Deskripsi
BAHAN AKTIF ANTIMUTAGENIK DARI RIMPANG TUMBUHAN FAMILI ZINGIBERACEAE
5
Bidang Teknik Invensi :
Invensi ini berhubungan dengan ekstrak bahan aktif
rimpang tumbuhan famili Zingiberaceae, pembuatan dan
penggunaan ekstrak sebagai antimutagenik, komposisi senyawa bioaktif dari ekstrak yang menunjukkan aktivitas sebagai 10
antimutagenik, dan dosis efektif ekstrak yang menunjukkan aktivitas sebagai antimutagenik.
Latar Belakang Invensi
Kanker adalah proses pertumbuhan sel yang tidak 15
terkontrol yang diikuti oleh invasi sel ke jaringan disekitarnya serta penyebaran (metastasis) ke bagian tubuh lain. Sifat utama sel kanker adalah proliferasi terus menerus sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara sel
hidup dengan sel mati (Parton et al, 2001). Menurut catatan
20
WHO pada tahun 2000 hingga tahun 2010 kanker menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian di dunia setelah
penyakit jantung dan diperkirakan akan mengalami
peningkatan hingga pada tahun 2030 akan menempati urutan pertama. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan yang tepat 25
untuk meningkatkan kualitas hidup penderita kanker.
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kanker adalah akibat terjadinya mutasi gen pada DNA. Apabila sudah terjadi mutagen pada DNA, maka kanker tersebut menjadi sangat sulit untuk disembuhkan. Hubungan zat-zat mutagen 30
dan minuman, obat-obatan, kosmetika dan perantaraan lingkungan. Mengingat banyaknya pemaparan zat mutagen atau karsinogen yang mungkin terjadi, perlu adanya upaya untuk
mencegah terjadinya pemaparan tersebut atau dengan
menggunakan zat antimutagen atau antikarsinogen. Oleh 5
karena itu perlu dikembangkan bahan dari obat tradisionil yang dapat bersifat antimutagen.
Beberapa tumbuhan yang telah diteliti yang bersifat antimutagenik antara lain Momordica carantia (Shumanth M & Nagarjuna C., 2010), asam askorbat (Farghaly, 2009), 10
beberapa senyawa kurkumin dan turunannya (Adam, 2004), Senyawa fenol seperti asam elagat (Smerakh, 2002), ekstrak kunyit, kayumanis, temulawak (Atmawidjaya, 2000). Oleh karena itu dalam penelitian ini telah diuji beberapa rimpang tumbuhan famili Zingiberaceae yang belum pernah 15
dilaporkan atau diteliti aktivitas antimutageniknya,
seperti kunci pepet (Kaemferia rotunda), temu ireng
(Curcuma aeruginosa Roxb), temu giring (Curcuma heyneana Val), dan laos (Alpinia galanga Sw).
Isolasi senyawa kimia dari bahan tumbuhan dilakukan 20
dengan cara maserasi secara tuntas dengan metanol pada suhu kamar selama 24 jam (3x). Ekstrak yang diperoleh dipekatkan pada tekanan rendah. Pemisahan dan pemurnian senyawa kimia dilakukan dengan teknik kromatografi, seperti kromatografi vakum cair (kvc), kromatografi kolom gravitasi (kg), 25
kromatografi kolom tekan (kkt), dan kromatografi
sentrifugal (kromatotron), serta kristalisasi untuk
senyawa-senyawa yang dapat membentuk kristal. Identifikasi dan elusidasi struktur dilakukan berdasarkan cara yang
lazim, dimulai dengan uji kemurnian dengan analisis
30
kepolaran berbeda, penentuan titik leleh, dan analisis spektrum UV, IR, 1H NMR, 13C NMR, satu dan dua dimensi.
Uji antimutagenik ekstrak metanol rimpang tumbuhan dilakukan dengan perhitungan terbentuknya sel eritrosit polikromatik bermikronukleus (MNPCE) dari sumsum tulang 5
paha mencit jantan galur Balb-c yang berusia 6 – 7 minggu
yang diberi perlakuan dengan pemberian ekstrak dan
pemberian siklofosfamid sebagai induksi terjadinya
mutagenik. Sebagai kontrol positif digunakan siklofosfamid
yang merupakan obat kanker yang pada dosis tinggi
10
menyebabkan mutagenik.
Ringkasan Invensi
Invensi ini meliputi :
a.Ekstrak bahan aktif antimutagenik rimpang tumbuhan
15
famili Zingiberaceae, proses pembuatannya, dan
kandungan senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas sebagai antimutagenik.
b.Penggunaan ekstrak bahan aktif tumbuhan famili
Zingiberaceae sebagai antimutagenik pada variasi
20
dosis 300 – 600 mg/kg bb
c.Komposisi senyawa bioaktif yang terdapat dalam
ekstrak rimpang tumbuhan famili Zingiberaceae yang bersifat antimutagenik
25
Uraian Singkat Gambar
- (tidak ada)
Uraian Lengkap Invensi
a.Pembuatan ekstrak rimpang tumbuhan famili Zingiberaceae 30
pepet, temu giring, temu ireng, dan laos ditambahkan metanol sebanyak 10 l dan didiamkan pada suhu kamar selama 24 jam, sambil sesekali diaduk. Maserasi ini diulang sebanyak 3x. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan pada tekanan rendah sampai kering, sehingga diperoleh padatan berwarna 5
[image:4.612.63.526.62.722.2]kecoklatan. Hasil ekstraksi dari sampel rimpang kunci pepet, temu giring, temu ireng, dan laos terdapat pada table 2.
Tabel 2. Hasil ekstraksi dan partisi dari sampel rimpang 10
kunci pepet, temu giring, temu ireng, dan laos
No Sampel tumbuhan (berat Kg) Berat ekstrak Metanol (g)
1 Kunci pepet (3 kg) 230
2 Temu ireng (3 kg) 430
3 Temu giring (3 kg) 150
4 Laos (3 kg) 567
b. Uji aktivitas antimutagenik 15
Masing-masing ekstrak metanol dari rimpang kunci pepet, temu ireng, temu giring, dan laos selanjutnya diuji aktivitas antimutageniknya secara invivo menggunakan mencit jantan galur Balb-c. Mencit jantan galur Balb-c yang berusia 6-7 minggu dengan berat badan 6-7 minggu dengan 20
berat badan 22,5-27,5 g sebanyak 70 ekor. Hewan uji kemudian dibagi menjadi 14 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri dari 5 ekor mencit. Setiap kelompok mencit ditempatkan dalam kandang plastik yang berbeda dengan alas sekam, dengan suhu ruangan 23-25oC, kelembaban 70 -80% dan 25
[image:4.612.63.524.468.716.2]dan saat perlakuan semua mencit diberi makan berupa pelet-789 dan minuman dari air ledeng masing-masing secara ad-libitum. Perlakuan terhadap hewan uji terdapat pada tabel 2.
Pada hari kedua, tepatnya 6 jam setelah pemberian 5
siklofosfamid yang kedua, semua mencit dibunuh dengan cara dislokasi leher, kemudian dibedah untuk diambil kedua tulang pahanya. Sumsum tulang diambil dengan menggunakan
spet yang berisi 1 ml NaCl fisiologis kemudian
disentrifugasi pada kecepatan 1000 rpm selama 10 menit. 10
Supernatan yang dihasilkan dibuang dengan menggunakan pipet tetes, sedangkan endapannya digunakan sebagai sediaan sel. Sediaan sel kemudian dibuat preparat apus pada gelas objek, dengan cara meneteskan sediaan sel pada gelas objek
kemudian diratakan dengan desckglasser pada derajat
15
kemiringan 45o. Selanjutnya preparat apus dikeringkan pada suhu kamar dan difiksasi dengan metanol absolut selama 10 menit. Setelah kering kemudian dicelupkan dalam larutan pewarna Giemsa 20% selama 30 menit.
Preparat apus setelah terwarnai, kemudian diamati 20
jumlah sel eritrosit polikromatik bermikronukleus (MNPCE) di bawah mikroskup dengan perbesaran 1000 kali untuk setiap 1000 sel eritrosit polikromatik (PCE). Apabila hasil yang diperoleh dari pengamatan mikroskopik preparat apus kurang jelas, maka preparat difiksasi kembali menggunakan etanol 25
30, 50, 70 dan 80% serta etanol absolut secara bertingkat masing-masing selama 10 menit. Pada setiap akhir proses fiksasi menggunakan etanol preparat dicuci dengan air mengalir. Sebagai langkah terakhir preparat difiksasi dengan menggunakan xylol selama 10 menit. Kemudian preparat 30
dengan perbesaran 1000 kali untuk setiap 1000 sel eritrosit polikromatik (PCE).
Tabel 2. Perlakuan Hewan Uji Kelom
-pok
Perlakuan setelah 18 Jam puasa
Jam ke -1 30 menit
kemudian 24 jam kemudian 30 menit kemudian 6 jam kemudian I. kontr ol Lar. Na-CMC 1 %
- Lar. Na-CMC
1 % - Dislokas i leher dan pembedah an untuk diambil sumsum tulang paha II. kontr ol posit if Larutan Siklofosfami d dosis 50 mg/kg BB dalam akuades steril
- Larutan
Siklofosfami d dosis 50 mg/kg BB dalam akuades steril - III. Perla kuan (4 kelom -pok) Ekstrak metanol dari masing-masing rimpang dosis 600 mg/kg BB dalam Na-CMC 1%
- Ekstrak
metanol dari masing-masing rimpang dosis 600 mg/kg BB dalam Na-CMC 1% - IV. Perla kuan (4 kelom -pok) Ekstrak metanol dari masing-masing rimpang 300 mg/kg BB dalam Na-CMC 1% Larutan siklofosf amid dosis 50 mg/ kg BB dalam akuades steril Ekstrak metanol dari masing-masing rimpang 300 mg/kg BB dalam Na-CMC 1% Larutan siklofos famid dosis 50 mg/ kg BB dalam akuades steril V. Perla kuan (4 kelom -pok) Ekstrak metanol dari masing-masing rimpang dosis 600 mg/kg BB dalam Na-CMC 1% Larutan siklofosf amid dosis 50 mg/ kg BB dalam akuades steril Ekstrak metanol dari masing-masing rimpang dosis 600 mg/kg BB dalam Na-CMC 1% Larutan siklofos famid dosis 50 mg/ kg BB dalam akuades steril
Hasil analisis data uji antimutagenik terdapat pada 5
pada gambar 1. Persentase aktivitas dari masing-masing ekstrak dihitung menggunakan rumus :
%aktivitas=(reratakp– (rerata kn + rerataks + reratakbs))x 100% reratakp – (rerata kn+ reratakbs)
Keterangan 5
kp = kelompok kontrol positif kn = kelompok kontrol negatif
ks = kelompok perlakuan sampel ekstrak kbs = kelompok blanko sampel
10
15
20
25
Tabel 3. Hasil uji antimutagenik masing-masing ekstrak
metanol dari kunci pepet, temu ireng, temu giring, dan laos
No Perlakuan Jumlah
MNPCE Mean ± SD % aktivi tas
1 Kontrol Negatif (Na-CMC 1% ) 0; 0;
0;0;0
0 ± 0 -
2 Kontrol Positif (Siklofosfamid
dosis 50 mg/kg bb
7; 6; 9; 1
5,75 ± 3,4
-
3 Ekstrak metanol kunci pepet dosis
600 mg/kg bb (blanko sampel kunci pepet) 0; 0; 0; 3 0,75 ± 1,5 -
4 Siklofosfamid 50 mg/kg bb dan
ekstrak metanol kunci pepet dosis 300 mg/kg bb
1; 0 ;0; 3
1,0 ± 1,4
80,0
5 Siklofosfamid 50 mg/kg bb dan
ekstrak metanol kunci pepet dosis 600 mg/kg bb
0; 2; 4; 3
2,25 ± 1,7
55,0
6 Ekstrak metanol temu giring dosis
600 mg/kg bb (blanko sampel temu giring)
0; 0; 0;0;0
0 ± 0 -
7 Siklofosfamid 50 mg/kg bb dan
ekstrak metanol temu giring dosis 300 mg/kg bb
0; 0; 0;1
0,25 ± 0,5
95,6
8 Siklofosfamid 50 mg/kg bb dan
ekstrak metanol temu giring dosis 600 mg/kg bb
0; 0; 0; 1
0,25 ± 0,5
95,6
9 Ekstrak metanol temu ireng dosis
600 mg/kg bb (blanko sampel temu ireng) 0; 0; 0;0;1 0,2 ± 0,4 -
10 Siklofosfamid 50 mg/kg bb dan ekstrak metanol temu ireng dosis 300 mg/kg bb
0; 0; 2;2
1,0 ± 1,15
81,9
11 Siklofosfamid 50 mg/kg bb dan ekstrak metanol temu ireng dosis 600 mg/kg bb
0; 0; 3; 3
1,5 ± 1,7
72,9
12 Ekstrak metanol laos dosis 600 mg/kg bb (blanko sampel laos)
0; 0; 0;3
0 ,75 ± 1,5
-
13 Siklofosfamid 50 mg/kg bb dan ekstrak metanol laos dosis 300 mg/kg bb 0; 2; 3; 5 2,5 ± 2,1 50
3. Isolasi dan identifikasi struktur kandungan senyawa bioaktif dari ekstrak metanol kunci pepet
Isolasi senyawa kimia dari ekstrak metanol masing-masing rimpang yang menunjukkan aktivitas tinggi dilakukan metode kromatografi. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan pada 5
tekanan rendah dan selanjutnya dipartisi berturut-turut menggunakan pelarut n-heksan, kloroform, dan etil asetat. Pemisahan dan pemurnian senyawa kimia yang terdapat pada masing-masing fraksi dilakukan dengan teknik kromatografi, seperti kromatografi vakum cair (kvc), kromatografi kolom 10
gravitasi (kg), kromatografi kolom tekan (kkt), dan
kromatografi sentrifugal (kromatotron), serta kristalisasi
untuk senyawa-senyawa yang dapat membentuk kristal.
Identifikasi dan elusidasi struktur dilakukan berdasarkan data spektroskopi, dimulai dengan uji kemurnian dengan 15
analisis kromatografi lapis tipis menggunakan beberapa eluen dengan kepolaran berbeda, penentuan titik leleh, serta analisis spektrum UV, IR, 1H NMR, 13C NMR, satu dan dua dimensi.
Hasil isolasi, pemurnian, dan identifikasi senyawa 20
dalam ekstrak metanol kunci pepet diperoleh tiga senyawa
yaitu 4’-hidroksi-8-metoksi-flavanon, 6-
hidroksi-8-metoksi-flavanon, dan 4’, 8-dihidroksi-flavanon. Struktur ketiga senyawa tersebut terdapat pada gambar 2.
25
5
10
15
Data spektroskopi UV 4’-hidroksi-8-metoksi-flavanon
menunjuk-kan panjang gelombang pada 213 dan 283 nm, IR menunjukkan serapan pada 3452; 1614; 1579; dan 1108 cm-1.
Spektroskopi UV 6-hidroksi-8-metoksi-flavanon menunjukkan
20
panjang gelombang pada 213 dan 287 nm, IR menunjukkan
serapan pada 3444; 1645; 1621; 1381; 1302; 1158; dan 799 cm
-1. Selanjutnya data spektroskopi UV 4’, 8
-dihidroksi-flavanon menunjukkan serapan pada panjang gelombang 213 dan 248 nm, IR menunjukkan serapan pada 3450; 3093; 1631; 1487; 25
1302; 1168; dan 1089 cm-1. Data spektroskopi NMR proton dan karbon satu dan dua dimensi dari ketiga senyawa tersebut terdapat pada tabel 4.
30
O
O H3CO
OH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1' 2' 3' 4' 5' 6' O O H3CO
OH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1' 2' 3' 4' 5' 6' O O HO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1' 2' 3' 4' 5' 6' OH
4’-hidroksi-8-metoksi-flavanon 6- hidroksi-8-metoksi-flavanon
4’, 8-dihidroksi-flavanon
Tabel 4. Data spektrokopi NMR proton dan karbon satu dan dua dimensi senyawa hasil isolasi dalam ekstrak metanol kunci pepet
No 4’-hidroksi-8-metoksi-flavanon
6-hidroksi-8-metoksi-flavanon
4’, 8-dihidroksi-flavanon
δ C
ppm
Δ H (∑ H;
m; J Hz)
HMBC
(H→C) δ ppm C
Δ H (∑
H; m; J Hz)
HMB C
δ C ppm Δ H (∑ H;
m; J Hz)
HMB C
1 - -
2 79,80 5,48 (1H,
d, 12,6
C4;
C1’; C3 77,45 5,43 (1H,d,
2,8)
C4;
C1’;
C3
79,47 5,56 (1H,
dd,2,9; 12,6
C4; C-1’; C3
3 46,48 2,67 (1H,d,
br s); 2,97 (1H,d, 12,6)
C4; C2 43,5 3,08 (1H,
t, ); 2,84 (1H,d)
C4; C2
43,63 2,82 (1H,
dd, 2,9;
12,6); 3,18
(1H, dd,
2,9; 12,6)
C4; C2
4 187,84 - - 195,93 - 196,85 -
5 106,18 - - 103,3 - 103,29 -
6 129,22 7,37 (1H,d,
8)
C5;C7 164,3 - C5;
C7
129,51 7,42 (1H,
d, 8)
C5;C -7
7 96,65 6,15
(1H,d,8)
C8;C5 95,3 6,06 (1H,
br s)
C8;C5 96,96 5,98 (1H,d, 8)
8 165,06 - 168,3 - 165,33 -
9 94,23 6,09
(1H,br s)
C10;C5 94,43 6,06 (1
H, br s)
C10; C5
95,91 6,01 (1H,
br s)
C10; C5
10 163,79 - 163,14 - 164,19 -
1’ 140,67 - 138,54 - 140,06 -
2’ 129,47 (1H, d,
8,6)
C1’;C2 126,3 7,43 (1
H, br s)
C1’;
C2
129,45 7,45 (1 H, d, 8,0)
C1’;
C2
3’ 127,23 (1H, d,8,6) 129,0 7,42 (1H,
brs)
127,32 7,56 (1H,
d,8,0)
4’ 165,60 - 126,3 7,43 (1
H, br s)
167,38 -
5’ 127,23 (1H, d,8,6) 129,0 7,42 (1H,
brs)
127,32 7,56 (1H,
d,8,0)
6’ 129,47 (1H, d,
8,6)
C1’;C2 126,3 7,43 (1
H, br s)
129,45 7,45 (1 H, d, 8,0)
OH - 9,42 - 12,03 9,63
12,16
OCH3 56,14 3,79 55,85 3,81
[image:11.612.84.565.117.625.2]4. Isolasi dan identifikasi struktur kandungan senyawa bioaktif dari ekstrak metanol temu ireng
Hasil isolasi, pemurnian, dan identifikasi senyawa dalam ekstrak metanol kunci pepet diperoleh dua senyawa 5
seskuiterpen yaitu aeruginon dan kurkumenon.
10
15
Aeruginon (200 mg) berupa padatan kuning kecoklatan menunjukkan data spektroskopi UV dalam pelarut metanol pada panjang gelombang maksimum 229 dan 250 nm. Spektroskopi IR
(dalam pelet KBr) menunjukkan serapan pada bilangan
gelombang 3322; 2933; 1713;1650; 1598; 1441; 1373; 1313; 20
dan 1019 cm-1. Dari data spektroskopi IR tersebut dapat diketahui bahwa senyawa aeruginon menunjukkan adanya gugus hidroksil (3322 cm-1), CH alifatik (2933 cm-1), C=O (1713 cm -1
), C=C alifatik (1598 cm-1), dan C-O (1313 cm-1). Analisis struktur molekul senyawa aeruginon selanjutnya menggunakan 25
NMR (1H dan 13C) satu dan dua dimensi yang meliputi HMQC; HMBC; dan COSY. Data spektroskopi terdapat pada tabel 5.
30
CH3
CH3
O
OH OH CH3 OH
O H3C
1 2
3
4 5 6
7 8 9 10
11
12 13 14
15
H3C
O
O
H3C
CH3
CH3
1 2
3 4
5 6 7
8 9 10
11 12
13 14
15
Tabel 5. Hasil analisis 1H NMR dan 13C NMR 500 MHz satu dan dua dimensi dalam pelarut CDCl3 senyawa hasil isolasi dari temu ireng aeruginon
No HMQC HMBC (H→C) COSY (H→H)
δ H (∑ H; m; J Hz)
ppm δ C ppm
1 1,95 (1H; m) 60,72 C-14
2 2,03 (2H; m) 37,35 C-1 H-1; H-3
3 2,46 (2H; dd;
15,3; 10,7)
27,32 1; 4;
C-15; C-5
H-2
4 - 86,25 -
5 - 83,19 -
6 - 194,87 -
7 - 144,00 -
8 - 152,30 -
9 - 133,12 -
10 - 37,03 -
11 - 127,95 -
12 1,87 (3H, s) 22,34 C-7; C-11
13 1,84 (3H,s) 22,42 C-7; C-11
14 1,27 (3H, s) 23,92 10; 9;
C-5; C-1
15 1,77 (3H,s) 23,10 C-4
5
Senyawa hasil isolasi yang kedua adalah kurkumenon (100 mg), senyawa ini berupa padatan kuning kecoklatan. Data spektroskopi UV dalam pelarut metanol pada panjang gelombang maksimum 214 dan 238 nm. Spektroskopi IR (dalam 10
pelet KBr) menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 2922; 2870; 1713; 1678; 1600; 1453; 1369; dan 1270 cm-1. Dari data spektroskopi IR tersebut dapat diketahui bahwa senyawa kurkumenon menunjukkan adanya CH alifatik (2922 cm -1
), dua C=O (1713 dan 1678,6 cm-1), dan C=C alifatik (1600 15
cm-1). Analisis struktur molekul senyawa kurkumenon
Tabel 6. Hasil analisis 1H NMR dan 13C NMR 500 MHz satu dan dua dimensi dalam pelarut CDCl3 senyawa kurkumenon hasil isolasi dari temu ireng
No HMQC HMBC (H→C) COSY (H→H)
δ H (∑ H; m; J
Hz)ppm δ C ppm
1 0,63 (1H; m) 24,23
2 2,07 (2H; m) 23,48 H-3; H-1
3 2,40 (2H; m) 43,99 C-2; C-4 H-2
4 - 208,95 -
5 1,63 (1H; m) 24,19 C-1 H-6
6 2,77 (2H; d; 28,09 C-7
7 - 128,16 -
8 - 201,84 -
9 2,40 (2H, br s) 49,01 -
10 - 20,19 -
11 - 147,56 -
12 1,76 (3H, s) 23,56
13 0,63 (3H,s) 23,51 C-11
14 1,09 (3H, s) 19,14 C-10; C-9
15 2,12 (3H,s) 30,13 C-4
5
10
15
20
[image:14.612.79.531.126.384.2]Klaim
1.Ekstrak bahan aktif antimutagenik dari rimpang
tumbuhan Zingiberaceae, yang dibuat dengan proses yang meliputi: maserasi pada suhu kamar dengan menggunakan pelarut organik, dilanjutkan dengan pemekatan dan 5
pengeringan
2.Penggunaan sesuai dengan klaim 1 dimana dosis ekstrak yang digunakan sebagai antimutagenik pada variasi dosis 300 dan 600 mg/ kg BB.
3.Ekstrak bahan aktif antimutagenik sesuai dengan klaim 10
1 dari rimpang kuncipepet mengandung tiga senyawa
flavanon, yaitu 4’-hidroksi-8-metoksi-flavanon, 6-
hidroksi-8-metoksi-flavanon, dan 4’, 8
-dihidroksi-flavanon.
4. Ekstrak bahan aktif antimutagenik sesuai dengan klaim 15
1 dari rimpang temuireng mengandung dua senyawa seskuiterpen yaitu aeruginon dan kurkumenon.
20
25
Abstrak
BAHAN AKTIF ANTIMUTAGENIK DARI RIMPANG TUMBUHAN FAMILI ZINGIBERACEAE
5
Telah dilakukan penelitian pembuatan bahan aktif antimutagenik dari rimpang tumbuhan famili Zingiberaceae melalui beberapa tahap penelitian sebagai berikut : pembuatan ekstraks tumbuhan secara maserasi menggunakan 10
pelarut metanol. Uji mutagenik ekstrak metanol dari
masing-masing rimpang tumbuhan famili Zingiberaceae
dilakukan dengan perhitungan terbentuknya sel eritrosit polikromatik bermikronukleus (MNPCE) dari sumsum tulang
paha mencit jantan galur Balb-c yang berusia 6 – 7 minggu
15
yang diberi perlakuan dengan pemberian ekstrak metanol dari masing-masing rimpang tumbuhan famili Zingiberaceae. Sebagai kontrol positif digunakan siklofosfamid yang merupakan obat kanker yang pada dosis tinggi menyebabkan mutagenik. Prosentase aktivitas antimutagenik ekstrak 20
metanol berturut-turut dari yang paling tinggi pada dosis 300 mg/kg bb adalah temu giring, temu ireng, kunci pepet, dan laos, dengan aktivitas adalah 95,6; 81,9; 80; dan 50 %. Ekstrak bahan aktif antimutagenik dari rimpang
kuncipepet mengandung tiga senyawa flavanon, yaitu 4’
-25
hidroksi-8-metoksi-flavanon, 6-
hidroksi-8-metoksi-flavanon, dan 4’, 8-dihidroksi-flavanon. Sedangkan ekstrak bahan aktif antimutagenik dari rimpang temuireng mengandung dua senyawa seskuiterpen yaitu aeruginon dan kurkumenon.
Daftar Pustaka
Adams BK, Ferstl EM, Davis MC, Herold M, Kurtkaya S, Camalier RF, Hollingshead MG, Kaur G, Sausville EA,
Rickles FR, (2004). Synthesis and biological
5
evaluation of novel curcumin analogs as anti-cancer
and anti-angiogenesis agents. Bioorg Med Chem. 12
(14):3871–3883.
Atmawidjaja S, Sukmadjaja, Asyarie, Elin Herlina, (2000), Uji daya antimutagenik beberapa ekstrak bahan alam 10
secara mikrobiologi, Kongres Ilmiah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia XI1 Tahun 2000
Farghaly A. A. and Mona A.M. Abo-Zeid, (2009), Evaluation of the Antimutagenic Effect of Vitamin C against DNA Damage and Cytotoxicity Induced By Trimethyltin in 15
Mice, Nature and Science; 7(12).
Morikawa T, Matsuda H, Ninomiya K, Yoshikawa M, (2002), Medicinal Foodstuff XXIX. Potent protective effect of sesquiterpenes and curcumin form Zedoria rhizome on
liver injury induced by
D-20
galatosamin/lipopolysaccharide or tumor necrosis
factor-α. Biol. Pharm. Bull. 25 (5) 627-631.
Parton, Martina., Dowsett, Mitchel., and Smith, I., (2001),
Studies of Apoptosis in Breast Cancer, BMJ, 322:
1528-1532 25
Smerak K, Sestakova H, Polivkova Z, Barta I., Turek B, (2002), Antimutagenic Effect of Ellagic Acid and its Effect on the Immune Response in Mice, Czech J. Food Sci. Vol. 20, No. 5: 181–191
Sumanth M and Chowdary G.N, (2010), Antimutagenic activity 30
of aqueous extract of momordica charantia, Int.J. for Biotech. and Mol. Biol. Res. Vol. 1(4), pp.42-46
Sri Atun, Retno Arianingrum, Nurfina Aznam, Sri Nurestri, (2011), Phytochemical study on some Curcuma species
from Indonesia, Laporan Penelitian kerjasama
35
internasional, akan dipresentasi seminar Internasional ISNPC 27, 10-15 Juli 2011, Brisbane, Australia.
Sjamsul A.A; Hakim, E.H, Makmur L., Syah Y.M., Juliawaty L.D., Mujahidin D., (2007), Ilmu Kimia dan Kegunaan Tumbuh-tumbuhan obat Indonesia, Jilid I, Penerbit ITB. 40
Wu, Y., Chen, Y., Xu,J., and Lu L. (2002). Anticancer activities of curcumin on human Burkitt’s lymphoma, Zhonghua Zhong Liu Za Zhi, 24(4), 348-352.