• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAYANAN KONSELING KELUARGA HARMONIS PADA PUSAT PELAYANAN KELUARGA SEJAHTERA BUNGONG JEUMPA KANTOR PERWAKILAN BKKBN PROVINSI ACEH SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAYANAN KONSELING KELUARGA HARMONIS PADA PUSAT PELAYANAN KELUARGA SEJAHTERA BUNGONG JEUMPA KANTOR PERWAKILAN BKKBN PROVINSI ACEH SKRIPSI"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

PELAYANAN KELUARGA SEJAHTERA BUNGONG JEUMPA KANTOR PERWAKILAN BKKBN PROVINSI ACEH

SKRIPSI

Diajukan Oleh SITI NOVIA NIM. 140402080

Prodi Bimbingan dan Konseling Islam

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY

DARUSSALAM-BANDA ACEH 2019 M/1440 H

(2)

Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana S-1

Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam

Disusun Oleh

SITI NOVIA NIM. 140402080

Disetujui Oleh:

Dr. M. Jamil Yusuf, MPd Dr. Sabirin, M.Si

NIP. 195808810119870310 NIP. 198401272011011008 Pembimbing I Pembimbing II

(3)
(4)
(5)

iii

Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, Skripsi S-1, Prodi Bimbingan dan Konseling

Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh 2019.

Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana layanan konseling keluarga untuk mencapai keluarga harmonis yang diberikan pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui masalah keluarga yang sering ditemukan selama melakukan layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, (2) Mengetahui kegunaan layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, (3) Mengetahui prosedur layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, dan untuk (4) Mengetahui hasil layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah wawancara dan dokumentasi, Hasil yang diperoleh dari penelitian ini meliputi: (1) Masalah keluarga yang sering ditemukan selama melakukan layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh sangat beragam, diantaranya masalah keuangan, masalah komunikasi yang kurang baik, masalah ketidakpuasan hubungan suami istri, dan masalah antara orang tua yang terlalu ikut campur dalam rumah tangga anak, (2) kegunaan dari layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh adalah untuk membantu, mengarahkan, dan menjembatani klien atau anggota keluarga yang memiliki masalah dalam rumah tangga dengan layanan konseling, yang bertujuan untuk mewujudkan keluarga harmonis, (3) Prosedur layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh yaitu, pertama tahap perencanaan pertemuan. kedua, klien bertemu dengan konselor atau psikolog yang di arahkan oleh relawan. Ketiga, tahap penggalian masalah. keempat, tahap konseling anggota keluarga yang terkait. kelima, tahap konseling bersama klien dan anggota keluarga yang terkait. keenam, tahap membuat komitmen secara tertulis antara klien dan anggota keluarga yang terkait. Metode dan teknik konseling yang digunakan disesuaikan dengan permasalahan klien, dan (4) Hasil yang dicapai dari tujuan layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh adalah berhasil membantu anggota keluarga yang bermasalah menemukan jalan keluar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh sudah sangat baik. Siti Novia, NIM. 140402080, Layanan Konseling Keluarga Harmonis Pada Pusat

(6)

iv

Syukur alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. atas segala kudrah dan iradah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sesuai dengan yang direncanakan. Shalawat beriring salam penulis sanjung sajikan ke pangkuan Nabi Muhammad Saw. yang telah berhasil mengubah peradaban manusia dari masa kebodohan ke masa yang penuh ilmu pengetahuan. Salah satu nikmat dan anugerah dari Allah Swt. penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Layanan Konseling Keluarga Harmonis Pada PPKS Bungong Jeumpa Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh”.

Maksud dan tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat-syarat guna mencapai gelar sarjana pada prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari petunjuk Allah Swt serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala partisipasinya penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibunda tercinta Darmiati yang telah melahirkan, mencurahkan kasih sayang dan memanjatkan doa untukku, memberikan dorongan dan semangat untukku dalam menyelesaikan skripsi ini, dan kepada Ayahanda tercinta Alm. Irmansyah, semoga amal ibadah Ayah diterima di sisi-Nya dan semoga ditempatkan disurga Allah. Terima kasih untuk keluarga besar penulis yang telah mendukung sampai kepada jenjang pendidikan perguruan tinggi ini.

(7)

v

pembimbing 1 yang telah membimbing, mengarahkan dan memberikan kontribusi yang sangat banyak dalam penyelesaian skripsi ini.

3. Dr. Sabirin, M.Si sebagai pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam memberikan arahan dan bimbingan serta saran-saran kepada penulis.

4. Dr. Fakhri, S.sos, MA selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh Drs. Umar Latif, MA selaku ketua program studi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan.

5. Sahabat-sahabat terbaik penulis, yang telah mensupport penulis menyelesaikan tugas akhir ini, juga kepada kawan-kawan seperjuangan di prodi BKI angkatan 2014.

6. Ketua, konselor, psikolog dan klien PPKS Bungong Jeumpa Kota Banda Aceh yang telah memberikan dan membantu data-data maupun informasi terkait hal yang diteliti oleh penulis.

Segala usaha telah dilakukan untuk menyempurnakan skripsi ini, namun penulis menyadari bahwa dalam keseluruhan bukan tidak mungkin terdapat kesalahan baik dari penulis maupun isi yang di dalamnya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat menjadi masukan demi perbaikan di masa yang akan datang. Akhirnya atas segala bantuan, dukungan,

(8)

vi

kepada Allah untuk membalasnya, amin.

Banda Aceh, 11 Juli 2019 Penulis,

(9)

vii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Signifikansi Penelitian ... 6

E. Definisi Operasional... 7

F. Kajian Tentang Hasil Penelitian Terdahulu ... 9

BAB II KAJIAN TEORITIS ... 12

A. Keluarga Harmonis ... 12

1. Pengertian Keluarga Harmonis ... 12

2. Ciri-Ciri Keluarga Harmonis... 15

3. Hak dan Kewajiban Suami Istri ... 19

4. Keluarga Harmonis dalam Islam ... 25

B. Konseling Keluarga Harmonis ... 27

1. Pengertian Konseling Keluarga ... 27

2. Tujuan Konseling Keluarga ... 30

3. Prosedur Konseling Keluarga... 33

4. Ruang Lingkup Konseling Keluarga ... 43

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 45

A. Jenis Data Penelitian ... 45

B. Sumber data Penelitian ... 46

C. Teknik Pengumpulan Data ... 47

D. Teknik Analisis Data ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 51

1. Sejarah Singkat PPKS Bungong Jeumpa Banda Aceh ... 51

2. Sarana dan Prasarana PPKS Bungong Jeumpa ... 52

3. Kegiatan PPKS Bungong Jeumpa ... 54

4. Maksud dan Tujuan Berdirinya PPKS Bungong Jeumpa ... 55

5. Struktur Kepengurusan PPKS Bungong Jeumpa ... 57

B. Temuan dan PembahasanHasilPenelitian ... 58

(10)

viii

A. Kesimpulan ... 78 B. Saran ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 80 LAMPIRAN

(11)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga adalah salah satu unit sosial yang hubungan antar anggotanya terdapat saling ketergantungan yang tinggi. Setiap keluarga pada dasarnya mendambakan sebuah keluarga yang harmonis, karena hal itu merupakan suatu pencapaian dalam mewujudkan lingkungan yang baik, serta mewujudkan suasana kekeluargaan yang bahagia dan ketenangan batin dalam hidup. Menurut Fachruddin Hasballah:

“Keluarga sebagai suatu kelompok terkecil dalam satu kelompok masyarakat sebagai sebab keterikatan dalam pernikahan dan menjadi suatu keterikatan kebersamaan yang akan menjadi dasar dalam usaha mengembangkan tujuan hidup berkeluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.”1

Islam menganjurkan untuk membentuk sebuah keluarga dan menyerukan kepada umat untuk hidup di bawah naungan-Nya, dengan pernikahan akan ada dan terbentuknya rumah tangga dan keluarga sehingga memperkuat hubungan silaturrahmi kedua belah pihak. Zakiah Dradjat dalam bukunya yang berjudul Ilmu Fiqih mengemukakan bahwa tujuan pernikahan menurut agama Islam ialah “untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia, yaitu harmonis dalam menggunakan hak dan

_______________

1 Fachruddin Hasballah, Psikologi Keluarga dalam Islam, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2007), hal. 85.

(12)

kewajiban antar anggota keluarga.”2 Tujuan utama pernikahan ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Q.S ar-Rum ayat: 21











































Terjemahnya: “dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir (Q.S ar-Rum ayat: 21).”3

Keluarga yang harmonis merupakan keinginan dari setiap individu dalam membentuk rumah tangga, karena dalam keharmonisan itu terbentuk hubungan yang hangat antara anggota keluarga dan juga merupakan tempat yang menyenangkan serta positif untuk hidup. Keinginan membentuk keluarga harmonis sudah mulai ditanamkan sejak individu tersebut ingin melaksanakan pernikahan. Untuk mewujudkannya maka diperlukan pemahaman dan pengertian dari masing-masing pasangannya. Hal tersebut dilakukan sebelum, selama dan setelah pernikahan. Apabila hal itu terpenuhi, maka permasalahan yang timbul tidak akan mempengaruhi keharmonisan keluarga. Dengan demikian kehidupan keluarga harmonis yang didambakan oleh setiap pasangan akan mudah terlaksana.

Namun pada kenyataannya di dalam kehidupan suatu keluarga, untuk menjaga keutuhan cinta dan pengertian di antara mereka banyak yang mengalami

_______________

2Zakiah Dradjat, Ilmu Fiqih, (Yogyakarta: PT. Dana Bakti Wakaf, 1995), hal. 38.

3Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahannya, Diterjemahkan Oleh Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Quran dan Direvisi Oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, (Jakarta: Sahifa, 2014), hal. 406.

(13)

hambatan dan rintangan. Memelihara dan membinanya hingga sampai kepada taraf keluarga yang harmonis yang selalu didambakan setiap pasangan suami istri sangatlah sulit, karena menjalani bahtera kehidupan rumah tangga tidak akan terlepas dari adanya permasalahan-permasalahan, mulai dari permasalahan yang kecil hingga pada permasalahan yang besar bahkan sampai mengakhiri pernikahannya dengan perceraian. Problematika yang sering muncul di dalam keluarga sehingga membuat keluarga menjadi tidak harmonis antara lain seperti pertengkaran, cemburu, perselingkuhan, perbedaaan pendapatan, perbedaan prinsip hidup yang akhirnya sampai pada tindakan mengakhiri pernikahan atau bercerai. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap konsep keluarga harmonis (sakinah) yang sebenarnya, sehingga dengan dangkalnya pemahaman tersebut bisa menimbulkan kerenggangan dan perselisihan dalam rumah tangga.

Untuk menyelesaikan masalah di dalam sebuah keluarga, salah satu usaha yang dilakukan adalah konseling keluarga dengan mencari penyebab permasalahan keluarga itu sehingga keterpurukan keluarga bisa diatasi, dan keharmonisan di dalam keluarga tetap terjaga. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Jhon Suban Tukan:

”Konseling keluarga memfokuskan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan, bahwa permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan anggota keluarga.”4

_______________

4Jhon Suban Tukan, Konseling Postoral Kehidupan Keluarga, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986), hal. 63.

(14)

Problema di atas, terlihat jelas perlu adanya lembaga sosial yang bergerak untuk memenuhi kapasitas yang diperlukan oleh masyarakat dalam hal pelayanan konseling keluarga dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada anggota keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan keharmonisan keluarga dan terwujudnya rumah tangga bahagia dan sejahtera menurut ajaran Islam. Maka Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) Bungong Jeumpa merupakan sebuah lembaga penting dalam proses pertolongan dan pelayanan kepada masyarakat Aceh dalam memberi jalan atas setiap masalah yang dihadapi. Salah satu pelayanan pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh ialah konseling keluarga harmonis (khusus keluarga). Semua layanan yang disediakan di PPKS Bungong Jeumpa diharapkan menjadi tempat rujukan serta pelayanan masyarakat yang membutuhkan pelayanan dan konseling untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah dan warahmah.

Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana layanan konseling keluarga harmonis yang dilakukan pada PPKS Bungong Jeumpa dalam meningkatkan keharmonisan keluarga, dan sejauh mana peran PPKS Bungong Jeumpa dalam meningkatkan keharmonisan keluarga, yang peneliti tuangkan ke dalam judul “Layanan Konseling Keluarga Harmonis Pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa Kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh”.

B. Fokus Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan yaitu

(15)

bagaimana layanan konseling keluarga untuk mencapai keluarga harmonis yang diberikan pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh? Berdasarkan fokus masalah ini, maka dapat dijabarkan menjadi beberapa pokok pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apa masalah keluarga yang sering ditemukan selama melakukan layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh?

2. Apa kegunaan layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh?

3. Bagaimana prosedur layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh?

4. Apa hasil yang telah dicapai dari tujuan layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui masalah keluarga yang sering ditemukan selama melakukan layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh

(16)

2. Untuk mengetahui kegunaan layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh

3. Untuk mengetahui prosedur layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh

4. Untuk mengetahui hasil yang telah dicapai dari tujuan layanan konseling keluarga harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh

D. Signifikansi Penelitian

1. Secara teoritis, penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengembangan teori ilmu pengetahuan dan pemanfaatan teori-teori yang telah ada, terutama teori konseling keluarga.

2. Secara praktis, penelitian ini juga bermanfaat bagi peneliti dan penulis lainnya yang berminat untuk meneliti tentang layanan konseling keluarga harmonis yang ada di tempat lain.

E. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah proses mendefinisikan variabel dengan tegas, sehingga menjadi faktor-faktor yang dapat diukur. Adapun variabel yang perlu dijelaskan dalam penelitian ini yaitu: layanan, konseling keluarga, harmonis, dan PPKS Bungong Jeumpa.

(17)

Menurut Sardima A. M Layanan adalah “suatu proses yang dilakukan seseorang kepada orang lain dalam bentuk bantuan atau jasa. ”5 Layanan dalam kamus besar bahasa Indonesia berasal dari kata “layan” yang kata kerjanya adalah melayani, yang mempunyai arti membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang; meneladani, menerima (menyambut) ajakan (tantangan, serangan, dsb). Layanan perihal atau melayani, meladani.6

Jadi layanan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh dalam memberikan layanan atau bantuan konseling kepada klien yang mengalami permasalahan dalam keluarga.

2. Konseling Keluarga

Menurut Yusi Riksa Yustiana Konseling keluarga adalah:

“sebagai proses komunikasi antara konselor dengan klien (keluarga: remaja dan orang tua remaja) dalam hubungan yang membantu, sehingga keluarga dan atau masing-masing anggota keluarga mampu membuat keputusan, merubah perilaku secara positif dan mengembangkan suasana kehidupan keluarga sehingga konstelasi keluarga berfungsi secara keseluruhan, meningkatkan ketahanan keluarga serta mengembangkan potensi masing-masing anggota keluarga sebagai pribadi maupun sebagai anggota keluarga.”7

Sofyan S. Willis juga mengemukakan Family counseling atau konseling keluarga adalah:

“Upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui

sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya

_______________

5Sardiman A. M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Press, 2004), hal. 6.

6Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan, Kamus Besar Bahasa

Indonesia, Cet ke IV, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal. 646.

7Yusi Riksa Yustiana, Modul Pedoman dan Materi Konseling Penanggulangan Nafza, (Jawa Barat: Badan Penanggulangan Nafsa, Kenakalan Remaja, Prostitusi, 2000).

(18)

berkembang seoptimal mungkin danmasalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.”8

Jadi yang dimaksud konseling keluarga dalam penelitian ini adalah bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui program layanan konseling keluarga harmonis pada PPKS Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN provinsi Aceh, sehingga anggota keluarga dapat mencapai taraf perkembangan dan kebahagiaan secara optimal.

3. Harmonis

Keharmonisan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “perasaan senang, tentram hidup lahir dan batin.”9 Secara terminologi keharmonisan berasal dari kata harmonis yang berarti serasi atau selaras.10 Jadi harmonis yang penulis maksud dalam penelitian ini ialah upaya PPKS Bungong Jeumpa dalam mewujudkan keluarga yang harmonis, yaitu melalui program layanan konseling keluarga harmonis.

4. PPKS Bungong Jeumpa

Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) Bungong Jeumpa adalah sebuah lembaga yang dibentuk dan diresmikan pada tahun 2012 oleh perwakilan

_______________

8Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family Counseling), (Bandung: Alfabeta, 2008), hal. 83.

9W.J.S Poerwodaminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), hal. 119.

10Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989), hal. 299.

(19)

BKKBN Provinsi Aceh. PPKS ini dibentuk untuk memfasilitasi keluarga yang berada di provinsi Aceh guna mendapatkan pelayanan. PPKS Bungong Jeumpa beralamat di jalan Peurada Utama, No.2, Gampong Peurada, Kecamatan Syiah Kuala kota Banda Aceh. PPKS berada dalam lokasi tempat tinggal masyarakat dan mudah diakses oleh masyarakat karena berada di pinggir jalan yang menghubungkan kecamatan Syiah Kuala dan Ulee Kareng.

F. Kajian tentang Hasil Penelitian Terdahulu

Kajian terhadap hasil penelitian terdahulu adalah hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang dianggap mendukung kajian teori di dalam penelitian yang tengah dilakukan, serta didasarkan pada teori-teori dari sumber kepustakaan yang dapat menjelaskan perumusan masalah. Kajian terhadap penelitian terdahulu juga dimaksudkan untuk melihat persamaan dan perbedaan antara objek penelitian penulis dengan objek penelitian lainnya dengan tujuan dapat terhindar dari duplikasi isi secara keseluruhan. Sejauh penelusuran yang penulis lakukan, belum ada kajian yang membahas tentang “Layanan Konseling Keluarga Harmonis pada Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN Provinsi Aceh“. Sekalipun ada kajian tentang layanan konseling keluarga harmonis yaitu:

Pertama, skripsi karya Lutfiah Binti Ibrahim yang berjudul “Peranan

Bimbingan dalam Membina Komunikasi yang Harmonis dalam Rumah Tangga”.

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pembinaan komunikasi yang harmonis dalam rumah tangga dapat dibina melalui peranan bimbingan dan konseling berdasarkan materi-materi secara teoritis dan praktis didalamnya serta

(20)

kerjasama konselor berdasarkan kecakapan dan pengalamannya yang mempunyai toleransi yang kuat dari klien dalam menangani problema yang dihadapi. Hambatan yang berlaku dalam komunikasi keluarga adalah masalah bahasa, komunikasi yang bersifat satu arah, masalah ekonomi dan sebagainya, sehingga pasangan tersebut sudah tidak sehaluan dalam memberi pendapat dan mengabaikan hak serta kewajiban masing-masing. Pola-pola komunikasi yang wujud dalam rumah tangga adalah pola model stimuli-respons, model ABX, dan model interaksional. Metode-metode yang digunakan juga adalah metode wawancara, metode kelompok, metode yang dipusatkan kepada klien dan lain-lain. Terdapat juga metode secara islami yaitu metode hikmah, metode

Al-mujadalahbil ahsan, dan metode Al-mauidah Al-hasanah.11

Kedua, skripsi karya Raissul Muchtar, yang berjudul “ Bimbingan Islami

Terhadap Keharmonisan Keluarga (Studi Pada Keluarga Petani di Kecamatan Nibong Kabupten Aceh Utara).” Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk bimbingan islami yang diberikan kepada keluarga petani adalah berbasis Al-qur’an dan Sunnah dengan metode Al-hikmah, Al-Mauizhoh, Al-Hasanah dan

Al-Mujadalah serta menjelaskan pengertian keluarga harmonis. Sedangkan

kendala-kendala yang dihadapi imam gampong saat memberikan bimbingan islami seperti anggota keluarga yang jarang sekali pergi shalat berjamaah, terlebih suami/bapak dan mengikuti kajian rutin sehingga susah memahami makna dari bimbingan islami yang diberikan imam gampong dan tidak dijadikan sebagai

_______________

11LutfiahBinti Ibrahim, Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Membina Komunikasi

Yang Harmonis dalam Rumah Tangga, Fakultas Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry

(21)

pedoman dalam menjaga keluarga tetap harmonis, dengan demikian setelah dilakukan bimbingan islami, maka hasil yang didapat tergolong sukses, karena banyak keluarga petani yang kembali harmonis dan sedikit sekali yang memilih bercerai.12

Berdasarkan dari dua hasil penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa penelitian tersebut tidak membahas permasalahan yang peneliti teliti, meskipun diakui memiliki kaitan dengan masalah yang penulis teliti, namun tentang Layanan Konseling Keluarga Harmonis Pada Pusat Keluarga Sejahtera Bungong Jeumpa kantor perwakilan BKKBN provinsiAceh yang akan penulis teliti belum ada penelitian yang dilakukan.

_______________

12Raissul Muchtar, Bimbingan Islami Terhadap Keharmonisan Keluarga (Studi Pada

Keluarga Petani di Kecamatan Nibong Kabupaten Aceh Utara), Fakultas Dakwah dan

(22)

12

LANDASAN TEORI

A. Keluarga Harmonis

Setiap orang yang memasuki kehidupan berkeluarga melalui pernikahan tentu menginginkan terciptanya keluarga yang harmonis, bahagia, sejahtera lahir dan batin. Hal ini telah menjadi keinginan dan harapan mereka jauh sebelum dipertemukan dalam ikatan pernikahan yang sah. Keluarga harmonis tentu saja tidak dapat tercipta secara otomatis dan natural, namun harus diwujudkan melalui beragam upaya dan strategi dari berbagai pihak, terutama oleh masing-masing anggota keluarga.

1. Pengertian Keluarga Harmonis

Keluarga atau berkeluarga adalah istilah yang digunakan dalam kaitannya dengan kehidupan dalam rumah tangga, dimana di dalamnya sudah ada anggota keluarga yaitu anak, sehingga menjadi suatu lembaga kesatuan sosial yang terkecil yang terdiri dari suami, istri dan anak.1 Banyak ahli mengemukakan bahwa keluarga memiliki definisi yang sangat komplek. Pemahaman terhadap konsep keluarga tersebut lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat disetiap negara. Sebab di negara-negara barat khususnya, pasangan gay ataupun

lesbi yang terikat dalam jalinan pernikahan hidup secara bersama disebut pula

______________

1 Fachruddin Hasballah, Psikologi Keluarga dalam Islam, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2007), hal. 7.

(23)

keluarga. Sedangkan di Indonesia, pasangan tersebut meskipun hidup dalam satu rumah tidak dapat dikatakan sebagai keluarga.2

Pengertian keluarga secara realitas adalah sekelompok orang yang terdiri dari kepala keluarga dan anggotanya dalam ikatan nikah ataupun nasab yang hidup dalam satu tempat tinggal, memiliki aturan yang ditaati secara bersama dan mampu mempengaruhi antar anggotanya serta memiliki tujuan dan program yang jelas. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, anak, saudara dan kerabat lainnya. Adapun keluarga batih biasanya terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Keluarga ini dapat dikatakan sebagai keluarga kecil.3 Sedangkan keluarga harmonis menurut Safrudin Aziz adalah:

“hubungan yang terjalin dari seluruh anggota keluarga, dengan terciptanya perasaan bahagia, yang ditandai dengan berkurangnya ketegangan, kekecewaan, dan terjadinya kepuasan terhadap seluruh keadaan dan keberadaan dirinya dalam keluarga, yang meliputi aspek fisik, mental, emosi dan sosial.”4

Keharmonisan keluarga menurut Gunarsa yang dikutip oleh Nurfitri Handayani merupakan “suatu keadaan keluarga yang utuh dan bahagia, serta didalamnya ada ikatan kekeluargaan yang memberikan rasa aman dan tentram bagi setiap anggotanya. Keluarga harmonis di dalamnya terdapat hubungan yang baik antar anggota keluarga, yaitu hubungan antara orang tua (ayah-ibu), dan

______________

2Safrudin Aziz, Pendidikan Keluarga, (Yogyakarta: Gava Media, 2015), hal. 15.

3bid. Hal. 16-17.

4Alifiulahtin Utami ningsih, Gender dan Wanita Karir, (Malang: UB Press, 2017), hal. 187-188.

(24)

anak-anaknya.”5 Sedangkan menurut Fachruddin keluarga harmonis adalah “keluarga yang di dalamnya terdapat ketenangan dan ketentraman diwujudkan dengan masing-masing pasangan sadar akan menjaga kestabilan emosi dan dapat mengontrolnya, sehingga gejolak dan keretakan rumah tangga dapat terjaga dan terkendali.”6

Menurut Andarus Darahim, keluarga yang harmonis adalah “keluarga yang hidup dengan penuh suasana saling pengertian dan toleransi satu sama lain terhadap kelebihan dan kekurangan dari pasangan hidupnya, karena tidak ada manusia yang sempurna.” Pasangan hidup sebagai pilihannya sendiri atau dipilihkan orang tua yang wajib diajak untuk saling pengertian satu sama lain dalam menghadapi persoalan dan kebutuhan hidup bersama, yang tentunya diperlukan semangat kerjasama dan toleransi yang dibangun dengan berlandaskan tujuan untuk membangun kebersamaan dalam suasana saling mengisi terhadap kekurangan pasangan hidupnya.7

Keluarga yang harmonis dan berkualitas yaitu keluarga yang rukun berbahagia, tertib, disiplin, saling menghargai, penuh pemaaf, tolong menolong dalam kebajikan, memiliki etos kerja yang baik, bertetangga dengan saling menghormati, taat mengerjakan ibadah, berbakti pada yang lebih tua, mencintai

______________

5Nurfitri Handayani, Nailul Fauziah, Hubungan Keharmonisan Keluarga Dengan

Kecerdasan Emosional Pada Guru Bersertifikasi Sekolah Menengah Atas Swasta Berakreditasi “A” Wilayah Semarang Barat, Jurnal Empati, (Online), Vol. 5, No. 2, April (2016), Email:

[email protected]. Diakses 09 Oktober 2018.

6Fachruddin Hasballah, Psikologi Keluarga dalam…, hal. 10.

7Andarus Darahim, Membina Keharmonisan dan Ketahanan Keluarga, (Jakarta Timur: IPGH Publishing, 2015), hal. 128.

(25)

ilmu pengetahuan dan memanfaatkan waktu luang dengan hal yang positif dan mampu memenuhi dasar keluarga.8

Berdasarkan uraian dari beragam pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa keluarga harmonis adalah suatu situasi atau kondisi keluargadimana terjalinnya kasih sayang, saling pengertian, dukungan, mempunyai waktu bersama, adanya kerjasama, kualitas komunikasi yang baik danminim terjadinya konflik, ketegangan, dan kekecewaan dalam rumah tangga, sehingga para anggotanya merasa tentram di dalamnya dan menjalankan peran-perannya dengan baik, serta dapat melalui kehidupan dengan penuh keefektifan dan kepuasan batin.

2. Ciri-Ciri Keluarga Harmonis

Pada dasarnya keluarga harmonis susah diukur karena merupakan satu perkara yang abstrak dan hanya boleh ditentukan oleh pasangan yang berumah tangga. Namun terdapat beberapa ciri yang dapat menggambarkannya, suatu keluarga dapat dikatakan harmonis jika ciri-ciri yang melatarbelakangi keharmonisan keluarga sudah terpenuhi atau tercapai. Adapun ciri-ciri keluarga harmonis menurut Mohamad Surya ialah:9

______________

8Hasan Basri, Merawat Cinta Kasih, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hal. 111. 9Mohamad Surya, Bina Keluarga, (Semarang: CV, Aneka Ilmu, Anggota IKAPI, 2003), hal. 401-404.

(26)

a. Berlandaskan ketauhidan, keluarga sakinah adalah keluarga yang dibangun di atas fondasi ketauhidan yaitu dibangun semata-mata atas dasar keyakinan kepada Allah Swt, dan bukanlah berhala.

b. Bersih dari syirik, syarat utama ketauhidan adalah bebasnya dari syirik atau mempersekutukan Allah. Demikianlah suatu keluarga yang sakinah harus bebas dari suasana syirik yang hanya akan menyesatkan kehidupan keluarga.

c. Keluarga yang penuh dengan segala kegiatan ibadah, ibadah merupakan kewajiban manusia sebagai hasil ciptaan tuhan. Oleh karena itu kegiatan ibadah baik dalam bentuk hamluminallah maupun

habluminannas merupakan ciri utama keluarga sakinah. Dalam

keluarga sakinah segala aspek perilaku kehidupannya merupakan ibadah.

d. Terjalin hubungan yang harmonis intern dan ekstern keluarga, keharmonisan hubungan antar anggota keluarga merupakan landasan bagi terwujudnya keluarga yang bahagia dan sakinah. Demikian pula hubungan dengan pihak-pihak di luar keluarga seperti dengan sanak famili dan tetangga.

e. Segenap anggota keluarga pandai bersyukur kepada Allah Swt, keluarga sakinah akan selalu mensyukuri akan segala karunia yang telah diberikan-Nya. Dengan bersyukur itulah maka Allah akan

(27)

melipatgandakan kenikmatannya dan sebaliknya Allah akan menimpakan azab yang pedih apabila mengingkarinya.

f. Terwujud kesejahteraan ekonomi, oleh karena itu keluarga sakinah adalah keluarga yang mencari sumber-sumber ekonomi di jalan ridho Allah, serta mengelola dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencukupi kebutuhan keluarga.

g. Rumah tangga yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang mewujudkan generasi penerus yang sholeh dan berkualitas, oleh karena itu pendidikan dalam keluarga yang bersendikan pendidikan agama yang berintikan pendidikan keimanan atas dasar ketauhidan adalah fondasi utama bagi terwujudnya keluarga sakinah.

h. Saling pengertian dan mendoakan serta memaafkan sesama anggota keluarga. Keluarga sakinah akan ditandai dengan ungkapan saling memaafkan dan saling mendoakan antar sesama anggota keluarga. Suami mendoakan dan memaafkan istri dan sebaliknya, demikian pula orang tua senantiasa mendoakan dan memaafkan anak-anaknya. i. Rumah tangga sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dunia dan

akhirat. Oleh karena itu setiap aspek kehidupan dalam keluarga pada dasarnya adalah untuk mencari kebahagiaan yang ditujukan untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

(28)

Sedangkan menurut Nur Zahidah dan Raihanah ada tiga kriteria keluarga yang harmonis, yaitu:10

“a. Al-sakinah, yang berarti ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian jiwa yang dipahami dengan suasana damai yang melingkupi rumah tangga di mana suami istri yang menjalankan perintah Allah SWT dengan tekun, saling menghormati dan saling toleransi. Dalam Al-quran ia disebutkan sebanyak enam kali serta dijelaskan bahwa sakinah itu telah didatangkan oleh Allah SWT ke dalam hati para Nabi dan orang-orang yang beriman. Dari pada suasana tenang (al-sakinah) tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan menyayangi (almawaddah), sehingga rasa bertanggungjawab kedua belah pihak semakin tinggi. b. Al-mawaddah, ditafsirkan sebagai perasaan cinta dan kasih sayang antara suami istri yang melahirkan kesenian, keikhlasan dan saling hormat menghormati antara suami istri, semua ini akan melahirkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Melalui

al-mawaddah, pasangan suami istri akan mencerminkan sikap saling

melindungi dan tolong menolong. Sikap ini akan menguatkan lagi hubungan silaturahim di antara keluarga dan masyarakat luar. Bagi pasangan campur,

al-mawaddah ini tidak hanya terhadap kepada suami dan istri, ibu bapak

dan anak-anak, tetapi juga dengan seluruh keluarga dan masyarakat. c.

Al-rahmah, dimaksudkan dengan perasaan belas kasihan, toleransi,

lemah-lembut dengan ketinggian budi pekerti dan akhlak yang mulia. Tanpa kasih sayang dan perasaan belas kasihan, sebuah keluarga ataupun perkawinan itu akan tergugat dan bisa membawa kepada kehancuran. Kebahagiaan amat mustahil untuk dicapai tanpa adanya rasa belas kasihan antara individu keluarga. Jadi dapat dijelaskan bahwa keluarga bahagia itu ialah satu keluarga yang dapat merasa senang antara satu sama lain serta mempunyai objektif pembinaan keluarga yang jelas dan positif.”

Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa ciri-ciri keluarga harmonis ialah satu keluarga yang dapat merasa senang antara satu sama yang lainnya, serta mempunyai objektif pembinaan keluarga yang jelas dan positif. Ciri-ciri keluarga harmonis juga dapat kita ketahui dengan adanya situasi yang dinamakan al-sakinah yaitu ketenangan dan ketenteraman, al-mawaddah yaitu cinta serta al-rahmah yaitu kasih sayang di dalam keluarga.

______________

10Nur Zahidah dan Raihanah, Model Keluarga Bahagia Menurut Islam, Jurnal Fiqh (Online), No. 8, (2006), http://repository.um.edu.my/628/1/JF2011_02_Keluarga%20Bahagia.pdf, Diakses 24 Oktober 2018.

(29)

3. Hak dan Kewajiban Suami Istri

Setelah terjadinya akad nikah antara mempelai laki-laki dan perempuan, terjalinlah hubungan suami istri, dan sebagai konsekuensi timbullah hak dan kewajiban secara timbal balik masing-masing pihak. Adapun yang dimaksud dengan hak disini adalah apa-apa yang diterima oleh seseorang dari orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kewajiban adalah apa yang mesti dilakukan seseorang terhadap orang lain.11 Hak dalam perkawinan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu hak suami menjadi kewajiban istri, hak istri yang menjadi kewajiban suami, dan yang terakhir hak dan kewajiban bersama.

a. Hak Istri yang Menjadi Kewajiban Suami

Hak istri yang menjadi kewajiban suami dapat dibagi menjadi dua, pertama hak-hak kebendaan yaitu mahar dan nafkah, dan kedua hak-hak bukan kebendaan, misalnya berbuat adil diantara para istri (dalam perkawinan poligami), tidak berbuat yang merugikan istri dan sebagainya.

1) Hak-hak kebendaan (mahar dan nafkah), Mahar merupakan suatu hak pemberian wajib atas suami kepada istri, serta merupakan hak penuh bagi istri yang tidak boleh diganggu oleh suami.12 Nafkah adalah mencukupkan segala keperluan istri, meliputi makanan, pakaian, tempat tinggal, pembantu rumah tangga dan pengobatan, meskipun istri tergolong kaya.Pada dasarnya berapa besar nafkah

______________

11Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Cet Ke 1, (Jakarta: Kencana 2006), hal. 159.

12Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Cet Ke 3, (Banda Aceh: Yayasan Pena, 2010), hal. 94.

(30)

yang wajib diberikan oleh suami kepada istri adalah dapat mencukupi keperluan secara wajar, meliputi keperluan makan, pakaian, perumahan dan sebagainya.

2) Hak-hak bukan kebendaan yang wajib ditunaikan suami terhadap istrinya ialah menggauli istri-istrinya dengan makruf (baik-baik) dan bersabar terhadap hal-hal yang tidak disenangi yang terdapat pada istri. Menggauli istri dengan makruf dapat mencakup: sikap menghargai, melindungi dan menjaga nama baik istri, dan memenuhi hajat biologis.13

b. Hak Suami yang Menjadi Kewajiban Istri

Selain hak-hak atas istri, Islam juga mengatur dan menetapkan hak-hak yang jelas bagi suami atas istrinya. Hak-hak suami yang menjadi kewajiban istri hanya merupakan hak bukan kebendaan; sebab menurut hukum Islam istri tidak dibebani kewajiban kebendaan yang diperlukan untuk mencukupkan kebutuhan hidup berkeluarga. Bahkan lebih diutamakan istri tidak usah ikut bekerja mencari nafkah, jika suami memang mampu memenuhi kewajiban nafkah keluarga dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar istri dapat mencurahkan perhatiannya untuk melaksanakan kewajiban membina keluarga yang sehat dan mempersiapkan generasi yang saleh. Hak-hak suami pada pokoknya ialah:

1) Hak ditaati mengenai hal-hal yang menyangkut hidup perkawinan. Hak ditaati yang dimaksud disini ialah: Taat kepada perintah-perintah suami, dengan syarat: a) perintah yang dikeluarkan suami termasuk

______________

(31)

hal-hal yang ada kaitannya dengan kehidupan rumah tangga. b) perintah yang dikeluarkan harus sejalan dengan ketentuan syari’ah, c) suami memenuhi kewajiban-kewajibannya yang merupakan hak istri, baik yang bersifat kebendaan maupun yang bersifat bukan kebendaan. Istri supaya bertempat tinggal bersama suami di rumah yang telah disediakan dengan syarat: a) apabila suami telah memenuhi kewajiban membayar mahar untuk istri, b) rumah yang disediakan adalah pantas menjadi tempat tinggal istri serta dilengkapi dengan perabot-perabot dan alat-alat yang diperlukan untuk hidup berumah tangga secara wajar dan sederhana serta tidak melebihi kemampuan suami, c) rumah yang disediakan cukup menjamin keamanan jiwa dan harta bendanya, tidak terlalu jauh dengan tetangga dan penjaga-penjaga keamanan, d) dan suami dapat menjamin keselamatanan istri ditempat yang disediakannya. Berdiam di rumah, dengan syarat: a) suami telah memenuhi kewajiban membayar mahar untuk istri, b) dan larangan keluar rumah tidak berakibat memutuskan hubungan keluarga.

2) Tidak menerima masuknya seseorang tanpa izinnya, dimaksudkan agar ketentraman hidup rumah tangga tetap terpelihara. Ketentuan itu berlaku apabila yang datang itu bukan mahram istri.

3) Hak melarang istrinya berpuasa sunnah, yang dimaksud dengan tidak boleh melaksanakan puasa yaitu puasa yang tidak wajib, sedang berada di rumah, maksudnya di daerahnya (tidak bepergian jauh), dan yang dimaksud izinnya yaitu dengan persetujuannya. Sebab bila dia

(32)

berpuasa berarti dia menghalangi untuk mendapatkan haknya untuk bersenang-senang dengannya, dan dalam ini hak suami lebih diutamakan dari amalan yang sunnah, karena menunaikan hak suami adalah wajib hukumnya.14

4) Hak memberi pelajaran kepada istri dengan cara yang baik dan layak dengan kedudukan suami istri, apabila terjadi kekhawatiran suami bahwa istrinya bersikap membangkang (nusyuz), hendaklah diberi nasehat secara baik-baik, apabila dengan nasehat istri belum juga mau taat, hendaklah suami berpisah tidur dengan istri, dan apabila dengan demikian masih belum juga kembali taat, maka suami dibenarkan memberi pelajaran dengan jalan memukul (yang tidak melukai dan tidak pada bagian muka).15

Hak-hak suami menurut Umar yang dikutip oleh Ulfiah ialah: “a) hak memperoleh pemeliharaan rumah, harta dan putra-putrinya, b) hak untuk ditaati dan meminta tanggug jawab, c) hak mendapatkan pergaulan dengan baik, dan d) hak mendapatkan sikap dan penampilan yang baik.”16

c. Hak dan kewajiban Bersama Suami Istri

Dengan adanya akad nikah, maka antara suami dan istri mempunyai hak dan tanggung jawab bersama. Hak bersama suami istri adalah hak bersama secara timbal balik dari pasangan suami istri terhadap yang lain, yaitu: 1) saling

______________

14Sobri Mersi Al-Faqi, Solusi Problematika Rumah Tangga Modern, Cet Ke 2, (Surabaya: Sukses Publishing, 2015), hal. 104-105.

15Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam..., hal.105-109.

16Ulfiah, Psikologi Keluarga: Pemahaman Hakikat Keluarga dan Penanganan

(33)

memegang amanah diantara kedua suami istri dan tidak boleh saling mengkhianati, 2) saling mengikat (menjalin) kasih sayang sumpah setia sehidup semati, 3) bergaul dengan baik antara suami istri.17 4) timbulnya hubungan suami dengan keluarga istrinya dan sebaliknya hubungan istri dengan keluarga suaminya, yang disebut hubungan mushaharah, yaitu hubungan saling mewarisi diantara suami istri. Setiap pihak berhak mewarisi pihak lain bila terjadi kematian,18 5) haram melakukan pernikahan, artinya baik suami maupun istri tidak boleh melakukan pernikahan dengan saudaranya masing-masing, 6) anak mempunyai nasab yang jelas.19

Hak dan kewajiban suami istri pada bagian ke satu umum pasal 77:

1) Suami-istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar dan susunan masyarakat.

2) Suami-istri wajib saling cinta-mencintai, hormat-menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

3) Suami-istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak-anak mereka, baik mengenai pertumbuhan jasmani, rohani maupun kecerdasannya dan pendidikan agamanya.

4) Suami-istri wajib memelihara kehormatannya.

______________

17M. Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam, Ed. 1, Cet ke 2, (Jakarta: Siraja, 2006), hal. 153-155.

18Amir syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam..., hal. 163.

19Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, Ed. 1, Cet ke 3, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hal. 154.

(34)

5) Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan agama.20

Demikianlah Islam telah menyempurnakan keseimbangan ikatan antara suami istri secara adil agar kehidupan rumah tangganya tercipta bangunan yang kokoh, sehingga keluarga dapat melahirkan keturunan-keturunan yang berkualitas, baik keimanannya, akhlak maupun aspek lainnya. Dari uraian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa hak istri yang menjadi kewajiban suami ialah hak-hak kebendaan yaitu mahar dan nafkah, dan hak-hak bukan kebendaan seperti menggauli istrinya dengan makruf (baik-baik), dan hak-hak suami yang menjadi kewajiban istri berupa hak bukan kebendaan, seperti taat kepada perintah suami dan hak memberi pelajaran kepada istri.

Dari penjelasan di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa hak dan kewajiban suami istri dapat di bagi menjadi tiga, yaitu hak istri yang menjadi kewajiban suami, hak suami yang menjadi kewajiban istri, dan hak bersama suami istri. jika suami istri sama-sama menjalankan kewajibannya masing-masing, maka akan terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati, sehingga sempurnalah kebahagiaan hidup berumah tangga, dengan demikian tujuan berkeluarga akan terwujud sesuai dengan tujuan agama, yaitu sakinah, mawaddah, warahmah.

4. Keluarga Harmonis dalam Islam

Dalam perspektif Islam, keharmonisan keluarga disebut dengan keluarga sakinah, yaitu keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi hajat hidup lahir batin, spiritual dan material yang layak, mampu

______________

(35)

menciptakan suasana saling cinta, kasih sayang (mawaddah warahmah), selarasserasi dan seimbang serta mampu menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, amal saleh dan akhlak mulia dalam lingkungan keluarga dan masyarakat lingkungannya. Sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta selaras dengan ajaran Islam.21

Istilah keluarga sakinah dibentuk oleh dua suku kata, yakni kata keluarga dan kata sakinah. Kata keluarga berasal dari bahasa sansekerta, kula artinya famili, dan warga artinya anggota. Maka dalam kamus istilah fikih dituliskan bahwa keluarga adalah orang yang masih ada hubungan keturunan atau nasab, baik ke atas maupun ke bawah, baik yang termasuk ahli waris maupun tidak.22

Sakinah berasal dari kata sakana, yaskunu, sakinatan, yang berarti “rasa tentram, aman, dan damai.”23 Penggunaan nama sakinah diambil dari Alquran surah Ar-rum ayat 21, “litaskunu ilaiha” yang berarti bahwa Tuhan menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain, dalam bahasa Arab, kata sakinah didalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan.24

Menurut Quraish Shihab kata sakinah berarti “ketenangan atau antonim kegoncangan, ketenangan disini ialah ketenangan yang dinamis, dalam setiap

______________

21Zaitunah Subhan, Membina Keluarga Sakinah, (Yogyakarta; Pustaka Pesantren, 2004), hal. 10.

22Bambang Ismaya, Bimbingan dan Konseling: Studi, Karier, dan Keluarga, Cet ke 1, (Bandung: PT Refika Aditama, 2015), hal. 148.

23M. Thohir dan Asrofi, Keluarga Sakinah dalam Tradisi Islam Jawa, (Jakarta: Arindo Nusa Media, 2006), hal. 3.

(36)

rumah tangga ada saat dimana terjadi gejolak, namun dapat segera tertanggulangi dan akan melahirkan sakinah.” Sakinah bukan hanya yang tampak pada ketenangan lahir, tetapi harus disertai dengan kelapangan dada, budi bahasa yang halus dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati dan bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Kehadiran sakinah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat kehadirannya, hati harus disiapkan dengan kesabaran dan ketakwaan.25

Bambang Ismaya mengemukakan keluarga sakinah adalah “suatu bangunan keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, dan mengharapkan ridho dari yang maha pencipta yaitu Allah SWT, dan mampu menumbuhkan rasa aman, tentram, damai, dan bahagia dalam mengusahakan terwujudnya kehidupan yang sejahtera di dunia maupun di akhirat nantinya.”26 Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga, yang mampu menciptakan suasana kehidupan bekeluarga yang tentram, dinamis, dan aktif, yang asih, asah, dan asuh.27 Penjelasan di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa keluarga harmonis dalam Islam disebut dengan keluarga sakinah, yaitu keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan yang sah yang hadir dengan adanya syarat kesabaran dan ketakwaan dalam hati.

______________

25M. Quraish Shihab, Pengantin al-Qur’an: Kalung Permata Buat Anak-anakku, Cet. ke I, (Jakarta: Lentera, 2007), hal. 80-82.

26Bambang Ismaya. Bimbingan dan Konseling..., hal. 148. 27M. Thohir dan Asrofi, Keluarga Sakinah dalam..., hal. 3.

(37)

B. Konseling Keluarga Harmonis

Pernikahan yang baik dan berkualitas adalah pernikahan yang diliputi oleh semangat, cinta dan kasih sayang. Upaya ini dilakukan untuk mendapatkan ketentraman, kesejahteraan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Usaha dalam mewujudkan keluarga harmonis kadang seseorang perlu bantuan dan bimbingan untuk mengarahkan anggota keluarga menyadari fungsi, peran dan tanggung jawab individu dalam keluarganya. Untuk memahami lebih lanjut mengapa konseling keluarga diperlukan, maka penulis mendeskripsikan pengertian, tujuan, prosedur, dan ruang lingkup konseling keluarga yang akan diuraikan sebagai berikut:

1. Pengertian Konseling Keluarga

Istilah konseling digunakan untuk menggantikan istilah penyuluhan yang selama ini menyertai kata bimbingan, yaitu kesatuan istilah bimbingan dan penyuluhan. Penyuluhan sama artinya dengan konseling.28 Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu “consilium” yang berarti dengan atau bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Sedangkan dalam bahasa “Anglo-Saxon”, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti menyerahkan atau menyampaikan.29

“Secara historis asal mula pengertian konseling adalah untuk memberi nasehat, seperti penasehat hukum, penasehat perkawinan, dan penasehat camping anak-anak pramuka. Kemudian nasehat itu berkembang ke bidang-bidang bisnis, manajemen, otomotif, investasi, dan finansial. Pengertian

______________

28Daryanto, Mohammad Farid, Bimbingan Konseling Panduan Guru BK dan Guru

Umum, Cet ke 1, (Yogyakarta: Gava Media, 2015), hal. 4.

29Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 99.

(38)

dalam kegiatan-kegiatan seperti tersebut di atas menekankan pada nesehat (advise giving), mendorong, memberi informasi, menginterpretasi hasil tes, dan analisa psikologi. Secara sederhana, pengertian konseling adalah sebuah upaya untuk memberikan bantuan dari seorang konselor kepada klien dengan tujuan agar klien dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dan bertanggung jawabatas keputusan yang telah di ambil.”30

Family counseling atau konseling keluarga adalah “upaya bantuan yang

diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga.”31 Melalui Konseling, keluarga didorong untuk menjadi keluarga yang efektif yaitu keluarga yang memiliki budaya keluarga yang indah.

Menurut Ulfiah konseling keluarga adalah “suatu usaha membantu individu sebagai anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga, dan mengusahakan agar terjadi perubahan prilaku yang positif pada diri individu yang akan memberikan dampak positif pula pada anggota keluarga lainnya.”32 Menurut Bambang Ismaya konseling keluarga adalah “suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan.”33

______________

30Sofyan S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek, (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 17.

31Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family Counseling), (Bandung: Alfabeta, 2008), hal. 83.

32Ulfiah, Psikologi Keluarga..., hal. 136.

(39)

Eti Nurhayati mendefinisikan konseling keluarga adalah “proses pemberian bantuan bagi suatu keluarga melalui pengubahan interaksi antar anggotanya sehingga keluarga tersebut dapat mengatasi masalah yang dihadapinya bagi kesejahteraan anggota dan keluarga secara keseluruhan.”34 Sedangkan menurut Golden dan Sherwood konseling keluarga adalah “metode yang dirancang dan difokuskan pada keluarga dalam usaha untuk membantu memecahkan masalah perilaku klien.”35

Sedangkan konseling keluarga harmonis (sakinah) adalah “proses bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada keluarga atau pasangan di dalam hubungan yang intim untuk memelihara perubahan dan perkembangan. Perubahan dalam kaitan dengan sistem interaksi antara anggota keluarga dengan prinsip-prinsip yang berlandaskan Alquran, serta berdasarkan ajaran Rasulullah SAW.”36

Dari beberapa pengertian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa konseling keluarga harmonis adalah sebuah bantuan yang diberikan dan difokuskan kepada anggota keluarga melalui sistem keluarga di dalam hubungan yang intim untuk mengantisipasi masalah yang dialaminya dan mengubah perilaku negatif kepada perilaku positif yang memberikan dampak positif pula kepada anggota keluarga lainnya, sehingga keharmonisan di dalam keluarga dapat dicapai.

______________

34Eti Nurhayati, Bimbingan, Konseling & Psikoterapi Inovatif, Cet ke 1, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), hal. 174.

35Latipun, Psikologi Konseling, (Malang: Umm Press, 2005), hal. 17. 36Ulfiah, Psikologi Keluarga..., hal. 67.

(40)

2. Tujuan Konseling Keluarga Harmonis

Tujuan konseling keluarga tidak jauh berbeda dengan tujuan konseling pada umumnya. Tujuan konseling pada umumnya adalah untuk membantu pemecahan masalah, pengentasan masalah dan pengobatan (kuratif) atau terapi.

“Konseling keluarga juga bertujuan memberi bantuan pemecahan, pengobatan dan pengentasan masalah yang khusus yang menangani persoalan yang terjadi di rumah tangga, yang membedakannya ialah, tujuan konseling keluarga: a) Memperlancar komunikasi diantara sesama anggota keluarga, b) membantu anggota keluarga yang mengalami masalah yang dapat diselesaikan melalui diskusi diantara anggota keluarga atas bantuan konselor, c) memelihara keutuhan keluarga, d) membuat keluarga menjadi produktif karena setiap diri individu anggota keluarga, seperti kreativitas, motivasi tinggi, dan semangat kerja yang tinggi.”37

Menurut Ulfiah:38

“Tujuan dari konseling keluarga pada hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional dengan tujuan untuk berikut:

a. Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga b. Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa apabila

salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain

c. Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang dan mencapai keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga

d. Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain

e. Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal

f. Membantu individu keluarga yang dalam keadaan sadar bahwa diri sendiri bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.”

______________

37Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family..., hal. 204. 38Ulfiah, Psikologi Keluarga..., hal. 141.

(41)

Konseling keluarga mempunyai tujuan agar dapat meningkatkan fungsi sistem keluarga yang lebih efektif. Secara garis besar tujuan konseling keluarga dapat dibagi menjadi dua yaitu, tujuan umum dan tujuan khusus antara lain sebagai berikut:

a. Tujuan umum konseling keluarga:

1) Membantu anggota-anggota keluarga belajar dan menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga adalah kait-mengait diantara anggota keluarga.

2) Untuk membantu anggota keluarga agar menyadari tentang fakta jika satu anggota keluarga bermasalah, maka akan mempengaruhi kepada persepsi, ekspetasi, dan interaksi anggota-anggota lain.

3) Agar tercapai keseimbangan yang akan membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap anggota.

4) Untuk mengembangkan penghargaan penuh sebagai pengaruh dari hubungan parental.39

5) Peningkatan fungsi sistem keluarga yang lebih efektif.40

b. Tujuan khusus konseling keluarga:

1) Untuk meningkatkan toleransi dan dorongan anggota-anggota keluarga terhadap cara-cara yang istimewa (idiocyncratic ways) atau keunggulan-keunggulan anggota lain.

______________

39Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family..., hal. 89. 40Eti Nurhayati, Bimbingan, Konseling&..., hal. 175.

(42)

2) Mengembangkan toleransi terhadap anggota-anggota keluarga yang mengalami frustasi/kecewa, konflik dan rasa sedih yang terjadi karena faktor sistem keluarga atau di luar sistem keluarga.

3) Mengembangkan motif dan potensi-potensi, setiap anggota keluarga dengan cara mendorong (men-support), memberi semangat, dan mengingatkan anggota tersebut.

4) Mengembangkan keberhasilan persepsi diri orang tua secara realistik dan sesuai dengan anggota-anggota lain.41

5) Untuk membantu anggota keluarga memperoleh kesadaran tentang pola hubungan yang tidak berfungsi dengan baik dan menciptakan cara-cara baru dalam berinteraksi untuk mengatasi masalah yang dihadapi.42

Dari uraian di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa tujuan konseling keluarga ialah agar klien atau anggota keluarga yang memiliki problem dalam rumah tangga bisa mengatasi masalah dan bisa menyesuaikan diri dengan baik dan bisa mengambil keputusan secara bijak, untuk memperlancar komunikasi diantara sesama anggota keluarga, memelihara keutuhan keluarga, membuat keluarga menjadi produktif, sehingga dapat tercapai keseimbangan yang akan membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap anggota keluarga.

______________

41Sofyan S. Willis, Konseling Keluarga (Family..., hal. 89. 42Eti Nurhayati, Bimbingan, Konseling&..., hal. 175

(43)

3. Prosedur Konseling Keluarga

Prosedur merupakan rangkaian langkah yang dilaksanakan untuk menyelesaikan kegiatan atau aktivitas, sehingga dapat tercapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien serta dapat dengan mudah menyelesaikan suatu masalah yang terperinci menurut waktu yang telah ditetapkan. Sebagai sebuah layanan profesional, konseling tidak datap dilakukan sembarangan, namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu.

a. Peran Konselor dan Klien

Istilah peran dalam kamus besar bahasa Indonesia mempunyai arti “pemain sandiwara (film), tukang lawak pada permainan makyong, perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan pada peserta didik.”43 Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan pekerjaan, maka seseorang yang diberi atau mendapatkan sesuatu posisi, juga diharapkan menjalankan perannya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan tersebut. Harapan mengenai peran seseorang dalam posisinya, dapat dibedakan atas harapan dari si pemberi tugas dan harapan dari orang yang menerima manfaat dari pekerjaan/posisi tersebut. Maka seorang konselor juga memiliki peran dalam melaksanakan tugasnya ketika memberikan layanan konseling kepada klien. Agar peran dapat dipertahankan dan tujuan konseling dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan iklim atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling.

______________

43Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 854.

(44)

Jamil Yusuf mengemukakan tugas utama konselor adalah:

”Menumbuhkan kesadaran klien sebagai hamba dan khalifah Allah di bumi dan komitmen klien untuk mewujudkan perubahan, perbaikan dan penyempurnaan diri. Konselor berperan sebagai pendamping klien untuk meneguhkan kesadaran dan komitmen itu, yakni: a) membina hubungan silaturahmi, b) menumbuhkan kesadaran klien, c) membangkitkan kesediaan klien membuka diri dan masalah-masalahnya, d) menumbuhkan motivasi klien untuk sedia mengikuti proses konseling, e) membina partisipasi klien menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya, f) membangun sikap optimis klien dalam menerima konsekuensi-konsekuensi, dan g) klien hanya berpasrah diri kepada Allah. Klien sebagai individu akan selalu mengalami banyak masalah, benturan dan perubahan, baik dalam lingkup pekerjaan, pendidikan, sosial-kemasyarakatan, pribadi, keluarga dan perkawinan.”44

Ada banyak teori mengenai peran konselor, teori tersebut bermacam-macam sesuai dengan asumsi tingkah laku serta tujuan yang akan dicapai oleh seorang konselor. Pandangan Rogers, koselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam memecahkan masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor lebih banyak memberikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan, perasaan, dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh klien.45

Selain itu peran konselor menurut Rogers adalah “fasilitator dan reflektor”. Disebut fasilitator karena konselor memfasilitasi atau mengakomodasi konseli mencapai pemahaman diri. Disebut reflektor karena konselor

______________

44Jamil Yususf, Model KonselingIslami: Suatu Pendekatan Konseling Religius di

Tengah-tengah Keragaman Pendekatan Konseling di Indonesia, Cet Ke 1, (Banda Aceh: Arranirypress,

2012), hal. 194.

45Namora Lumongga Lubis, Memahami Dasar-dasar Konseling, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 73.

(45)

mengklarifikasi dan memantulkan kembali kepada klien perasaan dan sikap yang diekspresikannya terhadap konselor sebagai representasi orang lain.46

Menurut Conttone yang dikutip oleh Ulfiah:

“Peran konselor pada konseling keluarga ialah: 1) membantu klien melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri (facilitatif

a comfortable). 2) Menggunakan perlakukan (treatment) melalui setting

peran interaksi. 3) Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga. 4) Mengedukasi klien untuk berbuat secara dewasa dan bertanggung jawab dan melakukan self-control. 5) Berperan sebagai penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterpretasikan pesan-pesan yang disampaikan anggota keluarga. 6) Menolak pembuatan penilaian dan membantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota keluarga.”47

Dari uraian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa peran konselor dalam layanan konseling keluarga adalah membantu klien agar mampu meneguhkan kesadaran serta komitmen dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dan mampu membangun hubungan dengan klien, serta memikirkan rencana tindakan untuk perubahan dan pertumbuhan untuk meningkatkan dan sesejahteraan di dalam keluarga.

b. Tahapan-tahapan Konseling Keluarga

Pemahaman bagaimana proses konseling keluarga berlangsung dapat dilakukan melalui identifikasi tahap-tahap konseling tersebut, khususnya pada wawancara permulaan. Hal ini penting karena wawancara permulaan menentukan suasana bagi pertemuan konseling keluarga selanjutnya. Dalam wawancara

______________

46Robert L.Gibson, Marianne H. Mitchell, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 215.

(46)

permulaan ada beberapa tahap kegiatan yang perlu diperhatikan konselor. Tahap-tahap tersebut menurut Noble yang dikutip oleh Eti Nurhayati sebagai berikut48:

”1) Perencanaan pertemuan, pada tahap ini penting dilakukan untuk membuat perencanaan umum bagi pertemuan pertama dengan keluarga yang menjadi klien. Untuk itu diperlukan data awal tentang keluarga tersebut melalui telepon pra pertemuan atau format isian pendahuluan. Dari data tersebut ditetapkan masalah yang mungkin dihadapi, data-data yang perlu dikumpulkan dan siapa yang akan diundang untuk menghadiri pertemuan pertama. 2) Tahap pembinaan hubungan baik, pada tahap ini konselor membina hubungan baik dengan anggota keluarga dengan menunjukkan perhatian, penerimaan, penghargaan, dan pemahaman empatik. 3) Tahap klarifikasi masalah, pada tahap ini konselor memfasilitasi teridentifikasikan masalah yang dihadapi keluarga yang menyebabkan keluarga tersebut meminta bantuan konseling keluarga. Untuk itu konselor memberi stimulus dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada teridentifikasikannya masalah yang dihadapi keluarga tersebut. 4) Tahap interaksi, pada tahap sebelumnya anggota keluarga memandang masalah yang dialaminya menurut versi masing-masing. Pada tahap interaksi ini konselor mengamati bagaimana pola interaksi yang memelihara terjadinya masalah dalam keluarga. Untuk itu konselor mendorong mereka membahas perbedaan-perbedaan tersebut dan mencoba mencapai kesepakatan tentang masalah yang dihadapinya. Tahap ini dimaksudkan untuk menentukan hirarki mengungkapkan hubungan yang stabil, menemukan batasan yang kaku atau tersebar antar subsistem keluarga dan diharapkan mengungkapkan urutan interaksi yang berulang yang memelihara perilaku bermasalah. 5) Tahap penetapan tujuan, yakni mencapai kesepakatan dengan keluarga tentang masalah yang dapat dipecahkan dan memprakasai proses yang akan mengubah situasi sosial sedemikian rupa sehingga masalah tersebut tidak lagi diperlukan. Setelah tercapai kesepakatan tentang masalah dan tujuan yang ingin dicapai maka konselor hendaknya memberikan pekerjaan rumah yang berkaitan dengan masalah tersebut dan juga dapat mengatasi perubahan struktural dan urutan yang menybabkannya. 6) Tahap pengakhiran, pertemuan diankhiri dengan mengingatkan tugas-tugas yang perlu dilakukan anggota keluarga dan kemudian menetapkan pertemuan selanjutnya serta menentukan anggota keluarga yang hadir pada pertemuan berikutnya. 7) Pasca pertemuan, konselor perlu mencatat kesan terhadap masalah yang dikemukakan, struktur keluarga, hipotesis yang berkenaan dengan perubahan yang diperlukan, dan tugas-tugas rumah yang diberikan.”

Sedangkan menurut Ulfiah, tahapan-tahapan konseling keluarga ialah: “1) Tahap identifikasi klien, dimana klien datang ke konselor untuk

______________

Gambar

Tabel  4.1  Jumlah  klien  yang  mendapatkan  layanan  konseling  pada  PPKS  dari  tahun 2014-2019

Referensi

Dokumen terkait

Obyek adalah bagian dari jumlah situasi sosial yang ingin diteliti. 42 Menurut Anto Dajan objek penelitian adalah pokok persoalan yang hendak diteliti untuk mendapatkan

Rhizobium (campuran R1, R2, R3) menunjukkan hasil yang lebih baik daripada pupuk bakteri spesies tunggal terhadap pertumbuhan (biomasa = 5,7 ± 8,9 g), bintil akar (26,2 ± 39,7

Bab ini merupakan pokok dari pembahasan penulisan penelitian yang dilakukan, yakni meliputi analisis terhadap metode penentuan bujur tempat menggunakan tengah gerhana

[r]

Angket digunakan untuk mendapatkan data tentang Etos Kerja Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di MTs sekecamatan Kampar Utara Kabupaten Kampar,

Komposisi optimum dari teknik S/S ini adalah komposisi yang memiliki nilai kuat tekan dan nilai uji TCLP memenuhi baku mutu dan menggunakan bahan aditif yaitu fly ash

Selain sebagai alat stimulasi untuk janin, banyak yang menyebutkan terdapat hubungan yang cukup erat antara musik dan perkembangan kepribadian anak.. Anda pasti bertanya,

Pengaruh Nilai Keagamaan Islam terhadap Minat Siswa Memilih PTAI Penghitungan data pengaruh nilai keagamaan islam yang dilihat dari Nilai mata pelajaran Fiqih,