• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Persistensi Laba, Good Corporate Governance dan Kualitas Audit Terhadap Kualitas Laba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Persistensi Laba, Good Corporate Governance dan Kualitas Audit Terhadap Kualitas Laba"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Persistensi Laba,

Good Corporate Governance

dan Kualitas Audit Terhadap Kualitas Laba

Ghea Marisya Putri

a*

, Pipin Fitriasari

b

a,bSTIE Madani Balikpapan, Balikpapan, Indonesia *( [email protected])

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh persistensi laba, komisaris independen, ukuran komite audit dan kualitas audit terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan koefisien respon laba. Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur yang berjumlah 44 sebagai sampel penelitian dengan teknik purposive sampling. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan Statistical Package for Social Sciences. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persistensi laba berpengaruh negative terhadap kualiatas laba dan komisaris independen memiliki pengaruh negative tetapi tidak signifikan terhadap kualitas laba. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ukuran komite audit dan kualitas audit berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kualitas laba. Penelitian ini belum dapat memberikan gambaran variasi nilai dari kualitas laba. Penelitian yang akan datang sebaiknya menggunakan pengukuran persistensi laba yang dapat mencerminkan nilai laba sesungguhnya.

Kata kunci: Persistensi laba, komisaris independen, ukuran komite audit, kualitas audit, kualitas laba

PENDAHULUAN

Diterbitkannya laporan

keuangan berupa informasi laba yang

diperoleh dalam suatu periode, akan

memengaruhi ekspektasi investor

mengenai kemampuan perusahaan

menghasilkan laba di masa depan,

dan akan tercermin dalam perubahan

harga saham perusahaan yang

bersangkutan di pasar modal (Riyatno,

2007). Sehingga dapat disimpulkan

bahwa laba yang dihasilkan

perusahaan memengaruhi harga

saham perusahaan di pasar modal.

Banyaknya kasus skandal

manipulasi laporan keuangan

mengakibatkan laporan keuangan

menjadi diragukan keandalannya. Hal

ini, menyebabkan publik kehilangan

kepercayaan yang mengakibatkan

reaksi pasar terhadap laba yang

dipublikasikan menurun

mencerminkan kualitas informasi atas

laba yang dihasilkan. Fenomena ini

menunjukkan kegagalan laporan

keuangan untuk memenuhi

kebutuhan informasi pengguna

laporan keuangan. Laba yang

diharapkan dapat menjadi salah satu

dasar pengambilan keputusan

investasi menjadi diragukan

kualitasnya (Boediono, 2005).

Kasus-kasus manipulasi

(2)

disebabkan oleh penggunaan dasar

akrual dalam penyusunan laporan

keuangan. Pengukuran dengan dasar

akrual memberikan kesempatan

kepada manajemen perusahaan untuk

memodifikasi laporan keuangan agar

menghasilkan nilai laba yang

diinginkan dalam rangka menarik

minat investor sehingga harga saham

perusahaan meningkat.

Teori keagenan yang

menggambarkan tentang hubungan

dan masalah antaraprincipal (investor)

dengan agent (manajemen), dimana

agent diberi kontrak dan kekuasaan

untuk mengelola sumber daya yang

dimiliki principal. Terpisahnya fungsi

pengelolaan dan fungsi kepemilikan

ini disebabkan karena principal

memiliki keterbatasan kemampuan

dalam pengelolaan perusahaan yang

mengakibatkan terjadinya asimetri

informasi, dimana agent lebih

mengetahui informasi internal dan

prospek perusahaan di masa yang

akan datang dibandingkan principal

(Priantinah, 2008). Hal ini,

mengakibatkan munculnya konflik

kepentingan diantara keduanya. Hal

ini memungkinkan manajemen untuk

tidak bekerja mewakili kepentingan

principal dan lebih mengutamakan

kepentingan pribadinya (Rahmawati,

2012:153). Tindakan ini dapat

menyebabkan laporan keuangan

terutama laba yang dilaporkan oleh

perusahaan tidak mampu memberikan

informasi yang sesungguhnya

mengenai kinerja perusahaan,

sehingga informasi laba yang dijadikan

salah satu tolok ukur dan dasar untuk

pengambilan keputusan menjadi

diragukan kualitasnya. Agar pemakai

laporan keuangan khususnya investor

tidak salah mengambil keputusan

maka perlulah dilakukan pengukuran

kualitas dari informasi laba.

Laba yang dipublikasikan

menghasilkan respon yang beragam,

yang menunjukkan adanya reaksi

pasar terhadap informasi laba (Cho

dan Jung, 1991 dalam Boediono,

2005). Reaksi pasar terhadap laba

yang dipublikasikan akan bergantung

pada penilaian (persepsi) investor

terhadap kualitas angka laba yang

dihasilkan dan dipublikasikan

perusahaan. Untuk mengukur

kualitas laba yang dipublikasikan

perusahaan dapat dilakukan dengan

beberapa cara, salah satunya dengan

menggunakan Earnings Response

Coefficients (ERC) (Collins et al.,1984

dan Collins dan Salatka, 1993).

Earnings Response Coefficients (ERC)

diyakini dapat memberikan gambaran

secara jelas mengenai kualitas laba

dengan melihat reaksi pasar atas

informasi laba yang dipublikasikan.

(3)

dari laba yang dipublikasikan

perusahaan dan tinggi rendahnya

Earnings Response Coefficients (ERC)

sangat ditentukan oleh kekuatan

responsif yang tercermin dari

informasi yang terkandung dalam laba

(Suaryana, 2005). Artinya, semakin

kuat respon pasar terhadap informasi

laba yang tercermin dari tingginya

nilai Earnings Response Coefficients

(ERC), menunjukkan laba yang

dipublikasikan semakin berkualitas

dan sebaliknya. Investor

beranggapan jika perusahaan memiliki

laba yang persisten dari waktu ke

waktu maka semakin besar laba yang

dapat diharapkan investor di masa

mendatang. Hal ini akan direspon

dengan baik oleh pasar yang tercermin

dari tingginya nilai ERC yang

menandakan bahwa laba berkualitas.

Sehingga secara teoritis terdapat

hubungan yang positif antara laba

yang persisten dengan kualitas laba

perusahaan (Kormendi dan Lipe,

1990).

Mekanisme corporate

governance seperti mekanisme

internal, salah satunya struktur

dewan komisaris dan mekanisme

eksternal, salah satunya pelaksanaan

audit oleh auditor eksternal

diharapkan dapat mengatasi masalah

keagenan sehingga kualitas laba

perusahaan dapat terjamin (Bernhart

dan Rosenstein, 1998).

Mekanisme internal yakni peran

dewan komisaris dalam menciptakan

Good Corporate Governance (GCG) di

dalam perusahaan dapat ditingkatkan

dengan adanya komisaris independen

(Febiani, 2012). Proporsi komisaris

independen yang besar dalam struktur

dewan komisaris akan memberikan

pengawasan yang lebih baik dan dapat

membatasi peluang-peluang

kecurangan pihak manajemen

sehingga dapat diperoleh laba yang

berkualitas (Raharjo dan Daljono,

2014).

Komite audit juga mempunyai

peran yang sangat penting dan

strategis bersama dengan komisaris

independen untuk menjaga

kredibilitas proses penyusunan

laporan keuangan, mengawasi audit

eksternal, dan memonitor sistem

pengendalian internal seperti halnya

menjaga terciptanya sistem

pengawasan perusahaan yang

memadai serta dilaksanakannya Good

Corporate Governance (GCG), sehingga

diharapkan dapat mengurangi sifat

oportunistik manajemen (Rahmawati,

2012:176). Teoh dan Wong (1993)

menyatakan, peran komite audit

sangat penting bagi investor untuk

menilai perusahaan karena

mempengaruhi kualitas laba yang

(4)

Efektivitas komite audit akan

meningkat jika ukuran komite audit

meningkat, karena komite audit yang

lebih banyak memiliki sumber daya

yang lebih untuk menangani

masalah-masalah yang dihadapi oleh

perusahaan sehingga kualitas

pelaporan keuangan meningkat pula

(Pierce dan Zahra,1992). Semakin

besar ukuran komite audit dapat

mengurangi tindakan manajemen laba

sehingga kualitas laba dapat lebih

terjamin (Aji, 2012).

Sedangkan melalui mekanisme

eksternal yakni berupa pelaksanaan

audit oleh auditor independen.

Kualitas audit dianggap sebagai

kemampuan seorang auditor dalam

mendeteksi serta menghilangkan salah

saji material dan praktik manipulasi di

laporan keuangan. Kualitas audit yang

diberikan oleh auditor independen

dapat dilihat dari reputasi KAP yang

melakukan audit (DeAngelo, 1981).

Auditor yang berkualitas tinggi

yakni yang berasal dari KAP Big Four,

dapat mendeteksi tindak manipulasi

laba sebab mereka memiliki

pengetahuan yang lebih mumpuni dan

dapat mencegah tindakan manajemen

yang oportunis (Becker et al.,1998;

Reynolds dan Francis , 2001). Hal ini,

menunjukkan bahwa auditor dari KAP

Big Four memberikan jasa audit

terhadap laporan keuangan

khususnya informasi laba lebih baik

daripada auditor dari KAP Non-Big

Four sehingga hasil audit berupa

penjaminan atas kredibilitas informasi

laba tersebut lebih kredibel dan dapat

dipercaya oleh pihak eksternal

khususnya investor. Beberapa

penelitian kualitas laba yang diukur

dengan ERC, diantaranya Anderson et

al.(2003) menemukan bahwa semakin

kecil ukuran komite audit maka

semakin tinggi kualitas laba yang

diukur dari ERC. Mulyani dkk (2007)

menemukan persistensi laba

berpengaruh signifikan terhadap ERC

namun, kualitas audit tidak

berpengaruh signifikan terhadap ERC.

Febiani (2012) menemukan bahwa

kualitas audit dan komisaris

independen berpengaruh signifikan

terhadap kualitas laba.

Marisatusholekha (2015) justru

menemukan bahwa persistensi laba,

komisaris independen, dan kualitas

audit tidak berpengaruh terhadap

kualitas laba. Ini menunjukkan bahwa

terdapat ketidakkonsistenan hasil

penelitian.

Motivasi peneliti dalam penelitian ini

ingin melihat apakah investor

mempertimbangkan laba yang

persisten dan mekanisme pengawasan

dalam keputusan investasinya.

Penelitian ini, mengukur komite audit

(5)

komite audit. Hal ini, dikarenakan

Earnings Response Coefficients

dihitung dengan menggunakan waktu

publikasi laporan keuangan.

Penelitian ini menguji

persistensi laba, komisaris

independen, komite audit dan kualitas

audit dapat meningkatkan kualitas

laba.

TELAAH LITERATUR

Teori Pasar Efisien

Teori pasar efisien menyatakan

bahwa pasar akan bereaksi segera

terhadap informasi baru. Berdasarkan

hipotesis pasar efisien bentuk

setengah kuat, harga suatu sekuritas

saham mencerminkan semua

informasi yang terkait mengenai

perusahaan, termasuk kinerja

keuangan masa sekarang dan

prospeknya di masa depan.

Diterbitkannya laporan keuangan

berupa informasi laba yang diperoleh

dalam suatu periode akan

mengakibatkan reaksi pasar yakni

mempengaruhi ekspektasi investor

mengenai kemampuan perusahaan

menghasilkan laba di masa depan,

dan akan tercermin dalam perubahan

harga saham perusahaan yang

bersangkutan di pasar modal (Riyatno,

2007). Sehingga dapat disimpulkan

bahwa laba yang dihasilkan

perusahaan mempengaruhi harga

saham perusahaan di pasar modal.

Sehingga dapat dikatakan

bahwa investor menjadikan laba

periode sebelumnya dan laba saat ini

sebagai indikator kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba

di masa depan, yang kemudian

mempengaruhi keputusan investasi

investor apakah akan membeli lagi,

menahan, atau menjual sahamnya.

Pilihan tersebut akan mencerminkan

pergerakan harga saham perusahaan

yang bersangkutan di pasar modal

yang tercermin dalam harga saham

ekuilibrium yang baru.

Hubungan Laba dan Return

Pada saat diumumkan, pasar

telah mempunyai harapan tentang

berapa besarnya laba perusahaan atas

dasar semua informasi yang tersedia

secara publik (Suwardjono, 2014:

490). Apabila laba yang dipublikasikan

mengalami lonjakan yang cukup besar

dari laba sebelumnya dan hal ini

merupakan kejadian yang tidak

diprediksi sebelumnya, maka timbul

komponen yang disebut komponen

yang tidak terduga atau laba kejutan

(earnings shock) (Conrad et al,. 2002).

Earnings shock ini akan memacu

lonjakan pembelian atau penjualan

saham sekitar waktu penerbitan

(6)

Pasar akan bereaksi atas laba

publikasian dengan melakukan revisi

keputusan investasi apakah akan

membeli lagi, menahan, atau menjual

saham. Reaksi ini akan tercermin

melalui perubahan harga saham

(return saham) yang mencolok pada

saat pengumuman laba (Suwardjono,

2014:491). Yang dimaksud mencolok

adalah terdapat perbedaan yang

cukup besar dari return yang terjadi

(actual return) dan return harapan

(expected return) yakni terjadi return

kejutan atau abnormal return saat

pengumuman laba. Perubahan harga

saham berupa kenaikan atau

penurunan harga saham tersebut

akan terakumulasi pada Cummulative

Abnormal Return (CAR) masing-masing

saham perusahaan (Ambarwati, 2008

dalam Subagyo dan Olivia, 2012).

Hayn (1995) berhasil membuktikan

bahwa bahwa terdapat hubungan

yang kuat antara return dengan

tingkat laba (net income), yakni naik turunnya laba akan berpengaruh

terhadap naik turunnya return saham

secara searah.

Teori Keagenan

Terpisahnya fungsi pengelolaan

dan fungsi kepemilikan ini disebabkan

karena principal memiliki keterbatasan

kemampuan dalam pengelolaan

perusahaan yang mengakibatkan

terjadinya asimetri informasi, dimana

agent lebih mengetahui informasi

internal dan prospek perusahaan di

masa yang akan datang dibandingkan

principal dan pihak berkepentingan

lain (Priantinah, 2008). Hal ini dapat

mengakibatkan munculnya konflik

kepentingan diantara keduanya.

Manajemen berkemungkinan untuk

tidak bekerja mewakili kepentingan

principal dan lebih mengutamakan

kepentingan pribadinya dengan

memaksimalkan utilitas subjektif

mereka (Rahmawati, 2012:153).

Masalah ini dapat mempengaruhi

kualitas dari laba yang dilaporkan

perusahaan karena, agent cenderung

menyusun laporan keuangan

berdasarkan kepentingannya dan

mengabaikan kepentingan investor

(principal).

METODE

Jenis penelitian ini merupakan

penelitian asosiatif kausal dan

kuantitatif, sebab penelitian ini

bertujuan untuk mencari

hubungan/pengaruh dari dua variabel

atau lebih atau antara satu variabel

dengan variabel yang lain (Sugiyono,

2001:7). Sumber data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah data

sekunder dari perusahaan

manufaktur yang sudah go public dan

terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

(7)

1. Laporan keuangan tahunan

perusahaan yang didapat

melalui BEI.

2. Harga penutupan saham

(closing price) masing-masing

sekuritas perusahaan dan

harga penutupan saham

gabungan pasar (IHSG).

3. Data yang diperoleh

dari Indonesian Capital Market

Electronic Library, berupa waktu

publikasi laporan keuangan.

Teknik pengumpulan data yang

digunakan adalah teknik

dokumentasi. Populasi penelitian

adalah semua perusahaan

manufaktur yang go public terdaftar di

BEI untuk periode 2013-2015 yakni

berjumlah 143 perusahaan publik.

Pemilihan sampel pada penelitian ini

dilakukan dengan menggunakan

teknik purposive sampling. Adapun

kriteria yang digunakan dalam

memilih sampel antara lain:

1. Perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI yang tidak

mengalami delisting sejak

Januari 2012 sampai Desember

2015.

2. Menerbitkan laporan keuangan

yang sudah diaudit oleh KAP

per 31 Desember setiap

tahunnya selama tahun

2012-2015.

3. Laporan keuangan memiliki

data keuangan lengkap dan

informasi yang konsisten

(mencantumkan komposisi

komisaris independen, jumlah

anggota komite audit, laporan

auditor independen) terutama

tentang variabel yang diteliti

serta menggunakan mata uang

rupiah dalam laporan

keuangannya selama tahun

2012-2015.

4. Perusahaan manufaktur yang

secara konsisten mendapatkan

laba dari tahun ke tahun

selama tahun 2012-2015.

5. Perusahaan manufaktur yang

memiliki harga penutupan

saham (closing price) pada

periode jendela dan memiliki

tanggal publikasi laporan

keuangan dari tahun

2013-2015. Berdasarkan kriteria

tersebut, sampel penelitian ini

sebanyak 50 perusahaan.

Variabel dependen penelitian ini

adalah kualitas laba yang diukur

dari reaksi pasar. Kualitas laba

dapat diindikasikan sebagai

kemampuan informasi laba

memberikan respon kepada pasar

sehingga kualitas laba pada

penelitian ini diproksi dengan

Earnings Response Coefficients

(8)

penelitian ini dijadikan menjadi

satu periode yaitu periode

2013-2015. Hal ini disebabkan dalam hal

menghitung koefisien regresi ERC

tidak bisa memakai data satu tahun

penelitian saja, tetapi lebih dari

satu tahun (Delvira dan Nelvirita,

2013). ERC dihitung melalui 3 (tiga)

tahap perhitungan:

1. Cummulative Abnormal

Return(CAR)

Perhitungan Akumulasi

Return Tidak Normal (ARTN)

untuk masing-masing

perusahaan merupakan

akumulasi dari abnormal return

selama periode jendela selama

11 hari yakni 5 hari sebelum

waktu publikasi laporan

keuangan, 1 hari waktu

publikasi laporan keuangan, 5

hari sesudah waktu publikasi

laporan keuangan. Data yang

digunakan dari variabel ini

adalah closing price sekuritas dan IHSG. CAR atau ARTN ini

dapat dihitung dengan

menggunakan rumus berikut

ini (Jogiyanto, 2015:663):

Keterangan:

ARTNi.t : ARTN yang

diakumulasi dari

return tidak normal

(RTN) sekuritas ke-i

mulai hari awal

periode peristiwa (t5)

sampai hari ke-t.

RTNi.a : Return tidak normal

(abnormal return)

untuk sekuritas ke-i

pada hari ke-a,

yaitu mulai t5 (hari

awal periode

jendela) sampai hari

ke-t.

Untuk menentukan return

tidak normal, digunakan selisih

antara return sesungguhnya

yang terjadi dengan return

pasar. Dalam penelitian ini

return tidak normal dihitung

menggunakan model sesuaian

pasar (Sowardjono, 2014:492).

Keterangan:

RTNi.t : Return tidak normal

sekuritas ke-I pada

periode peristiwa

ke-t.

Ri.t : Return sesungguhnya

yang terjadi untuk

sekuritas ke-i

(9)

Rm.t: Return pasar (market)

pada periode peristiwa

ke-t.

Untuk memperoleh data return

tidak normal, terlebih dahulu

harus mencari returnsaham harian

danreturnpasar harian.

1) Return saham harian

dihitung dengan rumus:

Keterangan :

Ri.t = Return saham

perusahaan i

pada hari t.

Pit = Harga

penutupan saham i

pada hari t .

Pit-1 = Harga penutupan

saham i pada hari

t-1.

2) Return pasar harian dihitung

sebagai berikut:

Keterangan:

Rm.t = Return pasar

harian.

IHSGt= Indeks Harga Saham

Gabungan pada hari t.

IHSGt-1 = Indeks Harga

Saham Gabungan pada

hari t-1.

2.Unexpected Earnings (UE)

Unexpected earnings diukur

menggunakan pengukuran laba

per lembar saham (Moradi et al.,

2010):

Keterangan:

UEi.t = Unexpected

earnings perusahaan

i pada periode t.

EPSt = Laba per saham

perusahaan i pada

periode t.

EPSt-1 = Laba akuntansi

perusahaan i pada

periode t-1.

3.Earnings Response Coefficient

(ERC)

ERC diestimasi dari slope β

melalui regresi linier sederhana

anatara CAR dan UE untuk

tiap-tiap perusahaan (Teets dan

Wesley, 1996):

CARi.t = a + βUEi.t+ εi.t

β =slope koefisien ERC

Variabel independen dalam

penelitian ini adalah Persistensi

Laba (X1). Persistensi laba diukur

menggunakan koefisien (slope)

regresi linier sederhana antara laba

akuntansi periode berjalan

(sekarang) dengan laba akuntansi

periode sebelumnya. Dengan

(10)

Ei.t = β0+ β1Ei.t-1+ εi.t

β1 = slope koefisien

Persistensi Laba

Keterangan :

Ei.t = Laba akuntansi setelah

pajak perusahaan i pada

tahun t

Ei.t-1 = Laba akuntansi setelah

pajak perusahaan i sebelum

tahun t

β1 = Persistensi laba akuntansi

(slope)

Komisaris Independen (X2), yang

diukur dengan persentase jumlah

komisaris independen terhadap

jumlah total komisaris yang ada

dalam susunan dewan komisaris

perusahaan. Ukuran Komite Audit

(X3) diukur dengan jumlah dari

anggota komite audit perusahaan.

Kualitas Audit (X4), dalam penelitian

ini diukur dengan menggunakan

ukuran/reputasi kantor akuntan

publik (KAP). Ukuran KAP

menggunakan pengukuran variabel

dummy, auditor independen

perusahaan yang menggunakan jasa

KAP Big Four atau terafiliasi dengan

KAP Big Four diberi nilai 1,

sedangkan KAP Non Big Four diberi

nilai 0.

Penelitian ini menguji hipotesis

dengan menggunakan analisis

statistik deskriptif, uji asumsi klasik,

dan analisis regresi berganda

menggunakan program SPSS

(Statistical Package for Social

Sciences).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengujian model regresi

pada penelitian ini disajikan pada

tabel berikut:

Tabel 1. Hasil Uji Signifikansi

Parameter Parsial (Uji Statistik t)

Coeffisients

Hipotesis 1 (H1) menyatakan

bahwa persistensi laba memiliki

pengaruh positif yang signifikan

terhadap kualitas laba. Berdasarkan

hasil pengujian diketahui persistensi

laba (X1) memiliki thitung sebesar -1,140

< ttabel. 2,023 dengan nilai signifikansi

(p-value) 0,253 > 0,05 dan nilai

koefisien β sebesar -0,022 dengan

arah negatif. Dengan demikian thitung <

ttabel dan nilai signifikansi (p-value) >

alpha (α) maka, H0 diterima dan HA

ditolak (koefisien regresi tidak

(11)

persistensi laba memiliki pengaruh

negatif yang tidak signifikan atau

tidak berpengaruh positif terhadap

Kualitas Laba. Sehingga dapat

disimpulkan H1ditolak.

Hasil penelitian ini

menunjukkan persistensi laba

berpengaruh negatif namun tidak

signifikan atau tidak berpengaruh

positif terhadap kualitas laba

perusahaan. Hasil penelitian ini tidak

mendukung pernyataan Scott

(2009:155) yang menyatakan bahwa

persistensi laba mencerminkan

kualitas laba perusahaan yang

menunjukkan bahwa semakin

persisten laba yang diperoleh

perusahaan tersebut maka, semakin

besar laba yang dapat diharapkan

dimasa yang akan datang oleh

investor. Karena, reaksi investor lebih

tinggi terhadap informasi yang

diharapkan konsisten dalam jangka

panjang. Hasil penelitian ini sejalan

dengan penelitian terdahulu oleh Ali

dan Zarowin (1992), Romasari (2013),

Widayanti dkk (2014), dan Afni (2014)

yang menemukan bahwa persistensi

laba tidak berpengaruh positif

terhadap Kualitas Laba (ERC).

Tidak berpengaruhnya

persistensi laba secara positif terhadap

kualitas laba pada penelitian ini

kemungkinan disebabkan; pertama,

pengukuran persistensi laba milik

Kormendi dan Lipe (1987) yang

digunakan pada penelitian ini kurang

dapat menggambarkan nilai

persistensi laba yang sesungguhnya.

Beberapa perusahaan dalam

penelitian ini memperoleh penurunan

laba dari tahun ke tahun secara

signifikan selama periode penelitian

namun, memperoleh nilai persistensi

laba yang tinggi. Hal ini, dapat

menyebabkan bias hasil penelitian

sehingga nilai persistensi laba menjadi

kurang akurat dalam menggambarkan

nilai kualitas laba. Kedua, perusahaan

dengan nilai persistensi laba yang

tinggi cenderung memiliki kualitas

laba (ERC) yang rendah. Ali dan

Zarowin (1992) menyatakan bahwa

tidak berpengaruhnya persistensi laba

terhadap ERC, disebabkan oleh

adanya komponen-komponen

transitory. Banyaknya komponen

transitory hanya akan berpengaruh

terhadap laba saat ini yang

menyebabkan laba menjadi meningkat

secara signifikan akan tetapi tidak

memengaruhi laba di masa datang.

Hal ini dapat menyebabkan fluktuasi

peningkatan dan penurunan laba

secara signifikan. Banyaknya

komponen transitory dalam laba

menyebabkan nilai ERC menjadi

terlalu rendah. Karena, laba yang

mengandung banyak komponen

(12)

pengukur ERC. Afni (2014)

menyatakan bahwa adakalanya

perusahaan memperoleh kenaikan

laba dalam suatu periode namun pada

periode berikutnya memperoleh

penurunan laba yang signifikan. Hal

ini, dapat menyebabkan laba

perusahaan menjadi kurang persisten.

Umumnya, laba seperti ini kurang

direspon baik oleh investor yang

menyebabkan rendahnya nilai kualitas

laba perusahaan. Perusahaan dengan

nilai persistensi laba yang tinggi

cenderung memiliki kualitas laba

(ERC) yang rendah (Romasari, 2013).

Hal ini, menunjukkan bahwa selain

investor tidak hanya menjadikan

persistensi laba sebagai dasar

keputusan investasinya juga laba

kurang informatif bagi investor untuk

pengambilan keputusan sehingga

investor cenderung tidak reaktif atas

pengumuman laba. Hal lain yang

menyebabkan laba kurang informatif

adalah banyaknya komponen

transitory laba yang hanya akan

meningkatkan laba pada suatu

periode saja namun tidak permanen

sehingga persistensi laba rendah dan

fluktuatif.

Dari tahun ke tahun laba

kehilangan relevansi nilainya sehingga

investor tidak lagi menggunakan

angka laba sebagai satu-satunya

dasar keputusan investasi

(Rahmawati, 2005), namun juga

mempertimbangkan aspek lain

(Imroatussolihah, 2013). Oleh karena

itu, persistensi laba yang tinggi belum

tentu direspon positif oleh investor.

Hipotesis 2 (H2) menyatakan

bahwa komisaris independen memiliki

pengaruh positif yang signifikan

terhadap kualitas laba. Berdasarkan

hasil pengujian diperoleh komisaris

independen (X2) memiliki thitung sebesar

-1,749 < ttabel. 2,023 dengan nilai

signifikansi (p-value) 0,072 > 0,05 dan

nilai koefisien β sebesar -0,626 dengan

arah negatif. Dengan demikian thitung <

ttabel dan nilai signifikansi (p-value) >

alpha (α) maka, H0 diterima dan HA

ditolak (koefisien regresi tidak

signifikan). Ini berarti bahwa

komisaris independen memiliki

pengaruh negatif yang tidak signifikan

atau tidak berpengaruh positif

terhadap kualitas laba. Sehingga

dapat disimpulkan H2ditolak.

Hal ini, dapat diartikan bahwa

besarnya proporsi komisaris

independen berpengaruh negatif

namun tidak signifikan atau tidak

berpengaruh positif terhadap kualitas

laba perusahaan. Hasil penelitian ini

sejalan dengan Rosdini (2010) dan

Susanti dkk (2010) yang menemukan

bahwa proporsi komisaris independen

memiliki pengaruh negatif yang tidak

(13)

terhadap kualitas laba yang diukur

dengan ERC.

Tidak berpengaruhnya

komisaris independen secara positif

terhadap kualitas laba pada penelitian

ini disebabkan, perusahaan yang

memiliki proporsi komisaris

independen yang tinggi memiliki nilai

ERC yang rendah. Hal ini dibuktikan

dari lemahnya respon pasar yang

tercermin dari kecilnya nilai ERC

perusahaan yang memiliki proporsi

komisaris independen yang tinggi,

yang berarti bahwa investor tidak

mempertimbangkan besarnya proporsi

komisaris independen sebagai dasar

keputusan investasinya.

Banyak perusahaan

menerapkan mekanisme corporate

governance karena dorongan regulasi

dan menghindari sanksi yang ada

dibandingkan yang menganggap

prinsip ini sebagai bagian dari budaya

perusahaan. Dalam arti lain, investor

beranggapan perusahaan hanya

sekedar memenuhi regulasi dan tidak

menjadikan prinsip corporate

governance dalam hal ini proporsi

komisaris independen sebagai

mekanisme pengawasan baik terhadap

kualitas laporan keuangan terutama

informasi laba serta pengawasan

terhadap hak-hak investor selaku

stakeholder (Susanti dkk, 2010).

Investor dalam merespon laba suatu

perusahaan tidak memperhatikan

komposisi jumlah komisaris

independen yang berada dalam

struktur perusahaan (Rosdini, 2010).

Sehingga respon pasar terhadap

mekanisme ini cenderung lemah yang

tercermin dari kecilnya nilai ERC.

Hipotesis 3 (H3) menyatakan

bahwa ukuran komite audit memiliki

pengaruh positif yang signifikan

terhadap Kualitas Laba. Hasil

pengujian menunjukkan bahwa

ukuran komite audit (X3) memiliki

thitung sebesar 1,154 < ttabel. 2,023

dengan nilai signifikansi (p-value)

0,263 > 0,05 dan nilai koefisien β

sebesar 0,165 dengan arah positif.

Dengan demikian thitung < ttabel dan

nilai signifikansi (p-value) > alpha (α)

maka, H0 diterima dan HA ditolak

(koefisien regresi tidak signifikan). Ini

berarti bahwa ukuran komite audit

tidak memiliki pengaruh positif yang

signifikan terhadap kualitas laba.

Sehingga dapat disimpulkan H3

ditolak.

Tidak signifikannya pengaruh

ukuran komite audit terhadap kualitas

laba yang diproksi dengan reaksi

pasar atas pengumuman laba (ERC)

pada penelitian ini dikarenakan,

pembentukan keanggotaan komite

audit hanya sekedar memenuhi

peraturan yang dipersyaratkan

(14)

jumlah komite audit yang tidak variatif

dari perusahaan sampel dan sesuai

dengan yang dipersyaratkan oleh OJK

yakni minimal beranggotakan 3 (tiga)

orang. Keberadaan komite audit pada

perusahaan tidak berkontribusi dalam

meningkatkan kualitas laba yang

diukur dengan ERC (Rosdini, 2010).

Sehingga disimpulkan ukuran komite

audit belum dapat meningkatkan

persepsi kualitas laba perusahaan

dimata investor yang tercermin dari

lemahnya reaksi pasar atas

mekanisme ini.

Hipotesis 4 (H4) menyatakan

bahwa kualitas audit memiliki

pengaruh positif yang signifikan

terhadap kualitas laba. Hasil

pengujian menunjukkan kualitas

audit (X4) memiliki thitung sebesar 0,114

< ttabel. 2,023 dengan nilai signifikansi

(p-value) 0,910 > 0,05 dan nilai

koefisien β sebesar 0,006 dengan arah

positif. Dengan demikian thitung < ttabel

dan nilai signifikansi (p-value) > alpha

(α) maka, H0 diterima dan HA ditolak

(koefisien regresi tidak signifikan). Ini

berarti bahwa kualitas audit tidak

memiliki pengaruh positif yang

signifikan terhadap kualitas laba.

Sehingga dapat disimpulkan H4

ditolak.

Tidak signifikannya pengaruh

kualitas audit terhadap kualitas laba

yang diproksi dengan reaksi pasar

atas pengumuman laba (ERC) pada

penelitian ini, dikarenakan kecilnya

jumlah sampel perusahaan yang

diaudit oleh KAP Big Four

dibandingkan dengan jumlah sampel

perusahaan yang diaudit oleh KAP non

Big Four. Ginting (2014) juga

menemukan bahwa perusahaan yang

diaudit oleh KAP Big Four lebih sedikit

dibandingkan perusahaan yang

diaudit oleh KAP non Big Four dan

menemukan bahwa perusahaan

manufaktur di Indonesia lebih banyak

diaudit oleh auditor non Big Four.

Terlebih baru-baru ini ditetapkan

regulasi pemerintah yang mewajibkan

rotasi audit serta pembinaan dan

pengawasan lainnya seperti kewajiban

mengikuti Pendidikan Profesional

Berkelanjutan (PPL) dan pemeriksaan

regular untuk ketaatan terhadap

Standar Profesional Akuntan Publik

(SPAP). Adanya peningkatan regulasi

ini dapat membangun kepercayaan

yang lebih tinggi bagi investor

terhadap informasi yang disajikan

dalam laporan keuangan sehingga

investor tidak merespon secara

berbeda antara laporan keuangan

yang diaudit oleh KAP Big Four atau

KAP non Big Four.

Mayangsari (2004) menyatakan

tidak terdapat perbedaan respon pasar

antara laporan keuangan yang diaudit

(15)

yang diaudit oleh auditor nonspesialis.

Hal ini disebabkan, investor hanya

memperhatikan nilai laba (laba

per-lembar saham) tanpa peduli ketepatan

angka laba tersebut. Sehingga kualitas

audit dalam hal ini reputasi KAP Big

Four tidak mampu meningkatkan

persepsi kualitas laba dimata investor

yang mengakibatkan pasar tidak

merespon mekanisme ini secara

reaktif yang tercermin dari rendahnya

nilai ERC.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian

menunjukkan bahwa persisten laba

berpengaruh negatif namun tidak

signifikan terhadap kualitas laba.

Sedangkan komisaris independen

berpengaruh negatif namun tidak

signifikan terhadap kualitas laba.

Penelitian juga tidak berhasil

membuktikan ukuran komite audit

dan kualitas audit tidak berpengaruh

signifikan positif terhadap kualitas

laba. Hal ini kemungkinan

dikarenakan, pembentukan

keanggotaan komite audit hanya

sekedar memenuhi peraturan yang

dipersyaratkan OJK saja.

Keterbatasan dalam penelitian

ini, yaitu mengukur persistensi laba

menggunakan pengukuran Kormendi

dan Lipe (1987) kurang dapat

menggambarkan nilai persistensi laba

yang sesungguhnya. Hal ini,

kemungkinan dapat menyebabkan

bias hasil penelitian sehingga nilai

persistensi laba menjadi kurang

akurat dalam menggambarkan variasi

nilai kualitas laba. Penelitian yang

akan datang sebaiknya menggunakan

pengukuran (proksi) persistensi laba

lain, yang lebih mampu

mencerminkan nilai persistensi laba

yang sesungguhnya.

DAFTAR PUSTAKA

Afni, S. M. 2014. Pengaruh Persistensi Laba, Alokasi Pajak Antar Periode, Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan Laba Dan Profitabilitas Terhadap Kualitas Laba (Studi Empiris pada

Perusahaan Manufaktur yang

Terdaftar di BEI 2010-2012). Jurnal Dipublikasikan. Universitas Riau. Pekanbaru.

Aji, A. B. 2012. Analisis Pengaruh Karakteristik Komite Audit terhadap Kualitas Laba Dan Manajemen Laba di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Dipublikasikan. Universitas Diponegoro. Semarang.

Ali, A. dan P. Zarowin. 1992. The Role of Earning Level in Annual Earning-Return Studies. Journal of Accounting and Economics 30(2): 6-10.

Anderson, K. L., D. N. Deli, dan S. L. Gillan. 2003. Boards of Directors, Audit Committees, and The Information Content of Earnings. Working Paper Series. University of Delaware.

(16)

Financial Statement Fraud. The Accounting Review71(4): 443-465.

Barnhart, W.S., dan S. Rosenstein.

1998. Board Composition,

Managerial Ownership, And Firm Performance: An Empirical Analysis. The Financial Review33(4): 1-16.

Beaver, W.H., R. Clarke, dan W.F. Wright. 1979. The Association Between Unsytematic Security Return and The Magnitude of Earnings Forecast Error. Journal of Accounting Research 17(20): 316.340.

Boediono, S.B. Gideon. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme

Corporate Governance dan Dampak

Manajemen Laba Dengan

Menggunakan Analisis Jalur.

Simposium Nasional Akuntansi VIII Solo.

Collins, W.A., W.S. Hopwood, dan J.C. Mc.Keown. 1984. The Predictability of Interim Earnings over Alternative Quarters. Journal of Accounting Research 22(2): 467-479.

Collins, D. W., dan W.K. Salatka. 1993. Noisy Accounting Earnings Signals and Earnings Response Coefficients: The Case of Foreign Currency Accounting. Contemporary Accounting Research10(1): 119-159.

DeAngelo, L.E. 1981. Auditor Size and Audit Quality. Journal of Accounting and Economics3(3): 183-199.

Delvira, M. dan Nelvirita. 2013.

Pengaruh Risiko Sistematik,

Leverage dan Persistensi Laba

terhadap Earnings Response

Coefficient (ERC). Journal Warwick Research Archives1(1): 129-153.

Easton, P. D. dan M. Zmijewski. 1989.

Cross-sectional Variation in the Stock Market Response to Accounting

Earnings Announcements. Journal of Accounting and Economics 11(2-3): 117-141.

Febiani, Siska. 2012. Konservatisme Akuntansi, Corporate Governance, dan Kualitas Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di BEI). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi1(2): 85-91.

Ginting, E. K. P. 2014. Pengaruh Kualitas Audit dan Prediktibilitas Laba Akuntansi terhadap Earnings Response Coefficient (Studi Empiris

Perusahaan Manufaktur yang

Terdaftar di BEI Tahun 2008-2012).

Artikel Dipublikasikan. Universitas Negeri Padang.

Hapsari, D. 2014. Pengaruh Risiko Sistematik, Persistensi Laba, dan Alokasi Pajak Antar Periode

terhadap Earnings Response

Coefficient (ERC) (Studi Empiris

Perusahaan Manufaktur Yang

Terdaftar Di Bei 2009-2012). Jurnal Dipublikasikan. Universitas Negeri Padang. Padang.

Hartono. Jogiyanto. 2015. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kesepuluh. Cetakan Pertama. BPFE. Yogyakarta.

Hayn, C. 1995. The Information Content Of Losses. Journal of Accounting and Economics 20: 125-153.

Imroatussolihah, Ely. 2013. Pengaruh

Risiko, Leverage, Peluang

Pertumbuhan, Persistensi Laba dan Kualitas Tanggungjawab Sosial

Perusahaan terhadap Earnings

Response Coefficient pada Perusahaan High Profile. Jurnal Ilmiah Manajemen1(1): 75-87.

Kormendi, R., dan R. Lipe. 1987.

(17)

Persistence, and Stock Returns. Journal of Business 60(3): 323-345.

Kusumaningtyas, M. 2014. Pengaruh

Ukuran Komite Audit dan

Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Laba. Jurnal Prestasi

13(1): 82-96.

Marisatusholekha. 2015. Pengaruh Komisaris Independen, Reputasi Kap, Persistensi Laba, Dan Struktur Modal Terhadap Kualitas Laba.

Jurnal Bina Ekonomi 19(1): 53-70.

Mayangsari, S. 2004. Bukti Empiris Pengaruh Spesialisasi Industri

Auditor terhadap Earnings

Response Coefficient. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 7(2): 154-178.

Pearce, J. dan S. A. Zahra. 1992.

Board Composition from a Staretgic Contigensy Perspective. Journal of Management Studies29(4): 411-438.

Romasari, Sonya. 2013. Pengaruh Persistensi Laba, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, dan Alokasi Pajak Antar Periode terhadap

Kualitas Laba. Jurnal

Dipublikasikan. Universitas Negeri Padang. Padang.

Rahmawati. 2005. Relevansi Nilai

Earnings dengan Pendekatan Terintegrasi: Hubungan Nonlinier.

Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia9(1): 45-49.

---. 2012. Teori Akuntansi Keuangan. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Riyatno. 2007. Pengaruh Ukuran Kantor Akuntan Publik terhadap

Earnings Response Coefficients.

Jurnal Keuangan dan Bisnis 5(2): 148-162.

Raharjo, A. S. dan Daljono. 2014.

Pengaruh Ukuran Dewan

Komisaris, Direksi, Komisaris

Independen, Struktur Kepemilikan, Dan Indeks Corporate Governance

Terhadap Asimetri Informasi. Jurnal Dipublikasikan. Universitas Diponegoro. Semarang.

Reynolds, J. K. dan J. R. Francis. 2001. Does Size Matter? The Influence of Large Clients on Office-level Auditor Reporting Decisions. Journal of Accounting and Economics

30(3): 375-400.

Rosdini, D. 2010. The Influence of Investment Opportunity Set and Corporate Governance to Earnings Quality and Firm Value. Jurnal Akuntansi dan Keuangan5(2).

Scott, W. R., 2009. Financial

Accounting Theory. Fifth Edition. Prentice Hall. Canada.

Susanti, A. N., Rahmawati, dan A. Aryani. 2010. Analisis Pengaruh Mekanisme Corporate Governance

terhadap Nilai Perusahaan dengan Kualitas Laba sebagai Variabel

Intervening pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2007.

Simposium Nasional Keuangan 1.

Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

Suwardjono. 2014. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi Ketiga. Cetakan Kedelapan. BPFE. Yogyakarta.

Subagyo dan C. N. Olivia. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi

Earnings Response Coefficient (ERC).Jurnal Akuntansi12(1).

Saptiti, A. 2013. Pengaruh

Implementasi Peran Komite Audit dan Enterprise Risk Management

(18)

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi.Alfabeta. Bandung.

Teoh, S.H., dan T.J. Wong. 1993.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Perbedaan laba fiskal berpengaruh negatif terhadap persistensi laba sedangkan arus kas operasi dan kepemilikan

Pengaruh Pengumuman Pengangkatan Komisaris Independen Terhadap Return Saham di Bursa Efek Jakarta (Studi Pada 51 Perusahaan Manufaktur), Jurnal Riset Akuntansi, Manajemen dan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel leverage memiliki pengaruh terhadap manajemen laba, sedangkan variabel dewan komisaris independen, ukuran komite audit,

terhadap manajemen laba, Kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba, dan proposi dewan komisaris independen berpengaruh positif

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, (2) kepemilikan manajerial tidak berpengaruh

Hasil tabel 13 menunjukkan bahwa R Square sebesar 0,074 yang artinya bahwa variabel independen (komisaris independen, reputasi KAP, persistensi laba,

Pengaruh Dewan Komisaris, Komite Audit, Book-Tax Differences, Kualitas Audit, Kepemilikan Manajerial, dan Kepemilikan Institusional Terhadap..

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Roskha 2017 dan Mulyani 2018 yang menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba