• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENCEMARAN UDARA AKIBAT GAS BUANG KENDAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENCEMARAN UDARA AKIBAT GAS BUANG KENDAR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Udara merupakan campuran beberapa macam gas yang perbandingannya tidak tetap, tergantung pada keadaan suhu udara, tekanan udara, dan lingkungan sekitarnya. Udara adalah juga atmosfer yang berada di sekeliling bumi yang fungsinya sangat penting bagi kehidupan di dunia ini. Dalam udara terdapat oksigen (O2) untuk bernafas, karbondioksida untuk proses fotosintesis adalah klorofil daun dan ozon (O3) untuk menahan sinar ultra violet.

Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara dalam jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan dapat mengganggu kehidupan manusia, hewan, dan binatang.

Polusi udara di sekitar kita telah sangat memprihatinkan. Jarang disadari berapa ribu warga yang meninggal setiap tahunnya karena infeksi saluran pernapasan, asma, maupun kanker paru-paru akibat polusi udara seperti gas buang kendaraan bermotor. Diperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit paru-paru dan saluran pernapasan. Di ibu kota negara, gas buang kendaraan bermotor menyebabkan ketidaknyamanan pada orang yang berada di tepi jalan dan menyebabkan masalah pencemaran udara. Beberapa studi epidemiologi dapat menyimpulkan adanya hubungan yang erat antara tingkat pencemaran udara perkotaan dengan angka kejadian (prevalensi) penyakit pernapasan.

(2)

yang besar yang dapat langsung terhirup melalui hidung dan mempengaruhi masyarakat di jalan raya dan sekitarnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa penyebab terjadinya polusi udara di lingkungan?

2. Apa dampak yang ditimbulkan oleh gas buang kendaraan bermotor terhadap lingkungan?

(3)

BAB 2 TOPIK

Kendaraan Bermotor Penyumbang Polusi Udara Terbesar di

Jakarta

Ilustrasi: Ist.

BERITA HARIAN

Diposting pada 16 Februari 2015

Jakarta (Greeners) – Jakarta sebagai Ibukota Negara masih menjadi magnet yang mampu menarik para pendatang daerah untuk berkunjung. Sayangnya, semakin tinggi populasi manusia di Jakarta, kepemilikan kendaraan bermotorpun semakin tinggi.

(4)

Memang, lanjutnya, dari alat pantau udara yang diletakkan di beberapa titik, terlihat kualitas udara di Jakarta secara umum masih berada dibawah ambang batas. Hal tersebut akibat dari kemacetan lalu lintas yang tidak pernah hilang di Jakarta.

“Jadi kalau secara umum masih di bawah ambang batas, tapi secara khusus di beberapa lokasi seperti wilayah industri dan pusat kemacetan memang ada yang telah melebihi ambang batasnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk meningkatkan kualitas udara di Jakarta, Gamal menyatakan pihaknya telah melakukan pemantauan terhadap emisi gas buang yang dihasilkan benda tak bergerak, yaitu cerobong asap di pabrik dan industri. “Kita secara rutin melakukan pemeriksaan cerobong pabrik dan industri. Kalau melanggar tidak bersih maka kita berikan sanksi tegas,” ungkapnya.

Senada dengan Gamal, Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Syafrudin, menyatakan, bahwa kualitas udara di DKI Jakarta sudah sangat parah dan semakin memburuk, bahkan telah melebihi ambang batas akibat pencemaran udara dari asap kendaraan bermotor setiap harinya.

Berdasarkan riset yang dilakukan Universitas Indonesia pada tahun 2006 untuk memeriksa kadar hidrokarbon yang ada di udara di wilayah DKI Jakarta, tuturnya, menunjukkan bahwa udara di DKI Jakarta sudah jauh di bawah garis rata-rata layak untuk paru-paru.

“Urin masyarakat DKI Jakarta sudah mengandung kadar Polycyclic aromatic hydrocarbons(PAHs) sebanyak empat kali lipat lebih tinggi dari yang diperbolehkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” katanya saat dihubungi oleh Greeners.

Indikator termudah untuk menandakan kalau polusi udara di lokasi tertentu sudah sangat parah bisa diketahui dari masyarakat yang menggunakan transportasi umum atau sedang berjalan kaki di pusat kota, lalu mencium bau bensin menempel pada pakaian dan kulit mereka.

(5)

Mengenai titik pantau yang dimiliki oleh BPLHD DKI Jakarta dan kesimpulan bahwa kualitas udara di Jakarta masih di bawah ambang batas, Ahmad berbeda pendapat dengan BPLHD Jakarta. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang terlalu menyederhanakan masalah tersebut. Bahkan ia menuding bahwa pernyataan tersebut hanya upaya pencitraan pemerintah kalau kualitas udara di Jakarta masih baik-baik saja.

“Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, yang dikatakan indikator kualitas udara bersih jika partikel debu maksimal 60 mikrogram per meter kubik. Sedangkan kondisi udara di Jakarta sejak 2012 lalu jauh melampaui ambang batas hingga mencapai 150 mikrogram per meter kubik,” tegasnya.

Bahkan, lanjut Ahmad, standar WHO secara tegas memberi batas kandungan partikel debu 20 mikrogram per meter kubik. Belum lagi indikator kandungan, seperti sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan hydro karbon, yang mudah ditemukan di daerah polusi tinggi. Berdasarkan data ini, kata Ahmad, seharusnya pemerintah tahu bahwa udara di Jakarta jauh dari kata bersih.

“Bahkan penelitian dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2010 mencatat 57,8 persen atau setara dengan sekitar lima juta penduduk Indonesia mengalami penyakit akibat polusi udara,” pungkasnya.

(6)

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1 Penyebab Terjadinya Polusi Udara di Lingkungan.

Pembangunan yang berkembang pesat dewasa ini, khusunya dalam industri dan teknologi, serta meningkatnya jumla kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak) menyebabkan udara yang kita hirup di sekitar kita menjadi tercemar oleh gas-gas buangan hasil pembakaran.

Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan campuran dari satu atau lebih bahan pencemar, baik beupa padatan, cairan atau gas yang termasuk terdispersi ke udara dan kemudian menyebar ke lingkungan sekitarnya. Kecepatan penyebaran ini sudah barang tentu akan tergantung pada keadaan geografi dan meteorologi setempat.

Udara bersih yang kita hirup merupakan gas yang tidak tampak, tidak berbau,tidak berwarna maupun berasa. Akan tetapi udara yang benar-benar bersih sudah sulit diperoleh, terutama di kota-kota besar yang banyak industrinya dan padat lalu lintasnya. Udara yang tercemar dapat merusak lingkungan dan kehidupan manusia. Terjadinya kerusakan lingkungan berarti berkurangnya (rusaknya) daya dukung alam yang selanjutnya akan mengurangi kualitas hidup manusia.

3.2 Dampak yang Ditimbulkan oleh Gas Buang Kendaraan Bermotor terhadap Lingkungan

(7)

Vehicle Emission Reduction Strategy for Greater Jakarta (ADB, 2002) menyimpulkan bahwa sektor transportasi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencemaran udara perkotaan (Suhadi, 2005). Dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh sektor transportasi berdasarkan zat pencemar antara lain:

1. Karbon Monoksida (CO)

Keracunan gas monoksida (CO) dapat ditandai dari keadaan ringan, berupa pusing, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat berupa menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskuler, serangan jantung hingga kematian.

Karakteristik biologik yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin, pigmen sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan.

Selain itu, metabolisme otot dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu dengan adanya ikatan CO yang stabil tersebut. Dampak keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang parah (Depkes).

Namun, dampak dari CO juga bervasiasi tergantung dari status kesehatan seseorang pada saat terpajan. Pada beberapa orang yang berbadan gemuk dapat mentolerir pajanan CO sampai kadar HbCO dalam darahnya mencapai 40% dalam waktu singkat. Tetapi seseorang yang menderita sakit jantung atau paru-paru akan menjadi lebih parah apabila kadar HbCO dalam darahnya sebesar 5–10%.

(8)

oksigen di dalam plasenta dan juga pada janin dan darah. Hal ini dapat menyebabkan kelahiran prematur atau bayi lahir dengan berat badan lebih rendah dibandingkan keadaan normal.

2. Nitrogen Oksida (NOx)

Kedua bentuk nitrogen oksida, NO dan NO2, sangat berbahaya bagi manusia. Namun, penelitian aktivitas mortalitas kedua komponen tersebut menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih berbahaya dibanding NO. NO2 merupakan gas yang toksik bagi manusia dan pada umumnya gas ini dapat menimbulkan gangguan sistem pernapasan. NO2 dapat masuk ke paru-paru dan membentuk Asam Nitrit (HNO2) dan Asam Nitrat (HNO3) yang merusak jaringan mukosa.

NO2 dapat meracuni paru-paru. Jika terpapar NO2 pada kadar 5 ppm setelah 5 menit dapat menimbulkan sesak nafas dan pada kadar 100 ppm dapat menimbulkan kematian. Gangguan sistem pernapasan yang terjadi dapat menjadi empisema. Bila kondisinya kronis dapat berpotensi menjadi bronkitis serta akan terjadi penimbunan nitrogen oksida (NOx) dan dapat menjadi sumber karsinogenik atau penyebab timbulnya kanker.

3. Belerang Oksida (SOx)

Gas SO2 yang ada di udara dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan kenaikan sekresi mukosa. Dengan konsentrasi 500 ppm SO2 dapat menyebabkan kematian pada manusia. Pencemaran SO2 yang cukup tinggi telah menimbulkan malapetaka yang cukup serius seperti yang terjadi di lembah sungai Nerse Belgia pada tahun 1930. Pada saat itu, kandungan SO2 di udara mencapai 38 ppm dan menyebabkan toksisitas akut.

(9)

terjadinya perubahan warna pada daun dari hijau menjadi kuning atau terjadinya bercak-bercak putih pada daun tanaman.

4. Hidrokarbon (HC)

Hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa HC pada konsentrasi udara ambien memberikan pengaruh langsung yang merugikan manusia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap hewan dan manusia diketahui bahwa hidrokarbon alifatik dan alisiklis memberikan pengaruh yang tidak diinginkan kepada manusia hanya pada konsentrasi beberapa ratus sampai beberapa ribu kali lebih tinggi daripada konsentrasi yang terdapat di atmosfer.

5. Timbal (Pb)

Logam berat yang digunakan manusia untuk meningkatkan pembakaran pada kendaraan bermotor. Hasil pembakaran tersebut menghasilkan timbal oksida yang berbentuk debu atau partikulat yang dapat terhirup oleh manusia.

Dampak kesehatan

Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melaluisistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dankarsinogenik.

Dampak terhadap tanaman

(10)

lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis

Hujan asam

pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:

 Mempengaruhi kualitas air permukaan

 Merusak tanaman

 Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan

 Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan

Efek rumah kaca

Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.

Dampak dari pemanasan global adalah:

 Pencairan es di kutub

 Perubahan iklim regional dan global

 Perubahan siklus hidup flora dan fauna

Kerusakan lapisan ozon

(11)

Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.

3.4 Upaya Dalam Pengendalian Pencemaran Udara Akibat Gas Buang Kendaraan Bermotor

Dari hasil evaluasi tingkat pencemaran udara dari kota-kota besar, selain bahan bakar dan jenis kendaraan dan volume kendaraan yang mempengaruhi tingkat pencemaran udara, faktor lain adalah keadaan topografi daerah, faktor meteorologi dan reaktifitas kimia setiap parameter. Sehingga didalam melakukan pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara, faktor tersebut diatas harus dipertimbangkan.

1) Penerapan Kebijakan

Dalam melakukan pengendalian pencemaran udara di kota-kota besar pemerintah melakukan pengelolaan terhadap dua sumber yaitu sumber tidak bergerak (industri dan rumah tangga) dan sumber bergerak (kendaraan bermotor). Salah satu strategi yang diterapkan untuk pengendalian pencemaran udara dari sumber bergerak adalah penetapan kebijakan dan aturan serta program pengendalian lingkungan yang meliputi :

 Standar emisi kendaraan sertapersyaratan pemeriksaan dan pemeliharaan kendaraan

 Menghentikan pemakaian atau retrofitting kendaraan yang boros bahan bakar dan menimbulkan pencemaran tinggi;

 Teknologi dan kualitas bahan bakar

 Manajemen efisiensi lalu lintas

 Investasi transportasi massal yang lebih baik, seperti bus dan kereta api;

 Program penghijauan dengan memanfaatkan lahan sekitar lingkungan jalan dan sekitar lingkungan rumah;

(12)

2) Pengendalian Lingkungan pada Siklus Proyek Jalan (Biaya Lingkungan) Selain penerapan kebijakan, peraturan dan program pengendalian kualitas udara yang dilakukan oleh pemerintah, pengalaman dilapangan menunjukkan bahwa kegiatan pengendalian kualitas udara masih mengalami beberapa kendala diantaranya pada pendanaan proyek, dimana umumnya proyek tidak menyediakan dana yang memadai untuk pengendalian kualitas udara tersebut dan juga proses kegiatan pengendalian kualitas udara pada proyek pembangunan/peningkatan jalan belum terintegrasi dengan baik.

Untuk itu perlu dipertimbangkan adanya strategi manajemen kualitas udara (biaya lingkungan) pada proyek pembangunanpeningkatan jalan, yaitu dengan mengintegrasikan kegiatan pengendalian kualitas udara ini ke dalam siklus proyek jalan pada tahapan-tahapan sebagai berikut : pra studi kelayakan, studi kelayakan, perencanaan teknis, pra konstruksi, konstruksi, dan pasca konstruksi yang dalam pelaksanaannya dapat melibatkan peran masyarakat.

3) Penyertaan Masyarakat

Dalam kondisi negara yang masih berkembang maka strategi penyertaan masyarakat dalam melakukan pengelolaan dan pengendalian kualitas udara merupakan alternatif yang sangat penting. Bagian yang sangat kritis dalam pengembangan konsep kota berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan adalah mengubah atau mempengaruhi kebiasaan pola konsumsi atau pola pikir masyarakat.

Untuk itu perlu dikembangkan program atau strategi penyuluhan dan pendidikan yang melibatkan peran serta masyarakat, melakukan kampanye melalui mass-media mengenai keuntungan- keuntungan dalam penerapan program pengelolaan lingkungan berkelanjutan di masa yang akan

datang. Beberapa kegiatan yang dapat melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan pengendalian kualitas udara diantaranya adalah :

 Penghijauan sekitar lingkungan tempat tinggal dan jalan

(13)

 Penggunaan dan cara mengendarai kendaraan yang efektif dan efisien

 Pemeliharaan lingkungan sekitar jalan dengan menjaga kebersihan

 Kesadaran masyarakat pengguna jalan untuk menjaga kelancaran lalu lintas dan kebersihan lingkungan

4) Aplikasi Teknologi Pereduksi Pencemaran Udara

Dampak-dampak pencemaran udara kendaraan bermotor dapat dicegah dengan cara pemilihan rute lalu lintas yang cukup jauh dari areal berpenduduk dan mengurangi kemacetan lalu lintas, misalnya pembuatan jalan bypass tidak memasuki areal permukiman, mempertahankan integritas komersial dan sosial jalan, tapi masih membolehkan akses ke jalan raya. Selain itu dapat dilakukan mitigasi perbaikan desain untuk meminimalkan pencemaran udara akibat kendaraan bermotor meliputi:

 pemilihan alinyemen jalan tidak melalui daerah dekat permukiman, sekolah dan perkantoran;

 menyediakan kapasitas jalan yang memadai untuk menghindari kemacetan lalu lintas, dengan proyeksi peningkatan arus lalu lintas di masa yang akan datang;

 menghindari penempatan perpotongan jalan yang sibuk;

 memperhitungkan pengaruh arah angin dalam penentuan lokasi jalan dan bangunan pelengkapnya, seperti pompa bensin di dekat permukiman;

 sedapat mungkin menghindari lereng curam dan belokan tajam yang akan mendorong penurunan atau peningkatan kecepatan serta shifting;

 Laburi jalan-jalan yang berdebu, terutama di daerah daerah padat penduduk

(14)

BAB 4 PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kendaraan bermotor yang menjadi alat transportasi, dalam konteks pencemaran udara dikelompokkan sebagai sumber yang bergerak. Dengan karakteristik yang demikian, penyebaran pencemar yang diemisikan dari sumber-sumber kendaraan bermotor ini akan mempunyai suatu pola penyebaran spasial yang meluas. Faktor perencanaan sistem transportasi akan sangat mempengaruhi penyebaran pencemaran yang diemisikan, mengikuti jalur-jalur transportasi.

Dampak asap kendaraan bermotor terhadap lingkungan, lapisan ozon di bumi makin menipis dan proses fotosintesis tumbuhan terganggu serta penyakit yang ditimbulkan. Pencegahan pencemaran udara oleh asap kendaraan bermotor dengan cara melakukan penghijauan (reboisasi), Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor, menciptakan biosolar, melakukan penyuluhan, penggunaan sumber energi alternative yang dapt diperbarui. Pengendalian pencemaran akibat kendaraan bermotor akan mencakup upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tak langsung, yang dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif.

3.2 Saran

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Arya Wardhana, Wisnu. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan (Edisi Revisi). Yogyakarta: Andi.

Budiman., Suyono. 2012. Ilmu Kesehatan Lingkungan Masyarakat dalam Konteks Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC.

Clara Puspita., dkk. 2013. Pencemaran Udara dan Upaya Pengendaliannya di Kota Denpasar,Bali. https://www.scribd.com/doc/225977392/Pencemaran-Udara-Dan-Upaya-Pengendaliannya-Di-Kota-Denpasar-Bali. [diakses pada 6 Oktober 2016]

Depkes. Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya terhadap Kesehatan. http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF. [diakses pada 6 Oktober 2016]

IKAPI. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Kanisius.

Kusminingrum, Nanny., Gunawan. G. 2008. Jurnal Polusi Udara Akibat Aktivitas Kendaraan Bermotor di Jalan Perkotaan Pulau Jawa dan Bali. http://pu.go.id/uploads/services/infopublik20130926120104.pdf. [diakses pada tanggal 6 Oktober 2016]

Mulia, Ricki M. 2005. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wijoyo, Suparto. 2005. Refleksi Matarantai Pengaturan Hukum Pengelolaan Lingkungan Secara Terpadu (Studi Kasus Pencemaran Udara). Surabaya: Airlangga University Press.

http://dokumen.tips/documents/pencemaran-udara-akibat-polusi-yang-ditimbulkan-kendaraan-bermotor.html [diakses pada tanggal 6 Oktober 2016]

Referensi

Dokumen terkait

Sumber pencemaran yang cukup besar berasal dari Industri Metalurgi Petrochemical Tekstil, Pusat Tenaga Listrik, yang terdiri dari : Aldehida, Amoniak, Arsen, Florin, Sulfur

Upaya pengendalian pencemaran udara meliputi pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan mutu udara. Langkah-langkah tersebut meliputi upaya pemantauan kualitas

Peran Pemantauan dalam Program Pengelolaan 9 Sumber-sumber pencemar udara Pemodelan Pencemaran Udara Analisa dan Interpretasi Data Perencanaan dan Pengembangan Strategi

Pencemaran udara yang terjadi di kota –kota besar sepuluh tahun terakhir ini sudah menjadi persoalan yang serius // Di kota Yogya saja penyumbang pencemaran udara yang terbesar bukan

Pasal 2 ayat (1) : Pemerintah bertanggung jawab terhadap pengendalian pencemaran udara untuk melindungi sumber daya alam yang ada agar dapat

Walaupun gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri dari senyawa yang tidak berbahaya seperti nitrogen, karbon dioksida dan upa air, tetapi didalamnya terkandung juga senyawa lain

Maka sejak tahun 1997-2005 Puslitbang jalan dan jembatan bekerjasama dengan BPLHD-kota Bandung untuk kegiatan monitoring dan pengendalian pencemaran udara di

Karenanya, untuk mengurangi semakin tingginya tingkat ambang pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia dan tentunya juga mengurangi jumlah berbagai