• Tidak ada hasil yang ditemukan

T2__BAB II Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Praktek Kerja Industri Di SMK Negeri 1 Sayung T2 BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "T2__BAB II Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Evaluasi Praktek Kerja Industri Di SMK Negeri 1 Sayung T2 BAB II"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Praktik Kerja Industri (Prakerin)

2.1.1 Konsep Praktik Kerja Industri (Prakerin)

Hamalik (2001) menyatakan bahwa praktik kerja industri merupakan suatu tahap persiapan professional dimana seorang siswa yang hampir menyelesaikan studi secara formal bekerja di lapangan dengan supervisi seorang administrator yang kompeten dalam jangka waktu tertentu, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan melaksanakan tanggung jawab dalam bidangnya. Dari pengertian tersebut tersirat bahwa prakerin sangatlah penting dalam melatih siswa mengembangkan keahliannya di dunia kerja yang nyata.

Setiap sekolah mempunyai aturan sendiri- sendiri.

Pengaturan pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin)

dilakukan dengan mempertimbangkan dunia usaha/

dunia industri (DU/ DI) untuk dapat menerima siswa

serta jadwal praktik sesuai dengan kondisi setempat.

Sehingga Praktik Kerja Industri (Prakerin) memerlukan

perencanaan secara tepat oleh pihak sekolah dan pihak

dunia usaha/ dunia indusri (DU/DI), agar dapat

terselenggara dengan efektif dan efisien.

(2)

oleh siswa di industri, baik berupa industri besar, menengah maupun kecil atau industri rumah tangga. Dalam pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) ini proses atau langkah- langkah pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) harus tetap mengacu pada desain pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain itu, pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) dapat berupa “day release” atau “block release” atau kombinasi keduanya.

Program Prakerin yang dilakukan di industri/ perusahaan menurut Dikmenjur (2008: 8) meliputi:

1) Praktik Dasar Kejuruan, dapat dilaksanakan sebagian di sekolah dan sebagian lainnya di industri, apabila industri memiliki fasilitas pelatihan di industrinya. Apabila industri tidak memiliki fasilitas pelatihan, maka kegiatan praktikdasar kejuruan sepenuhnya dilakukan di sekolah;

2) Praktik Keahlian Produktif, dilaksanakan di industri dalam bentuk “on job training”, berbentuk kegiatan mengerjakan pekerjaan produksi atau jasa di industri/ perusahaan sesuai dengan program keahliannya;

3) Pengaturan program harus disepakati pada awal program oleh kedua belah pihak.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa program Prakerin harus dilaksanakan dengan perencanaan yang matang, karena tidak hanya berhubungan dengan kesiapan siswa, tetapi juga berhubungan dengan instansi atau industri lain. Hal ini juga mengindikasikan bahwa peran dunia usaha/ dunia industri (DU/DI) dalam Prakerin sangat penting.

(3)

Kemitraan antara sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan dunia usaha/ dunia industri (DU/DI) menurut Napitupulu, E.L (2008) perlu dibangun secara sinergi sehingga lulusan yang dihasilkan mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar dunia usaha/ dunia industri. Djojonegoro dalam Anwar (1997:7) menegaskan, kemitraan SMK dengan dunia usaha/ dunia industri bukan lagi merupakan hal penting, tetapi merupakan keharusan. Pendapat lain dari Muliati (2007:7) menjelaskan untuk mendapat ketrampilan tidak cukup peserta didik belajar di sekolah tetapi harus didapat melalui on the job training yaitu belajar dari pekerja yang sudah berpengalaman di industri. Oleh karena itu, sulit diharapkan dapat membentuk keahlian profesional pada diri peserta didik tanpa partisipasi industri.

Selanjutnya, Wena (1996:228) mengungkapkan bahwa pada dasarnya tahapan pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) meliputi:

1) Perencanaan Praktik Kerja Industri

Perencanaan melibatkan beberapa pihak, yaitu sekolah, siswa, orang tua, dan institusi pasangan (Dunia Usaha/ Dunia Industri). Perencanaan Prakerin meliputi: a) penentuan tujuan Praktik Kerja Industri (Prakerin); b) Metode Praktik Kerja Industri (Prakerin); c) Pendataan Siswa Peserta Praktik Kerja Industri; d) Sosialisasi Praktik Kerja Industri (Prakerin) kepada orang tua dan guru; e) Materi praktik kerja industri (Prakerin)

2) Pengorganisasian Praktik Kerja Industri

(4)

Kerja Industri ini meliputi: a) Tenaga pengajar/ pembimbing dari pihak sekolah; b) Tenaga instruktur dari pihak Dunia Usaha/ Industri; c) Penempatan Siswa.

3) Penyelenggaraan Praktik Kerja Industri

Penyelenggaraan Praktik Kerja Industri meliputi: a) Model penyelenggaraan Praktik Kerja Industri; b) Metode Pembelajaran; c) Standar Profesi

4) Pengawasan Praktik Kerja Industri

Pelaksanaan Praktik Kerja Industri tidak dapat terlepas dari pengawasan pelaksanaan itu sendiri, karena untuk menjamin mutu praktik kerja tersebut diperlukan pelaksanaan pengawasan yang meliputi: a) control keselamatan kerja; b) bimbingan dan monitoring pihak sekolah; c) Penilaian hasil belajar dan keahlian; d) sertifikasi; dan e) evaluasi.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) dapat berhasil apabila tahapan-tahapan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.

2.1.2 Tujuan Praktik Kerja Industri (Prakerin)

(5)

Menurut Juliyanti (2013:44), penyelenggaraan Praktik Kerja Industri (Prakerin) secara umum bertujuan untuk menjawab tantangan industri. Namun secara rinci Prakerin bertujuan: 1) menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat kemampuan, kompetensi, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja; 2) meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan antara lembaga pendidikan pelatihan kejuruan dan dunia kerja; 3) meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas professional; 4) memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.

Lebih lanjut diungkapkan pula bahwa Prakerin adalah program wajib yang harus diselenggarakan oleh sekolah, khususnya sekolah menengah kejuruan dan pendidikan luar sekolah serta wajib diikuti oleh siswa/ warga belajar (Dikmenjur: 2008). Dari pengertian Prakerin tersebut, penyelenggaraan Praktik Kerja Industri (Prakerin) akan membantu siswa untuk memantapkan hasil belajar yang diperoleh di sekolah serta membekali siswa dengan pengalaman nyata sesuai dengan program studi yang dipilihnya.

(6)

tujuan khusus. Secara umum Praktik Kerja Industri (Prakerin) bertujuan sebagai berikut:

1. Untuk memperoleh tamatan yang berkompeten;

2. Dapat memperkokoh link and match antara sekolah dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas profesional;

3. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas professional;

4. Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan praktik kerja industri (Prakerin) secara umum adalah untuk menghasilkan tamatan yang berkompetensi, memperkokoh link and match antara sekolah dengan pelatihan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja, dan memberikan pengakuan serta penghargaan terhadap pengalaman kerja melalui proses pendidikan.

Selain itu, tujuan khusus dari praktik kerja industri (Prakerin) menurut Depdiknas (2003: 2-3) adalah:

1. Menghasilkan tamatan yang siap kerja di berbagai bidang pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan tertentu;

2. Untuk mendapatkan keterpaduan yang saling mengisi antara pendidikan di sekolah dengan dunia usaha/ industri;

(7)

4. Membentuk pribadi agar percaya diri dan mandiri;

5. Memperkokoh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan menyempurnakan serta mengembangkan pendidikan di sekolah dan dunia usaha/ dunia industri.

Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan Prakerin secara khusus adalah untuk menghasilkan tamatan SMK yang siap kerja, mendapatkan keterpaduan yang saling mengisi antara pendidikan di sekolah dan dunia usaha/ dunia industri (DU/DI), mengembangkan kemampuan siswa, membentuk kepribadian siswa yang mandiri, memberikan masukan bagi sekolah dalam mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada ketrampilan dan pengetahuan.

2.1.3 Faktor- faktor yang Mempengaruhi Praktik

Kerja Industri (Prakerin)

(8)

program serta personalisasinya, mulai dari pengarahan, bimbingan siswa serta dukungan terhadap proses maupun hasil kinerja praktik kerja industri (Prakerin).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan atau keterlaksanaan tujuan praktik kerja industri (Prakerin). Faktor dari dalam (faktor internal) seperti intelegensi siswa, perhatian dari siswa, bakat siswa, motivasi, kematangan dan kesiapan siswa. Sedangkan faktor dari luar (faktor eksternal) seperti konsep praktik kerja industri (Prakerin), program, serta pelaksanaannya mulai dari pengarahan atau pembekalan, bimbingan, serta dukungan terhadap proses maupun hasil kinerja praktik kerja industri (Prakerin).

2.1.4 Penilaian Praktik Kerja Industri (Prakerin)

(9)

(Prakerin) dalam rangka mencapai tujuan yang dirancang bersama melibatkan beberapa unsur yang terkait, seperti guru, siswa, instruktur atau dunia usaha/ dunia industri (DU/ DI).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui keterlaksanaan pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) dapat ditinjau dari tiga aspek, yaitu: (1) pembekalan pelaksanaan, (2) pelaksanaan dan (3) proses penilaian dalam praktik kerja industri (Prakerin).

1. Pembekalan

Dalam pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin), setiap siswa harus diberikan pembekalan yang baik. Melalui pembekalan, para siswa akan mendapatkan pengarahan dari guru BK, panitia prakerin, dan guru produktif masing-masing program keahlian. Pembekalan sebelum pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) juga bertujuan untuk menambah materi yang telah diperoleh dari proses belajar mengajar atau materi – materi yang sudah dilakukan di lapangan tetapi belum pernah diperoleh pada kegiatan yang dilaksanakan di institusi baik pengetahuan, ketrampilan, maupun cara- cara pemecahan masalah melalui diskusi.

(10)

Selain itu, siswa diberikan masukan dan pengarahan mengenaitata tertib yang harus dipatuhi selama pelaksanaan.

2. Pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin)

Praktik kerja industri (Prakerin) dapat terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan apabila aturan atau tata tertib praktik kerja industri (Prakerin) dipatuhi oleh siswa. Siswa merupakan subjek pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin), sehingga perlu adanya tugas dan tanggung jawab tertentu, selain itu siswa harus bersedia untuk mematuhi peraturan internal dunia usaha/ dunia industri (DU/DI).

3.Proses Penilaian

(11)

penting dalam pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin).

Selanjutnya, menurut Nana (1989:141), terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap penilaian pembelajaran, yaitu:

1) Melaksanakan penilaian melalui instrumen yang telah dipersiapkan terhadap sumber data sesuai dengan program yang telah direncanakan;

2) Menyusun dan mengolah data hasil penilaian baik data yang dihasilkan berdasarkan persepsi pelaksanaan pengajaran maupun berrdasarkan pengamatan dan monitoring penilaian;

3) Penilaian dilakukan dengan dua macam kriteria mutlak dan kriteria relatif. Kriteria mutlak adalah membandingkan hasil penilaian dengan kriteria yang sudah pasti, sedangkan criteria relatif membandingkan hasil penilaian antar kelompok;

4) Menyusun laporan hasil penelitian termasuk rekomendasi, impilkasi pemecaha masalah dan tindakan korektif bagi penyempurnaan hasil belajar.

(12)

2.1.5 Pengelolaan Praktik Kerja Industri (Prakerin)

Pengelolaan praktik kerja industri (Prakerin) atau yang biasa disebut dengan magang (on job training) dijabarkan Hamalik dalam Juliyanti (2013) sebagai berikut:

(1) Praktik kerja industri merupakan bagian integral dalam pendidikan professional yang bertujuan mengembangkan keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang yang sedang dipelajari;

(2) Para peserta yang melaksanakan kegiatan sudah menguasai kompetensi yang berhubungan dengan mata pelajaran produktif sesuai dengan materi yang diajarkan;

(3) Bentuk pelaksanaan adalah bekerja di lingkungan kerja pada perusahaan, institusi pasangan (DU/DI) sebagaimana yang dilakukan oleh karyawan lain namun tetap bertindak sebagai siswa praktik yang memerlukan bimbingan dari pembimbingannya;

(4) Peserta bekerja dalam jangka waktu tertentu terus menerus, tidak terganggu oleh kegiatan pelatihan lainnya selama praktik kerja, lamanya praktik kerja ditentukan berdasarkan jadwal yang ditetapkan;

(5) Peserta praktik dibimbing oleh pembimbing di dunia usaha/ dunia industri sesuai dengan kompetensi keahliannya masing- masing dan guru pembimbing sekolah;

(6) Tujuan praktik kerja adalah untuk meningkatkan kemampuan melaksanakan tanggung jawab dalam pekerjaan yang berarti mampu melaksanakan peran dan kegiatan-kegiatan dalam pekerjaan tersebut, yang ditentukan oleh terjadinya peningkatan kualitas pengetahuan, ketrampilan, sikap dan pengalaman;

(13)

(8) Antara instruktur dunia usaha/ dunia industri dengan pihak lembaga pendidikan senantiasa berkoordinasi dan ada keterpaduan dalam menentukan kebijakan, kegiatan dan tindakan lainnya, sehingga terjadi kesepakatan dan satu arah dalam pemberian bimbingan kepada peserta praktik kerja industri tersebut. Koordinasi dan keterpaduan ini juga mengikutsertakan wakil- wakil dari peserta praktik.

Dari uraian di atas, pengelolaan praktik kerja industri (Prakerin) memerlukan perencanaan yang matang dan melibatkan beberapa aspek penting dalam praktik kerja industri (Prakerin).Praktik kerja industri (Prakerin) juga melatih ketrampilan (skill) siswa yang merupakan tujuan pokok kegiatan pembelajaran praktik.Sehingga dalam praktik kerja industri (Prakerin), siswa dituntut untuk bisa bekerja tidak hanya belajar mencari pengalaman.

Selanjutnya, terdapat beberapa tahapan dalam pengelolaan pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) oleh Dikmenjur (1996), meliputi tahapan kegiatan sebagai berikut:

(1) Pembekalan: pembekalan dilakukan oleh pihak internal (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua program keahlian, wali kelas, guru) dan pihak eksternal (dunia usaha/ dunia industri) yaitu mengenai sikap, mental, dan kompetensi pada masing- masing keahlian;

(2) Pelepasan: pelapasan dilaksanakan oleh Kepala Dinas Pendidikan atau yang mewakili;

(14)

masing- masing dengan dibekali buku dan jurnal sebagai sarana untuk mencatat semua kegiatan di lapangan;

(4) Monitoring: monitoring bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan dalam melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi, mencari solusi atas hambatan- hambatan serta masalah yang dialami siswa;

(5) Evaluasi kegiatan: penilaian praktik kerja industri dilakukan dengan cara penilaian langsung dalam proses kerja, tes praktik di akhir kegiatan, dan uji kompetensi yang memenuhi syarat. Penilaian siswa dilakukan bersama antara sekolah dengan dunia usaha/ dunia industri, dimana nilai praktik diperoleh dari akumulasi seluruh kegiatan, sedangkan uji kompetensi merupakan bukti bahwa siswa tersebut telah memiliki kemampuan dan ketrampilan.

Dari uraian di atas, tahapan dalam pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) harus dilaksanakan secara runtut sesuai dengan urutan, sehingga pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) berjalan lancar.

Manfaat praktik kerja industri (Prakerin) bagi peserta didik menurut Hamalik (2003:98) dapat dibagi menjadi lima , yaitu sebagai berikut:

(1) Para peserta dapat mengembangkan pandangan secara menyeluruh tentang pendidikan professional, memahami lebih mendalam, memahami lebih mendalam perbedaan yang ada antara teori dan praktik;

(15)

(3) Peserta dapat memetik pelajarandari hal- hal yang terjadi dan dialami oleh pimpinan dan tenaga pelaksana lapangan yang dapat diperoleh dari berbagai sumber;

(4) Memberikan kesempatan pada peserta untuk menguji kemampuan sendiri;

(5)Peserta memperoleh kode etik professional melalui pengalaman langsung dalam kegiatan-kegiatan praktik kerja.

Dapat dijelaskan bahwa manfaat praktik kerja industri (Prakerin), siswa memperoleh pengalaman yang bisa meningkatkan kompetensi professional, ketrampilan sosial dan tanggung jawab pribadi. Pada akhirnya, melalui praktik kerja industri (Prakerin), siswa memperoleh pengalaman yang akan membentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Hal ini akan berpengaruh pada pengembangan dan peningkatan kompetensi yang dimiliki siswa setelah melakukan proses belajar di tempat kerja (dunia usaha/ dunia industri).

2.2 Pengembangan Kompetensi Lulusan

SMK

(16)

isi pendidikan kejuruan dirancang sejalan dengan perkembangan masyarakat,baik menyangkut tugas-tugas pekerjaan maupun pengembangan karir peserta didik.

(17)

industri tersebut menggambarkan perubahan mendasar dari model penyelenggaraan pendidikan sebelumnya yaitu sistem sekolah (schooling

system) ke arah sistem ganda

(dualresponsibility), dimana perusahaan atau institusi kerja lainnya menjadi institusi pasangan dari SMK. Dalam pelaksanaannya institusi pasangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem penyelenggaraan pendidikan kejuruan.

Pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) merupakan upaya sekolah agar mampu memberikan layanan pendidikan secara optimal dalam memenuhi dinamisasi kebutuhan pendidikan masyarakat. Upaya untuk mencapai kualitas lulusan pendidikan kejuruan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja tersebut, perlu didasari dengan kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dengan prinsip kesesuaian dengan kebutuhan stakeholders. Kurikulum pendidikan kejuruan secara spesifik memiliki karakter yang mengarah kepada pembentukan kecakapan lulusan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan tertentu. Kecakapan tersebut telah diakomodasi dalam kurikulum SMK yang meliputi kelompok Normatif, Adaptif dan kelompok Produktif.

(18)

Menengah Kejuruan (SMK) untuk mengembangkan kreativitas belajar pada wahana pendidikan yang lebih realistis. Pihak Sekolah Menengah Kejuruan harus dapat memanfaatkan Dunia Usaha/ Dunia Industri ini sebagai wahana pelatihan yang paling efektif bagi pembentukan ketrampilan dan sikap profesional para lulusan. Pengembangan kompetensi keahlian lulusan SMK harus menjadi prioritas bagi sekolah untuk dikelola.Karena masih banyaknya lulusan SMK yang bekerja tidak sesuai dengan keahliannya.

2.3 Evaluasi CIPP dalam Prakerin

Menurut Badrujaman (2011) bahwa dalam implementasinya ternyata evaluasi dapat berbeda satu sama lain, hal ini tergantung dari maksud dan tujuan dari evalusi tersebut dilaksanakan. Dari beberapa model evaluasi yang ada, secara khusus dalam konteks penelitian ini, penulis menggunakan model evaluasi yang dikembangkan oleh Stufflebeam dalam Sugiyo (2011), yaitu model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Model ini terdiri dari empat komponen, yaitu: kontek, input, proses, dan produk. Masing-masing komponen perlu penilaian sendiri.

(19)

a. Evaluasi Konteks (Context Evaluation)

Evaluasi konteks dilakukan untuk mengetahui apakah program yang disusun sudah sesuai dengan kebutuhan. Di dalam evaluasi konteks ini dilakukan untuk mendefinisikan konteks program yang dilaksanakan, mengidentifikasi kebutuhan semua individu yang terlibat dalam program, mendiagnosis hal-hal yang mendasari kebutuhan dan mendesain tujuan program. Pelaksanaan evaluasi konteks dapat dilakukan dengan menggunakan metode survey, wawancara, analisis dokumen dan tes diagnostik. Keputusan penting yang dapat diambil sebagai hasil dari evaluasi konteks adalah tujuan program yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan individu, memecahkan masalah dan bentuk perubahan yang diinginkan (Sugiyo, 2011). Dalam hal ini, evaluasi konteks sebagai hasil upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungan serta tujuan proyek. Dalam pelaksanaan program prakerin, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan dari penyelenggaraan program tersebut.

b. Evaluasi Input (Input Evaluation)

(20)
(21)

c. Evaluasi Proses (Process Evaluation)

Evaluasi proses dilakukan untuk mengetahui apakah proses dal pelaksanaan program sudah sesuai dengan tujuan dalam program. Di dalam evaluasi proses ini yang perlu dilakukan yaitu mengidentifikasi atau memprediksi proses-proses yang menghambat desain prosedur atau implementasinya, merekam dan menilai keterlaksanaan prosedur kegiatan dan menyediakan bahan- bahan informasi untuk penyusunan program di masa depan. Metode yang dapat digunakan untuk evaluasi program diantaranya memantau potensi- potensi penghambat pelaksanaan prosedur, mengantisipasi situasi yang tidak terduga, pendiskripsian proses implementasi program dan observasi. Keputusan yang dapat diambil dari evaluasi proses diantaranyaperbaikan atau revisi dan implementasi desain program serta prosedur, catatan lapangan implementasi program guna menginterpretasi keberhasilan program (Sugiyo, 2011). Dalam hal ini, selama proses pelaksanaan program praktik kerja industri (Prakerin) dipantau pelaksanaaannya.

d. Evaluasi Produk (Product Evaluation)

(22)

yaitu mengumpulkan deskripsi dan penilaian mengenai hasil yang dicapai dan membandingkannya dengan tujuan; informasi tentang konteks, input, proses; menginterpretasi nilai unggul dari program. Metode yang dapat digunakan dalam evaluasi produk diantaranya: pendefinisian kriteria hasil yang hendak dicapai, pengumpulan penilaian hasil program dari stakeholder dan analisis kuantitatif serta kualitatif. Berbagai keputusan yang dapat diambil dari evaluasi produk diantaranya melanjutkan, menghentikan, memodifikasi atau melakukan pemfokusan ulang desain program (Sugiyo, 2011). Dalam hal ini, Program praktik kerja industri (Prakerin) merupakan program tahunan yang harus ada, sehingga perlu adanya perbaikan atau evaluasi hasil dari pelaksanaan program praktik kerja industri (Prakerin).

Tabel 2.1

Tabel CIPP untuk mengevaluasi praktek kerja industri (Prakerin) di SMK Negeri 1 Sayung

(23)
(24)

siswa, pemberian umpan balik dan intensitas umpan balik yang harus ditingkatkan. Aspek ke empat yaitu pengelolaan praktik kerja siswa. Aspek ke lima yaitu identitas industri (institusi pasangan). Aspek ke enam yaitu kompetensi instruktur serta aspek yang terakhir yaitu proses praktik kerja siswa di industri. (3) Hasil (outcomes) menunjukkan bahwa dari hasil studi dokumen ujian nasional tahun 2005/2006 sudah mencapai criteria atau standar objektif yang telah ditetapkan. Yang kedua, hasil analisis dokumen ujian nasional komponen produktif dengan pendekatan project work untuk siswa kelas III sudah memenuhi standar objektif.

(25)

Negeri 1 Susut ditinjau dari variabel konteks, input, proses dan produk sangat tidak efektif.

Penelitian Arfandi(2009) tentang “Pelaksanaan Praktek Kerja Industri Siswa SMK Program Keahlian Teknik Bangunan di Kota Makasar” menunjukkan bahwa (1) komponen masukan, hasil evaluasi menunjukkan siswa SMK program keahlian Teknik Bangunan siap melakukan praktik kerja industri.Hal ini didukung oleh pengetahuan siswa mengenai maksud, tujuan, manfaat, dan harapan dari pelaksanaan prakerin.Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menyelenggarakan program keahlian Teknik Bangunan sangat siap melakukan praktik kerja industri.Hal ini didukung oleh tingkat pengetahuan sekolah yang sangat mengetahui maksud, tujuan, manfaat, dan harapan dari pelaksanaan prakerin dan telah berpengalaman menyelenggarakan prakerin selama 12 tahun.Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa industri pasangan prakerin siap melakukan praktik kerja industri.(2) Komponen Proses menunjukkan bahwa aktivitas siswa melaksanakan praktik kerja industri memuaskan.(3) Komponen Hasil menunjukkan bahwa perolehan nilai akhir siswa pada praktik kerja industri sangat memuaskan dengan tingkat kelulusan 100%.

(26)

menunjukkan bahwa pelaksanaan prakerin belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Tempat pelaksanaan prakerin siswa kurang sesuai dengan bidang keahlian yang dipelajari. Berdasarkan analisis data dan hasil wawancara, diperlukan desain hipotetik program prakerin SMK Negeri 2 Padang Panjang.

Penelitian Anramus (2012) tentang “Kontribusi Praktik Kerja Industri dan Motivasi Belajar Terhadap Sikap Wirausaha” menunjukkan bahwa hasil praktik kerja industri dan motivasi siswa mempunyai kontribusi yang tinggi terhadap sikap wirausaha siswa.Kesimpulan dari penelitian ini yaitu untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK, sekolah harus menempatkan siswa pada industri yang tepat dan relevan.Selain itu, memberikan pemahaman terhadap siswa agar memacu motivasi siswa untuk memiliki sikap wirausaha dan mampu menghadapi berbagai tantangan dalam dunia kerja dan kehidupan.

(27)

belum sesuai antara institusi pasangan dengan keahliannya.

Penelitian Komang (2010) tentang “Efektivitas Pelaksanaan Praktek Kerja Industri Di SMK Negeri 3 Kelompok Pariwisata Kota Malang” menunjukkan bahwa efektifitas pelaksanaan praktik kerja industri di SMK Negeri 3 kelompok pariwisata kota Malang sebagai berikut: a) perencanaan program prakerin di SMK Negeri 3 Malang berada pada kategori baik/ efektif, b) pelaksanaan program prakerin di SMK Negeri 3 Malang berada pada kategori baik/ efektif, dan c) evaluasi program prakerin di SMK Negeri 3 Malang berada pada kategori baik/ efektif.

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, penelitian terdahulu memberikan gambaran dan referensi tentang pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin) yang sudah berjalan efektif atau belum efektif. Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu sebagian besar menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian terdahulu diharapkan bisa memberikan referensi untuk mengembangkan penelitian ini.

2.6 Kerangka Pikir

(28)

matang oleh pihak sekolah. Evaluasi manajemen program Prakerin bertujuan untuk mengetahui keberhasilan program secara menyeluruh perlu dijalankan secara terencana.

Berdasarkan kepentingan dan urgensi tersebut, penulis melakukan penelitian evaluasi manajemen program Prakerin menggunakan pendekatan model evaluasi CIPP. Pendekatan ini menitikberatkan pada analisis kritis variabel context, input, process, dan product. Dengan demikian dapat diketahui capaian tujuan baik dari proses dan hasil program Prakerin mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan hasil program. Stelah itu dapat dilihat prioritas- prioritas apa yang dibutuhkan bagi perbaikan manajemen program Prakerin ke depan, baik oleh panitia Prakerin maupun kebijakan sekolah, serta institusi pasangan.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kerangka pikir seperti tabel di bawah ini:

Gambar 2.1 Kerangka Pikir CIPP

Evaluasi Program Prakerin

Perencanaan, proses dan hasil Program Prakerin

Gambar

Tabel 2.1Tabel CIPP untuk mengevaluasi praktek kerja
Gambar 2.1Kerangka Pikir CIPP

Referensi

Dokumen terkait

SMP PGRI 1 Kediri berdiri pada tahun 1987, sekolah ini merupakan sekolah yang belum mandiri pada saat itu, dimana masih berada satu tempat dengan SD Mojoroto 1, 3, dan 6. Sekolah

192 / 393 Laporan digenerate secara otomatis melalui aplikasi SSCN Pengolahan Data, © 2018 Badan

Berdasarkan hasil observasi di kelas dan wawancara dengan guru mata pelajaran maupun murid, praktikan dapat menyimpulkan bahwa: kekuatan dalam setiap mata

Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara, misalnya sebagai laporan

Konseli mampu menangkap pesan yang diterima dan memberikan respon dengan jelas yang menunjukan memperhatikan menjadi pendengar yang aktif. Jurnal harian, Teks drama

Peserta yang dinyatakan lulus Seleksi Komptensi Dasar (SKD) dan berhak mengikuti Seleksi Kompetesi Bidang (SKB) dalam Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap konsumen PusP2BTH Rawa Belong, diperoleh tingkat kepuasan konsumen (CSI) sebesar 81.87 persen yang memiliki

Untuk mengetahui apakah penggunaan faktor produksi modal, tenaga kerja, bibit dan pakan pada produksi ikan mas kolam jaring apung di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur