PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM MENDUKUNG
PEMANFAATAN ENERGI NUKLIR
Ari Darmawan Pasek
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung Email: [email protected]
ABSTRAK
Dengan adanya Pepres No. 5 tahun 2006 dan Undang-undang Pengelolaan Energi, opsi PLTN di Indonesia mempunyai posisi yang kuat dalam penyediaan energi primer Indonesia pada tahun 2025. Opsi energi nuklir diperkuat dengan adanya kebutuhan sumber energi yang dapat berkelanjutan dan ramah lingkungan ditinjau dari aspek pemanasan global di masa yang akan datang. Namun, implementasi pembangunan PLTN di Indonesia banyak menghadapi kendala utamanya dari keputusan politik yang serba ragu, dan resistensi masyarakat Indonesia dan pemerintah negara di kawasan. Perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung dalam upayanya mewujudkan diri menjadi World Class University, mempunyai banyak peluang dan kemampuan untuk membantu mendorong terwujudnya PLTN di Indonesia, makalah ini membahas mengenai posisi ITB saat ini dan kedepan, pentingnya PLTN di Indonesia, peran ITB dalam pembangunan PLTN, yang meliputi diseminasi dan sosialisasi, penelitian, dan kolaborasi nasional dan internasional.
Key words: Nuklir, sumber daya manusia, pembangkit listrik
1. PENDAHULUAN
Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, kebutuhan akan energi akan semakin meningkat. Sesuai dengan visi energi nasional, diinginkan adanya jaminan pasokan energi yang aman, handal dan dengan harga yang terjangkau secara berkelanjutan. Dengan menipisnya sumber-sumber energi fosil, dan semakin terasanya dampak pemansan global akibat emisi CO2,
dimasa yang akan datang diperlukan sumber energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sistem energi dengan indeks keberkelanjutan yang tinggi tersebut antara lain adalah nuklir, biofuel, dan hidrogen, matahari, dan energi terbarukan lainnya. Dimasa akan datang, jenis energi final yang dikonsumsi di berbagai sektor akan bergeser dari sumber energi fosil (BBM) menjadi energi listrik. Dengan demikian, diperlukan pembangkit listrik kapasitas besar dengan sumber energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pemilihan opsi pembangkit listrik tenaga nuklir telah secara tegas dinyatakan dalam Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi
Nasional. Namun pelaksanaan pembangunan PLTN terkendala banyak hal antara lain, pemerintahan yang masih setengah hati dengan opsi nuklir, dan resistensi masyarakat dan pemerintah di kawasan yang meragukan kemampuan bangsa Indonesia dalam mengoperasikan dan merawat PLTN. Disisi lain perguruan tinggi, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam melaksanakan visi dan misinya menuju perguruan tinggi bertaraf dunia (World Class University) memiliki banyak peluang untuk membantu mendorong terlaksananya pembangunan PLTN di Indonesia.
Dalam makalah ini akan dibahas peran perguruan tinggi seperti ITB dalam mendorong terwujudnya PLTN di Indonesia yang mencakup usaha-usaha diseminasi, penyiapan SDM dan kolaborasi nasional dan internasional.
2. PERGURUAN TINGGI
Kata Perguruan tinggi (universitas) berasal dari bahasa Latin: universitas magistrorum et scholarium yang secara harafiah berarti komunitas/masyarakat guru dan intelektual
(community of teachers and scholars). Kegiatan yang dilakukan universitas meliputi pembelajaran (learning), pengajaran (teaching), penelitian (research), dan pengabdian pada masyarakat (social services). Sedangkan institut teknologi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan institusi pendidikan yang memfokuskan pada kegiatan perguruan tinggi di bidang teknologi, sains, dan seni.
Seperti perguruan tinggi terkemuka lainnya di dunia, ITB bercita-cita dan berusaha untuk meningkatkan kematangan dan keunggulannya untuk mencapai World Class University. Indikator keberhasilan dalam upaya meningkatkan kematangan sebagai usaha untuk mencapai World Class University (WCU) diperlihatkan pada Tabel 1. Indikator ini merupakan modifikasi dari materi yang terdapat dalam Rencana Induk Pengembangan ITB 2006 – 2025[1]. Tabel 1.a menunjukkan Focus Area dari pengembangan ITB menuju WCU, sedangkan Tabel 1.b menunjukkan Performance Indicator yang harus dicapai oleh ITB dalam setiap tahapan kematangan untuk mencapai WCU. Tahapan kematangan ini dibagi dalam lima tingkat dengan WCU ditentukan sebagai kematangan tingkat ke 5.
Dari pembahasan di atas dapat ikhtisarkan bahwa pengembangan ITB menuju WCU pada hakekatnya adalah meningkat kemampuan ITB untuk kemandirian bangsa dengan meningkat hasil-hasil pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang bermutu dan
diakui secara internasional, dan dilakukan
melalui kolaborasi nasional dan internasional.
3. KEBUTUHAN ENERGI PRIMER DI
INDONESIA
Penyediaan energi primer Indonesia pada tahun 2003 sebagian besar diperoleh dari energi fosil dan terdiri dari 54,4% minyak bumi, gas alam 26,5%, dan batubara 14,1 %, sedangkan sisanya adalah energi baru dan terbarukan. Kebutuhan energi primer Indonesia meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan ekonomi. Populasi penduduk yang meningkat dari 204 juta jiwa pada tahun 2000, menjadi 250 juta jiwa pada tahun 2025, dan APBN meningkat dari 325 triliun rupiah menjadi 1660 triliun rupiah pada tahun-tahun yang sama. Hal ini akan menyebabkan peningkatan pada kebutuhan energi primer dan listrik dari masing-masing dari 5.962 PJ (Peta Joule = 1015 Joule) dan 29 GWe (Giga Watt elektrik = 109 Watt), menjadi 12.221 PJ dan 100 GWe[2].
Berdasarkan studi yang dilakukan, CADES (Comprehensive Assessment Of Different Energy Sources For Electricity Generation In Indonesia)[2] memprediksi bauran penyediaan energi primer Indonesia pada tahun 2003 adalah seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Apabila tidak dilakukan usaha-usaha optimalisasi maka prediksi bauran penyediaan energi primer pada tahun 2025 akan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.
Pada kondisi Bussines As Usual (BAU), dan tidak ditemukan cadangan minyak baru untuk meningkatkan produksi, maka pada tahun 2025 Indonesia harus mengimpor minyak bumi sebesar 4750 PJ setiap tahun atau setara dengan 838 ribu Setara Barel Minyak (SBM). Penyediaan suplai minyak bumi yang sedemikian besar akan mengahadapi kendala karena kecenderungan meningkatnya harga minyak bumi yang akan menyebabkan kenaikan beban anggaran pemerintah untuk subsidi.
Tabel 1.a Focus Area pengembangan ITB menuju World Class University
NO. FOCUS AREA DEFINISI
1 Peran ITB Kemampuan menggalang kerjasama
2 Kemandirian Kemandirian teknologi yang mendorong pertumbuhan ekonomi 3 Kultur dan tradisi ITB Budaya, atmosfer akademik dan tradisi intelektual
4 Organisasi dan
Managemen Perangkat institusi, sarana dan prasarana, sumberdaya dan tatakelola 5 Pendidikan Kegiatan pengajaran dan pembelajaran
6 Penelitian dan Pengembangan
Pengembangan dan penemuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
7 Pengabdian kepada masyarakat
Service to the nation through shares of new knowledge and technology application
Tabel 1.b Ciri keberhasilan/Performance Indicator pengembangan ITB menuju World Class University
Maturity Level 1 Maturity Level 2 Maturity Level 3 Maturity Level 4 World Class Maturity
1 Peran ITB Tidak berperan
Berperan sebagai simpul jaringan kekuatan perguruan tinggi nasional
Berperan sebagai pusat pendidikan dan inovasi dan inkubator industri nasional
Berperan sebagai simpul jaringan kekuatan perguruan tinggi internasional
Berperan sebagai World Class University (Universitas yang dihormati dan disegani di Dunia)
2 Kemandirian Tidak ada teknologi yang
dihasilkan untuk kemandirian
Ada hasil teknologi hanya untuk kemandirian ITB
Ada hasil teknologi untuk kemandirian industri strategis bangsa Indonesia
Pemimpin Kemandirian Teknologi Bangsa
Indonesia yang mandiri, Indonesia yang dihormati
3 Kultur dan tradisi ITB
Tidak ada perencanaan yang jelas, hanya menjaga kultur, budaya dan atmosfer akademik yang telah ada
Ada rencana perwujudan perguruan tinggi yang menjadikan riset dan pengembangan sebagai identitas diri
Ada komitmen perwujudan perguruan tinggi yang menjadikan riset dan pengembangan sebagai identitas diri
Ada pengakuan regional/internasional sebagai perguruan tinggi yang beridentitas riset dan pengembangan
Ada profil kultur dan tradisi ITB sebagai perguruan tinggi beridentitas riset dan pengembangan yang diakui dunia dan berkontribusi secara signifikan terhadap kekuatan ekonomi dan kedaulatan Indonesia
4 Organisasi dan Managemen
Program studi yang terakreditasi secara internasional < 30 %. Tidak memiliki sistem jaringan informasi yang luas sebagai manifestasi keberadaan ITB di dalam "Information Rich World". Pendidikan Program Pasca Sarjana yang lemah dan bersifat lokal. Tidak ada laboratorium yang dibangun khusus untuk program pasca sarjana. Tidak memiliki pusat-pusat pelatihan dan pengembangan yang dapat menjawab kebutuhan nasional.
Program studi yang terakreditasi secara internasional mencapai 30 %. Memiliki sistem jaringan informasi yang luas sebagai manifestasi keberadaan ITB di dalam "Information Rich World". Pendidikan Program Pasca Sarjana sebagai inti (core) pendidikan. Ada laboratorium yang dibangun khusus untuk program pasca sarjana. Memiliki pusat-pusat pelatihan dan pengembangan yang dapat menjawab kebutuhan nasional.
Program studi yang terakreditasi secara internasional mencapai 50 %. Memiliki sistem jaringan informasi yang luas dan banyak diakses oleh institusi nasional. Terlibatnya mahasiswa internasional dalam Pendidikan Program Pasca Sarjana. Ada hasil riset dan teknologi untuk industri strategis Indonesia. Terwujudnya jaringan kerjasama nasional untuk menjawab kebutuhan nasional.
Program studi yang terakreditasi secara internasional mencapai 70 %. Memiliki sistem jaringan informasi yang luas dan banyak diakses oleh institusi nasional dan Internasional;. Terlibatnya mahasiswa internasional yang bermutu dalam Pendidikan Program Pasca Sarjana. Ada hasil riset dan teknologi yang dirujuk oleh institusi internasional dan terlibat dalam implementasinya. Terwujudnya jaringan kerjasama nasional yang memberikan kontribusi yang berarti bagi ITB dan kepentingan nasional.
Program studi yang terakreditasi secara internasional mencapai 90 %. Terbentuknya ITB sebagai pusat informasi dan ilmu pengetahuan unggulan;. Terlibatnya mahasiswa dan dosen internasional yang bermutu dalam Pendidikan dan penelitian Program Pasca Sarjana. Ada hasil riset dan teknologi yang dirujuk oleh institusi internasional dalam implementasinya. Terwujudnya ITB enterprise kelas internasional di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan.
5 Pendidikan
Tidak ada strategi untuk meningkatkan jumlah dan mahasiswa dan mutu lulusan
Peningkatan jumlah dan mutu mahasiswa dan lulusan. Meningkatnya minat lulusan sarjana untuk melanjutkan ke program pasaca sarjana
Mampu mendatangkan program bea siswa riset dari sumber dana di luar negeri. Terjadinya interaksi internasional pada pendidikan pasca yang melibatkan mahasiswa dan dosen pada kawan/internasional
Menarik kehadiran mahasiswa internasional yang bermutu untuk belajar di berbagai program Pasca Sarjana di ITB
Menarik kehadiran mahasiswa dan dosen Internasional dari berbagai Negara di Dunia pada program Pasca Sarjana di ITB
6 Penelitian dan Pengembangan
Tidak ada strategi yang jelas mengenai fokus dan arah penelitian dan pengembangan di ITB
Ada realisasi kerjasama riset dan pengembangan yang melibatkan industri dan lembaga riset nasional. Tumbuhnya industri eksposure dari komunitas ITB Memiliki riset Roadmap bersma industri dan lembaga riset nasional. Terdapat berbagai pengembangan institusi dan infrastuktur ITB dari dana yang diperoleh dari kerjasama riset dan pengembangan. Dihasilkannya berbagai model teknologi bagi kebutuhan Industri nasional. Peningkatan jumlah pengakuan nasional dan terhadap hasil riset ITB
Mampu mendatangkan dana riset dari luar negeri bukan pinjaman. Terealisasinya kerjasama riset internasional, melibatkan industri dan lembaga riset nasional. Dihasilkan berbagai model teknologi untuk kepentingan nasional. Peningkatan jumlah pengakuan internasional terhadap hasil-hasil riset ITB
Menjadi kekuatan bangsa dalam riset dan pengembangan Menjadi pemimpin menembus monopoli teknologi asing. Terjadi kerjasama riset dan pengembangan internasional yang luas pertukaran penelti dengan institusi riset internasional
Mampu menggalang kekuatan nasional dalam pemanfaatan sumber daya nasional dengan menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi untuk kemandirian bangsa
7 Pengabdian kepada masyarakat
Tidak ada strategi yang jelas mengenai fokus dan arah pengabdian kepada masyarakat di ITB
Terwujudnya kerjasama pendidikan, penelitian dan pengembangan dengan mitra industri atau lembaga lain untuk kebutuhan masyarakat luas
Terwujudnya kerjasama pendidikan, penelitian dan pengembangan dengan mitra industri atau lembaga lain di kawasan untuk kebutuhan dasar nasional
Terwujudnya kerjasama pendidikan, penelitian dan pengembangan dengan mitra industri atau lembaga lain bertaraf internasional untuk kebutuhan dasar nasional
Terwujudnya kerjasama pendidikan, penelitian dan pengembangan dengan mitra industri atau lembaga lain bertaraf internasional untuk kepentingan startegis nasional
MATURITY LEVEL NO. FOCUS AREA
Gambar 1 Bauran penyediaan energi primer di Indonesia tahun 2003
Gambar 2 Bauran penyediaan energi primer di Indonesia tahun 2025 (BAU)
Disamping itu, produksi minyak bumi Indonesia untuk ekspor terus menurun, menyebabkan selisih penerimaan anggaran dan subsidi BBM mengecil dan membahayakan anggaran pembangunan. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya jumlah dan kapasitas kilang minyak di Indonesia, sehingga Indonesia
kehilangan devisa untuk biaya produksi kilang di luar negeri yang seharusnya dapat dicegah seandainya dapat melakukan pengilangan di dalam negeri dengan menggunakan minyak hasil produksi sendiri.
Melihat kondisi-kondisi di atas, Pemerintah Indonesia melalui Perpres No. 5 tahun 2006, tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), berencana untuk mengurangi peran minyak bumi dalam penyediaan energi primer dan meningkatkan pemakaian gas dan batubara dan energi baru dan terbarukan sebagai usaha untuk diversifikasi energi. Sehingga pada tahun 2025 peran minyak bumi sebagai sumber energi primer diperkecil menjadi 26,2%, dan peran batubara dan gas bumi, serta energi terbarukan diperbesar (Lihat Gambar 3). Dengan demikian, pada tahun 2025 jumlah energi dari minyak bumi tetap sama seperti tahun 2003 yaitu sekitar 480 ribu SBM (BOE), dengan asumsi produksi minyak bisa dipertahankan pada tingkat 184 ribu SBM. Dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tersebut telah ditetapkan bahwa
nuklir merupakan salah satu bagian dari sistem
bauran energi yang optimum untuk memenuhi sasaran penyediaan energi nasional.
4. ENERGI MASSA DEPAN
Jenis suplai energi di massa yang akan dibatasi oleh dua isu penting yaitu keberlanjutan (sustainability) dari sumber energi dan dampaknya terhadap lingkungan seperti pemanasan global.
Dengan demikian energi baru yang dapat diterima adalah energi yang berkelanjutan dan berkontribusi terhadap pengurangan emisi CO2
tanpa harus menekan pertumbuhan ekonomi (Sustainable Energy and Environment). Isu pemanasan global di masa yang akan datang akan semakin kuat dan menjadi perhatian pemerintah negara manapun akibat naiknya konsentrasi CO2 di atmosfer (Gambar 4) yang
sangat signifikan dan prediksi dampak perubahan iklim yang sangat merugikan perekonomian dan kehidupan.
Gambar 4 Konsentrasi CO2 di atmosfer[4]
Gambar 5 memperlihatkan index of sustainability beberapa sumber energi. Dari gambar ini terlihat bahwa energi fosil mempunyai indeks yang rendah serta energi nuklir khususnya nuklir fusion mempunyai indeks yang sangat tinggi.
Gambar 6 menunjukkan prediksi sumber-sumber energi primer di masa yang akan datang. Dari Gambar ini dapat terlihat bahwa akibat kebutuhan akan energi yang begitu tinggi, maka sumber-sumber energi konvensional seperti energi fosil belum dapat ditinggalkan sepenuhnya. Sumber-sumber energi baru seperti energi nuklir dan energi terbarukan lainnya mempunyai kontri busi yang cukup besar.
Dari pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa sumber energi primer di masa yang akan datang adalah sumber yang tidak menimbulkan emisi CO2 dan energi nuklir memegang peranan
penting sebagi sumber energi masa depan. Energi nuklir fusion akan menjadi sumber energi berkelanjutan yang ramah lingkungan di masa yang akan datang. Namun untuk dapat menguasai teknologi tersebut perlu dilakukan penguasaan ilmu pengetahuan energi atom fisi terlebih dahulu. Disamping itu diperlukan biaya investasi yang cukup besar untuk mendapatkan energi fusi tersebut. Untuk itu diperlukan
peningkatan pendapatan domestik dari berbagai sektor dengan memanfaatkan semaksimal mungkin sumber-sumber energi konvensional, energi baru dan terbarukan yang ada saat ini.
in dex of s u s tai nab ili ty 0 50 100% 1945 1975 2005 2035 2065 2100 year 1st generation 2nd 3rd 4th 5th
low-cost oil atomic power system eco energy system invention of new energy system environmentally benign sustainable energy system bio solar H2 ocean space
power station ‘73 ‘79 oil shock ‘97 Kyoto protocol nuclear fusion sustainable energy system sustainable energy system in dex of s u s tai nab ili ty 0 50 100% 1945 1975 2005 2035 2065 2100 year 1st generation 2nd 3rd 4th 5th
low-cost oil atomic power system eco energy system invention of new energy system environmentally benign sustainable energy system bio solar H2 ocean space
power station ‘73 ‘79 oil shock ‘97 Kyoto protocol nuclear fusion sustainable energy system sustainable energy system
Gambar 5 Index of Sustainability dari beberapa sumber energi[4]
Gambar 6 Prediksi sumber energi primer di masa yang akan datang[4]
5. PROSPEK ENERGI NUKLR DI
INDONESIA
Dari pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa penggunaan energi nuklir sangat diperlukan untuk tujuan berikut ini:
mendukung terwujudnya keamanan pasokan energi nasional secara berkelanjutan,
mengurangi laju pengurasan energi fosil yang cadangannya sangat terbatas,
mendukung stabilitas pasokan energi listrik secara aman, andal, ekonomis, bersih dan berwawasan lingkungan,
mendukung pengurangan dampak akibat pemanasan global.
Kapasitas terpasang pembangkit listrik untuk jaringan Jawa Madura dan Bali (JAMALI) saat ini sekitar 19.980 Gwe, belum
termasuk kekurangan listrik di luar Jawa yang harus segera ditangai dengan serius. Proyeksi beban puncak tahun 2025 di JAMALI menurut RUKN diperkirakan sekitar 94 GWe, yang berarti memerlukan tambahan sekitar 74 GWe dari kondisi saat ini. Sumber energi yang potensial adalah batubara, panas bumi, dan gas, namun sumber gas yang ada telah dialokasikan sebagai kontrak untuk diekspor. Apabila pembangkitan listrik JAMALI didominasi oleh PLTU batubara, maka akan timbul masalah transportasi batubara dan dampak lingkungan. Sedangkan sumber energi geotermal dalam waktu dekat belum mampu untuk memenuhi kebutuhan listrik dengan kapasitas yang besar. Dalam kondisi tersebut, maka pemanfaatan energi nuklir untuk pembangkitan listrik merupakan pilihan yang tepat dalam sistem bauran energi yang optrimal untuk mendukung ketahanan pasokan energi nasional (energy security).
Telah dilakukan re-evaluasi terhadap studi Comprehensive Assessment on Different Energy Sources (CADES) yang dilaksanakan melalui pemutakhiran model, skenario dan data yang terkini terkait dengan harga energi. Tujuan re-evaluasi adalah dalam rangka mendukung pelaksanaan Perpres 5/2006 tentang KEN dan Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim. Ruang lingkup studi ini mencakup:
Kajian proyeksi kebutuhan dan penyediaan energi nasional periode 2005 – 2050, Kajian energi terkini dengan penyesuaian
model, skenario dan data,
Kajian penggunaan energi terhadap penanganan dampak pemanasan global dengan penerapan teknologi bersih untuk pembangkitan listrik (PLTN) .
Hasil re-evaluasi yang penting antara lain sebagai berikut:
Introduksi PLTN ke dalam sistem kelistrikan JAMALI pada periode 2025 – 2019 merupakan solusi yang tepat. Hal ini sesuai dengan yang diamanatkan dalam undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang RPJPN bahwa pada RPJMN III mulai dimanfaatkan tenaga nuklir untuk pembangkitan listrik dengan
mempertimbangkan faktor keselamatan secara ketat.
Hasil optimasi dari beberapa skenario menunjukkan bahwa kontribusi nuklir lebih tinggi dari sasaran KEN, hal ini menunjukkan bahwa :
- Sasaran KEN adalah merupakan batas minimal yang harus dicapai dalam
mewujudkan bauran energi yang optimal untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
- PLTN mempunyai peran sangat penting dalam menyelesaikan permasalahan energi nasional
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa, emisi CO2 pada tahun 2025 di JAMALI dari sektor listrik:
1. Tanpa upaya penurunan emisi, emisi CO2 mencapai 477,7 juta ton.
2. Upaya bauran energi sesuai Perpres 5/2006 akan mampu menekan emisi CO2 sebesar ~ 9,1%. Sedangkan hasil optimasi opsi nuklir akan mengurangi emisi CO2 secara signifikan sebesar 36,6% pada tahun 2025 dan 56,6% pada tahun 2050.
3. Peran PLTN dapat diandalkan untuk mendukung rencana aksi pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim. 4. Peran energi nuklir pada periode
mendatang (setelah tahun 2025) diproyeksikan masih tetap merupakan bagian dari bauran sistem pasokan energi nasional yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi. Meskipun terdapat hal-hal yang mendukung implementasi energi nuklir di Indoensia, terdapat pula hal-hal lain yang berpotensi menghambat implementasi tersebut, yaitu:
1. Adanya penolakan dari masyarakat yang tidak paham mengenai pentingnya implementasi energi nuklir di Indonesia.
2. Adanya resistensi dari negara-negara di kawasan.
3. Adanya anggapan bahwa sumber daya manusia Indonesia tidak siap untuk mengoperasikan PLTN
4. Belum adanya program-program transfer of knowledge and technology yang jelas dan memadai sehingga dapat menghilangan kesan ketidakmampuan Indonesia dalam menguasai Teknologi PLTN.
6. PERAN ITB DALAM
IMPLEMENTASI ENERGI NUKLIR DI INDONESIA
Untuk mengatasi atau mengurangi hal-hal yang dapat menghambat implementasi PLTN di Indonesia diperlukan peran aktif dari berbagai pihak utamanya adalah keberpihakan
pemerintah. Namun demikian, untuk kondisi saat ini perguruan tinggi seperti ITB dapat berperan dalam membantu mengeliminasi hal-hal yang menghambat tersebut. Peran yang dapat dilaksanakan adalah sejalan dengan arah pengembangan ITB yaitu:
1. Melaksanakan desiminasi manfaat PLTN melalui jaringan kerjasama antar perguruan tinggi nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan penelitian dan seminar pemanfaatan energi nukir secara luas dan berkala. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan jumlah masyarakat yang paham terhadap PLTN.
2. Melakukan kerjasama penelitian dan disiminasi hasil penelitian pada tingkat regional dan internasional. Kegiatan ini bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat ilmiah dikawasan tentang kemampuan Indonesia dalam menguasai teknologi nuklir, sekaligus mendorong negara-negara di kawasan untuk memulai program pembangunan PLTN, dengan demikian apabila Indonesia melaksanakan pembanguan PLTNnya, resistensi dari negara di kawasan menjadi minimal.
3. Melaksanakan pendidikan sarjana dan pasca sarjana energi nuklir untuk mempersiapkan sumberdaya manusia bagi persiapan pembangunan, EPC, commisioning dan decommisioning, dan pengoperasian PLTN. Bidang-bidang studi
yang dapat dilaksanakan antara lain: a. Rekayasa Energi Nuklir
b. Managemen pengoperasian dan perawatan PLTN
c. Rekayasa Infrastruktur PLTN
d. Managemen dan transportas bahan bakar dan limbah nuklir
e. Sain dan Rekayasa Reaktor f. Dll
Kebutuhan sumber daya manusia dalam pembangunan PLTN diperlihatkan pada Gambar 7[5]. Dari Gambar ini terlihat bahwa pembangunan PLTN akan melibatkan ribuan profesional, teknisi, tukang ahli, dan para laboran mulai dari saat perencanaan, perancangan teknik, pembangunan, pengujan dan pengoperasian. Kebutuhan sumber daya manusia terbesar terjadi pada periode pembangunan pembangunan.
Yang dimaksud dengan tenaga professional adalah para sarjana dan magister teknik dan sarjana/magister bidang lainnya. Tabel 2[5] memperlihatkan perkiraan jumlah tenaga professional yang dibutuhkan pada setiap tahapan kegiatan pembanguan dan pengoperasian PLTN. Dari data tersebut terlihat bahwa lebih dari 90% tenaga professional merupakan magister atau sarjana teknik. Kebutuhan magister teknik hanya berjumlah 8% dari total professional teknik.
Pada Gambar 7 diperlihatkan juga tentatif jadwal pembangunan PLTN 1 di Indonesia. Dari gambar tersebut dapat terlihat bahwa penyiapan sumber daya manusia untuk pembangunan PLTN 1 dan 2 sedikit terlambat. Namun demikian penyiapan SDM untuk pengoperasian PLTN 1 dan 2 masih memungkinkan. Dengan demikian SDM yang berkecimpung dalam bidang nuklir dan pembangkit tenaga listrik yang ada saat ini perlu dipersiapkan semaksimal mungkin. Namun demikian, penyiapan ini sulit untuk dapat dilakukan dengan pendidikan formal mengingat posisi jabatan dan usia SDM tersebut. Tabel 3 memperlihatkan prediksi usia SDM yang diperlukan. Sebagai contoh kualifikasi manager pre-project PLTN yang diperlukan adalah S2 dengan pengalaman kerja minimal 10 tahun. Apabila lulus tepat waktu S2 pada usia 25 tahun, maka pada tahun 2010 pada saat proyek dimulai usianya minimal 35 tahun, atau pada tahun 2017 sudah mencapai 33
tahun. Pada seusia ini akan sulit dilakukan pengembangan melalui pendidikan formal mengingat posisi jabatan dan usianya yang seharusnya sudah lulus program doktor. Hal yang lebih sulit lagi apabila yang bersangkutan tidak bergelar magister. Oleh sebab itu untuk kegiatan pre –project sampai dengan konstruksi, SDM yang digunakan sebaiknya magister yang telah ada saat ini dengan penambahan keahlian spesifik dilakukan melalui pelatihan, dan magang paruh waktu. Untuk kebutuhan magister pada kegiatan commissioning dan pengoperasian PLTN, pembinaan SDM bisa dilakukan melalui pendidikan formal. Karena kegiatan tersebut baru akan dilakukan pada sekitar 2014 dan 2016 sehingga lulusan sarjana yang masih berusia sekitar 26 tahun , masih sempat dididik menjadi magister selama dua tahun, kemudian bekerja di bidang nuklir atau pembangkit listrik selama 10 tahun, sehingga pada tahun 2019 dapat menjadi manager pada suatu PLTN.
Tabel 2 Kebutuhan tenaga professional pada pembangunan dan pengoperasian PLTN[1]
Tabel 4 Struktur kurikulum Program Magister Rekayasa Energi Nuklir
SEMESTER I SEMESTER II
No Kode Nama Mata Kuliah SKS No Kode Nama Mata Kuliah SKS
1 EN5080 Sains & Rekayasa
Nuklir* 3 1 EN5083 Analisis Reaktor Nuklir* 3
2 EN5081 Rekayasa Keselamatan Instalasi Nuklir* 3 2 EN5084 Termohidrolika Reaktor Nuklir* 3
3 EN5082 Teknologi PLTN 3 3 ENxxxx Mata Kuliah Pilihan 3
Jumlah SKS 9 Jumlah SKS 9
SEMESTER III SEMESTER IV
No Kode Nama Mata Kuliah SKS No Kode Nama Mata Kuliah SKS
1 EN6081 Analisis Struktur dan Desain
Seismik PLTN 3 1 ENxxxx Mata Kuliah Pilihan 3
2 EN6082 Eksperimen/Praktikum Reaktor Nuklir 1 2 EN6099 Tesis* 5
3 EN6083 Metodologi Penelitian 3
4 ENxxxx Mata Kuliah Pilihan 3
Jumlah SKS 10 Jumlah SKS 8
No Kode Nama Mata Kuliah Pilihan SKS
1 EN5085 Analisis Keselamatan Probabilistik 3
2 EN5086 Teknik Pengaturan 3
3 EN5087 Sistem Instrumentasi dan Kendali PLTN Modern 3
4 EN6084 Ilmu Bahan Nuklir 3
5 EN6085 Jaminan Kualitas PLTN 3
6 EN6086 Sistem Pengawasan Nuklir 3
7 EN6087 Perencanaan Energi, Ekonomi Pembangkit dan Ketenagalistrikan 3
8 EN6088 Kapita Selekta Rekayasa Energi Nuklir 3
Jumlah SKS 18
Melihat kebutuhan yang mendesak ini maka maka perlu dilaksanakan pendidikan formal magister untuk penyiapan tenaga-tenaga yang diperlukan untuk
commissioning dan pengoperasian PLTN 1 dan 2, tenaga-tenaga ini kemudian nantinya dapat berperan pada saat perencanaan, perancangan dan
pembangunan PLTN 3 dan 4. Perencanaan, perancangan dan pembangunan PLTN 1dan 2 harus dilaksanakan sebagian oleh SDM yang ada saat ini dengan dibekali keahliaan spesialisasi di bidang nuklir melalui pelatihan dan magang, dan sebagian besar lagi oleh tenaga kerja asing. Saat ini di ITB telah dilaksanakan beberpa program stud yang terkait dengan Nuklir, salah satunya adalah Program Studi Magister Rekayasa Energi Nuklir yag diselenggarakan bersama oleh FTMD – ITB dan Bapeten. Tabel 4 menunjukkan struktur kurikulum dari program studi tersebut.
Program-program pasca sarjana ini dapat dikembangkan ke taraf dunia sehingga menarik mahasiswa-mahasiswa bermutu dari negara-negara di kawasan. Melaui program pasca sarjana seperti ini dapat dilakukan penelitian yang bermutu dan
dapat dipublikasikan di regional/internasional untuk menunjukkan
kemampuan Indoensia di bidang teknologi energi nuklr. Lulusan-lulusan yang dihasilkan tidak saja dapat dimanfaatkan sebagai SDM pembangunan dan pengoperasian PLTN tapi juga dapat dijadikan agen sosialisasi dan diseminasi manfaat PLTN dan nuklir pada umumnya. 4. Bersama-sama dengan lembaga penelitian
dan perguruan tinggi lain, membentuk forum nuklir nasional yang kegiatannya mencakup transfer of knowledge and technology dengan cara melaksanakan program-program magang ke industri energi nuklir di luar negeri, maupun ke pembangkit-pembangkit non nuklir di dalam dan luar negeri. Kerjsama yang erat dengan industri pembangkit di dalam dan luar negeri merupakan faktor kunci dari keberhasilan program ini. Pengalaman magang sangat diperlukan bagi staff yang akan menduduki posisi penting dalam pengoperasian PLTN. Tabel 5[5] memperlihatkan keahlian dasar dan spesialisasi yang diperlukan. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa keahlian dasar yang diperlukan bagi tenaga magister adalah bidang teknik, pembangkit listrik, mesin, elektro, atau nuklir. Sedangkan keahlian spesialisasi yang diperlukan adalah keahlian di bidang tenaga nukir, teknologi tenaga nuklir, dan bidang-bidang nuklir lainya seperti keselamatan, standar, dan peraturan sesuai dengan bidang pekerjaannya.Dari Tabel 5 tersebut juga dapat dilihat bahwa keahlian spesialisasi tersebut dapat diperoleh dari pengalaman kerja, pelatihan, magang di pembangkit atau industri nuklir, dan/atau melalui pendidikan formal.
Tabel 5 Keahlian dasar dan spesialisasi yang harus dimiliki oleh tenaga magister di PLTN
7. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakuan di atas dapat disimpulkan beberapa hal berikut: • Perguruan tinggi seperti Institut Teknologi
Bandung sedang menyiapkan dirinya menjadi Perguruan Tinggi bertaraf dunia World Class University (WCU). Dalam upaya mencapai taraf dunia ITB melaksanakan serangkaian aktivitas yang pada intinya adalah meningkat kemampuan ITB untuk kemandirian bangsa dengan meningkat hasil-hasil pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang bermutu dan diakui secara internasional, dan dilakukan melalui kolaborasi internasional. Kegiatan dan
usaha yang dilakukan ITB ini dapat dimanfaatkan untuk menguatkan usaha-usaha implementasi PLTN di Indonesia. • Kebutuhan akan energi primer yang terus
meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kesejahteraan dan ekonomi, dan adanya kebutuhan energi yang mempunyai tingkat keberlanjutan yang tinggi dan ramah lingkungan membuat opsi PLTN pada skenario optimasi bauran energi tahun 2025 menjadi semakin kuat dan jelas. • Perguruan tinggi sperti ITB dapat berperan
dalam mendorong implementasi PLTN di Indonesia melalui diseminasi nosaional, diseminasi internasional, pengakuan hasil riset secara internasional, dan penyiapan SDM
• Penyiapan SDM dan program
pengembangan SDM untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN perlu dilakukan bebrapa tahun sebelum implementasi pebanguan PLTN dilakukan. Oleh sebab itu diperlukan kepastian dan keputusan yang tegas dari pemerintah tentang jadwal pembangunan PLTN.
• Program pengembangan SDM perlu dilakukan secara berkesinambungan karena
jangka waktu pembangunan dan pengoperasian PLTN yang cukup lama. Namun demikian jumlah tenaga kerja spesialis yang hasilkan tidak perlu teralalu banyak mengingat jumlah PLTN yang sedikit.
• Program pengembangan SDM professional tingkat magister pada dasarnya adalah penambahan keahlian spesialis nuklir, dan hal ini dapat dilakukan melalui pengalaman kerja, pelatihan, pendidikan formal, dan/atau magang.
• Melihat kebutuhan tenaga professional magister teknik tersebut maka perlu diselenggarakan Program Studi Magister di ITB bekerjasama dengan BATAN, BAPETEN dan institusi nasional, dan regional terkait.
8. REFERENSI
1. Majelis Wali Amanat Institut Teknologi Bandung, Rencana Induk Pengembangan Institut Teknologi Bandung 2006 – 2025, ITB 2007.
2. Edi Sartono,Scorpio Sri Herdinie, Nuryanti, Elok Satiti Amitayani, Statistik Energi Nuklir Tahun 2005, Pusat Pengembangan Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional, 2005.
3. http://www.environment.gov.au/soe/2001/ publications/theme- reports/atmosphere /images/atfg051.gif
4. Susumu Yoshikawa, 21st Century COE on Sustainable Energy System, Presented in 5th SEE Forum Meeting, 18th May 2009, Bangkok.
5. International Atomic Energy Agency, Manpower Development for Nuclear Power, a Guidebook, Technical Report Series No. 200, 1980.