• Tidak ada hasil yang ditemukan

Homoseksualitas di Mata GMAHK Pandangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Homoseksualitas di Mata GMAHK Pandangan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Homoseksualitas di Mata GMAHK

(Pandangan Alkitab Mengenai Homoseksualitas)

I. PENDAHULUAN

Di era keterbukaan seperti sekarang ini, semua orang semakin berani dan penuh percaya diri dalam menampilkan eksistensi diri. Setiap orang bebas mengekspresikan siapa dirinya tanpa takut jika ada yang menentang. Jika pada zaman dahulu kaum homoseks malu mengakui bahwa dirinya gay atau lesbi, saat ini mereka sudah berani mengakui jati diri mereka secara terang-terangan di depan publik. Atas nama “persamaan hak”, kaum homoseks memakainya untuk mengkampanyekan homoseksual. Mereka berpendapat bahwa hubungan seks dengan sesama jenis merupakan suatu “gaya hidup alternatif” yang menyenangkan, modern, dan alamiah. Dan barangsiapa yang menentangnya dianggap kurang toleran dalam masyarakat yang majemuk ini. Kaum homoseksual pun mendapat

dukungan dari berbagai kalangan (sosial, psikologi, agama, dll). Bahkan saat ini beberapa negara sudah melegalkan perkawinan sejenis, seperti di Belanda, Belgia, Norwegia dan Swedia.1

Melihat fenomena seperti ini, maka gereja sebagai pembawa terang terpanggil untuk mengambil sikap. Walaupun secara mayoritas gereja tidak mentolerir kaum homoseks, namun saat ini sudah mulai banyak gereja-gereja yang mendukung dan mengakomodasi ibadah serta sakramen bagi orang-orang homoseks.

1 (1) Tim Lahaye, What Everyone Should Know About Homosexuality, (Illinois : Living

Books, 1995), hlm. 20. Melalui:

(2)

Pertanyaan yang akan sering ditanyakan mengenai hal ini adalah, apakah benar perilaku homoseks itu normal, wajar, dan bukan dosa? Apakah tindakan yang bijaksana bila orang Kristen mendirikan gereja bagi kaum homoseks, dan memberkati pernikahan dari pasangan sesama jenis? Bagaimanakah seharusnya gereja memperlakukan kaum homoseksual?

II. IDENTIFIKASI MASALAH

2.1. Definisi dan penyebab

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu kepada "pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis" terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, "Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku

ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas lain yang berbagi itu.2 Homoseksualitas pada laki-laki biasanya disebut dengan gay, dan pada perempuan disebut lesbian. Homoseksualitas, biasanya dibandingkan dengan heteroseksualitas (menyukai lawan jenis) dan biseksualitas (banci).

Menurut Dr. William Consiglio, perilaku homoseksualitas merupakan suatu penyimpangan yang paling umum dilakukan manusia yang merupakan

(3)

disorientasi seksual.3 Orientasi seksual merupakan salah satu dari empat komponen seksualitas yang terdiri dari daya tarik emosional, romantis, seksual dan kasih sayang dalam diri seseorang dalam jenis kelamin tertentu. Tiga komponen seksualitas adalah jenis kelamin biologis, identitas gender (arti psikologis pria dan wanita) dan peranan jenis kelamin (norma-norma budaya untuk perilaku feminin dan maskulin.4 Perilaku homoseksualitas telah menjangkiti begitu banyak manusia dengan tidak memandang usia, strata ekonomi, pendidikan, suku, dan agama. Memang perilaku menyimpang homoseksual sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan Alkitab pun membuat kesaksian. Namun pada zaman ini, tindakan mereka lebih terang-terangan, dan mendapat toleransi dari berbagai pihak, bahkan juga dari gereja.

Sebuah pernyataan manupulatif yang mengatakan bahwa homoseks merupakan bawaan dari lahir, dimana ketertarikan kepada sesama jenis adalah keadaan bawaan dari lahir dan tidak dapat dirubah. Mereka

mengutarakan bahwa homoseks bukanlah sebuah pilihan. Karena perilaku homoseks dikarenakan gen/bawaan sejak lahir, hal ini lah yang

mendorong untuk mempropagandakan homoseks, bahwa perilaku ini adalah perilaku yang alami dan wajar.

Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya.

Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat

3 William Consiglio, Tidak Lagi Homo, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1998), hlm. 21 4 Drs. Argyo Demartoto, MSi. 2010. SEKS, GENDER, DAN SEKSUALITAS LESBIAN. Melalui

(4)

psikologis atau kejiwaan, yang di peroleh dari pengalaman sewaktu kecil, maupun dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.5 Namun para ahli mengatakan bahwa penyebab homoseksualitas itu sendiri sangat

kompleks. Seorang psikolog terkenal Amerika yang bernama Clyde M. Narramore menyebutkan bahwa “umumnya homoseksualitas merupakan hasil perkembangan kepribadian yang tidak normal” dan ia menyebut adanya beberapa kondisi yang mungkin menyebabkan hal itu, yaitu: 1) Gangguan hormonal. Namun penelitian-penelitian lebih lanjut belum mendukung. 2) Faktor Genetika. 3) Ibu yang dominan; 4) Ayah yang lemah; 5) Orang tua yang kejam; 6) Pernikahan orang-tua yang tidak bahagia; 7) Dimanjakan oleh orang-tua yang sama jenisnya; 8) Pendidikan seks yang keliru.6

Lebih jauh, banyak pakar yang menangani kelainan seksual berpendapat bahwa sejatinya homoseksual bukan disebabkan karena faktor genetika, tetapi karena faktor lingkungan, dan secara khusus yang berhubungan dengan penerimaan/afeksi dari orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh Frank Worthen, ia mengatakan : “Sesudah membimbing ribuan bekas homoseks selama pelayanan sepuluh tahun atau lebih, kami telah belajar banyak mengenai keadaan homoseks. Kami yakin bahwa akar

homoseksual yang terdalam ialah retaknya hubungan dalam keluarga yang mengakibatkan ketiadaan rasa memiliki dan dimiliki atau ketiadaan pengakuan.”7

5 Kelly Brook, Education Of Sexuality For Teenager, North Carolina : Charm press, 2001,

hlm. 89, melalui: jbptunikompp-gdl-gitaditali-28916-8-unikom_d-i.pdf

6 Aids dan Perilaku Seksual, hlm. 54

7 Frank Worthen, Mematahkan Belenggu Homoseksualitas, (Malang : Gandum Mas,

(5)

2.2. Statistik

Di Indonesia, data statistik menunjukkan 8-10 juta populasi pria Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual. saat ini terdapat 17.000 pria homoseksual yang tersebar di berbagai daerah di Kota

Kembang. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah mengingat setiap tahun selalu terjadi peningkatan yang cukup signi/kan.8

Menurut data yang dimiliki oleh Himpunan Abiasa tahun 2009 terdapat sekitar 9.000 pria homoseksual yang ada di kota Bandung, pada bulan Februari tahun 2010 terdapat 10.298 pria homoseksual yang terdapat di kota Bandung.9

Menurut Badan Statistik Nasional jumlah penduduk saat ini (2014) untuk kategori usia di atas 10 tahun adalah (3.212.144).10 Sementara menurut Himpunan Abiasa saat ini ada 17.000 Homoseksual di kota Kota

Bandung.11 Bila dihitung dengan perbandingan rata-rata, maka akan didapati perbandingan 190 : 1 yaitu dari 190 penduduk maka ada potensi 1 orang homoseksual.

Berkaca dari perhitungan diatas maka dan demi mengingat bahwa pelaku homoseksual berada diberbagi golongan, usia, sosial dan agama, maka

8 Koordinator Himpunan Kesehatan Man Have Sex With Man, melalui:

jbptunikompp-gdl-gitaditali-28916-8-unikom_d-i.pdf

9 Ibid, Hal 4

10 http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?

option=com_tabel&task=&Itemid=165

11 Koordinator Himpunan Kesehatan Man Have Sex With Man, melalui:

(6)

ada kemungkinan homoseksual juga berada di lingkungan anggota Gereja Advent Jawa Barat. Jumlah Anggota di GMAHK KJB saat ini ada 8.000 jiwa.12 Maka bila diasumsikan dengan perhitungan 190:1 akan didapati potensi adanya satu homoseksual dari 190 anggota gereja, jadi potensi yang ada di GMAHK Jawa Barat adalah 42 orang homoseksual.

2.3. Pemecahan Masalah: Pandangan Alkitab dan Roh Nubuat

mengenai homoseksual

Penuntun dasar dari segala sesuatu dan kebenaran adalah Alkitab, “5 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”13 Untuk itu kita harus melihat apa yang dikatakan oleh Alkitab mengenai hal ini, agar gereja memiliki landasan dalam menghadapi fakta tentang

homoseksualitas.

Fakta yang ada dalam Alkitab adalah bahwa dari semula Allah hanya menciptakan laki-laki dan perempuan yaitu Adam dan Hawa.: "....Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”14

Homoseksual adalah akibat dari pendurhakaan. “Karena itu Allah

menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab

isteri-12 Wawancara via pesan singkat dengan Pdt. R. Situmorang, Sekretaris Konferens Jawa

Barat.

(7)

isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.”15

Allah tidak pernah menciptakan seseorang dengan natur homoseksualitas. Dengan dasar ini pula penulis menolak pendapat yang mengatakan

bahwa seseorang berperilaku homoseksual karena faktor genetika. Mengapa? Karena bila faktor genetika dapat diterima, maka sebenarnya kita sedang mengatakan bahwa Allahlah yang menciptakan natur

homoseksualitas sejak manusia dalam kandungan. Namun, karena Alkitab tidak pernah memberi indikasi bahwa Allah menciptakan hal itu, maka kita dengan pasti dapat menolak faktor genetika (yang mengindikasikan sesuatu yang normal) sebagai penyebab homoseksualitas.

Indikasi adanya penyimpangan seksual sudah ada sejak jaman Perjanjian Lama, jauh sebelum umat manusia mengenal era modern. Dalam Kita Taurat yang ditulis oleh Musa dengan jelas menjelaskan mengenai adanya perilaku homoseksual, sekaligus sikap tegas dari Allah terhadap

penyimpangan perilaku tersebut. Lebih jauh kitab suci memaparkan tindakan yang dilakukan Allah kepada kota Sodom yang terkenal dengan perilaku homoseksual, bandingkan dengan Kejadian 19: 1-13. Dalam kitab Yudas ayat 7 mencatat dosa Sodom adalah dosa percabulan dan

mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Tentulah ‘ketakwajaran’ ini

(8)

menunjuk kepada dosa homoseksualitas masyarakat Sodom. Secara jelas selanjutnya ditulis sebagai berikut: “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.”16

Dalam kita Perjanjian Baru secara terbuka mengamarkan akan bahaya terhadap penyimoangan seksual dengan mengaitkan kepada prinsip keselamatan. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pem/tnah dan penipu tidak akan

mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”17 Bandingkan dengan 1 Timotius 1:10

Ellen G. White dalam tulisannya menaruh perhatian khusus mengenai dosa perjinahan, sebagai berikut: “Jika semua yang mengaku taat kepada hukum Allah bebas dari kesalahan, maka jiwaku akan terbebas, tetapi tidak demikian. Bahkan beberapa orang yang mengaku memelihara semua perintah-perintah Allah pun bersalah karena dosa perzinaan. Apakah yang bisa saya katakan untuk membangkitkan perasaan mereka yang telah kebal? Prinsip moral, bila benar-benar dilakukan, menjadi satu-satunya pelindung jiwa."18

Sikap Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tegas memposisikan pelanggaran hukum ke tujuh termasuk didalamnya perilaku

(9)

penyalahgunaan seksual dan homoseksual digolongkan sebagai perbuatan yang menyimpang dari rencana Tuhan, seperti dikutip dari buku Peraturan Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sebagai berikut: “Kejahatan ini telah menjadi lebih terbuka dan mengancam bentuk kehidupan ideal dan tujuan rumah tangga Kristen. Perzinaan, pornogra/, pelecehan seksual (termasuk terhadap pasangan, terhadap anak-anak, dan orangtua), perzinaan dengan saudara kandung (insest), praktikpraktik homoseksual dan lesbian adalah hal-hal yang tergolong dalam penyimpangan dari rencana Tuhan yang semula.”19

Pada Pertemuan Tahunan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh pada tahun 1977 menetapkan bahwa "Penyimpangan seks, termasuk praktek

homoseks, tergolong dalam penyalahgunaan kemampuan seksual dan merupakan pelanggaran terhadap rencana Allah dalam pernikahan. Dengan demikian perbuatan homoseks merupakan alasan perceraian yang sah."20 Lebih lanjut sikap Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah sebagai berikut: “Berbagai alasan pemecatan dari keanggotaan MAHK termasuk "perbuatan homoseks dan penyimpangan lainnya.”21

2.4. Pencegahan Terhadap Perilaku Homoseksual

a. Hanya kuasa Kristus sanggup mematahkan kuasa nafsu homoseksual, sebagaimana ditulis dalam buku peraturan jemaat Gereja Masehi Advent

19 Peraturan Jemaat revisi 18, hal 206 20 General Actions, h. 10.

(10)

Hari Ketujuh, “Walaupun Firman Allah mengamarkan kita terhadap akibat-akibat yang merendahkan dan obsesi dunia terhadap seks dan kecintaan serta upaya mengejar kenikmatan seks, Kristus telah datang untuk

menghancurkan pekerjaan Setan dan membangun kembali hubungan antara manusia dengan Pencipta mereka. Maka, meskipun jatuh seperti Adam dan tertawan oleh dosa, mereka yang ada dalam Kristus menerima pengampunan penuh dan hak untuk memilih kembali jalan hidup yang baik, jalan menuju pembaruan yang sempurna. Melalui jalan salib dan kuasa Roh Kudus, semua dapat dibebaskan dari cengkeraman praktik-praktik dosa sementara kita dipulihkan kepada gambar Pencipta kita.”22

b. Melalui doa dan berpuasa sebagai usaha yang sungguh-sungguh

Anggota gereja perlu berpuasa dan berdoa, berusaha sungguh-sungguh mengalahkan dosa melalui darah Kristus dan kesaksian /rman Allah. Tak secuil pun ketidakmurnian Sodom akan lepas dari hukuman Allah pada hari penghakiman. Mereka yang tidak bertobat dan tidak meninggalkan segala jenis ketidaksucian akan binasa bersama orangorang jahat. Mereka yang menjadi anggota keluarga kerajaan Allah di dalam dunia baru adalah orang-orang suci, bukan yang menyenangi dosa. Yes. 30:1-3, 8-16.

Mereka yang telah menerima terang yang besar tetapi tidak

menghiraukannya berada dalam posisi yang lebih jelek daripada orang-orang yang tidak memiliki kesempatan seperti itu. Mereka meninggikan diri mereka, tetapi tidak meninggikan Tuhan. Hukuman yang akan

ditimpakan kepada umat manusia dalam setiap kasus adalah sebanding dengan perbuatan mereka yang tidak menghormati Allah. Banyak orang,

(11)

karena memanjakan nafsunya sendiri telah mempermalukan Kristus di hadapan umum.”23

III. KESIMPULAN

Allah menetapkan bahwa seks harus digunakan di dalam konteks hubungan heteroseksual yang monogami. Jadi praktek homoseksual bertentangan dengan standar moral dan pola yang telah Allah tetapkan kepada manusia. Kaum homoseksual tetap adalah manusia yang

berpribadi yang tentu memiliki struktur dan penilaian moral. Meskipun ada sentuhan psikologis dan biologis, namun sikapnya yang

berkecenderungan untuk berhubungan seks dengan sejenis merupakan suatu pilihanan yang disadari. Ini berarti pelaku homoseks tidak dapat meniadakan tanggungjawab etika, moral, dan sosial dari pelaku homoseks itu sendiri.

Allah mengasihi semua manusia termasuk pelaku homoseksual, tetapi Allah membenci perilaku homoseksual. Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada semua orang dan rindu menyelamatkan semua orang termasuk pelaku homoseksual supaya bertobat. “Tetapi kita mengetahui bahwa syariat Taurat itu baik, jikalau orang menjalankan dia dengan sepatutnya, serta menaruh insaf bahwa hukum itu diadakan bukannya bagi orang yang benar, melainkan bagi orang fasik dan yang tiada mau

diperintahkan, bagi orang yang tiada beragama dan orang yang penuh

23 Ellen G. White, NASIHAT MENGENAI PERILAKU SEKSUAL, PERZINAHAN DAN

(12)

dengan dosa, bagi orang yang najis dan yang mencela, bagi orang yang membunuh bapanya dan yang membunuh ibunya, dan bagi segala pembunuh, bagi orang yang berzinah dan orang semburit, dan yang

mencuri orang, dan yang membuat dusta dan yang bersumpah dusta, dan barang apa pun yang bersalahan dengan pengajaran yang benar itu.”24

(13)

Daftar Pustaka

Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru

Tim Lahaye, What Everyone Should Know About Homosexuality, (Illinois : Living Books, 1995), Melalui:

http://debbiepunya.blogspot.com/2010/10/homoseksualitas-di-dalam-gereja.html

Wikipedia Bahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas William Consiglio, Tidak Lagi Homo, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1998)

Drs. Argyo Demartoto, MSi. 2010. SEKS, GENDER, DAN SEKSUALITAS LESBIAN. Melalui http://argyo.staf.uns.ac.id//les/2010/08/seks-gender-dan-seksualitas.pdf

Kelly Brook, Education Of Sexuality For Teenager, North Carolina : Charm press, 2001, Melalui: jbptunikompp-gdl-gitaditali-28916-8-unikom_d-i.pdf

Herlianto, Aids dan Perilaku Seksual, Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1995.Frank Worthen

Mematahkan Belenggu Homoseksualitas, (Malang : Gandum Mas, 1990) Koordinator Himpunan Kesehatan Man Have Sex With Man, melalui:

jbptunikompp-gdl-gitaditali-28916-8-unikom_d-i.pdf http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php? option=com_tabel&task=&Itemid=165

Ellen G. White, Counsel on Health

Peraturan Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, revisi 18, Tahun 2010

General Actions of Seventh Day Adventist, h.

Seventh-day Adventist Church Manual (Revised 1986)

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Perilaku kekerasan yang dipresentasikan dalam serial film kartun Little Krishna menampilkan beberapa jenis kekerasan, yaitu kekerasan yang sifatnya terbuka seperti adegan

Peningkatan tersebut diperoleh karena pada tindakan siklus II seluruh siswa dapat mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran menulis pantun dengan teknik Think Pair Share melalui kartu

Pembuatan dengan teknik tangan dapat terlihat dari adanya bekas jari-jari pada permukaan gerabah serta ketebalan yang tidak merata, teknik pijit dipadukan dengan tatap

Hasil analisis penelitian ini sejalan dengan pendapat Sukirno (2005) bahwa semakin maraknya pertumbuhan penduduk di suatu wilayah maka akan semakin banyak pula

Kecepatan angin di daerah yang lebih terbuka di tepian pantai lebih besar dari pada dari perbukitan sehingga rumah adat di Kampung Ratenggaro perlu tambahan horisontal bracing

Hasil yang dapat disimpulkan dari penelitian tersebut adalah Standar akuntansi pemerintah tidak berpengaruh terhadap akuntabilitas kinerja secara langsung, sedang kualitas

Hal ini juga terjadi pada serangga lain, seperti yang ditemukan pada imago betina serangga penggerek buah pada cabai ( Helicoverpa armigera ), yang masih melakukan perilaku

Pemeriksaan kadar hCG pasca evakuasi mola komplit dianjurkan setiap dua minggu pasca evakuasi,(1, 2, 5) hingga terjadi normalisasi (<5 mIU/ml) hingga tiga bulan, kemudian