• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PENCEMARAN UDARA Lingkungan Dan Pengendalianny

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PENCEMARAN UDARA Lingkungan Dan Pengendalianny"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH HUKUM PERBANKAN

LIQUIDASI BANK

OLEH:

NADIA SANJAYA(1609110878

)

DOSEN PENGAMPU : RISKA FITRIANI, SH., MH.

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS RIAU

(2)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

BAB II ISI

2.1 Penggertian Likuidasi

2.2

2.3

2.4

2.5

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perorangan,

badan-badan usaha swasta, badan-badan-badan-badan usaha milik negara, bahkan

lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya.

[1]

Perbankan merupakan sektor yang sangat vital dan memiliki peran yang

sangat penting dalam perekonomian nasional. Lancarnya aliran uang sangat

diperlukan untuk mendukung kegiatan perekonomian. Dengan demikian,

kondisi sektor perbankan yang sehat dan kuat penting menjadi sasaran akhir

dari kebijakan moneter. Di samping itu, perbankan merupakan alat yang

sangat vital dalam menyelenggarkan transaksi pembayaran baik nasional

maupun internasional.

Bisnis perbankan merupakan bisnis yang penuh risiko, di samping

menjanjikan keuntungan yang besar jika di kelola secara baik dan hati-hati.

Dikatakan sebagai bisnis penuh risiko karena aktivitasnya sebagian besar

mengandalkan dana titipan masyarakat, baik dalam bentuk tabungan giro

maupun deposito. Besarnya peran yang diperhatikan oleh sektor perbankan,

bukan berarti membuka peluang sebebas-bebasnya bagi siapa saja untuk

mendirikan, mengelola ataupun menjalankan bisnis perbankan tanpa di

dukung dengan aturan perbankan yang baik dan sehat. Pemerintah melalui

otoritas keuangan dan perbankan berwenang menetapkan aturan dan

bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha dan

aktivitas perbankan. Oleh karenanya, kebijakan pemerintah disektor

perbankan harus di arahkan pada upaya mewujudkan perbankan yang sehat,

kuat dan kokoh. Hal ini mengingat kebijakan di bidang perbankan ini tidak

lagi semata-mata memegang peranan penting dalam pengembangan

infrasturktur keuangan dalam rangka mengatasi kesenjangan antara tabungan

dan investasi, tetapi juga berperan penting dalam memelihara kestabilan

ekonomi makro melalui keterkaitannya dengan efektivitas kebijakan moneter.

1

(4)

Apabila kita melihat kondisi perbankan pada era 1997-1998 yang mengalami

krisis moneter, pada pertengahan tahun 1997 krisis moneter semakin melebar

menjadi krisis perbankan.

[2]

Masyarakat heboh dengan terjadinya 16 bank

yang dilikuidasi. Mereka khawatir apakah uang mereka dapat dikembalikan

secara utuh atau tidak, maklum selaku nasabah tidak mengerti apa yang mesti

diperbuat. Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional memudar.

banyak dana yang hengkang dari bank–bank lokal berpindah ke bank asing,

bahkan tidak sedikit yang di bawa ke luar negeri.

Dampak selanjutnya dari keadaan tersebut akan dapat mengancam

perekonomian dan sistem perbankan nasional. Kepercayaan masyarakat akan

goyah terhadap bank atas perlindungan nasabah ketika terjadi likuidasi bank

tersebut.

Apabila bank mengalami kesulitan likuiditas, kemungkinan besar terjadi efek

yang menular khususnya apabila suatu bank di-rush, yaitu dananya diambil

secara besar-besarnya oleh nasabahnya karena tidak adanya jaminan

perlindungan hukum terhadap nasabah.

Kemauan masyarakat untuk menyimpan dananya pada bank semata-mata

dilandasi oleh kepercayaan bahwa uangnya akan dapat diperoleh kembali pada

waktunya dan disertai imbalan bunga. Berdasarkan data-data yang diperoleh

menunjukan, baik di Indonesia maupun di Negara-negara lain bahwa ada

beberapa bank yang mengalami kesulitan dan terpaksa ditutup sehingga

merugikan masyarakat, karena sebagian atau seluruh dananya tidak dapat

diperoleh kembali.

Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional,

pemerintah mengeluarkan jaminan kewajiban pembayaran bank umum atau

dikenal dengan blanket guarantee yang merupakan financial safety net dengan

keputusan presiden Nomor 26 Tahun 1998 dan Undang-Undang No.10 Tahun

1998 (Pasal 37). Atas dasar tersebut, penulis mencoba meneliti tentang

perlindungan nasabah terhadap likuidasi bank yang dituangkan dalam makalah

yang berjudul “Perlindungan Hukum Nasabah Terhadap Likuidasi Bank”.

(5)

A. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud LIKUIDASI dan LIKUIDASI BANK? 2. Apa dasar Hukum atau Pengaturaannya?

3. Apa Sebab dan tujuannya ?

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN LIKUIDASI

Di dalam KUHD tidak secara tegas dipergunakan istilah “likuidasi” untuk berakhirnya suatu perusahaan, tetapi dipergunakan istilah “pembubaran” dan “pemberesan”.

Dalam Burgerlijke Wetboek (BW)- Belanda (pasal 12) diperunakan istilah outbinding (pembubaran) dan vereffening (pemberesan). Sedangkan dalam system hokum Common Law dipergunaan istilah “winding up” di samping “liquidation”. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa LIKUIDASI adalah suatu tindakan untukmembubarkan suatu perusahaan atau badan hukum.

Likuidasi Bank berdasarkan Pasal 1 Angka(4) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999

B. Dasar Hukum dan Pengaturannya

Berdasarkan PP No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian

pencemaran udara ada beberapa pengertian yang perlu diketahui dalam

hal pencemaran udara, yaitu:

1. Pencemaran udara

Adalah masuknya atau dimasukkan zat, energi dan atau komponen

lain kedalam udara ambient oleh kegiatan manusia, sehingga suatu

ambient turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara

ambient tidak dapat memenuhi fungsinya

2. Pengendalian pencemaran udara

Adalah upaya pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran

udara serta pemulihan mutu udara

3. Sumber pencemaran

Adalah setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan bahan

pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi

sebagaimana mestinya

4. Udara ambient

(7)

5. Ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor

Adalah batas maksimum zat atau bahan pencemar yang boleh

dikeluarkan langsung dari pipa gas buang kendaraan bermotor

6. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)

Adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan

kondisi terhadap kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya.

7. Mutu emisi

Adalah emisi yang boleh dibuang oleh suatu kegiatan ke udara

ambient

Bahwa untuk melakukan tindakan hukum yang berupa tindakan

dengan kualifikasi PRO YUSTITIA atau untuk kepentingan proses

peradilan dalam perkara-perkara tindak pidana lingkungan hidup termasuk

pencemaran udara perlu diketahui terlebih dahulu tentang

ketentuan-ketentuan hukum (perundang-undangan) apa saja yang menjadi

dasar/landasan bagi aparat penegak hukum untuk dapat terselenggaranya

proses peradilan pidana dalam perkara pidana lingkungan hidup atau

kasus pencemaran udara. Peraturan perundang-undangan yang menjadi

dasar hukum sebagai berikut:

1. Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan

hidup sebagai penyempurnaan dari UU No. 4 tahun 1982 tentang

ketentuan-ketentuan pokok lingkungan hidup.

2. PP No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara

3. UU No. 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara

Pidana (KUHAP).

4. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHAP)

5. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang analisis mengenai

dampak lingkungan (Lembaga Negara Tahun 1999 No. 59, tambahan

Lembaran Negara No. 3853)

(8)

negara di dunia, dengan nilai: 44,6. Peringkat Indonesia ini turun

dibandingkan dengan Environmental Performance Index (EPI) 2008 atau

Indeks Kinerja Lingkungan 2008, dua tahun lalu Indonesia berada di

peringkat 102 dari 149 negara di dunia dengan indeks: 66,2 (dari

kemungkinan 100). Survey ini dilakukan dan disusun oleh tim ahli

lingkungan di Yale University dan Columbia University dalam EPI 2010.

Survey ini dilakukan terhadap seluruh negara di dunia untuk mengetahui

peringkat negara-negara di dunia dalam memberikan perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup.

2

Meningkatnya kegiatan industri beserta dengan perkembangan

teknologi menyebabkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan

terus meningkat. Hal ini tentu menuntut perlindungan lingkungan hidup

untuk mendapat perhatian hukum.

3

Beberapa peranan yang diharapkan

pada korporasi di dalam proses modernisasi atau pembangunan,

diantaranya memperhatikan dan membina kelestarian kemampuan

sumber daya alam dan lingkungan hidup,

4

dan saat korporasi tidak

memenuhi kewajiban tersebut, korporasi dan agen-agennya dapat dibuat

bertanggung jawab atas pelanggaran dari hukum lingkungan.

5

Menurut KUHP Indonesia, korporasi bukan merupakan subyek

hukum pidana, ini berarti korporasi tidak dapat dipidana sehingga

kejahatan yang dilakukan oleh korporasi bukan merupakan kejahatan

menurut hukum pidana umum. Dengan demikian, tidaklah mengherankan

bila KUHP yang berlaku di Indonesia sejak tanggal 1 Januari 1918 hingga

sekarang, hanya mengenal orang perseorangan yang bisa menjadi pelaku

tindak pidana. Hal itu dipertegas dengan adanya ketentuan Pasal 59

KUHP yang berbunyi: “Dalam hal-hal dimana karena pelanggaran

ditentukan pidana terhadap pengurus, anggota-anggota badan pengurus

2 http://epi.yale.edu/Countries/Indonesia, diakses tanggal 12 Oktober 2017

3 Alvi Syahrin, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, (Jakarta: PT Sofmedia, 2009),

hal 28

4 Ibid., hal 27

5 Vikramaditya S. Khanna, Corporate Crime Legislation: A Political Economic Analysis,

(9)

atau komisaris-komisaris, maka pengurus, anggota badan pengurus atau

komisaris yang ternyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tidak

dipidana.” Ketentuan Pasal 59 KUHP tersebut jelas maksudnya bahwa

hanya pengurus atau komisarisnya yang dianggap sebagai subyek hukum

(subyek tindak pidana) dan bukan perusahaannya (korporasi).

6

C. Bentuk-Bentuk Pencemaran Udara

Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam, yaitu : 1. Karena faktor internal (secara alamiah), contoh:

a. Debu yang beterbangan akibat tiupan angin.

b. Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut gas-gas vulkanik., Proses pembusukan sampah organik, dll

2. Karena faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh: a. Hasil pembakar bahan bakar fosil.

b. Debu/serbuk dari kegiatan industry

c. Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara 1. Klasifikasi Pencemaran Udara

Banyak faktor yang dapat menyebabkan pencemaran udara, diantaranya pencemaran yang ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia atau kombinasi keduanya. Pencemaran udara dapat mengakibatkan dampak pencemaran udara bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global atau tidak langsung dalam kurun waktu lama. Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder :

1. Polutan primer

Polutan primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara atau polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber tertentu, dan dapat berupa:

Polutan Gas terdiri dari:

a. Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi, dan karbon oksida (CO atau CO2) karena ia merupakan hasil

dari pembakaran

b. Senyawa sulfur, yaitu oksida.

(10)

c. Senyawa halogen, yaitu flour, klorin, hydrogen klorida, hidrokarbon terklorinasi, dan bromin.

d. Partikel yang di atmosfer mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat berupa zat padat maupun suspense aerosol cair sulfur di atmosfer. Bahan partikel tersebut dapat berasal dari proses kondensasi, proses (misalnya proses menyemprot/ spraying) maupun proses erosi bahan tertentu.

2. Polutan Sekunder

Polutan sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfersekunder biasanya terjadi karena reaksi dari dua atau lebih bahan kimia di udara, misalnya reaksi foto kimia. Sebagai contoh adalah disosiasi NO2 yang menghasilkan NO dan O

radikal.

2. Zat – Zat Pencemaran Udara

1. Karbon monoksida (CO)

Gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan bersifat racun. Dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil, misalnya gas buangan kendaraan bermotor.

2. Nitrogen dioksida (NO2)

Gas yang paling beracun. Dihasilkan dari pembakaran batu bara di pabrik, pembangkit energi listrik dan knalpot kendaraan bermotor.

3. Sulfur dioksida (SO2)

Gas yang berbau tajam, tidak berwarna dan tidak bersifat korosi. Dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur terutama batubara. Batubara ini biasanya digunakan sebagai bahan bakar pabrik dan pembangkit tenaga listrik.

4. Partikulat (asap atau jelaga)

Polutan udara yang paling jelas terlihat dan paling berbahaya. Dihasilkan dari cerobong pabrik berupa asap hitam tebal.

(11)

Terhadap Lingkungan AlamPencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan alam, antara lain: hujan asam, penipisan lapisan ozon dan pemanasan global.

a. Hujan Asam

1) Mempengaruhi kualitas air permukaan 2) Merusak tanaman

3) Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan

4) Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan. b. Penipisan Lapisan Ozon

Ozon (O3) adalah senyawa kimia yang memiliki 3 ikatan yang tidak stabil. Di atmosfer, ozon terbentuk secara alami dan terletak di lapisan stratosfer pada ketinggian 15-60 km di atas permukaan bumi. Fungsi dari lapisan ini adalah untuk melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet yang dipancarkan sinar matahari dan berbahaya bagi kehidupan.

Namun, zat kimia buatan manusia yang disebut sebagai ODS (Ozone Depleting Substances) atau BPO (Bahan Perusak Ozon) ternyata mampu merusak lapisan ozon sehingga akhirnya lapisan ozon menipis. Hal ini dapat terjadi karena zat kimia buatantersebut dapat membebaskan atom klorida (Cl) yang akan mempercepat lepasnya ikatan O3menjadi O2. c. Pemanasan Global

Kadar CO2 yang tinggi di lapisan atmosfer dapat menghalangi pantulan panas dari bumi ke atmosfer sehingga permukaan bumi menjadi lebih panas. Peristiwa ini disebut dengan efek rumah kaca (green house effect). Efek rumah kaca ini mempengaruhi terjadinya kenaikan suhu udara di bumi (pemanasan global). Pemanasan global adalah kenaikan suhu rata-rata di seluruh dunia dan menimbulkan dampak berupa berubahnya pola iklim.

D. Contoh Kasus Pencemaran Udara

(12)

memperkirakan bahwa sekurangnya satu jenis pencemaran udara di

kota-kota besar tersebut telah melebihi ambang batas toleransi pencemaran

udara

7

yang ditetapkan oleh WHO

8

. WHO juga memperkirakan bahwa

kurang lebih 600 juta orang hidup di kota yang tingkat pencemaran sulfur

dioksidanya melebihi ambang batas pencemaran udara WHO, dan sekitar

1,25 milyar orang tinggal di kota-kota yang tingkat pencemaran debunya

sudah sangat tinggi.

Kota-kota besar di Indonesia pun tidak luput dari permasalahan

pencemaran udara ini. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh

stasiun-stasiun pemantau pencemaran udara Badan Meteorologi dan Geofisika di

beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan

Menado menunjukkan, bahwa tingkat ambang pencemaran debu

(suspended particulate matter atau SPM), timah hitam (lead), nitrogen

dioksida (NO2), karbon monoksida (CO), dan sulfur dioksida (SO2) terus

naik sejak tahun 1980

9

. Lebih jauh lagi stasiun-stasiun pemantau ini juga

menunjukkan bahwa tingkat ambang debu, timah hitam, dan nitrogen

dioksida di beberapa kota besar telah melebihi ambang batas toleransi

pencemaran udara yang ditetapkan pemerintah Indonesia.

Misalnya, di beberapa bagian kota Jakarta, rata-rata per tahun

ambang pencemaran debu mencapai 270 αg/m3, sementara itu ambang

toleransi pencemaran debu rata-rata per tahun menurut standar Indonesia

adalah 90 αg/m3. Rata-rata per tahun ambang pencemaran timah hitam

mencapai 2 αg/m3, sementara batas toleransinya hanya 1 αg/m3. Juga

nitrogen dioksida rata-rata per tahunnya dapat mencapai 250 αg/m3,

sementara batas toleransinya adalah 100 αg/m3.

10

7 Ambang batas pencemaran udara adalah batas maksimum pencemaran udara dimana

jika tingkat pencemaran disuatu tempat berada diatas batas itu diperkirakan akan menimbulkan berbagai masalah gangguan kesehatan, sebaliknya jika tingkat pencemaran udara disuatu tempat berada dibawah batas itu diperkirakan tidak menimbulkan masalah gangguan kesehatan

8 United Nation Environment Programe (WHO), and The World Healt Organization

(WHO), Urban Air Pollution in Megacities of the World, Oxford:Blackwell, 1992.

9 Sutamihardja, R.T.M, Air Quality Management, Makalah yang Dipresentasikan pada

(13)

Contoh kota lainnya yang mengalami permasalahan pencemaran

udara adalah Bandung dan Surabaya.

Di beberapa bagian kota

Bandung, rata-rata per tahun ambang pencemaran debu mencapai 130

αg/m3, timah hitam mencapai 2 αg/m3, dan nitrogen dioksida mencapai

110 αg/m3. Adapun beberapa tempat di kota Surabaya, rata-rata per

tahun ambang pencemaran debu mencapai 270 αg/m3, timah hitam 2

αg/m3, dan nitrogen dioksida 160 αg/m3.

11

Tingginya tingkat pencemaran udara yang melebihi batas standar

toleransi pencemaran udara Indonesia diperkirakan telah menyebabkan

gangguan kesehatan pada masyarakat. Pada 1982 Achmadi, dari

Fakultas Kesehatan Masyarakat-Universitas Indonesia, secara konsisten

menemukan rata-rata konsentrasi timah hitam pada air kencing anak-anak

yang bersekolah di pusat kota Jakarta lebih tinggi dari pada rata-rata

konsentrasi timah hitam pada air kencing anak-anak yang bersekolah di

daerah pinggiran kota Jakarta (yang lalulintasnya tidak ramai).

12

Pada 1987 Tri-Tugaswati, dari Pusat Penelitian dan

Pengembangan Departemen Kesehatan, menunjukkan bahwa tingkat

kandungan timah hitam pada darah dan air kencing supir-supir kendaraan

umum di Jakarta dua kali lipat lebih tinggi dari pada kandungan timah

hitam pada darah dan air kencing petani di pinggiran kota Jakarta.

13

Dalam studi lainnya, Achmadi memperkirakan bahwa supir-supir

kendaraan umum, pedagang kakilima dan orang-orang yang tinggal di

daerah yang padat lalulintasnya memiliki kemungkinan 12,8 lebih besar

terkena penyakit yang berhubungan dengan pencemaran udara

10 Soedomo, M., K. Usman, dan M. Irsyad. Analisis dan Prediksi Pengaruh Strategi

Pengendalian Emisi Transportasi terhadap Konsentrasi Pencemaran Udara di Indonesia: Studi Kasus di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 1991

11 Idem.

12 Achmadi, U.F. “Efek Pencemaran Pb pada Siswa Sekolah Dasar Terpilih di DKI.” Makalah Kerja

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 1982

13 Tri-Tugaswati, A., S. Suzuki, H. Koyama, dan T. Kawada. “Health Effects of Automotive Lead Air

(14)

dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran kota

Jakarta (yang lalulintasnya tidak ramai).

14

Berbagai kasus gangguan kesehatan dan kematian di Jakarta,

Bandung dan Surabaya diduga juga terjadi diberbagai kota besar lainnya

15

di Indonesia. Dengan banyaknya kasus-kasus kematian dan gangguan

kesehatan per tahun di kota-kota besar terlihat betapa pentingnya

mengontrol pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia. Lebih jauh

lagi diketahui bahwa sekitar 70 persen pencemaran udara di kota-kota

besar di Indonesia berasal dari kendaraan bermotor. Jumlah kendaraan

bermotor yang terus meningkat di Indonesia akan menyebabkan semakin

tingginya tingkat pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia, dan

pada akhirnya menyebabkan meningkatnya jumlah kasus gangguan

kesehatan dan kematian dini di kota-kota besar di Indonesia. Semakin

tingginya jumlah kasus gangguan kesehatan dan kasus kematian dini

yang berhubungan dengan pencemaran udara inilah yang tentunya

mencemaskan masyarakat di berbagai kota besar di Indonesia.

Karenanya, untuk mengurangi semakin tingginya tingkat ambang

pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia dan tentunya juga

mengurangi jumlah berbagai masalah kesehatan yang ditimbulkan, Kantor

Menteri Lingkungan Hidup dengan Badan Pengendalian Dampak

Lingkungan-nya untuk mencanangkan program memperbaiki kualitas

udara yang diberi nama Program Langit Biru pada awal 1990-an.

Pencemaran Udara oleh Transportasi Darat

Udara merupakan faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan

meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas

udara telah mengalami perubahan. Udara yang dulunya segar, kini kering

dan kotor. Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan

pencemaran udara, yaitu masuknya zat pencemar (berbentuk gas-gas

dan partikel kecil/aerosol) ke dalam udara.

14 Achmadi, U.F. “Analisis Resiko Efek Pencemaran Udara CO dan Pb terhadap Penduduk Jakarta.”

Department of Public Health Working Papers, University of Indonesia, Jakarta, 1989

(15)

Daerah perkotaan merupakan salah satu sumber pencemaran

udara utama, yang sangat besar peranannya dalam masalah pencemaran

udara. Kegiatan perkotaan yang meliputi kegiatan sektor-sektor

permukiman, transportasi, komersial, industri, pengelolaan limbah padat,

dan sektor penunjang lainnya merupakan kegiatan yang potensial dalam

merubah kualitas udara perkotaan. Pembangunan fisik kota dan berdirinya

pusat-pusat industri disertai dengan melonjaknya produksi kendaraan

bermotor, mengakibatkan peningkatan kepadatan lalu lintas dan hasil

produksi sampingan, yang merupakan salah satu sumber pencemar

udara.

Dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara, pada

umumnya sektor transportasi memegang peran yang sangat besar

dibandingkan dengan sektor lainnya. Di kota-kota besar, kontribusi gas

buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai

60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya

berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain, misalnya

dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain.

Kendaraan bermotor yang menjadi alat transportasi, dalam

konteks pencemaran udara dikelompokkan sebagai sumber yang

bergerak. Dengan karakteristik yang demikian, penyebaran pencemar

yang diemisikan dari sumber-sumber kendaraan bermotor ini akan

mempunyai suatu pola penyebaran spasial yang meluas. Faktor

perencanaan sistem transportasi akan sangat mempengaruhi penyebaran

pencemaran yang diemisikan, mengikuti jalur-jalur transportasi yang

direncanakan.

Faktor penting yang menyebabkan dominannya pengaruh sektor

transportasi terhadap pencemaran udara perkotaan di Indonesia antara

lain:

Perkembangan jumlah kendaraan yang cepat (eksponensial)

Tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan

yang ada

Pola lalu lintas perkotaan yang berorientasi memusat, akibat terpusatnya

kegiatan-kegiatan perekonomian dan perkantoran di pusat kota

(16)

Kesamaan waktu aliran lalu lintas

Jenis, umur dan karakteristik kendaraan bermotor

Faktor perawatan kendaraan

Jenis bahan bakar yang digunakan

Jenis permukaan jalan

Siklus dan pola mengenudi (drivingpattern)

Pengendalian Pencemaran Udara Akibat kendaraan bermotor

Pengendalian pencemaran akibat kendaraan bermotor akan mencakup

upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tak langsung, yang

dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif.

Solusi untuk mengatasi polusi udara kota terutama ditujukan pada

pembenahan sektor transportasi, tanpa mengabaikan sektor-sektor lain.

Hal ini kita perlu belajar dari kota-kota besar lain di dunia, yang telah

berhasil menurunkan polusi udara kota dan angka kesakitan serta

kematian yang diakibatkan karenanya, seperti :

Pemberian izin bagi angkutan umum kecil hendaknya lebih dibatasi,

sementara kendaraan angkutan massal, seperti bus dan kereta api,

diperbanyak.

Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu

dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua

kendaraan, terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk

memberi kontribusi polutan udara.

Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu

lintas dan tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan

tindakan tegas terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu

mengatasi kemacetan lalu lintas dan mengurangi polusi udara.

(17)

Uji emisi harus dilakukan secara berkala pada kendaraan umum maupun

penggerak, merupakan salah satu sumber pencemar udara. Kapal-kapal

motor mulai dari ukuran yang kecil sampai yang besar umumnya

transportasi laut, berdampak pada tingginya emisi gas rumah kaca yang

dikeluarkan ke atmosfir. Meski kapal-kapal mengeluarkan emisi gas buang

di tengah laut, seolah-olah tidak mencemari lingkungan, padahal polutan

yang keluar dari cerobong seperti SOx, NOX dan CO2 tetap masuk ke

atmosfir dan mencemari lingkungan. Selain memacu percepatan

pemanasan global, polutan dari kapal di laut juga bisa menimbulkan hujan

asam (acidrain). Ketika kapal mendekati pelabuhan, kapal motor

mencemari udara sekiar pelabuhan. Bahkan selama kapal berada di

kawasan pelabuhan, kapal motor tetap menyalakan mesin untuk

memenuhi beberapa kebutuhan terutama listrik. Selama mesin

beroperasi, berarti selama itu pula kapal mengeluarkan polutan ke udara.

(18)

menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menentukan

kebijakan pengendalian pencemaran udara dari sektor transportasi laut.

Walau bagaimanapun, tanpa harus menunggu kebijakan pengendalian

pencemaran udara, para pelaku usaha jasa transportasi laut sudah harus

memulai langkah-langkah peningkatan efisiensi bahan bakar minyak di

sektor transportasi laut. Semakin rendah pemakaian bahan bakar, berarti

semakin rendah pula pencemaran. Selain itu sudah harus dipikirkan pula

peningkatan mesin-mesin kapal yang sistem pembakarannya kurang baik.

Kalau mesin kapal tidak dipelihara dan dirawat secara baik, maka

konsentrasi polutannya lebih buruk dibandingkan dengan mesin yang

dirawat dengan baik.

Yang penting tidak boleh diabaikan adalah peningkatan kualitas bahan

bakar. Seringkali untuk kepentingan penghematan operasional sesaat,

bahan bakar yang digunakan dari jenis harga rendah, atau bahkan bahan

bakar yang dioplos. Hal ini akan mengakibatkan selain mempercepat

kerusakan mesin, tapi juga tingkat pencemaran udara yang lebih tinggi.

E. Problematik dalam Pencemaran Udara

Ada beberapa dampak dari pencemaran udara terhadap mahkluk hidup: a. Dampak kesehatan

Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya.

(19)

Penyakit pneumoconiosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel yang masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. Adapun jenis-jenis penyakit pneumoniosis seperti :

1) Penyakit Antrakosis

Merupakan penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh pencemaran debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja tambang batubara atau pekerja yang banyak mlibatkan penggunaan batubara seperti power plant (pembangkit listrik tenaga uap. Masa inkubasi penyakit ini antara 2-4 tahun yang ditandai dengan sesak napas

2) Penyakit Silikosis

Penyakit yang disebabkan oleh pencemaran debu silica bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silica ini banyak terdapat di industry besi baja, keramik, pengecoran beton, proses permesinan seperti mengikir, menggerinda. Di samping itu debu silica juga terdapat di penambangan bijih besi, timah putih, dan tambang batu bara.

Penyakit silikosis akan lebih buruk lagi, kalau penderita sebelumnya sudah menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis kronis, astma broonchiale dan penyakit pernapasan lainnya. Pada awalnya, penyakit silikosis ditandai dengan sesak napas yang disertai dengan batuk-batuk tanpa dahak.

3) Penyakit Asbestosis

Merupakan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu atau serat asbes yang mencemari udara. Asbes merupakan campuran berbagai macam silikat.

Selain mempengaruhi keadaan lingkungan alam, pencemaran udara juga membawa dampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup (organisme), baik hewan, tumbuhan dan manusia.

b. Dampak pencemaran udara bagi manusia, antara lain: 1) Karbon monoksida (CO)

(20)

pendengaran dan penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah. Bila keracunan berat (70 – 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO), dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.

2) Nitrogen dioksida (SO2)

Dapat menyebabkan timbulnya serangan asma. 3) Hidrokarbon (HC)

Menyebabkan kerusakan otak, otot dan jantung. 4) Chlorofluorocarbon (CFC)

Menyebabkan melanoma (kanker kulit) khususnya bagi orang-orang berkulit terang, katarak dan melemahnya sistem daya tahan tubuh.

5) Timbal (Pb)

Menyebabkan gangguan pada tahap awal pertumbuhan fisik dan mental serta mempengaruhi kecerdasan otak.

6) Ozon (O3)

Menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan terasa terbakar dan memperkecil paru-paru.

7) Nox

Menyebabkan iritasi pada paru-paru, mata dan hidung.

c. Dampak pencemaran udara bagi kehidupan hewan 1) Penipisan lapisan ozon

Menimbulkan kanker mata pada sapi, terganggunya atau bahkan putusnya rantai makanan pada tingkat konsumen di ekosistem perairan karena penurunan jumlah fitoplankton.

2) Hujan asam

Menyebabkan pH air turun di bawah normal sehingga ekosistem air terganggu.

3) Pemanasan global

(21)

panjang memicu terjadinya kebakaran hutan dan menurunnya produksi panen, bencana alam (banjir, gempa, tsunami) banyak terjadi dan permukaan laut yang meninggi akan mengakibatkan tenggelamnya pulau-pulau kecil dan daerah-daerah pesisir pantai.

d. Dampak Pencemaran Udara Bagi Tumbuhan

Dampak pencemaran udara terhadap kehidupan tumbuhan, antara lain: 1) Hujan Asam

a) Merusak kehidupan ekosistem perairan, menghancurkan jaringan tumbuhan (karena memindahkan zat hara di daun dan menghalangi pengambilan Nitrogen) dan mengganggu pertumbuhan tanaman. b) Melarutkan kalsium, potasium dan nutrient lain yang berada dalam

tanah sehingga tanah akan berkurang kesuburannya dan akibatnya pohon akan mati.

2) Penipisan Lapisan Ozon

Merusak tanaman, mengurangi hasil panen (produksi bahan makanan, seperti beras, jagung dan kedelai), penurunan jumlah fitoplankton yang merupakan produsen bagi rantai makanan di laut.

3) Pemanasan global

Penurunan hasil panen pertanian dan perubahan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati dapat berubah karena kemampuan setiap jenis tumbuhan untuk bertahan hidup berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.

4) Gas CFC

Mengakibatkan tumbuhan menjadi kerdil, ganggang di laut punah, terjadi mutasi genetik (perubahan sifat organisme).

G. PENCEGAHAN PENCEMARAN UDARA

(22)

polusi dengan peralatan, mengubah polutan, melarutkan polutan, dan mendispersikan-menguraikan polutan.

a. Mencegah pencemaran udara berbentuk gas 1) Adsorbsi

Adsorbsi merupakan proses melekatnya molekul polutan atau ion pada permukaan zat padat-adsorben-seperti karbon aktif dan silikat. Adsorben mempunyai sifat dapat menyerap zat lain sehingga menempel pada permukaannya tanpa reaksi kimia serta memiliki daya kejenuhan yang bersifat disposal (sekali pakai buang) atau dibersihkan dulu, kemudian digunakan lagi.

2) Absorbsi

Absorbsi merupakan proses penyerapan yang memerlukan solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan konsentrasinya. Metoe absorbs ini pada prinsipnya hampir sama dengan metode adsorbsi, hanya bedanya bahwa emisi hidrokarbon mengalami kontak dengan cairan di mana hidrokarbon akan larut atau tersuspensi.

3) Kondensasi

Kondensasi merupakan proses perubahan uap air atau bendda gas menjadi benda cair pada suhu udara di bawah titik embun. Polutan gas diarahkan mencapai titik kondensasi tinggi dan titik penguapan yang rendah, seperti hidrokarbon dan gas organic lainnya.

4) Pembakaran

Pembakaran merupakan proses untuk menghancurkan gas hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan dengan mempergunakan proses oksidasi panas yang disebut inceneration. Iceneration merupakan salah satu metode dalam pengolahan limbah padat dengan menggunakan pembakaran yang menghasilkan gas dan residu pembakaran.

b. Mencegah pencemaran udara berbentuk partikel 1) Filter

(23)

Penggunaan filter udara seharusnya disesuaikan dengan sifat gas buangan yang keluar seperti berdebu banyak, besifat asam, bersifat alkalis dan sebagainya. Beberapa contoh jenis filter yang banyak digunakan seperti cotton, nylon, orlon, Dacron, fiberglass, polypropylene, wool, nomex, Tefloyn.

2) Filter basah

Cara kerja filter basah atau scrubbers/wat collectors adalah membersihkan udara kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangakan udara yang kotor dari bagian bawah alat.

3) Elektrostatik

Alat pengendap elektrostatik dapat digunakan untuk membersihkan udara kotor dalam jumlah yang relative besar. Alat ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan antara 25-100 kv, berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi muatan positif sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding silinder, diberi muatan negative.

4) Kolektor Mekanik

Mengendapkan polutan partikel yang ukurannya relative besar dapat dengan menggunakan tenaga gravitasi. Pengendap siklon atau cyclone Separators adalah pengendap debu yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu.

5) Program penghijauan

Tumbuh-tumbuhan menyerap hasil pencemaran udara berupa karbon dioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2). Tumbuh-tumbuhan akan menghisap dan mengurangi polutan, dengan melepaskan gas oksigen maka akan mengurangi jumlah polutan di udara. Semakin banyak tumbuh-tumbuhan ditanam sebagai paru-paru kota maka kualitas udara akan semakin sehat sehingga akan mendukung program langit biru (prolabir). Program penghijauan ini seharusnya merupakan gerakan nasional agar semua pihak dapat berpartisipasi aktif.

6) Ventilasi udara

(24)

bebas dari berbagai polutan. Bila akan menggunakan exhaust fan, maka usahakan dekat dengan sumber pencemaran, agar polutan segera dapat keluar dalam ruangan.

H. Kewajiban Sektor Usaha dalam Pengendalian Udara

Upaya penanggulangan dilakukan dengan tindakan pencegahan (preventif) yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan kuratif yang dilakukan sesudah terjadinya pencemaran.

a. Usaha Preventif (sebelum pencemaran)

1) Mengembangkan energi alternatif dan teknologi yang ramah lingkungan.

2) Mensosialisasikan pelajaran lingkungan hidup (PLH) di sekolah dan masyarakat.

3) Mewajibkan dilakukannya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) bagi industri atau usaha yang menghasilkan limbah. 4) Tidak membakar sampah di pekarangan rumah.

5) Tidak menggunakan kulkas yang memakai CFC (freon) dan membatasi penggunaan AC dalam kehidupan sehari-hari.

6) Tidak merokok di dalam ruangan.

7) Menanam tanaman hias di pekarangan atau di pot-pot. 8) Ikut berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan.

9) Ikut memelihara dan tidak mengganggu taman kota dan pohon pelindung.

10) Tidak melakukan penebangan hutan, pohon dan tumbuhan liar secara sembarangan.

11) Mengurangi atau menghentikan penggunaan zat aerosol dalam penyemprotan ruang.

12) Menghentikan penggunaan busa plastik yang mengandung CFC. 13) Mendaur ulang freon dari mobil yang ber-AC.

14) Mengurangi atau menghentikan semua penggunaan CFC dan CCl4.

b. Usaha kuratif (sesudah pencemaran)

(25)

1) Menggalang dana untuk mengobati dan merawat korban pencemaran lingkungan.

2) Kerja bakti rutin di tingkat RT/RW atau instansiinstansi untuk membersihkan lingkungan dari polutan.

c. Program pemerintah

Selain usaha preventif dan kuratif, Pemerintah juga perlu mencanangkan programprogram yang bertujuan untuk mengendalikan pencemaran, khususnya pencemaran udara, yaitu;

1) PROGRAM LANGIT BIRU yang dicanangkan sejak Agustus 1996. Bertujuan untuk meningkatkan kembali kualitas udara yang telah tercemar, misalnya dengan melakukan uji emisi kendaraan bermotor. 2) Keharusan membuat cerobong asap bagi industry atau pabrik.

3) Imbauan mengurangi bahan bakar fosil (minyak, batu bara) dan menggantinya dengan energy Alternatif lainnya.

(26)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahsan isi makalah diatas dapat disimpulkan bahwa, Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan.

Secara umum penyebab pencemaran udara ada 2 macam, yaitu : Karena faktor internal (secara alamiah), contoh: debu yang beterbangan akibat tiupan angin, Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut gas-gas vulkanik., Proses pembusukan sampah organik, dll. Dan karena faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh: hasil pembakar bahan bakar fosil, debu/serbuk dari kegiatan industri, pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara. Pencemaran udara dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan alam, antara lain: hujan asam, penipisan lapisan ozon dan pemanasan global.

Selain mempengaruhi keadaan lingkungan alam, pencemaran udara juga membawa dampak negatif bagi kehidupan makhluk hidup (organisme), baik hewan, tumbuhan dan manusia.

Dampak pencemaran udara bagi manusia, antara lain: mampu mengikat Hb (hemoglobin) sehingga pasokan O2 ke jaringan tubuh terhambat. Hal tersebut menimbulkan gangguan kesehatan berupa; rasa sakit pada dada, nafas pendek, sakit, kepala, mual, menurunnya pendengaran dan penglihatan menjadi kabur. Selain itu, fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah. Bila keracunan berat (70 – 80 % Hb dalam darah telah mengikat CO), dapat menyebabkan pingsan dan diikuti dengan kematian.

(27)

dan mengganggu pertumbuhan tanaman dan Melarutkan kalsium, potasium dan nutrient lain yang berada dalam tanah sehingga tanah.

Pencegahan yang ditempuh terhadap pencemaran udara tergantung dari sifat dan sumber polutannya. Pencegahan yang paling sederhana dan mudah dilakukan yaitu menggunakan masker sebagai pelindung untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan. Tindakan yang dilakukan untuk mencegah pencemaran udara seperti mengurangi polutan, bahan yang mengakibatkan polusi dengan peralatan, mengubah polutan, melarutkan polutan, dan mendispersikan-menguraikan polutan.

Upaya penanggulangan dilakukan dengan tindakan pencegahan (preventif) yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran dan tindakan kuratif yang dilakukan sesudah terjadinya pencemaran.

B. Saran

Pencemaran udara memiliki dampak yang sangat menbahayakan kehidupan di bumi, dampak yang terjadi tidak hanya bagi manusia, hewan dan tumbuhan saja tetapi juga kepada lapisan ozon bumi.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Siahaan, N.H.T, 2009, Hukum Lingkungan, Pancuran Alam, Jakarta, Hal. 23 http://damainya-hutan-kita.ArdanSirodjuddin.com

Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Cet, Ke-12, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1996, Hal. 36-40.

http://epi.yale.edu/Countries/Indonesia, diakses tanggal 12 Oktober 2017

Alvi Syahrin, Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan, (Jakarta: PT Sofmedia, 2009), hal 28

Ibid., hal 27

Vikramaditya S. Khanna, Corporate Crime Legislation: A Political Economic Analysis, (Boston: Working Paper No. 03-04, Boston University School of Law, 2003), hal 5.

Arief Amrullah, Kejahatan Korporasi, (Malang: PT Bayumedia, 2006), hal 222 Ambang batas pencemaran udara adalah batas maksimum pencemaran udara dimana jika tingkat pencemaran disuatu tempat berada diatas batas itu diperkirakan akan menimbulkan berbagai masalah gangguan kesehatan, sebaliknya jika tingkat pencemaran udara disuatu tempat berada dibawah batas itu diperkirakan tidak menimbulkan masalah gangguan kesehatan.

United Nation Environment Programe (WHO), and The World Healt Organization (WHO), Urban Air Pollution in Megacities of the World, Oxford:Blackwell, 1992.

Sutamihardja, R.T.M, Air Quality Management, Makalah yang Dipresentasikan pada Lokakarya Urban Air in Jakarta, Jakarta 26-27 Mei 1994.

Soedomo, M., K. Usman, dan M. Irsyad. Analisis dan Prediksi Pengaruh Strategi Pengendalian Emisi Transportasi terhadap Konsentrasi Pencemaran Udara di Indonesia: Studi Kasus di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 1991

Idem.

Achmadi, U.F. “Efek Pencemaran Pb pada Siswa Sekolah Dasar Terpilih di DKI.” Makalah Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, 1982

Tri-Tugaswati, A., S. Suzuki, H. Koyama, dan T. Kawada. “Health Effects of Automotive Lead Air Pollution in Jakarta.” Asia-Pacific Journal of Public Health, 1 (1987): 23-7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian mengenai efektivitas pengawasan Badan lingkungan Hidup dalam mengatasi pencemaran udara oleh perusahaan di Kota Cilegon dilatar belakangi oleh adanya

Menurut Mukono (2006), yang dimaksud pencemaran udara adalah bertambahnya bahan atau substrat fisik atau kimia ke dalam lingkungan udara normal yang mencapai sejumlah tertentu,

Dengan adanya hal tersebut banyak para ilmuwan mencari solusi untuk menciptakan berbagai teknologi yang mampu mengurangi pencemaran udara yang ada, mulai dari

Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di Jakarta disebabkan karena

Dengan adanya hal tersebut banyak para ilmuwan mencari solusi untuk menciptakan berbagai teknologi yang mampu mengurangi pencemaran udara yang ada, mulai dari

Polusi atau pencemaran udara adalah masuknya komponen lain ke dalam udara, baik oleh kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung maupun akibat proses alam sehingga

Model Gaussian • Model Gaussian adalah jenis model pemodelan dispersi pencemaran udara yang digunakan untuk memperkirakan dan memprediksi penyebaran polutan di atmosfer dari berbagai

Solusi dalam Menghindari Dampak Polusi Udara bagi Kesehatan Upaya untuk mengurangi dampak negatif pencemaran udara antara lain: dengan berolahraga, menanam pohon, mengurangi penggunaan