• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Pendahuluan Solusio Plasenta drr

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Pendahuluan Solusio Plasenta drr"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN SOLUSIO PLASENTA

OLEH: FARID MA`RUF NPM.13144011104

STIKES MUHAMMADIYAH BANJARMASIN D3 KEPERAWATAN KELAS INTERNASIONAL

(2)

1. Anatomi dan Fisiologi a. Anatomi

b. Fisiologi

Plasenta berasal dari lapisan trofoblas pada ovum yang dibuahi, lalu terhubung dengan sirkulasi ibu untuk melakukan fungsi-fungsi yang belum dapat dilakukan oleh janin itu sendiri selama kehidupan intra uterin. Keberhasilan janin untuk hidup tergantung atas keutuhan dan efisiensi plasenta.

Plasenta terbentuk pada kira-kira minggu ke-8 kehamilan berasal dari bagian konseptus yang menempel pada endometrium uteri dan tetap terikat kuat pada endometrium sampai janin lahir. Fungsi plasenta sendiri sangat banyak, yaitu sebagai tempat pertukaran zat dan pengambilan bahan nutrisi untuk tumbuh kembangnya janin, sebagai alat respirasi, sebagai alat sekresi hasil metabolisme, sebagai barrier, sebagai sumber hormonal kehamilan. Plasenta juga bekerja sebagai penghalang guna menghindarkan mikroorganisme penyakit mencapai fetus. Kebanyakan obat-obatan juga dapat menembus plasenta seperti morfin, barbiturat dan anestesi umum yang diberikan kepada seorang ibu sewaktu melahirkan, dapat menekan pernafasan bayi yang baru lahir.

(3)

berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal lebih kurang 2,5 cm. Beratnya rata-rata 500 gram.

Letak plasenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas sehingga lebih banyak tempat untuk melakukan implantasi. Permukaan fetal ialah yang menghadap ke janin, warnanya keputih-putihan dan licin karena tertutup oleh amnion, di bawah nampak pembuluh-pembuluh darah. Permukaan maternal yang menghadap dinding rahim, berwarna merah dan terbagi-bagi oleh celah-celah/sekat-sekat yang berasal dari jaringan ibu. Oleh sekat ini, plasenta dibagi menjadi 16-20 kotiledon. Pada penampang sebuah plasenta,yang masih melekat pada dinding rahim nampak bahwa plasenta terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang dibentuk oleh jaringan anak dan bagian yang dibentuk oleh jaringan ibu.

Bagian yang terdiri dari jaringan anak disebut piring penutup (membrana chorii), yang dibentuk oleh amnion, pembuluh-pembuluh darah janin, chorion dan villi. Bagian yang terbentuk dari jaringan ibu disebut piring desidua atau piring basal yang terdiri dari desidua compacta dan sebagian dari desidua spongiosa, yang kelak ikut lepas dengan plasenta.

Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik. Salah satu fungsi plasenta adalah untuk perfusi dan transfer nutrisi, yaitu sebagai tempat pertukaran zat dan pengambilan bahan nutrisi untuk tumbuh dan berkembangnya janin di dalam rahim, berupa penyaluran zat asam, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu ke janin, dan pembuangan karbondioksida dan sampah metabolisme janin ke peredaran darah ibu. Fungsi lain dari plasenta adalah:

a. Nutrisi: memberikan bahan makanan pada janin b. Ekskresi: mengalirkan keluar sisa metabolisme janin c. Respirasi: memberikan O2 dan mengeluarkan CO2 janin

(4)

e. Imunologi: menyalurkan berbagai komponen antibodi ke janin

f. Farmakologi: menyalurkan obat-obatan yang mungkin diperlukan janin, yang diberikan melalui ibu

g. Proteksi: barrier terhadap infeksi bakteri dan virus, zat-zat toksik (tetapi akhir2 ini diragukan, karena pada kenyataannya janin sangat mudah terpapar infeksi / intoksikasi yang dialami ibunya)

(www. akbidcipto.com)

2. Definisi

Solusio Plasenta merupakan terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri yang terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. (Rukiyah & Yulianti, 2010: 199)

Abrupsio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat tertanamnya, sebelum waktunya. (Helen, 2007: 643)

Solusio Plasenta atau pelepasan prematur plasenta, ablasio plasenta, atau perdarahan aksidental didefinisikan sebagai pelepasan plasenta dari tempat implantasi normal sebelum kelahiran janin. (www.obgyn-rscmfkui.com)

3. Etiologi

(5)

4. Patofisiologi

Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematoma pada desidua, sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematoma yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, perdarahan darah antara uterus dan plasenta belum terganggu, dan tanda serta gejala pun tidak jelas. Kejadian baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah yang berwarna kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan perdarahannya. Akibatnya, hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian akan menyelundup di bawah selaput ketuban keluar dari vagina atau menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban atau mengadakan ekstravasasi di antara serabut-serabut otot-otot uterus.

Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, maka seluruh permukaan uterus akan berbercak biru atau ungu. Hal ini dsebut uterus couvelaire (perut terasa sangat tegang dan nyeri). Akibat keruakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter, maka banyak trombosit akan masuk ke dalam peredaran darah ibu, sehingga terjadi pembekuan intravaskuler di mana-mana, yang akan menghabiskan sebagian besar fibrinogen. Akibatnya, terjadi hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuan darah tidak hanya di uterus, akan tetapi juga pada alat-alat tubuh lainnya.

(Rukiyah & Yulianti, 2010: 201-202)

5. Tanda dan Gejala

(6)

Persepsei wanita tersebut terhadap nyeri dapat melebihi proporsi yang dirasa pemeriksa; dapat terjadi peningkatan tonus uteri di antara apa yang dirasa sebagai kontraksi, dan wanita tersebut merasakan nyeri tekan lokal atau menyeluruh pada uterus. Pada hipertonus klasik, karateristik rahim seperti papan dan kaku uterus hanyar terjadi pada kasus abrupsio yang luas.

Tanda dan gejala lain bervariasi sesuai derajat pemisahan. Pada derajat rendah, frekuensi denyut jantung janin masih normal. Peningkatan derajat pemisahan akan menurunkan frekuensi denyut jantung janin. Pergerakan janin juga akan menurun atau hilang sama seklai selama 12 jam, sebelum tanda dan gejala abrupsio muncul. Pada beberapa wanita, pergerakan janin justru meningkat pada abrupsio yang luas dan perdarahan yang hebat. Apabila seksio sesaria dapat dilakukan dengan segera, kemungkinan bayi dapat hidup. Apabila sebaliknya, maka gerakan janin akan terhenti.

Gejela dan tanda abrupsio yang lain adalah pembesaran uterine (hanya terjadi pada perdarahan tersembunyi) dan syok. Tingkat keparahan syok bergantung pada keparahan abrupsio. Jangan sekali-kali berpikir bahwa jumlah kehilangan darah pada ibu dari yang terlihat saja, sebab ada perdarahan yang tersembunyi. Pembesaran uterus pada perdarahan yang tersembunyi dapat diketahui dengan menandai tinggi fundus uteri pada abdomen setiap 15 menit untuk mengetahui peningkatannya.

(Helen, 2007: 643)

6. Komplikasi

Komplikasi yang terjadi bisa terjadi pada ibu maupun janin yang dikandungnya dengan kriteria

a. Komplikasi pada ibu yaitu perdarahan yang dapat menimbulkan variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok, perdarahan tidak sesuai keadaan penderita anemis sampai syok, kesadaran bervariasi dari baik sampai koma.

(7)

tejadinya penurunan fibrinogen sehingga hipofibrigen dapat mengganggu pembekuan darah.

c. Oliguria menyebabkan terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang.

d. Perdarahan postpartum: pada solusio plasenta sedang sampai berat tejadi infiltrasi darah ke otot rahim, sehingga mengganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri; kegagalan pembekuan darah menambah beratnya perdarahan

e. Sementara komplikasi yang terjadi pada janin antara lain: asfiksia ringan sampai berat dan kematian janin, karena perdarahan yang tertimbun di belakang plasenta yang mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin. Rintangan kejadian asfiksia sampai kematian janin dalam rahim tegantung pada seberapa bagian plasenta telah lepas dari implantasinya di fundus uteri.

(Rukiyah & Yulianti, 2010: 202)

7. Prognosis

(8)

8. Pengkajian

a. Anamnesis: ibu mengeluh terjadi perdarahan disertai sakit yang tiba-tiba di perut untuk menentukan tempat terlepasnya plasenta. Perdarahan pervaginam dengan berupa darah segar dan bekuan-bekuan darah. Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti tidak bergerak lagi). Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan berkunang-kunang, Ibu kelihatan anemis tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar. Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma.

b. Inspeksi: pasien tampak gelisah, pasien terlihat pucat, sianosis dan keringat dingin, terlihat darah keluar pervaginam.

c. Palpasi: didapatkan hasil fundus teraba naik karena terbentuknya retroplasenta hematoma, uterus tidak sesuai dengan kehamilan; uterus teraba tegang dan keras seperti papan disebut uterus in bois (wooden uterus baik waktu his maupun di luar his); nyeri tekan terutama di tempat plasenta; bagian- bagian janin sudah dikenali, karena perut (uterus) tegang.

d. Auskultasi: sulit dilakukan, karena uterus tegang. Bila denyut jantung janin terdengar biasanya di atas 140 kali/menit, kemudian turun di bawah 100 kali/menit dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas dari sepertiganya. e. Pada pemeriksaan dalam, teraba servik biasanya lebih terbuka atau masih

tertutup. Kalau servik sudah terbuka, maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun di luar his; kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun kebawah dan pemeriksaan disebut prolapsus plasenta.

f. Hasil pemeriksaan umum: tekanan darah semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh syok, Nadi cepat dan kecil filiformis.

g. Pemeriksaan laboratorium: urin: protein (-) dan reduksi (-); Albumin (+) pada pemeriksaan sedimen terdapat silider dan lekosit; darah: haemoglobin (Hb) anemi, pemeriksa golongan darah, kalau bisa cross match tets.

(9)

dibagian plasenta yang terlepas (kater) dan terdapat koagulan atau darah dibelakang plasenta yang disebut hematoma retroplasenter.

i. Pemeriksaan penunjang ultrasonografi (USG), akan dijumpai perdarahan antara plasenta dan dinding abdomen.

(Rukiyah & Yulianti, 2010: 202-204)

9. Diagnosis Banding

a. Penyebab perdarahan nonplasenta. Biasanya tidak nyeri. Ruptur uterus dapat menyebabkan perdarahan per vaginam tetapi, jika banyak, disertai dengan rasa nyeri, syok dan kematian janin.

b. Penyebab perdarahan plasenta. Plasenta previa disertai perdarahan tanpa rasa nyeri dan biasanya terdiagnosis dengan ultrasonografi.

c. Penyebab perdarahan yang tidak dapat ditentukan. Pada paling sedikit 20% kasus, penyebab perdarahan antepartum tidak dapat ditentukan. Namun, jika masalah-masalah serius dapat disingkirkan, perdarahan tidak terdiagnosis ini jarang berbahaya.

(www.obgyn-rscmfkui.com)

10. Penatalaksanaan a. Tindakan darurat.

Jika terjadi defisiensi, mekanisme pembekuan harus dipulihkan sebelum melakukan upaya apapun untuk melahirkan bayi. Berikan kriopresipitat, FFP atau darah segar. Berikan terapi anti syok. Pantau keadaan janin terus menerus.

Pecahkan selaput ketuban, jika mungkin, terlepas dari kemungkinan cara pelahiran yang akan dipakai.

b. Tindakan spesifik. 1) Derajat 1

(10)

perdarahan akan berhenti secara spontan. Jika persalinan mulai terjadi, siapkan persalinan per vaginam jika tidak ada komplikasi lebih lanjut. 2) Derajat 2

Siapkan pelahiran per vaginam jika persalinan diperkirakan akan terjadi dalam waktu sekitar 6 jam, terutama jika janin mati. Seksio sesarea sebaiknya dilakukan jika terdapat bukti kuat adanya gawat janin dan bayi mungkin hidup.

3) Derajat 3

Pasien selalu dalam keadaan syok, janin sudah mati, uterus tetanik dan mungkin terdapat defek koagulasi. Setelah memperbaiki koagulopati, lahirkan per vaginam jika dapat dikerjakan dalam waktu sekitar 6 jam. Persalinan per vaginam tampaknya paling baik untuk pasien multipara. Jika tidak, kerjakan seksio sesarea.

c. Tindakan-Tindakan Bedah

Seksio sesarea merupakan indikasi jika persalinan diperkirakan akan berlangsung lama (lebih dari 6 jam), jika perdarahan tidak memberi respons terhadap amniotomi dan pemberian oksitosin encer secara hati-hati, dan jika terjadi gawat janin dini (tidak berkepanjangan) dan janin mungkin hidup.

Histerektomi jarang diperlukan. Uterus Couvelaire sekalipun akan berkontraksi, dan perdarahan hampir akan selalu berhenti jika defek koagulasi sudah diperbaiki.

(www.obgyn-rscmfkui.com)

11. Diagnosis Keperawatan

a. Ketidakefektifan perfusi jaringan (perifer) berhubungan dengan hipovolemia ditandai dengan conjungtiva anemis, akral dingin, Hb turun, muka pucat, dan lemas.

(11)

c. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang pengalaman ditandai dengan mengungkapkan masalah secara verbal.

12. Intervensi No

. Diagnosis

Tujuan dan

(12)
(13)

3. Defisiensi

a. Perfusi jaringan pasien adekuat.

(14)

Daftar Pustaka

Rukiyah, Ai Yeyeh, S.Si.T dan Yulianti, Lia, Am.Keb, MKM. 2010. Asuhan Kebidanan 4 (Patologi). Jakarta: CV. Trans Info Media

Helen, Varney. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Ed. 4, Vol. 1. Jakarta: EGC

Wilkinson, Judith M. dan Ahern, Nancy R.. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC, Ed. 9. Jakarta: EGC

Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSCM. Solusio Plasenta. http://www.obgyn-rscmfkui.com/berita.php? id=402 (diakses pada hari Senin, 6 Maret 2015, 14:50 WITA)

Referensi

Dokumen terkait

Apabila sebagian plasenta lepas sebagian lagi belum, terjadi perdarahan karena uterus tidak bisa berkontraksi dan beretraksi dengan baik pada batas antara dua bagian

2) Perdarahan, hebatnya perdarahan tergantung pada lokasi luka, jenis pembuluh darah yang rusak... 3) Ganguan fungsi, fungsi anggota badan akan terganggu oleh karena rasa nyerib.

Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan

Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun mengakibatkan pembuluh darah yang lebar tidak menutup sempurna, sehingga perdarahan terjadi terus menerus, menyebabkan

Menurut Muttaqin (2008), stroke hemoragik merupakan perdarahan serebri dan mungkin perdarahan subarachnoid yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada

Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang terjadi pada jaringan otak biasanya akibat robekan pembuluh darah yang ada dalam jaringan

4omplikasi solusio plasenta berasal dari perdarahan retroplasenta yang terus berlangsung sehingga menimbulkan berbagai akibat pada ibu seperti anemia, syok

Cedera atau diseksi arteri ditandai dengan perdarahan kedalam dinding pembuluh darah, yang menyebabkan kerusakan pada lapisan endotelial paling dalam