terhadap keterampilan proses dan hasil belajar akuntansi siswa smk di kota kediri. [Jurnal Online]. Diakses dari
Haffidianti, Y. (2011). Skripsi Penerapan model pembelajaran group investigation (GI) dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok bangun ruang kelas viii f mts negeri 1 semarang tahun pelajaran 2010/2011. [Online]. Diakses dari yunitahaff-6512-1-fileskr-a.pdf
Dossuwanda. (2008). Pengelolaan Pembelajaran Tutor Sebaya. [Online]. Diakses dari http://dossuwanda.wordpress.com/2008/04/18/pengelolaan-pembelajaran-tutor-sebaya/
Teacher Creative Corner. (2010). Pembelajaran dengan method Tutor Teman Sebaya. [Online]. Diakses dari http://baliteacher.blogspot.com/2010/02/pembelajaran-dengan-methode-tutor-teman.html
Febianti, Yovi Nisa. (2014). Peer Teaching (Tutor Sebaya) Sebagai Metode Pembelajaran Untuk Melatih Siswa Mengajar. [Online]. Diakses dari http://www.fkip-unswagati-ac.id/ejournal/index.php/edunomic/article/download/ 63/61
Lim, Leng Leng. (2014). A Case Study on Peer Teaching. [Online]. Diakses dari http://file.scrip.org/pdf/JSS_2014082217073688.pdf
Rosita, C, D. (2015). EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN GRUP INVESTIGASI TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS MAHASISWA PADA MATERI RUANG VEKTOR. Journal Mathematics
Education, 1(1)