EKONOMI KEPENDUDUKAN
“ Penduduk Usia Muda dan Pembangunan Ekonomi”
Oleh:
Efran Marbun 1211021140 Ulung Purba 1211021121 Viola Carera 1211021123
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Pembangunan ekonomi dan yang lebih merata merupakan syarat untuk meredakan laju pertumbuhan penduduk dan mengantarkan suatu negara untuk lebih maju. Darwis dalam BKKBN mengatakan bahwa penduduk menjadi independent variabel pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi. Sedangkan, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Jadi, teori tentang kependudukan terhadap pembangunan menjadi sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa. Negara Indonesia berada pada struktur penduduk Muda yang kini menjadi beban besar bagi bangsa indonesia. Akan tetapi ada suatu masa di masa yang akan datang Indonesia akan menerima Bonus demografi sebagai bentuk
lapangan kerja mulai dari sekarang agar keinginan untuk memajukan bangsa dengan memanfaatkan bonus demografi dapat terwujud dengan nyata.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dikemukakan perumusan masalah dalam penulisan ini yaitu:“ bagaimana Penduduk Usia Muda memberikan pengaruh terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia?
1.3 TUJUAN
BAB II ISI
A. Pengertian komposisi penduduk
Komposisi penduduk adalah penyusunan atau pengelompokan penduduk berdasarkan kriteria tertantu. Adapun kriteria yang digunakan antara lain kriteria usia dan jenis kelamin, angkatan kerja, dan rasio ketergantungan.
Struktur penduduk dipengaruhi oleh 3 variabel demografi,antara lain fertilitas,mortalitas dan migrasi. Berdasarkan pengelompokan tersebut,struktur ini kemudian dibagi menjadi 3 kelompok yaitu struktur penduduk muda,struktur penduduk tua,dan struktur penduduk tua (Samadi,2006). Pada penulisan ini akan disinggung mengenai struktur penduduk muda saja.
B. Batasan Umur Penduduk Muda
C. Piramida Penduduk Muda
Komposisi penduduk menurut usia dan jenis kelamin yang dapat digambarkan dalam bentuk bagan disebut Piramida Penduduk. Piramida penduduk ini dapat dengan mudah menunjukkan struktur penduduk satu negara. Bagian kiri piramida menggambarkan banyaknya penduduk laki-laki,sedangkan pada bagian kanan menggambarkan banyaknya penduduk perempuan.
Piramida penduduk muda berbentuk kerucut,alasnya lebar dan puncaknya meruncing. Berikut ini merupakan ciri-ciri piramida penduduk usia muda:
1. Sebagian besar penduduk berada pada usia muda
2. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa terjadi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat
3. Tingkat kelahiran tinggi 4. Tingkat kematian rendah
Gambar piramida penduduk Muda
1. Tidak efektifnya program KB
2. Anggapan Kuno tentang banyak anak banyak rezeki
3. Belum berkembangnya Pola pikir masyarakat tentang bahaya kepadatan penduduk 4. Banyaknya usia kawin muda
5. Nafsu yang tak dapat dikontrol
D. Dampak Suatu negara memiliki Struktur Penduduk Muda Ada 3 dampak dari struktur penduduk Muda:
1. Untuk penduduk usia Muda,jumlah berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi relatif besar. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, dimana struktur penduduknya didominasi penduduk usia muda,hal ini merupakan Beban Nasional
2. Golongan usia muda merupakan penduduk yang belum produktif,artinya tidak dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi
3. Golongan usia muda akan meningkatkan jumlah angkatan kerja. Padahal untuk jumlah ini belum tentu pula tersedia lapangan kerja,karena yang berada diatas usia itu pun masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan (Siahaan,2004).
Jika satu negara cenderung lebih banyak penduduk usia muda,tidak menutup kemungkinan akan terjadi ledakan penduduk di satu negara. Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan strata sosial serta penyimpangan sosial di sekitar kita,diantaranya:
1. Tenaga kerja lebih banyak dibandingkan lapangan pekerjaan 2. Pengangguran cenderung lebih tinggi
3. Tingkat kriminalitas akan meningkat 4. Lahan produktif semakin sempit 5. Tingginya angka ketergantungan
Gamba r. Piramid populasi jepang. Dari kiri-kanan adalah piramida penduduk muda, stasioner dan penduduk tua (sumber: people.uncw.edu)
Demografi adalah bonus yang dinikmati suatu negara sebagai akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya. Indonesia akan mengalami bonus demografi ini dikarenakan proses transisi demografi yang berkembang sejak beberapa tahun yang lalu yang dipercepat dengan keberhasilan program KB menurunkan tingkat fertilitas dan meningkatnya kualitas kesehatan serta suksesnya program-program pembangunan lainnya.
Indonesia diprediksi akan mendapat bonus demografi di tahun 2020-2030, dimana penduduk dengan umur produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak.
Jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun). Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara non-produktif hanya 60 juta.
Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial – ekonomi. Salah satunya adalah menyebabkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk non-produktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif.
Hal ini sejalan dengan laporan PBB, yang menyatakan bahwa dibandingkan dengan negara Asia lainnya, angka ketergantungan penduduk Indonesia akan terus turun sampai 2020.
Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya adalah meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam hal ini pemerintah harus mampu menjadi agent of development dengan cara memperbaiki mutu modal manusia, mulai dari pendidikan, kesehatan, kemampuan komunikasi, serta penguasaan teknologi. Solusi lainnya bisa dengan memberikan keterampilan kepada tenaga kerja produktif sehingga pekerja tidak hanya bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan tapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan itu sendiri. Selain itu pemerintah juga harus mampu menjaga ketersediaan lapangan pekerjaan, menjaga aset-aset Negara agar tidak banyak dikuasai pihak asing yang pastinya akan merugikan dari sisi peluang kerja.
Bukan hanya Pemerintah, masyarakat juga harus menjadi pendukung utama pembangunan mutu manusia dengan cara menyadari pentingnya arti pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek yang dapat mengembangkan kualitas manusia itu sendiri.
Indonesia, sebagai sebuah bangsa yang kuat harus mempunyai perencanaan, termasuk membangun sumber daya manusia berkualitas yang akan menjadi daya saing sebuah bangsa. Sejatinya, perubahan tidak bisa dilakukan dalam sekejap, maka dari itu pembenahan kualitas manusia harus dimulai dari sekarang!
F. Bonus Demografi Berpotensi Tumbuhkan Ekonomi
Harus dipersiapkan dengan kebijakan yang fokus di bidang kesehatan, pendidikan dan ketenagakerjaan. Kontribusi penduduk berusia produktif ini telah terlihat dari peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang stabil. Fenomena ini terlihat juga di beberapa negara yang jumlah penduduknya turut meningkat dan kondisi ekonominya sama seperti Brazil, Rusia dan India.
Bahkan di sejumlah negara lain, bonus demografi telah berkontribusi menumbuhkan ekonomi. Sedangkan Thailand, Tiongkok, Taiwan dan Korea bonus demografi di sana berkontribusi dengan pertumbuhan ekonomi antara 10-15 persen.
Bonus demografi ini dapat dimanfaatkan secara baik oleh Pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Manfaat bisa dilakukan dengan adanya kesiapan kebijakan seperti memperkuat investasi di bidang kesehatan, pendidikan maupun ketenagakerjaan. Bonus demografi tidak otomatis menguntungkan kita, harus ada syarat yang harus diperjuangkan.
Misalnya dalam bidang pendidikan, agar wajib belajar terus diperpanjang menjadi 12 tahun. Lalu, jumlah drop out (DO) pelajar yang keluarganya berpenghasilan rendah harus dikurangi dan kurikulum juga harus direvisi. Kurikulum Sekolah Dasar (SD) betul-betul diubah supaya dari kecil diajarkan cara berpikir yang lebih kreatif.
Dari sisi kesehatan, juga harus dimulai nutrisi 1000 hari pertama sejak kelahiran. Dalam jangka waktu tersebut masa-masa untuk perkembangan otak. Sedangkan dari sisi ketenagakerjaan, bila perlu Pemerintah harus terus menggenjot industri padat karya, pertanian, industri kreatif serta industri mikro, kecil dan menengah.
karena itu, pembangunan manusia harus menjadi prioritas dalam pembangunan. Pentingnya proyeksi penduduk sebagai prasyarat untuk merumuskan perencanaan pembangunan di masa depan secara lebih efektif dan efisien.
Angka ketergantungan penduduk (dependency ratio) cenderung lebih rendah. Suplai tenaga kerja yang stabil diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar kerja. Kondisi ini sangat menguntungkan, masyarakat akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dengan dana tabungan yang lebih banyak.
Bonus demografi sangat erat kaitannya dengan perubahan komposisi penduduk menurut umur. Bonus demografi adalah kesempatan sekaligus tantangan yang harus ditanggapi dan diantisipasi.
Saat bonus demografi, angka ketergantungan penduduk menjadi lebih rendah. Jika masyarakat paska usia produktif 65 tahun ke atas dapat melakukan upaya menabung lebih banyak, maka tidak akan menjadi beban negara. Namun bila kondisi sebaliknya, maka akan menjadi beban negara.
G. Membangun Sumber Daya Manusia
Persoalan kependudukan memiliki dampak pada lingkungan. Kualitas SDM sangat menentukan tingkat kesadaran perilaku manusia dalam mengelola lingkungan. Jumlah penduduk yang besar dan tidak diikuti kualitas kesadaran lingkungan yang baik, akan mengakibatkan terjadinya degradasi kerusakan lingkungan. Saat ini Indonesia begitu agresif mendorong pertumbuhan ekonomi, namun secara tidak sadar merusak lingkungan.
Di masa depan, bangsa Indonesia harus siap mengelola potensi dan sumber daya angkatan kerja yang terus meningkat. Tingkat pertumbuhan tenaga kerja Indonesia sangat tinggi. Bangsa Indonesia mengalami bonus demografi hingga 2035 mendatang.
Saat itu, jumlah generasi muda jauh lebih banyak daripada generasi tua. Jadi, Indonesia harus melakukan persiapan membangun potensi dan sumber daya manusia (SDM). Indonesia juga harus mampu menghadapi persaingan antar tenaga kerja dari berbagai negara, apalagi dengan potensi bonus demografi yang sedang dialami.
Bonus demografi ini harus disyukuri, karena negara lain di Eropa dan Amerika tidak mengalaminya. Sebagian besar warga Eropa dan Amerika Serikat, mayoritas adalah generasi tua, jumlah anak-anak atau generasi muda mereka relatif sedikit.
Pemerintah harus kritis melihat perlunya menanggapi bonus demografi yang dialami Indonesia. Tanpa persiapan yang matang, maka bonus demografi bisa menjadi beban tambahan.
Dengan bonus demografi ini, jumlah penduduk usia produktif mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk. Lapangan kerja yang dibutuhkan pun makin banyak. Kalau lapangan kerja tidak diakomodasi, maka bisa menciptakan banyak pengangguran.
Agar pengangguran tidak lantas membengkak, maka kompetensi sumber daya manusia harus ditingkatkan. Salah satunya melalui pendidikan yang baik. Populasi terbesar merupakan golongan anak muda dengan tingkat konsumsi tinggi. Dengan demikian, konsumsi domestik akan mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar enam hingga tujuh persen.
Sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat ini harus diberdayakan untuk menghadapi berkah bonus demografi pada 2020-2030. Diharapkan tingginya jumlah penduduk usia produktif akan mampu mempercepat peningkatan produksi negara.
Pemerintah harus mampu memanfaatkan bonus demografi yang terjadi di Indonesia. Usia produktif harus didorong untuk terus meningkatkan produktivitas. Bonus demografi harus diisi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan netto dari bonus demografi.
Namun berkah ini bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya. Masalah yang paling nyata adalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Pemerintah mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk menampung 70% penduduk usia kerja di tahun 2020-2030?
Kalau pun lapangan pekerjaan tersedia, mampukah sumber daya manusia yang melimpah ini bersaing di dunia kerja dan pasar internasional?
Berkaca dari fakta yang ada sekarang, indeks pembangunan manusia atau human development index (HDI) Indonesia masih rendah. Dari 182 negara di dunia, Indonesia berada di urutan 111. Sementara dikawasan ASEAN, HDI Indonesia berada di urutan enam dari 10 negara ASEAN. Posisi ini masih di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei dan Singapura. Tingkat HDI ini terbukti dari tidak kompetitifnya.pekerja Indonesia di dunia kerja baik di dalam ataupun luar negeri. Paling banter, pekerja Indonesia di luar negeri adalah menjadi pembantu. Ujung-ujungnya disiksa dan direndahkan. Untuk tingkat dalam negeri sekali pun, pekerja indonesia masih kalah dengan pekerja asing. Hal ini ditandai dari banyaknya peluang kerja dan posisi strategis yang masih ditempati tenaga kerja asing.
Permasalah pembangunan sumber daya manusia inilah yang harusnya bisa diselesaikan dari sekarang, jauh sebelum bonus demografi datang. Jangan sampai hal yang menjadi berkah justru membawa bencana dan membebani negara karena masalah yang mendasar: kualitas manusia!
Kenyataannya pembangunan kependudukan seolah terlupakan dan tidak dijadikan underlined factor. Padahal pengembangan sumber daya manusia yang merupakan investasi jangka panjang yang menjadi senjata utama kemajuan suatu bangsa.
H. Solusi Yang Harus Disiapkan
Untuk itu, mulai saat ini, generasi muda harus mempersiapkan diri agar mampu bersaing meraih kesempatan kerja, dan bersaing dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Artinya mulai sekarang, anak-anak harus meningkatkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual secara optimal.
Indonesia tengah mengalami bonus demografi yang ditandai dengan banyaknya penduduk usia muda dan produktif. Bonus demografi itu harus segera dioptimalkan dengan investasi lebih besar pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
Menurut proyeksi penduduk tahun 2035 berbasis sensus 2010 diketahui masa maksimum bonus demografi ini terjadi pada 2028, 2029, 2030 dan 2031. Selama itu, prosentase penduduk usia muda dan produktif mencapai 46.7 persen. Melihat dari proyeksi ini, Indonesia memiliki peluang hingga 2030, jadi selama 16 tahun mendatang, Indonesia harus investasi habis-habisan di SDM.
Investasi SDM itu memang butuh dana besar namun lebih cepat return-nya. Misalnya saja, Indonesia berpotensi menaikan GDP sekitar 1 persen dengan growth ekonomi mencapai 7 persen. Skenario MP3I pada 2025 pertumbuhannya 7 persen. Ini artinya, sangat mungkin pertumbuhannya diatas 7 persen, yakni 10 persen bila investasi dilakukan.
Ada beberapa syarat agar bonus demografi bisa tercapai. Pertama, yakni suplai tenaga kerja produktif yang besar harus diimbangi dengan lapangan pekerjaan sehingga pendapatan perkapita naik dan bisa menabung yang akan meningkatkan tabungan nasional.
Kedua, tabungan rumah tangga diinvestasikan untuk kegiatan produktif. Ketiga, jumlah anak sedikit memungkinkan perempuan memasuki pasar kerja, membantu peningkatan pendapatan.
Keempat, anggaran yang sebelumnya dipakai untuk anak usia 0-15 tahun karena jumlah berkurang, bisa dialihkan untuk peningkatan sumber daya manusia untuk usia 15 tahun ke atas seperti untuk traning, pendidikan, dan upaya pemeliharaan kesehatan remaja terutama kesehatan reproduksi dan penanggulangan perilaku tidak sehat seperti alkohol, narkoba, rokok dan seks bebas.
Misalnya, dalam hal penurunan fertilitas sebagai salah satu syarat mencapai peluang bonus demografi. Penurunan fertilitas ini tidak akan tercapai bila masyarakat tidak berpartisipasi dalam program Keluarga Berencana (KB). Jika tidak dilakukan aksi sejak sekarang, maka yang akan terjadi adalah door to disaster.
Jumlah penduduk produktif yang besar jika tidak diikuti dengan kualitas tinggi, maka berarti Indonesia akan memiliki penduduk besar tetapi tidak produktif. Jika Pemerintah tidak menyediakan lapangan kerja atau peluang usaha yang kondusif, maka kondisi ini akan diikuti dengan jumlah pengangguran tinggi.
Pengangguran ini akan didominasi oleh penduduk muda dan terdidik yang dapat mendorong timbulnya social unrest dan peningkatan jumlah penduduk miskin. Untuk menghindari terjadinya door to disaster perlu dilakukan upaya keras dalam penurunan fertilitas, peningkatan kualitas penduduk, baik dari sisi kesehatan maupun pendidikan. Adanya
employment creation dan job creation yang baik mampu mendorong percepatan perekonomian negara.
I. Bonus demografi dan hubungannya dengan pembangunan
BAB III PENUTUP
Simpulan
Komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk berdasarkan karakteristik yang sama. Komposisi penduduk menurut umur dikenal dengan istilah struktur penduduk,biasanya dibagi dalam beberapa kelompok umur. Umur 0-14 tahun dinamakan usia muda (usia belum produktif). Jika satu negara sebagian besar penduduknya masih berusia muda,negara tersebut termasuk struktur penduduk muda. Piramida ekspansif terbentuk jika sebagian besar penduduk berada dalam kelompok usia muda. Piramida ekspansif terdapat di negara berkembang seperti Indonesia.
biasa disebutkan dengan istilah bonus demografi. Bonus demografi ibarat dua sisi mata uang. Kemampuan mengelola bonus demografi akan membuat satu negara mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas sehingga mampu mempercepat pembangunan. Di lain sisi,ketidakmampuan mengelola bonus ini akan segera membawa satu negara kepada keterpurukan dan justru menambah beban Nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Samadi. 2006. Demografi penduduk. Bogor. Quandra