dilaksanakan dalam kerangka hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah.
Kedua peraturan perundang-undangan di atas secara tegas menjelaskan pelaksanaan
kebijakan pinjaman daerah dan hibah daerah merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari penyelenggaraan asas desentralisasi dan otonomi daerah. Pemberian
pinjaman dan/atau hibah oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau
sebaliknya merupakan wujud pelaksanaan hubungan keuangan antara pemerintah
pusat dan pemerintah daerah yang merupakan suatu sistem pendanaan pemerintahan
dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta pemerataan antardaerah secara
proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi,
kondisi, dan kebutuhan daerah, sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan
serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan
pengawasan keuangannya.
Selain itu, untuk melaksanakan amanat undang-undang Dasar 1945 pada Pasal 18
dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas otonomi daerah dan penyediaan pelayanan
umum, serta dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan pembangunan, pemerintah
daerah juga dapat melakukan investasi jangka pendek dan jangka panjang. Investasi
yang dilakukan harus menghasilkan manfaat ekonomis seperti bunga, dividen, royalti,
manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan
pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Terkait dengan hal tersebut,
undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 pada Pasal 24 mengatur bahwa hubungan
keuangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan perusahaan daerah,
dimana pemerintah (pusat dan daerah) dapat melakukan pemberian pinjaman, hibah,
dan/atau penyertaan modal kepada perusahaan daerah. untuk lingkup pemerintah
daerah, dananya dapat bersumber dari dana APBD murni, pendapatan hibah dan/atau
Pemerintah pusat melalui berbagai peraturan perundang-undangan antara lain
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah,
Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan uang Negara/
Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah
juga telah mengatur dan mendorong pemerintah daerah untuk dapat melakukan
kegiatan investasi daerah, seperti penyertaan modal perusahaan daerah, kerja sama
dengan pihak swasta, dan pembelian surat berharga dalam rangka meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat dan mengembangkan perekonomian daerah.
4.2. PiNjAmAN dAERAH
Pinjaman daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima
sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga
daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Pinjaman daerah
merupakan salah satu instrumen pembiayaan pembangunan daerah dalam rangka
memberikan pelayanan publik. Pinjaman daerah terjadi karena APBD mengalami
defisit. Dalam teori pengelolaan keuangan, defisit dapat direncanakan dalam rangka investasi untuk dapat mengambil manfaat dengan melakukan pinjaman dengan
prinsip memanfaatkan uang “sekarang”, yang memiliki nilai yang lebih tinggi jika
dibandingkan dengan uang “masa datang”.
Dengan prinsip tersebut di atas, maka pemerintah daerah seharusnya memiliki visi
yang jauh ke depan untuk dapat mengelola potensi yang ada agar dapat dimanfaatkan
seoptimal mungkin untuk dapat melayani masyarakat dengan baik. Namun, mengingat
pinjaman daerah mempunyai konsekuensi berupa pengembalian pinjaman yang
akan terjadi pada masa yang akan datang dan adanya risiko pinjaman berupa risiko
kesinambungan fiskal, risiko perubahan tingkat suku bunga, risiko pembiayaan kembali, risiko operasional, dan risiko perubahan nilai tukar, maka pengelolaan
pinjaman daerah harus dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian
Bab ini menjelaskan ketentuan perundang-undangan yang terkait dengan pinjaman
daerah, sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah,
Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah, Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.010/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman
Daerah dari Pemerintah yang Dananya bersumber dari Pinjaman luar Negeri,
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan,
Pertanggungjawaban, dan Publikasi Informasi obligasi Daerah, Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 138/PMK.07/2009 tentang Batas Maksimal Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan Belanja Daerah masing-masing Daerah, dan Batas Maksimal Kumulatif
Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2010, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
129/PMK.07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Sanksi Pemotongan Dana Alokasi
umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya Dengan Pinjaman Daerah Dari
Pemerintah Pusat.
4.2.1. PERENCANAAN PiNjAmAN dAERAH
Pemerintah daerah melakukan pinjaman daerah jangka menengah dan panjang
sebagai alternatif pembiayaan untuk menutup defisit APBD yang bersangkutan. Dalam hal pemerintah daerah merencanakan untuk melakukan pinjaman jangka menengah
dan panjang, maka tahapan yang dilakukan dalam proses perencanaan adalah sebagai
berikut:
1) Pemerintah daerah menetapkan jumlah defisit APBD sepanjang memenuhi persyaratan batas maksimal defisit APBD masing-masing daerah setiap tahunnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap bulan Agustus untuk tahun anggaran
masing-masing Daerah, dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran
2009, diatur sebagai berikut:
a. Batas maksimal jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD untuk Tahun Anggaran 2009 ditetapkan sebesar 2,25% (dua koma dua puluh lima persen)
dari proyeksi PDB yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun Anggaran
2009;
b. Batas maksimal jumlah kumulatif Defisit APBD untuk Tahun Anggaran 2009 ditetapkan sebesar 0,35% (nol koma tiga puluh lima persen) dari proyeksi
PDB yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun Anggaran 2009;
c. Batas maksimal Defisit APBD masing-masing daerah ditetapkan sebesar 3,5% (tiga koma lima persen) dari perkiraan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran
2009;
d. Batas maksimal Defisit APBD masing-masing daerah sebagaimana dimaksud pada butir c adalah defisit yang dibiayai dari pinjaman;
e. Defisit APBD suatu daerah dapat melebihi batas maksimal sebagaimana dimaksud pada butir c, setelah mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan
dengan pertimbangan Menteri Dalam Negeri;
f. Persetujuan Menteri Keuangan dimaksud pada butir e, didasarkan pada
ketentuan sebagai berikut :
Batas maksimal kumulatif defisit APBD sebagaimana dimaksud dalam butir b tidak terlampaui; dan
Pinjaman yang dipergunakan untuk membiayai defisit APBD dilaksanakan sesuai dengan persyaratan peraturan perundang-undangan mengenai
pinjaman daerah.
g. Batas maksimal kumulatif pinjaman daerah sampai dengan Tahun Anggaran
2009 ditetapkan sebesar 0,35% (nol koma tiga puluh lima persen) dari
proyeksi PDB tahun 2009 yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun
Anggaran 2009; –
h. Besaran jumlah pinjaman masing-masing daerah disesuaikan dengan
kemampuan keuangan daerah dan setelah memenuhi persyaratan pinjaman
daerah;
2) Penentuan jenis pembiayaan untuk menutup defisit APBD. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, defisit APBD dapat ditutup dengan sumber-sumber pembiayaan sebagai berikut:
a. Sisa lebih Perhitungan Anggaran (SilPA) daerah tahun anggaran sebelumnya,
mencakup sisa dana untuk mendanai kegiatan lanjutan, uang pihak ketiga
yang belum diselesaikan, dan pelampauan target pendapatan daerah;
b. Pencairan dana cadangan;
c. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, dapat berupa hasil
penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak
ketiga, atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah;
d. Penerimaan pinjaman, termasuk penerbitan obligasi daerah yang akan
direalisasikan pada tahun anggaran yang bersangkutan; dan/atau
e. Penerimaan kembali pemberian pinjaman.
3) Dalam hal pemerintah daerah memutuskan untuk melakukan pinjaman daerah untuk menutup Defisit APBD, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah meneliti pemenuhan persyaratan untuk dapat melakukan pinjaman daerah, yang
akan dijelaskan lebih rinci pada bagian tentang persyaratan pinjaman daerah dalam
Bab ini.
4) langkah selanjutnya dari perencanaan pinjaman daerah adalah penentuan jenis
dan sumber pinjaman daerah yang akan dilakukan, yang akan dijelaskan lebih
terinci pada bagian tentang sumber dan jenis pinjaman daerah dalam Bab ini.
Secara umum proses perencanaan pembiayaan daerah dilakukan sesuai bagan alur
gambar 4.1
Proses Perencanaan Pinjaman Daerah
4.2.2. sUmbER PiNjAmAN
Alternatif sumber-sumber pinjaman yang dapat dipilih oleh pemerintah daerah,
adalah sebagai berikut:
1) Pemerintah yang dananya berasal dari pendapatan APBN dan/atau pengadaan
pinjaman Pemerintah dari dalam maupun luar negeri;
2) Pemerintah daerah lain;
3) lembaga Keuangan Bank yang berbadan Hukum Indonesia dan mempunyai tempat
kedudukan dalam wilayah negara Indonesia;
4) lembaga Keuangan Bukan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan mempunyai
5) Masyarakat, yaitu berupa obligasi Daerah yang diterbitkan melalui penawaran
umum kepada masyarakat di pasar modal dalam negeri.
4.2.3. jENis PiNjAmAN dAERAH
Berdasarkan waktunya, pinjaman daerah dapat dikategorikan dalam pinjaman jangka
pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Secara detail, penjelasan setiap jenis
pinjaman tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut:
1) Pinjaman jangka Pendek
Pinjaman jangka pendek merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu kurang
atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman
yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain (termasuk biaya administrasi,
komitmen, provisi, asuransi, dan denda) seluruhnya harus dilunasi dalam tahun
anggaran yang bersangkutan. Pinjaman jangka pendek tidak termasuk kredit jangka
pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan, misalnya pelunasan kewajiban atas
pengadaan/pembelian barang dan/atau jasa tidak dilakukan pada saat barang dan/
atau jasa dimaksud diterima. Pinjaman jangka pendek dipergunakan hanya untuk
menutup kekurangan arus kas.
2) Pinjaman jangka menengah
Pinjaman jangka menengah merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih
dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi
pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain (termasuk biaya administrasi, komitmen,
provisi, asuransi, dan denda) harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi
sisa masa jabatan Kepala Daerah yang bersangkutan. Pinjaman jangka menengah
dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tidak menghasilkan
3) Pinjaman jangka Panjang
Pinjaman jangka panjang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari
satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi
pokok pinjaman, bunga, dan biaya lain (seperti: biaya administrasi, komitmen, provisi,
asuransi, dan denda) harus dilunasi pada tahun-tahun berikutnya sesuai dengan
persyaratan perjanjian pinjaman yang bersangkutan. Pinjaman jangka panjang
dipergunakan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan.
4.2.4. PRiNsiP-PRiNsiP UmUm PiNjAmAN dAERAH
Pinjaman Daerah adalah salah satu sumber pembiayaan daerah dalam pelaksanaan
desentralisasi. Pinjaman daerah dapat dilaksanakan dengan berpedoman pada
prinsip-prinsip umum sebagai berikut:
1) Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri kecuali
dalam hal pinjaman langsung kepada pihak luar negeri yang terjadi karena kegiatan
transaksi obligasi Daerah di Pasar Modal Domestik.
2) Pemda tidak dapat melakukan penjaminan terhadap pinjaman pihak lain.
3) Pendapatan Daerah dan/atau aset daerah tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman
daerah.
4) Proyek yang dibiayai dari obligasi Daerah beserta barang milik daerah yang melekat
dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan obligasi Daerah.
5) Tidak melebihi Batas Defisit APBD dan Batas Kumulatif Pinjaman Daerah yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku (untuk Tahun
Anggaran 2009 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 123/PMK.07/2008).
4.2.5. PERsYARATAN PiNjAmAN
Persyaratan pinjaman secara garis besar dapat dibagi berdasarkan jenis pinjaman
1) Pinjaman jangka Pendek
Persyaratan yang dipenuhi bagi pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman jangka
pendek adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan yang akan dibiayai dari pinjaman jangka pendek telah dianggarkan dalam
APBD tahun bersangkutan;
b. Kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan kegiatan yang bersifat
mendesak dan tidak dapat ditunda;
c. Persyaratan lainnya yang dipersyaratkan oleh calon pemberi pinjaman.
2) Pinjaman jangka menengah dan jangka Panjang
Persyaratan bagi Pemerintah Daerah untuk dapat melakukan pinjaman jangka
menengah dan panjang adalah sebagai berikut:
a. Jumlah sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak
melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD
tahun sebelumnya, dengan rumus sebagai berikut:
jml. Pinjaman < 75% Penerimaan Umum TA. sebelumnya
Keterangan:
Jumlah sisa Pinjaman Daerah adalah jumlah pinjaman lama yang belum
dibayar;
Jumlah pinjaman yang akan ditarik adalah rencana pencairan dana pinjaman
tahun yang bersangkutan;
Penerimaan umum APBD tahun sebelumnya adalah seluruh penerimaan APBD
tidak termasuk Dana Alokasi Khusus, Dana Darurat, dana pinjaman lama, dan
penerimaan lain yang kegunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran
tertentu.
b. Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman
(Debt Service Coverage Ratio/DSCR) paling sedikit 2,5 (dua koma lima), dengan
rumus sebagai berikut: •
•
dsCR = (PAd + (dbH-dbHdR) + dAU) – bW > 2,5 P + b + bl
Keterangan:
DSCR = Debt Service Coverage Ratio;
PAD = Pendapatan Asli Daerah;
DBH = Dana Bagi Hasil;
DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi;
DAu = Dana Alokasi umum;
BW = Belanja Wajib, yaitu belanja pegawai dan belanja DPRD dalam tahun
anggaran bersangkutan;
P = Angsuran pokok pinjaman yang jatuh tempo pada tahun anggaran
bersangkutan;
B = Bunga pinjaman yang jatuh tempo pada tahun anggaran bersangkutan;
Bl = Biaya lainnya (biaya administrasi, komitmen, provisi, asuransi, dan
denda) yang jatuh tempo pada tahun anggaran bersangkutan
c. Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman; dan
d. Mendapatkan persetujuan dari DPRD. Persetujuan DPRD termasuk dalam hal
pinjaman tersebut diteruspinjamkan dan/atau diteruskan sebagai penyertaan
modal kepada Badan usaha Milik Daerah (BuMD).
4.2.6. PROsEdUR PiNjAmAN dAERAH
Prosedur pinjaman daerah dapat dibedakan berdasarkan sumbernya, yaitu:
1. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang dananya bersumber dari Pinjaman luar
Negeri.
2. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang dananya bersumber selain dari Pinjaman
3. Pinjaman Daerah dari sumber Selain Pemerintah baik pinjaman jangka pendek
maupun pinjaman jangka panjang. Pinjaman ini dapat dilakukan sepanjang tidak
melampaui batas kumulatif Pinjaman Pemerintah dan Pemda.
4.2.6.1. Pinjaman Daerah Dari Pemerintah yang Dananya
berSumber Dari Pinjaman luar negeri
Saat ini prosedur yang berlaku untuk pemerintah daerah melakukan pinjaman daerah
yang bersumber dari Pemerintah yang dananya berasal dari penerusan pinjaman luar
negeri mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah No. 54/2005 tentang
Pinjaman Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 2/2006 tentang Tata Cara Pengadaan
Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar
Negeri. Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari kedua Peraturan Pemerintah di atas,
Pemerintah telah menetapkan paket peraturan setingkat menteri, yaitu: Peraturan
Menteri PPN/Kepala Bappenas No. 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan
Pengajuan usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau
Hibah luar Negeri yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan
Pinjaman/Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat; dan Peraturan Menteri Keuangan
No. 53/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang
Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang mengatur proses lebih lanjut
penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam
bentuk pinjaman.
4.2.6.1.1. Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri oleh
Pemerintah Pusat
Prosedur penerusan pinjaman luar negeri dimulai dengan prosedur pengadaan
Pinjaman luar Negeri oleh Pemerintah Pusat yang diatur dalam Peraturan Pemerintah
No. 2/2006 dan Peraturan Menteri PPN/Bappenas No. 005/2006, dengan proses yang
1. Meneg PPN/Kepala Bappenas bersama Menteri Keuangan membuat Rancangan
Rencana Kebutuhan Pinjaman luar Negeri (RKPlN), untuk selanjutnya disampaikan
kepada Presiden untuk mendapatkan penetapan dalam bentuk Peraturan Presiden.
Rencana Kebutuhan Pinjaman luar Negeri adalah rencana pengadaan pinjaman
luar negeri dan strateginya dalam rangka pengelolaan keuangan yang memegang
prinsip kehati-hatian. RKPlN disebutnya juga dengan istilah borrowing strategy, yang ditujukan untuk menghilangkan dominasi pemberi pinjaman (lender driven) dalam perencanaan pinjaman yang selama ini terjadi menuju Indonesian driven.
2. Berdasarkan RKPlN yang telah disusun, Kementerian Negara/lembaga, pemerintah
daerah, dan BuMN menyampaikan usulan proyek untuk masuk ke dalam Daftar
Rencana Pinjaman/Hibah luar Negeri Jangka Menengah (DRPHlN-JM). usulan
Kegiatan yang disampaikan berisi:
a. Daftar Isian Pengusulan Kegiatan;
b. Kerangka Acuan Kerja;
c. Hasil Studi Kelayakan;
d. Surat persetujuan pemerintah daerah dan DPRD yang bersangkutan untuk
usulan Pemda dan/atau Surat persetujuan Direksi BuMN dan Menteri BuMN,
untuk usulan BuMN.
3). Dalam rangka penyusunan DRPHlN-JM, Meneg PPN/Kepala Bappenas menilai
kelayakan kegiatan, berkoordinasi dengan Menkeu. Dalam penilaian atas usulan
kegiatan pemerintah daerah, Kementerian PPN/Bappenas akan melakukan
sinkronisasi pendanaan bersama Departemen Keuangan.
4). DRPHlN-JM yang telah disusun disampaikan kepada calon PHlN sebagai acuan
untuk membuat lending Program.
5). Kegiatan-kegiatan yang tercantum dalam DRPHlN-JM diproses lebih lanjut untuk
meningkatkan kesiapan pelaksanaan kegiatan, untuk selanjutnya kegiatan yang
telah memenuhi kelayakan kesiapan kegiatan (readiness criteria) akan dicantumkan dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman/Hibah luar Negeri (DRPPHlN) yang
6). Dalam rangka menyusun DRPPHlN, Meneg PPN/Kepala Bappenas meminta
informasi kemampuan keuangan Pemda/BuMN untuk kegiatan PlN yang akan
diteruskan kepada Pemda/BuMN. Berdasarkan permintaan dari Meneg PPN/Kepala
Bappenas, Menteri Keuangan menyampaikan masukan berupa indikasi kemampuan
keuangan Pemda dan BuMN untuk kegiatan PlN yang akan diteruskan.
7). Berdasarkan DRPPHlN, calon PPHlN menyampaikan indikasi komitmen pendanaan
kepada Meneg PPN/Kepala Bappenas serta Menkeu untuk selanjutnya Meneg PPN/
Kepala Bappenas menyusun Daftar Kegiatan, dan Menkeu melakukan penilaian
atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan pinjaman untuk menetapkan
alokasi pinjaman. Berdasarkan Daftar Kegiatan yang disampaikan oleh Meneg PPN/
Kepala Bappenas serta penilaian atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan
pinjaman, Menkeu menetapkan alokasi pinjaman.
8). Berdasarkan Daftar Kegiatan yang telah disusun oleh Meneg PPN/Kepala Bappenas,
Kementerian Negara/lembaga/Pemda/BuMN pengusul melaksanakan persiapan pinjaman serta melakukan konfirmasi penerusan pinjaman dengan menyampaikan usulan kegiatan kepada Menkeu untuk menetapkan alokasi pinjaman. Berdasarkan
penetapan alokasi pinjaman, Menkeu mengajukan usulan kepada calon PPHlN
untuk mendapatkan komitmen pendanaan.
Berdasarkan uraian di atas, maka prosedur pengadaan Pinjaman/Hibah luar
Negeri termasuk yang akan diteruskan kepada pemerintah daerah/BuMN, adalah
gambar 4.2
Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri
4.2.6.1.2. Prosedur Penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah
kepada Pemerintah daerah dalam bentuk Pinjaman
Prosedur penerusan Pinjaman luar Negeri kepada daerah dalam bentuk pinjaman
yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 53/2006 merupakan proses yang
terkait dengan prosedur pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri, dengan proses yang
lebih terinci sebagai berikut:
1. Prosesnya dimulai setelah daftar kegiatan disampaikan dari Meneg PPN/
Kepala Bappenas kepada Menteri Keuangan. Berdasarkan Daftar Kegiatan,
Menteri Keuangan akan menyampaikan surat kepada pemerintah daerah agar
menyampaikan rencana pinjaman kepada Menteri Keuangan, dengan melampirkan
dokumen rencana pinjaman yang terdiri dari:
b. Rencana Kegiatan Rinci;
c. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tiga tahun
terakhir;
d. APBD tahun bersangkutan;
e. Perhitungan proyeksi APBD selama jangka waktu pinjaman termasuk
perhitungan DSCR yang mencerminkan kemampuan daerah dalam memenuhi
kewajiban pembayaran kembali pinjaman (proyeksi DSCR) serta asumsi yang
digunakan selama jangka waktu pinjaman yang akan diusulkan;
f. Rencana Pembiayaan Kegiatan (financing plan) secara keseluruhan;
g. Surat persetujuan DPRD berupa persetujuan prinsip yang diberikan oleh
komisi di DPRD yang menangani bidang keuangan;
h. Data kewajiban yang masih harus dibayar setiap tahunnya dari pinjaman yang
telah dilakukan; dan
i. Surat Pernyataan Pemerintah Daerah, yang berisi tentang:
(i) Tidak memiliki tunggakan atas pinjaman yang sedang berjalan;
(ii) Menyediakan dana pendamping;
(iii) Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman tersebut
dalam APBD setiap tahun selama masa pinjaman; dan
(iv) Dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil untuk
pembayaran angsuran pinjaman yang tertunggak.
2. Berdasarkan dokumen rencana pinjaman yang telah disampaikan, Menteri
Keuangan akan melakukan penelitian kelengkapan dokumen rencana pinjaman dan
penilaian atas dokumen rencana pinjaman.
3. Dalam rangka penilaian kelengkapan dokumen rencana pinjaman, Menteri
Keuangan akan memberikan jawaban atas kekurangan atau telah terpenuhinya
kelengkapan dokumen. Penilaian kelengkapan dokumen rencana pinjaman
dilakukan selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya
4. Dalam rangka melaksanakan penilaian tersebut, Menteri Keuangan meminta
pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri atas rencana pinjaman untuk
aspek-aspek diluar perencanaan dan keuangan, yang meliputi aspek politik dan
administrasi pemerintah daerah. Pertimbangan Menteri Dalam Negeri diberikan
selambat-lambatnya dalam 10 (sepuluh) hari kerja setelah diterimanya dokumen
rencana pinjaman yang dinyatakan lengkap.
5. Dalam hal pertimbangan Mendagri tidak diberikan dalam batas waktu yang telah
ditentukan, maka rencana pinjaman dapat diproses lebih lanjut tanpa menunggu
pertimbangan Mendagri. Penilaian oleh Menteri Keuangan dilakukan
selambat-lambatnya 40 (empat puluh) hari kerja setelah dokumen rencana pinjaman diterima
secara lengkap.
6. Berdasarkan hasil penilaian, Menteri Keuangan menetapkan persetujuan atau
penolakan atas rencana pinjaman. Dalam hal Menteri Keuangan menetapkan
penolakan atas rencana pinjaman, Menteri Keuangan menyampaikan surat
kepada pemerintah daerah pengusul. Berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan,
selanjutnya dilakukan koordinasi dengan calon Pemberi Pinjaman luar Negeri
(PPlN) untuk mendapatkan komitmen pendanaan.
7. Berdasarkan komitmen pendanaan dari calon PPlN, Menteri Keuangan menerbitkan
Daftar Rencana Pinjaman Daerah (DRPD) untuk disampaikan kepada Pemerintah
Daerah pengusul. Berdasarkan DRPD, pemerintah daerah menyampaikan Surat
Keputusan DPRD tentang persetujuan Pinjaman yang dihasilkan dari rapat
paripurna DPRD kepada Menteri Keuangan, yang memuat hal-hal sebagai berikut:
a. Plafond pinjaman;
b. Jangka waktu pinjaman;
c. Bunga pinjaman;
d. Biaya komitmen;
e. Menyediakan dana pendamping;
f. Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman tersebut dalam
g. Kesediaan dipotong DAu dan/atau DBH untuk pembayaran angsuran pinjaman
yang tertunggak.
8. Perundingan dengan calon PPlN dilakukan setelah diterbitkannya DRPD dan
pemerintah daerah memenuhi kriteria kesiapan kegiatan, yang mencakup:
a. Kesiapan indikator kinerja monitoring dan evaluasi, seperti data dasar;
b. Alokasi Dana Pendamping untuk pelaksanaan kegiatan tahun pertama dalam
APBD;
c. Pengadaan tanah dan/atau resettlement telah dilaksanakan;
d. Pembentukan dan penempatan personalia unit Manajemen Proyek (Project
Management unit/PMu) dan unit Pelaksana Proyek (Project Implementation
unit/PIu); dan
e. Kesiapan konsep pengelolaan proyek/petunjuk pengelolaan/administrasi
proyek/memorandum (yang berisi cakupan organisasi dan kerangka acuan
kerjanya, dan pengaturan tentang pengadaan, anggaran, disbursement,
laboran, dan auditing).
9. Perundingan dilakulkan oleh Tim Perunding yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan yang keanggotaannya terdiri atas unsur-unsur Departemen Keuangan,
Kementerian PPN/Bappenas, dan instansi terkait lainnya, termasuk pemerintah
daerah pengusul. Hasil perundingan akan menjadi acuan dalam Naskah Perjanjian
Pinjaman luar Negeri (NPPlN).
10. NPPlN ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi kuasa
dengan PPlN. Berdasarkan NPPlN yang telah ditandatangani, selambat-lambatnya
dalam 40 (empat puluh) hari kerja Menteri Keuangan menerbitkan surat
persetujuan pinjaman yang memuat:
a. Jumlah;
b. Peruntukan; dan
gambar 4.3
Proses Pelaksanaan Penerusan PlN Kepada Pemda (on-lending)
11. Persyaratan pinjaman dalam NPPlN menjadi acuan dalam menetapkan
persyaratan pinjaman dalam Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman (NPPP). NPPP
ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi kuasa dengan
Kepala Daerah, memuat sekurang-kurangnya hal-hal sebagai berikut:
a. sumber dan jumlah dana;
b. peruntukan;
c. persyaratan pinjaman;
d. penarikan dana;
e. penggunaan dana;
f. pembayaran kembali;
g. monitoring dan evaluasi;
i. sanksi.
12. Berdasarkan NPPP, pemerintah daerah melaksanakan proses penarikan pinjaman
serta pelaksanaan kegiatan.
Prosedur penerusan Pinjaman luar Negeri kepada pemerintah daerah dalam
bentuk Pinjaman secara sitematis dapat digambarkan sebagaimana Gambar 4.3.
4.2.6.2. PrOSeDur Pinjaman Daerah Dari Pemerintah yang
Dananya beraSal Dari PenDaPatan Dalam negeri
Prosedur pinjaman daerah dari Pemerintah yang dananya berasal dari Pendapatan
Dalam Negeri saat ini dikelola oleh Menteri Keuangan melalui Rekening Pembangunan
Daerah. Prosedur pinjaman daerah tersebut secara sistematis dapat ditunjukkan pada
Gambar 4.4 berikut ini:
gambar 4.4
Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber dari Pemerintah
Dari Gambar 4.4, prosedur pinjaman daerah dari Pemerintah yang dananya berasal
dari pendapatan dalam negeri harus melewati tahapan antara lain sebagai berikut:
1. Pemerintah Daerah mengajukan usulan pinjaman daerah kepada Menteri Keuangan
dengan melampirkan dokumen sekurang-kurangnya sebagai berikut:
a. Persetujuan DPRD;
c. Dokumen lain yang diperlukan.
2. Menteri Keuangan melakukan penilaian atas usulan pinjaman yang telah
disampaikan;
3. Berdasarkan hasil penilaian, Menteri Keuangan dapat memberikan persetujuan
atau penolakan atas usulan pinjaman;
4. Berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan, Kepala Daerah dengan Menteri
Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menandatangani perjanjian pinjaman.
4.2.6.3. PrOSeDur Pinjaman Daerah Dari Selain
Pemerintah
Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari Selain Pemerintah secara garis
besar terbagi dua, yang dibedakan menurut lamanya masa pinjaman, yaitu prosedur
pinjaman jangka pendek serta prosedur pinjaman jangka menengah dan panjang.
Penjelasan secara detil adalah sebagai berikut:
1. Pinjaman jangka pendek:
a. Pemda mengajukan proposal kepada calon pemberi pinjaman
b. Calon pemberi pinjaman memberikan penilaian terhadap proposal tersebut
c. Jika disetujui, pinjaman daerah jangka pendek dilakukan melalui perjanjian
pinjaman yang ditandatangani oleh Kepala Daerah dan Pemberi pinjaman
dengan memperhatikan persyaratan yang paling menguntungkan Pemda
penerima pinjaman.
2. Pinjaman jangka menengah dan panjang.
Prosedur pinjaman jangka menengah dan panjang yang bersumber dari selain
gambar 4.5
Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber Selain dari Pemerintah
Tahapan dari prosedur sesuai dengan gambar 4.5 di atas adalah sebagai berikut:
1. Pemda wajib melaporkan rencana pinjaman yang bersumber dari selain Pemerintah
kepada Menteri Dalam Negeri dengan menyampaikan sekurang-kurangnya
dokumen:
Kerangka acuan proyek;
APBD tahun yang bersangkutan;
Proyeksi DSCR;
Rencana Keuangan (Financing Plan) pinjaman yang akan diusulkan; dan
Surat Persetujuan DPRD.
2. Menteri Dalam Negeri memberikan pertimbangan dalam rangka pemantauan defisit APBD dan batas kumulatif pinjaman daerah.
3. Dalam hal defisit APBD suatu daerah melebihi batas maksimal defisit APBD masing-masing daerah, maka terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan Menteri
Keuangan.
4. Pemda mengajukan proposal pinjaman berdasarkan pertimbangan Menteri Dalam
Negeri tersebut.
5. Calon pemberi pinjaman melakukan penilaian terhadap proposal tersebut. •
•
•
•
6. Jika disetujui, pinjaman daerah dilakukan melalui perjanjian pinjaman yang
ditandatangani oleh Kepala Daerah dan pemberi pinjaman.
7. Perjanjian pinjaman tersebut wajib dilaporkan ke Menteri Keuangan dan Menteri
Dalam Negeri.
Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari selain Pemerintah di atas, tidak
berlaku untuk pinjaman daerah yang bersumber dari masyarakat dalam bentuk
obligasi Daerah. Prosedur obligasi Daerah diatur dengan mekanisme tersendiri dan
akan dijelaskan dalam bagian lain dalam Bab ini.
4.2.7. PEmbAYARAN KEmbAli PiNjAmAN
Pengaturan tentang pembayaran kembali pinjaman daerah diatur sebagai berikut:
1. Seluruh kewajiban pinjaman daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam
APBD tahun anggaran yang bersangkutan;
2. Dalam hal daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada
Pemerintah, kewajiban membayar pinjaman tersebut diperhitungkan dengan
DAu dan/atau Dana Bagi Hasil dari penerimaan negara yang menjadi hak daerah
tersebut.
4.2.8. ObliGAsi dAERAH
Dalam undang-undang No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah No.54/2005
tentang Pinjaman Daerah, obligasi Daerah diartikan sebagai pinjaman daerah yang
ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. Terdapat dua
unsur utama yang perlu diperhatikan khusus dalam kaitannya dengan obligasi
Daerah. unsur yang pertama adalah, berkaitan dengan kapasitas Pemerintah Daerah
dalam menerbitkan Obligasi Daerah. Untuk melindungi fiskal daerah, pemerintah
daerah yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus terlebih dahulu mendapatkan
membiayai proyek-proyek yang dapat memberikan manfaat kepada publik dan
menghasilkan penerimaan. Pada prinsipnya, diharapkan pendapatan yang didapat
dari proyek yang dibiayai obligasi Daerah dapat menutup pokok dan bunga yang harus
dibayarkan pada saat jatuh tempo. oleh karena itu, perlu diadakan langkah-langkah
penilaian atas proyek yang akan dibiayai tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melihat
kemungkinan apakah komponen-komponen dari proyek yang dimaksud di sini telah
layak sehingga benar-benar dapat menghasilkan penerimaan.
unsur yang kedua adalah mengenai penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal.
Dalam prakteknya obligasi Daerah dianggap sebagai efek yang bersifat utang. Jika
obligasi Daerah telah diterbitkan dan telah dinyatakan efektif oleh Badan Pengawas
Pasar Modal lembaga Keuangan (Bapepam-lK), maka obligasi Daerah telah siap
untuk diperjualbelikan di pasar modal. Transaksi jual beli obligasi Daerah mengikuti
mekanisme di pasar modal. Berkaitan dengan hal ini, prosedur yang perlu diikuti
telah diatur sedemikian rupa melalui berbagai Keputusan Kepala Bapepam-lK dan
peraturan pasar modal lainnya. Pihak yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus
memenuhi prinsip keterbukaan di pasar modal. Prinsip keterbukaan dimaksudkan
untuk memberikan informasi lengkap mengenai prospek obligasi Daerah untuk
menarik minat investor.
obligasi Daerah merupakan efek yang bersifat utang, dimana penerbit obligasi
(emiten) memiliki utang terhadap pemegang obligasi dan emiten berkewajiban untuk
membayar pokok obligasi beserta bunganya pada waktu yang telah ditetapkan dalam
perjanjian pemberian obligasi Daerah. Jangka waktu obligasi Daerah lebih dari 1
(satu) tahun.
obligasi Daerah dikeluarkan oleh pemerintah daerah (pemerintah daerah provinsi,
pemerintah daerah kabupaten, dan pemerintah daerah kota) untuk mendapatkan
dana investasi. obligasi Daerah ini diterbitkan dalam mata uang rupiah, bukan dalam
Secara khusus, obligasi memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan pinjaman.
Pinjaman diberikan oleh pemberi pinjaman kepada penerima pinjaman, dimana
biasanya pemberi pinjaman adalah bank. Peminjam membayar kembali pokok
dan bunga pinjaman kepada yang meminjamkan sampai batas waktu pinjaman.
Pembayaran biasanya dilakukan 2 kali dalam setahun, dimana suku bunganya biasanya
dapat disesuaikan. Pokok pinjaman dapat dibayarkan pada jumlah yang sama, dengan
bunga yang terhutang pada neraca pinjaman. Kadangkala, pokok dan bunga pinjaman
dibayarkan pada jumlah yang sama.
obligasi juga merupakan pinjaman, tetapi diberikan dalam bentuk surat berharga.
Dalam obligasi, si peminjam menjadi emiten dan pemberi pinjaman menjadi
pemegang obligasi. Suku bunga biasanya sudah ditentukan. Kebanyakan obligasi
adalah semi-tahunan, yang artinya bunga dibayarkan 2 (dua) kali dalam setahun
pada pokok obligasi. Pokok obligasi itu sendiri dibayarkan dalam bentuk pembayaran
tunggal pada akhir jangka waktu yang telah ditentukan. oleh karena itu, jumlah bunga
yang telah dibayarkan adalah sama dalam tiap tahunnya sampai pembayaran pokok
obligasi lunas.
obligasi merupakan surat utang yang dikeluarkan oleh emiten sehingga pemegang
obligasi adalah pemberi pinjaman kepada emiten. obligasi memiliki jangka waktu
yang pasti, dimana pada saat itu obligasi dibayarkan kembali. Pada akhir jangka waktu,
obligasi dilunasi sesuai dengan nilai nominalnya.
Dengan menerbitkan obligasi Daerah, pemerintah daerah akan mendapatkan banyak
manfaat. Diantaranya, pemerintah daerah dapat memperoleh pembiayaan bagi
proyek yang memberikan manfaat kepada publik, khususnya untuk
proyek-proyek infrastruktur. Mekanisme yang ada di pasar modal memungkinkan lebih
banyak pihak yang terlibat untuk memberikan pinjaman dalam bentuk obligasi karena
untuk mendapatkan pinjaman dari investor asing, mengingat pinjaman langsung luar
negeri bukan melalui obligasi Daerah tidak diperkenankan bagi pemerintah daerah.
Namun demikian, untuk menarik minat para investor agar membeli obligasi Daerah
yang ditawarkan di pasar modal, pemerintah daerah harus benar-benar memberikan
kepastian bahwa obligasi tersebut akan dibayarkan kembali pada saat jatuh tempo.
Mengingat bahwa obligasi Daerah dipergunakan untuk proyek yang memberikan
manfaat kepada publik dan menghasilkan penerimaan, maka proyek tersebut harus
benar-benar matang dan layak. oleh karena itu, dalam tahapan sebelum mendapat
persetujuan dari menteri keuangan, Studi Kelayakan harus dibuat oleh lembaga penilai
yang terdaftar di Bapepam-lK sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
4.2.8.1. PrinSiP umum
Prinsip umum mengenai penerbitan obligasi Daerah, yang telah diatur dalam
peraturan perundangan-undangan, antara lain sebagai berikut:
1. Penerbitan obligasi Daerah hanya dapat dilakukan di pasar modal domestik dan
dalam mata uang Rupiah;
2. obligasi Daerah merupakan pinjaman pemerintah daerah dan tidak dijamin oleh
Pemerintah;
3. Pemerintah daerah dapat menerbitkan obligasi Daerah hanya untuk membiayai
Kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan
manfaat bagi masyarakat yang menjadi urusan pemerintah daerah. Dengan
ketentuan tersebut, maka obligasi Daerah yang diterbitkan pemerintah daerah
hanya jenis obligasi Pendapatan (Revenue Bond);
4. Nilai obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai nominal obligasi
Daerah pada saat diterbitkan. Dengan ketentuan ini maka pemerintah daerah
dilarang menerbitkan obligasi Daerah dengan jenis index bond yaitu obligasi
Daerah yang nilai jatuh temponya dinilai dengan index tertentu dari nilai nominal,
misalnya dengan kurs dollar atau harga emas;
5. Pengaturan lebih lanjut mengenai penerbitan obligasi Daerah di Pasar Modal
4.2.8.2. PrOSeDur Penerbitan
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.07/2006
tentang Tatacara Penerbitan, Pertanggungjawaban dan Publikasi Informasi obligasi
Daerah, diatur lebih lanjut tentang perencanaan, pengajuan usulan dan persetujuan
serta pernyataan pendaftaran umum.
Secara garis besar prosedur penerbitan obligasi Daerah dapat dibagi berdasarkan
prosedur:
a) perencanaan obligasi Daerah oleh pemerintah daerah;
b) pengajuan, penilaian, dan persetujuan Menteri Keuangan;
c) pengajuan penyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum di Pasar
Modal.
Prosedur penerbitan obligasi Daerah, secara sistematis dapat dilihat dalam gambar
4.6.
gambar 4.6.
4.2.8.2.1. Perencanaan Obligasi daerah oleh Pemerintah daerah
1. Kepala Daerah melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ditunjuk
melakukan persiapan penerbitan obligasi Daerah yang sekurang-kurangya meliputi
hal-hal sebagai berikut:
a. menentukan kegiatan;
b. membuat kerangka acuan kegiatan;
c. menyiapkan studi kelayakan yang dibuat oleh pihak yang independen dan
kompeten;
d. memantau batas kumulatif pinjaman serta posisi kumulatif pinjaman
daerahnya;
e. membuat proyeksi keuangan dan perhitungan kemampuan pembayaran
kembali obligasi Daerah;
f. mengajukan permohonan persetujuan prinsip kepada DPRD.
2. Persetujuan prinsip DPRD meliputi:
a. nilai bersih maksimal obligasi Daerah;
b. jumlah dan nilai nominal obligasi yang akan diterbitkan;
c. penggunaan dana; dan
d. pembayaran pokok, kupon, dan biaya lainnya yang timbul sebagai akibat
penerbitan obligasi.
Secara sistematis prosedur persiapan penerbitan obligasi Daerah oleh pemerintah
daerah dapat digambarkan dalam Gambar 4.7 berikut ini:
4.2.8.2.2. Pengajuan Usulan, Penilaian dan Persetujuan menteri
Keuangan
1. Kepala Daerah menyampaikan usulan penerbitan obligasi Daerah kepada Menteri
Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan dilengkapi
dokumen sebagai berikut:
gambar 4.7
Persiapan Penerbitan obligasi Daerah di Daerah
b. Kerangka acuan kegiatan;
c. Perda APBD tahun yang bersangkutan dan Perda Perhitungan APBD 3 (tiga)
tahun terakhir;
d. Perhitungan DSCR; dan
e. Surat persetujuan prinsip DPRD.
2. Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan
penilaian atas dokumen rencana penerbitan obligasi Daerah selambat-lambatnya
dalam waktu 20 (dua puluh) hari kerja setelah dokumen rencana penerbitan
obligasi Daerah dinyatakan lengkap.
3. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, Menteri Keuangan memberikan persetujuan/
penolakan atas rencana penerbitan obligasi Daerah dengan memperhatikan
4. Berdasarkan persetujuan Menteri Keuangan, Kepala Daerah menyampaikan
pernyataan pendaftaran penawaran umum kepada Bapepam-lK.
Prosedur pengajuan, penilaian, dan persetujuan Menteri Keuangan sebagaimana telah
diuraikan di atas, dapat digambarkan dalam bagan alur pada Gambar 4.8 berikut ini:
gambar 4.8
Pengajuan, Penilaian dan Persetujuan
Penerbitan obligasi Daerah oleh Menkeu
4.2.8.2.3. Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran
Umum di Pasar modal
Dalam rangka pelaksanaan penawaran umum obligasi Daerah di Pasar Modal, sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal, pemerintah
daerah harus menyampaikan pernyataan pendaftaran dengan melengkapi dokumen
wajib menyampaikan Perda tentang Penerbitan obligasi Daerah kepada Bapepam-lK
sebelum pernyataan efektif obligasi Daerah. Perda tentang Penerbitan obligasi Daerah
memuat ketentuan mengenai:
1. jumlah;
2. nilai nominal;
3. penggunaan dana obligasi Daerah;
4. Dalam hal obligasi Daerah akan diterbitkan dalam beberapa tahun anggaran, maka
Perda harus memuat jadwal penerbitan tahunan obligasi Daerah;
5. Dalam hal obligasi Daerah yang akan diterbitkan membutuhkan jaminan, maka
Perda harus memuat ketentuan mengenai aset yang akan dijaminkan.
Bapepam-lK selanjutnya akan melakukan penelahaan terhadap kecukupan
keterbukaan (adequate disclosure) sebagai persyaratan penawaran umum di pasar
modal. Penawaran umum obligasi Daerah dapat dilakukan setelah Bapepam-lK
mengeluarkan pernyataan efektif penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal.
4.2.8.3. PengelOlaan ObligaSi Daerah
Setelah diterbitkannya obligasi daerah, pemerintah daerah berkewajiban untuk
mengembalikan pokok dan bunga obligasi daerah. Dalam rangka memenuhi kewajiban
untuk pengembalian pokok dan bunga obligasi Daerah, diperlukan pengelolaan
obligasi Daerah yang baik, yang meliputi:
1. Penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi Daerah termasuk kebijakan
pengendalian risiko;
2. Perencanaan dan penetapan struktur portfolio pinjaman daerah;
3. Penerbitan obligasi Daerah;
4. Penjualan obligasi Daerah melalui lelang;
5. Pembelian kembali obligasi Daerah sebelum jatuh tempo;
7. Pertanggungjawaban.
Pengelolaan obligasi Daerah dilakukan oleh Kepala Daerah dengan menunjuk satuan
kerja yang akan melaksanakannya.
4.2.8.3.1. Pembelian kembali Obligasi daerah sebelum jatuh
tempo
Pembelian kembali obligasi Daerah oleh pemerintah daerah sebagai emiten dapat
diperlakukan sebagai pelunasan kembali atas obligasi Daerah tersebut atau disimpan
untuk dapat dijual kembali (treasury bonds). Dalam hal diperlakukan sebagai treasury
bonds, maka hak-hak yang melekat pada obligasi Daerah batal demi hukum.
4.2.8.3.2. Pelunasan pada saat jatuh tempo
Pokok dibayarkan pada saat obligasi daerah jatuh tempo, sementara bunga dibayarkan
setiap jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian obligasi daerah.
Pada prinsipnya, pembayaran kembali obligasi daerah bersumber dari penerimaan
kegiatan investasi. Namun demikian, ada kalanya, terutama pada masa konstruksi,
kegiatan investasi belum menghasilkan penerimaan. Pada keadaan ini, pembayaran
bunga dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Khusus untuk pembayaran pokok, harus dibentuk suatu dana cadangan dalam
rekening khusus yang dananya tidak dapat digunakan untuk kepentingan lain selain
pembayaran kupon obligasi daerah. Alokasi dana cadangan dialokasikan setiap
tahun hingga obligasi daerah tersebut jatuh tempo, dengan besaran yang dibagi rata
per tahunnya. Hal ini memudahkan pemerintah daerah untuk mengontrol arus kas
sehingga dapat menjamin bahwa pada saat jatuh tempo pemerintah daerah sanggup
4.2.8.3.3. Penatausahaan dan Penggunaan dana Obligasi daerah
Pemerintah telah mengatur tentang penatausahaan dan penggunaan dana hasil
penjualan obligasi daerah sebagai berikut:
1. Dana hasil penjualan obligasi Daerah ditempatkan pada rekening tersendiri yang
ditatausahakan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD);
2. Dana hasil penjualan obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai
kegiatan yang telah direncanakan yang merupakan kegiatan investasi sektor publik
yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat; dan
3. Penerimaan dari investasi sektor publik diprioritaskan untuk membayar pokok,
bunga, dan denda obligasi Daerah.
4.2.8.3.4. Pertanggungjawaban
Kepala Daerah wajib membuat pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi
Daerah dan dana obligasi Daerah sesuai dengan rencana penerbitan obligasi
Daerah. Pertanggungjawaban ini disampaikan kepada DPRD sebagai bagian dari
pertanggungjawaban APBD.
Terdapat dua hal yang perlu dipertanggungjawabkan oleh pemerintah daerah
berkaitan dengan penerbitan obligasi daerah, yaitu:
1. Pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi daerah; dan
2. Pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi daerah.
Dalam pertanggungjawaban pengelolaan obligasi daerah, pemerintah daerah
melaporkan:
1. Keterangan tentang portofolio obligasi daerah;
2. laporan transaksi obligasi daerah di pasar modal yang mencakup penawaran
umum, pelunasan, pembelian kembali, pertukaran, pembayaran bunga dan biaya
lain, serta kegiatan lain yang terkait dengan pengelolaan obligasi daerah;
4. Realisasi strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk pengendalian
resiko; dan
5. Alokasi angaran dan realisasinya;
6. Dalam pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi daerah, pemerintah
daerah melaporkan:
7. Perkembangan pelaksanaan kegiatan investasi;
8. laporan keuangan kegiatan yang meliputi penggunaan dana dari obligasi daerah
dan dana hasil penerimaan kegiatan;
9. laporan alokasi dana cadangan.
4.2.8.4. PublikaSi inFOrmaSi
Kepala daerah wajib mempublikasikan secara berkala mengenai data obligasi Daerah
dan/atau informasi lainnya berdasarkan peraturan perundang - undangan di bidang
Pasar Modal. Publikasi informasi secara berkala tersebut meliputi:
1. Kebijakan pengelolaan pinjaman daerah dan rencana penerbitan obligasi Daerah
yang meliputi perkiraan jumlah dan jadwal waktu penerbitan;
2. Jumlah obligasi Daerah yang beredar beserta komposisinya, struktur jatuh tempo
dan tingkat bunga;
3. laporan keuangan pemerintah daerah;
4. laporan penggunaan dana yang diperoleh melalui penerbitan obligasi Daerah,
alokasi dana cadangan, serta laporan-laporan yang bersifat material; dan
5. Kewajiban publikasi data dan/atau informasi lainnya yang diwajibkan berdasarkan
peraturan perundang-undangan di Pasar Modal.
Publikasi data dan informasi mengenai obligasi Daerah dilakukan oleh satuan kerja
yang ditunjuk untuk mengelola obligasi Daerah. Pihak lain yang terkait dengan
pengelolaan obligasi Daerah hanya dapat melakukan publikasi data dan informasi
Pelaksanaan publikasi antara lain dilakukan melalui seminar, lokakarya, dan temu
publik atau melalui media cetak dan media elektronik terutama situs internet
(website) yang dimiliki dan dikelola oleh satuan kerja yang ditunjuk untuk mengelola
obligasi Daerah.
4.2.8.5. PelaPOran, Pemantauan Dan eValuaSi
Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk wajib menyampaikan laporan penerbitan,
penggunaan dana dan pembayaran kupon dan/atau pokok obligasi Daerah setiap 3
(tiga) bulan kepada Menteri Keuangan. Menteri Keuangan c.q. Dirjen Perimbangan
Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas:
1. Penerbitan obligasi Daerah;
2. Penggunaan dana obligasi Daerah;
3. Kinerja pelaksanaan kegiatan; dan
4. Realisasi pembayaran kupon dan/atau Pokok obligasi Daerah.
Pemantauan dan evaluasi tersebut di atas, dilakukan untuk melihat indikasi adanya
penyimpangan dan/atau ketidaksesuaian antara rencana penerbitan obligasi Daerah
dengan realisasinya. Hasil pemantauan dan evaluasi tersebut dilaporkan oleh Direktur
Jenderal Perimbangan Keuangan kepada Menteri Keuangan.
Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi dimaksud, Direktur Jenderal Perimbangan
Keuangan dapat merekomendasikan kepada Ketua Bapepam-lK untuk menghentikan
penerbitan obligasi Daerah.
4.2.9. PElAPORAN PiNjAmAN dAERAH
untuk melaksanakan tertib anggaran, maka semua penerimaan dan kewajiban dalam
rangka Pinjaman Daerah harus dicantumkan dalam APBD dan dibukukan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintah, termasuk obligasi Daerah. Selain itu, setiap
diumumkan dalam lembaran Daerah sehingga dapat diakses oleh publik. pemerintah
daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada
Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri agar penatausahaan Pinjaman Daerah
dapat berjalan dengan baik.
4.2.10. sANKsi PiNjAmAN dAERAH
Berkaitan dengan kewajiban yang muncul dari pinjaman daerah, maka pemerintah
daerah yang tidak memenuhi kewajibannya, dapat dikenakan sanksi seperti yang
dijelaskan berikut ini:
1. Jika daerah melakukan pinjaman langsung dari sumber luar negeri yang bukan
karena kegiatan transaksi obligasi Daerah, maka Menteri Keuangan akan melakukan
pemotongan DAu dan/atau Dana Bagi Hasil yang menjadi hak daerah tersebut;
2. Jika daerah tidak menyampaikan laporan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban
pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan, maka Menteri Keuangan
akan mengenakan sanksi berupa penundaan atas penyaluran Dana Perimbangan;
3. Jika daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Pemerintah,
maka Menteri Keuangan akan melaksanakan pemotongan DAu dan/atau Dana Bagi
Hasil yang menjadi hak daerah tersebut.
untuk pengaturan lebih lanjut mengenai tata cara pemotongan DAu dan/atau DBH
sebagaimana dimaksud di atas, Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan
Menteri Keuangan No.129/PMK.07/2008. Penjelasan mengenai PMK tersebut dapat
boks No 4.1
Pemotongan dana Alokasi Umum (dAU) dan/atau dana bagi Hasil (dbH)
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 129/PMK.07/2008, Pemerintah Pusat dapat memotong DAU dan/atau DBH Pemerintah Daerah (Pemda) apabila Pemda memiliki tunggakan atas pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat. Pemotongan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran tunggakan. Adapun pinjaman yang dapat dikenakan pemotongan DAU dan/atau DBH adalah (i) pinjaman yang dalam naskah perjanjian pinjaman telah mencantumkan ketentuan mengenai sanksi pemotongan DAU dan/atau DBH atau (ii) pinjaman yang dalam naskah perubahan perjanjian pinjaman mencantumkan ketentuan mengenai sanksi pemotongan DAU dan/atau DBH.
Pemotongan DAU dan/atau DBH sebagaimana dimaksud dalam PMK dilakukan setelah terpenuhinya persyaratan adanya dokumen sebagai berikut:
1. surat pernyataan Pemda bersedia dipotong DAU dan/atau DBH secara langsung; 2. surat kuasa Pemda kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku
Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Transfer ke Daerah untuk memotong DAU dan/ atau DBH; dan
3. surat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengenai kesediaan dipotong DAU dan/atau DBH secara langsung.
Besaran pemotongan DAU dan/atau DBH dihitung sebesar jumlah tunggakan, akan tetapi pemotongan per tahun tidak melebihi besaran maksimum pemotongan DAU dan/atau DBH per tahun yang dihitung dengan mempertimbangkan kapasitas iskal
daerah bersangkutan. Adapun perhitungan besaran maksimum pemotongan DAU dan/atau DBH per tahun adalah sebagai berikut:
4.3. HibAH dAERAH
undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyebutkan
bahwa hibah dapat diberikan oleh Pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau
sebaliknya. Sesuai dengan hal tersebut, maka lingkup hibah daerah meliputi hibah dari
Pemerintah Pusat kepada pemerintah daerah dan sebaliknya hibah dari pemerintah
daerah kepada Pemerintah Pusat, termasuk instansi vertikal Pemerintah Pusat di
daerah.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah,
yang dimaksud dengan Hibah adalah Peneriman Daerah yang berasal dari pemerintah
negara asing, badan/lembaga asing, badan/lembaga internasional, Pemerintah Pusat,
badan/lembaga dalam negeri atau perorangan baik dalam bentuk devisa, rupiah
maupun barang dan atau jasa, termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu
dibayar kembali.
Hibah kepada pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk hubungan keuangan
antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah untuk mendukung pelaksanaan
kegiatan daerah dan dikelompokkan sebagai salah satu komponen pada lain-lain
Pendapatan yang Sah dalam APBD. Hibah yang diterima oleh pemerintah daerah dapat
diterushibahkan, diteruspinjamkan, dan/atau dijadikan penyertaan modal kepada
perusahaan daerah.
Hibah kepada pemerintah daerah dalam APBN termasuk dalam Bagian Anggaran
Bendahara umum Negara (BA-BuN) yang dikelola oleh Menteri Keuangan selaku
Bendahara umum Negara. Menteri Keuangan selaku Pengguna Anggaran menunjuk
Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Hibah
Mekanisme penyaluran hibah kepada pemerintah daerah lebih lanjut diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2008 dan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 169/PMK.07/2008.
4.3.1. sUmbER HibAH
Hibah kepada pemerintah daerah bersumber dari :
1. Pemerintah;
2. Pemerintah daerah lain;
3. Badan/lembaga organisasi swasta dalam negeri; dan/atau
4. Kelompok masyarakat/perorangan dalam negeri.
Hibah dari Pemerintah Pusat bersumber dari:
1. Pendapatan APBN;
2. Pinjaman luar Negeri; dan/atau
3. Hibah luar Negeri
Hibah dari luar negeri dapat bersumber dari :
1. Pemerintah negara asing;
2. Badan/lembaga asing;
3. Badan/lembaga internasional; dan/atau.
4. Donor lainnya.
Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN dan dari pihak lain di dalam negeri
dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hhibah Daerah (NPHD). Hibah yang bersumber
dari luar negeri (baik dari pinjaman luar negeri maupun hibah luar negeri) dilakukan
melalui Pemerintah Pusat melalui penandatanganan Naskah Perjanjian Penerusan
Hibah (NPPH) antara Pemerintah c.q. Menteri Keuangan atau kuasanya dengan kepala
daerah. Khusus untuk hibah yang bersumber dari pinjaman luar negeri, prioritas
yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Keuangan dan atau prioritas sebagaimana
ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang/Menengah (RPJP/RPJM).
4.3.2. PRiNsiP dAsAR PEmbERiAN HibAH KEPAdA dAERAH
Prinsip-prinsip dasar pemberian hibah dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah
daerah adalah:
1) Hibah dilaksanakan dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat
dan pemerintah daerah.
2) Hibah dilaksanakan sejalan dengan pembagian urusan pemerintahan antara
Pemerintah Pusat, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah Kabupaten/
Kota sesuai dengan PP No. 38 /2007.
3) Hibah bersifat bantuan untuk pelaksanakan urusan pemerintahan yang merupakan
kewenangan pemerintah daerah. Adapun urusan Pemerintah Pusat di daerah
didanai dari dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. urusan pemerintah
daerah dapat didanai dengan hibah.
4) Hibah diberikan kepada daerah mempertimbangkan kapasitas fiskal daerah berdasarkan peta kapasitas fiskal daerah yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
5) Kegiatan yang dibiayai dari hibah diusulkan oleh Kementerian Negara/lembaga
terkait merupakan diskresi Pemerintah Pusat.
4.3.3. KRiTERiA PEmbERiAN HibAH
Kriteria pemberian hibah digolongkan berdasarkan sumber hibah, yaitu:
1) Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN diberikan kepada pemerintah daerah
dengan kriteria sebagai berikut:
a. untuk pelaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah daerah
seperti kegiatan peningkatan fungsi pemerintahan, layanan dasar umum, dan
b. untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan penyelenggaraan kegiatan
Pemerintah Pusat yang berskala nasional/internasional oleh pemerintah
daerah.
c. Kegiatan lainnya sebagai akibat kebijakan Pemerintah Pusat yang
mengakibatkan penambahan beban pada APBD.
d. Kegiatan tertentu yang diatur secara khusus dalam peraturan
perundang-undangan.
2) Hibah yang bersumber dari pinjaman luar negeri, diberikan kepada pemerintah
daerah dengan kriteria sebagai berikut:
a. untuk melaksanakan kegiatan yang merupakan urusan pemerintah daerah
dalam rangka pencapaian sasaran program dan prioritas pembangunan
nasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
b. Diprioritaskan untuk pemerintah daerah dengan kapasitas fiskal rendah berdasarkan peta kapasitas fiskal yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
3) Hibah yang bersumber dari hibah luar negeri, diberikan kepada pemerintah daerah
dengan kriteria sebagai berikut:
a. untuk melaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah daerah, yaitu
peningkatan fungsi pemerintahan, layanan dasar umum, dan pemberdayaan
aparatur pemerintah daerah;
b. Kegiatan dalam rangka mendukung pelestarian sumber daya alam, lingkungan
hidup dan budaya;
c. Kegiatan dalam rangka mendukung riset dan teknologi;
4.3.4. PENARiKAN dAN PENYAlURAN HibAH
Hibah disalurkan dalam mekanisme APBN ke APBD sesuai peraturan perundangan,
yaitu dengan menggunakan Bagian Anggaran Bendahara umum Negara (BA-BuN)
yang dikelola oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara umum Negara, dan terpisah
dari bagian anggaran yang dikelola Kementerian/lembaga.
1) Penyaluran Hibah Berupa uang
Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber dari pendapatan APBN dilakukan
melalui pemindahbukuan dari Rekening Kas umum Negara (RKuN) ke Rekening
Kas umum Daerah (RKuD). Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber dari
penerusan pinjaman luar negeri dan/atau hibah luar negeri (PHlN) dilakukan
melalui pemindahbukuan dari Rekening Khusus yang merupakan bagian dari RKuN
ke rekening tersendiri yang merupakan bagian dari RKuD. Setelah uang diterima
di RKuD, pemerintah daerah wajib membayarkan uang tersebut kepada pihak
ketiga dalam jangka waktu 2 hari kerja. Jika lalain memenuhi ketentuan tersebut,
pemerintah daerah dikenai sanksi sebagaiman diatur dalam NPPH atau NPHD.
Selanjutnya, mekanisme penyaluran hibah berupa uang dapat dilihat pada gambar
gambar 4.9
Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa uang
2) Penyaluran Hibah berupa barang dan jasa
Tata cara penyaluran hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaksanakan
sebagaiman diatur dalam NPHD atau NPPH dan peraturan perundang-undangan.
Penyaluran hibah berupa barang dan/ atau jasa yang bersumber dari hibah luar negeri
dan/ atau pinjaman luar negeri dapat dilakukan dengan penyerahan langsung dari
pemberi pinjaman dan/atau hibah luar negeri kepada pemerintah daerah penerima
hibah.
Setelah mendapat pertimbangan terlebih dahulu dari Kementerian/lembaga terkait,
penyerahan langsung hibah barang/jasa tersebut dapat dilaksanakan dan dimuat
jasa disampaikan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku KPA Hibah
kepada pemerintah daerah (KPA-HPD). Copy berita acara serah terima tersebut
merupakan dasar penatausahaan dan pelaporan hibah. Mekanisme penyaluran hibah
berupa barang dan jasa dapat dilihat dalam gambar 4.10 berikut:
gambar 4. 10
Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa
3) mekanisme Penerusan Hibah Kepada Pemerintah daerah.
1. Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH.
a. Kementerian/lembaga meminta penerbitan nomor register kepada
DJPu dengan melampirkan grant Agreement/loan Agreement (dokumen
perjanjian) dan rencana penyerapan;
b. Berdasarkan permintaan tersebut, DJPu menerbitkan nomor register dan
menyampaikan surat pemberitahuan kepada DJA untuk pencatuman dana
hibah dalam APBN dan kepada DJPK untuk ditindaklanjuti yaitu proses
c. Kementerian/lembaga menetapkan pemerintah daerah penerima hibah
kemudian disampaikan kepada DJPK;
d. Atas dasar surat dari DJPu dan Kementerian/lembaga, bahwa hibah dimaksud
sudah ditetapkan dalam APBN/APBN-P, maka DJPK menerbitkan surat
persetujuan penerushibahan kepada Pemerintah Daerah;
e. DJPK menyusun NPPH dengan berkoordinasi dengan Kementerian/lembaga
dan pemerintah daerah. Setelah konsep NPPH disetujui maka dilakukan
penandatanganan NPPH oleh Kepala Daerah dan Dirjen Perimbangan
Keuangan atas nama Menteri Keuangan selaku KPA Hibah Daerah.
Secara ringkas, proses penganggaran hibah dan penyusunan NPPH dapat dilihat pada
Gambar 4.11.
gambar 4. 11
2. Penyusunan dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran–Hibah kepada
Pemerintah Daerah (DIPA-HPD).
a. Kepala daerah menyusun Rencana Komprehensif berdasarkan Naskah Perjanjian
Hibah Daerah (NPHD) atau Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH) yang telah
ditandatangani;
b. Berdasarkan Rencana Komprehensif tersebut, Kepala Daerah menyusun Rencana
Tahunan;
c. Rencana Komprehensif dan Rencana Tahunan dikoordinasikan terlebih dahulu
dengan kementerian/lembaga terkait sebelum disampaikan kepada Dirjen
Perimbangan Keuangan selaku KPA-HPD;
d. Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan verifikasi Rencana Komprehensif dan Rencana Tahunan terhadap pagu hibah APBN
e. Berdasarkan hasil verifikasi tersebut, Dirjen Perimbangan Keuangan menyusun Rencana Alokasi Hibah kepada pemerintah daerah (RA-HPD);
f. Atas dasar RA-HPD tersebut, Dirjen Perimbangan Keuangan menyusun konsep
DIPA-HPD;
g. RA-HPD disampaikan kepada Dirjen Perbendaharaan untuk dijadikan dasar
pengesahan DIPA-HPD;
h. Konsep DIPA-HPD disampaikan kepada Dirjen Perbendaharaan untuk mendapatkan
pengesahan;
i. DIPA-HPD yang telah disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan merupakan dasar
penyaluran hibah kepada pemerintah daerah;
j. DIPA-HPD yang telah disahkan disampaikan kepada pemerintah daerah;
k. Berdasarkan DIPA-HPD, Rencana Komprehensif dan Rencana Tahunan, Pemerintah
Daerah menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) –SKPD.
Secara ringkas, proses penyusunan dan pengesahan DIPA–HPD dapat dilihat pada
gambar 4. 12
3. Penyaluran Hibah di Pemerintah Daerah.
a. Kepala daerah membuka rekening tersendiri bersifat khusus sebagai bagian dari
Rekening Kas umum Daerah (RKuD) yang digunakan untuk menampung dana
hibah;
b. Kepala daerah menyampaikan bukti pembukaan rekening yang memuat nomor
rekening, nama rekening dan nama bank kepada Dirjen Perimbangan Keuangan;
c. Berdasarkan DIPA-HPD dan DPA-SKPD, kepala daerah membuat dan menyampaikan
surat Permintaan Penyaluran Hibah yang dilampiri Surat Pernyataan Tanggung Jawab
Mutlak dan dokumen-dokumen terkait yang telah mendapatkan pertimbangan dari
kementerian/lembaga terkait. Dokumen terkait tersebut antara lain:
1) Tahap pertama:
Rencana penggunaan hibah;
Copy DPA-SKPD dan dokumen pendukung terkait;
Copy SPM dan Dokumen terkait.
2) Tahap berikutnya:
Rencana penggunaan hibah;
Copy SPM dan copy rekening koran serta dokumen terkait;
laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan dokumen pendukung terkait;
Copy Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang disahkan oleh Bendahara
umum Daerah (BuD) untuk tahap sebelumnya dan dokumen terkait;
laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana pendamping
serta dokumen terkait.
3) Tahap terakhir:
Copy SP2D yang disahkan oleh BuD dan dokumen pendukung terkait;
laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana pendamping
secara keseluruhan yang ditetapkan SKPD
d. Dirjen Perimbangan Keuangan sebagai KPA-HPD menerbitkan SPM untuk
e. Berdasarkan SPM tersebut Dirjen Perbendaharaan menerbitkan SP2D selanjutnya
dilakukan pemindahbukuan dana dari RKuN atau Rekening Khusus pada APBN ke
RKuD pada APBD.
Secara ringkas, proses penyaluran hibah kepada Pemerintah Daerah dapat dilihat
pada Gambar 4.13.
gambar 4. 13