EVALUASI PROGRAM REHABILITASI SOSIAL RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RS RTLH) DI KABUPATEN SERANG TAHUN 2

144 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik Program Studi Ilmu Adminitrasi Negara

Oleh

NURHAYATUL JANNAH 6661091850

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

(2)
(3)
(4)
(5)

Program Studi Ilmu Administrasi Negara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dosen Pembimbing I : Drs. Oman Supriyadi, M.Si. Dosen Pembimbing II : Rini Handayani, S.Sos., M.Si.

Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya kondisi sosial masyarakat Kabupaten Serang, infrastruktur yang memprihatinkan, dan kondisi ekonomi yang masih rendah. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana evaluasi RS-RTLH di Kabupaten Serang Tahun 2013. Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori evaluasi kebijakan menurut Hanif Nurcholis yaitu input, proses, output, dan outcomes. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif. Teknik analisis data penelitian menggunakan analisis data Prasetya Irawan. Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH) di Kabupaten Serang belum berjalan dengan optimal. Karena pelaksanaan kegiatan yang tidak sesuai dengan Pedoman RS-RTLH, dan kualitas kerja pelaksana Program RS-RTLH yang tidak maksimal. Saran dalam penelitian yaitu, pelaksanaan kegiatan harus sesuai dengan Pedoman RS-RTLH dan peningkatan kualitas kerja pelaksana Program RS-RTLH.

(6)

Public Administration Department, Faculty of Social and Political Sciences. Sultan Ageng Tirtayasa University. 1st Advisor : Drs. Oman Supriyadi, M.Si. 2nd Advisor : Rini Handayani, S.Sos., M.Si.

This research is motivated by the poor social condition Serang Regency, poor infrastructure, and economic condition are still low. With the aim to find out how the evaluation of the RS-RTLH in Serang District 2013. The theory used in this research is theory of policy evaluation by Hanif Nurcholis is inputs, processes, outputs and outcomes. The method used is qualitative. Data analysis techniques using data analysis Prasetya Irawan. The result showed the implementation of the Social Rehabilitation Program Unlivable House (RS-RTLH) in Serang District has not run optimally. Due to the implementation of activities that are not consistent with the technique guidelines, and work quality RS-RTLH Program implementers were not optimal. Suggestions in the research , namely, the implementation of activities must be in accordance with the technique guidelines and improving the quality of work implementing RS-RTLH Program.

(7)

Segala Puji dan Syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah melimpahkan rahmat nikmat, berkah, hidayah dan karunia-Nya serta kemudahan yang diberikan, karena hanya dengan Ridho-Nyalah penulis dapat menyelesaikan penyusunan usulan penelitian skripsi yang berjudul “Evaluasi Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH) di Kabupaten Serang Tahun 2013” Selesainya penyusunan usulan penelitian ini tidak luput dari berbagai bantuan berupa dukungan secara moril dan materil, dari seluruh pihak yang selalu mengiringi peneliti dalam proses penyusunannya. Oleh karena itu, peneliti dengan segenap ketulusan hati, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga terutama kepada keluarga saya yang tercinta, Ibu saya Hj.Anah dan Bapak saya H.Nurahman, serta Adik-adik saya Nugraha, Tommy, Dani yang senantiasa mendukung dan mendoakan peneliti sedari awal penelitian, dan juga kepada:

1. Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd., Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

2. Dr. Agus Sjafari, S.Sos, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

(8)

Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

6. Listyaningsih, S. Sos., M.Si., Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 7. Drs Oman Supriyadi, S.Sos., M.Si., Pembimbing I yang telah memberikan

peneliti kesempatan untuk melaksanakan observasi, membimbing dan mengajarkan beragam pengetahuan kepada peneliti selama penyusunan usulan penelitian.

8. Rini Handayani, S.Sos., M.Si., Pembimbing II yang membantu memberikan arahan, penjelasan dan membagi ilmu pengetahuannya kepada peneliti dalam menyusun usulan penelitian.

9. Yeni widiastuti, S.Sos., M.Si , selaku Dosen Penguji Sidang Skripsi yang telah menguji serta membimbing penyusunan revisi sidang skripsi ini dengan baik. 10.Suwaib Amirudin, S.Sos., M.Si., Dosen Pembimbing Akademik Peneliti

sedari awal hingga akhir perkuliahan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 11.Kepada seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Ilmu Administrasi

(9)

13.Kepada Bapak Drs. Muhammad Ridwan Selaku Kasi Bina Masyarakat Kumuh dan Tertinggal Dinas Sosial Kabupaten Serang yang telah bersedia membantu memberikan kemudahan untuk mencari data dan informasi yang dibutuhkan.

14.Kepada Seluruh TKSK Kecamatan yang telah bersedia membantu memberikan kemudahan untuk mencari data dan informasi yang dibutuhkan. 15.Kepada Orangtua, adik dan keluarga besar saya yang tidak pernah lelah untuk

terus memberikan doa dan dukungan yang begitu tulusnya.

16.Sahabat-sahabat tercinta, Wenny Widiyanti, Wahyu Apriansyah, Euis Trisnawati, Anindita yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada peneliti

17.Teman-teman Administrasi Negara 2009, dan khususnya untuk teman-teman Kelas B yang telah menjadi teman sekelas selama di UNTIRTA, kalian sangat solid, dan menyenangkan

18.Serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, peneliti ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.

(10)

Serang, Agustus 2016 Peneliti

(11)

i

2.1.2 Tahapan Kebijakan Publik ... 24

2.1.3 Evaluasi Kebijakan Publik ... 27

2.1.4 Konsep Pemberdayaan Masyarakat ... 39

2.1.5 Definisi Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni ... 41

2.2. Penelitian Terdahulu... 50

2.3. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 52

2.4. Asumsi Dasar Penelitian ... 53

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian ... 54

3.2. Fokus Penelitian ... 56

(12)

3.4. Fenomena Yang Diamati

3.4.1 Definisi Konsep ... 57

3.4.2 Definisi Operasional ... 58

3.5. Instrumen Penelitian ... 58

3.6. Informan Penelitian ... 60

3.7. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1 Uji Keabsahan Data... 64

3.7.2 Analisis Data ... 66

3.8. Jadwal Penelitian ... 70

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Deskripsi Objek Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Serang ... 71

4.1.1.1Visi dan Misi Kabupaten Serang ... 73

4.1.1.2Kondisi Topografi dan Geografis Kabupaten Serang ... 74

4.1.2 Gambaran Umum Dinas Sosial Kabupaten Serang ... 76

4.1.2.1Dasar Hukum Pembentukan Dinas Sosial Kabupaten Serang ... 77

4.1.2.2Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Sosial ... 78

4.1.2.3Visi, Misi Kedudukan, Tugas pokok dan Fungsi Bidang Kesos Dinsos Kab Serang ... 79

4.2. Informan Penelitian ... 81

4.3. Deskripsi dan Analisis Data ... 81

BAB V HASIL PENELITIAN 5.1. Kesimpulan ... 103

5.2. Saran ... 104 DAFTAR PUSTAKA

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Sebagaimana diketahui, kehidupan yang menjadi dambaan masyarakat adalah kondisi sejahtera. Namun dengan adanya kondisi yang menunjukan taraf hidup yang rendah merupakan sasaran utama usaha perbaikan dalam rangka perwujudan kondisi yang sejahtera tersebut. Kondisi kemiskinan dengan berbagai dimensi dan implikasinya, merupakan salah satu bentuk masalah sosial yang menggambarkan kondisi kesejahteraan yang rendah. Oleh sebab itu wajar apabila kemiskinan menjadi inspirasi bagi tindakan perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk dapat melakukan serangkaian aktivitas perubahan dan perbaikan didalam masyarakat yang mengalami masalah sosial tersebut perlu dipahami berbagai hal yang berkaitan dengan seluk beluk permasalahannya.

Merujuk pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ke 4

yang mengamanatkan “terbentuknya Pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah

darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum”. Untuk

(14)

2011, tentang penanganan Fakir Miskin pada pasal 1 (1) menyebutkan bahwa fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya. Kebutuahn dasar yang dimaksud dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2011 adalah kebutuhan pangan, sandang, perumahan, pendidikan, pekerjaan dan/atau pelayanan sosial. Definisi dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 diatas mengakomodir dua perspektif sekaligus, yakni perspektif ekonomi dan perspektif sosial. Perspektif ekonomi berupa tidak mempunyai sumber mata pencaharian untuk pemenuhan kebutuhan dasar, dan perspektif sosial berupa tidak memiliki kemampuan untuk memenuhinya.

Kemiskinan adalah kondisi yang mengganggu kesejahteraan hidup setiap masyarakat. Hal ini disebabkan karena pendapatan yang tidak tetap, rendahnya lapangan kerja, terbatasnya keterampilan yang dimiliki, dan lainnya. Sehingga kemiskinan menjadi salah satu penyebab masyarakat tidak mampu memenuhi hak dasar salah satunya adalah rumah. Hak pemenuhan atas rumah menjadi salah satu komponen penting yang perlu diperhatikan pemerintah karena kondisi rumah yang dimiliki masyarakat miskin dibangun dengan tidak memperhatikan kriteria fisik rumah yang layak huni.

(15)

bagi kehidupan bermasyarakat. Untuk menunjang fungsi rumah sebagai tempat tinggal yang layak maka harus dipenuhi syarat fisik rumah yaitu aman sebagai tempat berlindung, memenuhi rasa kenyamanan, dan secara sosial dapat menjaga privasi setiap anggota keluarga. Selain itu rumah merupakan media bagi pelaksanaan tumbuh kembangnya anak dalam keluarga. Terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar berupa rumah yang layak huni diharapkan tercapai keharmonisan dan ketahanan keluarga. Berdasar pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial pada pasal 5 ayat 2 menyatakan bahwa penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang salah satunya adalah kemiskinan. Penanggulangan kemiskinan dalam bentuk penyediaan akses pelayanan rumah dan permukiman terdapat dalam pasal 21 huruf f.

(16)

dunia usaha/industri, masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan elemen lainnya.

(17)

DATA RUMAH TIDAK LAYAK HUNI DI KABUPATEN SERANG

No Kecamatan Jumlah KK RTLH Persentase

1 Kramat Watu 1.930 416 2,15

Sumber : Dinsos Kab Serang, 2010

(18)

Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Serang, dan Kelompok Kepengurusan lokasi penerima bantuan program RS-RTLH. Pelaksana kegiatan program rehabilitasi rumah tidak layak huni adalah Dinas Sosial yang mana melibatkan sejumlah elemen masyarakat yakni Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Karang Taruna (KT), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), dan Organisasi Sosial (Orsos). Kelompok sasaran program rehabilitasi rumah tidak layak huni adalah masyarakat miskin yang memiliki rumah yang memenuhi kriteria rumah tidak layak huni. Ada beberapa kriteria keluarga penerima manfaat bantuan stimulan rumah tidak layak huni, meliputi :

1. Rumah tangga miskin yang terdaftar dalam Program Pendataan Perlindungan Sosial (PPLS) 2011

2. Rumah tangga miskin yang tidak terdaftar dalam PPLS 2011 tetapi masuk dalam kriteria fakir miskin dan orang tidak mampu berdasarkan Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 146 Tahun 2013 tentang Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir Miskin Dan Orang Tidak Mampu yakni sebagai berikut :

a. Tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan mendasar.

b. Mempunyai pengeluaran sebagian besar digunakan untuk memenuhi konsumsi makanan pokok dengan sangat sederhana. c. Tidak mampu atau mengalami kesulitan untuk berobat ke tenaga

(19)

d. Tidak mampu membeli pakaian satu kali dalam satu tahun untuk setiap anggota rumah tangga

e. Mempunyai kemampuan hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

f. Mempunyai dinding rumah terbuat dari bambu/kayu/tembok dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah, termasuk tembok yang sudah usang/berlumut atau tembok tidak diplester

g. Kondisi lantai terbuat dari tanah atau kayu/semen/keramik/ dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah

h. Atap terbuat dari ijuk/rumbia atau genteng/seng/asbes dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah

i. Mempunyai penerangan bangunan tempat tinggal bukan dari listrik atau listrik tanpa meteran

j. Luas lantai rumah kecil kurang dari 8 m2/orang

k. Mempunyai sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tak terlindung/air sungai/air hujan/lainnya

3. Belum pernah mendapat bantuan RS-RTLH

4. Memiliki KTP/identitas diri dan Kartu Keluarga yang masih berlaku 5. Memiliki rumah di atas tanah milik sendiri yang dibuktikan dengan

(20)

Berikut adalah contoh rumah tidak layak huni yang ada di Kabupaten Serang

Gambar 1.1

Rumah Ibu Asiah penerima bantuan Program RS-RTLH Tahun 2013 di Kampung Peres Rt 01/01 Desa Pulo Panjang Kecamatan Pulo Ampel

(21)

(22)

REKAPITULASI PROGRAM RS-RTLH YANG SUDAH DITANGANI DINAS SOSIAL KABUPATEN SERANG TAHUN 2013

No Kecamatan Desa Sumber Dana Jumlah

2 Tunjungteja Bojong Catang

Sumber : Dinsos Kab Serang 2013

(23)

bantuan diberikan dalam bentuk pemberian bahan material bangunan yang mana dananya bersumber dari APBD II (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Serang). Bantuan dana langsung tunai paling banyak diberikan di Kecamatan Pulo Ampel Desa Pulo Panjang yaitu sebanyak 30 bantuan sedangkan bantuan bahan material bangunan paling banyak diberikan di Kecamatan Waringin Kurung Desa Melati.

Namun sebagaimana sebuah kebijakan pemerintah pada umumnya, berdasarkan observasi dan hasil wawancara dengan pihak Dinsos dan beberapa penerima bantuan, peneliti menemukan beberapa masalah teknis yang tidak sesuai dengan pedoman pelaksanaan Program RS-RTLH.

(24)

Kedua, kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak Dinsos dalam pelaksanaan pembangunan renovasi rumah penerima bantuan Program RS-RTLH. Berdasarkan hasil temuan dilapangan ternyata waktu pengerjaan renovasi rumah beragam tidak sesuai dengan pedoman pelaksanaan Program RS-RTLH. Seharusnya pelaksanaan renovasi rumah masyarakat penerima bantuan Program RS-RTLH selesai dalam waktu 100 hari semenjak bantuan diterima baik yang berupa dana tunai maupun material bangunan. Karena berdasarkan wawancara dengan Bapak Mufasil selaku TKSK Desa Melati Kecamatan Waringin Kurung beberapa rumah dalam pengerjaannya melebihi batas waktu yang telah ditetapkan. Salah satunya disebabkan karena kurangnya koordinasi antar warga penerima bantuan dengan warga sekitar dalam melakukan gotong royong pemugaran rumah. Sehingga hal ini menyulitkan pihak Dinsos dalam membuat laporan kegiatan RS-RTLH.

(25)

Keempat, terbatasnya tenaga pembantu pelaksana Program RS-RTLH di tingkat kecamatan. Dari setiap kecamatan tenaga pembantuan untuk melaksanakan kebijakan pemerintah hanya disediakan satu orang saja yang disebut TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan). Dalam prakteknya TKSK memiliki banyak tugas bukan hanya mengurusi Program RS-RTLH saja tetapi juga mengurusi bantuan program pemerintah lainnya untuk kecamatan yang ia pegang. Sehingga kinerja TKSK tidak maksimal. Karena dalam hal ini TKSK berperan penting dalam tahapan pelaksanaan Program RS-RTLH. Mulai dari pemilihan rumah calon penerima bantuan, pembantuan dalam hal pembuatan dan pengajuan proposal juga sebagai pendamping penerima bantuan Program RS-RTLH.

Berdasarkan masalah-masalah yang telah dijabarkan di atas, peneliti

tertarik untuk memfokuskan dan meneliti lebih jauh mengenai “Evaluasi Program

Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH) di Kabupaten Serang Tahun 2013”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, peneliti mengidentifikasi masalah antara lain sebagai berikut :

1. Pelaksanaan Program RS-RTLH tidak sesuai pedoman pelaksanaan Program RS-RTLH

(26)

3. Pemberian bantuan belum tepat sasaran karena sistem pemilihan yang bersifat tebang pilih

4. Kurangnya tenaga kerja tingkat kecamatan selaku pendamping penerima bantuan Program RS-RTLH

1.3 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini karena keterbatasan waktu dan sumber daya, peneliti membatasi masalah hanya pada pelaksanaan program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH) di Kabupaten Serang Tahun 2013.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan batasan masalah tersebut kemudian peneliti merumuskan masalah yaitu :

Bagaimana pelaksanaan Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni di Kabupaten Serang Tahun 2013?

1.5 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Evaluasi dari Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RS-RTLH) di Kabupaten Serang Tahun 2013.

1.6. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang relevan

mengenai “Evaluasi Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni di

(27)

1. Manfaat Teoritis, antara lain:

Supaya dapat bermanfaat dalam mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan dalam dunia akademis khususnya Ilmu Adminitrasi Negara mengenai kebijakan publik. Selain itu dapat mempertajam dan mengembangkan teori-teori yang ada dalam dunia akademis Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), yang kemudian peneliti aplikasikan dalam bentuk Penyelesaian tugas akhir jenjang pendidikan Strata Satu (S1) atau Skripsi sebagai salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial pada Konsentrasi Kebijakan Publik Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP-UNTIRTA.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan masalah penelitian ini yaitu :

a. Bagi Dinas Sosial Kabupaten Serang: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam mengatasi permasalahan sosial di lapangan supaya bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif pemecahan dari beberapa masalah guna mencapai keberhasilan program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni di Kabupaten Serang pada masa mendatang.

(28)

kegotong-royongan warga masyarakat Kabupaten Serang lebih berperan dan tujuan dari Program RS-RTLH dapat tercapai seutuhnya.

(29)

17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

ASUMSI DASAR PENELITIAN

2.1 Landasan Teori

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, peneliti menggunakan beberapa istilah yang berkaitan dengan masalah penelitian. Untuk itu pada bab ini peneliti menggunakan beberapa teori yang mendukung masalah dalam penelitian ini. Teori dalam ilmu administrasi mempunyai peranan yang sama seperti ilmu-ilmu lainnya, yaitu berfungsi untuk menjelaskan dan menjadi panduan dalam penelitian. Dengan penggunaan teori akan ditemukan cara yang tepat untuk mengelola sumber daya, waktu yang singkat untuk menyelesaikan pekerjaan dan alat yang tepat untuk meringankan pekerjaan.

(30)

2.1.1 Pengertian Kebijakan

Menurut David Easton dalam Agustino (2006:8) Kebijakan Publik merupakan keputusan politik yang diekmbangkan oleh abdan dan pejabat pemerintah. Karena itu karakteristik khusus dari kebijakan publik adalah bahwa keputusan politik tersebut dirumuskan sebagai “otoritas” dalam sistem politik yaitu : “para senior, kepala tertinggi, seksekutif, legislatif, para hakim,

administrator, penasehat, para raja dan sebagainya”. Easton mengatakan bahwa

mereka-mereka yang berotoritas dalam sistem politik dalam rangka memformulasi kebijakan publik adalah orang-orang yang terlibat dalam urusan sistem politik sehari-hari dan mempunyai tanggungjawab dalam seuatu masalah tertentu dimana ada satu titik mereka diminta untuk mengambil keputusan dikemudian hari kelak diterima serta mengikat sebagian besar anggota masyarakat selama waktu tertentu. Definisi lain menurut Thomas R. Dye dalam Agustino (2006:7) mengatakan bahwa “kebijakan publik adalah apa yang dipilih oleh pemerintah

untuk dikerjakan atau tidak dikerjakan”. Melalui definisi ini didapatkan pemahaman bahwa terdapat perbedaan antara apa yang akan dikerjakan pemerintah dan apa yang sesungguhnya harus dikerjakan oleh pemerintah. Sedangkan kebijakan menurut Rose dalam Agustino (2006:7) yaitu sebuah rangkaian panjang dari banyak atau sedikit kegiatan yang saling berkaitan dan memiliki konsekuensi bagi yang berkepentingan sebagai keputusan yang berlainan.

(31)

kebijakan publik, konsep pemberdayaan masyarakat, kajian Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni.

William N. Dunn dalam bukunya Pengantar Analisis Kebijakan Publik (2003 : 51), beliau mendefinisikan kata kebijakan dari asal katanya. Secara etimologis, istilah policy (kebijakan) berasal dari Bahasa Yunani, Sansekerta dan Latin, akar kata dalam bahasa Yunani dan Sansekerta yaitu polis (Negara-Kota) dan pur (Kota).

Sedangkan menurut Heelo dalam Parsons (2001 : 14) kebijakan (policy)

adalah istilah yang tampaknya banyak disepakati bersama. Dalam penggunaannya yang umum, istilah kebijakan dianggap berlaku untuk sesuatu yang lebih besar ketimbang keputusan tertentu, tetapi kecil ketimbang gerakan sosial.

Dalam buku Policy Analysis For The real World yang diterbitkan tahun 1984 dan telah direvisi tahun 1990, Hogwood dan Gun dalam Wicaksono (2006:53) menyebutkan sepuluh penggunaan istilah kebijakan dalam pengertian modern, diantaranya adalah:

a. Sebagai lebel untuk sebuah bidang aktivitas (as a label for a field of activity).

Contohnya : statemen umum pemerintah tentang kebijakan ekonomi, kebijakan industry atau kebijakan hukum dan keadilan. b. Sebagai ekspresi tujuan umum atau aktivitas negara yang diharapkan

(as ekspression of general pupose or desired stated affairs).

Contohnya : Untuk menciptakan lapangan kerja seluas mungkin atau mengembangan demokrasi melalu desentralisasi.

c. Sebagai proposal yang spesifik (as a specific proposal).

Contohnya : membatasi pemilik lahan pertanian hingga 10 hektar atau menggratiskan biaya pendidikan.

d. Sebagai keputusan pemerintah (as a decision of government).

(32)

e. Sebagai otorisasi firmal (as a formal authorization).

Contohnya : Tindakan-tindakan yang diambil oleh parlemen atau lembaga-lembaga pembuat kebijakan lainnya.

f. Sebagai sebuah program (as a programme).

Contohnya : sebagai ruang aktivitas pemerintah yang sudah didefinisikan, seperti program reformasi agrarian atau program peningkatan kesehatan perempuan.

g. Sebagai output (as output).

Contohnya : Apa yang secara actual telah disediakan, seperti sejumlah lahan yang telah dideristribusikan dalam program reformasi agrarian dan jumlah penyewa yang terkena dampaknya.

h. Sebagai hasil (as outcome).

Contohnya : Apa yang secara aktual tercapai, seperti dampak pendapatan petani dan standar hidup dan output agricultural dari program reformasi agraria.

i. Sebagai teori atau model (as a theory or model).

Contohnya : Apalabila kamu melakukan x maka akan terjadi y, misalnya apabila kita meninggalkan intensif kepada industri manufaktur, maka output industri akan berkembang.

j. Sebagai sebuah proses (as a process).

Sebagai sebuah proses yang panjang yang dimulai dengan

issues lalu bergerak melalui tujuan yang sudah diatur, pengambilan keputusan untuk evaluasi dan implementasi.

Dengan demikian, dari beberapa definisi kebijakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan adalah rangkaian konsep pokok yang menjadi garis besar dalam pelaksanaan suatu pekerjaan yang mengandung program pencapaian tujuan, nilai-nilai dan praktek yang terarah berdasarkan konsistensi dan pengulangan tingkah laku dari mereka yang mematuhi keputusan tersebut.

(33)

“Kebijakan publik adalah suatu rangkaian pilihan-pilihan yang saling berhubungan yang dibuat oleh lembaga atau pejabat pemerintah pada bidang-bidang yang menyangkut tugas pemerintahan, seperti pertahanan keamanan, energy, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, kriminalitas, perkotaan dan lain-lain”

Dalam bukunya Pasolong juga menuliskan pengertian administrasi publik menurut Dye dan Nasucha. Dye berpendapat bahwa kebijakan publik adalah apapun yang yang dipilih pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Nasucha mengartikan kebijakan publik sebagai:

“Kebijakan publik merupakan kewenangan pemerintah dalam pembuatan suatu kebijakan yang digunakan ke dalam perangkat peraturan hukum. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menyerap dinamika sosial dalam masyarakat, yang akan dijadikan acuan perumusan kebijakan agar tercipta hubungan sosial yang harmonis”

Sedangkan menurut Friedrich dalam Agustino (2006:7) kebijakan adalah: “Serangkaian tindakan atau kegiatan yang diusulkan oleh seseorang,

kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan_ dan kemungnan-kemungkinan dimana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud”.

Definisi berbeda disampaikan oleh Nugroho (2004:3), kebijakan publik menurutnya adalah

“Suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan berlaku mengikat seluruh warganya. Setiap pelanggaran akan dberi sanksi sesuai dengan bobot pelanggarannya yang dilakukan dan sanksi dijatuhkan di depan masyarakat oleh lembaga yang mempunyai tugas menjatuhkan sanksi”

(34)

“Kebijakan publik adalah serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud atau tujuan tertentu yang diikuiti dan dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan”

Sementara itu menurut Eyestone dalam Agustino (2006:7) menyatakan kebijakan publik sebagai hubungan antara unit pemerintah dengan lingkungannya.

Menurut Agustino (2006:42) menyebutkan beberapa karakteristik utama dari kebijakan publik, yaitu:

1. Pada umumnya kebijakan publik perhatiannya ditujukan pada tindakan yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu daripada perilaku yang berubah atau acak.

2. Kebijakan Publik pada dasarnya mengandung bagian atau pola kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah daripada keputusan yang terpisah-pisah. Misalnya, suatu kebijakan tidak hanya meliputi keputusan umtuk mengeluarkan suatu peraturan tertentu, tetapi juga keputusan berikutnya yang berhubungan dengan penerapan dan pelaksanaannya.

3. Kebijakan publik merupakan apa yang sesungguhnya dikerjakan pemerintah dalam mengatur perdagangan, mengontrol inflasi atau menawarkan perumahan rakyat, bukan apa yang maksud dikerjakan atau yang akan dikerjakan.

4. Kebijakan publik dapat berbentuk positif maupun negatif. Secara positif, kebijakan melibatkan beberapa tindakan pemerintah yang jelas dalam menangani seuatu permasalahan. Secara negatif, kebijakan publik dapat melibatkan suatu keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan suatu tindakan atau tidak mengerjakan apapun padahal dalam konteks tersebut keterlibatan pemerintah amat diperlukan.

5. Kebijakan publik, paling tidak secara positif, didasarkan pada hukum dan merupakan tindakan yang bersifat memerintah.

Sedangkan menurut Hogwood dan Gunn dalam Suharto (2005:4) menyatakan bahwa kebijakan publik adalah “seperangkat tindakan pemerintah

(35)

1. Bidang kegiatan sebagai ekspresi dari tujuan umum pernyataan-pernyataan yang ingin dicapai.

2. Proposal tertentu yang mencerminkan keputusan-keputusan pemerintah yang dipilih.

3. Kewenangan formal seperti undang-undang atau peraturan pemerintah.

4. Program, yakni seperangkat kegiatan yang mencakup rencana penggunaan sumber daya lembaga dan strategi pencapaian tujuan. 5. Keluaran (output), yaitu apa yang nata telah disediakan oleh

pemerintah sebagai produk dari kegiatan tertentu.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan suatu keputusan yang diambil oleh pemerintah dari berbagai pilihan yang ada untuk dilakukan atau tidak dilakukan untuk menangani berbagai masalah yang terdapat disuatu negara yang mempunyai tujuan tertentu dengan menggunakan tiga kegiatan pokok, yaitu perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan dngan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi orang banyak. Untuk itu kebijakan publik adalah keputusan yang diambil pemerintah mengenai pedoman tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya pada perumusan kebijakan.

Kebijakan publik yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan telah mendapatkan legitimasi dari lembaga legislatif telah memungkinkan birokrasi untuk bertindak. Kebijakan publik dirumuskan untuk mengakomodasi beragam tuntutan masyarakat, berarti bahwa kebijakan publik memiliki tujuan untuk menciptakan suatu kondisi di masa depan guna memuaskan berbagai tuntutan tersebut. Dan di tingkat pemerintah daerah, bentuk kebijakan publik dibuat dalam bentuk Peratuan Daerah (PERDA).

(36)

kebijakan publik, konsep pemberdayaan masyarakat, kajian Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni.

2.1.2 Tahapan Kebijakan Publik

Identifikasi dan perumusan masalah merupakan salah satu ciri penting dari kebijakan publik. Alasan pengadaan kebijakan adalah karena ada suatu masalah yang hendak dipecahkan. Disini, kebijakan merupakan salah satu alat atau cara untuk memecahkan masalah yang sudah ada. Dalam hal ini, yang menjadi dasar pembuatan kebijakan adalah karena adanya masalah. Tanpa ada masalah tidak perlu adanya kebijakan baru.

Masalah dapat diamati melalui kondisi negatif yang tampak atau yang dapat dirasakan. Masalah dapat dianggap sebagai penyebab terjadinya gangguan atau hambatan terhadap kelangsungan sesuatu kondisi yang normal. Kondisi negatif yang ditimbulkannya merupakan gejala yang jika dikaji lebih jauh, akan dapat ditemui adanya penyebab/masalah itu sendiri. Setelah masalah diketahui, tahapan selanjutnya dalam kebijakan publik adalah formulasi kebijakan. Pada tahap ini, berbagai alternatif dan strategi diperhitungkan dengan menggunakan kriteria-kriteria yang berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Perhitungan ini akan sangat bergantung pada pendekatan yang dipakai. Ada pendekatan yang mengggunakan model rasional, pendekatan model inkremintal, model kelompok, teori permainan (games theory) dan sebagainya.

(37)

menentukan keberhasilan suatu kebijakan. Pertama, mutu dari kebijakan dilihat dari substansi kebijakan yang dirumuskan. Hal ini dapat dilihat dengan mengidentifikasikan masalah dengan tepat. Identifikasi masalah secara tepat artinya masalah yang diidentifikasikan itu tidak hanya sekedar benar dalam artian masuk akal (plausible) tetapi juga dapat ditangani (actionable). Kedua, ada dukungan terhadap strategi kebijakan yang dirumuskan. Tanpa dukungan yang cukup, kebijakan tidak akan terwujud.

Tahapan selanjutnya dalam kebijakan publik adalah pelaksanaan/implementasi kebijakan. Kajian implementasi merupakan suatu proses merubah gagasan atau program mengenai tindakan dan bagaimana kemungkinan cara menjalankan perubahan tersebut. Impementasi kebijakan juga merupakan suatu proses dalam kebijakan publik yang mengarah pada pelaksanaan dan kebijakan yang telah dibuat. Pada hakekatnya, merupakan upaya pemahaman apa yang seharusnya terjadi setelah sebuah program dilaksanakan. Sedangkan pada praktiknya, implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang begitu komples bahkan tidak jarang bermuatan politis karena adanya intervensi dari berbagai kepentingan.

(38)

“Pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang -undang, namundapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan-keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah yang akan diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya”

Sementara Grindle dalam Agustino (2006:153) mengemukakan pendapat yang berbeda mengenai implementasi, menurutnya implementasi adalah

”Pengukuran keberhasilan implementasi dapat dilihat dari prosesnya, dengan mempertanyakan pelaksanaan program sesuai dengan yang telah ditentukan yaitu melihat action program dari individual project dan yang kedua apakah tujuan program tersebut tercapai.”

Dalam bukunya Agustino juga menyebutkan definisi implementasi kebijakan menurut Meter dan Horn

Policy implementation encompasses those action by public and private individuals (and group) that are directed the achievement of goals and

objectives set forth imprior policy decision” (Tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan)

Dalam sejarah studi implementasi kebijakan terdapat dua pendekatan dalam memahami implementasi kebijakan, kemudian di antara pengikut pendekatan ini terdapat perbedaan-perbedaan sehingga melahirkan pendekatan

bottom-up.

Dalam pendekatan top-down menurut Agustino (2006:140-141),

implementasi kebijakan yang dilakukan tersentralisir dan mulai dari aktor tingkat pusat, dan keputusannya pun diambil dari tingkat pusat. Pendekatan top-down

(39)

administrator-administrator atau birokrat-birokrat pada level bawahnya. Jadi inti pendekatan

top-down adalah sejauh mana tindakan para pelaksana sesuai dengan prosedur serta tujuan yang telah digariskan oleh para pembuat kebijakan ditingkat pusat.

Selain itu juga diketahui bahwa implementasi kebijakan membicarakan (minimal) 3 hal, yaitu:

1. Adanya tujuan atau sasaran kebijakan yang akan dicapai dengan adanya penerapan kebijakan tersebut.

2. Adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan yang dijewantahkan dalam proses implementasi.

3. Adanya hasil kegiatan, idealnya adalah tercapainya tujuan dari kebijakan tersebut.

Kesimpulannya adalah implementasi kebijakan merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melaksanakan kegiatan atau aktivitas, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri. Selain itu juga perlu diingat, bahwa implementasi kebijakan merupakan hal yang sangat penting dalam keseluruhan tahapan kebijakan, karena melalui tahapan ini keseluruhan prosedur kebijakan dapat dipengaruhi ringkat keberhasilan atau tidaknya pencapaian tujuan tersebut.

2.1.3 Evaluasi Kebijakan

(40)

membahas persoalan perencanaan, isi, implementasi dan efek atau dampak kebijakan. Menurut Lester dan Stewart dalam Agustino (2006:140-141) evaluasi ditujukan untuk melihat sebagian-sebagian kegagalan suatu kebijakan dan untuk mengetahui apakah kebijakan yang telah dirumuskan dan dilaksanakan dapat menghasilkan dampak yang diinginkan. Agustino (2006:55) dalam bukunya yang berjudul Politik dan Kebijakan Publik menyatakan bahwa

“Evaluasi kebijakan adalah rangkaian aktivitas fungsional yang berusaha untuk membuat penilaian melalui pendapat mengenai manfaat atau pengaruh dari kebijakan, program dan proyek yang tengah dan/atau telah dilaksanakan”

Hogwood melihat evaluasi dalam hubungan dengan perubahan masyarakat yang diharapkan dapat terjadi sebagai dampak dari suatu kebijakan. Evaluasi diperlukan karena suatu kebijakan tidak boleh merasa cukup hanya pada selesainya proses implementasi hanya karena sebelum evaluasi akhir ada manfaat yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena dampak yang dihasilkan tidak selalu sesuai dengan rencana awal, terdapat ketidakpastian lingkungan dan kemampuan administrasi dalam mengimplementasikan suatu kebijakan. Dalam praktik, selalu ada keterbatasan untuk memahami suatu isu secara utuh. Juga perlu disadari bahwa kebijakan bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perubahan pada masyarakat.

(41)

suatu kebijakan. Dye mengklasifikasikan dampak suatu kebijakan ke dalam lima komponen

1. Dampak terhadap kelompok sasaran/lingkungan 2. Dampak terhadap kelompok lain

3. Dampak terhadap masa depan 4. Dampak terhadap biaya langsung 5. Dampak terhadap biaya tidak langsung

Menurut Dunn (2003:679) evaluasi ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakan publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstituennya sejauh mana tujuan dicapai. Evaluasi diperlukan untuk melihat kesenjangan antara harapan dan kenyataan Menurut Jones dalam Soekarno (2003:173) mengemukakan bahwa:

“….. Evaluasi adalah kegiatan yang dapat menyumbangkan pengertian yang besar nilainya dan dapat pula membantu penyempurnaan pelaksanaan kebijakan serta perkembangannya. Evaluasi adalah kegiatan yang dipersiapkan ditujukan untuk menilai mutu dan keberhasilan program pemerintah yang terutama kali sekai terdiri dari kegiatan-kegiatan, pemilah-pemilah objek, cara pengukuran dan metode analisa” Evaluasi dapat dibedakan kedalam bentuk-bentuk analisis sebagai berikut: 1. Evaluasi dimaksudkan untuk pembuatan keputusan dan untuk

menganalisis problem seperti yang didefinsikan oleh pembuat keputusan, bukan oleh periset.

(42)

Selain itu definisi mengenai evaluasi kebijakan publik seperti yang diungkapkan oleh Islamy (1997) bahwa

“…. Evaluasi kebijakan adalah merupakan suatu aktivitas untuk melakukan penilaian terhadap akibat-akibat atau dampak kebijakan dari berbagai program-program pemerintah. Pada studi evaluasi kebijakan telah dibedakan antara akibat-akbiat dan konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan dengan dilaksanakannya suatu kebijakan. Adapaun yang dimaksud dengan evaluasi kebijakan adalah dari apa-apa yang telah dihasilkan dengan adanya program pross perumusan kebijakan pemerintah”

Sedangkan Anderson dalam Soekarno (2003:149) mengungkapkan bahwa: “…. Evaluasi kebijakan adalah lebih dari sekedar proses teknik atau analitis, melainkan juga merupakan proses politis dan selanjutnya evaluasi kebijakan itu menunjukkam bahwa meskipun evaluasi itu dimaksudkan dengan tujuan yang tidak memihak dan objektif akan menjadi politis atau kegiatan politik dengan terjadinya pengaruh terhadap alokasi sumber-sumber daya dalam masyarakat”

(43)

Monitoring ditujukan untuk mengetahui bagaimana implementasi sebuah kebijakan sesuai dengan target yang direncanakan. Monitoring berakhir saat target output tercapai. Penilaiannya ddasarkan pada efisiensi dan ketepatan dalam pemanfaatan keseluruhan faktor pendukung yang ada dalam proses impementasi.

Evaluasi akhir diperlukan untuk mengidentifikasikan berbagai kelemahan secara menyeluruh dari suatu kebijakan, baik yang berasal dari kelemahan strategi kebijakan sendiri, maupun karena kelemahan dalam implementasi. Tujuan dari evaluasi akhir ini adalah untuk membangun dan menyempurnakan kebijakan, sehingga fokusnya tidak hanya pada suatu tahap dalam proses kebijakan, tetapi juga pada keseluruhan proses. Oleh karena itu, objek yang diidentifikasikan bukan hanya pada kegagalan, melainkan juga pada keberhasilan. Kegagalan menjadi sasaran untuk diperbaiki, sedangkan keberhasilan menjadi contoh untuk dikembangkan.

(44)

dan/atau memecahkan permasalahan. Dunn, menunjuk empat aspek dalam evaluasi kebijakan, antara lain:

1. Value artinya evaluasi lebih memusatkan diri pada nilai atau kepatutan dalam pencapaian hasil dari sutau kebijakan

2. Evaluasi memberi tekanan yang sama antara fakta dan nilai.

3. Orientasi evaluasi tidak hanya pada nilai, tapi juga pada nilai masa lampau.

4. Evaluasi mempunyai dua posisi, yaitu sebagai tujuan, dan sekaligus sebagai alat.

Menurut Carol Weiss dalam Parsonss (2006:547), mengatakan bahwa evaluasi dapat dibedakan dari bentuk-bentuk analisis lainnya dari enam hal:

1. Evaluasi dimaksudkan untuk pembuatan keputusan, dan untuk menganalisis problem seperti yang didefinisikan oleh pembuat keputusan, bukan oleh pejabat.

2. Evaluasi adalah penilaian karakter.

3. Evaluasi adalah riset yang dilakukan dalam setting kebijakan, bukan dalam setting akademik.

4. Evaluasi seringkali melibatkan konflik antara periset dan praktisi. 5. Evaluasi biayanya tidak dipublikasikan.

6. Evaluasi mungkin melibatkan periset dalam persoalan kesetiaan kepada agen pemberi dana dan peningkatan perubahan sosial.

Menurut Dunn (2003) terdapat 3 fungsi utama evaluasi dalam analisis kebijakan, yaitu

(45)

mengungkapkan seberapa jauh tujuan dan target yang telah ditetapkan tekah tercapai.

2. Evaluasi memberikan sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Nilai tersebut dikritik mengenai kepantasan tujuan dan target yang telah ditetapkan dan keterkaitan dan kesesuaian dengan permasalahan yang dituju.

3. Evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi. Informasi yang dihasilkan dari proses evaluasi dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk merumuskan ulang masalah dan memberikan alternatif kebijakan baru maupun revisi kebijakan sebelumnya.

Anderson dalam Winarno (2002:230), membagi evaluasi kebijakan menjadi tiga tipe evaluasi. Yaitu:

1. Tipe Pertama, evaluasi kebijakan dipahami sebagai kegiatan fungsional, maka evaluasi kebijakan dipandang sebagai kegiatan yang sama pentingnya dengan kebijakan itu sendiri.

2. Tipe kedua, merupakan tipe evaluasi yang memfokuskan diri kepada bekerjanya kebijakan atau program-program tertentu. Tipe evaluasi ini cenderung menghasilkan informasi yang sedikit mengenai dampak suatu program terhadap masyarakat.

3. Tipe ketiga, adalah tipe evaluasi kebijakan sistematis. Tipe ini melihat secara objektif program-program kebijakan yang dijalankan untuk mengukur dampaknya, dan sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dicapai.

(46)

dibandingkan dengan tujuan suatu program. Hubungan sebab akibat harus diteliti dengan cermat antara kegiatan program dengan output dan outcome yang nampak. Menurut Suchman dalam Winarno (2014:233), mengemukakan enam langkah dalam evaluasi kebijakan, yaitu:

1. Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi 2. Analisis terhadap masalah

3. Deskripsi dan standarisasi kegiatan

4. Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi

5. Menentukan apakah perubahan yang diamati merupakan akibat dari kegiatan tersebut atau karena penyebab yang lain

6. Beberapa indikator untuk penilaian untuk menentukan keberadaan suatu dampak

Dalam evaluasi sering kali terdapat masalah-masalah yang menyebabkan kurang efektifnya proses evaluasi tersebut. Masalah yang biasanya dihadapi dalam proses evaluasi kebijakan adalah kelemahan dalam penyusunan skema umum penilaian keberhasilan, dalam merumuskan masalah, mengidentifikasikan tujuan, perbedaan tentang persepsi terhadap tujuan antara penilai dan yang dinilai, perbedaan dalam orientasi waktu dan sebagainya.

Menurut Anderson dalam Winarno (2002:230) terdapat enam masalah yang akan dihadapi dalam proses evaluasi kebijakan yaitu:

1. Ketidakpastian atas tujuan-tujuan kebijakan

Kejelasan tujuan kebijakan sangat penting sebagai acuan dalam pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan. Ketidakjelasan tujuan biasanya berangkat dari proses penetapan kebijakan. Sebuah kebijakan seringkali melibatkan beberapa kelompok kepentingan di dalamnya, dimana masing-masing kelompok kepentingan memiliki nilai-nilai yang berbeda. Kondisi ini mendorong terjadinya ketidakjelasan tujuan karena harus merefleksikan banyak kepentingan yang terlibat di dalam perumusan kebijakan.

2. Kausalitas

(47)

Apabila suatu tindakan di ambil, dan terjadi suatu perubahan di suatu masyarakat yang menjadi objek kebijakan, maka terjadi hubungan kausalitas. Namun sesuatu dapat timbul dengan atau tanpa tindakan kebijakan.

3. Dampak kebijakan yang menyebar

Seringkali kita mendengar istilah eksternalitas, yaitu suatu dampak yang ditimbulkan oleh suatu kebijakan pada keadaan kelompok-kelompok di luar kelompok-kelompok yang menjadi sasaran kebijakan.

4. Kesulitan-kesulitan dalam memperoleh data

Kekurangan data statistik atau informasi-informasi yang relevan dapat menghalangi para evaluator untuk melakukan evaluasi kebijakan. Untuk itu model-model ekonomi bisa digunakan untuk meramalkan dampak dari pengurangan pajak pada ekonmi dapat dilakukan, meskipun sulit diperoleh.

5. Resistensi pejabat

Jika evaluasi yang dilakukan menurut badan administrasi dan para pejabat program akan menjadi perhatian para pembuat keputusan, maka akan berpengaruh terhadap karir mereka. Akibatnya para pejabat pelaksana program akan memiliki kecenderungan untuk meremehkan proses evaluasi, menolak memberikan data dan tidak menyediakan dokumen yang lengkap.

6. Evaluasi mengurangi dampak

Suatu hasil valuasi tidak akan diiterima apabila tidak direncanakan dengan baik, data yang digunakan tidak memadai, atau tidak didukung dengan data yang memadai. Hal inilah yang menyebabkan suatu evaluasi tidak mendapat perhatian yang semestinya bahkan diabaikan meskipun hasil evaluasi itu benar.

Evaluasi implementasi kebijakan dibagi menjadi tiga menurut timing

implentasi, yaitu sebelum dilaksanakan, pada waktu dilaksanakan dan setelah dilaksanakan. Evaluasi pada saat pelaksanaan disebut evaluasi proses. Evaluasi setelah pelaksaan disebut evaluasi konsekuensi kebijakan atau evaluasi impak.

(48)

1. Evaluasi semu adalah evaluasi yang bertujuan untuk menghasilkan informasi yang solid mengenai hasil kebijakan

2. Evaluasi formal adalah evaluasi yang bertujuan utnuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan secara formal diumumkan sebagai tujaun program kebijakan,

3. Evaluasi keputusan teoritis adalah evaluasi yang bertujuan menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan yang secara eksplisit diinginkan oleh berbagai pelaku kebijakan.

Terdapat kriteria yang berbeda untuk mengevaluasi hasil kebijakan. Perbedaan antara kriteria yang di gunakan untuk evaluasi dan kriteria untuk rekomendasi adalah pada waktu ketika kriteria diterapkan atau diaplikasikan. Kriteria untuk evaluasi diterapkan secara retrospektif (expose), sedangkan kriteria untuk rekomendasi diterapkan secara prospektif (ex ante).

Weiss dalam Widodo (2007:114-115) menjelaskan bahwa evaluasi kebijakan mengandung beberapa unsur penting, yaitu:

1. Untuk mengukur dampak (to measure the effect) dengan bertumpu pada metode riset yang digunakan.

2. Dampak (effect) tadi menekankan pada suatu hasil (outcomes) dari efisiensi, kejujuran, moral, yang melekat pada aturan-aturan atau standar 3. Perbandingan antara dampak (effect) dengan tujuan (goals) menekankan

pada penggunaan kriteria yang jelas dalam menilai bagaimana suatu kebijakan telah dilaksanakan dengan baik.

4. Memberi kontribusi pada pembuatan keputusan selanjutnya kemudian perbaikan kebijakan pada masa mendatang sebagai tujuan sosial (the social pupose) dari evaluasi

Sedangkan dalam pemanfaatan hasil evaluasi, weiss dalam Wibawa (1994:108-109) membedakan empat cara memanfaatkan riset evaluasi, yaitu:

(49)

2. Masukan pada akhir program, untuk memutuskan apakah pembuat kebijakan akan mengakhiri, mengubah atau memperluas program

3. Masukan untuk tingkat kebijakan yang lebih tnggi guna memutuskan apa yang harus dikerjakan terhadap seluruh program

4. Senjata bagi kelompok tertentu untuk memperngaruhi kebijakan

Evaluasi kebijakan publik memiliki empat lingkup makna, yaitu evaluasi perumusan kebijakan, evaluasi implementasi kebijakan, evaluasi kinerja kebijakan dan evaluasi lingkungan kebijakan. Evaluasi implementasi kebijakan dalam Nugroho (2004:682), ditujukan untuk mengetahui variasi dalam skema umum penilaian kinerja yang digunakan untuk menjawab tiga pertanyaan pokok, yaitu:

1. Bagaimana kinerja implementasi kebijakan publik? Jawabannya berkenaan dengan kinerja implementasi publik (variasi dari outcome) terhadap variabel independen tertentu

2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan variasi itu? Jawabannya berkenaan dengan faktor kebijakan itu sendiri, organisasi implementasi kebijakan, dan lingkungan implementasi kebijakan yang memperngaruhi variasi outcome implementasi kebijakan 3. Bagaimana strategi meningkatkan kinerja implementasi kebijakan

publik? Pertanyaan ini berkenaan dengan tugas pengevaluasi untuk memilih variabel-variabel yang dapat diubah, atau actionable variabel-variabel yang bersifat natural atau variabel lain yang tidak bisa diubah tidak dapat dimasukkan sebagai variabel evaluasi. 1. Berbeda dengan evaluasi menurut Dunn, Weiss dan Nugroho,

Nurcholis (2007:277) mengatakan bahwa evaluasi kebijakan adalah proses mendasarkan diri pada disiplin ketat dan tahapan waktu. Oleh karena itu, kita harus (1) membuat skema umum penilaian dan (2) membuat seperangkat instrumen yang meliputi parameter dan indikator. Skema umum penilaian tersebut yaitu

input, proses, output dan outcomes. Sedangkan seperangkat instrumen yang mencakup parameter dan indikatornya adalah:

(50)

Untuk itu, dikembangkan instrumen yang meliputi indikator-indikator :

1) Sumber daya pendukung (SDM, uang, sarana dan prasarana);

2) Bahan-bahan dasar pendukung (peralatan dan teknologi); 2. Proses yaitu bagaimana sebuah kebijakan diwujudkan dalam

bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Untuk itu, dikembangkan instrumen yang meliputi indikator-indikator:

1) Tepat sasaran atau tidak; 2) Tepat guna atau tidak; 3) Efisien atau tidak;

3. Output (hasil) yaitu hasil dari pelaksanaan kebijakan. Apakah suatu pelaksanaan kebijakan menghasilkan produk sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Untuk itu, dikembangkan instrumen dengan indikator-indikator sebagai berikut:

1) Tepat tidaknya sasaran yang dituju; 2) Berapa besar sasaran yang dituju

3) Seberapa banyak kelompok sasaran yang tertangani 4) Seberapa besar kelompok yang terlibat;

(51)

tetap saja seperti sedia kala. Untuk itu dikembangkan instrumen dengan indikator:

1) Ada atau tidaknya perubahan pada target/sasaran 2) Seberapa besar perubahan kelompok sasaran

3) Seberapa signifikan perubahan yang terjadi pada kelompok sasaran dibandingkan dengan tujuan yang ingin dicapai Skema umum penilaian menurut Nurcholis ini merupakan penilaian secara menyeluruh terhadap suatu kebijakan. Penilaian tersebut meliputi masukan awal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan suatu kebijakan, proses pelaksanaan kebijakan, hasil kebijakan hingga kesesuaian antar tujuan kebijakan dengan dampak yang ditimbulkan. Dengan menggunakan teori evaluasi kebijakan ini dapat dibuat penilaian secara menyeluruh terhadap kebijakan yang akan dievaluasi.

2.1.4 Konsep Pemberdayaan Masyarakat

Beberapa ahli mengemukakan definisi pemberdayaan dilihat dari tujuan dan proses. Menurut Parson dalam Suharto (2005:28-29)

“Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagai pengontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan dan kekuasaaan yang cukup untuk memperngaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya”

(52)

Berdaya Media Informasi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dalam Skripsi

Esyin Quraesin. 2013:44).

Tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat, khususnya kelompok yang lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal misalnya, persepsi mereka sendiri, maupun karena kondisi eksternal misalnya, ditindak oleh struktur sosial yang tidak adil. Dengan demikian pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, merupakan serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok masyarakat, khususnya kelompok yang lemah. Sedangkan sebagai tujuan, merujuk kepada hasil yang ingin dicapai dalam pemberdayaan yaitu masyarakat yang berdaya, dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya, baik fisik, mampu menyampaikan aspirasi, memiliki mata pencaharian, berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan lainnnya.

Sedangkan menurut Chamber dalam Kartasasmita (1997) pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkai nilai-nilai sosial. Yakni bersifat “People-centered, participatory, empowering, and

(53)

Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi lebih bergantung pada berbagai program pemberian. karena pada dasarnya, setiap apa yang dinikmati, harus dihasilkan atas usaha sendiri yang hasilnya dapat dipertukarkan dengan pihak lain. Dengan demikian, tujuan akhirnya adalah memandirikan masyarakat, memampukan dan membangun kemampuan unutk memajukan diri ke arah yang lebiih baik secara berkesinambungan.

2.1.5 Definisi Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni

Ada dua pengertian untuk istilah ‘program’ yaitu pengertian secara khusus

dan umum. Menurut pengertian secara umum program dapat diartikan sebagai rencana menurut Arikunto (2004:2), apabila program ini langsung dikaitkan dengan evaluasi program maka program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Ada tiga pengertian penting dan perlu ditekankan dalam menentukan program, yaitu:

1. Realisasi atau implementasi suatu kebijakan

2. Terjadi dalam waktu relatif lama-bukan kegiatan tunggal tetapi jamak berkesinambungan

3. Terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang

(54)

adalah unit pelaksana teknis program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni di Kabupaten Serang yang melaksanakan tugas pendataan calon penerima bantuan, pelaksana kegiatan sosialisasi ditingkat kabupaten, melaksanakan verifikasi calon penerima bantuan, dan sebagai fasilitator pembentukan kepengurusan kelompok penerima bantuan RS-RTLH.

1. Maksud dan Tujuan

A. Maksud dari pembentukan Dinas Sosial adalah sebagai wadah aspirasi dan pemberdayaan masyarakat miskin dan tertinggal menuju kehidupan yang lebih baik lagi.

B. Tujuan

a. Tersedianya pelayanan rehabilitasi sosial perumahan tidak layak huni bagi keluarga masyarakat miskin

b. Terpenuhinya kenyamanan dan keamanan tempat tinggal masyarakat miskin

c. Meningkatkan harkat dan martabat keluarga masyarakat miskin

d. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam melaksanakan peran dan fungsi keluarga untuk memberikan perlindungan, bimbingan, dan pendidikan

e. Meningkatnya kualitas kesehatan lingkungan pemukiman keluarga masyarakat miskin

f. Meningkatnya kualitas hidup masyarakat miskin

g. Meningkatnya partisipasi sosial dalam rangka pelaksanaan RS-RTLH

h. Tersosialisasinya kegiatan RS-RTLH pada pemangku kepentingan

Landasan yuridis pelaksanaan program RS-RTLH di Kabupaten Serang : 1. Undang-Undang Dasar tahun 1945 (pasal 34)

(55)

4. Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin

5. Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 Tahun 1981 tentang Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin

6. Peraturan Bupati Nomor 11 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Sosial Kabupaten Serang

7. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial

8. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Upaya Penanganan Fakir Miskin Melalui Pendekatan Wilayah

2. Sasaran dan Target

Kriteria keluarga penerima manfaat bantuan stimulan rumah tidak layak huni, meliputi :

1. Rumah tangga miskin yang terdaftar dalam Program Pendataan Perlindungan Sosial (PPLS) 2011

2. Rumah tangga miskin yang tidak terdaftar dalam PPLS 2011 tapi masuk dalam kriteria fakir miskin dan orang tidak mampu berdasarkan Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 146 Tahun 2013 tentang Penetapan Kriteria Dan Pendataan Fakir Miskin Dan Orang Tidak Mampu, yaitu :

(56)

b. Mempunyai pengeluaran sebagian besar digunakan untuk memenuhi konsumsi makanan pokok dengan sangat sederhana

c. Tidak mampu atau mengalami kesulitan untuk berobat ke tenaga medis, kecuali Puskesmas atau yang disubsidi pemerintah

d. Tidak mampu membeli pakaian satu kali dalam satu tahun untuk setiap anggota rumah tangga

e. Mempunyai kemampuan hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

f. Mempunyai dinding rumah terbuat dari bambu/kayu/tembok dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah, termasuk tembok yang sudah usang/berlumut atau tembok tidak diplester

g. Kondisi lantai terbuat dari tanah atau kayu/semen/keramik dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah

h. Atap terbuat dari ijuk/rumbia atau genteng/seng/asbes dengan kondisi tidak baik/ kualitas rendah

i. Mempunyai penerangan bangunan tempat tinggal bukan dari listrik atau listrik tanpa meteran

j. Luas lantai rumah kecil kurang 8m2/orang,

k. Mempunyai sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tak terlindung/air sungai/air hujan/lainnya

3. Belum pernah mendapat bantuan RS-RTLH

4. Memiliki KTP/identitas diri dan Kartu Keluarga yang masih berlaku

5. Memiliki rumah di atas tanah milik sendiri yang dibuktikan dengan sertifikat/girik atau surat keterangan kepemilikan dari desa atau status tanah.

(57)

2. Atap dibuat dari bahan yang mudah rusak/ lapuk seperti rumbia, seng, ilalang, ijuk, genteng

3. Dinding terbuat dari bilik, papan, bambu, kulit kayu dalam keadaan rusak

4. Lantai tanah, papan, bambu, semen dalam kondisi rusak 3. Tahapan kegiatan pelaksanaan program RS-RTLH

1) Sosialisasi

i. Sosialisasi dilaksanakan dalam rangka memperoleh kesamaan pemahaman, gerak langkah dan membangun komitmen setiap pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan RS-RTLH. Sasaran sosialisasi diantaranya:

1. Aparat Dinas Sosial yang terkait sesuai tugas dan fungsinya 2. Dinas/Instansi terkait

3. Aparat Kecamatan dan Desa lokasi kegiatan 4. Tokoh masyarakat/agama/adat

5. TKSK dan PSM

6. Perwakilan calon penerima bantuan RS-RTLH 7. Dunia Usaha

8. Pihak lainnya yang relevan

ii. Substansi materi sosialisasi diantaranya mencakup : 1. Hakekat kegiatan

2. Kriteria penerima bantuan 3. Jenis bantuan

4. Tujuan kegiatan

(58)

6. Jumlah penerima dan besarnya bantuan 7. Pihak-pihak yang terlibat

8. Proses pelaksanaan

9. Tugas masing-masing yang terlibat

10. Mekanisme penyaluran, pencairan dan penggunaan dana bantuan

11. Pelaporan 2) Prosedur Pengusulan

Prosedur pengusulan penerima bantuan rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni adalah sebagai berikut:

a. Dinas Sosial Kabupaten bersama TKSK/PSM/Karang Taruna/Orsos/Aparat Desa melakukan pemetaan lokasi kumuh dan pendataan KK calon penerima RS-RTLH

b. Berdasarkan hasil pemetaan dan pendataan tersebut, Dinas Sosial/Instansi Kabupaten mengajukan permohonan bantuan rehabilitasi sosial rumah tidka layak huni ke Kementerian Sosial dengan rekomendasi Dinas/Instansi Sosial Provinsi dengan melampirkan data lokasi, data calon penerima, (by name by address) dan foto rumah

c. Ditjen Pemberdayaan Sosial cq Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Pedesaan (Dit. PKPD) melakukan verifikasi administrasi dan verifikasi lapangan

d. Dinas Sosial Kabupaten mengeluarkan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak kepada Dinas Sosial tentang kebenaran lokasi dan calon penerima bantuan serta kesiapan melaksanakan kegiatan RS-RTLH dengan benar sesuai dengan pedoman pelaksanaan RS-RTLH yang dikeluarkan oleh Dit. PKPD

e. Berdasarkan hasil verifikasi administrasi dan lapangan Dit. PKPD mengeluarkan Surat Keputusan Penetapan lokasi dan jumlah KK penerima bantuan RS-RTLH yang ditandatangani Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Dit. PKPD

(59)

alasan penggantian serta menyampaikan surat pernyataan tersebut kepada Dit. PKPD

Gambar 3.1 : Mekanisme Usulan RS-RTLH 3) Verifikasi / Penjajagan

Penjajagan dan verifikasi calon lokasi dan KK penerima bantuan di maksudkan untuk memperoleh gambaran tentang kesiapan daerah dan masyarakat, kelayakan calon penerima bantuan dan faktor lainnya yang akan mendukung keberhasilan kegiatan.

4) Pembentukan Kelompok

Penyaluran bantuan RS-RTLH dilaksanakan melalui kelompok, sehingga setiap calon penerima bantuan sudah berkelompok sebelum bantuan dicairkan. Pembentukan kelompok RS-RTLH dilakukan dalam pembinaan Dinas Sosial Kabupaten Serang

(60)

5) Musyawarah Kelompok

Kelompok RS-RTLH melaksanakan musyawarah setidaknya dalam hal :

a. Menetapkan kepengurusan

b. Pemanfaatan/penggunaan dana bantuan

c. Menetapkan jenis pekerjaan dan waktu pelaksanaannya d. Mengatasi masalah

6) Pembukaan Rekening Kelompok

Setiap kelompok RS-RTLH diwajibkan membuka/memiliki rekening bank (Bank Pemerintah), karena penyaluran bantuan dilaksanakan secara cash transfer langsung ke penerima bantuan 7) Penyaluran dan Pencairan Dana

Penyaluran bantuan stimulan RS-RTLH ke rekening kelompok dan tim dilaksanakan setelah kepala keluarga fakir miskin anggota kelompok dan tim tersebut ditetapkan melalui surat keputusan KPA sebagai penerima bantuan. Pencairan dana bantuan dilakukan setelah kelompok dan tim membuat rencana anggaran biaya penggunaan dana bantuan yang ditandatangani oleh ketua dan bendahara/sekretaris dengan persetujuan Dinas Sosial Kabupaten Serang

8) Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan Program RS-RTLH dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

(61)

2) Menetapkan prioritas bagian rumah yang akan diperbaiki berdasarkan pada fungsi dan ketersediaan dana dan sumber lainnya

3) Menetapkan prioritas sarana prasarana lingkungan yang akan dibangun

4) Membuat rincian jenis/bahan bangunan yang diperlukan serta besarnya biaya

5) Melaksanakan pembelian bahan bangunan

6) Melaksanakan kegiatan perbaikan rumah secara bergotong royong

7) Pelaksanaan pembangunan RS-RTLH telah selesai selambat-lambatnya 100 (seratus) hari setelah dana masuk ke rekening kelompok

8) Pada setiap tahapan proses RS-RTLH pembangunan didokumentasikan yaitu meliputi 0% (kondisi awal), 50% (proses), dan 100% (hasil)

9) Bukti pembelian/pembelanjaan menjadi bahan dalam penyusunan laporan kegiatan kelompok

9) Pelaporan

Pelaporan hasil pelaksanaan kegiatan oleh Dinas Sosial Kabupaten Serang kepada Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Pedesaan mencakup :

a. Laporan pertanggungjawaban keuangan dana operasional Kabupaten Serang selambat-lambatnya akhir tahun anggaran

b. Laporan pertanggungjawaban keuangan bantuan RS-RTLH masing-masing kelompok setelah selesai pelaksanaan pekerjaan

(62)

Sehubungan dengan mekanisme kegiatan pada Program RS-RTLH, sehingga diharapkan Program RS-RTLH dapat berjalan sesuai dengan petunjuk pelaksana dan petunjuk teknisnya dan dapat meminimalisir permasalahan yang terjadi baik antara TKSK dengan pihak instansi Dinas Sosial Kabupaten Serang maupun dengan pihak penerima Program RS-RTLH tersebut.

Pemerintah Kabupaten Serang sangat serius dalam menanggapi permasalahan terkait kesejhateraan masyarakatnya sehingga dikeluarkannya Program Bantuan berupa RS-RTLH ini, maka diharapkan masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten Serang dapat merasakan dampak yang positif dan terus berkembang dalam memajukan kesejhateraan hidupnya dimasa mendatang. Selanjutnya yang dilakukan peneliti adalam mencari penelitian terdahulu dengan sebab adanya penelitian sebelumnya maka akan membandingkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian lainnya. Sehingga dapat diperbandingkan dari permasalahannya dan juga dari cara peneliti melakukan penelitiannya di lapangan.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu adalah kajian penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya yang dapat diambil dari berbagai sumber ilmiah, baik Skripsi, Tesis, Disertasi atau Jurnal Penelitian. Dalam hal ini peneliti mendapatkan penelitian yang serupa dengan peneliti yang lakukan saat ini, diantaranya yakni;

(63)

Pada penelitian tersebut peneliti menggunakan teori Implementasi Kebijakan Jones (1996 : 296) yaitu (1) Organisasi (2) Interpretasi (3) Penerapan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, studi literatur dan studi dokumentasi. Sedangkan untuk menguji validitas data menggunakan triangulasi dan membercheck. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan program RS-RTLH belum berjalan dengan baik dikarenakan adanya beberapa kendala yakni belum sepenuhnya keterlibatan dari pihka-pihak terkait dengan program RS-RTLH, keterbatasan pemahaman pelaksana program RS-RTLH mengenai program RS-RTLH, kurangnya transparansi pihak ketiga dalam menyalurkan bahan material bangunan dan sosialisasi yang belum menyentuh masyarakat secara langsung.

(64)

program RS-RTLH merupakan salah satu program pengentasan kemiskinan melalui peningkatan infrastruktur.

2.3 Kerangka Pemikiran Penelitian

Berdasarkan dari permasalahan yang ditemukan oleh peneliti dan juga beberapa teori sebagai pijakan peneliti dalam melakukan penelitian yang berjudul Evaluasi Program RS-RTLH di Kabupaten Serang Tahun 2013, maka peneliti memilih menggunakan teori dari Nurcholis (2007:277) yang meliputi :

1. Input : Merupakan masukan apa saja yang diperlukan agar Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni dapat terlaksana dengan baik

2. Proses : Bagaimana Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni diwujudkan dalam bentuk pelayanan langsung ke masyarakat

3. Output : Hasil dari pelaksanaan program. Apakah suatu program menghasilkan produk sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan 4. Outcomes (dampak) : Apakah pelaksanaan program berdampak

nyata pada kelompok sasaran sesuai dengan tujuan kebijakan

Figur

Gambar 1.1 Rumah Ibu Asiah penerima bantuan Program RS-RTLH Tahun 2013 di
Gambar 1 1 Rumah Ibu Asiah penerima bantuan Program RS RTLH Tahun 2013 di . View in document p.20
Gambar 3.1 : Mekanisme Usulan RS-RTLH
Gambar 3 1 Mekanisme Usulan RS RTLH . View in document p.59
Gambar 2.2 Alur Pemikiran
Gambar 2 2 Alur Pemikiran . View in document p.65
Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.72
Gambar 3.1:  Proses  Analisis Data Sumber:  (Irawan, 2005:5.28-5.35)
Gambar 3 1 Proses Analisis Data Sumber Irawan 2005 5 28 5 35 . View in document p.78
Tabel 3.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Tabel 3 2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian . View in document p.82
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.112
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.113

Referensi

Memperbarui...