MAKALAH HUKUM PERBANKAN
LIQUIDASI BANK
OLEH:
NADIA SANJAYA(1609110878
)DOSEN PENGAMPU : RISKA FITRIANI, SH., MH.
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS RIAU
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
BAB II ISI
2.1 Penggertian Likuidasi
2.2
2.3
2.4
2.5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perorangan,
badan-badan usaha swasta, badan-badan-badan-badan usaha milik negara, bahkan
lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya.
[1]
Perbankan merupakan sektor yang sangat vital dan memiliki peran yang
sangat penting dalam perekonomian nasional. Lancarnya aliran uang sangat
diperlukan untuk mendukung kegiatan perekonomian. Dengan demikian,
kondisi sektor perbankan yang sehat dan kuat penting menjadi sasaran akhir
dari kebijakan moneter. Di samping itu, perbankan merupakan alat yang
sangat vital dalam menyelenggarkan transaksi pembayaran baik nasional
maupun internasional.
Bisnis perbankan merupakan bisnis yang penuh risiko, di samping
menjanjikan keuntungan yang besar jika di kelola secara baik dan hati-hati.
Dikatakan sebagai bisnis penuh risiko karena aktivitasnya sebagian besar
mengandalkan dana titipan masyarakat, baik dalam bentuk tabungan giro
maupun deposito. Besarnya peran yang diperhatikan oleh sektor perbankan,
bukan berarti membuka peluang sebebas-bebasnya bagi siapa saja untuk
mendirikan, mengelola ataupun menjalankan bisnis perbankan tanpa di
dukung dengan aturan perbankan yang baik dan sehat. Pemerintah melalui
otoritas keuangan dan perbankan berwenang menetapkan aturan dan
bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha dan
aktivitas perbankan. Oleh karenanya, kebijakan pemerintah disektor
perbankan harus di arahkan pada upaya mewujudkan perbankan yang sehat,
kuat dan kokoh. Hal ini mengingat kebijakan di bidang perbankan ini tidak
lagi semata-mata memegang peranan penting dalam pengembangan
infrasturktur keuangan dalam rangka mengatasi kesenjangan antara tabungan
dan investasi, tetapi juga berperan penting dalam memelihara kestabilan
ekonomi makro melalui keterkaitannya dengan efektivitas kebijakan moneter.
1
Apabila kita melihat kondisi perbankan pada era 1997-1998 yang mengalami
krisis moneter, pada pertengahan tahun 1997 krisis moneter semakin melebar
menjadi krisis perbankan.
[2]
Masyarakat heboh dengan terjadinya 16 bank
yang dilikuidasi. Mereka khawatir apakah uang mereka dapat dikembalikan
secara utuh atau tidak, maklum selaku nasabah tidak mengerti apa yang mesti
diperbuat. Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional memudar.
banyak dana yang hengkang dari bank–bank lokal berpindah ke bank asing,
bahkan tidak sedikit yang di bawa ke luar negeri.
Dampak selanjutnya dari keadaan tersebut akan dapat mengancam
perekonomian dan sistem perbankan nasional. Kepercayaan masyarakat akan
goyah terhadap bank atas perlindungan nasabah ketika terjadi likuidasi bank
tersebut.
Apabila bank mengalami kesulitan likuiditas, kemungkinan besar terjadi efek
yang menular khususnya apabila suatu bank di-rush, yaitu dananya diambil
secara besar-besarnya oleh nasabahnya karena tidak adanya jaminan
perlindungan hukum terhadap nasabah.
Kemauan masyarakat untuk menyimpan dananya pada bank semata-mata
dilandasi oleh kepercayaan bahwa uangnya akan dapat diperoleh kembali pada
waktunya dan disertai imbalan bunga. Berdasarkan data-data yang diperoleh
menunjukan, baik di Indonesia maupun di Negara-negara lain bahwa ada
beberapa bank yang mengalami kesulitan dan terpaksa ditutup sehingga
merugikan masyarakat, karena sebagian atau seluruh dananya tidak dapat
diperoleh kembali.
Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional,
pemerintah mengeluarkan jaminan kewajiban pembayaran bank umum atau
dikenal dengan blanket guarantee yang merupakan financial safety net dengan
keputusan presiden Nomor 26 Tahun 1998 dan Undang-Undang No.10 Tahun
1998 (Pasal 37). Atas dasar tersebut, penulis mencoba meneliti tentang
perlindungan nasabah terhadap likuidasi bank yang dituangkan dalam makalah
yang berjudul “Perlindungan Hukum Nasabah Terhadap Likuidasi Bank”.
A. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud LIKUIDASI dan LIKUIDASI BANK? 2. Apa dasar Hukum atau Pengaturaannya?
3. Apa Sebab dan tujuannya ?
BAB II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN LIKUIDASI
Di dalam KUHD tidak secara tegas dipergunakan istilah “likuidasi” untuk berakhirnya suatu perusahaan, tetapi dipergunakan istilah “pembubaran” dan “pemberesan”.
Dalam Burgerlijke Wetboek (BW)- Belanda (pasal 12) diperunakan istilah outbinding (pembubaran) dan vereffening (pemberesan). Sedangkan dalam system hokum Common Law dipergunaan istilah “winding up” di samping “liquidation”. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa LIKUIDASI adalah suatu tindakan untukmembubarkan suatu perusahaan atau badan hukum.
Likuidasi Bank berdasarkan Pasal 1 Angka(4) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999
B. Dasar Hukum dan Pengaturannya
Berdasarkan PP No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian
pencemaran udara ada beberapa pengertian yang perlu diketahui dalam
hal pencemaran udara, yaitu:
1. Pencemaran udara
Adalah masuknya atau dimasukkan zat, energi dan atau komponen
lain kedalam udara ambient oleh kegiatan manusia, sehingga suatu
ambient turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara
ambient tidak dapat memenuhi fungsinya
2. Pengendalian pencemaran udara
Adalah upaya pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran
udara serta pemulihan mutu udara
3. Sumber pencemaran
Adalah setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan bahan
pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya
4. Udara ambient
5. Ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor
Adalah batas maksimum zat atau bahan pencemar yang boleh
dikeluarkan langsung dari pipa gas buang kendaraan bermotor
6. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)
Adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan
kondisi terhadap kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya.
7. Mutu emisi
Adalah emisi yang boleh dibuang oleh suatu kegiatan ke udara
ambient
Bahwa untuk melakukan tindakan hukum yang berupa tindakan
dengan kualifikasi PRO YUSTITIA atau untuk kepentingan proses
peradilan dalam perkara-perkara tindak pidana lingkungan hidup termasuk
pencemaran udara perlu diketahui terlebih dahulu tentang
ketentuan-ketentuan hukum (perundang-undangan) apa saja yang menjadi
dasar/landasan bagi aparat penegak hukum untuk dapat terselenggaranya
proses peradilan pidana dalam perkara pidana lingkungan hidup atau
kasus pencemaran udara. Peraturan perundang-undangan yang menjadi
dasar hukum sebagai berikut:
1. Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan
hidup sebagai penyempurnaan dari UU No. 4 tahun 1982 tentang
ketentuan-ketentuan pokok lingkungan hidup.
2. PP No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara
3. UU No. 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP).
4. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHAP)
5. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang analisis mengenai
dampak lingkungan (Lembaga Negara Tahun 1999 No. 59, tambahan
Lembaran Negara No. 3853)
negara di dunia, dengan nilai: 44,6. Peringkat Indonesia ini turun
dibandingkan dengan Environmental Performance Index (EPI) 2008 atau
Indeks Kinerja Lingkungan 2008, dua tahun lalu Indonesia berada di
peringkat 102 dari 149 negara di dunia dengan indeks: 66,2 (dari
kemungkinan 100). Survey ini dilakukan dan disusun oleh tim ahli
lingkungan di Yale University dan Columbia University dalam EPI 2010.
Survey ini dilakukan terhadap seluruh negara di dunia untuk mengetahui
peringkat negara-negara di dunia dalam memberikan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
2Meningkatnya kegiatan industri beserta dengan perkembangan
teknologi menyebabkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
terus meningkat. Hal ini tentu menuntut perlindungan lingkungan hidup
untuk mendapat perhatian hukum.
3Beberapa peranan yang diharapkan
pada korporasi di dalam proses modernisasi atau pembangunan,
diantaranya memperhatikan dan membina kelestarian kemampuan
sumber daya alam dan lingkungan hidup,
4dan saat korporasi tidak
memenuhi kewajiban tersebut, korporasi dan agen-agennya dapat dibuat
bertanggung jawab atas pelanggaran dari hukum lingkungan.
5Menurut KUHP Indonesia, korporasi bukan merupakan subyek
hukum pidana, ini berarti korporasi tidak dapat dipidana sehingga
kejahatan yang dilakukan oleh korporasi bukan merupakan kejahatan
menurut hukum pidana umum. Dengan demikian, tidaklah mengherankan
bila KUHP yang berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 Januari 1918 hingga
sekarang, hanya mengenal orang perseorangan yang bisa menjadi pelaku
tindak pidana. Hal itu dipertegas dengan adanya ketentuan Pasal 59
KUHP yang berbunyi: “Dalam hal-hal dimana karena pelanggaran
ditentukan pidana terhadap pengurus, anggota-anggota badan pengurus
2 http://epi.yale.edu/Countries/Indonesia, diakses tanggal 12 Oktober 2017
3 Alvi Syahrin, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, (Jakarta: PT Sofmedia, 2009),
hal 28
4 Ibid., hal 27
5 Vikramaditya S. Khanna, Corporate Crime Legislation: A Political Economic Analysis,
atau komisaris-komisaris, maka pengurus, anggota badan pengurus atau
komisaris yang ternyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tidak
dipidana.” Ketentuan Pasal 59 KUHP tersebut jelas maksudnya bahwa
hanya pengurus atau komisarisnya yang dianggap sebagai subyek hukum
(subyek tindak pidana) dan bukan perusahaannya (korporasi).
6C. Bentuk-Bentuk Pencemaran Udara
Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam, yaitu : 1. Karena faktor internal (secara alamiah), contoh:
a. Debu yang beterbangan akibat tiupan angin.
b. Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut gas-gas vulkanik., Proses pembusukan sampah organik, dll
2. Karena faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh: a. Hasil pembakar bahan bakar fosil.
b. Debu/serbuk dari kegiatan industry
c. Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara 1. Klasifikasi Pencemaran Udara
Banyak faktor yang dapat menyebabkan pencemaran udara, diantaranya pencemaran yang ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia atau kombinasi keduanya. Pencemaran udara dapat mengakibatkan dampak pencemaran udara bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global atau tidak langsung dalam kurun waktu lama. Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder :
1. Polutan primer
Polutan primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara atau polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber tertentu, dan dapat berupa:
Polutan Gas terdiri dari:
a. Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi, dan karbon oksida (CO atau CO2) karena ia merupakan hasil
dari pembakaran
b. Senyawa sulfur, yaitu oksida.
c. Senyawa halogen, yaitu flour, klorin, hydrogen klorida, hidrokarbon terklorinasi, dan bromin.
d. Partikel yang di atmosfer mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat berupa zat padat maupun suspense aerosol cair sulfur di atmosfer. Bahan partikel tersebut dapat berasal dari proses kondensasi, proses (misalnya proses menyemprot/ spraying) maupun proses erosi bahan tertentu.
2. Polutan Sekunder
Polutan sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfersekunder biasanya terjadi karena reaksi dari dua atau lebih bahan kimia di udara, misalnya reaksi foto kimia. Sebagai contoh adalah disosiasi NO2 yang menghasilkan NO dan O
radikal.
2. Zat – Zat Pencemaran Udara
1. Karbon monoksida (CO)
Gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan bersifat racun. Dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil, misalnya gas buangan kendaraan bermotor.
2. Nitrogen dioksida (NO2)
Gas yang paling beracun. Dihasilkan dari pembakaran batu bara di pabrik, pembangkit energi listrik dan knalpot kendaraan bermotor.
3. Sulfur dioksida (SO2)
Gas yang berbau tajam, tidak berwarna dan tidak bersifat korosi. Dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur terutama batubara. Batubara ini biasanya digunakan sebagai bahan bakar pabrik dan pembangkit tenaga listrik.
4. Partikulat (asap atau jelaga)
Polutan udara yang paling jelas terlihat dan paling berbahaya. Dihasilkan dari cerobong pabrik berupa asap hitam tebal.
Terhadap Lingkungan AlamPencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan alam, antara lain: hujan asam, penipisan lapisan ozon dan pemanasan global.
a. Hujan Asam
1) Mempengaruhi kualitas air permukaan 2) Merusak tanaman
3) Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
4) Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan. b. Penipisan Lapisan Ozon
Ozon (O3) adalah senyawa kimia yang memiliki 3 ikatan yang tidak stabil. Di atmosfer, ozon terbentuk secara alami dan terletak di lapisan stratosfer pada ketinggian 15-60 km di atas permukaan bumi. Fungsi dari lapisan ini adalah untuk melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet yang dipancarkan sinar matahari dan berbahaya bagi kehidupan.
Namun, zat kimia buatan manusia yang disebut sebagai ODS (Ozone Depleting Substances) atau BPO (Bahan Perusak Ozon) ternyata mampu merusak lapisan ozon sehingga akhirnya lapisan ozon menipis. Hal ini dapat terjadi karena zat kimia buatantersebut dapat membebaskan atom klorida (Cl) yang akan mempercepat lepasnya ikatan O3menjadi O2. c. Pemanasan Global
Kadar CO2 yang tinggi di lapisan atmosfer dapat menghalangi pantulan panas dari bumi ke atmosfer sehingga permukaan bumi menjadi lebih panas. Peristiwa ini disebut dengan efek rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca ini mempengaruhi terjadinya kenaikan suhu udara di bumi (pemanasan global). Pemanasan global adalah kenaikan suhu rata-rata di seluruh dunia dan menimbulkan dampak berupa berubahnya pola iklim.
D. Contoh Kasus Pencemaran Udara
memperkirakan bahwa sekurangnya satu jenis pencemaran udara di
kota-kota besar tersebut telah melebihi ambang batas toleransi pencemaran
udara
7yang ditetapkan oleh WHO
8. WHO juga memperkirakan bahwa
kurang lebih 600 juta orang hidup di kota yang tingkat pencemaran sulfur
dioksidanya melebihi ambang batas pencemaran udara WHO, dan sekitar
1,25 milyar orang tinggal di kota-kota yang tingkat pencemaran debunya
sudah sangat tinggi.
Kota-kota besar di Indonesia pun tidak luput dari permasalahan
pencemaran udara ini. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh
stasiun-stasiun pemantau pencemaran udara Badan Meteorologi dan Geofisika di
beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan
Menado menunjukkan, bahwa tingkat ambang pencemaran debu
(suspended particulate matter atau SPM), timah hitam (lead), nitrogen
dioksida (NO2), karbon monoksida (CO), dan sulfur dioksida (SO2) terus
naik sejak tahun 1980
9. Lebih jauh lagi stasiun-stasiun pemantau ini juga
menunjukkan bahwa tingkat ambang debu, timah hitam, dan nitrogen
dioksida di beberapa kota besar telah melebihi ambang batas toleransi
pencemaran udara yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Misalnya, di beberapa bagian kota Jakarta, rata-rata per tahun
ambang pencemaran debu mencapai 270 αg/m3, sementara itu ambang
toleransi pencemaran debu rata-rata per tahun menurut standar Indonesia
adalah 90 αg/m3. Rata-rata per tahun ambang pencemaran timah hitam
mencapai 2 αg/m3, sementara batas toleransinya hanya 1 αg/m3. Juga
nitrogen dioksida rata-rata per tahunnya dapat mencapai 250 αg/m3,
sementara batas toleransinya adalah 100 αg/m3.
107 Ambang batas pencemaran udara adalah batas maksimum pencemaran udara dimana
jika tingkat pencemaran disuatu tempat berada diatas batas itu diperkirakan akan menimbulkan berbagai masalah gangguan kesehatan, sebaliknya jika tingkat pencemaran udara disuatu tempat berada dibawah batas itu diperkirakan tidak menimbulkan masalah gangguan kesehatan
8 United Nation Environment Programe (WHO), and The World Healt Organization
(WHO), Urban Air Pollution in Megacities of the World, Oxford:Blackwell, 1992.
9 Sutamihardja, R.T.M, Air Quality Management, Makalah yang Dipresentasikan pada
Contoh kota lainnya yang mengalami permasalahan pencemaran
udara adalah Bandung dan Surabaya.
Di beberapa bagian kota
Bandung, rata-rata per tahun ambang pencemaran debu mencapai 130
αg/m3, timah hitam mencapai 2 αg/m3, dan nitrogen dioksida mencapai
110 αg/m3. Adapun beberapa tempat di kota Surabaya, rata-rata per
tahun ambang pencemaran debu mencapai 270 αg/m3, timah hitam 2
αg/m3, dan nitrogen dioksida 160 αg/m3.
11Tingginya tingkat pencemaran udara yang melebihi batas standar
toleransi pencemaran udara Indonesia diperkirakan telah menyebabkan
gangguan kesehatan pada masyarakat. Pada 1982 Achmadi, dari
Fakultas Kesehatan Masyarakat-Universitas Indonesia, secara konsisten
menemukan rata-rata konsentrasi timah hitam pada air kencing anak-anak
yang bersekolah di pusat kota Jakarta lebih tinggi dari pada rata-rata
konsentrasi timah hitam pada air kencing anak-anak yang bersekolah di
daerah pinggiran kota Jakarta (yang lalulintasnya tidak ramai).
12Pada 1987 Tri-Tugaswati, dari Pusat Penelitian dan
Pengembangan Departemen Kesehatan, menunjukkan bahwa tingkat
kandungan timah hitam pada darah dan air kencing supir-supir kendaraan
umum di Jakarta dua kali lipat lebih tinggi dari pada kandungan timah
hitam pada darah dan air kencing petani di pinggiran kota Jakarta.
13Dalam studi lainnya, Achmadi memperkirakan bahwa supir-supir
kendaraan umum, pedagang kakilima dan orang-orang yang tinggal di
daerah yang padat lalulintasnya memiliki kemungkinan 12,8 lebih besar
terkena penyakit yang berhubungan dengan pencemaran udara
10 Soedomo, M., K. Usman, dan M. Irsyad. Analisis dan Prediksi Pengaruh Strategi
Pengendalian Emisi Transportasi terhadap Konsentrasi Pencemaran Udara di Indonesia: Studi Kasus di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 1991
11 Idem.
12 Achmadi, U.F. “Efek Pencemaran Pb pada Siswa Sekolah Dasar Terpilih di DKI.” Makalah Kerja
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 1982
13 Tri-Tugaswati, A., S. Suzuki, H. Koyama, dan T. Kawada. “Health Effects of Automotive Lead Air
dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran kota
Jakarta (yang lalulintasnya tidak ramai).
14Berbagai kasus gangguan kesehatan dan kematian di Jakarta,
Bandung dan Surabaya diduga juga terjadi diberbagai kota besar lainnya
15di Indonesia. Dengan banyaknya kasus-kasus kematian dan gangguan
kesehatan per tahun di kota-kota besar terlihat betapa pentingnya
mengontrol pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia. Lebih jauh
lagi diketahui bahwa sekitar 70 persen pencemaran udara di kota-kota
besar di Indonesia berasal dari kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan
bermotor yang terus meningkat di Indonesia akan menyebabkan semakin
tingginya tingkat pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia, dan
pada akhirnya menyebabkan meningkatnya jumlah kasus gangguan
kesehatan dan kematian dini di kota-kota besar di Indonesia. Semakin
tingginya jumlah kasus gangguan kesehatan dan kasus kematian dini
yang berhubungan dengan pencemaran udara inilah yang tentunya
mencemaskan masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia.
Karenanya, untuk mengurangi semakin tingginya tingkat ambang
pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia dan tentunya juga
mengurangi jumlah berbagai masalah kesehatan yang ditimbulkan, Kantor
Menteri Lingkungan Hidup dengan Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan-nya untuk mencanangkan program memperbaiki kualitas
udara yang diberi nama Program Langit Biru pada awal 1990-an.
Pencemaran Udara oleh Transportasi Darat
Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan
meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas
udara telah mengalami perubahan. Udara yang dulunya segar, kini kering
dan kotor. Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan
pencemaran udara, yaitu masuknya zat pencemar (berbentuk gas-gas
dan partikel kecil/aerosol) ke dalam udara.
14 Achmadi, U.F. “Analisis Resiko Efek Pencemaran Udara CO dan Pb terhadap Penduduk Jakarta.”
Department of Public Health Working Papers, University of Indonesia, Jakarta, 1989
Daerah perkotaan merupakan salah satu sumber pencemaran
udara utama, yang sangat besar peranannya dalam masalah pencemaran
udara. Kegiatan perkotaan yang meliputi kegiatan sektor-sektor
permukiman, transportasi, komersial, industri, pengelolaan limbah padat,
dan sektor penunjang lainnya merupakan kegiatan yang potensial dalam
merubah kualitas udara perkotaan. Pembangunan fisik kota dan berdirinya
pusat-pusat industri disertai dengan melonjaknya produksi kendaraan
bermotor, mengakibatkan peningkatan kepadatan lalu lintas dan hasil
produksi sampingan, yang merupakan salah satu sumber pencemar
udara.
Dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara, pada
umumnya sektor transportasi memegang peran yang sangat besar
dibandingkan dengan sektor lainnya. Di kota-kota besar, kontribusi gas
buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai
60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya
berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain, misalnya
dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain.
Kendaraan bermotor yang menjadi alat transportasi, dalam
konteks pencemaran udara dikelompokkan sebagai sumber yang
bergerak. Dengan karakteristik yang demikian, penyebaran pencemar
yang diemisikan dari sumber-sumber kendaraan bermotor ini akan
mempunyai suatu pola penyebaran spasial yang meluas. Faktor
perencanaan sistem transportasi akan sangat mempengaruhi penyebaran
pencemaran yang diemisikan, mengikuti jalur-jalur transportasi yang
direncanakan.
Faktor penting yang menyebabkan dominannya pengaruh sektor
transportasi terhadap pencemaran udara perkotaan di Indonesia antara
lain:
Perkembangan jumlah kendaraan yang cepat (eksponensial)
Tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan
yang ada
Pola lalu lintas perkotaan yang berorientasi memusat, akibat terpusatnya
kegiatan-kegiatan perekonomian dan perkantoran di pusat kota
Kesamaan waktu aliran lalu lintas
Jenis, umur dan karakteristik kendaraan bermotor
Faktor perawatan kendaraan
Jenis bahan bakar yang digunakan
Jenis permukaan jalan
Siklus dan pola mengenudi (drivingpattern)
Pengendalian Pencemaran Udara Akibat kendaraan bermotor
Pengendalian pencemaran akibat kendaraan bermotor akan mencakup
upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tak langsung, yang
dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif.
Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada
pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain.
Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah
berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta
kematian yang diakibatkan karenanya, seperti :
Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi,
sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api,
diperbanyak.
Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu
dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua
kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk
memberi kontribusi polutan udara.
Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu
lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan
tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu
mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.
Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun
penggerak, merupakan salah satu sumber pencemar udara. Kapal-kapal
motor mulai dari ukuran yang kecil sampai yang besar umumnya
transportasi laut, berdampak pada tingginya emisi gas rumah kaca yang
dikeluarkan ke atmosfir. Meski kapal-kapal mengeluarkan emisi gas buang
di tengah laut, seolah-olah tidak mencemari lingkungan, padahal polutan
yang keluar dari cerobong seperti SOx, NOX dan CO2 tetap masuk ke
atmosfir dan mencemari lingkungan. Selain memacu percepatan
pemanasan global, polutan dari kapal di laut juga bisa menimbulkan hujan
asam (acidrain). Ketika kapal mendekati pelabuhan, kapal motor
mencemari udara sekiar pelabuhan. Bahkan selama kapal berada di
kawasan pelabuhan, kapal motor tetap menyalakan mesin untuk
memenuhi beberapa kebutuhan terutama listrik. Selama mesin
beroperasi, berarti selama itu pula kapal mengeluarkan polutan ke udara.
menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menentukan
kebijakan pengendalian pencemaran udara dari sektor transportasi laut.
Walau bagaimanapun, tanpa harus menunggu kebijakan pengendalian
pencemaran udara, para pelaku usaha jasa transportasi laut sudah harus
memulai langkah-langkah peningkatan efisiensi bahan bakar minyak di
sektor transportasi laut. Semakin rendah pemakaian bahan bakar, berarti
semakin rendah pula pencemaran. Selain itu sudah harus dipikirkan pula
peningkatan mesin-mesin kapal yang sistem pembakarannya kurang baik.
Kalau mesin kapal tidak dipelihara dan dirawat secara baik, maka
konsentrasi polutannya lebih buruk dibandingkan dengan mesin yang
dirawat dengan baik.
Yang penting tidak boleh diabaikan adalah peningkatan kualitas bahan
bakar. Seringkali untuk kepentingan penghematan operasional sesaat,
bahan bakar yang digunakan dari jenis harga rendah, atau bahkan bahan
bakar yang dioplos. Hal ini akan mengakibatkan selain mempercepat
kerusakan mesin, tapi juga tingkat pencemaran udara yang lebih tinggi.
E. Problematik dalam Pencemaran Udara
Ada beberapa dampak dari pencemaran udara terhadap mahkluk hidup: a. Dampak kesehatan
Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya.
Penyakit pneumoconiosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel yang masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. Adapun jenis-jenis penyakit pneumoniosis seperti :
1) Penyakit Antrakosis
Merupakan penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh pencemaran debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja tambang batubara atau pekerja yang banyak mlibatkan penggunaan batubara seperti power plant (pembangkit listrik tenaga uap. Masa inkubasi penyakit ini antara 2-4 tahun yang ditandai dengan sesak napas
2) Penyakit Silikosis
Penyakit yang disebabkan oleh pencemaran debu silica bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silica ini banyak terdapat di industry besi baja, keramik, pengecoran beton, proses permesinan seperti mengikir, menggerinda. Di samping itu debu silica juga terdapat di penambangan bijih besi, timah putih, dan tambang batu bara.
Penyakit silikosis akan lebih buruk lagi, kalau penderita sebelumnya sudah menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis kronis, astma broonchiale dan penyakit pernapasan lainnya. Pada awalnya, penyakit silikosis ditandai dengan sesak napas yang disertai dengan batuk-batuk tanpa dahak.
3) Penyakit Asbestosis
Merupakan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes merupakan campuran berbagai macam silikat.
Selain mempengaruhi keadaan lingkungan alam, pencemaran udara juga membawa dampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup (organisme), baik hewan, tumbuhan dan manusia.
b. Dampak pencemaran udara bagi manusia, antara lain: 1) Karbon monoksida (CO)
pendengaran dan penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah. Bila keracunan berat (70 – 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO), dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.
2) Nitrogen dioksida (SO2)
Dapat menyebabkan timbulnya serangan asma. 3) Hidrokarbon (HC)
Menyebabkan kerusakan otak, otot dan jantung. 4) Chlorofluorocarbon (CFC)
Menyebabkan melanoma (kanker kulit) khususnya bagi orang-orang berkulit terang, katarak dan melemahnya sistem daya tahan tubuh.
5) Timbal (Pb)
Menyebabkan gangguan pada tahap awal pertumbuhan fisik dan mental serta mempengaruhi kecerdasan otak.
6) Ozon (O3)
Menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan terasa terbakar dan memperkecil paru-paru.
7) Nox
Menyebabkan iritasi pada paru-paru, mata dan hidung.
c. Dampak pencemaran udara bagi kehidupan hewan 1) Penipisan lapisan ozon
Menimbulkan kanker mata pada sapi, terganggunya atau bahkan putusnya rantai makanan pada tingkat konsumen di ekosistem perairan karena penurunan jumlah fitoplankton.
2) Hujan asam
Menyebabkan pH air turun di bawah normal sehingga ekosistem air terganggu.
3) Pemanasan global
panjang memicu terjadinya kebakaran hutan dan menurunnya produksi panen, bencana alam (banjir, gempa, tsunami) banyak terjadi dan permukaan laut yang meninggi akan mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil dan daerah-daerah pesisir pantai.
d. Dampak Pencemaran Udara Bagi Tumbuhan
Dampak pencemaran udara terhadap kehidupan tumbuhan, antara lain: 1) Hujan Asam
a) Merusak kehidupan ekosistem perairan, menghancurkan jaringan tumbuhan (karena memindahkan zat hara di daun dan menghalangi pengambilan Nitrogen) dan mengganggu pertumbuhan tanaman. b) Melarutkan kalsium, potasium dan nutrient lain yang berada dalam
tanah sehingga tanah akan berkurang kesuburannya dan akibatnya pohon akan mati.
2) Penipisan Lapisan Ozon
Merusak tanaman, mengurangi hasil panen (produksi bahan makanan, seperti beras, jagung dan kedelai), penurunan jumlah fitoplankton yang merupakan produsen bagi rantai makanan di laut.
3) Pemanasan global
Penurunan hasil panen pertanian dan perubahan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati dapat berubah karena kemampuan setiap jenis tumbuhan untuk bertahan hidup berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.
4) Gas CFC
Mengakibatkan tumbuhan menjadi kerdil, ganggang di laut punah, terjadi mutasi genetik (perubahan sifat organisme).
G. PENCEGAHAN PENCEMARAN UDARA
polusi dengan peralatan, mengubah polutan, melarutkan polutan, dan mendispersikan-menguraikan polutan.
a. Mencegah pencemaran udara berbentuk gas 1) Adsorbsi
Adsorbsi merupakan proses melekatnya molekul polutan atau ion pada permukaan zat padat-adsorben-seperti karbon aktif dan silikat. Adsorben mempunyai sifat dapat menyerap zat lain sehingga menempel pada permukaannya tanpa reaksi kimia serta memiliki daya kejenuhan yang bersifat disposal (sekali pakai buang) atau dibersihkan dulu, kemudian digunakan lagi.
2) Absorbsi
Absorbsi merupakan proses penyerapan yang memerlukan solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan konsentrasinya. Metoe absorbs ini pada prinsipnya hampir sama dengan metode adsorbsi, hanya bedanya bahwa emisi hidrokarbon mengalami kontak dengan cairan di mana hidrokarbon akan larut atau tersuspensi.
3) Kondensasi
Kondensasi merupakan proses perubahan uap air atau bendda gas menjadi benda cair pada suhu udara di bawah titik embun. Polutan gas diarahkan mencapai titik kondensasi tinggi dan titik penguapan yang rendah, seperti hidrokarbon dan gas organic lainnya.
4) Pembakaran
Pembakaran merupakan proses untuk menghancurkan gas hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan dengan mempergunakan proses oksidasi panas yang disebut inceneration. Iceneration merupakan salah satu metode dalam pengolahan limbah padat dengan menggunakan pembakaran yang menghasilkan gas dan residu pembakaran.
b. Mencegah pencemaran udara berbentuk partikel 1) Filter
Penggunaan filter udara seharusnya disesuaikan dengan sifat gas buangan yang keluar seperti berdebu banyak, besifat asam, bersifat alkalis dan sebagainya. Beberapa contoh jenis filter yang banyak digunakan seperti cotton, nylon, orlon, Dacron, fiberglass, polypropylene, wool, nomex, Tefloyn.
2) Filter basah
Cara kerja filter basah atau scrubbers/wat collectors adalah membersihkan udara kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangakan udara yang kotor dari bagian bawah alat.
3) Elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik dapat digunakan untuk membersihkan udara kotor dalam jumlah yang relative besar. Alat ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan antara 25-100 kv, berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi muatan positif sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding silinder, diberi muatan negative.
4) Kolektor Mekanik
Mengendapkan polutan partikel yang ukurannya relative besar dapat dengan menggunakan tenaga gravitasi. Pengendap siklon atau cyclone Separators adalah pengendap debu yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu.
5) Program penghijauan
Tumbuh-tumbuhan menyerap hasil pencemaran udara berupa karbon dioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2). Tumbuh-tumbuhan akan menghisap dan mengurangi polutan, dengan melepaskan gas oksigen maka akan mengurangi jumlah polutan di udara. Semakin banyak tumbuh-tumbuhan ditanam sebagai paru-paru kota maka kualitas udara akan semakin sehat sehingga akan mendukung program langit biru (prolabir). Program penghijauan ini seharusnya merupakan gerakan nasional agar semua pihak dapat berpartisipasi aktif.
6) Ventilasi udara
bebas dari berbagai polutan. Bila akan menggunakan exhaust fan, maka usahakan dekat dengan sumber pencemaran, agar polutan segera dapat keluar dalam ruangan.
H. Kewajiban Sektor Usaha dalam Pengendalian Udara
Upaya penanggulangan dilakukan dengan tindakan pencegahan (preventif) yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan kuratif yang dilakukan sesudah terjadinya pencemaran.
a. Usaha Preventif (sebelum pencemaran)
1) Mengembangkan energi alternatif dan teknologi yang ramah lingkungan.
2) Mensosialisasikan pelajaran lingkungan hidup (PLH) di sekolah dan masyarakat.
3) Mewajibkan dilakukannya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) bagi industri atau usaha yang menghasilkan limbah. 4) Tidak membakar sampah di pekarangan rumah.
5) Tidak menggunakan kulkas yang memakai CFC (freon) dan membatasi penggunaan AC dalam kehidupan sehari-hari.
6) Tidak merokok di dalam ruangan.
7) Menanam tanaman hias di pekarangan atau di pot-pot. 8) Ikut berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan.
9) Ikut memelihara dan tidak mengganggu taman kota dan pohon pelindung.
10) Tidak melakukan penebangan hutan, pohon dan tumbuhan liar secara sembarangan.
11) Mengurangi atau menghentikan penggunaan zat aerosol dalam penyemprotan ruang.
12) Menghentikan penggunaan busa plastik yang mengandung CFC. 13) Mendaur ulang freon dari mobil yang ber-AC.
14) Mengurangi atau menghentikan semua penggunaan CFC dan CCl4.
b. Usaha kuratif (sesudah pencemaran)
1) Menggalang dana untuk mengobati dan merawat korban pencemaran lingkungan.
2) Kerja bakti rutin di tingkat RT/RW atau instansiinstansi untuk membersihkan lingkungan dari polutan.
c. Program pemerintah
Selain usaha preventif dan kuratif, Pemerintah juga perlu mencanangkan programprogram yang bertujuan untuk mengendalikan pencemaran, khususnya pencemaran udara, yaitu;
1) PROGRAM LANGIT BIRU yang dicanangkan sejak Agustus 1996. Bertujuan untuk meningkatkan kembali kualitas udara yang telah tercemar, misalnya dengan melakukan uji emisi kendaraan bermotor. 2) Keharusan membuat cerobong asap bagi industry atau pabrik.
3) Imbauan mengurangi bahan bakar fosil (minyak, batu bara) dan menggantinya dengan energy Alternatif lainnya.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahsan isi makalah diatas dapat disimpulkan bahwa, Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan.
Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam, yaitu : Karena faktor internal (secara alamiah), contoh: debu yang beterbangan akibat tiupan angin, Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut gas-gas vulkanik., Proses pembusukan sampah organik, dll. Dan karena faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh: hasil pembakar bahan bakar fosil, debu/serbuk dari kegiatan industri, pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara. Pencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan alam, antara lain: hujan asam, penipisan lapisan ozon dan pemanasan global.
Selain mempengaruhi keadaan lingkungan alam, pencemaran udara juga membawa dampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup (organisme), baik hewan, tumbuhan dan manusia.
Dampak pencemaran udara bagi manusia, antara lain: mampu mengikat Hb (hemoglobin) sehingga pasokan O2 ke jaringan tubuh terhambat. Hal tersebut menimbulkan gangguan kesehatan berupa; rasa sakit pada dada, nafas pendek, sakit, kepala, mual, menurunnya pendengaran dan penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah. Bila keracunan berat (70 – 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO), dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.
dan mengganggu pertumbuhan tanaman dan Melarutkan kalsium, potasium dan nutrient lain yang berada dalam tanah sehingga tanah.
Pencegahan yang ditempuh terhadap pencemaran udara tergantung dari sifat dan sumber polutannya. Pencegahan yang paling sederhana dan mudah dilakukan yaitu menggunakan masker sebagai pelindung untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan. Tindakan yang dilakukan untuk mencegah pencemaran udara seperti mengurangi polutan, bahan yang mengakibatkan polusi dengan peralatan, mengubah polutan, melarutkan polutan, dan mendispersikan-menguraikan polutan.
Upaya penanggulangan dilakukan dengan tindakan pencegahan (preventif) yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan kuratif yang dilakukan sesudah terjadinya pencemaran.
B. Saran
Pencemaran udara memiliki dampak yang sangat menbahayakan kehidupan di bumi, dampak yang terjadi tidak hanya bagi manusia, hewan dan tumbuhan saja tetapi juga kepada lapisan ozon bumi.
DAFTAR PUSTAKA
Siahaan, N.H.T, 2009, Hukum Lingkungan, Pancuran Alam, Jakarta, Hal. 23 http://damainya-hutan-kita.ArdanSirodjuddin.com
Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Cet, Ke-12, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1996, Hal. 36-40.
http://epi.yale.edu/Countries/Indonesia, diakses tanggal 12 Oktober 2017
Alvi Syahrin, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, (Jakarta: PT Sofmedia, 2009), hal 28
Ibid., hal 27
Vikramaditya S. Khanna, Corporate Crime Legislation: A Political Economic Analysis, (Boston: Working Paper No. 03-04, Boston University School of Law, 2003), hal 5.
Arief Amrullah, Kejahatan Korporasi, (Malang: PT Bayumedia, 2006), hal 222 Ambang batas pencemaran udara adalah batas maksimum pencemaran udara dimana jika tingkat pencemaran disuatu tempat berada diatas batas itu diperkirakan akan menimbulkan berbagai masalah gangguan kesehatan, sebaliknya jika tingkat pencemaran udara disuatu tempat berada dibawah batas itu diperkirakan tidak menimbulkan masalah gangguan kesehatan.
United Nation Environment Programe (WHO), and The World Healt Organization (WHO), Urban Air Pollution in Megacities of the World, Oxford:Blackwell, 1992.
Sutamihardja, R.T.M, Air Quality Management, Makalah yang Dipresentasikan pada Lokakarya Urban Air in Jakarta, Jakarta 26-27 Mei 1994.
Soedomo, M., K. Usman, dan M. Irsyad. Analisis dan Prediksi Pengaruh Strategi Pengendalian Emisi Transportasi terhadap Konsentrasi Pencemaran Udara di Indonesia: Studi Kasus di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 1991
Idem.
Achmadi, U.F. “Efek Pencemaran Pb pada Siswa Sekolah Dasar Terpilih di DKI.” Makalah Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 1982
Tri-Tugaswati, A., S. Suzuki, H. Koyama, dan T. Kawada. “Health Effects of Automotive Lead Air Pollution in Jakarta.” Asia-Pacific Journal of Public Health, 1 (1987): 23-7