KARYA ILMIAH
STUDI KONDISI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI
KECAMATAN TANGKISUNG KABUPATEN TANAH LAUT
KALIMANTAN SELATAN PASCA ABRASI TAHUN 1983
Oleh:
Dr. Ir. Wahyudi, MP.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS PERTANIAN
KATA PENGANTAR
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus memiliki garis pantai yang sangat panjang. Pengelolaan wilayah pesisir pantai merupakan pekerjaan yang penting untuk menghindari abrasi pantai serta menahan gelombang dan angin laut yang dapat merusak ekosistem dan perumahan penduduk yang berdekatan dengan pantai.
Studi kondisi hutan mangrove di daerah pesisir pantai Tangkisung Kalimantan Selatan di fokuskan di Desa Pagatan Besar untuk melihat ekosistem hutan mangrove dan beberapa species lain termasuk fauna yang terdapat di sana. Ekosistem yang terbentuk masih relatif baru karena pernah terjadi peristiwa abrasi di sana pada tahun 1983. Laporan ini ditulis sebagai studi hutan mangrove pada lokasi tersebut serta ditunjang studi literatur tentang hutan mangrove.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang membantu terlaksananya studi dan penyusunan laporan ini, terutama Kepala Desa Pagatan Besar yang memberikan ijin dan informasi yang sangat berguna untuk melengkapi hasil studi. Semoga laporan hasil studi ini bermanfaat.
DAFTAR ISI
G. Penampilan Mengelompok... . 19
V. PEMBAHASAN... . 20
G. Penampilan Mengelompok... . 23
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
Teks
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus memiliki garis pantai yang sangat panjang. Pengelolaan wilayah pesisir pantai merupakan pekerjaan yang penting untuk menghindari abrasi pantai serta menahan gelombang dan angin laut yang dapat merusak ekosistem dan perumahan penduduk yang berdekatan dengan pantai.
Kalimantan memiliki garis pantai sepanjang 8.054 km yang terbentang dari semenanjung Sambas sampai Pulau Nunukan di dekat Sabah. Di sebelah Barat berhadapan dengan selat Karimata, sebelah Selatan dengan laut Jawa dan sebelah Timur dengan selat Makasar. Sebagian besar garis pantai ini tersebut berhadapan dengan pantai yang dangkal disusul hutan bakau dan hamparan lumpur atau pasir di belakangnya. Pada beberapa tempat yang sempit ditemui pantai berbatu dan muara sungai yang membentuk ekosistem agak berbeda.
Hutan bakau adalah nama kolektif untuk vegetasi pohon yang menempati pantai berlumpur di dalam wilayah pasang surut, dari daerah pasang tertinggi sampai pasang terendah (surut). Peranan hutan bakau sangat banyak, diantaranya dapat memperlambat arus air yang mengandung lumpur dan dapat mengendapkan partikel lumpur tersebut dalam suatu proses pembentukan endapan di sisi dataran hutan bakau. Suksesi ini dapat membuka jalan jenis perintis untuk maju ke laut, mempercepat pembentukan pantai dan menjaga kemantapan daerah pesisir. Hutan bakau dapat menahan gelombang air dan melindungi endapan yang telah terbentuk dari pengaruh pasang surut. Fungsi lainnya adalah sebagai habitat yang baik bagi banyak spesies seperti ikan, udang-udangan, molusca dan lain-lain. Hutan bakau bakau juga sebagai pemasok zat hara organik melalui rantai makanan detritus.
B. Tujuan Studi
II. METODOLOGI
A. Lokasi dan Waktu
Praktik lapangan dilaksanakan di daerah pesisir pantai yang ditumbuhi vegetasi hutan mangrove, di Desa Pagatan Besar Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut, yang dilakukan pada bulan Desember 2013.
B. Bahan dan Peralatan
Bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan studi ini adalah ekosistem pantai termasuk hutan mangrove, tempah tumbuh (tanah), kehidupan flora dan fauna, keadaan lingkungan fisik, kimia dan biologi serta leteratur pendukung. Peralatan yang diperlukan adalah alat tulis menulis, teropong jauh, kaca pembesar, alat rintis (parang), kamera dan peralatan penunjang lainnya.
C. Materi Studi
Materi studi adalah pengamatan ekosistem hutan mangrove, dengan penekanan pada:
a. Komponen ekosistem (biotik) yang bisa dilihat dan ditemui (produsen, makro konsumen, mikro konsumen)
b. Keadaan tanah (jenis, pasir atau lumpur) c. Posisi tanaman (muara sungai atau tepi pantai)
d. Adaptasi jenis-jenis, baik yang bersifat umum maupun khusus
e. Perbedaan penampilan antara pohon yang hidup dipinggir pantai dan yang hidup di tempat yang lebih ke dalam
f. Apakah komposisi jenisnya (homogen atau heterogen)
III. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pesisir Kalimantan
1. Ekostem Pesisir Kalimantan
Pulau Kalimantan yang menjadi wilayah negara Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 8.054 km yang terbentang dari semenanjung Sambas sampai Pulau Nunukan di dekat Sabah. Di sebelah Barat berhadapan dengan selat Karimata, sebelah Selatan dengan laut Jawa dan sebelah Timur dengan selat Makasar. Sebagian besar garis pantai ini tersebut berhadapan dengan pantai yang dangkal disusul hutan bakau dan hamparan lumpur atau pasir di belakangnya. Pada beberapa tempat yang sempit ditemui pulau-pulau kecil, pantai berbatu dan muara sungai yang membentuk ekosistem agak berbeda. Meskipun wilayah pesisir pantai hanya menempati daerah yang relatif lebih sempit dibanding dengan luas secara keseluruhan dari Pulau Kalimantan, namun keadaan ekosistem dipengaruhi oleh wilayah yang lebih luas, dari daerah aliran sungai di pedalaman sampai perairan lepas pantai. Daerah aliran sungai di pedalaman dimulai dari hutan pegunungan sampai dataran rendah sebagai sumber dan mata air yang akan mengalir ke muara, daerah lahan basah dan hutan rawa, daerah pemukiman penduduk, hutan bakau sampai ekosistem muara sungai. Daerah lepas pantai meliptui ekosistem terumbu karang, ekostem laut termasuk kondisi fisik dan kimia yang terdapat di sana.
2. Gangguan Wilayah Pesisir
Gangguan yang dapat terjadi dan menimpa wilayah pesisir meliputi abrasi pantai, seperti yang terjadi di sekitar Desa Pagatan Besar tahun 1983. Abrasi tersebut mencapai radius 100 meter ke arah daratan sepanjang kurang lebih 800 meter. Gangguan lain yang dapat terjadi adalah badai laut, gelombang pasang surut, penebangan liar pada hutan mangrove, pengelolaan yang salah pada hutan mangrove dan hutan yang terletak jauh di pedalaman, pencemaran dari lokasi pemukiman, perkotaan, pertanian dan industri, pencemaran tumpahan minyak dan konversi hutan mangrove menjadi lokasi pemukiman, pertanian dan industri.
B. Pasang Surut
Menurut Pethick (1984), pasang surut air laut dapat menentukan ciri khas suatu pantai. Pasang tertinggi terjadi bila matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus atau pada saat bulan purnama (tanggal 15 pada penanggalan berdasarkan rotasi bulan). Pasang tertinggi juga terjadi pada saat matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis lurus atau pada saat bulan muda (sekitar tanggal 1 pada penanggalan berdasarkan rotasi bulan). Sebaliknya air dikatakan tidak pasang bila posisi bumi dan bulan dalam keadaan sejajar menghadap matahari atau dalam kondisi pasang perbani (sekitar tanggal 7 sampai 8 dan tanggal 22 sampai 23 pada penanggalan berdasarkan rotasi bulan).
C. Tipe Pantai
Hutan pantai sering disebut juga dengan hutan mangrove tersebar di sepanjang pesisir pantai pulau Kalimantan. Wilayah ini mendapatkan suplai air tawar dari daratan dan air laut dari lautan, sehingga sering disebut hutan payau. Beberapa tipe ekosistem yang dijumpai disekitar pesisir pantai adalah hutan rawa bakau, hutan rawa air tawar, hutan gambut, terumbu karang, anjungan karang, loungsoran tanah, batuan, nipah, pantai berpasir halus dan kasar, hamparan lumpur pasang surut.
1. Pantai berbatu
Pantai berbatu terdapat di tempat-tempat dimana formasi batuan yang keras tercuci oleh laut dan hasil pelapukan ini tersapu jauh dan tidak di endapkan di pantai. Wilayah seperti ini sering berbentuk terjal, dengan permukaan tebing berbatu sampai dibawah permukaan laut. Jalur pantai yang sempit dan berbatu-batu sering terdapat di bagian atas daerah pasang surut dan terbentuk dari batu kapur tua (Sangkulirang) atau batu granit dan batu pasir tersier.
1.1. Jenis tumbuhan yang sering ditemui pada formasi pantai berbatu adalah Butun
(Barringtonia) Cemara (Casuarina), Nyamplung (Calophyllum), Ara (Ficus) dan Pandan (Pandanus).
1.2. Jenis binatang yang sering ditemui pada formasi pantai berbatu adalah Kepah
(Barnacles), Tiram kecil, Keong limpets, Siput (Nerita), Ketam batu berkaki panjang (Grapsus grapsus), Ikan bleni, burung walet (Collocalia fuciphaga) dan ular laut.
Gambar 2. Formasi barringtonia terdapat di pantai berbatu dan berpasir
2. Pantai berpasir
berdampingan dengan hutan bakau, terumbu karang serta ekosistem lainnya (Burbridge dan Maragos, 1985). Ekosistem pantai ini umumnya kurang produkstif dan kurang beragam jenisnya. Pantai terbuka umumnya tidak ramah bagi kehidupan laut dan jenis-jenis kehidupan pantai, tetapi memerankan beberapa funsgsi ekologi penting karena meredam pukulan gelombang dan melindungi ekosistem darat dan ekosistem lainnya. Pantai berpasir keemasan tergolong langka di Kalimantan termasuk Kalimantan Utara (Borneo), sebab umumnya di dominasi pantai berpasir, berlumpur dan campuran keduanya. Pantai dengan pasir keemasan dijumpai di Balikpapan, Takisung dan Pagatan Kalimantan Selatan yang dapat digunakan untuk pariwisata dan rekreasi. Penggalian pasir untuk pembangunan dapat merusak ekosistem pantai, mengganggu pola penyaliran dan menyebabkan erosi pantai.
Sebagai batas antara daratan dan lautan, pantai mencakup berbagai macam kondisi fisik dan kimia. Binatang dan tumbuhan terdapat di zona yang berbeda sesuai dengan kemampuan tiap jenis untuk mempertahankan diri pada profil pantai (Morton, 1990). Pada zona-zona pantai bagian atas, jenis kehidupan yang dominan adalah tumbuhan pantai. Di sini pantai membentuk formasi vegetasi pinggiran luar yang didominasi komunitas pes caprae, seperti jenis pengikat pasir Ipomoca pes caprae, rumput kaku
(Spinifex), teki-tekian. Tumbuhan disini beradaptasi morfologi dengan memiliki perakaran yang dalam, biji yang terapung, toleraan terhadap garam, angin daan suhu yang tinggi (Panjimas, 1976). Tumbuhan di sini juga harus tahan dengan timbunan pasir berkala yang di bawa angin. Komunitas di sini menunjukkan keragaman yang rendah, dan karena sifat-sifatnya yang khas kebanyakan jenis terbatas pada habitat ini (Van steenis, 1958).
Tegakan pohon cemara (Casuarina equisetifolia) banyak terdapat di pantai berpasir. Jenis ini dapat membantu memantapkan tanah di pantai dan tahan terhadap lingkungan yang miskin hara karena mampu mengikat nitrogen lewat bintil-bintil akar. Pohon lain meliputi Calophyllum inophyllum, Terminalia catappa dan Hibiscus tiliaceus.
Jenis-jenis yang mengisi lapisan lebih dalam pada garis atas pasang surut yang mengisi komunitas Barringtonia adalah Casuarina equisetifolia, Ardisia elliptica, Barringtonia asiaticaa, Caesalpinia bonduc, Calophyllum inophyllum, Cocos nuciflora, Colubrina asiaticum, Crinum asiaticum, Cycas circinalis, c. rumphii, Desmodium embellatum, Erythrina variegata, Guettarda speciosa, Hernandia peltata, Hibiscus tiliaceus, Mammea odorata, Messerschmidia argentea, Morinda citrifolia, Pandanus tectorius, Pemphis acidula, Pisonia grandis, Pluchea indica, Pongamia pinnata, Premna obtusifolia, Scaevola taccada, Sophora tomentosa, Terminalia catappa, Thespesia populnea, Wedelia biflora, Ximenia americana.
Jenis binatang yang terdapat pada kominitas ini adalah Ketam hantu (Ocypoda), Ketam pantai, Lokan (Donax), Undang (Isopoda), Hippida, Landak laut, Pasir dolar, Kerang pencukur, Kerang kecil, Ikan pantai, Cacing Nematoda, Copepoda dan Cacing pipih, Penyu hijau (Chelonia mydas) di Kaltim (Berau) dan Kalbar, Penyu sisik
(Eretmochelys imbricata), Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu bromo
(Caretta caretta) di pantai Kalbar.
3. Pantai berlumpur
Hamparan pantai berlumpur banyak terdapat di pesisir pantai Kalimantan dan Borneo. Beberapa jenis fauna yang beradaptasi dengan lingkungan berlumpur antara lain kelompok Gastropoda, Krustaceae, polychaeta, sipunculidae, bivalve ikan gelodok dan berbagai jenis invertebrata lainnya. Jenis flora yang sering mendominasi komunitas ini adalah rambai (Sonneratia alba, s. ovata, s.casoelaris), Rhizophora macronata, r.aviculata, Bruguiera exaristata, b.gimnorrhiza.
Banyak kondisi pesisir yang merupakan gabungan antara pantai berpasir dan berlumpur. Dengan demikian komposisi flora dan fauna juga lebih beragam.
4. Muara Sungai
daratan ke lautan. Kejadian ini memperkaya perairan pantai dan hamparan lumpur yang berdekatan.
Muara sungai menyediakan sistem penyaringan dan cekungan pengendapan bagi lumpur sungai. Proses ini dapat membentuk delta seperti yang terjadi di suangai Kapuas, Barito dan Mahakam dimana rentetan pulau-pulau kecil diselingi anak sungai yang besar dan kecil dengan pola memencar. Kondisi kimiawi muara sungai sangat beragam karena merupakan pertemuan air tawar dan asin dalam volume yang besar sehingga tercipta lingkungan air berlapis dua. Air laut bergerak maju mundur mengikuti gerakan air pasang dan surut. Dalam lingkungan yang berubah dan dinamis itu maka flora dan fauna di sana harus mempunyai kemampuan adaptasi yang khusus. Muara sungai menerima zat hara dari masukan air sungai, masukan dari laut dan endapan dasar. Aliran sungai dan arus pasang surut menyebabkan proses pencampuran cat hara berjalan cepat untuk memacu produktifitas primer dan sekunder. Konsentrasi Posfor dan di mura sungai dua lipat lebih besar di banding di laut lepas dan produkstifitasnya juga lebih tinggi. Di beberapa tempat, makin jauh dari pantai jumlah planton semakin berkurang dan jumlah terbesar ada di muara sungai. Kandungan zat hara yang melimpah ini juga memicu kehadiran spesies ikan yang melimpah. Di sungai Kumai (Kalteng) terdapat 80 jenis ikan dan di sungai Kapuas (Kalbar) terdapat 222 jenis ikan.
Pada komunitas berpasir banyak ditemukan molusca dari suku Gastropoda serta burung laut pemakan invertebrata. Ikan duyung dan Lumba-lumba sering terdapat di muara sungai terutama ketika hendak kawin sampai beranak. Penyebaran duyung banyak terdapat di pesisir pantai Kalimantan Tengah. Tempat ini juga menyediakan kondisi yang baik bagi pemijah dan pembibitan bagi berbagai jenis ikan laut dan udang-udangan, penunjang kegiatan perikanan yang penting
D. Hutan Bakau
1. Gambaran Hutan Bakau di Kalimantan
Menurut Burbridge (1980) luas hutan bakau di Kalimantan 275.000 ha, menurut FAO (1985) 383.000 Ha, menurut Mc.Kinnon 900.000 Ha. Tegakan hutan bakau yang masih bagus terdapat di delta rejang (Serawak) dan Teluk Brunai. Di Kalimantan Selatan luas hutan bakau-nipa sebesar 165.000 ha dan hingga kini tersisa 90.000 ha, 4000 ha diantaranya dilindungi. Sedangkan hutan bakau seluas 80.000 ha dan hingga kini tersisa 66.650 Ha, seluas 67.650 ha berada dalam konsesi HPH.
Hutan bakau melindungi dan menyediakan makanan bagi berbagai komunitas binatang, termasuk burung-burung pantai dan banyak organisme laut. Hutan bakau kaya akan udang-udangan, tempat pemijahan dan pembibitan udang dan ikan pelagis dan kaya akan moluska. Beberapa vertebrata yang hidup di hutan bakau antara lain
Bekantan (Nasalis larvatus), Lutung (Presbytiscristata), Biawak (Varanus salvator),
Buaya (Crocodylus porosus), Burung laok (Pitta megarhyncha), Burung sikatan
Pohon berukur sedang sampai besar. Daun lebar bulat telur. Tidak mempunyai akar napas pneumatofora, tapi mempunyai akar yang mencuat dan bergelantungan di udara. Hipokotil berbentuk cerutu. Bunga berkelopak 4 dan berdaun 4.
Contoh: Rhizophora apiculata, r.mucronata.
Genera Bruguiera
Pohon umumnya tinggi, Daun berbentuk bulat telur yang lebih ramping. Hipokotil panjang. Pneumatofora seperti lutut yang tertekuk disekelilingnya. Tidak mempunyai akar gantung. Bunga berkelopak dan dan berdaun lebih dari 11.
seperti beludru, lembaga mempunyai keping biji berlipat berwarna hijau. Bunga kecil berbentuk bungkul.
Contoh: Avicennia alba (warna putih), a. marina, a. officinalis (jenis Api-api) c. Famili Sonneratiaceae
Genera Sonneratia
Berbentuk semak, daun tebal, hijau pudar, ujungnya bertakik dan bundar. Pneumatofora kuat berbentuk kerucut tumpul. Bunga dengan sejumlah benang sari panjang berwarna putih. Buah keras, hijau dengan tangkai putik tunggal.
Contoh: Sonneratia alba, s. casoelaris, s. ovata (pohon rambai, perepat, bogen) d. Famili Combretaceae
Genera Lumnitzera
Pohon ramping, daun tebal, kedua sisi hijau cerah, ujung bundar. Pneumatofora berbentuk simpai. Bunga kecil, dalam kelompok, merah putih. Buah kecil berbentuk vial.
Contoh: Lumnitzera littorea, l. racemosa.
e. Famili Meliaceae
Genera Xylocarpus
Berbentuk perdu besar sampai pohon. Daun bergabung anak daun yang lonjong dan besar. Pada akar terdapat pneumatofora yang tinggi dan kecil. Bunga kecil berwarna putih dan berkelopak. Buah besar dan bulat berkulit tebal dengan biji besar bersambungan.
Contoh: Xylocarpus granatum, x. moluccensis (Nyirih/Buta-buta) f. Famili Myrsinaceae
Genera Aegicera
Semak besar sampai pohon. Daun lonjong, ramping melengkung ke dalam. Tidak ada pneumatofora. Bunga putih terkelompok pada ketiak daun. Buah ramping berbentuk bulat sabit.
Contoh: Aegicera corniculatum
g. Famili Euphorbiaceae
Genera Exocoecaria
Pohon kecil dengan pepagan kemerahan, bergaris. Daun bulat telur agak lancip, mengkilap, bertunas. Getah bakau seperti susu beracun. Bunga pada untaian jantan dan betina terpisah pada pohon yang berbeda. Buah dengan 3 ruang kapsul.
h. Famili Palmae
Genera Nypa
Palma kecil tegak dengan batang dibawah tanah, mendatar. Daun bersirip panjang 3-9 meter. Buah berbentuk bulat pada rumpun daun buah.
Contoh: Nypa fruticans
3. Ekosistem Hutan bakau
Hutan bakau hanya memiliki satu tingkat, yaitu pohon-pohon yang tingginya tidak lebih dari 25 meter dengan vegetasi bawah yang jarang kecuali semai jenis-jenis yang sama. hal ini disebabkan penggenangan tempat tumbuh yang teratur. Di kawasan Indonesia terdapat sekitar 50 jenis pohon bakau, di Indonesia 30 jenis dan di Borneo 26 jenis. Jenis lain sebagai pelengkap meliputi liana (Derris), paku-pakuan, teki, rumput, semak Acanthus ilicifolius, paku bakau raksasa (Acrostichum aureum) sering rapat pada lapisan bawah sehingga mengganggu regenerasi bakau.
Keberadaan dan kelimpahan jenis di hutan bakau dipengaruhi tiga faktor yaitu lama penggenangan air laut, tingkat percampuran air asin dan tawar di muara sungai (kadar air payau) dan konsistensi tanah. Di pesisir terbuka yang terlindung dan berpasir didominasi Api-api (Avicennia marina), Bogen (Avicennia alba) sedangkan yang berlumpur oleh Perepat (Sonneratia alba). Dibelakang daerah tersebut serta pada sungai-sungai komunitas tumbuhan didominasi Rhizophora mucronata dan lebih belakang lagi oleh Rhizophora apiculata. Jenis lain yang terdapat di bakau adalah Berus (Bruguiera gymnorhiza) dan Nyirih atau Buta-buta (Xylocarpus granatum) dan Tengar (Ceriops tagal). Pada daerah yang lebih kering dan atas tumbuh Bruguiera dengan akar lutut, yang didominasi Bruguiera cylindrica, sedangkan Bruguiera gymnorrhiza tumbuh pada hutan bakau yang menghadap ke darat
Jenis Bogen (Sonneratia caseolaris) yang dapat mencapai tinggi 20 meter dapat tumbuh sepanjang wilayah yang terkena pasang surut dengan mengandalkan akar napas berbentuk seperti kerucut yang ringan. Jenis ini banyak tumbuh di daerah berlumpur dan masih dapat hidup pada daerah air tawar.
Buah iyang berwarna kuning ini dapat terapung hingga berbulan-bulan sebelum akhirnya tumbuh pada lokasi berlumpur.
Lebar hutan bakau dapat hanya beberapa meter, namun dapat pula sampai beberapa kilometer. Hutan bakau dapat memperlambat arus air yang mengandung lumpur dan dapat mengendapkan partikel lumpur tersebut dalam suatu proses pembentukan endapan di sisi dataran hutan bakau. Suksesi ini dapat membuka jalan jenis perintis untuk maju ke laut, mempercepat pembentukan pantai dan menjaga kemantapan daerah pesisir. Hutan bakau dapat menahan gelombang air dan melindungi endapan yang telah terbentuk dari pengaruh pasang surut. Fungsi lainnya adalah sebagai habitat yang baik bagi banyak spesies seperti ikan, udang-udangan, molusca dan lain-lain. Hutan bakau bakau juga sebagai pemasok zat hara organik melalui rantai makanan detritus.
Beberapa pohon telah berbunga ketika masih kecil dan sebagian lain mempunyai cara pemencaran biji yang unik. Sebagain berbunga sepanjang tahun dan sebagain besar pada musim kering. Bunga Sonneratia menyerupai bulu diserbuki oleh Kelelawar pemakan serbuk sari. Rhizophora mempunyai berbagai cara penyerbukan.
Rhizophora tiap hari menghasilkan bunga besar, berwarna mencolok yang dikunjungi Kelelawar penghuni gua (Eonycteris), Lebah (Alpis, Trogona). Brurung madu sering hinggap di Rhizophora untuk menjilat cairan manis di kuncup daun atau bunga yang rusak oleh serangga. Bunga Bruguiera mempunyai kepala sari yang membuka mendadak ketika dikunjungi burung madu, kupu-kupu atau serangga. Bunga Ceriops tagal diserbuki ngengat.
Fauna hutan pantai meliputi Burung laut, antara lain: a. Dara laut sayap coklat (Sterna anaethetas)
b. Dara laut Sumatera (Sterna sumatrana)
c. Dara laut hitam besar (Anous stolidus)
d. Petrel bulweri (Bulweria bulwerii)
e. Gangsa batu coklat ekor hitam (Sula dactylatra)
f. Gangsa batu coklat (Sula leucogaster)
g. Cikalang kecil (Fregata ariel)
h. Pergam bodas (Ducula bicolor)
i. Rawis atau mas (Caloenas nicobarica)
j. Punai
k. Walet sarang putih (Collocalia fuciphaga)
Jenis lain adalah Kalong pulau (Pteropus hypomelanus), Celurut pohon langsing
(Tupaia splendidula carimatae dan Tupaia gracilis), Ikan sumpit bergaris (Toxotes jaculator), Udang barong lumpur (Thallassina anomala), Kerang/Remis, Ketam hantu (Ocypode), Ketam raja, Siput (Littoraria scabra), siput paru-paru, siput tanpa cangkang,
Ellobium, Ikan gelodok Periopthalmidae (Boleopthalmus boddarti), Ikan betok (Anabas testudineus), Semut, Rangrang (Oecophylla), Kumbang, Kunang-kunang
4. Adaptasi di Hutan Bakau
Dengan adanya faktor pembatas yang sangat keras di hutan bakau, menyebabkan jenis-jenis yang terdapat di sana adalah jenis yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan setempat. Pada umumnya jenis-jenis tersebut tahan terhadap kadar garam yang tinggi, pasang surut air laut, gempuran gelombang, tiupan angin yang kencang, panas dan kondisi tanah setempat, berpasir, berlumpur, berbatu atau gabungan.
a. Jenis Bakau (Rhizophora spp) mempunyai akar tunjang sehingga semai yang tumbuh tidak terlalu dekat dengan pohon induk. Tidak mempunyai akar napas pneumatofora, tapi mempunyai akar yang mencuat dan bergelantungan di udara.
Buah Rhizophora masak di pohon dan bijinya berkecambah di dalam buah yang masih bergantung d pohon. Akar kecambah (hipocotyl) dari semai tumbuh ke bawah menembus dinding buah untuk menghasilkan tumbuhan berbentuk seperti lembing. Dengan demikian, apabila semai jatuh, maka akan menancap di atas lumpur, mengeluarkan akar tunggang dan berkembang secara cepat. Atau mungkin semai terbawa arus dan tumbuh di tempat lain.
b. Api-api (Avicennia spp) dan Rambai (Sonneratia spp) mempunyai akar kabel (pola cakar ayam) yang tumbuh mendatar dan ditahan oleh akar jangkar yang kebawah. Akar napas, pneumatofora yang runcing tumbuh ke atas dan mengeluarkan akar baru untuk menyerap zat hara. Akar napas berguna untuk menyerap oksigen terutama pada saat air pasang.
Akar lutut sebagai Akar napas (pneumatofora) Akar tunjang Pneumatofora Sonneratia spp, Avicennia spp Rhizophora spp Pada Bruguiera spp
Gambar 3. Beberapa tipe akar pada pohon hutan bakau
Akar-akar pohon bakau menyerap garam dalam jumlah banyak melalui air yang diserapnya. Ketika air menguap lewat daun, garam ditinggalkan. Untuk mengurangi penguapan ini daun-daun pohon bakau umumnya tebal berdaging. Avicennia
IV. HASIL STUDI
A. Komponen Biotik Ekosistem
Komponen-komponen biotik dalam ekosistem hutan mangrove yang ditemui adalah: 1. Komponen Produsen
Komponen produsen yang ditemui meliputi:
a. Api-api (Avicennia alba dan Avicennia marina)
b. Buta-buta atau Nyirih (Xylocarpus granatum)
c. Nypa (Nypa fruticans) meskipun sudah mati. d. Pohon Bakau (Rhizophora apiculata)
Komponen makro konsumen yang ditemui adalah: a. Tiram kecil (dtemukan cangkangnya)
b. Keong limpets (ditemukan cangkangnya)
c. Siput (Nerita), Siput (Littoraria scabra), Siput paru-paru (ditemukan cangkangnya)
d. Ketam hantu (Ocypoda) sedang mencari makan, Ketam pantai sedang membuat sarang di pasir
f. Lokan (Donax)
g. Udang barong lumpur (Thallassina anomala)
h. Kerang pencukur, Kerang kecil (ditemukan berupa cangkangnya) i. Cacing Nematoda, Copepoda (ditemukan bekas jalannya)
j. Burung laok (Pitta megarhyncha)
k. Burung sikatan (Cyornis rufigastra
l. Dara laut sayap coklat (Sterna anaethetas)
m. Cikalang kecil (Fregata ariel)
n. Kelelawar ((Pteropus hypomelanus), ditemukan secara tidak langsung o. Lebah (Alpis, Trogona).
p. Ikan gelodok Periopthalmidae (Boleopthalmus boddarti) banyak ditemukan di pantai berlumpur
q. Semut, dijumpai di batang pohon.
r. Rangrang (Oecophylla), dijumpai di batang pohon Ketapang s. Kumbang, sedang terbang di antara daun dan bunga.
Mikro konsumen tidak terlihat, namun tanda-tanda kehadirannya dapat dibaca.
B. Keadaan Tanah
Keadaan tanah ekosistem mangrove yang dilihat adalah berupa lumpur pada bagian luar dan berpasir pada bagian dalam, yaitu pada tempat yang lebih tinggi (bagian atas). Tanda-tanda pengaruh pasang surut masih terlihat di kedua wilayah ini.
C. Posisi Tumbuhan
Posisi tumbuhan pada hutan mangrove yang di amati terletak di tepi pantai yang pernah terkena abrasi. Pada jarak sekitar 1500 meter ditemukan muara sungai, namun kegiatan praktek tidak mengamati keadaan ekosistem di muara sungai tersebut.
D. Adaptasi Makhluk Hidup
Api-api yang sama yang tumbuh pada daerah yang lebih kebelakang atau lebih tinggi tidak banyak mempunyai akar napas. Daun-daun Api-api terlihat tebal dan bermiang.
Pada jenis Rhizophora terlihat mempunyai akar tunjang yang menjurai dari batang bawah masuk ke dalam tanah. Akar ini mempunyai lentisel sebagai tempat penyerapan oksigen.
Secara umum vegetasi di hutan mangrove memiliki perakaran yang dalam, daun yang tebal dan bermiang. Buah Rhizophora yang dilengkapi “tongkat/lembing” ditemukan sedang ditanam dan dikumpulkan disekitar pohon. Akar kecambah
(hipocotyl) dari semai tumbuh ke bawah menembus dinding buah untuk menghasilkan tumbuhan berbentuk seperti lembing.
Ketam pantai membuat lubang sebagai tempat berlindung dari genangan air. Ikan gelodok yang mempunyai kemampuan untuk hidup di darat dalam waktu 15 menit sedang mencari makan dan menarik perhatian sang betina dalam kubangan kecil. Burung pantai terbang melayang-layang sambil menatap tajam kearah mangsanya di balik air yang sedang beriak. Sementara itu hembusan angin laut yang kencang terus menerus mengiringi tarian cabang dan ranting pohon hingga menimbulkan suasa aktif dan dinamis dalam ekosistem hutan mangrove.
E. Penampilan Pohon Pinggir dan Pohon Dalam
Pohon yang terletak di pinggir atau sebelah luar terlihat lebih kokoh, tajuknya lebih jarang dan warna daunnya lebih pucat. Sedangkan pohon yang tumbuh pada daerah yang lebih ke belakang atau sebelah dalam, nampak lebih subur, lebih tinggi, tajuk dan daun-daunnya nampak lebih hijau dan segar.
F. Komposisi Vegetasi
Komposisi vegetasi di hutan mangrove masih tergolong heterogen meskipun tidak sebanding bila dibandingkan dengan komposisi vegetasi di hutan dataran kering. Namun apabila dilihat pada sekat yang lebih kecil, komposisi tersebut adakalanya homogen. Pada daerah berpasir pada umumnya banyak didominasi jenis Api-api
G. Penampilan Pohon Tumbuh Sendiri
V. PEMBAHASAN STUDI
A. Komponen Biotik Ekosistem
Komponen produsen atau pohon dalam ekosistem hutan mangrove yang ditemui paling dominan adalah Api-api (Avicennia alba dan Avicennia marina). Sedangkan kondisi tanah tempat tumbuhnya adalah pasir. Hal ini sesuai dengan pendapat Mc Kinnon et.al (2000), bahwa di pesisir terbuka yang terlindung dan berpasir didominasi Api-api (Avicennia marina), Bogen (Avicennia alba) sedangkan yang berlumpur oleh Perepat (Sonneratia alba). Dibelakang daerah tersebut serta pada sungai-sungai komunitas tumbuhan didominasi Rhizophora mucronata dan lebih belakang lagi oleh
Rhizophora apiculata. Jenis lain yang terdapat di bakau adalah Berus (Bruguiera gymnorhiza) dan Nyirih atau Buta-buta (Xylocarpus granatum) dan Tengar (Ceriops tagal). Pada daerah yang lebih kering dan atas tumbuh Bruguiera dengan akar lutut, yang didominasi Bruguiera cylindrica, sedangkan Bruguiera gymnorrhiza tumbuh pada hutan bakau yang menghadap ke darat
Komponen makro konsumen yang sering dijumpai dan terlihat jelas secara langsung adalah Ketam pantai (Ocypoda) dan burung laut. Pada pengamatan yang lebih cermat dan mendetail, ternyata dapat ditemukan lebih banyak jenis makro konsumen, baik pengamatan secara langsung maupun tidak langsung, misalnya dengan melihat bangkainya, bekas jalannya, kotorannya, suaranya, sarangnya serta bekas-bekas secara periodik pagi, siang dan malam dalam waktu beberapa hari atau minggu.
Komponen mikro konsumen tidak terlihat oleh mata. Namun dari pendekatan sebab akibat kita dapat menentukan bahwa dalam ekosistem mangrove tersebut terdapat komponen mikro konsumen yang umumnya terdiri dari jamur (Fungi) dan bakteri
B. Keadaan Tanah
Keadaan tanah ekosistem mangrove yang dilihat adalah berupa lumpur pada bagian luar dan berpasir pada bagian dalam. Tanah berlumpur disebabkan oleh peristiwa abrasi yang terjadi tahun 1983 serta dari endapan yang dibawa air sungai. Tanah yang tercuci akan meninggalkan pasir pada bagian atas dan lumpur halus turun ke bagian bawah di bawa oleh arus air laut. Dengan demikian jenis tanah ekosistem mangrove tersebut didominasi pasir pada bagian atas dan lumpur pada bagian bawah atau luar.
C. Posisi Tumbuhan
Posisi tumbuhan pada hutan mangrove yang di amati terletak di tepi pantai yang pernah terkena abrasi. Pada jarak sekitar 1500 meter ditemukan muara sungai, namun kegiatan praktek tidak mengamati keadaan ekosistem di muara sungai tersebut.
Pada beberapa tempat lain di Kalimantan, ekosisten pantai ada yang berada pada lokasi berpasir, berlumpur, berbatu, muara sungai atau perpaduan dari satu atau lebih keadaan tersebut. Pada masing-masing tempat tersebut, dominasi flora dan fauna umumnya sedikit berbeda.
D. Adaptasi Makhluk Hidup
Daun-daun Api-api terlihat tebal dan bermiang. Hal ini sebagai adaptasi pohon terhadap suhu yang tinggi, yaitu untuk mengurangi penguapan. Kadar garam yang relatif tinggi pada daun dapat membantu penyerapan air dari bawah.
Tumbuhan hutan mangrove termasuk C4, sehingga tahan berada pada suhu tinggi, lebih efisien menggunakan air, lebih produktif dan merupakan sumber makanan ikan yang baik.
Pada jenis Rhizophora mempunyai akar tunjang yang menjurai dari batang bawah masuk ke dalam tanah. Akar ini mempunyai lentisel sebagai tempat penyerapan oksigen. Akar tunjang ini sebagai bentuk adaptasi pohon dalam lingkungan yang mengalami pasang surut, sehingga kegiatan respirasi akar dapat berjalan tanpa terputus. Secara umum vegetasi di hutan mangrove memiliki perakaran yang dalam, daun yang tebal dan bermiang. Perakaran yang dalam berguna untuk menciptakan sistem perakaran yang kokoh sehingga tidak mudah roboh oleh terpaan angin laut yang bertiup sepanjang hari.
Buah Rhizophora yang dilengkapi “tongkat/lembing”. Akar kecambah (hipocotyl) dari semai tumbuh ke bawah menembus dinding buah untuk menghasilkan tumbuhan berbentuk seperti lembing. Apabila buah jatuh, maka tongkat akan menancap ke tanah dan posisi buah di sebelah atas untuk mengamankan pertumbuhan dari gangguan gelompang dan air pasang surut.
Ketam pantai membuat lubang sebagai tempat berlindung dari genangan air. Ikan gelodok yang mempunyai kemampuan untuk hidup di darat dalam waktu 15 menit sedang mencari makan dan menarik perhatian sang betina dalam kubangan kecil. Burung pantai terbang melayang-layang sambil menatap tajam kearah mangsanya di balik air yang sedang beriak. Sementara itu hembusan angin laut yang kencang terus menerus mengiringi tarian cabang dan ranting pohon hingga menimbulkan suasa aktif dan dinamis dalam ekosistem hutan mangrove.
E. Penampilan Pohon Pinggir dan Pohon Dalam
Sedangkan pohon yang tumbuh pada daerah yang lebih ke belakang atau sebelah dalam, nampak lebih subur, lebih tinggi, tajuk dan daun-daunnya nampak lebih hijau dan segar. Hal ini disebabkan pada lokasi itu gangguan alam seperti tersebut di atas relatif berkurang dan timbunan bahan organik yang belum terbawa air laut dapat menyuburkan tumbuhan tersebut.
F. Komposisi Vegetasi
Komposisi vegetasi di hutan mangrove masih tergolong heterogen meskipun tidak sebanding bila dibandingkan dengan komposisi vegetasi di hutan dataran kering. Hutan mangrove masih mempunyai banyak species yang mampu tumbuh di sana seperti Apiapi, Nyirih, Rhizophora dan tumbuhan formasi lebih dalam seperti Ketapang, Ara, Nyamplung, Waru, Cemara dan lain-lain.
Namun apabila dilihat pada sekat yang lebih kecil, komposisi tersebut adakalanya homogen. Pada daerah berpasir pada umumnya banyak didominasi jenis Api-api
(Avivennia spp) meskipun masih ada beberapa jenis lain seperti Rhizophora dan Buta-buta (Nyirih). Demikian pula pada daerah berlumpur sering didominasi jenis Rambai
(Sonneratia) dan pada daerah muara sungai didominasi Rhizophora mucronata dan r. aviculata, sehingga dapat dikatakan jenisnya relatif homogen.
G. Penampilan Pohon Tumbuh Sendiri
VI. KESIMPULAN
Hasil studi hutan mangrove di Tangkisung Kalimantan Selatan memberi informasi sebagai berikut:
1. Komponen produsen paling dominan pada ekosistem hutan mangrove dengan tanah berpasir adalah Api-api (Avicennia alba dan Avicennia marina). Jenis lain yang ditemukan adalah Rhizophora mucronata dan Nypa atau Buta-buta (Xylocarpus granatum).
2. Komponen makro konsumen yang sering dijumpai adalah Ketam pantai (Ocypoda)
Ikan gelodok Periopthalmidae (Boleopthalmus boddarti) dan burung laut sedangkan komponen mikro konsumen tidak terlihat, namun umumnya terdiri dari jamur (Fungi) dan bakteri (Bacteria).
3. Adaptasi insidental Api-api (Avicennia alba) di tempat pasang surut mempunyai akar akar napas (pneumatofora). Daun-daun Api-api terlihat tebal dan bermiang sebagai adaptasi pohon terhadap suhu yang tinggi untuk mengurangi penguapan. 4. Tumbuhan hutan mangrove termasuk C4, sehingga tahan berada pada suhu tinggi,
lebih efisien menggunakan air, lebih produktif dan merupakan sumber makanan ikan yang baik.
5. Rhizophora mempunyai akar tunjang yang dengan lentisel sebagai tempat penyerapan oksigen. Buah Rhizophora yang dilengkapi tongkat untuk menancapkan ke tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2001. Jenis-jenis Hayati yang Dilindungi Undang-Undang. Bidang Zoologi Puslit Biologi – LIPI The Nature Conservation and USAID.
Burbridge, P. dan Maragos, J. 1985. Coastal resources management and environmental assessment needs for aquatic resources development in Indonesia. International Institute for Environment and Development, Washington, USA.
Mc Kinnon, K. et.al. 2000. Ekologi Kalimantan. Seri Ekologi Indonesia III Prenhallindo, Jakarta
Paijmans, K. 1976. Vegetation. Dalam New Guinea Vegetation (ed. K. Paijmans). Elsevier, Amsterdam.
Steenis, C.G.G.J. van, 1958. Rhizophoraceae. Fl.Mal.Ser I.
Soerianegara, I. dan Andry I. 1978. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.