• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Perbaikan Unit Warehouse Untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Perbaikan Unit Warehouse Untuk"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERBAIKAN UNIT WAREHOUSE UNTUK MEMINIMASI

PEMBOROSAN DENGAN WASTE ASSESSMENT MODEL

(Studi Kasus PT Pupuk Kujang)

Yosa Permata Shafira1, Dian Janari2

Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia1,2)

Jalan Kaliurang Km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55501 E-mail : [email protected]

ABSTRACT

Perkembangan industri kian tahun kian meningkat. Hal ini mengakibatkan perusahaan dituntut mengimbangi persaingan tersebut dengan melakukan improvement berkelanjutan. Salah satu konsep yang dapat digunakan dalam usaha meningkatkan improvement dengan mengeliminasi pemborosan-pemborosan yang tidak diperlukan adalah Lean Manufacturing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Waste yang tertinggi di Gudang Sparepart dan memberikan memberikan usulan perbaikan untuk sistem pergudangan menggunakan metode Waste Assessment Model. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil assessment berupa peringkat Waste yang didominasi oleh motion sebesar 19.02% dan inventory sebesar 18.93%. Selanjutnya berdasarkan hasil analisa penyebab timbulnya Waste dengan Fishbone didapati penyebab utama terjadinya Waste Inventory adalah dari faktor Man dan Management. Sedangkan penyebab utama terjadinya Waste Motion adalah dari Man dan Machine. Untuk pekomendasi perbaikan diusulkan berupa penambahan alat-alat pendukung kerja, pelaksanaan pendidikan pelatihan dan pengembangan kepegawaian dan penerapan 5s.

Keywords: Lean Manufacturing, Waste, Waste Assessment Model

1. PENDAHULUAN

Di tengah arus globalisasi dan tingginya persaingan membuat Perusahaan harus mampu mengadapai tantangan global, seperti meningkatkan inovasi produk dan jasa, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, serta perluasan area pemasaran. Hal ini perlu dilakukan untuk menambah nilai jual dan juga agar dapat bersaing dengan produk-produk asing yang mulai memasuki pasar Indonesia. Hal ini menuntut Perusahaan untuk selalu melakukan perbaikan dan peningkatan kinerjanya sehingga mampu berkembang lebih baik dan bersaing dengan kompetitor yang lainnya serta diharapkan dapat memberikan layanan yang terbaik agar tidak ditinggalkan oleh customer-nya (Misbah et al. 2015; Utama et al. 2016).

PT Pupuk Kujang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri pupuk nasional. Perusahaan melaksanakan kegiatan pengolahan (proses transformasi) bahan organik dan anorganik melalui proses kimia, serta berbagai kegiatan untuk mendukung

pertanian yang terintegrasi dengan kegiatan perdagangan, atau menghasilkan produk berupa barang dan/atau jasa yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi. Untuk memproduksi berbagai jenis pupuk terdapat beberapa departemen di dalam PT Pupuk Kujang, salah satunya adalah Departemen Material yang bertugas memesan, mengendalikan dan menerima serta merawat material yang dipesan oleh user. Dengan memperhatikan visi dan misi PT Pupuk Kujang diperlukan sebuah strategi yang dapat meningkatkan kualitas namun meminimumkan biaya yang dikeluarkan. Kinerja suatu perusahaan dinilai dari kemampuan suatu perusahaan untuk menciptakan proses yang efektif dan efisien. Untuk meningkatkan kinerja perusahaan, diperlukan perbaikan secara terus-menerus (Pujotomo & Armanda, 2011).

Salah satu konsep yang dapat digunakan dalam usaha mengeliminasi waste adalah

Lean Manufacturing. Menurut Vincent

(2)

untuk mengidentifikasi dan menghilangkan

waste atau non value-added activities melalui

perbaikan secara terus-menerus (continuous

improvement) dengan cara mengalirkan

produk dan informasi menggunakan sistem tarik (pull system) dari internal dan eksternal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan (Gaspersz & Fontana, 2007).

Peneliti akan memfokuskan penelitian pada lean manufacturing yang bertujuan untuk menganalisis perbaikan di gudang dalam rangka mengurangi pemborosan yang terjadi didalamnya dengan menggunakan metode Waste Assessment Model. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis Waste yang tertinggi di Gudang Sparepart dan memberikan memberikan usulan perbaikan untuk sistem pergudangan khususnya bagian

sparepart di Departemen Material PT Pupuk

Kujang.

1.1.Konsep Dasar Lean

Konsep lean manufacturing pertama kali dikenalkan oleh Taiichi Onho pada tahun 1950an dari Toyota yaitu Toyota Production

System atau Toyota Way didalamnya

berisikan tentang proses perbaikan secara berkelanjutan (continuous improvement) yang bertujuan untuk mengeliminasi kegiatan-kegiatan yang tidak menguntukan dana atau mendatangkan kerugian guna meningkatkan produktivitas. Menurut Vincent Gaspersz, lean manufacturing

merupakan suatu pendekatan sistemik dan sistematik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan Waste atau non value-added

activities melalui perbaikan secara

terus-menerus (continuous improvement) dengan cara mengalirkan produk dan informasi menggunakan sistem tarik (pull system) dari internal dan eksternal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan (Gaspersz & Fontana, 2007)

1.2.Pemborosan (Waste)

Tujuan utama system lean adalah mengurangi pemborosan (Waste). Waste

merupakan segala hal yang tidak bernilai

tambah. Waste dianggap sebagai suatu hal yang dapat menurunkan produktivitas dan mengurangi profit bagi perusahaan. Menurut Vincent Gaspersz (2007) menyatakan terdapat dua jenis Waste yaitu Type One and

Type Two Waste. Type One Waste adalah

segala aktivitas yang tidak bernilai tambah namun dibutuhkan dalam proses produksinya sehingga tidak dapat dihilangkan. Sedangkan

Type Two Waste adalah segala aktivitas yang

tidak bernilai tambah dan dapat dihilangkan dari proses produksi maka harus segera di identifikasi dan dihilangkan karena Waste

tipe ini akan menurunkan produktivitas perusahaan.

Terdapat tujuh jenis pemborosan yang didefinisikan oleh Shiego Shingo (Shingo, 1989) diantaranya sebagai berikut:

1) (O) Overproduction – memproduksi atau

menghadirkan barang melebihi kebutuhan

user sehingga menyebabkan kelebihan

inventory.

2) (I) Unnecessary Inventory – kelebihan

penyimpanan dan delay material maupun produk sehingga mengakibatkan peningkatan biaya dan penurunan kualitas pelayanan terhadap pelanggan.

3) (D) Defect – merupakan cacat baik berupa

kesalahan dokumentasi, permasalahan kualitas produk yang dihasilkan atau

delivery performance yang buruk.

4) (M) Unnecessary Motion – segala

pergerakan dari manusia atau mesin yang tidak menambah nilai terhadap produk tetapi hanya menambah biaya dan waktu. Atau keadaan tempat kerja yang kurang (tidak ergonomis) yang menyebabkan pekerja melakukan gerakan yang tidak perlu.

5) (T) Excessive Transportation – berupa

waktu, tenaga biaya dan aliran informasi dan atau material produk. Dapat dikatakan pula sebagai pemborosan yang terjadi karena tata letak (layout) yang buruk, pengorganisasian yang kurang tepat sehingga memerlukan pemindahan material.

6) (P) Inappropriate Processing –

(3)

diakibatkan karena kesalahan mempergunakan tools saat bekerja.

7) (W) Waiting – tidak beraktivitasnya

(menunggu) pekerja, informasi dan atau barang dalam waktu yang lama yang berdampak terhadap buruknya aliran proses dan bertambahnya lead times.

1.3.Waste Assesment Model (WAM)

Waste Assesment Model (WAM)

merupakan suatu model yang digunakan untuk memudahkan dan menyederhanakan proses pencarian permasalahan Waste. Waste

Assessment Model terdiri dari Seven Waste

Relationship, Waste Relationship Matrix dan

Waste Assessment Questionnaire.

1.3.1.Seven Waste Relationship (SWR)

Setiap waste memiliki hubungan satu sama lain, dimana hubungan ini disebabkan oleh pengaruh tiap waste dapat muncul secara langsung maupun tidak langsung. Seperti saat terjadi overproduction maka hal ini otomatis akan mempengaruhi unnecessary inventory.

Penjelasan keterkaitan antar waste dapat dilihat pada lampiran. Hubungan antar jenis

waste memiliki bobot yang berbeda-beda.

Maka dibutuhkan penilaian untuk mengetahui bobot dari setiap pola yang terjadi diantara

waste tersebut. Untuk menghitung kekuatan

waste relationship dikembangkan suatu

pengukuran dengan kuesioner. Hubungan antar waste yang satu dengan yang lainnya dapat disimbolkan dengan menggunakan huruf pertama pada tiap waste (Rawabdeh, 2005).

1.3.2.Waste Relationship Matrix (WRM)

WRM digunakan sebagai analisa pengukuran kriteria hubungan antar Waste

yang terjadi. WRM merupakan matriks yang terdiri dari baris dan kolom. Baris menunjukan pengaruh tiap Waste pada keenam tipe Waste lainnya. Kolom menunjukan Waste yang dipengaruhi oleh keenam Waste lainnya. Diagonal matriks menunjukan nilai hubungan yang tertinggi.

1.3.3.Waste Assesment Questionnaire (WAQ)

WAQ terdiri dari 68 pertanyaan yang berbeda, mewakili aktifitas, kondisi maupun tingkah laku yang dapat menghasilkan Waste. Pertanyaan ditandai dengan tulisan “From”,

artinya pertanyaan tersebut menjelaskan jenis

Waste yang ada saat ini yang dapat memicu

munculnya jenis Waste lainnya. Pertanyaan

lainnya ditandai dengan tulisan “TO”, artinya

pertanyaan tersebut menjelaskan tiap jenis

Waste yang ada saat ini bisa terjadi karena dipengaruhi jenis Waste lainnya. (Kurniawan, 2012)

2. METODE PENELITIAN

Tahapan penitian ini adalah sebagai berikut: Mulai

Pengolahan Data 1. Seven Waste Relationship

2. Waste Relationship Matrix

3. Waste Assessment Questionnaire

4. Fishbone Diagram

Analisis dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Selesai Pengumpulan Data

1. Data Primer: Wawancara dan Kuesioner

2. Data Sekunder: Literatur Pendukung Pembuatan Kuesioner

Studi Lapangan Studi Pustaka

Identifikasi Masalah 1. Perumusan Masalah

2. Tujuan Masalah 3. Batasan Masalah

Gambar 1. Flowchart Penelitian

Penelitian ini menggunakan Konsep Waste

Assesment Model dalam mengidentifikasi

(4)

Adapun tahapan dalam menganalisa pemborosan dengan Waste Assessment Model

adalah sebagai berikut:

2.1.Seven Waste Relationship

Perhitungan keterkaitan antar Waste

dilakukan secara diskusi dan wawancara dengan menggunakan kriteria pembobotan yang dikembangkan oleh Rawabdeh (2005) dan juga yang diadopsi oleh Daonil (2012). Tabulasi detail jawaban penilaian keterkaitan

Waste dapat dilihat seperti pada tabel 1.

2.2.Waste Relationship Matrix

Setelah didapatkan Seven Waste

Relationship pada tabel 4.5 selanjutnya dapat

dilanjutkan pada tahapan Waste Relationship

Matrix (WRM) dengan cara mengubah output

Seven Waste Relationship menjadikannya

sebagai input kedalam Waste Relationship Matrix.

2.3.Waste Assessment Quetionnaire

Nilai waste yang didapatkan dari WRM sebelumnya digunakan untuk penilaian awal WAQ berdasarkan jenis pertanyaan dan jenis

Waste nya. Pertanyaan dikategorikan ke

dalam 4 kelompok man, machine, material

dan method.

Pada penelitian kali ini daftar pertanyaan kuesioner berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu Rawabdeh (2005) dan Daonil (2012) dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan perusahaan saat ini. Sedangkan untuk penilaian skor Daonil (2012) menyataka skor untuk ketiga jenis pilihan jawaban kuesioner dibagi menjadi dua kategori yaitu:

a) Kategori A, jika jawaban Ya berarti diindikasikan adanya pemborosan, dimana bobot 1 jika Ya, 0.5 jika Sedang dan 0 jika Tidak.

b) Kategori B, jika jawaban Ya berarti diindikasikan tidak ada pemborosan yang terjadi, dimana bobot 0 jika Ya, 0.5 jika Sedang dan 1 jika Tidak.

Pada penelitian kali ini daftar pertanyaan kuesioner berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu Rawabdeh (2005) dan Daonil (2012)

dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan perusahaan saat ini.

WAQ memiliki delapan tahapan perhitungan skor Waste untuk mencapai peringkat Waste, yaitu antara lain:

1) Mengelompokkan dan menghitung jumlah pertanyaan kuesioner berdasarkan jenis pertanyaan.

2) Melakukan pembobotan awal untuk tiap jenis Waste pada tiap jenis pertanyaan kuesioner berdasarkan nilai bobot dari WRM.

3) Menghilangkan pengaruh variasi jumlah pertanyaan untuk tiap jenis pertanyaan dengan membagi bobot setiap baris dengan jumlah pertanyaan yang dikelompokkan (Ni) untuk setiap pertanyaan dengan menggunakan persamaan berikut (Rawabdeh, 2005):

� = ∑ .�

K = nomor pertanyaan (berkisar antara 1-68)

Ni = jumlah pertanyaan yang dikelompokkan

4) Menghitung jumlah skor (Sj) berdasarkan persamaan 3 dan frekuensi (Fj) dari munculnya nilai pada tiap kolom

waste dengan mengabaikan nilai 0 (nol).

�� = � − � dimana:

Fj = Frekuesi waste bukan 0 (frekuensi untuk Sj)

N = jumlah pertanyaan (68)

F0 =Frekuensi 0

5) Memasukkan nilai rata-rata dari jawaban (terlampir) dari hasil kuesioner ke dalam tiap bobot nilai di tabel dengan menggunakan persamaan berikut:

= ∑ � .� �

�= dimana:

(5)

XK = nilai dari jawaban tiap

pertanyaan kuesioner (1, 0.5, atau 0)

6) Menghitung jumlah skor (sj) berdasarkan persamaan 5 dan frekuensi (fj) untuk tiap nilai bobot pada kolom Waste.

�� = � − � dimana:

fj = Frekuesi waste bukan 0 (frekuensi untuk sj)

N = jumlah pertanyaan (68)

f0 =Frekuensi 0

7) Menghitung indikator awal untuk tiap

Waste (Yj) dengan menggunakan

persamaan berikut: (frekuensi untuk sj)

Fj = Frekuesi waste bukan 0 (frekuensi untuk Sj)

8) Menghitung nilai final Waste factor (Yjfinal) dengan memasukkan faktor probabilitas pengaruh antara jenis Waste

(Pj) berdasarkan total "from" dan "to" pada WRM. Memprosentasekan bentuk Yjfinal yang diperoleh sehingga bisa diketahui peringkat level dari masing-masing Waste. Yjfinal dapat dihasilkan dengan menggunakan persamaan berikut:

� ��� = � �

� ��� = � � � %� ��� � % ��

dimana:

Yjfinal = faktor akhir dari setiap jenis

Waste

Pj = probabilitas pengaruh antar

jenis Waste

%F romj = Persentas nilai From Waste

tertentu

%Toj = Persentas nilai To Waste

tertentu

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari tahap pengolahan data dapat disajikan dibawah ini. Pada Tabel 1 menunjukan tingkat keterkaitan antar waste:

Tabel 1. Tabulasi Keterkaitan Antar Waste

No. Tipe

Tahap selanjutnya didapatakan hasil

(6)

F/T O I D M T P W

Gambar 2. Waste Relationship Matrix

Selanjutnya dilakukan penyederhanaan matriks dengan cara dikonversikan kedalam bentuk angka untuk selanjutnya dapat diolah menjadi bentuk persentase (Rawabdeh 2005). Sehingga waste matrix value dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Waste Matrix Value

F/T O I D M T P W Skors %

(Utama, Dewi, & Mawarti, 2016)

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai from overproduction memiliki persentase yang tertinggi yaitu sebesar 19.33%. Hal ini mengartikan bahwa

overproduction memiliki pengaruh yang

cukup besar untuk menyebabkan terjadinya

waste yang lain. Sedangkan nilai to inventory

memiliki persentase yang tertinggi yaitu sebesar 21.01% Hal tersebut mengindikasikan bahwa waste inventory

paling banyak diakibatkan oleh waste yang lain.

Nilai waste yang didapatkan dari WRM sebelumnya digunakan untuk penilaian awal WAQ berdasarkan jenis pertanyaan dan jenis

Waste nya. Pertanyaan dikategorikan ke

dalam 4 kelompok man, machine, material

dan method. Tiap pertanyaan memiliki 3

pilihan jawaban yaitu Ya, Sedang, Tidak dan

masing-masing jawaban diberi bobot 1, 0.5, atau 0.

Hasil assessment berupa peringkat Waste

dapat dilihat pada tabel dan gambar dibawah ini :

Gambar 3. Rekapitulasi WAM Berdasarkan hasil yang ditunjukkan oleh grafik diatas, maka dapat diambil dua jenis

Waste tertinggi untuk kemudian dianalisa

yaitu inventory dan motion.

3.1.Analisa Penyebab Timbulnya Waste dengan Fishbone

Langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu melakukan analisa penyebab timbulnya

waste. Dalam tahap ini penulis membatasi

untuk waste yang akan dianalisa dan dilakukan rekomendasi perbaikan adalah

waste dengan presentase 2 terbesar saja.

Adapun rincian akar penyebab masalah waste

ditampilkan pada tabel 3. dibawah ini: Untuk mengetahui akar penyebab dari timbulnya Waste akan dianalisa dengan menggunakan fishbone diagram dibuat berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan beberapa pihak di unit gudang

sparepart. Berikut dijabarkan mengenai

analisa penyebab waste dapat didalam lampiran.

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui, penyebab utama terjadinya Waste Inventory

adalah dari faktor Man dan Management.

Pada faktor Man adalah kurangnya pengetahuan perlakuan material karyawan, hal ini dikarenakan pihak management tidak mempunyai agenda rutin untuk meng-update

(7)

lokasi yang tersedia dengan mengabaikan perlakuannya dan umur barangnya hal ini dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan atau memperpendek umur material tersebut.

Selanjutnya pada factor Management yang menjadi penyebab utamanya waste adalah tata letak yang tidak baik hal ini diakibatkan karena tidak menerapkan 5s secara berkelanjutan. Selain itu hal ini juga diakibatkan perencanaan inventory yang belum tepat mengakibatkan penambahan

waste inventory. Hal lainnya adalah overload

material hal ini dapat terjadi karena pihak

manajemen belum mengeluarkan peraturan tentang mengeluarkan barang yang tidak terpakai dari dalam gudang sehingga didalam gudang masih terdapat barang-barang yang tidak terpakai yang bahkan sudah berusia sangat tua dan renta akan kerusakan.

Selanjutnya penyebab utama terjadinya

Waste Motion adalah dari Man dan Machine.

Pada faktor Man penyebab terjadinya waste dikarenakan lamanya proses pengambilan barang. Setelah ditelusuri penyebab lamanya dikarenakan kurangnya penerangan dan kebiasaan karyawan yang tidak menempatkan barang pada tempatnya. Selain itu karyawan

pun belum optimal melaksanakan perilaku kerja aman dan tertib sebagaimana contohnya adalah tidak menggunakan tangga untuk mengambil barang justru lebih memilih memanjat rak tersebut serta penerapan FIFO yang belum sempurna. Akar penyebab meningkatnya waste motion adalah karena dalam penulisan label informasi yang dimuat kurang lengkap dan kurang terperinci. Sedangkan pada factor Machine penyebab utamnya adalah tangga yang tidak mengakomodasi kegiatan pekerja disebabkan jumlah tangga yang tersedia di gudang sangat terbatas dan tidak memenuhi kebutuhan setiap gang rak. Tangga yang disediakan tidak dikhususkan untuk material yang mudah pecah dan masih dilakukan pengangkutan secara manual.

3.2.Usulan Perbaikan

Langkah selanjutnya yang dilakukan yaitu memberikan rekomendasi perbaikan. Rekomendasi perbaikan yang akan diberikan berdasarkan analisa dari Waste assessment

model dan fishbone diagram dengan

peringkat 2 terbesar adapun rekomendasi perbaikan antara lain

1) Penambahan Fasilitas

No Jenis Waste Kategori Penyebab Masalah

Lamanya proses pengambilan barang oleh pekerja Informasi yang dituliskan dalam pelabelan tidak lengkap Belum optimalnya dalam melaksanakan perilaku kerja aman dan tertib

Ketidak efektifan kartu stok di Gudang Sparepart Rendahnya material handling

Keadaan dalam gudang panas dikarenakan kurangnya sirkulasi udara

Kurangnya pencahayaan di dalam rak pergudangan Mesin tidak bekerja secara maksimal

Tangga tidak mengakomodasi seluruh kegiatan pekerja Tidak menerapkan 5s secara konsisten dan berkelanjutan Tata letak tidak baik

Tools Rak tidak sesuai untuk sistem FIFO Overload materia;

Tata letak tidak baik

Belum menerapkan system Kanban Pelaksanaan sistem FIFO belum sempurna Rendahnya material handling

Kurangnya pengetahuan perlakuan material 2 Inventory

Management

Method

Man

Tabel 3. Penyebab Timbulnya Waste

1 Motion

Man

Method

Environment

Machine

(8)

Fasilitas kerja yang ditambahkan antara lain seperti yang tertera pada tabel 4.: a. Lampu

Dengan adanya penambahan lampu diharapkan pencahayaan di bagian gudang menjadi maksimal, sehingga operator dapat bekerja dengan lebih baik.

b. Armada Pengiriman

Dengan ditambahkannya armada pengiriman diharapkan dapat meminimalkan days physical stock di area gudang produk jadi sehingga tidak terjadi penumpukan produk di area gudang produk jadi dan aliran material berjalan lebih seimbang.

c. Kipas

Kipas didalam pergudangan digunakan untuk membuat aliran sirkulasi udara lebih lancar. Hal ini dikarenakan ketika berada didalam gudang suhu lebih panas sehingga menyebabkan pekerja melakukan gerakan (motion) yang tidak diperlukan.

d. Rak Pendukung FIFO

Rak pendukung fifo berguna ketika suatu material yang ,memiliki umur ekonomis dan batas kadaluwarsa dapat digunakan terlebih dahulu. Rak ini merupakan rak yang bentuknya mirng tidak lurus seperti biasanya untuk mempermudah proses penyimpanan dan pengambilan barang.

e. Scissor Lift Electric Work Platform Alat ini berguna sebagai pengganti tangga dorong yang lebih modern dan mempermudah pekerja. Sebagaimana pekerja sering melakukan pemanjatan rak, dengan alat ini pekerja tidak lagi melakukan hal seperti itu yang dapat membahayakan keselamatannya. Benda ini bergerak secara vertikal naik turun keatas serta mampu membawa beban berat sehingga proses material handling dapat berjalan dengan tepat. 2) Pelaksanaan Pendidikan Pelatihan dan

Pengembangan Kepegawaian

Pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya aparatur,

terutama untuk peningkatan profesionalime yang berkaitan dengan, keterampilan administrasi dan keterampilan manajemen. Untuk meningkatkan kualitas kemampuan yang menyangkut kemampuan kerja maka diperlukan pendidikan dan pelatihan yang dilakukan secara berkala.

Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagai ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin. Yaitu latihan rnenyiapkan para karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang. Sedangkan pengembangan

(Development) mempunyai ruang

lingkup lebih luas dalam upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dlan sifat-sifat kepribadian. (Handoko, 2001)

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan potensi SDM adalah dengan cara pendidikan dan pelatihan. Dirasakan sangat tepat apabila manajemen Departemen Material melaksanakan Training

ataupun pelatihan-pelatihan secara berkala mengenai perlakuan barang-barang di gudang. Hal ini berguna untuk menambah wawasan pekerja serta meminimalisir baik waste ataupu kecelakaan kerja.

3) Penerapan 5s

5S berisikan Seiri Seiton Seiso Seiketsu

Shitsuke. Fokus utama dari 5S adalah

menghilangkan atau penghapusan

Waste pada lingkungan kerja yang

(9)

pembersihan, memelihara kondisi yang matap, dan memelihara kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.

4. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan penelitian tersebut adalah:

1) Hasil assessment berupa peringkat

Waste secara berurutan dari terbesar

sampai terkecil adalah motion sebesar 19.02%, inventory sebesar 18.93%,

overproduction sebesar 18.71%, defect

sebesar 18.18%, transportation sebesar 10.60%, waiting sebesar 9.51% dan

process sebesar 5.05%.

2) Dari hasil analisa penyebab timbulnya

Waste dengan Fishbone didapati

penyebab utama terjadinya Waste

Inventory adalah dari faktor Man dan

Management. Pada faktor Man adalah

kurangnya pengetahuan perlakuan material karyawan. Sedangkan pada faktor Management yang menjadi penyebab utamanya waste adalah tata letak yang tidak baik.

3) Dari hasil analisa penyebab timbulnya

Waste dengan Fishbone didapati

penyebab utama terjadinya Waste

Motion adalah dari Man dan Machine.

Pada faktor Man penyebab terjadinya waste dikarenakan lamanya proses pengambilan barang. Sedangkan pada faktor Machine penyebab utamnya adalah tangga yang tidak mengakomodasi kegiatan pekerja. 4) Rekomendasi perbaikan untuk

mengatasi waste antara lain penambahan alat-alat pendukung kerja, pelaksanaan pendidikan pelatihan dan pengembangan kepegawaian dan penerapan 5s.

DAFTAR PUSTAKA

Daonil. (2012). Implementasi Lean

Manufacturing Untuk Eliminasi

Waste Pada Lini Produksi Machining Cast Wheel Dengan Menggunakan

Metode Wam dan Valsat. Depok:

Fakultas Teknik Program Studi Teknik Industri Universitas Indonesia.

Gaspersz, V. (1998). P roduction Planning

and Inventory Control. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Gaspersz, V., & Fontana, A. (2007). Lean Six Sigma for Manufacturing and Service

Industries. Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama.

Handoko, T. H. (2001). Manajemen

Personalia dan Sumber Daya

Manusia (Vol. II). Yogyakarta:

BPFE.

Kurniawan, T. (2012). Perancangan Lean Manufacturing dengan Metode Valsat Pada Line Produksi Drum Brake Type IMV. Jakarta: Universitas Indonesia. Michalska, J., & Szewieczek, D. (2007). The

5S Methodology as a Tool for Improving The Organization.

Osada, T. (2002). Sikap Kerja 5s. Jakarta: Lembaga Manajemen PPM.

Rawabdeh, I. (2005). A model for the assessment of waste in job shop environments. International Journal

of Operations & Production

Management, Vol. 25, 800-822.

Shingo, S. (1989). A Study Of The Toyota

Production System From An

Industrial Engineering Viewpoint.

Cambridge: Productivity Press. Utama, D. M., Dewi, S. K., & Mawarti, V. I.

(2016). Identifikasi Waste Pada Proses Produksi Key Set Clarinet Dengan Pendekatan Lean Manufacturing. Jurnal Ilmiah Teknik

(10)

LAMPIRAN

INVENTORY

Tata Letak Tidak Baik

Overload Material

Rendahnya material handling Kurangnya pengetahuan

Perlakuan Material Belum diterapkannya

system Kanban

Pelaksanaan system FIFO belum sempurna

Rak tidak sesuai dengan sistem FIFO

Perencanaan Inventory Belum tepat Tidak adanya trainning untuk update pengetahuan karyawan

Gambar 4. Fishbone Diagram Waste Inventory

MOTION

MANAGEMENT MAN

Lamanya proses Pengambilan barang

Tata Letak Tidak Baik Belum optimal melaksanakan perilaku kerja aman dan tertib

Tidak Konsisten Dalam 5s Dalam penulisan pelabelan

Informasi tidak lengkap

Ketidak Efektifan kartu Stok Kurangnya

Pencahayaan

Kurangnya sirkulasi udara

Rendahnya Material handling Mesin tidak bekerja

maksimal

Tangga tidak Mengakomodasi

Tidak mengkhususkan Material mudah pecah

Gambar

Gambar 1.  Flowchart Penelitian
Tabel 1. Tabulasi Keterkaitan Antar Waste
Gambar 3. Rekapitulasi WAM Berdasarkan hasil yang ditunjukkan oleh
Tabel 3. Penyebab Timbulnya Waste
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dalam jangka pendek secara bersama-sama variabel harga gabah, produksi beras, konsumsi beras, impor beras,

Segala Puji dan Syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah melimpahkan rahmat nikmat, berkah, hidayah dan karunia-Nya

Berdasarkan Analisa susut bobot pada buah strawberry yang telah dilapisi edible coating dengan tambahan ekstrak flavonoid dan disimpan pada suhu kamar selama tujuh hari,

Mereka selanjutnya berpendapat bahwa manusia yang berakal sempurna kalau berbuat sesuatu pasti mempunyai tujuan, baik untuk kepentingan sendiri atau kepentingan

Memahami konsep matematika merupakan tujuan pembelajaran matematika yang pertama. Untuk mencapai kemampuan pemahaman konsep tersebut dibutuhkan suatu metode pembelajaran

Dewasa kini kita mengalami berbagai perubahan. Bukan hanya dalam negara namun juga internasional. Perubahan- perubahan itu terjadi bukan hanya dalam satu bidang,

sikap positif melakukan tindakan perawatan organ reproduksi, = 0,006 berarti ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan tindakan perawatan organ reproduksi

Untuk mengetahui apakah penggunaan faktor produksi modal, tenaga kerja, bibit dan pakan pada produksi ikan mas kolam jaring apung di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur