MEMBANGUN KELUARGA HARMONIS

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MEMBANGUN KELUARGA HARMONIS & BAHAGIA MEMBANGUN KELUARGA HARMONIS & BAHAGIA

“Maka ALLAH menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar  “Maka ALLAH menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar   ALLA

 ALLAH H diciptakdiciptakan-Nya an-Nya dia; dia; laki-laklaki-laki i dan dan peremperempuan puan diciptadiciptakan-Nya kan-Nya merekmereka.” a.”  Kejadian 1:27

Kejadian 1:27 Keluar

Keluarga ga adalah sebuah lembaga yang adalah sebuah lembaga yang diciptadiciptakan oleh kan oleh ALLAALLAH H sendirsendiri, ALLAH i, ALLAH yangyang meng

mengambambil il inisinisiatiatif if untuuntuk k memencipnciptaktakan an manmanusiusia a dengdengan an dua dua jenjenis is kelkelamiamin n yangyang  berbeda

 berbeda yaitu yaitu : : laki-lalaki-laki ki dan dan peremperempuan, puan, karena karena itu itu pernikpernikahan ahan dalam dalam konsep konsep agamaagama Kr

Krisisteten n mememimililiki ki nilnilai ai “sa“sakrkralal” ” yayang ng sasangangat t titinggnggi i sesebabab b pepernrnikaikahan han ititu u adaadalalahh KUDUS.

KUDUS.

Dalam perkembangan jaman yang semakin modern ini, makna dari nilai “sakral” dalam Dalam perkembangan jaman yang semakin modern ini, makna dari nilai “sakral” dalam sebuah pernikahan jadi semakin luntur. Banyak orang yang menganggap pernikahan sebuah pernikahan jadi semakin luntur. Banyak orang yang menganggap pernikahan sepert

seperti i sebuah “mainan” yang sebuah “mainan” yang dapat digunakan untuk kesenangan dan dapat digunakan untuk kesenangan dan kepentikepentingan diringan diri sendiri demi memuaskan nafsu duniawi. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka sendiri demi memuaskan nafsu duniawi. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka  percer

 perceraian aian yang yang terjadterjadi i di di dunia. dunia. Di Di IndonesIndonesia ia saja, saja, menurut menurut data data BimbiBimbinganngan Masyarakat (Bimas) Kementerian Agama Indonesia, angka perceraian mencapai 10% Masyarakat (Bimas) Kementerian Agama Indonesia, angka perceraian mencapai 10% dalam setiap tahunnya, yaitu sekitar 250.000 pasangan kawin yang sah bercerai setiap dalam setiap tahunnya, yaitu sekitar 250.000 pasangan kawin yang sah bercerai setiap tahunnya. Belum lagi perkawinan-perkawinan yang tidak tercatat, seperti “nikah sirih” tahunnya. Belum lagi perkawinan-perkawinan yang tidak tercatat, seperti “nikah sirih” dan lain sebagainya.

dan lain sebagainya.

Sebagai pengikut KRIST

Sebagai pengikut KRISTUS, kita US, kita harus mengetahui bahwa TUHAN yang kita harus mengetahui bahwa TUHAN yang kita sembahsembah itu membenci perceraian. Karena itu, konsep perkawinan dalam agama Kristen adalah : itu membenci perceraian. Karena itu, konsep perkawinan dalam agama Kristen adalah : “SEKALI UNTUK SELAMANYA, SAMPAI

“SEKALI UNTUK SELAMANYA, SAMPAI MAUT MEMISAHKAN”.MAUT MEMISAHKAN”.

S

Salalaah h ssatatu u ffaaktktor or ppeenynyeebbab ab ttiingngggiinynya a aangngka ka ppeerrcceerraaiian an iiaallaah h kkaarreenana KETIDAKHARMONISAN dalam rumah tangga. Suami-istri yang sering bertengkar, KETIDAKHARMONISAN dalam rumah tangga. Suami-istri yang sering bertengkar, salah paham yang terjadi, masalah ekonomi, serta faktor “orang ke-tiga”, seringkali salah paham yang terjadi, masalah ekonomi, serta faktor “orang ke-tiga”, seringkali menjadi penyebab terjadinya perceraian.

menjadi penyebab terjadinya perceraian.

Untuk mencegah hal itu terjadi, maka hari ini kita akan sama-sama belajar tentang Untuk mencegah hal itu terjadi, maka hari ini kita akan sama-sama belajar tentang  bagaiman

 bagaimana cara unta cara untuk memuk membangun kelbangun keluarga Kruarga Kristen yang isten yang harmoniharmonis dan bahas dan bahagia.gia.

1.

1. Meletakan KASIH Meletakan KASIH KRISTUS sebagai KRISTUS sebagai DASAR yang DASAR yang mempersatukanmempersatukan “Dan di

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukatas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukanan dan menyempurnakan.” Kolose 3:14

dan menyempurnakan.” Kolose 3:14

Ba

Bahashasa a YuYunannani i untuntuk uk katkata a “ka“kasisih” h” yanyang g didigugunaknakan an daldalam am kitkitab ab KoKololose se 3:3:14 14 iniini menggunakan kata “

menggunakan kata “agapeagape”. Dalam bahasa Yunani, sedikitnya ada 4 kata yang dapat”. Dalam bahasa Yunani, sedikitnya ada 4 kata yang dapat menggambarkan tentang KASIH, yaitu : Agape, Philia, Storage dan Eros. Dan kasih menggambarkan tentang KASIH, yaitu : Agape, Philia, Storage dan Eros. Dan kasih “agape” memiliki tingkat yang paling tinggi dari

“agape” memiliki tingkat yang paling tinggi dari semua jenis “kasih” yang semua jenis “kasih” yang lain. Kasihlain. Kasih “agape” adalah kasih ALLAH sendiri, kasih yang tulus, murni dan suci, kasih yang “agape” adalah kasih ALLAH sendiri, kasih yang tulus, murni dan suci, kasih yang tidak egois dan mencari keuntungan sendiri seperti yang terdapat dalam 1 Korintus tidak egois dan mencari keuntungan sendiri seperti yang terdapat dalam 1 Korintus 13:4-8.

13:4-8.

Dal

Dalam am memmembangbangun un kelkeluaruarga ga krikristesten n yang harmonyang harmonis is dan dan bahabahagiagia, , unsunsur ur kaskasih ih iniini mutlak diperlu

mutlak diperlukan. kan. SehinggSehingga a dengan demikian setiap masalah maupun persoalan yangdengan demikian setiap masalah maupun persoalan yang tim

timbul, bul, dapadapat t disdiseleelesaiksaikan an dengdengan an baikbaik, , karkarena ena kelkeluarguarga a tertersebsebut ut memmemiliiliki ki kaskasihih KRISTUS sebagai dasar yang mengikat dan mempersatukan mereka. Dengan adanya KRISTUS sebagai dasar yang mengikat dan mempersatukan mereka. Dengan adanya kasih ini, maka masalah yang besar dapat dibuat menjadi kecil, dan masalah yang kecil kasih ini, maka masalah yang besar dapat dibuat menjadi kecil, dan masalah yang kecil dapat dihilangkan. Tetapi jika sebuah keluarga tidak memiliki kasih KRISTUS, maka dapat dihilangkan. Tetapi jika sebuah keluarga tidak memiliki kasih KRISTUS, maka yang terjadi adalah sebaliknya, masalah yang sebenarnya kecil, dapat berkembang yang terjadi adalah sebaliknya, masalah yang sebenarnya kecil, dapat berkembang menjadi sangat besar, karena ada unsur emosi, kemarahan dan sakit hati yang turut menjadi sangat besar, karena ada unsur emosi, kemarahan dan sakit hati yang turut “bermain” didalamnya.

(2)

2. Membangun MEZBAH DOA KELUARGA

“Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; Lalu ALLAH memberkati Nuh dan anak-anaknya” Kejadian 8:20, 9:1

Adalah sangat penting membangun mezbah doa dalam sebuah keluarga. Melalui mezbah ini setiap anggota keluarga dibawa untuk menjadi semakin dekat dan semakin intim dengan TUHAN. Mereka juga akan belajar disiplin untuk berdoa, memuji dan menyembah TUHAN. Mereka akan membiasakan diri untuk berdiskusi tentang kebenaran Firman TUHAN, sehingga karakter dari setiap anggota keluarga menjadi semakin terbentuk melalui kebenaran Firman TUHAN tersebut. Karena itu mezbah keluarga juga menjadi sarana pembentukan karakter bagi setiap anggota keluarga. Tentu proses pembentukan karakter tersebut tidak akan terjadi dalam “semalam”, dibutuhkan kesabaran dan kerja keras dari setiap anggota keluarga agar semakin hari menjadi semakin “serupa” dengan pribadi YESUS.

3. Suami harus menjadi IMAM dalam keluarga

karena suami adalah kepala isteri sama seperti KRISTUS adalah kepala jemaat.  Dialah yang menyelamatkan tubuh. Efesus 5:23

Dalam kehidupan berumahtangga, suami harus menjalankan fungsinya sebagai imam dalam keluarga. Ia bertanggung jawab untuk membawa seluruh anggota keluarganya datang kepada TUHAN. Ia harus menanamkan “nilai-nilai” atau “prinsip-prinsip” kebenaran iman Kristen kedalam kehidupan keluarganya. Seorang suami yang tidak  menjalakan fungsinya sebagai imam dalam keluarga akan berdampak buruk bagi keharmonisan rumah tangga tersebut. Sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia membutuhkan sebuah “figur“ yang dapat dijadikan panutan/ teladan bagi seisi rumahnya, dan iblis mengetahui hal ini, karena itu dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk merusak “figur” ini. Karena itu bagi para suami : jadilah IMAM dalam keluargamu.

4. Istri TUNDUK kepada suami, dan suami MENGASIHI istri

 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam TUHAN. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Kolose 3:18-19

ALLAH yang kita sembah adalah ALLAH yang luar biasa. Dia yang menciptakan kita manusia, dan Dia mengenal kita lebih dari kita mengenal diri kita sendiri. Karena itu Dia tahu, bahwa semua wanita di dunia mempunyai kebutuhan yang sama, yaitu mereka ingin merasa DISAYANG oleh suaminya. Dan semua pria didunia mempunyai kebutuhan yang sama juga, yaitu mereka ingin DIHARGAI / DIHORMATI oleh istrinya. Wanita sebagai mahkluk yang secara fisik lebih lemah dari pria, membutuhkan rasa aman dan dilindungi oleh suaminya. Dan pria sebagai mahkluk  yang secara fisik lebih kuat dari wanita, membutuhkan pengakuan bahwa memang dia lebih kuat, lebih perkasa dari istrinya. Karena itu kedua hal ini harus berjalan bersama-sama, yaitu istri TUNDUK kepada suami, dan suami MENGASIHI istri. Jika ada salah satunya yang dilanggar, maka akan mengakibatkan pelanggaran juga pada sisi yang lain. Contoh : jika suami tidak mengasihi istri dan berlaku kasar, maka akan mengakibatkan istri tidak mau tunduk kepada suami. Atau jika istri tidak mau tunduk  kepada suami melainkan “tanduk”, maka akan mengakibatkan suami berlaku kasar  kepadanya.

(3)

 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam TUHAN. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar  hatinya. Kolose 3:20-21

Untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia dibutuhkan kerjasama yang baik antara anak dan orang tuanya. Peraturan bagi seorang anak ialah TAAT kepada orang tua. Didalam kekristenan, orang tua memegang otoritas atas anaknya. Selama anak tersebut belum menikah dan membangun keluarganya sendiri, maka yang memegang otoritas atas anak itu ialah orang tuanya. Tidak ada orang tua yang mau mencelakakan anaknya sendiri, setiap orang tua pasti ingin melihat anaknya berhasil, sukses dan hidup bahagia. Sebagai seorang yang sudah banyak makan “asam garam” kehidupan tentu orang tua memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada anaknya. Tetapi hal ini sering tidak disadari oleh sang anak, sebagai orang yang masih muda mereka cenderung mengikuti keinginan hatinya sendiri, sehingga mereka memberontak  dan tidak mau TAAT kepada orang tua. Untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis, seorang anak harus menjalankan perannya dengan baik, yaitu TAAT kepada orang tua. Dan sebaliknya, bagi orang tua peraturannya adalah JANGAN SAKITI HATI ANAK. Ada banyak orang tua yang menyakiti hati anaknya, misalnya dengan cara tidak menepati janji, menghukum secara berlebihan, pertengkaran antara suami istri dan lain sebagainya. Sebagai orang tua, kita harus menyadari bahwa anak adalah “titipan TUHAN” yang harus dididik, dibesarkan dan dibina sesuai dengan nilai-nilai kristiani, agar mereka bertumbuh besar menjadi anak-anak yang cinta TUHAN dan  berhasil dalam hidupnya.

Kesimpulan :

Memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia tentu menjadi idaman bagi setiap rumah tangga. Namun untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh serta komitmen dari setiap anggota keluarga untuk mau menjalankan fungsi perannya masing-masing sesuai dengan kebenaran Firman TUHAN, sebab hanya Firman TUHANlah satu-satunya standar yang harus kita milki untuk mencapai keluarga yang harmonis dan bahagia. [SEH/2011]

 Kami datang dihadiratMu

 Dalam satu kasih dengan bersehati

 Berjanji setia sampai akhir 

 Mengasihimu Tuhan

 Reff : Bersama keluargaku melayani Tuhan

 Bersatu selamanya mengasihi Engkau

Tiada yang dapat melebihi kasihMu ya Tuhan

(4)

Keluarga Kristen yang Bertanggung

Jawab

PENDAHULUAN

A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Fenomena tentang keluarga tentang bagaimana tanggung jawab suami - istri dalam keluarga semakin sering diangkat dalam seminar-seminar keluarga, media masa, website dan forum diskusi online di dunia maya. Dapat dijumpai bahwa para suami-istri sering menganut pandangan yang memisahkan peranan maskulin dan feminim. Bukan hanya suami, para istri juga masih melihat bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peranan yang khas. Jadi tidak heran jika kita dalam sebuah kelurga kelihatannya suami istri jalannya masing-masing tanpa ada keharmonisan lagi sehingga tanggung jawab tidak terrealisasi dengan baik.

Dewasa ini sering jumpai suami-istri yang semakin sibuk bekerja untuk  mencari uang sehingga komunikasi kurang, perhatian terhadap anak tidak ada bahkan antara suami istri , maka diperlukan konsep atau sistem sehingga suami-istri dapat  berperan maksimal dalam membina keluarga bahagia, sehingga tidak ada alasan

keluarga menjadi korban karena suami-istri yang sibuk.

Alkitab adalah sebuah kitab sempurna, yang telah membuat persamaan, sentuhan dan pemisahan-pemisahan yang sangat jelas tentang peran suami-istri. Untuk  itu, penulis memilih judul“KELUARGA KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB“.

LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN KELUARGA KRISTEN

Dalam Kamus Basar Bahasa Indonesia (KBBI) keluarga adalah terdiri dari ayah, ibu dan anak, juga termasuk orang-orang yang tinggal dalam satu rumah, misalnya saudara yang punya hubungan dengan keluarga.

(5)

Keluarga Kristen adalah bagian integral dari keluarga-keluarga dalam masyarakat yang  plural. Dalam hal ini tentunya keluarga Kristen juga memiliki hak dan tanggungjawab dalam pembangunan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Tentunya hal ini harus senantiasa di bangun atas dasar kesadaran dan apresiasinya akan eksistensinya sebagai ciptaan Allah yang istimewa. Ada tanggungjawab dalam setiap keluarga Kristen untuk memberi kontribusi positif dalam pembentukan masyarakat yang teratur, damai dan sejahtera.

B. PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB

Pada umumnya “tanggung jawab” diartikan sebagai keharusan untuk “menanggung” dan “menjawab” dalam pengertian lain yaitu suatu keharusan untuk menanggung akibat yang ditimbulkan oleh perilaku seseorang dalam rangka menjawab suatu  persoalan. Jika dikaitkan dalam keluarga banyak berharap dapat mengajarkan tanggung  jawab dengan memberikan tugas-tugas kecil kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebagai orangtua tentu berkeinginan untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak. Demikian juga antara suami istri.

Makna dari istilah “tanggung jawab” adalah “siap menerima kewajiban atau tugas”. Arti tanggung jawab di atas semestinya sangat mudah untuk dimengerti oleh setiap orang. Tetapi jika kita diminta untuk melakukannya sesuai dengan definisi tanggung  jawab tadi, maka seringkali masih merasa sulit, merasa keberatan, bahkan ada orang

yang merasa tidak sanggup jika diberikan kepadanya suatu tanggung jawab. Kebanyakan orang mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk  “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab.

C. KELUARGA DI PERJANJIAN LAMA

Tidak ada kata untuk “keluarga” di PL bahasa Ibrani yang dapat disamakan secara tepat dengan kata modern, “keluarga inti”. Beberapa kelompok sosial digambarkan sebagai “suku”, dan menggambar asal etnik. Kata umumnya (beth ab = rumah ayah) dapat berarti keluarga inti yang tinggal di rumah yang sama (Kej 50.7-8); kelompok  sanak yang lebih besar/luas termasuk dua atau lebih generasi (Kej 7.1; 14.14); dan juga sanak dengan berarti lebih luas (Kej 24.38). Kata lain menunjuk ke kelompok sanak  yang besar dan kadang-kadang diterjemahkan sebagai “kaum” (Bil 27.8-11).

Pada kenyataannya, keluarga-keluarga yang digambarkan di PL adalah rumah tangga yang mempunyai seorang lelaki pada pusat kehidupan keluarga. Rumah tangga terdiri atas semua orang, anak-anak, kerabat lain, pelayan-pelayan dan orang lain yang tinggal

(6)

di rumah. Sebelum masa Daud, hidup keluarga difokuskan pada keperluan umum yaitu  pekerjaan, makanan, dan perlindungan. Rumah tangga adalah tempat dimana  pendidikan, sosialisasi, dan pendidikan agamani, terjadi . Walaupun ada kekuatan-kekuatan di pola hidup ini, ada banyak penyalahgunaan, dan banyak contoh keluarga yang fungsinya terganggu di PL (misalnya keluarga Ishak, Yakub, Daud).

Sentralisasi negara di Yerusalem di bawah Daud dan Salomo menjadi perubahan serupa dengan yang terjadi di peradaban lain. Ada pemindahan kekuasaan dari kepala keluarga ke penguasa di pusat. Keluarga harus menyumbang ke keperluan umum (seperti Samuel mengatakan bahwa mereka harus melakukannya - 1 Sam 8.10-18). Kemudian, selama negara berjalan dari satu krisis ke lain, utang meningkat dan orang kaya membeli tanah orang miskin, dan lebih dari itu mereka membeli orang miskin itu sendiri (Yes 5.8-10; Am 2.6-8).

D. KELUARGA DI PERJANJIAN BARU

Keluarga Yahudi di PB tersusun seperti rumah tangga di PL. Ada tekanan pada asal etnik dan jabatan ayah. Keluarga Greco-Roman juga rumah tangga besar, yaitu rumah tangga termasuk semua orang yang tinggal di rumah. Tidak ada kata di bahasa Yunani yang dapat disamakan secara tepat dengan ide modern, “keluarga inti”. Rumah tangga  besar ini adalah satuan dasar masyarakat. Kata umum adalah “rumah” (oikos), atau

frasa “kepunyaan sendiri”.

Di PB ada beberapa yang dinamakan ‘pedoman-pedoman kehidupan keluarga’ (Kol 3.18 - 4.1; Ef 5.21 - 6.9; 1 Pet 2.18 - 3.7; 1 Tim 2.8-15; 6.1-2; Tit 2.1-10). Pedoman ini mungkin dimaksudkan untuk membantu anggota rumah tangga Kristen untuk hidup secara terterima sesuai dengan kebudayaannya. Di pihak lain kenyataan bahwa  pedoman itu tertuju kepada para suami, istri, orang tua, anak, dan pelayan, menunjukkan bahwa ajaran Kristen khusus diterapkan ke kehidupan rumah tangga. Kita seharusnya memperhatikan bahwa bagian-bagian ini tidak menunjukkan keluarga sebagai satuan, tetapi menunjukkan hubungan-hubungan yang beragam di dalam keluarga itu sendiri.

KELUARGA KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB

A. TANGGUNG JAWAB KELUARGA KRISTEN SEBAGAI MANDAT DARI ALLAH

Alkitab (secara khusus kitab Kejadian) dengan tegas dan lugas mendeskripsikan eksistensi manusia. Pendeskripsian ini dimulai dari proses penciptaan hingga pada

(7)

 pengingkaran manusia kepada Allah (dosa). Dalam proses penciptaan dinyatakan  bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang istimewa. Keistimewaan ini terletak pada  penciptaan manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ( Imago Dei)

dan juga diciptakan dengan sikap proaktif Allah. Keistimewaan manusia ini pada akhirnya menimbulkan suatu tanggungjawab manusia kepada Allah. Pertanggungjawaban manusia kepada Allah nyata dalam mandat Allah kepada manusia untuk menaklukkan dan menguasai segenap ciptaan. Dengan kata lain, keutuhan dan  bahkan kesejahteraan seluruh ciptaan adalah tanggungjawab manusia. Manusia harus senantiasa proaktif untuk mewujudkan dunia yang diwarnai dengan keteraturan, kedamaian dan kesejahteraan sebagai konsekwensi keistimewaan itu.

Pertanggungjawaban manusia sebagai ciptaan yang unik dan istimewa berpusat kepada Allah. Dan yang menarik dalam hal ini adalah, kekuatan dan kesanggupan manusia dalam pelaksanaan tanggungjawab tersebut juga tergantung kepada Allah sebagai  pemberi tanggungjawab. Dengan demikian perlu ada komunikasi dan koordinasi yang kontiniu antara manusia dengan Allah dalam perwujudan dunia yang diwarnai keteraturan, kedamaian dan kesejahteraan itu. Manusia akan mampu menata dunia dan seluruh ciptaan sesuai dengan kehendak Allah apabila dalam diri manusia tersebut terkandung dimensi ketaatan kepada Allah. Inilah yang menjadi faktor penentu kesuksesan manusia dalam pelaksanaan tanggungjawabnya sebagai ciptaan yang istimewa di hadapan Allah.

Dalam pembentukan keluarga Kristen, kesadaran akan tanggungjawab manusia sebagai  perpanjangan tangan Allah dalam pembentukan tatanan dunia yang teratur, damai dan sejahtera menjadi variabel yang sangat menentukan. Bahkan itulah yang seharusnya menjadi titik berangkat pembentukan kelauarga Kristen. Setiap keluarga Kristen dibangun dari pribadi yang bertanggungjawab kepada Allah sebagai alat pembentukan tatanan dunia (keluarga) yang teratur, damai dan sejahtera. Kesadaran yang demikian akan membentuk anggota keluarga yang juga bertanggungjawab terhadap anggota keluarga lainnya sebagai bagian dari dunia ciptaan Allah. Anggota keluarga yang memberi apresiasi terhadap pemahaman yang demikian niscaya akan memandang setiap anggota keluarga sebagai pribadi yang harus dihormati dan dibahagiakan. Dan itu dinyatakan atas kesadaran dan tanggungjawabnya sebagai ciptaan Allah yang istimewa.

B. PERANAN SUAMI ISTRI DALAM KELUARGA.

(8)

Peran ayah dalam keluarga sangat luas, yaitu terdiri dari :

• Pemimpin rohani terhadap Istri. Pemimpin rohani terhadap istri berarti suami harus

mendoakan, mengasihi dan memimpim istri sesuai dengan peraturan Allah.

Kepemimpinan rohani terhadap istri memberikan wibawa terhadap istri dan anak:

• Bertanggung jawab kepada Kristus, karena tugas memimpin mewakili Allah.

Memimpin berarti memimpin dan mengasihi dan melayani, bukan menuntut atau  berlaku sebagai boss, sebab Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk 

melayani ( Matius 20:28; Efesus 5:25; Kolose 3:9).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang kepemimpinan seorang ayah yaitu : - Mengagumi dan memberi penghargaan pada istri (Mazmur 139:13-14)

- Memperhatikan dan memelihara hubungan pribadi dengan sopan dan hormat. Tubuh suami adalah milik istri dan sebaliknya (I Korintus 7:4; Kejadian 2:24; Efesus 5:31), ekspresi cinta harus benar dan tidak boleh egois.

- Selain Kristus, istri mendapat tempat pertama dihati suami (Matius 10:37)

- Menyediakan waktu bagi istri dan anak untuk relax bersama, berdoa dan membuka Alkitab bersama (Mazmur 127:1) - Memimpin berarti bergaul dan memberi waktu (Yohanes 1:39, 43)

- Memimpin berarti menjadi teladan (I Kor 4: 16; Filipi 3:17) - Memimpin berarti rela berkorban (Efesus 5:28:30)

- Tidak memukul atau berlaku kasar, sebab istri adalah milik Kristus dan tubuh istri adalah bait Roh Kudus ( I Korintus 6:19-20; )

- Melayani Tuhan bersama, (Kisah para rasul 3:11; Roma 16)

• Pemimpin Anak 

- Penanggung utama terhadap anak(Amsal 1:8; 6:20)

- Ayah adalah pemimpin anak, malalui pikiran, perbuatan dan teladan (II Kor  3:11; Efesus 5:23)

- Anak ciptaan Allah (Mazmur 127:3; 139:1)

- Memperhatikan kebutuhan anak secara total, tubuh jiwa dan roh dengan penuh tanggug jawab.

- Memberi teladan bagi anak untuk hidup hormat dan takut akan Tuhan

Keluarga Kristen tidak hanya membawa anak beragama, sekolah dan hidup yang baik, namun tiap anak harus didoakan atau dibimbing untuk bertobat dan mengenal Tuhan Yesus secara sungguh-sungguh. Disiplin ditanamkan mulai sejak anak kecil. Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi janganlah engkau menginginkan kematiannya (Ams 19:18).

(9)

Peranan Istri dalam keluarga A. Peranan Istri terhadap suami 1. Sebagai penolong bagi suami.

Istri adalah penolong dan bukan perongrong suami. Istri merupakan asisten, mengisi kekurangan, mengantikan dan mewakili bila diperlukan. Gelar penolong diberikan oleh Allah sendiri (kejadian 2:18).

Istri sebagai penolong berarti: Berharga atau Bermutu

Istri yang cakap lebih berharga dari permata (Amsal 31:10). Pikiran, perasaan dan  perbuatannya bermutu, sehingga istri merupakan harta kekayaan yang tak ternilai

harganya.

Dapat dipercaya

Hati suaminya percaya kepadanya (Amsal 31:11a), dalam hal:

- Kesetiaan yaitu Istri berkewajiban setia kepada suami, anak dan keluarga sebagaimana janji pernikahan yang diucapkan dihadapan pendeta, jemaat dan Tuhan. istri harus tetap bertekat untuk hidup bersama, karena apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Matius 19:5-6).

- Menjaga Rahasia yaitu Siapa menjaga mulutya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan (Amsal 18:21). Istri harus dapat dipercayai suami, menjaga rahasia pribadi, keluarga, pekerjaan dan pelayanan, hati-hati dalam  berkata-kata, mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh diceritakan agar gosip

tidak berkembang. Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan dan mulutnya  berseru meminta pukulan orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah  jerat bagi nyawanya (Amsal 18:6,7).

- Mengatur keuangan yaitu Istri yang baik akan dipercaya oleh suami karena mampu mengatur keuangan dengan penuh tanggung jawab. Istri yang bijak membangun rumahnya, tetapi istri yang bodoh meruntuhkan dengan tangannya (Amsal 15:13). - Mengatur Rumah Tangga yaitu tugas mengatur rumah tangga bukanlah tugas yang

sepele (Titus 2:5). Termasuk wanita karir seharusnya tahu mengatur rumah tangga dengan baik dan tidak boleh menelantarkan rumah tangga.

(10)

Bangun kala masih malam (Amsal 31:15a) pada malam hari pelitanya tidak   padam (Amsal 31:18b) ia sedang bekerja dengan tangannya (Amsal 31:13b).  prinsipnya disini adalah seorang istri hendaknya rajin dan kreatif, mempunyai

kesediaan dan kemampuan bekerja keras. Seorang istri, ibu rumah tangga yang malas,  boros dan hanya bermalas-malasan akan mengakibatkan rumah tangga yang  berantakan.

Penolong yang berhikmat

Ia membuka mulutnya dngan hikmat (Amsal 31:26) istri tahu kapan harus  berkata-kata sesuai dengan waktu, tempat dan situasi. Ia tahu kapan harus memberikan  pujian atau koreksi kepada suaminya. Perkataan yang diucapkan pada waktunya,

seperti buah apel emas dalam pinggan perak (Amsal 25:11). penolong yang mantap dalam penampilannya.

Dalam penampilan yang terutama adalah perhiasan rohani (batin), namun jangan mengabaikan perhiasan lahiriah. Sangat menyedihkan jika istri menyambut suami dengan rambut kusut dan daster yang kotor, istri yang melalaikan diri tidak menjadi  penolong yang baik. Jangan mengeluh jika suami mulai melihat wanita lain yang tahu

merawat diri. Istri yang baik juga tahu menghias diri sesuai dengan profesi suaminya shingga membeikan rasa hormat dan wibawa

Tunduk dan menghormati Suami

Istri hendaklah menghormati suami (Efesus 5:33b). Hai Istri tunduklah kepada suamimu sepei kepda Tuhan (Efesus 5:22). Istilah tunduk dan hormat mungkin merupakan istilah yang menjengkelkan bagi istri yang dominan terhadap suami, terlebih bagi istri yang memiliki alasan rasional untuk dominan dalam keluarga.  Namun agar keluarga menjadi bahagia, prinsip-prinsip keluarga dalam Alkitab perlu digali dan ditaati. Kemungkinan kehancuran keluarga karena diabaikannya prinsip tersebut dalam kehidupan keluarga Kristen. Allah telah mengajarkan bagaimana istri  berlaku kepada suami, yaitu tunduk dan hormat.

Prinsip istri tunduk terhadap suami memang sudah sewajarnya, baik dilihat secara kronologis penciptaan, terlebih lagi merupakan perintah Allah agar istri tunduk  terhadap suami, termasuk tunduk kepada suami yang tidak beriman (Efesus 5:21; I Petrus 3:27). Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya  jika ada diantara mereka yang tidak taat kepada Firman, merka juga tanpa perkataan

dimenengkan oleh kelakuan istri, jika mereka meliht, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka. (I Petrus 3:1-2)

(11)

Mengasihi Suami

Pernikahan Kristen diikat oleh kasih Kristus, karenanya suami istri harus saling mengasihi. Kasih akan menciptakan kebahagiaan dalam keluarga. Kualitas kasih dalam keluarga Kristen adalah sepeti kasih Tuhan Yesus kepada jemaat. Yang pertama harus dikasihi seorang istri adalah suaminya. Bahkan setelah mereka memiliki anak  sekalipun, istri harus mengasihi suaminya terlebih dahulu. Di dalam beberapa rumah tangga mungkin saja istri melupakan persekutuan dengan suaminya, istri lebih banyak  mencurahkan kasihnya untuk anak-anak. Sikap ini tidak baik. Ayah dan ibu harus  bersam-sama mengasihi dan memelihara anak-anak mereka. akan tetapi kehadiran

anak-anak tidak boleh mengurangi kasih suami istri.

B. Peranan Ibu bagi Anak.

Istri tidak hanya berperan terhadap hidup dan kemajuan karier suami, tetapi  juga menentukan kemajuan anak. Kualitas keluarga dari sisi lain juga dapat tercermin

dari kebahagiaan, pertumbuhan dan kemajuan anak, karena kehancuran dan ketidak   bahagiaan rumah tangga dapat mengakibatkan anak menjadi korban. Di bawah ini akan

diuraikan peran ibu terhadap anaknya antara lain: - Memelihara dan mengasuh anak.

- Menyediakan makanan bagi anaknya (Amsal 31:15a) - Mengasuh dan mengawasi anak (Amsal 31:27a) - Imam bagi anak-anaknya

Doa orang benar besar kuasanya dan Tuhan mendengarkan doa orang yang jujur  dan Tuhan berjanji untuk menjawab doa (Matius 7:7). Sebagai imam berarti menyampaikan keluhan, masalah dan sukacita anak kepada Tuhan. ibu juga berperan menjadi penyambung lidah Allah, yaitu menyampaikan Firman Allah kepada anak.

- Teladan bagi anaknya

Perlu disadari bahwa kehidupan ibu sangat mewarnai kehidupan anak, baik hal positif  maupun hal yang negatif. Perkataan, perbuatan, dan gaya hidup orang tua akan diteladani anak-anak (Amsal 20:15, 14:1; 31:20).

- Sebagai guru

Sebagai guru seorang ibu harus dapat mendidik anak-anaknya. Hai anak-anakku dengarlah didikan ayahmu dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu (Amsal 1:8b).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :