1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 TUGAS POKOK DAN FUNGSI
Sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 103/M-IND/PER/12/2008 perihal Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang langsung dibawah tanggung jawab Kementerian Perindustrian cq Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah dengan level struktur organisasi eselon III.
Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia mempunyai tugas utama melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan, pengembangan desain dan pelayanan konsultasi di bidang persepatuan nasional. Dalam menjalankan tugas pokok yang dimaksud tersebut, BPIPI mempunyai beberapa fungsi utama antara lain:
a. Penyusunan rencana, program dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di bidang persepatuan
b. Pelaksanaan layanan bimbingan teknis produksi sepatu dan manajemen persepatuan
c. Pelaksanaan pengembangan desain di bidang persepatuan d. Pelayanan informasi teknologi persepatuan
e. Pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan, inventarisasi barang milik negera, tata persuratan, perlengkapan, kearsipan, tumah tangga, kordinasi penyusunan bahan rencana dan program, penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan serta pengelolaan perpustakaan BPIPI.
Dengan gambaran struktur organisasi saat ini 2 (dua) seksi dan 1 (satu) subbag tata usaha ditambah fungsional akan efektif menunjang kinerja organisasi yang berorientasi pada efisien struktur dan kaya fungsi.
2 1.2 PERAN STRATEGIS BALAI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERSEPATUAN
INDONESIA
Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia mempunyai posisi penting dalam rantai nilai industri alas kaki nasional baik pada skala industri kecil hingga besar. Peranan BPIPI dalam industri hulu alas kaki terletak pada bagaimana proses dan kualitas produk bahan baku alas kaki terjamin dan menunjang produk jadi alas kaki. Di pusat rantai nilai industri alas kaki, BPIPI bertanggungjawab pada penyiapan SDM dan standardisasi proses produksi. Sedangkan di sektor hulu, BPIPI mampu memberikan jaminan bahwa poduk akhir alas kaki berkualitas, mampu diterima pasar dengan baik dan menjadi produk unggulan nasional.
Sesuai tugas pokok dan fungsinya, BPIPI sebagai pusat pendidikan dan pelatihan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia khususnya di bidang persepatuan sehingga diharapkan terciptanya tenaga kerja kompeten dan trampil berdasarkan standar yang berlaku internasional. Didukung dengan seperangkat mesin dan peralatan modern untuk memproduksi persepatuan sesuai standar internasional. Misi pelatihan ini merupakan salah satu fokus penting BPIPI untuk memberikan kontribusi pada pemberdayaan tenaga kerja sekaligus bagian strategi investasi SDM (sumber daya manusia) di industri persepatuan. Mengapa strategi ini penting karena salah satu unsur penting daya saing industri adalah SDM. Tujuan utama dari pemberdayaan ini ialah bagaimana menanamkan budaya kerja yang produktif dan efisien. Kedua, budaya tersebut sangat dibutuhkan pada level industri dimana unsur manusia merupakan faktor terpeniting yang harus dibangun terlebih dahulu ialah membangun sejak dini budaya kerja konstruktif baik bagi SDM maupun industri. Karena bagaimanapun membangun budaya kerja membutuhkan variabel waktu cukup lama dan faktor keberlanjutan yang konsisten. Hal tersebut membutuhkan energi yang besar untuk paling tidak
3
bertahan (survive) apalagi keberadaan BPIPI mampu memberikan nilai tambah bagi industri khususnya persepatuan di Indonesia. Dan yang terpenting lagi ialah hasil pelatihan SDM di BPIPI sudah dapat dimanfaatkan langsung oleh beberapa perusahaan alas kaki nasional. Dalam upaya semakin memperkuat fungsi pendidikan ini, BPIPI harus melakukan strategic partnership dengan akademi/perguruan tinggi yang lebih intensif. Dengan mengedepankan fungsi pendidikan, BPIPI berharap sebagai academic centre persepatuan nasional dan kontributor utamanya adalah akademi/perguruan tinggi
BPIPI sebagai pusat pengujian dan sertifikasi produk dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan peningkatan kualitas hasil produksi persepatuan agar sesuai dengan standar internasional. Sebagai bagian dari paket layanan industri persepatuan di Indonesia, BPIPI juga akan dilengkapi peralatan uji produk kulit atau laboratorium. Pada periode 2006 BPIPI masih dilengkapi alat uji kekuatan sepatu dan beberapa IKM dan industri sepatu sudah mengujikan kekuatan produk sepatu. Pada akhir tahun 2013 beberapa peralatan standar pengujian laboratorium sudah dapat dilengkapi sehingga diharapkan sosialisasi mengenai standarisasi produk alas kaki dengan sadar uji produk dapat segera dilaksanakan. Dengan adanya fasilitas laboratorium ini diharapkan semakin melengkapi pelayanan BPIPI sebagai salah satu lembaga uji dan sertifikasi produk alas kaki. Namun beberapa hal yang menjadi hambatan dalam menjalankan fungsi laboratorium adalah belum adanya tenaga khusus untuk manajemen laboratorium yang baik dan sesuai standar industri dengan jasa klasifikasi produk dan flow certification yang jelas. Program kerjasama dengan lembaga riset industri seperti SATRA akan menjadi nilai tambah bagi BPIPI dalam upaya rebranding organisasi dimata industri besar, tentunya dengan harapan segmen industri besar dan menengah ini lebih banyak memanfaatkan fasilitas testing di BPIPI. Bagaimana dengan industri kecil, untuk IKM diharapkan mendapatkan fasilitas testing dengan pendekatan intervensi, dengan harapan meningkatkan kualitas produk alas kaki domestik.
4
BPIPI sebagai pusat penelitian dan pengembangan dapat memberikan kontribusi di bidang pengembangan desain produk persepatuan yang up to date serta dapat memberikan dukungan di dalam hal pembuatan pola dan grading hingga ke pembuatan Shoe Last dan Clicking Knifes yang effisien dalam waktu singkat. Didukung dengan seperangkat peralatan CAD / CAM dan seperangkat mesin pembuatan Shoe Last dan Clicking Knifes. Sebagai lembaga jasa aktifitas penting pada sisi internal ialah penelitian dan pengembangan (R&D). Proses ini membutuhkan kesiapan SDM internal BPIPI dan peralatan pendukung yang memadai. Sebagai fokus pengembangan, aktifitas R&D BPIPI difokuskan pada pengembangan–pengembangan peralatan/permesinan pada industri alas kaki yang tepat guna (TTG) dan pengembangan desain model sepatu casual (kulit) secara. Pada setiap aktifitas pelatihan sepatu khususnya desain pada tiap-tiap angkatan pelatihan akan diterapkan desain dan model yang terbaru.
BPIPI sebagai pusat konsultasi teknis persepatuan dapat memberikan kontribusi dalam hal penyuluhan teknis atau bimbingan teknis serta konsultasi kepada produsen persepatuan agar dapat meningkatkan kualitas, manajerial, dan efisiensi. Bentuk pelayanan yang dijalankan oleh BPIPI ialah memberikan jasa konsultasi teknis persepatuan dan manajemen. Aktifitas ini merupakan wujud kepedulian terhadap keberlanjutan program-program yang telah dikembangkan. Fokus aktifitas ini lebih pada pendampingan dan pembinaan industri alas kaki baik kecil, menengah dan besar. Sebagai bentuk korelasi dengan layanan pertama BPIPI yaitu pelatihan dan pendidikan. Konsultasi teknis dan menejemen yang diberikan lebih dititikberatkan pada bagaimana para alumni sekaligus mitra atau partner yang tergabung pada rantai nilai industri alas kaki dapat menjalankan budaya kerja produktif dan efisien di lapangan. Salah satu alat atau metode penting yang BPIPI gunakan adalah bagaimana setiap entitas SDM atau perusahaan dapat menjalankan budaya 7S (Short, Set in Order, Shine, Sustain, Standart, Safety, Smile). Dengan pendampingan industri baik
5
kecil, menengah, besar alas kaki, metode 7S cukup memberikan nilai tambah pada peningkatan produktifitas dan efisiensi. Tentunya penerapan metode ini tidak semuanya dapat disamakan untuk masing-masing entitas. Banyak tantangan yang dihadapi dalam menerapkan budaya tersebut, disamping BPIPI juga harus mempunyai budaya tersebut. Sehingga aplikasi dilapangan akan sangat berbeda untuk masing-masing perusahaan.
BPIPI sebagai pusat informasi dan perdagangan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam hal penyebaran informasi tentang trend dan perdagangan internasional yang berkenaan dengan persepatuan dunia sehingga diharapkan para produsen persepatuan dalam negeri dapat selalu up to date dengan perkembangan persepatuan di luar negeri. Di samping itu BPIPI berfungsi sebagai penghubung perdagangan antara pembeli dari luar negeri dengan produsen persepatuan dalam negeri. Terdapat dua aktifitas penting yang dilakukan yaitu mengikuti pameran dan misi dagang. Pada setiap pameran yang BPIPI ikuti selalu mengikutsertakan setidaknya industri kecil dan menengah untuk memamerkan produk unggulannya sekaligus memperkenalkan profile perusahaan, disamping misi BPIPI untuk sosialisasi kelembagaan kepada calon-calon mitra/partner BPIPI.
Dengan demikian maka melihat fungsi dari BPIPI maka sangat bermanfaat bagi produsen persepatuan di Indonesia untuk lebih mampu bersaing dalam percaturan perdagangan global.
1.3 STRUKTUR ORGANISASI BALAI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERSEPATUAN INDONESIA
Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor
103/M-IND/PER/12/2008 perihal Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT)
6
yang langsung dibawah tanggung jawab Kementerian Perindustrian cq Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah dengan level struktur organisasi eselon III.
Gambar 1.1. Struktur Organisasi BPIPI
Tugas Pokok masing-masing bagian/unit kerja adalah sebagai berikut:
1. Kepala BPIPI
Mengemban tugas memimpin Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia dalam hal perumusan pengembangan organisasi, pembinaan dan dukungan adminitrasi di lingkungan BPIPI.
2. Subbag Tata Usaha
Mengemban tugas pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan, inventarisasi barang milik negera, tata persuratan, perlengkapan, kearsipan, tumah tangga, kordinasi penyusunan bahan rencana dan program, penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan serta pengelolaan perpustakaan BPIPI.
3. Pendidikan & Pelatihan
Mengemban tugas pelaksanaan penyusunan rencana, program dan pendidikan dan pelatihan di bidang persepatuan dan pelaksanaan layanan bimbingan teknis produksi sepatu dan manajemen persepatuan.
7 4. Desain & Pengembangan
Mengemban tugas Pelaksanaan pengembangan desain di bidang persepatuan dan pelayanan informasi teknologi persepatuan.
Disamping itu terdapat kelompok fungsional yang mengemban tugas memberikan dukungan teknis untuk semua pelaksanaan operasional organisasi sesuai kompetensi yang dimiliki.
8 BAB II
PERENCANAAN KINERJA
2.1 RENCANA STRATEGIS 2010 – 2014
Rencana Strategis Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia 2010 – 2014 dimaksudkan merencanakan kontribusi kinerja yang optimal pada peningkatan daya saing industri persepatuan nasional.
Kiprah dan kontribusi selama 10 (sepuluh) tahun menjadi milestone yang sangat berarti dalam membangun industri persepatuan di Indonesia. Inisiatif untuk mengawali sebuah kebijakan industrialisasi sektor persepatuan didasarkan pada peluang untuk mampu mengambil kesempatan bersaing lebih baik dalam upaya kemajuan industri persepatuan.
A. Visi Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI)
V I S I :
”Mewujudkan Pusat Pelayanan yang Profesional Menuju Industri Persepatuan Berdaya Saing Global”
Deskripsi Organisasi :
1. Mewujudkan : Merupakan bentuk lain dari komitmen semangat tim baik secara fisik maupun spirit terhadap sasaran dan tujuan bersama
2. Pusat Pelayanan : Sebuah konsep sekaligus implementasi bagaimana secara total memberikan penghargaan kepada pelanggan dengan layanan, dimana masing-masing personil organisasi adalah pelayan dengan sebaik-baiknya melayani orang lain dan diri sendiri.
3. Profesional : Sebuah tahapan organisasi atau personil yang sudah melalui proses panjang pengabdian kepada ilmu pengetahuan dan lingkungan sehingga sangat layak baik secara organisasi atau personil memberikan layanan sesuai kapasitas dan wewenangnya
9
4. Industri Persepatuan : Sebuah potensi bangsa yang layak untuk dijadikan pengabdian bagi generasi bangsa. Sebuah potensi yang menggerakkan sumber daya dan ekonomi lokal, yang harus terus menerus dikembangkan guna kepeningan bangsa.
5. Berdaya : Tidak hanya tuntutan semata, menjadi organisasi sekaligus yang berdaya, mempunyai kekuatan, energi positif, kapasitas, wewenang, fokus dan kejujuran sudah menjadi kewajiban.
6. Saing : Merupakan konteks kompetitif bagaimana posisi tawar organisasi/personil di mata pihak lain, sekaligus merupakan konten komparatif bagaimana organisasi/personil mempunyai kinerja yang mampu di nilai oleh ukuran-ukuran normatif.
7. Global : Ruang lingkup organisasi yang semakin hari semakin tiada batas dan dinamis menuntut perubahan pola pikir/paradigma yang inivatif dan tiada batas.
B. Misi Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI)
M I S I :
1. Memberikan pelayanan pendidikan dan pelatihan 2. Memberikan bantuan konsultasi teknis dan manajemen 3. Mengembangkan pusat desain persepatuan
4. Memberikan informasi teknologi dan promosi persepatuan 5. Memberikan pelayanan pengujian mutu / sertifikasi
Deskripsi Misi :
1. Memberikan pelayanan pendidikan dan pelatihan
Pendidikan dan Pelatihan menjadi salah satu fokus program BPIPI dalam jangka waktu 5 tahun kedepan. Sebagai salah satu misi utama organisasi, pendidikan dan pelatihan yang diberikan BPIPI. Saat ini BPIPI sudah menyusuan kurikulum dan silabus pelatihan untuk desain, pecah pola, teknologi produksi, manajemen produksi, jahit Alas Kaki ”upper” dan lean
10
manufaktur. Kedepan masih sangat memungkinkan adanya perbaikan dan perbaruan kurikulum sesuai standard industri.
2. Memberikan bantuan konsultasi teknis dan manajemen
Program konsultasi ini terkait dengan tugas dan fungsi pokok pembinaan industri persepatuan. Tidak hanya terbatas pada konsultasi teknis, tim BPIPI dengan kompetensi masing-masing juga memberikan konsultasi manajemen kepada industri, terutama manajemen produksi.
3. Mengembangkan pusat desain persepatuan
Salah satu program organisasi kedepan ialah, bagaimana menyiapkan database design dengan didukung piranti hardware dan software sebagai salah satu referensi model dan desain untuk Alas Kaki casual (berbahan kulit) di Indonesia.
4. Memberikan informasi teknologi dan promosi persepatuan
Sebagai salah satu tugas penting lembaga pelayanan ialah menyediakan informasi yang cukup mengenai perkembangan teknologi produksi, kondisi pasar, design terbaru dan informasi perdagangan dengan tujuan membantu percepatan penyampaian informasi.
5. Memberikan pelayanan pengujian mutu dan sertifikasi
Untuk memenuhi kebutuhan industri terhadap pelayanan uji produk, maka BPIPI memberikan jasa layanan tes uji laboratorium untuk produk Alas Kaki. Pelayanan uji ini penting untuk peningkatan kualitas dan pelaksanaan standard produk Alas Kaki.
C. Tujuan Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI)
Pembangunan industri persepatuan nasional merupakan bagian penting sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu pengembangan industri persepatuan harus mampu memberikan nilai tambah pada ekonomi domestik, pembangunan aspek sosial dan politik.
11
Secara kuantitatif peran industri persepatuan harus memberikan dampak pada kontribusi peningkatan kualitas proses dan produk akhir alas kaki maka hal ini akan dijabarkan dalam tujuan organisasi sebagai berikut:
1. Meningkatkan daya saing industri persepatuan
2. Meningkatkan penguasaan teknologi dan kualitas SDM untuk kebutuhan industri persepatuan
3. Memperkuat struktur industri persepatuan
4. Menyediakan jasa layanan desain, kualitas dan uji produk persepatuan yang prima
D. Sasaran Strategis Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI)
Dalam mewujudkan tujuan tersebut di atas, diperlukan upaya yang sistematis dan terstruktur dengan baik. Upaya-upaya tersebut dijabarkan ke dalam sasaran-sasaran strategis yang mengakomodasi kepentingan seluruh stakeholders BPIPI sebagai berikut:
1. Memfasilitasi pengembangan teknologi IKM
Sebagai target utama, BPIPI menginginkan terwujudnya sebuah lembaga yang memfasilitasi IKM alas kaki dengan teknologi dan pengetahuan industri. Sasaran ini akan dicapai dengan program-program perkuatan sekaligus pendampingan secara konsisten kepada pelaku industri kecil, menengah dan besar dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Fasilitasi mesin dan peralatan
2. Meningkatnya akses bahan baku, pembiayaan dan pasar produk IKM
Salah satu faktor kekuatan daya saing produk dan layanan industri persepatuan Indonesia adalah adanya kepastian dan kemudahan IKM atas bahan baku dan pasar. BPIPI ingin berperan dalam aspek tersebut dengan memfasilitasi sektor industri dalam upaya memperluar pangsa pasar produk IKM alas kaki dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
12
Jumlah IKM yang mendapatkan akses bahan sumber bahan baku
3. Tersedianya fasilitasi promosi IKM
Fungsi utama BPIPI adalah sebagai pusat informasi desain dan promosi terkini produk persepatuan. Tugas tersebut dengan konsisten digulirkan oleh BPIPI dengan terus mengoptimalkan Pusat Desain dan Promosi Persepatuan di Indonesia dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
IKM yang mengikuti pameran, misi dagang/investasi Promosi
produk/jasa dan investasi industri
Jumlah pameran, misi dagang/investasi Promosi produk/jasa dan
investasi industri
4. Meningkatnya Kualitas Pelayanan Publik
Sebagai representasi dari pemerintah sekaligus industri persepatuan nasional, BPIPI mempunyai peran ganda dalam memfasilitasi regulasi industri dalam upaya misi pemerintah dalam sektor industri sekaligus menjaring kebutuhan industri persepatuan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik untuk industri alas kaki dengan Indikator Utama Kinerja terdiri dari:
Tingkat Kepuasan Pelanggan
5. Meningkatnya kualitas SDM IKM dan Penumbuham Wirausaha
Dalam kompetisi global saat ini, sektor industri persepatuan dituntut untuk terus menerus memberikan produk yang berkualitas. Salah satu fungsi BPIPI untuk mewujudkan hal tersebut adalah memfasiitasi secara konsisten memberikan bekal keterampilan dan teknologi produksi yang standard serta ikur serta menumbuhkan wirausaha baru sektor alas kaki dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah SDM IKM yang mengikuti pelatihan Jumlah Wirausaha sektor alas kaki yang tumbuh
13 6. Meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta
kewirausahaan
Dalam kompetisi global saat ini, sektor industri persepatuan dituntut untuk terus menerus memberikan produk yang berkualitas. Salah satu fungsi BPIPI dalam memperkuat SDM alas kaki dan dalam upaya masyarakat ekonomi ASEAN, maka BPIPI akan fokus pada pembenahan infrastruktur lembaga sertfikasi profesi yang akan memperkuat kompetensi SDM industri serta menduplikasi Tempat Uji Kompeternsi yang mendekati area industri dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah Asesor yang disertifikasi Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi
7. Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf
Sebagai salah satu satuan kerja pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal IKM Kementerian Perindustrian, BPIPI merasa sangat perlu terus meningkatkan budaya pengawasan internal bersifat kordinatif dan sistematis. Sistem yang terbangun selama ini akan terus di perbaiki dengan membangun komunikasi internal yang baik dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Terbangunnya sistem pengendalian intern di unit kerja
8. Membangun organisasi yang profesional dan pro bisnis
Salah satu tantangan terbesar BPIPI adalah bagaimana bentuk program dan kegiatan organisasi yang sifatnya membantu IKM dan industri alas kaki dalam hal peningkatan kualitas pelayanan. Fokus BPIPI akan terus membenahi sistem implementasi manajemen kualitas dengan Indikator Kinerja Utama yang terdiri dari:
14 9. Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal
Infrastruktu sistem informasi menjadi salah fokus pembenahan di BPIPI. Ibarat jendela informasi, sistem informasi yang saat ini berjalan terus menerus akan ada perbaikan dalam upaya jangka panjang mengintegrasikan pelayanan dengan Indokator Kinerja Utama terdisi dari:
Tersedianya sistem informasi online Pengguna yang mengakses sebanyak
10. Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan
Dalam rangka tertib kegiatan dan administrasi, salah satu aspek yang perlua diperhatikan adalah kualitas perencanaan dan sistematika laporan yang sesuai dengan aturan yang ada. Artinya perencanaan sebagai masukan utama BPIPI dalam menyusun program dan kegiatan prioritas pada level teknis dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Meningkatnya kualitas perencanaan dan pelaporan Tingkat ketepatan dan waktu pelaksanaan kegiatan Nilai SAKIP BPIPI
11. Meningkatkan sistem tata kelola keuangan BMN yang profesional
Sistem tata kelola kuangan dan BMN menjadi indikator kerja penting satuan kerja. Tingkat kepercayaan publik dan stakeholder tercermin dari sistem tata kelola dan informasi keuangan dan manajemen barang milik negara. Sesuai dengan aturan yang ada sistem tata kelola keuangan dan BMN ini BPIPI menetapkan Indikator Kenirja Utama terdiri dari:
15 E. Peta Strategis Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia
(BPIPI)
Berdasarkan visi dan misi organisasi, BPIPI menyusun sebuah peta strategi utama dalam upaya mewujudkan cita-cita organisasi. Strategi di susun untuk mempermudah manajemen organisasi dalam mengatur sumber daya yang dimiliki supaya optimal dalam mencapat sasaran strategis yang sudah ditetapkan.
Gambar 2.1. Peta Strategi BPIPI Meningkatnya Daya Saing
Industri Persepatuan
Tingginya Nilai Kepuasan Masyarakat Persepatuan Tingginya Apresiasi Kementerian Perindustraian Tingginya Tingkat Partisipasi Masyarakat Alumni Achievement Tingginya Ketepatan
Sasaran Program Berjalannya Program Sosial Kemasyarakatan S T A K E H O L D E R S , M A S Y A R A K A T & A L U M N I
Meningkatnya Efisiensi dan Efektifitas Pelayanan
Meningkatnya Kualitas dan Kuantitas Pelayanan
Tingginya Tingkat Kecepatan dan Akurasi Pelayanan
Rasio Lead Time yang Rendah Tingginya Jaminan Dalam Pelayanan Meningkatnya Standard Opersional Manajemen O P E R A S IO N A L
Kuat dan Tingginya Motivasi dalam Tim Kerja
Cukupnya Ketersediaan Akses Data & Informasi Tingginya Tingkat Kepuasan Karyawan Tingginya Tingkat Partisipasi Karyawan Meratanya Tingkat Kompetensi Karyawan Konsistennya Pelaksanaan Standardisasi Manajemen
Aktifnya Pemberdayaan dan Pelatihan pada Karyawan Terciptanya Iklim dan
Nuansa Kerja Positif
Tingginya Tingkat Inovasi Karyawan P E M B E R D A Y A A N D A N K A P A S IT A S S D M Tingginya Efisiensi Biaya Layanan Tingginya Akuntabilitas Kepada Publik Tingginya Pertumbuhan Tingginya Nilai Tambah
Keuangan K E U A N G A N
16 2.2 RENCANA KINERJA TAHUN 2014
Dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran strategis yang telah ditetapkan sebagaimana tercantum dalam rencana strategis BPIPI 2010-2014, berdasarkan hasil evaluasi kinerja tahun 2014 telah ditetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) dari masing-masing sasaran strategis yang akan dicapai Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia pada tahun 2014 sebagai berikut:
1. Memfasilitasi pengembangan teknologi IKM
Sebagai target utama, BPIPI menginginkan terwujudnya sebuah lembaga yang memfasilitasi IKM alas kaki dengan teknologi dan pengetahuan industri. Sasaran ini akan dicapai dengan program-program perkuatan sekaligus pendampingan secara konsisten kepada pelaku industri kecil, menengah dan besar dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Fasilitasi mesin dan peralatan 2 IKM
2. Meningkatnya akses bahan baku, pembiayaan dan pasar produk IKM
Salah satu faktor kekuatan daya saing produk dan layanan industri persepatuan Indonesia adalah adanya kepastian dan kemudahan IKM atas bahan baku dan pasar. BPIPI ingin berperan dalam aspek tersebut dengan memfasilitasi sektor industri dalam upaya memperluar pangsa pasar produk IKM alas kaki dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah IKM yang mendapatkan akses bahan sumber bahan baku 3
IKM
3. Tersedianya fasilitasi promosi IKM
Fungsi utama BPIPI adalah sebagai pusat informasi desain dan promosi terkini produk persepatuan. Tugas tersebut dengan konsisten digulirkan oleh BPIPI dengan terus mengoptimalkan Pusat Desain dan Promosi Persepatuan di Indonesia dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
17
IKM yang mengikuti pameran, misi dagang/investasi Promosi
produk/jasa dan investasi industri 30 IKM
Jumlah pameran, misi dagang/investasi Promosi produk/jasa dan
investasi industri 4 Pameran
4. Meningkatnya Kualitas Pelayanan Publik
Sebagai representasi dari pemerintah sekaligus industri persepatuan nasional, BPIPI mempunyai peran ganda dalam memfasilitasi regulasi industri dalam upaya misi pemerintah dalam sektor industri sekaligus menjaring kebutuhan industri persepatuan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik untuk industri alas kaki dengan Indikator Utama Kinerja terdiri dari:
Tingkat Kepuasan Pelanggan 4 indek
5. Meningkatnya kualitas SDM IKM dan Penumbuham Wirausaha
Dalam kompetisi global saat ini, sektor industri persepatuan dituntut untuk terus menerus memberikan produk yang berkualitas. Salah satu fungsi BPIPI untuk mewujudkan hal tersebut adalah memfasiitasi secara konsisten memberikan bekal keterampilan dan teknologi produksi yang standard serta ikur serta menumbuhkan wirausaha baru sektor alas kaki dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah SDM IKM yang mengikuti pelatihan 400 IKM
Jumlah Wirausaha sektor alas kaki yang tumbuh 120 WUB
6.
Meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaanDalam kompetisi global saat ini, sektor industri persepatuan dituntut untuk terus menerus memberikan produk yang berkualitas. Salah satu fungsi BPIPI dalam memperkuat SDM alas kaki dan dalam upaya masyarakat ekonomi ASEAN, maka BPIPI akan fokus pada pembenahan infrastruktur lembaga sertfikasi profesi yang akan memperkuat kompetensi SDM industri serta
18
menduplikasi Tempat Uji Kompeternsi yang mendekati area industri dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah Asesor yang disertifikasi 13 Orang Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi 1 TUK
7.
Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan stafSebagai salah satu satuan kerja pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal IKM Kementerian Perindustrian, BPIPI merasa sangat perlu terus meningkatkan budaya pengawasan internal bersifat kordinatif dan sistematis. Sistem yang terbangun selama ini akan terus di perbaiki dengan membangun komunikasi internal yang baik dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Terbangunnya sistem pengendalian intern di unit kerja 1 Unit Kerja
8.
Membangun organisasi yang profesional dan pro bisnisSalah satu tantangan terbesar BPIPI adalah bagaimana bentuk program dan kegiatan organisasi yang sifatnya membantu IKM dan industri alas kaki dalam hal peningkatan kualitas pelayanan. Fokus BPIPI akan terus membenahi sistem implementasi manajemen kualitas dengan Indikator Kinerja Utama yang terdiri dari:
Penerapan sistem manajemen mutu 1 Satker
9.
Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handalInfrastruktu sistem informasi menjadi salah fokus pembenahan di BPIPI. Ibarat jendela informasi, sistem informasi yang saat ini berjalan terus menerus akan ada perbaikan dalam upaya jangka panjang mengintegrasikan pelayanan dengan Indokator Kinerja Utama terdisi dari:
Tersedianya sistem informasi online 1 website Pengguna yang mengakses sebanyak 200 pengguna
19
10.
Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporanDalam rangka tertib kegiatan dan administrasi, salah satu aspek yang perlua diperhatikan adalah kualitas perencanaan dan sistematika laporan yang sesuai dengan aturan yang ada. Artinya perencanaan sebagai masukan utama BPIPI dalam menyusun program dan kegiatan prioritas pada level teknis dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Meningkatnya kualitas perencanaan dan pelaporan 90% Tingkat ketepatan dan waktu pelaksanaan kegiatan 90% Nilai SAKIP BPIPI 75
11.
Meningkatkan sistem tata kelola keuangan BMN yang profesionalSistem tata kelola kuangan dan BMN menjadi indikator kerja penting satuan kerja. Tingkat kepercayaan publik dan stakeholder tercermin dari sistem tata kelola dan informasi keuangan dan manajemen barang milik negara. Sesuai dengan aturan yang ada sistem tata kelola keuangan dan BMN ini BPIPI menetapkan Indikator Kenirja Utama terdiri dari:
Tingkat penyerapan anggaran sebesar 95%
2.3 PENETAPAN KINERJA
Berdasarkan rencana kinerja yang telah disusun, dengan dukungan dukungan pembiayaan dalam DIPA tahun anggaran 2014, maka ditetapkanlah kinerja yang akan dicapai pada periode berjalan.
Penetapan kinerja ini merupakan tolok ukur akuntabilitas kinerja pada akhir 2014 yang disusun berdasarkan Rencana Kinerja Tahun 2014 yang telah ditetapkan. Namun juga masih dimungkinkan adanya review atas beberapa indikator dengan dasar perubahan penajaman target dan penyesuaian target karena keterbatasan data dan informasi.
20
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
Perspektif Pemangku Kepentingan / Stakeholder (S) Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok (T)
1 Memfasilitasi
pengembangan teknologi IKM
Fasilitasi mesin peralatan 2 IKM
2 Meningkatnya akses bahan baku, pembiayaan, dan pasar produk IKM
Jumlah IKM yang mendapat akses sumber bahan baku
3 IKM
3 Tersedianya fasilitasi promosi IKM
IKM yang mengikuti pameran, misi dagang/investasi Promosi produk/jasa dan investasi industri
30 IKM
Jumlah pameran, misi dagang/investasi Promosi produk/jasa dan investasi industri
4 pameran
4 Meningkatnya kualitas pelayanan publik
Tingkat kepuasan pelanggan 4 Indeks
5 Meningkatnya kualitas SDM IKM dan penumbuhan Wira Usaha
Jumlah SDM IKM yang mengikuti pelatihan
400 IKM
Jumlah WUB yang tumbuh 120 WUB
6 Meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta
kewirausahaan
Jumlah Asesor yang disertifikasi 13 orang Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi
(TUK)
1 TUK
7 Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf
Terbangunnya Sistem Pengendalian Intern di unit kerja
1 Unit Kerja
Perspektif Peningkatan Kapasitas Kelembagaan (L)
1 Membangun organisasi yang profesional dan pro bisnis
Penerapan sistem manajemen mutu ISO 1 Satker
2 Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal
Tersedianya sistem informasi online 1 website
Pengguna yang mengakses 200
pengakses 3 Meningkatkan kualitas
perencanaan dan pelaporan
Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan
90 %
Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan
90 %
Nilai SAKIP BPIPI 75 Nilai
4 Meningkatkan sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional
Tingkat penyerapan anggaran BPIPI 95 %
21 2.4 RENCANA ANGGARAN
Dalam upaya mewujudkan kinerja yang telah ditetapkan untuk tahun 2014, Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia didukung olah dana APBN sebesar Rp. 9.400.000.000,-
Sebagai gambaran umum, tahun 2014 komposisi anggaran BPIPI dilihat dari hasil keluaran terdiri dari dua (dua) output sebagai berikut :
1. Fasilitasi Peningkatan Pelayanan IKM melalui UPT (Rp. 7.580.862.000)
2. Layanan Perkantoran (Rp. 1.819.138.000)
Untuk komposisi anggaran 2014 dilihat dari klasifikasi jenis belanja sebagai berikut :
1. Kelompok Belanja Barang (52) total anggaran Rp. 6.455.862.000,- a. Sub Kelompok Belanja (52) Operasional Rp. 6.656.381.000,- b. Sub Kelompok Belanja (52) Non Operasional Rp. 480.390.000,- 2. Kelompok Belanja Modal (53) total anggaran Rp. 900.000.000,-
a. Sub Kelompok Belanja (5321) senilai Rp. 900.000.000-
3. Kelompok Belanja Pegawai (51) total anggaran Rp. 1.113.229.000
No Output/Suboutput Komposisi
Anggaran
1. Penunjang Perkantoran 1.761.570.000
2. Perkuatan dan Peningkatan Kinerja & Standard
Layanan 368.970.000
3 Keikutsertaan dalam Pameran dan Kegiatan
Promosi 518.260.000
4 Peningkatan Kompetensi & Pelatihan SDM BPIPI 187.750.000
5 Pengembangan Kapasitas Organisasi 108.130.000
6 Rekruitmen dan Monitoring Evaluasi Peserta
Pelatihan BPIPI 307.152.000
7 Program Peningkatan Kualitas Desain Produk
Alas Kaki Nasional 128.450.000
8 Revitalisasi Mesin & Peralatan BPIPI 975.000.000
9 Pelatihan IKM Alas Kaki 2.944.440.000
10 Program Perkuatan & Penumbuhan WUB 281.140.000
11 Pembayaran Gaji & Tunjangan 1.070.187.000
12 Operasional & Pemeliharaan Perkantoran 748.951.000
22 BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA PERINDUSTRIAN
Akuntabilitas kinerja organisasi diukur dalam rangka merepresentasikan sekaligus menggambarkan capaian kinerja Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia tahun anggaran 2014. Akuntabilitas kinerja ini mencakup analisis capaian kinerja sasaran, analisis kinerja kelembagaan dan analisis kinerja keuangan.
3.1 ANALISIS CAPAIAN KINERJA KELEMBAGAAN BPIPI TAHUN 2014
Salah satu potensi yang mampu menggerakkan sektor industri alas kaki adalah IKM yang didukung penuh oleh industri besar yang dibingkai dalam hubungan kemitraan yang saling menguntungkan. Mengacu roadmap yang ditetapkan oleh Kementerian Perindustrian RI, Tahun 2030 Indonesia akan menjadi pusat manufaktur alas kaki yang berkualitas dunia. Sebuah tantangan sekaligus ancaman. Tergantung perspektif sisi mana kita gunakan sebagai masyarakat industri alas kaki Indonesia. Perspektif ini harus digunakan secara proporsional, karena keduanya (tantangan dan ancaman) akan sangat berguna untuk menyusun strategi kedepan secara sistematis dan terukur.
Perspektif Tantangan, adalah sebuah sudut pandang positif bagaimana melihat masa depan industri alas kaki dari sisi skenario/gambaran/kondisi terbaik yang akan dicapai. Berawal dari titik ini, Industri Alas Kaki harus menyiapkan diri dan potensi internalnya untuk memperoleh manfaat dan nilai tambah sebesar-sebesarnya bagi masyarakat. Diperlukan strategi untuk menangkap peluang di masa depan. Perspektif Ancaman, sebuah sudut pandang (bukan negatif) yang melihat masa depan industri alas kaki dari sisi skenario/gambaran/kondisi terburuk yang akan diterima atas konsekuensi perubahan di masa depan.
23
Volume pasar, sumber daya manusia dan ketersediaan bahan baku merupakan potensi natural yang dimiliki oleh masyarakat industri alas kaki Indonesia. Keunggulan tersebut harus dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh industri lokal dan menghasilkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Namun yang perlu diwasapadai, dalam jangka panjang potensi natural industri alas kaki nasional (Volume pasar, sumber daya manusia dan ketersediaan bahan baku) tidak bisa menjadi acuan utama strategi pengembangan industri, akan lebih banyak faktor eksternal (tantangan sekaligus ancaman) yang akan mereduksi nilai manfaat potensi tersebut. Faktor eksternal tersebut seperti perubahan demografi, perilaku dan struktur pasar, perkembangan teknologi dan perubahan pada etika dan aturan bisnis bahkan lingkungan.
Industri alas kaki adalah sektor industri dengan volume sangat besar. Dengan total nilai ekspor dunia sebesar US$119 trilyun (APICCAPS 2014 ) atau naik 12 % dari tahun sebelumnya, sangat tidak masuk akal jika tidak menjadi fokus pengembangan industri masa depan Indonesia. China masih mendominasi pasar dunia dengan total kontribusi 10,667 milyar pasang atau menguasai 73,4%,5,% market share alas ekspor alas kaki dunia.
Tabel 3.1 : Nilai Ekspor Alas Kaki di Dunia Tahun 2013 Sumber : APICCAPS – World Footwear 2014
24
Saat ini dunia akan dipenuhi 20 milyar pasang sepatu. Asia sangat mendominasi (87%), dimana pusat manufaktur alas kaki berada di wilayah ini. China sendiri memproduksi 63,3% produksi alas kaki dunia. Vietnam dan Indonesia, India masuk dalam 10 besar produsen alas kaki dunia.
Tabel 3.2 Produsen Alas Kaki Dunia
Sumber : Sumber : APICCAPS – World Footwear 2013
Saat ini Indonesia menempaiti urutan ke-5 produsen alas kaki dengan total produksi 700 juta pasang, masih jauh dari India yang menempati urutan ke-2 dengan total produksi 2 milyar pasang lebih. Negara tetangga Vietnam unggul tipis di atas Indonesia dengan total produksi 770 juta pasang.
Saat ini Konsumsi alas kaki domestik perkapita 1,8 pasang dengan jumlah penduduk 230 juta, diangap masih sangat kecil konsumsi produk alas kaki yang terserap pasar lokal. Dengan total jumlah produksi 700 juta pasang dengan tingkat utilitas 60-75% idealnya saat ini konsumsi perkapita lebih dari 3 pasang dengan catatan level utilitas nya optimal (80% lebih). Sehingga konsumsi dalam negeri jadi lebih besar (750 juta pasang). Kondisi ideal tersebut memang tidak mudah dicapai. Daya beli yang masih rendah (1,8 pasang/tahun) menunjukkan daya beli masyarakat rata-rata tidak sampai 2 pasang dalam setahun.
25
Menurut APRISINDO Jakarta, di tahun 2014 kekhawatiran belum pulihnya krisss Eropa memungkinkan terjadi penurunan 10-20%. Sehingga estimasi target tahun 2014 hanya sebesar 10% atau sebesar US$3,775 milyar. Diperlukan dukungan pemerintah yang lebih intensif lagi, terkait target industri alas kaki dalam roadmap nasional. Eddy Widjanarko, Ketua APRISINDO Jakarta Optimis minimal 3 tahun kedepan nilai ekspor Indonesia mencapai US$5 milyar. Negara-negara dikawasan Asia masih menjadi kompetitor utama Indonesia untuk mewujudkan industri alas kaki berkelas dunia. Vietnam, India dan khususnya China masih mendominasi produsen alas kaki Dunia. Dengan tidak melupakan industri alas kaki domestik yang terus tumbuh, Nilai pasar ini mencapai Rp24 trilyun atau tumbuh 10% dari tahun 2014.
Bagaimana dengan impor nasional, Kementerian Perdagangan mencatat impor alas kaki pada tahun 2013 mencapai US$249 juta atau sebanyak 18 jut pasang. Partner utama Indonesia dalam perdagangan alas kaki nasional di antaranya Amerika dengan nilai ekspor US$ 1,028 milyar atau setara 29% dari total neraca perdagangan ekspor alas kaki nasional, disusul negara2 di Eropa.
Terdapat kendala khusus yang disampaikan oleh Asosiasi Persepatuan Indonesia terkait keterampilan SDM lokal khususnya untuk industri kecil. Industri kecil masih kesulitan mengembangkan desain alas kaki yang baik dan standard. Pada umumnya masih mengandalkan kebiasaan dan pola-pola lama. Padahal perkembangan teknik desain dan pecah pola untuk alas kaki sudah berkembang pesat. Hal ini pun menjadi perhatian khusus pemerintah, sehingga perlu adanya pengembangan pelatihan design yang baik dan standard. Belum lagi permasalahan industri lokal dengan adanya produk China, terutama di sentra-sentra perdagangan, semakin membuat beban berat masyarakat industri alas kaki Indonesia
26
Pada Tahun Anggaran 2014, Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia dibawah koordinasi Sekretariat Direktorat Jendral IKM Kementerian Perindustrian dipercaya mengelola Program Fasilitasi Peningkatan Pelayanan
IKM Melalui UPT, Kegiatan Layanan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia dengan anggaran sebesar Rp. 9.400.000.000,-
3.2 ANALISIS CAPAIAN KINERJA SASARAN BPIPI TAHUN 2014
Pencapaian kinerja sasaran BPIPI tahun 2014, seperti yang sudah ditetapkan sebagai perjanjian dalam dokumen Penetapan Kinerja 2013 merupakan tahapan dari upaya pencapaian kinerja sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis BPIPI tahun 2010-2014. Kinerja sasaran yang ditetapkan dalam Penetapan Kinerja BPIPI tahun 2014 yang mencakup 11 (sebelas) sasaran strategis yang diukur melalui 17 (tujuh belas) Indikator Kinerja Utama (IKU).
1. Memfasilitasi pengembangan teknologi IKM
Sebagai target utama, BPIPI menginginkan terwujudnya sebuah lembaga yang memfasilitasi IKM alas kaki dengan teknologi dan pengetahuan industri. Sasaran ini akan dicapai dengan program-program perkuatan sekaligus pendampingan secara konsisten kepada pelaku industri kecil, menengah dan besar dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Fasilitasi mesin dan peralatan
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Memfasilitasi
Pengembangan Teknologi IKM
Fasilitasi mesin
peralatan 2 2 100% IKM
Tabel 3.3 Capaian IKU dari Sasaran Memfasilitasi Pengembangan Teknologi IKM
Selama tahun kerja 2014, BPIPI sudah membantu 2 unit KUB (Kelompok Usaha Bersama) di Pacitan dan Trenggalek, dimana KUB tersebut fokus pada pembuatan upper alas kaki.
27 2. Meningkatnya akses bahan baku, pembiayaan dan pasar produk IKM
Salah satu faktor kekuatan daya saing produk dan layanan industri persepatuan Indonesia adalah adanya kepastian dan kemudahan IKM atas bahan baku dan pasar. BPIPI ingin berperan dalam aspek tersebut dengan memfasilitasi sektor industri dalam upaya memperluar pangsa pasar produk IKM alas kaki dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah kegiatan fasilitasi IKM untuk mendapatkan akses sumber
bahan baku dan pasar produk IKM
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian
Meningkatnya akses bahan baku,
pembiayaan dan pasar produk IKM
Jumlah kegiatan fasilitasi IKM untuk mendapatkan akses sumber bahan baku dan pasar produk IKM
3 3 100%
Kegiatan Temu Bisnis
Tabel 3.4 Capaian IKU dari
Meningkatnya Akses Bahan Baku, Pembiayaan dan Pasar Produk IKM
Temu bisnis yang diadakan oleh BPIPI, merupakan salah satu kegiatan unggulan dimana merupakan pertemuan penting sekaligus momentum strategis untuk berbagi informasi para alumni dan potensial partner. Di forum tersebut terjadi komuniasi potensi usaha yang saling mempertemukan kebutuhan produk dan pasar. Tahun 2014, temu bisnis diadakan di 3 wilayah potensial yakni, Padang, Jogjakarta dan Kupang.
3. Tersedianya fasilitasi promosi IKM
Fungsi utama BPIPI adalah sebagai pusat informasi desain dan promosi terkini produk persepatuan. Tugas tersebut dengan konsisten digulirkan oleh BPIPI dengan terus mengoptimalkan Pusat Desain dan Promosi Persepatuan di Indonesia dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari
IKM yang mengikuti pameran misi dagang/ investasi promosi produk/
28
Jumlah pameran, misi dagang/ investasi promosi produk/ jasa dan
industri
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Tersedianya
fasilitasi promosi IKM
IKM yang mengikuti pameran misi dagang/ investasi promosi produk/ jasa dan industri
30 39 100% IKM
Jumlah pameran, misi dagang/ investasi promosi produk/ jasa dan industri
4 4 100% Pameran
Tabel 3.5 Capaian IKU dari Sasaran Tersedianya fasilitasi promosi IKM
Pata tahun 2014, dengan keterbatasa anggaran dalam pameran dan promosi potensi IKM dan berdasarkan agenda pameran alas kaki nasional, BPIPI sudah memfasilitasi sebanyak 39 IKM untuk ikut pameran yang terbagi dalam 4 kegiatan pameran tematik alas kaki nasional.
4. Meningkatnya kualitas pelayanan publik
Sebagai representasi dari pemerintah sekaligus industri persepatuan nasional, BPIPI mempunyai peran ganda dalam memfasilitasi regulasi industri dalam upaya misi pemerintah dalam sektor industri sekaligus menjaring kebutuhan industri persepatuan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik untuk industri alas kaki dengan Indikator Utama Kinerja terdiri dari:
Tingkat Kepuasan Pelanggan
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Meningkatnya pelayanan
publik
Tingkat kepuasan
pelanggan 4 3,35 88,37% Indek
Tabel 3.6 Capaian IKU dariMeningkatnya Kualitas Pelayanan Publik
5. Meningkatnya kualitas SDM IKM dan Penumbuham Wirausaha
Dalam kompetisi global saat ini, sektor industri persepatuan dituntut untuk terus menerus memberikan produk yang berkualitas. Salah satu fungsi BPIPI untuk mewujudkan hal tersebut adalah memfasiitasi secara konsisten
29
memberikan bekal keterampilan dan teknologi produksi yang standard serta ikur serta menumbuhkan wirausaha baru sektor alas kaki dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah SDM IKM yang mengikuti pelatihan Jumlah Wirausaha sektor alas kaki yang tumbuh
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Meningkatnya
kualitas SDM IKM dan penumbuhan wirausana
Jumlah SDM IKM yang
mengikuti pelatihan 320 320 100% IKM
Jumlah WUB yang
tumbuh 30 50 100% WUB
Tabel 3.6 Capaian IKU dariMeningkatnya Kualitas SDM IKM dan Penumbuhan wirausaha
Tahun 2014, BPIPI berhasil melaksanakan pelatihan sebanyak 16 angkatan dengan total peserta 320 orang yang berasalah dari wilayah potensi sentra dan IKM alas kaki. Khusus program WUB, jumlah wirausaha yang ditumbuhkan terdapat 50 orang yang berasal dari KUB jahit upper Trenggalek dan Pacitan.
6. Meningkatnya kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan
Dalam kompetisi global saat ini, sektor industri persepatuan dituntut untuk terus menerus memberikan produk yang berkualitas. Salah satu fungsi BPIPI dalam memperkuat SDM alas kaki dan dalam upaya masyarakat ekonomi ASEAN, maka BPIPI akan fokus pada pembenahan infrastruktur lembaga sertfikasi profesi yang akan memperkuat kompetensi SDM industri serta menduplikasi Tempat Uji Kompeternsi yang mendekati area industri dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Jumlah Asesor yang disertifikasi Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi
30
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Meningkatnya
kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan
Jumlah pegawai yang telah mendapat sertifikasi tertentu 10 22 100% Orang Terbentuknya TUK BPIPI 1 1 100% Unit Kerja
Tabel 3.7 Capaian IKU dariMeningkatnya Kualitas Lembaga pendidikan
dan pelatihan serta kewirausahaan
Pemenuhan tenaga kerja level operator untuk jahit upper pada tahun 2014 sangat tinggi. Infrastruktur yang harus di siapkan BPIPI adalah penyiapan tenaga asesor kompetensi dan lisensi yang disiapkan untuk mengases tenaga kerja. Disamping itu BPIPI fokus pada percepatan operasional TUK BPIPI sebagai tempat uji kompetensi tenaga kerja. Program ini sinergi dengan program percepatan kebutuhan SDM industri PUSDIKLAT Kementerian Perindustrian.
7. Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf
Sebagai salah satu satuan kerja pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal IKM Kementerian Perindustrian, BPIPI merasa sangat perlu terus meningkatkan budaya pengawasan internal bersifat kordinatif dan sistematis. Sistem yang terbangun selama ini akan terus di perbaiki dengan membangun komunikasi internal yang baik dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Terbangunnya sistem pengendalian intern di unit kerja
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf Tersusunnya dokumentasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah 1 1 100% Unit Kerja
31 8. Membangun organisasi yang profesional dan pro bisnis
Salah satu tantangan terbesar BPIPI adalah bagaimana bentuk program dan kegiatan organisasi yang sifatnya membantu IKM dan industri alas kaki dalam hal peningkatan kualitas pelayanan. Fokus BPIPI akan terus membenahi sistem implementasi manajemen kualitas dengan Indikator Kinerja Utama yang terdiri dari:
Penerapan sistem manajemen mutu
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Membangun
organisasi yang profesional dan pro bisnis
Penerapan sistem manajemen mutu ISO 17025-2005 dan ISO 9001-2008
1 1 100% Satuan
Kerja
Tabel 3.9 Capaian IKU dariMembangun Organisasi yang Profesioanl dan Pro Bisnis
Sebagai salah satu satuan kerja yang berorientasi pada pelayanan, salah satu instrumen penting dalam rangka pelayanan profesional dan pro bisnis adalah penerapan manajemen mutu ISO 17025-2005 untuk laboratorium uji dan ISO 9001-2005 untuk manajemen organisasi. Setiap tahun BPIPI secara konsisten terus memperbaiki kinerja dengan melakukan audit internal atau eksternal.
9. Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal
Infrastruktu sistem informasi menjadi salah fokus pembenahan di BPIPI. Ibarat jendela informasi, sistem informasi yang saat ini berjalan terus menerus akan ada perbaikan dalam upaya jangka panjang mengintegrasikan pelayanan dengan Indokator Kinerja Utama terdisi dari:
Tersedianya sistem informasi online Pengguna yang mengakses sebanyak
32
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal Tersedianya sistem informasi pelayanan online 1 1 100% Website Pengguna yang mengakses 200 7000 100%
Tabel 3.9 Capaian IKU dariMembangun Sistem Informasi yang Terintegrasi dan Handal
Media online menjadi sangat penting dalam era media saat ini. Website menjadi salah satu infrastruktur utama yang harus ada pada tiap organisasi yang berfungsi sebagai media komunikasi dengan pelanggan utamanya. BPIPI dengan media website terus menerus melakukan perbaikan tampilan dan update materi dan informasi yang ada di website.
10. Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan
Dalam rangka tertib kegiatan dan administrasi, salah satu aspek yang perlua diperhatikan adalah kualitas perencanaan dan sistematika laporan yang sesuai dengan aturan yang ada. Artinya perencanaan sebagai masukan utama BPIPI dalam menyusun program dan kegiatan prioritas pada level teknis dengan Indikator Kinerja Utama terdiri dari:
Kualitas perencanaan dan pelaporan
Tingkat ketepatan dan waktu pelaksanaan kegiatan Nilai SAKIP BPIPI
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Meningkatkan
kualitas
perencanaan dan pelaporan
Kualitas pelayanan dan
pelaporan 90% 100% (40 dari 40 kegiatan terlaksana) 100% %
Tingkat ketepatan dan waktu pelaksanaan kegiatan 90% 36 dari 40 kegiatan tepat waktu 90%% %
Nilai SAKIP 75% Belum
tersedia % %
33 11. Meningkatkan sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional
Sistem tata kelola kuangan dan BMN menjadi indikator kerja penting satuan kerja. Tingkat kepercayaan publik dan stakeholder tercermin dari sistem tata kelola dan informasi keuangan dan manajemen barang milik negara. Sesuai dengan aturan yang ada sistem tata kelola keuangan dan BMN ini BPIPI menetapkan Indikator Kenirja Utama terdiri dari:
Tingkat penyerapan anggaran
Sasaran Strategis IKU 2014 Satuan
Target Realisasi Capaian Meningkatkan
sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional
Tingkat penyerapan
anggaran BPIPI 95% 96,46% 96,46% %
Tabel 3.11 Capaian IKU dariMeningkatnya Sistem Tata Kelola Keuangan
dan BMN yang Profesional
Secara umum, penilain kinerja organisasi dapt dilihat dari tingkat penyerapan anggaran terhadap kegiatan. Dalam tata kelola pemerintahan, penyerapan cukup penting untuk mengukur tingkat keberhasilan kegiatan dengan dana/ anggaran yang disediakan oleh pemerintah.
3.3 ANALISIS REALISASI KINERJA DENGAN RENCANA STRATEGI 2015-2019
Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) saat ini masuk pada periode rencana jangka menengah kedua. Setelah melalui periode I renstra 2011 – 2014, BPIPI mampu melalui milestone penting perjalanan eksistensi satu satunya satuan kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian. Sesuai dengan Visi Industri Persepatuan 2025, di akhir 2014, industri alas kaki masuk pada fase dari akhir stage kedua. Pada akhir 2015, target Volume ekspor sebesar USD 11,9 milyar, namun gap saat ini masih pada kisaran USD 6-7 milyar. Tahun 2015 merupakan tantangan berat bagi industri alas kaki bagaimana lebih kompetitif dan mampu
34
mencapai nilai ekspor yang ditargetkan. Tentunya proses kinerja menuju target tersebut bukan pekerjaan BPIPI saja. Sinergi antar lembaga harus terus dikedepankan dengan mengeyampingkan ego sektoral.
Untuk melakukan percepatan pemenuhan target pada visi industri persepatuan tahun 2025, maka BPIPI menyusun kinerja dalam periode 2015-2019 yang akan fokus pada pemenuhan kebutuhan SDM alas kaki dan pemantapan infrastruktur sistem informasi untuk persiapan milestone BPIPI berikutnya 2019-2024.
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1 Memfasilitasi pengembangan teknologi IKM
Fasilitasi mesin peralatan 2 IKM 2 Meningkatnya akses bahan baku,
pembiayaan, dan pasar produk IKM
Jumlah IKM yang mendapat akses sumber bahan baku
3 IKM 3 Tersedianya fasilitasi promosi IKM IKM yang mengikuti pameran, misi
dagang/investasi Promosi produk/jasa dan investasi industri
30 IKM Jumlah pameran, misi dagang/investasi Promosi
produk/jasa dan investasi industri
4 pameran 4 Meningkatnya kualitas pelayanan
publik
Tingkat kepuasan pelanggan 4 Indeks 5 Meningkatnya kualitas SDM IKM
dan penumbuhan Wira Usaha
Jumlah SDM IKM yang mengikuti pelatihan 400 IKM Jumlah WUB yang tumbuh 120 WUB 6 Meningkatnya kualitas lembaga
pendidikan dan pelatihan serta kewirausahaan
Jumlah Asesor yang disertifikasi 13 orang Terbentuknya Tempat Uji Kompetensi (TUK) 1 TUK 7 Meningkatnya budaya
pengawasan pada unsur pimpinan dan staf
Terbangunnya Sistem Pengendalian Intern di unit kerja
1 Unit Kerja 8 Membangun organisasi yang
profesional dan pro bisnis
Penerapan sistem manajemen mutu ISO 1 Satker 9 Membangun sistem informasi
yang terintegrasi dan handal
Tersedianya sistem informasi online 1 website Pengguna yang mengakses 200 pengakses 10 Meningkatkan kualitas
perencanaan dan pelaporan
Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan
90 % Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan 90 % Nilai SAKIP BPIPI 75 Nilai 11 Meningkatkan sistem tata kelola
keuangan dan BMN yang profesional
Tingkat penyerapan anggaran BPIPI 95 %
35
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1 2 3 4 5 6 7 Tercapainya pemenuhan kebutuhan penumbuhan wirausaha baru/ IKM dan pelatihan keterampilan pada level operator, eupervisor dan manajemen di industri alas kaki Terwujudnya BPIPI sebagai kontributor alternatif desain alas kaki melaluu kegiatan kreatif desain dan inisiatif proyek bank data desain alas kaki nasional Membangun sistem informasi layanan terintegrasi Meningkatnya kualitas SDM BPIPI Meningkatnya kualitas layanan organisasi Meningkatnya kualitas perencanaan dan pelaporan Meningkatnya sistem tata kelola keuangan dan BMN
1. Terpenuhinya output pelatihan berupa IKM yang bergerak di bisnis alas kaki yang tanggung dan berdaya saing
2. Terpenuhinya output pelatihan berupa wirausaha yang bergerak di bisnis alas kaki
3. Terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja level operator 4. Terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja level supervisor
dan manajer
5. Terpenuhinya kebutuhan trainer/konsultan/fasilitator di bisnis alas kaki
6. Tersertifikasinya alumni pelatihan level operator 7. Tersertifikasinya alumni pelatihan level supervisor 8. Menghasilkan desain alas kaki
9. Terbangunnya sistem informasi pelayanan terintegrasi intellegent Shoe Services (i-Shoes).
10. Terpeliharanya sistem mutu pelayanan organisasi 11. Meningkatnya jumlah pelanggan laboratorium uji 12. Terfasilitasinya operasional TUK dan LSP BPIPI 13. Memfasilitasi IKM dalam promosi dan branding 14. Memfasilitasi kegiatan kreatif
15. Pembuatan prototype alas kaki 16. Meningkatnya kepuasan pelanggan
200 IKM 20 Alumni 200 TK 50 TK 5 TK 200 TK 30 Alumni 20 Desain 10% Progres 2 Dok 200 LHU 1 TUK 1 LSP 3 Keg 1 Keg 100 pasang B Grade (Baik)
Tabel 3.13 Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja BPIPI Tahun 2015
Terlihat pada pada tabel Tapkin 2014 dan 2015 bahwa fokus untuk mempersiapkan pemenuhan tenaga kerja industri dan IKM alas kaki, BPIPI tengah menyiapkan infrastruktur lembaga sertifikasi profesi (LSP) dan tempat uji kompetensi (TUK) untuk tenaga kerja sektor alas kaki. Dengan adanya LSP dan TUK ini diharapkan percepatan pemenuhan tenaga kerja sektor alas kaki baik untuk IKM dan industri besar dapat terpenuhi lebih cepat. Hal ini juga akan sinergi dengan persiapan lebih matang menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA).
36 3.4 ANALISIS REALISASI KINERJA DENGAN VISI INDUSTRI PERSEPATUAN
2025
Tidak lepas dari peluang yang ada, beberapa permasalahan yang harus diwaspadai sebagai dampak langsung dari perkembangan pasar global adalah sebagai berikut :
Masalah Visi Nasional
Sebagaimana RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) pemerintah yang menempatkan industri persepatuan sebagai prioritas pembangunan, perlu digarisbawahi bahwa bahwa belum adanya persepsi yang sama tentang Visi Nasional pengembangan industri persepatuan menjadi hambatan utama pengembangan di level mikro/teknis. Kendala sikronisasi, koordinasi dan komunikasi menjadi masalah klasik yang seolah-olah terjadi berulang-ulang pada tataran pengambil kebijakan. Sementara itu, pelaku teknis/pengusaha/asosiasi mengharapkan fungsi fasilitasi pemerintah terhado dunia bisnis dapat berjalan efektif dengan tindakan nyata yang berpihak pada pengembangan ekonomi nasional.
Kalau kita mengacu pada roadmap 2007 industri persepatuan yang dibuat bersama dengan Kementerian Perindustrian, dalam jangka panjang industri persepatuan nasioanal mempunyai visi sebagai salah satu negara dengan
industri berkelas dunia. Tahun 2009 dalam roadmap tersebut sudah melalui
proses/stage 1 dari keseluruhan proses panjang sampai tahun 2025.
Dalam stage 1 tersebut, inisiasi strategi klustering industri persepatuan sudah dimulai dibeberapa daerah seperti di Jawa Timur, Jawa Barat dan beberapa daerah lain. Dalam beberapa hal Kluster industri alas kaki di daerah cukup berhasil. Dengan didukung data meningkatnya inisiatif pada level mikro perusahaan untuk lebih mempunyai inisiatif dalam pengembangan industri persepatuan. Berikut sasaran nasional industri persepatuan jangka panjang.
37
Gambar 3.1 Sasaran Pengembangan Industri Alas Kaki Nasional
Melihat mapping tersebut, diharapkan semua stakeholder mempunyai persepsi yang sama terhadap peran, tugas dan fungsinya masing-masing. Sehingga percepatan terwujudnya Visi Industri Persepatuan 2025 semakin cepat terwujud.
Masalah Regional dan Global
Proteksi beberapa negara terhadap beberapa sektor produksinya memang menjadi tantangan bagi kinerja ekspor nasional seperti kebijakan non tarif dibeberapa negara menurunkan kinerja ekspor alas kaki nasional. Munculnya negara negara dunia ketiga yang sekarang menjadi pemimpin industru dunia. China, Inda dan Vietnam menjadi punya peran lebih penting dalam posisi industri global dunia. Efek pasar global dengan konsekuensinya menjadikan pasar nasional hampir tanpa proteksi. Dampaknya produk impor dengan harga kompetitif semakin melimpah. Konsumen lokal menjadi punya banyak pilihan.
38
Masalah Sektoral Industri
Sepertinya, hubungan sektoral industri persepatuan (hulu dan hilir) menjadi masalah klasik yang tiada ujungnya di Indonesia. Masih lemahnya keterkaitan rantai nilai industri hulu membuat pasokan bahan baku produk alas kaki masih sangat tergantung dengan supply dari produk impor. Bahan baku jenis kulit, produk kimia dan tektil belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produk lokal. Namun juga sangat beralasan karena produk lokal tersebut cukup mahal harga perolehannya jika dibandingkan dengan produk impor. Dengan adanya pengenaan tarif Pajak Ekspor (PE) terhadap kulit mentah dan wetblue/pickle membuat mekanisme pasar menjadi tidak menguntungkan industri dalam negeri. Cukup beralasan jika lebih menguntungkan ekspor kulit mentah dari pada menjualnya ke industri dalam negeri.
Masalah Level Mikro Perusahaan
Pada pihak perusahaan sendiri tidak lepas dari segala permasalahan internal yang secara tidak langsung mempunyai dampak pada efisiensi produksi, efektiftas kinerja dan produktifitas tenaga kerja. Hasil akhirnya adalah daya saing perusahaan dan retensinya terhadap perubahan lingkungan sangat rendah. Perubahan lingkungan /pasar saat ini sering tidak di antisipasi oleh perusahaan. Perkembangan proses produksi, teknologi terapan dan perubahan permintaan pasar yang tidak mampu diikuti oleh perusahaan mengakibatkan daya saing perusahaan menurun. Proses selanjutnya akan terjadi penurunan order, terjadinya PHK dan akhirnya tutup. Hal ini tidak dapat dihindari jika perusahaan tidak cepat berubah dan tanggap terhadap perubahan.
39 3.5 ANALISIS CAPAIAN KINERJA KEUANGAN BPIPI TAHUN 2014
A. Komposisi DIPA Tahun 2014 berdasarkan klasifikasi belanja :
Belanja Modal 11,90%
Belanja Gaji 11,40%
Belanja Barang 76,70%
Total Persentase Anggaran 100,00%
No Klasifikasi Belanja Komposisi Anggaran Realisasi Anggaran
1. Belanja Modal 11,90 % 97,63 %
2. Belanja Gaji 11,40 % 92,94 %
3 Belanja Barang 76,70 % 91,86 %
Tabel 3.8 Komposisi & Realisasi DIPA BPIPI 2014
B. Komposisi DIPA Tahun 2014 berdasarkan output dan suboutput: a. Layanan Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia
i. Penunjang Perkantoran Rp. 1.761.570.000
ii. Perkuatan dan Peningkatan Kinerja &
Standard Layanan Rp. 368.970.000
iii. Keikutsertaan dalam Pameran dan
Kegiatan Promosi DN/LN Rp. 518.260.000
iv. Peningkatan Kompetensi & Pelatihan
SDM BPIPI Rp. 187.750.000
v. Pengembangan Kapasitas Organisasi Rp. 108.130.000 vi. Rekruitmen dan Monitoring Evaluasi
Peserta Pelatihan BPIPI Rp. 307.152.000
vii. Program Peningkatan Kualitas Desain
Produk Alas Kaki Nasional Rp. 128.450.000
viii. Revitalisasi Mesin & Peralatan BPIPI Rp. 975.000.000
ix. Pelatihan IKM Alas Kaki Rp. 2.944.440.000
x. Program Perkuatan & Penumbuhan
Wirausahabaru Rp. 281.140.000
b. Layanan Perkantoran
i. Pembayaran Gaji & Tunjangan Rp. 1.070.187.000
ii. Operasional & Pemeliharaan
40 No Output/Suboutput Komposisi Anggaran Realisasi Anggaran 1. Penunjang Perkantoran 1.761.570.000 96,16 %
2. Perkuatan dan Peningkatan Kinerja &
Standard Layanan 368.970.000 85,73 %
3 Keikutsertaan dalam Pameran dan
Kegiatan Promosi 518.260.000 90,21 %
4 Peningkatan Kompetensi & Pelatihan
SDM BPIPI 187.750.000 95,76 %
5 Pengembangan Kapasitas Organisasi 108.130.000 84,04 %
6 Rekruitmen dan Monitoring Evaluasi
Peserta Pelatihan BPIPI 307.152.000 98,55 %
7 Program Peningkatan Kualitas Desain
Produk Alas Kaki Nasional 128.450.000 93,85 %
8 Revitalisasi Mesin & Peralatan BPIPI 975.000.000 99,09 %
9 Pelatihan IKM Alas Kaki 2.944.440.000 96,62 %
10 Program Perkuatan & Penumbuhan WUB 281.140.000 94,46 %
11 Pembayaran Gaji & Tunjangan 1.070.187.000 77,77 %
12 Operasional & Pemeliharaan Perkantoran 748.951.000 91,86 %
Tabel 3.9. Output dan Suboutput DIPA BPIPI 2014
C. Komposisi DIPA Tahun 2014 berdasarkan kegiatan & Sub Kegiatan.
Pada tahun 2014, terdapat 40 Kegiatan dengan 2 output utama, berikut rincian komposisi kegiatannya :
No Kegiatan Anggaran Realisasi
Anggaran 1. Pembayaran Honor Tenaga Ahli & Staff 764.200.000 96,07% 2. Belanja Penunjang Perkantoran
(Prototype, Seragam, Member SATRA) 331.400.000 96,71% 3 Revitalisasi Sarana dan Prasarana
Perkantoran 350.000.000 99,67%
4 Adminitrasi Kegiatan Satker (Honor Panitia
terkait Satker) 12.960.000 70,95%
5 Perjalanan Dinas Dalam Rangka Kordinasi 453.010.000 98,28%
6 ISO 9001-2008 45.750.000 83,65%
7 ISO 17025-2005 60.750.000 67,62%
8 Penyelenggaraan Rapat Kerja Internal 113.950.000 97,89%
9 Satra Lab. Accreditation 134.840.000 84,42%
10 Pameran DN 74.500.000 98,37%
11 Perjalanan LN 118.510.000 100,00%
12 Temu Bisnis – Wilayah I 86.700.000 87,87%
13 Temu Bisnis –Wilayah II 76.950.000 78,38%