• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANCASILA SEBAGAI DAN PEMERSATU INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PANCASILA SEBAGAI DAN PEMERSATU INDONESIA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PANCASILA SEBAGAI PEMERSATU

INDONESIA

TUGAS AKHIR

STIMIK “AMIKOM”

Yogyakarta

Dipersembahkan Oleh :

Nama : Aji Setiawan

NIM

: 11.01.2876

Kelompok : B

Progam studi : D3

(2)

PANCASILA SEBAGAI PEMERSATU

INDONESIA

Abstraksi

Pancasila as Uniting Nations. Pancasila as the source of all sources of law in Indonesia, has a value contained in it which has been described in the Preamble of the 1945 Constitution as a source of national law as a whole Indonesia's political transition from a colonial society into the national community, Pancasila has a very important function. Without the Pancasila, the national society we will never achieve substantial as we have today. in addition to realizing the importance of unity for the survival of the nation, also showed an understanding that differences

it's a reality that can not be eliminated by humans. Real difference is the lesson to be disukuri, and not something that should be rejected. Furthermore, it should be removed of this earth. The difference is also natural that there are everywhere, in

every country and in any country. Responding to these realities, the solution can not help but make a difference there is a property that is really

(3)

Latar Belakang Masalah

Di masa sekarang ini, nilai nilai luhur Pancasila tampaknya sudah banyak di tinggalkan. Banyak sekali terjadi penyimpangan penyimpangan yang terjadi di mana mana. Hal ini tentu sangatlah mengkhawatirkan. Dimana Pancasila sudah tak menjadi sesuatu yang dianggap penting. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia, memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang telah dijelaskan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai sumber dari keseluruhan politik hukum nasional Indonesia. Berbagai kebijakan hukum di era reformasi pasca

amandemen UUD 1945 belum mampu mengimplementasikan nilai-nilai fundamental dari Pancasila dan UUD 1945 yang menumbuhkan rasa kepercayaan yang tinggi terhadap hukum sebagai pencerminan adanya kesetaraan dan pelindungan hukum terhadap berbagai perbedaan pandangan, suku, agama, keyakinan, ras dan budaya yang disertai kualitas kejujuran yang tinggi, saling menghargai, saling menghormati, non diskriminatif dan persamaan di hadapan hukum.

Tanpa Pancasila, masyarakat nasional kita tidak akan pernah mencapai

kekukuhan seperti yang kita miliki sekarang ini. Hal ini akan lebih kita sadari jika kita mengadakan perbandingan dengan keadaan masyarakat nasional di banyak negara, yang mencapai kemerdekaannya hampir bersamaan waktu dengan kita.

Tampaknya, Pancasila masih kurang dipahami benar oleh sebagian bangsa Indonesia. Padahal, maraknya korupsi, suap, main hakim sendiri, anarkis, sering terjadinya konflik dan perpecahan, dan adanya kesenjangan sosial saat ini, kalau diruntut lebih

(4)

Rumusan Masalah

Berbagai kebijakan hukum di era reformasi pasca amandemen UUD 1945 belum mampu mengimplementasikan nilai-nilai fundamental dari Pancasila dan UUD 1945 yang menumbuhkan rasa kepercayaan yang tinggi terhadap hukum sebagai

pencerminan adanya kesetaraan dan pelindungan hukum terhadap berbagai perbedaan pandangan, suku, agama, keyakinan, ras dan budaya yang disertai kualitas kejujuran yang tinggi, saling menghargai, saling menghormati, non diskriminatif dan persamaan di hadapan hukum.

Padahal sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus

senantiasa berdasarkan atas hukum. Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan.

Dilihat dari tanggung jawab generasi, pengamalan Pancasila dalam era tinggal landas nanti pada dasarnya adalah tanggung jawab Generasi Penerus. Bahkan dalam sejarah perkembangannya Pancasila sendiri ingin menggantikan Pancasila dengan Peraturan hukum yang lain dan sering kali diwarnai konflik sosial politik baik dalam aras horizontal maupun vertikal, dengan latar belakang yang cukup beragam seperti SARA.

(5)

Pendekatan

Sila ketiga Pancasila, yakni Sila Persatuan Indonesia. Artinya,bahwa Pancasila sangat menekankan dan menjunjung tinggi persatuan bangsa. Bangsa Indonesia juga memiliki ciri-ciri guyub, rukun, bersatu, dan kekeluargaan, sebagai bukti-buktinya bangunan candi Borobudur, Candi Prambanan, dan sebagainya, tulisan sejarah tentang pembagian kerajaan, Kahuripan menjadi Daha dan Jenggala, Negara nasional Sriwijaya, Negara Nasional Majapahit, semboyan bersatu teguh bercerai runtuh, crah agawe bubrah rukun agawe senthosa, bersatu laksana sapu lidi, sadhumuk bathuk sanyari bumi, kaya nini lan mintuna, gotong royong membangun negara Majapahit,

pembangunan rumah-rumah ibadah, pembangunan rumah baru, pembukaan ladang baru menunjukkan adanya sifat persatuan. Hal ini berarti, bahwa Pancasila juga menjadi alatpemersatu bangsa. Disebutnya sila Persatuan Indonesia sekaligus juga menunjukkan, bahwa bangsa Indonesia memiliki perbedaanperbedaan. Apakah itu perbedaan bahasa (daerah), suku bangsa,budaya, golongan kepentingan, politik, bahkan juga agama. Artinya,bahwa para pemimpin bangsa, terutama mereka yang terlibat dalam penyusunan dasar negara, sangat mengerti dan sekaligus juga sangat menghormati perbedaan yang ada di dalam masyarakat Indonesia. Mereka juga menyadari bahwa perbedaan sangat potensial menimbulkan perpecahan bangsa, dan oleh sebab itu mereka juga sangat menyadari pentingnya persatuan bagi bangsa Indonesia. Pencantuman Sila Persatuan bagi bangsa Indonesia selain menyadari pentingnya persatuan bagi kelangsungan hidupbangsa, juga menunjukkan adanya pemahaman bahwa perbedaanitu suatu realita yang tidak mungkin dihilangkan oleh manusia.Perbedaan sesungguhnya adalah suatu hikmah yang harus disukuri, dan bukan sesuatu yang harus diingkari. Apalagi harus dihilangkan

dari muka bumi ini.

(6)

Dalam wacana nasional maka barometer yang harus dijunjung tinggi adalah kepentingan nasional, dan bukan kepentingan yang lebih kecil, lebih rendah, ataupun yang lebih sempit. Dengan kesadaran semacam ini, maka terlihat jelas bahwa persatuan bangsa sesungguhnya nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi oleh semua umat manusia. Karena pada hakekatnya, perpecahan atau pertikaian justru akan

menghancurkan umat manusia itu sendiri.Seloka Bhineka tunggal Ika memang sangat tepat untuk direnungkan kembali esensi dan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Karena pada hakekatnya semua bangsa, semua manusia memerlukan persatuan dan kerjasama di antara umat manusia. Kerjsama butuh persatuan, dan persatuan butuh perdamaian. Oleh sebab itu perpecahan sebagai lawan dari persatuan mutlak perlu dihindari dan disingkirkan dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari penjelasan ini, kita semakin tahu dan sadar, bahwa Sila Persatuan Indonesia sangat tepat dicantumkan dalam dasar negara, mengingat kebenaran dan kebutuhan yang dihadapi oleh seluruh umat manusi

Pembahasan

Apa yang menjadi dasar materiilnya, hingga Bung Karno menyimpulkan Pancasila adalah sarana pemersatu bangsa? Mengapa diperlukan sarana pemersatu bangsa? Kenyataan di lapangan menunjukan, bahwa bangsa lndonesia terdiri dari ratusan suku bangsa. Setiap suku bangsa mempunyai budayanya sendiri-sendiri yang menunjukkan kekhususannya. Selain itu, keyakinan agama bangsa Indonesia tidak hanya satu, tetapi lebih. Ada yang Islam, Katolik, Protestan, Buddha, Hindu dsb. Masing-masing menganggap agamanya lah yang benar.

Pendirian politik bangsa 1ndonesia juga tidak satu dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Ada yang nasionalis, ada yang agamis dan ada yang marxis. Menurut Bung Karno Pancasila itu beliau gali dari bumi Indonesia. Itu tidak berarti Pancasila itu telah menjadi sistem masyarakat di masa lalu di Indonesia letapi didalam sistem yang tidak pancasilais di masa lalu itu telah lahir benih-benih Pancasila.

(7)

pemilikan budak tidak ada kemanusiaan yang adil dan beradab. Budak diperlakukan seperti binatang saja. Adanya perbudakan itu melahirkan keinginan untuk hapusnya perbudakan yang tidak manusiawi, yang

tidak adil dan tidak beradab itu.

Di jaman feodal tidak ada keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Yang ada hanya keadilan bagi tuan-tuan feodal dan bangsawan. Kaum tani hamba dan pengrajin

menentang sistem sosial yang tidak adil itu. Timbul lah pikiran dan perlawanan supaya keadilan sosial juga berlaku bagi mereka.

Persatuan bangsa lndonesia juga tidak ada di masa komune primitif di zaman pemilikan budak, juga di zaman feodal. nemang ada kerajaan yang berusaha

"mempersatukan" seluruh Indonesia, dalam arti tunduk di bawah telapak kaki mereka. Persatuan dibawah kerajaan itu bukan lah persatuan, tetapi persatuan. Persatuan yang dipaksakan, bukan berdasar kesadaran. Persatuan bangsa Indonesia yang berdasarkan kesadaran lahir dan berkembang sejak awal Abad XX.

Kerakyatan atau demokrasi pada zaman pemilikan budak hanya berlaku bagi tuan-tuan budak dan golongan merdeka. Bagi budak-budak berlaku hukum diktatur. Di zaman feodal kerakyatan atau demokrasi hanya berlaku bagi tuan-tuan feodal dan bangsawan. Bagi tani hamba berlaku hukum diktatur. Justru karena ketidak adilan itu maka muncul perjuangan dari golongan yang tertindas untuk kerakyatan atau

demokrasi. Tidak hanya di bidang politik, tapi juga di bidang ekonomi.

Jadi yang digali Bung Karno dari bumi Indonesia bukan lah sebuah sistem yang telah pernah berlaku di masa lalu, kemudian terbenam, melainkan aspek-aspek yang sedang tumbuh dalam masyarakat yang timpang itu. Jadi, Pancasila bukan lah sistem yang telah pernah terdapat di bumi Indonesia dimasa lalu.

(8)

Untuk mewujudkan Pancasila dalam realitas, Bung Karno sebagai penggali Pancasila memberikan tafsiran tentang apa yang beliau gali tersebut. Menurut Bung Karno dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1960 mengemukakan bahwa "Manipol adalah pemancaran dari Pancasila. Usdek (UUD1945, Sosialismes Demokrasi, Ekonomi dan Kepribadian -pen.) adalah pemancaran dari Pancasila. Manipol, Usdek dan

Pancasila adalah terjalin satu sama lain--Manipol, Usdek dan Pancasila tak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika saya harus mengambil kias--, maka saya katakan: Pancasila adalah semacam Qurannya dan Manipol Usdek adalah semacam hadis-hadisnya.( Awas! Saya tidak mengatakan bahwa Pancasila adalah Quran, dan bahwa Manipol dan Usdek adalah hadis). Quran dan hadis merupakan satu kesatuan--maka Pancasila dan Manipol dan Usdek merupakan satu kesatuan."

"Quran dijelaskan dengan hadis. Pancasila dijelaskan dengan Manipol serta intisarinya yang bernama Usdek," kata Bung Karno.

Jelasnya, Pancasila adalah sosialisme dan demokrasi. Bukan kapitalisme dan fasisme. Dibawah prinsip sosialisme dan demokrasi itulah penghayatan dan pengamalan Pancasila sebagai sarana pemersatu bangsa dandengan persatuan

berdasarkan Nasakom.Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah dijabarkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai sumber dari keseluruhan politik hukum nasional Indonesia.Pancasila

mengandung nilai dasar yang bersifat tetap, tetapi juga mampu berkembang secara dinamis. Dengan perkataan lain, Pancasila menjadi dasar yang statis, tetapi juga menjadi bintang tuntunan (lightstar) dinamis. Dalam kapasitasnya Pancasila merupakan cita-cita bangsa yang merupakan ikrar segenap bangsa Indonesia dalam upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil maupun spirituil.

(9)

Pancasila pada orde baru dijadikan sebagai tema sentral dalam menggerakkan seluruh komponen bangsa ini. Maka dirumuskanlah ketika itu Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau disinghkat dengan P4. Pedoman itu berupa butir-butir pedoman berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang ada pada butir-butir P4 tersebut sebenarnya tidak ada sedikitpun yang buruk atau ganjil, oleh karena itu, menjadi mudah diterima oleh seluruh bangsa Indonesia.

Hanya saja tatkala memasuki era reformasi, oleh karena pencetus P4 tersebut adalah orang yang tidak disukai, maka buah pikirannya pun dipandang harus dibuang, sekalipun baik. P4 dianggap tidak ada gunanya. Rumusan P4 dianggap sebagai alat untuk memperteguh kekuasaan. Oleh karena itu, ketika penguasa yang bersangkutan jatuh, maka semua pemikiran dan pandangannyadianggap tidak ada gunanya lagi, kemudian ditinggalkan.

Sementara itu, era reformasi belum berhasil melahirkan idiologi pemersatu bangsa yang baru. Pada saat itu semangatnya adalah memperbaiki pemerintahan yang dianggap korup, menyimpang, dan otoriter, dan kemudian haraus diganti dengan semangat demokratis. Pemerintah harus berubah dan bahkan undang-undang dasar 1945 harus diamandemen. Beberapa hal yang masih didanggap sebagai identitas bangsa, dan harus dipertahankan adalah bendera merah putih, lagu kebangsaan Indonesia raya, dan lambang Buirung Garuda. Lima prinsip dasar yang mengandung nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa dan bernegara, yang selanjutnya disebut Pancasila, tidak terdengar lagi, dan apalagi P4.

Namun setelah melewati sekian lama masa reformasi, dengan munculnya

(10)

Bangsa Indonesia yang bersifat majemuk, terdiri atas berbagai agama, suku bangsa, adat istiadat, bahasa daerah, menempati wilayah dan kepulauan yang sedemikian luas, maka tidak mungkin berhasil disatukan tanpa alat pengikat. Tali pengikat itu adalah cita-cita, pandangan hidup yang dianggap ideal yang dipahami, dipercaya dan bahkian diyakini sebagai sesuatu yang mulia dan luhur.

Memang setiap agama pasti memiliki ajaran tentang gambaran kehidupan ideal, yang masing-masing berbeda-beda. Perbedaan itu tidak akan mungkin dapat

dipersamakan. Apalagi, perbedaan itu sudah melewati dan memiliki sejarah panjang. Akan tetapi, masing-masing pemeluk agama lewat para tokoh atau pemukanya, sudah berjanji dan berekrar akan membangun negara kesatuan berdasarkan Pancasila itu.

Sebagai salah satu peranannya yang merupakan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia, sudah seharusnya Pancasila menjadi tolak ukur untuk menentukan pembentukan landasan-landasan hukum lain seperti misalnya Undang-Undang. Tetapi untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik, diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem, asas, tata cara penyiapan dan pembahasan, teknik, penyusunan maupun

pemberlakuannya.Indonesia sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum yang berlaku di Indonesia. Ada faktor kesinambungan yang sangat mendasar yang kita anggap luhur dan menyatukan kita sebagai bangsa. Faktor kesinambungan yang mendasar itu ialah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Intisari dari faktor kesinambungan yang sangat mendasar inilah yang tidak boleh berubah. Yang kita lakukan adalah melaksanakan dan

mengamalkannya secara kreatif dalam menjawab tantangan-tantangan baru yang terus menerus muncul dalam perkembangan masyarakat kita dan masyarakat dunia yang sangat dinamis. Tanpa Pancasila, NKRI akan hilang. Pancasila adalah tonggak pemersatu bangsa Indonesia yang sudah teruji dan terbukti. Ibaratnya Pancasila itu adalah roh, dan NKRI adalah jiwanya sehingga tanpa Pancasila maka NKRI ibarat benda mati, seperti pajangan saja. Demikian pandangan Ketua Umum Partai Damai Sejahtera (PDS), Denny Tewu yang dihubungi Senin (9/5) sore terkait munculnya kembali pembahasan

(11)

berbangsa dan bernegara? Khususnya terkait dengan maraknya pemberitaan tentang NII.

Semangat bangsa yang meluntur untuk menerapkan pancasila sebagai alat pemersatu bangsa bisa jadi awal bubarnya NKRI, tegasnya.Lebih jauh dia memandang, empat pilar kita dalam berbangsa dan bernegara yakni UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, itu suatu kesatuan. Diawali dengan komitmen

berbangsa yang tercantum dalam pembukaan UUD’45, yakni, kehendak untuk

merdeka, lepas dari penjajahan dalam bentuk apapun dengan cara kita bersatu (NKRI) mengedepankan kedaulatan rakyat (Bhineka Tunggal Ika) dengan dasar sila-sila dalam Pancasila.

“Karena itulah berbagai uu dan peraturan pemerintah atau perda tidak boleh

bertentangan dengan 4 pilar ini agar kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berjalan baik! Empat pilar ini tidak dapat diganti dengan hal-hal lain kalau NKRI mau

dipertahankan,” tegasnya lagi.

Mengenai gerakan NII yang terus marak berkembang di Indonesia, dia tidak merasa

heran karena lemahnya penerapan dan implementasi Pancasila. “Lemahnya penerapan

itu akan menyuburkan gerakan-gerakan seperti NII dan isme-isme lainnya,” sambungnya. (ics)

Dalam peralihan dari masyarakat terjajah menjadi masyarakat nasional, Pancasila telah menjalankan fungsinya yang sangat penting. Tanpa Pancasila, masyarakat nasional kita tidak akan pernah mencapai kekukuhan seperti yang kita miliki sekarang ini. Hal ini akan lebih kita sadari jika kita mengadakan perbandingan dengan keadaan masyarakat nasional di banyak negara, yang mencapai

kemerdekaannya hampir bersamaan waktu dengan kita. Selain itu , Pancasila telah menjadi obyek aneka kajian filsafat, antara lain temuan Notonagoro dalam kajian filsafat hukum, bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.

Sekalipun nyata bobot dan latar belakang yang bersifat politis, Pancasila telah

dinyatakan dalam GBHN 1983 sebagai "satu-satunya azas" dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Tercatat ada pula sejumlah naskah tentang Pancasila dalam perspektif suatu agama karena selain unsur-unsur lokal ("milik dan ciri khas bangsa Indonesia") diakui adanya unsur universal yang biasanya diklim ada dalam setiap agama.

(12)

menguasai hukum dasar negara. Suasana kebatinan itu di antaranya adalah cita-cita negara yang berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Pancasila mengandung nilai-nilai dasar seperti tentang cita-cita, tujuan, dan nilai-nilai instrumental yang merupakan arahan kebijakan, strategi, sasaran yang dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman. Ada cita-cita untuk mewujudkan persatuan yang melindungi dan meliputi seluruh bangsa, mengatasi paham golongan, mengatasi segala paham perseorangan, mewujudkan keadilan sosial, dan negara yang berkedaulatan rakyat.

Mengenai hal evidensi atau isyarat yang tak dapat diragukan mengenai Pancasila terdapat naskah Pembukaan UUD 1945 dan dalam kata "Bhinneka Tunggal Ika" dalam lambang negara Republik Indonesia. Dalam naskah Pembukaan UUD 1945 itu, Pancasila menjadi "defining characteristics" = pernyataan jatidiri bangsa = cita-cita atau

tantangan yang ingin diwujudkan = hakekat berdalam dari bangsa Indonesia. Dalam jatidiri ada unsur kepribadian, unsur keunikan dan unsur identitas diri. Namun dengan menjadikan Pancasila jatidiri bangsa tidak dengan sendirinya jelas apakah nilai-nilai yang termuat di dalamnya sudah terumus jelas dan terpilah-pilah.

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, selalu mengalami polemik-polemik dalam permasalahan hukum misalnya mengenai Perda-Perda dalam bulan-bulan terakhir ini. Dimulai dengan petisi yang disampaikan 56 anggota DPR yang meminta pemerintah mencabut perda-perda yang ditengarai bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila. Belum lagi petisi ini ditanggapi, telah ada lagi kontra-petisi dari 134 anggota DPR lainnya yang justru meminta supaya tidak dengan mudah mencabut perda-perda seperti itu.

Adanya perda-perda itu dilihat sebagai kebutuhan dari daerah yang

(13)

Munculnya berbagai peraturan daerah yang secara substansial bertumpang tindih dengan berbagai peraturan perundang-undangan dan sistim kodifikasi hukum publik nasional semakin menghambat penerapan sistim hukum nasional dan merusak instrument penegakan hukum dalam struktur Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara itu, UU Otonomi Daerah ikut mendorong timbulnya perda-perda yang dinilai tidak selalu sejalan dengan Pancasila dan Konstitusi. Di beberapa daerah, perda-perda itu dinilai sebagai solusi menyelesaikan berbagai kemelut bangsa. Kendati penyusunan perda-perda itu terkesan praktis, yaitu untuk menjawab kepentingan-kepentingan tertentu di daerah, namun di belakangnya terkandung hal-hal yang bersifat ideologis.

Ketidakpastian, ikonsistensi, diskriminasi/tebang pilih dan kelambanan dalam penegakan hukum telah menimbulkan kondisi ketidakpercayaan terhadap hukum dan aparat hukum, terutama dengan dengan semakin marak dan terbukanya kegiatan dan atau tindakan melawan hukum yang dilakukan secara bersama-sama di muka umum dengan mengatasnamakan suku, agama dan/atau daerah yang pada gilirannya

mengakibatkan terjadinya kerugian, ketidak-nyamanan, keresahan dan hilangnya rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Selain itu, belum berjalannya reformasi sikap mental, perilaku dan rasa pengabdian di kalangan serta institusi penegak hukum menimbulkan kekuatiran yang mendalam akan semakin sulitnya mewujudkan supremasi hukum di Indonesia sebagai Negara yang berdasarkan hukum.

Semakin berkembangnya egoisme, oportunisme dan primordialisme yang terefleksi dari berbagai kegiatan kelompok masyarakat, elit politik di berbagai daerah dan kebijakan publik berbagai pemerintah daerah semakin mengikis rasa kebangsaan dan mempersulit tumbuh kembangya sistim hukum nasional yang berbasis pada nilai-nilai kebhinekaan sebagai ciri utama dan kepribadian bangsa Indonesia.

Perkembangan-perkembangan yang telah diuraikan diatas tadi merupakan sebagian kecil masalah-masalah yang sering timbul dalam hal mempersoalkan hukum-hukum yang ingin ditegakkan di Indonesia. Apakah hal yang bersifat ideolgis ataukah hal-hal yang bersifat konkret?

Kita harus sungguh-sungguh mengonkretkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga di dalam menghasilkan berbagai produk hukum. Pada waktu lalu

(14)

benar-Indonesia adalah sebuah novum di dalam sejarah. Ia terdiri dari sekumpulan orang dengan derajat kemajemukan yang tinggi, namun ingin bersatu menyelesaikan berbagai persoalan bersama. Inilah keindonesiaan itu. Inilah yang mesti terus-menerus dibina. Keindonesiaan mesti tertanam di dalam hati sanubari setiap anak bangsa yang berbeda-beda ini sebagai miliknya sendiri. Hanya dengan demikianlah kita bisa maju terus ke depan.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Begitu pentingnya Pancasila bagi kehidupan bangsa dan Negara kita.Salah satu peranan Pancasila adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah dijabarkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai sumber dari keseluruhan politik hukum nasional Indonesia. Pancasila

merupakan azas atau prinsip hukum yang merupakan sumber nilai dan sumber norma bagi pembentukan hukum derivatnya atau turunannya seperti undang-undang dasar, undang-undang, Perpu, Peraturan Pemerintah; Perda, dan seterusnya. Hal demikian ini dapat kita simak dari rumusan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang menegaskan: “Pancasila

merupakan sumber dari segala hukum”. Pancasila mengandung nilai dasar yang bersifat tetap, tetapi juga mampu berkembang secara dinamis. Dengan kata lain, Pancasila menjadi dasar yang statis, tetapi juga menjadi bintang tuntunan (lightstar) dinamis. Pancasila juga sebagai dasar dan ideologi negara, yaitu sumber kaidah hukum yang mengatur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum yang menguasai hukum dasar negara.

(15)

Saran

Untuk menjaga agar Pancasila tetap terpelihara dan lestari, maka harus

dilakukan peningkatan pemahaman pada semua lapisan masyarakat. Yang lebih penting lagi, para pemimpin harus menjadi teladan dalam pengamalan Pancasila. Pancasila akan menjadi ideologi yang kuat apabila diamalkan dalam semua aspek kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menuju negara aman, damai, tentram, adil, makmur dan sejahtera dalam semua aspek kehidupan terutama dalam penegakan hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Refrensi

http://bersamatoba.com/tobasa/politik/kelahiran-pancasila-idiologi-pemersatu-bangsa.html

http://rachma-taskblog.blogspot.com/2009/05/makalah-pancasila-pancasila-sebagai.html

http://rektor.uin-malang.ac.id/index.php/artikel/1823-pancasila-sebagai-pemersatu-bangsa.html

https://veryapriyanto.wordpress.com/2011/03/18/pancasila-sebagai-pemersatu-bangsa/

http://www.minihub.org/siarlist/msg00049.html

Media Indonesia, 01 Juni 2011

Referensi

Dokumen terkait

Objek kajian Schimmel dalam memahami Islam dengan menggunakan pendekatan fenomenologis adalah seluruh apa yang terdapat di alam ini yang terdiri dari sesuatu yang

Value tersebut kemudian disimpan di dalam variabel panjang, yang akan digunakan pada statement berikutnya untuk mengkonversi satuan meter menjadi inchi, yard,

With test impact analysis, as you make code changes, you can view which tests are impacted by the code change — not just unit tests, but even manual tests that have been

Islam, dan tidak bagi agama yang lain, mereka merasa kalimat ini sesuai dengan ajaran Islam karena tidak akan melukai dan menggangu hak-hak agama yang lain, dengan kata

Hasil penelitian menghasilkan 5 faktor dan 29 variabel penyebab keterlambatan proyek, dan didapat 1 faktor yaitu faktor Manajemen Kontraktor dan 7 variabel yang paling

Berdasarkan hasil peneliti mendapatkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini memiliki kinerja yang baik.Kinerja seorang dosen di dalam suatu perguruan

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa media video pembelajaran mata pelajaran sejarah pada materi perang dunia dan kelembagaan dunia untuk

Development (ZPD) pada materi daur air terhadap penguasaan konsep siswa,..