• Tidak ada hasil yang ditemukan

TABU NJANGKAR ORANG JAWA DI SULAWESI TEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TABU NJANGKAR ORANG JAWA DI SULAWESI TEN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH

DALAM BINGKAI KEBERAGAMAN BUDAYA

DI SULAWESI TENGGARA

PROSIDING KONGRES II BAHASA-BAHASA DAERAH SULAWESI TENGGARA TAHUN 2014 KENDARI, 7 8 OKTOBER 2014

Editor

FIRMAN A.D.

SANDRA SAFITRI HANAN

KANTOR BAHASA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

(2)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi

Tenggara (Prosiding Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014)

ISBN 978-979-069-206-0

Diterbitkan oleh

Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja Anduonohu, Kendari

Editor

: Firman A. D., Sandra Safitri Hanan

Penata Letak : Firman A. D.

Pewajah Kulit : Hairil M. Indra Jaya

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dalam bentuk

apapun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan

penulisan artikel atau karangan ilmiah.

Hak cipta pada Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi

Tenggara (Prosiding Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara

2014)/Editor: Firman A.D., S.S., M.Si., Sandra Safitri Hanan, cet. 1--, Kendari; Kantor

Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, 2014

xxxii, 356 hlm; 19 cm x 28 cm

ISBN 978-979-069-206-0

1. Bahasa Indonesia Temu Imiah

I. Judul

(3)

KATA PENGANTAR

KEPALA KANTOR BAHASA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Syukuralhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas perkenan-Nya Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014 dapat terlaksana dengan baik dan lancar di Hotel Clarion, Kota Kendari. Pelaksanaan Kongres ini merupakan amanah dari rekomendasi Kongres sebelumnya di Kota Baubau tahun 2010. Rekomendasi Kongres sebelumnya sebagian besar telah dilaksanakan, baik oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, pemerintah kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara, maupun oleh Kantor Bahasa Provinsi se-Sulawesi Tenggara. Namun demikian, beberapa rekomendasi yang belum terlaksana bukan karena tidak ada niat dan keinginan untuk tidak melaksanakannya tetapi karena keterbatasan waktu dan tenaga serta berbagai kendala lain sehingga perlu kiranya dibahas lagi dalam Kongres II kali ini.

Dari tahun ke tahun masalah yang dihadapi dalam kaitannya dengan pengembangan dan pembinaan bahasa semakin kompleks. Era globalisasi dan modernisasi adalah dua isu yang dari waktu ke waktu sering dihembuskan dalam kaitannya dengan pemertahanan dan pelesatarian bahasa daerah. Masalah baru yang ada dihadapan kita saat ini adalah kesepakatan negara-negara ASEAN yang dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Saat ini, berdasarkan pandangan dari Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, masalah kebahasaan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia bukan hanya globalisasi dan modernisasi, melainkan sudah masuk ke isu-isu kewilayahan di negara kita. Berdasarkan pembagian zona waktu, Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah atau zona, yaitu Indonesia bagian barat, bagian tengah, dan bagian timur. Ketiga wilayah ini masing-masing memiliki isu kebahasaan yang sewaktu-waktu dapat mengancam kesatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. Indonesia bagian barat terpapar oleh isu kemelayuan, Indonesia bagian tengah digempur oleh maraknya otonomi daerah, dan Indonesia bagian timur diungkit dengan isu kemelanesiaan. Ketiga isu inilah yang dapat menjadi ancaman yang serius terhadap integritas bangsa Indonesia. Ancaman disintegrasi bukan hanya disebabkan oleh kekuatan dari luar tetapi dapat juga disebabkan oleh kekuatan dari dalam negeri.

Isu-isu ini seharusnya dapat kita antisipasi mulai dari sekarang. Kami harapkan melalui Kongres II ini dapat dihimpun beberapa pandangan tokoh dan pakar bahasa dan sastra untuk dirumuskan menjadi suatu rekomendasi yang bermanfaat bagi pemertahanan bahasa daerah di wilayah Sulawesi Tenggara yang multietnis dan sekaligus dapat menangkal isu-isu negatif dalam kaitannya dengan pemertahanan bahasa daerah. Berbagai pokok permasalahan yang dibahas beserta rumusan dan rekomendasi hasil kongres telah dihimpun dalam buku ini.

Mudah-mudahan penerbitan buku ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan masyarakat dalam memahami dan menerapkan upaya pemertahanan dan pelestarian bahasa daerah di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tenggara.

Kepala

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara Daftar Isi

Sambutan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Sambutan Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara

Laporan Pelaksanaan Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014 Rumusan dan Rekomendasi Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014

Strategi Pemertahanan Bahasa Daerah

Mahsun (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)... 1

Menyelamatkan Aset Kebahasaan Indonesia

Sugiyono (Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur dan Pelindungan Bahasa)... 12

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Perspektif Pembinaan Bahasa di Indonesia

Yeyen Maryani (Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Bahasa)... 23

Peran Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam Menangani Kepunahan Bahasa

Muhamad Hisyam (Peneliti LIPI)... 32

Riwayat Dan Gambaran Pernaskahan di Sulawesi Tenggara

Titik Pudjiastuti (Masyarakat Pernaskahan Nusantara)... 48

Sastra Daerah sebagai Sumber Rekonstruksi Sejarah

Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia)... 53

Perlindungan Sastra Daerah sebagai Warisan Budaya

Pudentia MPSS (Asosiasi Tradisi Lisan)... 63

Bahasa Ciacia: Daya Hidup dan Daya Kembangnya sebagai Bahasa Daerah

Kisyani-Laksono (Universitas Negeri Surabaya)... 67

Strategi Pembelajaran Bahasa Daerah

(5)

Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara: Sejarah Penelitian dan Masa Depan

Masao Yamaguchi (Universitas Setsunan, Jepang)... 88

Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Wakatobi di Kepulauan Lepas Pantai Sulawesi Tenggara: Tinjauan Linguistik Diakronis

Inyo Yos Fernandez (Universitas Gadjah Mada)... 95

Strategi Pemertahanan dan Pengembangan Bahasa Culambacu: Sebuah Bahasa Minoritas di Provinsi Sulawesi Tenggara

Asri (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara)... 112

Bahasa Lasalimu dan Kamaru sebagai Bahasa Kerabat dalam Sub-kelompok Bahasa Muna-Buton (Kajian Linguistik Historis Komparatif)

Rahmawati Nusi (SMAN 1 Rumbia, Kab. Bombana)... 119

Bahasa Daerah Muna Dialek Mawasangka sebagai Aset Bangsa dalam Bingkai Provinsi Sulawesi Tenggara

Ishak Bagea (Universitas Muhammadiyah Kendari)... 132

Telaah Linguistik dalam Cerita Rakyat Wolio sebagai Upaya Pelestarian Bahasa Daerah di Sulawesi Tenggara

Herianah (Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat)... 141

Penggalian Potensi Bahasa Daerah Muna, Kambowa, dan Busoa melalui Pendekatan Linguistik Historis Komparatif sebagai Pemerkaya Budaya Nasional

La Ino (Universitas Halu Oleo )... 150

Bahasa Laiyolo, Rumpun Muna-Buton yang Terancam Punah

Rahmawati (Universitas Halu Oleo )... 162

Kosakata dalam Karya Sastra sebagai Alat Pemertahanan Bahasa dan Sastra

Dad Murniah (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)... 171

Komunitas Sastra dan Pemertahanan Bahasa di Sulawesi Tenggara

Ahid Hidayat (Universitas Halu Oleo)... 180

Potensi Cerita Rakyat Wolio sebagai Pemerkaya Budaya Nasional

Besse Darmawati dan David G. Manuputty (Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan dan

Provinsi Sulawesi Barat)... 188

Kartu Pos dari Tenggara: Konawe dalam Puisi Syaifuddin Gani

Cecep Syamsul Hari (Redaksi Jurnal Sastra Indonesia)... 193

Adati Totongano WonuaI:Identitas Moronene yang Tetap Lestari

(6)

Peran Tradisi Lisan dalam Pemertahanan Bahasa Daerah

Hamiruddin Udu (Universitas Halu Oleo)... 209

Dari Selayar ke Tenggara hingga Hulonthalo: Kisah Kerajaan dalam Kekerabatan Sastra Nusantara

Haruddin (Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo)... 218

Menggali Makna Ungkapan Tradisional Masyarakat Buton sebagai Landasan Pendidikan Karakter

Sahlan (Universitas Halu Oleo)... 231

Pattimura dan Sawerigading di Tanah Buton: Keindonesiaan dalam Cerita Rakyat Nusantara Asrif (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara)... 238

Eksistensi Bahasa Bugis di Wilayah Daratan Sulawesi Tenggara

Firman A.D. (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara)... 246

Adaptasi Fonologis dan Leksikon antara Bahasa Laiyolo dan Bahasa Selayar

Wahidah (Kantor Bahasa Provinsi Maluku)... 257

Sikap Bahasa Etnik Muna di Perantauan Sulawesi Tengah

Siti Fatinah (Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah)... 263

Pemertahanan Bahasa Daerah oleh Mahasiswa Asal Sulawesi Tenggara di Yogyakarta

Sigit Arba i (Balai Bahasa Provinsi D.I. Yogyakarta)... 273

Peran Tradisi LisanKatobadalam Pemertahanan Bahasa Daerah Muna

Rahmawati (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara)... 281

TabuNjangkarOrang Jawa di Sulawesi Tenggara

Heksa Biopsi Puji Hastuti (Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara)... 288

Heterogenitas Budaya-Budaya di Sulawesi Tenggara untuk Mendukung Pengembangan Buku Pengayaan Bahasa Indonesia

Aris Badara (Universitas Halu Oleo)... 298

Pengembangan Model Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Daerah di Sulawesi Tenggara

La Ode Balawa (Universitas Halu Oleo)... 305

Pelestarian Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara melalui Pendidikan Formal (Reposisi Pembelajaran Bahasa Daerah dalam Kurikulum 2013)

Mahdin (SMPN 1 Kendari)... 316

Melirik Sastra Daerah dalam Momentum Pengajaran Bahasa Indonesia

(7)

Peningkatkan Keterampilan Menulis Dongeng dengan Menggunakan MetodeHypnoteaching Siswa Kelas VII 1 SMP Negeri 9 Kendari

Sri Suryana Dinar (Universitas Halu Oleo)... 332

Sastra Luar Kelas

(8)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 288

TABU

NJANGKAR

ORANG JAWA DI SULAWESI TENGGARA

Heksa Biopsi Puji Hastuti

Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara Kompleks Bumi Praja, Jalan Haluoleo, Kendari

Pendahuluan

Suku Jawa adalah suku asli nusantara yang terbilang paling luas ketersebarannya. Wilayah asal suku ini ialah di pulau Jawa bagian tengah, sampai ke timur. Dalam pembagian wilayah Republik Indonesia, orang Jawa ialah orang yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada masa sebelumnya, wilayah kebudayaan Jawa lebih dikenal berdasarkan kesamaan budayanya, yakni wilayah Kejawen yang meliputi Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri. Di luar wilayah tersebut dinamakan daerah pesisir dan Ujung Timur (Kodiran, Koentjaraningrat ed., 1980: 322). Lonjakan jumlah penduduk terjadi cepat di pulau Jawa setelah Perang Dunia ke-II (Kodiran, 1980: 343) sehingga menjadikannya sebagai pulau terpadat di Indonesia. Hal ini membuat Jawa menjadi pulau utama yang mengirimkan penduduknya ke pulau lain sebagai transmigran dalam program transmigrasi yang berarti perpindahan penduduk dari pulau yang padat ke pulau lain yang masih kurang penduduknya.

Di Kendari dan wilayah Sulawesi Tenggara pada umumnya, orang Jawa tercatat masuk melalui berbagai jalur dan menempati beragam posisi dalam masyarakat. Yang pertama ialah jalur transmigrasi formal yang diprakarsai dan didanai oleh pemerintah. Tujuan program transmigrasi ini di samping untuk pemerataan penyebaran penduduk dan tenaga kerja, serta pembukaan dan pengembangan daerah produksi baru, juga diharapkan dapat mendorong peningkatan taraf hidup para transmigran dan masyarakat sekitarnya (Badan Pusat Statistik Provinsi Kendari, 2010: 84). Sementara itu, Undang-Undang R.I. Nomor 15 Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian menyebutkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa. Tujuannya lebih disederhanakan agar daerah (otonomi) dapat mengembangkan sesuai dengan kebutuhannya (Depnakertrans.go.id). Selain melalui program transmigrasi, ada juga orang Jawa yang masuk ke Kendari dari jalur perniagaan sebagai pedagang, atau karena perkawinan dengan penduduk Kendari, dan karena penempatan sebagai pegawai baik pegawai pemerintah maupun swasta.

(9)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 289

Satu hal yang menarik dalam komunikasi antarsuku adalah penggunaan bentuk sapaan mbak dan mas di Kendari, dan di Sulawesi Tenggara pada umumnya. Kendari sebagai ibu kota provinsi menjadi pusat pemerintahan dengan heterogenitas penduduk yang relatif tinggi. Hal ini menjadikan Kendari menarik untuk diamati perilaku berkomunikasinya. Bentuk sapaan khas Jawa ini oleh sebagian orang dirasakan sudah melewati batas suku pemiliknya. Dalam sebuah forum diskusi budaya, seorang pemuda yang berasal dari suku asli Sulawesi Tenggara mengungkapkan keheranannya, mengapa orang Jawa bisa begitu ringan menyapa mbak atau mas kepada orang lain di luar sukunya. Ungkapan keheranan ini bermuatan rasa tidak senang. Sementara itu, pemuda lain dari suku yang sama, mengatakan ia bahkan merasa mendapat penghormatan dengan sapaan mas yang ditujukan padanya. Dua pernyataan sikap yang berbeda atas sebuah fenomena ini wajar saja terjadi mengingat tersedianya berbagai sudut untuk memandang sebuah permasalahan.

Penggunaan sapaan mbak dan mas di perantauan sudah pernah diteliti oleh Untoro dan terangkum dalam makalah berjudul Pemakaian Bahasa Jawa dalam Keluarga Jawa di Manado . Makalah ini dipresentasikan pada Kongres Bahasa Jawa V tahun 2011. Dalam simpulannya, Untoro mengemukakan adanya penurunan pemakaian sapaan mbak dan mas dalam keluarga Jawa di Manado.

Menanggapi keheranan meluasnya penggunaan sapaanmbakdanmasdi Kendari (daerah rantau), saya ingin memberikan gambaran dari sisi lain, yakni fakta sastra tradisional berupa cerita rakyat atau dongeng yang hidup dalam masyarakat. Sebagaimana diketahui, sastra merupakan cerminan masyarakat di mana ia dilahirkan, hidup, dan berkembang. Dalam makalah ini, saya bermaksud memperlihatkan bentuk sapaan yang digunakan dalam dongeng, dalam hal ini dongeng Jawa dan Sulawesi Tenggara, sehingga dapat ditangkap bagaimana sesungguhnya bentuk sapaan yang hidup dan diajarkan secara turun temurun dalam kaitannya dengan fungsi dan kedudukan dongeng sebagai salah satu bentuk folklor yang menjadi refleksi masyarakat pemiliknya.

Bentuk Sapaan Khas di Kendari, Mbak, danMas

Suku asli Kendari atau wilayah daratan Sulawesi Tenggara adalah suku Tolaki dan Moronene. Suku asli Sulawesi Tenggara lainnya mendiami wilayah kepulauan, yaitu suku Muna, Buton, dan sebagian suku Moronene. Akan tetapi, dengan semakin tingginya mobilitas warga, banyak orang dari kepulauan yang datang dan bermukim di wilayah daratan, khususnya kota Kendari. Masing-masing suku tersebut memiliki bahasa dan sistem sapaan yang berbeda-beda. Berikut ini akan dibahas beberapa contohnya.

(10)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 290

ialah ina(perempuan) dan ama (laki-laki). Kepada kelas bangsawan atau orang yang dihormati, orang Tolaki mengenal kata sapaan inggomiu. Dalam praktik berkomunikasi, orang Tolaki menggunakan sebutaninggomiu, ina, ama,dan bentuk khas lainnya hanya kepada lawan bicara yang bersuku Tolaki.

Keadaan serupa juga ditemukan dalam sistem sapaan bahasa Muna yang mendiami wilayah kepulauan Sulawesi Tenggara. Suku Muna mengenal beberapa bentuk sapaan yang mempertimbangkan faktor jenis kelamin, status sosial, profesi, dan ikatan kekerabatan (Sukmawati, 2006: 70). Kata sapaan untuk kakak dalam hubungan kekerabatan adalah isa. Sebutanisaberlaku baik untuk kakak laki-laki maupun kakak perempuan. Untuk menyapa pemuda yang belum dikenal, orang Muna biasa menggunakan bentuk sapaan oje (laki-laki) dan abe (perempuan). Apabila sudah dikenal, bisa dipanggiloje/abeatau namanya saja. Sedangkan sapaan untuk orang yang sudah menikah atau usianya sudah dewasa adalah ina(perempuan) dan ama (laki-laki). Sebagaimana juga orang Tolaki, orang Muna pun umumnya menggunakan sapaan khas tersebut hanya kepada lawan bicara dari suku yang sama. Gambaran kebiasaan suku-suku lain di Kendari umumnya sama dengan apa yang ada pada suku Tolaki dan Muna. Dalam sistem sapaan bahasa suku-suku lokal di Kendari tidak terlalu memberikan penekanan pada kata sapaan sebagai tanda penghormatan atau bentuk kesantunan dalam praktik berkomunikasi. Selama cara penyampaiannya dilakukan dengan bahasa yang baik dan tidak kasar, sudah dianggap memenuhi syarat kesantunan, terlebih dengan semakin menurunnya penggunaan bahasa daerah di Kendari. Bahasa Indonesia menjadi pilihan utama untuk berkomunikasi terutama dengan lawan bicara yang berbeda suku. Pilihan bahasa ini termasuk juga kata sapaannya dalam bentuk yang lebih bersifat nasional sifatnya sepertikakak, ibu, bapak, om, tante, bibi,dan yang lainnya.

Sistem bahasa terkait erat dengan nilai budaya sebuah kelompok. Dalam karakteristik nilai budaya Jawa dikenal adanya karakteristik nilai etis. Nilai etis yang berkembang dalam filosofi orang Jawa adalah etika sebagai pedoman atau panduan praktis hidup dan berkehidupan dengan moralitas atau susila(ethics of being)sebagai kebalikan dari etika sebagai kajian (ilmu) kritis yang menelaah asas-asas moral secara logis dan sistematis (ethics of doing) tanpa disertai dengan berkembangnya nilai susila (Saryono, 2011: 101). Etiket berada dalam tataran kesantunan, sedangkan moralitas terkait dengan permasalahan kebaikan dan keburukan. Bagi orang Jawa, dikenal pula istilah (n)Jawa atau menjadi Jawa. Walaupun secara lahiriah seseorang berdarah Jawa, tetapi jika ia tidak dapat menerapkan standar etiket dan moralitas Jawa, terutama dalam kesehariannya seperti cara berkomunikasi, ia dikatakandurung (n)Jawaatau belum menjadi Jawa, demikian pula sebaliknya. Salah satu bentuk (n)Jawa bagi orang Jawa adalah perilaku tidak njangkardalam bertutur sapa. Sapaan mengandung bentuk penghormatan atas perbedaan

status sosial, jabatan, budaya, usia, dan tingkat keformalan tuturan. Sapaanmasdanmbakdalam masyarakat Jawa, selain berkaitan dengan unsur kekerabatan juga mengandung etika penghormatan terhadap lawan bicara, terlepas dari kenyataan adanya strata priyayi dengan sebutan khasnya kakang dan mbakyu serta bentuk-bentuk dinamisnya (Untoro, 2011). Untoro

Njangkar (bhs. Jawa): dalam buku Baoesastra Djawa yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta (1939)

(11)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 291

mengemukakan hasil penelitiannya bahwa pemakaian sapaanmbakdanmasdalam keluarga Jawa di Manado mengalami penurunan.

Dalam budaya Jawa dikenal bermacam-macam kata sapaan. Stratifikasi dan sistem kelas dalam masyarakat Jawa menuntut banyak macam kata sapaan seperti sebutan dalam gelar kebangsawanan raden, raden mas, dan sebutan lainnya. Sebutan mbak dan mas merupakan bentuk paling sederhana yang dapat digunakan secara universal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia term mbak/mbakyu bermakna (1) kata sapaan untuk perempuan yang lebih tua di daerah Jawa; dan (2) kata sapaan untuk perempuan muda. Sementara itu, termmasbermakna (1) kata sapaan untuk saudara laki yang dianggap lebih tua; (2) kata sapaan hormat untuk laki-laki, tanpa memandang usia. Dari fakta telah masuknya istilah mbakdan mas ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dipahami bahwa kedua bentuk sapaan tersebut sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Hal ini dimungkinkan dengan alasan sudah meluasnya kedua bentuk tersebut digunakan dalam masyarakat di Indonesia. Dalam definisi kedua, istilah mbak dan mas tidak memiliki keterikatan kekerabatan. Keduanya dapat digunakan dalam konteks yang lebih luas dalam praktik berkomunikasi. Hal ini ditunjang dengan adanya tabu njangkar dalam moralitas masyarakat Jawa. Orang Jawa merasa lebih nyaman menyapa lawan bicaranya dengan menyertakan embel-embel bentuk sapaan, baik pak, bu, mbak ataupun mas daripada hanya menyebutkan nama saja.

Sapaan dalam Dongeng Tolaki dan Dongeng Jawa

Dongeng, sebagaimana folklor lainnya, juga mengemban fungsi yang dikemukakan oleh William R. Bascom, yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kelompok, alat pengesahan pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, alat pendidikan anak-anak, dan sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma dalam masyarakat selalu dipatuhi (Danandjaya, 2002: 19;http://augustrush15.wordpress.com). Apa yang tertuang dalam dongeng diharapkan dapat menjalankan fungsi-fungsi tersebut.

Dongeng yang ada di sebuah tempat dapat memberikan gambaran tentang masyarakatnya karena dongeng berfungsi sebagai alat proyeksi. Dalam makalah ini saya akan memberikan kutipan beberapa dongeng yang dianggap bisa mewakili penggunaan kata sapaan dalam praktik berkomunikasi. Berikut ini kutipan dongeng Tolaki Tarambu uno Anolaa Ranoa yang berkisah tentang asal usul terjadinya buah semangka. Di dalam kutipan ini terdapat bentuk sapaan khas Tolaki sebagai suku asli yang tinggal di Kendari.

(12)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 292

Terjemahan:

Gadis Sani mulai bersusah hati mengenai soal makanan tersebut. Pada hari keenam ia telah memasak satu periuk yang besar sekali untuk makanan manusia tadi, tetapi habis juga. Gadis Sani bertanya dalam hati, manusia apa ini, terlalu banyak dia makan? Hari ketujuh gadis Sani pergi menyabit kebunnya. Tidak berapa lama terdengarlah namanya dipanggil dan gadis Sani pulang secara diam-diam dan mengintip apa yang sedang dibicarakannya. Ia mendengar semangka tersebut berkata, Besok saya makan engkau (gadis Sani).

Gadis Sani kemudian naik ke rumah, lalu bersuaralah semangka, Kamukahgadis Sani? Sahut gadis Sani, Ya, sayalah. Masaklah makanan saya sudah lapar. Setelah itu gadis Sani lalu memasakkan makanannya, kemudian diberikannya kepada semangka itu, lalu makanlah ia. Untuk gadis Sani sendiri sudah disiapkannya juga makanan untuk di jalan karena ia akan lari dari tempat itu.... (Nasruddin dan Haruddin, 1998: 93 94).

Tidak mudah mendapatkan dongeng Tolaki yang menggunakan bentuk sapaan khas. Umumnya menggunakan sapaan nama tokoh saja. Kutipan dongeng Tolaki di atas memperlihatkan sebuah kata sapaan untuk seorang gadis bernama Sani. Luale artinya perempuan yang masih gadis, dalam menyapa biasa digunakan dengan diikuti nama orangnya. Suku Tolaki mengenal bentuk sapaan seperti ini. Namun, penggunaannya dalam komunikasi saat ini sudah jarang. Hanya orang-orang tua yang masih memakai bentuk luale diikuti nama orang, itu pun terbatas saat mereka berada di kalangan yang homogen (sesama suku Tolaki). Kebanyakan dongeng Tolaki menyebutkan nama sebagai sapaan dalam narasinya. Hal itu sudah dianggap memenuhi kriteria kesopanan selama pembicaraan disampaikan dengan bahasa yang baik. Dalam dongeng Tarambu uno Anolaa Ranoa ini tidak tercermin sebuah nilai yang dipandang penting dalam permasalahan bentuk sapaan kepada lawan bicara ketika berkomunikasi, sehingga dapat dikatakan, dalam hal ini dongeng tersebut tidak memproyeksikan angan-angan orang Tolaki, bukan sebagai alat pengesahan pranata kebudayaan, alat edukasi, maupun alat pemaksa dan pengawas norma dalam masyarakat. Manakala sebuah realitas tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting, berarti tidak ada paksaan terhadap anggota kelompok untuk melakukannya.

Salah satu dongeng Jawa yang sudah cukup dikenal luas adalah kisah Ande-Ande Lumut. Dongeng Ande-Ande Lumut menceritakan tiga orang gadis kakak beradik (Kleting Abang, Kleting Ijo, dan Kleting Biru) dengan satu adik angkat, yangngunggah-unggahiseorang pemuda.

Gadis-gadis ini berpenampilan menawan semua kecuali sang adik angkat yang bernama Kleting Kuning. Ia biasa ditugasi mengerjakan semua pekerjaan rumah oleh ibu angkatnya sehingga ia tidak berpenampilan sebaik saudara-saudaranya karena tidak mempunyai waktu untuk berdandan atau merawat tubuhnya. Dongeng ini sudah banyak ditulis dalam berbagai versi, di antaranya ditulis oleh Diansari yang dimuat dalam majalah Jemparing No. 05, November 2011. Versi lain ditulis dalam bentuk dialog drama. Berikut ini kutipan dialog antara para gadis ketika hendak menyeberangi sungai yang banjir.

(13)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 293 Kleting merah: Wah kaline banjir

Kleting hijau : IyaMbakyu piye carane awake dhewe nyebrang?? Kleting merah : Kosek-kosek .kae ono Yuyu Kangkang to????

Kleting hijau : Wah iya.. ayo jaluk tulung Yuyu Kangkang waeMbakyu... Kleting merah : Iya .Yuyu Kangkang Yuyu Kangkang

(http://fortive.blogspot.com)

Terjemahan:

Kleting Merah : Wah sungainya banjir

Kleting Hijau : IyaMbakyu bagaimana caranya kita menyeberang?? Kleting Merah : sebentar sebentar itu ada Yuyu Kangkangkan????

Kleting Hijau : Wah iya... ayo minta tolong Yuyu Kangkang sajaMbakyu.. Kleting Merah : Iya.. .Yuyu Kangkang Yuyu Kangkang

Penyebutan bentuk sapaan dalam dongeng Jawa pada umumnya berada dalam ragam bahasa tinggi yang biasa digunakan oleh kelas priyayi. Dalam perkembangannya, bentuk sapaan mbakyu dan kangmas umumnya sudah mengalami penyederhanaan bentuk menjadi mbak dan mas, walaupun bentuk mbakyu dan kangmas tetap digunakan. Dalam kaitannya dengan fungsi folklor yang telah dipaparkan di muka, penggunaan sebutan mbak/mbakyu dan mas/kangmas dalam dongeng Jawa menyiratkan beberapa kepentingan. Berdasarkan fungsi sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kelompok, tersirat bahwa kelompok masyarakat Jawa sebagai pemilik dongeng Ande-Ande Lumut mengangankan sebuah kondisi ideal di mana dalam berkomunikasi tidak terjadi perilaku njangkar, yang ditabukan dalam budaya Jawa, terutama kepada orang yang lebih tua. Ada nilai yang tidak pantas untuk dilanggar oleh orang yang sudah njawa, yakni nilai kesantunan dan menghormati lawan bicara dalam praktik berkomunikasi. Leluhur orang Jawa, yang menciptakan dongeng-dongeng secara lisan pada awalnya, memuat gambaran ideal yang ada dalam benaknya ke dalam alur penceritaan. Gambaran ideal tersebut salah satunya adalah perilaku berbahasa tidak njangkar terhadap lawan bicara. Melalui penggunaan kata sapaan dalam dongeng pula, masyarakat Jawa menyosialisasikan pranata yang berlaku dalam lembaga yang bernama budaya Jawa, yaitu tabu njangkar. Dengan demikian diharapkan apa yang menjadi tata aturan dalam budaya masyarakat Jawa diketahui oleh penikmat dongeng ini, baik yang berasal dari suku Jawa atau non-Jawa. Pada akhirnya, dongeng sekaligus dapat mengemban fungsi sebagai alat edukasi (pedagogical device) bagi pembaca, pendengar, atau penonton dongeng ini dalam berbagai versinya, termasuk alat pendidikan tentang cara kesantunan dalam berkomunikasi dengan jalan tidak njangkar. Dongeng yang pada awalnya

Dalam teks ini nama para gadis dituliskan dalam bahasa Indonesia. Kleting Abang menjadi Kleting Merah, Kleting Ijo menjadi Kleting Hijau, sedangkan Kleting Biru dan Kleting Kuning tetap karena warna biru dan kuning sama penyebutannya dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Yuyu Kangkang adalah ketam raksasa yang membantu ketiga gadis dalam dongeng Ande-Ande Lumut

(14)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 294

disampaikan secara lisan akan mendapatkan penekanan-penekanan khusus, bergantung pada si pendongeng, di bagian mana ia ingin memberikan kesan lebih dalam. Tentunya disesuaikan juga dengan pendengarnya: anak-anak, remaja, atau dewasa. Penyampaian yang berulang akan meninggalkan kesan mendalam bagi pendengar dongeng, terutama kesan terhadap hal yang menjadi fokus penekanan sang pendongeng.

Penutup

Pernyataan atas mengumumnya penggunaan bentuk sapaan mbak dan mas di Kendari meski kepada orang non-Jawa, baik yang bernada positif atau negatif, dapat dicari penjelasannya dalam cerita rakyat atau dongeng yang dianggap dapat mewakili suku Jawa dan suku lokal di Kendari. Dari kutipan dongeng diperoleh gambaran bahwa dalam dongeng Tolaki (sebagai salah satu suku asli yang mendiami wilayah Kendari) tidak ada bentuk sapaan khas yang merepresentasikan kepentingan proyeksi angan-angan kelompok, alat pengesahan pranata kebudayaan, alat edukasi, ataupun pengawas norma dalam masyarakat. Hal ini memunculkan pemakluman atas keadaan yang ada saat ini, di mana tidak ada bentuk sapaan khasnya yang digunakan oleh masyarakat umum di Kendari. Hal lain yang turut memengaruhi kondisi ini ialah tertutupnya komunikasi dalam bahasa daerah Tolaki (dan bahasa-bahasa daerah asli di Sulawesi Tenggara pada umumnya). Bahasa-bahasa ini, termasuk bentuk sapaan khasnya, cenderung hanya digunakan ketika seseorang berada dalam lingkungan interaksi yang homogen. Sementara itu, dalam budaya Jawa dikenal tabu njangkar yang menganggap tidak sopan menyapa seseorang tanpaembel-embelkata sapaan. Hal ini tercermin dalam cerita rakyat atau dongeng Jawa. Dalam dongeng Jawa (dalam makalah ini dicontohkan dongeng Ande-Ande Lumut ) banyak dijumpai bentuk sapaan khas Jawa. Meskipun kebanyakan bentuk sapaan dari masyarakat kelas priyayi atau bangsawan, tetapi dijumpai juga bentuk sapaan untuk rakyat kebanyakan seperti mbakyu dan kangmas. Dari hal ini dapat dimafhumkan apabila dongeng Jawa mengemban fungsinya sebagai kepentingan proyeksi angan-angan kelompok, alat pengesahan pranata kebudayaan, alat edukasi, ataupun pengawas norma dalam masyarakat dalam hal tabu njangkar. Bentuk mbakyu dan kangmasini mengalami penyederhanaan menjadimbak dan mas, dan diterima oleh masyarakat baik Jawa maupun nonjawa. Ketersebaran orang Jawa membawa serta perilaku tabunjangkar di perantauan sehinggambakdanmasdigunakan juga di Kendari.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Provinsi Kendari. 2010.Kendari dalam Angka. Kendari: Badan Pusat Statistik Provinsi Kendari.

Danandjaya, James. 2002.Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Diansari. Andhe-Andhe Lumut .Kalawarti Pendhidhikan JemparingNo. 05, November 2011.

(15)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 295

http://fortive.blogspot.com/2012/11/cerita-rakyat-ande-ande-lumut. tanggal akses: 3 Januari 2013 pkl. 05.50.

Kodiran. 1980. Kebudayaan Jawa . Dalam Koentjaraningrat (redaksi).Manusia dan Kebudayaan di Indonesia:322 345. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Mulya, Abdul Kadir, dkk. 2004.Sistem Sapaan Bahasa Tolaki. Jakarta: Pusat Bahasa.

Nasruddin dan Haruddin. 1998. Prosa dalam Sastra Tolaki. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Prawiroatmodjo, S. 1981.Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta: PT Gunung Agung.

Purwa, I Made, dkk.. 2003.Sistem Sapaan Bahasa Sumbawa. Jakarta: Badan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Saryono, Djoko. 2011. Sosok Nilai Budaya Jawa: Rekonstruksi Normatif-Idealis. Malang: Aditya Media Publishing.

Sukmawati. 2006. Sistem Sapaan Bahasa Muna. Kendari: Kantor Bahasa Provinsi Kendari.

(16)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 296 Laporan Sidang

Sidang : Komisi III (Komisi Akulturasi), Sesi III Hari, Tanggal, Pukul : Rabu, 8 Oktober 2014, 13.00 14.00

Judul Makalah : TabuNjangkarOrang Jawa di Sulawesi Tenggara Penyaji/Pembicara : Heksa Biopsi Puji Hastuti, S. S., M. Hum.

Moderator : Wahidah, M.A. Notulen : Asrif, S. Pd., M. Hum.

Tanya Jawab

Pertanyaan/Saran

Drs. Juhaeba, M. Si. (Universitas Halu Oleo)

Ibu menyebutkan istilahlualedari bahasa Tolaki.Lualetadi menurut Ibu adalah perempuan secara umum. Menurut pemahaman saya sebagai orang Tolaki, luale itu adalah sebutan untuk perempuan yang sudah berusia gadis, bukan anak-anak lagi. Kalau sebutan perempuan untuk anak-anak ada empat, yaitutina, mbui, mburi, tie.

Menurut Ibu, apakah penelitian Ibu ini menjadi masalah dalam pandangan bahasa Indonesia?

Pertanyaan/Saran

La Ode Aris, S. Sos., M. A.

Setelah meihat contoh nama panggilan yang ibu kemukakan, menurut saya panggilan itu tergantung status di masyarakat, bangsawan atau bukan. Panggilan ode itu biasa laki-laki juga perempuan. Ketika menunjuk perempuan harus adawa di depan odekhusus untuk bangsawan. Lama kelamaan terjadi perluasan makna, ode itu ditujukan untuk semua kalangan, tanpa memandang status. Hal ini biasanya dilakukan oleh suku-suku pendatang, bukan dari suku Muna sendiri.

Kalau sudah menikah dan dianggap tua ada lagi panggilannya, dipanggilidauntuk laki-laki/paapa untuk perempuan bangsawan, yang bukan bangsawan dipanggal ama (laki-laki) /ina. Sapaan untuk seseorang menunjukkan status seseorang. Tidak sembarang menggunakan bahasa jangan sampai orang yang disapa marah atau tersinggung.

Panggilan untuk abe dan ege jarang lagi dipakai saat ini karena mungkin ada pengaruh lain. Biasanya kedua istilah ini digunakan pada bayi yang baru lahir yang belum memiliki nama. Jadi untuk sementara bayi tersebut dipanggilabeatauege.Kedua panggilan ini hanya digunakan untuk masyarakat biasa. Jadi, baik kalau ada penelitian lebih jauh lagi di daerah Muna.

Pertanyaan/Saran Nurianti, S. Ag. (Guru)

(17)

Pemertahanan Bahasa Daerah dalam Bingkai Keberagaman Budaya di Sulawesi Tenggara

Kongres II Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara 2014| 297 Jawaban/Tanggapan

- Terima kasih atas koreksinya, Pak. Waktu saya melakukan penelitian, saya menanyakan makna luale pada seorang informan orang Tolaki yang menyatakan bahwa makna luale ini tidak mengenal usia. Ketika sudah menikah pun dapat dipanggil luale. Kalau memang ada pertentangan dan ketidaksesuaian makna luale ini menurut informan saya dan Bapak, perlu dilakukan penelitian lanjutan. Hasil koreksi ini akan saya jadikan bahan revisi. Terima kasih. - Dalam kaitannya dengan pandangan bahasa Indonesia, semisal dalam fungsinya sebagai bahasa

nasional, menurut saya tidak ada masalah jika kita menyapa seseorang dengan sapaan lokal. Lokalitas merupakan sebuah perekat, baik itu diperantauan maupun di daerah sendiri. Selain itu juga mengingatkan kita selalu akan konsep kebhinekaan Nusantara, yakni perbedaan yang memunculkan keindahan dan harmoni. Bukan berarti penggunaan sapaan lokal memupuskan nasionalisme bahasa Indonesia, dan kata mbak dan mas ini sudah dimasukkan dalam KBBI. - Terima kasih atas masukan dari Bapak. Ada pemakaian sapaan bahasa daerah tidak meluas

penggunaannya sehingga kurang dikenal oleh masyarakat. Tergantung sikap penutur bahasa daerah itu. Mereka jarang atau tidak mempergunakan sapaan-sapaan tersebut di tempat umum sehingga kurang dikenal. Si penutur bahasa daerah itulah yang harus memperkenalkan bahasa daerahnya sendiri, termasuk sapaan-sapaan daerah. Karena, siapa lagi yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup sebuah bahasa selain penutur bahasa tersebut? Saya pun setuju dengan Bapak tentang penelitian lebih lanjut mengenai sapaan bahasa Muna ini. Ternyata masih banyak detail yang belum diketahui secara luas.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai bahan pengembangan dan alternatif tentang kemampuan berpikir kritis dan Self-efficacy dengan pendekatan pembelajaran SAVI dan memanfaatkan Wingeom dalam

Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi

Maluku Sumatera Utara Sulawesi Utara Bengkulu Sumatera Barat Sulawesi Tengah Jawa Timur Lampung Kalimantan Tengah. Jawa Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan

Besar efektivitas degradasi karbon organik pada sampah sayur kubis dapat diketahui dengan melakukan beberapa tahap penelitian, yaitu 1) pengukuran jumlah

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model prediksi curah hujan yang telah dibangun dengan menggunakan Backpropagation dan untuk mengetahui hasil

Penelitian ini bertujuan: Untuk mengetahui Apakah ada peningkatan Motivasi belajar siswa melalui Model Make a Match dengan tidak menggunakan model Make a Match

ndrangheta tudi daleč najbolj razkropljena mafija po vsem svetu, zaradi svoje krutosti pa ogroţa celo neapeljsko camorro, s katero tekmujeta za primat Saviano, 2008... Sacra

Dalam program ini dilakukan konsultasi pada awal pelaksanaan, lalu membuat form Input dan hasil keluaran (output) program berupa rekaputalasi data sarana dan prasarana SMK