• Tidak ada hasil yang ditemukan

Take Home Exam Pengantar Perencanaan W

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Take Home Exam Pengantar Perencanaan W"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1

Oleh :

REZZA MUNAWIR

NIM. 25414047

MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

PL 5105

PERENCANAAN WILAYAH

DAN KOTA

Dosen: Prof. B. Kombaitan

(2)

2

Soal 1.

Uraikan bagaimana langkah-langkah dari Proses Teknis Perencanaan yang berbasis bottom-up

(perencanaan dari bawah) itu dilaksanakan. Ilustrasi pada setiap langkah dapat menggunakan

contoh kasus penyusunan RTR atau produk perencanaan sejenis yang berbeda.

Jawab:

Contoh: Penyusunan Rencana Tata Ruang

Penataan ruang pada dasarnya mengatur kegiatan masyarakat dalam ruang. Masyarakat tidak

hanya merupakan pihak yang mendapatkan manfaat dari penatan ruang, namun juga merupakan

pihak yang memiliki andil terhadap penataan ruang wilayahnya. Sejalan dengan hal tersebut,

masyarakat juga memiliki peran dari proses perencanaan dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Masyarakat memiliki hak dan kewajiban untuk menentukan kualitas ruang yang ditinggalinya.

Peran masyarakat dalam kegiatan penataan ruang ini juga telah diamanatkan dalam Undang –

Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Bab VIII Pasal 651:

(1) Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan melibatkan peran

masyarakat.

(2) Peran masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan, antara

lain, melalui:

a. partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;

b. partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan

c. partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan bentuk peran masyarakat dalam penataan ruang

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.

Merujuk kepada ayat (3) di atas, selanjutnya peran serta masyarakat diatur dalam Peraturan

Pemerintah No. 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan

Ruang. Peraturan Pemerintah ini mengatur bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam penataan

ruang pada tahap perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang

di tingkat nasional, provinsi, dan/atau kabupaten/kota.2 Masyarakat sebagaimana dimaksud pada peraturan ini adalah yang terkena dampak langsung dari kegiatan penataan ruang, yang memiliki

keahlian di bidang penataan ruang, dan/atau yang kegiatan pokoknya di bidang penataan ruang.3

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Pasal 65 2. Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2010 Pasal 3

(3)

3 Bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam kegiatan penataan ruang sifatnya kontekstual,

tergantung pada tingkat dan proses kegiatan penataan ruang (perencanaan, pemanfaatan dan

pengendalian pemanfaatan ruang). Pelibatan masyarakat dalam kegaitan penataan ruang setidaknya

memperhatikan hal berikut4:

a) Masyarakat yang terlibat dan dilibatkan harus mewakili semua kelompok kepentingan dengan

komposisi yang proporsional termasuk juga kepentingan kelompok yang terpinggirkan;

b) Penentuan masyarakat yang terlibat dan dilibatkan silakukan secara acak dengan melakukan

analisis stakeholder berdasarkan kriteria sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Langkah-langkah dari proses teknis perencanaan yang berbasis bottom-up (pelibatan

masyarakat) secara umum dirangkum dalam diagram bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam

perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfataan pengendalian di bawah ini.5

Diagram 1. Bentuk peran masyarakat dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfataan pengendalian (Sumber: Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2010 Pasal 6-9, disarikan)

4. http://bandung.go.id/images/Materi_Teknis_RTRW_2011-2031/Bab_9_Peran_Masyarakat.pdf [20.12.2014] 5. Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2010 Pasal 6-14, disarikan

PERENCANAAN TATA lokal dan rencana tata ruang yang telah ditetapkan; d. peningkatan efisiensi,

(4)

4 Diagram 2. Tata cara peran masyarakat dalam perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfataan pengendalian (Sumber: Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2010 Pasal 9-14, disarikan)

Secara lebih rinci, proses teknis perencanaan penataan ruang dengan melibatkan masyarakat

diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Peran

Masyarakat Dalam Perencanaan Tata Ruang Daerah. Masukan mengenai perencanaan tata ruang

dalam Peraturan Menteri ini (pasal 4 ayat (2)), disampaikan dalam 5 (lima) tahapan:

1) persiapan penyusunan rencana tata ruang;

2) pengumpulan dan analisis data yang meliputi:

a. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan; dan

b. pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah/kawasan.

3) perumusan konsepsi rencana tata ruang;

4) penyusunan rancangan peraturan daerah tentang rencana tata ruang; dan

5) penetapan rencana tata ruang.

(5)

5 Kelima tahapan penyusunan rencana tata ruang daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) tersebut

secara umum dapat digambarkan seperti Diagram 3 dibawah ini. Pada proses penyusunan rencana

tata ruang (tahap 1-4), dalam hal ini Pemerintah diwakili oleh Badan Perencanaan Pembangunan

Daerah (Bappeda), sedangkan pada tahap penetapan rencana tata ruang (tahap 5) dilakukan oleh

Kepala Daerah. Selanjutnya, yang dimaksud dengan masyarakat adalah orang perseorangan,

kelompok orang yang terkena dampak langsung dari kegiatan penataan ruang, memiliki keahlian di

bidang penataan ruang, dan/atau kegiatan pokoknya di bidang penataan ruang.

Diagram 3. Alur Proses Perencanaan Tata Ruang (Sumber: Dr. Sjofjan Bakar, M.Sc, Kemendagri, 2010)

Output dari kelima tahapan proses perencanaan tata ruang adalah Rencana Tata Ruang

Provinsi/Kabupaten/Kota, dengan rincian sebagai berikut:

 Rencana tata ruang provinsi, terdiri dari:

a. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP); dan

b. Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Provinsi (RTRKSP).

 Rencana tata ruang kabupaten/kota sebagaimana, terdiri dari:

a. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK/K);

b. Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (RTRKSK/K); dan

c. Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota (RDTRK/K).

1. Persiapan Penyusunan Rencana Tata Ruang

Dalam tahapan ini dibagi menjadi 2 (dua) pihak yaitu Pemerintah dan Masyarakat.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemerintah dalam tahapan ini yaitu Bappeda melaksanakan

(6)

6 media komunikasi kepada masyarakat, dengan paling sedikit memuat: gambaran umum wilayah

perencanaan; kesesuaian produk rencana tata ruang daerah sebelumnya dengan kondisi dan

kebijakan saat ini; hasil kajian awal berupa kebijakan terkait wilayah perencanaan, isu strategis,

potensi dan permasalahan awal wilayah perencanaan, serta gagasan awal pengembangan wilayah

perencanaan; metodologi pendekatan pelaksanaan pekerjaan yang akan digunakan; dan rencana

kerja pelaksanaan penyusunan rencana tata ruang daerah. Selanjutnya, masyarakat dapat

memberikan masukan terhadap hasil pelaksanaan kegiatan persiapan penyusunan rencana tata ruang

daerah yang telah dipublikasikan oleh Bappeda paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak

tanggal dipublikasikan, penyampaian masukan masyarakat dilakukan melalui media komunikasi

atau dialog. Kemudian, Bappeda menyempurnakan materi atau substansi yang tertuang dalam hasil

pelaksanaan kegiatan persiapan penyusunan rencana tata ruang daerah tersebut, dengan

mempertimbangkan masukan dari masyarakat.

2. Pengumpulan dan Analisis Data

Dalam tahapan ini dibagi menjadi 2 (dua) tahap yaitu pengumpulan data dan analisis data.

Langkah-langkah pengumpulan data dapat dilakukan melalui temu wicara, wawancara, kunjungan

lapangan, penyebaran angket atau kajian pustaka. Penyebaran angket dapat dilakukan secara

langsung kepada masyarakat dan/atau melalui media komunikasi, kemudian masyarakat

menyampaikan kembali isian angket yang telah disebarkan secara langsung dan/atau melalui media

komunikasi kepada Bappeda paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak tanggal disebarkannya

angket.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan hasil penyempurnaan materi atau substansi dari

tahap pertama dan data yang didapat dari proses pengumpulan data. Analisis tersebut menghasilkan

draft rumusan hasil analisis rencana tata ruang daerah yang selanjutnya menjadi bahan untuk

dibahas dalam forum pertemuan. Draft rumusan hasil analisis tersebut, untuk RTRWP, RTRKSP,

RTRWK/K, dan RTRKSK/K, memuat: karakteristik wilayah/kawasan perencanaan, kebijakan

terkait wilayah/kawasan perencanaan, isu strategis, potensi dan permasalahan wilayah/kawasan

perencanaan; dan gagasan pengembangan wilayah/kawasan perencanaan. Sedangkan draft rumusan

hasil analisis untuk RDTRK/K, memuat: potensi dan masalah pengembangan di Bagian Wilayah

Perkotaan, peluang dan tantangan pengembangan, kecenderungan perkembangan, perkiraan

kebutuhan pengembangan di Bagian Wilayah Perkotaan, intensitas pemanfaatan ruang sesuai

dengan daya dukung dan daya tampung (termasuk prasarana/infrastruktur dan utilitas), dan

identifikasi indikasi arahan penanganan kawasan dan lingkungan.

Setelah proses analisis selesai dilakukan, selanjutnya Bappeda melaksanakan forum pertemuan.

(7)

7 masyarakat melalui media komunikasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sebelum

pelaksanaan. Setelah itu, Bappeda mengundang masyarakat paling lambat 3 (tiga) hari kerja

sebelum pelaksanaan forum pertemuan. Forum pertemuan diselenggarakan untuk menyepakati draft

rumusan hasil analisis yang telah disusun. Kesepakatan forum pertemuan dituangkan ke dalam

Berita Acara yang ditandatangani oleh wakil setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri

forum pertemuan. Kesepakatan forum pertemuan tersebut menjadi bahan untuk perumusan konsepsi

rencana tata ruang.

3. Perumusan Konsepsi Rencana Tata Ruang

Pada tahapan ini, dimulai dengan Bappeda menyusun konsep rencana tata ruang daerah.

Hasil rumusan konsepsi tersebut dipublikasikan kepada masyarakat melalui media

komunikasi. Publikasi konsepsi RTRWP, RTRWK/K, RTRKSP RTRKSK/K, dan RDTRK/K

memuat beberapa alternatif konsepsi pengembangan wilayah. Selanjutnya, masyarakat dapat

memberikan masukan terhadap hasil publikasi konsepsi rencana tata ruang daerah tersebut.

Masukan dari masyarakat menjadi bahan pertimbangan untuk pemilihan alternatif konsepsi

pengembangan wilayah. Penyampaian masukan masyarakat dilakukan melalui forum

pertemuan yang diselenggarakan oleh Bappeda atau melalui media komunikasi. Selanjutnya,

Bappeda melaksanakan forum pertemuan. Rencana pelaksanaan forum pertemuan tersebut

dipublikasikan kepada masyarakat melalui media komunikasi paling lambat 14 (empat belas)

hari kerja sebelum pelaksanaan. Bappeda mengundang masyarakat paling lambat 3 (tiga) hari

kerja sebelum pelaksanaan forum pertemuan. Forum pertemuan tersebut diselenggarakan

untuk memilih dan menyepakati alternatif terbaik dari beberapa alternatif konsepsi

pengembangan wilayah. Jumlah forum pertemuan disesuaikan dengan kebutuhan sampai

dengan disepakatinya konsepsi rencana tata ruang daerah. Kesepakatan forum pertemuan

dituangkan ke dalam Berita Acara yang ditandatangani oleh wakil setiap unsur pemangku

kepentingan yang menghadiri forum pertemuan.

4. Penyusunan Rancangan Perda

Pada tahapan penyusunan rancangan Perda ini, dimulai dengan Bappeda menyusun

rancangan perda tentang rencana tata ruang daerah. Rancangan perda tentang rencana tata

ruang daerah dipublikasikan kepada masyarakat melalui media komunikasi.

Publikasi rancangan perda tentang RTRWP dan RTRWK/K paling sedikit memuat:

ketentuan umum; ruang lingkup, tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah;

(8)

8 arahan pemanfaatan ruang wilayah; arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah;

kelembagaan; peran masyarakat; penyidikan; ketentuan pidana; ketentuan penutup;

penjelasan; dan lampiran. Arahan pengendalian pemanfaatan ruan, untuk rancangan perda

tentang RTRWK/K menggunakan istilah ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang.

Lampiran, terdiri atas: Peta Rencana Struktur Ruang; Peta Rencana Pola Ruang; Peta

Penetapan Kawasan Strategis; dan Indikasi Program Utama.

Publikasi rancangan perda tentang RTRKSP dan RTRKSK/K paling sedikit memuat:

ketentuan umum; ruang lingkup, tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang kawasan;

tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang kawasan; rencana struktur ruang kawasan;

rencana pola ruang kawasan; arahan pemanfaatan ruang kawasan; arahan pengendalian

pemanfaatan ruang kawasan; pengelolaan kawasan; kelembagaan; peran masyarakat;

penyidikan; ketentuan pidana; ketentuan penutup; penjelasan; dan lampiran. Arahan

pengendalian pemanfaatan ruang kawasan untuk rancangan perda tentang RTRKSK/K

menggunakan istilah ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Lampiran terdiri

atas: Peta Rencana Struktur Ruang; Peta Rencana Pola Ruang; dan Indikasi Program Utama.

Publikasi rancangan perda tentang RDTRK/K paling sedikit memuat: ketentuan umum;

tujuan penataan BWP; rencana pola ruang; rencana jaringan prasarana; penetapan sub BWP

yang diprioritaskan penanganannya; ketentuan pemanfaatan ruang; dan peraturan zonasi.

Selanjutnya, masyarakat dapat memberikan masukan terhadap rancangan perda tentang

rencana tata ruang daerah dan disampaikan kepada Bappeda paling lambat 14 (empat belas)

hari kerja sejak tanggal dipublikasikannya melalui media komunikasi atau dialog. Bappeda

menyempurnakan muatan atau materi rancangan perda tentang rencana tata ruang daerah

dengan mempertimbangkan masukan masyarakat.

5. Penetapan Rencana Tata Ruang Daerah

Gubernur dan Bupati/Walikota menetapkan rancangan perda tentang rencana tata ruang

menjadi Perda. Bappeda mempublikasikan perda yang telah ditetapkan kepada masyarakat

melalui media komunikasi dan/atau forum pertemuan. Peran masyarakat dalam tahap

penetapan rencana tata ruang daerah berupa peran aktif masyarakat dalam mentaati dan

(9)

9

Soal 2.

Proses Suburbanisasi pada kota-kota besar dan metropolitan di Indonesia umumnya menghadirkan

gejala kotadesasi dan job-housing mismatch. Diskusikan kedua gejala ini dalam mempengaruhi

proses perkembangan perkotaan kita dalam beberapa waktu ke depan.

Jawab :

Suburbanisasi diartikan sebagai proses terbentuknya permukiman-permukiman baru dan juga

kawasan-kawasan industri di pinggiran wilayah perkotaan terutama sebagai akibat perpindahan

penduduk kota yang membutuhkan tempat bermukim dan untuk kegiatan industri (Rustiadi dan

Panuju, 1999)1 atau penyebaran penduduk dan pekerjaan ke wilayah pinggiran kota (Kopecky dan Suen, 2004 dalam Rusyda et. al., 2013)2. Orang lebih memilih tinggal di pinggiran pusat kota disebabkan oleh kemudahan akses untuk menjangkau seluruh wilayah kota terutama ke pusat-pusat

kegiatan ekonomi dan jasa, akibatnya terjadi persaingan untuk memperoleh lokasi tersebut karena

dapat mengurangi biaya perjalanan untuk bekerja, berbelanja, dan kegiatan lainnya atau disebut

commuting. Selain itu, perilaku sosial ini juga dipicu oleh harga tanah maupun sewa lahan yang

mahal di pusat-pusat kota, sehingga orang bergerak ke desa-desa di pinggiran kota untuk

mendapatkan harga tanah, sewa lahan, atau pembelian rumah yang lebih murah. Fenomena, yang

disebut McGee (2009)3 sebagai “desakota” ini sangat jelas terlihat pada perkembangan daerah-daerah di sekitar Jakarta serta beberapa kota besar lainnya di Indonesia, yang akhirnya membuat

desa-desa terkonversi menjadi kota dan lahan pertanian semakin menyusut.

Menurut Todaro dalam Rusyda et. al, (2013)4, migrasi desa-kota didorong oleh berbagai pertimbangan ekonomi yang rasional dan yang langsung berkaitan dengan keuntungan atau manfaat

dan biaya-biaya relatif migrasi itu sendiri. Migrasi desa-kota berlangsung sebagai tanggapan

terhadap adanya perbedaan pendapatan antara kota dengan desa. Pendapatan yang dimaksud

bukanlah penghasilan yang aktual melainkan penghasilan yang diharapkan (Todaro dan Smith,

2006 dalam Rusyda et. al, 2013)5. Dalil dasar dari model migrasi ini adalah bahwa para migran senantiasa mempertimbangkan dan membanding-bandingkan berbagai pasar tenaga kerja yang

tersedia bagi mereka di perdesaan dan perkotaan serta kemudian memilih salah satu di antaranya

yang dapat memaksimumkan manfaat yang diharapkan dari migrasi.

1. Ernan Rustiadi dan Dyah Retno Panuju. 1999. Suburbanisasi Kota Jakarta

2. M.Ikhsany Rusyda, Sukadi, dan Reni Ardianti. 2013. Suburbanisasi, Alih Fungsi Lahan Dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan (Studi Kasus: Di Wilayah Bodetabek, Indonesia).

3. Terry McGee. 2009. The Spatiality of Urbanization: The Policy Challenges of Mega-Urban and Desakota Regions of Southeast Asia

4. M.Ikhsany Rusyda, Sukadi, dan Reni Ardianti. 2013. Suburbanisasi, Alih Fungsi Lahan Dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan (Studi Kasus: Di Wilayah Bodetabek, Indonesia).

(10)

10 Griffith (1981) dalam Kombaitan (2001)6 menyebutkan bahwa aktivitas kerja dan penghuni pekerja yang tersebar mengikuti beberapa pusat kerja, tidak hanya satu dikenal dengan model fungsi

kepadatan polisentris. Kombaitan (2001)7 menyatakan dampak dari perkembangan keadaan polisentrisitas, diantaranya perkembangan kondisi jaringan transportasi pada kawasan intra-urban

ataupun wilayah antar-urban, isu yang berkaitan dengan permukiman mandiri berskala besar dan

kota industri baru, kondisi kesenjangan rumah-kerja (job-housing mismatch) serta pola-pola

commuting yang terbentuk.

Tidak hanya di Indonesia, di beberapa negara di dunia, kesenjangan rumah-kerja juga

menjadi permasalahan yang cukup serius. Hal ini disebabkan siklus yang terjadi secara

terus-menerus dan berulang dimulai dari daya tarik kota atau pusat-pusat kerja yang menarik banyak

pemburu pekerjaan, kemudian peningkatan pendapatan para pekerja tidak sebanding dengan

peningkatan harga lahan yang jauh lebih cepat, sehingga pilihan terbaik adalah dengan membeli

lahan di daerah yang jauh dari pusat-pusat kota (pedesaan/rural) kemudian melakukan commuting.

Ongkos commuting yang lebih mahal akibat jauh dari lokasi kerja dirasakan sebanding dengan

mendapatkan tempat tinggal yang jauh lebih murah. Di sisi lain, para pekerja yang berpendapatan

rendah yang jumlahnya lebih banyak tetap tidak sanggup untuk membeli/menyewa rumah

disebabkan transformasi desakota yang begitu cepat menjadi pusat-pusat aktivitas baru yang

berdampak pada naiknya harga lahan dengan sangat cepat di daerah tersebut, sehingga

mengakibatkan kesenjangan rumah-kerja yang semakin lebar, serta memaksa para pekerja/buruh

berpendapatan rendah untuk mengokupasi lahan secara ilegal dan membangun permukiman kumuh.

Bahkan permasalahan laju transformasi desakota akibat suburbanisasi yang tidak terkendali

(urban sprawl) ini juga akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan antara lain

mengalih-fungsikan kawasan pertanian subur di pinggiran kota, meningkatkan kebergantungan pada

kendaraan bermotor, serta pertumbuhan permintaan transportasi dan energi, sehingga mengarah

pada ketidak-berlanjutan. Beberapa implikasi kebijakan terpenting yang terkait dengan kompaksi

perkotaan terutama dalam prioritas pengembangan pada kawasan pusat/dalam kota sebagai strategi

regenerasi perkotaan, dan pengendalian pemanfaatan ruang melalui instrumen peraturan zonasi.

(Kustiwan, 2010)8.

Menurut saya, kondisi kesenjangan rumah-kerja serta permasalahan lain dalam beberapa

tahun ke depan akan terus berlangsung dan semakin parah jika tidak ada kebijakan Pemerintah yang

signifikan dan tegas untuk mengontrol laju transformasi desakota akibat suburbanisasi tersebut.

6. Kombaitan. 2001. Pencirian Struktur Kota: Tinjauan Teoritik dan Pengujian Empirik 7. Ibid

(11)

11

Soal 3.

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 12 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pembangunan dan

Pengembangan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan di Jawa Barat telah mengusulkan sebuah

bentuk pengelolaan seperti yang tertera pada Bab 5 Bagian Kesatu Paragraf 2 (Kelembagaan) dan

Paragraf 3 (mekanisme).

Diskusikan bentuk pengelolaan di atas dengan hal serupa untuk kawasan sejenis yang tertera dalam

UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Adakah hal-hal yang ingin Anda

garisbawahi dari diskusi ini?

Jawab :

1. Aspek Kedudukan Kepala Daerah

Pasal 2 UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa Negara

Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas Daerah provinsi dan Daerah provinsi itu dibagi atas

Daerah kabupaten dan kota, Daerah kabupaten/kota dibagi atas Kecamatan dan Kecamatan dibagi

atas kelurahan dan/atau Desa. Menurut Drs. DA. Djufri Sinaro, MM (2014)1, pasal ini menegaskan bahwa atasan kepala desa/lurah adalah camat, atasan camat adalah Bupati/Walikota, atasan

Bupati/Walikota adalah Gubernur, dan atasan Gubernur adalah Presiden.

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat ditarik kesimpulan dari UU No. 23 Tahun 2014 bahwa

hubungan Gubernur dengan Bupati/Walikota merupakan garis instruksi, sehingga keputusan

Gubernur mengikat harus dipatuhi oleh Bupati/Walikota.

2. Aspek Pengaturan Perda2

Pasal 18 ayat (6) UUD 1945 yang menyatakan ”Pemerintahan Daerah berhak menetapkan

Peraturan Daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas

pembantuan”. Ketentuan Konstitusi tersebut dipertegas dalam UU No.10/2004 yang menyatakan

jenis peraturan perundang-undangan nasional dalam hierarki paling bawah sebagaimana ditentukan

dalam Pasal 7 UU yang jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut:

1. http://www.majalahbakaba.com/2014/11/pemaparan-uu-no-23-tahun-2014-drs-da.html [21.12.2014]

(12)

12 1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2) Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

3) Peraturan Pemerintah;

4) Peraturan Presiden;

5) Peraturan Daerah.

Berdasarkan jenis dan hierarki tersebut, peraturan perundang-undangan tunduk pada asas

hierarki yang diartikan suatu peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh

bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya atau derajatnya.

Sesuai asas hierarki dimaksud peraturan perundang-undangan merupakan satu kesatuan sistem yang

memiliki ketergantungan, keterkaitan satu dengan yang lain. Untuk itu Perda dilarang bertentangan

dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Dengan demikian, segala klausul, termasuk di dalamnya mengenai kelembagaan dan

mekanisme pengelolaan pembangunan, dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 12 Tahun

2014 tentang Pengelolaan Pembangunan dan Pengembangan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan

di Jawa Barat yang bertentangan atau tidak sejalan dengan UU No. 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah, akan batal demi hukum.

Lebih jauh lagi, menurut saya, karena Gubernur secara otomatis menjadi atasan Bupati/Walikota,

maka pasal 11 hingga 19 pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 12 Tahun 2014 perlu

ditinjau kembali, karena dalam hal ini, Gubernur berhak untuk mengelola pembangunan lintas

kabupaten/kota di wilayahnya, tanpa persetujuan Bupati/Walikota, selama tidak melanggar

peraturan perundang-undangan yang berlaku demi kesejahteraan rakyat.

3. Aspek Pembagian Urusan Pemerintahan (Pusat dan Daerah)

Berdasarkan Grand Design Pembangunan Metropolitan di Jawa Barat (BAPPEDA JABAR,

2014)3, ada 6 (enam) kawasan (3 kawasan metropolitan dan 3 pusat pertumbuhan) yang akan dikembangkan seperti pada tabel dibawah ini.

(13)

13

Tabel 1.Arah Kebijakan Pengembangan Kawasan

NO. Wilayah Kawasan Strategis

1 Metropolitan Bodebek Karpur (Kota Bogor,

Kab. Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, Kab.

Bekasi, Kab. Karawang, Kab. Purwakarta)

Metropolitan mandiri dengan sektor unggulan

industri manufaktur, jasa, keuangan, serta

perdagangan, hotel, dan restoran

2 Metropolitan Bandung Raya (Kota Bandung,

Kota Cimahi, Kab. Bandung Barat, Kab.

Bandung, Kab. Sumedang)

Metropolitan Wisata Perkotaan, Industri

Kreatif, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan

Seni

3 Metropolitan Cirebon Raya (Kota Cirebon,

Kab. Cirebon, Kab. Kuningan, Kab.

Majalengka, Kab. Indramayu)

Metropolitan Budaya dan Sejarah, Berbasis

Wisata, Industri, dan Kerajinan

4 Pusat Pertumbuhan Palabuhan Ratu Pusat pertumbuhan berbasis wisata dan

perikanan

5 Pusat Pertumbuhan Rancabuaya Pusat pertumbuhan berbasis wisata

6 Pusat Pertumbuhan Pangandaran Pusat pertumbuhan berbasis wisata dan

pertanian

Sebagai contoh, berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014, pembagian urusan pemerintahan

bidang pariwisata adalah sebagai berikut:

Jika dilihat dari tabel diatas, maka untuk wilayah yang diarahkan untuk pengembangan

kawasan pariwisata tidak dapat ditetapkan secara langsung oleh Gubernur/Bupati/Walikota, karena

penetapan kawasan strategis pariwisata menjadi wewenang atau urusan Pemerintah Pusat. Oleh

sebab itu, perlu adanya penyesuaian pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 12 Tahun 2014

(14)

14

Soal 4.

Anda telah mengerjakan Tugas Bacaan dari beberapa kasus Perencanaan.

a. Apa tema dari kasus Perencanaan yang Anda pilih?

b. Kemukakan pembagian tugas dalam Kelompok Kerja Anda!

c. Kemukakan lingkup pekerjaan Anda sesuai dengan uraian butir b di atas!

d. Diskusikan lesson learned yang Anda peroleh dari pengerjaan tugas bacaan ini!

Jawab :

a. Tema yang kelompok kami pilih adalah “Tanah Timbul di Kota Cirebon, Peluang &

Tantangan“.

b. Secara umum pembagian tugas kelompok kami dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu:

No. Nama NIM Tugas

1 Nia Noorrahmah 25414026 Peluang, analisis tantangan dan strategi melalui

aspek tata ruang dan sosial ekonomi

2 Rezza Munawir 25414047 Analisis tantangan dan strategi melalui aspek legal

dan lingkungan, kesimpulan

3 Frans Almartha 25414060 Pendahuluan dan pengolahan citra landsat dari

USGS

c. Lingkup pekerjaan yang saya lakukan dalam penyusunan karya tulis ini yaitu menganalisis

tantangan dari keberadaan tanah timbul di Kota Cirebon dipandang dari aspek legal dan

lingkungan, serta mencoba merumuskan strategi untuk menjawab tantangan tersebut.

Tantangan dan Strategi (Aspek Legal)1 Tantangan: Permasalahan Legalitas Lahan

- Konflik perebutan tanah timbul;

- Tanah timbul merupakan tanah yang otomatis menjadi milik negara, namun Pemerintah

Kota Cirebon tidak tegas;

- Sertifikasi tanah oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) terhadap masyarakat yang

mengokupasi tanah timbul;

- Bantuan pemerintah masih terus dikucurkan untuk mensejahterakan masyarakat

setempat;

(15)

15 - Pengurugan dengan sampah, tanah, dan bongkaran bangunan untuk percepatan proses

pembentukan tanah timbul;

- Arus urbanisasi yang turut membuat pemanfaatan ilegal tanah timbul semakin intensif;

- Masyarakat setempat yang didukung oleh kekuatan legislatif terutama dalam posisinya

sebagai lumbung suara pada saat pemilihan umum daerah;

- Semua permasalahan diatas timbul diduga disebabkan karena belum adanya peraturan

serta penegakan hukum yang tegas; dan

- Belum ada peraturan daerah mengenai peruntukan dan penggunaan tanah tanah timbul

di Kota Cirebon.

Strategi: Upaya Memastikan Legalitas Lahan

- Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Lahan  Tanah

timbul dikuasai langsung oleh Negara;

- Surat Edaran Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 401-1293 Tahun 1996  Tanah

timbul dinyatakan sebagai tanah yang langsung dikuasai oleh negara. Selanjutnya

penguasaan/pemilikan serta penggunaannya diatur oleh Menteri Negara Agraria/Kepala

Badan Pertanahan Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku;

- Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9

Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil  Tanah

timbul harus dimanfaatkan dan dikelola untuk mendukung pulihnya ekosistem pesisir,

yang penguasaan tanahnya dikuasai negara;

- Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Pengurusan Hutan

Mangrove dan Hutan Pantai  Tanah timbul merupakan kawasan lindung yang

berfungsi sebagai kawasan perlindungan setempat; dikuasai oleh negara di bawah

pengawasan Gubernur; Bupati/Walikota menetapkan peruntukan dan penggunaan tanah

timbul dan disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana

Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota; Pengaturan lebih lanjut mengenai tanah timbul,

ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

- Berdasarkan uraian tentang pengaturan terkait tanah timbul di atas dan guna

mengantisipasi okupasi lahan oleh masyarakat secara terus-menerus, maka Pemerintah

Kota Cirebon harus melakukan upaya dengan menyusun dan menetapkan Peraturan

Daerah Kota Cirebon tentang status kepemilikan, peruntukan dan penggunaan tanah

timbul yang disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana

(16)

16 - Pemerintah Kota Cirebon bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional Propinsi

agar segera melakukan inventarisasi tanah timbul termasuk ke dalam wilayah Kota

Cirebon.

Tantangan dan Strategi (Aspek Lingkungan)2 Tantangan: Permasalahan Lingkungan

- Terjadi kerusakan serius pada habitat mangrove di pesisir pantai Kota Cirebon;

- Rusaknya ekosistem mangrove menyebabkan tingginya tingkat abrasi pantai dan

sedimentasi;

- Minimnya hutan mangrove serta perusakan mangrove di pesisir pantai Kota Cirebon ini

diduga juga telah mempercepat proses intrusi air laut dan menyebabkan berkurangnya

biota laut dan fauna pantai lainnya;

- Sedimentasi terjadi pada semua sungai akibat pembuangan limbah padat dan proses

erosi di hulu sungai, serta sampah banyak berasal dari daerah lain, sehingga mengotori

pantai Kota Cirebon;

- Topografi wilayah pesisir yang datar dan ada beberapa sungai yang bermuara di lokasi

ini, maka pada saat musim penghujan, potensi terjadinya banjir sangat besar;

- Di wilayah pesisir genangan banjir kiriman disebabkan oleh kurang baiknya sistem

drainase dari hulu, kondisi ini akan lebih parah bila bersamaan dengan terjadinya

pasang purnama dan bulan gelap dan penduduk sering menyebutnya “ROB”;

- Kawasan pesisir pantai juga masih banyak dijumpai areal tambak baik yang masih

diusahakan maupun yang sudah ditinggalkan dan sangat sedikit sekali kawasan pesisir

pantai yang luasan jalur hijaunya (greenbelt) masih baik dan memenuhi ketentuan

lingkungan hidup;

- Munculnya tanah timbul, dimanfaatkan masyarakat menjadi permukiman kumuh; dan

- Pengurugan dengan sampah, tanah, dan bongkaran bangunan untuk percepatan proses

pembentukan tanah timbul.

Strategi: Rehabilitasi Kawasan Pesisir Pantai

- Manfaat ekosistem di wilayah pesisir, yaitu: manfaat yang menyokong kehidupan,

manfaat terhadap sosiobudaya, dan manfaat terhadap produksi;

- Manfaat lainnya perlindungan terhadap badai, pertahanan terhadap erosi garis pantai,

perlindungan terhadap polusi dari daratan, konservasi habitat dan keanekaragaman flora

(17)

17 dan fauna, perlindungan akses ke daratan, perlindungan dari pembangunan di kawasan

pantai, dan mitigasi terhadap kenaikan muka air laut;

- Pemerintah Kota Cirebon harus segera melakukan upaya antisipasi dengan manajemen

kawasan pesisir pantai di wilayahnya;

- Habitat kritis yang sudah rusak harus direhabilitasi ke level tertinggi yang paling

memungkinkan dari produktivitas dan biodiversitas, antara lain tanah rawa ditanami

kembali, tambak-tambak dibongkar, air bersih dan air pasang ke hutan mangrove bisa

diperbaiki, dan terumbu karang diperbarui;

- Program rehabilitasi lainnya, antara lain pengangkutan/pembersihan sampah,

penanaman kembali hutan mangrove, dan menetapkan tanah timbul sebagai kawasan

lindung;

- Usaha lainnya yaitu pendidikan terhadap seluruh lapisan masyarakat untuk melawan

laju pengrusakan lingkungan.

d. Lesson learned yang saya dapatkan dari tugas ini adalah tanah timbul merupakan tanah yang

secara otomatis milik negara, namun dalam kasus Kota Cirebon, tanah timbul tersebut tidak

dilindungi dengan payung hukum yang tegas yang menyatakan kepemilikan tanah timbul

oleh Pemerintah Kota Cirebon (dibawah pengawasan Walikota). Permasalahan sulitnya

mendapatkan lahan yang murah di daerah perkotaan mendorong masyarakat mengokupasi

tanah timbul secara serampangan, padahal tanah timbul merupakan salah satu ekosistem

pantai yang berguna bagi ekosistem flora dan fauna pantai. Jika tidak segera ditangani

secara tegas oleh Pemerintah, dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan ekosistem pantai

yang lebih parah. Selain itu, konflik yang bernuansa politis juga melingkupi permasalahan

ini dimana masyarakat setempat tidak bisa dengan tegas ditertibkan oleh Pemerintah karena

diduga dilindungi oleh anggota legislatif setempat karena posisinya yang bermanfaat bagi

lumbung suara pada saat pemilihan umum daerah. Sehingga saya simpulkan, permasalahan

tanah timbul di Kota Cirebon pada dasarnya hanya membutuhkan penegakan hukum yang

tegas dari Pemerintah agar permasalahan yang ada tidak semakin berlarut-larut dan menjadi

(18)

18

Daftar Pustaka

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang

Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran

Masyarakat dalam Penataan Ruang

Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 Tentang Tata Cara

Peran Masyarakat Dalam Perencanaan Tata Ruang Daerah

Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 12 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pembangunan dan

Pengembangan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan di Jawa Barat

Bappeda Provinsi Jawa Barat. 2014. Grand Design Pembangunan Metropolitan dan Pusat

Pertumbuhan di Jawa Barat.

DA. Djufri Sinaro, Drs. MM. 2014. Pemaparan UU No. 23 tahun 2014 oleh Drs. DA. Djufri

Sinaro, MM.

http://www.majalahbakaba.com/2014/11/pemaparan-uu-no-23-tahun-2014-drs-da.html [21.12.2014]

Ernan Rustiadi dan Dyah Retno Panuju. 1999. Suburbanisasi Kota Jakarta.

http://www.slideshare.net/Ramadhani2603/ernan-rustiadi-suburbanisasi-kota-jakarta

[21.12.2014]

Iwan Kustiwan. 2010. Desertasi: Bentuk dan Pengembangan Kawasan Perkotaan Berkelanjutan

(Kajian Potensi Kompaksi di Kawasan Perkotaan Bandung. http://www.pps.ui.ac.id

[21.12.2014]

Kombaitan. 2001. Pencirian Struktur Kota: Tinjauan Teoritik dan Pengujian Empirik.

http://www.sappk.itb.ac.id/jpwk/wp-content/uploads/2014/01/Vol-12-No-3-6.pdf

[20.12.2014]

M. Ikhsany Rusyda, Sukadi, dan Reni Ardianti. 2013. Suburbanisasi, Alih Fungsi Lahan Dan

Pengaruhnya Terhadap Lingkungan (Studi Kasus: Di Wilayah Bodetabek, Indonesia).

http://demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/kumpulan_tugas_mobilitas_pak_chotib/kelom

pok_8/tugas_kel_8__paper_dan_presentasi/tugas_migrasi_kel_8_suburbanisasi.pdf

[21.12.2014]

Muhammad Sapta Murti, SH, MA, MKn. 2010. Harmonisasi Peraturan Daerah dengan

Peraturan Perundang-undangan Lainnya.

http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/htn-dan-

(19)

19 Nia Noorrahmah, Rezza Munawir, Frans Almartha. 2014. Tanah Timbul di Kota Cirebon, Peluang

& Tantangan

Portal Kota Bandung. 2014.

http://bandung.go.id/images/Materi_Teknis_RTRW_2011-2031/Bab_9_Peran_Masyarakat.pdf [20.12.2014]

Sjofjan Bakar, M.Sc Dr. (Direktur). 2010.Bahan Presentasi yang disampaikan pada Acara: Forum

Diskusi Menjalin Peran Para Pelaku Penataan Ruang; Batam, 29 Juli 2010. Direktorat

Fasilitasi Penataan Ruang Dan Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan

Daerah, Kementerian Dalam Negeri:.

http://www.slideshare.net/cappaonly/peran-masyarakat-dlm-penataan-ruang-7371778 [20.12.2014]

Terry McGee. 2009. The Spatiality of Urbanization: The Policy Challenges of Mega-Urban and

Gambar

Tabel 1. Arah Kebijakan Pengembangan Kawasan

Referensi

Dokumen terkait

a. Panel/Frame, suatu bingkai yang membatasi antara suatu adegan dengan adegan yang lainnya. Panel juga bisa dianalogikan dengan jendela kamera yang merekam sebuah

Tidak seorang anggotapun yang dapat berhubungan langsung dengan semua anggota lainnya, demikian pula tidak ada anggota yang memiliki akses langsung terhadap seluruh informasi

Penulis menggunakan metode deskriptif analisis sebagai pendekatan kuantitatif yang merupakan suatu metode yang bertujuan untuk mengetahui sifat dan hubungan yang lebih mendalam

Investasi pada modal bank, entitas keuangan dan asuransi diluar cakupan konsolidasi secara ketentuan, N/A net posisi short yang diperkenankan, dimana Bank tidak memiliki lebih dari

Pembebanan transformator, rugi-rugi transformator, dan arus pada kawat netral di teknik Kimia, teknik Sipil, teknik Elektro, dan teknik Mesin pada hari kerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penumpukan penyerapan anggaran belanja di akhir tahun anggaran disebabkan oleh 4 faktor utama yaitu: faktor perencanaan anggaran,

antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan dengan Kerangka Acuan Kerja yang telah ditentukan dalam Kontrak, maka PPK bersama penyedia dapat melakukan perubahan

Pelaksanaan pemasaran langsung ( direct marketing ) yang dilakukan rumah sakit Islam Malahayati adalah salah satu kegiatan promosi yang dilakukan oleh bagian