Tujuan perusahaan dalam jangka panjang adalah mengoptimalkan nilai. dari harga sahamnya (Wright dan Ferris, 1997). Harga saham di pasar modal

Teks penuh

(1)

1.1. Latar Belakang Masalah

Tujuan perusahaan dalam jangka panjang adalah mengoptimalkan nilai perusahaan (Wahyudi dan Pawestri, 2006). Nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya (Wright dan Ferris, 1997). Harga saham di pasar modal terbentuk berdasarkan kesepakatan antara perrnintaan dan penawaran investor, sehingga harga saham merupakanfair price yang dapat dijadikan sebagai proksi nilai perusahaan (Hasnawati, 2005). Return saham merupakan pencerrninan kemampuan unit bisnis untuk menghasilkan keuntungan dengan menggunakan sumber daya perusahaan secara efisien, sehingga semakin tinggi keuntungan perusahaan, maka nilai perusahaan juga akan semakin tinggi (Wright dan Ferris, 1997).

Optimalisasi nilai perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan fungsi manajemen keuangan, dimana satu keputusan keuangan yang diambil akan mempengaruhi keputusan keuangan lainnya dan berdampak pada nilai perusahaan (Fama dan French, 1998). Menurut Hasnawati (2005), manajemen keuangan menyangkut penyelesaian atas keputusan penting yang diambil perusahaan antara lain keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan kebijakan dividen. Suatu kombinasi yang optimal atas ketiganya akan memaksimumkan nilai perusahaan yang selanjutnya akan meningkatkan kemakmuran kekayaan pemegang saham.

(2)

Meningkatkan nilai perusahaan dapat menarik nilai investor (khususnya capital gain dan dividen) untuk menanamkan modalnya. Dalam hal ini manajer hams memutuskan apakah laba yang diperoleh selama satu periode akan dibagikan seluruhnya atau hanya sebagian yang dibagikan sebagai dividen dan sisanya ditahan perusahaan atau biasa disebut laba ditahan (retained earning). Dividen dapat digunakan untuk mengurangi equity agency cost yang timbul dari adanya perbedaan kepentingan di dalam perusahaan (Hamman, 2008).

Perbedaan kepentingan yang dimaksud adalah perbedaan kepentingan antara manajer sebagai pengelola perusahaan (agent) dengan pemegang saham sebagai pemilik (owners). Tidakjarang pihak manajemen perusahaan mempunyai tujuan lain yang mungkin bertentangan dengan tujuan utama perusahaan. Perbedaan kepentingan inilah yang menyebabkan timbul konflik biasa disebut sebagai konflik keagenan (agency conflict). Perbedaan tersebut teljadi karena manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak menyukai kepentingan dari manajer karena apa yang dilakukan manajer tersebut akan menyebabkan penambah biaya bagi perusahaan sehingga akan terjadi penurunan keuntungan perusahaan dan penurunan penerimaan dividen bagi pemegang saham. Pengaruh dari konflik antara pemilik (owners) ini akan menyebabkan penurunan nilai perusahaan, kerugian inilah merupakan agency cost equity bagi perusahaan (Hamman, 2008).

Corporate governance merupakan kunci sukses suatu perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang. Corporate governance diyakini menjadi salah satu penyebab krisis ekonomi di beberapa negara di Asia

(3)

Timur, tennasuk Indonesia. Krisis ekonomi yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan negara lain terjadi bukan hanya akibat fuktor ekonomi makro namun juga karena lemahnya corporate governance yang ada di negara-negara tersebut, seperti lemahnya hukum, standart akuntansi dan pemeriksaan keuangan yang belum mapan, pasar modal yang masih under-regulated, terabaikannya hak minoritas dan lemahnya pengawasan komisaris (Kusumastuti et al, 2005).

Mitton (2004) berpendapat bahwa isu mengenai dividen merupakan hal yang penting bagi investor. Salah satu tujuan perusahaan · adalah untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau stockholder. Tujuan tersebut seringkali tidak dapat tercapai apabila tanggung jawab pengelolaan perusahaan diserahkan kepada professional, dikarenakan pemilik modal merasa memiliki banyak keterbatasan. Dengan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada para professional, diharapkan mereka mampu menutup segala keterbatasan yang ada. Para profesional ini biasa disebut sebagai agen atau manaJer. Tujuan dari dipisahkannya fungsi pengelolaan dari fungsi kepemilikan perusahaan yaitu agar pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin dengan biaya yang seefisien mungkin dengan dikelolanya perusahaan oleh agen (FCGI, 2000).

Agen atau manajer disini diberi kekuasaan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham) untuk membuat keputusan, dan hal ini akan menciptakan konflik potensial atas kepentingan yang disebut dengan teori keagenan (agency theory). Penyebab konflik kepentingan ini ditandai dengan manajer yang

(4)

menghendaki pembagian dividen yang kecil karena perusahaan membutuhkan dana yang besar untuk investasi kembali atau perluasan perusahaan, sedangkan pemegang saham menghendaki pembagian dividen yang besar sebagai bentuk return (pengembalian) investasi yang dilakukan. Berdasarkan teori keagenan tersebut, terjadi konflik antara pemilik saham dengan manajemen karena mereka bertindak untuk kepentingan mereka sendiri. Konflik keagenan itu dapat dikurangi dengan menerapkan corporate governance yang baik dan memadai. Corporate governance diharapkan dapat berfungsi sebagai alat untuk memberi keyakinan kepada investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang mereka investasikan.

Penelitian ini menggunakan acuan beberapa penelitian terdahulu untuk menyusun kerangka konsep yang baru dan sebagai bahan untuk membentuk hipotesis. Penjelasan berikut ini akan disajikan ringkasan beberapa penelitian terdahulu yang digunakan pada penelitian sekarang, sekaligus disajikan riset gap antar penelitian terdahulu :

Penelitian tentang pengaruh kepemilikan institusional terhadap kebijakan devidend dilakukan oleh Han, et al.(l999), Crutchley et al.(1999), Allen, et al.(2000), Tandelilin dan Wilberforce (2002) dan Imam dan Malik (2007). Keempat basil penelitian terdahulu yaitu Han, et al.(l999), Crutchley eta! (1999), Tandelilin dan Wilberforce (2002) dan Imam dan Malik (2007) tersebut menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kebijakan deviden. Sedangkan penelitan Allen, et al.(2000) menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh tidak signifikan terhadap kebijakan deviden.

(5)

Berdasarkan kelima basil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi hasil penelitian tentang pengaruh kepemilikan institusional terhadap kebijakan deviden. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masih bisa dikaji pada penelitian sekarang.

Penelitian tentang pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kebijakan devidend dilakukan oleh Rozeff (1982), Collins, eta!. (2009) dan Ikbal (2011). Hasi1 penelitian Rozef ( 1982) dan Collins, et al. (2009) menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kebijakan deviden, sedangkan hasil pene1itan Ikbal (2011) menunjukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh tidak signifikan terhadap kebijakan deviden. Berdasarkan ketiga hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi hasil penelitian tentang pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kebijakan deviden. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masih bisa dikaji pada penelitian sekarang.

Penelitian tentang pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap kebijakan devidend dilakukan oleh Borokhovich, et a1.(2005), Pradnyani(20 13). Hasil penelitian Borokhovich, et a!.( (2005) menunjukan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap kebijakan deviden, sedangkan hasil penelitian menunjukan sebaliknya ukuran dewan komisaris berpengaruh tidak signifikan terhadap kebijakan deviden. Berdasarkan kedua hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi hasil penelitian tentang pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap kebijakan deviden. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masih bisa dikaji pada penelitian sekarang.

(6)

Penelitian tentang pengaruh keputusan pendanaan terhadap kebijakan devidend dilakukan oleh Mahadwartha dan Hartono (2002) dan Hasnawati (2005). Hasil penelitan Mahadwartha dan Hartono (2002) menunjukan keputusan pendanaan berpengaruh positif terhadap kebijakan deviden sedangkan hasil penelitian Hasnawati (2005) menunjukkan keputusan pendanaan berpengaruh tidak signifikan terhadap kebijakan deviden. Berdasarkan kedua hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi hasil penelitian tentang pengaruh keputusan pendanaan terhadap kebijakan deviden. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masib bisa dikaji pada penelitian sekarang.

Penelitian tentang pengarub keputusan investasi terhadap kebijakan devidend dilakukan oleb Rozeff (1982), Ismiyanti dan Hanafi (2004). Hasil penelitian Rozeff (1982) menunjukkan keputusan untuk berinvestasi tidak berpengaruh terbadap kebijakan deviden, sedangkan hasil penelitian Hanafi (2004) menunjukkan keputusan investasi berpengarub negatif terbadap pembayaran deviden. Berdasarkan kedua basil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi basil penelitian tentang pengarub keputusan investasi terbadap kebijakan deviden. Hal ini menunjukkan bubungan kedua variabel tersebut masib bisa dikaji pada penelitian sekarang.

Penelitian tentang pengarub kepemilikan institusional terhadap nilai perusabaan dilakukan oleb Sbleifer dan Vishny (1986), Barclay dan Holderness (1991), Clay (2002), Jennings (2002), Lee (2008). Hasi1 penelitian Sbleifer dan Vishny (1986), Barclay dan Holderness (1991) menyimpulkan bahwa kepemilikan institusional berpengarub terbadap nilai perusahaan, sedangkan

(7)

Jennings (2002) dan Lee (2008) menyimpulkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan kedua basil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi basil penelitian tentang pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masih bisa dikaji pada penelitian sekarang.

Penelitian tentang pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan dilakukan oleh Chen dan Steiner (1999), Fuerst dan Kang (2000), Collins, eta!. (2009) dan Ikbal (2011). Hasil penelitian Chen dan Steiner (1999), Collins, et a!. (2009) dan Ikbal (20 II) menyimpulkan bahwa kepemilikan manaerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan, sedangkan Fuerst dan Kang (2000) menyimpulkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan keempat basil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi basil penelitian tentang pengaruh kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masih bisa dikaji pada penelitian sekarang.

Penelitian tentang pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap nilai perusahaan dilakukan oleh Belkhir (2008) menyimpulkan bahwa kenaikkan jumlah anggota dewan pada perusahaan-perusahaan perbankan tidak menurunkan kineija. Hasil penelitian ini bertentangan dengan prediksi teori yang menyatakan bahwa boards of directors yang lebih kecil adalah lebih efektif.

Penelitian tentang pengaruh keputusan pendanaan terhadap nilai perusahaan dilakukan oleh Fama dan French (1998), Hasnawati (2005), Wahyudi

(8)

dan Pawestri (2006) dan Lihan (2010). Hasil penelitian Fama dan French (1998), Hasnawati (2005) dan Lihan (2010) menyimpulkan bahwa keputusan pendanaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan, berbeda dengan basil penelitian Wahyudi dan Pawestri (2006) menyimpulkan bahwa keputusan pendanaan berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan keempat hasil penelitian terdabulu menunjukkan babwa ada inkonsistensi hasil penelitian tentang pengaruh keputusan pendanaan terhadap nilai perusabaan. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masih bisa dikaji pada penelitian sekarang.

Penelitian tentang pengaruh keputusan investasi terhadap nilai perusabaan dilakukan oleh Lihan (2010) menunjukan bahwa keputusan investasi berpengaruh terhadap nilai perusabaan. Penelitian keputusan investasi terhadap nilai perusahaan masih dikaji pada penelitian sekarang dengan menambahkan variabel intervening kebijakan deviden.

Penelitian tentang pengaruh kebijakan deviden terhadap nilai perusabaan dilakukan oleh Fama dan French (1998), Hasnawati (2005) Wabyudi dan Pawestri (2006), Lihan (2010), Ikbal (2011). Fama dan French (1998), Hasnawati (2005), Lihan (2010), menyimpulkan babwa kebijakan deviden berpengaruh terhadap nilai perusahaan, berbeda dengan hasil penelitian Wabyudi dan Pawestri (2006) dan Ikbal (2011) menyimpulkan babwa kebijakan deviden berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusabaan. Berdasarkan kelima hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada inkonsistensi hasil penelitian tentang pengaruh kebijakan deviden terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan hubungan kedua variabel tersebut masih bisa dikaji pada penelitian sekarang.

(9)

Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah, maka penulis akan melakukan penelitian berjudul "Pengaruh Struktur Corporate Governance dan Keputusan Keuangan Terhadap Kebijakan Deviden dan Nilai Perusahaan pada Perusahaan Manufaktur Tahun 2008-2012"

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka perurnusan masalah pada penelitian ini adalah :

l. Apakah kepemilikan konstitusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, keputusan pendanaan dan keputusan investasi berpengaruh terhadap kebijakan deviden ?

2. Apakah kepemilikan konstitusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, keputusan pendanaan dan keputusan investasi dan kebijakan deviden berpengaruh terhadap nilai perusahaan ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

I. Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan konstitusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, keputusan pendanaan dan keputusan investasi terhadap kebijakan deviden.

2. Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan konstitusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, keputusan pendanaan, keputusan investasi dan kebijakan deviden terhadap nilai perusahaan.

(10)

1.4. Manfaat Penelitian 1. Kontribusi Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis tentang manfaat melaksanakan good governance dan keputusan keuangan secara tepat untuk melakukan kebijakan deviden dan meningkatkan nilai perusahaan. 2. Kontribusi Teoritis

Memberikan sumbangan pemikiran tentang implementasi teori keagenan, teori good corporate governance dan teori struktur modal.

3. Kontribusi Kebijakan

Memberikan sumbangan pemikiran pada investor bagaimana emiten (perusahaan) yang akan digunakan sebagai investasi berdasarkan kebijiakan deviden yang dilakukan dan nilai perusahaan yang diperoleh.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah perusahaan manufaktur pada tahun 2008-2012 dan variabel kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, keputusan pendanaan dan keputusan investasi, kebijakan deviden dan nilai perusahaan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :